"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.

Genre: Romance, Comedy (?)

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin | Park Jimin x Min Yoongi | Jung Hoseok (Jomblo Sejati) | PCY as Kim Chanyeol x BBH as Kim Baekhyun | Jung Yunho as Jeon Yunho x Kim Jaejoong as Jeon Jaejoong

Rated: T plus plus

Warning: Ambigu, typo tak tertahankan

.

.

Part XI: Something He Wants to Tell

"Apa administrasinya sudah diisi lengkap?" tanya seorang pemuda dengan rambut pirang yang setengah berantakan. Mata kecoklatannya lurus menatap komputer di meja penerimaan tamu.

"Sudah, Tuan. Saya mengisinya persis seperti data untuk kamar yang anda tempati biasanya." jawab seorang yeoja yang bertugas sebagai resepsionis mencoba tenang. Kalau boleh jujur, penampilan Kim Taehyung yang hanya memakai celana pendek dan kaos tanpa lengan itu membuat jantungnya berdebar.

"Kim Baekhyun?" Taehyung melirik pegawainya yang langsung mengangguk dengan wajah memerah. Kamar yang biasanya ditempati pemuda Kim memang disewa atas nama ibunya. Dan Baekhyun ngotot ingin mengurus semua administrasinya. Dia bilang, sebagai penyemangat agar sang putra cepat-cepat mendapat restu dari Tuan dan Nyonya Jeon. Tapi untuk kamar yang Jungkook tempati saat ini, si bungsu tidak mau ibunya ikut campur.

Sebagai catatan, keluarga Kim bukan tipe yang mendapat kamar gratis hanya karena mereka yang memiliki penginapannya. Menurut kepala keluarga Kim, hal itu tidak akan baik untuk kebiasaan keluarganya, juga akan menyulitkan ketika menghitung profit. Jadi ketika mereka berlibur dan menginap di hotel milik perusahaan, Chanyeol akan tetap membayar seluruh biaya sewa. Atau jika ia menggratiskan biaya sewa untuk rekan bisnis dan sejenisnya, perusahaan yang akan membayarkannya. Mereka memiliki anggaran khusus untuk hal-hal seperti itu. Dengan begitu, grafik, baik itu pengeluaran maupun pendapatan, akan lebih mudah dipantau.

"Tidak. Aku menyewa kamar ini sendiri. Akan kuganti datanya, bisa tolong kau ambilkan handuk dan yukata tidur? Masing-masing dua. Maaf merepotkan, tapi aku tidak menemukan satupun di kamar mandi maupun almari."

"Ahh, kamar itu baru saja dibersihkan dan belum sempat disiapkan karena petugas laundry sudah pulang, anaknya sedang sakit. Ketika saya akan menyiapkan kamarnya tadi, Tuan sudah mengambil kuncinya terlebih dahulu." menelan ludahnya sudah payah, sang resepsionis kembali melanjutkan. "Maaf sekali lagi, Tuan. Kamar baru yang anda tempati sudah dipesan untuk besok pagi. Tamu akan check in pukul sembilan. Jadi…"

"Tidak apa." potong bungsu Kim masih fokus dengan komputer di depannya. "Jam setengah tujuh pagi, kamarnya sudah kosong. Kalian bisa mulai menyiapkannya setelah itu. Oh, tolong bawa handuk dan yukata ke sini saja. Nanti aku yang akan membawanya ke kamar."

Dengan itu, pemuda bersurai jerami ditinggal sendirian di meja resepsionis. Ia menghela nafas kasar, menyandarkan tubuhnya yang kelewat lelah setelah selesai mengisikan datanya sendiri, juga menghadapi putra tunggal Jeon. Sebelah tangannya menyambar gagang telfon, lalu membuka salah satu dari beberapa buku di atas meja. Rumah keluarga Jeon adalah sebuah penginapan, harusnya datanya tercatat di buku panduan wisata.

Dan ia menemukannya hanya dalam waktu beberapa detik.

Setelah menekan tombol nomor, Taehyung menunggu beberapa saat. Suara seorang pria menyapa gendang telinganya, dan saat mengenali siapa pemiliknya, ia bernafas lega. Sungguh ia bersyukur karena bukan Jeon Jaejoong yang bicara dengannya. Kalau sampai ia harus menjelaskan kepada singa Jeon, dirinya pasti langsung kehilangan kemampuan bicara.

"Selamat malam, penginapan keluarga Jeon. Ada yang bisa kami bantu?"

Bungsu Kim menarik nafas dalam sebelum bicara. "Paman, ini aku."

Beberapa saat Taehyung menunggu hingga akhirnya kepala keluarga Jeon mengatakan sesuatu. "Siapa?"

Miris.

Katakanlah Kim Taehyung terlalu besar kepala karena mengira Jeon Yunho akan mengenalinya hanya dengan mendengar suara rendah kebanggaannya.

"Taehyung, Paman. Kim Taehyung." ia menyerah. Lebih baik tidak usah main tebak-tebakan. Lagipuula ada hal penting yang harus dia sampaikan.

"Oh, ada apa Tae? Kau menggunakan telfon rumah?"

"Aku menggunakan telfon penginapan." Taehyung terkekeh ringan. Ia menelan ludah kasar sebelum melanjutkan. "Ini soal Jungkook, Paman. Dia bersamaku sekarang."

"Ah! Jaejoong baru saja menyuruhku mencarinya. Dia bilang si gendut pergi ke tempatmu dengan tampang kacau. Ada apa?"

Kalau Jeon Yunho sudah bertanya seperti itu, yang bisa bungsu Kim lakukan hanya menceritakan apa yang terjadi. "Aku tidak tahu Jungkook tahu darimana kalau Jimin menginap di tempatku dan yah… dia seperti itu."

Pemuda Kim mengeryitkan dahinya ketika mendengar gelak tawa dari seberang. Padahal dipikirnya, calon ayah mertua akan menanyakan hal-hal yang lebih detail seperti saat ngobrol macam-macam ketika di pabrik tempo hari. Tapi kenyataannya berkebalikan. Kepala keluarga Jeon malah terdengar seperti orang yang baru saja mendengar lawakan, atau menonton drama komedi.

"Ternyata dia persis seperti ibunya." gumam Yunho sebelum menarik nafas dalam. "Ya sudah, selesaikan baik-baik."

Hati Taehyung seolah ditumbuhi bunga-bunga musim semi. Pria di seberang telfon terdengar tak rela jika hubungan putranya dan bungsu Kim berakhir. Itu sungguh merupakan pencapaian besar untuk perjuangan memenangkan hati calon mertua seorang Kim Taehyung.

"Baik, Paman." senyum lebar tercetak di bibir si pirang. Ia mendapat semangat baru, dukungan moral, dan tenaga tambahan. Rasanya menyenangkan. "Apa Jungkook boleh menginap? Aku yakin dia lelah setelah marah-marah."

"Kau benar. Marah-marah memang butuh tenaga, makanya bocah itu makannya banyak sekali." Yunho kembali tertawa dan Kim muda semakin tersenyum lebar. "Akan kuberitahukan Jaejoong agar dia tidak khawatir."

"Terima kasih, Paman." Kim Taehyung harus bersyukur karena Jeon Yunho tidak berada di hadapannya saat ini. Kalau saja mereka berdekatan, ia bersumpah akan memeluk calon ayah mertuanya dan menarik-narik pipinya ke segala arah.

Calon menantu kurang ajar.

Jadi, karena, beruntungnya, mereka tidak sedang bersama, pemuda bersurai jerami hanya bisa mengucapkan terima kasih, juga selamat malam, yang ditambah dengan terima kasih lagi, plus titipan salam untuk Nyonya Jeon, sebelum akhirnya ia menutup telfonnya.

Bersamaan dengan itu, resepsionis kembali dengan setumpuk benda pesanan Taehyung. Ada Kim Yugyeom mengikutinya, dan dengan itu pula, mood-nya yang membaik langsung ambyar seketika.

"Selamat malam, Taehyung-sshi."

Senyum di bibir itu… Taehyung benar-benar ingin menyobek bibir yang sudah menodai kekasihnya dengan pedang Michael atau pisau bedah buatan Azazel. Well, saat itu mereka bahkan belum saling kenal, tapi tetap saja pemuda Kim merasa kesal. Bruntungnya, ia tidak membawa apapun selain setumpuk kain.

"Malam." gumamnya formalitas. Sebagai calon penerus ayahnya, bungsu Kim tetap harus menjaga wibawa. Ia melirik resepsionisnya sebelum bicara, "Temanku tidur di kamarku yang biasanya. Kalau dia menanyakan keberadaanku, katakan saja aku berada di kamar lain dengan kekasihku. Jangan biarkan temanku pulang sebelum bertemu denganku. Mengerti?"

Kedua pegawainya mengangguk, dan dengan itu Taehyung mengucapkan terima kasih sebelum meninggalkan bagian penerimaan tamu, meninggalkan si tiang listrik bersama pegawai wanitanya.

"Kenapa dia memakai baju begitu?" tanya yang lebih tinggi. Ia mengeryit keheranan karena setahunya, Taehyung bukan tipe yang suka berkeliaran dengan kolor dan kaos buntung.

"Entahlah, tadi kekasihnya datang dan Taehyung-sshi langsung meminta kamar. Mungkin saja… yah, hanya mungkin… mereka kan sepasang kekasih."

.

.

Taehyung menarik nafas dalam-dalam saat tiba di depan kamar bernomor 12. Di dalam ada Jungkook yang sedang… Kim Taehyung benar-benar tidak tahu apa yang kekasihnya lakukan di dalam. Maka dengan sangat berhati-hati, ia mengetuk pintunya, cukup tiga kali dan tidak berulang-ulang karena, sungguh. Itu sangat mengganggu.

"Bunny, hyung masuk ya."

Bukan pertanyaan, melainkan sebuah pernyataan karena bungsu Kim yakin, bertanya pun, hoobae manisnya tidak akan menjawab.

Ia melihat Jungkook duduk di ranjang, membelakanginya. Taehyung berjalan mendekat, menaruh handuk dan yukata di atas meja, lalu perlahan memeluk sang kekasih dari belakang. Sebelah tangannya menyambar botol air mineral yang telah disiapkan di atas meja. Ia membuka tutupnya, lalu memberikannya kepada Jungkook.

"Minumlah." bisik senior Kim. Sebelah tangannya masih memeluk pinggang Jungkook, dikecupnya lembut pundak kekasihnya yang tertutup kaos.

Jeon muda hanya diam, menggeleng pelan, menolak tawaran yang lebih tua. Taehyung mati-matian menahan dirinya agar tidak berdecak kesal. Dan yang ia lakukan hanya menutup kembali botol minumnya, menaruhnya di atas nakas.

Dengan sangat perlahan, ia turun dari ranjang, duduk bersimpuh di hadapan Jungkook dengan menggenggam kedua tangannya lembut. "Jungkook-ah…"

Yang lebih muda hanya diam. Kepalanya memang tertunduk, dan Taehyung yang mendongak tentu bisa melihat wajahnya dengan jelas. Namun ia berusaha untuk selalu mengalihkan pandangannya, melihat apapun selain pemuda bersurai pirang.

"Aku minta maaf karena lagi-lagi membuatmu menangis. Mungkin aku memang belum pantas untuk menjagamu sepenuhnya."

Kalau boleh jujur, ucapan sang senior hampir membuat Jungkook terisak.

Seolah Kim Taehyung yang berjanji akan selalu menyukainya, bahkan ketika badannya membengkak seperti balon, Kim Taehyung yang bilang akan menikahinya, yang bilang akan membuat adik bayi bersamanya setelah mereka terikat di hadapan Tuhan, menyerah begitu saja menghadapi sikap Jungkook.

Atau, karena seniornya yang sempurna itu memang tidak berniat untuk mempertahankannya.

Jungkook mendengus, tertawa lirih.

Miris.

Ia bahkan sama sekali tidak berniat untuk, sedikit saja, melirik Taehyung yang sedari tadi menusuknya dengan tatapan permohonan. Ia bahkan tidak mau repot-repot untuk sekedar menghempaskan tangan kurang ajar Kim yang menggenggam jemarinya dan mengusap-usapnya lembut.

"Tapi aku akan berusaha sangat sangat keras agar kau terus percaya. Kau boleh marah padaku atas apa yang kulakukan, memakiku, memukulku, asalkan tidak melakukan satu hal; meninggalkanku." Taehyung mengulurkan tangan kanannya, mengusap sudut mata kiri Jungkook yang basah, kemudian turun ke pipinya, menghapus jejak air mata yang turun, mungkin, ketika Kim muda keluar dari kamar untuk membiarkannya menenangkan diri. "Aku tidak mau berbohong dan bilang aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Aku bisa hidup sendirian, baby. Sangat bisa. Tapi aku mungkin tidak akan bisa makan dengan baik, tidak akan bisa tidur nyenyak, tidak akan punya semangat untuk bekerja, dan sangat tidak bisa menahan diriku untuk tidak menghajar siapapun yang kelak akan menggantikanku di hatimu. Jadi kumohon, jangan pernah pergi dariku."

Jungkook masih diam, hatinya terasa sangat berat saat mendengarnya. Kalau sunbae-nya benar-benar mencintai Jungkook sebesar itu, maka ia tidak akan merahasiakan apapun darinya. Jeon muda selalu berusaha melakukannya, mengabari pemuda Kim apapun yang ia lakukan. Kenapa Kim Taehyung tidak bisa melakukan hal yang sama?

Walau harus diakuinya, bagian masa lalu soal Yugyeom memang terlewatkan begitu saja.

Karena Jungkook benar-benar ingin melupakannya.

"Soal Jimin…"

Kalimat menggantung yang diucapkan dengan nada yang begitu lembut berhasil membuat jantung pemuda bersurai wine hampir berhenti berdetak.

"Malam saat aku dengan kasar menciummu." Suara Taehyung sedikit bergetar seolah yang diucapkannya begitu menyakitkan. Entah untuk dirinya sendiri, entah untuk pemuda di hadapannya, atau keduanya. "Ayah dan ibumu tidak mengizinkanku menemuimu, tapi aku sangat khawatir dengan keadaanmu. Saat itu, aku baru saja memperlakukanmu dengan kasar, dan bahkan untuk meminta maaf dengan benar saja aku tidak bisa. Kekasihmu benar-benar payah, hm?"

Pemuda pirang terkekeh ringan. Kedua tangannya kembali memegang tangan Jungkook, menautkan jari-jari mereka berdua, memainkannya. Sementara yang lebih muda masih memilih bungkam.

"Aku mendatangi rumahnya, meminta tolong pada Jimin agar dia mengunjungimu dan memastikan keadaanmu. Kami memang ngobrol di kamarnya, itupun karena aku tidak mau Nyonya Park mendengar apa yang kami bicarakan. Ya, walau aku hanya bilang kalau kita bertengkar, tetap saja aku tidak mau ibunya Jimin tahu. Dan soal hari ini…" Kim muda mengambil nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia enggan menceritakan apa yang dilakukannya bersama hoobaentet Park, tapi sepertiya ia harus. "Aku bertanya padanya tentang Kim Yugyeom."

Dan nama itu berhasil menarik seluruh atensi Jeon Jungkook. Kedua obsidiannya menatap lurus manik kecoklatan sang kekasih.

Sebenarnya Taehyung merasa sangat kesal. Sedari tadi ia mengoceh ini-itu seperti mahasiswa yang sedang berorasi, namun diabaikan. Tapi begitu menyebut sebuah nama yang sesungguhnya ia tak suka, dirinya malah langsung mendapatkan seluruh perhatian Jungkook.

"Kau benar-benar…" Taehyung menghela nafas kasar. Ia beranjak dan memilih duduk di samping sang kekasih. Sebelah tangannya menarik kepala bersurai anggur, membuat telinga Jungkook menempel di dadanya. Dengan lembut, bungsu Kim menahannya agar tidak bergerak menjauh. "Kalau tidak mau menatapku, kau tidak perlu memaksakan diri. Cukup biarkan aku melakukan ini. Memelukmu membuatku lebih tenang."

Jungkook harus bersyukur saat ini Kim muda tidak lagi memandanginya karena wajahnya mulai bersemu tanpa bisa ia kendalikan.

"Kau terlihat tidak suka saat aku bertanya soal itu, dan karena mood-mu tadi sangat baik setelah kita pulang dari pantai, aku sungguh tidak mau merusaknya. Park Jimin adalah satu-satunya nama yang terpikirkan olehku karena dia satu-satunya temanmu yang kukenal di sini. Karena kalian bersahabat sejak lama, kupikir dia tahu tentang itu. Dan memang dia mengetahuinya."

Taehyung bisa merasakan kaosnya diremat. Mungkin Jungkook melakukannya tanpa sengaja, jadi ia memilih diam saja. Dikecupnya lembut puncak kepala yang lebih muda.

"Aku benar-benar ingin menghajar Kim Yugyeom karena dia dan teman-temannya menjadikanmu bahan taruhan. Dan apa-apaan itu? Menciummu? Brengsek! Aku tahu dia shift malam dan aku hampir berlari keluar kamar kalau saja Jimin tidak menahanku." Kim muda memeluk kekasihnya semakin erat. "Kalau dia tidak ada, mungkin kekasihmu akan dipenjara karena melakukan tindak kekerasan yang membabi buta kepada karyawannya."

"Hyung…"

"Ssttt… aku belum selesai." potong yang lebih tua. Sejujurnya ia suka kelinci gembulnya sudah mau bicara, tapi sungguh ia ingin mengatakan semua yang ada di dalam kepalanya. "Dan aku lebih marah lagi padamu karena kau bisa-bisanya masih berteman dengan manusia brengsek sepertinya."

Ingin rasanya Jungkook melafalkan maaf saat mendengar helaan kasar yang lolos dari bibir sang kekasih. Tapi entah mengapa ia hanya diam saja.

"Jimin bilang dia akan lari atau push up, sit up dan lain sebagainya ketika sedang marah. Jadi aku melakukannya juga. Mungkin dia benar, menghajar Yugyeom tidak akan megubah apapun, lagipula kau juga sudah memaafkannya. Jadi aku berpikir untuk memaafkannya juga dan lebih memilih untuk menyeret Park Jimin untuk menemaniku push up."

Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Taehyung sudah selesai dengan apa yang ingin ia katakan, sedangkan Jungkook masih enggan bicara. Namun pada akhirnya, ia memaksakan diri.

"Saat sekolah dasar, aku dan teman-teman sekelasku sering pulang beramai-ramai. Aku sedang ngobrol dengan Jimin saat Yugyeom tiba-tiba saja menciumku, dan teman-temannya tertawa. Aku begitu cengeng karena langsung menangis. Sebenarnya aku bingung, kenapa aku ditertawakan, apakah Yugyeom melakukannya dengan sengaja agar aku ditertawakan. Semua membuatku bingung. Kau tahu? Semuanya ikut tertawa, bahkan mereka yang tidak melihat apapun, kecuali Jimin yang langsung menggandengku pulang dan Yugyeom yang diam saja. Hari berikutnya aku tidak berangkat sekolah karena merasa takut, dan ketika sore, Yugyeom datang menjengukku dengan wajah yang memerah. Jimin mengantarnya." Jungkook terkekeh saat mengingat wajah Yugyeom yang datang dengan mata berkaca-kaca. "Dia bercerita kalau menciumku karena kalah taruhan. Dia juga minta maaf. Wajahnya saat menangis benar-benar lucu, aku tidak bisa untuk tidak memaafkannya."

"Dan sejak saat itu kalian menjadi teman dekat." bungsu Kim menyelesaikan cerita sang kekasih, lalu mendapat anggukan ringan dari Jungkook. Ia menjauhkan tubuh kekasihnya, menatap wajahnya lekat dengan raut serius. "Bagian mana?"

Terkadang, Kim muda mengatakan hal-hal yang bermakna setengah, dan entah bagaimana, pemuda Jeon selalu bisa mengartikannya. Ia menyentuh sudut bibir atasnya, sebelah kiri.

Dan dengan itu, Taehyung memberikan kecupan singkat di sana selama dua detik. "Apa dia menciummu seperti itu?"

"Umm, tidak." jawab yang lebih muda. Ia membalas tatapan sang kekasih, membalas rematan lembut dari jemari yang saling bertaut. Jungkook merapatkan kedua belah bibirnya, lalu menempelkannya ke sudut bibir kiri pemuda pirang selama sepersekian detik sebelum menarik wajahnya menjauh. "Seperti itu."

Taehyung tertawa renyah setelahnya, menempelkan keningnya ke kening kekasihnya sebelum kembali bicara. "Aku cemburu karena kau masih mengingat ciuman pertama-mu."

"Itu bukan ciuman pertamaku. Ciuman pertamaku adalah saat hyungie melakukannya di depan Namjoon hyung dan Seokjin hyung. Aku malu sekali kalau mengingatnya."

Dan tawa yang lebih tua terdengar semakin keras. Ia memeluk sang kekasih gemas. "Kita akan melakukannya di hadapan lebih banyak orang kelak. Bersiap-siaplah."

Kali ini Jungkook yang tertawa. Ia sedikit membenturkan dahi mereka main-main hingga senior kesayangannya mengaduh pelan.

"Maafkan aku karena tidak bercerita soal Jimin dan membuatmu salah paham."

Putra tunggal Jeon mem-pout-kan bibirnya. "Semua gara-gara hyung mengatakan kalimat ambigu. Aku jadi berpikir yang macam-macam. Kenapa pula hyung mengatakan push up dengan sebutan main, dan kenapa harus di dalam kamar bersama Jimin? Aku kan jadi -umhh."

Kedua mata pemuda bersurai red wine membola ketika sesuatu yang kenyal dan hangat menyumpal mulutnya. Ia terjebak dalam keterkejutan selama beberapa saat sebelum akhirnya memejamkan mata dan menikmati lumatan lembut di bibirnya. Jungkook balas memagut, menghisap perlahan bibir bawah kekasihnya yang bergerak-gerak menggoda.

"Hyuwng.. mmn…" Jungkook masih memejamkan mata, meremat masing-masing lengan sang kekasih yang memeluknya posesif. Ia memekik ketika dengan nakal, bungsu Kim meremas pinggangnya. "Aakhh!"

Entah mengapa, jemari panjang sang kekasih seolah menjadi penghantar listrik yang membuatnya tersengat. Bukannya kesakitan, ia malah merasakan geli yang membuatnya ketagihan.

Dan bibir Jeon muda yang terbuka menjadi komando bagi si pirang untuk menelusupkan lidahnya, menyapu langit-langit mulut pemuda bersurai wine, mengabsen deretan giginya, hingga membelit lidahnya dan menghisapnya kuat. Taehyung selalu menyukainya, cara Jungkook membalas ciumannya yang manis benar-benar menjadi candu baginya. Taehyung selalu menyukainya, lenguhan merdu kekasihnya yang menggemaskan sekaligus erotis.

Tubuh Jungkook memanas, ia merasakan panas dari bibir Kim muda menjalar ke bibirnya sendiri, memenuhi mulutnya hingga menyebar kewajah dan membuatnya memerah. Ia merasa sedikit canggung ketika dirinya mulai menghisap rakus saliva kekasihnya. Ia bahkan menggigit bibir bawah sang senior, menariknya lembut dan mengulumnya di dalam bibir. Hal itu sukses membuat pemuda Kim setegah tersenyum saat menjulurkan lidahnya untuk bermain-main di atas permukaan bibir yang lebih muda.

Kim Taehyung menyukai kekasihnya yang mulai nakal.

"Mmn, hyungie…" gumamnya bersamaan dengan dirinya yang melepas gigitan pada bibir Taehyung. Kedua bola matanya menatap sayu sang kekasih.

Taehyung terkekeh ringan saat tautan bibir mereka terlepas. Dikecupnya singkat ujung hidung Jungkook setelahnya. "Aku mau mandi. Kau mau mandi juga? Agar kita bisa tidur nyenyak."

Jungkook mengangguk. Bukannya beranjak, ia malah memeluk Kim muda dan menggelendotkan tubuhnya. "Aku sangat sangat menyayangi Taetae hyung."

"Jungkook-ah, terima kasih kareka kau tertarik padaku terlebih dahulu, lalu melakukan hal-hal manis sehingga aku mulai memperhatikanmu. Kalau tidak, aku mungkin tidak akan mencintaimu seperti sekarang."

Jungkook tersenyum lebar, semakin mengeratkan pelukannya. Ia menganggukkan kepalanya beberapa kali ketika jemari tangan kanan senior kesayangannya menyisir surai sewarna anggur merah.

Beberapa saat mereka dalam keadaan seperti itu, dan Jeon Jungkook belum berniat untuk melepaskan pelukannya. "Hei bunny, jangan seperti ini. Apa kau mau kumandikan, hm?"

Jungkook menggeleng perlahan.

"Atau… mau mandi bersama? Kurasa kita bisa melakukan kegiatan ekstra."

"Mesum!" pekik Jungkook yang langsung melepas pelukannya. Ia mendorong kuat tubuh senior Kim hingga terjengkang di atas kasur. Setelahnya ia menyambar sebuah handuk dan yukata, lalu berlari ke kamar mandi.

Taehyung yang ditinggalkan hanya bisa tertawa.

.

.

Jeon Jungkook duduk di tepi ranjang dengan hanya menggunakan yukata tipis berwarna putih dengan aksen biru ringan di beberapa bagian, juga celana dalam. Ia memainkan jemarinya resah saat menyadari sesuatu.

Ketika dirinya selesai mandi, pemuda bersurai jerami langsung menggodanya dengan sebuah kalimat ambigu sebelum membersihkan tubuhnya. Tunggu suamimu, sayang. Aku akan cepat dan segera menghangatkanmu. Dan itu sukses membuat wajahnya memerah dan jantungnya berdebar kencang. Itu terdengar seperti mereka akan melakukan kegiatan malam pertama selayaknya pasangan suami-istri.

Jeon muda tahu senior pirangnya hanya menggoda, tapi itu sukses membuat jantungnya berdetak menggila. Lama-lama, Kim Taehyung benar-benar bisa membuatnya mengalami serangan jantung kapan saja.

Dan ketika mendengar suara pintu kamar mandi dibuka, juga melihat sekelebat bayangan tubuh pemuda Kim yang berbalut yukata, ia langsung merebahkan dirinya, membelakangi sang kekasih. Jungkook tidak mau digoda lagi. Namun pemuda bersurai pirang malah terkekeh ketika memergoki tingkahnya.

"Seharusnya namamu bukan Jeon Jungkook, tetapi Jeon Jung-cute." gumam yang lebih tua saat menaiki ranjang. Ia langsung berbaring di belakang kekasihnya, menelusupkan lengan kanannya sebagai bantal, lalu memeluk pinggang pemuda Jeon. "Selamat malam, sayangku."

Jungkook menggigit bibirnya saat merasakan sebuah kecupan hangat penuh puja dijatuhkan pada pundaknya yang polos. Taehyung melakukannya berkali-kali dan entah mengapa, itu sukses membuat tubuh pemilik surai wine memanas.

"Mmhh…" ia melenguh pelan, secara refleks mendorong tubuhnya sendiri untuk semakin merapat pada tubuh Kim muda. Ketika bagian belakangnya menekan selangkangan sang kekasih, Jungkook menyadari sesuatu. Ia terbata, "H -hyung, kenapa kau tidak, mmhhh."

Kalimat itu gagal selesai karena sang senior telah terlebih dahulu menggigit lembut belikat Jungkook yang ia ekspos dengan menarik bagian atas yukata.

"Jangan katakan apapun, kita akan tidur seperti ini."

Jeon Jungkook hanya bisa mengangguk. Ia memejamkan matanya, berusaha mengabaikan bahwa di balik yukata tidurnya, Kim Taehyung tidak mengenakan sehelai benangpun. Tentu si hoobae manis bisa merasakannya karena bagian selatan sang sunbae setengah menegang.

"Jangan terlalu banyak bergerak atau dia akan benar-benar bangun dan kau harus membantuku menidurkannya."

Dan Jungkook memejamkan matanya semakin rapat.

.

.

.

.

"Jadi, kalian sudah baikan?" tanya namja bermata sipit yang duduk di meja bundar bersama seorang sahabatnya, juga seorang seniornya di kampus. Ia memperhatikan kegiatan sang sahabat yang tengah menyuapi sunbae sekaligus kekasihnya dengan sangat telaten. Mereka sedang sarapan di kamar yang biasa ditempati bungsu Kim.

Jungkook mengangguk, tersenyum malu-malu, membuat helaian sewarna anggurnya bergerak-gerak lucu. Sedangkan Kim muda malah memberengut. Ia yang mengenakan kaos berwarna putih dengan lukisan bulu-bulu di bagian leher, juga celana denim selutut malah menendang tulang kering Jimin, membuatnya mengaduh ringan.

Jimin memelototi seniornya sebelum melirik Jungkook. Sahabat kelincinya mengenakan kaos putih berlengan pendek yang seolah terkena cipratan cat berbagai warna di beberapa bagian, jelas sekali bukan milik pemuda Jeon. Ia menyadari sesuatu.

"Pantas saja Tae hyung tidak ada saat aku terbangun tengah malam tadi. Ternyata Jungkook menginap. Curangnya, kalian sudah mandi dan memesan makanan, sementara aku masih tidur. Untung aroma masakan Ji Eun noona sangat nikmat, jadi aku berhasil bangun karenanya. Kalau tidak, pasti aku akan kelaparan sampai siang."

"Tunggu." yang paling muda mengeryitkan dahinya, ia menatap Jimin sebelum beralih ke arah kekasihnya." Hyung?"

Kim Taehyung tahu betul sang kekasih bermaksud menanyakan perihal panggilan Park muda yang berubah kepadanya. Dan ia hanya bisa menunjukkan cengiran lebarnya. Ia menaikkan sebelah alisnya, "Aku menyuruhnya begitu agar kami lebih akrab. Sahabat kekasihku harus menjadi sahabatku juga, hmm?"

Senior Kim berniat mengangkat lengannya untuk mengusak kepala Jungkook, dan saat itu ia kembali merasakan nyeri yang luar biasa pada lengan atas, pundak, dan tulang belikatnya. Taehyung meringis menahan sakit.

Mirisnya, hoobae kesayangannya malah tersenyum lebar sambil menyuapkan sesendok penuh nasi dan lauk untuknya. "Rasakan. Makanya tidak usah sok-sokan push up malam-malam segala."

"Ini semua gara-gara Jimin. Dia tidak bilang kalau lenganku akan sakit setelahnya."

"Apa?" tanya yang paling pendek protes. Ia bahkan menghentikan kegiatannya memasukkan sarapan ke dalam mulut. "Salahmu sendiri tidak pemanasan dulu."

"Kau juga tidak pemanasan. Bagaimana bisa lenganku sakit sementara kau biasa saja?"

Kali ini hoobaentet mendengus sambil tersenyum miring. Jelas sekali kalau ia meremehkan sang senior. "Itu karena aku sudah terbiasa melakukannya. Kau juga harus membiasakan diri untuk berolahraga, hyung. Tubuhmu itu terlalu kurus. Sama sekali tidak berisi, kerempeng. Payah."

"Kau!" Kim Taehyung hampir menggebrak meja karena kesal. "Sial. Tahu akan kurang ajar begini, kau pasti sudah kukerjai habis-habisan saat ospek dulu. Sayang sekali kau memasang tampang melas seperti Mashimaro."

Park Jimin terbahak setelahnya. "Harusnya kau mengatakan itu kepada Jungkook, hyung. Kekasihmu itu benar-benar seperti kelinci gendut, sangat Mashimaro sekali."

"Kenapa aku dibawa-bawa?" kali ini Jeon muda yang bersuara. Ia lebih banyak diam dan mengunyah, juga sesekali menyuapi kekasihnya yang susah menggerakkan lengan.

"Karena tubuhmu semakin subur."

"Namanya sexy, Park! Sexy, bukan gendut. Kalau tidak percaya, tanyakan Taetae hyung saja. Dasar bantet."

"Kau -"

"Sudah jangan bertengkar. Lebih baik habiskan sarapan kita." gumam pemuda Kim pada akhirnya. Ia malas juga kalau harus saling melempar ejekan. Lebih baik bermanja kepada kelinci gembulnya yang menggemaskan.

Jungkook dan Jimin menghela nafas, sama-sama kesal. Namun berhenti saling mengejek juga. Mereka lalu ngobrol ringan setelahnya, membicarakan kuliah dan beberapa rencana untuk hang out di awal masuk kuliah karena biasanya belum banyak tugas. Jungkook ngotot ingin melihat-lihat sepatu, sementara pemuda Park ingin sekali pergi ke Lotte World. Tidak ada yang mau mengalah sampai akhirnya sang senior memutuskan untuk pergi karaoke bersama-sama. Mulanya, mereka berencana untuk pergi berempat; Jungkook, Taehyung, Jimin dan Yoongi. Tapi karena kegiatan yang dipilih adalah karaoke, Jungkook mengusulkan untuk mengajak Hoseok juga. Tentu Taehyung langsung meng-iya-kan.

Jimin pulang sekitar pukul setengah sembilan pagi. Katanya ia ingin cepat-cepat mandi dan mengganti pakaiannya, sementara Jungkook masih bersama Taehyung di kamar pemuda Kim.

Jeon muda ngotot ingin mengganti sprei di kasur. Ia sungguh tidak mau jika aroma tubuh Park Jimin menempel pada tubuh kekasihnya, walau hanya sedikit saja. Ia bahkan pergi sendiri ke bagian laundry dan mengambil sprei baru. Katanya, pemilik surai wine ingin memasangnya sendiri juga.

Ia tiba di kamar bersamaan dengan beberapa pegawai yang akan memberesi piring-piring dan sisa sarapan. Jungkook tersenyum ramah mempersilakan mereka masuk. Ia menunggu beberapa menit sampai akhirnya meja kembali bersih.

Taehyung yang sedaritadi berdiri di sisi ranjang hanya memasang wajah kesal. Sungguh ia ingin cepat-cepat merebahkan diri namun kelinci manisnya bersikeras melarang. Daripada diamuk lagi, lebih baik menurut. Jadi pemuda Kim benar-benar menunggu dan tidak menyentuh kasur.

Karena lengannya sedang sakit, ia juga hanya bisa menunggu sang kekasih yang tengah mengganti spreinya. Ia menelan ludah saat melihat bokong montok Jungkook menungging di atas ranjang untuk merapikan bagian sudut tempat tidurnya.

"Sudah." pemuda Jeon tersenyum bangga. Ia segera turun dari ranjang untuk selanjutnya menaruh sprei dan sarung bantal yang lama ke atas meja. Setelahnya ia mengeluarkan krim otot dari sakunya.

"Hyung tiduran saja. Aku bertanya kepada pegawai apa mereka memiliki minyak gosok dan mereka malah memberiku ini. Katanya ini tidak terlalu panas dan akan membuat otot terasa lebih baik."

Taehyung mengeryit heran. "Kau akan memijatku?"

Yang lebih muda mengangguk semangat. Ia bahkan menuntun sang kekasih agar merebahkan diri di atas ranjang.

"Kookie, krim otot itu panas, nanti tanganmu kepanasan. Lebih baik aku pakai sendiri saja."

Yang lebih muda mem-pout-kan bibirnya. "Aku ingin mengoleskannya untukmu, lalu memijat punggungmu agar kau merasa lebih baik."

"Tidak perlu, sayang. Aku sudah merasa baikan." bujuk senior Kim. Ia membelai wajah Jeon muda dengan amat lembut. Sungguh, ia hanya tidak mau telapak tangan kekasihnya kepanasan.

"Tapi, hyung, aku hanya ingin membantu."

Taehyung menggelengkan kepalanya perlahan. "You staying by my side is the best remedy I've ever had."

Bukannya tersenyum, Jungkook malah mencebikkan bibir, menggembungkan pipi, lalu menatap iris kecoklatan kekasihnya dengan mata anak anjing yang, menurut Taehyung, menggemaskan. "Tapi tanganmu sakit gara-gara aku. Semalam juga aku malah menindih lenganmu. Ingat saat pertama kali aku bangun di apartemenmu, hyung? Kau bilang tanganmu kebas gara-gara kujadikan bantal. Di hari biasa saja kau sampai begitu, semalam kau habis push up tanpa pemanasan, lalu aku menjadikan lenganmu bantal. Pasti rasanya sakit sekali. Semuanya gara-gara aku."

"Baiklah.. baiklah… kelinci manisku yang pintar." pemuda Kim menghembuskan nafas kasar. Ia menarik kedua pipi sang kekasih ke segala arah. "Kau benar-benar tahu apa yang harus kau lakukan agar aku menuruti kemauanmu, hm? Hari ini mengorbankan telapak tanganmu untuk membalurkan krim otot. Besok apa lagi? Dasar menggemaskan."

Jungkook hanya terkekeh, terlebih saat sang kekasih melepas kaosnya pasrah, lalu melemparnya begitu saja ke wajah yang lebih muda. Ada aroma yang sangat Jeon muda sukai di sana. Bukan aroma parfum favoritnya, ia tahu betul senior Kim tidak memakai parfum pagi ini, melainkan aroma alami yang terasa menyenangkan dan hangat ketika masuk ke indera penciuman namja bersurai merah.

"Kuharap kau tidak memakai terlalu banyak krim." gumam Taehyung menenggelamkan wajahnya di bantal, kedua tangannya masing-masing menelusup ke bawah bantal yang dipakainya.

Pemuda Jeon menelan ludahnya saat menatap punggung lebar sang kekasih. Otot-ototnya tercetak samar. Baginya, itu sexy. Ia pun melipat kaos Taetae hyung-nya, lalu meletakkannya di atas nakas.

Menuang sedikit krim ke kedua telapak tangannya, ia lalu mengoleskannya ke punggung sang kekasih dengan memberikan tekanan-tekanan yang menurutnya cukup ketika meratakannya. "Bagaimana, hm?"

Taehyung terkekeh, memiringkan kepalanya ke kanan. "Mmh.. lumayan. Pijat lebih kuat lagi, ya.. seperti itu."

Jungkook tertawa renyah melihat ekspresi sang kekasih yang terlihat menikmati. Diam-diam ditambahkannya krim otot untuk memijat kedua lengan bungsu Kim yang ternyata mulai membentuk otot juga. "Bagian mana yang sakit sekali?"

"Hmm?" gumam yang lebih tua. Ia terlihat memejamkan mata dengan wajah rileks.

"Bagian mana yang sakit?" ulang Jungkook. Ia menambahkan sedikit tenaga ketika menekan pundak Kim Taehyung. Sunbae kesayangannya sedikit melenguh, dan Jeon muda kembali menambahkan krim otot untuk memijat bagian itu.

"Ya, itu juga boleh."

Jungkook tahu, Taehyung setengah tertidur saat mengatakannya, dan ia hanya bisa tersenyum maklum. Terkadang, Kim Taehyung yang gentle benar-benar bisa melakukan sesuatu yang manis dan menggemaskan. Dan Jungkook selalu menyukainya.

Taehyung yang menolak tawarannya untuk memijat hanya karena tidak mau telapak Jungkook kepanasan, padahal di sisi lain, lengan yang lebih tua benar-benar sakit, itu sangat manis.

Jungkook jadi tahu, betapa Kim Taehyung menganggapnya berharga.

Dan ia akan selalu menyukainya.

Ia terkekeh ringan saat memanggil nama sang kekasih dan tidak ada jawaban yang ia dapatkan. "Dasar. Sekarang saja kau tertidur lagi, padahal tadi bilang tidak mau aku pijat."

Jeon muda melanjutkan kegiatannya selama beberapa saat sampai tangannya merasakan panasnya krim otot. Ia kemudiam menghabiskan waktunya selama beberapa menit hanya untuk memandangi wajah kekasihnya yang tengah terlelap. Bibirnya menyunggingkan senyum tulus.

"Aku tahu aku terkadang menyebalkan dan egois, kekanakan. Aku tahu appa dan eomma galak padamu. Tapi kumohon, jangan menyerah ya, hyung. Aku benar-benar ingin kau yang membimbingku seumur hidupku." bisiknya sebelum mencium kening sang kekasih lama.

.

.Eleventh lesson: "You staying by my side is the best remedy I've ever had." (END)

.

.

Tiger pernah ambil push up lima puluh kali malem-malem tanpa pemanasan dan paginya kedua lengan langsung pegel. Rasanya berat banget, dan rasa sakitnya baru hilang setelah tiga sampai empat hari. Jangan coba-coba.

Anyway, Thanks untuk semua yang sudah reviews, follows, favs, yaaa….

Tiger benar-benar merasa disayangi *plak

Terima kasih juga yang sudah follow ig dan add line. Tiger susah mengingat nama/ username, jadi semisal Tiger belum follow back/ add back, silakan komen dan minta Tiger untuk melakukannya, lebih oke lagi kalau ditambah username di ffn, biar Tiger mudah ingat begitu.

Jangan enggan untuk menyapa, sip?

Ehehe…

Ahaha…

Oke.

Akhirnya, review please

Line: kimtaemvan

Ig: kim_taemvan

Salam sayang, Tiger

Please, jangan panggil saya MIN :(