CAUTION! *smirk*

.

"Sweet Lesson" -Sequel of Sweet Lie

Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung.

Genre: Romance, Comedy (?)

Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook

Other casts: Kim Namjoon x Kim Seokjin | Park Jimin x Min Yoongi | Jung Hoseok (Jomblo Sejati) | PCY as Kim Chanyeol x BBH as Kim Baekhyun | Jung Yunho as Jeon Yunho x Kim Jaejoong as Jeon Jaejoong

Rated: T plus plus

Warning: Ambigu, typo tak tertahankan

.

.

Part XII: Something Better than A Kiss

Jungkook mengerucutkan bibirnya saat mengantar sang kekasih hingga ke depan rumah. Ia merasa sedikit tidak rela, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Siang tadi, setelah pemuda pirang bangun dari tidur nyenyaknya. Ia langsung mengantarkan Jungkook pulang. Bagaimanapun, eomma Jeon pasti mengkhawatirkan putra semata wayangnya yang semalam pergi hanya dengan mengenakan kaos tipis, maka Kim Taehyung mencoba untuk tidak membuatnya lebih khawatir.

Mereka lalu makan siang di kediaman Jeon, berdua saja karena kedua calon mertua Kim muda sudah makan terlebih dahulu. Ini hanya sebuah asumsi, tapi menurut Kim Taehyung, kedua orang tua Jungkook mulai merasa putranya aman jika bersamanya. Semoga saja benar.

Setelahnya mereka bermain game hingga sore di kamar Jungkook, dan setelah berhasil mengalahkan kelinci gembulnya, pemuda bersurai pirang malah mengatakan sesuatu yang membuat Jeon junior semakin kesal.

"Ayolah, manis. Jangan cemberut begitu. Aku jadi ingin menciummu." Taehyung terkekeh. Ia menarik kedua pipi Jungkook main-main saat mereka berdiri di dekat pagar. Yang lebih muda semakin mem-pout-kan bibirnya.

"Tapi ini terlalu mendadak. Hyung bahkan belum jadi menginap di kamarku." pemilik surai anggur masih protes. "Kenapa pulang besok siang? Kembali ke Seoul bersamaku saja ketika sudah mau masuk kuliah. Jangan besok."

Taehyung tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium pipi menggemaskan sang kekasih. "Kau mau menindihku di kasurmu yang hanya muat satu orang, atau mau aku yang menindihmu, hm?"

"Uh. Tahu begitu aku menerima tawaran appa untuk mengganti kasurku dengan yang lebih besar sebagai hadiah ulang tahun, bukannya minta game controller baru."

Bungsu Kim tertawa renyah. "Sudahlah, sayang. Aku memang berencana untuk pulang besok. Aku hanya belum sempat bilang. Maafkan hyung, ya?"

Jungkook mengangguk pasrah, lalu memeluk sang kekasih erat. "Kalau begitu, nanti malam aku menginap lagi, boleh?"

"Tidak." gumam sang senior tegas. Ia menyentil kening adik angkatannya gemas. "Nanti malam aku ke rumahmu. Aku hanya akan kembali ke penginapan untuk mandi dan menyiapkan beberapa hal. Kau juga mandi dan bersiaplah. Aku akan datang setelah makan malam. Jangan lupa makan yang banyak."

Jeon muda hendak melayangkan protes, namun kekasihnya sudah lebih dahulu membungkamnya dengan sebuah kecupan manis di bibir. Dan yang bisa dilakukannya hanya tertunduk malu sambil menyembunyikan pipi yang merona ketika kegiatan mereka tidak sengaja disaksikan oleh beberapa tetangga yang lewat.

"Hyung menyebalkan." gumam Jungkook. Sebelah tangannya memukul bahu sang kekasih.

"Tapi kau menyukainya, 'kan?"

Dan Jeon Jungkook yang menganggukkan kepalanya patuh benar-benar terlihat menggemaskan di mata seorang Kim Taehyung.

Jungkook akhirnya membiarkan kekasihnya kembali ke penginapannya setelah sang eomma mengomelinya dari dalam rumah. Ia terpaksa, tapi mau bagaimana lagi? Daripada nanti Taetae hyung kesayangannya diusir lagi dari rumahnya, lebih baik menuruti keinginan ibunya.

Seperti yang disuruh senior Kim, Jungkook benar-benar bersiap-siap, padahal ia tidak tahu bersiap untuk apa. Sejak sebelum makan malam, ia sudah mengenakan celana panjang, yang sebenarnya jarang sekali ia pakai ketika di rumah karena Jungkook lebih nyaman mengenakan celana pendek, juga turtle neck sweater rajut berwarna broken white dengan beberapa garis melintang warna hitam.

Yunho beberapa kali berdehen untuk menyindir penampilan putranya, namun malah diabaikan. Sementara Jaejoong berkali-kali mengambilkan lauk tambahan untuk Jeon junior.

"Eomma! Nanti aku kekenyangan." protes Jungkook untuk yang ketiga kalinya.

"Ssttt.. habiskan saja. Aku tidak mau anakku kelaparan tengah malam." bukannya menghentikan kegiatannya, Nyonya Jeon malah langsung menjejalkan sepotong daging ke mulut pemuda bersurai wine.

"Nwantwi akwu bisha ambil makanwan di kulkahh."

"Telan dulu." tegur sang kepala keluarga sambil menyentil dahi putranya. Bukan apa-apa, ia hanya benar-benar tidak mau Jungkook tersedak. Dan makan malam pun berlanjut dengan cukup tenang setelahnya.

Sekitar lima menit setelah Jungkook selesai membantu eomma-nya mencuci piring, seseorang mengetuk pintu dan dia langsung melompat kegirangan, berlari untuk membukakan pintu karena si gigi kelinci yakin, kekasihnya yang tampan ada di luar.

Sayangnya, ia mendapati pintu sudah terbuka dengan suara kekasihnya yang tengah mengobrol dengan sang ayah di ruang tamu.

"Kenapa appa membukakan pintu untuk hyungie? Harusnya aku jadi yang pertama menyapanya." protes yang paling muda mendudukkan bokongnya di sebelah sang kekasih. Ia mem-pout-kan bibir dengan pipi yang menggembung karena kesal.

Yunho yang gemas langsung menarik bibir putranya. "Appa kan juga ingin memberi salam kepada Taehyung. Memangnya tidak boleh kalau memberi salam kepada kekasihmu?"

Dan Jungkook berhasil dibuat malu karenanya. Diam-diam, Kim Taehyung juga sedang berusaha mati-matian untuk membuat dirinya tetap diam dan tidak menubruk calon ayah mertuanya sambil mengucapkan terima kasih saking senangnya. Berlagak cool, Kim muda hanya menunjukkan senyum simpulnya.

"Ya, ya… terus saja ngobrol sampai-sampai lupa kalau aku juga ada di rumah." Jaejoong datang dengan membawa sebuah tas jinjing dan jaket tebal berwarna hitam. Ia langsung menyerahkan keduanya kepada Jungkook, lalu duduk seenaknya di samping sang suami.

"Kenapa memberiku ini?" yang paling muda keheranan. Ia membuka tas jinjing untuknya dan menemukan sebuah termos travel size, juga beberapa hot packs.

"Memangnya Taehyung tidak memberitahumu?" kali ini Jaejoong yang merasa keheranan. Ia mengeryitkan dahinya saat menatap pemuda bersurai jerami.

Bungsu Kim menunjukkan senyum kotaknya. "Aku ingin memberi kejutan padanya, Bi. Aku belum bilang."

Kepala keluarga Jeon menggelengkan kepalanya, "Dasar anak muda. Ya sudah, berangkat sana, biar aku bisa berduaan dengan eomma kalian."

Kim Taehyung gagal fokus.

Jeon Yunho menyebut Jeon Jaejoong dengan eomma kalian ketika berbicara kepada Jungkook, juga kepadanya. Faktanya adalah, bunny kesayangannya merupakan putra tunggal, dan kata kalian yang digunakan kemungkinan besar mengacu kepada Kim Taehyung dan Jeon Jungkook.

Bolehkan bungsu Kim berharap bahwa ucapan Yunho barusan adalah kode yang menuju pada diterimanya dirinya sebagai calon menantu?

Semoga saja.

"Berangkat kemana? Hyung, kenapa diam saja aku tanya dari tadi?"

Suara melengking Jungkook berhasil membuyarkan lamunan Taehyung. Ia berdehem sekali lalu tersenyum kelewat lebar. "Nanti kau juga akan tahu."

Pemuda pirang berdiri, lalu merapikan jaketnya. Ia memberi isyarat kepada Jungkook agar segera memakai jaket miliknya juga. Setelahnya, ia membungkuk kepada Tuan dan Nyonya Jeon. "Paman, Bibi, kami pergi ya."

"Pokoknya kau harus merelakan jaketmu kalau sampai Jungkook kedinginan."

Taehyung tertawa renyah, menyaguhi permintaan calon ibu mertuanya yang masih saja bersikap overprotective terhadap putra semata wayangnya. Tapi tidak apa-apa, mendapat izin untuk mengajak Jeon Jung-cute kencan malam-malam sudah merupakan hal yang luar biasa. Sementara Yunho hanya berpesan agar mereka berdua berhati-hati dan tidak begadang.

Jungkook masih bingung. Ia yang mengenakan jaket tebalnya membiarkan Kim muda menggandeng tangannya sambil berjalan menyusuri malam di tengah semilir angin pantai yang dingin. Sebelah tangan sunbae-nya yang lain membawa tas pemberian Jaejoong.

"Hyung, kita mau kemana?"

Taehyung berhenti sejenak, lalu mengecup singkat pipi Jungkook. "Sebentar lagi sampai."

"Itu bukan jawaban."

Mengabaikan protes kekasihnya, bungsu Kim malah lanjut berjalan. Ia menautkan jemarinya semakin erat ke jemari yang lebih muda. Mereka berjalan menyusuri pantai hingga akhirnya berada di salah satu sudut dimana ada beberapa tenda yang telah didirikan. Kalau Jungkook tidak salah ingat, kawasan ini memang sering digunakan untuk spot berkemah.

"Kita akan berkemah." gumam pemilik surai pirang setibanya mereka di tenda paling ujung, lumayan jauh dari tenda lainnya. Ia segera membuka pintu tenda berbentuk setengah lingkaran untuk dua orang itu, lalu meletakkan tas dari Jaejoong di dalamnya.

Jungkook dengan segala keingintahuannya langsung masuk setelah melepas alas kakinya. Ia berdecak kagum saat mendapati dua buah selimut tebal, juga beberapa benda lain yang ia tidak tahu apa itu. "Kau yang menyiapkain ini?"

Taehyung mengangguk, menyalakan emergency lamp berukuran kecil yang ia letakkan di sudut, lalu mencari sesuatu di dalam tas besar yang ia bawa. "Karena mendadak, aku tidak sempat menyiapkan kayu untuk api unggun, dan hanya ini yang aku dapat. Tidak apa-apa kan?"

Jungkook tersenyum lebar. Ia menganggukkan kepalanya dan mengikuti sang kekasih yang keluar sambil membawa jas hujan dan sekotak kembang api berukuran kecil. "Langitnya cerah, hyung. Untuk apa jas hujan?"

"Untuk melindungi bagian belakangmu yang sexy agar tidak kotor." Kim muda terkekeh, lalu menaruh jas hujannya di atas pasir, mengisyaratkan agar Jungkook duduk. Setelahnya ia kembali masuk, melakukan entah-apa, membuat Jeon muda yang berada sendirian di luar merasa bosan.

"Hyung! Jangan bilang kau tidur."

Terdengar suara tawa renyah dari dalam, disusul dengan munculnya Taehyung dengan dua cangkir dengan asap yang mengepul. Ia menyerahkan satu diantaranya kepada Jungkook, kemudian duduk di samping sang kekasih. "Aku selalu ingin mengajak kekasihku camping."

Pemuda Jeon menerima sebuah hot pack yang dikeluarkan sang kekasih dari sakunya. Ia lalu menghangatkan tangan kirinya dengan itu. Ia menyeruput beberapa kali hot chocolate dengan tiga buah marshmallow kecil di atasnya. "Mmn… ini enak."

"Berterima kasihlah kepada eomma-mu yang membawakan kita air panas. Kalau tidak, coklat bubuknya akan sia-sia." Taehyung mengusap sudut bibir kekasihnya yang terdapat noda cokelat dengan ibu jari, lalu dijilatnya ibu jarinya sendiri.

"Jorok!" protes yang lebih muda. Ia meletakkan cangkirnya, lalu mengelap jemari sang kekasih dengan jaketnya. Kim muda tentu tertawa melihat itu.

"Lihat siapa yang jorok, hm?"

Jungkook mem-pout-kan bibirnya, memilih diam dan menyandarkan kepalanya di bahu senior Kim. Mereka terdiam selama beberapa saat, menikmati pemandangan pantai pada malam hari yang menghampar indah. Sejujurnya, Jeon Jungkook sendiri belum pernah menghabiskan waktu untuk berkemah di pinggir pantai seperti ini. Pernah beberapa kali ia membangun tenda dengan Jimin dan Yugyeom lalu tidur di dalamnya, atau begadang semalaman sambil bercerita, itu pun dilakukan di depan rumah mereka. Atau, ia pernah camping di area perbukitan dengan teman-teman sekolahnya, itupun karena kegiatan tersebut diwajibkan oleh pihak sekolah.

Pemuda bersurai jerami meneguk hot chocolate-nya, lalu menaruh cangkirnya agak jauh. Sebelah lengannya merangkul sang kekasih, dan tanpa sepengetahuan Jungkook, sepasang manik kecoklatan itu tak pernah lepas dari wajah hoobae manisnya.

"Walau sudah mengunjungi beberapa tempat penyewaan alat camping, aku hanya bisa menemukan benda-benda ini karena waktu yang kumiliki hanya beberapa jam." Taehyung mencium pipi Jungkook gemas, sedikit menggigitnya. "Lain kali kita camping dengan persiapan yang matang, jadi kita bisa memanggang sosis kesukaanmu untuk makan malam, atau cumi dan udang, atau apapun yang kau mau."

"Ini sangat keren, hyung. Aku saja tidak kepikiran untuk berkemah di pantai." kedua lengan Jeon muda memeluk erat kekasihnya dari samping. Ia menguselkan kepalanya di dada Taehyung. "Terima kasih banyak."

Bungsu Kim mengangguk, mengusap punggung Jungkook yang bermanja padanya. Mereka lalu terdiam hanya untuk menikmati suasana malam dengan tumpahan bintang di angkasa, juga pantulannya di cermin samudera.

Mereka sama-sama merasakan dinginnya malam, namun saling berpelukan membuat keduanya merengkuh kehangatan. Jungkook terdiam, mendengar detak jantung kekasihnya yang stabil, juga miliknya sendiri yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena suhu udara yang rendah, mungkin karena indahnya cakrawala di hadapannya, mungkin juga karena ia tengah memeluk lelaki yang dicintainya.

"Aku ingin menyalakan kembang api." Jungkook lalu meraih kotak berisi kembang api yang tadi dibawa sang kekasih. Masih bergelendot manja, ia membukanya, mengeluarkan satu dan memegang pangkalnya. "Hyung membawa korek api 'kan?"

Taehyung mengangguk, merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah korek api yang tadi sempat dibeli. "Kemarikan."

Pemuda bersurai wine mendekatkan ujung kembang apinya ke pematik yang dipegang Taehyung, dan saat pematiknya dinyalakan, kembang api yang dipegang Jungkook mulai menunjukkan cipratan-cipratan api kecil.

Bungsu Kim mengambil kembang api juga, ikut menyalakannya. Mereka bahkan tidak menyadari posisinya yang sudah tak saling memeluk. Mulai berdiri dari duduknya, Taehyung dan Jungkook menggerak-gerakkan kembang api yang mereka pegang di udara, bermain-main seperti anak kecil dan tertawa bersama.

Jungkook dengan satu kembang api di masing-masing tangannya, sedangkan sang kekasih hanya memawa satu. Sebelah tangannya yang bebas mengambil ponsel di saku, mengarahkan kelinci manisnya untuk menghadapnya, lalu ia beberapa kali menekan ikon shutter di kamera ponselnya.

Kim muda ikut tersenyum saat melihat Jungkook memamerkan senyum lebar, terlihat sangat senang. Pemuda Jeon selalu berhasil menyalakan kembang api tambahan sebelum yang lama mati, dan ia akan selalu tertawa ketika Kim Taehyung telat melakukannya.

"Kau payah, hyung." Ejeknya menjulurkan lidah. Bungsu Kim yang gemas melihatnya langsung menjegal sang kekasih hingga keduanya berguling di atas pasir. Bukannya marah, Jungkook malah terbahak saat berhasil menindih tubuh pemuda Kim yang notabene lebih kecil darinya. "Rasakan. Rasakan."

Taehyung ikut tertawa menerima pukulan main-main yang dilayangkan pemuda manis favoritnya. Bukannya membalas, ia malah memeluk pinggang Jeon muda, membuatnya mengerang protes karena sunbae kesayangannya berhasil menariknya jatuh menimpa tubuh yang lebih tua.

"Menyebalkan." Jungkook memeluk Taehyung yeng mengenakan jaket super tebal, menguselkan wajahnya ke dada sang kekasih. "Hyung gendut seperti Baymax."

Taehyung terbahak setelahnya. Ia menarik kedua pipi Jungkook ke segala arah sebelum mengecup ringan bibirnya. "Lalu kekasihku ini apa, hm? Kau berani mangataiku Baymax, kau pasti Totoro."

Jungkook menggembungkan pipinya. Ia kembali memukul main-main pundak kekasihnya.

"Kalau kau tidak bangun, aku tidak akan bisa mengangkatmu seperti biasanya. Jaket kita terlalu berat, aku jadi susah bergerak."

"Bilang saja kau payah." Jeon muda tersenyum mengejek. "Benar kata Chimchim, hyung terlalu kurus, terlihat tidak bertenaga. Kerempeng."

"Kau." Taehyung mendelik. Dengan sekali gerakan, ia berhasil membalik keadaan hingga tubuhnya kini berada di atas Jungkook. Setengah tersenyum, sebelah tangannya mengusap pipi yang lebih muda. "Memang siapa yang menggendongmu naik ke kamarmu ketika kau ketiduran di mobilku? Siapa yang sering memangkumu? Siapa yang datang ke rumahmu setiap hari padahal orangtuamu bersikeras mengusirku? Siapa yang dengan nekat dan tidak tahu malu memohon agar diizinkan bertemu denganmu? Menggunakan alasan agar kau mau makan dan minum obat agar mereka memberiku izin. Seperti itu masih kau bilang payah, hm?"

Jungkook terkekeh. Ia menjulurkan kedua tangannya untuk membingkai wajah kekasihnya. Ia tahu Kim Taehyung tidak sedang marah atau merasa kesal, pemuda bersurai pirang hanya ingin mengatakannya. Itu saja. Maka ia mengusap kedua pipi senior kesayangannya sebelum mendekatkan wajahnya dan memberi sebuah kecupan singkat di bibir. "Terima kasih, hyung. Kau yang terbaik. Aku beruntung karena kau melihatku."

"Tentu saja." bisik yang lebih tua membalas kecupan ringannya. "Memang siapa yang tidak bisa melihat pemuda manis se-sexy ini."

Jungkook sadar, sexy yang diucapkan mengacu pada ukuran tubuhnya yang berisi. Tapi dia senang-senang saja, toh Kim Taehyung yang mengatakannya, kekasih kesayangannya, dunianya.

Mereka lalu terdiam. Taehyung berguling dan tidur di sebelah Jeon muda, tangan kirinya mengamit tangan kanan Jungkook, saling berpegangan. Awalnya, bungsu Kim memandangi langit di atasnya, yang lebih muda melakukan hal yang sama. Namun karena ia merasa memiliki sesuatu, atau lebih tepatnya seseorang yang lebih menarik ketimbang bintang dan bulan di angkasa, ia memilih untuk menoleh ke samping.

Setelahnya, ia tersenyum tanpa henti.

"Hmm, bagaimana kau berhasil mendapatkan izin untuk membawaku camping, hyung? Biasanya eomma sangat cerewet jika aku akan keluyuran malam." tanya Jungkook. Kedua manik obsidiannya masih tertuju ke angkasa, bibirnya tersenyum saat merasakan tautan tangannya semakin erat.

"Jangan meremehkan kekasihmu yang payah ini."

Jungkook tertawa renyah mendengarnya, ia menoleh ke samping hanya untuk menyikut perut yang lebih tua sebelum kembali memandang langit. Ia tahu perkataannya hanya bercanda.

"Tapi memang lumayan sulit untuk mendapatkan izin dari eomma Jeon, walau akhirnya dia memberikannya juga."

"Ya.. Ya… kekasihku yang satu ini memang sangat keren." gumam Jeon muda. Ia melepas tautan jemarinya, lelu lebih memilih untuk memeluk lengan sang kekasih. Perlahan ia memijatnya. "Masih sakit?"

Taehyung tersenyum, memperhatikan wajah manis Jungkook yang terlihat begitu bercahaya di tengah hujaman kerlip bintang dan guyuran sinar rembulan. Sangat cantik. Walau tidak sedang saling bertatapan, sepasang obsidian itu nyata keindahannya, seolah Jungkook memiliki langit malam dan seluruh bintangnya di dalam sana.

"Sudah sembuh." gumam bungsu Kim tanpa melepas tatapannya.

Pemuda Jeon terkekeh. "Aku suka langitnya. Cantik sekali."

"Kau benar, sangat cantik."

Bukan, bukan langitnya yang bagi Kim Taehyung cantik, melainkan Jeon Jungkook yang tengah tersenyum lebar di sampingnya. "Kau cantik."

Mendengarnya, Jungkook mengeryit. Ia menoleh ke samping dan hampir terlonjak saat menyadari betapa dekatnya wajah sang kekasih. Mendadak jantungnya berdegup kencang, wajahnya terasa memanas.

"H -hyung…" cicitnya. Ia menunduk malu.

"Hyung di sini, Kookie." bisik Kim taehyung. Ia mengangkat dagu Jungkook dengan tangan kanannya, membuat keduanya saling bertatapan. "Apa ada sesuatu di perutmu sampai-sampai kau menunduk dan mengabaikanku?"

Jeon muda menggeleng, dan ia langsung memiringkan tubuhnya, memeluk leher sang kekasih yang berada di sampingnya.

"Seingatku, Jeon Jungkook yang kukenal sangat pemalu. Lalu, ini apa, hm? Beberapa kali ini kau terlebih dahulu menciumku, padahal biasanya aku yang memulai." Taehyung menghadap ke Jungkook, membelai pipinya lembut sebelum saling menempelkan kening mereka.

Pemuda bersurai wine semakin merapatkan tubuhnya ke tubuh pemuda Kim. "Ini semua gara-gara Taetae hyung yang suka sekali menciumku. Apa itu buruk kalau aku yang menciummu?"

"Tentu saja tidak." bisik bungsu Kim tepat di telinga Jungkook sebelum menempelkan bibirnya ke bibir cherry Jungkook. "Aku menyukainya."

"Mmhh…" Jeon muda melenguh saat tiba-tiba sang kekasih melumat bibirnya kasar. Namun ia menyukainya, sangat menyukainya sampai-sampai ia mengeratkan lengan yang memeluk leher Taehyung. "Hyuwmngg…"

Kim muda terkekeh sekilas, menelusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut Jungkook selagi tangannya menurunkan resleting jaket pemilik surai anggur dan mulai menggerayang masuk.

"Ahh.."

Taehyung menghisap lidah kekasihnya rakus, membuat Jeon muda menatap dirinya dengan sorot yang semakin sayu. Ia lalu membalasnya dengan lumatan yang cukup berantakan. Tubuhnya menggeliat ketika dengan sengaja pemuda Kim menyentuh nipple kanannya yang masih tertutup sweater.

Jungkook memejamkan matanya rapat, ia berani bersumpah, Kim Taehyung belum perneh memainkan tubuhnya seperti itu. Dan kali ini, bahkan memelintirnya dengan gerakan perlahan, dan itu sukses membuat yang lebih muda menarik kepalanya menjauh, melepaskan ciuman mereka dengan terpaksa hanya untuk melenguh. "Mmnnaahhh… hyuuunghh… Tae…"

"Hmm?" senior Kim melakukan yang lebih jauh dari biasanya. Ia memberikan kecupan-kecupan lembut yang menelusur rahang kekasihnya, masih dengan jemari yang bermain di atas puting Jungkook yang tegang, sementara tangannya yang lain meremat lembut pinggangnya. "Kau sangat manis."

Dan dengan itu pemuda berambut jerami menarik turun turtle neck yang menutupi leher jenjang Jeon muda, menggunakan lidahnya untuk menelusur leher sang kekasih, meninggalkan jejak basah yang begitu terasa panas bagi Jungkook. Ia menengadahkan kepalanya, mendesah ketika merasakan deretan gigi sang kekasih menyentuh kulitnya sebelum menggigitnya lembut.

Jungkook memekik, kedua tangannya kini meremat masing-masing pundak pemuda Kim. "Ohh.. apa yang kau lakukan hyumhhh…"

Taehyung menyeringai, ia menghisap leher sang kekasih, menggigitnya berkali-kali, mengulum, hingga akhirnya menghisapnya kuat-kuat.

Jeon muda memejamkan matanya, mulutnya terbuka, nafasnya tersengal ketika menahan erangan.

"Aku mencintaimu, Jeon Jungkook." bisiknya sebelum memberikan kecupan-kecupan ringan di bekas kemerahan yang ia ciptakan barusan. Dengan perlahan, Taehyung merengkuh sang kekasih dalam sebuah pelukan hangat. Ia menenggelamkan wajahnya di cerut leher pemilik helaian sewarna anggur sebelum kembali bicara. "Maaf, aku kelepasan."

Yang lebih muda hanya mengangguk. Ia semakin bersemu saat mendengar degup jantung kekasihnya yang tidak beraturan, begitu cepat dan sangat keras, tak kalah dengan detak miliknya yang juga menggila.

Mereka terdiam selama beberapa saat sampai Jungkook memutuskan untuk bicara terlebih dahulu. Ia merasakan sesuatu, dan bagaimanapun juga, ia merasa harus mengatakannya. Menelan ludahnya dengan susah payah, putra tunggal Jeon berkata, "Hyung, celanaku kemasukan pasir."

Taehyung berhasil dibuat tertawa karenanya. Ia memeluk gemas Jungkook, mencium pipinya dalam-dalam. "Bagaimana kau bisa semanis ini, hm?"

"Ini salahmu!" protes hoobae manis. Ia mengerucutkan bibirnya kesal.

"Ya sudah." pemuda Kim bangun terlebih dahulu, mengulurkan tangannya untuk membantu Jungkook berdiri. Setelahnya ia menepuk-epuk jaket yang lebih muda, megibaskannya beberapa kali. "Bersihkan bajumu, lalu rapikan. Setelah itu kita tidur, hm? Aku mau memungut batang kembang api yang tadi biar tidak meninggalkan sampah."

Jungkook mengangguk sambil menahan senyumnya. Ia mencuri sebuah ciuman di pipi sang sunbae sebelum berlari masuk ke dalam tenda.

"Dasar. Kenapa dia manis sekali…"

Sementara Jungkook yang masuk ke dalam tenda langsung memegangi dadanya sendiri. Bulu kuduknya meremang saat mengingat apa yang kekasihnya lakukan. Sebenarnya ia memang sudah sangat sering berpelukan dengan senior berambut pirang itu. Kalau ia menginap, atau sebaliknya, Kim Taehyung juga selalu menciumnya, entah itu kecupan-kecupan ringan, atau ciuman yang lebih dalam. Hyung kesayangannya benar-benar suka sekali menciumnya.

Tapi untuk membuat tanda di leher, juga memainkan nipple-nya…

Jeon muda menggelengkan kepala, membuat helaian sewarna anggur merahnya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Ia mengambil ponselnya, lalu membuka aplikasi kamera.

Ia mendekat ke arah emergency lamp dan menarik turtle neck-nyauntuk memudahkannya mengaca. Dan wajahnya kembali bersemu begitu mendapati tanda kemerahan itu terlihat begitu sempurna di lehernya.

"Uh, beberapa hari ke depan aku harus pakai turtle neck terus." kalimatnya berupa keluhan, namun bibirnya menyunggingkan senyum.

Jungkook lalu merapikan pakaiannya, meresletingkan kembali jaketnya karena dinginnya malam semakin menjadi. Tak lama kemudian, Taehyung masuk, ia menutup pintu tenda, menaikkan resleting tendanya agar mereka berdua merasa hangat ketika tidur.

"Seharusnya aku menyewa kantung tidur, tapi mereka kehabisan stok, jadinya aku meminjam selimut paling tebal yang dimiliki penginapan."

Pemilik helaian red wine terkekeh. Ia lalu membantu mengeluarkan barang-barang keras dari tas pemuda Kim, dan menjadikannya bantal. Sebenarnya Taehyung ingin sang kekasih tidur di lengannya seperti biasa, tapi Jeon muda menolaknya dengan alasan tidak mau membuat lengan senior kesayangannya sakit lagi. Ia menyetujuinya dengan catatan si kelinci manis harus mau memakai selimut Kim Taehyung sebagai bantal.

"Kau benar-benar menyebalkan." gumam Jungkook kesal. Ia memiringkan tubuhnya, menarik sisi selimutnya agar si pirang ikut tertutupi. "Tasnya bisa dipakai sebagai bantal berdua, kenapa kau malah memberiku selimutmu?"

Taehyung tertawa renyah. "Kalau tas ini berisi pakaian, kau boleh memakainya sebagai bantal juga. Tapi ini tidak ada isinya. Akan terasa keras di kepalamu, kau tidak akan nyaman."

"Terserah hyung saja." Jungkook menyerah. Ia memeluk lengan kiri sang kekasih, menjadikannya guling.

Baru saja yang lebih tua ingin tidur menyamping dan balas memeluk kelinci kesayangannya, namun pemuda Jeon sudah angkat bicara terlebih dahulu. "Pokoknya tidak boleh memelukku."

Dan Kim Taehyung hanya bisa menghela nafas pasrah. "Baiklah… baiklah. Tapi aku tidak akan bisa mengontrol diriku kalau sudah tidur. Jadi jangan marah kalau aku memelukmu sampai kau sesak nafas ketika aku sudah terlelap."

Jungkook tidak menjawabnya, dan dengan itu sebelah tangan Kim muda terulur untuk meredupkan lampunya.

"Selamat malam, sayang." bisik Taehyung sebelum mencium helaian anggur di puncak kepala sang kekasih.

"Beri tahu aku kenapa kau ingin mengajak kekasihmu camping." pemuda Jeon semakin merapatkan tubuh mereka. Satu selimut berdua ternyata membuatnya bertambah hangat. Ia tidak pernah merasa nyaman jika tidur masih mengenakan pakaian tebal. Tapi jika bersama Kim Taehyung, dan mereka berada di alam terbuka, ternyata menyenangkan juga.

"Entahlah…" gumam yang lebih tua. Tangannya yang bebas mengusap-usap kepala Jungkook agar ia merasa semakin nyaman. "Aku hanya ingin merasakan bagaimana jika kita saling bergantung, berdua saja. Kalau bisa, sebenarnya aku ingin meninggalkan seluruh gadget juga. Tapi karena kau sangat manis, dan moment yang kita miliki terlalu berharga untuk tidak diabadikan, sepertinya aku tidak akan bisa meninggalkan smart phone. Atau mungkin kamera digital juga boleh. Lain kali kita pergi camping ke gunung, hm? Atau di kawasan pantai lagi juga oke, tapi yang cukup jauh dari pemukiman. Tinggalkan ponsel dan bawa kamera kecil saja, dan kita akan menghabiskan waktu beberapa hari hidup berdua saja, jauh dari semua orang. Bagaimana?"

Menunggu beberapa saat untuk mendengar jawaban dari yang tercinta, namun yang didapat Kim Taehyung hanyalah hembusan nafas teratur dari pemuda di sampingnya. Ia lalu menoleh, tersenyum teduh ketika melihat Jungkook yang terpejam sambil menjadikan lengannya guling.

"Dasar… sepertinya besok kalau ingin camping denganmu harus membawa banyak baterai cadangan untuk kameraku."

.

.

.

Jungkook mengeryitkan keningnya. Ia menggeliat tidak nyaman saat sesuatu yang hangat dan lembab menyentuh wajahnya berulang-ulang, terutama daerah mata dan bibirnya, juga pipi, hidung, pelipis, kening, mata, bibir, hidung, mata, pelipis, bibir, bibir, hidung, pipi, bibir.

"Enghh… hentikan!" erangnya protes. Bukannya bangun, ia malah menarik selimutnya, yang entah bagaimana terasa lebih tebal dari yang ia pegang semalam, untuk menutupi wajahnya. Namun beberapa detik kemudian, seseorang menarik selimutnya. Bukan hanya menyingkirkannya dari wajah Jeon muda, tapi juga dari tubuhnya.

Jungkook meringkuk mencari kehangatan, menduselkan wajahnya ke tubuh seseorang yang tidur di sampingnya. Ia menyamankan posisi kepalanya yang menindih lengan orang itu. Lalu saat mendengar kekehan bernada rendah yang sangat ia kenal, pemilik surai wine mulai membuka matanya.

"Hyung… lenganmu." namja pemilik manik obsidian coba menyingkirkan lengan sang kekasih, namun sia-sia.

Yang ada, Taehyung malah kembali menciumi wajahnya. "Bangun, Kookie sayang. Katanya ingin mengajakku melihat sun rise. Mau melewatkannya lagi?"

Kali ini Jungkook menggeleng. Ia berusaha membuka matanya walau sungguh terasa berat sekali. Rasanya semalam ia tidur nyenyak, kenapa masih mengantuk juga. Tapi ada satu masalah yang sedari tadi mengganggunya.

"Kenapa aku menindih lenganmu lagi? Mana selimut yang satunya?" Jungkook berusaha bangun, dan pemuda Kim dengan senang hati membantunya. Matanya masih setengah terbuka, namun ia mencoba untuk melek juga.

Namja pirang terkekeh melihatnya. Ia lalu membuka pintu tenda, membiarkan angin pantai yang dingin di pagi hari masuk begitu saja. Sang kekasih langsung menggigil, dan dengan itu ia membungkus tubuh Jungkook dengan sebuah selimut.

"Semalam kau kedinginan. Aku mengajakmu kembali ke penginapan tapi kau ngotot tidak mau. Dalam keadaan setengah sadar pun ternyata kau keras kepala juga." kedua lengan Taehyung lalu memeluknya dari belakang. Mereka berdua duduk di dalam tenda dengan pintu yang terbuka, menghadap arah terbitnya matahari. Sebuah kecupan ringan diberikan di pipi. "Aku mengambil bantal-mu dan membungkus tubuhmu dengan itu. Tentu saja aku tidak akan membiarkan kesayanganku tidur tanpa bantal, jadi aku menggunakan lenganku."

Pemuda Jeon menguap lebar-lebar. "Kau memang selalu melakukan apapun sesukamu."

"Iya, tapi kau tidak membencinya, dan aku tahu itu. Mau hot chocolate lagi?" Taehyung mengeratkan pelukannya.

"Aku mau begini saja. Pelukan hyungie sudah sangat menghangatkanku."

Mereka lalu terdiam. Jungkook semakin merapatkan tubuhnya ke belakang. Menumpukkan tangannya pada kedua lengan pemuda Kim yang memeluknya. Menikmati terbitnya matahari dengan cara seperti ini ternyata menyenangkan. Jeon Jungkook menyukainya.

"Baby, aku tidak terlalu menyukai sun rise ini. Kau tahu kenapa?"

Jungkook menggeleng, ia sedikit mendongak, tersenyum saat mendapati wajah kekasihnya yang menerawang cakrawala terlihat begitu sempurna kala mendapat terpaan sinar sang surya yang baru bangun dari tidurnya.

Taehyung menunduk untuk mengembalikan fokusnya ke wajah sang kekasih. "Even if I had the most beautiful scenery in front of me, my eyes would always follow you as they know you're the one and only. So, even if the universe conspired and hide you from me, I'll still be able to find you, baby."

Dan Jungkook hanya bisa menunduk malu setelahnya, menarik kedua tangan sang kekasih dan memeluknya di dada. "Kau benar-benar menyebalkan, hyung. Jangan salahkan aku kalau aku semakin bergantung padamu."

.

.

.

.

.

"Yakin akan pulang hari ini?" pertanyaan itu terlontar dari bibir Jungkook untuk kelima kalinya pada makan siang bersama keluarganya, juga kekasihnya.

Taehyung tertawa renyah, lalu mengangguk singkat sebelum mengacak helaian sewarna wine sang kekasih. Jungkook cemberut dibuatnya.

"Jangan membuat Taehyung berat untuk pergi. Toh beberapa minggu lagi kau juga akan kembali ke Seoul." ujar Yunho meletakkan sendoknya. Ia menggelengkan kepala melihat putranya yang seolah akan ditinggal wajib militer selama dua tahun.

"Tidak apa-apa, paman. Jungkook sangat menggemaskan kalau sedang kangen padaku."

Dan pemuda Kim mendapatkan pukulan ringan di bahunya sebagai hadiah.

Jaejoong yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. Ia menatap Taehyung untuk beberapa saat sebelum berucap. "Berhati-hatilah. Kalau lelah atau mengantuk, jangan dipaksakan. Istirahat saja."

Pemuda pirang menganggukkan kepalanya kelewat bersemangat. Sepasang mata kecoklatannya berbinar senang karena mendapat dukungan moral dari calon ibu mertuanya. "Terima kasih untuk makan siangnya. Masakan bibi yang terbaik."

"Bohong." potong yang paling muda cepat. Ia menatap nyalang kekasihnya sebelum beralih pada sang ibu. "Dia bilang masakanku yang paling enak. Masakan eomma yang nomor dua, ah! Nomor tiga. Karena masakan mommy Baek yang nomor dua."

"Itu kan sebelum aku mencicipi masakan eomma-mu." bela Taehyung. "Sekarang masakan eomma-mu yang paling enak, lalu masakan Seokjin hyung, lalu masakan mom. Masakanmu memang enak, sayang. Tapi kau masih perlu belajar untuk memasak jenis masakan yang lain. Misalnya masakan Jepang, berbagai olahan seafood dan lain sebagainya. Itu yang membuatmu berada di ranking terbawah."

Jeon Jungkook mengerang protes, dan sang ayah berhasil tertawa dibuatnya. Taehyung sangat jujur, tidak dibuat-buat. Bahkan ia berani mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya kepada Jungkook walau itu beresiko. Menurutnya, Kim junior penuh pertimbangan, ia tahu akan semarah apa putranya jika ia jujur. Itupun kalau Jungkook marah, makanya ia berani mengatakannya.

Kim Taehyung, calon pebisnis handal.

Sementara Nyonya Jeon tersenyum simpul. "Harusnya kau senang dengan jawaban kekasihmu. Dia memilih untuk jujur agar kau bisa berkembang, bukannya membohongimu dengan pujian. Menurutku sudah jarang sekali lelaki yang seperti itu."

Kim Taehyung. Mahasiswa tingkat akhir yang sudah ingin sekali menikah dengan kekasihnya, merasa sangat bahagia mendapat pujian dari calon ibu mertua yang terkenal galak seperti singa.

Setelahnya, ia bertambah senang ketika Jeon Jaejoong melarangnya ikut mencuci piring. Pria bermata bulat itu bilang, Taehyung sebaiknya beristirahat saja sebelum melakukan perjalanan jauh dengan mobilnya. Tentu yang bisa ia lakukan hanya menurut. Dengan hati berbunga, tentu.

Pukul setengah dua, ia memutuskan untuk meninggalkan kediaman Jeon.

"Kau harus membawa ini, juga oleh-oleh untuk ibu dan kakak iparmu yang sedang diambil Yunho. Kudengar dari Jungkook, mereka hobi memasak." Jaejoong keluar dari pintu samping, menyusul kedua pemuda yang sudah berada di luar. Ia membawa dua buah tas yang penuh dengan berbagai olahan seafood khas Busan. Ia langsung menyambar kunci di saku kekasih putranya dan menekan tombol unlock. "Jungkook, taruh ini di dalam mobil Taehyung, dan bantu ayahmu memasukkan oleh-oleh yang lain."

"Aye!" pekik namja bersurai anggur. Ia mengambil tas dari tangan ibunya, lalu membuka bagasi mobil sang kekasih. Ayahnya yang baru datang dengan sepedanya menurunkan dua buah kardus yang terlihat berat, sepertinya berisi makanan laut kalengan dari pabrik Jeon.

"Ah, terima kasih, Bi. Tapi itu banyak sekali." Taehyung berterima kasih, membungkuk dalam-dalam kepada Jaejoong. Ia berniat untuk mendekati mobilnya dan membantu Jungkook beserta ayahnya, namun sebuah tangan mencekal lengannya.

"Taehyung."

"Iya, Bi?" Kim muda menoleh, menatap keheranan tangan Nyonya Jeon sebelum mendongak dan mendapati sepasang mata bulat yang menatapnya lekat.

"Apa kau serius dengan Jungkook?"

Untuk pertama kalinya, Jeon Jaejoong menanyakan perihal keseriusan seorang Kim Taehyung. Bolehkan ia menganggap ini sebagai lampu hijau yang mulai berkedip?

"Aku serius, Bi. Sangat serius. Aku tidak bisa menjanjikan bahwa Jungkook akan bahagia selamanya, selalu tertawa. Tapi aku bisa memastikan, apapun keadaannya nanti, aku akan selalu berada di sisinya."

Pemuda pirang menatap calon ibu mertuanya serius. Dengan itu, lengannya dilepas dan Jaejoong langsung menghela nafas. Taehyung merasakan pundaknya dirangkul dan ia hampir terlonjak setelah tahu siapa pelakunya.

"Lain kali, datanglah dengan orang tuamu." gumam Yunho. Ia tersenyum lebar sebelum melepas rangkulan dan menepuk pundak Kim muda. "Aku akan membelikan Jungkook kasur yang baru, jadi kau bisa menginap."

"Berhati-hatilah. Ingat pesanku, kalau lelah, beristirahat saja."

Kim Taehyung hanya bisa mengangguk. Rasanya ingin sekali ia memeluk kedua pria di hadapannya, lalu menangis bahagia.

"Kalian sedang membicarakan apa?"

"Menyuruhnya berhati-hati." gumam Jaejoong. Ia tersenyum setelah melirik Taehyung sekilas.

"Terima kasih, paman, bibi." Kim muda membungkuk dalam-dalam. "Aku pulang dulu, lain kali aku main lagi."

Dan kedua orang tua Jungkook tertawa renyah karenanya. Keduanya lalu masuk ke dalam rumah, meninggalkan sang putra bersama kekasihnya.

"Habis ini langsung pulang? Tidak mampir-mampir?" Jeon muda mengantar sang kekasih berjalan menuju mobilnya. Ia bahkan memaksa untuk bergandengan.

"Iya. Aku sudah berpamitan kepada Jimin sebelum kemari. Semua barangku di penginapan juga sudah kubawa. Baju yang kau pakai kemarin biarkan saja. Kau boleh memakainya terus."

Jungkook memasang wajah cemberutnya, bahkan ketika sang kekasih mengusap pipinya lembut.

"Aku akan mengirim pesan kalau beristirahat di rest area."

"Telfon atau video call."

"Iya… iya…. sayang. Video call."

Dan Jungkook tersenyum, menunjukkan kedua dimple-nya yang samar ketika pemuda Kim mencium pipinya lembut. Ia memeluk pemuda yang lebih tua darinya untuk beberapa saat sebelum akhirnya merelakannya untuk kembali ke Seoul.

Mungkin, beberapa minggu ke depan akan menjadi minggu-minggu paling berat seorang Jeon Jungkook.

Dan tanpa sepengetahuan kelinci manisnya, Kim Taehyung telah mendapatkan apa yang ia inginkan.

.

Twelfth lesson (the last lesson): "Even if I had the most beautiful scenery in front of me, my eyes would always follow you as they know you're the one and only. So, even if the universe conspired and hide you from me, I'll still be able to find you, baby."

.

.

END

.

.

Yuhuuu…

Tiger hobi banget mengakhiri Sweet series tanpa aba-aba

Ahahaha

Ahahahahaaaa…

Ada yang tahu inti dari seri Sweet Lesson apa?

Yak! benar sekali! *le niruin Dora*

Yang kangen Yoongi, dia akan sering nongol di ff Tiger yang lain,ehehe

Ahahahahhh…. pokoknya makasih banget buat yang udah dukung seri ini dan seluruh ff Tiger, juga THESIS Tiger

I love you all!

Sampai jumpa di Sweet lainnya… juga judul ff Tiger lainnya yang belum tamat.

.

.

Akhir kata, review please

Love, Tiger