Hola, hola! Balik lagi dengan Nozomi!
Mau ngomong apa ya? Udah ah, daripada ngeyampah mending langsung baca aja! ^^
HUAPPY READING!
Ying dan teman temannya sedang menunggu untuk kematian mereka.
Karena monster itu sudah bersiap siap untuk menghabisi mereka.
Sudah cukup lama mereka membuka matanya, tapi tak merasakan sakit dimana pun.
Mereka memutuskan untuk membuka mata mereka, mengintip apa yang terjadi.
Yang mereka dapatkan Yaya sedang menahan serangan dari monster itu.
"Yaya!" teriak Ying, khawatir kalau temannya itu terluka.
"Tch!" Yaya berdecak kesal karena serangan monster itu membuat tangannya sedikit sakit.
Jadi dia memutuskan untuk menumbuk monster itu sekuat tenaganya. Hasilnya monster itu terpelanting cukup jauh karena tumbukan Yaya itu.
Tanpa ia sadari, saat ingin menumbuk monster itu kakinya sama sekali tak berpijak di tanah.
Mereka melihat bahwa monster itu tak bisa bangkit lagi dan menghilang begitu saja.
"Apakah dia melarikan diri?" tanya Fang yang masih kelelahan dan kesakitan akibat serangan tadi.
"Tidak, dia sudah mati. Itulah yang terjadi jika kalian berhasil mengalahkannya.."jawab Ochobot dengan nafas terengah engah.
"Baguslah...Kau hebat Yaya.." ucap Gopal sambil memperlihatkan senyuman khasnya.
Yaya berbalik pada mereka dan tertunduk sedih.
"Jika dari awal aku berani untuk melawan monster itu, maka kalian tidak akan terluka parah seperti ini.."ucap Yaya. Suaranya terdengar lirih, sepertinya dia sedang menahan tangisnya.
"Jangan bilang begitu, Yaya. Jika kau tak ada, mungkin kami sudah mati sekarang ini."ucap Ying sambil tersenyum lembut.
Kemudian Yaya tersenyum lembut dan segera berjalan ke arah mereka untuk mengulurkan tangannya pada Ying, tentu saja Ying menerimanya. Tapi sebelum sempat untuk berdiri, tubuh Ying mengeluarkan cahaya yang tak terlalu terang.
Semua luka luka di tubuhnya langsung menghilang dengan sendirinya.
"A-apa?" tanya Ying sambil melihat luka luka ditangannya dan sudah menghilang begitu saja.
"Apa yang barusan kau lakukan Yaya?" tanya Fang juga ikut takjub dengan kemampuan Yaya.
"A-aku tidak tahu!" ucap Yaya ikut terkejut dan juga bingung.
"Kemampuan menyembuhkan? Itu kemampuan yang sangat langka!" ucap Ochobot dengan kagum.
Sekarang Yaya tambah bingung dengan keadaan seperti ini.
"Ucapan kalian membuat kepalaku semakin pusing saja!" bentak Yaya cukup kesal.
"Hahahaha! Oke, oke. Tadi aku lihat, kau juga bisa terbang, berarti kau juga memiliki kekuatan gravitasi ya?Berarti, kau selalu mencoba untuk bertahan dengan kondisimu yang sekarang ini dan apa kau mempunyai sebuah mimpi?" tanya Ochobot dengan pose berpikir.
Karena ucapan Ochobot itu, Yaya kembali teringat akan mimpinya. Mimpi yang selalu di idamkannya.
"Hahaha! Itu rahasia!" ucap Yaya sambil tersenyum jahil.
Yang lain hanya tersenyum, sedangkan Gopal terus menganggu Yaya dengan rasa keingin tahuannya yang sangat besar itu.
'Sepertinya, aku membuat keputusan yang benar.'
"Hei, Ochobot! Jangan berdiri saja! Ayo!" teriak Fang dari kejauhan.
"Ah! Iya! Tunggu aku!" teriak Ochobot sambil menyusul mereka.
~"~
"Ngomong ngomong, binatang apa yang ada di pundakmu itu, Ying?" tanya Yaya karena merasa asing dengan hewan itu.
"Hmm? Ini? Ini seekor penguin. Namanya Popo!" ucap Ying sambil tersenyum lebar.
"Pip, pip!" ucap Popo sambil melambai lambaikan tangannya pada mereka seakan akan mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kau tidak tahu ini, Yaya?" tanya Fang sedikit ragu.
"Tidak, mendengar namanya saja aku tidak pernah." jawab Yaya sambil menatap hewan itu.
"Benarkah? Aku rasa semua orang pasti pernah mendengar namanya." ucap Gopal.
Semuanya melihat ke arah Ochobot untuk meminta penjelasan.
"Hah... Mungkin Yaya berasal dari dunia yang berbeda. Jangan potong. Aku ini memilih orang orang yang mempunyai kesabaran yang besar saat menghadapi cobaan apapun. Diantara kalian semua, yang memiliki kesabaran dan ketulusan yang sangat besar adalah Yaya. Mungkin karena itu dia di anugerahi kekuatan menyembuhkan." jelas Ochobot dengan ekspresi agak malas.
"Heh...Kau memang hebat Yaya!" puji Ying sambil tersenyum lembut.
"Ah...Terima kasih.." ucap Yaya tersipu malu.
"Ngomong ngomong, kemana kau akan membawa kami?" tanya Fang pada Ochobot.
"Tentu saja kita akan pergi ke kota dulu. Kita akan mencari tahu keberadaan pangeran pangeran." jawab Ochobot.
Yang lain hanya menganggu dan melanjutkan perjalanan mereka.
Sementara itu, ada yang mengawasi mereka dari jauh...
Dan di tempat yang sangat menyeramkan dan gelap mereka berada.
"Jadi begitu ya, sepertinya aku harus menghabisi para penganggu dulu.." ucap seseorang yang tengah memperhatikan mereka dari layar monitor.
"Apa yang akan kau lakukan dengan temanku?!" tanya pemuda bertopi hitam dan merah beserta manik matanya yang bewarna merah menyala.
"Bukan aku, tapi kau yang akan melakukannya." jawab orang jahat itu sambil menyeringai seram.
Ia menekan sebuah tombol yang tersedia di mejanya itu. Rantai rantai yang mengikati tangan pemuda mulai berubah menjadi warna merah dan mengeluarkan aliran aliran listrik.
"AARRGGHH!" pemuda meringis kesakitan. Tak berapa lama rantai rantai itu sudah berubah warna menjadi warna normalnya.
Pemuda tersebut menundukkan kepalanya, tapi saat ia mendongakkan kepalanya, manik maniknya berubah menjadi warna hitam tidak ada lagi warna merah ataupun cahaya yang menghiasinya. Ekspresi wajahnya pun berubah menjadi datar, bukan dingin lagi.
"Bagus. Sekarang pergi seperti yang sudah kuperintahkan!" ucap orang jahat itu sambil melepaskan rantai rantai yang mengikatnya.
Entah kenapa, sang pemuda menurutinya dan segera pergi dari tempat itu dengan kecepatan yang luar biasa.
"Hahahaha...HAHAHAHAHA!"
"!"
Fang melihat Yaya melihati sesuatu di belakangnya.
"Ada apa, Yaya?" tanya Fang.
Yaya menoleh padanya, kemudian tersenyum lembut.
"Ah, tidak ada apa apa!"
Yang lain melanjutkan perjalanannya tapi Yaya masih memikirkan tentang yang tadi.
'Mungkin cuma perasaanku saja..' batinnya. Ia segera membuang jauh perasaan itu dan kembali fokus.
~"~
Sudah cukup lama mereka berjalan dan akhirnya tempat yang dituju tuju sampai juga.
Setelah masuk melewati gerbang yang cukup besar, mereka bisa melihat suasana perkotaan yang damai.
"Wow..." mereka semua terpana dengan suasana di tempat itu. Bunga bunga ada banyak, penduduk juga terlihat damai, daerah pertokoan pun juga tak terlalu bising.
"Apakah sebagian dari mereka adalah elf?" tanya Ying karena melihat ada beberapa penduduk yang memiliki telinga cukup runcing.
"Yup. Di dunia ini terdiri dari 4 jenis, manusia, elf, peri dan juga duyung." jelas Ochobot.
"Peri? Duyung? Aku kira mereka hanya sebuah dongeng!" ucap Yaya dengan terkejut.
"Bukankah sudah kubilang, ini adalah Elemental Dream Garden. Apa yang tidak ada di dunia kalian itu, ada disini." ucap Ochobot.
Jadi, apa maksudnya Yaya bisa bertemu dengan peri atau putri duyung? Seperti yang selalu ia impikan?
"Wah! Aku jadi tidak sabar untuk melihat mereka semua!" ucap Ying dengan bersemangat.
"Oke! Pertama tama kita harus meningkatkan reputasi kita!" ucap Ochobot sambil tersenyum lebar.
Yang lain memiringkan kepalanya,
"Reputasi?"
Ochobot melirik mereka dengan ekspresi malas sambil menghembuskan nafasnya.
"Tentu saja.. Kalau ingin mendapatkan informasi, maka kita harus membuat orang lain percaya bahwa kita orang baik. Tenang saja, mungkin kalian akan mendapatkan hadiah."
"Hmm..Ide yang bagus! Kita juga bisa berbuat kebaikkan di dunia ini!" ucap Ying di ikuti anggukan dari yang lain.
Semuanya mulai membantu orang orang yang membutuhkan pertolongan.
Gopal mencoba untuk membantu di sekitar daerah pertokoan bersama dengan Fang. Dia sendiri itu tidak mungkin.
Ying mencoba menghibur anak anak dengan melakukan atraksi kecil dengan hewan kesayangannya itu, Popo.
Yaya dan Ochobot membantu orang orang yang sedang sakit di sekitar klinik terdekat.
Hanya dalam waktu 1 jam mereka sudah mendapat kepercayaan dari orang lain karena sudah membantu banyak sekali orang.
"Jadi kalian ingin tahu tentang keberadaan para pangeran?" tanya seorang nenek nenek yang sudah sangat tua.
"Benar, nek. Kami sangat membutuhkan informasi seperti itu." jawab Fang dengan ramah.
"Aku mendengar bahwa mereka ada di tempat yang berbeda!" jawab seorang anak kecil. Sepertinya dia adalah seorang elf.
"Dan satu lagi, aku mendengarnya dari para penjaga baru, mereka bilang bahwa pangeran tertua ada di sekitar Bukit Petir Merah. Setahuku, di situlah tempat asalnya." ucap nenek tadi.
"Aku juga mendengar hal yang sama tentang apa yang barusan nenek katakan." ucap Ochobot, menyetujui.
"Maaf, hanya ini saja yang kami tahu." ucap nenek itu dengan menunduk.
"Nenek tidak perlu merasa bersalah. Informasi itu sudah cukup bagi kami. Kami berterima kasih." ucap Yaya sambil membungkukkan badannya, diikuti yang lain.
Nenek itu menatap lembut kepada Yaya.
"Nak, aku bisa merasakan ada aura yang sangat kuat dari dalam dirimu. Dan juga sebagai tanda terima kasih kami, silakan terima ini." ucap nenek itu sambil memberikan beberapa obat dan juga makanan. Singkatnya, perbekalan.
"Dan satu lagi, tolong terima ini." ucap nenek tersebut sambil memberikat sebuah jepitan. Yaya menerima jepitan itu dengan senang hati.
"Terima kasih banyak, nek!"ucap Yaya sambil tersenyum lembut. Ia segera memakai jepitan itu di jilbabnya.
"Baiklah, kami harus segera pergi. Kami pamit ya!" ucap Ochobot sambil membungkukkan badanya diikuti yang lain.
Mereka pergi meninggalkan kota di iringin lambaian dari penduduk kota.
.
.
Saat Yaya dan teman temannya sedang bergurau, Ying merasakan ada seseorang yang mengikuti mereka.
"Hmm? Ada apa Ying?" tanya Gopal, heran melihat ekspresi Ying.
"Nggak, aku cuma merasa ada yang mengikuti kita.." jawab Ying sambil melihat jalan yang berada di belakangnya.
Yang lain juga ikut melihat, tapi mereka hanya melihat hutan dan semak semak di pinggirnya.
"Mungkin cuma perasaanku saja..." ucap Ying masih terlihat ragu, Popo yang berada di pundaknya mulai ketakutan.
CLANG
SREEETT
"GHH!"
Tiba tiba Ying terjatuh sambil memegang tangan kirinya. Otomatis hal itu membuat semuanya panik.
"Ying! Kau kenapa?!" tanya Yaya sambil melihat tangan kirinya Ying. Tangan kanan Ying yang menutupinya mengeluarkan darah segar.
"Kau terluka!" ucap Yaya dengan panik.
"! Siapa disitu?!" ucap Ochobot sambil melihat ke arah semak semak yang ada di depannya.
Tiba tiba seseorang muncul dari semak semak itu. Ia memakai jubah dan tudung yang membuat bayang bayang tak jelas di sekitar matanya.
Dia memegang sebuah pedang, tapi lebih bergelombang, cukup runcing dan juga bewarna merah menyala.
"Pedang itu..." tiba tiba Ochobot mematung ditempat. Mukanya menjadi pucat.
.
.
.
"Pangeran Halilintar?"
.
.
"Pangeran..?"
.
TBC MENGGANTUNG!~#plak
Hahaha! Maaf, Nozomi buat chap ini sedikit pendek dan malah menggantung lagi#dihajar.
Ni cerita makin gaje aja yah?
Nozomi tidak tahu apa yang akan terjadi di chap besok, karena Nozomi tak memikirkannya dulu#dibakar.
Oh ya, di chap kemarin Nozomi lupa bilang. Sebenarnya unsur cerita ini Nozomi terinspirasi dari anime Mondaiji-tachi. Untung Lavender-san sama Chu-chan ngingetin. Pokoknya thanks buat kalian berdua yak!
Nozomi lagi bingung mau bilang apa, ya udah dari pada dipanjangin lagi,
.
.
Mind to review?~
