Hoam...Ngantuk...#langsung ngorok.

Hali: oi! bangun! baca dulu pembukanya!

Me:kalian aja, aku ngantuk...#zzzz..

Hali:kau...#udah naik darah

Taufan:sabar kak!

Gempa:'-'...Langsung aja yah!


HAPPPPYY REAADDINGGSSS!


"Pangeran Halilintar?" ucap Ochobot dengan muka yang betul betul pucat.

Yang lain menoleh ke arahnya dengan tatapan kebingungan.

"Pangeran?" ucap mereka semua dengan serentak.

"Berarti dia ini..." Fang juga sama pucatnya dengan Ochobot. Ternyata pangeran yang satu ini terlihat sangat mengerikan juga.

Walau merasa sangat senang bisa melihat teman baiknya ini, tetap saja, Ochobot merasakan ada yang aneh dengan Halilintar.

Dia memutuskan untuk mendekati temannya itu dan memastikan apakah dia baik baik saja.

"Halilintar, apa kau baik baik saja?"

Baru 2 langkah Ochobot mendekat, Halilintar sudah mengangkat pedangnya dan mengarahkannya pada Ochobot.

"Kau...Kau kenapa, Halilintar?!" bentak Ochobot tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh temannya ini.

"Mundur Ochobot! Dia ini bukan Halilintar yang kau tahu!" seru Fang agak keras.

"Bukankah kau pernah bilang bahwa mereka ini sedang dicuci otak?" ucap Gopal juga bersiaga dengan gerakan Pangeran Halilintar.

"Iya! Tapi aku tidak tahu kalau mereka sudah dicuci otak! Aku yakin, para pangeran pasti tidak akan ingat siapa temannya, lawannya bahkan dirinya sendiri!" jawab Ochobot mulai panik.

Halilintar mulai menyerang mereka dengan pedangnya itu. Mereka semua mencoba untuk menghindari semua serangan yang dilontarkan oleh Halilintar.

"Jangan lukai dia apapun yang terjadi!" seru Yaya. Mereka mulai berpencar di daerah sekitar.

"Apa maksudmu kalau kau baru tahu?!" tanya Ying sambil menghindari pedang Halilintar itu dengan cara memperlambat waktu dan memprediksi arah serangan Halilintar.

Kini Halilintar berubah target, ia mulai menyerang Fang dengan kecepatannya yang luar biasa. Fang mulai menghindari setiap serangannya dengan lincah.

"Aku baru mendengar kabar itu dari orang lain! Mereka baru bilang 'akan' bukan 'sudah' di cuci otak!" ucap Ochobot setengah berteriak agar yang lain dapat mendengarnya.

Halilintar berhenti menyerang Fang dan mulai menyerang Ochobot. Layaknya ninja, Ochobot berhasil menghindari tebasan pedang merah menyala itu.

"Tapi kenapa kau bilang 'sudah' di saat kita pertama kali bertemu?!" teriak Fang dari kejauhan pada Ochobot.

"Oh, itu kesalahku! Maaf!" seru Ochobot sambil menggerakkan badannya dengan lihai.

Muncul perempatan siku siku di dahi dua orang.

"APAKAH PERMINTA MAAFANMU ITU CUKUP?!" ucap Ying dan Fang sambil berteriak sungguh kencang, hingga yang lain harus menutup telinganya.

"Lupakan hal itu! Kita harus menahan Halilintar sekarang!" ucap Yaya yang sedang terbang di langit, mengawasi mereka semua.

"Lebih baik kita serang saja dia!" seru Fang yang sudah agak baikkan walau masih kesal, pada Yaya.

Yaya langsung menggeleng dengan cepat.

"Jangan! Dia itu teman kita!"

Fang menghelakan nafas berat.

"Sekarang dia bukan teman kita! Dia musuh kita!" ucap Fang sambil menghindari beberapa pedang Halilintar yang ia lemparkan pada Fang.

"Tapi!-" Ucapan Yaya terpotong karena ia mendengar sebuah suara, suara yang tak pernah ia dengar sebelumnya.

"Hiks...Hiks..." Suara tangisan, itu yang ia dengar. Yaya tak tahu darimana asal suara itu, suara itu seperti berasal dari dalam kepalanya sendiri.

"Sakit...Cepat bebaskan aku!" kini suara itu mulai terdengar marah.

Pandangannya mulai kabur. Tiba tiba Yaya melihat ada sebuah cahaya yang sangat menyilaukan.

Saat ia membuka matanya, dia tidak berada di udara lagi melainkan di sebuah tempat yang sangat gelap. Ia tak bisa melihat apapun selain kegelapan.

"Sakit!" Yaya spontan terkejut mendengar suara itu.

Ia menoleh ke arah sumber suara yang ada di depannya. Ia melihat seorang pemuda memakai topi dan jaket yang bewarna hitam serta merah. Dia sedang memegang kepalanya sambil menunduk.

"Aku...Hiks...SUDAH TAK TAHAN!" bentak pemuda itu yang membuat Yaya terkejut.

Yaya memutuskan untuk mendekatinya, ia mulai melihat pemuda itu menangis sambil memeluk erat kakinya.

"Kau tidak apa apa?" tanya Yaya, memberanikan diri untuk bertanya walau dari dalam hatinya dia juga takut.

Pemuda itu mendongakkan kepalanya dan menatap gadis yang di depannya ini dengan mata yang sudah basah akan air mata.

"Kau...siapa?" tanya pemuda itu dengan ekspresi bingung tapi juga sedih.

"Aku? Aku Yaya. Kau sendiri siapa?" tanya Yaya sambil memperlihatkan senyuman lembutnya.

Pemuda itu menatap lurus ke depan.

"Aku...tak ingat..." jawab pemuda itu dengan raut muka yang sangat sedih.

'Apakah dia Halilintar?' batin Yaya karena melihat topi yang dia pakai sama dengan yang di pakai oleh orang berjubah itu.

"Yah...Sebentar lagi kau akan ingat semuanya, jadi sabar dulu ya! Kami pasti akan menyelamatkanmu dari dunia ini!" ucap Yaya sambil tersenyum sangat tulus.

"Jadi, kau jangan menangis lagi ya. Ayo, tersenyum!" ucap Yaya dengan lembut.

Pemuda itu kurang mengerti dengan maksud Yaya, tapi ia berusaha untuk tersenyum, namun gagal.

"Aku lupa...cara...untuk tersenyum..." ucap pemuda itu dengan tatapan kosong.

"Haa... Baiklah...Tapi kau harus janji untuk tersenyum saat kita bertemu lagi, ya!" ucap Yaya sambil mengeluarkan jari kelingkingnya.

Awalnya sang pemuda tak mengerti, tapi ia juga mengikuti cara Yaya, yaitu mengeluarkan jari kelingkingnya. Jari kelingking Yaya memeluk jari kelingking pemuda itu, sang pemuda juga melakukan hal yang sama.

"Jan...ji.." ucap Halilintar dengan pandangan tulus tapi belum bisa tersenyum.

Yaya juga mengeluarkan senyum terbaiknya.

Tiba tiba pandangan Yaya mulai mengeluarkan cahaya lagi.

Saat ia membuka matanya, ia masih berada di atas udara dengan keadaan masih terbang.

"Oi, Yaya! Cepat turun!" ucap Fang membuat lamunan Yaya hancur.

"Ah! Iya!" teriak Yaya dari atas. Dia mulai memberatkan gaya gravitasi pada tubuhnya untuk sampai ke daratan.

Yaya melihat Halilintar sedang mengarahkan pedangnya pada mereka semua tapi ia sama sekali tak bergerak.

"Ada apa dengannya?! Dia tiba tiba tak menyerang kami lagi!" ucap Ying sedikit menahan emosi.

Yaya mulai berpikir, apakah Halilintar sedang mencoba untuk mengontrol tubuhnya?

Tapi saat pemuda itu mengangkat wajahnya memperlihatkan mukanya pada kami, kami spontan terkejut.

Menangis...

Pemuda itu sedang menangis. Matanya terus mengeluarkan air yang cukup deras. Tapi ekspresinya berbeda jauh dengan keadaannya yang sekarang ini, dia sama sekali tak mengeluarkan suara apapun. Ekspresinya sungguh datar, seakan tak merasakan apapun.

Yaya menyadari bahwa manik manik Halilintar berbeda dengan saat ia menemui Halilintar di tempat yang gelap itu.

Iris mata Halilintar yang ini sama sekali berwarna hitam, sedangkan Halilintar yang ia temui di tempat itu berwarna merah menyala, walau tatapannya masih kosong.

"Dia...menangis..." ucap Gopal masih terkejut dengan pandangan yang ada di depannya ini.

Saat Halilintar menurunkan pedangnya, semua bersiap siap jika ia akan menyerang lagi. Tapi itu kebalikkannya, ia malah pergi dengan kecepatan yang luar biasa.

Yang lain menatap bingung dengan kepergian pemuda itu secara mendadak.

Yaya berpikir, apakah yang barusan mengendalikan tubuh Halilintar itu...

Adalah Halilintar sendiri?

~"~

Dari pada berdiam diri, mereka memutuskan untuk melanjutkan perjalanan mereka.

"Tadi ada apa dengannya? Dia tiba tiba menangis?" tanya Gopal.

Fang dan Ying menggelengkan kepala, tanda tak tahu apapun.

Ochobot terdiam membisu. Ia juga sedang memikirkan apa yang sedang terjadi pada Halilintar, walau ia tahu Halilintar sedang dicuci otak.

Sedangkan Yaya punya 2 alasan kenapa ia menangis. Karena ia merasakan kesakitan yang luar biasa atau karena ia tidak ingin menyakiti kami semua.

Dari kejauhan, Ying melihat ada beberapa gedung besar.

"Hei! Aku melihat sebuah desa!" seru Ying, merasa lega.

Yang lain pun melihat ke arah yang Ying maksud dan memang, mereka melihat ada beberapa bangunan.

"Baguslah, sekarang kita bisa beristirahat dengan tenang." ucap Ochobot yang sudah sedikit ceria.

Yaya melihat fakesmile Ochobot itu, merasa tak tega.

"Hei Ochobot, kau tak apa apa?" tanya Yaya, khawatir dengan keadaan Ochobot sekarang ini.

Ochobot menoleh padanya dan tersenyum lebar.

"Hehehe...Aku baik baik saja kok!" jawabnya.

Yaya tak bisa mempercayai kata kata Ochobot itu. Yaya harus memberitahu mereka semua tentang Halilintar tadi.

Tapi, apa gunanya memberi tahu kondisi Halilintar yang seperti itu. Hal itu hanya akan membuat Ochobot makin merasa sedih.

Yaya memutuskan untuk menyimpan sendiri masalah itu dan tidak akan memberi tahu teman teman mereka.

~"~

Kini Yaya sedang meringkuk di atas tempat tidur. Matanya sama sekali belum berat dan masih segar.

Karena Yaya sudah mencoba sekian kali untuk tidur, akhirnya ia memutuskan untuk melihat bulan yang indah di malam hari.

Yaya menggunakan kekuatannya untuk terbang dan duduk di atap penginapan.

Yaya senang melihat bulan yang sangat besar itu. Dia sangat ingin melihat bulan tepat di hadapannya.

Walau tak benar benar di hadapannya, Yaya sudah sangat senang bisa melihat bulan yang sebesar ini saja.

"Jadi ingat dengan kenangan..." ucap Yaya sambil tersenyum lembut.

Ia ingat ketika kecil, dia membaca dongeng cinta. Dimana tuan putri bersama pangerannya tengah bercium mesra di depan sinar bulan.

Yaya memang belum pantas membaca dongeng seperti itu, tapi yang namanya anak anak, rasa keingin tahuannya sangat besar.

Yaya juga memiliki impian agar bisa menjadi seorang tuan putri dan juga memiliki seorang pangeran yang tampan.

Bicara soal tampan, Yaya jadi teringat dengan Halilintar. Yah, harus Yaya akui, Halilintar itu memang tampan. Dia tak kalah tampan dengan pangeran pangeran di cerita dongeng. Apa mungkin saudaranya juga setampan Halilintar?

'Tunggu! Kenapa aku jadi memikirkannya?!' batin Yaya, merasa seperti orang bodoh.

Tak mungkin orang biasa seperti Yaya bisa menalukkan pangeran yang tampan seperti Halilintar dan saudara saudaranya.

'Kenapa aku malah membahasnya lagi?!' batin Yaya yang betul betul merasa dirinya seperti orang bodoh.

Lama kelamaan, mata Yaya sudah mulai memberat. Begitu juga kepalanya yang ingin segera berbaring.

Saat pandangan Yaya mulai memburam, ia melihat bayangan.

Bayangan seseorang. Dia sedang berdiri di atas sebuah pohon, dengan backgroundnya bulan yang bersinar.

Yaya tak bisa melihat dengan jelas orang itu, Yaya hanya bisa melihat bayangan sebuah topi berduri yang di kesampingkan.

Bayangan itu tersenyum lebar pada Yaya, Yaya memang tak bisa melihat jelas mukanya karena dia membelakangi cahaya bulan.

'Siapa itu...?' batin Yaya sebelum dia tertidur dengan pulas.

~"~

"Ngg..." Saat Yaya membuka matanya, dia sudah berada di kamarnya.

"Ah! Kau sudah bangun?!" teriak seseorang. Yaya sangat kenal suara yang sedikit melengking itu.

Yaya menoleh ke sampingnya dan mendapati Ying dengan muka panik.

Setelah melihat Yaya betul betul sadar, Ying menghelakan nafasnya.

"Bagaimana keadaanmu?" tanya Ying, kembali duduk di kursi yang terletak di samping kasur.

"Dimana aku?" tanya Yaya sedikit pelan karena kepalanya masih agak pusing. Dia juga melupakan dimana dia sekarang ini.

"Di kamarmu. Aku khawatir lho! Kami mencarimu tadi malam karena kau tak ada di kamarmu. Jadi kami berpencar mencarimu, Gopal mendapatimu sedang tertidur di atap dengan berbalut selimut." selama Ying menjelaskan keadaan mereka, Yaya masih terkejut atas perkataan Ying barusan.

'Selimut? Kapan aku membawa selimut ke atap?' batin Yaya sedikit bingung.

Merasa Yaya tak memperhatikan kata katanya, Ying pun menegurnya.

"Hei, Yaya! Apa kau mendengarkanku?"

Yaya langsung tersadar dari pikirannya dan mencoba memasang ekspresi biasa.

"Hah? Ah! I-iya! Aku mendengarkan, kok!" ucap Yaya mencoba tenang, tapi sayang, dia gagal melakukan itu.

Ying menatap curiga Yaya sesaat, kemudian menghelakan nafas beratnya.

"Jadi, apa yang kau lakukan di atas?" tanya Ying.

Yaya jadi kebingungan harus menjawab apa.

"Ehh...Kemarin aku cuma...mencari udara segar..." ucap Yaya, bingung untuk menjawab apa lagi.

Sebelum Ying bertanya lebih jauh, ada yang mengetuk pintu kamarnya.

"Yaya, apa kau sudah bangun?" tanya seseorang di luar sana. Suara yang kalem juga tegas, Yaya tahu siapa itu.

"Ah! Fang, masuk saja. Pintunya tak dikunci." jawab Yaya.

Fang pun membuka pintunya setelah mendapatkan ijin dari pemilik kamarnya.

"Kau sudah baikkan? Ini kami bawakan makanan." ucap Ochobot sambil membawa semangkok bubur beserta secangkir teh hangat.

Yaya berusaha untuk mengangkat badannya walau rasa pusing masih menyerangnya. Sekarang dia duduk dengan sandarang sebuah bantal.

Ochobot pun memberikan Yaya semangkuk bubur tersebut dan meletakkan tehnya di samping kasur, di atas sebuah meja.

"Terima kasih dan maaf telah membuat kalian repot." ucap Yaya sedikit murung, tapi tetap tersenyum.

Ying pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut.

"Sama sekali tak merepotkan!"

Yang lain pun juga mengangguk setuju. Yaya merasa sangat bahagia bisa mendapati teman teman yang seperti ini.

Sekarang pikiran itu mulai menghantui Yaya lagi. Tentang selimut itu...

"Hei, Ying. Kau bilang aku tertidur sambil berbalut selimut di atap, bolehkah aku melihat selimutnya?" pinta Yaya menoleh kepada Ying yang sedang membaca bukunya.

Ying mendongakkan kepalanya kemudian tersenyum. Ia membuka sebuah peti yang ada di kamar itu, lebih tepatnya terletak di sudut ruangan. Ukurannya cukup besar.

Sementara Ying sibuk membongkar isi peti tersebut, Yaya memakan perlahan bubur tersebut.

"Ketemu!" seru Ying, membuat Yaya menoleh padanya. Ying menghampiri Yaya dengan membawa selimut berwarna biru di tangannya.

Ying memberikan selimut itu pada Yaya. Yaya menerimanya dengan perasaan sedikit kaget.

Ia tak ingat pernah mempunyai selimut ini, apalagi memakainya. Lalu darimana selimut ini berasal?

Itu masih menjadi sebuah pertanyaan bagi Yaya.

Gopal menyadari Yaya menatap selimut itu terlalu serius, ia pun menegurnya.

"Hei Yaya! Ada apa dengan selimut itu?"

"Hah?" sekarang tingkah laku Yaya memang seperti orang bodoh. Ia menatap teman temannya dengan heran. Mungkin karena terlalu fokus, ia tak mendengarkan dengan baik apa yang barusan di bilang Gopal.

"Lupakan, lebih baik kita segera melanjutkan perjalanan kita. Yaya, apa keadaanmu sudah lebih baik?" tanya Fang pada Yaya yang masih bingung.

Yaya segera mengangguk dengan cepat untuk menutupi kebodohannya.

Mereka pun bersiap siap mengemasi barang mereka dan segera pergi dari penginapaan itu.

Mereka tak perlu membayar, karena mereka sudah membayar saat pertama kali masuk.

Seharusnya mereka tidak perlu membayar sepeser pun pada pemilik penginapan karena Ochobot adalah pelayan serta teman dekat para pangeran.

Jika ada Yaya, tak mungkin mereka tidak akan membayar. Yaya tetap memaksa mereka untuk membayar biaya penginapannya.

Tentu saja uangnya adalah hasil kerja keras mereka bersama.

Yaya memang tak tahu itu selimut siapa, tapi apapun yang terjadi, Yaya akan membawa selimut itu kemana pun.

.

Saat dalam perjalanan menuju Bukit Petir Merah, Yaya terus merasakan hal ganjil.

Dia merasa... seperti ada orang yang memperhatikannya terus.

Tapi, karena teman temannya tak merasakan sesuatu, Yaya hanya menganggap itu sebagai perasaan saja.

"Hehehe...Aku akan selalu memperhatikanmu..."

"!"

Yaya spontan terkejut dan segera menoleh kebelakangnya, tapi tak menemukan apapun.

"Ada apa, Yaya?" tanya Ochobot, tiba tiba melihat tingkah laku kawannya itu aneh.

Yaya kembali menoleh pada mereka semua, kemudian tersenyum lembut.

"Tidak ada apa apa! Ayo, kita lanjutkan perjalanannya!" ucap Yaya mulai melangkahkan kakinya kembali.

Yang lain hanya heran dengan sikap Yaya, dan memilih untuk tidak memikirkannya.

Sementara mereka sedang asyik berjalan, Yaya mulai ketakutan.

Keringat dingin mulai turun dari pelipisnya.

.

.

'Siapa itu tadi?

.

.

"Hehehe...Jangan khawatir, aku akan mengawasimu setiap saat, Yaya."

.

.


Imunisasi TBC~#plak.


Kok ngegantung lagi? Entahlah, Nozomi pun tak tahu..#dibakar.

Kok ane buat Halilintar kayak gitu ya? Ah biar aja, biar makin banyak penggemarmu Hali ^W^#ditebas.

Nozomi lama lama mulai berpikir, jangan jangan nanti ada romance nya lagi?! Jadi fanfic ini, ada pair BoboiboyxYaya?!#histeris sendiri.

...#pandangan kosong, pikiran pun kosong.

Btw, buat yang sudah mereview, memfav, dan memfoll fanfic ini, Nozomi sungguh berterima kasih pada kalian! ^^

Nozomi nggak yakin bisa update kilat lagi, kerjaan udah mulai numpuk tuh...

...#mulai menghayal.

Nozomi bingung mau bilang apah, langsung aja yak!

.

.

.

Wanna review?

Siders...pahala puasanya berkurang W#dihajar massa.