HAI HAI! BALIK DENGAN NOZOMI LAGI!#dihajar.
Ada yang kangen nggak?#nggak. Ohh...#pundung pojokkan.
Hali:Lupakan dia..
Taufan:Baper banget tu orang yah...
Gempa:...Baca aja yah...Abaikan saja ini...
HAPPY READINGS!
BUKK
CLANG
Sekarang mereka sedang bertarung dengan beberapa monster yang bisa dibilang banyak.
Walaupun banyak, tapi Yaya dan teman temannya sama sekali tak kerepotan untuk membasmi mereka semua.
Mungkin banyak, tapi semua monster itu lemah lemah. Hanya dalam 1 kali tumbukan Yaya, mereka akan segera mati.
"HIYAAA!" Ying menumbuk 2 monster sekaligus dengan kekuatan yang besar. 2 monster tersebut segera menabrak monster lain yang ada di belakangnya, sehingga lebih banyak monster yang mati.
"Bagus!" ucap Ying dengan nada kemenangan.
Sedangkan Fang menggunakan kekuatannya untuk membentuk pedang bayang dan memotong semua tubuh monster itu.
Dia tak khawatir dengan tubuh monster itu akan mengeluarkan darah, tubuh mereka hanya mengeluarkan darah dengan warna hitam dan merah, jika di tebas. Darah itu tidak akan mengalir deras, mereka hanya akan keluar beberapa saat dan langsung menghilang bersama tubuh monster itu.
"Tarian pedang bayang!" ucap Fang mengeluarkan jurus andalannya.
Tubuhnya mulai mengeluarkan pedang bayang yang sangat pun mulai berputar, tapi lama kelamaan putarannya itu seperti tornado yang mengamuk. Semua monster yang ada di sekitarnya segera mati akibat tebasan dari pedang bayang milik Fang.
Setelah monster yang di hadapi Fang sudah musnah semua, ia menghentikan putarannya itu dan menyeringai lebar.
"Hah...Mudahnya.." ucap Fang, sedikit berlagak sombong.
Sedangkan Gopal asyik mengubah mereka semua menjadi makanan. Seperti roti, permen, kue, dan banyak lagi. Mungkin persediaan makanan mereka akan bertambah banyak.
Ochobot? Dia sedang bertarung dengan musuhnya dengan cara yang hebat. Dia menari nari dengan menggunakan kakinya dan juga tangannya. Yaya tak tahu apa nama tarian itu, tapi di tempat Ying, Fang dan Gopal, tarian itu disebut dengan Breakdance.
Tapi Ochobot melakukan tarian itu cukup cepat dan juga hebat. Dia bisa melemparkan monster yang besar sekalipun hanya dengan kedua kakinya. Dia juga bisa menunggangi monster tersebut dengan cara melompat kebelakang leher monster tersebut dan duduk. Bisa juga ia langsung menendang kepalanya, agar segera tumbang.
Yaya, dia sedang melawan monster yang memakai tameng. Yaya merampas semua tameng itu dan langsung meremukkannya dalam waktu sekejap.
"Selamat tinggal!" ucap Yaya dengan tersenyum sebelum membantai mereka semua dengan tumbukkan supernya.
Akhirnya, setelah Yaya membantai musuh musuh tersisa, mereka bisa bernafas lega.
"Cukup banyak ya?" ucap Ochobot sedikit kecapekkan.
Ying mengangguk tapi memberikan tatapan 'Itu-bukan-apa-apa' kepada Ochobot.
"Hah... Cukup menyenangkan juga!" ucap Fang, tersenyum miring.
"Ngomong ngomong, darimana kau belajar melakukan gerakan tadi itu, Ochobot?" tanya Gopal sambil memakan sepotong roti yang cukup besar.
Ochobot menoleh padanya dan mulai mengingat kembali.
"Kalau tidak salah, Taufan yang mengajarkanku." jawab Ochobot dengan pose berpikir.
Yang lain memiringkan kepalanya, tak pernah mendengar nama itu.
"Taufan?" tanya mereka semua dengan serempak.
Ochobot menatap mereka dengan pandangan terkejut.
"Huh? Aku tidak pernah memberitahu kalian?"
"Tidak." jawab mereka semua sambil menggeleng kepala.
Ochobot menatap mereka dengan pandangan malas, dia memang paling malas kalau harus menjelaskan.
"Hah...Dia itu salah satu pangeran di Elemental Dream Garden, salah satu saudaranya Halilintar." ucap Ochobot cukup singkat, karena malas menjelaskan.
Yang lain ngangguk ngangguk tanda paham.
"Tunggu sebentar, jika memang dia yang mengajarimu, apakah dia adalah manusia seperti kami? Apakah dia berasal dari dunia seperti kami?" tanya Ying.
Ochobot menggeleng pelan.
"Tidak. Mereka memang manusia, tapi berbeda dunia dengan kalian. Mereka memang lahir disini, di dunia ini. Alasan mengapa Taufan mengetahui sesuatu tentang dunia kalian karena mereka memiliki kemampuan itu."
Yang lain kebingungan dengan apa yang di maksud oleh Ochobot.
"Kemampuan?" tanya Yaya, juga bingung.
"Benar. Mereka memiliki kemampuan untuk melihat dan mengunjungi dunia kalian. Mereka bisa melihat aktivitas kalian, mereka juga bisa mengunjungi dunia kalian."
Yaya dan teman temannya spontan terkejut. Mereka tidak tahu bahwa para pangeran bisa memasuki dunia mereka dan juga bisa melihat dunia mereka dari tempat ini.
"Jadi karena itu, para penduduk memilih mereka berlima untuk menjadi pangeran di dunia ini. Penduduk menganggap bahwa mereka akan bisa hidup dengan tenang selama ada para pangeran karena pangeran bisa melihat dunia lain atau dalam kata lain, dunia kalian." jelas Ochobot, ekspresinya mulai menjadi serius.
Tapi ekspresinya langsung berubah. Ia mulai tersenyum tipis, tapi matanya menunjukkan kalau dia tengah bersedih.
"Hahaha...Aku jadi ingat ketika Halilintar membacakan dongeng tentang dunia kalian dan Taufan yang selalu menceritakan pengalamannya di nunia itu pada anak anak kecil." ucapnya dengan nada pelan.
Yaya tersenyum mendengar hal itu, ternyata Halilintar adalah orang yang sangat baik pada anak anak.
"Halilintar sangat baik ya?" ucap Yaya sambil tersenyum tipis, namun masih bisa dilihat.
Kemudian Ochobot tersenyum, juga sedikit menahan tawanya.
"Hahaha...Mungkin dia baik, tapi dia itu orangnya sangat dingin dan ketus, lho."
Yang lain membelalak. Yang benar saja, sikapnya yang seperti itu, bisa dingin juga?
"Kalian pasti akan percaya ketika melihat Halilintar itu bagaimana. Tapi jangan bilang bilang padanya tentang yang aku bilang tadi ya, nanti dia bisa menghajarku habis habisan." ucap Ochobot sambil meletakkan jari telunjuknya di depan bibirnya.
Mereka semua tertawa bersama dan melanjutkan perjalanan mereka yang tertunda itu.
~"~
"Ah! Aku melihat sesuatu!" seru Gopal sambil menunjuk sebuah bukit yang tak cukup jauh dari tempat mereka.
Yang lain pun menoleh ke tempat yang di tunjuk oleh Gopal.
Mereka melihat sebuah tempat yang suasananya berbeda dengan sekitarnya. Di atas tempat itu ada awan gelap beserta petir petir merah yang kadang kadang menampakkan dirinya.
"Apa itu tempatnya?" tanya Fang, cukup kaget melihat tempat seperti itu.
"Ya...Mungkin disana akan berbahaya, jadi persiapkan diri kalian." ucap Ochobot, agak deg deggan.
Yang lain mengangguk dan segera melangkahkan kakinya menuju tempat itu.
Semakin mendekat dengan tempat itu, semakin lama suasananya berubah. Dari tenang dan damai menjadi menyeramkan dan cukup suram.
Mereka terus berjalan menyusuri tempat yang agak mengerikan itu.
Tiba tiba, Fang melihat seseorang sedang berdiri di tempat yang paling tinggi di situ. Ia membelakangi mereka semua, jadi tak ada yang bisa melihat mukanya.
Tapi dari jubah dan tudung yang ia pakai, semuanya langsung bisa mengetahui siapa orang itu.
"Halilintar!" seru Fang sedikit keras agar Halilintar bisa mendengarnya. Tempat Halilintar berdiri cukup tinggi, tangga yang di gunakan untuk naik ke atas sana sangat panjang.
Halilintar segera berbalik menghadap mereka semua. Dia terlihat sangat pucat dan mukanya masih datar, tanpa ada ekspresi sama sekali.
Dia menatap Yaya dan teman temannya dengan pandangan datar juga. Matanya masih kosong, tak ada apapun di matanya selain kegelapan.
"Halilintar!" teriak Ochobot, ingin segera menyusul Halilintar ke atas sana.
"Pergilah.."
"Huh?"
Mereka terkejut, karena untuk pertama kalinya Halilintar berbicara. Dan juga karena Halilintar tiba tiba menginginkan mereka semua untuk pergi.
"Kumohon, pergilah..." ucapnya terdengar lirih.
Tiba tiba ada 2 monster besar yang menghalangi tangga untuk naik ke atas. Mereka terlihat sangat kuat.
Yang lain segera memasang kuda kuda untuk bertarung.
"Heh...Kita akan mengalahkan mereka.." ucap Fang sambil menyeringai.
Yang lain mengangguk dan segera menyerang monster itu.
Dimulai dengan Ying, dia memukul salah satu monster sekuat tenaganya.
"HIYAAA!" setelah Ying memukul monster itu, dia terkejut. Serangannya tak membuat banyak luka pada monster itu.
Monster itu segera menyerang Ying dengan tangannya yang di aliri listrik. Ying segera memperlambat waktu dan menghindari serangan monster itu dengan mudah.
Ochobot mulai menarik kesimpulan.
"Sepertinya serangan fisik tak membuat banyak kerusakan, kalau begitu..." Ochobot mengarahkan tangannya pada kedua monster itu dan langsung menembak mereka.
Yang lain spontan terkejut. Jari jari Ochobot mengeluarkan peluru peluru dan menembakkannya?! Dia ini manusia atau apa?!
Monster monster itu memang mendapatkan banyak kerusakan di bagian tubuhnya. Ochobot pun menghentikan aksinya.
"Bagus..."
"O-ochobot...K-kau..." ucap Yaya sedikit ketakutan sambil menunjuk tangan Ochobot.
Ochobot meliriknya dengan tatapan bingung dan dia mulai melirik tangannya yang sedikit berasap akibat menembak tadi.
"Oh.. Aku lupa bilang, aku ini setengah robot dan manusia. Anggap saja aku ini robot yang memiliki perasaan." ucap Ochobot sambil tersenyum.
Yang lain betul betul jadi kikuk sekarang.
"Heh?"
.
.
.
"HEEEEEH?!"
Akibat teriakkan mereka, semua burung segera terbang dari pohon yang barusan mereka hinggapi.
"Tenang dulu! Tak perlu takut!" ucap Ochobot sambil menutup kupingnya. Walau dia robot, dia juga tak suka suara bising, itu membuat kepalanya menjadi sakit.
"T-tapi..." ucap Ying betul betul ketakutan sekarang.
Yang lain juga mengangguk, mereka sama terkejutnya dengan Ying karena baru menyadari Ochobot adalah robot.
"Hah...Aku ini manusia, karena memiliki perasaan. Aku ini robot, karena aku mempunyai beberapa senjata di tubuhku. Jadi, aku ini juga manusia!" bentak Ochobot karena tak suka dipandang begitu oleh teman temannya.
"Apakah kau benar benar robot?" tanya Gopal sambil memutari badan Ochobot untuk memastikan.
Yang lain bersweatdrop melihat aksi Gopal tersebut dan Ochobot mulai terlihat pusing.
"Iya! Dan berhenti melakukan itu, kau membuat aku menjadi pusing!" ucap Ochobot sambil menepis tangan Gopal dari tubuhnya.
Ochobot melihat kedua monster tersebut yang sedang mengumpulkan kekuatannya.
"Kita bahas masalah ini lain kali, sekarang kita harus mengalahkan monster monster ini terlebih dahulu." jawab Ochobot, kembali bersiaga.
"I-iya.." jawab mereka, masih terkejut. Sulit di percaya bahwa Ochobot adalah sebuah robot. Yah...Namanya memang seperti robot sih..
Gopal mulai menembaki mereka dengan tembakan yang membuat lawannya menjadi makanan. Tapi hal itu tak berlaku bagi monster ini, setidaknya itu menimbulkan beberapa kerusakkan.
Kini Fang mulai membentuk jari bayang untuk menahan mereka dalam mengumpulkan kekuatan.
"Sekarang Yaya! Ochobot!" seru mereka selain Yaya dan Ochobot pastinya.
Ochobot segera melompat tinggi dan mulai menembaki dada mereka dengan cepat yang membuat luka besar di dada mereka.
"Habisi mereka, Yaya!" ucap Ochobot sambil menoleh pada Yaya. Yaya mengangguk bersemangat karena tak sabar untuk menghabisi monster tersebut dan menyelamatkan Halilintar.
Yaya menggunakan celah yang di berikan Ochobot untuk mengahabisi monster monster tersebut.
"Serangan penutup! Tumbukan ultrasonic!" ucap Yaya langsung menumbuk kedua duanya dengan kelajuan terbang yang luar biasa dan kekuatan yang hebat. Hal itu membuat angin yang cukup kencang bagi mereka semua.
Monster monster tersebut segera terpelanting ke tangga dan segera menghilang.
"Kerja bagus, Yaya!" puji Gopal dengan tersenyum lebar.
Yaya membalas senyuman itu dengan senyum juga.
Tanpa pikir pikir lagi, mereka segera berlari menaiki tangga untuk menyusul Halilintar.
"Halilintar!" seru Ochobot setelah sampai di tempat Halilintar.
Terlihat sedikit kalau badan Halilintar sedikit melonjak, tanda ia sedang terkejut.
Halilintar membalikkan dirinya, yang membuat semuanya terkejut.
"H-halilintar...Mata kau..." ucap Yaya sambil menunjuk mata Halilintar yang berubah warna.
Yang kiri berwarna hitam dan yang kanan berwarna merah menyala.
"Lihat, aku tidak punya banyak waktu. Sebentar lagi tubuhku akan diambil alih sepenuhnya dan aku akan berubah menjadi monster. Jadi kumohon, cepat pergi dari sini!" ucap Halilintar agak membentak.
Mereka semua terdiam. Apa yang sedang terjadi? Halilintar yang mereka lihat adalah Halilintar yang sebenarnya? Beberapa saat lagi dia akan berubah menjadi monster? Masih banyak hal yang mereka semua belum mengerti.
"T-tapi..." Ochobot masih ragu untuk meninggalkan Halilintar seperti ini.
Halilintar menoleh pada Ochobot dengan tatapan memohon.
"Jika aku berubah menjadi monster, aku akan kehilangan kesadaran. Aku akan menyerang siapapun, termasuk kalian. Jadi kumohon, cepat pergi!" bentak Halilintar sekali lagi.
Mereka semua tidak percaya bahwa Halilintar akan berubah menjadi monster dan akan membunuh mereka semua.
"A-apakah tidak ada cara agar kau tidak berubah menjadi monster?" tanya Ying sedikit ketakutan.
Halilintar menoleh padanya dengan tatapan tajamnya. Ying tak terlalu suka jika dipandang seperti itu, tapi lebih baik ia membiarkannya saja.
"Tidak. Aku akan berubah menjadi monster apapun yang terjadi. Jika kalian tetap berada disini, kalian akan mati. Aku tidak ingin membunuh temanku sendiri. Jadi, cepatlah!"
Sekali lagi, semuanya kembali terkejut. Bukan karena tidak ada hal yang bisa menghentikannya atau mereka akan mati, tapi karena Halilintar menganggap mereka semua teman. Itu masih sulit di percaya, mereka saja belum pernah berbicara satu sama lain.
Teman tidak akan pernah menyelamatkan dirinya sendiri, dia pasti akan menyelamatkan teman temannya juga. Jika tidak, lebih baik mereka semua mati bersama.
"Tidak. Kami akan tetap disini!" bantah Ochobot, diikuti anggukan dari yang lainnya.
Halilintar menatap mereka dengan pandangan kesal sekaligus khawatir, walau tak terlihat jelas.
"Kalian ini keras kepala! Kumohon, mengertilah! Tak ada cara apapun untuk menghentikan aku! Aku akan berubah menjadi monster dan menghabisi kalian, itulah kenyataannya!" bentak Halilintar, sekali lagi.
Semua mulai berpikir dengan keras, memaksankan otak mereka untuk berpikir bagaimana cara untuk menyelamatkan Halilintar tanpa melukainya sedikit pun.
Yaya mendapatkan ide, tapi ia tak yakin kalau itu akan berhasil. Tapi tidak ada salahnya dicoba 'kan?
"Kalau begitu, apa yang terjadi jika kami menghabisi monster itu?" tanya Yaya, yang membuat semuanya terbelalak.
Mereka semua menatap Yaya dengan pandangan terkejut.
"Apa kau gila Yaya?! Halilintar bisa saja ikut mati bersama monster itu!" bantah Fang.
Yaya tahu akan kemungkinan itu, tapi apakah ada cara lain?
"Tapi, apakah kita mempunyai cara lain?!" balas Yaya yang sudah sedikit emosian.
Yang lain terdiam, mereka tak tahu harus menjawab apa, karena memang benar apa yang dibilang Yaya.
Mereka tak punya cara lain.
Ying mulai berpikir tentang ide Yaya tersebut.
"Setidaknya kita harus mencoba dulu.." ucap Ying, mulai setuju dengan pendapat Yaya.
Tapi karena belum pasti, mereka masih terdiam beberapa saat.
.
.
"Mungkin bisa..."
"Huh?"
Semuanya menoleh pada Halilintar dengan tatapan terkejut.
"Mungkin bisa. Hanya tubuhku saja yang diambil alih, sedangkan pikiranku tidak. Mungkin jika kalian mengalahkan monster itu, aku akan mendapatkan tubuhku kembali. Tapi, setiap saat tubuhku perlahan lahan akan mulai hancur." ucap Halilintar yang menurut mereka sangat penuh resiko.
Mereka sesaat terdiam, mereka bingung harus melakukan apa. Hal yang diberi tahu Halilintar sangat beresiko.
Tapi, ucapan Halilintar memberikan mereka semua harapan, walau setitik kecil.
"Baiklah. Akan kami lakukan, kami akan mencoba mengalahkannya secepat mungkin." ucap Yaya dengan ekspresi serius dan tegas.
Yaya pun menoleh pada Halilintar dengan senyuman lembut yang menghiasi bibirnya. Halilintar yang merasa dirinya di perhatikan oleh Yaya segera menatap orang tersebut.
"Aku punya satu permintaan padamu, tetap bertahan sampai kami semua menyelamatkan, ya..." pinta Yaya.
Halilintar pun ikut memandangnya dengan tulus, bukan tersenyum.
Yaya mengeluarkan jari kelingkingnya, Halilintar pun melakukan hal yang sama. Mereka hanya berjanji dari jauh saja, tidak harus dekat.
"Oke, aku percaya pada kalian... Tapi kumohon...Jangan ada satu pun dari kalian yang mati." ucap Halilintar.
"GHHH!" Halilintar mulai memegangi kepalanya dengan kuat.
"Ini dia... Bersiap siap semuanya!" ucap Ying mulai bersiaga.
"GAAAAHHH!" teriaknya sangat keras. Munculah sebuah kabut yang bewarna hitam, kabut tersebut menutupi tubuh Halilintar.
Saat kabut tersebut sudah mulai menghilang, mereka melihat monster yang sangat besar. Monster itu memiliki tubuh dan juga pakaian yang sama dengan yang digunakan Halilintar, bedanya badannya lebih besar dan dia juga memakai topeng dengan wajah yang tersenyum. Dia sedang dalam pose duduk dengan dua lutut kakinya yang menahan.
"Ini akan baik baik saja 'kan?! Halilintar tidak akan mati jika kita melawannya 'kan?!" ucap Ochobot masih khawatir.
"Halilintar percaya pada kita...Kita juga harus percaya padanya!" ucap Yaya dengan sangat yakin.
Semuanya mengangguk, mereka semua akan mempercayai Halilintar.
Yang lain segera bersiap siap untuk menyerang monster tersebut.
"Hati hati! Monster ini terlihat sangat kuat!" ucap Ochobot memberi peringatan pada mereka semua.
Sang monster terlihat ingin menyerang mereka dengan cara mengangkat tangannya ke udara yang sudah di aliri listrik dan menghempaskannya ke tanah.
Yang lain tak sempat menghindar dan terkena serangan pembuka tersebut. Mereka terkena aliran listriknya beserta bebatuan yang ikut melayang bersama hentakan tadi.
"NGHH!" hanya dalam satu kali serangan, itu sudah bisa membuat banyak kerusakan bagi mereka.
"Ah...Sial..." umpat Fang dengan kesal.
Nafas mereka semua terengah engah akibat serangan tadi.
Yang lainnya mencoba untuk berdiri, tapi kaki mereka terlalu sakit untuk digerakkan.
Karena Ochobot adalah robot, jadi hal itu tak terlalu berpengaruh padanya. Ia bisa berdiri dengan tegap, walau nafasnya juga masih teregah engah.
"Yaya! Kau sembuhkan semuanya dulu, aku akan mencoba menahan monster ini terlebih dahulu!" ucap Ochobot.
Yaya mengangguk dan mencoba untuk mengumpulkan kekuatannya. Hal itu akan memakan waktu, tapi tidak akan terlalu lama.
Sementara itu, Ochobot mencoba menyerang monster tersebut dengan cara menembakinya.
Ia terus melompat ke berbagai arah untuk menarik perhatian monster tersebut. Ia menembaki semua sisi monster tersebut yang menimbulkan kerusakan.
"Heal!"
Yaya yang sudah selesai mengumpulkan kekuatannya, segera menyembuhkan semuanya dalam sekejap.
Mereka semua merasakan luka luka mereka telah sembuh dan energi mereka sudah pulih kembali.
"Heh... Kau harus membayar tentang yang tadi.." ucap Fang segera berdiri dengan sikap coolnya itu.
Yaya juga sempat menyembuhkan dirinya dan Ochobot.
Ying mulai menyerang monster tersebut dengan memukulnya dengan kuat dan tentunya berulang kali.
Setelah merasa cukup, Ying menghentikan pukulannya dan melompat menjauhi monster tersebut.
Sekarang Fang memulai aksinya dengan mengeluarkan beberapa tangan, tapi seperti tangan yang ingin mencakar lebih tepatnya.
Bayangan tersebut segera mencakari monster itu dengan berturut turut.
Sementara Fang melakukan aksinya dengan di bantu oleh Gopal, dengan cara mengubah tangan tangan itu menjadi baja yang sangat tajam, monster tersebut mengangkatkan tangannya ke udara. Ia merentangkan tangannya, tak seperti sebelumnya.
'Serangan yang berbeda!' batin Yaya, segera berwaspada.
Dalam hitungan detik, tiba tiba ada sebuah petir yang menyambar dari langit. Karena tak ada kesempatan untuk mengelak, Yaya dan teman temannya terpaksa menerima serangan itu.
"GGAAHHH!" teriak mereka semua seiring dengan aliran listrik itu masuk ke dalam tubuh mereka.
Tak berlangsung lama kejadian itu terjadi, tapi itu betul betul membuat mereka semua terluka parah.
Rasanya kaki mereka sama sekali tak bisa di gerakkan. Energi mereka sudah terkuras habis.
"Hah...Apa kalian baik baik saja..?" tanya Yaya dengan nafas terengah engah.
Yang lain menggeleng pelan.
"Tak bisa dibilang bagus..." jawab Fang sambil memegang lengan kanannya yang terasa sakit.
Sang monster terlihat akan menghabisi mereka dengan serangan yang akan dia lontarkan.
Semuanya mencoba bangkit, tapi percuma saja. Luka mereka terlalu parah.
"Apakah...kita akan mati?" tanya Ying yang sudah terluka sangat parah.
'Tidak...Aku belum boleh mati disini...' batin Yaya mencoba mengumpulkan kekuatannya.
Tapi energinya sudah habis. Ia sama sekali tak bisa menyembuhkan.
Monster tersebut sudah bersiap siap untuk menyerang mereka.
Yang lain sudah pasrah, mereka sudah tak bisa melawan lagi.
Saat sang monster sudah ingin menghempaskan tangannya ke arah mereka, semuanya menutup mata.
Tapi tak ada apapun yang menyentuh mereka. Yaya membuka matanya untuk melihat apa yang terjadi, dan dia melihat hal yang mengejutkan.
.
.
.
"Ochobot!"
.
.
.
Mereka semua melihat Ochobot sedang menahan tangan monster itu dengan kedua tangannya sendiri.
Lama kelamaan, kaki Ochobot mulai bergeser kebelakang karena kekuatan monster itu sangat kuat.
"Mematikan semua sistem penahan..." ucap Ochobot sedikit pelan, tapi masih bisa di dengar oleh yang lainnya.
Ochobot pun mendongakkan kepalanya,
"Mode Oriah, diaktifkan!" serunya.
Tiba tiba, tubuh Ochobot mengeluarkan cahaya yang tak terlalu silau. Cahaya itu terus hidup di tubuhnya, mungkin bisa di bilang di bajunya juga.
Ia memegang tangan monster itu dan langsung melemparkannya. Yang lain membelalak melihat aksi Ochobot.
Dia bisa melempar monster yang tubuhnya 3 kali lipat lebih besar dari padanya?!
"Aku...Aku tak akan membiarkan teman temanku menderita lagi!" seru Ochobot dengan nada membentak.
Tentu saja, Yaya dan yang lainnya terkejut atas apa yang Ochobot bilang barusan.
Dia langsung melompat dan menembaki monster tersebut berturut turut.
Dia bisa dengan mudah menghindari semua serangan yang dilontarkan padanya, yang membuat semuanya menjadi kagum.
Ochobot mulai kehabisan tenaga, itu dibuktikan dengan cahaya yang ada ditubuhnya mulai meredup.
Setelah monster itu sudah terlihat melemah, Ochobot menghentikan aksinya dan jatuh terduduk di dekat mereka.
Tubuhnya sudah mulai mengeluarkan asap asap, mungkin ia sudah mencapai batasnya.
"Hah...Aku serahkan sisanya pada kalian.." ucap Ochobot sambil tersenyum lebar pada mereka.
Fang segera berdiri dengan sisa tenaganya.
"Hah...Sepertinya waktu pertunjukkan kita lagi..." jawab Fang sambil menyeringai.
Gopal pun ikut berdiri.
"Dia harus membayar tentang makananku yang sudah gosong semua!" ucap Gopal tersenyum lebar. Yang lain tertawa kecil mendengar perkataan Gopal.
"Tanganku sudah tak sabar untuk menghajar monster sialan itu..." ucap Ying sambil berdiri dengan tersenyum ringan.
Giliran pertunjukkan mereka sudah tiba.
"Pedang bayang!" seru Fang. Tubuhnya mengeluarkan 2 pedang bayang yang cukup panjang.
Gopal tahu maksud Fang tersebut segera menggunakan kekuatannya.
"Steel Shot!" seru Gopal, ia menembakkan beberapa tembakan yang membuat sesuatu berubah menjadi baja kepada pedang bayang Fang.
Ying segera mengambil kedua pedang tersebut bersama dengan Fang yang melepaskan kekuatannya pada pedang itu.
Ying agak kewelahan untuk mengangkatnya karena pedangnya cukup berat, tapi Ying menganggap berat itu bukan apa apa.
Ia segera berlari dengan kelajuan yang luar biasa ke arah monster itu.
"Power Slash!" seru Ying segera menebas dada monster tersebut hingga terbentuk huruf X yang besar dan juga dalam.
Semuanya menoleh pada Yaya, yang membuat orangnya heran.
"Yaya sekarang giliran kau...!" dukung Gopal sambil tersenyum lebar.
"Habisi dia sekarang!" dukung Ochobot tersenyum lebar sama seperti Gopal.
"Hah... Aku serahkan padamu bagian yang menyenangkan ini.." jawab Fang dengan coolnya.
"Yaya! Cepat!" seru Ying dengan ekspresi tegas, tapi Yaya tahu dia juga sedang tersenyum.
Yaya mengangguk dan mencoba berdiri walau rasa sakit di kakinya belum pulih.
Semuanya mempercayai Yaya, Yaya juga harus percaya pada mereka. Termasuk Halilintar.
"Aku mendukungmu, Yaya..." Yaya mendengar sebuah suara yang sedang berbicara padanya.
Yaya segera tersenyum mendengar suara itu, Yaya kenal suara itu.
Ia merasa ada kekuatan yang memasuki tubuhnya, kekuatan yang sangat kuat.
Dia merasa kekuatannya berlipat ganda.
Dia pun meringankan gaya gravitasi pada tubuhnya dan mulai terbang menuju ke arah monster itu dengan kecepatan yang hebat. Ia bagaikan angin kencang yang berhembus kuat.
Saat sudah dekat ia mulai mengepalkan kedua tangannya untuk mengumpulkan seluruh kekuatannya.
"Rasakan ini! HIYYAA!" seru Yaya. Ia langsung melancarkan serangannya yang sangat kuat itu pada monster sialan ini. Topeng yang di pakainya pun ikut rusak.
Sang monster langsung terpelanting yang membuat tanah agak retak.
Yang lain mulai mendekati tempat Yaya mendarat sambil melihat monster tersebut.
Lama kelamaan tubuh monster tersebut mengeluarkan cahaya terang dan terbang ke udara.
Tubuh monster tersebut telah berubah menjadi tubuh normalnya, alias tubuh Halilintar sendiri dengan beberapa kerlap kerlip yang menghiasi backgroundnya. Matanya sedang terpejam, menikmati angin yang berhembus.
Perlahan lahan, ia pun membuka matanya. Manik manik merah menyala pun kini terlihat. Ia menatap teman temannya yang ada di bawahnya.
Mungkin lebih tepatnya, ia sedang menatap Yaya.
Yaya menyadari Halilintar melihat ke arahnya segera tersenyum lembut.
Halilintar memperhatikannya sebentar dan ikut tersenyum, tersenyum yang sangat lembut.
Yaya sangat bahagia entah karena apa, karena saking bahagianya dia pun meneteskan air mata.
Tubuh Halilintar pun turun dengan pelannya menuju bumi.
Kerlap kerlip terus menemaninya sampai dia betul betul perpijak di bumi.
Ochobot langsung memeluk Halilintar dengan perasaan bahagia.
"...Aku sangat merindukanmu, tuan Halilintar.."ucap Ochobot dengan lirih, seperti sedang menahan tangisnya.
Halilintar tersenyum dan memeluk kembali sahabat terbaiknya itu.
"Sudah kubilang, jangan panggil aku tuan...Kau memang tak pernah mendengarkan ya..."ucap Halilintar sambil membelai kepala Ochobot.
Ochobot pun melepaskan pelukannya dan bergabung bersama teman teman barunya.
Mereka semua saling memandang dan kemudian mengangguk. Mereka kembali menatap Halilintar yang kebingungan.
"1,2,3! Selamat datang kembali, Halilintar!" ucap mereka dengan serempak yang membuat Halilintar terkejut.
Pertama kali ia heran, tapi ia segera mengusir perasaan itu dan tersenyum.
"Tentu!" jawab Halilintar sambil mengangguk dan kembali tersenyum.
Kini petualangan mereka akan lebih menyenangkan dan juga akan lebih menantang.
Dan juga, akan ada satu orang yang akan mengikuti perjalanan mereka itu...
Yaya sekarang akan mendapatkan beberapa teman lagi di dunia ini.
Tapi...
Apakah perasaan teman itu hanya akan sejauh itu?
Atau ada perasaan lain yang akan tumbuh?
.
.
.
TBC~
Kok panjang gini yah?
Padahal niatnya tadi cuman mau perbaiki alur yang kecepatan, sekarang malah kayak gini...
Huu...Nozomi emang ngak pande bikin fanfic fantasy...(terus ngapa dibuat?)
Nozomi emang gak pande nentuin nama, jadi Nozomi minta maaf kalau hasilnya jelek banget...
Dan yay! Bau romannya sudah kecium nih! Udah agak lega...
Nozomi pengen ramein ni fandom dengan pair BoboiboyxYaya... habis Nozomi udah jatuh cinta banget ama ni pair.
Maaf karena Nozomi nambah nambahin kekuatan mereka disini...habis, Nozomi perlu aja#dibantai.
Pertama kali Nozomi bingung soal Ochobot. Gak enakkan kalau dia manusia sepenuhnya, ya udah Nozomi jadiin aja dia setengah manusia setengah robot. Senjata robot apa? awalnya juga bingung soal itu, kepikiran deh tentang pistol gitu. tapi dimana di taruh? mata?kayak laser dong, punggung? gak bagus#plak. kepala dan kaki dicoret, ya udah tangan aja deh..
Nah datang lagi masalah baru... Gimana supaya bikin Ochobot makin kuat? cari cari di google, dimana aja deh, gak dapat dapat juga. Waktu dengar abang bilang "Modus.." langsung idenya datang. Jadi Ochobot punya mode yang bisa bikin dia kuat, walau sebentar saja.
Ada lagi, namanya apa?#dibakar. Cari sana, cari sini. Nggak dapet dapet, udah ah, nama kombinasi ajah... Hasilnya jelek juga pun, tapi biar ajalah. Udah panas ni kepala dipaksa terus.
Robot punya kepribadian manusia? Seharusnya nggak ada di dunia nyata, tapi ini 'kan dunia lain. Dunia mimpi kali yah?#plak.
Udah ah... daripada panjang panjang lagi...
See you soon in the next chapters!
