Hai, hai!

Ada yang kangen gak?/gak!

Ya udah deh, baca aja yah!


HUAAAPPPYYY REAAADDDIIINNGGGGSSS!~


"Halilintar akan ikut bersama kita?"

Kini mereka semua sedang menuju kota berikutnya dimana mereka akan beristirahat sejenak untuk mengumpulkan tenaga mereka.

"Tentu saja! Untuk apa aku harus berdiam diri!"

Fang dan Halilintar sedang bertengkar hanya karena masalah kecil. Fang tidak ingin orang lain ikut dalam perjalanan mereka, mungkin karena takut tak menjadi populer.

"Apakah kau bisa menjamin bahwa kau tidak akan membuat masalah?!" tanya Fang dengan sedikit nada membentak.

Halilintar mulai memandanginya dengan tatapan tajam dan juga dingin.

"Hmp... Kalian pasti akan berterima kasih padaku nanti..." jawab Halilintar membuang mukanya dengan tatapan tak peduli dan melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.

Fang mulai menatapnya dengan pandangan kesal, seakan akan ingin berkelahi.

"Jadi orang jangan sombong dulu, yah!"

Yang lain hanya bisa sweatdrop melihat perdebatan seperti anak kecil ini. Masalahnya entah apa dan karena apa mereka marah.

Kuping Gopal yang sudah tak tahan mendengar perdebatan kekanak kanakkan mereka ini segera mengambil roti dari dalam tasnya dan menyumbatkan roti tersebut ke mulut mereka berdua.

"Berisik amat kalian berdua!"

Fang dan Halilintar segera menatap Gopal dengan pandangan yang mematikan, seakan akan ingin membunuh seseorang.

Gopal yang menyadari tatapan mereka berdua, segera mengeluarkan keringat dingin.

Mulailah menyucur deras keringat dingin Yaya dan juga teman temannya yang lain. Tak akan ada yang mau merasakan amarah kombinasi dari Fang dan Halilintar.

"K-kabur!" seru Ying segera berlari sekencang mungkin dari tempat kejadian.

Yaya juga terbang menghindari tempat berbahaya itu, serta Ochobot yang berlari di atas pohon. Setelah merasa cukup aman, mereka bertiga hanya bisa berdoa untuk keselamatan teman baik mereka itu.

"K-kau..."

Tangan Halilintar sudah mulai mengeluarkan aliran listrik berwarna merah menyala. Sedangkan tangan Fang sudah mulai mengeluarkan aura aura gelap yang siap untuk mengahabisi seseorang dalam satu kali serangan.

Muka Gopal mulai pucat. Seakan akan dia sedang menghadapi dua malaikat maut yang siap menjemputnya.

Otak Gopal mulai berpikir dengan keras. Semua mesin mesin yang daritadi nganggur segera bergerak dengan kecepatan maksimal. Gopal sedang memikirkan cara untuk menenangkan dua amarah singa di depannya ini. Dia mendapatkan ide, tapi bukan ide yang sangat bagus. Ide yang justru membawanya pada kehancuran...

"O-orang manis...tak boleh marah 'kan?" ucap Gopal dengan mata puppy eyes.

Munculah 2 perempatan siku siku dan siap meledak.

"GOPAAALL!"

"TIDAK!"

CTAARR

Terlihatlah sebuah petir merah yang menyambar dari langit dan juga suara ledakan yang cukup besar.

Semua burung pun segera terbang menjauhi tempat yang amat sangat berbahaya itu.

Yaya dan yang lainnya mulai mendekati ketiga temannya itu setelah memastikan keadaan sudah cukup aman bagi mereka.

Seperti yang diduga, Gopal sedang dalam keadaan yang menggenaskan. Dia terkapar di tanah yang sudah retak besar dan juga kulitnya yang sudah berubah dari coklat menjadi hitam.

Nafas Fang dan Halilintar masih terengah engah dan tangan mereka masih terkepal sangat kuat, seakan akan siap untuk melakukan ledakan kedua.

Yaya pun menghampiri Halilintar dan Fang, berusaha untuk menenangkan mereka.

"Sudahlah! Lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita!" ucap Yaya dengan nada sedikit membentak.

Halilintar dan Fang saling pandang dan langsung membuang muka mereka dengan pandangan kesal sambil berdecak kecil. Yaya hanya bisa menghelakan nafas, dia merasa sedang mengurus dua orang anak yang tak akur.

Yaya melihat Gopal dengan tatapan kasihan. Ia segera menoleh pada Halilintar dengan Fang dengan pandangan tajam.

"Sebelum itu kalian harus bisa mengurus Gopal dulu!"

Halilintar dan Fang menatap Gopal, kemudian menghelakan nafas.

Halilintar mendekati Yaya dan mengumpulkan kekuatan listrik di tangannya. Yaya menatap bingung dengan apa yang dilakukan Halilintar. Sesaat kemudian terbentuklah...ember? yang terbuat dari listrik.

"Tolong ambilkan aku air di sungai terdekat, kau bisa terbangkan?"

Yaya mengangguk pelan, tapi kepalanya belum menemukan maksud dari Halilintar.

"Ambilkan saja.." jawab Halilintar dengan dingin, seakan akan bisa membaca pikiran Yaya.

Yaya masih menatap Halilintar dengan pandangan ragu juga takut.

"Aku tidak akan tersentrum jika aku menyentuhnya 'kan?"

Halilintar memutarkan bola mata dan menatap Yaya dengan pandangan malas.

"...Kau ini terlalu paranoid.." ejek Halilintar dengan nada datar. Yaya pun mengambil ember yang diberikan Halilintar agak sedikit takut.

"B-baiklah..." Yaya pun segera pergi dari tempat itu menggunakan kemampuan terbangnya.

Ochobot menatap Halilintar dengan pandangan bingung.

"Apa yang akan kau lakukan?"

Halilintar menoleh pada Ochobot dan memberikan tatapan liat-saja-nanti. Ochobot tak bisa menebak apa yang ada dipikiran temannya ini, mukanya terlalu dingin untuk mengisyaratkan pikirannya.

Sementara itu, Yaya yang sedang sibuk melihat kiri kanannya untuk mencari sungai atau danau.

Sekarang dia mulai setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ochobot. Halilintar memang dingin dan juga cuek. Dibalik sifat kasih sayangnya yang sangat besar itu ternyata juga ada hal hal yang tak terduga. Memang betul kalau ekspresi Halilintar itu selalu dingin juga tajam, dia juga temperamental dan tak mau mengalah. Tapi itu yang membuat Yaya tertawa jika memikirkan hal itu, ekspresi marahnya mungkin mengerikan tapi kadang Yaya juga berpikir itu imut.

'Tunggu! Apa yang kupikirkan?!' batin Yaya sambi menggelengkan kepalanya. Ia bisa merasakan mukanya mulai memanas. Tapi hal itu tersingkirkan ketika ia melihat sebuah sungai yang cukup panjang. Ia segera terbang menuju sungai itu.

Sesampainya di tepi sungai, ia pun mengisi ember tersebut dengan air air yang terlihat sangat bening.

Yaya melihat bayangannya di air, dia hanya tersenyum lembut pada bayangannya sendiri. Setelah merasa sudah cukup, Yaya pun berdiri, memperlihatkan senyumannya yang indah itu.

"Baiklah. Aku harus kembali sekarang."tapi sebelum ia terbang, ia sempat mendengar suara dari arah semak semak yang ada dibelakangnya. Semak semak itu terus bergerak gerak yang membuat Yaya berkeringat dingin. Yaya merasakan bahwa dirinya sedang dalam bahaya, tapi ia mengumpulkan keberaniannya itu dan segera mendekati semak semak.

Saat semak semak itu sudah ada dihadapan Yaya, ia mencoba untuk melihat isi semak semak itu. Tapi, saat jarak antara semak semak dan tangan Yaya...

"GAAAARRR!"

"EEKK!"

~"~

"Kemana Yaya? Sudah lama kita menunggu.." ucap Ochobot agak khawatir dengan keadaan Yaya.

Ying mendongakkan kepalanya dan melihat seseorang yang ia kenal.

"Itu dia!" seru Ying sambil menunjuk langit. Yang lain pun mendongakkan kepalanya dan melihat orang orang yang mereka cari.

Yaya melihat mereka semua dan segera melambaikan tangannya. Ia pun terbang menuju tempat mereka, yang keadaannya tak berubah sedikit pun.

"Hehehe...Maaf kelamaan.." ucap Yaya sambil memegangi kepalanya yang bagian belakang sambil tersenyum jahil.

Halilintar menatapnya tajam dan juga dingin. Sepertinya Yaya harus menyatat di dalam memorynya bahwa jangan pernah lagi membuat Halilintar menunggu.

Ying menatap Yaya dan menemukan sesuatu yang unik di tubuhnya.

"Yaya! Apa itu?" tanya Ying sambil menunjuk pundak Yaya.

Yaya menoleh pada apa yang ditunjuk Ying, kemudian tersenyum lembut.

"Hehehe...Perkenalkan, ini multi monster." ucap Yaya sambil menaruh monster mini itu di tangannya. Monster yang memiliki kulit berwarna hijau dan juga terdapat beberapa duri tumpul di punggungnya.

"Hai!" sapanya sambil melambaikan tangan pada semuanya dan tersenyum lebar. Hal itu otomatis membuat yang lain terkejut, kecuali Ochobot dan Halilintar.

"Dia bisa bicara?" tanya Fang sambil menatap makhluk yang cukup kecil itu dengan tatapan kagum.

Ochobot mulai ikut memandangi monster kecil itu dengan sedikit membungkukkan badannya untuk melihat lebih dekat.

"Setahu aku monster ini selalu berkelompok, tapi dia hanya sendirian?"

Sang monster mulai menunjukkan pandangan sedihnya.

"Tadi aku tersesat dan tak tahu kemana arah untuk pulang. Tapi aku bertemu dengan gadis cantik ini dan dia berjanji akan membawaku pulang!" ucap multi monster sambil menunjuk Yaya dengan ekspresi gembira.

Semburat merah muncul di pipi Yaya. Yaya tak tahu harus bilang apa, baru kali ini ada yang membilang dirinya cantik secara terang terangan.

Ying terlihat gemas dengan monster itu dan mulai menggelitik multi monster dengan senyuman jahil.

"Hehehehehe! Kau terlihat sangat menggemaskan! Bolehkah aku yang memeliharanya sampai kita mengantarnya pulang?" pintanya.

"Pip, pip!" sepertinya Popo juga berharap sama, mungkin ia ingin mempunyai teman.

Yaya segera tersenyum lembut pada mereka berdua.

"Tentu saja boleh! Dan sepertinya Popo akan mempunyai teman baru. Kau tak keberatan 'kan tuan multi monster?"

Sang monster segera mengangguk dan juga terlihat malu malu, karena baru pertama kali ada manusia yang memanggilnya dengan sebutan tuan.

Yaya pun memberikan multi monster tersebut pada Ying, Ying menerimanya dengan gembira dan menaruhnya di pundak sebelah kirinya.

Sementara itu, Halilintar yang sudah mulai bosan dengan pandangan yang ada didepannya ini segera mengambil ember di tangan Yaya dan menlemparkan isinya pada Gopal yang sedang terbaring lemah.

BYUURR

Spontan pria yang memiliki tubuh gembul itu segera bangun dengan ekspresi yang terkejut setengah mati.

Ia menatap Halilintar dengan pandangan kesal, sedangkan yang ditatap hanya menunjukkan muka datarnya, seakan akan tak mempunyai dosa.

"Kenapa kau menyiramku?!"

"Daripada aku repot repot membangunkanmu, lebih baik aku siram saja biar langsung bangun." jawabnya dengan nada tak bersalah.

Gopal masih memandang Halilintar dengan kesal, sedangkan yang lain mulai berpikir bahwa Halilintar itu jenius.

Ying pun mendekati Gopal dan memperlihatkan multi monster dengan tersenyum gembira.

"Gopal! Coba kau lihat ini! Bukankah dia lucu?" ternyata reaksi yang di dapatkan Ying adalah...

"GYYAAAAA!" Gopal langsung puntang panting lari ke sebuah pohon dan langsung memanjatnya dengan kecepatan yang hebat. Yang lain hanya bisa menatapnya dengan pandangan terkejut dan juga bersweatdrop.

"Kenapa kau, Gopal?" tanya Ochobot cukup kagum dengan kemampuannya dan juga sedikit bingung dengantingkahnya.

Gopal masih menatap multi monster itu dengan muka yang sudah sangat pucat, bahkan terlihat jelas tangannya sedang bergemetaran. Dia mencoba mengangkat tangannya untuk menunjuk monster mini itu.

"B-benda apa itu?!"

"Ini multi monster, kenapa kau? Apa kau takut?"sindir Ying sambil menahan ketawanya yang akan segera lepas. Gopal menoleh pada Ying dengan tatapan tajam.

"Bukanlah! Cuma geli aja!" bantahnya. Ying menganggukkan kepalanya, memberi kode bahwa ia percaya. Tapi ekspresinya menunjukkan pengertian lain, pengertian meremehkan.

~"~

Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mereka juga diikuti dengan informasi yang diberikan multi monster.

"Multi monster memang tinggal di kota, mereka membantu para manusia dalam mengerjakan banyak hal." ucap Ochobot.

Yaya mengangguk mengerti, kemudian menatap multi monster yang ada di pundak Ying.

"Jadi kau tinggal di kota yang dekat dengan hutan ini?"

Multi monster menoleh padanya dan mengangguk.

"Yup! Kami tinggal dikota Mulmon, tapi karena aku baru, jadi aku mudah tersesat." ucapnya sambil memakan coklat yang diberikan Ying, yang ia dapatkan dari Gopal dengan cara mengancamnya.

"Mulmon? Apa itu singkatan dari multi monster?" tanya Fang.

Kini Ochobot menoleh padanya dan mengangguk.

"Kota tersebut sangat penuh dengan multi monster kecil dan juga yang besar. Anak anak sangat sering berkunjung ke kota itu hanya untuk bermain dengan monster monster ini." ucapnya sambil membelai kepala multi monster.

Gopal yang sedang berjalan dibelakang mereka semua, segera membelalakkan matanya.

"M-maksudmu... Ada yang lebih besar dari ini...?" muka Gopal sekarang berubah menjadi pucat total.

Yaya dan yang lain menoleh padanya dan segera mengetahui mengapa Gopal seperti itu.

Ochobot menghelakan nafasnya dengan berat,"Lebih baik kita tidak usah mampir ke kota itu, aku khawatir kalau Gopal bisa membuat telinga kita budeg..."

Gopal segera menatap Ochobot dengan tatapan tajam, tapi mukanya tak pernah berbohong.

"Apa kau pikir suaraku ini melengking seperti perempuan?!" bersama kata kata itu, terjadilah perang adu mulut antara Gopal dan Ochobot

Fang menatap Ochobot sambil bersweatdrop."...Ternyata robot juga bisa budeg.."gumamnya yang hanya dapat didegar oleh Ying dan Yaya karena mereka berdiri bersebelahan. Yaya dan Ying mengangguk setuju sambil melihat pertengkaran di depan mereka ini.

~"~

Sudah cukup lama mereka berjalan mengikuti instruksi multi monster dan juga apa yang Ochobot ketahui.

Gopal masih marah dengan Ochobot ternyata, itu dibuktikan ia selalu cuek dengan apa yang dibilang Ochobot. Dia harus berhati hati, jika tidak mungkin ia bisa nyasar di hutan itu.

Sementara Ying dan Yaya sibuk memanjakan multi monster, yang membuat Fang sama Halilintar iri. Fang sibuk ngedumel gak jelas sedangkan Halilintar sibuk menatap multi monster dengan pandangan membunuh juga dengan aura hitam pekat disekelilingnya.

Sementara Popo yang sedang asyik bermain dengan multi monster, tiba tiba ia melihat sebuah bayangan hitam yang tak terlalu jauh tempatnya dari mereka berdiri. Entah kenapa firasatnya menjadi tidak enak.

Ia segera pergi menuju ransel yang dibawa oleh Ying dan bersembunyi. Ying bingung karena tak pernah melihat Popo ketakutan seperti ini,"Ada apa, Popo?" tanya Ying.

Saat mereka semua menoleh kedepan untuk melihat ada apa, ternyata ada sebuah monster. Bentuknya mirip dengan manusia. Memakai jubah hitam dan sayap dengan warna senada. Ia memakai sebuah topeng berwarna merah darah dengan ekspresi yang menyeringai seram serta sebuah sabit yang sangat besar di tangannya.

Yaya merasakan ada kekuatan yang sangat besar pada monster itu."A-apa itu?! Aku merasakan dia sangatlah kuat!" seru Yaya mulai ketakutan.

"Grim Reaper..."

"Huh?"

Semuanya menoleh pada sumber suara yang memiliki suara yang kalem dan juga dingin, yang tak lain dan tak bukan adalah Halilintar. Halilintar yang merasa dirinya dipandangi oleh teman temannya segera menoleh balik pada mereka.

"Dia adalah monster yang sangat kuat! Kita bisa mati hanya dalam satu kali serangan mematikannya! Dia bukan monster yang dibuat buat, dia memang asli dari dunia ini!" bentaknya. Terlihat sangat jelas mukanya sudah memucat dan mengeluarkan keringat dingin.

Fang menemukan kejanggalan dalam kata kata Halilintar."Apa maksudmu dengan dibuat buat?!" tanya Fang, mulai ikut khawatir.

Kini Halilintar menatap Ochobot dengan pandangan menyeramkan, yang dipandang mulai berkeringat dingin."Ochobot, kau..." setelah mendengar adanya nada membunuh dari kalimat tersebut, Ochobot hanya bisa meneguk ludahnya secara kasar.

Halilintar mulai menoleh pada yang lainnya,"Nanti aku jelaskan. Yang penting kita harus pergi sekarang!" seru Halilintar sambil menarik tangan Yaya. Yang ditarik kebingungan, tapi dia tahu, jika Halilintar sepanik ini pasti monster itu memang berbahaya.

Fang sangat tidak suka yang namanya melarikan diri, hal itu hanya akan membuatnya dianggap seperti pecundang."Kenapa kita harus lari?! Kita pasti bisa mengalahkannya!" bentak Fang.

Halilintar menoleh padanya dengan tatapan dingin nan tajam."Kau jangan percaya diri dulu! Kita ini bukan yang paling kuat! Jika kau ingin menghadapinya, sama saja kau menghadapi ajalmu!" bentak Halilintar yang membuat Fang diam seketika.

Halilintar yang menyadari bahwa Grim Reaper, atau bisa disebut juga dengan malaikat maut, sedang mengumpulkan kekuatannya. Dari warna energi yang sedang dikumpulkannya, bisa dipastikan itu adalah serangan mematikan, Halilintar tahu nama serangan itu, namanya adalah...

.

Kematian...

.

Fang dan Ochobot juga menyadari hal itu, segera melindungi teman temannya.

"Awas!" seru Fang mendorong Ying cukup kuat agar Ying tak terkena serangan itu.

Sama halnya dengan Halilintar, ia berbalik ke arah Yaya dan mendorongnya sekuat mungkin."Bodoh! Cepat lari!" serunya.

Lain lagi kalau dengan Ochobot, ia segera berdiri di depan Gopal dan membuat prisai hanya menggunakan tangannya. Mengapa ia tak mendorong Gopal? karena Ochobot sudah mengerti, walau dia bisa melempar monster yang 3 kali lebih besar darinya, Gopal adalah satu satunya orang yang tak bisa Ochobot angkat.

Yaya melihat sekilas muka Halilintar, muka yang menunjukkan kalau dia sangat khawatir, muka yang belum pernah Yaya lihat sebelumnya.

Ying pun juga sempat melihat muka Fang yang sama halnya dengan Halilintar, sebelum sebuah ledakan besar terjadi.

.

DUUUUAAAARRRR

.

Sebuah ledakan yang amat besar telah terjadi. Yaya merasa dirinya juga ikut terpelanting jauh akibat ledakan tadi, saat dia mencoba membuka matanya untuk melihat teman temannya, dia mendapati Halilintar berada disebelahnya. Yaya langsung panik karena tak melihat Halilintar bergerak sedikit pun.

"Halilintar! Hey! Ayo bangun!" seru Yaya terus menggoyangkan badannya, tapi dia tak bergerak sama sekali.

Air mata mulai mengalir di pelupuk mata Yaya."Halilintar! Bangunlah! Kau belum boleh mati!" seru Yaya makin tak bisa menahan tangisnya.

Yaya mencoba untuk mendekati Halilintar dan menaruh kepalanya di dada Halilintar.'Masih hidup!' batin Yaya, ia mencoba untuk memeriksa denyut nadinya dan memang benar dia masih hidup.

"Yaya!" panggil Ying yang sedang berjalan ke arahnya. Yaya segera menoleh pada Ying dan mendapati mukanya ada sedikit hitam hitam di pipinya, mungkin akibat ledakan tadi.

Yaya melihat Fang dari jauh, sepertinya juga ikut pingsan. Ochobot dan Gopal terlihat baik baik saja, walau keadaan Ochobot sedikit parah.

Yaya kembali menoleh kepada Ying,"Kita harus segera membawa mereka ke kota terdekat!" serunya diikuti anggukan dari Ying. Yaya kembali menoleh pada Ochobot,"Kau tak apa apa Ochobot?" yang merasa dipanggil segera menoleh ke arah Yaya dan tersenyum.

"Aku tak apa apa..."

Gopal yang tak tega melihat keadaan Ochobot, segera berjongkok di depan Ochobot.

"Ayo naik."

"Huh?" Ochobot sedikit kebingungan.

"Anggap aja ini rasa terima kasihku karena kau telah menyelamatkanku..."ucap Gopal, mukanya mulai merona.

Mungkin pertama kali Ochobot sedikit bingung, tapi ia segera tersenyum hangat."Terima kasih..."

Bagi Ying dan Yaya mengangkat tubuh Fang dan Halilintar itu tidaklah susah, tapi hanya kelihatan aneh saja.

~"~

.

.

Saat Halilintar membuka matanya, ia sedang berada di sebuah ruangan yang serba biru muda. Ruangan ini juga bisa disebut dengan lift karena ruangan ini terus bergerak ke atas tanpa ada batasnya. Tempat ini tak bisa dibilang luas, tapi bisa dibilang sangat tinggi. Hanya ada 5 lampu yang menerangi ruangan itu. Ada lemari, meja, dan juga berbagai hiasan yang ada hubungannya dengan air.

Halilintar sedang duduk di sebuah kursi dengan warna yang senada, Halilintar bisa dengan mudah siapa yang memanggilnya kesini.

"Apa yang kau inginkan, Air?"

"Hahaha... Ternyata kakak masih ingat denganku..."

Terlihatlah seorang pemuda yang memakai pakaian yang sama seperti Halilintar, hanya saja topi dan jaketnya (yang berkerah) berwarna biru. Topinya juga agak menurun kebawah, sehingga rambutnya tidak terlalu terlihat. Ia sedang bersandar di sebuah dinding, ia tersenyum tipis pada Halilintar.

"Kenapa kau memanggilku kesini? Mana yang lain?" Air terlihat kesulitan untuk menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh kakaknya itu."Satu satu dulu, aku hanya ingin melihat kakak saja. Aku juga tak tahu soal itu..." jawab Air cukup singkat juga.

Halilintar sedikit kesal jika menghadapi adiknya yang satu ini."Kau membuang sia sia waktuku di dunia nyata." ucap Halilintar sambil menghelakan nafasnya. Ia segera berdiri dan berjalan menuju pintu yang terletak disudut ruangan.

Sebelum Halilintar sempat memegang gagang pintu tersebut, Air sudah menghentikannya.

"Tunggu dulu, kak. Aku punya beberapa informasi tentang saudara kita..." ucap Air sambil tersenyum tipis.

Karena ini ada sangkut pautnya dengan adik adiknya, Halilintar memilih untuk mendengarkan.

Air terus mememberi tahu apa yangg ia ketahui kepada Halilintar.

Sedangkan Halilintar sedang mendengarkan dengan baik apa apa yang dibilang oleh adik kecilnya itu.

Sampai sebuah kata kata yang dilontarkan Air membuat Halilintar terbelalak. Air yang menyadari ekspresi lucu milik Halilintar segera tertawa kecil,"Jangan khawatir kak, aku akan tetap berada disini kok. Jangan terlalu khawatir dengan aku yang di dunia nyata..."

Halilintar hanya bisa menghelakan nafasnya,"Baiklah. Aku akan coba untuk mencari kalian semua...Kau akan baik baik saja 'kan?" sebenarnya Halilintar tak terlalu khawatir kalau soal adiknya ini, karena ia bisa lebih mengontrol situasi daripada adik ketiganya itu.

Air tersenyum pada kakaknya yang dingin itu.

"Kalau begitu, sampai jumpa lagi..."

Halilintar merasakan ada cahaya yang mengaburkan pandangannya.

.

.

"Ngghhh..."

Halilintar merasakan ada sesuatu yang empuk di badannya, juga ia merasa seperti di tempat asing.

"Kau sudah sadar?!"

Halilintar segera menoleh ke arah sampingnya, dan mendapati Yaya dengan muka khawatirnya.

Setelah melihat Halilintar benar benar sudah sadar, Yaya menghelakan nafas leganya."Kau baik baik saja?" ucapnya sambil kembali duduk di sebuah kursi yang berada di samping Halilintar.

"Ini dimana...?" tanya Halilintar dengan suara yang lemah."Penginapan... Kau membuat kami semua khawatir tahu! Kau sudah tidur selama 3 hari penuh!" ucap Yaya dengan sedikit membentak.

Halilintar sudah tahu mengapa ia tidur selama itu, tapi akan lebih baik ia menyembunyikannya dulu.

Kemudian Yaya tersenyum lembut,"Maafkan aku, ya. Kau sampai harus terluka hanya untuk melindungiku..."

Halilintar sendiri tak tahu mengapa ia melindungi Yaya, seakan akan hati nuraninya memaksakannya untuk berbuat seperti itu.

Tanpa disadari, muka Halilintar berubah menjadi merah. Yaya yang melihat muka pemuda yang ada di depannya ini, segera menempelkan punggung tangannya ke dahi Halilintar."Mukamu merah, apa kau demam?" tanya Yaya dengan tangannya yang satu lagi memegang dahinya sendiri, untuk mengecek apakah ia benar benar demam.

Halilintar yang menyadari tingkah laku Yaya segera menepis tangan Yaya dari dahinya,"Aku baik baik saja..." suaranya mungkin terdengar dingin, tapi jujur saja, hatinya sedang berdegub kencang saat ini.

Yaya sama sekali tak marah dengan tingkah laku Halilintar dan menganggapnya itu adalah hal yang biasa. Yaya segera beranjak pergi yang membuat Halilintar kebingungan.

"Mau kemana?"

Yaya memberhentikan langkahnya dan menoleh kepada Halilintar, Yaya hanya tersenyum.

"Memberitahukan yang lain bahwa kau sudah sadar." ucapnya dan segera berlalu.

Setelah ia menutup pintunya, entah kenapa Halilintar langsung merasa kesepian. Padahal Yaya hanya ingin memberitahu yang lain bahwa ia sudah sadar, tapi dia langsung merasa kesepian seperti ini.

Halilintar mulai mengusir pikirannya itu dan kembali menatap jendela.

'Ada apa denganku...?'


TBC~


Hai, hai!

Nozomi kembali dengan cerita yang super duper gajenya!

Maaf yah, Nozomi betul betul gak bisa update kilat... Nozomi betul betul banyak pekerjaan yang menumpuk...#sok sibuk.

Ini Nozomi ada nulis di HP jadi pastinya ada banyak typo, mohon dimaklumi...

Entah kenapa si multi monster nyasar kesini, malah si Popo udah disini lagi...#digetok.

Nozomi sengaja masukin monster yang sangat kuat dicerita ini, kan tidak menyenangkan jika mereka semua bisa mengalahkan semua monster disini. Yup, namanya memang terinsprirasi dari nama malaikat maut, dalam bahasa inggris yah?

Ya elah... Si Air udah keduluan dari yang lain...#dibacok. Soal ruangan Air itu, Nozomi dapet dari permainan Persona 3 FES yang velvet roomnya. Tapi bedanya cuma warna sama prabotannya yah..

Ada yang bisa nebak nggak? Apa yang dibilang Air sama Halilintar sampai si kakak tertua terkejut? Nggak yah...? Kalau ada yang tau silakan tulis di kolom review, sekalian tulis nama OC kalian yah! Yang benar nanti dipairingkan sama Ochobot atau Gopal. Abis... Kasihan mereka berdua kagak ada pasangannya...#disepak. Untuk 2 tercepat, itupun kalau benar...#dibuang.

Kalau gak ada yang benar, Nozomi bakal pakai OC Nozomi sendiri. Kalau memang satupun gak ada yang ngejawab atau benar, Nozomi berarti memang payah ngasih clue...

Yang lainnya nanti Nozomi jelaskan di chap berikutnya...

See soon you in the next chapters!