Hi, hi! lama gak ketemu!
Biasa mau hiatus lagi bye...~#ditendang
udah ah... langsung baca aja...
"Benarkah?!"
"Yup! Dia ada di kamarnya!" seru Yaya sambil tersenyum hangat.
"Ayo kita lihat dia!" ajak Ochobot dengan bersemangat, yang lain hanya mengangguk.
Tanpa basa basi lagi, mereka segera berjalan ke kamar Halilintar yang terletak di lantai 2 penginapan.
Saat diperjalanan mereka sempat bertanya mengapa Halilintar tidur dalam waktu yang cukup lama, Fang saja keesokkan harinya sudah siuman. Mereka berpikir Halilintar pasti sangat kelelahan, dia belum pernah istiharat sekalipun.
Tibalah mereka di depan pintu kamar Halilintar, saat Ochobot membuka pintunya, ia melihat pemandangan yang luar biasa juga langkah. Karena saking luar biasanya, Ochobot tak tega untuk menghancurkan pemandangan itu. Ia hanya membuka sedikit pintu tersebut, sekedar untuk mengintip.
Yang lainnya menaikkan sebelah alis mereka, bingung kenapa Ochobot tak membuka pintunya. Saat mereka semua juga mengikuti aksi Ochobot dan yang mereka dapatkan adalah Halilintar sedang...
.
.
.
...bermain dengan tupai tupai kecil.
.
.
.
Otomatis mata mereka semua membelalak, tapi lupakan hal itu dulu.
Semuanya menikmati pemandangan yang ada di depan mereka ini, terkecuali Fang. Dia tak merasakan apa apa, justru ia ingin tertawa yang keras sekarang, tapi itu hanya akan menjatuhkan imagenya. Hati Ochobot, Ying, Gopal dan Yaya dibuat luluh oleh aksi Halilintar tersebut. Dia sedang enak enaknya memberi makan tupai tupai kecil tersebut sambil memperlihatkan senyuman hangatnya.
Jika saja Ying atau Gopal membawa kamera mereka, mungkin mereka sudah mengabadikan momen yang imut ini.
Senyuman Halilintar bagaikan seorang malaikat, begitu menawan, juga diterpa sinar matahari yang hangat.
Karena Ochobot adalah sebuah robot, ia bisa mengabadikan momen ini di dalam kepalanya. Mungkin Yaya, Ying dan Gopal akan iri kepada robot manusia yang memakai baju kuning belang hitam tersebut.
Halilintar yang mempunyai pendengaran cukup tajam, segera menoleh ke arah pintu karena mendengar suara cekikikan seseorang. Pada saat itulah, mukanya spontan memerah dan mulutnya terbuka lebar. Ia melihat tupai tupai yang ia elus sedari tadi dan kembali menoleh ke arah pintu.
Merasa keberadaan mereka sudah diketahui, Yaya dan yang lainnya segera membuat pertahanan mereka sekaligus menutup telinga mereka, kecuali Fang yang masih asyik cekikikan.
"T-t-t-t-ti..."
Kalimat gantungan Halilintar menandakan bahwa ada bahaya besar yang akan terjadi, mereka semua segera meningkatkan kewaspadaan. Para tupai tupai yang mempunyai insting kuat, segera melarikan diri lewat jendela menuju ke pohon mereka.
Mari kita hitung sama sama...
1.
2.
3.
4.
5.
"TIIIDDDAAAAAAAAAKKKKK!"
DWWAAARRRR
~"~
Ternyata Halilintar masih malu soal tadi, itu terlihat jelas dengan mukanya yang masih memerah dan juga cemberut. Melihat ekspresi Halilintar itu, membuat Yaya menjadi gemas dan ingin sekali mencubit pipi Halilintar, tapi dia pasti akan kena imbasnya nanti.
Fang masih cekikikan gak jelas yang membuat telinga Halilintar makin memanas.
"Kau bisa diam tidak?!" bentak Halilintar dengan muka yang masih memerah. Fang menghentikan tawanya dan menoleh kepada Halilintar dengan pandangan datar,"Tidak." jawabnya dengan singkat, kemudian tertawa kembali.
Tangan Halilintar sudah mulai mengeluarkan aliran listrik berwarna merah, membuat yang lain bergidik ketakutan.
"Ahaha... Oke, oke, aku berhenti." ucap Fang sambil memegang perutnya dan juga menghapus air matanya yang sedikit keluar. Halilintar masih melihatkan pandangan kesalnya, tapi aliran listrik di tangannya sudah menghilang, membuat yang lain sedikit bernafas lega.
"Tapi, aku baru tahu kalau kau penyayang binatang." ucap Ying tersenyum hangat. Halilintar menoleh padanya dengan tatapan tajam,"Tidak boleh?" tanyanya dengan nada dingin dan juga ketus. Ying mencoba memaklumi sikap Halilintar tersebut,"Bukan, cuma gak nyangka aja."
Ochobot kembali tersenyum dan melirik ke arah Halilintar yang sedang duduk di atas kasurnya dan bantal sebagai sandarannya."Seharusnya kau mencium tupai tersebut supaya lebih romantis lagi..." ejek Ochobot sambil menahan ketawanya. Halilintar menoleh kepada Ochobot dengan tatapan dingin,"Aku bukan Gempa..."
Yaya tak pernah mendengar nama itu, tapi ia yakin, itu pasti salah satu saudaranya Halilintar. Ochobot yang menyadari tatapan bingung dari temannya segera menjelaskan."Pangeran ketiga, Gempa. Dia orang yang sangat lembut juga bijaksana, dia sangat dipenuhi oleh kasih sayang. Adil kepada semua orang, juga sangat dewasa. Dia juga pecinta binatang, tapi itu yang membuatnya lucu." Ochobot tertawa sedikit setelah mengatakan kata terakhir.
"Lucu?" tanya Gopal sambil memiringkan kepalanya. Ochobot mengangguk,"Dia membangun tempat khusus untuk semua peliharaannya, bahkan dia bisa menjadi kekanak kanakkan hanya karena hewan."
Yaya cukup terkejut dengan apa yang dijelaskan Ochobot, dari penjelasannya terlihat sekali kalau Gempa itu sangatlah bijak dan dewasa. Tapi dia tak menyangka ada sifat yang aneh juga dibaliknya. "Mereka semua memang unik, ya?" batin Yaya sambil tersenyum tipis.
Ochobot menatap Halilintar, yang ditatap segera menatap balik. Mereka tak mengucapkan apapun, mungkin sedang berdiskusi melalui pikiran. Ochobot pun kembali menatap teman temannya.
"Karena sudah disini, lebih baik kami ceritakan tentang kelima pangeran tersebut." ucap Ochobot sambil tersenyum.
.
.
.
"Pangeran pertama, Halilintar. Aku tak perlu menjelaskan tentangnya karena kalian sudah mengetahui sifatnya 'kan? Mungkin kalian sudah tahu, tapi dia adalah pengendali petir." tanya Ochobot, yang lainnya hanya mengangguk, tidak berani mengucapkan sepatah kata pun karena takut salah.
"Pangeran kedua adalah Taufan. Ia adalah orang yang sangat jahil, dia bahkan sering menjahili aku maupun saudara saudara yang lainnya, terutama Halilintar." Halilintar mulai mengepalkan tangannya kuat kuat, Yaya dan yang lain tak mau mengatakan apapun dan memilih untuk tetap diam."Dia sangat akrab dengan anak kecil, sudah pernah aku beritahu 'kan? Walaupun begitu, dia juga pandai masak, walau tak sehebat Gempa. Anak anak sangat suka memakan manisan yang dibuat olehnya. Sama seperti namanya, dia pengendali angin." Semuanya hanya ngangguk ngangguk dan memasukkan Taufan dalam kategori orang yang harus diwaspadai.
"Yang ketiga adalah Gempa. Sudah kujelaskan tadi, dia pengendali tanah. Dia yang paling pandai memasak daripada yang lainnya." ucap Ochobot sambil tersenyum.
"Yang paling kekanak kanakkan, tapi juga baik, Api. Hampir sama seperti Taufan, tapi dia paling gampang emosi. Mungkin kombinasi antara Halilintar dan Taufan ya?" seketika itu, Halilintar menatap tajam Ochobot, yang ditatap pura pura tak tahu."Kalau dia dalam mood yang baik, dia akan bermain main dengan anak anak disekitar istana. Tapi aku peringatkan, jangan pernah buat dia marah, kalau tidak kalian akan dalam bahaya. Pengendali api." Mereka segera menanamkan dalam hati mereka, jangan pernah bercanda berlebihan sama Api.
"Yang terakhir, pendiam tapi bisa sangat menawan, Air. Dia orang yang tak banyak bicara, pekerjaannya setiap hari selalu tidur. Ia terlalu malas untuk mengurus urusan kerajaan. Walaupun begitu, ia juga sering keluar istana sekedar berjalan jalan. Memang tak ada yang menyadari kalau dia adalah seorang pangeran, tapi dia bisa menarik perhatian wanita hanya dengan sekali senyum tipis pun. Dia memang aneh menurutku, kadang kadang ia pendiam, kadang kadang ia bisa seperti orang lain. Kalian akan menyadarinya nanti..." ucap Ochobot sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal sama sekali.
Sepertinya Ying dan Yaya harus mempererat pertahanan mereka agar tak jatuh dalam pesona Air.
"Dan juga, Api dan Air seperti kembar. Memang betul sih, semua pangeran ini kembar, tapi kedekatan mereka jauh lebih besar dari pada yang lain. Dan juga mereka berdua sama sama menyayangi Gempa, daripada Halilintar dan Taufan. Mungkin karena Gempa adalah kakak yang baik ya? Karena saking cintanya sama Gempa, Api dan Air pernah hampir mengamuk di ruangan Gempa yang ia buat khusus untuk hewan itu, tapi untungnya Gempa tak habis akal, ia berjanji akan tidur bersama Api dan Air untuk 2 hari. Otomatis itu membuat Api dan Air senangnya minta ampun..."ucap Ochobot sambil menghelakan nafasnya.
"Mereka semua memang sangat unik..." batin Yaya, tersenyum.
"Penawaran yang biasa tapi bisa menenangkan 2 monster..."ejek Halilintar sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya.
Fang sedikit kagum mendengarnya,"Apa Gempa memang kakak yang sangat baik? Sampai Api dan Air segitunya?" Ochobot mengangguk."Lihat saja nanti, kalian pasti akan terkejut."
~"~
Keesokkan harinya, mereka akan melanjutkan perjalanan mereka. Tapi sebelum itu, tentu mereka harus mencari informasi tentang para pangeran tentunya.
Yah, seperti biasa, mereka harus membantu penduduk kota Mulmon.
Ada jalan yang lebih mudah sebenarnya, jika penduduk tahu bahwa Halilintar adalah seorang pangeran, maka secara otomatis mereka akan langsung dipercaya, tapi itu juga bisa membuat musuh mengincar Halilintar lagi dan akan lebih akan terasa menyenangkan jika mereka membantu mereka semua.
Yaya dan Ying sedang menghibur anak anak kecil, karena hanya merekalah yang paling cocok jika itu berhubungan dengan anak kecil. Sebenarnya Ochobot memasangkan Yaya dengan Halilintar, tapi Ying menolak, katanya ia takut jika Yaya diapa apain sama Halilintar. Terpaksa Ochobot memasangkan Ying dan Yaya, dia dengan Halilintar dan Fang dengan Gopal.
Ochobot dan Halilintar membantu para pedagang sekaligus dengan klinik di kota itu, Halilintar dan Ochobot melakukan pekerjaan mereka berdua dengan sangat cepat. Bahkan tangan mereka hampir tak terlihat, saking cepatnya. Orang orang saja banyak berkumpul untuk melihat pertunjukkan Halilintar dan Ochobot dalam membuat kue disebuah toko kue. Mereka seperti sedang berkompetisi saja...
Fang dan Gopal sibuk membantu para multi monster, walau Gopal tak terlalu bisa diharapkan. Gopal pertama kali protes tentang tugasnya, ia yakin kalau semuanya tahu dia tak suka dengan multi monster itu, tapi Halilintar mengatakan,"Kau harus bisa mengalahkan ketakutanmu itu, atau kau hanya pecundang?" Gopal tak marah ia dibilang pecundang, karena Halilintar pasti tak bermaksud serius, tapi ia sungguh tak suka dibilang penakut. Jadi mau tak mau, Gopal terpaksa menjalankan tugasnya.
Berkat bantuan multi monster yang mereka temui di hutan, mereka tak perlu berlama lama di kota itu.
"Begitu ya... Kami tak tahu banyak, tapi kami punya beberapa informasi tentang mereka." ucap seorang pria paruh baya.
Semuanya menunjukkan muka berharap mereka,"Maukah kalian memberi tahu kami?" tanya Halilintar dengan ramah.
"Beberapa dari kami sering melihat seorang pemuda yang memakai jaket berwarna biru dengan topi yang dimiringkan, dia selalu datang untuk bermain kemudian langsung menghilang." jawab seorang gadis elf.
Semuanya otomatis menoleh padanya,"Menghilang?" Fang mencoba memastikan perkataan nona tadi, dan sang nona mengangguk."Ya, setelah hari mulai gelap, ia sudah tak ada di kota ini. Anak anak bilang kalau pemuda tersebut pergi ke arah hutan."
"Tapi, akhir akhir ini, tak ada yang melihatnya berkeliaran termasuk anak anak kecil." ucap seorang wanita tua.
Yaya berpikir, apakah Taufan sedang berada di kota lain? atau dia juga sudah di cuci otak seperti Halilintar?
"Apakah ada yang tahu dimana keberadaannya?" tanya Ochobot. Semuanya menggeleng,"Maaf, dia tak terlalu banyak bicara tentang tempat tinggalnya. Jadi kami tak tahu menahu." ucap seorang pemuda.
Yang lain menghelakan nafas berat, sekarang mereka tak tahu kemana tujuan mereka berikutnya.
"Tapi..."
Spontan semuanya menoleh pada sumber suara, termasuk Yaya dan yang lainnya.
"Aku rasa kalian bisa bertanya pada Fairytown. Setahu aku, para peri bisa membantu kalian jika itu berhubungan dengan mencari seseorang. Para peri terkenal dengan penglihatan hebat mereka." ucap seorang gadis dengan rambut hitam, model twintail. Iris berwarna biru muda yang indah. Ia memakai sebuah hoodie bewarna hijau dengan pinggiran berwarna kuning dan membawa sebuah keranjang berisikan bunga.
"Benarkah?!" Setidaknya Yaya dan yang lainnya masih mempunyai harapan untuk mengetahui keberadaan Taufan.
Sang gadis mengangguk sambil tersenyum lembut,"Aku juga salah satu penduduk dari kota itu, jadi aku bisa mengantarkan kalian!"
Entah kenapa, muka Gopal sedikit memanas karena melihat senyuman yang sangat indah,menurutnya, itu. Gopal juga bisa merasakan mukanya merona hebat.
"Benarkah?! Syukurlah, kita mendapatkan bantuan." ucap Yaya sambil tersenyum lega, yang sukses membuyarkan lamunan Gopal.
Sang pria paruh baya mendekat ke arah Halilintar dan memberikannya sebuah perbekalan."Silakan diambil nak, anggap ini sebagai rasa terima kasih kami."
Halilintar menerimanya walau sedikit grogi, ia tak pernah berhadapan langsung dengan orang asing."Ah... Terima kasih...Kami menghargainya.."jawab Halilintar sedikit kikuk. Sang pria hanya tersenyum dan segera pergi, diikuti dengan kerumunan para penduduk. Semuanya kembali menjalani kegiatan mereka masing masing.
Semuanya kembali menoleh pada gadis tadi,"Jadi, namamu siapa?" tanya Fang dengan nada dingin.
"May..."
"Namaku May."
Semuanya mengangguk, sedangkan May tersenyum lembut.
'Nama yang indah...' batin Gopal, tanpa ia sadari kalau ia tengah merona.
Ia menatap kearah Gopal kemudian tersenyum,"Senang bertemu denganmu!" Gopal dibuat salah tingkah olehnya. Walau begitu, Gopal yakin, pasti dia sama sekali tak bermaksud mengatakan hal itu kepadanya.
"Kalau begitu, tolong tunjukkan jalannya..." ucap Halilintar dengan dingin. May mengangguk dan segera berjalan ke arah hutan yang cukup lebat itu, diikuti yang lainnya.
Mereka terus berjalan memasuki hutan itu lebih dalam. Saat diperjalanan, mereka sempat melihat sebuah pohon yang dipenuhi dengan buah yang mirip apel, tetapi warnanya adalah biru tua.
"Waah! Bluple!" tanpa basa basi lagi, May segera menghampiri pohon itu dan mengumpulkan semua buahnya. Yang lain hanya menatap bingung padanya."Hei! Ayo kita lanjutkan perjalana kita!" bentak Halilintar, dia paling tak suka menunda sesuatu. May menoleh padanya dengan muka memohonnya,"Tunggu sebentarlah~ Kota itu tak akan lari kemana mana, kok!" ucapnya dan langsung melanjutkan aktifitas tertundanya itu.
Ying menoleh pada Halilintar, dan sudah bisa ditebak kalau Halilintar tengah menahan amarahnya."Yah... Kita sekalian istrahat bagaimana? kakiku juga sudah capek berjalan terus." ucap Ying dan segera duduk dibawah sebuah pohon yang cukup rindang. Yaya mulai mengangguk,"Baiklah. Kita istirahat sebentar ya, semuanya." ucap Yaya, juga ikut duduk disebelah Ying. Mau tak mau, mereka bertiga pun juga harus mengikuti perintah Ying dan Yaya, kalau tidak... Mungkin mereka sudah pergi ke alam lain. Mengingat kombinasi kekuatan Ying dan Yaya ketika marah.
"Ah! Tadi aku sempat membuat biskuit di penginapan tadi. Jika kalian mau, ambilah!" ucap Yaya sambil menyodorkan pada mereka sekeranjang biskuit.
Kebetulan sekali yang lainnya lagi lapar, jadi mereka mengambil satu biskuit sambil mengucapkan 'Terima kasih.'
Sebelum mereka sempat memasuki biskuit tersebut kedalam mulut mereka, Ochobot langsung menghentikannya."Maaf semuanya, tapi aku harus menganalisa biskuit ini, aku tidak mau ada sesuatu yang buruk terjadi pada Halilintar." walau niat Ochobot baik, tapi Yaya merasa sedikit tersinggung dengan perkataan Ochobot."Tunggu! Apa maksudmu kalau biskuit aku ini berbahaya?!" tanya Yaya dengan sedikit nada membentak, yang membuatnya menoleh pada dirinya.:Maafkan aku Yaya, tapi ini memang kewajibanku sebagai seorang pelayan."
Yaya yang melihat ekspresi Ochobot yang lebih serius dari biasanya, mulai menunduk pasrah."Baiklah..." mendengar persetujuan Yaya, Ochobot segera menganalisa biskuit tersebut. Setelah selesai menganalisa, tanpa aba aba, ia langsung memakan biskuit tersebut. Yaya mulai gugup dibuatnya,"B-bagaimana...?" Ochobot terus mengunyahnya tanpa henti sampai sisa sisa biskuit itu habis.
Dia pun menoleh pada teman temannya,"Informasi didapatkan dan sedang diproses." ucapnya seperti robot asli, tiba tiba tubuhnya mengeluarkan asap."Jangan dimakan...Itu-" Ochobot pun langsung pingsan sebelum bisa melanjutkan kata katanya. Semuanya langsung panik melihatnya.
"UUWWAAA! OCHOBOT! KAU TAK APA APA?!" semuanya pun mendekat kepada Ochobot dan sibuk menggoyangkan bahunya, berharap agar ia sadar, tapi nihil. Tubuhnya terus mengeluarkan asap selama beberapa menit.
Mereka menatap biskuit yang bentuknya indah nan cantik ini bisa membuat seorang robot pingsan. Tanpa basa basi lagi, mereka mencoba untuk membuang biskuit tersebut, tapi Yaya menghentikan mereka"Kenapa tidak dimakan?" Semuanya pun meneguk ludah mereka dengan kasar.
Dan mulailah otak mereka berpikir keras untuk mendapatkan jawaban yang tepat, jika salah sedikitpun nyawa mereka bisa melayang dengan mudahnya.
"K-k-k-kami cuma mau... Eh... Itu..." bagus, ide yang sudah didapatkan Gopal segera menghilang begitu saja dari otaknya.
"K-kami cuma mau simpan kue ini buat nanti! K-kan sayang kalau dimakan sekarang..." wah... Ternyata idenya berpindah tempat ke otak si pemuda bersurai anggur ini. "Tapi 'kan aku masih punya banyak. Jadi tak perlu khawatir jika kalian ingin lagi." sekarang Yaya memasang wajah tak berdosanya itu. Ide yang didapatkan Gopal sama sekali tak berhasil, dan itu menghasilkan kecurigaan Yaya bertambah besar.
"T-tapi... Ochobot kenapa?" tanya Ying bergidik takut sambil menunjuk ke arah Ochobot yang sudah seperti mayat saja. Yaya menoleh pada Ochobot dengan pandangan polos,"Mungkin dia cuma kelelahan? Makanya dia langsung tidur... Pasti itu 'kan, 'kan, 'kan?" ternyata Yaya menganggap Ochobot yang sedang sekarat hanya kelelahan saja...
'Dia terlalu polos!' batis semua orang, kecuali Yaya tentunya.
"Nah... Silakan dimakan!" ucap Yaya sambil tersenyum lembut. Tapi bagi yang lainnya itu adalah senyum seorang iblis dari neraka.
Jarak antara biskuit dan mulut mereka sama sekali tak mengalami kemajuan apapun, Yaya yang melihat hal itu mulai kesal.
"Kenapa kalian tak memakannya...?" kini nadanya sudah berubah, tidak lagi lembut melainkan menyeramkan!
Keringat dingin mulai keluar dengan derasnya, muka mereka sama sama memucat.
Mereka punya 2 pilihan, jika mereka menolak maka mereka akan selamat dari biskuit itu tapi mereka akan dihajar sama Yaya. Jika mereka memakan biskuit tersebut maka mereka akan selamat dari tumbukan maut Yaya tapi mereka akan segera pergi ke alam lain.
Intinya...
.
.
.
Pilihan manapun, mereka akan mati juga...
.
.
.
"Kenapa...?" dan wah... Muka Yaya sudah sangat muram dan juga menahan amarahnya, sepertinya akan ada bom meledak nanti.
Lebih baik langsung mati daripada disiksa dulu...
"B-baiklah..." ucap Ying, sudah pasrah pada nasibnya nanti. Yang lain pun berpendapat sama kecuali..
"Hei! Kau mau mati dengan memakan biskuit beracun ini?! Bukannya kalian gak mau tadi?!" perkataan Gopal sukses membuat suasana jadi canggung. Semuanya terdiam dengan muka ketakutan terbaik mereka, mereka melirik tajam sejenak ke arah Gopal.
"Beracun...?" spontan semuanya menoleh pada sumbersuara dengan muka yang sudah sangat pucat. Mereka melihat Yaya sudah mulai mau mengamuk, itu dibuktikan dengan nada menyeramkan miliknya itu.
Aura hitam menyebar dengan pekatnya, bahkan Popo pun bisa merasakannya.
Yaya menatap tajam ke arah Gopal dan tanpa basa basi lagi, ia segera menyumbat mulut Gopal dengan biskuit biskuitnya. Gopal yang secara tak sengaja menggigit biskuit tersebut segera pingsan dengan mulut yang menganga lebar dan pastinya mukanya sudah berubah warna jadi kebiru biruan..
Kini Yaya menatap sisa mangsanya dengan pandangan tajam, yang ditatap pun segera merinding.
"AKU BENCI KALIAN!"
"TIDAK!"
.
.
.
TBC!
Fuah...! Siap juga akhirnya... =.="
Maaf... Ternyata yang nebak kurang tepat... Nozomi paham, Nozomi kalo ngasih clue kagak ada yang jelas.. Gomenne minna-san~ Nozomi janji kok, bagi yang sudah mau memberikan jawaban mereka, akan Nozomi masukan OC kalian ke dalam cerita ini... Tapi gak dipairingkan :v #plak.
Nozomi nak tanya... Mana yang lebih merdu suaranya seruling atau biola? Pliss... masukin jawaban kalian T-T
Dan yah... Hali udah ama Taufan, berarti Gempa ama Air dan Api... Kacian kalo Gempanya cendiri...#ditumbuk
Cerita kali ini agak ngaco, jadi jangan heran kalau gaje... Akibat malas nulis...#dicincang
Dan... Ada orang yang hilang di adegan terakhir... Siapakah itu...?#jeng jeng jeng...
.
.
Leave a review... please?
