Hai, hai! Lama tak berjumpa dengan kalian! ^^
Maafkan Nozomi karena lama sekali bisa melanjutkan fanfic ini. *nunduk dalam* Nozomi sungguh minta maaf.

Kali ini Nozomi sengaja membuat panjang chap ini sebagai ganti karena telat update, walau Nozomi yakin ini belum cukup.

Ya udah, Nikmati saja~


CLAANNGG!

BRUKK!

SREEETT!

"MATI KALIAN MONSTER SIALAN!"

Dibandingkan yang lain, Yayalah yang paling banyak menghabisi monster monster yang datang. Sepertinya ia sedang emosi dan melampiaskannya pada monster monster yang tak bersalah itu.

Sementara Yaya sibuk menghabisi mereka semua dengan perasaan kesal, yang lain tak berani mendekati Yaya dan menjaga jarak pada Yaya.

'Tuan putri iblis...' batin mereka semua kecuali Yaya tentunya.

Mungkin mereka tak perlu ikut ikut menyerang monster monster ini, karena Yaya dipastikan bisa menghabisi mereka dalam waktu singkat.

"MATIIII!" dan tumbukan ultrasonic Yaya langsung menghabisi mereka semua dengan sangat cepat. Yang lainnya hanya bisa bersweatdrop ria.

"Hah... Hah..." Yaya mencoba mengatur nafasnya dan menatap tajam yang lainnya kecuali May, karena ia sedang tidur di atas pohon ketika Yaya mengamuk tentang biskuitnya tadi.

Spontan yang lain bergidik takut dan tak berani mengeluarkan sepatah kata pun, termasuk Halilintar. Yaya adalah orang yang berbahaya ketika ia marah besar.

"Uhh... Aku lapar..." otomatis semuanya menoleh kepada sumber suara dan melihat May sedang memegangi perutnya.

Hal tersebut membuat wajah Yaya menjadi berbinar, ia segera mengeluarkan keranjang biskuitnya."Mau?" tanya Yaya dengan mata berbinar binar.

May pun segera tersenyum lebar melihat kue yang kelihatannya sangat enak,"Wah... Mau!" sebelum sempat yang lain memperingatinya, sang gadis telah mengunyahnya dan menelannya.

"B-bagaimana...?" tanya Yaya dengan malu malu, seakan akan melupakan bagaimana reaksi teman temannya tadi.

"Enak!"

"Huh?"

.

.

.

Oke, sementara mereka sibuk berpikir, Author akan menjelaskan apa yang terjadi.

Berawal pada saat May mengatakan bahwa ia sedang kelaparan dan Yaya, yang baru saja melampiaskan amarahnya, dengan sigap menawari May atau lebih tepatnya memaksa, untuk memakan biskuit buatannya. May yang sedang tertidur ketika Yaya sedang mengamuk tak mengetahui bahwa biskuit itu membawakan malapetaka bagi siapapun yang memakannya. Dan otak mereka berhenti berpikir sejenak ketika May mengatakan biskuit Yaya itu enak.

"APA?!"

"Yay! Nah! Ambilah sebanyak yang kau mau!" May dengan senang hati memakan biskuit biskuit tersebut. Sedangkan yang lain agak menjauh agar tak terkena bujukan Yaya lagi.

'Apakah lidah gadis polos ini sudah tak bisa merasakan secara normal...?'

~"~

"Uwaa!"

Semuanya melihat pemandangan yang tersaji di depan mereka ini dengan tatapan kagum. Yup, mereka semua sudah sampai di tempat yang mereka tuju, yaitu Fairytown.

Seperti namanya, ada banyak peri yang berterbangan di tempat ini dan kebanyakkan dari mereka membawa sekeranjang bunga. Ada ladang bunga yang sangat luas dan indah dengan sebuah air mancur sebagai pusatnya. Rumah rumah para peri tak terlalu tinggi, bahkan ada tangga yang tersedia untuk pergi ke rumah tersebut, walaupun mereka bisa terbang langsung.

"Indah sekali..." puji Yaya dengan kagum. May hanya menggaruk pipinya sambil tertawa kecil,"Terima kasih..."

Halilintar segera bicara karena sudah muak dengan tatapan kagum mereka yang berlangsung sangat lama,"Hei, kita jadi atau tidak ini?" otomatis semuanya menoleh pada Halilintar dan tertawa sebentar."Oke, oke..." jawab Ying sambil tersenyum lebar.

May langsung mengantarkan mereka ke tempat yang dicari untuk menemui sang peri."Ah... Aku lupa memberi tahu kalian..." gumam May sambil menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap teman temannya.

"Memang betul peri disini mempunyai penglihatan yang hebat... Tapi ada seorang manusia yang baru baru saja datang kesini, ia memiliki penglihatan yang sungguh luar biasa dibanding peri peri lainnya." ucap May yang membuat tanda tanya."Manusia? Siapa dia?" May menoleh pada pemuda yang memakai kacamata dengan suraian anggur itu."Tak ada yang pernah melihat mukanya... Ia selalu memakai jubah berwarna hitam dan selalu menutupi wajahnya..."

Semuanya merasa mungkin orang itu hampir mirip dengan Halilintar saat ia sedang dicuci otak. Halilintar sudah bisa menebak apa yang ada dipikiran mereka,"Cepat saja antarkan kami." perintahnya dengan dingin dan ketus. May hanya senyum,"Iya, iya, tuan pangeran."

Semuanya pun segera berjalan menuju tempat itu dan mereka harus memanjat tangga yang bisa dibilang cukup tinggi. Gopal sempat mengeluh karena panjangnya tangga itu tapi ia segera berjalan lebih cepat ketika Halilintar melemparkan pandangan tajamnya.

"Disini..." terlihat ada sebuah pintu dari bahan alami tentunya dengan aura yang cukup mengerikan."Kita akan masuk...?" tanya Ying sambil menunjuk pintu tersebut dengan tangan agak gemetaran. "Tentu saja, ada apa?" Ying hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan Yaya itu.

Fang pun membuka pintu tersebut dan melihat ada seseorang duduk diatas sebuah kursi sambil memakan sebuah kue kering, yang membuat semuanya bersweatdrop. Dia tidak yang seperti mereka bayangkan.

Orang tersebut meyadari kehadiran mereka dan segera menghentikan aktifitas bersantainya. Seperti yang May bilang, ia memakai jubah hitam yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Wajahnya ditutupi dengan poninya serta bayang bayang tudung jubahnya itu.

"Duduklah..." perintah orang itu sambil menunjuk sebuah kursi panjang yang sudah di sediakan di sebelah mejanya. Setelah semuanya duduk di bangku tersebut, orang tersebut kembali memakan kue keringnya."Jadi, kalian mencari siapa? Saudaramu?" tanyanya sambil menunjuk Halilintar.

Semuanya spontan membelalak,"Darimana kau tahu...? Siapa namamu?" harus diakui, Ochobot sangat terkejut saat tebakan orang ini benar dan tepat pada sasaran.

"Ingin tahu? Baiklah... akan kubuat kalian berpikir 2 kali..." ia melihatkan senyuman merendahkannya pada semuanya, otomatis itu membuat semuanya kesal. "Pemuda yang selalu dipuja semut semut. Suara yang selalu berdering keras dimana mana. Sesuatu yang selalu ada di dalam diri manusia dan biasanya selalu memaksa untuk mencari kebenarannya, juga bisa dimakan tapi ia telah kehilangan tawanya. Orang orang yang selalu tersenyum ketika melihat sesuatu yang mereka idolakan, namun dalam saat yang bersamaan mereka juga telah kehilangan sesuatu yang ada dibelakangnya."

"Huh?" semuanya menatap bingung ke arah orang itu. Sang peramal, bisa disebut seperti itu, hanya menghelakan nafas."Itu tentang diriku juga namaku..."

Gopal segera angkat bicara."Apa nama seseorang bisa sepanjang itu...?" semuanya menoleh pada Gopal dengan pandangan bosan mereka."Itu hanya sebuah teka teki, Gopal..."

Gopal hanya cekikikan sambil menggaruk kepala bagian belakangnya. "Kau menguji kami...?" tanya Halilintar dengan dingin. Peramal tersebut menoleh ke arah Halilintar,"Tidak juga... Aku hanya ingin bersenang senang dengan melihat kalian sibuk memikirkan jawabannya..." jawabnya sambil memakan kue kering yang masih tersedia di atas mejanya.

"Kuberi kalian waktu untuk memikirkannya... Datanglah kembali ketika kalian sudah mendapatkan jawabannya."

"Ah... Tenang, aku akan memberi tahu kalian tentang keberadaan saudaramu jika kalian berhasil menebak... Dan mungkin, aku akan memberikan bonus tambahan..."

~"~

(Para readers silakan ikut berpikir ^^)

"Jadi, bagaimana?" tanya May disaat perjalanan mereka menuju rumah May untuk menginap sementara. "Itu teka teki yang cukup payah..." ucap Ying sambil mengelus kepala Popo.

Untuk saat ini, mereka semua memutuskan untuk beristirahat sebelum mendiskusikan tentang teka teki itu. Sesampainya di rumah May, mereka segera membagi kamar, karena hanya ada 2 kamar maka 1 untuk perempuan dan 1 lagi untuk laki laki. Saat para laki laki memasuki kamar mereka, sebuah keheningan terjadi.

"Ini... Kamar kita 'kan?" tanya Fang untuk memastikan. "Mungkin..." jawab Ochobot dengan nada tak yakin juga. Dikamar tersebut terdapat 4 kasur dengan selimut yang terlihat sudah koyak tapi di jahit kembali, walau sungguh tak rapi. Lantainya dari kayu yang bisa menimbulkan decitan suara. Dan... Ada banyak jaring laba laba di sudut ruangan juga, jamur? Ruangan ini terkesan cukup horror.

Halilintar sedikit menyebarkan aura hitamnya, tetapi ia tak membuka sedikitpun mulutnya."May sudah pasti merencanakan ini semua..." ternyata Gopal gak kalah kesalnya.

"Kamar kalian ada disebelah sana ya... Sedangkan kami ada disitu..."

"Baiklah..."

"Oh ya, kamar itu sedikit berantakan, gak apa apa kan?"

"Aku gak peduli..."

"Baiklah, jika itu mau kalian... Tapi jangan protes apapun sama aku ya... Aku gak tanggung jawab..."

"Iya, iya... Repot amat..."

Setelah dipikir pikir kembali, itu semua salah mereka sendiri. Seharusnya mereka mengecek dulu kamar mereka, baru bisa protes atau apapun, tapi mereka malah ceplas ceplos aja.

Halilintar segera merebahkan diri dengan tangan sebagai bantalnya,"Terserahlah..." yang lain pun ikut duduk di kasur mereka masing masing. Ochobot sedang merapikan kasurnya serta menaruh tasnya di sebelah kasur lipat itu. Dan perlahan, semuanya pun mulai memasuki alam bawah sadar atau alam mimpi.

Setelah merasa sudah cukup puas dengan tidurnya juga cahaya mentari yang membangunkan semuanya. Mereka pun bersiap siap dan segera pergi ke ruang makan. Ternyata para gadis sudah siap membuat sarapan dan sudah tertata dengan rapi di atas meja.

Yaya menyapa mereka semua dengan senyum manis,"Oh... Kalian sudah siap? Sarapan juga sudah siap!" para gadis segera duduk di kursi yang sudah disediakan, tetapi para lelaki belum duduk karena mereka sedang ketakutan.

"Hei, Yaya..." ucap Fang sedikit pelan tapi masih bisa di dengar."Hmm? Ada apa?" tanya gadis berhijab merah muda itu dengan polos."Apa kau yang... membuat ini?"

Yaya mengangguk dengan semangat, yang membuat lainnya menjadi kehilangan selera makan kecuali gadis gadis manis."A-ah... Entah kenapa, aku tiba tiba menjadi kenyang..." ucap Gopal sambil memegang perutnya."A-a-aku juga... hehehe..." kata Ochobot sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.

Yaya segera memasang muka polosnya,"Huh? Kalian 'kan belum makan apa apa dari kemarin..." spontan semuanya tersentak tapi kembali memasang muka cerianya.

Semuanya segera menatap Ying dan May untuk meminta pertolongan, May sang gadis polos hanya menatap kembali mereka dengan bingung. Sedangkan Ying pura pura gak tahu, ia hanya mengelus kepala Popo sambil memasang muka tak berdosa.

Yaya memaksa mereka semua untuk duduk dengan kekuatannya,"Sudahlah, ayo duduk." dengan senyuman manisnya. Para lelaki mengeluarkan keringat dingin mereka dengan deras.

"Silakan dinikmati!" semuanya tak ada yang menyentuh makanan sedikitpun, Yaya segera cemberut melihatnya."Ada apa? Makanlah!" sudah jelas sekali Yaya terlihat kesal, daripada dihukum mentah mentah lebih baik merasakan dulu yang namanya surga itu.

Semuanya segera mengambil sesendok nasih dengan lauk pauknya, tentu saja tangan mereka tidak berhenti bergetar. Sedangkan sang gadis yang membuatkan semua ini menatap mereka semua dengan penuh harap. Otomatis hati mereka semua luluh dan segera memakan makanan itu dan mengunyahnya.

Setelah makanan itu berhasil melewati tenggorokkan mereka, dengan serentak mata mereka membelalak. "R-rasa ini...!" Gopal dengan sengaja menggantungkan kalimatnya karena sungguh tak bisa menilai rasa masakkan itu.

.

.

.

'Memang tak enak...' batin mereka semua dengan muka yang sulit di diskripsikan.

Yaya menatap mereka dengan mata berbinar binar,"Bagaimana? Enak?" semuanya bingung harus menjawab apa, mereka kembali lagi harus terpaksa berbohong.

"Enak!" otomatis semuanya menoleh pada sumber suara dengan tatapan yang tak percaya. Yaya segera mengembangkan senyumannya,"Benarkah, May?!" sang gadis polos tersebut mengangguk."Ini sangat enak."

Yaya sudah merasa sedang di surga sekarang, baru pertama kali ada yang memuji masakannya. Bahkan paman dan bibinya tak pernah memuji masakannya itu.

Semuanya bisa merasakan aura kebahagiaan yang terpancar dari Yaya, walau mereka sedikit mengeluarkan keringat dingin karena bisa selamat dari amukkannya.

"Jadi, bagaimana menurut kalian?" sepertinya tidak. Ternyata Yaya belum sepenuhnya senang karena belum mendapat jawaban dari yang lainnya.

Yaya menoleh pada Halilintar,"Bagaimana, pangeran?" Halilintar sudah mengeluarkan keringat dingin karena bisa mendengar nada menyeramkan dari kalimat Yaya itu.

'Huh? Pangeran?' Gopal seperti ingat akan sesuatu tapi ia tak bisa ingat apa yang ia ketahui. May menyadari ekspresi serius Gopal yang jarang ia keluarkan, ia hanya menatap bingung ke arah pemuda tersebut.

~"~

Karena semuanya memilih untuk jalan jalan daripada diskusi, disinilah mereka, di ladang bunga yang luas ini.

"Jadi... KENAPA KITA MALAH BERMAIN MAIN?!" teriak Halilintar dengan amarah yang membara. Para gadis sedang sibuk berkeliling ladang yang luas itu, sedangkan para lelaki hanya menunggu di depan air mancur kecuali Ochobot.

"Heh?! Aku?"

"Benar, hanya kau yang bisa kami percayai."

"Tunggu, kenapa harus Ochobot saja yang menemani kalian?!"

"Karena ia pasti tak mempunyai pikiran aneh seperti kalian."

"Aneh?"

"Ah tidak ada apa apa, Ochobot. Mari!"

Intinya, Ochobot dimintai untuk menemani para gadis melihat lihat ladang ini. Dari jauh mereka semua bisa melihat kalau para gadis memberikan bunga ke Ochobot yang membuat sang robot tersipu.

Lupakan hal itu, kita fokus kembali ke Halilintar dan teman temannya.

"Ini permintaan mereka, mau bagaimana lagi?" ucap Fang dengan pasrah. Gopal mengangguk,"Yaya bisa saja menghabisi kita jika berani menentangnya."

Halilintar hanya bisa mendecak kesal, ia berdiri dan bersandar di pohon terdekat."Hei kalian tahu...?" Fang dan Gopal segera menoleh pada Halilintar yang terlihat sedang memandangi langit."Dia... Sepertinya aku mengenalnya..." Kedua pemuda yang mendengarkan hal yang dibicarkan Halilintar memiringkan kepalanya sedikit,"Siapa?"

Muncul perempatan siku siku di dahi pemuda yang terkenal dingin serta temperamental,"Dia yang kita temui tadi itu!" semuanya mengagguk mengerti. "Dia... Dia..." mata Halilintar segera membelalak yang membuat tanda tanya pada kedua temannya yang sedang mendengarkan itu.

"Hmm... Jadi begitu..." Halilintar segera tersenyum tipis, semakin menambah keingin tahuan Fang dan Gopal."Oi! Apa kau menyadari sesuatu...?" tanya Fang dengan suara yang lantang, Halilintar segera menatap Fang dengan pandangan hangat walau tak ada senyuman."Aku... mendapatkan jawabannya..."

Fang dan Gopal segera berdiri dan mendekati Halilintar dengan muka terkejut mereka."Benarkah...?!" Halilintar mengangguk,"Tapi aku tak akan memberi tahu kalian..."

"Heh?! Kenapa?!" Halilintar menatap Gopal dengan pandangan datar."Tak akan menarik jika aku langsung memberikan jawabannya... Kalian punya otak 'kan? setidaknya cobalah berpikir..." ucapnya sambil menepis tangan Fang dan Gopal yang sedari tadi di bahunya.

Jujur saja, Fang agak tersinggung dengan ucapan Halilintar tadi, tapi ia mencoba untuk memaklumi sikap dingin tersebut.

"Hei! Kalian!" semuanya menoleh pada sumber suara yang terlihat sedang berlari menuju tempat mereka."Sudah puas bermainnya, Yaya?" tanya Gopal sambil tersenyum lebar.

Yaya mengangguk dengan senang,"Sungguh menyenangkan!"

"Hei, hei! Kalian tahu? Halilintar sudah-" Gopal tak niat melanjutkan kata katanya setelah melihat Halilintar tersenyum ke arahnya dengan senyuman membunuh serta aliran listrik yang mengalir di tangannya."Heh...? Aku sudah apa?" nada ceria yang di dengar tapi dibaliknya ada nada membunuh yang sangat sadis.

Gopal menggeleng dengan muka yang pucat,'Apa salahku?!' Yaya menaikkan alisnya,"Ada apa? Halilintar sudah apa...?" tanya Yaya sangat penasaran. Halilintar menoleh pada gadis tersebut,"Aku cuma ingin menyentrum sesuatu sesudah ini... itu saja..." Gopal segera mengetahui kalau sesuatu yang dimaksudnya adalah dia, Gopal sendiri!

Pemuda bertubuh gembul itu segera bersiap siap untuk melarikan diri, tetapi ada sebuah tangan yang menghentikannya. Ia menoleh ke belakang ada mendapatkan Halilintar sedang tersenyum lebar dengan aura hitam yang keluar."Hei... Aku boleh meminjamnya sebentar 'kan?" Mungkin Halilintar tak menganggap kata kata itu sebagai pertanyaan, ia langsung menyeret Gopal tanpa menunggu jawabannya."Fang, kau juga ikut aku..." ucapnya tanpa menoleh kebelakang sedikit pun.

Fang tahu apa yang ingin dibicarakan Halilintar, ia hanya menghelakan nafas dan mengikuti Halilintar yang sedang menyeret Gopal dengan sadisnya.

Sementara itu, orang orang yang tertinggal hanya menatap bingung kepergian mereka kecuali satu orang. Yaya menoleh pada orang tersebut,"Ada apa Ochobot...? Kau terlihat sangat senang..."

Ochobot segera menoleh kepada Yaya dengan muka senangnya."Tidak... Aku hanya senang melihat Halilintar bisa akrab dengan teman temannya..." ucap Ochobot sambil menatap lurus dengan pandangan lembut.

Yaya sedikit terkejut karena tak pernah melihat pandangan Ochobot itu. Robot tersebut kembali menoleh pada Yaya,"Ada apa? Apa ada sesuatu dengan mukaku?" Yaya menggeleng kemudian tersenyum.

"Tidak ada apa apa..."

Sementara itu, Halilintar sedang melemparkan tatapan tajam pada Gopal dan Fang.

"Seperti yang kubilang, jangan memberi tahu apapun pada gadis itu." ucapnya dengan tajam, Fang hanya menghelakan nafasnya."Tapi, kenapa?" tanya Gopal dengan wajah penasaran."Aku muak melihat ekspresi memohonnya itu... Ditambah lagi dengan ekspresi gadis gadis yang lainnya." Gopal dan Fang bisa menangkap langsung siapa yang dimaksud oleh Halilintar, tentunya Ying dan May.

"Tapi, kita bisa mencari tahu keberadaan Taufan kalau kita bisa menebaknya...!" Halilintar menggeleng mendengar pernyataan Fang."Tak bisa... Aku yakin dia akan kecewa jika aku yang memberi tahu jawabannya..."

Fang menaikkan sebelah alisnya,"Kenapa?" Halilintar kembali menggeleng,"Tidak, lupakan apa yang kubilang tadi."

Setelah selesai dengan perbincangan kecil mereka, ketiga pemuda tersebut memutuskan untuk kembali ke rumah May dan untungnya mereka mengingat jalan menuju rumah May itu.

Diperjalanan Gopal terus memikirkan jawaban teka teki itu. Halilintar bisa menyelesaikannya dengan mudah dalam waktu yang cepat, ia yakin mereka semua juga bisa. Gopal sempat melihat hal hal yang hampir berkaitan dengan teka teki itu, dan juga memorynya kembali mengingat tentang perkataan Fang tadi serta perkataan sang peramal tadi.

Tapi pikirannya segera beralih saat Ying menyapanya,"Gopal...?" ujar Ying sambil mengibas ngibaskan tangannya di muka Gopal. Pemuda tersebut segera tersenyum."M-maaf... Aku melamun... Hehehehe..."

Ying hanya membuang nafasnya dan kembali berbicara,"Jadi, apakah ada sudah mendapatkan jawaban dari teka teki itu...?" Gopal sempat melirik sekilas ke arah Halilintar, tapi sang pemuda beririskan merah itu hanya melipatkan tangannya di dada dan menatap ke arah lain, jelas artinya dia tidak peduli.

Tak beberapa lama terdengar keributan diluar, tentu semua yang berada di dalam rumah May segera keluar untuk melihat apa yang terjadi. Ternyata hanya sebuah pertunjukkan kecil untuk para peri saja. Semuanya menghelakan nafas mereka, setidaknya itu bagus kalau bukan keributan tentang perkelahian atau semacamnya.

"Ya ampun... Mereka seperti semut yang mengejar gula saja..." ucap Ying sedikit angkuh, mungkin karena ia tinggal di keluarga yang kaya dulunya. Yaya hanya tersenyum miris melihat tingkah laku Ying yang cukup jarang ia perlihatkan.

Sementara itu, Gopal mendapatkan sedikit petunjuk dari kata kata Ying. Halilintar melihat ekspresi serius Gopal itu hanya tersenyum tipis dan menepuk pelan bahu Gopal. Yang ditepuk melihat ke arah Halilintar dan mukanya itu menunjukkan kata kata 'berusahalah.' Gopal mengangguk pelan kemudian tersenyum.

Ying kembali melihatkan gaya angkuhnya, mungkin dia benar benar sangat kesal."Apa susahnya dia memberitahu kepada kita keberadaan pangeran kedua yang biasa disebut T-a-u-f-a-n?" ucap Ying dengan nada mengejek dan ia juga mengeja pada nama Taufan itu. Yaya hanya tersenyum miris, sama seperti Ochobot.

SNAP

"Begitu ya!"

Spontan semuanya menoleh pada sumbersuara yang dengan muka gembiranya itu.

Halilintar, yang sedari tadi melipat tangan di dadanya juga bersandar di dinding rumah May, tersenyum tipis."Hmm? Kau sudah tahu jawabannya 'kan?" ucapnya sambil mengubah senyumannya menjadi senyuman dingin. Semuanya pun menoleh pada Halilintar dengan tatapan terkejut serta kata kata yang umumnya orang katakan ketika sedang terkejut terlontar tanpa mereka sadari.

Gopal mengagguk dengan bersemangat."Benar! Terima kasih Ying!" tanpa basa basi lagi, ia mulai berlari ke tempat sang peramal dengan kecepatan penuh. Yaya dan teman temannya juga ikut berlari tetapi dengan tanda tanya yang ada di dalam kepala mereka. Apa yang Gopal sadari? Apa dia berhasil memecahkan teka teki itu? Apa perkataan Ying ada hubungannya?

Entah terlalu bersemangat atau ia sudah tertular sifat Halilintar, Gopal langsung mendobrak pintu tersebut tanpa mengetuk atau semacamnya. Tapi dia tak menemukan siapa pun di dalam ruangan itu, hanya ada sebuah note di atas meja.

"Gopal!" ia segera menoleh pada teman temannya yang sibuk mengatur nafas di depan pintu. Hanya beberapa detik melihat teman temannya, Gopal kembali menatap meja itu dan mulai menghampirinya. Tanpa keraguan lagi, ia mengambil note tersebut dan membacanya.

Mencari aku? Ada di lapangan dekat ladang bunga

Tak ada keterangan nama disana, tapi Gopal sangat yakin bahwa yang menulis note itu adalah peramal tersebut.

"Yaya!" yang disebut segera menatap Gopal dengan pandangan bingung."I-iya?" Gopal sedikit memasang ekspresi menakutkannya,"Apa di ladang bunga tadi ada sebuah lapangan?" Yaya mengerjapkan matanya beberapa kali, tapi ia mencoba menyingkirkan kebingungannya sementara dan mulai mengingat."Kalau tidak salah, ada. Lapangan yang sangat luas."

Dan dimulailah, Gopal segera tancap gas tanpa memperdulikan teman temannya yang sedang kebingungan dibelakang. Mau tak mau, mereka pun terpaksa kembali berlari mengikuti Gopal walau suara mereka hampir habis karena memanggil namanya.

Dan benar saja, Gopal bisa melihat seseorang sedang berdiri sambil menatap langit yang berwarna biru serta beberapa hiasan awan putih yang tampak indah dan damai. Mungkin sang peramal menyadari keberadaan Gopal serta yang lainnya, ia membalikkan badannya dan menatap bingung. Walau itu hanya bisa dibuktikan dengan mulutnya yang sedikit terbuka.

"Aku... mendapatkan jawabannya..." Gopal menarik nafas dan mencoba menenangkan diri. Sementara sang peramal tetap dengan ekspresinya dan tak bergerak sama sekali.

"Pemuda yang selalu dipuja semut semut. Yang dimaksud bukanlah semut biasa, tapi orang bukan?" ucap Gopal. May menemukan sedikit kejanggalan di kata kata itu,"Tunggu, jika hanya dipuji seseorang, maka itu hal yang biasa terjadi dan tak perlu dijadikan bagian teka teki 'kan?" Gopal menoleh kepada May."Bagaimana kalau orang orang yang jumlahnya sangat banyak?" May segera tersentak dan bingung."Dia mengatakan semutnya sebanyak dua kali, berarti lebih dari satu."

"Kenapa kau mengira bahwa orang yang memujinya berjumlah sangat banyak?" ucap Halilintar untuk menguji kemampuan Gopal."Mudah saja... Ingat perkataan Ying tadi? ia membilang kerumunan orang banyak itu adalah semut. Jika kalian melihat dari jauh sekumpulan orang orang yang sangat banyak, mereka terlihat tak lebih dari semut semut kecil." jelas Gopal, Halilintar tersenyum tipis tanda ia puas dengan jawaban Gopal.

Gopal kembali menoleh pada sang peramal."Pemuda yang selalu dipuja orang orang? Mereka pasti seorang pahlawan atau kebangsaan. Aku tak yakin ditempat ini ada seorang raja, berarti pangeran bukan? mereka juga bisa dikategorikan seorang pahlawan." ucapan Gopal itu sudah cukup untuk membuat semuanya terkejut, kecuali Halilintar pastinya.

"Jadi maksudmu, dia adalah salah satu dari kelima pangeran itu?!" ucap Fang dengan nada yang agak tinggi karena terkejut. Gopal mengangguk,"Benar."

Ia kembali fokus dengan jawabannya,"Suara yang selalu berdering keras dimana mana. Itu bisa sebuah sorakan atau panggilan, tapi karena ini berhubungan dengan nama seseorang, berarti panggilannya." Gopal tersenyum ketika melihat sang peramal sama sekali tak membantah.

"Sesuatu yang selalu ada di dalam diri manusia dan biasanya selalu memaksa untuk mencari kebenarannya, juga bisa dimakan tapi ia telah kehilangan tawanya. Dalam diri kita dan memaksa ya? bisa ilmu atau rasa keingin tahuan. Karena bisa dimakan, berarti tahu. Kehilangan tawa..." Gopal menoleh pada teman temannya,"Hei, aku hanya ingin memastikan. Didalam buku buku cerita, ketika seseorang tertawa, apa yang mereka katakan?"

"Hahahaha... Kalau tidak salah..." jawab Ochobot. Gopal mengangguk dan kembali menatap peramal."Kau hanya perlu menghilangkan huruf H-nya saja. Jadi Tau saja." sekali lagi, mata mereka semua membelalak. Salah satu dari kelima pangeran dan namanya yang berawal kata Tau. Itu sudah sangat pasti.

"Dan yang terakhir! Orang orang yang selalu tersenyum ketika melihat sesuatu yang mereka idolakan, namun dalam saat yang bersamaan mereka juga telah kehilangan sesuatu yang ada dibelakangnya. Idola, itu sudah pasti fans fans yang kau maksud 'kan? kehilangan sesuatu yang dibelakangnya, berarti kehilangan huruf S, benar bukan?" Gopal tersenyum lebar dengan jawabannya.

"Juga, kau bilang kau akan membuat kami berpikir 2 kali. Maksudnya, kau adalah nomor yang kedua, atau urutan yang kedua. Teori itu pasti benar jika melihat jawaban jawaban sebelumnya."

"Kalian hanya perlu menyatukan semua jawaban itu dan terbentuklah identitas aslimu." ucapnya sambil menunjuk sang peramal dengan keyakinan yang besar.

Halilintar tersenyum tipis melihat Gopal seperti itu.

PROK PROK

Semuanya menatap orang yang bertepuk tangan itu dengan pandangan bingung. Ternyata sang peramal sedang bertepuk tangan sambil tersenyum."Wah... Aku tak menyangka kau yang akan memecahkan teka tekiku. Selamat! Nah, untukmu." sang peramal, bukan lagi sepertinya, melemparkan sebuah bungkusan kecil yang berisi beberapa kue kering.

Ia pun membuka jubahnya dan melemparnya ke langit."Benar, Aku, Pangeran Kedua yang biasa dipanggil Taufan!" Semuanya cukup terkejut melihat wajahnya yang sangat mirip dengan Halilintar, walau iris mereka serta ekspresi mereka bertolak belakang. Dan juga, Taufan tidak memakai topi seperti Halilintar.

"Yo, kakak. Lama tak berjumpa!" ucapnya sambil melambaikan tangan dan tersenyum lebar. Halilintar segera mendekati Taufan dan memasangkan sebuah topi yang mirip dengan punyanya tetapi berbeda motif serta warna. Taufan sedikit terkejut dan mulai meraba raba kepalanya,"Topiku? Darimana kakak mendapatkannya?" Halilintar hanya menatap dingin ke adiknya,"Hanya kebetulan menemukannya di markas mereka."

Mata Taufan segera berbinar binar, tanpa aba aba berikutnya ia segera memeluk erat Halilintar."Terimakasih, kakak! Aku mencintaimu!" muka Halilintar mulai merona mendengar pengakuan (?) adiknya dan mulai memberontak,"Lepaskan aku, bodoh!" Taufan segera melepaskan pelukan mautnya dan tersenyum jahil, ia tahu kalau kakaknya akan malu jika dipeluk seperti itu, apalagi didepan orang orang.

Ochobot menghampiri Taufan dan segera menunduk memberi hormat seperti pelayan dan raja pada umumnya."Selamat datang, yang mulia." semuanya sedikit terkejut dengan perlakuan Ochobot yang sangat sopan, walau tak sesopan waktu bertemu Halilintar kemarin.

Taufan segera memegang pundak Ochobot dan tersenyum lebar,"Aku pulang!" Ochobot sedikit mengeluarkan air matanya, ia cepat cepat menghapusnya dan kembali berdiri."Sudah kubilang... Jangan bersikap formal denganku..." ucap Taufan sedikit cemberut."Kami berlima lebih tepatnya..." timpal Halilintar. Taufan segera tertawa kecil sambil menggaruk pipinya."Iya, iya... itu yang kumaksud..."

"Jadi ini Taufan? Dia sangat berbeda denganmu Halilintar." ejek Fang yang membuat Halilintar mengepalkan tangannya cukup kuat. Taufan sendiri menoleh pada Fang dan yang lain,"Siapa mereka? Pelayan baru kita?" ucapnya dengan muka polos.

Munculah perempatan siku siku di dahi mereka."Pelayan?! Kau ingin bertarung?!" ucap Ying yang mulai memasang kuda kudanya diikuti yang lain. Taufan menyeringai lebar,"Heh! Dengan senang hati!" sebelum ia mau memanggil sesuatu, tangannya di tahan oleh Halilintar."Jangan membuang percuma energi kalian."

Taufan hanya bisa menurut dan menurunkan tangannya. Ia adalah tipe yang patuh kalau dengan Halilintar."Perkenalkan diri kalian masing masing." perintahnya pada Yaya dan keempat temannya. Mereka hanya pasrah diperintah seperti itu.

"Namaku Ying, pangeran tak sopan." Taufan hanya memasang wajah normalnya mendengar ejekkan Ying.

"Fang." ucapnya dengan sangat singkat.

"Aku May!" lain dengan May, ia bisa merubah moodnya dengan sangat cepat. Buktinya ia sudah tersenyum lebar sekarang.

"Gopal, kawan baikmu!" Taufan hanya mengernyitkan dahinya."Kapan kita berteman?"

"Dan namaku Yaya. Senang bertemu denganmu, Taufan." ucap Yaya dengan senyuman lembut. Taufan sedikit membelalak, jarang ia melihat senyuman yang tulus seperti itu.

Ia mulai berjalan mendekati Yaya dan memegang dagunya. Yaya sedikit tersentak ketika dagunya disentuh dan agak memundurkan wajahnya."Kau... sangat cantik."

"Mau menikah denganku?"

.

.

.

"HEEEEEHHHH?!"

Akibat lamaran langsung dari Taufan, semuanya berteriak kencang yang sampai menakuti burung burung yang hinggap di pohon sekitar berterbangan.

Ying menepis tangan Taufan dari dagu Yaya dan mendorongnya agak jauh. "A-a-a-apan yang ingin kau lakukan dengan temanku, dasar mesum!" ucapnya dengan cepat dan muka yang memerah.

Yaya dan May masih mengerjapkan mata, agak bingung dengan situasi ini. Sementara Ying masih dengan pidato panjangnya yang membuat telinga Taufan memanas.

"Apa salahnya aku melamar dia? Ada banyak wanita yang mau menerima lamaranku di luar sana." ucapnya dengan nada bingung. Ying sempat melancarkan tendangannya tapi dengan mudah Taufan hindari."D-dasar tak tahu diri!"

Sebelum Ying kembali berpidato, ada banyak monster yang bermunculan di depan mereka. Jumlahnya cukup banyak, dan mereka terlihat memakai sihir api.

Semuanya pun memasang kuda kuda mereka dan siap bertempur, kecuali May karena ia tak bisa bertempur.

"Hei, kakak. Bolehkah kali ini aku saja?" pinta Taufan dengan muka memelas. Halilintar hanya menghelakan nafas, ia membentangkan tangan di hadapan teman temannya."Biarkan saja dia." ucapnya. Yang lain pun berhenti dan pasrah untuk kali ini.

Taufan tersenyum lebar."Terimakasih, kak!" ia kembali fokus pada monster monster yang ada dihadapannya.

"Apa dia akan baik baik saja? Jumlahnya cukup banyak." ucap Yaya dengan terpangsang raut khawatir. Halilintar menatapnya sebentar dan mengisyaratkan 'jangan khawatir.' Ochobot pun menepuk bahu Yaya dan tersenyum.

Taufan mengangkat tangannya ke atas dan munculah angin topan yang besar menutupi lengan kanannya. Tak lama kemudian, tangannya telah memegang sebuah pedang yang cukup besar dengan motif yang hampir sama dengan topinya hanya saja dengan bentuk seperti angin berwarna biru tua dan biru muda.

Semuanya menatap kagum ke Taufan kecuali Ochobot dan Halilintar.

Taufan berjalan pelan kedepan dengan senyuman lebarnya."Kalian benar benar merusak moodku. Kalian sudah siap dihukum?" tanyanya dengan polos.

Ia pun mulai berlari saat para monster juga mulai bergerak. Dengan lihainya, ia menebas monster tersebut tanpa rasa kasihan atau apapun, bahkan beberapa darah yang keluar dari tuuh monster itu mengenai pipinya dan langsung menghilang begitu saja.

Nafas Taufan tidak begitu teratur seperti biasanya, tetapi pada saat yang bersamaan ia seperti sedang tertawa dengan tangannya yang bergetar memegang pedang besarnya itu. Mukanya juga terlihat ekspresi bahagia, sangat bahagia, walau itu terlihat seram di mata Yaya.

Ia mulai menebas monster lain tanpa ampun dan secara sadis."Hahahaha!" tawanya pun terdengar keras tetapi juga terdengar menyeramkan sekali. Yaya dan yang lain sedikit takut melihat Taufan seperti itu.

Mulai merasa semakin bersemangat karena sudah lama tak merasakan perasaan ini, Taufan menyeringai lebar. Pedangnya mulai dikerumuni angin angin berwarna biru tua dan muda, juga semakin lama pedangnya membesar. Tentu itu membuat semuanya terkejut bukan main melihat pedang sebesar itu.

Taufan kembali tersenyum lebar pada monster monster itu."Jadi, kalian sudah siap dihabiskan dengan sekali serangan?" tapi tak beberapa lama ekspresi Taufan berubah, dan pedangnya mulai terjatuh kedepan. Taufan mencoba mengangkatnya,"Uhh... Berat..." keluhnya yang sempat membuat semuanya sweatdrop.

Monster tersebut kembali menyerang dengan beberapa bola api yang dilemparkan. Taufan pun mengangkat kembali pedangnya yang sudah berukuran normal dan menopangnya diatas bahu."Aku hanya kecepatan membuatnya besar. Mengerti maksudku, 'kan?" ia pun mengayunkan pedangnya yang kembali menjadi besar. Hanya dalam sekali ayunan, sudah setengah dari mereka yang mati.

Taufan pun menancapkan pedangnya yang berukuran normal ke tanah dan memasang ekspresi kasihan,"Main mainnya sudah cukup." pedang tersebut kembali membesar dan membawa Taufan ke udara. Dia dengan santainya duduk di atas pedangnya sambil menunggu.

Setelah pedangnya berhenti membesar dia bisa melihat seluruh Fairytown, bahkan lebih jauh lagi. Taufan menebak, pasti dia sekarang berada di ketinggian sekitar 50 meter.

Anak yang memakai topi berwarna biru kesamping itu mencuri kesempatan untuk mengagumi pemandangan yang jarang ia lihat walau ia bisa melihatnya sesering mungkin jika dia mau.

Merasa puas, Taufan pun memegang pedangnya dan diangkatnya pedang itu ke atas dan dihantamkan ke tanah yang membuat daerah sekitar bergetar. Hanya dalam sekali serangan, semua monster monster sudah lenyap dan menghilang.

Akibat hantaman pedang Taufan, terlihatlah bekas hantaman itu. Tak terlalu dalam tetapi lubangnya sungguh panjang juga ada retakan dipinggirnya.

Pedang milik anak itu mulai kembali normal dan menghilang dibawa angin.

"Hehehe... HAHAHAHAHAHA!" Taufan tertawa sangat keras dengan muka yang sangat menyeramkan, juga wajahnya sedikit merona karena sangat bahagia."ENAK JUGA BERMAIN DENGAN KALIAN YA!" Halilintar menghampiri Taufan yang sedang tertawa psikopat dan mulai menjitak kepalanya.

"Hentikan. Kau berlebihan." ucap Halilintar dengan nada dan wajah datar. Taufan menghentikan tawanya dan menunduk,"Maaf."

'Dia mirip dengan hewan peliharaan...' batin semua orang kecuali Halilintar dan Taufan sambil bersweatdrop ria.

Halilintar tersenyum tipis tapi segera dihapusnya senyuman itu."Kenapa kau bisa ada disini? Mereka tak mengurungmu?" tanya Halilintar dengan nada seperti kakak pada umumnya.

Taufan mendongakkan kepalanya,"Kakak... Selama aku bisa bergerak, tak ada yang bisa menghentikanku." ucapnya dengan senyuman tulus. Halilintar tersenyum dan mengelus pelan kepala Taufan.

Semuanya terpesona dengan suasana ini, mereka bisa melihat senyuman tulus dari orang orang yang dingin serta sadis ini. Ochobot merekam serta memfoto adegan manis ini.

Halilintar membuang senyumannya dan kembali menatap dingin, yang membuat suasana indahnya retak dan pecah."Apa...?" tanyanya dengan dingin dan tajam.

Semuanya menggeleng dengan cepat,"E-enggak! Tak ada apa apa... Hehehehe..." Halilintar hanya menghela nafas, bingung dengan tingkah laku teman temannya ini.

"Jadi, apa para robot ini selalu datang?" tanya Taufan sambari menatap Halilintar."Robot?" ucap May memastikan, Taufan menoleh pada May dan yang lain."Huh? Kalian tidak tahu?"

Semuanya menggeleng."Ochobot lupa memberi tahu mereka." ucap Halilintar sambil menghelakan nafas. Sementara itu Ochobot hanya menyengir sambil menggaruk pipinya.

Taufan mendeathglare Ochobot, yang ditatap tersentak dan mengeluarkan keringat dingin."Kau... lupa?" tanyanya dengan nada dingin dan membunuh. Ochobot kembali tersentak dan makin mengeluarkan keringat dinginnya.

"Kau... ikut aku." ucap Taufan sambil menggendong Ochobot layak mengangkat sebuah karung beras. Sementara Ochobot memberontak dengan memukul mukul punggung Taufan."T-tunggu! Taufan! Lepaskan aku!" Taufan sama sekali tak mengubris perkataan Ochobot, bahkan di depannya sudah ada sebuah hoverboard yang coraknya sama dengan pedang yang ia gunakan sebelumnya.

Ia pun naik ke atas papan itu dan membalikkan badannya serta menatap Halilintar."Kak, aku serahkan urusan menjelaskannya padamu ya. Aku ada sedikit urusan dengan pelayan kesayangan kita." ucapnya sambil menyeringai kejam saat mengatakan 'pelayan.' Ochobot sudah mulai pucat total dan ia pasti tahu apa yang akan terjadi padanya nanti.

Taufan kembali tersenyum lebar."Pokoknya, selamat berjuang." ucapnya dan pergi membawa Ochobot menggunakan hoverboardnya dengan kecepatan yang luar biasa tentunya.

Semua kembali mengeluarkan keringat mereka,"Dia akan baik baik saja 'kan?" ucap Yaya. Halilintar menoleh kepada mereka semua,"Dia hanya akan mendapat 'hukuman' kecil dari Taufan." jawabnya dengan nada normal. Yang lain sedikit bergidik ngeri, pikiran mereka mulai membayangkan tentang 'hukuman' yang dimaksud Halilintar.

"TIDAAAAKKK! HENTIKAAANN!"

Secara serentak mereka semua tersentak dan menoleh ke arah sumbersuara yang berada di Fairytown. Mereka sudah sangat mengenal suara itu, yup, suara teman mereka yang baru saja Taufan larikan.

"HAHAHAHAHAHA! NIKMATI SAJA OCHOBOT!"

Dan yang itu suaranya Taufan, sangat mirip ketika ia sedang mengamuk tadi. Suara orang psikopat.

Halilintar menatap ke arah Fairytown dengan pandangan datar,"Ah... Jadi Taufan mengutak atik mesin Ochobot ya?" semuanya dengan segera menoleh pada pemuda beriris merah menyala itu dengan tatapan bingung. Sang pemuda pun juga ikut melirik mereka."Terakhir kali aku ingat, Taufan mengutak atik mesinnya sampai Ochobot berubah sifat. Ia seperti orang lain."

"Benarkah?" ucap Fang sambil menaikkan sebelah alisnya.

DUAAARRR

"HAHAHAHAHAHAHAHA!"

"..."

"Sepertinya kita harus menghentikannya..."


Sepertinya Nozomi akan kembali hiatus, tapi mudah mudahan bisa lanjutin fanfic ini sampai tamat secepat mungkin.

Entah darimana dapat ide tentang kekuatan Taufan yang seperti itu... ^^"

Tenang, fanfic ini bersih dari yaoi. Yaoi dan straight ada tempatnya masing masing kalau sama Nozomi ^^

Bagi yang sudah mau meluangkan waktu untuk membaca serta mereview, Nozomi ucapkan banyak terimakasih. *bow*

Juga, Nozomi minta kritik dan sarannya buat penulisan Nozomi. Kalau ada yang kurang bilang saja, mudah mudahan Nozomi bisa memperbaikinya ^^