Para makhluk di tempat itu saling melempar tatapan sebelum akhirnya Halilintar tak tahan dengan suasana bodoh ini."Tunggu apa lagi?! AYO!" bentaknya dan segera berlari duluan. Yang lain mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya mengikuti pemuda itu dari belakang.

Saat sampai di tempat, mereka mendapati Taufan yang bersusah payah menahan serangan dari Ochobot. Taufan yang menyadari keberadaan mereka segera tersenyum miris sambil memeletkan lidah."Ups?" Halilintar ingin sekali membantu Ochobot untuk menghabisi anak satu itu, tapi dia masih punya rasa kasihan pada Taufan.

Sang kakak segera memegang bahu Ochobot dan melemparnya dengan kekuatan penuh ke udara hingga ia melambung sangat tinggi. Memberikan dirinya sedikit kesempatan untuk berbicara dengan orang yang menyebabkan semua ini terjadi.

"Jadi, kau punya alasan yang bagus kali ini?" Sang adik bergidik melihat seringaian yang tertampang di wajah kakaknya. Ia menggaruk pipi lalu tertawa canggung."Tidak, kurasa..."Halilintar tanpa segan menjitak kepala adiknya dengan kuat.

Taufan meringis pelan sambil mengelus kepalanya."Aku hanya sedikit berlebihan..." ia pun segera menggunakan kedua pedangnya untuk menghalangi sinar laser yang berasal dari Ochobot. Wajahnya cemberut, seakan akan dia bukan sedang bertarung. Semuanya menatap kagum melihat Taufan yang santainya menahan serangan, kecuali Halilintar pastinya.

"Kita harus membantunya!" seru Yaya, namun Taufan segera membuat prisai angin di sekitar mereka. Yaya terpekik pelan lalu menatap Taufan."Kalian tak perlu turun tangan, aku yang akan menyelesaikannya." Ia pun melirik ke arah Yaya dan tersenyum."Tunggu disitu, nonaku."

Yaya merasakan wajahnya memerah mendengarnya.

Taufan pun segera berteleportasi ke belakang Ochobot dan menyeringai. Ia pun mengayunkan kedua pedangnya hingga membuat bentuk silang, Ochobot segera terpental ke tanah. Taufan tersenyum kemenangan, namun segera buyar saat ia melihat Ochobot mengaktifkan mode Oriahnya.

"Uh, oh.. Bahaya.." Ochobot segera menargetkan Taufan dan mengisi kekuatannya hingga ke tingkat penuh. Tembakan yang kuat pun segera meluncur ke arah pemuda itu, namun ia sontak menghindar. Walau pipinya terkena goresan yang seketika mengeluarkan darah segar.

Robot itu terbang dengan kecepatan maksimum hingga dalam beberapa detik ia sudah ada di belakang Taufan. Sang pemuda bisa melihat dengan jelas bagaimana tangan Ochobot terangkat ke udara dan iris birunya yang menyala. Tubuhnya pun menghantam tanah hingga terbentuk lubang disana. Taufan terdiam sesaat yang membuat Yaya dan yang lain khawatir."TAUFAN!" teriak Yaya memukul mukul perisai angin itu.

Halilintar hanya diam, memperhatikan seksama, lalu menghelakan nafas saat melihat Taufan yang tak kunjung bangun. Tetapi, matanya sontak membulat saat melihat adiknya yang perlahan bangun dengan kepala yang mendongak ke atas. Dan sebuah topeng bewarna hitam muncul di sekitar matanya, membuat iris matanya yang sedang menyala semakin mencolok.

Ia pun tersenyum, hingga akhirnya menyeringai lebar.

"Hehe...HAHAHAHAHAHAHAHAHA!"

Pemuda yang sudah tak memakai topinya itu lagi segera menatap ke arah Ochobot dan menyeringai. Ia pun mengangkat tangannya ke atas dan terciptalah 2 pedangnya yang berduri serta bewarna hitam.'Hitam?' Halilintar menatap tak percaya ke arah adiknya saat pemuda itu melompat ke udara dan menebas Ochobot. Sang robot yang lengah mendapat hasil serangan itu dan terlempar ke atap rumah penduduk. Belum sempat ia mempersiapkan diri, Taufan sudah lebih dulu kembali menyerangnya hingga Ochobot tak sempat melawan dan hanya bisa bertahan.

"Hehehehehehehe.." Taufan pun kembali menebas namun imbang karena Ochobot yang juga meluncurkan serangannya. Pemuda itu menyeringai kembali dengan iris matanya yang kian menyala dan meruncing. Pedang di tangannya segera berubah menjadi dua buah pistol. Dengan cepat, ia menembak Ochobot hingga dirinya tak bisa menghindari setiap peluru.

Mesinnya mulai berasap karena sudah terlalu lama menggunakan modenya itu, hingga mesinnya perlahan mati. Taufan menggunakan kesempatan ini dan segera mengarahkan pistolnya ke kepala Ochobot.

Namun ia segera terbelalak saat melihat Halilintar sudah ada di depannya."Sudah cukup kau memanfaatkan adikku.." ia pun menutup mata adiknya dan mengeluarkan aliran listrik di tangannya. Taufan tercenggang di tempat sebelum akhirnya ia pingsan. Perisai angin yang menghalangi mereka pun segera hilang, Yaya spontan pergi ke tempat mereka berdua.

"Ada apa dengan dia?! Apa dia baik baik saja?!" tanya Yaya mencoba menyembuhkan luka luka gores yang ada di tubuh Taufan. Halilintar mengangguk pelan."Sepertinya, nanti akan kuceritakan lagi."

DEG

Halilintar tiba tiba kehilangan keseimbangan sehingga ia langsung ambruk di samping Taufan dan dunianya perlahan menggelap. Ia hanya bisa mendengar suara Yaya memanggil namanya yang kian meredam dan hilang.

.

.

"Kak Hali~~"

Pemuda itu sontak terbangun dan mendapati adiknya yang menusuk nusuk pipinya dengan jari telunjuk miliknya.

"Woah, kau bangun juga!"seru Taufan diiringi tawa jahil. Ia pun segera menoleh pada adik mereka yang sedang duduk memperhatikan mereka berdua.

"Air.. Apa kau kesepian hingga memanggil kami berdua kesini lagi?" ucap Halilintar dengan nada dingin dengan tangan yang dilipat di dada.

Air hanya balas menatap datar dan dingin tanpa ada niat untuk berbicara. Taufan yang tak menyukai suasana di antara mereka segera berjalan ke arah Air dan memeluk kepalanya dari belakang."Oh ayolah kak, wajarkan kalau dia kesepian? Setidaknya kita temani dia sebentar disini."

Sang kakak diam sebelum akhirnya menghelakan nafas berat.

"Kalian tak aman di kota itu sekarang, cepat bergegas pergi." Perintah Air yang langsung mendapatkan perhatian Halilintar."Mereka sudah bergerak ke tempat kalian, cepat pergi.."gumamnya sekali lagi.

Halilintar melipat tangannya di dada dan menatap datar."Aku tak heran, mereka bahkan sudah mengontrol Taufan sejak awal."iris matanya segera melirik ke arah adiknya itu. Taufan tersentak pelan lalu tertawa garing."Hehehe... Kak Hali memang hebat deh.."pujinya dengan nada kikuk. Sang kakak menghelakan nafas lalu memutuskan untuk berdiri dan berjalan ke arah pintu."Terima kasih Air... Kami akan menemukanmu, jadi kau tak perlu khawatir.."

Pemuda itu kembali diam, Halilintar menarik sinyal bahwa ia sudah diperbolehkan pergi sekarang.

"Yaya itu.." Halilintar dan Taufan sontak menoleh ke arah adik bungsu mereka yang terlihat sedang menatap langit langit ruangan dengan pandangan datar dan tatapan kosong."Mirip dengan dia.."gumam Air yang sontak membuat mata kedua kakaknya membulat."Kau masih memikirkan dia..?" tanya Taufan dengan nada pelan, namun Air sama sekali tidak merespon.

Tempat yang berbentuk lift itu segera berhenti dan pintu di belakang mereka perlahan terbuka. Mata Air sontak membulat, ia langsung menoleh ke belakang. Dilihatnya cahaya yang kian terang hingga mulai menyakiti matanya, segera di alihkannya pandangan ke arah kedua kakaknya.

"Pergi! Segera pergi dari kota itu!" teriaknya dan langsung mendorong mereka berdua ke arah pintu keluar. Taufan yang bisa melihat semua itu bagai slowmotion terkejut saat melihat bayangan seseorang di belakang Air dan sedang tersenyum.

"AIR!"

.

.

Taufan pun bangun dan mendapati dirinya sedang berada di sebuah kamar dengan Ying yang berada di sampingnya, sedang membaca buku tanpa sadar bahwa dirinya sudah bangun.

"YING!" Gadis itu terlonjak kaget dan mengerjapkan mata pada Taufan."A-apa?" Taufan segera berdiri dan melihat sekeliling."Kita harus pergi sekarang! Mana kak Hali?!" Ying terdiam sebelum menunjuk ke arah kamar sebelah."D-dia disebelah.."

Tanpa basa basi Taufan langsung melesat ke pintu namun tak jadi karena pintu sudah di buka duluan dan menampakkan sosok tubuh dan wajah yang mirip dengan dirinya."Kita benar benar harus pergi sekarang!"

"T-tunggu, ada apa-" Ying terdiam saat Halilintar melemparkannya tatapan yang menyeramkan. Taufan yang menyadari itu segera menoleh ke arah Ying."Nanti kami jelaskan, bersiap siaplah dulu! Kami ingin melihat keadaan Ochobot." Pemuda itu segera menarik lengan Halilintar dan membawanya ke ruangan Ochobot.

Terlihat robot itu masih dalam waktu pemulihan, namun dia sudah dalam kondisi yang baik.

Halilintar memegang tangan Ochobot dan mengaliri sedikit listrik untuk membangunkan robot itu. Beberapa lama kemudian matanya perlahan terbuka."Halilintar? Taufan?"panggilnya dan segera bangun.

"Mereka akan datang, kita harus cepat pergi."ujar Halilintar yang mendapat tatapan sejenak dari robot itu. Namun Ochobot cepat mengerti dan mengangguk sebagai responnya.

Taufan langsung tersentak karena kaca dibelakangnya tiba tiba pecah dengan seseorang yang sedang bergantung di jendela itu, tatapannya yang dingin bagaikan es.

Semuanya menoleh pada pemuda itu lalu terbelalak. Sang pemuda yang awalnya hanya menunjukkan ekspresi yang datar lalu perlahan tersenyum.

"Aku menemukan kalian."