CHAPTER 1

.

.

.

Kenapa harus repot-repot menyuruhku menemuinya sendiri hanya untuk mengambil payung? Dia kan bisa menyuruh office boy untuk mengembalikannya, atau jika dia tidak sempat, dia bisa menyuruh sekretarisnya untuk mengurus payung itu. Gumam Sehun, dia tahu kalau bosnya itu sangat sibuk.

Gosip yang beredar mengatakan kalau Mr. Park Chanyeol adalah penggila kerja sejati yang menghabiskan waktu 20 jam sehari untuk bekerja.

Atau, kenapa tidak ia buang saja payung itu? Toh aku juga tak akan berani menagihnya. Pikir Sehun sambil mengerutkan kening di dalam lift yang mengarah ke lantai 14 – lantai di mana sang CEO berada. Ini kali kedua ia ke ruangan itu. Sungguh tak disangka dalam dua tahun ia bekerja di kantor itu, hampir tak pernah bertatapan langsing dengan sang pemimpin tertinggi. Tapi sekarang, dua hari berturut-turut dia dipanggil menghadap Mr. Park.

Lift terbuka dan ia dihadapakan pada ruang tunggu yang nyaman dan mewah. Sekretaris yang sama, wanita setengah baya yang terlihat kaku itu menatap Sehun dengan skeptis. Sepertinya dia juga bertanya kenapa pegawai rendahan macam dia sampai dua kali dipanggil menghadap langsung ke sang CEO. Padahal setahu ia Mr. Park hanya berkomunikasi dengan anggota direksi, manajer, dan kepala bagian unit perusahaannya. Itupun lewat meeting resmi perusahaan dan melalui seleksi janji temu yang rumit.

"Mr. Park ada di dalam. Beliau sudah menunggu anda. Saya sudah menginformasikan kedatangan anda lewat intercom dan beliau mempersilahkan anda langsung masuk" kata sekretaris itu dingin.

.

.

.

Chanyeol baru saja menyelesaikan meeting penting dan dengan segera kembali ke ruangannya. Mengingat alasan yang membuat dia begitu terburu-buru kembali, membuatnya mengerutkan dahi. Dia sudah menelepon atasan Sehun tadi pagi, menjelaskan alasan keterlambatan gadis itu. Dan atasan Sehun begitu kegirangan karena teleponnya hingga seolah-olah tak peduli lagi kenapa Sehun terlambat.

Setelah dengan serius mempelajari berkas-berkas yang diantarkan bagian personalia padanya, Chanyeol termenung.

Gadis itu tidak bohong, kedua orang tuanya memang telah meninggal dan alamat tempat tinggalnya memang terdaftar sebagai rumah kos. Bahkan gadis itu tidak mengisi nama saudara atau kerabat dekat yang bisa dihubungi.

"Saya tinggal sendirian", begitu ucapnya tadi. Apakah gadis itu benar-benar sebatang kara seperti ceritanya? Kalau dia tanpa keluarga dan hanya tinggal di kamar kos, untuk apa dia meminjam uang sebesar 40 juta pada perusahaan yang harus dilunasi dengan memotong gajinya selama bertahun-tahun?

Apakah dia sakit? Memikirkan kemungkinan itu dada Chanyeol langsung nyeri.

Tidak! Putusnya setelah termenung sejenak. Gadis itu sehat. Kalau tidak, pasti dia tidak akan lolos seleksi tes kesehatan yang sangat ketat untuk masuk ke perusahaan ini.

Kalau begitu, dia pasti gadis yang suka menghambur-hamburkan uang. Chanyeol menyimpulkan. Segalanya akan menjadi lebih mudah. Chanyeol rela memberikan uang sebanyak-banyaknya yang Sehun mau asal Sehun mau melayaninya.

Chanyeol sangat kaya dan memiliki gadis seperti Sehun akan benar-benar memacu hasratnya dan memang layak diberi sedikit pengorbanan.

Lamunannya terhenti ketika intercom berbunyi memberitahukan kedatangan Sehun.

Chanyeol menunggu penuh antisipasi, seperti seekor singa yang menanti mangsa. Chanyeol punya penawaran bagus, dan jika Sehun itu seperti yang diduganya, maka Sehun tak bisa menolaknya.

.

.

.

"Kata Pak Kim Anda memanggil saya untuk mengambil payung saya yang tadi tertinggal," gumam Sehun sopan ketika Chanyeol mempersilahkannya duduk.

Chanyeol tidak menjawab hingga Sehun menatapnya bingung, lelaki itu sedang menatapnya dalam seolah sedang berkonsentrasi pada sesuatu tapi pikirannya seolah tidak ada di situ.

"Mr. Park?"

Lelaki itu mengerjap.

"Oh! Payung" gumamnya seolah baru teringat akan hal itu," ada di meja sekretarisku, kau bisa minta padanya"

Lalu kenapa sang CEO ini, yang katanya sangat sibuk menyuruhku menghadapinya? Sehun mengernyitkan kening.

Ketika Chanyeol sepertinya tidak akan berkata apa-apa lagi, Sehun segera bangkit dari kursinya.

"Kalau begitu saya akan segera mengambilnya, terima kasih sudah merepotkan Anda. Permisi Mr. Park" gumamnya setengah berbalik.

"Tunggu Sehun!"

Suara lelaki itu terdengar lembut, dan dengan enggan Sehun membalikkan tubuh.

Lelaki itu ternyata sudah bangkit dari kursinya, memutari meja dan berdiri berhadapan dengan Sehun.

"Aku meralat ucapanku tadi pagi," gumamnya misterius.

Sehun mengerutkan keningnya.

"Tentang..?"

"Tentang kau bukan tipeku dan aku tidak mungkin tertarik padamu, sebenarnya selama ini aku memperhatikanmu karena tak tahu kenapa kau membuatku sangat bergairah.."

Mulut Sehun ternganga dan dia tak mampu berkata-kata. Pernyataan itu begitu mengagetkan bagaikan petir di siang bolong.

"Aku ingin kau menjadi kekasihku.., hmm.. bukan kekasih. Apa ya istilahnya? Wanita simpanan?"

Chanyeol tampak sangat bersemangat dengan tawarannya sehingga tidak memperhatikan ekspresi Sehun yang kaget.

"Kau hanya perlu melayaniku di ranjang, memuaskan aku" suaranya menjadi rendah dan merayu, "Dan kau tak perlu kuatir akan rugi. Kau tahu aku kekasih yang murah hati. Aku akan membelikanmu apartemen mewah sehingga kau bisa pindah dari tempat kos kecilmu itu. Dengan begitu aku bisa leluasa mengunjungimu setiap malam. Dan aku akan menanggung biaya kehidupanmu. Apapun yang kau inginkan akan kau berikan. Mobil mewah, perhiasan mahal, baju-baju rancangan desainer terkenal, perawatan di salon terkemuka. Aku tahu kau menyukainya, Sehun.. karena gaya hidupmu sepertinya sangat mahal sampai kau harus berhutang puluhan juta pada perusahaan. Bahkan mungkin kalau kau bisa menyenangkanku, hutangmu itu akan ku lunasi. Bagaimana Sehun? Aku akan memanuhi semua permintaanmu dan kau hanya harus ada saat aku membutuhkanmu"

Ketika Chanyeol akhirnya mengakhiri pidatonya, Sehun sudah begitu pucat sampai tak bisa berkata-kata. Tawaran itu memang amat sangat menggoda apabila ditawarkan apda pelacur atau wanita yang tak punya harga diri. Tapi lelaki itu menawarkan kepadanya! Berani-beraninya lelaki itu! Berani-beraninya dia merendahkan Sehun sampai seperti ini.

"Kenapa kau diam saja? Kau tak perlu sok malu-malu atau sok suci. Aku tahu wanita seperti apa kamu dibalik sikapmu yang sok menjunjung moralitas.."

PLAAAAKKK!

Tamparan itu begitu keras sampai kepala Chanyeol terlempar ke belakang. Suara tamparan itu menggema di ruangan yang luas itu.

"Berani-beraninya Anda!" napas Sehun terengah-engah, "Berani-beraninya Anda menawarkan suatu yang begitu menjijikkan kepada saya! Anda pikir saya wanita macam apa? Anda benar-benar sesuai dengan apa yang saya pikirkan, lelaki tak bermoral, bejat, menjijikkan, dan…?" suara Sehun terhenti melihat ekspresi Chanyeol.

"Menjijikkan katamu?", jika tadi Chanyeol tak marah karena tamparan Sehun, sekarang dia benar-benar marah, "jika menurutmu aku menjijikkan…"

Lelaki itu mengepalkan kedua tangannya sampai buku-buku jarinya memutih," Jika menurutmu aku menjijikkan…"

Entah bagaimana Sehun mengetahui kapan kendali diri lelaki itu lepas, dengan panik dan takut Sehun setengah berlari menuju pintu. Tapi terlambat, Chanyeol bergerak secepat kilat menerjangnya. Sehun berhasil membuka pintu sedikit ketika dengan kasar Chanyeol mendorongnya kembali tertutup.

Chanyeol menghimpitnya di pintu. Desah napas mereka bersahutan. Yang satu ketakutan, yang satu bergairah.

"Le—lepaskan saya! Atau saya akan berteriak dan menuntut Anda atas pelecehan!"

Chanyeol tak peduli, lagipula ruangan itu kedap suara.

Dengan gerakan impulsif, dibaliknya tubuh Sehun. Bibir Chanyeol mencari-cari bibir Sehun, tubuhnya makin menekan Sehun ke pintu.

Sehun menggelengkan kepala menghindar dengan membabi buta hingga bibir Chanyeol menempel di rahangnya. Dia mencoba meronta melepaskan diri tapi tubuh Chanyeol menghimpitnya ke pintu dan tangannya mencengkeram kedua tangan Sehun di kiri dan kanan kepalanya. Mereka bergulat beberapa saat, tapi Chanyeol tak mau menyerah dari perlawanan Sehun sampai kemudian Sehun membuka mulut untuk berteriak, Chanyeol memagut bibir itu.

Ciuman itu dari awal sudah sensual karena bibir mereka terbuka. Chanyeol melumat bibir Sehun seolah sudah tak ada lagi hari esok. Mulutnya sangat liar dan lapar mengecap, melumat, dan menikmati bibir Sehun yang selembut madu.

Sehun terpana merasakan ciuman yang sangat intim ini, yang baru pertama kali dirasakannya. Dan hal itu memberi kesempatan Chanyeol untuk mencium semakin dalam. Seluruh tubuhnya menempel di tubuh Sehun, makin mendorong Sehun ke pintu. Setelah menjelajahi dan mencicipi seluruh rasa bibir Sehun, lidah Chanyeol mulai mencecap dan mencoba-coba mulai membelai masuk ke dalam bibir Sehun.

Sehun mengerang mencoba menolak, dia tak pernah berciuman seperti itu. Tapi Chanyeol begitu lembut dan lidahnya masuk, ciumannya menjadi semakin bergairah. Lidahnya menjelajah masuk, menikmati seluruh rasa dan manisnya mulut Sehun. Chanyeol mengerang dalam ciumannya. Oh ya Tuhan, nikmat sekali! Erangnya dalam hati dan gairahnya naik begitu cepat bagaikan roket. Gadis itu terasa begitu nikmat, begitu manis dan menggairahkan. Sekujur tubuh Chanyeol menginginkan gadis itu, sangat menginginkannya! Tangannya merayap naik dan menyelinap di antara jari Sehun sehingga jari-jari mereka saling bertautan. Chanyeol mencengkeramnya erat-erat seolah itu pegangannya untuk hidup.

Sejenak Sehun merasakan matanya gelap. Semua ini begitu aneh dan mengejutkan. Dan ciuman ini begitu asing dan tak terduga. Rasa ciuman ini.. Ya Tuhan, Luhan tidak pernah menciumnya dengan cara sekurang ajar ini, Luhan.. Ya Tuhan!

Sehun mengerahkan segenap kekuatan dan seluruh kendali dirinya untuk melepaskan bibirnya dari pagutan Chanyeol. Mulut Chanyeol yang lapar masih mencari-cari, masih memagutnya sekali lagi. Sehun mendorongnya kuat-kuat hingga bibir mereka terlepas.

Suasana ruangan itu begitu hening, hanya desah napas memburu bersahutan. Sehun bahkan tak tahu itu napas siapa. Chanyeol masih mencengkeram kedua tangannya di sisi kepalanya. Bibirnya begitu dekat dengan bibir Sehun hingga napasnya yang panas menyatu dengan napas Sehun. Mata Chanyeol tampak berkabut, tapi ketika menatap mata Sehun sinarnya begitu tajam.

"Kau menikmatinya kan? Aku merasakan dari bibirmu yang melembut ketika lidahku melumatmu. Kau bisa berbohong dengan kata-kata, tapi tubuhmu tak bisa berbohong.."

Dengan tiba-tiba Sehun mendorong Chanyeol hingga mundur beberapa langkah, ditatapnya Chanyeol dengan mata marah menyala-nyala.

"Dasar brengsek! Kau bermimpi kalau aku menginginkanmu. Kau tak akan pernah bisa menyentuh tubuhku lagi! Kau begitu menjijikkan!" suara Sehun semakin serak karena menahan tangis.

Jangan.. jangan! Kau tak boleh menangis, Sehun! nanti dia akan semakin merendahkanmu! Desisnya dalam hati.

Chanyeol memandang Sehun dengan pandangan tajam merendahkan, "Saat ini kau boleh menghina dan menolakku. Tapi aku yakin nanti kau akan datang padaku, merangkak dan memohon agar aku mau menerimamu"

"Lebih baik aku mati!" Sehun setengah berteriak ketika buru-buru melangkah keluar dan membanting pintu di belakangnya.

Sang sekretaris memandangnya sambil mengerutkan kening, dan Sehun yakin saat itu penampilannya patut dipertanyakan. Rambutnya kusut dan mukanya merah padam dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.

Tapi Sehun tak peduli lagi, yang ia inginkan hanya menjauh secepatnya dari tempat terkutuk itu. Dengan langkah berderap, Sehun memasuki lift dan meninggalkan ruangan itu.

.

.

.

Chanyeol mengusap mulutnya yang terasa panas. Dia merasa sedikit bodoh karena bertindak begitu impulsif di kantor, di mana banyak orang bisa menyebarkan gosip. Chanyeol menarik nafas dalam-dalam dan berusaha menghilangkan getaran di tubuhnya. Ciuman tadi terasa begitu nikmat. Sudah lama sekali Chanyeol tidak merasakan ciuman yang begitu membakar gairahnya sampi ke tulang sumsum.

Hanya sebuah ciuman dan dia terbakar. Chanyeol mengernyit, tidak begitu menyukai kenyataan itu. Selama ini dia dikenal sebagai kekasih yang sangat ahli ranjang. Selalu mampu mengendalikan pasangannya dan tak pernah lepas kendali. Dan sekarang, dia lepas kendali. Semudah itu. Titik.

Masih mengernyit, Chanyeol menghempaskan tubuhnya ke kursi.

Tapi jika gadis itu seperti yang ku pikirkan, kenapa dia semarah itu? Seharusnya gadis itu bahagia bukan kepalang atas tawaran yang dia berikan. Apakah dia salah? Dan apakah dia telah menyinggung gadis itu?

Tidak! Dengan cepat Chanyeol menyingkirkan keragu-raguannya. Semua gadis sama saja. Chanyeol tak pernah salah. Beri gadis-gadis itu kemewahan dan dia akan takluk padamu. Mungkin tawarannya masih kurang bagi Sehun. Chanyeol mungkin harus menambahkan akomodasi penuh jalan-jalan keliling Eropa, misalnya. Atau mungkin, Sehun hanya mencoba jual mahal.

Wajah Chanyeol menggelap mengingat kata hinaan Sehun barusan. Menjijikkan katanya?

Lihat saja Sehun, setelah kau menyadari betapa banyaknya yang bisa ku beri padamu, kau akan datang merangkak padaku dan aku yang akan mempermalukanmu. Sumpah Chanyeol dalam hati.

.

.

.

Suasana hati Sehun benar-benar buruk hari itu. Kemarahan, rasa terhina, kebencian, bahkan kesedihan karena dia begitu tidak berdaya campur aduk dalam hatinya. Sehun merasa tubuhnya begitu kotor akibat pelecehan yang dilakukan Chanyeol tadi siang. Dan dia masih menahan tangis ketika memasuki ruang perawatan intensif di Rumah Sakit itu, yang sudah sangat familiar dengannya.

Apapun yang ada di pikirannya tadi langsung buyar begitu melihat suster Nana menyongsongnya dengan wajah pucat pasi.

"Kemana saja kau, nak? Aku mencoba menghubungimu sejak dua jam tadi, tapi kau tak bisa dihubungi"

Wajah Sehun langsung berubah seputih kapas. Secepat kilat dia berlari menelusuri lorong menuju kamar tempat Luhan dirawat. Suster Nana tergopoh-gopoh mengikuti di belakangnya.

Sehun terpaku di depan ruangan Luhan dengan napas terengah-engah. Dokter dan perawat masih ada di ruangan itu, sedang berusaha menstabilkan kondisi Luhan. Suster Nana tiba di belakang Sehun dan menyentuh pundaknya lembut, mencoba menenangkannya.

"Dia sudah tidak apa-apa, Sehun. Kondisinya sudah stabil. Tadi dia mengalami serangan lagi tapi dokter sudah menanganinya dengan cepat. Kenapa kau tadi tak bisa dihubungi? Aku mencoba menghubungimu saat Luhan dalam kondisi paling kritis. Saat itu kau pasti ingin bersamanya"

Air mata mengalir di pipi Sehun. Tadi baterainya habis dan karena sibuk dengan pikirannya, dia tak sempat mengisinya. Astaga, betapa bodohnya dia. Luhan kelihatan stabil dan baik-baik saja dan Sehun mulai lengah, melupakan bahwa serangan bisa terjadi setiap saat. Ya Tuhan, seandainya tadi Luhan oppa….

Sehun memejamkan mata rapat-rapat. Air matanya mengalir semakin deras. Dia tak berani membayangkan semua itu. Suster Nana memeluknya dengan penuh keibuan sementara Sehun menumpahkan air matanya. Ketika dokter datang, tatapan hati-hatinya malah membuat hati Sehun semakin cemas.

"Bagaimana kondisinya, dokter?" suara Sehun gemetar ketakutan.

Dokter itu menarik nafas panjang, "Luhan pria yang kuat. Sungguh suatu keajaiban dia mampu bertahan sampai sekarang. Tapi kecelakaan itu telah merusak organ dalamnya. Kami berusaha memperbaikinya dengan obat-obatan dan penanganan medis terbaik, tapi hal itu berakibat pada ginjalnya. Kami harus mengoperasi ginjalnya, Sehun"

"Mengoperasi ginjalnya?" Sehun mengulang pernyataan dokter itu dengan histeris, "Mengoperasi ginjalnya?! Ya Tuhan.."

Tubuh Sehun menjadi lunglai. Untung suster Nana menyangganya. Air mata mengalir semakin deras di pipinya.

"Apakah.. apakah tidak ada cara lain?"

Dokter itu menarik nafas prihatin, "Luhan dalam kondisi yang tidak lazim. Dia dalam keadaan koma, dan apapun tindakan medis yang kami lakukan padanya memiliki resiko tinggi. Tapi akan lebih beresiko lagi jika kita tidak melakukan operasi itu. Operasi itu harus dilakukan sesegera mungkin, Sehun"

Sehun menarik nafas dalam-dalam, dan menatap dokter itu dengan penuh tekad.

"Baik dokter, lakukan operasi itu. Apapun agar Luhan oppa selamat" suaranya mulai gemetar.

"Berapa biaya yang harus saya siapkan untuk melakukan operasi tersebut, dok?" seluruh tubuh Sehun menegang. Tangannya terkepal seolah menanti hukuman.

Dokter itu menatapnya sedih. Rasa kasihan tampak jelas di matanya ketika menjawab, "Untuk prosedur operasi ginjal dan perawatan atas kemungkinan terjadi komplikasi lainnya, kau setidaknya harus memiliki tiga ratus juta, Sehun.."


TBC


baru chapter 1 si Chanyeol udah main nyosor aja yah wkwkwk

kira-kira bisa gak Sehun dapet duit segitu banyak?