CHAPTER 2
.
.
.
Hujan turun lagi dengan derasnya. Bahkan payung itupun tak bisa melindungi dirinya dari percikan air hujan. Tapi Sehun tak peduli.
Di mana dia?!
Sehun menatap sekeliling parkiran itu dengan panik. Hari sudah gelap dan hampir tidak ada orang di parkiran itu apalagi hujan turun dengan begitu derasnya sehingga tak aka nada orang yang begitu bodohnya berada di luar ruangan. Kecuali dirinya sendiri tentunya.
Ya Tuhan.. di mana dia?!
Sehun menatap mobil Mercedes mewah yang masih terparkir di tempat parkir direksi yang tak kalah mewah dengan atap yang luas dan posisi yang lebih tinggi sehingga terlindung dari derasnya hujan.
Lelaki itu pasti belum pulang. Mobilnya masih terparkir dan semua orang bilang bahwa bos yang satu itu baru pulang setelah lewat jam 8 malam. Dan lebih malam lagi pada hari Jumat karena besoknya akhir pekan.
Sekarang hari Jumat. Dan Sehun menunggu dengan cemas. Bagaimana jika lelaki itu sebenarnya sudah pulang? Jika bukan hari ini, akal sehatnya akan kembali dan dia akan kehilangan keberanian.
Berbagai pikiran buruk berkelebat hingga Sehun tidak memperhatikan derasnya hujan yang mulai membasahi tempat-tempat yang tidak terlindung payung kecilnya. Lalu pintu lobi itu terbuka, dan sosok yang ditunggu-tunggu Sehun melangkah keluar.
.
.
.
Seorang satpam membawa payung hitam besar dan memayunginya ketika Chanyeol melangkah menyeberangi jalan kecil yang membelah taman menuju parkiran direksi. Hujan deras membuatnya tidak menyadari kehadiran Sehun. Tapi ketika jarak mereka semakin dekat, Chanyeol menyadari bahwa Sehunlah yang berdiri dengan payung mungil di tengah hujan menunggunya, dan mulutnya menegang.
"Wah ada apa gerangan sampai Anda menyempatkan diri menunggu saya di sini?" sebenarnya Chanyeol sangat geram, tapi ia menahan diri karena kehadiran satpam yang memayunginya.
"S..saya ingin bicara dengan Anda"
Chanyeol mengernyit menyadari suara Sehun yang gemetar dan wajahnya yang pucat pasi. Apakah gadis itu kedinginan? Berapa lama gadis itu menunggunya di luar sini?
Tiba-tiba dorongan posesif membuatnya ingin meraih gadis itu, memeluknya dan menyalurkan kehangatan tubuhnya. Chanyeol melangkah ke bawah atap tempat parkir direksi yang menaunginya dari hujan, lalu mengisyaratkan satpam itu untuk meninggalkan mereka.
Setelah satpam itu jauh, Chanyeol menatap Sehun dengan gusar. "Demi Tuhan! Tidak bisakah kau kemari berlindung di bawah atap ini? Payungmu tidak berguna. Kau hampir basah kuyup!"
Sejenak Sehun ragu, tapi Chanyeol benar. Tubuhnya mulai basah kuyup karena hujan deras itu disertai tiupan angin kencang. Dengan hati-hati dia melangkah ke bawah atap yang sama dengan Chanyeol.
Lelaki itu menatapnya tajam. Sama sekali tak menyembunyikan kejengkelannya.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Aku ada undangan makan malam. Waktuku tak banyak" gumamnya sombong.
Sehun menatap Chanyeol penuh tekad meski gemetaran. "Sa..saya menawarkan diri kepada Anda. Anda boleh memiliki saya semau Anda"
Chanyeol menyipitkan mata, menahan gumpalan kekecewaan yang menyeruak di hatinya karna semudah itu dan secepat itu gadis ini menyerahkan diri kepadanya.
"Kau pikir aku berminat padamu?" gumamnya mengejek.
Wajah Sehun pucat pasi. Kata-kata Chanyeol bagaikan menamparnya keras tapi dia bertahan. Demi Luhan oppa, tekadnya dalam hati.
"Anda boleh memiliki saya sepenuhnya. Saya hanya meminta pembayaran di muka. Setelah itu saya tak akan meminta apa-apa lagi"
"Memangnya kau terlibat hutang judi atau apa?!" Chanyeol membentak keras. Gusar karena sikap penuh tekad Sehun dan gusar atas godaan dalam dirinya yang tak tertahankan untuk langsung menerima tawaran gadis itu. Tapi ketika melihat Sehun hampir terlonjak kaget karena bentakannya, spontan Chanyeol melembut.
"Oke. Berapa?"
Sehun mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan tiba-tiba itu
Chanyeol mendesah tak sabar. "Cepat katakan berapa kau menjual dirimu lalu aku akan menawar sebelum mencapai kesepakatan," dengan sengaja dia melirik jam tangannya seolah tak tertarik, "Aku tak punya banyak waktu untukmu"
Sehun menelan ludah. "Ti—tiga ratus.. juta"
"Apa?" Chanyeol membelalakkan mata tak percaya.
"Tiga ratus juta" kali ini Sehun berhasil terdengar mantap.
Chanyeol mengernyit jijik, "Kau bercanda?! Kau pikir kau pantas dihargai semahal itu?!"
"I—itu pembayaran lunas sepenuhnya. Setelah itu Anda memiliki saya dan saya tak akan meminta apapun lagi"
"Kau pikir aku bodoh atau apa?" desis Chanyeol, "Bagaimana aku bisa tahu kau tak akan mangkir dari perjanjian ini? Bagaimanapun melakukan pembayaran di muka itu beresiko"
"Kalau begitu Anda bisa membuat surat perjanjian yang sah secara hukum untuk mengatur perjanjian itu" Sehun mengedarkan pandangan ke sekeliling dengan gugup, mulai merasa tak nyaman dengan situasi ini. Mereka mengobrolkan penjualan harga dirinya seolah mengobrolkan penjualan barang.
Chanyeol terdiam, tampak menimang-nimang usulan Sehun. Lalu wajahnya mengeras.
"Tidak, ini konyol! Aku sudah tak tertarik, lagipula…" ia memandang Sehun dengan tatapan menghina, "Baru tadi siang kau menolakku mentah-mentah dan aku berkata kau pasti merangkak memintaku menerimamu. Sekarang kau hampir bisa disebut merangkak padaku dalam waktu kurang dari 24 jam"
Chanyeol hendak membalikkan badan meninggalkan Sehun. "Lupakan saja, gadis yang terlalu murahan memadamkan gairahku"
Sehun langsung panik melihat Chanyeol membalikkan tubuh mengarah ke mobilnya. Tidak! Oh tidak! Laki-laki itu tak boleh menolaknya! Dalah satu-satunya harapan Sehun untuk menyelamatkan nyawa Luhan.
Dengan setengah histeris, Sehun melakukan tindakan yang pasti akan ditentang akal sehatnya jika dia dalam keadaan tak terdesak. Ditariknya lengan Chanyeol dan ketika lelaki itu menoleh dengan marah, Sehun berjinjit, merangkul kepala Chanyeol dan mencium bibirnya.
Tubuh Chanyeol kaku dengan rasa terkejut dan luar biasa, gadis itu dengan bibir yang lembut mencoba menciumnya dengan membabi-buta. Jelas-jelas sangat tidak berpengalaman dan tanpa teknik ciuman yang memadai, tapi tetap saja gairah Chanyeol langsung meledak tak terkendali.
Dengan kasar dirangkulnya pinggang Sehun, setengah mengangkatnya agar merapat ke tubuhnya dan diciumnya bibir gadis itu habis-habisan. Ciuman Chanyeol sangat ganas dan penuh gairah, dan gadis itu meskipun bersusah payah berusaha mengimbanginya, tubuh Chanyeol menegang dan semua terasa nyeri begitu menginginkan Sehun. dengan erangan yang panas, dia memperdalam ciumannya.
Entah berapa lama mereka berciuman di tempat parkir dengan diiringi derasnya hujan, Chanyeol benar-benar hanyut dalam kenikmatan dan dia menyadari kalau dia tak akan bisa menolak gadis itu. Chanyeol baru melepaskan ciumannya ketika menyadari nafas Sehun yang mulai megap-megap.
Mereka berdiri dengan rapat dan Chanyeol masih memeluk pinggang Sehun, setengah mengangkat Sehun. Tangan gadis itu berpengangan pada pundaknya seolah-olah takut terjatuh. Chanyeol menatap Sehun tajam. Bibir gadis itu agak bengkak karena tekanan ciumannya yang panas dan habis-habisan. Bibirnya pasti juga seperti itu karena rasa panas di bibirnya belum juga hilang.
Well..cium saja aku dan aku akan terbakar. Geram Chanyeol dalam hati.
Dengan kaku diturunkannya pinggang Sehun lalu dilepaskan pegangannya.
"Baik, aku akan membayarmu. Besok pagi kau akan mendapatkan uang itu beserta surat perjanjian yang harus kau tandatangani"
Chanyeol menatap Sehun geram, lalu membalikkan tubuhnya menuju mobilnya, "Masuk ke mobil! Malam ini aku akan mencoba barang yang sudah ku beli"
.
.
.
Sehun melirik Chanyeol agak ketakutan ketika lelaki itu membelokkan mobilnya ke areal hotel berbintang lima. Lelaki itu sama sekali tak mengajaknya bicara. Dia menyetir mobil dengan tenang tetapi rahangnya menegang seperti menahan marah. Apakah lelaki itu akan berbuat kasar padanya untuk melampiaskan amarahnya?
Tadi siang dia sudah menghina lelaki itu dan dia menyadari bahwa ego seorang lelaki sangat mudah terluka. Dia ketakutan kalau Chanyeol akan melampiaskan kemarahannya dengan kasar. Dia tidak pernah disentuh lelaki sebelumnya selain ciuman dan pelukan dari Luhan yang tidak pernah melebihi batas. Apakah dia harus memberitahu Chanyeol kalau dia masih perawan? Lelaki itu dari awal sudah beranggapan dia murahan, bagaimana jika…
Sehun terlonjak ketika pintu terbuka, ternyata Chanyeol sudah keluar dari mobil dan membukakan pintu penumpang. Lelaki itu mengernyit ketika melihat wajah Sehun yang pucat pasi.
"Ayo," gumamnya kaku dan meraih tangan Sehun untuk membantunya keluar dari mobil.
Setelah Chanyeol menyerahkan kunci mobilnya kepada petugas hotel untuk diparkir, mereka berjalan memasuki lobi hotel yang sangat mewah. Resepsionis hotel menerima mereka dengan ramah dan memberikan kartu kamar yang dipilih Chanyeol. Bahkan di dalam lift pun mereka lewati dengan keheningan.
Kamar itu begitu luas dan sangat mewah sehingga Sehun terpaku sambil terkagum-kagum akan keindahan interiornya. Chanyeol hanya berdiri di sana menatapnya.
"Kau pasti belum makan. Aku akan memesan makan malam di kamar," lalu lelaki itu melirik Sehun dengan sinis, "Sementara itu, kupersilahkan kau mandi duluan. Badanmu basah. Kau bisa mandi dengan air hangat"
"Ta..tapi saya tidak membawa baju…"
Chanyeol sengaja menatap Sehun dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan begitu intens sehingga wajah Sehun merah padam.
"Aku akan memesan pakaian di butik kenalanku. Besok pagi pesanan akan diantarkan kemari. Bajumu yang basah letakkan di tempat yang disediakan di kamar mandi. Petugas hotel akan mengambilnya untuk di laundry. Sementara itu…" Chanyeol sengaja menggantung kalimatnya dengan penuh arti.
"Malam ini kau tak perlu repot-repot memikirkan baju, toh kau tak akan sempat mengenakannya,"
Kalau wajah Sehun bisa lebih merah padam lagi, itu akan menunjukkan betapa malunya dia dengan kata-kata vulgar Chanyeol. Setelah menggumamkan beberapa kalimat tak jelas dengan gugup, Sehun setengah berlari menuju kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Sehun merasa sedikit aman. Disandarkannya punggungnya ke pintu dan dicobanya menarik nafas dengan normal. Dia takut pada Chanyeol, lelaki itu seperti seekor singa yang menemukan domba lemah lalu memutuskan untuk bermain-main dengannya dulu sebelum memakannya.
Sehun melangkah telanjang ke kamar mandi lalu menyiram tubuhnya yang letih dan kedinginan karena kehujanan dengan shower air panas. Setelah selesai mencuci rambutnya, Sehun menyandarkan kepalanya di tembok dan membiarkan punggungnya yang pegal tersiram shower air panas. Dia takut menghadapi masa depan dan ketika membayangkan Luhan, air matanya menetes, mengalir bersama siraman air.
Maafkan aku Luhan oppa, setelah ini mungkin aku akan menjadi wanita kotor dan tak pantas untukmu..tapi hatiku tetap milikmu..
.
.
.
Ketika selesai membasuh muka dan menggosok gigi, Sehun memandang bayangan dirinya di cermin. Keadaannya sudah lebih baik, pipinya sudah tidak pucat lagi. Sudah ada rona merah di sana setelah mandi air hangat.
Ketukan di pintu hampir membuat Sehun melonjak.
"Kau lama sekali. Apa kau baik-baik saja di sana?" tanya Chanyeol tak sabar.
"Y..ya sebentar lagi saya selesai.." Sehun menjawab sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Apakah aku harus keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang? Matanya menatap tumpukan baju kotornya, memikirkan kemungkinan mengenakan bajunya lagi. Dan membayangkan mengenakan baju yang hampir basah kuyup itu membuatnya bergidik.
Senyumnya muncul ketika menemukan tumpukan handuk berwarna biru tua di lemari samping wastafel. Dan dia beruntung, bukan hanya handuk, tapi dia menemukan sepasang jubah mandi dengan warna yang sama. Yang satu berukuran besar dan yang satu berukuran kecil.
Dikenakannya jubah mandi berukuran kecil yang masih kebesaran di tubuhnya sambil mengernyit. Bahkan perlengkapan kamar mandi ini seperti ditujukan untuk pasangan. Sepasang jubah mandi, sepasang sikat gigi, dan sepasang handuk.
Ditatapnya bayangannya di cermin. Wah lumayan, lebih dari lumayan malah. Jubah itu menutup rapat dadanya dan karena kebesaran, panjangnya hampir mencapai mata kaki. Dia kelihatan cukup sopan meski sebenarnya tidak mengenakan apa-apa lagi di balik jubah mandinya.
Ketika Sehun keluar dari kamar mandi, Chanyeol sedang memberikan instruksi pada pelayan hotel yang menata makan malam di meja. Lelaki itu hanya mengangkat alis melihat aksi Sehun memakai jubah mandi, lalu memberikan tips pada pelayan sebelum dia pergi.
"Duduklah. Makan dulu," gumam Chanyeol mulai santai menunjuk kursi di depannya.
Sehun duduk dengan gugup di kursi dan menatap makanan yang tersaji di meja. Air liurnya langsung terbit melihat sajian yang kelihatannya lezat itu. Ada sup krim yang sangat panas yang pasti rasanya sangat nikmat untuk orang yang habis basah kuyup kehujanan. Lalu daging panggang dengan bumbu keju dan saus yang sangat menggugah selera. Salad buah-buahan dan cokelat panas yang pasti untuknya, karena Chanyeol sudah menyesap kopinya.
Lelaki itu dengan penuh perhatian menuangkan sup di mangkuk dan menyodorkannya pada Sehun. Sehun menatap Chanyeol ragu. Dan untuk pertama kalinya hari itu, Chanyeol tersenyum lembut padanya.
"Ayo makan. Aku tahu kau lapar. Aku sendiri lapar sekali,"
Mereka mulai makan dalam keheningan. Dari sudut matanya, Sehun dengan hati-hati melirik Chanyeol dan menyadari lelaki itu mulai santai. Jasnya sudah dilepas dan kancing kemejanya dibuka dua dengan dasi yang sudah dibuka ikatannya. Meskipun begitu, cara makannya sangat elegan hingga membuat Sehun malu.
"Sehun?"
Suara itu menembus lamunannya dengan keras sehingga membuat Sehun hampir melonjak karena terkejut. Matanya mengerjap menatap Chanyeol.
"A—apa?"
"Kau hanya mengaduk-aduk supmu. Apa tidak enak?"
Dengan terburu-buru Sehun menyuap sesendok sup dan menelannya.
"Ti—tidak, saya hanya sedang berpikir"
Chanyeol tersenyum. Lalu sekali lagi menatap jubah mandi Sehun.
"Pintar sekali kau memakai jubah itu. Jadi kau tak perlu tampil telanjang di depanku"
Komentar yang diucapkan dengan santai itu hampir membuat Sehun tersedak. Pipinya langsung merona merah.
Chanyeol menyesap kopinya sambil tetap memandang Sehun, lalu meletakkan cangkirnya.
"Oke, giliranku mandi. Makanlah sepuasmu, lalu taruh saja di situ. Aku akan menelepon pelayan untuk membereskannya 30 menit lagi"
Dengan santai lelaki itu melenggang ke dalam kamar mandi.
Setelah menyesap cokelatnya, Sehun tidak tahu harus mengerjakan apa lagi. Jadi dia duduk di pinggir ranjang dan menyalakan televisi.
Beberapa saat kemudian, pelayan datang dengan sopan dan membereskan makanan mereka. Sehun hanya terdiam agak malu karena menyadari keadaannya yang hanya mengenakan jubah mandi.
Detik-detik berlalu dan terasa begitu mencekan bagi Sehun. Sangat kontras dengan Chanyeol yang sedang di kamar mandi. Lelaki itu mandi dengan santai, bahkan Sehun mendengar lelaki itu bersenandung.
Ketika lelaki itu keluar dari kamar mandi, Sehun sudah hampir tertidur di atas ranjang. Pertarungan batin yang bertubi-tubi sudah membuat jiwa dan raganya kelelahan, sehingga berdiam diri dan berbaring di atas ranjang yang nyaman itu membuatnya merasa sangat mengantuk.
Chanyeol mengernyit sambil mengencangkan tali jubah mandinya. Ditatapnya Sehun yang berbaring miring membelakanginya dengan posisi meringkuk seperti janin di dalam kandungan. Pemandangan itu membuat hatinya terasa sakit. Entah kenapa, seperti ada dorongan untuk merengkuh gadis itu dan melawan seluruh dunia demi dirinya.
Kernyitan Chanyeol semakin dalam. Tidak pernah dia merasa seperti itu sebelumnya pada seorang perempuan. Gadis ini telah membangkitkan semacam hasrat liar yang selama ini tersembunyi rapat-rapat dalam jiwa Chanyeol. Dan bukan hanya hasrat, tapi dibarengi oleh rasa obsesif dan posesif yang mendalam.
Tidak! Geram Chanyeol dalam hati. Hasrat hati ini tidak boleh membuat dirinya lemah. Dia harus menunjukkan siapa yang berkuasa.
Dengan pelan Chanyeol naik ke ranjang di belakang Sehun yang memunggunginya. Lalu diraihnya pundak Sehun. Gadis itu terperanjat karena dibangunkan dari kondisi tidur-tidur ayamnya. Dengan mata yang masih sayu setengan tidur ditatapnya Chanyeol. Chanyeol melihat sekelumit ketakutan di dalam mata itu. Dan dengan sedikit kasar dibaliknya tubuh Sehun menghadap dirinya.
"Aku membayar kamar hotel ini bukan hanya untuk tidur." Gumamnya parau lalu dikecupnya bibir Sehun.
Dan…meledaklah! Chanyeol merasa hasrat langsung membakar tubuhnya sekaligus menghanguskannya. Sejenak dia merasa ragu melampiaskan hasratnya seratus persen karena dirinya cenderung kasar ketika sangat berhasrat. Tapi mengingat bagaimana Sehun menawarkan diri padanya hanya demi uang dan goresan rasa kecewa yang nyeri di hatinya karenanya membuat Chanyeol tak peduli lagi. Toh gadis ini pasti sudah berpengalaman dan mungkin sudah lebih dari sekali dia menjual dirinya demi uang. Tapi benarkah gadis itu sudah berpengalaman?
Chanyeol teringat ciuman Sehun yang tanpa teknik memadai di tempat parkir tadi. Tidak! Putusnya dalam hati. Mungkin gadis itu hanya tak pandai berciuman. Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!
TBC
demi uang yaa Sehun nekat..
dan Chanyeol emang ceplas-ceplos hahaha
mau tau Sehun diapain? tunggu aja chapter berikutnya hehe..sabar
