CHAPTER 4

.

.

.

Sehun mengaduk-aduk supnya dengan pikiran menerawang, dia memikirkan Luhan. Kemarin sore dia meninggalkannya dan menitipkannya pada suster Nana, sore ini dia harus menjenguknya. Bagaimana kondisi Luhan? Dia habis mengalami serangan, bagaimana kalau dia mengalami serangan lagi?

Chanyeol menatap Sehun dari seberang meja, apa yang dipikirkan gadis itu? Kenapa dia tampak begitu tidak bahagia? Bukankah dia baru saja mendapatkan uang dalam jumlah banyak yang bebas digunakannya melakukan apapun? Ataukah dia menyesal sudah menyerahkan diri padaku? Pikiran buruk itu tiba-tiba menyergap otaknya. Dalam kapasitas apa dia menyesali sudah menyerahkan diri padaku?

Chanyeol menggertakkan giginya. Seharusnya wanita ini bangga, aku – Park Chanyeol, orang yang sangat kaya dan berasal dari keturunan keluarga kaya terpandang, yang bisa mendapatkan wanita manapun yang dia mau, bersedia menidurinya!

Chanyeol memikirkan semua keputusannya semalam. Ternyata ini bukan obsesi maupun kegilaan sesaat, ternyata bahkan setelah percintaan marathon mereka semalam dan tadi pagi, dirinya masih menginginkan Sehun. Amat sangat menginginkannya malahan. Setelah hasratnya terpuaskan pada tubuh Sehun, bukannya semakin reda malah semakin ingin dan ingin lagi. Gadis itu begitu polos tapi menggairahkan dan di dalam otaknya ini penuh dengan hasrat untuk mengajari gadis itu bagaimana cara memuaskannya.

Dengan kesal dia mengutuk pemikirannya itu, apakah aku sudah menjadi seorang maniak seks?

Chanyeol memikirkan jeda sejenak tadi, ketika dia menghubungi Kyungsoo, pengacara kepercayaannya, dan menyatakan niatnya serta minta dibuatkan draft surat perjanjiannya. Kyungsoo adalah pengacara kepercayaannya sejak dulu, sekaligus sahabatnya. Lelaki itu telah menempuh pendidikan hukum di Jerman, dan di sanalah mereka berkenalan. Beberapa tahun kemudian, setelah Kyungsoo pulang ke Korea, dia membangun karir menjadi pengacara yang hebat. Dan ketika Chanyeol memutuskan memimpin cabang di Korea, mereka bertemu lagi lalu menjalin kerjasama sekaligus persahabatan. Chanyeol tahu Kyungsoo tidak akan bertanya apapun yang tidak perlu tentang keputusannya. Lelaki itu sudah terbiasa dengan keputusan dan rencana-rencana bisnis Chanyeol yang ekstrim. Tapi saat Chanyeol membicarakan hal tersebut, ada kecemasan dalam suara Kyungsoo.

"Kau yakin? Ini memang surat jual beli, tapi ini ekstrim Chanyeol. Jual beli manusia, jual beli pelayanan seks. Kau bisa dibilang melanggar hukum malahan kalau suatu saat nanti terjadi masalah"

Chanyeol tersenyum. Sehun tidak akan berpikir sejauh itu. Bukannya gadis itu bodoh, tapi dia terlalu polos. Entah kenapa Chanyeol percaya bahwa Sehun akan menepati janjinya.

"Buat saja Kyungsoo. Selanjutnya biar aku yang menanggung," gumamnya yakin.

Kyungsoo tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi Chanyeol yakin lelaki itu menunggu sampai mereka bertatap muka baru dia akan mengajukan pertanyaan mendetail. Kyungsoo adalah lelaki yang sangat analisis. Chanyeol menahan senyumnya.

Pikirannya kembali ke masa sekarang dan menatap Sehun yang seolah tidak selera makan.

"Kenapa kau tidak memakan makananmu?" desis Chanyeol. Hanya sebuah desisan dan Sehun terlonjak kaget, apakah dia sebegitu menakutkannya bagi Sehun.

"Mr. Park," Sehun menyebutkan nama Chanyeol dengan pelan. Di telinga Chanyeol suaranya terdengar begitu merdu bagaikan ajakan bercinta.

"Sesuai perjanjian kemarin, aku akan selalu ada kapanpun kau membutuhkanku,"

Pipi Sehun bersemu merah mengingat dari arti kata.

"Aku.. bolehkah aku meminta waktu untuk diriku sendiri setiap harinya dari jam pulang kantor sampai jam sembilan malam?" suara Sehun terdengar tertelan dan takut-takut.

Chanyeol mengernyitkan keningnya. Sebenarnya bukan masalah, Chanyeol terbiasa bekerja sampai larut malam. Biasanya jam sepuluh atau sebelas malam dia baru sampai di rumah.

"Bukan masalah. Aku selalu pulang larut malam," Chanyeol berdehem, "Tempat tinggalmu sekarang, apakah memperbolehkan lelaki masuk?"

Sehun mengernyitkan kening. "Itu tempat kost perempuan satu kamar milik sebuah keluarga. Tentu saja kau boleh masuk. Ada ruang tamu yang disediakan"

"Ruang tamu?" Chanyeol mengangkat alis penuh arti dengan tatapan sedemikian rupa.

"Oh," pipi Sehun bersemu dan tak berani menatap Chanyeol ketika menyadari arti tatapannya.

"Aku tak mungkin bukan berkunjung setiap malam ke tempatmu?" tatapannya tampak menahan senyum.

Dan Sehun menyadari kebenaran kata-kata Chanyeol. Tempat tinggalnya hanyalah sebuah kamar sederhana seadanya yang penting bisa tidur setiap malam. Bukan level Chanyeol untuk berada di sana. Sehun melemparkan pandangan sekilas ke sekeliling ruangan.

"Aku tak mungkin membawamu setiap malam ke hotel karena jam kerjaku yang tak tentu. Tidak mungkin pula aku menyuruhmu standby di hotel setiap harinya," Chanyeol merenung, "Tak mungkin juga membawamu tinggal di rumahku, kalau sampai ada orang yang tahu bisa berbahaya buatmu juga"

Dengan santai Chanyeol menyesap kopinya, "Oke, nanti siang setelah bertemu dengan pengacaraku, kita cari apartemen di dekat kantor"

Sehun hampir menyemburkan teh yang disesapnya. Lelaki ini bercanda? Apartemen? Di dekat kantor? Kantor mereka berada di kompleks perkantoran dan bisnis yang mewah. Apartemen pun pasti juga kelas atas dan mahal. Bagaimana lelaki itu bisa mengatakan tentang mencari apartemen semudah itu?

Chanyeol sepertinya mengetahui pemikiran Sehun. "Lebih mudah bagiku, Sehun. Aku biasanya capek dan bertempramen buruk setelah bekerja. Aku tak mau repot-repot menjemput atau tetek bengek reservasi hotel jika malam-malam tiba-tiba aku menginginkan bersamamu"

Chanyeol tersenyum, "Apartemen akan memudahkan kita. Bukan berarti aku akan mengunjungimu setiap malam," tambahnya cepat.

Sehun mengangguk gugup. Yah, dia kan hanya makhluk yang sudah dibeli. Dia hanya bisa menuruti apapun kemauan Chanyeol.

Setelah menghabiskan kopinya, Chanyeol melirik jam tangannya.

"Well, pengacaraku pasti sudah menunggu di bawah. Enjoy your time. Aku akan menemuinya sebentar,"

Dengan santai lelaki itu berdiri. Lalu tanpa diduga-duga menarik Sehun berdiri, mendorongnya ke tembok lalu menciumnya dengan penuh gairah. Lama dan hangat dengan teknik yang sangat ahli sehingga ketika dia melepas ciumannya, Sehun hampir tak bisa berdiri membuat Chanyeol mesti menahan tubuhnya. Dengan lembut lelaki itu mendudukkan Sehun di kursi.

"Sebenarnya sudah sejak tadi aku ingin melakukan itu," gumamnya dalam senyum puas sebelum pergi meninggalkan Sehun.

.

.

.

"Kau benar-benar serius tentang ini Chanyeol?" Kyungsoo bertanya saat Chanyeol mempelajari salinan kontrak itu.

Chanyeol mengangkat matanya dan menatap Kyungsoo, lalu menunjukkan kontrak itu.

"Kau pikir aku tidak serius? Perjanjian ini senilai tiga ratus juta!"

"Aku tak habis pikir, kenapa seorang sepertimu bisa mendapatkan wanita manapun yang kau mau, melakukan hal seperti ini demi seorang wanita? Wanita yang sangat murahan dan materialistis sehingga terang-terangan menjual dirinya padamu demi uang? Apa yang ada di pikiranmu, bos?"

Kening Chanyeol berkerut tidak suka mendengar kata-kata Kyungsoo, meskipun dia tahu itu benar.

"Kau tahu bagaimana rasanya ketika melihat seorang perempuan dan tiba-tiba seluruh tubuhmu menginginkannya?" Chanyeol tersenyum melihat ekspresi skeptis Kyungsoo. Tentu saja Kyungsoo tidak tahu, dia sendiri merasa aneh dengan perasaannya, "Yang pasti aku menginginkannya. Dan aku masih belum bosan. Tiga ratus juta tak ada artinya buatku"

"Tapi kau orang yang sangat pembosan. Seminggu lagi kau pasti akan mencampakkannya dan menyesali kontrak ini"

"Dan aku tetap akan merasa puas, setidaknya aku tidak penasaran lagi," jawab Chanyeol yakin.

Kyungsoo mengangkat bahu, "Aku tetap tidak setuju tapi ini semua keputusanmu. Serahkan kontrak pada wanita itu. Pastikan dia tandatangan. Beri salinannya, lalu serahkan yang asli padaku,"

Kyungsoo menyandarkan tubuhnya di kursi, "Miss Oh ini, apakah aku pernah melihatnya sebelumnya?"

Chanyeol menggeleng.

"Dia hanya pegawai biasa. Seorang supervisor lapangan. Kau tidak mungkin pernah melihatnya," jawabnya tegas.

"Apakah dia gadis mungil dengan rambut panjang dan wajah polos dan tatapan seperti anak kecil yang ada di area pameran mendampingi bosnya yang penjilat waktu itu?"

Chanyeol langsung bersiaga, kenapa Kyungsoo ingat pada Sehun? Apakah Kyungsoo juga memperhatikan Sehun? Apakah dia juga tertarik padanya? Insting posesifnya langsung mnyeruak keluar.

Kyungsoo tertawa melihat tatapan tajam Chanyeol.

"Hey.. jangan menatapku seperti itu. Aku memperhatikannya karena waktu itu kau memandangnya dengan begitu intens. Tatapanmu seolah-olah tak bisa lepas darinya seperti pemburu yang ingin melahap mangsanya,"

Kyungsoo mengangkat bahu.

"Orang lain mungkin tak akan menyadarinya, tapi aku sudah mengenalmu sejak lama dan aku tahu betapa intensnya kau jika sudah berkonsentrasi pada satu hal. Malam itu kau kehilangan konsentrasimu. Gadis itu menarik seluruh perhatianmu. Kau sulit berkonsentrasi pada hal lain setelah itu,"

Kyungsoo menarik nafas panjang," Jika dengan gadis yang sama ini kau terlibat, semoga Tuhan memberkatimu sahabatku,"

.

oOo

.

Semua terjadi begitu cepat. Chanyeol langsung mendapatkan apartemen yang diinginkannya. Sebuah apartemen yang sangat mewah dengan privasi yang sangat terjamin. Sehun tak berani membayangkan berapa harganya, tapi Chanyeol bersikap sangat santai. Katanya itu semua hanyalah investasi.

Dengan sangat efisien, Chanyeol membantu Sehun membereskan barang-barangnya yang tentu saja tidak banyak untuk dipindahkan ke apartemen, lalu menyelesaikan pembayaran kost dan sekaligus berpamitan dengan induk semangnya.

Mereka berdua berdiri di tengah ruang tamu apartemen yang sangat mewah itu. Chanyeol tersenyum pada Sehun yang berdiri kaku di tengah ruangan.

"Anggap saja rumahmu sendiri," dia lalu melirik jam tangannya, "Aku harus kembali ke rumahku. Pengurus rumah tanggaku pasti bertanya-tanya apa yang kulakukan sampai aku tak memberi kabar. Dia kan kebingungan menjawab telepon yang masuk. Kau, silahkan atur apartemen ini sesuai seleramu. Jika ada yang kurang atau kau ingin menambah sesuatu, bilang saja.."

Sehun memandang sekeliling apartemen yang penuh dengan interior mewah dan elegan itu. Penataannya saja terlalu mewah dan mungkin berlebihan untuknya, tidak, dia mau mengganti apa lagi?

"Sementara kau pergi.. bolehkan aku keluar sebentar? Kau ingat? Sedikit waktu untuk diriku sendiri seperti yang kau janjikan?"

Chanyeol mengangkat bahu.

"Silahkan," dia mengeluarkan dompetnya, "Kau butuh uang?"

"Tidak!" Sehun menjawab tegas. Uang tiga ratus juta yang ditransfer Chanyeol tadi siang sudah lebih dari cukup. Dia tidak butuh uang apa-apa lagi dari lelaki itu.

Chanyeol sepertinya bisa membaca pikiran Sehun.

"Uang yang ku beri tadi, itu murni untukmu. Silahkan kau gunakan sesuka hatimu. Tapi untuk sehari-hari, aku sudah berjanji akan membiayaimu. Ingat kan penawaranku di ruangan kerjaku dulu?"

Chanyeol mengeluarkan kartu berwarna keemasan dari dalam dompetnya.

"Ini kartu debit. Isinya lebih dari cukup jika kau ingin membeli sepuluh mobil sekalipun," dia lalu menyebutkan nomor PIN dan menyuruh Sehun mengingatnya baik-baik.

Sehun sebenarnya ingin menolaknya, tapi dia tak ingin berlama-lama berdebat dengan Chanyeol di sini. Lagipula dia tinggal menyimpannya di dompet dan tak akan pernah memakainya, toh Chanyeol tidak akan tahu.

Chanyeol memakai jasnya, puas karena Sehun menerima kartu debitnya.

"Kita akan buat kartu kredit atas namamu besok. Nanti malam, kalau tak ada urusan, aku akan ke sini," tatapan Chanyeol ketika mengucapkan 'nanti malam' begitu intens, membuat pipi Sehun memerah.

Sepeninggal Chanyeol, Sehun segera memakai jaket, membawa tas tangannya dan melangkah pergi. Lobby apartemen yang begitu mewah itu benar-benar membuatnya minder apalagi penjaga pintu menyapanya dengan begitu penuh hormat ketika dia melangkah keluar.

"Anda ingin dipanggilkan taksi, miss?" sapanya dengan sopan.

Sehun cepat-cepat menggeleng. Tidak mungkin kan dia bilang kalau dia mau menunggu kendaraan umum di depan perempatan sana?

"Tidak," jawabnya, "Saya menunggu jemputan, di depan," gumamnya singkat. Lalu sebelum penjaga pintu itu bertanya-tanya lagi, Sehun segera mengangguk sopan dan melangkah pergi.

Perjalanan ke rumah sakit tidak berlangsung lama, mungkin karena hari minggu jadi jalanan tidak begitu macet.

Sehun berpapasan dengan suster Nana ketika dia hendak memasuki ruangan perawatan Luhan.

"Kau tidak apa-apa Sehun? Kau kelihatan pucat,"

Sehun meraba pipinya, benarkah? Apakah dia tampak berbeda sekarang? Setelah dia menyerahkan….

"Aku.. aku mencari uang untuk biaya operasi Luhan oppa," gumamnya gugup.

Suster Nana menatap Sehun sedih.

"Sehun, uang tiga ratus juta itu sangat banyak. Aku juga tahu kalau kau masih menanggung hutang di perusahaan sebanyak empat puluh juta. Begini nak, aku punya simpanan sekitar lima puluh juta, mungkin itu bisa membantu. Dan kalau aku bisa menaruh surat tanahku di bank untuk mengajukan pinjaman, mungkin kita bisa mendapat beberapa tambahan…"

"Suster, saya sudah mendapatkan uangnya," Sehun bergumam lemah.

Kata-kata suster Nana langsung terhenti seketika.

"Apa..?! Sudah mendapatkan uangnya?! Apa maksudmu nak? Dari mana?" kata-katanya langsung terhenti melihat Sehun mulai menangis.

"Ada apa nak? Ceritakan padaku jika itu bisa membantu, mungkin itu bisa membuatmu lega,"

"Mungkin setelah ini suster akan jijik kepada saya," Sehun terisak pelan.

Suster Nana mengelus rambut Sehun dengan lembut, "Tidak akan anakku, aku menyayangimu seperti anakku sendiri. Dan seorang ibu pasti akan menerima anaknya apa adanya"

Sehun menarik nafas panjang. Dia memang sangat membutuhkan tempat untuk berbagi cerita dan amat sangat bersyukur ada suster Nana yang mau mendengarkannya. Lalu meluncurlah cerita itu dari bibirnya.

"Aku tidak menyalahkanmu, Sehun. Yang aku tidak habis pikir, betapa bejatnya bosmu itu memanfaatkan kondisimu untuk kepuasan dirinya," geram suster Nana.

Sehun buru-buru mencegah kemarahan suster Nana.

"Bukan suster, sampai sekarang Mr. Park tidak tahu kalau aku memerlukan uang itu untuk biaya perawatan Luhan oppa. Dia mengira aku perempuan muda dengan gaya hidup berfoya-foya yang punya banyak hutang karena gaya hidupku. Jadi dia tidak segan-segan mengambil atas pembayarannya"

Suster Nana mengerutkan keningnya,

"Kenapa kau tidak mengatakannya Sehun? Setidaknya dia bisa lebih menghargaimu jika tahu alasanmu yang sebenarnya"

Sehun menggelengkan kepalanya.

"Tidak, aku tidak mau Mr. Park mengetahui tentang Luhan oppa. Lelaki itu tidak mudah ditebak. Tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika tahu tentang Luhan oppa nanti"

Suster Nana menarik nafas, "Setidaknya dia tidak brengsek seperti lelaki hidung belang yang mungkin nantinya akan menjerumuskanmu," tiba-tiba tatapan suster Nana berubah intens dan hati-hati.

"Apakah dia berbuat kasar atau tidak Sehun?"

Sehun saat itu sedang melamun sehingga tidak menyadari maksud kata-kata suster Nana.

"Eh? Apa suster?"

Suster Nana tampak salah tingkah.

"Apakah dia bertindak kasar semalam Sehun? Maksudku itu kan pertama kalinya, kebanyakan wanita akan merasa tidak nyaman. Apalagi jika pasangannya bertindak kasar"

Wajah Sehun langsung merah padam.

"Tidak, Mr. Park tidak kasar.. oh Tuhan" Sehun menutup mukanya dengan kedua tangan, "Aku malu sekali suster, tiap kali aki memandang diriku di cermin, aku merasa seperti perempuan yang sangat tidak berharga"

Suster Nana menepuk pundak Sehun lembut, menenangkannya.

"Sehun, kita semua tahu alasanmu melakukan itu. Aku sendiri dapat mengerti dan menerimanya. Pengorbananmu demi Luhan luar biasa besarnya. Aku yakin Tuhan pasti akan mengerti", tiba-tiba wajahnya berubah professional.

"Sehun, aku yakin Mr. Park ini akan mengunjungimu secara berkala bukan? Mungkin pertanyaan ini mengganggumu, tapi aku harus bertanya apakah kemarin dia menggunakan pengaman?"

Sehun menandang suster Nana dengan bodoh, "Pengaman?"

Barulah ketikan suster Nana menatapnya dengan intens dan penuh arti, Sehun menangkap maksudnya, wajahnya memerah lagi.

"Oh, itu…" suara Sehun hilang, "Kemarin dia memakainya"

Suster Nana berdehem, "Baik, kalau begitu dia lelaki yang cukup bertanggung jawab. Bagaimana kondisi tubuhmu sayang?"

"Eh, aku baik-baik saja suster.."

"Kalau begitu mari kita bicarakan tentang kontrasepsi. Kau juga perlu membicarakan ini dengan Mr. Park"


TBC


makasi buat para readers yg masih berharap cerita ini dilanjutkan

karna ini remake dan author ga butuh banyak tenaga buat mikir jalan cerita, jadi diusahakan buat fast update

meski bukan cerita murni dari otak author, tapi tetep ditunggu komen2nya yaa..makasii..