CHAPTER 5
.
.
.
Sehun meletakkan barang belanjaannya di meja dapur. Tadi dia mampir sebentar ke supermarket untuk membeli bahan makanan. Kondisi Luhan baik-baik saja dan cukup stabil, itu saja sudah cukup membuatnya tenang. Operasi sudah dijadwalkan 1 minggu lagi. Sekarang Sehun hanya bisa berdoa dan menyerahkan semuanya pada Tuhan.
Dengan ragu, Sehun memandang sekeliling apartemen lalu menarik nafas panjang. Semua ini terlalu mewah, terlalu berlebihan untuknya tinggal seorang diri di tempat seluas dan semewah ini. Tadi dia menyempatkan diri mengatur pakaiannya yang sedikit, sehingga hanya memerlukan waktu sebentar. Setelah itu, dia sempat terdiam lama bingung mau berbuat apa. Apalagi di tempat yang luas begini, suasana terasa sangat lengang dan sendirian. Baru kemudian Sehun menyadari bahwa dia belum sempat sarapan sejak tadi pagi, jadi dia memutuskan memasak makan malamnya.
Setelah mengatur belanjaannya yang sedikit itu di dalam lemari es raksasa, sehingga tampak menggelikan karena lemari itu terlihat kosong, Sehun mengeluarkan beberapa butir telur, sedikit sosis dan sayuran. Dikocoknya dengan pelan sambil berdendang. Lalu dituangnya adonan omelet sederhana ini ke wajan mungil yang sudah diberi mentega. Aroma harum telur menyeruak ke seluruh dapur.
"Baunya enak sekali,"
Suara itu terdengar begitu tiba-tiba, tak disangka dan sangat mengejutkan sehingga Sehun hampir menjatuhkan mangkuk bekas adonan telurnya. Dengan gugup dia menoleh ke pintu dapur, Chanyeol bersandar di sana mengenakan baju santai dan tampaknya habis mandi.
"I..iya aku memasak makan malamku," jawabnya gugup lalu memusatkan perhatiannya lagi ke telurnya.
Chanyeol melangkah dengan santai masuk ke dapur, tak memperdulikan kegugupan Sehun. dia berdiri di belakang Sehun lalu menengok penggorengan.
"Apa itu?" tanyanya tertarik melihat masakan Sehun.
"Eh ini? Ini telur goreng ku beri campuran sosis dan sayuran" Sehun berusaha bertingkah wajar.
"Seperti omelet?" kali ini Chanyeol tampak benar-benar tertarik.
"Ya seperti itu, tapi ini lebih sederhana" Sehun menjawab sambil melirik ke ekspresi Chanyeol. baru sekarang Sehun sadar ternyata lelaki ini tertarik pada hal-hal baru yang belum pernah ditemui sebelumnya.
"Buatkan aku satu ya,"
Sehun menoleh mendengar permintaan Chanyeol.
"Memangnya kau mau?" tanyanya ragu.
Lelaki itu mengangkat bahunya, "Siapa tahu? Lagipula aku lapar sekali. Setelah menyelesaikan urusan rumah, aku langsung kemari. Kau kan masih penyesuaian diri di sini, jadi aku ingin mellihat kondisimu"
Dasar perayu ulung! Sehun memaki dalam hati. Orang seperti Chanyeol tidak segan-segan memanipulasi pikiran perempuan agar mau melakukan apapun yang dia inginkan. Pura-pura mengkhawatirkanku, huh!
Chanyeol masih berdiri di belakangnya. Nafasnya terasa hangat di ubun-ubunnya karena Chanyeol memang jauh lebih tinggi dibanding Sehun. Tiba-tiba saja tangan lelaki itu mencengkeram pundak Sehun mendekatkannya ke belakang. Kepalanya turun dan bibirnya mengecup leher Sehun dari samping dengan kecupan selembut bulu dan panas sehingga tubuh Sehun bagaikan diestrum dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Aku menunggu di sofa ya. Kita makan di sana saja," gumam Chanyeol pelan, lalu melangkah pergi meninggalkan Sehun di dapur yang mencoba menetralkan nafasnya.
.
.
.
Lelaki itu makan seperti biasa, dengan elegan. Sedangkan Sehun tidak bisa berkonsentrasi pada makanannya. Dia tidak bisa mengalihkan tatapannya dari Chanyeol. Ternyata Chanyeol suka masakan biasa. Dari penampilan dan gayanya, kelihatannya lelaki itu hanya mau makan makanan tertentu dan yang pasti kelas atas. Tak disangka dia bisa duduk santai di sofa menikmati sepiring omelet sederhana.
"Kenapa?" Chanyeol tiba-iba menatap tajam setelah suapan terakhirnya. Dia merasakan tatapan Sehun selama dia makan.
Sehun langsung menundukkan kepalanya yang gugup. "Eh..tidak, tidak apa-apa"
Chanyeol tersenyum, "Pasti kau heran kenapa aku mau makanan rumahan kan?"
Dia lalu meletakkan piringnya, "Aku juga manusia, Sehun. Kita tidak ada bedanya. Kadangkala penampilan seseorang membuat kita berpikir bahwa manusia yang satu berbeda dengan yang lain"
Chanyeol mengangkat bahunya, "Ku akui memang aku menyukai makanan berkualitas dan bercita rasa tinggi. Tapi kadangkala aku bosan. Masakan sederhana buatan sendiri terasa lebih nikmat"
Dengan santai lelaki itu berdiri lalu menuang kopi dari poci di atas meja minuman dan menyesapnya ringan.
"Dan suka minum kopi." Tanpa sadar Sehun mengomentari kebiasaan Chanyeol. Sejak kemarin, diamatinya Chanyeol selalu meminum kopi setiap ada kesempatan.
Lelaki itu tertawa mendengar komentar Sehun.
"Ya, kopi berkualitas juga" gumamnya sambil mengedipkan sebelah matanya.
Sehun menunduk, entah kenapa Chanyeol yang santai dan ramah ini lebih membuatnya merasa nyaman dibandingkan Chanyeol yang kaku dan dingin di kantor.
"Habiskan makananmu. Setelah itu kita pindah ke ruang baca. Kau bisa membaca atau melihat televisi. Ada beberapa pekerjaan lagi yang mesti ku bereskan"
Sehun segera menyelesaikan makannya dan mencuci piring sementara Chanyeol membuat secangkir kopi lagi sekaligus secangkir teh untuk Sehun, dan membawanya ke ruang baca.
Dengan enggan Sehun menyusul ke ruang baca. Chanyeol sedang duduk di sofa menghadap laptopnya dan tampak serius. Dia hanya melihat sekilas pada Sehun.
"Duduklah, minum tehmu.." gumamnya lalu kembali serius menghadap laptopnya.
Sehun sebenarnya mengantuk tapi dia tidak enak kalau harus masuk kamar duluan apalagi apartemen ini hanya mempunyai satu kamar yang luas, kamar lain hanya kecil dan diperuntukkan sebagai kamar pembantu. Sehun tidak tahu, apakah Chanyeol akan menginap atau pulang. Dia sama sekali tidak mengatakan rencananya.
Sehun menghirup tehnya lalu duduk di sofa di seberang Chanyeol. Dia mengambil sebuah majalah dan membacanya sambil menenggelamkan tubuhnya di sofa. Bacaan itu menarik dan keheningan itu membuatnya merasa nyaman hingga lama-lama dia tak bisa menahan kantuknya.
.
.
.
Sehun merasa ada yang mengusap lembut rambutnya, lalu tubuhnya terangkat dan terasa dipeluk hangat. Dia merasakan tubuhnya terayun-ayun. Ketika dia membuka matanya yang berat, dia menyadari Chanyeol sedang menggendongnya ke kamar. Lelaki itu tak menyadari Sehun membuka matanya. Dengan langkah pelan dan hati-hati, dia berjalan ke arah kamar.
Sehun langsung pura-pura memejamkan mata lagi begitu Chanyeol dengan lembut membaringkan tubuhnya di ranjang dan menyelimutinya. Setelah itu tak ada gerakan, tapi Sehun masih belum berani membuka matanya. Apakah Chanyeol memutuskan pulang atau tinggal?
Lalu ada gerakan di ranjang di belakangnya. Ternyata lelaki itu menginap di sini. Sehun menyadari dari selimut yang tersingkap dan gerakan tubuh lelaki itu menyelinap di balik selimut. Kemudian tubuh hangat Chanyeol mendekat dan merengkuh Sehun dari belakang. Pertama kali Sehun merasa tidak nyaman, tapi kemudian rasanya hangat di tengah kamar yang dingin itu, dan dia terlelap.
.
.
.
Sehun terbangun dengan rasa haus yang amat sangat. Biasanya sebelum tidur dia meminum air putih, tapi tadi malam dia tidak melakukannya. Dengan tak nyaman dia bergerak gelisah.
"Ada apa Sehun?" sosok yang memeluknya dari belakang bertanya. Suaranya sangat segar.
Tidak kah dia tidur? Gumam Sehun dalam hati.
"Haus," akhirnya Sehun bersuara meskipun parau.
Chanyeol langsung bergerak turun dari ranjang dan menuang segelas air di meja minum lalu mangitari ranjang berdiri di samping sisi Sehun terbaring. Lelaki itu tampak tinggi menjulang, hanya menggunakan celana puyama sutra hitam dan telanjang dada.
"Duduk. Minum."
Dengan pelan Sehun duduk dan menerima gelas besar berisi air putih itu. Masih setengah minuman tersisa, Chanyeol mengambil gelas itu.
"Apakah kau sudah bangun?" Sehun mengernyit karena suara Chanyeol sekarang menjadi parau.
Dengan masih bingung dia menganggukan kepalanya.
"Bagus," Chanyeol menenggak sisa ait putih di gelas Sehun sampai habis lalu setengah membantingnya di meja samping ranjang.
Kemudian dengan gerakan tiba-tiba, dia mendorong Sehun hingga terbaring di ranjang dan menindihnya. Nafasnya terasa hangat di atas tubuh Sehun dan matanya tampak berkabut dengan pupil yang mengecil sehingga tampak hitam.
Sehun agak terperanjat setengah membelalak memandang wajah Chanyeol yang sangat dekat dia atasnya. Nafasnya terengah-engah penuh antisipasi, ketika kemudian Chanyeol mengecup bibirnya dengan sangat intim. Semula hanya ciuman biasa, bibir dengan bibir, itupun sudah membuat Sehun panas dingin karena begitu ahlinya Chanyeol.
Menggerakan bibirnya setelah sebuah ciuman yang lama dan panas Chanyeol mengangkat wajahnya dan tersenyum, Sehun bisa merasakannya karena bibir Chanyeol hanyak berjarak beberapa inci dari bibirnya.
"Kau tidak biasa berciuman ya?"
Sehun memalingkan mukanya dengan pipi memerah mendengar pernyataan blak-blakan itu, tapi Chanyeol meraih dagunya dan menempelkan bibir mereka lagi.
"Tirulah apa yang ku lakukan padamu," bibir Chanyeol bergerak di bibir Sehun, dan ketika Sehun mengikutinya, Chanyeol mengerang senang, "Ya.. ya,,bagus, begitu.. tidak.. jangan gigit.. bagus.. bagus.. buka mulutmu.. ah sayang…"
Chanyeol terus memberikan instruksi di sela ciumannya yang makin panas dan bergairah dan Sehun menurutinya. Lebih dikarenakan ingin tahu. Ketika Chanyeol membuka mulutnya Sehun mengikutinya. Ketika lumatan Chanyeol makin dalam dan belaian lidahnya membelai Sehun dengan ahli, Sehun mengikutinya dengan tersendat-sendat. Meskipun sepertinya itu cukup memuaskan bagi Chanyeol karena lelaki itu mengerang lagi dan memperdalam ciumannya. Ciuman dengan bibir terbuka dan permainan lidah yang begitu panas dan seolah tidak akan berakhir. Sehun bahkan tidak pernah menyadari bahwa sebuah ciuman bisa dilakukan sedalam dan seintim ini.
Lama kemudian Chanyeol mengangkat kepalanya. Hanya sedikit seolah ingin tetap berdekatan dengan Sehun. Matanya tampak berkabut dan nafasnya terasa bergemuruh di dadanya.
"Itu tadi yang namanya French kiss.." gumamnya lembut. Dengan lembut Chanyeol mengajari Sehun bagaimana cara menyentuhnya. Bagaimana cara memuaskannya. Lelaki itu suka di sentuh di mana-mana. Dia akan mengeluarkan erangan pendek tertahan ketika Sehun menyentuhnya.
Dan itu mempesona Sehun. seorang lelaki yang begitu dominan dan jantan seperti Chanyeol, mengerang nikmat di bawah sentuhannya. Dengan takut-takut Sehun menyusuri bagian dalam lengan Chanyeol yang kekar, membuat nafas Chanyeol terengah.
"Kau akan membunuhku dalam kenikmatan," bisik Chanyeol serak, lalu melumat bibir Sehun penuh gairah, "dan aku akan mati bahagia," desahnya.
Chanyeol menyatukan dirinya dengan lembut, melihat reaksi Sehun. Dan ketika dia yakin tidak ada kesakitan lagi, dia mendesak perlahan, menembus kehangatan yang langsung membungkusnya rapat, membuatnya tergila-gila.
"Bagus sayang, jangan ditahan. Aku akan mengajarimu.. ah.. kau begitu hangat dan siap untukku"
Suara Chanyeol tenggelam di sela cumbuannya yang sangat ahli, menghanyutkan Sehun ke dalam pusaran gairah yang selama ini tidak pernah dikenalnya. Dan ketika Chanyeol membuat Sehun mencapai puncak kenikmatan untuk kesekian kalinya. Lelaki itupun menyerah dalam beberapa hujaman tajam, mengejar kenikmatannya sendiri.
.
oOo
.
Sehun terbangun merasakan sinar matahari menerpanya. Dia mengernyitkan alisnya dan membuka matanya pelan-pelan. Sinar matahari memang sudah mengintip malu dari balik gorden jendela balkon kamar apartemen itu. Sehun menyadari ada tangan kekar yang memeluk perutnya dengan posesif. Chanyeol masih tidur, nafasnya terasa naik turun dengan teratur di punggung Sehun. Mereka berbaring miring seperti sendok dan garpu, dengan Sehun membelakangi Chanyeol berbantalkan salah satu lengan Chanyeol sementara lengannya yang lain memeluk Sehun erat, menempelkan punggung Sehun sedekat mungkin dengan dadanya.
Mereka telanjang dan selimut tebal yang seharusnya menyelimuti mereka sudah tertendang oleh Chanyeol entah ke mana. Seharusnya Sehun kedinginan, tapi tidak karena Chanyeol memeluknya dengan begitu eratnya.
Tiba-tiba sengatan rasa besalah seperti memukulnya. Di sinilah dia berbaring nyaman dalam pelukan laki-laki yang membelinya sementara Luhan…
Helaan nafas Sehun pasti membangunkan Chanyeol karena lelaki itu terasa mulai bergerak, lalu sebuah kecupan lembut mendarat di pelipis Sehun.
"Selamat pagi," suara lelaki itu terdengar serak tapi sarat dengan kepuasan sensual yang dalam. Tentu saja lelaki itu puas. Dia hampir tidak membiarkan Sehun tidur semalaman.
Sehun tidak menjawab, tapi berusaha menarik selimut yang terlempar jauh di kakinya untuk menutupi ketelanjangannya. Usahanya gagal karena Chanyeol mempererat pelukannya di pinggangnya sehingga Sehun tak bisa bergerak.
"Tidak perlu selimut, sayang. Aku sudah mengenal setiap jengkal tubuhmu secara intim, tak ada yang terlewatkan.. begitu juga sebaliknya, hmm?"
Wajah Sehun memerah sampai semerah-merahnya, bahkan telinganya pun memerah dan Chanyeol terkekeh melihatnya.
Lalu tiba-tiba tawa itu hilang dan Sehun merasakan gairah Chanyeol bangkit lagi. Dengan bingung ia menolehkan kepalanya dan langsung bertatapan dengan mata Chanyeol yang menyala penuh gairah.
"Lagi?" Sehun tanpa sadar mengucapkan ketakjubannya, sebegitu cepat Chanyeol menginginkannya lagi setelah semalam? Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu bagaimana bergairahnya semalam. Sehun pikir Chanyeol sudah terpuaskan, tetapi sepertinya dia salah.
"Aku juga tidak menyangka," gumam Chanyeol parau, "Sepertinya kau akan menjadi penyebab kematianku"
Kemudian Chanyeol meraih Sehun lagi ke dalam pelukan gairahnya.
TBC
maafkan Chanyeol yg hormon berlebihnya ga bisa di kontrol sampe ngajarin Sehun segala hahaha..
emang cerita aslinya kek gitu, mohon bersabar ya readers..
tetep ditunggu komennya..makasii
