CHAPTER 6

.

.

.

Sehun hampir saja terlambat kerja. Dia menarik nafas panjang melihat jam absennya..hanya kurang satu menit. Dengan segera ia melangkah masuk ke mejanya, teman-teman seruangannya sudah mulai sibuk bekerja. Sehun pun mulai berkonsentrasi, tapi matanya hanya menatap kosong ke layar komputer. Pikirannya mengingat ke kejadian semalam dan dia mengernyit. Dia merasa murahan sekali, menjual diri kepada laki-laki itu tetapi terlena dengan rayuannya. Mau bagaimana lagi, lelaki itu adalah jelmaan dewa penakluk wanita dengan segala pengalaman dan keahliannya, sementara Sehun baru pertama kalinya bercinta.

Tuhan, ampunilah dosa-dosaku.. Sehun memejamkan matanya dan menundukkan kepalanya sebelum mulai menenggelamkan diri dalam pekerjaan.

"Iya, aku juga tidak menyangka," suara berbisik dua rekan di sebelahnya menarik perhatian Sehun, "Rasanya seperti bukan Mr. Park"

Mendengar nama lelaki itu disebut, mau tak mau Sehun menajamkan telinganya, mendengarkan.

"Tadi kami serombongan habis sarapan berpapasan dengan Mr. Park. Kami hanya menunduk karena biasanya bos besar itu hanya melirik dari sudut matanya, mengangguk selama sedetik lalu pergi dengan acuh tak acuh,"

Wanita itu menghembuskan nafas takjub, "Tapi tadi.. astaga! Mr. Park bahkan berhenti, tersenyum ramah dan menanyakan kabar kita semua.." suaranya terpekik hampir histeris. "Dan senyumnya yang sangat jarang itu.. bukannya menjawab, semuanya malah terpesona dengan mulut menganga. Ada yang mencoba menjawab tapi yang keluar hanya suara tercekik," lanjutnya menggebu-gebu.

"Mr. Park sama sekali tidak merasa terganggu dengan sikap konyol kami. Dia malah tertawa geli dan melambaikan tangan ramah sebelum pergi. Benar-benar anugerah tak terlupakan! Menurutmu…"

Sehun beranjak berdiri ke kamar mandi, tak tahan mendengarkan pemujaan terhadap laki-laki itu. Tapi tetap saja dia ikut bertanya-tanya. Sehun terpekur di depan pintu kamar mandi. Dia berpikir mengenai perubahan sikap Chanyeol di kantor. Bosnya itu memang selalu memasang wajah dingin, ketus dan jarang bicara. Banyak wanita di sini yang takut sekaligus memujanya karena sikapnya itu, tapi kenapa dia berubah ramah?

"Memikirkanku?"

Suara yang diucapkan dengan pelan dan lembut itu membuat Sehun membalikkan tubuhnya mendadak dengan terlonjak kaget dan hampir menabrak orang yang berdiri di belakangnya. Matanya langsung bertatapan dengan matanya yang tajam, objek pikirannya.

Dan kenapa si bos ada di sini? Di lorong menuju kamar mandi lantai 3 padahal punya kamar mandi sendiri di ruangannya.

Tanpa sadar Sehun mengucapkan pertanyaannya keras-keras. Chanyeol tertawa.

"Aku sedang menemui kepala personalia di lantai yang sama. Tiba-tiba ingin ke toilet, tidak bolehkah?" suaranya makin melembut, lalu matanya berubah tajam. Dan Sehun mengenali tatapan itu, tatapan kalau…

"Damn! Aku sudah amat sangat merindukanmu!" dengan cepat Chanyeol meraih Sehun, lalu menciumnya, dengan gairah menggebu-gebu seolah sudah lama tak berciuman padahal baru tadi pagi mereka…

Suara percakapan yang sayup-sayup mendekat membuat Sehun terperanjat. Dengan secepat kilat didorongnya Chanyeol dan dia setengah berlari masuk ke toilet perempuan.

Didengarnya suara Chanyeol dengan ramah membalas sapaan orang-orang yang baru datang ke toilet. Suaranya terdengar biasa saja bahkan sedikit kegembiraan kecil terselip di sana. Apakah lelaki itu geli atas sikapnya? Tapi Sehun mengernyit, apakah jantungnya berdetak keras karena ketakutan ataukah karena ciuman spontan yang tidak diduganya itu.

.

.

.

"Kau tampak senang," Kyungsoo menatap Chanyeol yang sedang memeriksa berkas kontrak kerja mereka dengan supplier baru.

Chanyeol mengalihkan tatapannya dari berkas di mejanya dan menatap Kyungsoo muram, "Bukannya itu bagus? Tapi kenapa aku mendengar nada mencela dari suaramu?"

Kyungsoo mengangkat bahu, "Aku cuma tak ingin kau mabuk kepayang dan melakukan hal-hal yang akan kau sesali nanti"

Tatapan Chanyeol berubah tajam, "Aku? Mabuk kepayang? Apa kau sedang bercanda?"

"Bukan begitu maksudku, tapi sepertinya kau agak berubah. Kau tahu, agak tidak fokus, bahkan kata sekretarismu tadi pagi kau terlambat, pertama kalinya, kenapa?"

"Dan kau kira itu karena kau mabuk kepayang pada Sehun, begitu? Baik! Memang aku terlambat karena terlalu asyik bercinta dengan Sehun, lalu kenapa? Perusahaan ini sebagian besar milikku. Apakah seorang pemilik tidak diperbolehkan terlambat? Toh keterlambatanku tidak merugikan perusahaan ini.."

"Chanyeol..", Kyungsoo berusaha meredakan emosi Chanyeol, "Aku tidak bermaksud membuatmu marah, aku hanya mencemaskanmu"

Sejenak Chanyeol tidak berkata-kata. Tatapannya menyala-nyala. Matanya bagaikan api biru yang membakar. Tapi kemudian dia berhasil mengendalikan emosinya. Dihelanya nafas keras-keras.

"Kau benar. Maafkan aku Kyungsoo.."

Sebelum Kyungsoo dapat menjawab, ponsel Chanyeol berdering. Chanyeol meliriknya dan dahinya berkerut mellihat siapa yang meneleponnya.

"Ada apa Baekhyun?"

Mendengar nama Baekhyun disebut, Kyungsoo langsung berdiri dan memberi isyarat berpamitan pada Chanyeol. Chanyeol mengangguk mempersilahkan dan Kyungsoo berjalan keluar ruangan.

Di seberang, suara Baekhyun yang lembut dan elegan terdengar mengalun, "Aku bertanya-tanya kenapa kau tidak menghubungiku, sayang? Sabtu kemarin kau mendadak membatalkan acara makan malam kita, dan kemudian aku sama sekali tak bisa menemukanmu. Apakah ada pekerjaan mendadak yang menyulitkanmu?"

Wajah Chanyeol berubah dingin. Dia sama sekali tidak pernah menjalin komitmen dengan Baekhyun. Mereka diperkenalkan pada suatu acara makan malam. Setelah itu Baekhyun menghubunginya, mengajak makan malam berdua karena ingin mengenal lebih dekat. Chanyeol tidak menolaknya. Baginya Baekhyun cukup cantik dan saat wanita itu mendekatinya, kenapa tidak? Pertemuan mereka berlanjut ke pertemuan-pertemuan berikutnya. Tapi di saat awal Chanyeol sudah menegaskan kepada Baekhyun bahwa hubungan yang mereka jalin adalah hubungan tanpa ikatan. Saat Baekhyun mengundangnya ke tempat tidurnya pun Chanyeol sudah menegaskan itu dia lakukan tanpa ikatan dan tanpa cinta.

Tapi sekarang Baekhyun sepertinya besar kepala karena Chanyeol saat itu tidak dekat dengan wanita lain selain dirinya. Dalam otaknya dia mengira bahwa dirinya telah berhasil menaklukkan Chanyeol dan membuat lelaki itu setia padanya. Dia tidak tahu bahwa saat itu pikiran Chanyeol sedang terpaku untuk mendapatkan wanita lain – Sehun.

Sekarang Chanyeol merasa muak dengan tingkah Baekhyun yang bertindak seolah-olah mereka sepasang kekasih, yang harus selalu mengetahui kegiatan Chanyeol dan merasa berhak mengatur-ngatur Chanyeol.

"Sayangku, Chanyeol? Kau masih di sana?"

"Baekhyun, maafkan aku sedang sibuk sekali,"

Terdengar helaan nafas dramatis di sana. Sudah pasti wanita ini tidak akan menyerah. Dia terbiasa dikejar-kejar dan dipuja lelaki. Penolakan hanya membuatnya lebih gigih mengejar.

"Begini sayang, aku ada undangan pesta di rumah Jongdae. Kau tahu kan pelukis terkenal itu? Dia mengadakan pesta di pembukaan pameran lukisannya. Aku belum punya pasangan untuk datang ke sana. Kau mau kan menemaniku?"

Chanyeol menghela nafas keras, "Baekhyun, sudah ku bilang aku sibuk. Aku tak bisa menemanimu ke pesta manapun. Lebih baik kau ajak kekasihmu atau laki-laki lain. Pasti mereka dengan senang hati akan menemanimu"

"Tapi Chanyeol, aku mencintaimu dan aku ingin kau…"

"Aku bukan kekasihmu Baekhyun, dan tak akan pernah. Ingat itu. Jadi jangan meminta macam-macam dariku, oke?!" Chanyeol langsung menyela dengan kesal.

"Oke, oke!" Baekhyun setengah menjerit, "Kau sudah pernah mengatakan itu berulang kali padaku, tapi tidakkah kebersamaan kita selama ini…"

"Baekhyun, aku sibuk. Maaf!" Chanyeol langsung menutup percakapan, menyudahinyna karena dia yakin Baekhyun tidak akan menyerah dengan segera.

.

oOo

.

Sehun baru saja membuka pintu apartemen ketika telponnya berdering, dia segera mengangkatnya dan langsung terdengar suara Chanyeol di seberang sana.

"Kau suka masakan Cina?"

"Hah?" Sehun terperangah mendengar sapaan pertama Chanyeol yang tanpa basa-basi. Baru ketika Chanyeol mengulang pertanyaannya dia mengerti dan tanpa sadar mengangguk.

"Sehun..?"

Mendengar pertanyaan Chanyeol, Sehun baru sadar kalau dari tadi dia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Eh.. iya..iya.."

"Oke. Kalau begitu jangan memasak malam ini. Ku bawakan dua porsi untuk kita"

Telepon ditutup. Meninggalkan Sehun yang masih terperangah.

Satu jam kemudian, ketika Sehun menyeduh kopi, Chanyeol datang langsung ke dapur, masih mengenakan jas resminya tapi dengan dasi yang sudah dikendorkan. Dia meletakkan kantong kertas berisi makanan yang masih panas berlogokan nama hotel bintang lima.

"Tadi ada undangan pertemuan dengan klien di sana, hanya minum kopi, tapi aku lalu ingat kalau masakan Cina di hotel ini terkenal enaknya dan aku ingat dirimu,"

Chanyeol mengedipkan sebelah matanya, "Siapkan ya.. aku mandi dulu"

Dengan langkah anggun Chanyeol membalikkan badan menuju kamar.

Sehun mengatur masakan berbau harum itu pada piring saji sambil mengatur poci kopi di nampan untuk Chanyeol. Untuk dirinya, dia menyeduh secangkir teh.

Chanyeol muncul di dapur setengah jam kemudian dengan piyama sutra hitam lalu duduk di kursi di meja dapur.

"Aku lapar sekali, tadi jalanan macet.."

Sehun duduk di hadapan Chanyeol, memperhatikan lelaki itu mulai menyantap hidangannya dengan penuh minat.

"Tadi di pertemuan tidak ada makan malam?" setahu Sehun pertemuan bisnis di hotel seperti itu selalu disertai dengan jamuan makan malam.

"Ada, tapi aku menolaknya. Hanya minum kopi tadi" Chanyeol menatap Sehun dengan tiba-tiba hingga Sehun kaget. "Kenapa kau tidak makan? ayo.. enak loh"

Dengan gugup Sehun menyantap makanannya. Memang enak sekali, gumam Sehun pada suapan pertama. Tanpa sadar dia makan dengan lahap dan baru berhenti ketika menyadari Chanyeol menatapnya geli. Pipinya langsung bersemu merah, Chanyeol langsung terkekeh geli.

Sehun baru mengetahui kepribadian Chanyeol yang seperti ini, santai dan penuh tawa. Berbeda sekali dengan apa yang ditampilkannya di kantor. Selesai makan seperti biasa Chanyeol minta ditemani saat mengerjakan tugas kantornya. Lelaki itu tampak serius menghadapi laptopnya sambil sesekali menyesap kopi. Sementara Sehun menyibukkan diri dengan menonton channel masak memasak di TV kabel. Benaknya berkecamuk, apakah Chanyeol akan bercinta dengannya lagi? Bodoh! Tentu saja, kalau bukan untuk itu buat apa lelaki itu menginap di sini?

"Kau bisa memasak yang seperti itu?" suara celetukan Chanyeol hampir membuat Sehun terlonjak karena kaget.

Sehun menatap ke arah Chanyeol. Lelaki itu sudah bersandar di sofa dengan santai menyesap kopinya sambil menatap televisi. Laptopnya sudah tertutup dan berkas-berkasnya sudah tersusun rapi. Astaga, berapa lama tadi dia melamun? Sudah berapa lama Chanyeol menyelesaikan pekerjaannya? Dengan buru-buru Sehun menoleh ke televisi, adegan di sana menampilkan cara memasak sup jagung dengan berbagai modifikasinya.

"Bisa.. aku pernah membuatnya meski tidak persis seperti itu"

Chanyeol tersenyum, "Aku jadi ingat saat aku sakit sewaktu kecil dulu. Ibuku selalu membuatkanku sup jagung. Tidak ada yang mengalahkan rasa sup buatannya"

Sehun ikut tersenyum mengenang, "Ibuku dulu membuatkanku bubur ayam. Rasanya tidak enak hingga aku selalu ingin memuntahkannya"

Chanyeol tertawa geli mendengarnya.

"Aku belum pernah menemui wanita sepertimu sebelumnya" gumamnya dalam tawa.

Sehun menoleh pada Chanyeol dengan bingung, "Wanita sepertiku?"

"Polos, jujur, dan tidak berusaha memanipulasiku" senyum Chanyeol berubah sensual, "dan masih bisa tersipu sampai memerah di sekujur kulitnya, padahal sudah berkali-kali ku sentuh.."

Kali ini Sehun hampir tersedak tehnya. Dengan cepat diletakkannya cangkirnya dan ditatapnya Chanyeol dengan waspada. Lelaki itu juga sedang menyesap kopinya tapi matanya yang tajam itu menatap serius pada Sehun.

"Kau seperti kelinci yang terjebak ketakutan," gumam Chanyeol sambil menyipitkan matanya. "Apakah cara bercintaku menyakitimu?"

Pipi Sehun langsung memerah mendengar pertanyaan Chanyeol yang blak-blakan itu.

"Ti…tidak, bukan begitu..saya.. saya hanya belum.. terbiasa.."

Sehun menelan ludah ketika Chanyeol beranjak dari sofanya dan berdiri di depan Sehun, lalu menarik Sehun berdiri dan langsung mencium bibirnya dengan lembut.

"Kalau begitu, tidak ada yang bisa ku lakukan selain membuatmu terbiasa bukan?" suara Chanyeol berubah serak. Lalu dengan cepat mengangkat Sehun dan membawanya ke kamar.

.

oOo

.

Jam dua pagi, ketika Chanyeol terbangun dan menyadari ada tubuh hangat dalam pelukannya. Sehun berbaring meringkuk di dadanya, tubuhnya begitu mungil hingga Chanyeol merasa bisa meremukkannya dalam sekejap kalau dia mau.

Damn! Kadangkala karena Sehun begitu mungilnya jika dibandingkan dengan tubuhnya yang tinggi besar, Chanyeol seperti merasa sedang melakukan pelecehan seksual pada anak di bawah umur. Tanpa sadar tangan Chanyeol mengelus punggung polos Sehun, dan dalam tidurnya, Sehun bergumam tidak jelas lalu meringkuk semakin rapat ke dada Chanyeol.

Tidak! Mungkin ukuran tubuhnya seperti anak-anak, tapi tubuhnya benar-benar tubuh wanita dewasa. Chanyeol tidak pernah merasa begitu bergairah sekaligus begitu terpuaskan selain dengan Sehun. tubuh mungil itu telah memberikan kepuasan yang sangat dalam bagi Chanyeol.

"Aku mungkin tak akan pernah melepaskanmu," gumam Chanyeol di kegelapan, "Kau milikku Sehun"

Seolah mendengar ancaman Chanyeol di alam bawah sadarnya, alis Sehun berkerut dan menggumam tak jelas. Chanyeol tertawa geli melihatnya. Lalu dikecupnya dahi Sehun dengan lembut. Anak kecil ini benar-benar tak terduga. Tidak disangka dia akan menyerah di pelukan gadis seperti ini.

"Lu.. han.."

Chanyeol langsung menoleh secepat kilat ke arah Sehun. Apa?! Tadi gadis itu bilang apa?!

"Luhan oppa"

Kali ini gumaman Sehun terdengar lebih jelas, bahkan Chanyeol melihat ada air mata di sudut matanya. Rahang Chanyeol menegang karena marah. Siapa lelaki yang disebut Sehun tadi? Selama ini Sehun tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, dia bahkan masih perawan!

Dengan gusar Chanyeol menghapus air mata di sudut mata Sehun lalu mengguncang tubuh Sehun pelan. Dan mata lebar yang polos itu terbuka menatap Chanyeol dengan bingung karena dibangunkan tiba-tiba.

"Berani-beraninya kau!" desis Chanyeol dengan tatapan membara, "Berani-beraninya kau menyebut nama lelaki lain dan menangis untuknya di atas ranjangku!"

Sehun benar-benar tidak siap ketika Chanyeol menyerangnya dengan cumbuan yang sangat hangat dan menggelora. Kali ini Chanyeol berbeda dengan biasanya, dia seperti..seperti membara, seolah tidak ditahan lagi, ada apa? Ada apa sebenarnya?

Tapi Sehun sudah tidak dapat berpikir lagi karena Chanyeol sudah menenggelamkan kesadarannya dengan cumbuan dan belaian jemarinya yang sangat ahli. Sungguh nikmat..dan Sehun akhirnya menyerah dalam pelukan Chanyeol.


TBC


moga para readers kaga bosen yee sama tingkah chanyeol yg kelewat mesum plus ga bisa ngontrol hormonnya di tiap chapter wkwkwk

jangan kawatir..sehun baik2 aja kok, sehun setrong hahahaha

jadi ya udin yee..author tunggu celoteh2annya..tengkyu