CHAPTER 8

.

.

.

Paginya dia terbangun dengan kondisi demam yang lebih parah. Sepertinya pertahanan tubuhnya sedang berperang melawan virus yang menyerang tubuhnya. Chanyeol sedang mengenakan dasinya, tapi dia segera menghampiri Sehun yang mengerang karena panas tubuhnya tak tertahankan.

Dengan cemas, dia meletakkan tangannya di dahi Sehun. Panas sekali! Dengan cepat dia meraih ponselnya dan memencet nomor Junmyeon. Dijelaskannya secara terperinci tentang kondisi Sehun, lalu diletakkannya termometer di tubuh Sehun sesuai instruksi Junmyeon.

"39 derajat!" Chanyeol berteriak tanpa sadar, "Junmyeon noona! Dia panas sekali! Kenapa obat yang kau berikan kemarin tidak membuat kondisinya membaik?!"

Didengarnya instruksi-instruksi Junmyeon dari seberang sana, "Baik! Akan ku minumkan lagi. Apa? Seka seluruh tubuhnya dengan air? oke. Kapan kau bisa ke sini untuk mengecek kondisinya? Aku takut dia harus di bawa ke rumah sakit. Baik.. baik, ku tunggu.."

Chanyeol mengakhiri pembicaran, lalu memencet nomor-nomor lain. Menelepon Kyungsoo dan jajaran direksinya. Lalu memberikan serentetan instruksi pekerjaan sebelum menutup telepon.

Dengan pelan dilonggarkan dasinya, dan digulungnya lengan kemejanya, lalu berusaha mengguncang tubuh Sehun, "Bangun Sehun, kau harus mandi, badanmu panas sekali.."

Jawaban Sehun hanya berupa erangan tak jelas dan seperti kesakitan. Tentu saja gadis ini badannya sangat panas. Chanyeol melepas kancing piyama Sehun pelan-pelan lalu melepas piyama itu sampai Sehun telanjang. Kulit gadis itu memerah karena suhu tubuhnya yang panas. Dengan hati-hati dia mengangkat tubuh Sehun ke kamar mandi, meletakkannya di bathub, lalu menyalakan keran air.

Tubuh Sehun langsung berjingkat ketika air mengenai tubuhnya, tapi Chanyeol menahan.

"Dingin.." erang Sehun dalam kondisi setengah sadar.

"Tidak apa-apa. Tahan..ini sudah hangat. Nanti kau akan ku selimuti.." bujuk Chanyeol lembut.

Setelah selesai Chanyeol mengeringkan tubuh Sehun lalu memakaikan piyamanya yang lain untuknya, dan mengangkat Sehun kembali ke tempat tidur. Lalu menyelimutinya dengan selimut tebal. Setelah itu dia memaksa Sehun meminum obat yang rasanya pahit dan dengan lembut meminumkan air untuknya.

Dalam kondisi setengah sadar, Sehun mengamati keadaan Chanyeol. kemejanya setengah basah dengan dasi yang sudah dilepas dan beberapa kancing yang terbuka sementara jasnya tergeletak begitu saja di sofa.

"Kau.. tidak.. ke.. kantor?" tanya Sehun lemah.

Chanyeol sedang membuka kancing kemeja dan melepaskan kemejanya yang basah menoleh dan tersenyum tipis, "Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini sendirian?"

"A.. aku tidak.. mau.. merepotkanmu," gumam Sehun lagi, "I..ni cuma… demam ..biasa..nanti.. ju..ga sembuh"

Chanyeol mengganti kemejanya dengan T-shirt santai lalu duduk di tepi ranjang.

"Kau sekarang milikku, Sehun. Kau tanggung jawabku. Kalau terjadi apa-apa denganmu, aku juga yang akan kesusahan, bukan?" gumamnya lembut tapi penuh makna.

Wajah Sehun memerah dan memalingkan wajah. Tapi itu membuat Chanyeol tidak dapat menahan diri. Diraihnya dagu Sehun menghadapnya. Tubuhnya setengah menindih tubuh Sehun, lalu dilumatnya bibir Sehun dengan dalam dan penuh gairah. Nafas mereka menjadi panas. Dan Chanyeol hampir kehilangan kendali diri, dengan sekuat tenaga diangkatnya bibirnya, nafasnya terengah-engah. Tubuhnya menegang, berteriak ingin dipuaskan, tapi Chanyeol menahan diri.

Demi Tuhan! Gadis ini sedang sakit!

Sehun merasakan gairah Chanyeol yang bangkit. Semalam lelaki ini menahan diri untuk tidak menyentuhnya, padahal Sehun tahu Chanyeol punya kebutuhan fisik yang sangat besar. Melihat lelaki ini menahan diri sampai menggertakkan gigi menyentuh hati Sehun. Tangannya menyentuh pipi Chanyeol. Tak disangka Chanyeol langsung memejamkan mata menempelkan pipinya.

"Tidak apa-apa," gumam Sehun lembut.

Mata itu terbuka bagaikan api biru yang menyala-nyala, "Kau sedang sakit!"

Sehun tersenyum lalu merangkulkan lengannya ke leher Chanyeol, "Tidak apa-apa.."

Dan Chanyeol menyerah pada gairahnya. Sambil mengerang dilumatnya bibir Sehun lagi, dan mereka pun tenggelam dalam gairah yang panas. Panas tubuh Sehun karena demam menyatu dengan panas tubuh Chanyeol karena gairah. Tubuh mereka merindukan kenikmatan itu, kenikmatan ketika tubuh Sehun yang selembut sutra melingkupinya, meremas kejantanannya, membuatnya melayang.

Chanyeol tidak pernah kehilangan kontrol sebelumnya. dia tidak pernah tidak bisa menahan dirinya untuk bercinta dengan seorang perempuan. Tidak pernah sampai dia bertemu Sehun. Gadis mungil ini mejungkirbalikkan dunianya. Mengancamnya akan kehilangan kendali diri. Dan Chanyeol tahu dia sudah tidak bisa melepaskan dirinya lagi.

.

.

.

Julukan bajingan menjijikkan saja belum pantas untukku. Chanyeol merenung sambil menatap Sehun yang terbaring telanjang, tertidur pulas berbantalkan lengannya. Obatnya mungkin sudah bereaksi, atau dia kelelahan gara-gara perbuatannya. Dasar bajingan! Chanyeol mengutuk dirinya sendiri. Tega-teganya dia memuaskan nafsunya atas tubuh Sehun yang sedang sakit.

Tapi kelembutan Sehun saat membisikkan kalimat 'tidak apa-apa' benar-benar membuatnya lepas kendali. Chanyeol menggertakkan giginya, dia tidak boleh lepas kendali lagi! Dengan lembut diletakkannya kepala Sehun di bantal, dan diselimutinya tubuh telanjang Sehun dengan selimut tebal. Saat itulah bel apartemennya berbunyi. Chanyeol mengernyit lalu meraih jubah tidurnya yang tersampir di kursi.

Ketika melihat dari lubang di atas pintu, dia melihat Junmyeon dan Kyungsoo berdiri di sana. Dengan enggan dia membuka pintu apartemennya dan berkacak pinggang di pintu yang terbuka.

"Kenapa kalian bisa datang berdua di sini?" tanyanya curiga.

Junmyeon mengangkat alisnya, "Sungguh penyambutan tamu yang tidak sopan. Kau kan yang memintaku datang.."

Chanyeol menatap Junmyeon sekilas lalu menatap Kyungsoo yang sedang tersenyum.

"Dan kau kenapa kemari?"

Kyungsoo hanya menunjukkan setumpuk berkas kepada Chanyeol.

Sambil menarik nafas panjang, Chanyeol membuka pintu lebar dan mempersilahkan masuk.

"Silahkan masuk kalau begitu. Kyungsoo, ijinkan aku berganti pakaian yang pantas sebelum melihat berkas-berkas itu. Oh ya, Junmyeon noona..Sehun masih tidur.."

"Tidak hanya tidur ku rasa.." Junmyeon memandang penampilan Chanyeol yang acak-acakan dengan tatapan mencela.

Dan ketika Chanyeol tidak membantah melainkan hanya tersenyum kecut, matanya membelalak tak percaya.

"Maksudmu.. kau..?!" Junmyeon kehilangan kata-kata, "Astaga! Chanyeol tidak kusangka kau menjadi maniak seks separah itu sampai tega-teganya meminta gadis yang sedang sakit untuk melayanimu!" serunya blak-blakan, "Mana dia? Aku harusnya merekomendasikan dia dirawat di rumah sakit, bukan di sini. Kalau di sini bersamamu sepertinya dia bukannya sembuh malah tambah parah!"

Kyungsoo tampak tak peduli dengan pertengkaran dua orang di depannya. Dia sibuk melihat-lihat ruangan apartemen itu.

"Wah, apartemen yang bagus..mungkin aku bisa beli satu di sini" gumamnya santai.

Chanyeol melotot ke arahnya, lalu dengan sebal melangkah ke kamar, Junmyeon mengikutinya.

Sehun sedang tertidur pulas saat Junmyeon mendekat ke arahnya, dan menyentuh dahinya.

"Panasnya seperti api. Mungkin aku harus membawa sampel darahnya ke lab untuk memastikan dia tidak terkena demam berdarah.."

Junmyeon mengernyit menyadari Sehun telanjang di balik selimutnya, "Aku masih tidak habis pikir kau menidurinya saat seperti ini. Aku tak tahu dia siapamu Chanyeol, setahuku kau masih berpacaran dengan artis cantik itu dan sekarang tiba-tiba kau sudah tinggal serumah dengan karyawanmu sendiri.."

"Tidak tinggal serumah. Aku tinggal di rumahku sendiri. Apartemen ini ku belikan untuknya"

Junmyeon mengangkat alisnya. "Oh ya? Kalau begitu berapa malam kau di rumahmu sendiri dan berapa lama kau tidur di sini?" dengan cekatan, Junmyeon memeriksa kondisi Sehun dan menyiapkan suntikan dari tas kerjanya untuk mengambil sampel darah Sehun.

Sementara itu Chanyeol kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Junmyeon.

"Kau benar.." Chanyeol mengangkat bahu, "Sejak tidur bersamanya pertama kali, aku tidak pernah membiarkannya tidur sendirian lagi tiap malam"

"Bagaimana ceritanya kalian bisa menjalin hubungan? Seingatku tingkat peluang pertemuan antara sang CEO dan staf biasa sangat kecil. Sebenarnya sampai sekarang pun aku masih bertanya-tanya, Chanyeol. Kyungsoo juga tidak mau menjelaskan apapun, ku kira…"

"Bukan urusanmu, noona. Tidak ada yang aneh dalam hubungan ini. Dua orang setuju untuk saling memenuhi kebutuhan, itu saja. Dan aku menolak menjawab apapun kepadamu" Chanyeol menjawab dengan tajam.

Junmyeon mengangkat bahu lalu melanjutkan memeriksa Sehun lalu menuliskan resep, "Diagnosa awal hanya flu biasa. Tapi lebih lanjut menunggu hasil tes darah. Aku akan menuliskan resep obat dan antibiotiknya. Tiga hari sekali Chanyeol, dan ingat, dia harus istirahat. Tahan nafsumu, jika kau tidak bisa menahannya, cari perempuan lain!"

.

.

.

Sehun terbangun dengan rasa mual dan sakit di sekujur tubuhnya. Ketika dia membuka matanya, dia melihat perempuan yang sangat familiar duduk di ranjang sebelahnya.

"Dokter Junmyeon?"

Junmyeon tersenyum, "Ya, Chanyeol memintaku datang memeriksamu. Dia dan Kyungsoo, para lelaki sedang membicarakan masalah bisnis di ruang depan dan aku memutuskan menunggumu sadar di sini, bagaimana kondisimu?"

Sehun berusaha keras mengeluarkan suaranya, "Mual.. panas.." gumamnya serak.

"Kemari, aku akan membantumu meminum obat", dengan cekatan Junmyeon membantu Sehun meminumkan obatnya, lalu membaringkan Sehun lagi dan merapikan selimutnya. Keduanya menyadari bahwa Sehun telanjang di balik selimutnya.

Wajah Sehun langsung merah padam.

Junmyeon menatap Sehun penuh pengertian.

"Dia memang kadang sangat egois. Kau tahu, terbiasa menjadi bos sejak dia lahir. Dia bisa dibilang masih keturunan dari keluarga berpengaruh di Korea. Sejak dulu dia sudah terbiasa keinginannya dipenuhi.."

Junmyeon mengedipkan sebelah matanya, "Kau tahu, saat pertama mengenalnya, aku sangat tidak menyukainya"

Sehun tersenyum malu-malu, "Saya juga.." jawabnya pelan.

Junmyeon tertawa mendengarnya, "Tapi walaupun begitu kau tidak boleh menuruti kemauannya seperti itu. Kau berhak menolak. Kau tahu itu kan?"

Sebelum Sehun sempat menjawab, Chanyeol yang entah kapan sudah berada di ruangan itu berdehem keras, dengan sengaja.

"Noona.. Bukannya kau harus segera membawa sampel darah itu ke lab?" gumam Chanyeol datar, tapi matanya memperingatkan.

Junmyeon tersenyum miring, lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Sehun.

"Sepertinya aku sudah diusir. Obatnya ada di meja Chanyeol beserta cara pakai. Ku tinggalkan resep kalau-kalau obatnya habis. Besok aku akan mengabarimu tentang hasil labnya" Junmyeon mengangguk pada Sehun, mengangkat tasnya lalu berjalan pergi.

Pada saat berhadapan dengan Chanyeol di pintu keluar, dia menatap tajam, "Ingat Chanyeol, dia harus beristirahat kalau mau sembuh," gumamnya tegas sebelum melangkah pergi.

Chanyeol menatap pintu yang tertutup di belakangnya lalu mengangkat bahu dan tersenyum pada Sehun, "Kadang-kadang aku merasa dia masih membenciku sampai sekarang"

Sehun tersenyum lemah pada Chanyeol yang menuang segelas air dari teko di meja samping ranjang.

"Apa kau haus? Ayo, aku akan membantumu minum.."

Dengan cekatan Chanyeol membantu Sehun duduk, beberapa kali selimut melorot dari dadanya hingga Sehun harus mencengkeramnya, tapi Chanyeol mengabaikannya. Sama sekali tidak melirik ketelanjangan Sehun. Rupanya laki-laki itu bertekad untuk membiarkan Sehun beristirahat.

Setelah membantunya minum, Chanyeol menyentuh dahi Sehun dengan lembut, dan mengernyit karena badannya sangat panas.

"Maaf," Sehun tiba-tiba merasa bersalah. Dia jarang sakit, tapi kali ini sekalinya sakit sangat parah sehingga harus bergantung pada belas kasihan Chanyeol.

Wajah Chanyeol melembut, "Minta maaf karena sakit?", Chanyeol menarik nafas,"Kau benar-benar gadis aneh". Chanyeol tersenyum miris, "Oke, obat itu akan membuatmu mengantuk. Aku akan memesan makanan, jadi begitu bangun kau bisa makan"

Sehun mengernyit mendengar kata makan karena dia merasa sangat mual. Chanyeol menatap Sehun dengan tatapan tegas seperti seorang ayah memarahi anaknya.

"Kau harus makan," gumamnya tegas, "Tidurlah.." lalu lelaki itu berbalik dan melangkah keluar kamar.

Sehun meringkuk dibalik selimut. Obat itu membuatnya nyaman dan mengantuk, sangat mengantuk.

.

.

.

Chanyeol duduk di tepi ranjang dan mengamati Sehun. Panasnya sudah agak turun dan gadis itu tidur seperti bayi. Entah kenapa dan sejak kapan dia merasa kalau gadis kecil ini menjadi begitu penting baginya. Mungkin karena kedekatan mereka selama ini. Chanyeol tidak pernah membiarkan orang lain sedekat dengan dirinya.

Tiba-tiba bunyi getaran di samping ranjang mengejutkan Chanyeol. Ponsel kecil itu bergetar dan Chanyeol mengernyitkan keningnya. Ponsel milik Sehun? Dia baru pertama melihatnya, karena Sehun tak pernah menggunakannya di depannya. Dan yang terlintas pertama kali di otak Chanyeol ketika melihat ponsel itu adalah dia harus membelikan Sehun ponsel yang lebih baik.

Ponsel itu terus bergetar. Rupanya penelepon di seberang sana tidak mau menyerah. Chanyeol meraih ponsel itu karena tidak mau getarannya mengganggu Sehun yang sedang tertidur lelap.

Suster Nana? Chanyeol mengernyit membaca nama penelepon di ponsel itu sebelum mengangkatnya.

"Sehun?" suara di seberang telepon langsung menyahut cemas, "Maafkan aku karena menelepon. Aku cemas karena kau sudah dua hari tidak kemari dan tidak ada kabar sama sekali darimu. Padahal kau tidak pernah melewatkan satu haripun. Apakah kau baik-baik saja?"

Jeda sejenak. Chanyeol ragu untuk bersuara, tetapi kemudian dia berbicara, "Maaf, Sehun sedang tidur.."

Ketika Chanyeol besuara, dia mendengar terkesiap di seberang sana. Sepertinya lawan bicaranya sangat terkejut mendengar dia yang menyahut.

"Oh, maaf.." suster Nana tampak kehilangan kata-kata.

"Sehun sedang sakit. Dua hari ini dia demam tinggi. Mungkin besok saya akan memberitahunya kalau Anda menelepon.." lanjut Chanyeol tenang dan tanpa memperkenalkan dirinya. Tentu saja dia tidak berniat memperkenalkan dirinya.

"Oh baiklah. Terima kasih.." suara di seberang terdengar sangat gugup. Lalu telepon ditutup dengan begitu cepat sehingga Chanyeol mengernyit.

Ada yang aneh. Wanita di seberang itu memang kaget mendengar suaranya, tapi tidak ada kesan bertanya-tanya mendengar suara Chanyeol yang menjawab telepon. Apakah wanita di seberang itu mengetahui siapa Chanyeol? Dan apa yang dimaksud dengan datang setiap hari dan tidak pernah melewatkan satu hari pun? Datang ke mana? Untuk apa?

.

oOo

.

Junmyeon sedang duduk di bar bersama dengan Kyungsoo, "Menurutmu apakah bos kita itu sudah main hati?"

Kyungsoo menyesap minumannya, "Apa maksudmu?"

"Gadis kecil itu.. Sehun"

Hening sejenak dan Kyungsoo menyesap minumannya lagi.

"Menurutku Chanyeol sudah gila," gumamnya dengan nada tidak setuju, "Dia sudah bertindak di luar kehati-hatiannya yang biasa menyangkut gadis itu"

Junmyeon menolehkan kepalanya ke Kyungsoo dengan penuh rasa ingin tahu, "Sebenarnya aku sangat penasaran dengan hubungan mereka. Menurutku Chanyeol menyimpan perasaan yang dalam.."

"Ralat. Nafsu yang dalam," sela Kyungsoo, "Chanyeol sudah merasakan nafsu yang dalam ketika melihat gadis itu pertama kalinya dan menginginkannya. Dan gadis itu—Sehun, dia memanfaatkan itu dengan menjual dirinya kepada Chanyeol," gumamnya jijik.

Junmyeon mengernyit lagi, "Sehun tidak kelihatan seperti gadis yang sengaja menjual dirinya"

"Dia menjual dirinya seharga 300 juta. Aku sendiri yang membuatkan kontrak perjanjian jual beli konyol itu. Setelah itu Chanyeol masih membelikan apartemen untuk tempat dia tinggal, dan bahkan berencana melunasi hutang gadis itu yang hampir 40 juta di perusahaan. Aku sudah menasehatinya kalau dia mulai berlebihan, tapi Chanyeol tidak peduli," gumam Kyungsoo frustasi.

Junmyeon merenung dengan serius. Tiga ratus juta? Itu uang yang tidak sedikit untuk permpuan seumuran Sehun, dan gadis itu juga berhutang 40 juta di perusahaan. Sungguh pengeluaran fantastis untuk gadis dengan penampilan sederhana seperti Sehun.

"Menurutmu untuk apa uang itu? Kalau untuk bermewah-mewah sepertinya tidak mungkin. Gadis itu tinggal di tempat kos sederhana. Pakaian dan barang-barangnya tidak ada yang bermerk. Dia juga selalu naik kendaraan umum ke kantor," gumam Junmyeon pelan.

Kyungsoo menoleh dan mengangkat alisnya, "Untuk seorang dokter perusahaan tampaknya kau tahu banyak"

Junmyeon tertawa pelan. "Tentu saja. Aku banyak berhubungan dengan karyawan. Tampaknya kau tidak boleh terlalu berprasangka dulu pada Sehun," Junmyeon berubah serius. "Chanyeol bukan orang bodoh. Dia tidak akan membiarkan dirinya dimanfaatkan kecuali dia melakukannya dengan sukarela"

"Dia mabuk kepayang. Lelaki yang mabuk kepayang tidak akan menggunakan akal sehatnya, dan kalau hal itu mulai keterlaluan, aku sendiri yang akan memperingatkan Sehun" gumam Kyungsoo dengan penuh tekad.

Junmyeon diam saja, memahami betapa dalamnya rasa persahabatan antara Kyungsoo dan Chanyeol dan betapa Kyungsoo sangat ingin menjaga sahabatnya itu. Tapi ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Sesuatu tentang Sehun. Gadis itu terasa familiar tetapi Junmyeon tidak bisa mengingatnya. Kapan? Di mana?


TBC


jangan marahin chanyeol yaa kalo di chapter ini dia udah naena-in sehun lg wkwkwk.. toh jg udah dpt ijin dari sehun, lagian di sisi lain jg chanyeolnya ngerawat sehun banget

kira2 soal luhan apa akan segera terbongkar?

yg penasaran kapan luhan muncul dan kapan chanyeol akan tau soal luhan, tunggu aja yaa.. ga lama lagi kok hehe

apa beneran junmyeon tau soal siapa sehun? penasaran yaa.. wkwkwk