CHAPTER 10

.

.

.

Chanyeol marah, marah besar padanya. Sehun bisa merasakan dari suasana pagi itu ketika mereka bersiap-siap berangkat ke kantor. Semalaman Sehun tidak bisa tidur dan Sehun yakin Chanyeol tidak tidur karena dia bergerak dengan gelisah sepanjang malam.

Suasana tegang di waktu sarapan pagi itu terasa seperti kawat berduri yang direntangkan, siap putus dan melukainya. Ia tidak menyukai suasana seperti ini. Lebih baik Chanyeol meledak-ledak marah seperti kemarin. Setidaknya semua kemarahannya terlampiaskan, tidak seperti sekarang. Lelaki itu murka, tetapi menyimpannya sehingga membuat seluruh dirinya tegang dari ujung rambut sampai ujung kaki.

"Kita berangkat bersama." Desis Chanyeol setelah membanting serbet makanannya ke meja.

Tangan Sehun yang menyuapkan roti ke mulutnya, berhenti di tengah-tengah, "Apa?"

"Kita berangkat bersama-sama" ulang Chanyeol datar.

"Tapi…"

"Tidak ada tapi, Sehun!" sela Chanyeol kasar lalu berdiri dengan marah ke pintu, "Ayo cepat!"

Dengan gusar lelaki itu membukakan pintu mobil untuk Sehun dan membantingnya ketika Sehun sudah duduk di kursi. Tanpa dapat membantah, tanpa dapat memberikan perlawanan.

Sepanjang jalan, lelaki itu menyetir dengan sangat kasar seolah melampiaskan kemarahannya. Sehun hanya duduk diam, tidak mau melakukan apapun yang dapat memancing kemarahan Chanyeol.

"Nanti kau pulang denganku! Kau dengar itu?! Kau datang ke ruanganku setelah jam kantor. Kita pulang bersama!" gumam Chanyeol tanpa mau dibantah ketika menurunkan Sehun di lobby kantor.

.

.

.

Hari ini berlalu amat lambat bagi Sehun. Perasaannya tidak enak. Sampai kapan Chanyeol akan marah padanya? Sampai kapan Chanyeol akan bersikap seperti ini kepadanya? Dia tahu dia bersalah, tapi dia kan sudah minta maaf. Lagipula kenapa permasalahan kecil semacam ini begitu dibesar-besarkan oleh Chanyeol?

Pemikiran itu masih berkecamuk di kepalanya ketika keluar dari lift yang mengantarkannya kr ruang pribadi CEO perusahaan. Sebenarnya Sehun tadi bermaksud pulang sendiri dan mampir ke rumah sakit menengok Luhan, memanfaatkan waktu bebasnya yang dijanjikan oleh Chanyeol pada waktu perjanjian awal mereka, tapi dengan ancaman Chanyeol tadi pagi, Sehun tidak punya pilihan lain selain menuruti permintaan Chanyeol untuk menemuinya di ruangannya sepulang kerja.

Meja sekretaris Chanyeol sudah kosong. Dengan pelan Sehun melangkah ke pintu besar ruangan Chanyeol, mengetuknya pelan.

"Masuk"

Sebuah suara mempersilahkannya dari dalam. Sehun masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ketika membalikkan badannya, dia terpaku. Bukan Chanyeol yang ada di sana, tapi Kyungsoo. Lelaki itu sedang duduk santai di sofa, menyesap segelas brandy, menatap Sehun dengan penilaian santai yang sedikit kurang ajar.

"Mr. Park menyuruh saya kesini jam pulang kantor," jelas Sehun.

Kyungsoo tersenyum, masih duduk di sofa sambil menatap brandy-nya yang tinggal seperempat gelas.

"Aku tahu. Chanyeol menyuruhku menunggumu di sini. Dia sedang menemui tamu penting dari Jepang di ruang meeting"

"Oh.."

Sehun tidak tahu harus berkata apa. Suasana terasa sangat canggung. Entah karena Sehun memang tidak kenal dekat dengan Kyungsoo, atau karena sikap santai palsu yang ditunjukkan Kyungsoo.

"Kalau begitu mungkin saya akan menunggu di luar saja.." gumam Sehun cepat, ingin segera meninggalkan ruangan itu.

"Bagaimana rasanya?"

Pertanyaan tiba-tiba dari Kyungsoo itu menghentikan gerakan tangan Sehun yang membuka gagang pintu.

"Apa?"

"Bagaimana rasanya menjadi wanita simpanan pengusaha kaya seperti Chanyeol?" Kyungsoo bangkit berdiri dari sofa dan menghampiri Sehun.

Sehun tidak suka mendengar nada melecehkan dalam suara Kyungsoo. Dia ingin segera keluar dari ruangan itu.

"Eh, mungkin saya harus menunggu di luar.." Sehun berhasil membuka pintu sedikit tapi dengan lengannya, Kyungsoo mendorong pintu itu hingga tertutup lagi.

"Aku bertanya padamu, tuan putri.." ulang Kyungsoo sinis.

Sehun menatap Kyungsoo tajam, "Saya tidak akan membiarkan Anda merendahkan saya," desisnya pelan.

Ucapan itu membuat Kyungsoo tertawa penuh penghinaan.

"Merendahkan katamu? Bukannya kau yang datang merangkak meminta dijadikan pelacur oleh Chanyeol?" ejeknya kasar lalu mencekal lengan Sehunt tak kalah kasar, tak peduli Sehun mulai meronta.

"Kau adalah wanita paling rendah, paling murahan yang pernah ku kenal. Kau mungkin berhasil merayu Chanyeol dengan tubuhmu," Kyungsoo menyeringai sinis, "Tak ku sangka Chanyeol bisa bertekuk lutut pada perempuan sepertimu. Tapi kau tentu sudah tahu kan? Chanyeol terbiasa dikelilingi perempuan-perempuan dewasa yang berpengalaman, jadi citra polos dan kekanakkanmu tentu saja menjadi hal baru yang menyegarkan untuknya"

"Anda salah! Saya tidak begitu!" Sehun berusaha menyela, berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Kyungsoo tapi genggaman lelaki itu seperti capit besi dan dari nafasnya yang berbau brandy, sepertinya lelaki itu setengah mabuk.

"Kau tidak bisa membohongiku pelacur cilik!" Kyungsoo menggeram pelan, "Meski dulu aku terpaksa membuatkan kontrak 300 juta yang konyol itu, jangan kita aku akan membiarkanmu menyetir Chanyeol untuk membuat kekonyolan lain yang merugikannya!"

"Anda salah paham!" Sehun setengah berteriak, semakin meronta dari cengkeraman Kyungsoo yang sangat keras.

"Kau pelacur cilik yang menjual tubuhmu seharga 300 juta.." Kyungsoo mulai merapat ke tubuh Sehun, "Aku mulai bertanya-tanya, apakah hargamu sepadan dengan pelayananmu?"

"Tidak! Lepaskan saya!" Sehun mulai berteriak membabi buta, berusaha melepaskan diri dari Kyungsoo yang semakin gelap mata.

Lelaki itu mencengkeramnya kuat, mendorongnya ke tembok dan berusaha menciumnya dengan kasar. Sehun meronta membabi buta, berusaha menghindari ciuman itu sekuat tenaga, memalingkan kepalanya seperti orang gila. Dia tidak mau disentuh Kyungsoo, dia tidak mau!

Chanyeol! Chanyeol.. tolong aku!

.

oOo

.

Junmyeon sedang duduk di ruang tamu rumahnya, merenung. Ada yang mengganjal pikirannya, terus mengganggu. Sesuatu yang diketahuinya sejak dulu tapi dilupakannya. Sesuatu tentang Sehun, dia merasa dia seharusnya mengetahui sesuatu tentang gadis itu, tapi apa?

Apa itu Junmyeon? Bukankah kau merasa sudah merasa mengenali gadis itu sebelumnya? sebelum gadis itu bekerja di perusahaan itu? Bukankah gadis itu terasa begitu familiar?

Dengan gelisah Junmyeon berdiri, melangkah ke depan lemari putih yang terpajang rapi di ruang tamunya. Sebenarnya dia punya firasat Sehun berhubungan dengan masa lalunya, masa lalu yang ingin dilupakannya karena terlalu pedih untuk diingatnya. Kenangan tentang almarhum suaminya, Yifan.

Dengan gemetar Junmyeon membuka laci lemari putih itu lalu mengeluarkan sebuah kotak putih yang tidak pernah disentuhnya sejak dua tahun lalu. Hati-hati dibukanya kotak itu dan dikeluarkan isinya, sebuah map tebal berisi berkas-berkas. Junmyeon duduk, menarik nafas panjang dan membuka map itu. Isinya adalah kliping, potongan berita tentang tragedi dua tahun lalu. Tragedi kecelakaan beruntun di jalan tol yang menewaskan Yifan.

Saat itu dalam kesedihannya, Junmyeon mengumpulkan semua berita yang memuat tentang tragedi itu, menjadikannya satu di dalam satu map besar, memasukkan ke kotak dan menyimpannya. Menyimpan bersama segenap kepedihan yang dia rasakan. Sekarang dia membuka lagi kotak kepedihan itu. Hatinya terasa nyeri, tangannya gemetar ketika membuka halaman demi halaman. Potongan artikel itu.

Sampai kemudian dia menemukan apa yang dia cari. Gambar sosok itu persis sama, meski terlihat muda, rapuh dan remuk redam, itu Sehun yang sama. Di gambar artikel itu, dia sedang menunduk mengenakan pakaian serba hitam di ruang tunggu sebuah rumah sakit.

'SELURUH KELUARGA TEWAS MENJADI KORBAN TABRAKAN BERUNTUN'

Begitu judul artikel itu. Di situ dijelaskan Sehun kehilangan kedua orang tuanya dan ditinggalkan sebatang kara sendirian. Sedangkan tunangannya, seorang pengacara bernama Luhan terbaring koma tak sadarkan diri.

Tunangan? Koma? Junmyeon membaca artikel itu dengan teliti lalu mengamati background rumah sakit pada gambar artikel Sehun itu. Dia tahu rumah sakit ini karena pernah praktek lapangan di sana beberapa tahun lalu. Dengan segera dia menelepon rumah sakit itu, menggunakan profesi dokternya untuk memperoleh info dari dokter-dokter yang dikenalnya. Junmyeon mencari informasi sebanyak-banyaknya, dan pada akhirnya menemukan kebenaran.

Kebenaran yang pasti akan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Bahkan matanya pun berkaca-kaca karena terharu. Tiba-tiba Junmyeon teringat akan kata-kata Kyungsoo ketika mereka makan siang bersama tadi, mengenai rencana lelaki itu untuk memberi Sehun pelajaran, malam ini.

Oh Tuhan! Dengan segera seolah tersadarkan, Junmyeon segera meraih dompet dan kunci mobilnya. Dia harus mencegah Kyungsoo melakukan apapun rencananya untuk memberi pelajaran pada Sehun. Kyungsoo salah paham dan apapun yang dilakukan lelaki itu, dia pasti akan menyesal begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya.

.

oOo

.

Tamu penting itu akhirnya pulang juga, beres sudah. Semua berjalan sesuai dengan keinginannya. Chanyeol mengacak rambutnya kesal. Kenapa dia tidak merasa lega? Kau tahu kenapa? Bisik suara hatinya. Ah ya, aku tahu kenapa. Chanyeol mengakuinya.

Sehun. Cukup satu nama yang mewakili segalanya. Satu nama yang sedari tadi menghantui pikirannya. Dia masih marah pada Sehun, marah besar. Tapi bahkan meskipun dia marah, dia tak ingin membuat Sehun sedih dengan kemarahannya. Chanyeol tersenyum sinis, menertawakan dirinya sendiri. Tanpa terasa gadis itu telah menjadi harta yang begitu berharga untuknya. Tidak pernah dia secemas itu untuk siapapun, seperti yang dia lakukan untuk Sehun kemarin malam.

Akuilah Park Chanyeol, kau menyayangi gadis itu! Suara hatinya menekannya lagi. Dan Chanyeol tidak membantahnya, dia sudah terlalu lelah membantahnya. Gadis itu dengan sifat polos, jujur dan kekanak-kanakannya telah menyentuh sisi hatinya yang tidak pernah diijinkan tersentuh oleh siapapun.

Sehun pasti sudah menunggunya di ruangannya. Tamu penting yang datang mendadak ini membuatnya terpaksa menghubungi Kyungsoo agar menungu di ruangannya kalau Sehun datang. Membayangkan Sehun sedang menunggunya membuat Chanyeol tergesa melangkah menaiki lift menuju lantai pribadinya.

Dengan tenang dia membuka pintu ruangannya. Pemandangan di depannya adalah pemandangan yang tidak disangkanya sekaligus yang paling tidak disukainya. Kyungsoo sedang berdiri menekan Sehun ke tembok, memeluknya erat dan menciumnya. Tubuh Sehun yang mungil tenggelam dalam pelukannya.

Ketika menyadari pintu terbuka, Kyungsoo mengangkat kepalanya dan menatap Chanyeol yang terpaku di pintu, membeku seperti batu.

"Oh, hai Chanyeol.." Kyungsoo tersenyum, mengusap bibirnya yang sedikit bengkak karena berciuman dengan kasar, "Aku menawar gadismu ini dengan harga beberapa juta dan dia bersedia menemaniku selama beberapa jam, boleh kan?"

Sehun yang masih berada dalam cengkeraman Kyungsoo menjadi pucat pasi mendengar fitnah Kyungsoo yang begitu kejam. Chanyeol tidak akan percaya kata-kata Kyungsoo kan? Chanyeol tidak akan percaya kan? Tapi ekspresi Chanyeol begitu susah dibaca. Lelaki itu seperti membeku.

"Dan kau tahu Chanyeol, kau memang benar-benar tidak rugi," Kyungsoo menyambung, menyeringai menghina Sehun, "Ciumannya lumayan bagus"

"Tidak!" Sehun akhirnya berhasil bersuara, mencoba membantah kata-kata Kyungsoo.

Suara Sehun berubah menjadi jeritan ketika dengan secepat kilat tanpa diduga, Chanyeol menerjang Kyungsoo. "Tidak! Ya Tuhan! Park Chanyeol!"

Chanyeol menarik lelaki itu dengan kasar dari Sehun lalu menyarangkan pukulan keras di rahang Kyungsoo kemudian di perutnya sampai Kyungsoo membungkuk menahan sakit. Tapi Chanyeol masih belum puas. Dia menyarangkan lagi pukulan telak bertubi-tubi ke semua bagian tubuh Kyungsoo tanpa memberinya kesempatan melawan.

"Park Chanyeol stop! Ku mohon.. kau bisa membunuhnya!" Sehun berteriak panik ketika Chanyeol menghajar Kyungsoo seperti kesetanan.

Dan terus menghajarnya tanpa henti, tidak peduli Kyungsoo sudah terkulai tanpa memberikan perlawanan. Aura membunuh memancar dari mata Chanyeol.

"Park Chanyeol!" Sehun menjerit sekuat tenaga berusaha mengembalikan akal sehat lelaki itu.

Kali ini berhasil. Chanyeol berhenti. Matanya menyala, nafasnya terengah-engah. Sedangkan kondisi Kyungsoo sungguh mengenaskan. Lelaki itu berbaring tak berdaya. Wajahnya penuh darah, mungkin hidungnya patah. Dan sepertinya dia tidak sadarkan diri.

"Astaga!" sebuah suara yang berasal dari pintu membuat Sehun dan Chanyeol menoleh bersamaan. Junmyeon berdiri disana, pucat pasi.

Seolah disadarkan, Chanyeol langsung berdiri menghampiri Sehun dengan bara kemarahan yang membuat Sehun beringsut menjauh. Lelaki itu tidak peduli, dengan kasar dia menarik lengan Sehun, setengah menyeretnya keluar ruangan.

"Sakit.." Sehun merintih karena perlakuan kasar Chanyeol, tapi lelaki itu tidak peduli. Seolah tidak mendengar apa yang diucapkan Sehun.

Junmyeon berusaha menghentikan langkah Chanyeol, "Kau harus mendengar penjelaskanku. Semua ini…"

"Diam!" teriakan Chanyeol yang menggelegar membuat suara Junmyeon tertelan kembali, "Kau urus saja bajingan itu sebelum dia mati kehabisan darah. Dan begitu dia sadar, katakan padanya dia dipecat!"

Chanyeol menggeram marah sambil menyeret Sehun menaiki lift, meninggalkan Junmyeon yang masih berdiri terpaku.

.

.

.

"Chanyeol~ssi! Semua yang Kyungso~ssi katakan itu bohong!" Sehun berusaha menjelaskan ketika mereka sampai di apartemen dan lelaki itu masih menggelandangnya dengan kasar.

Tubuh Sehun dihempaskan dengan sangat kasar ke tempat tidur.

"Dia bohong!" Sehun tersengal, putus asa mencoba meyakinkan Chanyeol.

"Kyungsoo tidak pernah berbohong padaku," jawab Chanyeol datar, tangannya bergerak membuka kancing bajunya.

"Dia bohong.. percayalah.." air mata mulai mengalir di sudut mata Sehun.

"Tidak ada untungnya bagi dia berbohong padaku"

"Ada!" jerit Sehun, "Dia membenciku, dia ingin menyingkirkanku..:

"Wah, kau pikir kau seberharga itu? Kau tidak lebih dari pelacur dengan tampilan tanpa dosa. Berapa dia membayarmu untuk sebuah ciuman? Sepuluh juta? Dua puluh juta? Kau pikir kau bisa mendapatkan uang keuntungan dari kami berdua?"

"Ku mohon Park Chanyeol, kau tahu dia berbohong. Ku mohon.. percayalah padaku.." Sehun mulai panik ketika Chanyeol melepas kemejanya, "Kenapa kau.. melepas pakaianmu?" dengan takut Sehun beringsut di ranjang mencoba sejauh mungkin dari Chanyeol.

"Yah..aku pernah bilang kan?" lelaki itu tersenyum kejam sambil mulai melepas ikat pinggangnya. Tatapan matanya tak lepas dari Sehun yang meringkuk ketakutan, "Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!" desis Chanyeol penuh penghinaan.


TBC


ternyata readers pada jahat yak ngarepin Luhan mati wkwkwkwk..

pada marah juga yak sama karakter Kyungsoo di sini? pasti makin kesel sama dia di chapter ini, kapan lagi dia dapet karakter yg nyebelin kek gitu hahaha

dan..udah bikin marahnya Chanyeol makin parah juga