CHAPTER 11
.
.
.
"Sakit.." Kyungsoo mengernyit ketika Junmyeon mengusap luka di bibirnya dengan kapas.
"Kau pantas mendapatkannya" gumam Junmyeon tanpa perasaan, malah semakin kasar mengusap luka itu.
Mereka baru pulang dari rumah sakit. Hidung Kyungsoo patah, dan tiga tulang rusuknya retak sehingga harus ditahan dengan perban. Belum lagi lebam di tubuh dan mukanya. Mata Kyungsoo sudah mulai bengkak membiru. Pukulan yang diberikan Chanyeol benar-benar brutal.
"Aku kan cuma membantu Chanyeol dengan menunjukkan padanya kalau perempuan yang dipeliharanya itu cuma pelacur kecil" Kyungsoo tampak kesusahan bicara, tapi ia masih membela diri.
"Jangan sebut dia pelacur! Kau mungkin lebih kotor darinya!" potong Junmyeon marah, melemparkan kapas yang di celup alkohol itu ke samping. "Kau sudah bertindak kejam dan gegabah pada Sehun. Astaga! Kau pasti akan menyesal begitu mengetahui semuanya.."
"Mengetahui apa?" kali ini Kyungsoo mulai cemas. Junmyeon tampak begitu marah sekaligus sedih. Bertahun-tahun dia mengenal Junmyeon, tak pernah wanita itu tampak begitu dikuasai emosi. Kecuali pada saat pemakaman Yifan.
"Aku mulai ketakutan" gumam Kyungsoo ketika Junmyeon tidak berkata apa-apa, "Mengetahui apa, noona?"
"Kebenaran tentang Sehun," jawab Junmyeon lirih lalu mendesah seolah tak mampu melanjutkan penjelasannya, "Mungkin kau harus melihat ini dulu"
Junmyeon mengambil bundelan artikel itu dari kotak putihnya. Membukanya dan meletakkan di pangkuan Kyungsoo. Begitu melihat foto yang menyertai artikel itu, Kyungsoo terhenyak. Dan ketika membaca judul artikel itu, keringat dingin mengalir di dahinya. Dan begitu selesai membaca keseluruhan artikel itu, wajahnya benar-benar pucat pasi.
"Astaga.." akhirnya Kyungsoo mampu berkata-kata. Suaranya lemah dan diliputi keterkejutan yang mendalam.
"Ah ya.. astaga.." gumam Junmyeon mengejek, "Sekarang kau mengerti kan kenapa aku begitu membela Sehun?"
Kyungsoo memejamkan matanya, meringis merasakan matanya yang sakit. Hidungnya sakit, bibirnya sakit, sekujur tubuhnya sakit. Tapi yang paling sakit adalah hatinya. Penyesalan itu datang menghantamnya tanpa ampun sehingga yang bisa dilakukannya hanya diam dan menahan sesak di dadanya.
"Jadi Sehun melakukan ini semua karena itu.." suara Kyungsoo diwarnai kesakitan lalu menatap Junmyeon penuh harap. Berharap kalau artikel ini salah. Sebab jika artikel ini benar, apa yang dilakukannya tadi benar-benar tak termaafkan. "Apakah kau sudah memastikan kebenaran artikel ini?"
Junmyeon menatap Kyungsoo tajam, tampak puas dengan penyesalan Kyungsoo.
"Aku sudah memastikan ke rumah sakit itu. Tunangannya, Luhan, masih terbaring koma di sana dan belum pernah sadarkan diri sejak dua tahun lalu. Kemarin Luhan telah menjalani operasi ginjal yang aku tahu biayanya amat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta.. dan sukses. Operasinya sukses, tapi dia belum sadar" Junmyeon memalingkan wajah. Matanya tampak berkaca-kaca menahan haru.
"Aku bertanya tentang Sehun kepada dokter-dokter di rumah sakit, dan rupanya kisah Sehun dan Luhan seolah menjadi legenda sendiri di sana. Kisah seorang wanita yang menunggu tunangannya terbangun tanpa putus asa selama bertahun-tahun.."
Jadi karena itu. Kebenaran itu menghantam Kyungsoo dengan telak. Jadi karena itu Sehun menjual dirinya. Jadi karena itu Sehun mempunyai hutang begitu besar di perusahaan. Kyungsoo menatap Junmyeon nanar, lalu mengalihkan tatapannya lagi ke artikel di depannya.
Luhan… Sebuah kebenaran langsung menghantamnya sekali lagi, sangat keras dan tidak tanggung-tanggung.
"Aku mengenal Luhan.." gumam Kyungsoo seolah kesakitan.
Junmyeon langsung menatap Kyungsoo tajam, "Kau mengenalnya?"
Kyungsoo mengangguk lunglai, "Dia pengacara handal dan sukses di sebuah firma hukum terkenal. Reputasinya bagus, sangat jujur dan jarang kalah. Aku tidak begitu mengenalnya hanya pernah beberapa kali bertemu di pengadilan menangani kasus yang berbeda. Tapi dia terkenal sebagai pengacara muda berprospek paling cerah di antara kami. Aku mendengar dia akan menikah, sampai kemudian dia menghilang begitu saja setelah kecelakaan itu. Ada berita cukup simpang siur setelahnya. Katanya dia kecelakaan dan kemudian cacat lalu pindah ke luar negeri, Bahkan banyak gosip bilang dia meninggal akibat kecelakaan itu. Aku… aku sama sekali tidak menyangkan dia masih bertahan hidup dalam kondisi koma.." Kyungsoo meremas rambutnya lalu menatap Junmyoen.
"Kau bilang kapan operasi Luhan tadi?"
"Kemarin malam.." Junmyeon melirik jam tangannya, sudah jam tiga pagi, "Atau bisa dibilang sudah kemarin lusa?"
"Oh Tuhan!" Kyungsoo menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Apalagi yang bisa dia katakan? Itu sebabnya malam itu Sehun menghilang tanpa kabar dan tidak bisa ditemukan dimana-mana. Perempuan itu pasti sedang menunggui operasi tunangannya. Dan apa yang dia katakan malam itu pada Sehun? 'Kau mungkin harus belajar lebih bertanggung jawab, tuan putri', kata-kata yang sombong dan penuh tuduhan yang sekarang ia tahu, tak pantas ia ucapkan pada Sehun.
"Kau benar-benar lelaki paling bodoh dan gegabah yang pernah ku kenal" dengus Junmyeon, masih marah atas tindakan Kyungsoo tadi, "Jika kau belum babak belur oleh Chanyeol, aku pasti akan menamparmu berkali-kali"
Kyungsoo mengernyit mendengar ancaman Junmyeon.
"Tapi kau tak bisa menyalahkanku begitu saja. Suatu hari Chanyeol menghubungiku untuk mengurus kontrak jual beli tubuh Sehun senilai 300 juta. Kau pikir apa yang bisa kupikirkan selain Sehun adalah pelacur?"
"Jangan sebut kata pelacur lagi, Kyungsoo!" potong Junmyeon tajam,
Kyungsoo bungkam lalu mengangkat bahu, "Aku memang salah besar, tapi siapa yang tidak berpikir begitu? Chanyeol sangat kaya dan gadis itu punya reputasi hutang besar di perusahaan. Tentu saja sebagai pengacara aku menilai ada niat jahat dari sisi Sehun" Kyungsoo mencoba membela diri lagi karena dilihatnya Junmyeon masih memelototinya dengan tajam.
"Sebagai seorang pengacara kau harusnya melakukan penyelidikan" gumam Junmyeon sinis.
Kyungsoo menarik nafas panjang dan mengangguk, "Benar, aku terlalu gegabah mengambil tindakan. Sebenarnya aku sudah bertekad tidak akan ikut campur hubungan Chanyeol dan Sehun. Tapi malam itu, ketika Sehun menghilang tanpa kabar, Chanyeol mencarinya seperti orang gila. Hampir kehilangan akal sehat karena mencemaskan Sehun. Chanyeol berubah karena gadis itu, dia begitu emosional. Tidak lagi berkepala dingin dan tenang.." Kyungsoo menarik nafas dalam, "Aku takut, Sehun makin lama akan makin membawa pengaruh buruk bagi Chanyeol, maka aku memutuskan untuk membuat mereka terpisah sesegera mungkin.."
Wajah Kyungsoo tampak memerah malu, "Aku menciumnya dengan paksa, melecehkan Sehun dan memastikan agar Chanyeol melihat itu semua"
Junmyeon langsung melotot marah mendengarnya, "Apa?"
Kyungsoo memalingkan mukanya, tidak tahan menghadapi tatapan tajam Junmyeon.
"Dan aku.." kata-kata itu seolah susah payah keluar dari mulut Kyungsoo, "Dan aku memfitnahnya. Aku bilang Sehun mau ku bayar untuk bercumbu denganku selama beberapa jam.."
"Oh Tuhan! Kyungsoo!" Junmyeon mengerang tak habis pikir dengan perlakuan Kyungsoo, "Pantas saja Chanyeol menghajarmu habis-habisan. Kalau aku ada di sana waktu itu, aku pasti akan memberikan semangat padanya agar menghajarmu lebih keras"
Kyungsoo menganggukkan kepalanya, "Aku.. aku pantas menerimanya..", lelaki itu menghela nafas panjang, "Tapi noona, setelah aku mengetahui semua kebenaran ini dan melihat tatapan mata Chanyeol ketika menyeret Sehun pulang tadi, entah kenapa aku cemas.."
Wajah Junmyeon pucat pasi.
"Astaga! Aku hampir saja lupa! Chanyeol selalu mempercayai kata-katamu! Bagaimana kalau Chanyeol menyangka bahwa Sehun benar-benar menjual dirinya kepadamu? Kalau meilhat posesifnya Chanyeol pada Sehun, aku tidak berani membayangkan betapa marahnya Chanyeol. Kita harus menjelaskan semua kepada Chanyeol sebelum dia melakukan sesuatu yang nantinya akan dia sesali.." Junmyeon langsung meraih gagang telepon dan memencet nomor Chanyeol.
Lama ia mencoba tanpa hasil, akhirnya menarik nafas panjang dan menyerah.
"Semua nomornya tidak aktif. Kita juga tak bisa menyerbu ke apartemennya begitu saja karena ini sudah dini hari" dengan pasrah Junmyeon meletakkan gagang telepon, "Kita harus menunggu sampai besok pagi. Dan jika… dan kika ternyata semuanya sudah terlambat…" Junmyeon melemparkan tatapan tajam ke arah Kyungsoo yang menatapnya penuh rasa bersalah, "Aku akan membuatmu membayar semua kekacauan yang telah kau buat, Kyungsoo.."
.
oOo
.
"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!"
Kata-kata Chanyeol yang diucapkan dengan nada dingin dan ketenangan menakutkan itu seolah bergaung di ruangan yang hening itu. Dia sudah melepaskan kemejanya dan membuka ikat pinggangnya lalu meletakkannya di ujung ranjang. Matanya begitu dingin, ekspresi wajahnya tenang, terlalu tenang, hingga membuat Sehun gemetar cemas.
"Kau.. harus mendengarkan," Sehun masih mencoba meskipun melihat ekspresi wajah Chanyeol, ia tahu ia tak akan berhasil. Chanyeol terlalu marah. Dia terlalu dibutakan oleh kemurkaannya.
"Lepaskan bajumu, Sehun" gumam Chanyeol datar.
"C.. Chanyeol~ssi.." wajah Sehun langsung pucat pasi mendengar perintah yang diucapkan tanpa ekspresi.
"Lepaskan," nada suara Chanyeol begitu menakutkan. Mungkin Sehun akan lebih berani menghadapi jika Chanyeol berteriak-teriak marah dan membentaknya. Tapi lelaki ini begitu tenang hingga menakutkan.
Dengan gemetar Sehun melepas kancing demi kancing kemejanya. Menatap Chanyeol dengan wajah memohon, tapi dia tak terpengaruh. Setelah seluruh kancing kemejanya terlepas, Sehun berdiri sambil menggenggam kemejanya yang terbuka dengan kedua tangan erat-erat, berlutut di ranjang itu, memohon belas kasihan kepada lelaki yang berdiri di tepi ranjang dan tampak kejam.
"Aku bilang, lepaskan bajumu, Sehun" suara Chanyeol tetap lembut dan terkendali, tapi entah kenapa Sehun makin gemetar mendengarnya. Dengan susah payah dia melepaskan kemejanya dan menjatuhkannya di kasur, menatap Chanyeol tanpa daya.
"Sekarang roknya," sambung Chanyeol setelah mengamati tubuh Sehun tanpa malu-malu, membuat seluruh wajah dan tubuh Sehun merah padam.
"Tidak!" Sehun berusaha membantah. Dia tidak mau dilecehkan seperti ini, dipaksa membuka baju dihadapan laki-laki yang sama sekali tidak menghargainya.
"Aku bilang roknya!" suara Chanyeol sedikit naik tapi tetap tenang. Matanya menatap tajam tak terbantahkan. Hingga mau tak mau Sehun bergerak melepaskan roknya. Air mata mulai mengalir di pipi Sehun.
Hening cukup lama. Chanyeol terdiam sambil menatap Sehun tajam dan Sehun berlutut di ranjang dengan tubuh gemetaran, berusaha memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya yang kecil.
"Lepas pakaian dalammu!"
"Tidak!" dengan waswas Sehun berseru. Tanpa sadar tubuhnya beringsut ke ujung ranjang, ketakutan.
Sikapnya itu malah menyalakan api kemarahan di wajah Chanyeol. Dia berubah tidak setenang tadi.
"Kenapa tidak, Sehun? Sudah tak terhitung berapa kali aku melihatmu telanjang dan kau melakukan semuanya dengan sukarela kan? Demi uang 300 juta.." suara Chanyeol terdengar jijik. Dia melangkah maju mendekati ranjang dan secara otomatis Sehun langsung beringsut mundur menjauh.
"Aku membeli tubuhmu seharga 300 juta. Harusnya itu bisa kupergunakan semauku. Tapi aku terlalu baik padamu, memberimu kemewahan, tidak menyentuhmu di saat kau sakit, merawatmu.. Itu semua terlalu baik untukmu" mata Chanyeol tampak menyala, "Dan kau, dasar pelacur tak bermoral! Bukannya mensyukuri kebaikan hatiku, kau malah merayu sahabatku.."
"Kau salah paham!" Sehun mulai menangis terisak, tapi Chanyeol tetap mengeraskan hatinya.
"Aku tidak mungkin salah paham dengan apa yang ku lihat dengan mata kepalaku sendiri"
Dengan gerakan secepat kilat, Chanyeol meraih kedua lengan Sehun sebelum Sehun sempat menghindar dan menempelkan tubuh Sehun ke tubuhnya sendiri.
"Kalian berciuman! Kau membiarkan dia menciummu! Menjijikkan sekali di mataku," nafas Chanyeol mulai terengah-engah, lalu mendorong Sehun ke bantal, membuatnya terbanting kasar di sana.
Sehun berusaha menghindar, berusaha melepaskan diri dari tindihan badan Chanyeol yang keras dan berat. Berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Chanyeol yang kuat dan tanpa ampun. Tapi lelaki itu terlalu kuat, terlalu marah. Bahkan tidak menyadari kalau kekasarannya melukai tubuh Sehun yang rapuh.
Chanyeol seperti kerasukan setan. Matanya menyala penuh kebencian ketika menatap Sehun. dengan ketakutan yang amat sangat, Sehun berusaha memberontak dan turun dari ranjang tapi Chanyeol menangkapnya, membantingnya di ranjang lagi dengan kasar lalu menindihnya. Sehun mengernyit merasakan cengkeraman tangan Chanyeol yang kasar di tangannya.
"Sakit, Chanyeol.. ku mohon.."
"Diam!" seru Chanyeol marah. Dan ketika Sehun meronta ketakutan, hal itu makin mendorong kemarahannya. Chanyeol merobek baju Sehun dan mencoba membuka pahanya.
Sehun berteriak ketakutan, dia tidak siap dan Chanyeol pasti akan melukainya. Tapi Chanyeol tidak peduli. Ketika merasakan Sehun tidak basah dan tidak siap, dia tetap menyatukan dirinya. Bagi Sehun itu adalah kesakitan yang luar biasa. Sakit di tubuhnya dan sakit di hatinya, diperlakukan seperti pelacur rendahan yang tak ada harganya. Seluruh tubuhnya terasa tersobek-sobek oleh gesekan tubuh Chanyeol, tapi Sehun menahan diri. Digigitnya bibirnya hingga hampir berdarah. Ditahannya air matanya meskipun matanya terasa begitu perih. Dan ditekan hatinya dalam-dalam yang mulai hancur menjadi serpihan berkeping-keping.
.
.
.
Sehun berbaring memunggungi Chanyeol. Matanya nanar, penuh air mata. Nafasnya sesak karena isakan yang ditahannya. Setelah semua usai, Chanyeol menjauh dari tubuhnya dan berbaring hening di sebelahnya sampai nafas yang terengah berubah menjadi tenang dan hening. Sehun tahu Chanyeol tidak tidur. Dia itu masih berbaring nyalang di sebelahnya, telentang menatap langit-langit kamar. Tapi Sehun langsung membalikkan badan dan pura-pura tertidur.
Dirasakannya Chanyeol bolak-balik menghadap ke arahnya seperti ingin mengajaknya bicara tapi kemudian ragu dan menghentikan dirinya di detik terakhir. Lama-lama dia merasakan tubuh Chanyeol berangsur-angsur santai dan lelaki itu tertidur. Sehun menanti menit demi menit, meyakinkan diri kalau Chanyeol sudah terlelap, meyakinkan diri kalau Chanyeol sudah terlelap, dan setelah cukup yakin, pelan-pelan dia bergerak.
Tubuhnya terasa sakit. Itu tadi benar-benar perkosaan dan Chanyeol sama sekali tidak mau repot-repot bersikap lembut. Bibir Sehun memar akibat ciuman yang terlalu kasar, lengannya sedikit lebam karena genggaman yang terlalu keras dan masih ada kesakitan-kesakitan lainnya…di seluruh tubuhnya, di dalam tubuhnya.
Tapi yang paling sakit adalah hatiku. Air mata tanpa suara mengalir di pipi Sehun, tapi dia menahan isakan dengan menggigit bibirnya yang sakit. Dengan hati-hati, Sehun duduk di tepi ranjang, mengamati pakaiannya yang berserakan di lantai dan pakaian dalamnya yang setengah dirobek oleh Chanyeol saat lelaki itu melepaskannya dengan marah tadi. Pelan-pelan agar tidak menimbulkan gerakan di ranjang tempat Chanyeol berbaring miring dan tertidur pulas, Sehun bangkit berdiri dan memungut pakaiannya satu persatu. Langkahnya goyah dan tubuhnya gemetar, tapi Sehun menguatkan diri.
Dipakainya pakaiannya pelan-pelan sambil menatap ranjang dengan waswas, bersiap jika ada satu gerakan sesedikit apapun dari Chanyeol, tapi lelaki itu tidur dengan tenang sampai Sehun selesai berpakaian. Lalu Sehun mengambil tas kerjanya dan melangkah keluar. Tapi di pintu dia ragu-ragu, menoleh dan menatap Chanyeol yang masih tertidur pulas.
Chanyeol pasti akan maklum jika dia pergi begitu saja. Setelah perkosaan brutal dan kejam itu, Chanyeol pasti akan maklum jika Sehun menjauh darinya. Tapi kemudian Sehun mengernyit, teringat kemarahan Chanyeol ketika Sehun menghilang tanpa pamit untuk menunggui Luhan di rumah sakit hari Minggu lalu.
Kalau aku pergi tanpa pamit, apa yang akan dilakukan Chanyeol? Apalagi dengan perjanjian 300 juta itu. Ketakutan mewarnai perasaan Sehun. Lalu Sehun mengeluarkan keras dan menulis…
Maaf Chanyeol~ssi, aku harus pergi sementara. Butuh waktu sendirian. Tapi kau bisa tenang, aku tidak akan melarikan diri dari hutang-hutangku. Aku tidak serendah itu.. kau tahu. Sampai jumpa di kantor besok pagi.
TBC
hehehe..Chanyeolnya jadi jahat lagi dan Sehun juga lagi2 tersakiti wkwkwk
jangan pada baper yess..Chanyeol bakal tau kok kondisi Sehun sebenernya
jadi jangan marah2 yaa.. tunggu aja apdetan selanjutnya
sengaja jg dibuat TBC sampe sini wkwkwkwk
