CHAPTER 12
.
.
.
Pagi itu Chanyeol duduk di kantornya dengan muram. Hari masih pagi. Para karyawan belum datang ke kantor, tapi Chanyeol sudah ada di situ. Dia tak tahan berada di kamar apartemen itu sendirian, tanpa Sehun.
Dia terbangun pagi-pagi sekali karena terbiasa mencari Sehun untuk dipeluk, tapi yang ditemukannya hanya bantal kosong. Dengan marah, Chanyeol langsung bangun dan murka. Tapi kemudian kertas yang diletakkan di bantal Sehun itu agak meredakan kemarahannya. Sebuah pesan singkat sederhana yang ditulis dengan huruf yang sangat rapi. Sehun bilang 'sampai jumpa di kantor besok pagi', jadi Chanyeol menahan diri dari kemarahannya dan memutuskan bersiap dan berangkat ke kantor saat itu juga.
Sekarang dia duduk sendirian di ruangannya, memikirkan perbuatannya semalam dan mulai merasa cemas. Ia terlalu kasar. Ia tahu itu. Ia terlalu kuat dan Sehun terlalu rapuh untuk menahan kemarahannya. Tapi tidak tahu kah Sehun kalau pemandangan Sehun yang sedang dipeluk dan dicium Kyungsoo itu benar-benar membuatnya marah? Seharusnya hanya dia yang boleh memeluk Sehun. Seharusnya hanya dia yang boleh mencium Sehun!
Saat itulah pintu diketuk dengan pelan. Chanyeol terdiam penuh antisipasi. Dia sudah menunggu. Siapa lagi yang datang sepagi ini kalau bukan Sehun?
"Masuk"
Pintu terbuka pelan dan Sehun muncul di sana. Hati Chanyeol langsung bagaikan dihantam palu ketika melihat keadaan Sehun. Gadis itu masih memakai pakaiannya yang semalam meskipun kelihatan segar setelah mandi. Tapi wajahnya kelihatan pucat dan rapuh, dan bibirnya sedikit lebam akibat ciuman kasarnya kemarin.
Kenapa kau pucat sekali, sayang? Chanyeol berdehem, menahan perasaannya.
Detik itu juga Chanyeol memutuskan akan memaafkan Sehun. Dia tidak bisa menyalahkan Sehun karena merayu Kyungsoo. Tidak ada yang bisa melarangnya. Tidak ada tertulis dalam perjanjian mereka bahwa Sehun tidak boleh menjalin hubungan dengan lelaki lain. Di situ hanya tertulis bahwa Chanyeol berhak memiliki Sehun sesuka hatinya. Oleh karena itu, dia akan segera memastikan adanya perihal tambahan dalam perjanjian itu, bahwa Sehun tidak boleh disentuh lelaki lain, bahwa tubuh Sehun adalah hak eksklusifnya, miliknya.
Untuk sekarang, Chanyeol yakin Sehun akan memohon maaf padanya dan itu bukan masalah. Chanyeol siap memaafkan Sehun atas pengkhianatannya semalam. Dia siap menerima Sehun lagi. Dia belum mau melepaskan Sehun.
"Duduk," perintahnya berusaha sedatar mungkin.
Dengan patuh, Sehun duduk, tapi gadis itu tidak berkata apa-apa. Hanya meremas tangannya dengan gelisah.
"Sebenarnya kau ingin bicara apa hingga harus menunggu sampai di kantor?"
Di mana kau tidur semalam? Apakah kau baik-baik saja? Apakah aku menyakitimu? Pertanyaan-pertanyaan itu yang bermunculan di benak Chanyeol, tapi dia menahannya.
Sehun mendongakkan kepala. Matanya tampak penuh tekad ketika menatap Chanyeol. Takut, tapi penuh tekad.
"Aku..ingin melunasi semua hutangku dan mengakhiri perjanjian kontrak kita"
Chanyeol tertegun. Rasanya seperti seluruh aliran darahnya berhenti seketika. Ini adalah jawaban yang sama sekali tidak disangkanya. Chanyeol begitu terkejut hingga membatu seperti patung. Tapi ketika keterkejutannya usai, kemarahan langsung merayapinya. Seperti api yang membakar perlahan, makin lama makin berbahaya.
"Apa?" desis Chanyeol, tangannya terkepal.
Dengan sedikit gemetar, Sehun meletakkan sebuah kertas di meja Chanyeol. "Ini cek sebesar 340 juta. Untuk melunasi hutangku sebesar 300 juta dan hutang perusahaan sebesar 40 juta. Dan ini…," Sehun meletakkan sebuah amplop di meja, "Surat pengunduran diriku dari perusahaan."
Hening cukup lama. Chanyeol hanya duduk di situ, mengamati Sehun sambil tersenyum dingin. Kemudian lelaki itu memajukan tubuhnya dan menatap Sehun.
"Lunas sepenuhnya? Jadi malam-malam kau melayaniku itu kau anggap servis gratis untukku?"
Wajah Sehun pucat pasi mendengar hinaan tersirat itu.
"Aku..aku hanya ingin melepaskan diri dari..perjanjian itu"
Chanyeol mendesis gusar, lalu mengambil cek itu dan mengamatinya. Alisnya terangkat, kemarahan tampak semakin membakarnya.
"Kau bisa memperoleh uang sebanyak ini dalam semalam. Apakah kau menemukan korban lain yang bisa memberimu uang untuk melepaskan diri dariku?"
Sehun membelalakkan matanya tak percaya akan kesimpulan negatif yang diambil Chanyeol.
"Jangan menuduhku serendah itu! Aku.. aku bukan pelacur seperti yang kau kira!"
"Kau pernah dengan sukarela menjadi pelacurku demi uang 300 juta. Bagaimana bisa aku tidak berpikir kau bersedia melacurkan diri pada orang lain demi melepaskan diri dariku, hah?!" Chanyeol menggebrak meja dengan begitu kerasnya hingga Sehun terlonjak kaget dari tempat duduknya.
Lalu tanpa diduganya, Chanyeol mengambil surat pengunduran dirinya di meja dan merobeknya bersama dengan cek yang diberikannya. Sehun hanya ternganga, kaget dengan tindakan tak terduga itu. Sementara Chanyeol berdiri di sana, menatapnya dengan mengancam sambil merobek surat dan cek itu menjadi serpihan kecil. Ketika Chanyeol mulai mendekati Sehun, Sehun langsung berdiri menjauh, waspada.
"Kenapa kau merobek cek dan surat itu?" tanya Sehun gugup, takut akan suasana hati Chanyeol yang begitu mruam.
Chanyeol makin mendekat. Lalu berhenti dan tersenyum sinis ketika melihat Sehun mundur lagi menjauhinya.
"Aku tidak akan melepaskanmu begitu mudah, Sehun. Kau pikir aku akan diam saja kau bodohi? Aku akan membuatmu menerima balasan setimpal sebelum akhirnya melepaskanmu.."
Tiba-tiba Chanyeol bergerak cepat meraih Sehun sebelum dia bisa menghindar. Sehun berusaha meronta, tapi ia sadar dari pengalamannya bahwa percuma saja dia melawan kekuatan dan kemarahan Chanyeol. jadi dia hanya diam dengan wajah pucat pasi ketakutan.
"Katakan padaku, Sehun. pria yang membayari hutangmu itu, apa dia sudah menidurimu?" mata Chanyeol menggelap penuh murka, "Apakah dia sudah menyentuhmu?", nafas Chanyeol mulai memburu, "Apakah ciumannya sebaik diriku? Atau dia hanya pria bodoh yang tertipu kepolosan palsumu yang…"
"Lepaskan aku!" entah dari mana Sehun seperti mendapatkan kekuatan untuk mendorong Chanyeol dan melangkah menjauh, "Aku sudah membayar hutangku. Aku sudah tidak terikat denganmu! Kau tidak berhak melecehkanku lagi!"
"Melecehkan katamu?! Kau bilang itu pelecehan?! Kau menyambutku dengan hangat setiap aku mendatangimu dan kau bilang itu pelecehan?!"
PLAK!
Tangan Sehun tanpa disadari melayang sendiri menampar pipi Chanyeol sekeras mungkin. Kata-kata Chanyeol yang luar biasa menghina itu sangat menyakiti hatinya. Chanyeol berdiri di sana mengusap pipinya lalu tersenyum jahat.
"Kenapa menamparku? Apakah kau merasa malu karena kekotoran moralmu terungkap di sini?" gumamnya sinis.
Dengan bergegas Sehun melangkah ke pintu, sedikit lega karena Chanyeol tidak mengikutinya.
"Aku akan mengirimkan lagi cek yang baru. Berikut surat pengunduran diriku. Bagiku semua sudah lunas di antara kita," gumamnya lirih.
"Bagiku belum," desis Chanyeol tenang, "Kau boleh kabur kemana pun Sehun, dan aku bersumpah akan mendapatkanmu. Dan ketika itu terjadi, aku tidak akan main-main lagi. Aku bahkan akan merantaimu di kamar jika perlu. Dan tak usah repot-repot mengirimkan cek ataupun surat apapun. Aku akan merobeknya lagi!"
Tangan Sehun yang memegang gagang pintu jadi gemetar, "Kenapa kau begitu kejam padaku?" rintihnya putus asa, matanya berkaca-kaca.
Sejenak Chanyeol terpaku. Sehun tampak begitu hancur, begitu luluh, hingga seketika itu juga Chanyeol ingin memeluknya dan menghiburnya, meminta maaf atas kata-kata kasarnya. Tapi akal sehatnya segera mengambil alih. Itu akting! Teriaknya pada diri sendiri. Gadis ini pandai memanipulasi orang dengan berpura-pura rapuh. Kau sendiri sudah merasakannya, bukan?
"A..aku akan tetap pergi.." Sehun bergumam ketika Chanyeol hanya berdiam diri, "Kau boleh memaksaku semaumu, tapi aku akan melawanmu sekuat tenaga"
Dengan cepat Sehun membuka gagang pintu. Lalu menolehkan kepalanya untuk menatap Chanyeol, mungkin untuk yang terakhir kalinya. Diserapnya sosok itu baik-baik, sosok dingin yang berdiri kaku, menatap Sehun dengan penuh kebencian. Disimpannya sosok itu baik-baik dan tiba-tiba saja hatinya terasa teriris. Air mata mulai menetes dari sudut matanya, dan dengan segera Sehun melangkah keluar dari ruangan itu. Setengah berlari dia memasuki lift tanpa mempedulikan tatapan bingung dari sekretaris Chanyeol.
Di lobby, suster Nana yang menunggu dengan gelisah dari tadi langsung berdiri begitu melihat Sehun muncul di lift.
"Bagaimana?"
Pertanyaannya tak terjawab karena Sehun langsung mengajaknya keluar dari lobby menuju parkiran, menaiki mobil jemputan rumah sakit yang diminta suster Nana mengantar mereka ke sini tadi. Di mobil, air mata Sehun tak terbendung lagi dan suster Nana langsung memeluknya untuk menenangkannya.
"Sshhh… semuanya tak berjalan baik ya?"
"Dia.. dia tak mau menerima uang itu.." Sehun terisak oleh tangisan yang dalam, "Dia.. dia menuduhku menjual diri pada lelaki lain demi mendapatkan uang itu.." tangis Sehun meledak lagi dengan kuatnya.
Dan suster Nana langsung memeluknya. Matanya sendiri berkaca-kaca melihat penderitaan Sehun.
"Apakah.. kau mencintainya, Sehun?" tanya suster Nana hati-hati.
Sehun langsung tersentak, menatap suster Nana dengan pandangan nanar, "Apa? Itu.. Itu tidak mungkin.."
"Sehun, mungkin kau tidak menyadarinya tapi kebersamaan kalian selama ini mungkin saja menumbuhkan sesuatu yang dalam di antara kalian.." suster Nana menatap Sehun dengan lembut, "Dan kau..tidak mungkin menangis semenderita ini jika kau tidak punya perasaan apa-apa kepada Chanyeol.."
Sehun hanya termangu. Air matanya masih mengalir, hatinya sakit sekali. Dan memang benar, penghinaan dan perlakuan kasar Chanyeol telah menyakitinya lebih daripada yang seharusnya. Tapi Sehun tidak mau memikirkan kemungkinan apapun. Dia tidak mau, dan dia tidak bisa. Ada Luhan di sisinya bukan?
Suster Nana mendesah melihat kediaman Sehun, "Yah..setidaknya suatu saat ketika Chanyeol menyadari kesalahannya, dia akan menyesal dan ku harap dia memohon maaf padamu.."
.
.
.
Suster Nana benar, Chanyeol memang menyesal. Tidak perlu waktu lama, hanya selang satu jam dari kepergian Sehun.
"Aku menerima kalian di sini hanya demi Junmyeon noona" gumam Chanyeol dingin. Suasana hatinya benar-benar buruk saat itu.
Ketika sekretarisnya menelepon dan memberitahu bahwa Junmyeon dan Kyungsoo ada di ruangan depan ingin bertemu dengannya. Chanyeol hampir saja mengamuk seketika itu juga. Dia sudah menegaskan pada sekretarisnya bahwa dia sedang tidak ingin diganggu, tapi Junmyeon memaksa dan seperti biasanya, paksaannya berhasil.
"Kami harus memberitahumu sesuatu yang penting" gumam Junmyeon penuh tekad, tak peduli akan tatapan membunuh yang berkali-kali dihujamkan Chanyeol kepada Kyungsoo yang hanya duduk diam tanpa suara di belakangnya.
"Chanyeol.." Junmyeon mencoba menarik perhatian Chanyeol yang terus mempelajari Kyungsoo, "Ada suatu fakta penting tentang Sehun yang harus kau ketahui.."
Chanyeol langsung tertarik. Fakta apa lagi? Sebuah kebohongan lagi yang belum diceritakan kepadanya? Sebuah kepalsuan lagi yang akan menyulut kemarahannya? Dia diam dan menunggu, bersiap untuk meledak lagi. Kepalanya terasa berdenyut dan mulai nyeri.
"Chanyeol.." Junmyeon mengernyit cemas ketika melihat Chanyeol tampak kesakitan, "Kau tak apa?"
"Aku tidak apa-apa. Cepat selesaikan yang ingin kau katakan dan bawa dia pergi dari ruangan ini!" Chanyeol bahkan tidak mau repot-repot menyebut nama Kyungsoo.
Junmyeon menarik nafas panjang.
"Kau.. kita.. mengambil kesimpulan yang salah tentang Sehun," dengan cepat Junmyeon membentangkan artikel itu di meja Chanyeol. "Baca ini!"
Chanyeol melirik artikel itu. Semula tak tertarik, tapi kemudian mengenali gambar di artikel itu sebagai Sehun, lebih muda beberapa tahun tapi dia tak mungkin salah.
"Apa yang….. Oh Tuhan!" baru separuh artikel yang dibacanya tapi dia pucat pasi. Dengan gemetar dia membaca artikel itu. Membacanya berulang-ulang kemudian mencoba mencari kesalahan. Tapi kebenaran yang tertulis di sana tak terbantahkan lagi.
"Benar Chanyeol. keluarga Sehun, kedua orang tuanya terenggut pada kecelakaan yang sama di jalan tol. Kecelakaan yang sama yang menewaskan Yifan" mata Junmyeon berkaca-kaca ketika kenangan itu kembali.
"Oh Tuhan!" Chanyeol berpengangan pada meja untuk menopang tubuhnya. Ini sebabnya Sehun selama ini sebatang kara dan sendirian?
'Kedua orang tua saya sudah meninggal dunia. Saya hidup sendirian' itu jawaban Sehun waktu dia terpaksa menumpang mobilnya di pagi yang hujan.
Lalu uang 300 juta dan hutang puluhan jutanya di perusahaan.. Sekali lagi Chanyeol mengernyit.
"Tunangannya – Luhan, masih terbaring koma sejak kecelakaan itu. Sehun berjuang mati-matian untuk mempertahankan hidupnya. Hutang-hutangnya di rumah sakit mungkin untuk membiayai perawatan Luhan, dan hutangnya kepadamu 300 juta mungkin karena gadis itu putus asa" Junmyeon memandang Chanyeol dan tiba-tiba merasa kasihan. Chanyeol tampak hancur berkeping-keping.
"Aku menelepon rumah sakit tempat Luhan dirawat. Saat itu Luhan harus menjalani operasi pengangkatan ginjal karena salah satu ginjalnya rusak akibat obat-obatan yang terus menerus. Biaya operasi itu sangat mahal, hampir mencapai 300 juta. Mungkin itu alasan Sehun menjual dirinya padamu. Gadis itu putus asa.."
Chanyeol memejamkan matanya, mengingat hari hujan di mana Sehun membuat penawaran gila padanya. Bagaimana mungkin dia dulu tak menyadarinya? Waktu itu Sehun memang terlihat putus asa dan panik.
"Kyungsoo bercerita bahwa Sehun hilang seharian di hari Minggu dan kalian mencarinya kemana-mana" Junmyeon mengedikkan bahu pada Kyungsoo yang hanya diam dan menundukkan kepalanya, "Itu hari di mana operasi Luhan dilaksanakan.."
Sebuah hantaman lagi yang menerjang Chanyeol. dia mengernyit, rasanya berat sekali ketika dia berpegang teguh pada suatu keyakinan begitu lama tapi kemudian dihancurkan begitu saja.
Sehun gadis baik-baik. Dia bukan gadis bermoral rendah seperti dugaannya selama ini. Pantas saja waktu itu dia masih perawan. Keperawanan yang seharusnya untuk tunangan yang dicintainya tapi malah dikorbankannya. Chanyeol langsung disengat rasa cemburu yang tajam. Sehun pasti begitu mencintai tunangannya kalau sampai berjuang mati-matian seperti itu.
"Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa hari sebelum pernikahan mereka, Chanyeol.." Junmyeon menoleh secara terang-terangan kepada Kyungsoo, "Biar Kyungsoo yang menjelaskan sisanya kepadamu"
Chanyeol menoleh kepada Kyungsoo dengan muram. Masih terbayang adegan ciuman waktu itu di matanya. Dan kemarahannya langsung membara. Kalau begitu kenapa Sehun ada di pelukan Kyungsoo dan Kyungsoo bilang Sehun rela menjual diri padanya?
"Waktu itu semua sudah ku rencanakan, Chanyeol.." gumam Kyungsoo pelan seolah bisa membaca pikiran Chanyeol, lalu mengernyit ketika menerima tatapan menusuk itu lagi, "Aku.. waktu aku mendampingimu mencari Sehun yang menghilang waktu itu, aku melihat betapa emosionalnya dirimu. Itu menggangguku karena kau berubah, tidak seperti biasanya. Aku berpikir Sehun telah menimbulkan pengaruh buruk padamu. Jadi aku mengambil keputusan.. aku merekayasa semuanya. Ciuman itu adalah paksaan dariku. Sehun sama sekali tidak sukarela. Dia menolakku sekuat tenaga. Dia memanggil namamu…"
Chanyeol langsung merangsek maju dengan marah. Tanpa diduga langsung meraih kerah kemeja Kyungsoo. Tak peduli tubuh Kyungsoo yang memar dan lebam akan kesakitan menerima sentuhan seringan apapun.
"Brengsek kau! Aku mempercayaimu!" Chanyeol menggeram, "Kau tahu malam itu aku memperlakukannya sebagai pelacur rendahan! Aku memperkosanya!"
"Chanyeol, tenanglah dulu.." gumam Junmyeon hati-hati, berusaha membuat Chanyeol melepaskan cengkeramannya dari kerah baju Kyungsoo, "Kau menyakiti Kyungsoo. Tidak kah kau sadar kau sudah cukup menyakitinya kemarin? Lepaskan dia.."
Chanyeol bergeming, sejenak seolah akan menghajar Kyungsoo tapi kemudian dia melepaskan lelaki itu dengan kasar.
"Harusnya kubunuh kau saja sekalian" desisnya gearm sembil mengacak rambut. Lalu sebuah pertanyaan merasuk di benaknya, "Kenapa harus Sehun yang menanggung seluruh biaya perawatan Luhan? Kenapa bukan keluarga Luhan?"
"Luhan tidak punya keluarga," Kyungsoo yang menyahut setelah berhasil meredakan nafasnya yang terengah karena perlakuan Chanyeol tadi. "Dia pengacara juga, kebetulan aku mengenalnya" suaranya tertelan melihat tatapan Chanyeol tapi dia berniat tetap melanjutkan, "Sebenarnya aku tidak begitu mengenalnya tapi Luhan cukup terkenal di kalangan profesi kami karena reputasi baiknya. Aku sedikit melakukan penyelidikan singkat dan mendapati bahwa Luhan dibesarkan di panti asuhan, dia sebatang kara. Karena itulah kabar setelah kecelakaan yang menimpanya menjadi simpang siur. Dia menghilang begitu saja dan gosip yang beredar mengatakan kalau Luhan sudah meninggal. Tidak ada yang tahu bahwa Luhan masih hidup dan dalam kondisi koma," Kyungsoo menatap Chanyeol sungguh-sungguh, "Aku menyesal dan aku meminta maaf, Chanyeol. Aku memang bodoh dan gegabah. Aku juga menyesal setengah mati.."
Chanyeol termenung. Lama tak mengatakan apa-apa. Sejenak ruangan itu begitu hening.
"Chanyeol, mungkin lebih baik kita melepaskan Sehun. Sudah cukup berat beban yang dia tanggung," gumam Junmyeon pelan memecah keheningan. Lalu dia berubah ragu dan berhati-hati dengan reaksi Chanyeol. "Mengenai hutang-hutangnya baik kepadamu maupun perusahaan, aku bersedia menggantinya"
"Tidak."
"Tidak?" Junmyeon mengernyit mendengar gumaman pelan Chanyeol itu.
"Tidak akan ku lepaskan. Aku tidak peduli dengan uang itu. Sehun tidak akan ku lepaskan"
"Chanyeol!" Junmyeon jengkel, "Hentikan! Kau tidak tahu betapa banyak penderitaan Sehun yang ditanggung selama ini. Tidak bisa kah kita biarkan dia tenang bersama tunangannya? Lagipula kau bisa mencari wanita lain untuk memuaskanmu, bukan? Kau bisa mendapatkan pengganti Sehun dalam beberapa menit!"
Chanyeol mengusap wajahnya, tampak begitu menderita.
"Tidak! Aku tidak bisa, noona…" erangnya parau.
Mata Junmyeon melebar melihat ekspresi Chanyeol. Tidak pernah sebelumnya ia melihat Chanyeol begitu penuh emosi. Apakah ini berarti Chanyeol benar-benar mencintai Sehun?
"Dia punya tunangan, Chanyeol! Dan jangan lupa, semua yang dilakukannya adalah demi menyelamatkan Luhan!"
Kebenaran itu menyakiti hati Chanyeol. Sengatan cemburu itu kembali melukainya.
"Kalau begitu aku akan membuatnya memilihku.." mata Chanyeol penuh tekad, "Di mana alamat rumah sakitnya?"
TBC
udah yaa..chanyeol udah tau soal sehun kek gimana
trus kira2 ngapain ya si chan mau ke rumah sakit? Hehehe..bikin readers penasaran lg ah
sehun punya perasaan cinta ke chanyeol gak yaa?
