CHAPTER 13

.

.

.

"Di mana ruangan tempat Luhan?" Chanyeol berdiri di depan resepsionis.

Respsionis itu mendongak dan ternganga. Terpesona melihat penampilan dan ketampanan Chanyeol.

"Ruangan perawatan Luhan?" Chanyeol mengulang jengkel karena resepsionis itu hanya menatapnya seperti orang bodoh.

"Oh.. Anda.. Anda mungkin harus menemui suster Nana dulu. Beliau kepala penanggung jawabnya"

"Di mana?" gumam Chanyeol tak sabar.

"Lantai 3, ruangan perawat nomor 2"

Tanpa basa-basi Chanyeol meninggalkan respsionis yang masih ternganga itu.

Pintu itu tertutup rapat dan Chanyeol mengetuknya.

"Masuk," sebuah suara yang tegas terdengar dari dalam.

Chanyeol masuk dan langsung berhadapan dengan suster Nana.

Suster itu langsung menyadari siapa yang berdiri di hadapannya. Dia tidak mungkin salah mengenali. Penggambaran Sehun sangat akurat. Lelaki ini memang benar-benar luar biasa tampan dengan keangkuhan yang sudah seperti satu paket dengan auranya.

"Apakah Anda akhirnya menemukan kebenaran?" gumam suster Nana langsung tanpa basa-basi.

Chanyeol mengernyit mendengar sapaan pertama suster Nana yang sama sekali tidak diduganya. Tapi dia lalu teringat telepon di tengah malam yang tanpa sengaja dia angkat. Penelepon itu mengatakan dirinya adalah suster Nana.

"Ya," Chanyeol mengakuinya dengan pelan, "Anda sudah tahu semuanya?"

"Semuanya, dan pertama, sebelum Anda menghina Sehun lagi, saya akan jelaskan kepada Anda. Semalam Sehun datang kepada saya, dengan kondisi mengenaskan. Mental dan fisik yang rapuh, dan dia bilang ingin melepaskan diri dari Anda. Menurut saya itu wajar mengingat perlakuan Anda padanya," suster Nana menatap Chanyeol dengan pandangan mencela yang terang-terangan hingga wajah Chanyeol merona, "Uang yang dia pakai untuk melunasi Anda itu adalah pinjaman dari saya dan beberapa staf rumah sakit, bukan uang hasil menjual dirinya kepada lelaki lain seperti apa yang Anda tuduhkan"

Sebuah kebenaran lagi. Lebih keras daripada tamparan di pipi. Lidah Chanyeol terasa kelu.

"Saya ingin bertemu Sehun" gumam Chanyeol akhirnya.

Suster Nana mengangkat alis, "Untuk apa? Ketika hubungan hutang piutang itu lunas, tidak ada lagi perlunya kalian bertemu. Lagupula saya tidak yakin Sehun bersedia menemui Anda"

"Tidak ada hubungannya dengan uang! Saya tidak peduli dengan uang!" Chanyeol hampir berteriak, lalu berdehem berusaha meredakan emosi, "Saya harus bertemu dengan Sehun, meminta maaf. Saya tahu selama ini saya salah…"

"Anda bisa menyampaikan permintaan maad Anda melalui saya" sela suster Nana tegas.

Chanyeol mengernyit, "Saya mohon… Saya harus bertemu dengan Sehun. Saya butuh bertemu dengannya"

Suster Nana mengamati lelaki yang berdiri di hadapannya. Dia terlalu tampan, terlalu kaya sehingga wajar tampak begitu arogan. Tapi sekarang Chanyeol tampak begitu menderita dan rela memohon agar bisa bertemu Sehun. Suster Nana menarik nafas ketika sebuah kesimpulan muncul di benaknya. Lelaki ini sedang jatuh cinta.

Bagaimana mungkin dia menolak permintaan Chanyeol? Kalau saja Chanyeol lelaki sombong yang menginginkan bayaran setimpal atas apa yang diberikannya kepada Sehun, suster Nana akan mengusirnya tanpa ragu. Tapi Chanyeol yang ada di depannya ini tampak begitu kesakitan menanggung rasa bersalah, tampak remuk di dera perasaannya sendiri. Lelaki ini sama menderitanya dengan Sehun. Bagaimana mungkin suster Nana tega mengusirnya?

"Tapi tolong jangan menyakiti Sehun lagi jika kalian bertemu lagi nanti. Jangan memaksanya.." mata suster Nana melembut membayangkan Sehun, "Sudah cukup beban yang ditanggungnya"

"Saya janji" Chanyeol menjawab yakin.

Sekilas suster Nana mencuri pandang ke arah Chanyeol dan tersenyum ketika mendapati ekspresi Chanyeol ikut melembut karena membayangkan Sehun.

.

.

.

Ruangan itu hening terletak di lorong paling ujung dan Sehun hanya berdiri di depan ruang perawatan sambil menatap melalui jendela kaca lebar yang membatasinya dengan Luhan. Saat ini bukan jam berkunjung dan Sehun tak boleh masuk.

Pikiran Sehun terasa berat. Dia tidak punya pekerjaan sekarang. Suster Nana dan yang lainnya bilang akan membantu, tapi Sehun tidak mungkin menggantungkan hidupnya pada bantuan orang lain terus menerus. Apalagi dengan biaya perawatan Luhan yang begitu mahal yang harus ditanggungnya setiap bulan.

Dengan sedih Sehun menatap Luhan. Dia masih terbaring dalam kedamaian yang sama, begitu pucat, hanya bunyi mesin-mesin penunjang kehidupan ituah yang menunjukkan kalau masih ada harapan hidup yang tersimpan di sana. Sehun mengusap air mata di sudut matanya.

Luhan oppa..sampai kapan kau tertidur begini? Aku merindukanmu, kau tahu? Aku membutuhkanmu. Saat ini aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Aku takut jika kau tak segera bangun nanti aku akan…

Saat itulah Chanyeol datang, diantarkan oleh suster Nana di belakangnya. Perasaan sedih yang menyeruak di dada Chanyeol ketika dia melihat Sehun menatap Luhan yang terbaring di balik kaca dengan tatapan sendu.

"Sehun…" Chanyeol bergumam pelan, mendadak dikuasai keinginan yang dalam untuk mengalihkan perhatian Sehun dari Luhan.

Suaranya seperti menyentak Sehun hingga ia menoleh kaget. Wajahnya langsung pucat, tidak menduga bahwa Chanyeol akan muncul di sini. Matanya menatap suster Nana meminta pertolongan.

"Dia datang untuk bicara dan dia sudah berjanji tidak akan melakukan atau mengatakan sesuatu yang akan menyakitkan," gumam suster Nana lembut, menyadari kegelisahan yang dirasakan Sehun. Dia lalu menggamit lengan Sehun. "Mari ku antar kalian ke ruanganku di mana kalian bisa berbicara dengan tenang. Aku akan meninggalkan kalian di sana"

Ruangan tetap hening selama lima menit kemudian ketika suster Nana menutup pintu ruangan dari luar.

"Aku minta maaf," gumam Chanyeol dengan lembut akhirnya.

Sehun bersedekap, seolah ingin melindungi diri.

"Ya, sudah di maafkan. Sekarang.. bisakah kau pergi?" Sehun mulai menahan tangisnya. Chanyeol benar-benar telah melukai hatinya. Kehadiran lelaki itu sekarang, berdiri di depannya, menatap dengan begitu lembut, benar-benar membuat emosinya bergejolak.

"Aku tidak tahu tentang semua ini, Sehun. Baru tadi Junmyeon noona mengungkapkan kebenaran di depanku. Tidak kah itu bisa membuat semuanya sedikit dimaklumi?" sambung Chanyeol pelan.

"Selama ini aku salah paham. Aku berpikiran buruk tentangmu dan semakin memupuknya dari hari ke hari. Itu juga menyiksaku, antara dorongan untuk menyayangimu atau menghukummu, karena jauh di lubuk hatiku aku mengira aku hanya dimanfaatkan," Chanyeol mengerjapkan matanya pedih, "Kalau aku tahu tentang semua ini, segalanya akan berbeda.."

Sehun memejamkan matanya. Mau tak mau permintaan maaf Chanyeol yang begitu tulus itu mulai menyentuh hatinya. Chanyeol memang tak bisa disalahkan. Dia tak tahu. Lagipula apa yang harus dipikirkan Chanyeol tentang gadis yang melemparkan diri padanya demi uang selain bahwa gadis itu adalah pelacur?

"Aku.. aku mengerti. Tidak apa-apa. Pilihanku juga untuk tidak mengatakan ini semua padamu" suara Sehun terdengar serak, "Dan apapun konsekuensinya, aku sudah bersedia menanggungnya. Jadi kita impas."

Chanyeol menatap Sehun sedih, "Sehun.. aku.." Chanyeol mengulurkan tangan hendak meraih Sehun tapi lalu tertgun ketika Sehun mundur seperti ketakutan.

Kesadaran itu menghancurkan Chanyeol. kesadaran bahwa Sehun takut denagn sentuhannya, mungkin akibat kekasarannya semalam. Chanyeol mengusap rambutnya dengan kasar.

"Aku.. mungkin semua sudah terlambat. Tapi aku harus mengatakannya. Aku mencintaimu, Sehun. Mungkin kau bertanya kenapa. Tapi aku juga tak bisa menjawabnya. Aku juga baru menyadarinya. Itu terjadi begitu saja" Chanyeol menatap Sehun yang hanya termangu dengan wajah pucat, "Tapi sekarang itu tak penting lagi bukan? Kesalahanku tak bisa dimaafkan semudah itu. Dosaku terlalu besar.."

Dengan ragu Chanyeol melangkah ke arah pintu, terdiam sejenak.

"Semua hutangmu anggap saja sudah lunas. Aku tidak akan menuntut apapun darimu. Aku akan menjauh darimu dan kau tak perlu takut harus menghadapiku lagi. Kau bebas sebebas-bebasnya. Dan kalau kau masih mau bekerja di perusahaanku, aku akan sangat senang. Tapi aku tak akan memaksa. Aku sudah terlalu sering memaksakan kehendakku padamu. Sekarang tidak akan lagi" punggung Chanyeol tampak tegang.

"Selamat tinggal, Sehun" gumamnya pelan sebelum membuka pintu.

Sehun termangu menatap punggung yang begitu tegang itu. Pernyataan cinta Chanyeol begitu mengejutkannya hingga dia tak bisa berkata apa-apa. Memang Chanyeol telah menyakitinya, tapi ada saat di mana Chanyeol berhasil membuat hatinya terasa hangat. Dan kalau dipikir-pikir, selama kebersamaan mereka itu, tak pernah sekalipun Chanyeol menyakitinya dengan sengaja. Kecuali saat kemarahan menguasainya kemarin.

Sekarang ketika Sehun menatap punggung itu, yang tampak begitu tegang sekaligus rapuh, sebuah perasaan hangat menyeruak ke dalam hatinya. Sebuah perasaan yang bertumbuh pelan tanpa dia sadari.

"C.. Chanyeol~ssi" Sehun bergumam pelan, tapi cukup membuat Chanyeol membatu. Tapi lelaki itu tidak menoleh, hanya berdiri di sana. Membeku seperti patung.

"Chanyeol~ssi" kali ini Sehun mengulang lagi. Lebih lembut sehingga Chanyeol menatapnya.

Entah karena mata Sehun yang melihatnya penuh kelembutan, entah karena Chanyeol pada akhirnya sudah tidak bisa menahan perasaannya lagi, Sehun tak tahu, yang pasti ekspresi Chanyeol berubah seketika. Dia membalikkan tubuh. Menatap Sehun ragu. Dan ketika dilihatnya Sehun membuka lengan menyambutnya, Chanyeol mengerang. Kemudian melangkah tergesa ke arah Sehun. Sejenak mereka berdiri berhadapan. Lalu Chanyeol jatuh berlutut dan memeluk pinggang Sehun, membenamkan wajahnya di perut Sehun. nafasnya tersengal menahan perasaan. Dengan lembut Sehun memeluk dan mengelus rambut Chanyeol.

"Aku mencintaimu" Chanyeol berbisik, wajahnya masih terbenam di perut Sehun, "Entah sejak kapan aku mencintaimu. Mungkin sejak pertama aku melihatmu, aku…" nafas Chanyeol tersengal, "Aku mungkin manusia paling kejam, paling jahat, tapi aku… aku tidak…"

"Chanyeol~ssi.." sekali lagi Sehun berbisik lembut. Chanyeol mendongakkan kepala dan menatap Sehun. Wajah Sehun penuh air mata dan tiba-tiba mata Chanyeol, terasa panas.

"Jangan menangis," tiba-tiba Chanyeol berdiri dan merengkuh Sehun ke dalam pelukannya, memeluknya erat. "Jangan menangis lagi, aku bersumpah tidak akan pernah membiarkanmu menangis lagi"

Sehun memeluk Chanyeol erat. Permintaan maaf Chanyeol dan kelembutan sikapnya meluluhkan hatinya, menumbuhkan perasaan baru di dalam hatinya. Mereka telah begitu dekat selama ini. Kedekatan yang dipaksakan tapi mau tak mau telah membuka pembatas yang selama ini ada di hati Sehun. Lama mereka berpelukan dalam keheningan. Sehun menumpahkan tangisnya di pelukan Chanyeol dan lelaki itu memeluknya erat, membenamkan wajahnya di rambut Sehun.

Setelah tangis Sehun reda, Chanyeol mengangkat dagu Sehun agar menghadap padanya, mengusap air mata di pipi Sehun dengan lembut.

"Pulanglah bersamaku. Kembalilah bersamaku, bukan karena uang 300 juta itu. Aku ingin kau melupakan masalah hutang itu. Aku ingin kau bersamaku karena kemauanmu sendiri. Pulanglah bersamaku. Sehun. Kita mulai lagi semuanya dari awal. Dan jika.. dan jika.." Chanyeol menarik nafas, menahan perasaannya, "Jika kau memang belum mencintaiku, aku akan menunggu. Bahkan kau tidak akan menyentuhmu kalau kau tidak mau. Aku tidak akan memaksakan kehendak. Kau bisa tenang. Aku.. aku hanya ingin kau ada di tempat di mana aku bisa melihatmu setiap hari"

Sehun menatap Chanyeol dan melihat ketulusan di sana, melihat cinta di sana yang tidak di tahan-tahan lagi. Dia baru membuka mulutnya untuk menjawab ketika pintu ruangan itu terbuka. Suster Nana membuka pintu, terlalu panik dan terengah-engah untuk merasa malu ketika menemukan Chanyeol dan Sehun sedang berpelukan.

"Sehun!" suster Nana berusaha menormalkan nafasnya. Dia tadi setengah berlari ke sini, "Cepat! Cepat ikut aku ke ruang perawatan! Luhan sadar! Dia terbangun dari komanya!"

Sehun berlari, tanpa sadar melepaskan diri dari pelukan Chanyeol. Dia berlari penuh air mata ke kamar perawatan Luhan. Kerinduannya membuncah, rasa syukurnya tak tertahankan. Ketika sampai di depan pintu perawatan, nafasnya terengah. Dia berhenti karena pintu itu masih di tutup rapat. Suster Nana tergopoh-gopoh mengejarnya.

"Sehun, jangan masuk dulu. Dokter baru menstabilkan kondisinya"

Penantian itu terasa begitu lama sampai kemudian Sehun diijinkam masuk. Hanya lima menit untuk sekedar menengok Luhan. Setelah itu dokter harus mengevaluasi kondisi Luhan lagi. Dadanya sesak tak tertahankan ketika mata itu balas menatapnya. Mata yang selama ini terpejam, tertidur dalam damai, membuat Sehun menanti. Mata itu sekarang terbuka, hidup, dan balas menatapnya.

"Luhan oppa…"

Suara Sehun serak dan emosi, dan tangisnya meledak. Dia menghampiri tepi ranjang ke arah Luhan yang masih terbaring pucat dengan alat-alat penunjang kehidupan yang masih menopangnya, tapi hidup dan membuka mata. Sehun meraih tangan Luhan dan menciumnya, lalu menangis.

"Oppa…"

Banyak yang ingin Sehun ungkapkan. Dia ingin mengucap syukur karena Luhan akhirnya bangun. Dia ingin merajuk karena Luhan memmilh waktu yang begitu lama untuk terbangun. Dia ingin menangis kuat-kuat, tapi semua emosi menyebabkan suaranya tercekat di tenggorokan. Air mata tampak menetes dari pipi Luhan. Dia mencoba berbicara tapi tampak begitu susah payah.

"Sshhh.. Kau tidak boleh bicara dulu" gumam Sehun lembut, mencegah Luhan berusaha terlalu keras, "Mereka memasang selang di tenggorokanmu untuk makanan. Kau koma selama kurang lebih dua tahun"

Mata Luhan menatap Sehun, tampak tersiksa, dan dengan lembut Sehun mengusap air mata di pipi Luhan.

"Nanti setelah mereka yakin kondisimu membaik, mereka akan melepas selang itu dan kau akan bisa berbicara lagi. Tapi sekarang kau cukup mengangguk atau menggeleng saja ya. Sekarang..," Sehun menelan ludah, menahan isak tangis yang dalam, "Sekarang kita harus mensyukuri karena kau akhirnya terbangun.."

Luhan menganggukkan kepalanya dan seulas senyum dengan susah payah muncul di bibirnya.

"Sekarang istirahatlah dulu. Dokter akan mengecek kondisimu lagi" bisik Sehun lembut ketika melihat isyarat dari dokter yang menunggui mereka.

Ketika Sehun akan beranjang, genggaman Luhan di tangannya menguat. Dengan lembut Sehun menoleh dan memberikan senyuman penuh cinta kepada Luhan.

"Aku tidak kemana-mana. Aku harus menyingkir karena dokter akan memeriksamu lagi. Aku akan berada di dekat sini sehingga saat kau butuh nanti aku akan langung datang"

Pegangan Luhan mengendor, dia mau mengerti. Denga lembut Sehun mengecup dahi Luhan dan melangkah menjauh keluar ruangan. Air matanya mengucur dengan deras ketika dia melangkah menghampiri suster Nana. Suster Nana masih berdiri di sana dan Sehun langsung berlari ke arahnya, menangis keras-keras.

"Dia sadar.. akhirnya sadar.. Aku masih tak percaya. Selama ini aku hampir kehilangan harapan. Mulai berpikir kalau Luhan oppa memang tidak mau bangun, mulai berpikir kalau semua perjuanganku sia-sia. Tapi sekarang…" Sehun terisak, "Aku tak percaya bahwa pada akhirnya dia sadar. Dia kembali dari tidur panjangnya. Dia ada di sini untuk aku.."

Dengan lembut suster Nana mengelus rambut Sehun.

"Ini semua karena perjuanganmu. Tuhan melihat keyakinanmu maka Ia mengabulkannya" mata suster Nana juga berkaca-kaca, terharu melihat pasangan yang sudah hampir menjadi legenda karena kekuatan cintanya di rumah sakit ini, akhirnya akan berujung bahagia.

Tapi kemudian suster Nana menyadari kehadiran Chanyeol di ujung ruangan, masih bersandar di pintu lorong ruang perawatan dengan wajah tanpa ekspresi. Dengan lembut dilepaskannya Sehun dari pelukannya.

"Eh mungkin aku harus pergi dulu, Sehun. Mungkin masih ada hal-hal yang ingin kalian bicarakan.." suster Nana mengedikkan bahu ke arah Chanyeol.

Baru saat itulah sejak pemberitahuan suster Nana tadi, Sehun menyadari kehadiran Chanyeol di ruangan itu. Pipinya langsung memerah mengingat peryataan cinta Chanyeol sesaat sebelumnya. Tapi dia sungguh tak bisa berkata apa-apa. Setelah suster Nana meninggalkan ruangan itu, suasana menjadi canggung dalam keheningan yang tidak menyenangkan.

"Dia sadar" gumam Chanyeol memcah keheningan.

Sehun mengangguk, belum mampu bersuara.

Chanyeol tampak berpikir, "Kau bahagia?" tanyanya kemudian.

Sehun mengernyitkan keningnya. Chanyeol telah berubah menjadi sedikit manusiawi, menjadi sedikit mudah disentuh. Chanyeol yang dulu tidak akan mungkin menanyakan itu padanya. Chanyeol yang dulu pasti akan langsung memaksa membawanya pulang tanpa peduli perasaan Sehun.

"Bagus," gumamnya datar kemudian menatap Sehun lembut, "Mungkin kita harus melakukan pengaturan kembali dengan perkembangan mendadak ini. Tapi aku tidak mau mengganggumu dulu. Kau pasti ingin fokus dulu dengan kondisi Luhan. Jadi ku pikir aku akan kembali lagi saja nanti"

"Terima kasih, Chanyeol~ssi.." akhirnya Sehun bisa berkata pelan.

Chanyeol tersenyum miring, "Aku meminta maaf dan kau malah menjawabnya dengan ucapan terima kasih. Sehun yang aneh"

Dengan hati-hati Chanyeol mendekat lalu setelah yakin bahwa Sehun tak akan menjauh, dia merengkuhnya ke dalam pelukan.

"Ingat kata-kataku tadi," bisiknya lembut, lalu menunduk dan memberikan Sehun sebuah ciuman yang singkat tapi menggetarkan Sehun.

Dan pergilah Chanyeol, meninggalkan Sehun yang masih terpaku memegangi bibirnya yang terasa hangat, bekas ciuman Chanyeol.

.

oOo

.

"Dia sadar" Chanyeol menyesap minumannya sambil berdiri terpaku menatap ke pemandangan dari jendela lantai kantornya.

Junmyeon yang masih bersama Kyungsoo hanya diam terpaku. Chanyeol sudah menceritakan semuanya pada mereka tadi tentang sadarnya Luhan dari komanya. Dan sekarang dia hanya terdiam dan mengulang-ulang kata 'dia sadar' sambil menatap keluar.

Junmyeon menarik nafas mulai tak sabar sedangkan Kyungsoo hanya mengetuk-ngetukkan tangannya di lutut. Chanyeol masih belum menunjukkan tanda-tanda memaafkannya jadi dia memilih diam dan tak berkata apa-apa.

"Ku rasa karena perkembangan baru yang tidak terduga ini, kau akhirnya memutuskan untuk melepaskan Sehun?"

Pertanyaan Junmyeon itu membuat Chanyeol mendadak memutar tubuhnya dengan tajam menghadap Junmyeon dan menatapnya dengan mata menyala-nyala.

"Dia belum memilih" gumam Chanyeol setengah menggeram. "Detik terakhir sebelumnya, dia menerimaku dalam pelukannya, membalas pelukanku dan aku yakin akan menerima ajakanku untuk pulang bersamaku"

"Sudahlah Chanyeol, sekarang kan tunangannya yang setia ditungguinya selama 2 tahun sudah sadar, kau tidak bisa…" tanpa sadar Kyungsoo bersuara memberikan pendapat seperti kebiasaannya sebelumnya. Tapi langsung berhenti mendadak ketika menerima tatapan tajam penuh permusuhan dari Chanyeol. "Aku.. aku hanya mencoba memaparkan kenyataan di depanmu" suara Kyungsoo hilang tertelan karena tatapan Chanyeol makin tajam.

Junmyeon menghela nafas sekali lagi, "Chanyeol, Kyungsoo, sadarnya Luhan ini bukankah merupakan tujuan hidup Sehun selama ini? Biarkan mereka berbahagia, Chanyeol. Mereka panyaas mendapatkannya setelah tahun-tahun penuh penantian dan ketidakpastian yang menyiksa"

"Tidak!" Chanyeol tetap bersikeras, "Aku tidak bisa menyerah begitu saja dan membiarkan Sehun salah memilih. Dia mencintaiku. Perasaannya pada Luhan mungkin hanya kasihan.."

"Kenapa kau tidak bisa berpikir kalau perasaannya kepadamulah yang mungkin hanya perasaan sesaat karena keadaan yang dipaksakan? Kau pernah dengar apa itu Stockholm syndrome?" sela Junmyeon jengkel.

Chanyeol termenung, tentu saja dia tau apa sindrom itu dan menyakitkan kalau menyadari bahwa perasaan Sehun kepadanya mungkin ditumbuhkan oleh situasi keterpaksaan. Dengan gusar diusapnya rambutnya.

"Aku akan menanyakan langsung padanya. Nanti. Setelah kondisi tunangannya lebih baik"

Junmyeon tidak berkata apa-apa dan Kyungsoo juga diam. Tak tahu harus bicara apa lagi.


TBC


note: stockholm syndrome itu respon psikologis pada sandera penculikan yg menunjukkan tanda kesetiaan pada penyanderanya tanpa peduli bahaya atau resiko yg sudah dialaminya.. *googling aja kalo kurang paham atau mungkin masih asing sama istilah itu

dan betewe..Chanyeol udah minta maaf, dan bilang cinta juga tapi Luhan malah kebangun sadar hahaha, makin ribet ga tuh?

tapi ff remake ini ga bakal bertele-tele kok, jadi tenang aja.. ga bakal kek sinetron yg ribuan episode wkwkwk, mungkin sekitar 3 chapter lg kelar