CHAPTER 14

.

.

.

Dua hari kemudian, Sehun berdiri di depan ruangan perawatan Luhan dengan cemas. Tangannya menggenggam tangan suster Nana setengah menangis. Matanya semakin berkaca-kaca ketika mendengar suara teriakan dari dalam. Teriakan Luhan.

"Suster..," hati Sehun terasa diiris-iris menyadari bahwa suara pertama yang dikeluarkan Luhan setelah 2 tahun adalah teriakan kesakitan.

"Tidak apa-apa. Itu pertanda bagus. Luhan memang kesakitan, mereka sedang melepas selang di tenggorokan dan di dadanya. Tapi kalau Luhan bisa mengeluarkan suara, itu pertanda kondisinya sudah semakin membaik" suster Nana menggenggam tangan Sehun, membagikan kekuatannya.

Suara teriakan itu terdengar lagi, begitu serak hingga Sehun hampir tak mengenalinya. Air matanya mulai menetes tanpa dapat ditahannya.

"Berapa lama lagi, suster?" menunggu di luar seperti ini terasa bagaikan siksaan yang paling mengerikan.

"Sebentar lagi. Nanti mereka akan mengizinkanmu menemuinya" dengan lembut suster Nana mengusap Sehun, "Dia harus melalui ini semua dan nanti akan banyak kesakitan lagi, tapi ini proses penyembuhan. Dia pasti akan sembuh"

Sehun mengangguk, memejamkan matanya, menunggu. Penantian itu terasa begitu lama, lama sekali sampai tim dokter dan perawat keluar dan mengizinkan Sehun masuk. Dengan hati-hati Sehun melangkah masuk ke ruangan perawatan. Ruangan yang sangat akrab, sangat dikenalinya. Tapi sekarang berbeda. Luhan tidak tidur. Luhan tidak menutup mata, dia sadar dan hidup.

Sehun duduk di sebelah ranjang dan Luhan langsung menyadari kehadirannya. Tangannya membuka dan dengan lembut Sehun menyelipkan jemarinya disitu.

"Hai" sapa Sehun lembut.

Luhan tersenyum lalu mengernyit karena gerakan sederhana itu menyakitinya.

"Sa..kit.." gumamnya susah payah.

Sehun tersenyum, sebelah tangannya mengusap dada Luhan yang kurus, berhati-hati agar tidak menyentuh luka di dadanya.

"Mereka sudah melepas selang di tenggorokan dan dadamu…"

Luhan mengernyit lagi.

"Berapa lama?" suaranya serak dan terbata-bata.

"Apanya?"

"Tidur.. berapa lama?"

"Dua tahun" jawab Sehun pelan dan langsung menerima tatapan penuh kesedihan dari Luhan, "Tapi dua tahun tidak terasa lama kok. Yang penting kau sudah bangun. Kau berjuang dan aku bangga padamu" sambung Sehun cepat.

Luhan tampak sedikit lega mendengar penjelasan Sehun tapi lalu dia mengernyit lagi.

"Eomma.. Appa..?"

Sehun menggenggam tangan Luhan erat-erat, "Mereka meninggal pada saat kecelakaan itu.."

Dan hati Sehun bagaikan diremas-remas ketika melihat Luhan memejamkan mata dan menangis. Dengan lembut diusapnya air mata Luhan, dikecupnya pipi lelaki itu yang pucat dan tirus.

"Tapi aku yakin mereka sudah tenang di sana. Mereka pasti bahagia sekarang mengetahui kau sudah sadar"

Luhan membuka mata dan menatap Sehun, "Maaf.."

"Kenapa?" tanya Sehun.

"Karena kau.. ditinggal.. sendiri.."

Air mata ikut mengalir di pipi Sehun, "Aku tak apa-apa, lihat? Aku sehat dan baik-baik saja. Aku bertahan untukmu. Dan sekarang kau yang harus berjuang untukku. Kau harus berjuang untuk pulih lagi, bersamaku.."

Luhan mengangguk dan memejamkan mata. Percakapan ringan itu membuatnya lelah.

"Istirahatlah.. aku akan ada saat kau terlelap. Aku akan ada saat kau bangun lagi" dengan lembut Sehun mengusap rambut Luhan sampai nafasnya berubah teratur dan tertidur pulas.

"Dia akan kuat. Dia akan baik-baik saja"

Suara dari arah pintu yang terdengar tiba-tiba itu mengejutkan Sehun. Dia menoleh dan mendapati dokter Junmyeon sudah berdiri di sana. Entah sejak berapa lama.

"Dokter Junmyeon?"

Junmyeon tersenyum dan melangkah mendekat.

"Yah, kau pasti tak menduga kedatanganku. Aku ke sini bersama seseorang.." Junmyeon mengedikkan kepalanya ke arah pintu. Sehun mengikuti arah pandangan Junmyon dan wajahnya memucat melihat Kyungsoo berdiri di sana. Tidak melangkah masuk, hanya berdiri di ambang pintu dengan ragu.

"Dia datang untuk minta maaf," jelas Junmyeon begitu melihat ekspresi takut dari Sehun, "Dia sudah meminta maaf pada Chanyeol dan Chanyeol mengusirnya, menyuruhnya meminta maaf padamu karena kaulah yang dilukainya"

Chanyeol. Nama itu terlintas di benak Sehun. Chanyeol dan pernyataan cintanya. Tiba-tiba dada Sehun terasa penuh, tapi lalu dia mengernyit. Tidak, dia harus membunuh perasaan apapun itu yang muncul untuk Chanyeol. Dia harus fokus pada Luhan.

"Mungkin kita bisa bicara di luar?" Junmyeon bicara setengah berbisik, melirik Luhan yang tertidur pulas.

Sehun mengangguk mengikuti dokter Junmyeon sampai ke ujung lorong dan Kyungsoo mengikuti mereka.

"Maaf," gumam Kyungsoo ketika mereka sudah ada di lorong yang sepi. Dia mengernyit sedikit ketika melihat Sehun menjaga jarak padanya, sedikit berlindung di belakang Junmyeon, terlihat takut padanya. Kyungsoo mengusap rambutnya penuh rasa bersalah, "Aku sendiri tak tahu setan apa yang menghinggapiku saat itu. Aku salah paham dan berbuat fatal. Mungkin aku memang pantas menerima luka akibat semua pukulan ini.." Kyungsoo mencoba menatap Sehun selembut mungkin, menunjukkan ketulusannya agar Sehun yakin. "Ku mohon jangan takut padaku, Sehun. Aku minta maaf. Aku benar-benar menyesal, aku malu.."

Kata-kata itu merasuk ke dalam jiwa Sehun. Dia menatap lelaki di depannya ini. Dia memang tak terlalu akrab dengan pengacara Chanyeol ini. Mereka hanya berinteraksi hanya kalau perlu dan kebanyakan Kyungsoo hanya berinteraksi dengan Chanyeol, mengabaikannya. Tapi sekarang lelaki ini terlihat tulus dan berantakan dengan memar di mana-mana meskipun tidak mengurangi ketampanannya. Sehun mencoba mengangguk dan memunculkan senyum kecil meskipun dia masih menjaga jarak.

"Iya," jawabnya pelan.

Kyungsoo menatap Sehun dalam-dalam, mencari kepastian di sana dan yang dilihat di mata Sehun adalah ketulusan.

"Aku dimaafkan?" tanyanya pelan.

"Iya"

Kyungsoo pun membalas senyuman Sehun.

"Sekarang aku tahu kenapa hati Chanyeol yang keras itu bisa melumer menjadi begitu lembut" gumamnya pelan membuat pipi Sehun merona.

Dengan lega Junmyeon menarik nafas panjang.

"Kalau begitu masalah ini sudah selesai," Junmyeon menoleh ke arah Kyungsoo, "Nah, Kyungsoo..bisakah kau ke tempat lain dulu? Aku ingin bicara berdua dengan Sehun. Percakapan dokter dengan keluarga pasien, kau tahu?"

Kyungsoo meringis dengan pengusiran itu lalu mengangguk.

"Oke, telpon aku kalau kalian sudah selesai" gumamnya dan membalikkan tubuh melangkah pergi setengah menyeret mengingat kondisinya yang babak belur setelah dihajar habis-habisan.

Mereka berdua menatap kepergian Kyungsoo dan Junmyeon tersenyum, "Dia sangat menyesal.."

Sehun mengangguk, "Saya mengerti" lalu Sehun menatap Junmyeon dengan penuh ingin tahu.

"Dokter ingin berbicara apa kepada saya?" kecemasan tampak terdengar dari suara Sehun. Apakah terjadi sesuatu dengan Luhan?

Junmyeon tersenyum mencoba menenangkan, "Tenang saja. Luhan akan baik-baik saja. Aku sudah berbicara dengan dokter yang menanganinya. Dia bilang Luhan bisa kembali pulih meski prosesnya bisa berlangsung lama" Junmyeon menggenggam tangan Sehun, "Sehun, apakah dokter sudah memberitahumu tentang kemungkinan bahwa Luhan bisa lumpuh selamanya?"

Sehun mengangguk, tidak tampak terkejut.

"Pada saat Luhan oppa jatuh koma pun, dokter sudah memberitahukan kemungkinan itu pada saya. Dokter bilang kalau nanti Luhan oppa sadar, dia bisa lumpuh selamanya"

"Tapi kemungkinannya tidak 100%. Masih ada harapan 20% bahwa Luhan bisa berjalan lagi kalau dia ada di tangan yang tepat"

"Maksud dokter?" Sehun mengernyit.

"Maksudku..aku merekomendasikan diriku untuk merawat Luhan. Kau tahu aku sedang mendalami spesialisasi pemulihan tulang dan syaraf jadi aku bisa merawat Luhan dengan baik. Nanti ketika dia sudah boleh keluar dari rumah sakit, Luhan harus terus menjalani terapi dengan begitu masih ada kemungkinan dia bisa jalan lagi.."

"Apa.. dokter diminta Chanyeol melakukannya?" Sehun menatap dokter Junmyeon sedikit curiga. Kebaikan hati wanita ini tampak di luar dugaan. Apa Chanyeol memaksanya menawarkan ini pada Sehun?

Junmyeon tersenyum lagi, "Chanyeol memang memintaku, tapi bukan itu alasan aku ingin merawat Luhan" Junmyeon menepuk pundak Sehun, "Kau tahu almarhum suamiku, dia meninggal dalam kecelakaan beruntuk di jalan tol, kecelakaan yang sama yang menewaskan kedua orang tuamu dan melukai Luhan"

"Astaga!" Sehun menutup mulut dengan jemarinya, terkejut.

"Yah, astaga…" Junmyeon tersenyum, "Dunia ini sempit, bukan? Kadang kebetulan yang terjadi sering membuatku bertanya," tatapan Junmyeon berubah serius, "Tapi sungguh, Sehun. Kondisi Luhan ini kupandang sebagai kesempatan kedua. Aku tidak bisa merawat suamiku pada saat itu, tapi ku rasa Tuhan memberiku kesempatan untuk merawat korban yang selamat dari kecelakaan yang sama. Itupun kalau kau mengijinkan"

Sehun mengangguk terharu, "Iya dokter. Saya akan senang dan lega menyerahkan perawatan Luhan oppa di tangan dokter"

.

oOo

.

"Tidak enak" Luhan mengernyit, menggelengkan kepalanya, menghindari sendok berisi bubur sayuran yang disuapkan Sehun kepadanya.

Hari ini adalah tiga minggu sejak Luhan tersadar dari komanya. Kondisinya sudah mulai membaik. Dia sudah bisa duduk, sudah bisa mengucapkan lebih dari satu kalimat dan alat penunjang kehidupannya sudah mulai dilepas satu per satu. Dokter sendiri memuji perkembangan Luhan yang luar biasa. Tekad lelaki itu kuat, maka ketika dia berniat untuk sembuh, dia akan merasakannya sepenuh hati.

"Kau harus memakannya," gumam Sehun sedikit geli dengan kemanjaan Luhan, "Ini menyehatkanmu"

"Rasanya seperti muntahan" gumam Luhan, tapi akhirnya menurut membuka mulut, menerima suapan Sehun lalu mengernyit ketika menelan.

Ekspresinya membuat Sehun tergelak, tapi kemudian Luhan meraih tangan Sehun yang tidak memegang sendok, ekspresinya berubah serius.

"Sehunie..tak terbayangkan rasa terima kasihku padamu. Aku tak tahu bagaimana mengungkapkan cintaku, aku… Para dokter dan perawat menceritakan perjuanganmu untukku"

"Sshh.." Sehun meletakkan sendoknya dan menyentuhkan jemarinya di bibir Luhan, "Perjuangannya sepadan. Kau akhirnya bangun, kan?"

"Tapi..," ekspresi kesedihan menghantam Luhan, "Aku.. aku mungkin tidak akan bisa berjalan lagi. Aku mungkin akan lumpuh selamanya. Aku hanya akan menjadi bebanmu.."

"Oppa," Sehun menyela sedikit marah, "Kau tidak boleh memvonis dirimu sendiri. Kesembuhanmu yang luar biasa ini juga diluar prediksi dokter, bukan? Kita pasti bisa kalau kita berjuang dengan tekad dan keyakinan kuat bersama, meski begitu…" suara Sehun berubah sendu, "Meskipun pada akhirnya kau lumpuh selamanya pun, aku akan tetap bahagia bersamamu. Kau tahu selama ini aku selalu berdoa agar kau sadar. Aku tak pedulu yang lain. Tuhan sudah mengabulkan doaku. Tidak kah itu cukup?"

Mata Luhan tampak berkaca-kaca.

"Kau tidak tahu betapa aku mencintaimu…"

Suara di pintu itu mengalihkan perhatian mereka. Sehun dan Luhan menoleh bersamaan lalu Sehun tersenyum. Dokter Junmyeon ada di sana, dalam kunjungannya yang biasa. Sekarang bahkan dokter Junmyeon sudah mulai akrab dan berteman dengan Luhan. Tapi senyuman Sehun langsung membeku ketika menyadari siapa yang mengikuti di belakang dokter Junmyeon, itu Chanyeol!

Chanyeol yang sama. Chanyeol yang tampan dengan penampilan aroga, dengan ekspresi yang dingin dan tidak terbaca. Sehun tak pernah berhubungan dengan Chanyeol lagi sejak Luhan sadar dari komanya. Chanyeol selalu memaksakan maksudnya dengan perantaraan dokter Junmyeon, seperti ketika Chanyeol memaksakan untuk menanggung biaya rumah sakit Luhan dan ketika Chanyeol memaksakan Sehun setuju – lewat bujukan dokter Junmyeon – agar Sehun dan Luhan pulang ke apartemen yang dibelikannya ketika Luhan sudah boleh pulang dari rumah sakit nanti.

Sekarang lelaki itu berdiri di hadapannya. Ekspresinya tak terbaca dan sedikit muram, membuat Sehun bertanya-tanya apakah Chanyeol mendengarkan percakapannya dengan Luhan tadi. Apakah Chanyeol tidak suka mendengarnya.

"Dokter Junmyeon," Luhan menyapa ramah ketika Sehun hanya diam saja lalu menatap ingin tahu ke arah lelaki tampan yang seprtinya hanya menatap fokus pada Sehun.

"Hai Luhan, aku datang untuk mengecek kondisimu. Dua hari lagi kau sudah boleh pulang kalau kondisimu sebaik ini terus" Junmyeon menyadari Luhan menatap ke arah Chanyeol, lalu menyikut pinggang Chanyeol untuk menarik perhatiannya yang terarah lurus pada Sehun, "Dan ini Park Chanyeol, dia bosku dan Sehun juga.."

Chanyeol menoleh perlahan lalu menatap Luhan, menelusurinya dengan tajam dan meneliti. Inikah laki-laki yang dicintai Sehun sampai rela mengorbankan segalanya? Tiba-tiba terlintas pikiran jahat di benaknya, apa yang akan diperbuat Luhan jika tiba-tiba dia mengungkapkan bahwa Sehun sudah menjual keperawanannya kepadanya? Bahwa dia sudah berkali-kali meniduri tunangannya yang katanya dicintainya tadi?

"Chanyeol.." Junmyeon bergumam ketika Chanyeol hanya menatap dan tidak bersuara.

Chanyeol lalu mendekat dan mengulurkan tangannya pada Luhan, "Salam kenal, saya adalah.. atasan Sehun di tempat kerjanya. Kebetulan kamu cukup.. akrab" sedikit senyum muncul di bibir Chanyeol ketika menyadari Sehun dan Junmyeon tampak begitu cemas dengan kata-kata yang mungkin muncul dari bibirnya.

Luhan menerima jabatan tangan Chanyeol dan tersenyum tulus.

"Terima kasih" meskipun Luhan sedikit bertanya kenapa tatapan tajam Chanyeol seolah ingin membunuhnya.

"Saya senang kondisi Anda semakin membaik" gumam Chanyeol tenang tapi terdengar seolah mengataka 'kenapa kau tak mati saja biar semua jadi mudah?'

Sehun mengernyit mendengar nada suara bicara Chanyeol. Lelaki itu sama sekali tidak mencoba membuat suasana menjadi lebih mudah, malah seolah menantang Sehun untuk mengakui sesuatu. Mengakui apa? Apa Chanyeol ingin agar Sehun mengakui segalanya di depan Luhan? Mengaku bahwa dia sudah menjual keperawanan dan tubuhnya demi membiayai operasi Luhan?

Sehun akan mengakuinya, itu pasti, dia tak mungkin membohongi Luhan. Luhan mungkin akan marah dan sedih karena Sehun terpaksa melakukan itu semua demi dirinya. Lalu mungkin Luhan akan menyalahkan dirinya sendiri. Lelaki itu tak akan meninggalkan dirinya karena sudah tak perawan. Sehun begitu mengenal Luhan hingga yakin akan hal iti. Dia lelaki berpikiran terbuka, tapi yang Sehun takut adalah Luhan akan semakin menyalahkan dirinya sendiri. Menyalahkan kondisinya yang tak berdaya yang membuat Sehun harus berjuang sendirian demi dirinya, dan Sehun tak mau Luhan mengalami itu semua. Tidak di saat kondisi Luhan masih begitu rapuh dan ada di dalam proses pemulihan. Nanti, Sehun akan mengakui semua, tidak sekarang.

Karena itu dia langsung memelototi Chanyeol mengingatkan. Memastikan Chanyeol melihat isyarat dalam matanya dan menggeram dalam hati ketika Chanyeol malah tersenyum meremehkan.

"Mr. Park ini adalah atasanku di tempat lamaku bekerja" jelas Sehun cepat begitu melihat kebingungan di mata Luhan.

"Tempatmu sekarang bekerja, Sehun. Kau masih bekerja di sana" sela Chanyeol tajam.

Sehun ternganga mendengar bantahan Chanyeol itu, kehabisan kata-kata, sementara Chanyeol tersenyum datar pada Luhan.

"Kami sempat mengalami sedikit kesalahpahaman. Saya menuduh Sehun melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dia lakukan. Tapi saya sekarang sudah menyadari kesalahan saya" Chanyeol menatap Sehun penuh arti, "Dan dengan rendah hati, saya meminta Sehun kembali kepada saya" kata-kata itu diucapkan dengan datar dan santai taip entah kenapa arti yang tersirat di dalamnya membuat Sehun merona.

Junmyeon langsung berdehem memecah kecanggungan, "Bagus, akhirnya kita menyelesaikan segala kesalahpahaman," gumamnya ceria, "Sekarang aku ingin memeriksa Luhan"

"Saya tidak pernah merasa lebih baik, dokter.." Luhan tersenyum, perhatiannya teralih dari Chanyeol dan Sehun.

"Dan akan lebih baik lagi, aku yakin mengingat pesatnya kondisimu" Junmyeon tersenyum lalu menatap Sehun dan Chanyeol, "Kalian bisa keluar sebentar? Aku ingin memeriksa Luhan"

Dan dalam diam Chanyeol dan Sehun melangkah keluar ruangan. Mereka masih berdiri dia di lorong ruang perawatan.

"Dia tampak sehat.." gumam Chanyeol kemudian, menyandarkan tubuhnya di tembok dan menatap Sehun dengan tajam.

Sehun mengangguk.

"Dia tak akan bisa berjalan lagi kan?" sambung Chanyeol jahat.

Sehun terbelalak mendengar kekejaman dalam suara Chanyeol.

"Park Chanyeol! Kau jahat sekali!" mata Sehun berkaca-kaca, "Dokter Junmyeon bilang masih ada kesempatan bagi Luhan oppa untuk sembuh dan aku percaya dia akan sembuh"

"Sampai berapa lagi, Sehun? Kau harus menunggu dalam waktu yang tak pasti lagi. Kenapa mencintai seseorang harus penuh pengorbanan seperti itu?" Chanyeol mendesis kesal, "Dan kata Junmyeon noona, dia juga mungkin tak bisa berfungsi sebagai laki-laki normal"

"Chanyeol~ssi!" Sehun setengah berteriak, menghentikan kata-kata Chanyeol. Pipinya memerah mendengar ucapan Chanyeol yang vulgar.

Chanyeol mengangkat bahu tanpa rasa bersalah.

"Aku cuma mengungkapkan apa yang dikatakan Junmyeon noona padaku" tiba-tiva dia mendekat dan merengkuh pundah Sehun, "Bagaimana Sehun? Bagaimana jiga dia tidak dapat berfungsi sebagai lelaki normal? Padahal aku tahu…" mata Chanyeol menyala-nyala, "Aku tahu betapa kau gadis kecil yang penuh gairah. Betapa kau menyambut setiap sentuhanku dengan gairah yang sama, betapa kau menyukainya.. Bagaimana kau nanti bisa tahan tidak merasakan itu semua? Tidak disentuh.. tidak di…"

"Hentikan!" kali ini Sehun benar-benar berteriak. Matanya berkaca-kaca. Membuat Chanyeol terdiam dan tak melanjutkan kalimatnya. Sehun tampak begitu rapuh sekaligus begitu kuat dengan wajah pucat pasi dan mata berkaca-kaca seperti itu, membuat Chanyeol ingi melumatnya.

"Kau terlalu picik kalau selalu memandang sebuah kasih sayang hanya dari kemampuan melakukan hubungan fisik" desis Sehun tajam, "Aku mencintai Luhan, aku hanya butuh kehadirannya di sampingku. Itu saja. Kalau dia.. nantinya tak bisa memelukku dengan bergairah, aku tak peduli. Yang penting dia hidup dan ada di sisiku. Aku tak butuh yang lain lagi.."

"Tak butuh yang lain lagi?" kata-kata Sehun yang penuh cinta itu menyulut kemarahan Chanyeol. Dengan kasar direnggutnya Sehun ke dalam pelukannya, "Kalau begitu bagaimana dengan yang ini?!"

Dengan tanpa diduga-duga, Chanyeol mencium bibir Sehun. Pertama kasar, meluapkan kemarahannya di sana, melumat bibir Sehun dengan menyakitkan seolah ingin menghukumnya. Chanyeol ingin menghukumnya karena menyakitinya. Chanyeol merindukannya.

Ciumannya melembut ketika merasakan bibir Sehun yang sangat dirindukannya. Dipeluknya tubuh Sehun erat-erat. Dilumatnya bibirnya dengan seluruh gairahnya. Entah berapa lama mereka berciuman sampai kemudian Chanyeol melepaskan tautan bibir mereka.

Chanyeol menunduk, masih berpelukan, dahinya menyatu dengan dahi Sehun. nafas mereka panas dan bibir mereka masih berdekatan. Kemarahan Chanyeol mereda seketika karena ciuman itu. Kini dadanya dipenuhi perasaan lembut yang menyesakkan.

"Jangan bilang kau tidak merindukan sentuhanku" bisik Chanyeol lembut.

Sehun berusaha menggeleng, "Aku tidak merindukannya"

Chanyeol menunduk lalu menghujani ciuman-ciuman di telinga dan leher Sehun, membuat tubuh Sehun gemetaran.

"Teruslah berbohong," bisik Chanyeol, "Tapi tubuhmu tak bisa berbohong. Tubuhmu merindukanku dan aku merindukanmu" bisik Chanyeol di sela kecupannya.

Sehun mengerang, mencoba melawan kebenaran yang menyiksanya. Dia memang merindukan Chanyeol. Sering di malam-malam dia berbaring di sofa rumah sakit, menunggui Luhan, dia merindukan pelukan Chanyeol yang melingkari perutnya dengan posesif, merindukan lengannya yang menjadi bantal tidurnya, merindukan desah nafas Chanyeol di telinganya ketika tertidur pulas. Tapi Sehun menahannya, mencoba menghilangkannya. Perasaan itu tak boleh tumbuh, dia sudah punya Luhan. Kekasih yang ditunggunya tanpa putus asa selama 2 tahun. Kekasih yang sekarang sedang berjuang untuk pulih kembali. Air mata mengalir di pipi Sehun.

"Aku merindukanmu, Chanyeol~ssi" pengakuan itu yang sama sekali tak diduga Chanyeol membuatnya terpaku.

Chanyeol menegakkan tubuhnya, mengangkat dagu Sehun agar menatapnya.

"Apa? Katakan sekali lagi, katakan…" Chanyeol mendesak ketika Sehun menghindari tatapannya, "Katakan sekali lagi, Sehun. Aku perlu mendengarkan lagi"

Sehun menarik nafas panjang lalu menatap mata cokelat yang berbinar itu.

"Aku merindukanmu.." gumamnya pelan.

"Demi Tuhan" Chanyeol memejamkan matanya lama lalu memeluk Sehun, "Betapa aku ingin mendengar pengakuan itu darimu…"

Mereka berpelukan cukup lama, menikmati saat-saat yang penuh dengan keheningan sampai kemudian Chanyeol melepaskan pelukannya dan menatap penuh tekad.

"Kita harus berbicara pada Luhan"

"Jangan!" Sehun berteriak mencegah dan ketakutan.

"Kau harus menentukan perasaanmu, Sehun. Aku atau Luhan. Salah satu dari kami harus mendapat kepastian tentang perasaanmu" gumamnya tegas.

Sehun menangis lagi, tangannya bergerak menyentuh pipi Chanyeol dan membuatnya memejamkan mata.

"Chanyeol~ssi.. mungkin aku juga menyayangimu, mungkin aku juga mencintaimu. Tapi Luhan lebih membutuhkanku. Tanpa aku dia tak punya siapa-siapa lagi. Sedangkan kau, kau lelaki hebat, kau bisa mencari banyak penggantiku, kau masih bisa hidup tanpa aku"

Ketika Chanyeol membuka mata, kesakitan dan kepedihan yang terpancar di dalamnya begitu mengiris hati Sehun.

"Jadi aku dikalahkan karena aku hebat?" suara Chanyeol terdengar pedih, "Apa aku harus terluka parah seperti Luhan agar kau memilihku?"

"Chanyeol!" Sehun berseru spontan, "Jangan pernah.. jangan pernah berpikir begitu. Kau..pasti bisa mengerti keputusanku"

Chanyeol melihat air mata Sehun yang mengalir dan mengusapnya lembut. Lalu Chanyeol menangkup pipi Sehun dengan kedua tangan, menghadapkan wajah mungil itu agar mau menatap matanya. Lalu sebuah senyum kecil muncul di bibir Chanyeol.

"Dasar perempuan kecilku yang bodoh. Kau tak perlu mengatakan apa-apa lagi. Cukup dengan kau bahagia. Itu saja, kau mengerti? Sekarang hapus air matamu dan tersenyumlah.."


TBC


Luhan makin membaik..Kyungsoo udah minta maaf

Chanyeol ngerayu Sehun dan dia mulai luluh..trus gimana hayoo?