CHAPTER 15

.

.

.

Sejak saat itu Chanyeol seolah menghilang dari kehidupan Sehun. Sehun merenung dalam mobil rumah sakit yang membawa mereka pulang ke apartemen. Hari ini Luhan sudah boleh pulang dari rumah sakit, bersama Junmyeon dan suster Nana mereka pulang ke apartemen. Suster Nana memutuskan untuk tinggal sementara membantu Sehun dan Junmyeon sudah berjanji akan berkunjung setiap hari untuk mengecek kondisi Luhan dan melakukan terapi rutin.

Kata dokter Junmyeon, Chanyeol memutuskan mengambil tugas perjalanan ke Eropa dan mungkin akan kembali dalam waktu yang lama. Dada Sehun terasa nyeri ketika sekali lagi mengakui kenyataan itu kepada dirinya sendiri. Dia merindukan Chanyeol, sangat merindukannya. Ternyata cinta memang bisa tumbuh tanpa direncanakan. Sehun mencintai Chanyeol. Dia tidak tahu kapan perasaan ini tumbuh. Dia hanya tahu dia mencintai Chanyeol, itu saja.

"Aku tidak menyangka bosmu yang kelihatannya sombong itu bisa begitu baik meminjamkan apartemennya" Luhan memecah keheningan, menatap Sehun dengan sedikit menyelidik. Dia bertanya-tanya karena akhir-akhir ini Sehun begitu murung.

"Aku yang membujuknya," Junmyeon yang duduk di kursi depan cepat-cepat menjawab, tahu bahwa Sehun pasti kebingungan dengan pertanyaan Luhan, "Chanyeol adalah sahabat suamiku. Aku bilang merawatmu penting bagiku karena kau adalah salah seorang yang selamat dari kecelakaan yang menewaskan suamiku. Jadi Chanyeol mau meminjamkan apartemen itu, toh apartemen itu tidak terpakai"

Diam-diam Sehun dan suster Nana menarik nafas lega mendengar kelihaian dokter Junmyeon menjawab.

Mereka sampai di apartemen dan Sehun mendorong kursi roda Luhan memasuki ruangan. Begitu mereka masuk, tanpa sadar Sehun mengernyit, semua kenangan itu seolah menghantamnya. Di sini, di apartemen ini, dia menghabiskan waktu berdua dengan Chanyeol. Makan malam bersama, berbincang bersama.

"Apartemen yang sangat bagus. Kita beruntung bosmu sangat baik.." Luhan mendongakkan kepalanya ke belakang menatap Sehun sambil tersenyum.

Mau tak mau Sehun memaksakan senyuman di bibirnya. Kuatkah dia berada di sini? Apalagi di kamar itu. Sehun melirik kamarnya, tempat Chanyeol juga menghabiskan sebagian besar waktunya di sana.

Dengan cepat mereka menyiapkan segalanya hingga Luhan selesai diterapi dan beristirahat di kamarnya. Suster Nana menjaganya sebentar lalu berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, janji akan pulang dan menginap di sini nanti malam.

Setelah memastikan Luhan tertidur pulas, Junmyeon menyeduh teh dan mengajak Sehun duduk di ruang depan.

"Dia sudah kembali dari Eropa," Junmyeon membuka percakapan, menatap Sehun dari atas cangkir teh yang diteguknya.

Seketika itu juga hati Sehun melonjak, tahu siapa yang diisyaratkan sebagai 'dia'.

"Apa dia baik-baik saja?" tanya Sehun,

Junmyeon tersenyum miring mendengar kelembutan dalam suara Sehun.

"Kau itu baik hati ya. Sudah menerima arogansinya yang tidak tanggung-tanggung, tapi masih saja mencemaskannya," dengan pelan Junmyeon meletakkan cangkirnya, "Ya dia baik-baik saja. Sedikit kurus, terlalu memaksakan diri dan jadi pemarah seperti beruang terluka. Tak ada yang berani menyinggungnya dan mendekatinya kalau dia mengeluarkan aura marahnya" Junmyeon terkekeh. Lalu wajahnya berubah serius melihat kesedihan Sehun, "Ya..dengan melupakan fakta kalau akhir-akhir ini dia lebih seperti mayat hidup daripada manusia. Sepertinya dia baik-baik saja"

Sehun memalingkan wajahnya dengan pedih.

"Dia menderita, Sehun…" kata Junmyeon kemudian, "Aku tak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya"

"Sudah…" Sehun tak tahan lagi mendengarnya. Penderitaan Chanyeol serasa mengiris hatinya, "Aku tak mau mendengar lagi"

Junmyeon menarik nafas, "Tapi dia memintaku menyampaikan pesan padamu"

Sehun menoleh, merasa tertarik.

"Pesan?"

Junmyeon mengangguk, "Ya, malam ini jam 8, di tunggu di restoran" lalu Junmyeon menyebutkan nama sebuah hotel.

Dan Sehun mengernyit, hotel tempat pertama kali dia bersama Chanyeol.

.

.

.

Sehun merasa tidak nyaman, pakaiannya terlalu biasa untuk ukuran hotel yang mewah ini. Dia berdiri kikuk di lobby, tak tahu harus berbuat apa. Entah dorongan apa yang membuatnya datang menemui Chanyeol malam ini. Dia tahu dia nekat, seperti memancing setan untuk membakarnya. Tapi dia tak bisa menahan diri. Dia ingin bertemu Chanyeol meski mungkin ini untuk terakhir kalinya.

"Bisa dibantu, nona?" seorang petugas hotel datang menghampiri.

"Eh, saya.. saya Oh Sehun. Saya sudah ditunggu"

"Nona Oh" petugas itu berubah sopan dan membungkukkan tubuh, "Silahkan, mari saya antar"

Dengan ragu Sehun melangkah mengikuti petugas hotel itu, memasuki restoran yang tertata dengan mewah dan elegan. Dan di sanalah Chanyeol, duduk dengan pakaian formalnya. Mata Chanyeol sudah melihatnya ketika dia memasuki ruangan. Dan tidak lepas memandangnya dengan tajam. Ketika Sehun mendekat, Chanyeol berdiri dengan sopan lalu duduk lagi setelah Sehun duduk.

"Terima kasih sudah datang" gumam Chanyeol.

Sehun mengangguk, matanya berkaca-kaca melihat tatapan Chanyeol.

"Mungkin ini untuk terakhir kalinya. Mungkin setelah ini aku tidak akan datang lagi" gumam Sehun pelan.

Chanyeol mengangguk, "Setelah ini aku tak akan pernah memintamu datang lagi"

Hening lagi. Sampai pelayan membawakan makanan pembuka. Mereka makan dalam diam. Sampai kemudian Chanyeol menuangkan anggur ke gelas Sehun,

Sehun mengernyit, "Aku tak pernah minum alkohol"

Chanyeol tersenyum menggoda, senyum pertamanya malam itu.

"Tenang saja. Aku akan menjagamu. Kemungkinan terburuknya mungkin kau diperkosa saat mabuk"

Pipi Sehun merona dan Chanyeol terkekeh.

Anggur itu mencairkan segalanya. Suasana menjadi hangat dan percakapan mereka mengalir lancar. Chanyeol menceritakan tentang perjalanannya ke Eropa dan Sehun mendengarkan dengan penuh minat. Sampai kemudian Chanyeol menggenggam tangan Sehun lalu mengecupnya.

"Aku ingin memelukmu"

Hanya satu kalimat tapi Sehun mengerti. Dia menganggukkan kepala. Entah kenapa dia menyetujuinya. Mungkin karena anggur itu sudah mempengaruhi pikiran normalnya. Yang pasti Sehun juga ingin merasakan pelukan Chanyeol.

Dengan lembut Chanyeol menghela Sehun, melangkah ke lantai atas. Ketika Chanyeol membuka pintu kamar, Sehun menatap Chanyeol bingung, dan Chanyeol tertawa menyadari kebingungan Sehun.

"Ya.. kamar yang sama. Ku akui aku memang agak sedikit sentimental" Chanyeol mengangkat bahu, pipinya merona, "Ku pikir tempat saat pertama akan cocok untuk menjadi tempat saat terakhir kita"

Sehun tersenyum dan membiarkan Chanyeol membimbingnya masuk ke kamar. Mereka berdiri dengan canggung sampai Chanyeol mengeluarkan kotak dari sakunya.

"Aku membawa cincin keluargaku. Cincin yang diberikan turun temurun untuk pengantin perempuan" dengan tenang dia membuka kotak itu dan menunjukkan cincin dengan berlian biru yang mungil dan cantik, "Aku ingin memberikannya padamu"

"Tidak!" Sehun berseru keras, menolak, "Jangan. Itu.. itu cincin yang sangat penting. Itu untuk pengantin wanitamu"

"Bagiku, kaulah pengantin wanitaku" Chanyeol menarik tangan Sehun, memaksa memasangkan cincin itu di jarinya lalu menggenggamnya erat ketika Sehun berusaha melepaskan cincin itu, "Aku ingin kau memilikinya"

"Chanyeol~ssi" Sehun merintih penuh penderitaan, penuh air mata dan Chanyeol mengusapnya dengan lembut, mengecup air matanya.

"Sehun" bisiknya seolah kesakitan, lalu mencium bibirnya dengan penuh perasaan, "Astaga.. Sehun.. betapa aku merindukanmu.."

Ciumannya semakin dalam, semakin bergairah, semakin penuh kerinduan, tak tertahankan.

Chanyeol melepaskan ciumannya dan menatap Sehun, "Kau mabuk ya?" senyumnya. Merasa senang karena Sehun membalas ciumannya dengan sama bergairahnya.

Sehun hanya merangkulkan tangannya erat di leher Chanyeol, merasakan benaknya melayang-layang. Sepertinya dia memang mabuk karena sekarang dia merasa bebas dan begitu nyaman bersama Chanyeol.

Chanyeol terkekeh, "Aku senang kalau kau mabuk. Kau begitu penurut dan tidak takut," dengan lembut Chanyeol mengecup telinga Sehun, mencumbunya, "Biarkan aku mencintaimu malam ini, Sehun…"

Chanyeol membimbing Sehun ke tempat tidur dan mengecupi wajahnya penuh perasaan, "Selama ini kita berhubungan seks, tapi malam ini aku berjanji kita akan… bercinta…"

Chanyeol menggerakkan tangannya menurunkan gaun Sehun dan mulai mengecupi pundaknya, tersenyum senang ketika mendengar desahan Sehun.

"Hmm, kau senang sayang? Kau menyukainya ya?" dengan penuh perasaan dikecupnya semua permukaan tubuh Sehun.

Sehun merasa dirinya melayang, pengaruh alkohol,ditambah kemesraan Chanyeol yang luar biasa membuatnya merasa di awing-awang. Dibukanya matanya, dan samar dilihatnya Chanyeol mengecupi jarinya. Ketika Chanyeol menatapnya, mata laki-laki itu tampak berkilauan.

Posisi mereka begitu intim, telanjang bersama dengan tubuh yang menyatu. Chanyeol mendesakkan miliknya lebih rapat, menikmati tubuh wanitanya yang melingkupinya. Dadanya serasa membuncah oleh perasaan hangat ketika mata mereka ebrsatu dalam pesan yang tersirat.

"Aku mencintaimu" bisik Chanyeol lembut, dan Sehun pun melayang, terbawa cinta Chanyeol.

.

.

.

Chanyeol memeluk tubuh Sehun yang lunglai dan terlelap. Tubuhnya rileks setelah percintaan mereka. Tapi otaknya berpikir keras. Dia sengaja membuat Sehun mabuk agar Sehun tidak waspada, agar Sehun tidak menyadari apa yang sudah dia rencanakan jauh sebelumnya. Dia tak memakai pelindung saat mereka bercinta tadi. Dia berusaha membuat Sehun hamil.

Chanyeol memejamkan mata dan mengernyit ketika sengatan rasa bersalah menyerbunya. Dia telah memanipulasi ketulusan perasaan Sehun dengan menjebaknya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia sudah berusaha melupakan Sehun. Tuhan tahu dia berusaha sangat keras, apa saja agar Sehun bahagia bersama Luhan yang sudah dipilihnya. Dia bahkan mengajukan diri untuk perjalanan bisnis ke luar negeri agar bisa melupakan Sehun. Tapi gadis itu membayanginya, membuatnya gelisah dan tak bisa berkonsentrasi. Chanyeol merasa dirinya nyaris gila ketika memutuskan akan pulang dan memutuskan untuk memiliki Sehun dengan cara apapun. Jika Sehun tak mau memilihnya, maka Chanyeol akan memaksa Sehun memilihnya!

Chanyeol mengecup dahi Sehun yang berbaring di lengannya. Sebelah tangannya meraba perut Sehun yang telanjang di balik selimut dan mengelusnya. Anakku mungkin sudah tumbuh di sini, pikirnya posesif. Rasa memiliki dengan intensitas luar biasa muncul tiba-tiba dalam hatinya ketika menyadari bahwa anaknya mungkin sudah mulai tumbuh dan terbentuk di dalam rahim Sehun. dengan lembut diusapnya perut itu lagi. Chanyeol tak bisa menahan diri. Pelan-pelan diletakkannya kepala Sehun di bantal lalu dia bergerak turun dan mengecup perut Sehun.

"Kau harus tumbuh di sana," bisiknya penuh tekad, "Kau harus tumbuh sehat dan kuat di sana agar ayahmu bisa memiliki ibumu" Chanyeol berbicara sambil mengecup perut Sehun.

Kemungkinan bayi itu terbentuk dari percintaan mereka adalah 80%. Chanyeol sudah mempelajarinya dari semua referensi yang bisa dia dapat. Ia mengetahui bahwa dari rata-rata umur mereka berdua kemungkinan Sehun hamil malam ini sangat besar dan diam-diam dia sudah mencocokkan dengan siklus Sehun. Dia tahu perempuan itu sedang dalam masa suburnya.

Ciuman-ciuman lembut di perutnya membuat Sehun terbangun. Dia membuka mata dan menatap Chanyeol.

"Chan?" Sehun bertanya-tanya kenapa Chanyeol mengecup perutnya.

Chanyeol tersenyum, senyum yang sedikit kejam tapi usapan tangan lelaki itu yang dilakukan sambil lalu di sepanjang kulitnya yang telanjang terasa begitu lembut dan menggoda.

"Aku bergairah lagi," gumamnya, lalu bergerak naik dan mengecup bibir Sehun.

Chanyeol berbeda dengan tadi, pikir Sehun. Kali ini lebih kasar, tidak menahan diri dan sangat posesif. Ciumannya begitu bergairah, melumat bibir Sehun kuat-kuat, lidahnya menjelajahi mulut Sehun dengan panas, tangannya mengusap tubuh Sehun penuh gairah.

"Kau milikku, Sehun.." gumam Chanyeol sebelum bercinta lagi dengannya.

.

oOo

.

Sehun terbangun dalam pelukan Chanyeol. Matahari fajar sedikit menembus tirai putih jendela hotel itu, masih gelap dan dingin. Dengan nyaman Sehun makin bergelung dalam pelukan Chanyeol dan secara otomatis Chanyeol mengetatkan pelukannya, melingkarkan lengannya erat-erat di tubuh Sehun.

Sehun memejamkan mata, menenggelamkan wajahnya di dada telanjang Chanyeol, menghirup aroma Chanyeol kuat-kuat dan menyimpannya dalam memori. Tiba-tiba air mata merembes dari sela kelopak matanya dan Sehun menahannya agar tidak menjadi isakan.

Kenapa? Kenapa Tuhan membuatnya jatuh cinta lebih dulu kepada Chanyeol sebelum kemudian mengabulkan doanya agar Luhan terbangun dari komanya? Apa rencana Tuhan di balik semua peristiwa ini? Kenapa di saat Luhan benar-benar sudah bangun, hatinya sudah dimiliki oleh Chanyeol?

Sehun menggigit bibit agar tangisnya tidak semakin keras dan membangunkan Chanyeol. dia tidak boleh menangis. Ini semua sudah menjadi keputusannya. Dia sudah memiliki Luhan yang mencintai dan dicintai olehnya sejak awal. Luhan yang sebatang kara dan tidak akan punya siapa-siapa kalau Sehun tidak ada di sampingnya. Luhan lebih membutuhkan Sehun dibanding Chanyeol. Tanpa Sehun, Luhan akan rapuh, sedangkan tanpa Sehun, Chanyeol akan tetap kuat. Chanyeol bisa mencari Sehun-Sehun yang lain dengan segala kelebihannya, sedangkan Luhan hanya memiliki Sehun.

Dia sudah memutuskan dalam hatinya tapi kenapa tetap terasa begitu sakit? Rasanya seperti disayat ketika memikirkan Chanyeol, ketika ingatannya melayang pada setiap kebersamaan mereka. Dan malam ini Sehun memutuskan bertindak egois. Hanya malam ini. Dia tahu semua ini akan terjadi. Dia tahu jika dia datang menemui Chanyeol pada akhirnya akan berakhir di ranjang dan bercinta. Sehun tahu itu semua akan terjadi, tapi dia tetap mengambil konsekuensi itu. Dia butuh merasakan pelukan Chanyeol untuk terakhir kalinya dan kemudian meyakinkan dirinya bahwa ini adalah perpisahannya dengan Chanyeol.

Pelukan Chanyeol tiba-tiba mengencang dan dia dengan masih malas-malasan mengecup dahi Sehun.

"Dingin?" tanyanya serak.

Sehun mendongakkan wajah dan mendapati mata cokelat itu menatapnya. Lalu Sehun tersenyum dan menggeleng.

Chanyeol meraih dagu Sehun dan mengecupnya dengan kecupan singkat, "Aku menyakitimu tidak semalam?"

Sekali lagi Sehun menggeleng dan menenggelamkan wajahnya ke dada Chanyeol, menahan air mata. Ini adalah saat berharganya. Berada dalam pelukan erat Chanyeol, merasakan kelembutan dan kemesraannya. Dia akan menyimpan kenangan ini di hatinya. Biar di saat-saat dia merasa pedih dan merindukan Chanyeol, dia akan tinggal menarik keluar kenangan tentang pagi ini, dan hatinya bisa terasa hangat. Seperti inilah dia akan mengenang Chanyeol nanti, lembut dan penuh cinta memeluknya erat.

Seolah mengerti pikiran Sehun yang berkecamuk, Chanyeol tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia hanya memeluk Sehun erat dan mengusap punggungnya dengann lembut. Mereka larut dalam keheningan dan usapan Chanyeol membuat Sehun setengah tertidur.

"Aku harap kau tidak menyesali malam tadi," bisik Chanyeol, menggugah Sehun dari kondisi setengah tidurnya.

Sehun mendongakkan kepala dan menatap Chanyeol.

"Kau tahu aku tidak menyesal," tangannya dengan hati-hati mengusap Chanyeol, takut akan reaksi Chanyeol karena dia tak pernah melakukannya sebelumnya. Tapi Chanyeol langsung memejamkan mata, menikmati setiap usapan Sehun dengan penuh perasaan.

Merasa mendapatkan izin, Sehun menggerakkan tangannya meraba wajah Chanyeol. mulai dari dahinya, lalu ke alisnya, ke mata yang sedang terpejam itu, ke hidungnya, ke tulang pipinya juga, ke rahang yang mulai ditumbuhi bakal janggut, hingga ke bibirnya yang penuh yang tak terhitung lagi sudah mengecupnya beberapa kali.

"Sehun.." Chanyeol mendesah, mengernyitkan dahi merasakan usapan lembut Sehun di wajahnya. Tangannya lalu menahan jemari Sehun di bibirnya dan mengecupnya. Mata cokelatnya membuka dan menatap Sehun bagai api yang menyala.

"Apapun yang akan terjadi nanti, aku akan membuat kau mensyukuri malam ini," gumam Chanyeol misterius.

Sehun mengernyitkan dahi mendengarnya. Apa maksudnya? Tapi belum sampai Sehun bisa berpikir lanjut, Chanyeol sudah menggulingkan tubuh Sehun dan menindihnya, bercinta lagi dengannya.

.

oOo

.

Sehun membuka pintu apartemen dengan hati-hati dan menemukan dokter Junmyeon sedang duduk di ruang tamu sedang menyesap kopi dan menonton televisi. Dokter Junmyeon tersenyum penuh pengertian ketika menatap Sehun. Saat itu jam 8 pagi, Sehun sengaja meminta Chanyeol memulangkannya pagi-pagi sehingga Luhan belum bangun. Semalam pun dia berangkat setelah yakin Luhan sudah tertidur pulas.

"Luhan belum bangun" jawab dokter Junmyeon tenang, menjawab pertanyaan di mata Sehun.

Sehun menarik nafas lega, "Dokter menginap di sini?"

Junmyeon mengangguk, "Suster Nana memintaku menemani untuk berjaga-jaga dan aku tidak keberatan, toh aku tidak ada acara apa-apa" ia tersenyum pada Sehun, "Ku harap semalam menyelesaikan segalanya"

Pipi Sehun memerah mendengar ucapan dokter Junmyeon yang penuh arti itu.

"Dia agak marah tadi pagi saat aku buru-buru pulang demi Luhan" bisik Sehun pelan.

Junmyeon terkekeh sambil meletakkan cangkirnya.

"Dia memang begitu, tak usah di pedulikan. Aku yakin sebenarnya dia bahagia kau telah memberinya kesempatan" suara dokter Junmyeon berubah serius, "Dan setelah semalam pun kau tetap pada keputusanmu?"

Sehun termenung mendengar pertanyaan itu, sejenak ragu. Tapi lalu menganggukkan kepalanya mantap.

"Aku harus terus bersama Luhan. Dia membutuhkan saya"

"Kau selalu memikirkan orang lain. Bagaimana dengan dirimu sendiri?" tanya dokter Junmyeon tiba-tiba.

Dengan masih tersenyum Sehun menjawab, "Aku tidak apa-apa. Aku merasa bahagia karena semua orang bahagia"

Semua orang bahagia selain kau dan Chanyeol. Pikir Junmyeon miris ketika Sehun berpamitan ke kamar untuk berganti pakaian. Junmyeon tahu kalau Sehun sama tersiksanya dengan Chanyeol dan dia ingin berteriak marah kepada Sehun, memarahi ketidakegoisan perempuan itu. Sekaligus bertanya sampai kapan Sehun mendedikasikan hidupnya untuk kepentingan dan kebahagiaan orang lain? Junmyeon merasakan dorongan kuat untuk memaksa Sehun berbuat egois, mementingkan kepentingannya sendiri. Berusaha meraih kebahagiaannya sendiri. Tapi dia tahu Sehun. dengan kebaikan hatinya yang luar biasan itu tidak akan mau melakukannya. Dan tiba-tiba Junmyeon teringat pertemuannya dengan Chanyeol ketika dia baru pulang dari Eropa beberapa hari lalu. Mata Chanyeol tampak penuh tekad setengah gila dan menyala-nyala.

"Kalau dia tidak bisa memilhku, maka aku akan memaksanya memilihku"

Wajah Junmyeon memucat mendengar nada final dalam ucapan Chanyeol waktu itu.

"Astaga Chanyeol! Kau tidak sedang berencana melakukan tindakan kasar dan pemaksaan untuk memiliki Sehun kan?" berbagai pikiran buruk melintas di pikirannya. Seperti kemungkinan Chanyeol menculik Sehun dan membawanya pergi, atau kemungkinan Chanyeol akan menyingkirkan Luhan dengan cara kasar. Itu semua bisa dilakukan Chanyeol dengan kekejaman dan kekuasannya. Dan Junmyeon takut Chanyeol kehilangan akal sehatnya dan memutuskan melakukan salah satu dari hal yang ditakutinya.

Chanyeol menarik nafas panjang, "Aku akan membuatnya hamil anakku," gumamnya setelah jeda cukup lama.

Junmyeon menganga mendengarnya.

"Apa?" Junmyeon mendengar cukup jelas tadi, tapi dia sama sekali tak yakin dengan apa yang didengar telinganya. Dia butuh mendengarnya lagi.

"Aku akan membuatnya mengandung anakku" gumam Chanyeol penuh tekad.

"Kau gila ya?!" suara Junmyeon meninggi. Tapi Chanyeol sama sekali tidak terpengaruh dengan nada marah dan ketidaksetujuan Junmyeon.

"Jika Sehun mengandung anakku, mengingat sifatnya, maka dia tak akan menggugurkannya. Itu berarti dia akan mengakui hubungan kami kepada Luhan dan aku akan menggunakan segala cara dengan menggunakan anak itu sebagai alasan agar aku bisa mengklaim Sehun"

"Kau gila!" seru Junmyeon, "Apa kau tidak pernah memikirkan perasaan Luhan? Hatinya akan hancur dan Sehun juga akan menderita jika dia sadar telah menyakiti Luhan"

"Kau pikir mereka saja yang mederita?" sela Chanyeol keras, membuat Junmyeon tertegun, "Aku juga menderita! Aku tidak bisa makan, aku tidak bisa tidur! Aku menjalani detik demi detik penuh penyiksaan! Aku sama saja sudah mati akhir-akhir ini! Aku juga menderita menyadari bahwa aku bisa memiliki Sehun tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk membuatnya memilihku! Sebelum kepulanganku, aku sudah bertekad akan melakukan ini. Tidak ada yang bisa menghalangiku!"

"Chanyeol" Junmyeon melembut, mencoba meredakan emosi Chanyeol. "Aku mengerti perasaanmu, tapi bagaimana kalau nanti Luhan ternyata menerima kondisi Sehun apa adanya dan kemudian Sehun memutuskan membesarkan anak itu bersama Luhan?"

"Kalau itu terjadi aku akan menggunakan cara kekerasan" jawab Chanyeol dingin, "Aku akan memberikan peringatan, Sehun memilihku atau aku akan merenggut anak itu darinya. Kalau perlu aku akan menempuh jalur hukum"

"Kejam sekali" gumam Junmyeon.

Chanyeol mengangguk, tidak membantah.

"Ya, memang kejam sekali" jawabnya menyetujui tanpa penyesalan dan tampak penuh tekad.

Semoga Tuhan melindungi Sehun kalau Chanyeol benar-benar membuatnya hamil malam kemarin. Semoga Tuhan mengampuninya karena dengan kesadaran penuh dia sudah mendukung rencana Chanyeol.


TBC


chanhun nya temu kangen lagi di hotel dan maapkeun niat jahat chanyeol yaa wkwkwk.. tapi sehun jg ga nolak kaann

maapkeun author jg kalo sempet 'menipu' di chapter 13 yg bilang kalo tinggal 3 chapter lagi dan ternyata harusnya disini baru bilang 3 chapter lg hahaha

per chapter aslinya emg panjang sih jadi author kudu bagi 2 bagian biar ga terlalu panjang.. dan 3 chapter terakhir emg belom selesai dikerjain juga wkwkwk

udah ah curhatnya.. selamat menunggu chapter berikutnya *muach