CHAPTER 16
.
.
.
Hampir sebulan sejak kejadian itu, Chanyeol menepati janjinya untuk tidak menemui Sehun lagi. Atas bujukan dan desakan Junmyeon, Sehun kembali bekerja di perusahaan Chanyeol. lagipula bujukan Junmyeon ada benarnya juga, Sehun butuh gajinya untuk menghidupi mereka semua. Dan selama sebulan itu, Chanyeol, sang CEO, menjadi orang yang paling sulit dilihat di kantor. Jika tidak sedang melakukan perjalanan bisnis, dia mengurung diri di ruangan kerjanya dan tidak keluar-keluar. Sesekali Sehun masih berpapasan dengan Kyungsoo, dia masih bekerja di sini, Chanyeol tidak jadi memecatnya. Sepertinya dia dan Chanyeol sudah berhasil menyelesaikan kesalah pahaman di antara mereka
Dan Sehun merindukan Chanyeol. dia sudah bertekad melupakannya tapi hatinya punya mau sendiri. Kadang dia menatap lift khusus direksi yang menyambung langsung ke ruangan Chanyeol dengan penuh harap. Berharap tanpa sengaja dia melihat Chanyeol keluar dari sana, melangkah ke parkiran mobilnya. Tuhan tahu betapa ia bersyukur seandainya saja dia bisa melihat Chanyeol, biarpun Cuma sedetik, biarpun cuma dari kejauhan. Tapi entah kenapa Chanyeol seperti punya pengaturan waktu sendiri agar tidak bertemu Sehun.
Sore itu Sehun memasuki apartemennya dengan lunglai. Dia tidak enak badan, sedikit panas dan meriang. Jadi dia minta ijin pulang cepat. Ketika memasuki ruang tamu, dia mendengar suara tawa dari ruang tengah. Suara Luhan dan dokter Junmyeon. Dokter Junmyeon sudah mendapat ijin Chanyeol menggunakan setengah hari kerjanya untuk melakukan terapi khusus pada Luhan. Terapinya sudah membuahkan hasil. Luhan sudah bisa menggerakkan jari-jari kakinya, sedikit mengangkatnya dan melatih syaraf-syarafnya. Optimisme bahwa Luhan akan bisa berjalan lagi semakin besar.
Sehun melangkah ke ruang tamu dan melihat Luhan sedang duduk di kursi rodanya, sedangkan dokter Junmyeon menuangkan teh untuknya. Sepertinya sesi terapi sudah selesai. Luhan mendongak ketika merasakan kehadiran Sehun dan tersenyum lebar, mengulurkan tangannya.
"Hai sayang.."
Dengan senyum pula Sehun melangkah mendekat, menyambut uluran tangan Luhan.
"Bagaimana sesi terapi kali ini?" tanyanya lembut.
Luhan tertawa dan Sehun mengamati dengan bahagia. Luhan banyak tertawa akhir-akhir ini. Dia makin sehat, warna kulitnya juga sudah jadi lebih sehat, tidak pucat seperti dulu. Badannya sudah lebih berisi dan tampak lebih kuat. Luhan sudah menjadi Luhan yang dulu, yang penuh tawa dan vitalitas dengan semangat hidup yang memancar dari dalam dirinya.
"Aku tadi sudah belajar berdiri. Sulit sekali sampai keringatku bercucuran. Tapi aku senang sudah sampai sejauh ini" jelas Luhan bahagia.
Sehun membelalak senang, "Benarkah?" lalu ditatapnya dokter Junmyeon, "Benarkah dokter?"
"Perkembangan Luhan sangat pesat. Aku optimis dia akan bisa berjalan lagi"
Dengan bahagia Sehun memeluk Luhan erat-erat, "Aku bangga sekali padamu oppa," serunya dengan kegembiraan murni.
Tapi tiba-tiba Luhan melepaskan pelukannya dan menatap Sehun dengan mengerutkan alis, "Badanmu panas.."
Gentian Sehun yang mengerutkan dahi lalu meraba dirinya sendiri, "Benarkah? Aku memang merasa tidak enak badan. Makanya aku pulang cepat.."
Luhan menoleh kea rah Junmyeon, "Dokter, badannya panas bukan?"
Junmyeon segera mendekat dan menyentuh dahi Sehun, "Benar, apa kau terserang flu?"
Sehun menggeleng, "Aku tidak pilek ataupun batuk, tapi ada masalah dengan perutku. Akhir-akhir ini aku sering memuntahkan makanan yang ku makan, makanya aku merasa lemah dan…"
"Memuntahkan makanan?" dokter Junmyeon mengernyit begitu serius.
Sehun mengangguk, tidak menyadari betapa seriusnya pandangan dokter Junmyeon menelusuri tubuhnya.
"Sudah berapa lama?" tanya Junmyeon lagi.
Sehun sedikit berpikir, "Baru beberapa hari ini, mungkin seminggu terakhir.."
"Apa kau kena maag?" Luhan menyela dengan cemas.
"Mungkin.." Sehun mengusap perutnya, "Soalnya aku sering mual"
Junmyeon mengikuti arah tangan Sehun dan menatap perut Sehun, "Kau tampak pucat, berbaringlah dulu. Aku akan menyusul dan memeriksamu setelah selesai dengan Luhan"
Sehun mengangguk lalu menunduk mengecup dahi Luhan.
"Aku berbaring dulu ya," bisiknya dan Luhan mengangguk.
Seperginya Sehun, Junmyeon memijat kaki Luhan untuk sesi pelemasan akhir sambil berpikir keras. Tidak enak badan, mual, memuntahkan makanan. Jika dihitung tanggalnya, semua tepat. Apa Sehun sudah hamil dan tidak menyadarinya?
"Dokter?" Luhan membuyarkan lamunan dokter Junmyeon, "Dokter tidak apa-apa?"
"Ah.. maafkan aku. Aku sedang memikirkan Sehun"
"Kalau begitu sebaiknya dokter memeriksa Sehun dulu. Aku juga mencemaskannya" Luhan tersenyum melihat Junmyeon, "Tidak apa-apa. Aku sudah lebih kuat sekarang. Aku bisa membawa diriku ke kamar dan mengurus diriku sendiri. Ku mohon, uruslah Sehun dahulu.."
Sambil mengangguk, Junmyeon bergegas menyusul Sehun ke kamarnya. Sehun sedang berbaring miring memegangi perutnya. Tampak kesakitan dan pucat. Junmyeon duduk di sebelah ranjang, menyentuh dahi Sehun lagi. Panas, meskipun keringat dingin mengalir deras.
"Aku baru muntah lagi, dokter" Sehun memejamkan mata dan tidak berani membukanya, seolah takut kalau dia membukanya, rasa mual yang hebat akan menyerangnya lagi.
"Berbaringlah dulu, aku akan membuatkan teh mint untukmu, untuk mengurangi mual. Nanti aku akan membuatkan resep obat untukmu" obat untuk wanita hamil. Junmyeon mulai merasa yakin melihat kondisi Sehun. Sehun hanya mengangguk patuh masih memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian, Junmyeon kembali datang dan membantu Sehun duduk lalu membantu meneguk teh mint itu. Setelah itu dia membaringkan Sehun lagi di ranjang.
"Terima kasih. Tehnya cukup membantu. Perut saya tidak begitu bergejolak lagi seperti tadi"
Junmyeon tersenyum, "Cobalah untuk tidur" gumamnya sebelum melangkah keluar kamar.
Ketika merasa cukup aman, dengan Luhan yang sepertinya sudah masuk ke kamarnya, Junmyeon meraih ponsel dan menelepon Chanyeol.
Chanyeol memang menghilang dari kehidupan Sehun, tapi dia tetap memantau setiap detik kehidupan Sehun. Dia menuntut laporan yang sedetail-detailnya dari Junmyeon setiap saat. Dan menurut Junmyeon, Chanyeol berhak tahu dugaannya ini.
"Noona.." Chanyeol mengangkat telepon pada deringan pertama.
"Chanyeol" Junmyeon berbisik, bingung memulai dari mana. Sejenak suasana hening.
"Dia hamil," itu pernyataan bukan pertanyaan.
"Aku tidak bisa menyimpulkan seakurat itu sebelum dilakukan tes urine dan tes lainnya. Tapi kemungkinan besar dia hamil. Dia memuntahkan semua yang dimakannya dan mual setiap saat"
"Dia hamil," kali ini rona kegembiraan mewarnai suara Chanyeol.
"Aku akan melakukan tes urine dulu, Chanyeol. Kau tidak bisa…"
"Aku akan segera ke sana" dan Chanyeol menutup telepon. Membiarkan Junmyeon ternganga di seberang, lalu menggerutu dengan ketidak sabaran Chanyeol.
Chanyeol mau ke sini, lalu apa? Langsung melemparkan bom itu ke muka Luhan dan Sehun? Dasar! Junmyeon berniat menunggu Chanyeol di depan apartemen, berusaha mencegah Chanyeol bertindak gegabah. Dia harus berusaha pelan apalagi kehamilan Sehun belum dipastikan secara akurat.
Lama sekali Junmyeon menunggu di ruang tamu, hampir satu jam. Kenapa Chanyeol lama sekali? Apa Chanyeol membatalkan niatnya kemari? Junmyeon mulai bertanya-tanya. Saat itulah Luhan mendorong kursi rodanya ke ruang tamu.
Junmyeon menoleh dan tersenyum, "Hai Luhan, bagaimana kondisimu?"
Luhan balas tersenyum, "Tidak pernah lebih baik. Aku tadi membaca di kamar dan mulai merasa bosan jadi aku keluar. Bagaimana Sehun?"
Junmyeon menarik nafas, "Dia sudah tidur pulas sepertinya. Dan sepertinya perutnya bermasalah"
Luhan mengernyit, "Dia bekerja terlalu keras dan itu semua gara-gara aku" gumamnya sendu.
"Luhan," Junmyeon menyela, "Kita sudah pernah membahas ini kan? Kau tidak boleh menyalahkan diri sendiri, lagipula Sehun melakukannya dengan sukarela"
"Benarkah?" suara Luhan jadi pelan, "Kadang aku merasa dia hanya kasihan padaku"
"Luhan…," Junmyeon tidak melanjutkan kata-katanya karena tiba-tiba ponselnya berdering. Dengan cepat diliriknya layar ponselnya, Kyungsoo.
"Kyungsoo?" panggilnya setelah mengangkat telepon, "Kyungsoo kau tahu di mana Chanyeol? dia bilang akan ke sini tapi sampai sekarang dia belum datang"
"Noona, Chanyeol kecelakaan di tol.."
.
.
.
"Sehun," Junmyeon menggoyangkan bahu Sehun yang tertidur pulas. Sementara Luhan mengekor di belakangnya.
Sehun membuka mata dan melihat Junmyeon yang tampak pucat, dengan segera dia duduk. Gerakan tiba-tiba itu membuat kepalanya pusing tapi Sehun berusaha menahannya.
"Ada apa dokter? Luhan oppa kenapa?"
"Aku baik-baik saja" gumam Luhan.
Sehun menatapnya dengan lega tapi lalu memandang dokter Junmyeon yang masih pucat.
"Sehun, aku.. aku bingung bagaimana mengatakannya. Tapi kau harus segera pergi, ini darurat. Mungkin.. kau mau ikut?"
"Ada apa dokter?" Sehun mulai tegang ketika Junmyeon tidak juga mengatakan maksudnya.
"Chanyeol, barusan kecelakaan di jalan tol. Dia sudah di bawa ke rumah sakit tapi kami belum tahu kondisinya. Kyungsoo juga sedang dalam perjalanan ke sana.."
"Apa?" Sehun seketika tampak pucat lalu segera diliputi kepanikan luar biasa, "Ya Tuhan, aku ikut ke rumah sakit!"
Luhan mengamati kepanikan Sehun dari kejauhan, tapi dia hanya terdiam. Sehun tampak pucat dan ketakutan. Kenapa sampai begitu? Seolah kondisi Chanyeol benar-benar membuatnya cemas padahal dia kan hanya atasannya di perusahaan. Atau.. jangan-jangan lebih dari atasan? Pikiran itu menyeruak di dalam benak Luhan. Ketika dia melihat betapa Sehun mulai gemetaran karena cemas dan panik, mau tak mau pikiran buruk itu memenuhi pikirannya terus. Ada hubungan istimewa apa antara Chanyeol dan Sehun?
Perjalanan ke rumah sakit berlangsung begitu menyiksa bagi Sehun. Dia terus berdoa seakan semua trauma masa lalu menghantamnya lagi keras-keras. Ini hampir sama dengan kecelakaan yang membunuh kedua orang tuanya dan melukai Luhan dulu dan Sehun tidak akan kuat menanggungnya kalau sampai terjadi apa-apa dengan Chanyeol. Dia belum sempat mengatakan dengan jelas bahwa dia… mencintai Chanyeol.
Sehun berlari di depan menuju ruangan gawat darurat sementara Junmyeon mendorong kursi roda Luhan di belakangnya. Dia melangkah memasuki ruang perawatan itu dan langsung bertatapan dengan Chanyeol. Lelaki itu duduk di meja perawatan, telanjang dada, kepalanya terluka dan sudah di tutup perban. Dokter sedang membalut luka di bahu dan lengannya. Banyak darah tapi sudah dibersihkan. Selebihnya dia tidak apa-apa. Dia masih hidup, masih utuh, dan ketika Chanyeol memalingkan wajah lalu menatap Sehun dengan matanya yang menyala… Sehun pingsan.
Chanyeol berteriak memanggil Sehun begitu juga dengan Junmyeon dan Luhan yang ada di belakang Sehun. Dengan kasar Chanyeol menyingkirkan tangan dokter yang sedang merawatnya dan melompat turun, setengah berlari menghampiri Sehun. Perawat datang menghampiri tapi Chanyeol menyingkirkannya.
"Biar aku saja" gumamnya serak, mengernyit ketika mengangkat Sehun, menyakiti luka di lengan dan bahunya tapi dia tak peduli. Dipeluknya Sehun dengan posesif dan dibaringkannya di meja perawatan.
"Tuan, saya belum selesai membalut luka Anda" gumam dokter di ruangan itu sedikit jengkel.
"Nanti saja," kata Chanyeol tajam dan membuat dokter itu terdiam, mengangkat bahu lalu pergi.
"Sayang.." Chanyeol menepuk pipi Sehun, tapi dia tampak pucat. Dengan panik Chanyeol menoleh ke arah Junmyeon di pintu, mengabaikan Luhan, "Dia tak apa-apa?"
Junmyeon mendorong Luhan mendekat, lalu menyentuh Sehun.
"Dia demam. Dia sedang sakit ketika memaksa mengikuti aku ke sini. Terus tepuk pipinya perlahan dan sadarkan dia. Sepertinya dia shock" Junmyeon menatap Chanyeol tajam, "Dan kau.. tak pernah kecelakaan selama hidupmu. Apa yang kau lakukan di jalan tol sehingga berakhir begini? Apa kau mabuk?"
Chanyeol mengernyit, "Aku tidak mabuk. Aku hanya buru-buru ingin cepat sampai jadi kurang hati-hati", saat itulah Sehun membuka mata, "Ah.. sayang, kau baik-baik saja?"
Sehun mengerjapkan matanya. Begitu mendapati wajah Chanyeol ada di dekatnya, air mata mengalir di pipinya. Tangannya bergetar ketika terangkat dan menyentuh wajah Chanyeol, meyakinkan dirinya bahwa benar-benar Chanyeol yang ada di depannya.
Chanyeol meraih tangan Sehun dan mengecupnya, "Aku di sini baik-baik saja," gumamnya berbisik.
Sehun membiarkan tangannya dalam genggaman Chanyeol, merasakan kulit Chanyeol yang panas, mensyukuri bahwa dia masih hidup. Tadi rasanya seperti mau mati ketika mengetahui Chanyeol kecelakaan. Pikiran buruk melandanya, membuatnya ingin menangis dan berteriak, membuatnya hampir menyalahkan Tuhan. Karena dia sudah memutuskan akan menerima tidak bisa bersama dengan Chanyeol lagi asalkan lelaki itu tetap hidup, asalkan dia masih ada, hidup dan bernafas di dunia ini. Biarpun Sehun tak bisa melihatnya lagi. Pikiran kalau Chanyeol bisa meninggal dan tidak ada di dunia ini hampir membuatnya ingin menyusul saja. Karena itulah tadi ketika melihat Chanyeol masih hidup meskipun terluka membuatnya lega hingga pingsan.
Sehun merasakan dadanya sesak ketika menyadari bahwa cinta barunya, cinta yang tak diduganya, cinta yang bertumbuh tanpa disadari karena kebersamaan mereka yang tidak direncanakan itu ternyata sudah mencapai tingkat intensitas yang sangat besar.
"Jangan pernah ulangi lagi," suara Sehun bergetar ketika mencoba berbicara serius dengan Chanyeol, "Jangan pernah ulangi lagi melakukan seperti ini padaku"
Chanyeol meraih kedua tangan Sehun dan mengecup jemarinya, "Aku janji. Sekarang tidurlah sayang, aku ada di sini"
Chanyeol mengusap dahi Sehun yang panas, membuat pikiran Sehun melayang. Dia merasa lelah, tubuhnya, jiwanya dan raganya. Tubuhnya sakit dan lunglai sedang jiwanya dipenuhi kelegaan luar biasa, membuatnya dipenuhi rasa damai tidak terkira sehingga Sehun akhirnya terlelap.
"Kemari.. lukamu harus dibalut" Junmyeon mencoba menarik perhatian Chanyeol. Dia menatap Sehun dengan serius, memastikan bahwa Sehun sudah tidur lalu menurut menggerakkan tubuhnya agar Junmyeon lebih mudah membalut luka di bahu dan lengannya.
Saat itulah Chanyeol menyadari kehadiran Luhan yang hanya diam menatap semua kejadian itu tanpa berkata-kata.
Mata Chanyeol berkilat-kilat, "Aku mencintainya," gumamnya terus terang, membuat Junmyeon tersedak.
Luhan hanya diam menatap Sehun yang tertidur pulas dengan sedih.
"Aku tahu" gumamnya pelan.
Chanyeol mengangkat dagu, "Dan dia juga mencintaiku, tapi dia memilihmu" sambungnya getir.
Luhan menghela nafas, "Itu pun aku juga tahu.."
"Sudah selesai" Junmyeon menyela cepat lalu menepuk bahu Chanyeol, "Berbaringlah dulu di ranjang sebelah. Kau harus berbaring, kepalamu terbentur dan jika kau tidak berbaring, kau akan mengalami vertigo" sambungnya tegas ketika melihat Chanyeol akan membantah.
Semula Chanyeol akan membantah, dia ingin melanjutkan pembicaraan dengan Luhan, menjelaskan semuanya. Tapi Junmyeon benar, rasa pusing mulai menyerangnya. Obat penghilang sakit yang disuntikkan dokter jaga tadi mulai bereaksi, membuatnya lemas. Akhirnya Chanyeol melangkah ke ranjang kosong itu.
"Kita belum selesai bicara" gumamnya pada Luhan.
"Nanti saja," sela Junmyeon lalu meraih kursi roda Luhan dan mendorongnya keluar, "Ayo Luhan, kita harus membiarkan mereka beristirahat"
Junmyeon mendorong Luhan sampai di ruang tunggu yang tenang dan sepi lalu duduk di sofa di sebelah Luhan. Suasana hening, dan Luhan hanya termenung tidak berkata-kata sampai lama. Junmyeon menunggu sepatah pertanyaan dari Luhan sebelum menjelaskan semuanya.
"Apa yang terjadi di sini?" gumam Luhan. Dia tetap bertanya meskipun kebenaran itu sudah menyeruak dalam kesadarannya, membuatnya sesak.
Junmyeon menghela nafas, "Ceritanya panjang…"
"Aku punya banyak waktu," sela Luhan tak sabar, "Jelaskan semuanya"
"Sehun tidak pernah bermaksud mengkhianatimu, kau tahu.." gumam Junmyeon sedih, "Dia selalu berusaha setia kepadamu"
"Kau bicara begitu padahal jelas-jelas di depan mataku tadi dia jatuh cinta setengah mati pada lelaki lain.." gumam Luhan getir.
"Kau tahu, Sehun putus asa ketika dia akhirnya berhubungan dengan Chanyeol. Biaya operasimu.. operasi ginjalmu.. dokter mengultimatum kau harus segera dioperasi untuk menyelamatkan nyawamu. Sangat mahal.. hampir mencapai 300 juta, sementara seluruh harta Sehun sudah habis. Dia menanggung hutang yang sangat besar di perusahaan. Jadi.. dia memutuskan menjual keperawanan dan tubuhnya pada Chanyeol"
"Oh Tuhan!"
Wajah Luhan pucat pasi, keringat dingin mengalir di tubuhnya. Jadi semua ini bermula dari dirinya? Semua kegilaan tak diduga ini bermula dari keinginan Sehun menyelamatkan nyawanya? Menjual keperawanannya?! Luhan tidak pernah peduli apakah Sehun masih suci atau tidak, baginya Sehun adalah Sehun yang sama. Tapi, mengetahui bahwa dia melakukan itu demi dirinya benar-benar menghancurkan hatinya. Mengetahui bahwa pada akhirnya Sehun menyerahkan hati pada lelaki lain yang disebabkan oleh dirinya sangat menyakiti perasaannya.
"Dan Chanyeol, pasti laki-laki brengsek karena mau mengambil manfaat dari gadis lemah yang mengalami kesulitan" desis Luhan marah.
Junmyeon menggeleng, "Tidak seperti itu. Chanyeol sangat kaya, dia bisa mendapatkan gadis manapun yang dia mau. Tapi sudah sejak lama dia menginginkan Sehun. Menurutku sebenarnya sudah sejak lama dia mencintai Sehun tapi dia tak menyadarinya, karena itu mungkin Chanyeol menganggap satu-satunya cara untuk memiliki Sehun adalah menerima tawarannya"
Luhan mengernyit mendengar penjelasan Junmyeon. Hatinya sakit menyadari bahwa sekarang dia menjadi penghalang antara dua orang yang saling mencintai.
"Kenapa Sehun tidak membiarkan aku mati saja?" rintihnya dalam geraman kesakitan, "Mungkin lebih baik aku dibiarkan mati saja sehingga aku tidak menghalangi kebahagiaannya"
Junmyeon menyentuh bahu Luhan, "Jangan pernah punya pemikiran seperti itu," selanya tegas, "Sehun mencintaimu sepenuh hati. Dia berjuang mati-matian demi kehidupanmu. Jangan pernah menghancurkan hatinya dengan kata-kata seperti itu"
"Dia sudah tidak mencintaiku lagi. Dia hanya kasihan padaku. Tatapan lelaki itu padaku ketika mengatakan bahwa Sehun lebih memilihku dibanding dirinya tadi begitu penuh penghinaan dan kemarahan, seolah lebih baik aku tahu diri dan menyingkir saja"
"Chanyeol memang seperti itu. Dia marah karena Sehun memilih untuk bersamamu. Tapi Chanyeol mencintai Sehun, karena itu dia menghormati keputusan Sehun.."
"Dia.. apa benar dia mencintai Sehun? Dia terlalu berkuasa, terlalu mendominasi, terlalu arogan. Aku takut dia hanya ingin menunjukkan kekuasaannya, hanya ingin memuaskan arogansinya untuk memiliki Sehun"
Junmyeon menggeleng, "Chanyeol yang dulu memang seperti itu. Tapi ketika bersama Sehun, gadis itu dengan segala kepolosan dan kebaikan hatinya telah merubahnya. Chanyeol benar-benar mencintai Sehun. Aku mengenal Chanyeol sejak dulu, dan dia tak pernah seperti itu sebelumnya, begitu mencintai seorang perempuan hingga hampir dikatakan bisa gila karenanya"
Luhan menghela nafas panjang, "Kalau begitu, kau ingin aku yang melepaskan Sehun?"
Junmyeon mengangkat bahu, "Keputusan ada di tanganmu. Sehun sendiri tidak akan pernah meninggalkanmu. Dia terlalu setia dan menyayangimu. Dia rela mengorbankan perasaannya demi dirimu. Jadi kalau kau tidak melepaskannya, dia juga tidak akan pernah mengkhianatimu demi Chanyeol"
Luhan mengernyit seolah kesakitan, "Aku sangat mencintai Sehun," gumamnya perih.
Air mata Junmyeon menetes melihat kepedihan Luhan. Pelan dia berjongkok di depan Luhan dan memeluknya. Luhan tidak menolak, dia juga tidak menahan air matanya menetes. Kepedihan itu begitu dalam, kepedihan untuk merelakan diri melepaskan sesuatu yang paling berharga di tangannya agar sesuatu yang berharga itu bisa menemukan kebahagiannya.
Lama Luhan menumpahkan perasaannya, dengan isakan dan keheningan yang dalam. Lalu dia mundur, melepaskan diri dari pelukan Junmyeon, duduk tegak dengan tekad kuat di matanya.
"Aku tidak mungkin membiarkan Sehun menderita dengan bertahan bersamaku. Tidak setelah aku melihat betapa dalamnya perasaan Sehun kepada Chanyeol tadi, tapi sebelumnnya aku ingin bicara dengan Chanyeol.."
TBC
Sehun jadi hamil.. Chanyeol kecelakaan ringan trus dia juga ngaku ke Luhan.. dan Luhan jadi tau semuanya hehehe
tapi apa Luhan bakal ngelepasin Sehun? tunggu di 2 chapter terakhir yaa.. fast update
