CHAPTER 17
.
.
.
Sehun masih tertidur di ruang perawatan, Junmyeon menungguinya. Sementara Chanyeol yang baru terbangun dua jam setelah kecelakaan itu, berjalan pelan menuju ruang tunggu. Dia sudah mencuci muka dan agak segar, tapi mau tak mau nyeri di kepala dan bahunya membuatnya mengernyit ketika berjalan.
Luhan sedang duduk membelakanginya di kursi roda. Menatap ke luar, ke arah jendela lebar yang ada di ruang duduk itu. Hujan sedang turun deras di luar, membuat suasana ruangan itu begitu suram.
"Bagaimana keadaan Sehun?" tanya Luhan, menyadari kehadiran Chanyeol tapi tidak menoleh untuk menatapnya.
"Baik. Junmyeon noona mengatur perawatan dan obatnya. Sekarang dia masih tertidur", Chanyeol berdiri, bersandar di tembok dekat Luhan, ikut menatap hujan yang mengalir deras di luar yang gelap. Hanya menyisakan tetes air yang berkilauan terkena cahaya lampu.
"Kau pasti tahu kenapa aku ingin bicara padamu"
Chanyeol mengangguk meski tahu Luhan tidak menoleh untuk melihatnya.
Hening sejenak, terasa begitu lama sampai kemudian terdengar Luhan menghela nafas panjang.
"Apakah kau mencintainya?" tanyanya pelan.
"Sangat.." jawab Chanyeol cepat, tulus.
Luhan memejamkan mata ketika rasa perih menyengat di dadanya mendengar ketulusan Chanyeol kepada Sehun. Mengetahui bahwa ada lelaki lain yang mencintai Sehun dengan intensitas begitu besar, membuatnya merasa terpuruk dikalahkan. Tapi Luhan menguatkan hatinya, semua demi Sehun, demi kebahagiannya.
"Apakah kau akan membahagiakannya?"
"Kebahagiannya akan menjadi tujuan hidupku" gumam Chanyeol jujur, dia lalu menoleh menatap Luhan yang sedang menatapnya. Dua lelaki yang mencintai satu wanita saling bertatapan.
"Maafkan aku…" Chanyeol menghela nafas, "Aku tidak pernah bermaksud mencuri Sehun darimu. Aku tidak mengetahui keberadaanmu sampai saat terakhir, kau tahu.."
Luhan mengernyit mendengar informasi yang baru didapatnya. Junmyeon belum menceritakan semua padanya. Mungkin Junmyeon ingin Luhan mendengar sendiri dari mulut Chanyeol.
"Sehun tidak menceritakan alasan kenapa dia menjual diri padamu?"
"Tidak. Mungkin semua akan berbeda jika dia menceritakan semuanya dari awal" gumam Chanyeol penuh penyesalan, "Aku memang jahat dan selalu mengambil apa yang ku inginkan tanpa tanggung-tanggung. Tapi aku tak pernah mengambil keuntungan dari penderitaan seseorang. Saat itu dia datang padaku, menjual dirinya padaku. Kau tahu apa yang ku pikirkan waktu itu?" Chanyeol menatap Luhan dengan sedih, "Ku pikir dia pelacur penggemar barang-barang mahal yang putus asa membutuhkan uang untuk memenuhi hasratnya akan kemewahan"
"Sehun tidak seperti itu," geram Luhan marah,
"Ya, dia tidak seperti itu," Chanyeol setuju, 'Tapi waktu itu apa yang bisa dipikirkan lelaki seperti aku? Lelaki dengan kekayaan yang selalu mendapatkan wanita karena uang? Aku memang salah waktu itu, aku menginginkan Sehun dan aku punya uang yang diinginkannya. Jadi ku terima tawarannya.."
"Tapi pada akhirnya kau tetap jatuh cinta padanya meskipun kau menganggap dia pelacur murahan" Luhan merenung.
Sekali lagi Chanyeol mengangguk.
"Ya.. aku jatuh cinta padanya. Bahkan aku mulai tak peduli kalau ternyata memang hanya menginginkan uangku. Aku berpikir, tidak apa-apa, toh aku punya uang banyak. Tidak apa-apa selama dia ada di sisiku" Chanyeol menghela nafas panjang.
"Kenyataan tentang keberadaanmu pada akhirnya menghantamku, bahwa dia melakukan semua ini demi cintanya padamu.."
Luhan memejamkan mata, "Dia sudah tidak mencintaiku lagi. Dia hanya kasihan dan merasa bertanggung jawab"
"Dia tetap mencintaimu," Chanyeol tersenyum sayang ketika membayangkan Sehun, "Hatinya selalu dipenuhi cinta tanpa pandang bulu. Mungkin karena itulah dia berhasil menyentuh hatiku yang gelap"
Luhan mengangguk, ikut tersenyum ketika membayangkan Sehun.
"Yah, meskipun begitu.. hatinya sudah kau miliki" Luhan menghela nafas, "Aku akan melepaskan Sehun"
"Kau pikir dia akan mau?" sela Chanyeol sedih, "Dia sudah memutuskan akan menjagamu. Dia tak akan mau…"
"Dia pasti mau. Aku sendiri yang akan bicara padanya. Aku tak perlu dijaga. Terapi ini berhasil dan dokter Junmyeon meyakinkan aku kalau aku rutin melakukannya, dalam waktu 4 bulan aku sudah akan bisa berjalan dengan normal. Aku masih bisa melanjutkan karirku sebagai pengacara. Mungkin butuh waktu lama dan aku harus belajar lagi, tapi ku rasa aku bisa melangkah dengan kekuatanku sendiri"
Chanyeol menganggukkan kepala, yakin kalau Luhan pasti mampu melakukan apa yang dikatakannya.
"Maafkan aku," gumamnya tulus.
"Kenapa?" Luhan menatap Chanyeol ingin tahu.
"Karena sudah mengalihkan hati Sehun darimu.."
Luhan tersenyum, kali ini benar-benar tulus.
"Harusnya aku berterima kasih padamu. Kau menjaganya selama aku tak bisa ada untuk menjaganya.."
Chanyeol terdiam, Luhan juga terdiam lama. Lalu Chanyeol mengaku..
"Kau mungkin ingin memukulku bahkan membunuhku setelah aku mengatakannya padamu…"
"Tentang apa?" mau tak mau Luhan merasakan ingin tahu ketika mendengar nada misterius dari suara Chanyeol.
Sesaat Chanyeol tampak kesulitan bicara, "Aku.. aku punya rencana jahat untuk merebut Sehun darimu. Aku pikir kalau Sehun tak mau memilihku, aku akan memaksanya memilihku"
"Rencana jahat apa?" sela Luhan langsung waspada.
Chanyeol tertawa getir, "Bukan.. rencana ini tak menyakiti siapapun. Kau tahu.. aku ingin sengaja membuat Sehun hamil.. agar mau tak mau dia menjadi milikku"
Sejenak Luhan terdiam, pengakuan Chanyeol ini mau tak mau menyulut kemarahannya. Menyadari bahwa Chanyeol memanipulasi kepolosan Sehun.
"Dasar brengsek" geram Luhan pelan.
Chanyeol mengangguk, "Ya memang, aku brengsek. Aku putus asa, setengah gila untuk memiliki Sehun. Aku minta maaf.."
"Menurutmu apakah rencana jahatmu itu sudah berhasil?" tanya Luhan kemudian, tiba-tiba menghubungkannya dengan kondisi sakit Sehun.
Chanyeol mengangguk, menahan perasaannya untuk menjaga perasaan Luhan. Tapi mau tak mau Luhan melihat sorot bahagia yang menyala-nyala di mata Chanyeol. Tiba-tiba dia merasa tenang, lelaki ini sungguh mencintai Sehun, putusnya dalam hati. Mungkin lebih dalam dari cintanya sendiri kepada Sehun.
"Junmyeon noona tadi sore menghubungiku, memberitahu kondisi Sehun dan entah kenapa aku tahu bahkan sebelum mereka melakukan tes. Aku tahu begitu saja.."
"Dan karena itu kau kecelakaan. Kau dalam perjalanan menemui Sehun?"
Chanyeol tersenyum, tidak berbicara tapi matanya menjelaskan semuanya.
"Lelaki bodoh," gumam Luhan getir, dan Chanyeol tertawa.
"Memang.." gumamnya dalam tawa, lalu mengulurkan tangannya pada Luhan, "Terima kasih atas kebaikan hatimu"
Luhan menyambut jabatannya dengan hangat, "Aku melakukannya demi Sehun, bukan demi kau. Jadi ingat saja, kapanpun kau berani-beraninya membuat Sehun tidak bahagia, kau akan mendapatkan dirimu berhadapan denganku"
Chanyeol tersenyum mempererat jabatan tangannya.
"Aku berjanji kau tidak akan pernah berhadapan denganku"
.
.
.
Ketika Sehun membuka mata, dia mendapati Luhan duduk di sisi ranjangnya menatap dengan senyum. Sehun langsung sadar bahwa karena kepanikannya tadi dia melupakan keberadaan Luhan. Apa yang dipikirkan Luhan ketika menyaksikan semua tadi? Pikiran itu membuatnya panik dan hendak bangkit dari ranjangnya, tapi Luhan menahan dengan tangannya.
"Tidak apa-apa, tetaplah berbaring.." gumamnya lembut.
Sehun kembali berbaring tapi menatap Luhan dengan kepanikan mendalam.
"Oppa.. aku.."
"Sudah ku bilang tidak apa-apa. Aku sudah tahu semuanya dan aku mengerti"
Kata-kata itu membuat Sehun pucat pasi, "Tahu apa? Mereka mengatakan apa kepadamu?"
"Semuanya.. tentang dirimu dan Chanyeol, dan perasaanmu padanya"
"Aku tidak punya perasaan apa-apa kepada…"
"Sshh.." Luhan menghentikan kata-kata Sehun, "Tidak perlu membohongi dirimu sendiri lagi, Sehun. Aku sudah tahu semuanya. Kau begitu menyayangiku hingga mau berkorban untukku, tubuhmu kau korbankan" Luhan menghela nafas, "Dan sekarang bahkan jiwa dan kebahagiannmu mau kau korbankan juga untukku?"
Mata Sehun mulai berkaca-kaca.
"Aku tak mengorbankan apapun, oppa. Aku mencintaimu. Aku ingin menjagamu. Aku…"
Luhan meraih tangan Sehun dan menggenggamnya, "Ya aku yakin, kau sangat mencintaiku. Aku percaya itu," perlahan Luhan menoleh ke arah pintu, "Dia ada di luar, menunggu untuk menemuimu. Aku sudah bicara dengannya dan yakin bahwa cintanya padamu begitu besar. Bahkan mungkin lebih besar dari cintaku padamu," desah Luhan getir.
"Jangan berkata seperti itu," air mata mulai menetes di pipi Sehun dan Luhan mengusapnya.
"Itu kenyataannya. Dia begitu mencintaimu sehingga mau mengambil resiko apapun agar kau bahagia, dan dia rela dibenci olehmu agar kau bahagia" Luhan tersenyum, "Terus terang aku mengaguminya dan aku merasa tenang kalau dia yang menjagamu"
"Jangan berkata seperti itu," Sehun mulai merasa dirinya seperti kaset rusak, mengulang kalimat yang sama.
"Aku harus mengatakannya," gumam Luhan sedikit geli dengan kata-kata Sehun. Dia ternyata bisa bahagia juga menyadari bahwa pada akhirnya dia akan memberikan kebahagiaan pada Sehun. Kebebasan yang akan diberikan pada Sehun akan membawa gadis yang dicintainya itu kepada kebahagiaan dan Luhan merasakan kebahagiaan tersendiri ketika dia pada akhirnya merelakan Sehun. Semua patah hati dan kesakitannya akan sepadan dengan senyum dan kebahagiaan Sehun pada akhirnya, "Tapi sebelumnya aku harus bertanya padamu. Apa kau mencintai Chanyeol?"
Pertanyaan yang diungkapkan secara langsung tanpa diduga itu membuat Sehun tertegun.
"Oppa.. aku…"
"Tanyakan pada hatimu, Sehun" bisik Luhan, mendorong Sehun agar mau jujur kepada dirinya sendiri, "Aku yakin kau sudah menyadarinya. Kau hanya perlu mengakuinya padaku"
Di luar, Chanyeol yang menunggu sambil bersandar di tembok dekat pintu masuk mendengar semuanya. Jantungnya berdetak keras, penuh antisipasi ikut menanti jawaban Sehun.
Ku mohon katakan ya. Bisik Chanyeol dalam hati, menjeritkan permohonannya dalam diam. Ku mohon katakan ya, kau mencintaiku Sehun.
Di dalam ruangan, Sehun tertegun menatap Luhan, menatap ketulusan yang ada di sana. Tak apakah kalau dia mengakuinya? Tak apakah kalau Luhan akhirnya mendengarnya? Sehun menarik nafas dalam-dalam, menahankan debar jantungnya lalu menghembuskan pelan-pelan.
"Ya, oppa…" gumamnya setengah berbisik, "Ya, aku mencintai Chanyeol. Aku sangat mencintainya," air mata menetes lagi di pipinya.
Luhan mengusap air mata itu, sedikit melirik ke pintu, menyadari kehadiran Chanyeol di sana. Kau dengar itu, Chanyeol? gumamnya dalam hati. Permataku ini mencintaimu. Dia sangat berharga dan dia mencintaimu. Kau harus menjaganya baik-baik. Jangan pernah menyakitinya.
Di luar, Chanyeol memejamkan mata mendengar pengakuan Sehun. Dia dipenuhi kelegaan yang luar biasa. Sehun hampir tidak pernah mengungkapkan perasaan padanya. Chanyeol harus selalu menebak dari mata dan tindakan Sehun, dan mendengar sendiri kalimat itu dari bibirnya, diucapkan dengan penuh keyakinan, mau tak mau tubuhnya dibanjiri aliran kebahagiaan.
"Dia pasti menjagamu. Kau tidak usah mencemaskan aku lagi. Aku sudah tidak perlu dijaga"
"Tapi oppa.."
Luhan tersenyum dan menggeleng, "Dokter Junmyeon mengajakku ke Jerman. Dia di sana punya kenalan spesialis tulang dan saraf yang bisa menyembuhkanku lebih cepat dan ku pikir aku akan mengambil kesempatan itu"
Sehun membelalakkan mata, "Kau.. akan pergi?"
Luhan mengangguk, "Aku akan mengejar kebahagiaanku. Aku akan menyembuhkan diri dan memulai karirku. Masih ada harapan dan aku tidak akan menyerah. Kau sudah memberiku contoh dengan berjuang untukku tanpa putus asa padahal kemungkinan aku terbangun dari koma sangat kecil. Jadi sekarang aku akan berusaha berjuang"
Sehun tertegun, kehabisan kata-kata mendegear kalimat Luhan. Dia hanya punya satu hal untuk diungkapkan, kata maaf, maaf karena aku mencintai orang lain, maaf karena aku mengkhianati cintamu, maaf karena aku membiarkan hatiku dimiliki orang lain.
Ketika dia akan membuka mulut untuk meminta maaf, Luhan mencegahnya, "Jangan minta maaf. Aku tahu kau akan minta maaf," Luhan tersenyum simpul, "Kau tak perlu meminta maaf. Kau tidak pernah berniat mengkhianatiku, bahkan kau malah berniat mengorbankan hati dan perasaanmu demi aku. Seharusnya aku yang berterima kasih padamu"
Perlahan Luhan melepaskan cincin pertunangan di tangannya dan meletakkannya dalam genggaman Sehun.
"Aku melepaskanmu, Sehun, tunanganku yang berharga. Terima kasih untuk cinta yang pernah kita bagi bersama. Terima kasih untuk semua perjuangan yang telah kau korbankan untukku. Terima kasih karena pernah mencintaiku," dengan lembut Luhan mengecup jemari Sehun yang terpaku, "Sekarang kau bebas, kejarlah kebahagiaanmu sendiri"
Air mata mengalir deras makin tak terbendung di mata Sehun. Hatinya penuh sesak, campur aduk antara penyesalan dan kelegaan luar biasa. Akhirnya dengan pelan Sehun duduk lalu memeluk Luhan erat. Berbagi tangis bersamanya.
"Terima kasih, oppa. Aku mencintaimu," isak Sehun pelan.
"Aku juga mencintaimu," suara Luhan bergetar oleh air mata yang mulai datang.
.
.
.
Semua berlangsung begitu cepat. Dokter dan perawat serta Junmyeon hilir mudik di ruangan itu untuk memeriksa keadaannya. Sehun merasa sudah baikan, hanya sedikit mual dan demamnya sudah turun, tapi entah kenapa Junmyeon bersikeras agar dia tetap di rawat inap di rumah sakit ini. Sebenarnya dia sakit apa? Sehun mulai bertanya-tanya.
Luhan sudah berpamitan tadi, diantar oleh dokter Junmyeon, mengatakan akan mempersiapkan kepergian mereka ke Jerman. Kemungkinan dua minggu lagi. Dan saat Sehun sendirian, pikirannya melayang. Di mana Chanyeol? Apakah dia dirawat di rumah sakit ini? Bagaimana kondisinya? Kenapa Chanyeol tidak menemuinya? Pemikiran-pemikiran itu membuatnya terlelap lagi.
Ketika bangun, hari sudah sore. Suasana kamar tampak remang karena lagi-lagi hujan turun. Sehun menatap hujan di jendela dan mendesah.
"Sudah enakan?" suara itu terdengar lembut dan tiba-tiba sehingga Sehun terlonjak kaget. Dia menoleh dan mendapati Chanyeol duduk di ranjang, di sampingnya. Dia begitu diam, pantas Sehun tak menyadari kehadirannya.
"Maaf aku mengagetkanmu" Chanyeol tersenyum lalu menyentuh dahi Sehun, "Sudah tidak panas lagi. Syukurlah. Kau masih memuntahkan makananmu?"
Sehun menggeleng, "Aku.. sudah bisa menelan sup panas dari rumah sakit tadi"
Chanyeol mengangguk dan tersenyum.
"Aku sudah bicara dengan Luhan," Chanyeol segera berseru ketika melihat Sehun akan menyela kata-katanya, "Apapun yang akan kau katakan, aku tidak akan pernah melepasmu. Aku sudah mendapat kesempatan ini jadi tidak akan ku sia-siakan. Kau tidak akan dan tidak boleh menolakku atau melepaskan diri dariku," suara Chanyeol tegas dan penuh ancaman.
Dalam hati, Sehun merasa geli. Ini Chanyeolnya yang biasa. Tidak berubah meski mencintainya, tetap saja arogan dan terbiasa mengungkapkan keinginannya dengan mengancam. Tapi bagaimanapun juga ini Chanyeol yang sama yang dicintainya.
"Ya, Chanyeol~ssi.." jawabnya dalam senyum.
Jawaban sederhana itu membuat Chanyeol begitu tegang karena antisipasi penolakan yang mungkin dikakukan Sehun.
"Apa?" Chanyeol bertanya seperti orang bodoh.
Sehun tersenyum, otomatis tangannya bergerak menyentuh dahi Chanyeol yang berkerut bingung, mengelusnya, menghilangkan kerut yang ada di sana.
"Ya, Park Chanyeol, aku tidak akan melepaskan diri darimu"
Chanyeol seolah kesulitan mencerna jawaban sederhana itu, tapi ketika dia bisa memahaminya, seketika itu juga Chanyeol merengkuh Sehun, memeluknya erat.
"Demi Tuhan..aku sepertinya masih butuh berkali-kali diyakinkan olehmu," bisiknya sesak di rambut Sehun, "Kau selalu membuatku bertanya-tanya dengan mata yang selalu tersenyum, dengan kelembutanmu, kau selalu membuatku bertanya apakah kau mencintaiku"
Sehun membalas pelukan Chanyeol, "Aku mencintaimu"
"Katakan lagi," Chanyeol mengerang, memejamkan mata, mengetatkan pelukannya, "Aku butuh diyakinkan"
"Aku mencintaimu" ulang Sehun patuh.
Chanyeol melepaskan pelukannya lalu mengusap rambut Sehun. Kemudian meraih tangannya, mengernyit ketika melihat Sehun masih memakai cincin dari Luhan, bersebelahan dengan cincin darinya. Disentuhnya tangan Sehun, disentuhnya cincin Luhan di sana.
"Boleh aku melepasnya?"
Chanyeol tetap akan melepasnya meskipun Sehun menggeleng. Sehun tahu itu, tapi Sehun menghargai Chanyeol yang menyempatkan diri bertanya padanya.
Sehun mengangguk. Hati-hati Chanyeol melepas cincin pertunangan itu lalu meletakkannya di meja. Setelah itu dikecupnya jari Sehun yang memakai cincin pemberiannya.
"Aku ingin kau menikah denganku, segera…"
Sekali lagi Sehun tersenyum, lamaran khas ala Chanyeol. Bukannya bertanya 'maukah kau menikah denganku?'. Dia malah menyatakan keinginannya dengan arogansi yang tak terbantahkan. Tiba-tiba Sehun mengerutkan dahi, mencerna kalimat Chanyeol.
"Kenapa harus segera?"
Dan entah kenapa pertanyaannya membuat pipi Chanyeol memerah. Sehun jadi bertanya-tanya apa yang salah dari itu.
"Kau.. eh, mungkin kau tak menyadari perubahan tubuhmu," Chanyeol tampak kesulitan menyusun kata, tapi pada akhirnya dia melemparkan kebenaran itu, "Kau.. sedang mengandung anakku"
Kalimat itu membuat Sehun ternganga. Itu adalah kebenaran yang sama sekali tak disangkanya. Chanyeol sangat hati-hati kalau bercinta dengannya. Bahkan dalam kondisi berhasratpun, dia selalu ingat untuk memakai pelindung. Jadi Sehun tak mungkin hamil. Karena itulah meskipun tubuh Sehun menunjukkan gejala seperti wanita hamil, tidak pernah sedikitpun terlintas di benaknya kalau dia sedang mengandung. Kemudian kesadaran itu melintas di benaknya, Sehun tak mungkin mengandung kecuali kalau Chanyeol menginginkannya, kecuali kalau Chanyeol sengaja.
"Kau selalu menggunakan pelindung" gumam Sehun, "Malam itu kau tak memakainya"
Pipi Chanyeol bersemu tapi dia menatap mata Sehun tanpa penyesalan, "Aku memang sengaja. Semua yang terjadi malam itu memang sudah ku rencanakan," denagn angkuh Chanueol mengangkat dagu, "Aku ingin kau memilihku"
Pipi Sehun sedikit memucat marah, "Kau berencana menjebakku dengan kehamilan?"
Chanyeol menggenggam tangan Sehun erat dan memejamkan mata, "Aku memang brengsek dan licik, tapi itu semua ku lakukan karena aku hampir putus asa. Aku mencintaimu dan menderita karenanya. Aku bersedia minta maaf kalau kau menginginkannya, tapi aku tak pernah menyesal membuatmu hamil"
Kata-kata itu melelehkan kemarahan Sehun, dengan lembut diraihnya kepala Chanyeol dan dipeluknya. Lama mereka berpelukan dalam diam.
"Karena itu kau mencium perutku" gumam Sehun, teringat keanehan Chanyeol saat itu.
"Ya," Chanyeol tersenyum bangga, "Saat itu aku yakin dia sedang terbentuk. Aku memerintahkannya supaya tumbuh sehat agar aku bisa memiliki ibunya," Chanyeol mengangkat bahu, "Aku konyol sekali ya?"
Sehun tertawa, sisi santai Chanyeol yang jarang diperlihatkan ini juga sudah membuatnya jatuh cinta. Dia mencintai lelaki itu dengan segala arogansinya, keras kepalanya, sekaligus dengan kasih sayangnya yang Sehun tahu melimpah untuknya.
Sehun mengelus perutnya, menyadari bahwa buah cinta mereka sedang tumbuh. Semakin lama semakin kuat hingga akhirnya nanti akan terlahir ke dunia. Mata Chanyeol mengikuti gerakan Sehun. Lalu tangannya mengikuti Sehun, mengusap perutnya.
"Dia kuat dan baik-baik saja di sana" gumam Chanyeol berbisik.
"Ya.."
"Mungkin nanti dia akan mulai menendang" dahi Chanyeol berkerut, mengingat isi buku referensi kehamilan yang mulai dibacanya.
Sehun megnangguk, tersenyum, "Pasti seperti pemain sepakbola"
"Aku lebih suka dia seperti CEO handal"
Sehun terkekeh, "Ya, CEO handal. Seperti ayahnya.."
Mereka bertatapan. Mata Sehun berkaca-kaca dan mata Chanyeol berkilauan penuh perasaan. Di antara tatapan mereka terjalin setiap impian orang tua terhadap anaknya di masa depan. Lalu Chanyeol mengecup dahi Sehun.
"Terima kasih sudah hadir di hidupku" bisiknya serak, "Terima kasih sudah mengajariku mencintai dengan begitu dalam, sudah menyentuh hatiku yang gelap dan jahat sehingga aku bisa merasakan indahnya mencintai seseorang. Dan yang terpenting, terima kasih sudah mau mencintaiku" lalu dia meraih dagu Sehun dan mengecup bibirnya lembut, yang dengan segerah berubah menjadi panas dan bergairah.
Lama kemudian Chanyeol baru mengangkat kepalanya, meninggalkan bibir Sehun yang panas dan basah. Matanya berkilat penuh gairah, tapi dia menahan diri dan mencoba tersenyum, mengusap rambut Sehun dengan lembut.
"Nanti setelah kau sehat," janjinya penuh arti, membuat Sehun merona, lalu memeluknya lagi, "Aku mencintaimu Sehun, dan aku berjanji akan membuatmu serta anak-anak kita nanti bahagia. Kau boleh pegang janjiku itu"
Sehun tersenyum mendengar tekad kuat dalam suara Chanyeol, "Aku tahu, Chanyeol oppa. Aku juga mencintaimu"
Mereka tetap berpelukan, dipenuhi rasa cinta yang hangat. Hanya ada mereka berdua dan kebersamaan mereka. Sehun dengan Chanyeolnya yang akhirnya menyerahkan hatinya untuk termiliki satu sama lain. Yang pada akhirnya bisa saling memiliki satu sama lain.
TBC
huweee..jujur pas gue nge-remake chapter ini rasanya nyesek deg2an ga karuan
that's happy ending..one chapter more readers
