STIGMA

.

.

.

Jungkook tidak yakin dari mana semuanya dimulai. Tapi ia sadar kenapa ini semua bisa terjadi.

Musim semi saat itu benar-benar mengantarkan sengatan senang dan antusiasme luar biasa. Seorang Jeon Jungkook akhirnya resmi menjadi siswa sekolah menengah atas di usianya yang menginjak 16 tahun. Euforia kesenangannya tenggelam bersama ratusan siswa lain yang diterima di salah satu sekolah favorit tersebut. Mengantarkannya bersama siswa lainnya pada rasa bangga yang membumbung tinggi.

Kehidupan baru di mulai.

Kehidupan yang benar-benar baru.

Jungkook bukanlah siswa yang menonjol di bidang akademik. Maka, ketika upacara penerimaan siswa baru, bukan dialah yang ada di atas podium, mewakili siswa baru. Melainkan seorang pemuda dengan kaca mata dan predikat siswa yang mendapat nilai tertinggi saat tes ujian masuk.

Jungkook bukanlah siswa bodoh juga. Dia hanya tidak suka dengan pelajaran yang membuatnya harus berurusan dengan angka. Bukannya apa-apa, otaknya hanya terlalu lamban jika harus berteman dengan 'makhluk' satu itu. Tapi yakinlah, dia berdamai dengan mata pelajaran lain. Jadi, dia bisa menutupi kelambatannya dipelajaran menghitung dengan pelajaran lain. Dan Jungkook sungguh bersyukur, karena nyatanya dia memang berada di kelas dengan program seni dan budaya.

Jungkook adalah seorang atlet. Di tingkat sekolah menengah pertama ia pernah mendapatkan medali emas dari perlombaan taekwondo, dan sekarang ia telah menyabet sabuk hitam. Cukup baginya untuk merasa sombong dan memang itulah yang membuatnya bisa masuk ke salah satu sekolah favorit saat ini.

Jungkook hampir menguasai semua jenis olah raga yang ada. Basket, sepak bola, lari, kendo, taekwondo dan masih banyak lagi kegiatan ekstrakulikuler di sekolahnya yang menawarinya untuk bergabung dengan tiket emas menjadi tim inti. Tapi Jungkook memilih untuk beristirahat sejenak untuk menikmati masa mudanya. Itu yang ada dalam pikirannya.

Jungkook adalah seorang yang pemalu. Tolong kesampingkan semua para penggemar yang menggilainya ketika ia bermain dalam segala bidang olahraga di setiap kesempatan. Karena nyatanya, ia tidak begitu suka dengan ketenaran yang entah mengapa ia dapatkan. Ia bahkan terlalu pemalu hanya untuk bersampingan dengan seorang siswi apalagi menyadari ada begitu banyak siswi yang menggilainya.

Jungkook adalah seorang pemalu, dan dari sanalah akar semuanya dimulai.

Saat itu memasuki musim gugur di tahun pertama ia bersekolah ketika seorang siswi mengajaknya bertemu di belakang gedung sekolah. Jungkook bingung. Ia tidak mengenal siswi tersebut meski teman sebangkunya selalu memberi tahu Jungkook bahwa dia sungguh beruntung.

Dia Minah.

Setingkat dengannya meski berbeda kelas. Seorang trainee di salah satu perusahaan hiburan besar di korea saat itu. Kemungkinan akan di-debut-kan tahun depan. Suaranya lembut, pintar menari, badannya tinggi semapai bak model, kulitnya putih bening, rambut hitam legamnya terlihat begitu halus dengan wajah yang terlampaui cantik.

Minah adalah primadona di sekolah itu. Dia kebanggaan guru-guru karena nilai akademiknya yang bagus meski bukan yang terpintar. Dia favorit para siswa karena sikap dan wajahnya yang manis. Dan dia adalah teman semua siswi, karena perangainya yang ceria dan bersahabat. Tidak ada orang yang sanggup menyimpan kebencian padanya.

Dia —Minah adalah seorang gadis yang sempurna.

Tapi, jangan lupakan kenyataan bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Jungkook menemuinya dengan menundukkan kepala dan rasa canggung yang memenuhi otaknya. Ia bingung. Sungguh bingung. Ditambah saat ini tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya dan gadis itu.

Minah di hadapannya tidak kalah canggung. Ia berdehem sekilas agar menarik perhatian Jungkook. Tapi gagal, karena Jungkook dengan segala kecanggungannya masih menunduk malu.

"Ja..jadi, ada apa?"

Sumpah, Jungkook sungguh gugup saat ini. Dia selalu kesulitan berhadapan dengan wanita. Tentunya terkecuali ibunda tercintanya.

"Jungkook-ssi, kau orang yang hebat dan keren. Kau juga tampan. Aku tahu ini terdengar tiba-tiba dan mungkin akan sangat mengejutkan. Tapi aku pikir, jika kita menjadi pasangan di sekolah ini, tidak kah itu akan sangat hebat?"

Jungkook yang mendengar itu hanya bisa mengernyit bingung. Suara Minah terlampau lembut dan ia akui itu. Hatinya cukup berdesir ketika mendengar suara indah gadis itu. Tapi suara gadis itu tetap tidak menghilangkan kejanggalan isi dari ucapannya.

"Jadi, mau kah kau kencan dengan ku?"

Seketika mata Jungkook membulat. Ia langsung menatap Minah yang saat itu juga disesali oleh Jungkook. Senyum manis yang Minah berikan padanya cukup membuat jantung Jungkook berdegub kencang. Wajahnya langsung memerah seketika. Dirinya dilanda rasa gugup yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bahkan ketika ia bertanding di turnamen final Taekwondo-nya saat itu pun tidak memberikan rasa gugup sehebat ini.

Jungkook terdiam cukup lama hingga akhirnya ia membuka mulutnya dan tanpa sadar menutupnya kembali. Sementara Minah di depannya masih setia menunggu jawaban Jungkook.

"A...aku..." Jungkook menelan ludahnya dengan paksaan. Berharap suaranya mampu keluar dengan normal dan mengurangi kadar kegugupannya yang berlebihan. Tapi itu tidak berhasil karena nyatanya tangannya kini malah ikut bergetar hebat.

Sial.

Merasa tidak akan sanggup menghadapi hal ini, Jungkook akhirnya hanya mampu membungkuk sembilan puluh derajat dengan gumaman kata maaf. Berharap ucapan maafnya terdengar oleh Minah. Dan dengan secepat kilat, ia lebih memilih lari dari sana tanpa melihat reaksi yang Minah tunjukan padanya.

Jungkook tak sanggup. Ia sungguh merasa gugup dan akan meledak secara bersamaan. Tanpa pernah terpikirkan olehnya bahwa dirinya yang lari saat itu adalah malapetaka terbesar baginya.

.

.

.

Seminggu sejak kejadian itu, sekolah berjalan seperti biasanya. Selama seminggu pula Jungkook tidak bisa menemukan Minah. Gadis itu tidak masuk sekolah selama itu dengan alasan sakit. Sebenarnya Jungkook merasa sedikit bersalah. Ia sungguh ingin meminta maaf pada gadis itu dan mengklarifikasi semua tindakan memalukan yang ia lakukan terhadap gadis itu. Semoga saja ia mampu untuk berbicara pada gadis itu dan menjelaskan semuanya.

Pagi ini sebenarnya tidak jauh berbeda. Udara dingin musim gugur masih mengganggunya. Membuat mood-nya tidak begitu baik. Bahkan mungkin teman-teman sekolahnya. Mereka semua seperti tidak mempunyai cukup mood yang baik. Karena entah perasaannya atau bukan, setiap anak yang ia temui di sekolah —dalam perjalanannya menuju kelas menatapnya sengit. Jungkook tidak ingin mempermasalahkan itu hingga akhirnya ia sampai di kelasnya. Sambutan warga kelas bahkan teman sebangkunya tiba-tiba dingin terhadapnya. Bahkan tatapan yang ia dapati dari seisi sekolah kembali ia dapatkan dari teman-teman sekelasnya.

Ada apa ini?

"Yugyeom-ah, ada apa? Kau marah padaku?" tanya Jungkook pada teman sebangkunya itu. Ia menyimpan tasnya di atas meja tanpa mengalihkan pandangannya pada pemuda bernama Yugyeom itu.

"Kenapa tidak kau pikir saja sendiri?"

Dengusan balik bertanya adalah jawaban yang Jungkook dapatkan dari teman sebangkunya itu sebelum Yugyeom akhirnya memutuskan pergi dari hadapan Jungkook. Meninggalkan Jungkook dengan kernyitan bingung.

"Jungkook-ah!"

Panggilan dari siswa yang Jungkook kenal sebagai ketua kelas itu menarik perhatiannya. Ia menatap tanya pada sang ketua kelas.

"Kau dipanggil Pak Park."

—dan tanpa Jungkook sadari, hari ini adalah awal hari yang buruk baginya.

.

.

.

Jungkook mendapati dirinya dengan pikiran yang kebingungan luar biasa. Ia kini berada di ruangan Pak Park —ruang konseling, ruang BP. Selang satu kursi darinya, duduk seorang gadis yang Jungkook kenal sebagai Minah dan seorang perempuan paruh baya yang mirip sekali dengan Minah. Mungkin itu ibunya. Tapi bukan itu yang membuatnya kebingungan, melainkan tuduhan yang ditudingkan padanya.

Pasalnya, Pak Park bilang, Minah melaporkannya atas pelecehan seksual.

Ini gila.

Telinga Jungkook langsung berdenging keras. Kepalanya tiba-tiba pening.

Kapan? Di mana?

Kapan ia pernah melecehkan Minah?

Di mana ia melecehkan Minah?

Dengan keterkejutan luar biasa, Jungkook hanya bisa mengalihkan tatapannya pada Minah. Mulutnya terkatup rapat. Ia tidak tahu bagaimana ia harus bertindak di situasi macam ini.

Minah di sana menangis terisak dengan tubuh sedikit bergetar. Ia mencengkram tangan ibunya yang sedang mendekapnya dengan erat. Menundukkan kepalanya dalam-dalam seolah ketakutan melihat Jungkook. Wanita paruh baya —yang diduga ibunya Minah itu menatapnya sengit.

"Jangan pernah menatap anakku dengan mata busukmu, Kurang ajar!"

Teriakan dari ibunya Minah serasa memecahkan telinga Jungkook. Kepalanya berdenyut sakit.

Kapan ia melakukan itu?

Dimana ia melakukan itu?

Ingin rasanya Jungkook balas berteriak, tapi suaranya tercekat. Tenggorokannya serasa tercekik.

"Aku... aku..."

Suara gugup Jungkook teredam oleh suara isak Minah yang semakin keras. Jungkook kebingungan. Ia tidak tahu harus apa? Bahkan sekarang rasanya ia ingin ikut menangis. Apa salahnya? Apa yang telah ia lakukan?

Hingga akhirnya suara pintu dibuka membuat perhatian mereka teralihkan. Itu ibunya Jungkook. Wajah wanita cantik yang sangat Jungkook cintai itu menatapnya dengan wajah terluka.

Melihat hal itu, rasanya ia ingin berlari memeluk ibunya. Berteriak meyakinkan padanya. Ia tidak melakukan semua apa yang dituduhkan padanya.

Tapi kembali, suaranya bahkan tidak bisa ia keluarkan. Bahkan ia tidak berdaya untuk membela dirinya sendiri.

Pada hari itu, ibunya membawa Jungkook kembali pulang dengan hukuman skorsing selama dua minggu.

Minah tidak memberikan kesaksian lebih lanjut tentang pelecehan apa yang telah dilakukan Jungkook, hingga masalah ini tidak bisa di bawa ke kantor polisi. Tidak ada barang bukti. Akhirnya, demi karir serta nama baik kedua anak tersebut dan sekolah, maka sekolah memutuskan menyelesaikan semua permasalahan sesuai aturan sekolah.

Jungkook tidak dikeluarkan dari sekolah karena tidak ada keterangan lebih lanjut dari keluarga Minah dan Minah sendiri. Selain itu, keluarga Jungkook yang terpandang cukup membuat sekolah harus mempertahankan Jungkook di sana. Maka, keputusan terakhir adalah dengan dua minggu belajar di rumah.

—tapi, dua minggu adalah waktu yang cukup untuk membuat Jungkook semakin terpuruk. Waktu yang cukup untuk mengembangkan stigma semua siswa di sekolah akan Jungkook. Menjatuhkan pemuda pemalu itu dalam sekali hentak.

Ia tidak lagi mempunyai penggemar, melainkan para penghujat yang senantiasa melemparinya dengan telur.

Ia tidak lagi mempunyai prestasi gemilang di olahraga, melainkan bola-bola itu yang terlihat tidak sengaja mengenai tubuhnya. Menyerangnya hingga remuk.

Ia tidak lagi melemparkan canda tawa di kelas, melainkan terkena cacian dibalik bilik toilet, gudang atau taman belakang sekolah.

Ia tidak lagi mendapat perlakuan sepadan dari warga sekolah, melainkan harga dirinya yang diinjak-injak layaknya budak.

Hingga hari itu datang. Di suatu siang yang cerah di musim panas di tahun keduanya sekolah, Jungkook mengambil pisau lipat yang senantiasa ia sembunyikan. Membawanya ke dalam kamar mandi dingin yang lembab.

Air di bathtub telah memenuhi tempatnya, bahkan sudah mengalir membajiri lantai kamar mandi. Menyentuh telapak kaki Jungkook yang berdiri di sana tanpa alas. Dengan pandangan kosong ia memasuki bathtub tersebut —hingga beberapa masa air terbuang dari tempatnya —memposisikan tubuhnya senyaman mungkin di dalam bathtub.

Jungkook mengangkat tangan kirinya hingga berhadapan dengan wajahnya. Badannya sudah basah dan tubuhnya sudah menggigil. Tapi Jungkook seakan tak merasakan apa pun. Ia kosong. Ia hampa. Ia bahkan tidak merasa sakit sama sekali.

Di luar, secara samar dapat ia dengar pertengkaran ayah ibunya. Mungkin mereka sedang mempermasalahkan kondisi dirinya. Lagi.

Tapi anehnya, itu seperti memberi kekuatan pada Jungkook. Ia tanpa gentar mengangkat tangan kanannya yang tengah memegang pisau lipat. Entah dapat kemantapan dari mana, tangan kanan itu mempermainkan pisau lipat di pergelangan tangan kirinya. Hingga warna kesukaan Jungkook mulai mencuat memberontak keluar di balik epirdemisnya.

Warna itu setitik demi setitik mengkontaminasi air yang berada di sekitar Jungkook. Membawa warna netral itu perlahan berubah menjadi warna yang sangat disukai Jungkook. Mengengelilingnya dengan warna menyala yang menantang.

Jungkook tersenyum ketika menatap sekilingnya. Mulutnya menyunggingkan senyum namun matanya mengalirkan beban berat yang ia tanggung. Perlahan ia semakin larut dalam posisinya. Menenggelamkan dirinya dalam bathtub yang air nya sudah kehilangan warna aslinya.

Setidaknya, aku berakhir dengan ditemani warna yang paling kusukai.

—merah itu kini menenggelamkan tubuh Jungkook pada dasar jurang keputus asaan.


.

.

.

Alternative Universe, Friendship, Drama

.

.

.

Story©Terunobozu

.

.

.


Jungkook tidak pernah berpikir bahwa ia akan dipertemukan dengan seorang pemuda dengan senyum kotak aneh itu. Menawarinya hal gila ketika keputusasaan menariknya kembali.

Jungkook tidak pernah berpikir bahwa hari itu, bukannya akhir yang ia inginkan yang ia dapatkan. Melainkan se-plastik susu pisang-lah yang ia dapatkan.

.

.

.

"Woah... ternyata tinggi ya?"

Aku takut, tolong aku...

.

.

.

"Kau... kau... tidak usah mencegahku,"

Tolong hentikan aku...

.

.

.

"Mencegah? Mencegah apa?"

"Kau... ingin mencegahku... untuk... untuk melompat, kan?"

Tolong hentikan aku...

.

.

.

"Apa itu tidak sakit?"

Ini sangat sakit.

.

.

.

"Sakit, kan?"

Iya, ini sangat sakit.

.

.

.

"Kau berbohong, itu pasti sakit."

Aku tahu, aku berbohong. Tapi apa yang bisa kulakukan?

.

.

.

"I...itu... bukan urusanmu."

Tolong tarik aku!

.

.

.

"Itu akan lebih sakit ketika kau sampai di sana."

Aku tahu.

.

.

.

"Aku... tidak peduli. Itu bukan urusanmu..."

Jangan pergi!

.

.

.

"Kepalamu akan pecah, otakmu terurai keluar, tengkorakmu hancur. Jika beruntung, kau akan langsung mati. Tapi jika tidak?"

Aku tidak pernah beruntung.

.

.

.

"Kau akan merasakan bagaimana darah dalam tubuhmu berontak ke luar tubuhmu. Merasakan bagaimana beberapa tulangmu remuk. Merasakan bagaimana beberapa lokasi tulangmu berpindah pada posisi tak wajar. Merasakan bagaimana paru-parumu terhimpit menuntut udara yang mulai kesulitan kau dapatkan. Merasakan bagaimana jantungmu diremas dengan kuat. Merasakan bagaimana otakmu menjeritkan rasa sakit yang tak terhankan. Tapi tidak ada siapapun di sana, tidak ada siapapun yang bisa menghilangkan rasa sakitmu. Sementara tubuhmu semakin berontak dengan rasa sakit yang..."

Rasa sakit yang kurasakan lebih sakit dari itu...

.

.

.

"Hentikan!"

Tolong hentikan aku!

.

.

.

"Tidakkah kau takut? Itu akan semakin sakit."

Aku takut.

.

.

.

"Rasa sakitmu selama hidup... apakah pantas dibayar dengan rasa sakit yang bahkan akan kau rasakan sampai kau mati?"

Tidak, mereka yang seharusnya merasakan sakit.

.

.

.

"Tidak kah kau ingin balas dendam? Kenapa kau harus merasakan sakit sampai akhir? Tidakkah kau memperlakukan dirimu sendiri tidak adil?"

Iya, ini tidak adil. Maafkan aku... maafkan aku...

.

.

.

"Aku Taehyung, Kim Taehyung. Salam kenal."

"Aku tidak ber..."

"Tidak kah kau ingin membalas uluran tanganku? Ini pegal tahu"

"Aku..."

"Ayo turun! Di sana menakutkan, tau."

Aku tahu. Di sini sungguh menakutkan.

.

.

.

"Ngomong-ngomong umurku 19 tahun, jadi aku Hyung-mu. Panggil aku Hyung."

Terima kasih, Hyung.

.

.

.

"Cuaca sedang cerah, lebih baik kita mabuk dengan ini!"

Terima kasih, Hyung.

Terima kasih.

Terima kasih.

.

.

.

"Mari kita diskusikan bagaimana caranya balas dendam pada hidupmu yang tak adil, okeh?"

Terima kasih.

.

.

.

"Hei, jangan menangis. Itu membutku ingin menangis,"

Kau bodoh.

.

.

.

"Hyung, kenapa kau ikut menangis?"

Terima kasih.

.

.

.

"Itu gara-gara kau bocah, kenapa kau menangis? Aku kan jadi ingin ikut menangis."

"Apa-apaan dengan alasan itu..."

Terima kasih, Tae-Hyung.

.

.

.

Mungkin Jungkook tidak akan pernah menghilangkan Stigma orang lain terhadapnya. Mungkin ia akan gila karena itu. Tapi percayalah, meski ia gila pun, ia bersyukur bisa dipertemukan dengan Taehyung pada hari itu.


=Finished=


A/N. Sorry for typos, hehehe, jika berkenan bisa bantu memperbaiki.

Mungkin tidak ada yang begitu suka dengan cerita ini, ahaha... tapi terima kasih banyak untuk yang sedia memberi review. I have strength 'coz of you, love u so much jihyunelf and emma. /Big Hug. Ini sequel buat kalian.

Ini selesai ya, selesai, harusnya, tapi gak tahu bakal ada lanjutannya atau gak, makanya gak dikasih tanda complete. Hehe...

Mungkin jika ada mood, bisa dilanjut... mungkin...

Tapi, sekali lagi terima kasih banyak buat support-nya. Thank you so much. 3