Devil's Kiss

Main Cast:

Jeon Wonwoo as Choi Wonwoo

Choi Seungcheol

Choi Hansol

Kim Seokjin

Kwon Soonyoung

Genre: Supernatural, Drama

Rate: M

-o-o-o-o-o-o-o-

Remake novel Devil's Kiss karya Sarwat Chadda.

-o-o-o-o-o-o-o-

WARNING! Fanfic ini mengandung unsur kekerasan, sadisme, bahasa kasar, dan pandangan sejarah suatu agama! Bagi yang tidak nyaman dan tidak suka dengan hal tersebut, sangat disarankan untuk menekan tombol kembali.

+o+o+o+o+

CHAPTER 1

+o+o+o+o+

"Apakah kamu juga datang untuk membunuhku?"

"Tidak, Nak. Kamu tahu aku tidak bisa melakukannya."

Dia melirik ke arah Wonwoo.

"Kau sudah mati."

+o+o+o+o+

"Ini tidak adil!"

Ayunan bergoyang-goyang liar dan menimbulkan bunyi berisik. Komidi putar mulai bergerak sendiri secara perlahan.

"Pria itu bilang aku boleh memberi makan burung-burung! Pria itu mengatakan–"

"Pria itu sudah dihukum atas perbuatannya," kata Seungcheol.

"Apakah dia Neraka?" tanya Chan.

"Aku berani janji dia ada di sana."

Anak itu melolong.

"Aku tidak ingin mati! Tolong izinkan aku tetap tinggal." Air mata mengalir turun di wajahnya. Mulut dan dagunya berkerut penuh dengan kesedihan.

"Tempat ini gelap dan aku sendirian! Aku ketakutan!" Dia melangkah semakin mendekat sambil memohon-mohon pada dua orang di depannya.

'Dia hanya seorang anak kecil,' pikir Wonwoo.

Wonwoo berlutut dan memeluk Chan. Dia menarik tubuh anak itu ke jantungnya dan–

"Jangan, Wonwoo!" teriak Seungcheol.

Rasa dingin meresap ke dalam. Menembus kulitnya seperti es. Cairan hitam membanjiri nadinya, memenuhi dirinya dengan apa yang dirasakan oleh Chan. Keputusasaan, iri hati, dan

KEBENCIAN

Karena dirinya direnggut dari dunia yag penuh sinar matahari oleh sepasang tangan berkeringat, jari-jari yang menghancurkan, di atas tanah dan daun yang berguguran, tanpa pernah merasakan

KEHANGATAN

Yang sangat dia rindukan dan dambakan melebihi apapun juga sehingga dia menyedotnya dari dalam diri Wonwoo, meninggalkan kedinginan yang sanggup membuat tulang menjadi getas, menyedot udara dari paru-parunya sehingga Wonwoo menjadi sepucat salju, dan

DAGINGNYA

Menjadi memar. Air mata membeku di pipinya pada saat dia menatap ke dalam mata Chan yang hitam dan dipenuhi niat jahat, karena anak itu hanya mengingat

RASA SAKIT

Yang tak bisa dia lupakan, dan hal itu menggerogoti dirinya, bagaikan virus ganas yang tak bisa dikendalikan sehingga Wonwoo harus

MENDERITA

Seperti yang dulu Chan alami. Rasa dingin seperti membakar jantung Wonwoo di saat Chan menembus dirinya lebih dalam, guna menariknya masuk ke dalam kegelapan bersamanya, jauh.

Sesaat kemudian, jari-jari kuat mencengkeram pundak Wonwoo dan menariknya hingga terlepas. Seungcheol menjauhkannya dari anak itu. Wonwoo terhuyung-huyung di atas kerikil dan mendarat dengan keras di pipinya.

Kerasukan. Makhluk itu berusaha merasuki Wonwoo. Makhluk itu bukan Chan. Bukan lagi.

Wonwoo berusaha bangkit berdiri, tetapi kedua kakinya serasa rapuh seperti batang es.

"Wonwoo!" teriak Seungcheol.

Bangku kayu ayunan terbelah menjadi dua dan kedua rantai yang menyangganya terlepas. Wonwoo segera menunduk. Namun, kening Seungcheol terkena sabetan.

Pedangnya terlepas. Seungcheol terhuyung-huyung, kemudian terangkat dari tanah saat rantai ayunan membelit lehernya dan semakin mengencang.

Seungcheol tergantung di tiang ayunan yang saat itu tampak seperti tiang gantungan. Dia berusaha melepaskan diri. Wajahnya berubah menjadi merah padam.

"Lepaskan dia!" jerit Wonwoo.

Chan mengeluarkan lolongan sementara Seungcheol tergantung di ujung rantai.

"Tolonglah, Chan!"

Tangan Seungcheol terkulai dan badannya lemas.

Chan atau sesuatu yang berpura-pura menjadi anak hidup itu hanya tertawa melambaikan tangannya, seperti orang gila yang memainkan tubuh Seungcheol sebagai boneka.

Pedang itu ada di antara mereka dengan ujung tertancap ke tanah. Wonwoo menerjang maju, mencabut pedangnya dari tanah. Dia kemudian menendanng Chan di bagian dada hingga tubuh anak itu terpental.

Wonwoo mendekati Chan dan mengangkat sejata itu tinggi. Siap menancapkan ujungnya ke tubuh Chan.

"Tuhan maafkan aku," bisik Wonwoo kemudian menghujamnya mata pedang ke jantung Chan.

Cairan hitam muncrat dari dalam luka dan membasahi pakaian serta wajah Wonwoo. Pemuda itu tercekat ketika cipratan cairan itu masuk ke dalam tenggorokannya.

Wonwoo mendorong pedangnya lebih kuat sehingga Chan tertancap ke tanah.

Sambil bertumpu pada gagang pedang, Wonwoo mengambil sebuah botol perak kecil di dalam kantong bajunya. Dia menggigit tutupnya sampai terlepas. Kemudian mengolesi jarinya dengan minyak bening di dalamnya.

"Jangan, Wonwoo! Tolong! Aku tidak ingin pergi!"

Chan meronta ketika Wonwoo berusaha memegangi kepalanya untuk membuat tanda salib. Anak itu menjambak rambut Wonwoo dan meludahi wajahnya dengan darah yang berminyak serta berbau busuk.

"Exorcizo te, omnis spiritus immunde, in nomine Dei Patris omnipotentis,"

Wonwoo membacakan doa pengusiran arwah jahat. Dia menekan kedua jari tangan kanannya ke atas kening Chan, lalu dagu dan akhirnya kedua belah pipinya.

"Ego to linio oleo salutis in Christo Jesu Domino nostro, in habeas vitam aeternam!"

"Apa yang telah kau lakukan?!" desis anak itu.

"Deus vult," bisik Wonwoo. Itu sebenarnya adalah pekikan perang milik ordo, tetapi sekarang, slogan itu terdengar seperti sebuah kutukan.

Anak laki-laki itu mengeluarkan jeritan terakhir. Di depan mata Wonwoo, tubuh anak itu terlihat mengalami kerusakan. Kemudian sisa-sisa dari diri Chan pun menghilang.

Aku telah membunuhnya.

Wonwoo berhasil melewati Cobaan Berat, dia seharusnya merasa senang. Namun yang dia rasakan hanya mual dan kekosongan.

Seungcheol terbanting jatuh ke tanah, bebas dari belitan rantai yang kini tidak bernyawa. Dia berusaha berdiri kemudian mengambil pedangnya serta membersihkannya.

"Bagus. Kau membantainya dengan bersih. Bagaimana sekolahmu?" tanyanya.

"Apa?"

"Sekolah. Kau pergi sekolah, kan?"

"Sekolah? Bagaimana bisa ayah membicarakan soal sekolah setelah apa yang baru saja aku lakukan?"

"Apa yang telah kau lakukan? Yang kau lakukan tadi adalah membebaskan jiwa yang tersiksa. Apapun yang kau lihat, apa pun yang dia lakukan, itu tadi bukan Chan. Itu tadi adalah roh jahat yang menyalahgunakan emosi-emosi tergelap anak itu. Yang sudah meninggal tidak boleh ada di dunia ini."

"Bagaimana dirimu bisa begitu dingin?"

Wonwoo merasa tempatnya berpijak bergoyang-goyan dan isi perutnya seakan diaduk. Dengan canggung, Seungcheol meletakkan tangannya di pundak anaknya.

"Apa yang kau rasakan?"

Wonwoo ingin tertawa. Rasakan? Setelah apa yang baru saja terjadi? Wonwoo berjalan tertatih-tatih ke pagar sambil mencengkeram perutnya.

"Aku merasa–"

Wonwoo jatuh berlutut dan muntah. Warnanya hitam. Tubuhnya terlipat menjadi dua setiap kali dirinya muntah.

Seungcheol berjongkok di sampingnya dan mengeluarkan sebungkus rokok yang kotaknya sudah lecek.

"Ya, aku juga mengalami hal yang sama, dulu, waktu pertama kali."

Seungcheol menyalakan sebatang lalu menyesapnya. Kepulan asap putih melayang di udara ketika dia menghembuskannya.

"Selamat datang di Ordo Kesatria Templar."

+o+o+o+o+

"Mereka sudah menunggu, Cheol," suara itu berat dan lembut: Hansol, ayah baptisnya.

Wonwoo mengupin dari balik daun pintu. Terdengar suara gumaman terbungkam. Wonwoo tidak bisa menangkap sepatah kata pun dengan jelas, namun dia mendenngar bunyi gesekan antara kaki kursi dengan lantai kayu serta suara air yang mengalir dari keran. Mereka ada di dapur lantai bawah.

Wonwoo tahu yang dia lakukan adalah salah, tapi dia harus tahu. Ayahnya berbohong padanya.

Mengapa?

Ada perban yang separuh terbakar di perapian. Perban dengan noda darah.

Kemana ayahnya pergi saat pria itu mengira Wonwoo sudah tidur?

Dan mengapa Wonwoo takut kalau ayahnya mungkin tidak akan pernah kembali?

Wonwoo membuka pintu dan melesat melalui celah sempit yang terbuka. Kemudian berjongkok di dekat puncak tangga.

"Kalu anak laki-laki itu benar, kita tidak punya pilihan."

Itu suara ayahnya, yang terdengar letih. Anak laki-laki yang mana? Dirinya? Dia tidak pernah mengatakan hal apapun pada ayahnya. Tidak mungkin anak dari sekolahnya. Tidak ada lagi orangtua yang mengizinkan mereka bergaul dengan Wonwoo.

Mungkin yang mereka maksud adalah anak laki-laki yang dibawa oleh Pastur Jin minggu lalu. Anak kurus dengan mata yang indah.

Hong Jisoo.

"Itu benar-benar tindakan bodoh." Suara itu keras dan penuh amarah. Soonyoung. Kenapa dia selalu marah-marah?

"Cheol, setidaknya berikan dia kebebasan selama beberapa tahun. Wonwoo baru sepuluh tahun," kata Hansol.

"Kau tahu pepatah kelompok Jesuit. Berikan padaku seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun, maka aku akan memberimu seorang pria dewasa," kata Jin.

Soonyoung menggeram.

"Kita bukan kelompok Jesuit sialan. Kita adalah–"

"Cukup. Aku sudah membuat keputusan," kata ayahnya dan semua menutup mulut seolah takut padanya.

Mengapa? Ayahnya hanya seorang tukang angkut di Middle Temple, seperti Hansol dan Soonyoung. Dia memperbaiki benda yang rusak. Dia menyirami tanaman di sepanjang lorong. Bukankah begitu?

Atau mungkin Wonwoo tidak mengenal ayahnya sama sekali.

Seungcheol meletakkan sebungkus plastik sampah berwarna hitam. Darah menetes dari bungkusan itu.

Soonyoung menggelengkan kepala.

"Cuma karena kau seorang Master, bukan berarti kau berhak membuat keputusan seperti itu, Cheol."

Master? Master apa?

"Sebenarnya, Soon, menjadi seorang Master membuatku memiliki hak untuk melakukan hal seperti itu."

Soonyoung mencondongkan tubuhnya ke depan dengan gusar.

"Selama sembilan ratus tahun terkhir, Ordo ini telah mengikuti Tata Tertib Templar, sejak masa Bernard de Clairvauax. Kau tidak bisa seenaknya menyingkirkannya dan membuat aturan baru."

Seungcheol bersandar ke punggung kursinya dan melipat tangan di dada.

"Aku bisa dan aku sudah melakukannya."

Dia menunjuk ke arah pastur.

"Jin, dia akan mempelajari bahasa Latin serta Yunani Kuno, dan okultisme darimu."

Dia menepuk pundak Hansol.

"Hansol, latihan menggunakan senjata."

Wonwoo melihat senyum tipis di bibir Hansol.

"Tentu saja. Ada permintaan khusus? Pedang, belati, tongkat?"

"Segalanya. Aku akan melatihnya untuk bertempur tanpa senjata."

Soonyoung belum mau menyerah.

"Seungcheol, kumohon padamu pertimbangkan kembali. Ingat apa yang dulu terjadi pada Jeonghan."

Seungcheol terdiam. Ruangan itu menjadi sunyi. Wonwoo masih bisa meliat kepedihan mendalam di wajah ayahnya.

Seungcheol menunjuk Soonyoung.

"Sejarah dan bahasa Arab."

"Kesombonganmu sudah membunuh istrimu dan kesombonganmu juga akan membunuh anakmu nanti!"

Wonwoo menjerit ketika Seungcheol meninju Soonyoung hingga tersungkur di lantai.

Mereka semua menatapnya.

Seungcheol menunjuk sebuah titik di hadapannya. Wajahnya terlihat tenang, kosong, dan menakutkan.

"Kemari. Sekarang."

Soonyoung berusaha bangkit berdiri dengan susah payah sambil mengabaikan uluran tangan Hansol.

"Tukan menguping! Sudah berapa lama kau ikut mendengarkan?!"

Wonwoo berhenti di depan ayahnya. Memaksa diri untuk membalas tatapan Seungcheol yang tajam.

"Aku...cuma ingin tahu."

"Apa?"

"Tempat Ayah biasa pergi. Hal-hal yang Ayah lakukan."

"Kalau begitu lihatlah apa yang biasa aku lakukan."

Napas Wonwoo tercekat. Di atas meja, terdapat sebila pedang yang lebih lebar daripada telapak tanganynya dan lebih tinggi darinya.

Disamping pedang terdapat sebuah pistol revolver berlaras panjang dengan tiga butir peluru perak.

Seungcheol membuka bungkusan plastik hitam.

Di dalamnya ada kaki depan seekor tebal dan bulunya abu-abu, dengan cakar kuning menyeramkan sepanjang jarinya.

"Kau membunuh seekor anjing?"

"Seekor serigala. Tunjukkan padanya, Jin," kata ayahnya.

Dengan perlahan, Jin mengangkat salib perak yang tergantung di lehernya, dia menggenggamnya erat dengan tangan kanan dan menyentuh kaki binatang itu dengan tangan kiri.

"Exorcizo te," bisiknya, kemudian mundur.

Kaki binatang itu menggelung. Kuku-kuku yang tajam tertarik masuk ke dalam daging dan bulu-bulu kasar masuk ke dalam kulit. Potongan badan itu terpelintir dan bermutasi, berganti wujud serta warna.

Bulu-bulu panjang tak tampak lagi dan digantikan oleh kulit putih pucat. Kaki binatang itu kini telah berubah menjadi sepotong tangan yang memiliki lima jari. Potongan tubuh itu bukan lagi kaki depan seekor serigala raksasa, tapi lengan bawah seorang pria

..

..

To Be Continued

+o+o+o+o+

Hai-hai~~ Aku ngetik chapter ini jadi parno sendiri :v

Thanks a lot, buat yang folfav fanfic ini dan menunggu :)) Maaf lama update.

Menurut kalian ini lanjut atau gak?

..

-Wonu