Mianhae, Nado Saranghae

Author : KeiLee

Main Pair : Yunjae (Jung Yunho x Kim Jaejoong)

Other Pair : Yoosu, Changkyu, TOPGD, little bit SiBum.

Other Cast : Jung Ahra, Choi Siwon, Choi (Kim) Kibum, dan lainnya akan ditemukan seiring berjalannya cerita.

Genre : Romance, Drama (banget) sinetron Indonesia yang paling drama sampe episodenya ribuan dan berseason-season aja kalah.

Rate : T-M. Gue mulai sedikit terkontaminasi. Tapi Cuma dikit doang. Totally, gue masih polos ko..

Warning : YAOI. BxB. Little STRAIGHT. Typo (s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit layaknya YJS di dunia, DLDR. Lebih sinetron dari sinetron yang paling sinetron (?). Tidak menerima Kritik dengan bahasa yang kasar. Biasakan RnR. Kalo bisa baca dulu yang Noona, I Love Him biar lebih nyambung. Judul menipu. Isi berantakan dan maksa banget. Jalan cerita membingungkan dan berantakan sesuai sama idup gue T-T. Menimbulkan resiko mual dan nafsu akan menurun, jadi bagi yang diet dianjurkan membaca #apadeh

Okelah, seperti biasa. Gue cool make banget jadi ngga banyak bacot.

So, Check It Out..

.

.

.

.

.

Previous Story

"Kenalkan, dia Wang Jihye, temanku." Satu persatu sahabat Jaejoong mengenalkan diri. Jaejoong mengernyit melihat namja yang berdiri di paling pinggir. Jung Yunho. Dia hanya diam di tempat tidak berniat untuk mengenalkan dirinya.

"Jung Yunho imnida." Ujarnya akhirnya.

"Bagaimana kabarmu, Yunho-ssi?" tanya Jaejoong dengan senyuman meremehkan tersungging dibibir Cherrynya. Dia mengamati Yunho dari atas sampai bawah, " Apa kau tidak mengurus dirimu sendiri selama ini, Jung? Kau terlihat lebih kurus dari yang kuingat."

Yunho tersenyum tipis, "Aku senang kau masih mengingatku."

"Aku mengingatmu karena kau akan menjadi calon kakak iparku, Saekkia!"

"Jae, sebenarnya..."

"Oppa... sampai kapan pembicaraan ini berlanjut? Aku benar-benar tidak sabar." Rengekan manja dari yeoja disamping Jaejoong memotong apa yang akan Ahra katakan.

"Kau tidak sabar bermain denganku, chagi?" goda Jaejoong yang diangguki oleh yeoja itu, "Bagaimana kalau kita sedikit menunjukkan permainan yang biasa kita mainkan kepada teman barumu?"

"Kenapa tidak?" jawab yeoja itu manja. Dan setelah itu semua yang disana hanya bisa menahan nafas. Jaejoong dan Jihye berciuman panas di depan mereka. Bahkan tangan Jaejoong dengan berani berjalan dan meraba-raba tubuh Jihye membuat yeoja itu mendesah erotis.

Suara kecipak terdengar di telinga mereka. Yunho mengepalkan tangannya dan memalingkan wajahnya kesamping. Matanya tidak bisa melihat itu. hatinya menjerit keras.

"Ahh... opppa..." desah Jihye. Entah apa yang dilakukan Jaejoong hingga membuat yeoja itu mendesah sekeras itu.

"Kita lanjutkan dikamar." Bisik Jaejoong yang masih bia di dengar yang lainnya. "Kalian lanjutkan pembicaraan kalian. Dan usahakan bicaralah sekeras mungkin kalau kalian tidak ingin mendengar sesuatu yang tidak ingin kalian dengar." Jaejoong menggendong Jihye menuju kamar sepupunya, Kim Hyun Joong. Karena tidak mungkin dia membawa Jihye ke kamarnya sendiri. Meskipun sikap Jaejoong berubah, tapi dia tidak mau merubah tampilan kamarnya.

Semua yang ada diruang tamu hanya bisa diam setelah menyaksikan apa yang baru saja terjadi. Bersamaan mereka menoleh kearah namja yang berdiri paling ujung. Namja itu, Jung Yunho. Dia diam dengan mata kosong.

Chapter 2. Mianhae, Boo

Author PoV

Sudah seminggu semenjak kejadian yang tidak terduga itu terjadi. Semenjak itu pula Yunho makin tertutup. Dia tidak mau ditemui siapapun kecuali klien perusahaannya. Bahkan Yoochun, Seunghyun, dan Changmin yang pada dasarnya adalah sahabatnya merasa kesulitan hanya untuk melihat wajah kecil namja bermata musang sahabat mereka itu. Yunho makin diktator dalam memerintah. Dia tidak segan memecat Office Boy/Girl di kantornya hanya karena mereka telat membersihkan kamar mandi. Bahkan kemarin dia baru saja memecat sekretaris yang baru bekerja satu minggu dengannya hanya karena salah memasukkan takaran gula untuk kopinya.

"Aku ada di Jung Corp sekarang. Aku benar-benar tidak tahan dengan sikap si beruang itu... Ne... ajak Yoochun juga... hati-hati, Changmin-ah." Seunghyun memasukkan ponsel canggihnya kedalam saku jas bagian dalam. Dia berjalan dengan santai memasuki Jung Corp karena dia memang terbiasa pergi kesana. Semua pegawai membungkuk hormat begitu melewatinya karena mereka memang sudah mengenalnya sebagai sahabat sang Presdir. Mata para yeoja dan namja uke disana tidak lepas darinya yang memang memiliki bentuk tubuh proporsional. Hal ini juga berlaku ketika Changmin dan Yoochun datang. Tapi sayangnya, namja-namja tampan kita ini sudah memiliki kekasih masing-masing yang tentunya jauh lebih baik dari mereka yang ada disini.

Kita tinggalkan Seunghyun yang sedang dalam perjalanan menuju ruangan sang Presdir. Kini kita tengok apa yang terjadi diruangan yang menjadi tujuan Seunghyun.

"Ige Mwoya?!" Yunho melempar laporan yang ada ditangannya keatas meja. Dia masih memiliki hati untuk tidak melempar tumpukan kertas itu kewajah pegawainya yang hanya bisa berdiri dengan kepala tertunduk didepannya. "Kau bilang ini laporan?! Itu tidak lebih dari tumpukan kertas yang tidak ada harganya dibandingkan dengan sampah! Kalau kau tidak bisa memperbaikinya dalam waktu satu jam, kupastikan ini adalah saat terakhirmu ada disini!"

"Ne, sajangnim." Pegawai tadi hanya bisa menundukkan kepalanya dan meyanggupi permintaan Yunho sebelum keluar dari ruangan Yunho.

"Wae?" tanya Seunghyun begitu masuk keruangan sahabatnya itu.

"Mwo?" balas Yunho tanpa melihat kearah Seunghyun. Dia tetap berkutat dengan berkas-berkas yang ada di depannya.

"Pegawaimu tadi. Kenapa wajahnya seperti itu?"

"Aish, pegawai bodoh itu maksudmu? Tidak usah dipikirkan, sebentar lagi dia pasti kupecat." Jawab Yunho enteng membuat Seunghyun geram.

"Aish... Yoochun-ah, Changmin-ah... bantu aku membawa beruang ini!" pinta Seunghyun yang langsung diangguki oleh Changmin dan Yoochun yang baru sampai.

"Apa yang akan kalian lakukan?" Yunho menyipitkan matanya. Memasang sikap waspada melihat tingkah mencurigakan ketiga sahabatnya.

"Membawamu untuk melakukan apa yang harus kau lakukan." Jawab Yoochun. Tangannya memegangi lengan kanan Yunho sedangkan Seunghyun memegang lengan kirinya. Changmin yang bertugas mendorong badan kekar Yunho dari belakang.

"Ya! Mwo haneungeoya?! Lepaskan aku! Kalian kekanakan sekali!" omel Yunho yang hanya dianggap angin lalu oleh ketiga namja tampan itu. Alhasil mereka menjadi pusat perhatian seluruh pegawai perusahaan Yunho. Ada yang melihat mereka geli dan sebagian lagi melihat mereka aneh.

Di tempat lain, seorang namja imut meneguk minumannya dengan rakus. "Aish.. Junho sialan!" umpatnya kesal.

"Jaejoong hyung? Hyung mau kemana?" tanya Junsu ketika melihat Jaejoong memakai pakaian rapi dan kunci mobil yang diputar-putar dengan telunjuk tangan kanannya. Jaejoong menoleh kearah Junsu, "Aku ingin bertemu dengan temanku. Katakan pada eomma." Jawabnya kemudian melanjutkan lagi jalannya. Namun kemudian langkahnya kembali berhenti karena tangan Junsu menahannya.

"Apa hyung ingin bertemu dengan teman-teman wanita hyung lagi?" tanya Junsu dengan tatapan menyelidik.

"Ne. Waeyo?" Jaejoong menepis pelan tangan Junsu hendak melanjutkan lagi langkahnya. Tapi lagi-lagi Junsu menahan.

"Boleh aku ikut?" pinta Junsu dengan puppy eyesnya yang membuat Jaejoong memalingkan wajahnya.

"Ani."

"Aish, jebal, hyung. Aku bosan dirumah."

"Terserah kau saja. Tapi jangan merengek mengajak pulang padaku." Junsu melompat kegirangan di tempatnya mendengar jawaban Jaejoong.

"Kajja, hyung." Jaejoong beranjak dari duduknya kemudian berjalan keluar diikuti Junsu dibelakangnya. Baru saja dia membuka pintu, dia dikejutkan dengan kedatangan Yunho dan ketiga sahabatnya.

"Yunho hyung... waeyo?" tanya Junsu heran, matanya menelisik penampilan Yunho dari atas sampai bawah. Pasalnya keadaan Yunho sekarang bisa dikatakan jauh dari kata baik-baik saja. Rambut acak-acakan dengan pakaian yang tidak kalah berantakannya. Belum lagi Yoochun dan Seunghyun yang mencengkram erat kedua lengannya serta Changmin yang mengawal di belakang. Sungguh mereka terlihat seperti tiga polisi –Changmin, Yoochun, Seunghyun- yang membawa pencuri –Yunho- kedepan kepala polisi –Jaejoong dan Junsu- untuk dimasukkan kedalam tahanan –Rumah Jaesu-.

"A-aniya... hahaha.." jawab Yunho canggung. Tangannya bergerak merapikan penampilannya dengan cepat setelah dilepaskan oleh Yoochun dan Seunghyun.

"Kalian mau kemana?" tanya Yoochun.

"Aku ingin ikut Jae hyung, Chunnie." Jawab Junsu.

"Annyeong." Kening Jaejoong makin mengernyit melihat kedatangan Jiyoung dan Kyuhyun yang tiba-tiba.

"Jiyoungie, Kyuhyunie... kalian disini juga?" pertanyaan ceria Junsu hanya dibalas anggukan oleh yang ditanya.

"Mau apa kalian kesini? Kalian pikir disini tempat reuni, eoh?" sinis Jaejoong.

"Aish... kami memang sering berkumpul disini, Hyung." Jawab Jiyoung.

"Terserah kalian saja. Tapi lebih baik kalian pulang karena disini tidak ada orang." Usir Jaejoong.

"Hyung, bagaimana kalau kita tidak keluar hari ini? Bukankah lebih baik kita bermain disini?" pinta Junsu.

Jaejoong melirik sinis kearah Junsu, "Kenapa tidak kau saja yang diam disini?"

"Tapi mereka juga ingin bertemu dengan hyung bukan hanya denganku."

"Apa itu juga termasuk namja beruang ini?" Jaejoong menunjuk kearah Yunho yang masih sibuk merapikan penampilannya.

"Ne." Jawab Junsu.

"Aku tetap pergi." Jaejoong melenggang pergi menghiraukan panggilan Junsu yang memintanya untuk tidak pergi.

Jaejoong memasukkan kunci dan memutarnya. Menginjak pedal gas dan melajukan mobilnya. Tetapi, belum sampai dia di gerbang rumahnya, dia merasakan hal aneh pada mobil kesayangannya. Jaejoong menghentikan laju mobilnya dan keluar untuk memeriksa apa yang terjadi.

"Shit!" umpatnya sambil menendang ban belakangnya yang entah kenapa bisa kempes.

"Wae?" tanya Yunho yang datang menghampiri Jaejoong.

"Aniyo!" jawab Jaejoong acuh tapi bibirnya masih maju merutuki kebodohan ban mobilnya.

"Banmu kempes? Mau kuantar ketempat tujuanmu?" tawar Yunho yang hanya dibalas lirikan tajam dari Jaejoong.

"Ani." Jaejoong mengeluarkan ponsel dari saku bajunya. "Shit. Ponsel brengsek!" umpatnya melihat ponsel ditangannya hanya menampilkan layar hitam tanpa adanya tanda-tanda kehidupan.

"Aku akan mengantarmu. Aku tidak menerima penolakan."

"Mwo?! Kau pikir kau siapa bisa mengaturku seperti itu? Kalau kau pikir aku akan menurutimu, kau bermimpi, Jung brengsek!"

"Aku tidak peduli. Yang pasti aku tidak suka menerima penolakan baik darimu maupun dari orang lain."

"Kenapa kau ingin sekali mengantarku?" sinis Jaejoong pelan tapi masih bisa didengar oleh Yunho.

"Karena aku tidak suka kau mengumpat dengan kata-kata kasar seperti itu."

"Cih, kau tetap brengsek ternyata." Sinis Jaejoong yang membuat Yunho menghela nafas.

"Ya! Mwo haneungeoya?!" teriak Jaejoong melihat tingkah Yunho yang tiba-tiba menarik tangannya kuat, "Ya! Lepaskan aku, Jung pabo!"

"Aish, Shikkeuro! Bukankah sudah kukatakan aku akan mengantarmu?!"

"Bagaimana dengan temanmu? Kau tidak bisa meninggalkan mereka, bukan?" Jaejoong masih berusaha mengelak dari bantuan Yunho. Dia mengernyitkan kening melihat Yunho yang menatapnya dengan tatapan datar.

"Mereka bukan hanya temanku, tapi temanmu juga. Kalau kau bisa meninggalkan mereka, kenapa aku tidak? Kupikir mereka juga akan memintaku mengantarmu. Dan lagipula aku kesini untuk menemuimu." Jawab Yunho dingin.

"Cih, katakan saja kau ingin menemui Ahra noona, tetapi karena dia tidak ada, kau mencari alasan lain dengan mengatakan ingn menemuiku."

"Kenapa aku harus begitu? Kalau aku ingin menemui Ahra noona, maka aku akan menemuinya. Sebaliknya, jika aku ingin menemuimu, maka aku hanya akan menemuimu."

"Aish... sudah kukatakan aku tidak perlu diantarkan olehmu. Aku bisa berangkat sendiri atau dijemput temanku! Lepaskan tanganmu dari tanganku, Jung!" Jaejoong masih belum menyerah untuk melepaskan cekalan tangan Yunho yang tidak pernah bisa dilepaskannya.

"Aish, kau tetap berisik, Kim. Masuk!" perintah Yunho.

"Kenapa kau jadi memerintahku, brengsek?!"

"Sudah kukatakan aku tidak suka kau mengumpat! Kenapa kau tetap mengumpat?!" bentak Yunho yang berhasil membuat Jaejoong tersentak.

"Kenapa kau membentakku, eoh? Jangan hanya karena kau calon kakak iparku, kau bisa dengan seenaknya membentakku!" marah Jaejoong yang membuat Yunho mengernyitkan keningnya heran.

"Calon kakak iparmu? Sejak kapan aku menjadi calon kakak iparmu?"

"MWO?! Kau bahkan tidak mengakui Ahra noona sekarang. kau benar-benar brengsek!"

"Berhentilah mengumpat atau kucium kau!" ancam Yunho yang kemudian segera menutup mulutnya karena sembarangan mengatakan hal yang akan mengorek kenangan lamanya dengan Jaejoong. Yunho tahu Jaejoong pasti mengingat kejadian menyakitkan baginya dulu. Terbukti dari badannya yang menegang.

"Jae..."

"Bukankah kau ingin mengantarku? Antarkan aku sekarang." tutur Jaejoong dingin yang langsung diangguki oleh Yunho.

Suasana hening mendominasi Yunho dan Jaejoong. Sesekali Yunho melirik Jaejoong yang lebih memilih melihat keadaan diluar. Yunho merutuki dirinya dalam hati. Jika saja tadi mulutya tidak sembarangan berucap, pasti dia dan Jaejoong masih beradu mulut hingga sekarang.

"Hmmm.. Jae." Yunho mencoba membuka pertanyaan. Dia berharap bisa membuka percakapan dengan Jaejoong.

"Berhenti bicara dan fokuslah pada kegiatanmu, Yunho-ssi." Tanggap Jaejoong dingin yang membuat Yunho menghea nafas.

"Siapa gadis yang kau bawa kemarin?" tanya Yunho tidak peduli dengan jawab ketus Jaejoong.

Author PoV End

Yunho PoV

Aish... mulut bodoh! Kenapa kau mengatakan hal seperti itu? Kalau saja kau bisa menahan diri, aku pasti masih bicara dengan –lumayan- leluasa dengan Jaejoong. Aku melirik Jaejoong yang lebih memilih melihat keluar daripada meihhat wajah tampanku. Aku tersenyum melihatnya. Tiga tahun di London membuatnya semakin indah. Dan tiga tahun tidak bertemu dengannya membuatku sadar kalau aku memang sangat mencintainya. Aku bersumpah hanya dia orang yang akan kutunggu di altar nanti.

Aku kembali meliriknya. Mau tidak mau aku kembali mengingat kejadian kemarin dimana dia mengajak wanita kerumahnya dan mereka melakukan hal yang... yah kalian tahu sendiri. Aku tidak mau menceritakannya kembali karena aku tidak sanggup. Kalau saja aku bisa mengulang waktu, aku tidak akan melakukan hal itu. Kalau saja bisa, aku akan mengulang waktu dan memilih memperjuangkan Jaejoong. Tapi semua itu hanya seandainya. Sekarang aku tidak bisa mundur lagi, yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berjalan maju dan berusaha mengambil kembali hati Jaejoong.

"Hmmm.. Jae." Aku mencoba membuka pertanyaan. Sedikit kulirik Jaejoong. Entah perasaanku atau aku memang meliha dia sedikit tersentak. Apa dia melamun? Siapa yang dia lamunkan? Apa aku? Atau jangan-jangan gadis murahan itu?

"Berhenti bicara dan fokuslah pada kegiatanmu, Yunho-ssi." Tanggap Jaejoong dingin. Aku menghela nafas lega karena setidaknya dia mau menanggapi pertanyaanku meskipun dengan nada ketus.

"Siapa gadis yang kau bawa kemarin?" tanyaku tidak menghiraukan nada ketus Jaejoong.

"Bukankah sudah kukatakan untuk diam?"

"Aku akan diam kalau kau menjawab."

"Dia hanya wanita yang kusewa. Wae?" aku menatapnya tidak percaya. Apa dia benar-benar Jaejoongku yang manis?

"Kau menyewa gadis... murahan?" tanyaku memastikan. Kuharap tadi aku hanya salah mendengar.

"Ne. Wae?" jawabnya datar. Apa dia benar-benar Jaejoong? Aku benar-benar tidak percaya ini.

"Wae?" tanyaku. Nafasku tercekat di tenggorokan. Membayangkan Jaejoong tidur dengan orang lain membuatku sakit. Membayangkan orang lain melihat dan menyentuh tubuh Jaejoong-Ku membuatku ingin membunuh siapapun yang melakukan itu. Aku mengepalkan tanganku erat. Dan jawaban Jaejoong membuatku menyesal menanyakan pertanyaan itu.

"Karena aku hanya menuruti perintah seseorang yang dulu menyuruhku untuk menjadi normal agar bisa kembali untuk menemuinya."

Aku mengepalkan tanganku makin erat. Apakah sebegitu berefekkah kata-kataku waktu itu? Apa dia benar-benar melakukan apa yang aku suruh? Bisakah aku menarik kata-kataku dulu?

Aku berbelok kearah kanan berdasarkan petunjuk yang diberikan Jaejoong dan berhenti didepan tempat karaoke yang lumayan bebas. Aku menahan tangan Jaejoong yang ingin keluar dari mobil.

"Wae?" tanyanya. Aku terdiam. Lidahku terasa kelu untuk digerakkan. Bahkan rasanya susah bagiku untuk bernafas dengan lancar kali ini.

"Lupakan kata-kataku itu. Anggap saja aku tidak pernah mengatakan itu." aku menatap matanya. Dapat kulihat lagi sorot kekecewaan yang mendalam dimata indah yang selalu kupuji itu.

"Bukankah ini terlalu terlambat?" tanyanya sinis.

"Mian."

Dapat kudengar Jaejoong mendengus kesal, " Kalau kau menahanku hanya untuk mengatakan hal tidak penting seperti ini lebih baik kau lepaskan aku. Aku benar-benra tidak punya waktu untuk ini."

Aku mengeratkan peganganku begitu dia menyentak tangannya. Aku kembali menatap matanya. Kami bertatapan selama beberapa detik sampai dia memalingkan wajahnya kearah lain.

"Lepaskan aku, Yunho ssi!"

Apa aku harus mengatakannya sekarang? Tapi bagaimana kalau aku ditolak? Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan.

"Aku disini bukan untuk melihatmu diam, tuan Jung! Lepaskan aku dan biarkan aku menemui teman-temanku!"

"Saranghae!" ungkapku akhirnya. Bisa kulihat gerakannya yang hendak membuka pintu mobil terhenti. "Saranghae, BooJae. Nado saranghae. Itu jawabanku untuk pernyataanmu tiga tahun lalu. Maaf atas sikap dan kata-kataku dulu. Aku hanya tidak ingin kau terluka. Aku tidak ingin kau menjadi gunjingan masyarakat banyak. Jika hanya aku yang dianggap buruk aku tidak apa-apa. Tapi aku tidak bisa jika itu kau. Karena aku tahu itu akan membuatmu sedih."

Sudah, aku memilih mengungkapkan semuanya. Lega. Itu yang kurasakan. Perasaan yang kusimpan akhirnya terungkap. Sekarang aku hanya perlu menunggu jawabannya.

"Lalu apa kau mengira aku tidak sakit dengan apa yang kau lakukan padaku dulu? Kau pikir aku tidak sedih? Kau pikir aku tertawa bahagia di London sana? Aku menangis, Jung Yunho! Aku bahkan tidak bisa tersenyum. Aku menghabiskan waktu memikirkanmu. Membayangkan kau yang bahagia dengan Ahra noona. Berusaha merelakanmu dengannya didepan orang tuaku. Mengatakan usulku mengenai konsep pernikahan kalian dengan nada ceria kepada mereka tanpa mereka tahu kalau aku menangis saat itu. Dan kau tahu, konssep itu sebenarnya adalah konsep yang kuinginkan ketika aku menikah denganmu. Katakan aku tidak tahu malu saat mengatakan konsep itu yang ada dibayanganku bukan kau dan Ahra noona melainkan kau dan aku. Kau tahu betapa sakitnya itu?" aku tersentak melihat Jaejoong yang meneteskan air mata.

"Jae..." aku ingin mengusap air mata di pipi mulusnya, tapi Jaejoong menepis tanganku sebelum menyentuhnya.

"Diam! Kau hanya perlu diam dan dengarkan aku. Aku bahkan bisa tersenyum bahagia dengan membayangkan kau yang mengenakan tuksedo hitam menungguku di altar. Kau tahu, hanya itu yang ada dibayanganku setiap hari bersama dengan semua yang sudah kulaui bersamamu. Aku hampir gila disana. Aku hampir gila karenamu, Jung!" suara Jaejoong meninggi di bagian akhir seolah memberiku tekanan yang makin menyesakkanku.

"Mianhae, Jae. Aku menyesal melakukan itu. Aku menyesal tidak bisa bersikap tegas padaku sendiri." Jawabku.

"Tapi itu dulu." Aku mengangkat kepalaku terkejut mendengar ucapannya.

"Jae.."

"Ne, itu dulu." Dia mengusap air matanya kasar, "Itu dulu. Sekarang aku bukan lagi Jaejoong yang dulu. Sekarang aku bukan Jaejoong yang mencintai Jung Yunho. Aku Jaejoong yang normal. Seperti yang kau inginkan."

"Sudah kukatakan lupakan kata-kataku dulu! Aku tidak bermaksud mengatakan itu semua." Jawabku cepat. Aku tidak ingin ini semua berlanjut.

"Ani. Aku sudah berubah. Maafkan aku, tapi jangan sia-siakan perjuanganku, Jung Yunho ssi. Menikahlah dengan kakakku secepatnya. Kalau tidak salah ingat kalian berencana menikah tahun ini, kan? Chukkae."

"Aku tidak akan menikah dengan kakakmu."

"Mwo.?"

"Pernikahan kami batal. Tepatnya Ahra membatalkan pernikahan kami." Kulihat Jaeoong tersentak.

"Permainan macam apa yang kalian mainkan, eoh?" sinisnya.

"Ini bukan permainan, Jae. Aku mencintaimu. Harus kukatakan berapa kali?!"

"Tapi aku tidak. Sudah kukatakan aku sudah menjadi Jaejoong yang normal. Mianhae mungkin kau harus mengatur ulang jadwal pernikahanmu."

"Jae,..."

"Satu lagi. Jadilah normal, Jung Yunho! Bukankah gay itu menjijikkan?" sinisnya sebelum keluar dari mobilku. Aku termenung. Perlahan air mata yang tadi menggantung menetes dari ujung mataku.

Apa sebegitu besarnya kesalahanku di masa lalu? Apa benar-benar kesalahanku tidak bisa dimaafkan? Apa kata-kataku begitu kuat tertancap di kepala Jaejoong? Apa penyesalanku selama tiga tahun ini masih belum cukup? Tuhan, apa yang harus kulakukan.

Aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi Yoochun. "Yoochun ah.."

"..."

"Apa aku harus menyerah?"

"..."

"Ne."

"..."

"Wae?"

"..."

"Aku sudah mengatakannya, tapi dia menolak."

"..." aku mendengarkan saran Yoochun baik-baik. Beberapa kali Seunghyun dan Changmin menambahkan

"Apa harus begitu?"

"..."

"Arasseo. Gomawo." pik..

Aku kembali terdiam. Bersaha mencerna kata-kata Yoochun dan memilih mana pilihan yang terbaik untuk ini semua. Meninggalkan Jaejoong? Aniya. Itu terlalu menyeramkan. Aku belum siap mati muda. Memperjuangkan Jaejoong? Apa aku siap ditolak? Tapi...

"...percayalah padaku. Jaejoong hyung masih mencintaimu, hyung. Dia begitu mudah jatuh padamu dulu. Lakukanlah lagi. Jerat dia. Buat dia jatuh lagi padamu. Kali ini usahakan lebih dalam. Terserah padamu bagaimana caranya, yang pasti satu permintaan kami padamu. Jangan lepaskan Jaejoong hyung dan cepat kembalikan dia menjadi seperti dulu atau Junsu, Jiyoung, dan Kyuhyun akan membunuhmu. Kurasa aku, Changmin, dan Seunghyun juga akan melakukan itu. Jadi, berusahalah, hyung. Kami mendukung apapun yang akan kau lakukan selama itu baik untukmu dan Jae hyung."

Aku tersenyum. Menyeringai lebih tepatnya. Yoochun benar. Aku akan memperjuangkanmu, gajah cantik. Nae Boo. Kim Jaejoong. Aku akan mendapatkamu apapun caranya. Akan kubuat kau jatuh lagi kepadaku. Kali ini lebih dalam. Kupastikan itu.

Jung Yunho PoV End

Author PoV

Yunho turun dari mobil dan masuk kedalam mencari Jaejoong.

"Aish, kemana gajah nakal itu?" bisiknya. Tidak ingin terlihat bodoh, dia menghampiri resepsionis untuk mennyakan ruangan yang digunakan Jaejoong dan teman-temannya.

"Ruangan atas nama Kim Jaejoong." Ujarnya kepada resepsionis yeoja yang menatapnya kagum sejak pertama kali dia memasuki gedung karaoke itu. "Kenapa kau diam?"

"Ne?" resepsionis itu mengedip-ngedipkan matanya tidak imut. Dia bingung dengan pertanyaan Yunho. Sikap yeoja itu berhasil membuat Yunho menatapnya tajam.

"Sudah berapa tahun kau menjadi resepionis, eoh?! Dimana ruangan yang digunakan Jaejoong?!"

"Ne. Tunggu sebentar, tuan." Resepsionis itu membuka buku pengunjung. Membolak-baliknya beberapa kali. Tapi dia tidak bisa menemukan ruangan yang dipesan atas nama Kim Jaejoong. "Maaf, tuan. Tapi tidak ada ruangan yang dipesan atas nama Kim Jaejoong."

"Mwo? Periksa sekali lagi."

"Sudah, tuan. Tapi memang tidak ada."

"Aish, kemarikan buku itu!" Yunho merebut buku yang dipegang resepsionis itu tapi yeoja itu berusaha untuk merebutnya kembali.

"Tidak bisa, tuan. Ini milik perusahaan, anda tidak bisa sembarangan membacanya."

Yunho mendengus kemudian menaiknya dengan sekali hentak, "Aku Jung Yunho. Aku bahkan bisa membeli tempat kecil ini." Ungkapnya angkuh.

Mendengar nama Jung disebut, resepsionis itu tersentak kemudian membungkukkan kepalanya dalam, "Jeoseonghamnida, Tuan Jung."

Yunho melemparkan kembali buku itu kemudian melenggang pergi menuju ruangan yang diduganya adalah ruangan yang digunakan Jaejoong. Ruangan nomer 0205. Dia mengetuk pintunya pelan.

"Ne, chakkaman."

Cklek..

Yunho bisa melihat seorang yeoja mungil membukakan pintu untuknya. Dia melongok kedalam dan menemukan Jaejoong yang duduk membelakanginya. Dia menyeringai

"Ada apa, tuan?"

"Boleh aku masuk? Aku teman Jaejoong." Yunho bisa melihat Jaejoong sedikit menegang mendengar suara Yunho.

"Oh, tentu saja. Silahkan." Yunho sedikit tersenyum kemudian melenggang masuk dan mendudukkan dirinya disamping Jaejoong.

"Ya! Mo haneungeoya?!" sinisnya.

"Ani." Yunho mengernyitkan keningnya melihat Jaejoong yang bangkit dan menghampiri yeoja yang tadi membukakan pintu untuknya.

"Chagi-ya.." Yunho memalingkan wajahnya melihat Jaejoong yang mencium pipi yeoja itu.

'Apa aku harus melihat itu lagi?' batinnya menahan perih, 'Apa aku harus menyesal mengikuti Jaejoong kesini?'

Yunho memberanikan diri melirik kearah Jaejoong dan yeoja sialan itu. Tapi dia kembali harus menahan geram melihat tangan Jaejoong tengah meraba paha yeoja itu sedangkan tangan yeoja itu sendiri bermain-main di dada terbuka Jaejoong. Yunho mengepalkan tangannya. Baru saja dia hendak berdiri untuk menghalangi Jaejoong mencium yeoja itu, sosok namja yang muncul dibelakang pasangan itu melakukannya terlebih dulu. Namja itu menahan kepala Jaejoong dan menggantikan peran Jaejoong mencium yeoja didepannya..

'Ige mwoya?' tanya batin Yunho.

"Cukup sampai disitu, Jae. Aku tidak akan mengijinkanmu mencium kekasihku." Ujar namja itu. Yunho mengerucutkan bibirnya kesal.

Yunho diam. Dia masih mencerna ucapan namja itu. Setelah semuanya berhasil terproses, dia melengkungkan bibirnya dan keluarah tawa dari bibir hatinya. Tawa Yunho berhasil membuat kerucutan bibir Jaejoong makin maju.

"Hyung, kau membuatku malu!" bentak Jaejoong yang hanya dibalas kedikan bahu oleh namja yang dipanggilnya hyung itu.

"Jadi tadi itu hanya sandiwara, Jae?" tanya Yunho yang hanya dibalas lirikan tajam dari Jaejoong.

"Berhenti. Tertawa. Jung!" bentak Jaejoong penuh penekanan dan berhasil membuat tawa Yunho makin keras.

"Kau lucu sekali, boo." Ejek Yunho.

"Bagian mana yang lucu?"

"Kau berpura-pura menjadi normal hanya untuk menghindariku, kan? Jujurlah padaku kalau kau ternyata masih mencintaiku." Yunho menghentikan tawanya dan menatap Jaejoong tajam. Sedangkan yang ditatap mengalihkan perhatiannya ketempat lain. Namja dan yeoja teman Jaejoong tadi sudah pergi kebagian lain ruangan ini.

"Mwo?! Kenapa percaya dirimu tinggi sekali, Jung?! Aku benar-benar normal tidak seperti kau!"

"Berhentilah berbohong dan jujurlah pada dirimu sendiri!" bentak Yunho.

"Aku sudah sangat jujur sejauh ini."

"Kau tahu, Jae? Gay memang menjijikkan, tapi orang yang berpura-pura normal untuk menutupi ke-gay-annya, jauh lebih menjijikkan!" ujar Yunho dingin. Jaejoong menoleh kearah Yunho dan mengepalkan tangannya.

"Neo!" baru saja Jaejoong hendak memukul Yunho, suara pintu yang terjeblak terbuka membuatnya berpaling. Keningnya mengernyit melihat siapa yang datang. Sedangkan Yunho menatap siapa yang datang dengan tatapan tertajamnya.

'Untuk apa yeoja murahan itu kesini? Dasar pengganggu!' umpat batinnya kesal.

"Jihye-ssi? Untuk apa kau kesini?" tanya Jaejoong dingin. Pertanyaan Jaejoong membuat Yunho sedikit tenang karena itu berarti Jaejoong benar-benar tidak mempunyai hubungan apapun dengan yeoja itu.

Yeoja itu berjalan perlahan menuju Jaejoong. Kepalanya tertunduk dan tangannya meremas ujung baju kekurangan bahan miliknya, "Oppa..." bisiknya lemah.

"Wae?" tanya Jaejoong dingin. Dia sedikit melangkah mundur begitu yeoja itu melangkah lebih dekat dengannya. Melihat itu, Yunho sedikit tersenyum. Menyeringai lebih tepatnya.

"Kuharap oppa tidak marah." Bisik yeoja itu lagi sepelan angin. Meskipun begitu, Jaejoong dan Yunho masih bisa mendenarnya.

"Kalau kau terus bertele-tele seperti ini, aku tidak tahu apakah aku harus marah padamu atau tidak, Wang Jihye-ssi." Tanggap Jaejoong dingin. Dia mulai kesal dengan yeoja yang pernah disewanya itu.

Yeoja itu diam kemudian menghela nafas dan mengangkat kepalanya menatap Jaejoong, "A-a-aku hamil..." kalimat yang keluar dari mulut yeoja itu seolah menjadi akhir dunia bagi Yunho dan Jaejoong.

"M-mwo?! Ta-tapi..."

Yeoja itu perlahan mendekat dan berbisik di telinga Jaejoong, "Malam itu. Pertama kali kita bertemu. Kau mabuk dan akupun begitu."

"A-aku tidak ingat." Bisik Jaejoong gugup.

"Tentu saja. Kau pergi setelah melakukannya padaku."

Yeoja itu menjauh dari telinga Jaejoong. Dia juga menjauh dari Jaejoong karena melihat gerak-gerik Jaejoong yang risih berdekatan dengannya. Dia bisa melihat wajah pucat Jaejoong. Matanya melirik kearah namja tampan yang duduk di sofa. Namja itu duduk dengan tatapan kosong kedepan. 'Ada apa ini?' tanyanya dalam hati.

"Apa yang kau inginkan? Apa kau butuh uang? Berapa yang kau butuhkan?" pertanyaan Jaejoong membuat yeoja itu kembali mengalihkan perhatiannya pada Jaejoong.n Yeoja itu menunduk. Tanpa disadari Jaejoong, dia menyeringai.

"A-aku tidak butuh uangmu, oppa. Aku hanya ingin kau bertanggung jawab. Nikahi aku, oppa." Yeoja itu menatap Jaejoong dengan tatapan menantang.

Jaejoong tersentak begitu pula Yunho. Jaejoong melirik kearah Yunho dan menemukan Yunho yang menatapnya dengan tatapan memohon. Dia juga bisa melihat Yunho yang menggelengkan kepalanya kecil memberi isyarat agar dia menolak. Mereka terus bertatapan sampai Jaejoong mengalihkan wajahnya.

"A-aku..." bola mata Jaejoong bergerak kesegala arah.

Aniya. Kau harus menolaknya, Boo...

"Aku..."

Kau tidak boleh menerimanya, Boo...

"Jihye-ssi, aku..."

Kau tidak boleh, karena...

"Aku..." jaejoong memejamkan matanya.

Jika kau menerimanya, maka aku tidak tahu lagi apa alasanku untuk hidup...

"Aku akan bertanggung jawab..."

Jawaban Jaejoong seolah menjadi pisau tak kasat mata yang berhasil mencabik hati Yunho dalam sekali ayunan.

"Aku akan menikahimu."

Sudah selesai... kesempatanku hilang...

Dua orang yang melihat kejadian itu menatap tidak percaya kearah Jaejoong. Mereka tidak menyangka Jaejoong akan menerima yeoja itu.

'Kau.. apa yang kau lakukan, Kim Jaejoong?' tanya batin seorang dari mereka.

.

.

.

.

.

TBC

Annyeong...

Ada yang kangen sama gue yang somplak ini? Mian lama update. Gue sibuk kuliah. Minggu depan gue UAS. Ini aja nyempet-nyempetin ngetik sembunyi-sembunyi dari bokap. Bokap maksa belajar mulu soalnya... T-T

Gimana chap ini? Aneh kah? Absurd kah? Atau kedua-duanya? Apa disini Appa udah cukup kesiksa? Gue ngga bakat nyiksa Appa. Tapi kalo nyiksa eomma... kekeke...

Makasih buat yang udah review chap kemaren. Makasih juga udah penasaran. Mian ngga bisa bales review kalian, seenggaknya ngga sekarang. tapi tetep gue baca ko... terus review FF abal ini, ya?! Review kalian semangat untukku..

Maaf mengecewakan...

At kast but no least...

Mind to RnR..?

Annyeong...