Mianhae, Nado Saranghae
Author : KeiLee
Main Pair : Yunjae (Jung Yunho x Kim Jaejoong)
Other Pair : Yoosu, Changkyu, TOPGD, little bit SiBum.
Other Cast : Jung Ahra, Choi Siwon, Choi (Kim) Kibum, dan lainnya akan ditemukan seiring berjalannya cerita.
Genre : Romance, Drama (banget) sinetron Indonesia yang paling drama sampe episodenya ribuan dan berseason-season aja kalah.
Rate : T-M. Gue mulai sedikit terkontaminasi. Tapi Cuma dikit doang. Totally, gue masih polos ko..
Warning : YAOI. BxB. Little STRAIGHT. Typo (s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit layaknya YJS di dunia, DLDR. Lebih sinetron dari sinetron yang paling sinetron (?). Tidak menerima Kritik dengan bahasa yang kasar, paling menerima kripik singkong atau kripik kentang. Biasakan RnR. Kalo bisa baca dulu yang Noona, I Love Him biar lebih nyambung. Judul menipu. Isi berantakan dan maksa banget. Jalan cerita membingungkan dan berantakan sesuai sama idup gue T-T. Menimbulkan resiko mual dan nafsu makan menurun, jadi bagi yang diet dianjurkan membaca #apadeh
Okelah, seperti biasa. Gue cool make banget jadi ngga banyak bacot.
So, Check It Out..
.
.
.
.
.
Previous Story
Yeoja itu diam kemudian menghela nafas dan mengangkat kepalanya menatap Jaejoong, "A-a-aku hamil..." kalimat yang keluar dari mulut yeoja itu seolah menjadi akhir dunia bagi Yunho dan Jaejoong.
"M-mwo?! Ta-tapi..."
Yeoja itu perlahan mendekat dan berbisik di telinga Jaejoong, "Malam itu. Pertama kali kita bertemu. Kau mabuk dan akupun begitu."
"A-aku tidak ingat." Bisik Jaejoong gugup.
"Tentu saja. Kau pergi setelah melakukannya padaku."
Yeoja itu menjauh dari telinga Jaejoong. Dia juga menjauh dari Jaejoong karena melihat gerak-gerik Jaejoong yang risih berdekatan dengannya. Dia bisa melihat wajah pucat Jaejoong. Matanya melirik kearah namja tampan yang duduk di sofa. Namja itu duduk dengan tatapan kosong kedepan. 'Ada apa ini?' tanyanya dalam hati.
"Apa yang kau inginkan? Apa kau butuh uang? Berapa yang kau butuhkan?" pertanyaan Jaejoong membuat yeoja itu kembali mengalihkan perhatiannya pada Jaejoong.n Yeoja itu menunduk. Tanpa disadari Jaejoong, dia menyeringai.
"A-aku tidak butuh uangmu, oppa. Aku hanya ingin kau bertanggung jawab. Nikahi aku, oppa." Yeoja itu menatap Jaejoong dengan tatapan menantang.
Jaejoong tersentak begitu pula Yunho. Jaejoong melirik kearah Yunho dan menemukan Yunho yang menatapnya dengan tatapan memohon. Dia juga bisa melihat Yunho yang menggelengkan kepalanya kecil memberi isyarat agar dia menolak. Mereka terus bertatapan sampai Jaejoong mengalihkan wajahnya.
"A-aku..." bola mata Jaejoong bergerak kesegala arah.
Aniya. Kau harus menolaknya, Boo...
"Aku..."
Kau tidak boleh menerimanya, Boo...
"Jihye-ssi, aku..."
Kau tidak boleh, karena...
"Aku..." jaejoong memejamkan matanya.
Jika kau menerimanya, maka aku tidak tahu lagi apa alasanku untuk hidup...
"Aku akan bertanggung jawab..."
Jawaban Jaejoong seolah menjadi pisau tak kasat mata yang berhasil mencabik hati Yunho dalam sekali ayunan.
"Aku akan menikahimu."
Sudah selesai... kesempatanku hilang...
Dua orang yang melihat kejadian itu menatap tidak percaya kearah Jaejoong. Mereka tidak menyangka Jaejoong akan menerima yeoja itu.
'Kau.. apa yang kau lakukan, Kim Jaejoong?' tanya batin seorang dari mereka.
~ Start Story ~
Author PoV
Yunho melangkah gontai menuju kediamannnya. Tatapannya kosong. Butler yang ada dirumahnya hanya menatap bingung kearahnya yang tidak seperti biasa. Dengan penuh keberanian, salah satu butler mendekat kearah Yunho.
"Tuan ingin makan malam atau mandi terlebih dahulu?" tanyanya dengan kepala tertunduk.
Yunho hanya menghentikan langkahnya tetapi matanya tetap memandang kosong kedepan. Pikirannya melayang ke kejadian yang baru saja terjadi. Kejadian yang benar-benar merubah rencana masa depannya. Kali ini matanya memperhatikan sekeliling rumahnya. Dia menampilkan senyum miris.
'Sekarang semuanya sia-sia.' Pikirnya.
"... an. Tuan Yunho." Yunho menoleh kearah butlernya yang menyentuh lengannya.
"Wae?" tanyanya.
"Anda ingin makan atau mandi lebih dulu?"
"Aku tidak ingin makan." Jawabnya kemudian melangkah menuju lantai dua. Tepatnya kearah kamarnya.
"Saya akan menyiapkan airnya, tuan." Salah satu pelayan senior disana baru hendak melangkah mengikuti Yunho sebelum akhirnnya berhenti karena isyarat dari Yunho.
"Aku bisa sendiri." Jawabnya kemudian melanjutkan langkahnya.
Yunho membaringkan badannya keatas ranjang begitu dia sampai dikamarnya. Matanya menatap kosong kearah dinding didepannya. Tepatnya kearah figura berukuran besar berisi foto seseorang yang telah membuatnya gila. Kim Jaejoong.
"Kau berhasil, Jae. Kau berhasil." Gumamnya sebelum matanya terpejam.
Author PoV End
Yunho PoV
Aku menatap tidak percaya kearah Jaejoong. Apa baru saja dia mengatakan akan bertanggung jawab? Apa dia baru saja mengatakan akan menikahi yeoja itu?
Jaejoong hanya menunduk setelah mengatakan itu. Mataku hanya terpaku kearahnya. Aku tidak peduli bagaimana reaksi yeoja sial*n itu mendengar jawaban Jaejoong. Kulihat Jaejoong mengangkat kepalanya dan membalas tatapanku dengan tatapan dinginnya. Aku benar-benar benci tatapan itu. Aku terus menatapnya berusaha mencari ekspresi apa yang benar-benar ditunjukkan oleh mata bulat favoritku itu.
"Apa kau serius, Jae?" tanya teman Jaejoong berhasil membuat Jaejoong mengalihkan perhatiannya dan membuatku gagal menyelami perasaannya.
Jaejoong diam sebentar sebelum mengangguk mengiyakan, "Ne, hyung." Tegasnya membuatku tertunduk.
"Oppa, gomawoyo." Jihye hendak memeluk Jaejoong tetapi Jaejoong menahan lengan Jihye. Yeoja itu mengerutkan keningnya melihat tingkah Jaejoong.
"Oppa, waeyo?"
"Pulanglah. Tidak baik bagi yeoja hamil sepertimu berkeliaran seperti ini." Ujar Jaejoong pelan.
"Ne, oppa. Annyeong, oppadeul." Jihye keluar dari ruangan itu tidak peduli tidak seorangpun disana menjawab salamnya.
Kami berempat hanya berdiam diri ditempat masing-masing. Tidak ada yang berinisiatif untuk menghilangkan suasana hening ini sampai Jaejoong bergerak mengambil ponselnya diatas meja.
"Aku pulang." Ujarnya. Aku hanya bisa melihtanya keluar. Aku sangat ingin mengejarnya, tapi kakiku tidak bisa kugerakkan.
"Kau mencintainya?" aku menoleh kearah yeoja yang tadi hampir saja dicium Jaejoong. Mengingat itu aku tidak bisa menyembunyikan tatapan sinisku untuknya.
"Jangan menatapku seperti itu, Yunho-ssi. Aku tidak akan merebut Jaejoong darimu." Yeoja itu terkekeh sebentar, "Jawab pertanyaanku, apa kau mencintai Jaejoong?" tanya yeoja itu lagi.
"Ne," jawabku sambil menganggukkan kepala. Aku bukan hanya mencintainya, tapi sangat mencintainya, batinku.
"Kalau begitu apa yang kau lakukan disini? Kejar dia dan halangi keputusan bodohnya itu." aku tersentak dan segera berlari menyusul Jaejoong begtiu mendengar perkataan namja yang tadi sudah menyelamatkan bibir Jaejoongieku.
"Gamsahamnida."ucapku sebelum benar-benar pergi.
"Shit!" umpatku karena tidak menemukan Jaejoong begitu aku sampai di tempat parkir. Sudah kuduga dia tidak akan mungkin menungguku untuk pulang bersama. Tidak ingin membuang waktu aku segera memasuki mobilku dan mengendarainya meninggalkan parkiran tempat karaoke. Aku memperhatikan trotoar jalan sambil mengemudi perlahan untuk mencari keberadaan malaikat yang dalam waktu dekat ini bisa menjadi malaikat mautku. Dan, yah aku menemukannya. Malaikatku. Sosoknya sangat mudah dikenali diantara lautan manusia yang berlalu lalang disana. Sosoknya yang indah akan selalu terlihat mencolok diantara semua manusia yang ada.
Segera kuhentikan mobilku di tempat parkir sebuah kafe dan berlari menyusulnya.
"Jae..!" aku menahan tangannya dan menariknya membuatnya berbalik. Aku kaget melihat wajahnya. Aku tahu wajah ceria dan lembut Jaejoong sudah menghilang digantikan dengan wajah datar yang aku tidak suka. Tapi demi Tuhan aku lebih memilih melihat wajah datarnya dibanding wajahnya yang saat ini. Setidaknya dengan ekspresi datar itu aku masih bisa melihat sedikit binar indah dimatanya, tapi sekarang mata itu kosong. Tidak ada binar cantik dimata itu.
"Jae, gwaenchanna?" tanyaku khawatir. Dia hanya diam tidak menjawab pertanyaanku. Bahkan dia tidak melihat kearahku sama sekali.
"Jae.."
"..."
"Boo..."
"..."
"Ya! Jung Jaejoong!"
"..."
"Aish.." kesal karena tidak mendapat respon apa-apa darinya, aku segera menarik tangannya menuju mobilku. Beda seperti tadi, kini dia hanya menuruti kemauanku tanpa ada berontakan apapun.
Kami hanya diam selama perjalanan. Sesekali aku melirik kearah Jaejoong yang memilih melihat pemandangan di luar.
"Eodisseo?" tanya Jaejoong. Kepalanya menoleh kearahku dan menunjukkan ekspresi bingungnya yang sudah lama tak kulihat. Aku tersenyum kearahnya.
"Ikut saja."
Kami kembali diam. Jaejoong kembali pada kegiatan awalnya.
"Sungai Han? Kenapa kau membawaku ke sungai Han?" tanyanya begitu aku menghentikan mobilku. "Ya! Jung Yunho!"
Jung Yunho PoV End
Author PoV
Yunho menghentikan mobilnya di pingggiran sungai Han. Matanya melirik kearah Jaejoong yang menunjukkan ekspresi bingung. Jaejoong menolehkan kepalanya kearah namja yang senak jidat Yoochun membawanya kesini.
"Sungai Han? Kenapa kau membawaku ke sungai Han?" bukannya menjawab pertanyaan Jaejoong, Yunho memilih turun dari mobil membuat Jaejoong geram, "Ya! Jung Yunho!" Jaejoong mengikuti Yunho turun dari mobil.
"Ya! Seharusnya kau mengantarku pulang!" teriak Jaejoong. Dia berdiri berkacak pinggang di depan Yunho yang duduk di atas rumput.
Yunho mendongak melihat wajah Jaejoong. Dan Yunho berhasil dibuatnya jatuh cinta lagi. Bagaimana tidak? Wajah Jaejoong yang indah dipadukan dengan latar belakang cahaya matahari senja merupakan perpaduan sempurna.
'Apa Tuhan baru saja kehilangan malaikatnya dan tidak menyadarinya? Kalau memang begitu, aku berharap Tuhan tidak akan pernah sadar sehingga tidak akan menariknya kembali ke surga. Ya Tuhan, kenapa kau menciptakan makhluk seindah ini?' Batin Yunho gila.
Jaejoong yang merasa ditatap begitu oleh Yunho mulai mengernyitkan keningnya. Tangannya meraba wajahnya, mungkin saja ada yang salah dengan wajahnya. Tangannya bahkan bergerak-gerak didepan wajah Yunho tapi tidak ada respon dari namja bermata musang itu.
"Ya! Jung Yunho! Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa kau ingin aku mencongkel matamu?" tanya Jaejoong sarkastis.
Mendengar bentakan merdu (?) dari depannya membuat Yunho tersadar dari acara melamunya. Dia menunjukkan senyumnya yang paling manis dan itu sukses membuatnya mendapatkan geplakan gratis dari Jaejoong.
"Jangan menunjukkan senyum idiotmu di depanku. Kau membuatku ingin muntah." Ujar Jaejoong dingin.
Bukannya mengeluh sakit, Yunho malah menatap tidak percaya pada Jaejoong. Perlahan bibir hatinya tertarik membentuk senyum tulus. Jaejoong yang melihat itu kembali mengernyitkan dahi tidak mengerti dengan kerja otak Yunho.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?" tanya Jaejoong. Yunho menggelengkan kepala dengan bibir tetap menyunggingkan senyum yang sama.
"Duduklah." Yunho menarik lengan kemeja Jaejoong membuat Jaejoong duduk disampingnya. Keduanya diam mengamati aliran sungai Han. Perlahan lampu-lampu jalan disekitar mereka mulai menyala menciptakan pemandangan yang romantis bagi setiap pasangan yang ada disana. Sayangnya, suasana romantis itu tidak dirasakan oleh Yunho dan Jaejoong.
"Kau seharusnya mengantarku pulang bukan mengajakku kesini dan melihat pasangan-pasangan yang sedang berkencan." Sinis Jaejoong memecah keheningan yang sempat melanda.
Yunho menoleh kemudian kembali melihat aliran sungai didepannya, "Memangnya kau ingin pulang kemana? Rumahmu disini." Yunho menoleh kearah Jaejoong. 'Ditempat dimana ada aku.' Tambah Yunho dalam hati.
Jaejoong mendengus kesal sebelum melancarkan serangan bertubi kearah Yunho, "Kau pikir aku ikan, eoh? Sialan! Brengs*k kau, Jung!"
Yunho tertawa sambil menangkis serangan Jaejoong. Dia senang karena Jaejoong mulai menunjukkan ekspresinya yang menggemaskan padanya. Bukan lagi ekspresi datar yang menyebalkan.
"Aish, Jae. Geumanhae! Appo!" teriak Yunho. Tangannya bergerak lebih cepat menangkap tangan Jaejoong. Keduanya bertatapan. Yunho menatap dalam kearah mata Jaejoong mencoba menyelami apa yang sebenarnya disimpan oleh namja cantik yang telah mencuri hatinya itu. Jaejoong sendiri terpaku pada tatapan mata musang Yunho yang tidak berubah. Tetap tajam dan mampu menjebak siapapun yang menatapnya.
"Jogiyo.." suara yang datang dari arah samping mereka berhasil membuat mereka mengalihkan pandangan kearah lain. Jaejoong menarik tangannya yang digenggam Yunho.
Yunho menatap tajam kearah yeoja yang menginterupsi kegiatan menyenangkan tadi, "Wae?" tanyanya dingin membuat yeoja yang sempat terpesona kepadanya tersentak dan meremas tangannya pertanda gugup.
"Aku hanya ingin mengambil bolaku yang tadi mengenai kekasihmu." Yunho mengikuti arah yang ditunjuk oleh yeoja itu dan menemukan bola sepak yang berada diantara dia dan Jaejoong.
'Sejak kapan bola itu ada disini?' batin Yunho. Matanya beralih kearah Jaejoong yang juga menatap bingung kearah bola itu. 'Chakkaman! Kalau tidak salah...'
"Kau bilang tadi bola itu mengenai siapa?" tanya Yunho. Matanya menatap semakin tajam kearah yeoja itu.
"Bola itu mengenai, yeo-yeojachingumu." Jawab gadis itu pelan karena gugup.
Meskipun Yunho sadar dia dan Jaejoong bukan sepasang kekasih, tapi dia cukup mengerti bahwa yang dimaksud yeojachingunya oleh yeoja itu adalah Jaejoong, "Mwo?! Siapa yang melempar?! Katakan padaku siapa yang melempar?!" Yunho mendekat kearah Jaejoong dan memeriksa badan Jaejoong.
"Na-namjachinguku."
"Panggil dia kesini! Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, kupastikan kau dan kekasihmu itu akan berada di penjara." Ancam Yunho geram.
"Sudahlah, Jung. Lagipula aku tidak merasakan sakit apapun." Jaejoong berusaha menenangkan Yunho yang emosi. Dia bahkan tanpa sadar mengelus tangan Yunho yang berada di pipi kanannya.
"Tidak bisa begitu, Boo. Setidaknya dia harus minta maaf padamu. Ya! Kenapa kau diam?! Cepat panggil namjachingumu kesini!" Intonasi suara Yunho yang awalnya lembut begitu bicara pada Jaejoong berubah menjadi tinggi ketika membentak yeoja itu.
Belum sempat yeoja itu memanggil, seorang namja dengan tinggi badan diatas rata-rata bahkan lebih tinggi dari Changmin datang menghampiri.
"Wae, Ye Seul-ah?" tanyanya. Yeoja yang dipanggil Ye Seul itu memeluk dan menarik namja tiang itu dan berbisik di telinganya. Mungkin dia menceritakan semua yang terjadi.
"Ah, mianhamnida. Aku benar-benar tidak sengaja mengenainya tadi." Namja tadi membungkuk kearah Yunho yang hanya dibalas dengusan oleh Yunho.
"Jangan meminta maaf padaku. Katakan padanya." Sentak Yunho yang dibalas senyuman oleh namja tadi.
"Mianhamnida, agasshi. Aku benar-benar tidak sengaja. Apa ada yang terluka?" tanya namja tiang itu.
"Ani. Nan gwaenchanna, dia hanya melebih-lebihkan. Dan lagi aku namja bukan yeoja." Jaejoong menjawab dengan wajah tanpa ekspresi miliknya.
"Ah, mianhamnida." Namja itu kembali membungkuk lebih dalam dari yang tadi. Sebenarnya ini juga bukan salahnya, salahkan saja wajah Jaejoong yang mengalahkan kecantikan wajah seorang yeoja.
"Jinjja? Kupikir anda seorang yeoja. Mungkin ini kurang ajar, tapi demi Tuhan anda cantik sekali. Bahkan aku yang seorang yeoja mengakui bahwa anda lebih cantik dari yeoja lain yang pernah kutemui." Girang Ye Seul. "Ah.. aku merasa gagal menjadi wanita." Tambahnya lirih. Mendengar itu Jaejoong hanya tersenyum terpaksa.
"Ini bolamu." Jaejoong mengulurkan bola sepak itu dan diterima oleh Ye Seul.
Pasangan itu baru saja melangkah pergi sebelum Yunho kembali memanggil mereka, "Siapa namamu? Kupikir itu penting jika suatu saat aku harus meminta pertanggung jawaban darimu."
Namja tiang itu tersenyum, "Kwangsoo. Lee Kwangsoo imnida." Ujarnya sebelum pergi.
"Kau tidak perlu seperti itu. Aku tidak apa-apa." Sinis Jaejoong yang hanya dibalas kedikan bahu oleh Yunho.
"Aku senang kau mulai menunjukkan ekspresimu padaku." Ujar Yunho sambil tersenyum. Dia tidak sadar bahwa perkataannya berhasil membuat Jaejoong menegang. "Aku berharap setelah ini hubungan kita lebih baik." Lama tidak ada tanggapan, Yunho menolehkan kepalanya kearah Jaejoong dan menemukan namja cantik itu memandang kosong kearah depan.
"Jae? Wae?" tanya Yunho. Bukannya menjawab, Jaejoong malah berpaling melihat Ye Seul dan Kwangsoo yang bermain sepak bola sambil tertawa bersama. Jaejoong tidak mengerti jalan pikiran pasangan itu yang memilih bermain sepak bola di malam hari. Kemudian dia tersentak dan menunjukkan tatapan kosong lagi sebelum menutup matanya.
"Jae, eodisseo?" tanya Yunho bingung karena Jaejoong yang tiba-tiba berdiri bukannya menjawab pertanyaannya.
"Antarkan aku pulang. Tidak seharusnya aku berada di tempat romantis seperti ini denganmu? Apa yang akan dikatakan orang nanti? Aku tidak ingin dicap gay. Seharusnya aku disini bersama Jihye. Calon istriku." Sinis Jaejoong sebelum berjalan meninggalkan Yunho yang mematung di tempatnya. Menahan hatinya agar tetap bertahan mendengar fakta itu.
Skip Time
"Mwo?!" Junsu berdiri dari duduknya dengan mulut menganga tidak percaya mendengar penuturan Jaejoong di tengah ketenangan sarapan keluarga mereka, "Hyung akan menikah?!"
Jaejoong mengangguk menjawab pertanyaan berlebihan dongsaengnya, "Ne."
Junsu tersenyum dan memekik tidak percaya, "Aku tidak menyangka akan secepat ini. Yunho hyung benar-benar hebat!"
Jaejoong mengernyit mendengar perkataan Junsu. Belum sempat dia menanyakan maksud Junsu, dia merasakan pundaknya disentuh Ahra yang duduk disebelahnya, "Wae?" tanyanya dingin. Keningnya berkerut makin dalam melihat Ahra yang memberikan senyum manis kepadanya.
"Aku senang kau mulai kembali membuka hatimu untuk Yunho. Aku tahu kau tidak pernah berhenti mencintainya. Aku minta maaf atas kejadian yang dulu, kuharap kau bisa bahagia."
Jaejoong menatap bingung kearah anggota keluarganya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Ahra maupun Junsu. Terutama dengan Ahra. Bagaimana yeoja itu merelakan calon suaminya seperti itu? bukankah sebentar lagi mereka menikah?
"Apa maksudmu? Bukankah namja Jung itu calon suamimu?" tanya Jaejoong.
Ahra tersenyum dan menepuk kepala Jaejoong pelan, "Aku sudah membatalkan pernikahan kami. Aku sadar tidak mungkin bagiku untuk menikah dengan namja yang tidak mencintaiku sama sekali. Kupikir Yunho sudah memberitahukannya padamu."
Jaejoong tersentak mendengar penuturan Ahra. 'Jadi yang dkatakan Yunho itu benar?' batinnya. Dia menatap kosong kedepan kemudian tersenyum miring.
"Sebenarnya permainan apa yang sedang kalian mainkan?" semua yang ada disana mengernyitkan dahi mendengar perkataan Jaejoong. "Katakan padaku apa yang sedang kalian mainkan?!"
"Kami tidak memainkan permainan apapun, Jae." Ujar Ahra meskipun sebenarnya dia tidak mengerti apa yang ditanyakan oleh Jaejoong.
"Geojitmal! Kalian benar-benar berbakat untuk mempermainkan orang lain." Sinis Jaejoong.
"Apa maksudmu, Joongie?" tanya Mrs. Kim.
"Pernikahan Yunho dan Ahra noona. Bagaimana bisa itu dibatalkan? Bagaimana bisa setelah semua yang terjadi?!" teriak Jaejoong.
"Jae, aku hanya tidak ingin memaksakan perasaanku. Aku tahu Yunho mencintaimu dan kau juga mencintainya. Aku ingin melepaskan Yunho agar dia bisa bersamamu. Aku merasa sangat bersalah pada kalian kalau aku sampai berhasil menikah dengan Yunho. Aku benar-benar ingin mengubur diriku sendiri melihat kau yang tidak bisa menerima Yunho lagi karenaku. Tapi sekarang aku senang karena kau dan dia..."
"Cukup! Kenapa baru sekarang? Kenapa baru sekarang kau merelakannya? Kalian tidak tahu apa yang sudah kualami untuk merelakan Yunho! Dan sekarang dengan mudah kalian mengatakan pernikahan itu batal! Kalian menyia-nyiakan usahaku!" Jaejoong berdiri dari duduknya dan melampiaskan emosinya.
"Jongie, eomma minta tidak tahu kalau kau sangat mencintai Yunho dan Yunho juga mencintaimu. Eomma..."
"Aku masih sangat ingat bagaimana aku menangis di depan eomma ketika mengatakan bahwa aku mencintai Yunho. Apa eomma lupa bagaimana eomma mengatakan kalau eomma tidak bisa merestui perasaanku itu. Apa eomma lupa?" tanya Jaejoong sinis memotong ucapan Mrs. Kim yang hanya bisa menunduk mendengarkan penuturan Jaejoong.
"Mianhae. Eomma benar-benar minta maaf untuk waktu itu. eomma benar-benar tidak tahu kalau akan begini jadinya. Bukankah kau juga sudah berbaikan dengan Yunho? Kali ini eomma merestuimu, Joongie. Sangat merestuimu dengan Yunho. Jadi bisakah... bisakah kita lupakan masa lalu? Bisakah kau kembali menjadi Jaejoong kami yang dulu?" pinta Mrs. Kim dengan suara sedikit bergetar.
Jaejoong membuang nafas kasar, "Jaejoong yang dulu? Maksud eomma apa? Bukankah aku masih tetap sama? Melupakan masa lalu? Masa lalu yang mana? Kalau itu berkaitan dengan Yunho, tanpa disuruh pun aku sudah melakukannya. Aku selesai." Jaejoong beranjak dari tempatnya tanpa mempedulikan ekspresi yang dikeluarkan oleh keluarganya.
"Jae.." gumam Mrs. Kim yang tanpa diduga berhasil membuat Jaejoong berhenti melangkah.
"Dan untuk sekedar informasi, aku tidak menikah dengan Yunho. Aku akan menikah dengan YEOJA. Nanti aku akan memperkenalkan dia pada kalian." Ujar Jaejoong dingin kemudian kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan keluarganya yang terdiam di tempatnya tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Apa lagi ini?" gumam Ahra sepelan angin hingga tidak seorangpun di meja makan itu yang mendengarnya. Dia benar-benar tidak menyangka akan begini jadinya. Dia benar-benar ingin Yunho dan Jaejoong bersatu setelah dia melepas Yunho, bukan begini. Jaejoong yang berubah dan memutuskan menikah dengan yeoja sama sekali bukan hal yang diinginkannya. Ini benar-benar jauh dari apa yang diharapkannya.
"Eomma tahu?" tanya Junsu dingin memecah keheningan yang melanda. Kepalanya tertunduk dan tangannya terkepal erat di atas meja. Mrs. Kim menoleh kearah Junsu dengan wajah penuh dengan penyesalan.
"Ne." Jawabnya lirih. Mr. Kim tersentak mendengar pengakuan dari istrinya itu. dia benar-benar tidak tahu tentang ini.
"Sejak kapan?" tanya Mr. Kim dengan tatapan menusuk kearah istrinya itu.
"Sehari sebelum keluarga Yunho datang membicarakan pernikahan Ahra. Hari yang sama dimana Joongie mengatakan rencananya untuk belajar di London." Jawab Mrs. Kim dengan kepala tertunduk. Tangannya yang berkeringat saling menggenggam erat.
Mr. Kim mendesah keras. "Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa padaku? Mengapa kau mengambil tindakan sendiri?" sentak Mr. Kim.
"Aku hanya tidak ingin uri Joongie menyimpang, yeobo. Aku sangat menyanyanginya. Aku tidak ingin dia menjadi gunjingan masyarakat." Bela Mrs. Kim.
"Jadi eomma lebih memilih Joongie hyung berubah menjadi seperti sekarang?" sinis Junsu. Matanya menatap dingin kearah sang eomma. Dia tahu itu tidak sopan tapi matanya tidak bisa diajak kompromi.
"Tidak. Eomma tidak ingin Joongie berubah seperti ini. Eomma tidak berpikir akan begini jadinya ketika eomma melarang perasaan Joongie. Ditambah lagi Joongie akan pergi jauh yang membuatnya tidak akan bertemu Yunho jadi eomma pikir perasaan seperti itu akan hilang seiring berjalannya waktu." Bela Mrs. Kim. Kepalanya masih tertunduk. Embun mulai memenuhi matanya mengingat kesalahannya di masa lalu yang menyebabkan ini terjadi.
"Perasaan seperti apa maksud eomma?" tanya Junsu dengan nada meremehkan. Untuk sekali ini saja dia tidak akan mempedulikan sopan santun pada eommanya. Dia kesal dan marah. Kalau seandainya saja eommanya tidak mengambil tindakan terburu-buru dan menceritakan padanya, mungkin ini semua tidak akan terjadi. Yunho dan Jaejoong akan bahagia sekarang. Keluarganya juga akan tetap ceria seperti dulu.
"Perasaan itu. Perasaannya pada sesama jenisnya." Jawab Mrs. Kim lirih.
"Apa bedanya perasaan antar sesama jenis dan antar lawan jenis?! Tidak ada perbedaan dari itu, eomma! Keduanya sama-sama cinta! Seharusnya eomma mengerti itu!" sentak Junsu.
"Tapi itu salah, Kim Junsu! Jangan menyalahkan eomma! Eomma hanya tidak ingin anak eomma menyimpang." Suara Mrs. Kim makin melirih dibagian akhir.
"Apa eomma akan melakukan hal yang sama kalau ternyata aku juga sama seperti Joongie hyung?" pertanyaan Junsu berhasil membuat Mr. Dan Mrs. Kim tersentak. Sedangkan Ahra yang memang sudah tahu semuanya hanya menatap tidak percaya kearah Junsu.
"Su-ie... kau.." gumam Ahra yang hanya dibalas anggukan oleh Junsu saat namja imut itu menoleh kearahnya.
"Apa maksudmu, Su-ie?" tanya Mr. Kim.
"Aku sama seperti Joongie hyung. Aku menyukai sesama jenis. Bahkan aku memiliki NAMJACHINGU sekarang!" jawab Junsu dengan penekanan pada kata namjachingu.
"Apa maksudmu, Kim Junsu?!" sentak Mrs. Kim.
"Ne, eomma. Aku memiliki namjachingu sekarang bukan yeojachingu. Wae? Eomma akan mengasingkanku juga? Eomma akan melarangku juga? Eomma ingin mengatakan bahwa perasaanku salah? Eomma akan memaksaku melupakan perasaanku sama seperti apa yang dilakukan eomma pada Joongie hyung dulu?!" kejar Junsu. Nafasnya menderu karena emosinya. Dia merasa kasihan pada Joongie hyungnya yang dipaksa melupakan perasaannya oleh eommanya sendiri.
"Junsu!" bentak sang nyonya rumah. Dia tidak tahan dipojokkan oleh anak bungsunya yang biasanya bertingkah kekanakan itu.
"Wae? Eomma akan menyuruhku melakukan itu juga? Kalau begitu maafkan aku, eomma. Aku tidak bisa. Aku mencintainya. Dan bagiku tidak ada yang salah selama aku mencintainya." Junsu membungkuk kerarah keluarganya sebelum berjalan keluar tidak menghiraukan teriakan Mrs. Kim yang memanggil namanya.
Mrs. Kim menyerah memanggil nama Junsu karena seberapa keras pun dia memanggil, anak bungsunya itu tidak menoleh ke belakang sama sekali. Mrs. Kim kembali mendudukkan dirinya dan menoleh kearah Mr. Kim yang sejak tadi terdiam dengan pandangan datar.
"Yeobo, kenapa kau hanya diam? Kenapa kau tidak menghalangi Junsu?" tanya Mrs. Kim. Dia memijit kepalanya.
"Kenapa aku harus menghalanginya jika kau yang menyebabkan dia keluar. Kau yang seharusnya berusaha untuk membawanya kembali." Mr Kim bersiap berdiri dari duduknya tapi tangannya ditahan oleh Mrs. Kim yang tidak terima dengan jawabannya.
"Apa maksudmu, yeobo? Kau menyalahkanku juga?"
"Aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya kecewa padamu. Kau seharusnya membicarakan semuanya padaku bukan membuat tindakan gegabah seperti itu. kau yang menyebakan ini semua maka kau yang harus menyelesaikan semuanya." Mr. Kim melepas cekalan Mrs. Kim perlahan kemudian melangkah pergi.
Mr. Kim menghentikan langkahnya, "Aku hanya tidak ingin keluarga ini makin dingin. Cukup satu anakku yang berubah dan cukup sekali aku merasakan menjadi ayah dan kepala keluarga yang tidak berguna. Aku tidak ingin mengalaminya dua kali, yeobo. Kuharap kau mengerti." Ujar Mr. Kim kemudian melanjutkan langkahnya.
Saat ini di meja makan hanya ada Ahra dan Mrs. Kim yang sama-sama terdiam. Ahra menundukkan kepalanya mendengar ucapan Mr. Kim yang sedikit menyinggungnya. Secara tidak langsung dialah yang menyebabkan Jaejoong berubah. Tidak. Dialah yang menyebabkan Jaejoong berubah. Dia yang telah merebut cinta yang Jaejoong miliki dan memaksa Jaejoong melupakan perasaannya sebelum Mrs. Kim melakukannya. Mungkin karena Jaejoong lebih menghormati Mrs. Kim dia memilih mengabulkan permintaan eommanya. Ahra mendongakkan kepalanya beitu mendengar namanya dipanggil oleh Mrs. Kim.
"Apa menurutmu apa yang eomma lakukan salah, Ahra-ya? Eomma hanya tidak ingin anak eomma menjadi gunjingan masyarakat." tanyanya lirih.
Ahra yang tidak tega dengan keadaan eommanya berjalan menghampiri dan duduk di kursi sebelah Mrs. Kim. "Eomma, terkadang kita juga harus mengalah pada cinta. Tindakan eomma bisa saja benar jika Jaejoong tidak benar-benar mencintai Yunho. Tapi tidak seperti itu eomma. Jaejoong sangat mencintai Yunho. Jelas tidak mudah baginya melupakan perasaannya. Bahkan mungkin sekarang Jaejoong masih mencintai Yunho tapi dia menyembunyikannya karena tidak ingin kembali sakit. Sebenarnya berubahnya Jaejoong bukan sepenuhnya salah eomma. Ini salahku. Aku yang merebut Yunho darinya. Bahkan meskipun aku tahu mereka saling mencintai, aku tetap memaksa." Ahra menatap Mrs. Kim dengan tatapan lembut, "Eomma, cukup aku saja yang melakukan kesalahan. Jangan buat Junsu juga berubah. Eomma tidak ingin merasakan dibenci anggota keluarga sendiri, kan?" Ahra meninggalkan Mrs. Kim setelah memeluk wanita yang sudah merawatnya tersebut.
Mrs. Kim meneteskan air matanya selepas Ahra pergi, 'Joongie.. mianhae. Maafkan eomma, nak. Maafkan eomma yang telah merebut kebahagiaanmu. Maafkan eomma.'
Junsu Side
"Apa kau yakin dengan keputusanmu ini, Su-ie?" tanya Yoochun pada namja imut yang sejak tadi hanya diam.
"Ne, Yoochun-ah. Aku hanya ingin Jae hyung sadar. Aku hanya ingin Jae hyung bahagia."
"Tapi bagaimana denganmu, Su-ie?"
"Eomma akan memintaku kembali dan aku yakin dia akan merestui kita. Percayalah padaku." Jawab Junsu yakin.
"Baiklah kalau begitu. Tapi apa kau yakin Jaejoong.."
"Aku yakin, Chunnie. Aku tahu dia mendengar semuanya."
Skip Time
Seminggu kemudian, tepat seperti yang diperkirakan Junsu, Eommanya memintanya kembali dan memutuskan untuk menerima hubungannya dengan Yoochun. Bahkan mereka sudah membicarakan tentang tanggal pertunangan dengan orang tua Yoochun kemarin. Dan selama seminggu ini Jaejoong sama sekali tidak bicara dengan orang-orang di rumahnya. Hal itu membuat suasana rumah makin dingin.
"Ekhem.." semua yang ada di meja makan serentak menoleh kearah sumber suara meninggalkan perhatian mereka dari makan malam. Mereka semua. Pasalnya Kim Jaejoong baru saja berdehem seolah memancing perhatian mereka semua.
"Wae, Joongie?" tanya Mr. Kim tidak melepaskan kesempatan untuk mendengar suara manis anak tercantiknya.
"Besok kuharap kalian tetap tinggal dirumah. Aku akan membawa calon istriku kesini." Ucapnya sebelum beriri dan meninggalkan meja makan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.
Mrs. Kim yang mendengar itu hanya bisa menggenggam erat sendok dan garpu ditangannya. Dia tidak menyangka akan secepat ini.
"Ini salahku." Gumamnya.
Junsu yang ada disebelahnya menepuk punggung eommanya, "Eomma tenang saja. Ini baru perkenalan. Masih banyak waktu sebelu pernikahan mereka."
Skip Time (Again)
Keesokan harinya, sarapan keluarga Kim lebih hening dari biasanya. Tatapan tajam dan menilai tidak henti-hentinya ditujukan pada anggota baru di pagi itu. Wang Jihye.
"Berhenti menatap calon istriku dengan tatapan seperti itu, eomma." Ucap Jaejoong tanpa melihat kearah eommanya. Dia masih tetap menyuapkan makanan kedalam bibir merahnya.
"Tidak apa-apa, oppa. Mungkin keluarga oppa ingin menilai penampilanku dulu. Benar, kan, eommonim, abonim?" tanya Jihye berusaha untuk mengakrabkan diri dengan calon keluarga barunya. Tapi pada akhirnya dia hanya bisa menelan kekecewaan karena tidak ada tanggapan sama sekali dari penghuni meja.
Selesai sarapan, mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Junsu dan Ahra sedari tadi sama sekali tidak melepas tatapan dingin dan tajamnya pada Jihye. Mrs. Kim hanya menunduk sejak tadi karena rasa bersalahnya sedangkan Mr. Kim hanya diam dengan tatapan datarnya.
"Ini Wang Jihye. Calon istriku." Ucapan dingin Jaejoong menjad pembuka pembicaraan yang lumayan serius ini.
"Kau yakin dengan pilihanmu?" tanya Mr. Kim yang dibalas anggukan malas oleh Jaejoong.
"Mana orang tuamu?" tanya Mr. Kim datar. Tatapannya itu membuat Jihye sedikit gugup.
"Aku tidak punya orang tua. Sejak kecil aku tinggal di panti asuhan." Jawab Jihye berusaha menekan kegugupannya.
"Panti asuhan? Sekarang dimana kau tinggal? Kau tidak mungkin tetap tinggal di panti asuhan di umurmu yang sekarang, kan?"
"Ne. Aku tinggal di apartement sekarang. Tidak mewah, tapi cukup baik untuk ditempati."
"Apa pendidikan terakhirmu?" tanya Mrs. Kim yang kali ini mulai berani mengangkat wajah setelah mendapat bisikan dari Junsu.
"Aku hanya lulusan dari Senior High School. Uang yang kudapat dari pekerjaanku tidak cukup untuk membiayaiku masuk perguruan tinggi." Jawab Jihye. Wajahnya tertunduk.
"Benarkah? Lalu apa pekerjaanmu?"
Wang Jihye mendongakkan keplanya dengan mata terbelalak mendengar pertanyaan dari Mrs. Kim. Dia bingung apa yang harus dia katakan. Dia tidak mungkin berkata jujur. Matanya melirik kearah Jaejoong yang juga melirik kearahnya.
"Katakan saja yang sujujurnya." Jihye tersentak mendengar ucapan Jaejoong. "Tidak apa-apa." Tambah Jaejoong begitu melihat keraguan di wajah Jihye.
"Aku bekerja di bar." Jawabnya lirih.
Hening.
Semua diam mendengar jawaban tidak terduga yang keluar dari bibir Jihye.
"Kau sadar apa yang sedang kau lakukan, Kim Jaejoong?" tanya Mr. Kim. Ini pertama kalinya dia berbicara dengan Jaejoong menggunakan nada dingin seperti yang baru saja dia lakukan.
"Ne, Appa." Jawab Jaejoong ringan meskipun sebenarnya dia merasakan gugup yang lebih daripada yang dirasakan Jihye.
Mr. Kim menghela nafas kemudian berdiri dari duduknya, "Apa tidak merestui hubunganmu." Mr. Kim melangkah pergi meninggalkan senyuman di bibir Ahra, Junsu dan Mrs. Kim.
Jaejoong yang melihat kepergian ayahnya hanya terdiam dengan tatapan kosong. Sama sekali tidak ada niat dalam hatinya untuk memaksakan kehendaknya kepada ayahnya. Dia tidak mengerti pada dirinya sendiri. Ada bagian dari dirinya yang mengatakan bahwa apa yang dilakukannya ini tidak benar padahal dia tahu –dari Jihye- bahwa gadis yang ada disampingnya itu sedang mengandung anaknya.
"Oppa, ige eotteohke?" Jaejoong menoleh begitu merasakan tarikan di lengannya dan mendapat pertanyaan itu dari mulut Jihye membuatnya sadar apa yang seharusnya dia lakukan.
"Tapi dia sedang hamil, Appa!" teriak Jaejoong yang berhasil membuat langkah Mr. Kim berhenti.
"Apa maksudmu, Joongie?" tanya Ahra.
"Dia hamil."
"Apa kau yakin dia hamil anakmu, hyung? Apa kau sudah memeriksanya?" tuntut Junsu. Dia tidak percaya hyungnya bisa melakukan hal rendahan seperti itu. Dia memang pernah melihat pasangan di depannya ini bercumbu, tapi itu hanya sebatas berciuman panas. Dia tidak menyangka kalau mereka berdua juga akan melakukan hal itu.
"A..."
Plak!
"Joongie / Hyung / Oppa!" teriak empat orang yang ada disana melihat bagaimana Jaejoong yang jatuh terduduk begitu tangan Mr. Kim mendarat di pipinya.
"A-apa yang Appa lakukan?" tanya Ahra. Ini pertama kalinya kepala keluarga Kim itu melakukan kekerasan fisik terutama pada Jaejoong, anak kesayangannya.
"Appa tidak percaya kalau kau akan melakukan ini. Appa tidak pernah mendidikmu menjadi seperti ini, Kim! Lebih baik appa melihatmu menikah dengan pria daripada mendengar kabar kalau kau menghamili anak orang!" Mr. Kim diam. Sebenarnya dia juga tidak menyangka bisa melakukan ini pada Jaejoong, tapi dia benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kecewanya, "Appa kecewa padamu."
"A-appa." Panggil Jaejoong.
"Sekarang lakukan apapun sesukamu. Appa tidak peduli lagi!" setelah mengucapkan kata menyakitkan itu, Mr. Kim langsung pergi dan tidak menoleh kebelakang lagi.
"Lebih baik kau antar yeoja itu pulang, Jae." Suruh Mrs. Kim sebelum pergi menyusul Mr. Kim diikuti oleh Ahra dan Junsu.
"Hyung..." lirih Junsu sebelum benar-benar pergi.
Jaejoong diam di tempatnya dengan kepala tertunduk, tangannya memegang pipi yang tadi ditampar oleh Mr. Kim.
"Oppa, gwaenchanna?" tanya Jihye yang khawatir dengan keadaan Jaejoong.
Jaejoong mengangguk, "Kajja, aku akan mengantarmu." Ucapnya dingin.
Jihye diam-diam mengamati Jaejoong selama dalam perjalanan menuju apartementnya hingga dia tidak menyadari bahwa dia sudah sampai di depan apartementnya.
"Turunlah, kita sudah sampai!" suruh Jaejoong, "Jangan mengatakan apa-apa!" Jihye menutup mulutnya lagi mendengar ucapan Jaejoong mengurungkan niatnya untuk mengucapkan maaf karena insiden tadi juga disebabkan olehnya..
"Gomawo, Oppa." Ucapnya yang hanya dibalas anggukan oleh Jaejoong.
Jaejoong baru saja akan menjalankan mobilnya ketika seseorang masuk kedalam mobilnya dan duduk di tempat Jihye tadi. Mata bulatnya membelalak melihat siapa yang telah lancang masuk mobil tanpa seijinnya.
"Mwo haenungeoya?!" bentaknya. Orang itu hanya diam menatap lurrus kedepan dengan tatapan yang tidak bisa ditebak artinya.
"Ya! Turun dari mobilku sekarang!" bentak Jaejoong lagi. Lagi-lagi orang itu hanya diam tidak menanggapi. Bahkan dia tidak menoleh kearah Jaejoong sama sekali.
"Ya! Jung Yunho! Kubilang turun!"
Hening...
"Ya!"
"Bisakah kau tidak berteriak?!" bentak orang itu yang ternyata adalah Yunho membuat Jaejoong terdiam.
"Apa maumu?" tanya Jaejoong datar setelah keheningan yang cukup lama terjadi diantara mereka.
"Jawab pertanyaanku, Jung!"
"Kau benar-benar akan menikah dengan yeoja itu?" tanya Yunho masih dengan tatapan lurus kedepan.
"Menurutmu?" sinis Jaejoong. Bibir cantiknya menyunggingkan senyum miring yang benar-benar tidak cocok untuknya.
"Jangan. Kumohon jangan." Lirih Yunho. Kali ini kepalanya sedikit menunduk.
Jaejoong menoleh sebentar sebeum kembali menghadap depan, "Wae? Kenapa kau melarang? Kau pikir kau siapa?"
"Jebal. Berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku dulu."
Jaejoong mendengus kemudian turun dari mobilnya. Hal itu tentu saja diikuti oleh Yunho. Dia berjalan mendekat kearah Jaejoong dan berdiri di depannya.
"Jebal, Boo. Beri aku kesempatan dan aku akan menebus semuanya." Pinta Yunho lagi.
"Apa aku terlihat seperti orang yang dengan mudahnya mengatakan 'Oke, aku akan memberimu kesempatan' kepada orang yang sudah menyakitiku? Apa aku terlihat begitu mudah dimatamu? Apa kau sebegitu rendahannya untuk meminta kesempatan kedua kepada orang yang sudah kau sakiti? Aku tidak ingin memberikan orang brengs*k sepertimu kesempatan oleh karena itu aku membuat diriku menikah secepatnya. Jangan mengangguku lagi! Jalani hidupmu seperti sebelum kau mengenalku! Rasakan rasa sakit yang kualami saat kau dengan mulut brengs*kmu itu mengatakan aku menjijikkan!" Jaejoong segera memasuki mobilnya setelah mengeluarkan semua yang ingin dikatakannya kepada Yunho. "Dan satu lagi, kuharap kau datang ke pertunanganku minggu depan. Berbanggalah karena kau adalah orang pertama yang kuundang ke hari BAHAGIAKU!" tambah Jaejoong dengan penekanan pada kata bahagia kemudian menutup jendelanya dan pergi meninggalkan Yunho yang hanya bisa mematung di tempatnya.
"Jadi sejak awal aku memang tidak memiliki kesempatan?" gumam Yunho. Bibir hatinya menyunggingkan senyum yang terlihat miris, "Aku menyedihkan sekali. Apa ini yang kau rasakan saat itu, Boo? Ah, kurasa kau merasakan lebih dari ini, bahkan ini bukan apa-apa." Setetes air mata jatuh dari mata musang itu disusul oleh tetes-tetes selanjutnya.
Perlahan Yunho berjalan menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari sana meninggalkan tempat terpahit selama hidupnya itu.
'Apa aku benar-benar harus merelakanmu, Boo?' batinnya, 'Mianhae. Saranghae. Nan jinjja mianhae...'
.
.
.
.
.
.
END
Bagus ngga kalo di END sekarang?
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC aja deh
Eotteohke? mian lama update soalnya lagi bulan Ramadhan, tobat dulu bentar. Meskipun ngga da rate M-nya sama sekali sih..
Okelah hanya ini yang bisa saya persembahkan? Mengecewakan? Sangat. Berbelit-belit? Banget. Ngga jelas? Iya pake banget. Belakangan ini gue lagi diserang sama Kriting block. Udah ada niat buat ngetik, eh.. ngga ada ide. Udah ada ide, eh.. males ngetik. Udah semangat ngetik, ide udah ada, eh... malah tergoda nonton anime, MV, atau RM. Frustasi gue. Mana ada 3 FF yang jadi tanggungan, stress gue, gue stress.
BTW, ada yang suka nonton RM, ngga? Gue lagi jatuh cinta sama RM nih. Ada yang punya rekomendasi episode RM yang keren? Kalo ada PM, ne?! Gamsahamnida, #bow
Makasih buat :
Kim Jae Eun ; hyukieraa; whirlwind27 ; shipper89 ; shanzec ; dheaniyuu ; Momo ziel ; minami Kz ; azahra88 ; YunjaeLovers1 ; Kezia ; My Jeje ; Renals ; indy ; Bestin84 ; ccsyaoran01 ; danactebh ; Florendaflorenda ; beruanggajah ; ; Kitahara Saki ; Lee Ha Jae ; nrlchoi ; Saryeong ; Vic89 ; HikariChan93 ; Endah1146 ; Mandakyumin ; guest1 ; jema agassi ; guest137 ; foreverOTP ; de ; kk ; yunacho90 ; KjLiey ; YunjaeLovers2 ; indy ; guest2 ; guest3.
Mian ngga bisa bales semuanya, tapi tetep gue baca, ko. Keep review, ne? Makin banyak review, makin cepet update... makin dikit review, FF ini END beneran disini. Gamsahamnida.
At last..
Mind to RnR?
Annyeong...
