Mianhae, Nado Saranghae
Author : KeiLee
Main Pair : Yunjae (Jung Yunho x Kim Jaejoong)
Other Pair : Yoosu, Changkyu, TOPGD, little bit SiBum.
Other Cast : Go Ahra, Choi Siwon, Choi (Kim) Kibum, dan lainnya akan ditemukan seiring berjalannya cerita.
Genre : Romance, Drama (banget) sinetron Indonesia yang paling drama sampe episodenya ribuan dan berseason-season aja kalah.
Rate : T-M. Gue mulai sedikit terkontaminasi. Tapi Cuma dikit doang. Totally, gue masih polos ko..
Warning : YAOI. BxB. Little STRAIGHT. Typo (s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit layaknya YJS di dunia, DLDR. Lebih sinetron dari sinetron yang paling sinetron (?). Tidak menerima Kritik dengan bahasa yang kasar, paling menerima kripik singkong atau kripik kentang. Biasakan RnR. Kalo bisa baca dulu yang Noona, I Love Him biar lebih nyambung. Judul menipu. Isi berantakan dan maksa banget. Jalan cerita membingungkan dan berantakan sesuai sama idup gue T-T. Menimbulkan resiko mual dan nafsu makan menurun, jadi bagi yang diet dianjurkan membaca #apadeh
Okelah, seperti biasa. Gue cool make banget jadi ngga banyak bacot.
So, Check It Out..
Previous Story
"Jebal. Berikan aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku dulu."
Jaejoong mendengus kemudian turun dari mobilnya. Hal itu tentu saja diikuti oleh Yunho. Dia berjalan mendekat kearah Jaejoong dan berdri di depannya.
"Jebal, Boo. Beri aku kesempatan dan aku akan menebus semuanya." Pinta Yunho lagi.
"Apa aku terlihat seperti orang yang dengan mudahnya mengatakan 'Oke, aku akan memberimu kesempatan' kepada orang yang sudah menyakitiku? Apa aku terlihat begitu mudah dimatamu? Apa kau sebegitu rendahannya untuk meminta kesempatan kedua kepada orang yang sudah kau sakiti? Aku tidak ingin memberikan orang brengs*k sepertimu kesempatan oleh karena itu aku membuat diriku menikah secepatnya. Jangan mengangguku lagi! Jalani hidupmu seperti sebelum kau mengenalku! Rasakan rasa sakit yang kualami saat kau dengan mulut brengs*kmu itu mengatakan aku menjijikkan!" Jaejoong segera memasuki mobilnya setelah mengeluarkan semua yang ingin dikatakannya kepada Yunho. "Dan satu lagi, kuharap kau datang ke pertunanganku minggu depan. Berbanggalah karena kau adalah orang pertama yang kuundang ke hari BAHAGIAKU!" tambah Jaejoong dengan penekanan pada kata bahagia kemudian menutup jendelanya dan pergi meninggalkan Yunho yang hanya bisa mematung di tempatnya.
"Jadi sejak awal aku memang tidak memiliki kesempatan?" gumam Yunho. Bibir hatinya menyunggingkan senyum yang terlihat miris, "Aku menyedihkan sekali. Apa ini yang kau rasakan saat itu, Boo? Ah, kurasa kau merasakan lebih dari ini, bahkan ini bukan apa-apa." Setetes air mata jatuh dari mata musang itu disusul oleh tetes-tetes selanjutnya.
Perlahan Yunho berjalan menuju mobilnya yang diparkir tidak jauh dari sana meninggalkan tempat terpahit selama hidupnya itu.
'Apa aku benar-benar haru merelakanmu, Boo?' batinnya, 'Mianhae.'
.
.
Start Story
.
.
Suasana di rumah keluarga Kim makin memburuk semenjak Jaejoong mengenalkan calon istrinya. Mr. Kim yang enggan berbicara dengan Jaejoong dan Mrs. Kim. Jaejoong sendiri bukannya tidak ingin memperbaiki hubungannya dengan Sang appa. Tapi, dia sudah lelah meyakinkan appanya yang nantinya hanya akan dibalas dengan tatapan datar dari Sang pebguasa rumahnya itu.
Saat ini Jaejoong sedang duduk bersantai di tepi kolam renang ketika Junsu datang menghampirinya dengan wajah tertunduk. Sebenarnya dia merasa sedikit iba melihat dongsaengnya itu. Junsu selalu terlihat ceria sebelum dia bertemu dengan Yunho. Lebih tepatnya sebelum dia jatuh cinta pada namja musang itu.
'Sudah kuduga. Jatuh cinta padanya hanya akan membawa banyak keburukan dalam hidupku dan orang di sekitarku.' Batinnya sinis.
"Jae Hyung..." Jaejoong menoleh kearah Junsu ketika mendengar namanya dipanggil.
"Hm..." gumam Jaejoong memberi isyarat pada Junsu bahwa dia mendengarkan.
"A-apa hyung yakin dengan keputusanmu?" tanyanya.
Jaejoong diam sebentar sebelum menjawab pertanyaan Junsu, "Apapun yang terjadi, bukankah aku harus yakin?"
"Pikirkanlah lagi, hyung. Jangan sampai kau menyesal nanti." Saran Junsu, "Appa tidak merestuimu dengan yeoja itu, hyung." Tambahnya.
Jaejoong menghea nafas panjang, "Aku sedang tidak ingin membahas ini, Junsu." Jaejoong berdiri dan beranjak dari sana.
"Kau yakin kau tidak akan menyesal, hyung? Bagaimana jika ternyata dengan ini kau akan kehilangan sesuatu yang berharga?" pancing Junsu. Dia benar-benar ingin Jaejoong melihat ke dasar hatinya. Apa yang ada disana. Atau lebih tepatnya siapa yang sampai sekarang masih menempati tempat itu.
Jaejoong berhenti tanpa menoleh kearah Junsu dia berkata, "Aku tidak akan menyesal. Kau tahu, Junsu? Penyesalan terbesarku adalah jatuh pada pesona Jung Brengs*k itu!"
Junsu hanya menatap sendu punggung Jaejoong yang melangkah menjauhinya.
"Aku tidak yakin itu benar, hyung. Dan aku tahu kau juga tidak yakin dengan kata-katamu barusan, kan? Aku tahu Yunho hyung masih ada di dalam hatimu." Gumam Junsu yang hanya bisa di dengar oleh angin.
"Chunnie, apa yang harus kulakukan? Aku tidak ingin terus seperti ini.." gumamnya lagi dengan suara yang lebih lirih.
...
Yoochun, Seunghyun, dan Changmin menatap iba pada sahabat mereka yang kini terfokus pada tumpukan dokumen di depannya. Selalu begini. Yunho akan menenggelamkan dirinya dalam pekerjaan ketika dia mendapat masalah. Dia akan melupakan hal lain dan hanya pekerjaan yang ada di otaknya.
"Yunho hyung. Sudahlah, lebih baik kau beristirahat. Ini sudah lewat jam makan siang dan kau masih berkutat dengan dokumen sialan itu?!:" sentak Changmin. Dia benar-benar ingin menarik hyung tertuanya itu keluar tapi kedua hyungnya yang lain menahan.
"Hyung, lebih baik kau makan dulu. Kalau aku tidak salah, kau sudah melewatkan makanmu sejak kemarin. Lambungmu bisa bermasalah jika kau begini." Kali ini Yoochun yang berusaha membujuk Yunho yang lagi-lagi tidak ditanggapi oleh san namja musang.
"Hyung! Menyakiti dirimu sendiri seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah! Semua yang kau lakukan ini tidak akan membuat Jaejoong kembali padamu!" Yunho menggenggam erat bolpoint ditangannya mendengar penuturan Seunghyun.
Baru saja dia hendak membalas perkataan sahabatnya itu, pintu ruangannya menjeblak terbuka menampilkan sosok mungil dari seorang namja cantik yang membuat Seunghyun tersenyum tampan begitu melihatnya.
"Jiyoungie. Apa yang kau lakukan disini?" tanya Seunghyun. Dia berdiri dan menghampiri namja yang dicintainya itu kemudian memeluknya sebentar. Dia tidak berani mencium naga mungilnya atau si manis itu tidak akan berbicara satu hari penuh padanya.
"Aku membawakan makanan untuk kalian. Aku tahu kalian belum makan." Ujarnya kemudian menyusun makanan yang dibawanya diatas meja. Changmin yang melihat banyak makanan di depannya sontak tersenyum lebar.
"Kalau sampai Kyuhyun melihat senyummu itu, dia pasti akan merobek mulutmu, Shim!" ejek Jiyoung pedas. Efek bermain dengan Kyuhyun membuatnya tertular virus tidak sopan pada Hyungdeulnya.
"My Kyunie tidak akan melakukan itu, Jiyoungie..." balas Changmin dengan nada Sing a Song yang membuat Jiyoung mual.
"Terserah." Jiyoung menoleh kearah Yunho yang masih serius dengan pekerjaannya, "Ya! Jung, kau tidak makan?" tanyanya.
"Ani. Aku tidak lapar." Jawab Yunho acuh. Matanya masih fokus pada kertas-kertas dokumen di depannya.
"Kapan kau makan?" sindir Jiyoung.
"Diamlah! Kau mengganggu konsentrasiku!" bentak Yunho kesal.
"Cih, terserah kau saja! Asal kau tidak merepotkanku ketika kau mati nanti." Yunho hanya mendengus kesal mendengar ucapan pedas Jiyoung.
"Wajah manismu tidak sesuai dengan mulutmu, Kwon!" ejeknya yang hanya dibalas lirikan tajam dari Jiyoung.
Seusai perdebatan antara Yunho dan Jiyoung, ruangan itu hanya terisi dengan suara denting sendok. Dua puluh lima menit kemudian, acara makan siang yang agak terlambat itu usai. Empat namja yang ada di ruangan Yunho itu masih tetap disana membicarakan banyak hal sambil sesekali tertawa ketika salah seorang melempar lelucon.
Yunho menghela nafas kasar melihat sahabatnya yang terus membuat keributan tanpa melihat kondisinya. Dia membanting pena yang ada ditangannya dengan kesal, "Bisakah kalian diam?! Apa kalian tidak melihat aku sedang bekerja?! Aku butuh konsentrasi!" bentaknya yang membuat keributan itu berhenti.
"Cih! Kau hanya perlu menandatangani kertas tidak berguna itu! jangan berlebihan, Babo!" ejek Jiyoung. Sepertinya Seunghyun harus berusaha lebih keras untuk menjauhkan naga manisnya dari namja utusan setan milik Changmin itu.
"Diam kau, Naga busung lapar!" balas Yunho tidak kalah kesal.
"Hyung! Jangan membentak Jiyoung!" sergah Seunghyun yang tidak suka cara Yunho menatap Jiyoung. Dia yakin kalau Jiyoung sekali lagi membentak Yunho maka Seunghyun tidak menjamin kekasihnya itu masih bisa keluar dengan selamat dari ruangan ini. Meskipun dia akan melindungi namja manis itu sekuat tenaganya.
Yunho menatap datar Seunghyun yang kemudian juga menuju Yoochun dan Changmin, "Lalu apa yang kalian lakukan disini? Yoochun-ah, Changmina, Seunghyun-ah, kalian seharusnya ada di kantor kalian masing-masing mengurusi pekerjaan kalian bukan merekcokiku disini!"
Changmin mengernyitkan dahinya tidak terima mendengar statement Yunho, "Arasseo! Kajja Hyung, Jiyoungie, kita lebih baik keluar dari ruangan yang penuh dengan aura suram ini!" ajak Changmin yang diikuti oleh tiga namja lainnya.
Seperginya empat namja itu, Yunho menghela nafas dalam kemudian menghempaskan kepalanya ke sandaran kursi dengan mata terpejam, "Joongie..." gumamnya sebelum jatuh tertidur dengan perut kosong.
...
Jaejoong baru saja keluar dari gedung tempat dia bekerja sebagai composer ketika seorang yeoja yang sangat dikenalnya menghadang jalannya. Dia menghela nafas dalam.
"Wae, Jihye-ah?" tanyanya malas.
"O-oppa, bisakah kita bicara sebentar?" tanya yeoja itu gugup. Jihye tidak berani melihat mata Jaejoong yang menatapnya dingin jadi dia hanya menunduk.
"Bicaralah!" perintah Jaejoong dingin.
"T-tidak dsini, oppa. Bisakah kita cari tempat yang lebih nyaman?"
Jaejoong melihat yeoja yang menundukkan kepala didepannya itu sebentar sebelum kemudian menarik tangan kurus itu memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh dari situ. Dia mengendarai mobilnya menuju kafe yang berada disekitar gedung.
"Apa yang ingin kau katakan?" tanya Jaejoong begitu mereka mendapat tempat duduk dan memesan makanan.
"O-oppa.. kapan kita akan menikah? Setidaknya bertunangan. Kau tentu bisa melihat. Perutku sudah semakin besar. Orang-orang disekitar apartemenku mulai melihat curiga kearah perutku. Aku tidak mau menjadi bahan ejekan, oppa." Jelas Jihye masih dengan kepala tertunduk.
"Aku masih belum bisa. Kau tahu sendiri appaku tidak merestui."
"Lalu aku harus bagaimana? Aku... aku... hiks.." Jaejoong menghela nafas mendengar isakan Jihye.
"Setelah ini kau ikut kerumahku. Kita coba meyakinkan appaku lagi." Ujar Jaejoong yang membuat Jihye tersenyum.
"Gomawoyo, Oppa." Lirihnya yang hanya dibalas gumaman dari Jaejoong.
Jihye memperhatikan Jaejoong yang kini memilih mengamati lalu lintas diluar kafe. Dia bukannya tidak tahu kalau Jaejoong tidak benar-benar ingin bertanggung jawab. Tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Ingatan Jihye kembali pada peristiwa di tempat karaoke kemarin. Dia mengingat satu namja tampan yang sempat ditatap lama oleh Jaejoong.
"O-oppa..." Jaejoong menoleh mendengar suara Jihye memanggilnya, "Boleh aku bertanya?" tambah Jihye begitu perhatian Jaejoong terarah padanya.
"Tanyakan saja!" jawab Jaejoong masih dengan nada yang sama. Dingin dan datar.
"S-siapa namja yang waktu itu bersamamu di tempat karaoke?" tanyanya gugup. Jihye makin menundukkan kepalanya melihat tatapan Jaejoong yang makin mendingin dibanding tadi.
"Dia hyungku."
"Bukan dia. Tapi yang satu lagi. Namja yang sempat bertatapan lama denganmu sebelum kau memutuskan untuk menikah denganku."
"Dia... bukan siapa-siapa. Kalau kau sudah selesai, kita bisa pergi sekarang!" Jaejoong melangkah pergi tanpa mendengar jawaban Jihye.
"Kurasa aku tahu tanpa harus bertanya padamu, oppa. Mianhae." Guammnya kemudian berdiri mengikuti Jaejoong yang sudah keluar dari kafe.
...
"Apa lagi yang akan kalian katakan?" tanya Mr. Jung dingin kepada pasangan di depannya.
"Appa, kumohon restui kami." Ujar Jaejoong berusaha tegas meskipun dadanya berdegup kencang.
"Kenapa aku harus?"
"Dia hamil, Appa." Jawab Jaejoong pasrah karena harus terus mengulang kalimat yang sama.
"Hanya itu?"
"Appa pasti tahu itu adalah aib baginya. Apa appa setega itu membiarkan wanita hidup dalam aib karena anak appa? Itu cucu Appa." Papar Jaejoong.
Hening. Tidak ada yang bersuara. Jaejoong hendak kembali bersuara sebelum Eommanya menginterupsinya dengan pertanyaan yang membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.
"Apa kau mencintainya?"
Diam. Semua yang ada disana menantikan apa yang akan keluar dari bibir Cherry Jaejoong.
"Dia hamil, Appa, Eomma. Tidakkah itu cukup menjadi alasan aku harus menikahinya?"
Mr. Kim berdiri dari duduknya begitu mendengar jawaban pasrah Jaejoong, "Lakukan apapun yang kau mau selama menurutmu itu yang terbaik." Ujarnya sebelum meninggalkan tempat itu.
Ahra, Junsu, dan Mrs. Kim yang mendengar jawaban Mr. Kim membuka mulut tidak percaya. Mrs. Kim dan Ahra menatap sendu kearah Jaejoong kemudian segera beranjak tanpa mengatakan sepatah apapun. Junsu yang menunduk mulai mengangkat kepalanya perlahan dan menatap Jaejoong dengan tatapan sendu.
"Kau puas sekarang, hyung? Kuharap kau tidak menangis nanti. Dan kuharap kau tidak mengalami apa yang Yunho hyung alami." Uajrnya sebelum beranjak meninggalkan Jaejoong yang menatap kosong kedepan dan Jihye yang memperlihatkan sorot mata sedih.
Jaejoong memejamkan matanya kemudian mengusap wajahnya kasar, "Jangan katakan apapun, Jihye-ah. Kajja, aku akan mengantarmu pulang." Jaejoong beranjak dari tempatnya tanpa menoleh kearah Jihye.
Jihye lagi-lagi hanya bisa menatap sendu punggung sempit Jaejoong, 'Oppa, nan jinjja mianhae.' Ucapnya dalam hati. Kepalanya menoleh kearah tangga dimana disana berdiri Junsu yang menatapnya benci. Dia menghindari tatapan Junsu kemudian beranjak dan mengikuti Jaejoong yang selamanya tidak akan pernah mau berjalan disampingnya.
...
"Hyung, waeyo?" tanya Jiyoung untuk yang kesekian kalianya. Tapi yang ditanya tetap pada keterdiamannya. Junsu tetap bungkam dengan tatapan lurus kedepan. Kini mereka –TOPGD, Yoosu, ChangKyu- berkumpul dirumah Jiyoung setelah Junsu menghubungi mereka.
"Su-ie, ada apa?" tanya Yoochun. Tangannya menggenggam erat tangan Junsu dan sedikit meremasnya untuk menyalurkan rasa nyaman pada kekasihnya itu.
Perlahan mata Junsu mulai berembun. Kepalanya menunduk seiring dengan air mata yang mulai mengalir perlahan dari pelupuk matanya. Yoochun yang melihat Junsu menangis segera memeluknya.
"Junsu, wae geurae?"
"Jae hyung..." gumamnya.
"Jae hyung, wae?" tanya Seunghyun.
"Dia akan bertunangan dengan yeoja itu." jawabnya lirih. Lima namja yang ada disana sedikit tersentak mendengar fakta itu.
"Bukankah Ahjusshi tidak mengijinkan? Apa mereka memaksa?" tanya Kyuhyun.
"Appa merestuinya. Yeoja itu hamil, mana mungkin appa tega membiarkan yeoja itu menyimpan aib sendirian." Junsu menghapus air matanya pelan. Dia tetap menangis meskipun tidak ada isakan yang terdengar.
"Seolma. Bagaimana dengan..." kalimat yang akan dilontarkan Changmin terhenti ketika terdengan suara benda terjatuh. Serentak mereka menoleh dan menemukan Yunho yang menjatuhkan kantung plastik berisi camilan.
"Yu-Yunho hyung..." panggil Changmin gugup, "Seak kapan kau ada disini?"
"Sejak Junsu muai menangis." Jawabnya dingin.
"Hy..."
"Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa. Kalian tenang saja." Setelah mengatakan itu Yunho segera berbalik keluar.
"Hyung, eodisseo?"Seunghyun berdiri.
"Kemanapun." Jawaba Yunho. Langkahnya terhenti. Tangannya terkepal marah tapi matanya menampilkan tatapan kosong.
"Aku ikut. Ani, kami ikut!" ujar Changmin yang kemudian berdiri diikuti yang lain kecuali para uke.
"Terserah." Yunho kembali melanjutkan langkahnya.
"Kami pergi dulu. Jika tidak ditemani, aku takut namja bodoh itu melakukan hal yang tidak-tidak." Pamit Yoochun yang diangguki para uke disana kecuali Junsu. Melihat itu, Yoochun mendekat kearah kekasihnya dan mencium pucuk kepalanya.
"Tenang saja. Aku akan membantumu. Jaejoong hyung dan Yunho hyung akan bahagia." Ucapnya sebelum pergi menyusul ketiga sahabatnya meninggalkan tiga namja yang kini menampilkan ekspresi yang sama. Muram.
"Joongie hyung..." gumam mereka bersamaan.
...
Semenjak Mr. Kim mulai merestui hubungan Jaejoong dan Jihye, Jaejoong mulai rajin membawa Jihye menuju ke kediamannya dengan tujuan mendekatkan Jihye dengan keluarganya. Seperti saat ini, Jihye sedang berada di dapur bersama dengan Mrs. Kim untuk menyiapkan makan malam. Jihye yang pada dasarnya tidak pernah memasak sendiri hanya bisa diam dan pasrah saat Mrs. Kim memakinya.
"Ya! Lakukan pekerjaanmu dengan benar! Memotong sayur saja kau tidak becus!" bentak Mrs. Kim untuk yang kesekian kalinya.
"Mi-mianhae, eommonim." Ujar Jihye lirih.
"Panggil aku Nyonya! Kau pikir kau siapa bisa memanggilku seperti itu!" Jihye menundukkan kepalanya dalam mendengar bentakan dari calon ibu mertuanya.
"N-ne."
"Cih! Panaskan air sekarang! Jangan katakan kau juga tidak bisa memasak air?!" suruh Mrs. Kim yang diakhiri dengan sindiran tajam.
"S-saya bisa, Nyonya." Jihye segera melakukan apa yang diperintahkan Mrs. Kim sebelum sindiran tajam kembali terdengar di telinganya.
"Syukurlah. Setidaknya ada satu hal yang tidak kau kacaukan!" Mrs. Kim melanjutkan kegiatan memotong daging menghiraukan Jihye yang menatapnya takut-takut.
Setelah sekian lama berkutat dengan urusan dapur, akhirnya makan malam siap. Kini semua anggota keluarga Kim ditambah Jihye duduk di meja makan. Jihye masih tetap menunduk karena Mrs. Kim terus menyindirnya.
"Aku tidak mengerti kenapa kau mau dengan yeoja ini?! Bagaimana dia bisa mengurusmu kalau memasak makanan sederhana saja tidak bisa!"
"Sudahlah, eomma. Jangan terus memojokkannya. Eomma membuatnya tidak nyaman." Bela Jaejoong yang mulai jengah dengan segala sindiran yang dilontarkan Mrs. Kim.
"Bagus kalau dia merasa tidak nyaman." Jawab Ahra yang makin membuat Jihye menunduk.
"Kenapa tidak sekalian saja hyung bawa yeoja itu pergi?! Mengganggu!" Junsu menatap sinis kearah Jihye yang menurutnya hanya bersikap polos untuk mendapatkan simpati Jaejoong.
"Sudahlah. Jangan bicara saat makan!" sentak Mr. Kim membuat Jaejoong mengurungkan niatnya yang hendak mengeluarkan kata-katanya untuk membela Jihye.
Suasana meja makan itu menjadi hening. Tetapi tatapan-tatapan sinis dari dua yeoja dan satu namja di meja makan itu terus tertuju kearah yeoja yang masih tetap menunduk tanpa menyentuh makanannya sama sekali.
...
Hari berlalu begitu cepat. Tanpa terasa dua hari lagi pesta pertunangan Jaejoong dan Jihye akan dilakukan. Tidak seperti pertunangan biasanya yang dipenuhi kebahagiaan dimana-mana, pesta pertunangan ini terlihat seperti tidak diinginkan oleh siapapun. Acara ini diadakan di kediaman keluarga Kim tapi tidak satupun anggota keluarga Kim yang keluar guna membantu persiapan acara. Sang Nyonya rumah dan kedua anaknya malah terlihat seperti tidak akan ada acara apapun dirumah mereka. Mereka bertiga tetap berkeliaran di rumah. Berbaring di sofa ruang tamu tanpa peduli tempat itu sudah dihias bunga-bunga. Berenang di kolam renang meskipun tempat itu selain berisi air juga dipenuhi balon-balon yang sengaja diletakkan disana. Bahkan Nyonya Kim dengan penuh kesadaran memangkas bunga di tamannya padahal bunga-bunga itu sudah dihias sedemikian rupa oleh sang calon menantu. Jihye. Ketika ditanya, sang Ratu rumah hanya menjawab dengan sinis, "Kupikir itu sampah karena mengganggu pemandangan!" Jihye hanya bisa diam dan menatanya kembali mendengar kata-kata pedas ibu calon tunangannya itu. Sedangkan sang penguasa rumah masih tetap pada kesibukan biasanya. Pergi ke kantor dan mengerjakan beberapa dokumen di ruang kerjanya.
Hari ini sepupu Jaejoong, Kim Hyun Joong datang berkunjung dengan alasan ingin melihat persiapan pertunangan Jaejoong dan Jihye.
"Ya! Hyunjoong hyung! Mwo haneungeoya?!" teriak si cantik Kim ketika melihat anjing milik sepupu evilnya merosot di pegangan tangga kecil yang sudah dihias.
"Aku hanya ingin melatih anjingku, Jae. Siapa tahu dia bisa menjadi artis di Holywood." Jawab Hyun Joong cuek. Dia terus menyuruh anjingnya merosot disana bahkan dia kini juga ikut merosot di pegangan tangga satunya membuat hiasan yang terpasang disana hancur berantakan.
"Tapi itu sudah dihias, hyung! Jangan bersikap kekanakan!" teriaknya kesal.
Hyunjoong diam kemudian turun dari sana. Dia juga mengambil anjingnya yang terlihat menikmati kegiatan barunya. Hyunjoong menoleh kearah Jaejoong dengan mata yang menatap sepupunya sinis.
"Kau melarangku bersikap kekanakan? Lalu bagaimana dengan sikapmu? Bukankah itu jauh lebih kekanakan?" Jaejoong diam mendengar kalimat Hyunjoong. Bahkan ketika Hyunjoong melewatinya, dia tetap tidak bergeming dari tempatnya.
"Jae, kalau aku boleh berkomentar, dekorasinya membosankan. Pestanya pasti akan terasa membosankan dan tidak ada kesan hidup dan bahagia di dalammya. Apa kau mengusung tema kematian di pesta pertunanganmu? Bagaimana kalau kau ganti dengan tema Playgroup Party? Bukankah itu sesuai dengan pikiranmu yang tidak pernah menjadi dewasa?" sindir Hyunjoong kemudian pergi meninggalkan Jaejoong yang tetap mematung di tempatnya dengan tangan mengepal.
"Kalian tidak mengerti. Kalian hanya tidak mengerti apa yang kurasakan." Gumamnya lirih dengan kepala tertunduk.
...
Yoochun dan Seunghyun hanya bisa menghela nafas melihat Yunho yang kini keadaannya makin parah. Changmin tidak bisa bergabung dengan mereka berdua karena harus menemani Kyuhyun kerumah temannya.
"Yoochun hyung, apa yang harus kita lakukan pada beruang satu itu?" tanya Seunghyun frustasi pada Yoochun yang duduk disebelahnya.
"Molla, Seunghyun-a." Jawab Yoochun tidak kalah frustasi.
Kedua namja tampan itu menghela nafas berbarengan. Keduanya benar-benar tidak tahu bagaimana menyadarkan Yunho.
"Hyung, pertunangan Jaejoong hyung akan diadakan besok, apa kau benar-benar tidak akan melakukan apapun?" tanya Yoochun mencoba berani mengangkat topik pertunangan Jaejoong meskipun Seunghyun menatapnya tidak setuju.
"Lalu kalian ingin aku melakukan apa?" jawab Yunho dingin. Tatapannya tetap tertuju pada dokumen yang diberikan asistennya.
"Lakukan sesuatu! Apa kau tidak ingin Jae hyung kembali padamu?" Seunghyun kali ini juga berusaha bertindak berani.
Yunho tidak menjawab.
"Hyung, kenapa kau diam? Jangan katakan kau memang menyerah?"
Yunho tetap diam.
"Hyung!"
Hening.
"Ya! Yunho hyung! Kenapa kau diam?!"
Yunho tetap bungkam.
"Apa kau menyerah? Apa hanya begini usahamu mendapatkan Jae hyung? Apa hanya sedangkal ini cintamu pada Jae hyung?!"
Yunho tetap diam tidak membalas perkataan kedua dongsaengnya meskipun dalam hati dia ingin berterian betapa dia sangat mencintai malaikatnya itu.
"Arasseo. Lakukan sesukamu. Kuharap kau datang besok. Kajja, Seunghyun-ah, tidak ada gunanya kita ada disini!" Yoochun segera keluar diikuti oleh Seunghyun yang hanya menatap Yunho dengan tatapan sendu.
"Aku tahu kau mencintainya, hyung. Kuharap kau tidak benar-benar menyerah." Ujar Seunghyun sebelum benar-benar pergi dari ruangan itu.
Selepas kepergian teman-temannya, Yunho mengangkat kepalanya. Pandangannya lurus kedepan. Sinar mata yang biasa memberikan tekanan pada orang lain itu kini meredup. Bibir hatinya menyunggingkan senyum pahit.
"Kalian tidak mengerti. Kalian hanya tidak mengerti perasaanku." Gumamnya lemah seiring dengan menetesnya air mata dari pelupuk mata musangnya. Tangannya membuka laci dan menarik keluar kertas berwarna biru yang kemarin diberikan oleh namja yang paling dicintainya. Kim Jaejoong. Kertas yang berisi mantra yang menyakitkan untuknya.
Flashback On
Jung Yunho PoV
Aku sedang mengerjakan beberapa dokumen ketika sekretarisku mengetuk pintu ruanganku.
"Masuk!" suruhku. Yeoja itu melenggang masuk kemudian membungkuk di depanku. "Ada apa?"
"Ada namja yang ingin bertemu dengan anda, sajangnim." Ujarnya lembut. Aku mengernyitkan kening karena seingatku aku tidak memiliki janji temu dengan siapapu hari ini.
"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk mengosongkan jadwalku hari ini?! Kau membantahku?" tanyaku.
"An-animnida, sajangnim. Namja ini bilang dia mengenal anda." Aku menghela nafas.
"Suruh dia masuk. Kalau sampai dia tidak mengatakan hal yang benar-benar penting, kau yang akan kupecat!"
"Arasseo, sajangnim." Yeoja itu membungkukkan badannya sekali lagi sebelum keluar. Aku kembali pada pekerjaanku yang sempat kutinggalkan tadi mengacuhkan pintu ruanganku yang kembali terbuka.
Hening. Aku sebenarnya bingung kenapa namja ini tidak bicara sama sekali, tapi tentu aku tidak mungkin membuka pembicaraan lebih dulu.
Lima belas menit berlalu. Aku menghela nafas dan wangi parfum yang tertangkap oleh indra penciumanku berhasil membuatku sedikit tersentak. Aku kenal bau ini. Amat sangat kenal. Karena bau ini yang membuatku kecanduan dulu. Aku hampir saja mengangkat kepalaku sebelum kembali mengurungkannya. Tentu saja tidak mungkin dia. Untuk apa dia disini sementara dia membenciku?
"Apa kau akan tetap mengacuhkanku disini, Yunho-ssi?" aku mengangkat kepalaku secepat yang aku bisa. Dan mataku terbelalak. Di sana. Di depanku berdiri namja yang terus berlarian dalam pikiranku selama ini.
Perlahan aku berdiri dari dudukku dan berjalan mendekatinya. Aku kesulitan bernafas. Jantungku berdetak tidak terkendali. Darahku tertarik oleh gravitasi bumi membuat tangan dan wajahku dingin. Dan lidahku kelu tidak bisa mengatakan apa-apa. Demi Tuhan sosok di depanku ini nyata, bukan hanya halusinasi yang biasa kualami. Dan setelah sekian lama tidak bertemu efeknya tetap sama. Berada di dekatnya membuatku berada dalam ambang kematian.
"B-boojae?"
"Ne. Ini aku, Yunho-ssi." Tanpa kusuruh, bibirku tertarik ke dua sisi karena mendengar suaranya lagi.
"Duduk." Ajakku. Dia mengangguk kemudian duduk di kursi berhadapan denganku.
"Aku tidak akan lama." Dia merogoh kedalam tasnya mengeluarkan kertas berwarna biru dan mengulurkannya padaku.
"Ige mwoji?" tanyaku. Aku benar-benar berharap kertas ini tidak membawa berita buruk bagiku.
"Itu undangan pertunanganku. Datanglah." Ucapnya datar. Dia tidak tahu bahwa sekarang aku benar-benar ingin membunuh yeoja bernama Wang Jihye itu.
"Kau mau kemana?" aku sontak berdiri dan menahan tangannya ketika da berjalan pergi.
"Pulang. Kau pikir aku akan kemana?" dia menghempas tanganku hingga terlepas.
"Tinggallah lebih lama. Sudah lama kita tidak berbicara dengan akrab." Ajakku. Kulihat dia menatapku sebentar seolah mempertimbangkan permiantaanku.
"Mianhae. Aku tidak ingin ada berita yang tidak-tidak menjelang pertunanganku."
"Jae! Apa kau tidak ingin memikirkannya lagi?" tanyaku ketika dia baru saja memegang knop pintu.
"Apa maksudmu?" da berhenti dan berbalik kearahku dengan tatapan datar.
"Kumohon pikirkan lagi keputusanmu. Apa kau percaya anak yang dikandung yeoja itu adalah anakmu? Dia yeoja panggilan, bisa jadi dia anak orang lain."paparku berusaha membuatnya membatalkan pertunangannya. Setidaknya sedikit mempertimbangkannya.
"Apa yang kau katakan? Kau namja sama sepertiku. Seharusnya kau tahu apa yang seharusnya namja lakukan ketika ada seorang yeoja mengaku hamil anakmu!" tukasnya dingin.
"Tapi kau tidak mencintainya!" sentakku.
"Aku bisa mencintainya nanti. Seiring berjalannya waktu." Dia bisa mengatakan hal seperti itu sekarang tapi aku bisa melihat sinar keraguan di matanya.
"Kau tidak!" bantahku membuatnya menatapku kaget.
"Wae? Kenapa tidak bisa?!" tanyanya menantang.
"Karena kau mencintaiku!" dia tersentak mendengar kalimatku. Matanya yang sejak tadi menatap kearah lain beralih menatapku lama dengan sorot mata yang tidak bisa kutebak.
"Apa kau bercanda?! Apa kau sadar kau mengatakan hal menggelikan itu pada calon tunangan orang lain!" bentaknya.
"Kalau begitu katakan kau tidak mencintaiku!" tantangku. Aku menatapnya tajam. Bisa kulihat dia bergerak gelisah ditempatnya.
"Aku tidak mencintaimu. Kau puas?!" bentaknya yang malah membuatku tersenyum. Aku tahu kau masih mencintaiku, Jae.
"Tatap aku ketika kau mengatakan itu!" tantangku lagi. Kulihat dia makin gelisah ditempatnya.
"Kurasa keputusanku datang kesini adalah salah besar!" ujarnya. Aku menahan tangannya yang hendak pergi meninggalkan ruanganku.
"Apa sebenarnya maumu, JUNG YUNHO?!" bentaknya keras. Aku tidak bergeming. Kutatap matanya dalam.
"Aku hanya ingin kau memikirkan ulang keputusanmu. Kumohon, Jae. Mengertilah hatimu sedikit saja." Pintaku. Aku mengelus punggung tangannya pelan. Bahkan kehalusan kulitmu masih tidak berubah, Boo.
"Apa lagi yang harus kumengerti? Aku yang paling tahu bagaimana hatiku! Jadi jangan ikut campur!"
"Oleh karena itu, pikirkanlah lagi. Aku hanya ingin kau bahagia, Jae." Ujarku memelas. Kuremas tangan dalam genggamanku itu lembut.
"Kau ingin aku bahagia?" aku mengangguk, " Lepaskan aku! Lupakan semua masa lalu antara kau dan aku. Anggap kita berdua tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Aku hanya ingin membangun hidupku yang baru jadi biarkan aku bahagia dengan keputusaku." Aku terbelalak mendengar apa yang keluar dari bibir manisnya itu.
"J-Jae.."
"Kau adalah penyebab segala sakitku dulu, Yunho-ssi. Melihatmu melakukan hal-hal konyol seperti ini membuatku mengingat semua rasa sakit itu. Kalau kau memang ingin aku bahagia, " dia menarik tangannya dari genggamanku, "Pergilah mencari hidupmu yang baru dan lupakan semua tentangku!"
Aku mematung. Mataku menatap ksosong kedepan. Ucapan Jaejoong barusan seolah menjadi racun bagiku.
"Datanglah ke pertunanganku sebagai seorang kenalan." Ujarnya sebelum benar-benar pergi meninggalkanku.
Diam di tempat tanpa bisa berkata apapun hanya itu yang bisa kulakukan. Hatiku remuk. Lebih remuk daripada undangan pertunangan yang ada ditanganku. Cintaku satu-satunya pergi meninggalkanku dengan menorehkan satu luka fatal dalam hatiku.
Flashback Off
Melupakanmu? Melupakan seorang yang menjadi alasanku untuk tetap bertahan hingga saat ini. Melupakan seseorang yang telah menempati ruang dihatiku sejak dulu. Melupakan seseorang yang telah menjadi penyemangatku. Melupakan seseorang yang telah menjadi penoreh kenangan terindah dalam hidupku. Melupakan sosok malaikat paling sempurna yang pernah kutemui. Melupakan seseorang yang paling kucintai. Melupakan seorang Kim Jaejoong. Apa aku bisa?
End of Jung Yunho PoV
TBC
Eotteohke? apa alurnya terlalu lama? emang.. apa ceritanya terlalu berbelit-belit? banget... membosankan? apalagi..
Mianhae, tapi cuma ini yang gue dapet dari semedi tengah malem sambil jaga lilin semalem #nahloh? semoga reader ssi yang pada canti dan baik masih tetep berminat buat baca ni FF ngaco.. tanpa kalian aku mah apa atuh? #nahlohPart2
Gue ngga bisa bales review atu-atu, gue sibuk... biasalah, gue kan mahasiswa teladan jadi harus main game #nahlohPart3
Gue ngga mau banya banyot deh... capek gue.. Review dikit, FF ini ngga update sampe liburan semester depan.. review lumayan, gue update sebulan lagi... review cukup, gue tetep update sebulan lagi... #nahlohPart4
At last
Mind to RnR?
Annyeong... #kencan BarengChangmin
