Mianhae, Nado Saranghae

Author : KeiLee

Main Pair : Yunjae (Jung Yunho x Kim Jaejoong)

Other Pair : Yoosu, Changkyu, TOPGD, little bit SiBum.

Other Cast : Go Ahra, Choi Siwon, Choi (Kim) Kibum, dan lainnya akan ditemukan seiring berjalannya cerita.

Genre : Romance, Drama (banget) sinetron Indonesia yang paling drama sampe episodenya ribuan dan berseason-season aja kalah.

Rate : T-M. Gue mulai sedikit terkontaminasi. Tapi Cuma dikit doang. Totally, gue masih polos ko..

Warning : YAOI. BxB. Little STRAIGHT. Typo (s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit layaknya YJS di dunia, DLDR. Lebih sinetron dari sinetron yang paling sinetron (?). Tidak menerima Kritik dengan bahasa yang kasar, paling menerima kripik singkong atau kripik kentang. Biasakan RnR. Kalo bisa baca dulu yang Noona, I Love Him biar lebih nyambung. Judul menipu. Isi berantakan dan maksa banget. Jalan cerita membingungkan dan berantakan sesuai sama idup gue T-T. Menimbulkan resiko mual dan nafsu makan menurun, jadi bagi yang diet dianjurkan membaca #apadeh

Okelah, seperti biasa. Gue cool make banget jadi ngga banyak bacot.

So, Check It Out..

.

.

.

.

.

Previous Chap

Flashback On

"Aku hanya ingin kau memikirkan ulang keputusanmu. Kumohon, Jae. Mengertilah hatimu sedikit saja." Pintaku. Aku mengelus punggung tangannya pelan. Bahkan kehalusan kulitmu masih tidak berubah, Boo.

"Apa lagi yang harus kumengerti? Aku yang paling tahu bagaimana hatiku! Jadi jangan ikut campur!"

"Oleh karena itu, pikirkanlah lagi. Aku hanya ingin kau bahagia, Jae." Ujarku memelas. Kuremas tangan dalam genggamanku itu lembut.

"Kau ingin aku bahagia?" aku mengangguk, " Lepaskan aku! Lupakan semua masa lalu antara kau dan aku. Anggap kita berdua tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Aku hanya ingin membangun hidupku yang baru jadi biarkan aku bahagia dengan keputusaku." Aku terbelalak mendnegar apa yang keluar dari bibir manisnya itu.

"J-Jae.."

"Kau adalah penyebab segala sakitku dulu, Yunho-ssi. Melihatmu melakukan hal-hal konyol seperti ini membuatku mengingat semua rasa sakit itu. Kalau kau memang ingin aku bahagia, " dia menarik tangannya dari genggamanku, "Pergilah mencari hidupmu yang baru dan lupakan semua tentangku!"

Aku mematung. Mataku menatap ksosong kedepan. Ucapan Jaejoong barusan seolah menjadi racun bagiku.

"Datanglah ke pertunanganku sebagai seorang kenalan." Ujarnya sebelum benar-benar pergi meninggalkanku.

Diam di tempat tanpa bisa berkata apapun hanya itu yang bisa kulakukan. Hatiku remuk. Lebih remuk daripada undangan pertunangan yang ada ditanganku. Cintaku satu-satunya pergi meninggalkanku dengan menorehkan satu luka fatal dalam hatiku.

Flashback Off

Melupakanmu? Melupakan seorang yang menjadi alasanku untuk tetap bertahan hingga saat ini. Melupakan seseorang yang telah menempati ruang dihatiku sejak dulu. Melupakan seseorang yang telah menjadi penyemangatku. Melupakan seseorang yang telah menjadi penoreh kenangan terindah dalam hidupku. Melupakan sosok malaikat paling sempurna yang pernah kutemui. Melupakan seseorang yang paling kucintai. Melupakan seorang Kim Jaejoong. Apa aku bisa?

.

.

Start Story

.

.

Author PoV

Hari ini pesta pertunangan antara Jaejoong dan Jihye yang tidak pernah dinantikan siapapun akan diadakan. Tidak seperti pesta pertunangan yang biasanya, di kediaman Kim tidak ada yang hilir mudik sama sekali. Bahkan saat ini Junsu dan Ahra tengah menonton televisi dengan masih memakai piyama mereka.

"Noona, apa yang harus kita lakukan? Aku benar-benar tidak ingin pertunangan terkutuk ini terjadi." Ujar Junsu tanpa menoleh kearah Ahra.

"Haaahhh... molla." Gumamnya.

Hening. Hanya helaan nafas yang terkadang terdengar diantara mereka berdua. Junsu terlonjak begitu dia merasakan Ahra yang tiba-tiba melompat disampingnya.

"Ya! Ahra noona, waeyo?" sentak Junsu sambil mengelus dadanya.

"Aku ada ide. Bagaimana kalau kau ajak teman-temanmu yang pada dasarnya adalah biang ribut itu?"

"Hah?" Junsu mengernyitkan kening tidak mengerti.

"Kau ajak tiga magnae evil itu kesini beserta dengan kekasih mereka dan buat kekacauan di pesta pertunangan uri Jaejoongie. Jangan terlalu kentara, lakukan saja secara alami." Usul Ahra. Kini wajah Junsu menampilkan ekspresi puas. Keduanya menyeringai kemudian melakukan high five dan tertawa setan.

"Apa yang kalian lakukan? Kenapa tertawa seperti itu?" tanya Mrs. Kim yang entah datang darimana.

Kedua Kim itu menoleh kearah Mrs. Kim kemudian saling bertatapan dengan seringaian yang lebih lebar.

"Eomma, apa eomma ingin ikut dalam rencana kami?" tanya Ahra masih dengan seringaian di bibirnya.

"Mwo?" Ahra membisikkan rencananya dan Junsu kepada Mrs. Kim. Perlahan seringaian juga muncul di bibir Mrs. Kim.

"Eomma akan bergabung tentu saja. Ah, apa boleh eomma mengajak Kibummie juga?"

"Lakukan apapun, eomma. Ajak siapa saja asalkan pertunangan ini tidak berjalan lancar."

Tiga Kim iru kini menyeringai bersamaan membuat suasana mencekam yang berlawanan dengan dekorasi ruangan yang penuh bunga.

...

"Apa kalian akan datang?" tanya Seunghyun pada Changmin dan Yoochun yang kini sedang bermain game di rumahnya.

"Molla. Aku sebenarnya malas, tapi aku tidak mungkin menyia-nyiakan makanan yang disediakan." Kalian tentu tahu kalimat itu keluar dari bibir siapa.

"Aku juga malas. Tapi... entahlah, aku bingung." Jawab Yoochun disertai dengan desahan frustasi.

"Menurutmu apa Yunho hyung akan datang?" tanya Seunghyun.

"Kau gila?! Tentu saja tidak!" tolak Yoochun.

Seunghyun mengangguk, "Kupikir juga begitu."

Drrrtttt... Yoochun mengambil ponsel miliknya yang diletakkan di atas meja.

"Dari Junsu." Ujarnya melihat tatapan ingin tahu dai kedua sahabatnya. Yoochun membaca pesan itu dengan kening mengernyit.

"Ya! Kalian kemari!" teriaknya setelah berhasil mencerna pesan dari kekasih imutnya itu.

Ketiganya membaca pesan itu kemudian saling bertatapan dengan seringaian di bibir mereka.

"Setidaknya makanan itu tidak akan terbuang sia-sia. Tunggu kami, Jae hyung." Gumam Changmin.

"Chunnie, datang dan kacaukan! Ajak Changmin dan Seunghyun hyung juga."

"Kajja bersiap. Pertunjukan kita akan dimulai..." Yoochun melihat kearah jam yang melingkar di tangannya, "2 jam lagi.."

Ketiganya bergegas pergi dan bersiap masih dengan seringai yang tidak lepas dari wajah rupawan mereka.

...

Jaejoong tengah menikmati angin semilir di balkonnya. Seebntar lagi atau lebih tepatnya lima menit lagi pertunangannya akan dilaksanakan. Entah apa yang benar-benar dirasakannya. Logika dan harga dirinya menyuruhnya untuk melakukan ini, tapi entah kenapa hatinya merasa berat. Dia tengah menggelengkan kepalanya mengusir pikiran konyol yang hinggap di otaknya ketika Jihye datang. Namja cantik itu menghela nafas pelan. Dia benar-benar belum ingin bertemu dengan yeoja itu.

"Oppa…" panggil Jihye membuat Jaejoong membalikkan badannya. Yeoja itu menundukkan kepalanya melihat tatapan datar Jaejoong.

"Apa kau memang terbiasa keluar masuk kamar namja sesuka hatimu, Wang Jihye-ssi?" sindiran Jaejoong membuat Jihye makin dalam menundukkan kepalanya.

"Opp…"

"Arasseo. Kajja turun." Jaejoong memotong kalimat yang akan Jihye ucapkan kemudian berjalan mendului Jihye.

"Aku hanya ingin bertanya apa kau menyesal dengan pertunangan ini, opapa.." gumamnya yang tentu tidak akan didengar oleh Jaejoong yang sudah berjalan menuruni tangga.

Perhatian seluruh tamu tertuju pada Kim Jaejoong yang baru turun. Jangan tanya kenapa banyak yang datang, tentu saja karena Jaejoong adalah composer lagu dengan suara merdu yang berhasil menyedot perhatian perusahaan rekaman besar sejak kemunculannya pertama kali. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Jaejoong. Matanya mengedar ke sekeliling ruangan mencari keberadaan keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan satu lagi yang entah kenapa bisa masuk dalam daftar pencariannya, Jung Yunho.

Pencarian Jaejoong terhenti ketika pundaknya ditepuk oleh kakak sepupunya, Kim Hyun Joong. Sepupu anehnya itu datang padanya dengan senyum aneh terukir di bibir tebalnya.

"Wae?" tanya Jaejoong waspada. Matanya melirik ke kanan dan kiri mencari kemungkinan kejahilan apa yang dilakukan oleh sepupunya itu.

"Ani." Jawab Hyun Joong ringan. "Wah, tunanganm sudah datang. Katakan padanya untuk berhati-hati karena lantainya sedikit lengket."

Kreeekkk…

Baru saja Hyunjoong mengatakan itu, terdenar bunyi kain robek dari belakang mereka berdua. Disana berdiri Jihye yang gaunnya kini tidak lagi sempurna. Sambungan kain bagian bawah yang tipis kini tidak lagi menyatu dengan gaun utamanya melainkan melekat di anak tangga. Ihye hanya bisa menunduk menahan malu.

"Oooppsss… sepertinya aku telat beberapa detik, tadi aku tidak sengaja menumpahkan lem super disana. Mian." Ujarnya kemudian pergi menuju kerumunan menghiraukan Jaejoong yang menatapnya sengit.

"Ya!"

"O-oppa.." suara lirih Jihye membuat Jaejoong mengurungkan niatnya untuk mengumpat Hyunjoong. Namja cantik itu akhirnya melangkah mendekati Jihye dan menepuk bahunya yang terbuka pelan.

"Sudahlah. Pakai saja itu. Lagipula masih bisa dipakai. Tidak usah malu." Hibur Jaejoong. Jihye menunduk dan merutuki Jaejoong yang tidak peka. Bukankah seharusnya namja itu mengetti bahwa bukan itu yang menjadi masalahnya. Tapi, tidak ada lagi yang bisa Jihye lakukan jika Jaejoong mengatakan seperti itu. Jadi dia hanya bisa mengangguk pasrah kemudian menuruni anak tangga selanjutnya mengikuti Jaejoong.

Di sudut ruangan, namja tampan bernama Kim HyunJoong tengah sibuk dengan walky talkynya. Wajahnya menampilakan raut datar yang berbeda dengan biasanya.

"Rencana berjalan lancar meski tidak berhasil menggagalkan. Apa rencana kedua sudah siap? Ganti." Bibirnya menyunggingkan seringaian ketika mendengar jawaban dari seberang, "Arasseo. Kalau begitu, lanjutkan rencana kedua. Jigeum!"

Kembali kepada Jaejoong dan Jihye yang kini berada tepat dihadapan para tamu. Dia menepuk tangannya sekali. Tapi tidak ada yang merespons. Sekali lagi dia menepuk tangannya tapi tetap tidak ada satupun yang merespon. Keningnya mulai mengernyit. Dia menepuk tangannya lagi kali ini lebih keras tetapi tetap nihil. Sekarang bukan hanya Jaejoong yang bingung, para tamu juga ikut menolehkan kepalanya kesana kemari mencari sesuatu yang membuat Jaejoong bertepuk tangan seperti itu.

Jaejoong hendak menepuk tangannya lagi ketika pintu depan terjeblak terbuka. dia makin megerutkan keningnya melihat pelakunya bukanlah pengawal yang disuruhnya membawakan cincin melainkan Ahra….. dan teman-temannya.

"Omo! Ahra-ya. Kenapa banyak orang dirumahmu?" tanya salah satu temannya yang bernama BoA.

"Ada acara tidak penting diadakan disini. Omo! Taeyeon-ah, bukannya namja itu lumayan?" Ahra menunjuk seorang namja yang berada sedikit di sudut.

"Omo! Kau benar, Ahra-ya. Kajja!" Taeyeon menarik tangan Ahra menuju kearah namja itu. Selanjutnya semua teman Ahra mulai membuat keributan-keributan kecil.

Semua tamu disana menatap Ahra dan teman-temannya dengan kening mengernyit. Tidak tahan dengan situasi ini, Jaejoong segera menghampiri noonanya.

Ahra tahu sekarang Jaejoong datang menghampirinya, dia menyeringai kemudian berjalan menjauhi Taeyeon dan tamu-tamu disana.

"Noona, tunggu sebentar!" panggil Jaejoong. Ahra menoleh dan menampilkan wajah penuh tanda tanya yang tentu saja hanya pura-pura.

"Waeyo?" tanyanya polos.

"Kenapa noona membawa teman-teman noona kemari?"

Ahra mengernyitkan keningnya, "Apa maksudmu? Kau melarangku membawa temanku kesini?"

"Aniya.. bukan seperti itu maksudnya. Tapi hari ini…"

"Hari pertunanganmu, kan? Lalu apa peduliku? Ini bukan hanya rumahmu! Kalau kau bisa mengadakan acaramu disini, kenapa aku tidak boleh mengajak temanku?" sinis Ahra.

"Noona boleh mengajak teman noona kesini kapanpun, tapi tidak sekarang, noona. Noona dan teman-teman noona mengganggu acaraku." Jaejoong masih berusaha memberi pengertian pada noonanya.

"Kau bahkan mengataiku pengganggu sekarang? Baiklah terserah!"

"Noona.." Ahra meninggalkan Jaejoong yang hanya bisa mematung di tempatnya. "Bukan itu maksudku." Jaejoong menhela nafas kemudian berjalan kembali ke acaranya.

"Maafkan sedikit kendala tadi. Sekarang acara bisa kembali dilanjutkan." Ujar Jaejoong dengan senyum manis yang sedkit dipaksakan.

"Kim Jaejoong ssi, bagaimana kalau kau perkenalkan gadis cantik disebelahmu itu lebih dulu?" pinta seorang tamu membuat Jaejoong menolehkan kepalanya kearah Jihye yang sedari tadi hanya menunduk.

Jaejoong kembali mengalihkan tatapannya kepada para tamu dan menganggukan kepalanya, "Arasseo.."

Ketika Jaejoong sedang menenangkan para tamu undangannya, seorang wanita cantik dengan walky talky dtangannya berdiri di pojok ruangan dengan seringaian di wajahnya.

"Rencana berjalan lancar meskipun tidak sepenuhnya berhasil. Setidaknya aku bisa menghambat sedikit acara konyol ini." Ahra menatap kesala kearah Jaejoong yang kini menatap kearah Jihye. "Apa rencana ketiga siap? Good, laksanakan. Jigeum!" Ahra makin melebarkan seringaiannya membuat tamu undangan yang ada di sekitarnya bergidik ngeri.

Kembali ke Jaejoong, "Arasseo," JAejoong menjeda kalimatnya sebentar, "Dia…."

Braakkkk….

"Omo! Heechul-ah. Apa dirumahmu sedang ada acara?" suara itu terdengar seiring dengan masuknya Heechul –Mrs. Kim- dan teman-temannya.

"Ne. Kupikir akan menyenangkan mengadakan pertemuan disaat ada acara seperti ini. Kita mungkin bisa mengajak para istri disini untuk bergabung." Ujar Heechul lumayan keras. "Kajja, kita duduk disana."

Para ibu-ibu itu akhirnya duduk di sofa tidak jauh dari sana dan mulai membicarakan banyak hal dengan sesekali tawa anggun terdengar. Kegiatan itu seperti yang sudah diduga banyak menarik perhatian para istri-istri pejabat disana. Akhirnya dalam waktu yang tidak terlau lama, hanya para tamu pria, anak-anak yang dibawa oleh pasangan suami istri disana dan wanita-wanita muda yang masih berdiri fokus pada acara yang sebenarnya.

Melihat keadaan in, Jaejoong hanya bisa menghela nafas. Dia tidak mungkin menghampiri eommanya seperti apa yang dilakukannya pada Ahra.

"Dasar ibu-ibu." Gumaman seperti itu terdengar hampir di seluruh ruangan, "Jaejoong-ssi, bagaimana kalau kau menceritakan pertemuan pertama kalian?" usul tamu yang tadi mengusulkan padanya untuk memperkenalkan Jihye. Mungkin Jaejoong harus mengucapkan terima kasih secara khusus pada tamu itu karena bisa mengurangi rasa tidak nyaman tamu yang lain.

"Arasseo. Kami…."

Braakkk…

"Jae hyung! Apa kami terlambat?" teriak Changmin begitu pintu terbuka. dibelakangnya ada pasangan SeungYoung dan Yoosu.

Jaejoong yang masih belum sembuh dari rasa kagetnya hanya bisa meggelengkan kepalanya dengan mata melebar lucu.

"Omo! Kajja, Kyu!" Changmin menarik tangan Kyuhyun menuju kearah meja penuh makanan. Kyuhyun yang ditarik hanya bisa menghela nafas dan menampilkan wajah datar.

'AKu setuju dengan rencana ini. Tapi kenapa aku harus satu tim dengan namja tidak tahu malu ini?' miris Kyuhyun dalam hati.

"Woah, Kyu. Ini benar-benar enak! Kau harus mencibanya." Changmin menyodorkan sesendok penuh berisi makanan yang diterima Kyuhyun tanpa pikir panjang. Kemudian..

"Uhuk.. uhukk.. Ya! Hangmin-ah! Aha hang khau khuapkhan khadakhu? Hah… hah…" Kyuhyun memaki Changmin dengan mulut yang masih penuh dengan makanan dan wajah memerah karena kepedasan. Changmin sang tersangka hanya tertawa terbahak-bahak. Tamu yang disana juga tertawa melihat kekonyolan pasangan itu.

Changmin mengusap kepala Kyuhyun kemudian mencium keningnya, "Mianhae." Bisiknya lembut membuat wajah Kyuhyun makin bersemu.

Changmin mengalihkan tatapannya kearah anak kecil yang sedari tadi melihat kearahnya. Dia berjalan mendekat dan berjongkok menyejajarkan tinggi badannya dengan anak itu.

"Kau ingin makan?" tanyanya. Anak itu mengangguk malu-malu membuat Changmin tersenyum. Di matanya, tingkah anak itu mirip dengan Kyuhyun, "Kajja!" Changmin menuntun anak itu menuju tempatnya tadi setelah mendapat ijin dari ayah anak di gendongannya.

"Kau ingin apa?" tanyanya. Tangannya yang bebas menarik tangan Kyuhyun untuk mendekat padanya.

"Ya! Sebenarnya siapa yang kau tanyai?" gerutu Kyuhyun.

"Tentu saja anak ini. Apa kau juga ingin kutanyai?" Kyuhyun mencibir, "Tapi pertanyaan untukmu akan sedikit berbeda." Kyuhyun mengernyitkan kening bingung.

"Mwo?"

"Apa kau ingin kumakan?" goda Changmin yang membuahkan jitakan manis dari Kyuhyun.

"Aish.. kenapa kau menjitakku seperti itu kalau kau ternyata mau?!" rutuk Changmin yang kembali dihadiahi jitakan oleh Kyuhyun, "Aish, seharusnya kau melihat wajah kepiting rebusmu itu!"

"Kau hanya perlu diam, Shim!" bentak Kyuhyun kesal.

Pasangan berisik itu mulai menarik perhatian anak-anak kecil disana. Meeka berdatangan ingin menoba hidangan d meja berkat rayuan –seruan- dari Changmin dan anak di gendongannya yang mengatakan betapa lezatnya masakan disana.

Mari kita tinggalkan mereka dan beralih pada pasangan Yoosu. Mereka kini berdiskusi di depan piano besar yang memang disediakan disana.

"Annyeong, naneun Kim Junsu imnida. Untuk mengurangi suasana membosankan di pesta ini, saya dan kekasih saya akan meyanyikan sebuah lagu. Kami harap anda semua menikmati lagu kami."

Suara alunan piano yang dimainkan Yoochun mulai memenuhi seluruh ruangan disusul dengan suara merdu milik Junsu. Perlahan tamu seusia mereka yang ada disana mengalihkan perhatian dan mendekat ke panggung kecil tempat Yoosu menampilkan kemampuan mereka.

"Gamsahamnida." Junsu membungkukkan badannya setelah lagunya selesai.

"Encore! Encore! Encore!" teriak mereka disana. Junsu yag masih belum menegakkan badannya menyeringai senang.

"Baiklah jika kalian memaksa." Junsu menampilkan senyum imutnya. Yoochun memainkan pianonya dan Junsu mulai menyanyi. Tanpa beriskusi mereka menyanyikan banyak lagu seolah semuanya sudah direncanakan.

Tinggalkan pasangan itu dan beralih pada pasangan SeungYoung yang sedari tadi tidak membuat suara apapun tapi berhasil menarik perhatian banyak orang terutama para produser dan artis-arti terkenal yang datang ke acara itu. Bagaimana tidak, para CEO perusahaan agensi artis tentunya tidak akan melewatkan kesempatan untuk menawarkan tempat untuk composer terkenal seperti Jiyoung. Sedangkan beberapa para aktris dan aktor uke mendekat hanya untuk melihat namja tampan yang sedari tadi merangkul Jiyoung seolah mengatakan bahwa namja manis itu adalah miliknya kepada namja-namja seme yang terus menatap lapar kearah Jiyoung.

Tinggalkan semua kekacauan itu, sekarang kita lihat bagaimana Jaejoong. Namja manis itu hanya bisa diam tanpa melakukan apapun. Perlahan kepalanya menoleh kearah kanan, tepatnya pada satu-satunya orang yang berdiam diri disana.

"Appa…" gumamnya lirih seolah meminta bantuan dari namja tua yang hanya menatapnya dalam diam. Perhatian Jaejoong beralih kearah pintu dan mata doenya makin membesar melihat siapa yang datang.

"Annyeong, Jaejoong-ssi. Apa kami terlambat?" Jaejoong hanya bisa diam dan menggelengkan kepalanya kaku.

"Ah, kemana para tamu? Kenapa mereka berkumpu disana?"

"Anou, eomm.. Ahjumma.. mereka sedang memiliki urusan masing-masing, jadi aku harus menunda jam pertunanganku." Jawab Jaejoong kepada pasangan Sibum yang baru datang.

"Ah, kalau seperti itu bukankah kau ada urusan dengan Mr. Kim, yeobo? Bagaimana kalau kalian membicarakannya sekarang? Lagipula menurutku acaranya ditunda untuk beberapa jam kedepan melihat kesibukan mereka." Kibum mengedarkan pandangannya kesekeliling ruangan.

Jaejoong melirik kearah Appanya dengan tatapan seolah mengatakan 'Jebal, Appa. Jangan membuat pestaku semakin hancur.' Mr. Kim melirik kearah Jaeojong kemudian kearah Jihye.

"Kajja, Mr. Jung. Aku tidak ingin membuang waktu." Mr. Kim menjauh diikuti Mr. Jung menuju ruangan lain.

"Tunggu!" Semua yang ada disana menoleh kearah namja tampan dengan pakaian rapi yang baru saja berteriak. Jung Yunho dengan nafas terengah perlahan berjalan mendekati Jaejoong dan orang tuanya.

Mata musang itu menatap dalam mata doe di depannya. Tidak perlu orang cerdas untuk memahami apa arti dalam tatapan itu. Cinta, kagum, dan luka menjadi satu dalam mata tegas itu.

"Annyeong, Jaejoong-ssi.." sapanya lirih. Jika kau lebih peka, maka kau bisa mendengar getaran dlaam suara yang biasanya tegas itu. "Maaf jika aku telambat. Apa acaranya sudah selesai?"

Jaejoong menggeleng masih dengan menatap mata Yunho. Dia mengedarkan kepalanya ke sekeliling memberi isyarat yang diikuti oleh Yunho. Namja tampan itu menghela nafas melihat sahabat-sahabatnya menjadi pusat perhatian di pesta yang bukan milik mereka. Sedikitnya dia tahu maksud dari sabotase ini.

'Semua yang kalian lakukan percuma. Semuanya sudah selesai.' Batinnya pedih. Dia berjalan kearah tempat pembawa acara -yang entah ada dimana sekarang- dia mengambil microphone.

"Perhatian. Bagi para tamu dipersilahkan kembali ke tempat masing-masing karena acara sebentar lagi akan dimulai." Ujarnya setegas mungkin. Sekuat tenaga menahan diri untuk tidak membawa Jaejoong keluar dari sana.

Para tamu yang mendengar perkataan Yunho perlahan mulai mengisi kembali tempat mereka. Sahabat Yunho beserta Hyunjoong, Heechul dan Ahra berkumpul disatu tempat. Mereka memberi tatapan tidak percaya kearah Yunho yang hanya dibalas dengan senyuman getir oleh Yunho. Gerakan bibir Yunho yang ditujukan pada mereka membuat mereka mengerti kenapa namja musang itu ada disini.

"Namja itu benar-benar!" Jiyoung baru saja akan melangkah kearah Yunho sebelu tangannya ditahan oleh Seunghyun.

"Jangan ikut campur lagi. Yunho pasti punya alasan sendiri mengatakan itu."

"Tapi…"

"Jebal, Ji. Kau pasti tahu bahwa Yunho juga merasakan sakit saat mengatakannya. Jangan hakimi dia." Jiyoung menunduk dan menatap iba kearah Yunho yang kini menunduk dalam. Ya, Seunghyun benar. Namja disana itu. Namja yang selalu terlihat keras dan dingin itu juga tengah menhaan rasa pedih dihatinya.

Yunho mengalihkan perhatiannya dari para tamu menjadi kearah Jaejoong, "Jaejoong-ssi, anda bisa mulai acaranya sekarang." Jaejoong diam kemudian perlahan berjalan menuju tempat Jihye berdiri dengan kepala tertunduk. Matanya sempat melirik Yunho yang berjalan menuju tempat para tamu setelah meletakkan microphone ke tempat semula.

Jaejoong menepuk tangannya sekali. Berbeda seperti tadi, sekarang seorang namja paruh baya datang dengan membawa kotak beludru kecil berwarna merah yang diterima Jaejoong dengan sedikit senyuman terpahat di bibirnya.

Perlahan namja berwajah ayu itu membuka kotak yang berisi sepasang cincin berlian indah. Tangan Jihye perlahan terulur meraih cincin dengan ukuran yang lebih besar dan memasangkannya di tangan Jaejoong yang sedikit terulur. Para tamu mengernyitkan kening ketika Jaejoong yang seharusnya memasangkan cincin di tangan Jihye malah menatap kosong ke depan.

"O-Oppa…" panggil Jihye lirih yang berhasil membuat Jaejoong sadar dan sedikit menoleh kearahnya.

"Arasseo." Jaejoong melirik kearah Yunho yang hanya menunduk dengan tangan yang memijit kening.

Bruuuggghhhh…

Jaejoong baru saja hendak memakaikan cincin di tangan Jihye ketika kepalanya reflek menoleh ke samping.

"YUNHO-YA! / YUNHO! / YUNHO HYUNG! / HYUNG! / YUNHO SSI!" teriak orang-orang disana begitu sadar siapa yang terjatuh dengan bunyi sekeras itu.

Yoochun dan yang lainnya menghalangi setiap orang yang hendak menolong Yunho, bahkan mereka juga melarang Siwon dan Kibum. Semua orang terdiam, bahkan orang-orang yang hanya mengenal Yunho sekedar rekan bisnis juga tidak bisa mengatakan apa-apa. Mereka hanya terpaku di tempat dengan tatapan yang tergokus pada satu titik. Yoosu, Changkyu dan Seungyoung kini melihat sebuah kenyataan yang selama ini selalu tertutupi oleh salah satu sahabat mereka. Kenyataan bahwa masa lalu itu belum sepenuhnya terhapus. Belum sepenuhnya terlupakan.

Disana Jaejoong memangku kepala Yunho dengan sesekali menepuk-nepuk pipi namja tampan itu lembut. Wajah cantiknya menunjukkan kekhawatiran yang sangat kentara. Jaejoong tidak sadar bahwa dia berteriak paling keras ketika melihat Yunho ambruk. Dia tidak sadar bahwa dia berlari paling cepat menghampiri Yunho tanpa mempedulikan apapun. Dia bahkan meninggalkan Jihye sendirian menunduk disana.

Yeoja itu perlahan membungkuk mengambil kotak beludru yang tadi dijatuhkan Jaejoong. Mencabut satu cincin disana kemudian memasangkannya di jari manisnya sendiri.

"Kita sudah bertunangan, oppa. Apapun yang terjadi, kita sudah bertunangan." Gumamnya lemah dengan tangan saling meremas satu sama lain.

Jaejoong duduk dengan gusar di ruang tunggu. Matanya sesekali melihat kearah pintu UGD yang sejak tadi belum terbuka. Bibirnya terus digigit hingga warnanya makin merah pekat. Di sebelah Jaejoong, Jihye duduk dengan sesekali melirik kearah Jaejoong dengan tatapan tidak dapat diartikan. Dia mengabaikan tatapan membunuh dari semua orang terdekat YunJae yang berdiri tidak jauh dari mereka. Jaejoong bahkan tidak menyadari aura suram dan menakutkan yang keluar dari teman-temannya karena terlalu khawatir dengan keadaan namja yang dulu –mungkin hingga sekarang- menempati ruang dihatinya.

Beberapa saat kemudian dokter keluar dengan wajah yang ambigu. Antara sedih tetapi juga ada ekspresi lega disana. Jaejoong yang melihat itu segera menghampiri sang dokter berniat untuk mengintrogasinya.

"Uisa-nim, bagaimana keadaan Yunho? Apa dia sakit parah? Dia baik-baik saja, kan?" kejar Jaejoong membuat dokter itu menatapnya heran sebelum kemudian menyunggingkan senyum.

"Keadaan pasien cukup kritis. Lambungnya mengalami masalah yang lumayan berat karena lapisan mukosa lambungnya terluka. Pasien juga mengalami kelelahan yang lumayan parah. Kurasa dia sudah beberapa hari tidak mengistirahatkan tubuhnya dengan baik. Keadaan itu makin berat dengan darahnya yang berada dibawah batas normal." Jelas dokter itu panjang lebar. Jaejoong menutup mulutnya tidak percaya mendengar kondisi namja musang itu.

"Tapi.. dia masih tidak apa-apa, kan? Dia tidak akan…."

"Tenang saja, tuan. Pasien memang mengalami kondisi yang lumayan parah, tetapi kami masih bisa mengatasinya. Untuk saat ini, tuan Yunho kami sarankan menjalani rawat inap disini sapai kondisinya dikatakan stabil. Asalkan pasien makan teratur dan cukup istirahat, dia akan sembuh total." Jelas dokter itu lagi. Tanpa sadar Jaejoong menhela nafas lega.

"Apa dia sudah boleh dijenguk?" tanya Jaejoong. Matanya menatap penuh harap kearah dokter itu.

"Pasien sedang tidur karena pengaruh obat sekarang. Tapi anda bisa menjenguknya."

"Ah, kamsahamnida, uisa-nim." Jaejoong membungkuk kearah sang dokter yang berjalan meninggalkan ruangan Yunho.

Jaejoong baru saja hendak melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan Yunho sebelum sepasang tangan menahan lengannya. Dia menoleh dan mendapati Jihye menatapnya penuh harap.

"O-oppa. Oppa mau kemana?" tanyanya.

"Apa itu harus kau tanyakan?" tanya balik Jaejoong dengan nada dingin khasnya.

"Apakah harus oppa masuk kesana? Bukankah seharusnya kita ada dirumah oppa merayakan pertunangan kita?"

Pertanyaan Jihye berhasil membuat Jaejoong tersentak. Dia berdiri dia di tempatnya selama beberapa lama sebelum kemudian berbalik menjauh.

"Kau benar. Tidak seharusnya aku ada disini." Ujarnya. Dia berjalan melewati keluarganya dan Yunho serta sahabat-sahabatnya tanpa peduli tatapan tidak percaya yang ditujukan padanya. Dia tetap memandang lurus kedepan seolah tidak ada orang disana. Seolah hanya dia yang berdiri dengan hati bimbang.

'Tidak. Aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh jatuh lagi. Aku tidak boleh terperangkap lagi. Karena aku tidak ingin merasakan sakit itu lagi. Sakit yang membuatku serasa ingin menghilang dari permukaan bumi. Tidak. Aku tidak boleh.' Batin Jaejoong sambil terus berjalan tanpa menoleh kebelakang lagi. Mengabaikan hatinya yang terus menyuruhnya untuk berbalik.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

TBC

Eotteohke? mian lama update soalnya lagi sibuk-sibuknya kuliah #bantingsemuatugas&laporan

Okelah hanya ini yang bisa saya persembahkan? Mengecewakan? Sangat. Berbelit-belit? Banget. Ngga jelas? Iya pake banget. Pendek? Enak aja! Ini udah 4k ya, 15 lembar MS Word… jujur, belakangan ini gue lagi diserang sama Kriting block. Udah ada niat buat ngetik, eh.. ngga ada ide. Udah ada ide, eh.. males ngetik. Udah semangat ngetik, ide udah ada, eh... malah tergoda nonton anime, MV, atau RM. Frustasi gue. Mana ada 3 FF yang jadi tanggungan, stress gue, gue stress.

BTW, ada yang suka nonton RM, ngga? Gue lagi jatuh cinta sama RM nih. Ada yang punya rekomendasi episode RM yang keren? Kalo ada PM, ne?! Gamsahamnida, #bow

Makasih buat semua yang review, apalagi sama yang ngereview make dua akun (satu lagi ngga make akun), gue seneng banget ada yang nunggui ini FF absurd ampe segitunya wkwkwkwkwkwkwkwkwk

Mian ngga bisa bales semuanya, tapi tetep gue baca, ko. Keep review, ne? Makin banyak review, makin cepet update... makin dikit review, FF ini END beneran disini. Gamsahamnida.

At last..

Mind to RnR?

Annyeong...