Mianhae, Nado Saranghae
Author : KeiLee
Main Pair : Yunjae (Jung Yunho x Kim Jaejoong)
Other Pair : Yoosu, Changkyu, TOPGD, little bit SiBum.
Other Cast : Go Ahra, Choi Siwon, Choi (Kim) Kibum, dan lainnya akan ditemukan seiring berjalannya cerita.
Genre : Romance, Drama (banget) sinetron Indonesia yang paling drama sampe episodenya ribuan dan berseason-season aja kalah.
Rate : T-M. Gue mulai sedikit terkontaminasi. Tapi Cuma dikit doang. Totally, gue masih polos ko..
Warning : YAOI. BxB. Little STRAIGHT. Typo (s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit layaknya YJS di dunia, DLDR. Lebih sinetron dari sinetron yang paling sinetron (?). Tidak menerima Kritik dengan bahasa yang kasar, paling menerima kripik singkong atau kripik kentang. Biasakan RnR. Kalo bisa baca dulu yang Noona, I Love Him biar lebih nyambung. Judul menipu. Isi berantakan dan maksa banget. Jalan cerita membingungkan dan berantakan sesuai sama idup gue T-T. Menimbulkan resiko mual dan nafsu makan menurun, jadi bagi yang diet dianjurkan membaca #apadeh
Okelah, seperti biasa. Gue cool make banget jadi ngga banyak bacot.
So, Check It Out..
.
.
.
.
.
Previous Chapter
Bruuuggghhhh…
Jaejoong baru saja hendak memakaikan cincin di tangan Jihye ketika kepalanya reflek menoleh ke samping.
"YUNHO-YA! / YUNHO! / YUNHO HYUNG! / HYUNG! / YUNHO SSI!" teriak orang-orang disana begitu sadar siapa yang terjatuh dengan bunyi sekeras itu.
Disana Jaejoong memangku kepala Yunho dengan sesekali menepuk-nepuk pipi namja tampan itu lembut. Wajah cantiknya menunjukkan kekhawatiran yang sangat kentara. Jaejoong tidak sadar bahwa dia berteriak paling keras ketika melihat Yunho ambruk. Dia tidak sadar bahwa dia berlari paling cepat menghampiri Yunho tanpa mempedulikan apapun. Dia bahkan meninggalkan Jihye sendirian menunduk disana.
Yeoja itu perlahan membungkuk mengambil kotak beludru yang tadi dijatuhkan Jaejoong. Mencabut satu cincin disana kemudian memasangkannya di jari manisnya sendiri.
"Kita sudah bertunangan, oppa. Apapun yang terjadi, kita sudah bertunangan." Gumamnya lemah dengan tangan saling meremas satu sama lain.
…
Jaejoong duduk dengan gusar di ruang tunggu. Matanya sesekali melihat kearah pintu UGD yang sejak tadi belum terbuka. Bibirnya terus digigit hingga warnanya makin merah pekat. Di sebelah Jaejoong, Jihye duduk dengan sesekali melirik kearah Jaejoong dengan tatapan tidak dapat diartikan. Dia mengabaikan tatapan membunuh dari semua orang terdekat YunJae yang berdiri tidak jauh dari mereka. Jaejoong bahkan tidak menyadari aura suram dan menakutkan yang keluar dari teman-temannya karena terlalu khawatir dengan keadaan namja yang dulu –mungkin hingga sekarang- menempati ruang dihatinya.
"Keadaan pasien cukup kritis. Lambungnya mengalami masalah yang lumayan berat karena lapisan mukosa lambungnya terluka. Pasien juga mengalami kelelahan yang lumayan parah. Kurasa dia sudah beberapa hari tidak mengistirahatkan tubuhnya dengan baik. Keadaan itu makin berat dengan darahnya yang berada dibawah batas normal." Jelas dokter itu panjang lebar. Jaejoong menutup mulutnya tidak percaya mendengar kondisi namja musang itu.
"O-oppa. Oppa mau kemana?" tanyanya.
"Apa itu harus kau tanyakan?" tanya balik Jaejoong dengan nada dingin khasnya.
"Apakah harus oppa masuk kesana? Bukankah seharusnya kita ada dirumah oppa merayakan pertunangan kita?"
Pertanyaan Jihye berhasil membuat Jaejoong tersentak. Dia berdiri dia di tempatnya selama beberapa lama sebelum kemudian berbalik menjauh.
"Kau benar. Tidak seharusnya aku ada disini." Ujarnya. Dia berjalan melewati keluarganya dan Yunho serta sahabat-sahabatnya tanpa peduli tatapan tidak percaya yang ditujukan padanya. Dia tetap memandang lurus kedepan seolah tidak ada orang disana. Seolah hanya dia yang berdiri dengan hati bimbang.
'Tidak. Aku tidak boleh lemah. Aku tidak boleh jatuh lagi. Aku tidak boleh terperangkap lagi. Karena aku tidak ingin merasakan sakit itu lagi. Sakit yang membuatku serasa ingin menghilang dari permukaan bumi. Tidak. Aku tidak boleh.' Batin Jaejoong sambil terus berjalan tanpa menoleh kebelakang lagi. Mengabaikan hatinya yang terus menyuruhnya untuk berbalik.
Start Story
Author PoV
Sudah genap 4 hari Yunho dirawat dirumah sakit dan selama itu Jaejoong sama sekali tidak pernah mengunjunginya. Kondisi Yunho yang awalnya tidak terlalu parah dan diperkirakan bisa pulang setelah perawatan selama 2 hari kini malah sebaliknya. Luka pada lambungnya semakin menyebar membuatnya tidak dapat bangkit dari kegiatan berbaringnya.
Keadaan ini tentu membuat sahabat dan keluarga dari kedua namja kekanakan tersebut kesal. Menghadapi dua namja dengan sikap yang sama-sama menyebalkan benar-benar melelahkan. Satu keras kepala karena takut dengan masa lalunya dan satu lagi terlalu takut merusak kebahagiaan namja yang dicintainya.
"Aku benar-benar ingin menghancurkan kepala mereka berdua. Sial!" Umpat Jiyoung ditengah perjalanannya menuju ruangan Yunho. Kali ini hanya Seunghyun dan Jiyoung yang ada disana. Dua pasangan lainnya mengatakan akan menyusul nanti karena masih ada sesuatu yang harus diselesaikan. Sebelum menuju rumah sakit mereka berdua pergi ke apartemen Jaejoong, mencoba membujuk namja cantik itu untuk menjenguk Yunho. Tapi seperti yang sudah diduga sebelumnya, namja itu menolak mentah-mentah ajakan sahabat-sahabatnya membuat Jiyoung yang tenang tidak bisa berhenti mengumpat sejak tadi. Seunghyun yang melihat kekasihnya terus berkata kasar sejak hanya tadi hanya diam sambil bersumpah dalam hati untuk menjauhkan kekasih manisnya itu dari Kyuhyun. Namja evil itu benar-benar membawa pengaruh buruk untuk kekasihnya.
"Geu Saekki-ya!" umpat Jiyoung lagi yang membuat telinga Seunghyun panas. Dia menahan lengan Jiyoung membuat namja yang lebih pendek darinya itu berhenti melangkah sekaligus menghentikan umpatannya yang masih berada di tengah jalan.
"Berhenti mengumpat, Ji. Aku tidak suka mendengarmu mengatakan kata-kata kasar seperti itu." Ujar Seunghyun dengan tatapan tajamnya, "Aku tahu kau kesal, tapi umpatanmu tidak akan merubah semuanya menjadi lebih baik." Seunghyun memotong kalimat Jiyoung yang hendak membela diri. Jiyoung yang melihat tatapan Seunghyun padanya hanya bisa mengangguk pelan kemudiam melanjutkan langkahnya tanpa menunggu Seunghyun. Merajuk, eoh?
Seunghyun menghela nafas melihat kelakuan kekasihnya itu. Tadi dia mengumpat mengatakan banyak kata-kata kasar yang tidak pantas untuk dikatakan, sekarang dia bersikap seperti anak kecil yang baru saja dimarahi orang tuanya.
"Aish, naga kecil itu benar-benar.." gumamnya sebelum menyusul Jiyoung dan membujuknya untuk berhenti merajuk.
Pasangan itu terus berdebat sampai di lorong tempat Yunho dirawat. "Aish, kau benar-benar seperti yeodongsaengku, Ji!" rutuk Seunghyun karena Jiyoung yang tetap teguh dengan kegiatan merajuknya.
"Ya!.."
Praaaangggg….
Teriakan Jiyoung terputus karena suara barang yang dibanting terdengan dari ruangan di depan mereka, tepatnya dari ruangan Yunho. Kedua namja itu pun sontak berlari kecil menuju kamar Yunho dan membukanya cepat.
"Aku sudah mengatakan pada kalian kalau aku tidak mau makan! Kenapa kalian tetap datang dan memaksaku, eoh?! Apa kalian tuli?!" bentak Yunho pada seorang perawat wanita yang kini hanya berdiri dengan badan bergetar takut. Siapa yang tidak merasa takut jika ada pasien dengan wajah tirus pucat memelototkan matanya kearahmu? Itu terlihat seperti salah satu adegan di film horor yang sering ditonton Kyuhyun dan Changmin.
"J-jeoseonghamnida, Y-Yunho ssi. T-tapi anda harus m-makan, sudah beberapa hari ini a-anda tidak makan. Jika anda t-terus begini, kesehatan a-anda tidak akan c-cepat pulih." Lirih perawat itu yang masih cukup bisa untuk didengar orang-orang disekitarnya.
"Lalu apa pedulimu kalau aku tidak sembuh, eoh?! Apa aku meminta uang padamu untuk membayar perawatanku disini?! Apa kau akan mati kalau aku tidak pulih?!" bentak Yunho lagi. Tubuh perawat itu benar-benar bergetar sekarang. Seunghyun berpikir dia harus bertindak segera sebelum perawat itu menangis disini.
"Sudahlah, Yunho hyung. Perawat itu benar, tidak seharusnya kau tidak makan makananmu. Kesehatanmu sangat penting, Yunho." Seunghyun merapikan bekas piring yang tadi dilempar Yunho dibantu oleh perawat tadi. Gadis berpakaian rapi itu keluar setelah Seunghyun menyuruhnya untuk membawa makanan yang baru.
"Wae?! Sekarang kau bahkan memaksaku?! Cih!" Yunho membalikkan badannya membelakangi Seunghyun dan Jiyoung. Sikap Yunho yang seperti itu behasil membuat Jiyoung geram.
"Kau pikir dengan bersikap seperti ini Jaejoong hyung akan datang?" geram Jiyoung membuat Yunho sedikit tersentak. Suasana hening sejenak sebelum Yunho mengatakan hal yang membuat dua namja yang mengunjunginya kaget.
"Jangan membicarakannya lagi didepanku. Dia sudah bahagia sekarang. Biarkan aku melupakannya." Yunho menarik selimut menyelimuti dirinya menghiraukan dua sahabatnya yang hanya bisa diam tak percaya.
Jiyoung menarik tangan Seunghyun keluar dari ruangan Yunho. Matanya menatap Seunghyun datar. Tapi Seunghyun tahu, dibalik tatapan datar itu, ada rasa simpati yang besar.
"Hyung… lakukan apapun untuk membawa Jaejoong hyung kemari. Biarkan dia melihat bagaimana keadaan Yunho hyung." Pintanya lirih dengan kepala menunduk.
"Aku bisa, Ji. Tapi, hasilnya akan lebih pasti jika aku menyuruh dua anak setan itu yang melakukannya." Seunghyun merogoh ponsel dari saku celananya kemudian menghubungi Changmin.
"Neo eodiga?" tanyanya.
"…."
"Ah… kalau begitu kau jemput Jaejoong hyung dan bawa dia kesini."
"…."
"Lakukan apapun untuk membawanya."
"…"
"Ba-wa di-a, Shim-Changmin. Atau kau tidak akan melihat Yunho hyung lagi!" ancam Seunghyun geram yang membuat namja jangkung di seberang sana kaget.
"…."
"Ne, bawa dia dengan cara apapun. Kalau dia tidak mau berjalan, seret dia! Lakukan apapum asal bisa membuatnya ada disini. Secepatnya!"
Seunghyun menutup sambungan teleponnya kemudian merengkuh tubuh Jiyoung yang menatap kosong kedepan.
"Tenang saja, semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan yang menyesal nantinya." Ujar Seunghyun menenangkan Jiyoung.
Changmin Side
Still Author PoV
"Ahh…. Melelahkan." Gerutu Kyuhyun.
"Apa yang melelahkan? Kau hanya duduk mengerjakan soal matematika di kursimu, Shim Kyuhyun. Aku heran kenapa kau masih saja mengerjakan soal matematika saat kau masuk Fakultas Seni." Tanya Changmin heran. Pertanyaan ini tidak henti-hentinya berputar-putar di kepalanya.
"Kau sudah menanyakan pertanyaan itu ratusan kali, Shim. Dan untukmu, berhenti merubah margaku sesuka hatimu!" sungut Kyuhyun. Kekasihnya itu benar-benar tidak paham keadaan.
"Dan kau juga ratusan kali menolak menjawab pertanyaanku itu. Berhenti merubah margamu? Itu tidak mungkin, Kyunie. Karena sebentar lagi kau benar-benar akan menjadi Nyonya Shim." Gombal Changmin dengan menaik turunkan alisnya.
"Cih, kau menggelikan!" sinis Kyuhyun. Padahal wajahnya kini mulai memerah.
"Ahhh…. Kau memerah, Baby Kyunie.." goda Changmin sambil mendekatkan kepalanya pelan. Kyuhyun yang merasakan alarm tanda bahaya segera memundurkan kepalanya hingga punggungnya menabrak pintu mobil dibelakangnya.
Changmin yang melihat Kyuhyun mulai terpojok mulai tersenyum mesum membuat Kyuhyun bergidik. Jarak wajah Kyuhyun dan Changmin hanya terpaut 5 cm. Changmin baru saja hendak menyentuhkan bibirnya di bibir merona Kyuhyun sebelum dering ponselnya membuat konsentrasinya pecah dan memberi kesempatan bagi Kyuhyun untuk mendorongnya menjauh.
"Aish… menganggu." Gerutu Changmin.
"Berhentilah menggerutu dan angkat saja, Shim mesum!" ketus Kyuhyun dengan wajah semerah apel matang.
"Arasseo. Aku tidak akan melepasmu nanti setelah menerima telpon ini, Kyunie." Kyuhyun membelalakkan matanya horor dan melirik kearah kekasihnya yang kini menempelkan ponsel ke telingannya dengan senyum mesum yang terus menempel di bibir sexynya.
"Yeoboseyo.. waeyo hyung?"
"…."
"Aku? Aku masih ada di tempat parkir fakultas Kyunie. Baru saja aku akan menyusulmu dan Jiyoung ke rumah sakit. Waeyo?"
"…"
"Mwo? Kenapa hyung menyuruhku? Hyung tahu sendiri Jae hyung pasti akan menolak. Aku tidak mau menjadi bulan-bulanannya."
"…."
"Tapi, hyung…"
"….."
"MWO?! Apa maksudmu?! Apa Yunho hyung…"
Kyuhyun menatap heran Changmin yang memasang wajah serius setelah menerima telepon dari salah satu hyungnya.
"Seunghyun hyung. Dia bilang kita harus menjemput Jae hyung dan membawanya menemui Yunho hyung." Ujar Changmin seolah mengerti keheranan Kyuhyun.
"Mwo?! Kenapa mereka bisa seenaknya begitu? Aku tidak mau diusir lagi."
"Tapi Yunho hyung…"
"Aku tidak mau. Kukatakan aku tidak mau, Shim."
"Tapi, Kyu, Yunho hyung.."
"Aku tidak peduli. Aku tidak mau dipandang aneh oleh tetangga Jae hyung lagi."
"CHO KYUHYUN! Bisakah kau tidak egois?! Kita jemput Jae hyung sekarang. Kalau kau tidak mau melakukannya kau hanya perlu menunggu di mobil dan aku yang akan menemui Jae hyung." Kyuhyun melirik kearah Changmin yang kini memasang wajah emosi. Dia menunduk, seharusnya dia tahu bahwa Yunho sangat penting bagi Changmin. Tidak seharusnya dia mengatakan tidak peduli terhadap Yunho, pantas saja Changmin marah dan kesal padanya.
Kyuhyun dan Changmin memasuki halaman apartement Jaejoong dan bersama-sama masuk kesana menamui Jaejoong. Keduanya saling menatap kemudian menganggukkan kepala sebelum membunyikan bel.
"Nugu?" tanya seeorang dari dalam.
"Aku dan Kyuhyun, hyung." Setelah mendapat jawaban, pintu di depan mereka terbuka menampilkan Jaejoong dengan wajah datarnya.
"Aku tahu kalian akan memaksaku menemui Yunho. Tapi kukatakan pada kalian, aku tidak mau menemui namja itu. Kalian mengerti?!" bentak Jaejoong.
"Setidaknya bukakan kami pintu, hyung. Kau membuat kami terlihat seperti dua orang aneh."
Cklek…
"Kalian mau apa?" Jaejoong berdiri di tengah-tengah pintu dengan tangan bersedekap di depan dada.
Melihat Jaejoong ada di depan mata, Changmin dan Kyuhyun bergerak secepat kilat menahan Jaejoong. Kyuhyun membekap mulut Jaejoong dengan sebelah tangannya dan sebelah tangannya yang lain memegang tangan kanan Jaejoong. Sedangkan Changmin menahan tangan kiri namja cantik itu sekaligus mendorong badannya dari belakang.
Jaejoong berusaha menjerit meminta pertolongan pada tetangga apartemen yang ada diluar meskipun yang keluar dari bibir plumnya hanya dengungan. Jaejoong mengernyitkan kening melihat tetangganya hanya melihatnya iba tanpa ada niat untuk menolongnya.
"Semoga cepat sembuh, Jae." Ujar salah satu tetangganya membuat kerutan di keningnya makin dalam.
"Kenapa kau membekap mulutnya seperti itu?" pertanyaan salah seorang pemuda membuat Kyuhyun sedikit gelagapan. Tapi jangan sebut dia Kyuhyun si jenius jika dia tidak bisa menjawab pertanyaan menjebak seperti itu.
"Aku lupa membawa masker. Daripada menular, aku menutupnya dengan tanganku. Apa kau mau menggantikanku?" jawab Kyuhyun sedikit sinis. Pemuda yang tadi bertanya hanya mengedikkan bahu.
"Sudahlah, Jae. Jangan terus memberontak. Ikuti saja dua namja tampan itu kerumah sakit. Daripada sakitmu makin parah." Jaejoong melirik Kyuhyun yang juga melihat kearahnya kemudian memberikan tatapan 'apa – yang – sudah – kalian – katakan – pada - mereka?!'
"Dengar, kan, Jae hyung? Lebih baik kau IKUT kami kerumah sakit!" ujar Changmin penuh penekanan yang hanya dibalas delikan mata oleh Jaejoong yang kini hanya pasrah karena terlalu lelah memberontak. Biarlah pemberontakannya dia lanjutkan nanti di rumah sakit.
"Haaaa~hh… YA! Kalian ingin membunuhku, ya!" teriak Jaejoong begitu Changmin memasukkannya kedalam mobil dan Kyuhyun melepas bekapannya.
"Ani. Kami hanya ingin membawamu kerumah sakit. Kalau kau mau, tadi kami memang ingin melukaimu agar memiliki alasan untuk membawamu kesana." Jawab Changmin sambil perlahan mengeluarkan mobil dari parkiran apartemen Jaejoong.
"Kalian benar-benar namja terevil yang pernah kukenal." Gerutu Jaejoong geram.
"Itu belum seberapa, hyung. Kau belum melihat bagaimana kalau kami benar-benar berubah menjadi evil."
"Aku berharap tidak pernah melihat aksi kalian." Jawab Jaejoong sambil meringis.
"Itu terserah hyung." Jawab Kyuhyun acuh.
Setelah perdebatan yang sama sekali tidak penting tadi, keadaan di dalam mobil tadi menjadi sunyi. Jaejoong sedang sibuk dengan bagaimana cara dia kabur dari dua evil kerasukan setan itu. Tadi dia sempat diberitahu Kyuhyun kenapa penghuni apartemennya tidak menghalangi mereka menculik Jaejoong. Ternyata dua makhluk itu memanipulasi fakta dengan mengatakan bahwa Jaejoong terkena penyakit parah yang menular jika tidak segera dibawa kerumah sakit. Mereka sengaja berbicara keras di lift yang penuh orang untuk menarik perhatian dan tentu saja lift yang penuh dengan ibu-ibu yang tadinya sunyi senyap berubah menjadi ajang wawancara mengenai penyakit –bohongan- Jaejoong.
"Selanjutnya serahkan saja pada ibu-ibu itu untuk menjadi agent," ujar Kyuhyun dengan alis kepala yang naik turun membuat Jaejoong muak.
Oleh karena itu sekarang Jaejoong mati-matian berpikir cara untuk kabur. Dia benar-benar panik apalagi saat mobil mulai masuk pelataran rumah sakit dan dia belum mendapatkan ide sama sekali. Sampai Changmin mmebukakan pintu untuknya dia masih belum mempunyai ide. Dan akhirnya dia hanya pasrah mengikuti kemauan dua namja berwajah imut berhati iblis dibelakangnya.
"Jaejoong hyung!" teriak Jiyoung riang begitu mata tajamnya melihat Jaejoong bersama dengan Changmin dan Kyuhyun.
"Hn." Gumam Jaejoong malas.
"Hyung, harus melihat bagaimana keadaan Yunho hyung." Ujar Jiyoung membuat Jaejoong menghela nafas.
"Kenapa aku harus tahu bagaimana keadaan beruang itu? Kau pikir aku ibunya?" sinis Jaejoong.
"Aku tidak peduli apa alasanmu. Yang pasti kau harus melihat kedaaan Yunho hyung.!" Jiyoung menarik tangan kanan Jaejoong kemudian melempar namja cantik itu kedalam ruangan Yunho kemudian menahan pintunya agar Jaejoong tidak bisa keluar.
"Ya! Jiyoung-ah! Buka pintunya!" pekik Jaejoong pelan, tangannya tidak berhenti saling tarik menarik pintu dengan Jiyoung.
"Jangan berisik, hyung. Yunho hyung sedang tidur. Kalau kau lelah, tidurlah juga disana. Ranjang Yunho hyung cukup untuk kalian berdua." Ujar Jiyoung masih berusaha menahan tenaga Jaejoong. Beruntung mereka berdua sama-sama uke.
"Dalam mimpimu!" bentak Jaejoong.
"Ngghhhh…. Siapa?" Jaejoong menoleh begitu mendengar suara di belakangnya. Disana dia melihat Yunho yang terbaring lemah. Tubuh yang dulu kekar terbentuk itu kini terlihat begitu kurus.
"Kau membuat Yunho hyung terbangun. Jadi kau yang harus merawatnya." Ujar Jiyoung.
"YA! Panggil aku hyung! Aku lebih tua dua tahun darimu, naga pendek!" bentak Jaejoong kesal.
"Berdamailah dengan Yunho hyung dulu, gajah centil!"
"Aish… tunggu saat aku keluar. Aku akan membunuhmu, Kwon Jiyoung!"
"Keluarlah, jangan berisik!" lirih Yunho.
Jaejoong berbalik kearah ranjang Yunho. Melangkah mendekat beberapa langkah.
"Kenapa kau jadi seperti ini? Kenapa suaramu jadi lemah seperti itu?" sinis Jaejoong. Tapi tak ada jawaban dari Yunho.
"Apa kau juga tidak memiliki energi lagi untuk membalas perkataanku?" hening. Tak ada jawaban dari Yunho.
"Hei, Yunho-ssi, kau mendengarku?" tanya Jaejoong karena tidak mendapat tanggapan sama sekali dari Yunho. Kakinya melangkah lebih mendekat kearah Yunho yang berbaring membelakanginya.
"Ya! Yunho-ssi. Jawab kalau ada yang bicara denganmu!" sentak Jaejoong tapi tetap tidak ada respons dari Yunho.
"Yunho-ssi? Jung Yunho-ssi?!" Yunho menyentuh pundak Yunho dan membaliknya. "Omo.! Yunho-ya!" pekik Jaejoong. Tanpa pikir panjang dia segera berlari kearah pintu.
"Ji! Buka pintunya!"
"Tidak. Kalau kau ingin kabur, tidur sekarang dan bermimpilah!" jawab Jiyoung yang masih bertahan di depan pintu kamar Yunho.
"Jangan main-main, Kwon Jiyoung! Kalau kau tidak ingin aku keluar, setidaknya mintakan makanan untuk Yunho! Dia SEKARAT, pabo!" teriak Jaejoong kalap. Dia benar-benar khawatir dengan keadaan namja musang itu. Saat tadi dia membalik tubuh itu menghadapnya, Yunho terlihat benar-benar kesakitan. Wajahnya pucat, pipinya tirus, matanya terpejam erat dengan keringat dingin di dahinya, bibirnya digigit kencang untuk menahan rasa sakit dengan tangan yang menekan perutnya.
"Mwo?!" bukan hanya Jiyoung yang berteriak, tapi semua yang ada diluar.
"Changmin-ah, minta makanan ke suster sekarang! Palli!" teriak Jiyoung yang langsung dilakukan oleh Changmin.
Jiyoung membuka pintu kemudian berlari masuk diikuti Kyuhyun dan Seunghyun. Junsu dan Yoochun yang baru datang juga ikut masuk. Orang tua Yunho dan Jaejoong tidak bisa datang karena sedang ada pertemuan klien di luar negeri.
"Waeyo, hyung?" tanya Yoochun pada Jaejoong yang kini duduk di ranjang Yunho.
"Molla. Dia memang begini ketika aku melihatnya." Entah sadar atau tidak Jaejoong mengelap keringat yang mengalir di dahi Yunho. Yoosu dan Seungyoung serta Kyuhyun yang melihat itu hanya tersenyum.
"Permisi, ini makanan untuk Tuan Yunho." Mereka menoleh kearah suster yang medorong troli berisi makanan diikuti Changmin yang juga mengunyah makanan.
"Terima kasih. Letakkan disana." Suruh Jaejoong.
"Hei, Shim. Bisakah kau berhenti makan disaat darurat seperti ini?" sinis Kyuhyun.
"Aish.. kau terlalu berlebihan, My Baby Kyu. Yunho hyung hanya butuh Jae hyung untuk sembuh. Hei, kau mau ini? Rasanya enak sekali. Tadi aku mencurinya di dapur." Tawar Changmin sambil menyodorkan roti kepada Kyuhyun.
"Makan saja selingkuhanmu itu sendiri!" sinis Kyuhyun. Changmin hanya mengedikkan bahu kemudian memakan roti yang tadi disodorkannya pada Kyuhyun.
Kyuhyun kembali memusatkan perhatiannya pada Jaejoong dan Yunho mengabaikan Changmin yang kini berchomp-chomp ria.
"Yunho-ya, buka matamu. Kau harus makan." Bisik Jaejoong pelan.
"Sudah kukatakan aku tidak mau makan. Kenapa tidak ada yang mengerti?!" lirih Yunho.
"Tapi lambungmu…"
"Jangan pura-pura peduli padaku. Pergilah!"
"Aku tidak pura-pura tidak peduli padamu. Jadi makanlah selagi aku peduli padamu!"
Yunho membuka matanya perlahan. Mata musang itu membulat begitu melihat Jaejoong. Semua kata makian yang hendak dilontarkannya untuk mengusir orang yang memaksanya menghilang entah kemana. Dia hanya bisa membuka dan menutup mulutnya tak percaya melihat orang yang membencinya ada disini.
"J-Jae? Kau disini?" tanyanya memastikan.
"Kau baru sadar?" tanya Jaejoong yang hanya dibalas anggukan Yunho, "Aku sudah disini sejak satu jam yang lalu. Sekarang waktunya kau makan. Buka mulutmu!"
"Aku tidak bisa bangun dan perutku tidak bisa menerima makanan." Jawab Yunho lirih.
"Kau hanya perlu memasukkan makanan kedalam perutmu! Jangan turuti kemauan lambungmu! Buka mulutmu! Aku akan menyuapimu."
Perlahan Yunho membuka mulutnya dan Jaejoong memasukkan sedikit bubur kedalam mulutnya. Awalnya Yunho memang merasa mual dan berulang kali nyaris memuntahkan makanannya tapi Jaejoong melarang.
"Aku sudah tidak sanggup, Jae."
"Ini yang terakhir. Majimak jinjja." Ujar Jaejoong meyakinkan membuat Yunho membuka mulutnya. " Joha. Sekarang kau harus minum obat."
Jaejoong mengerutkan kening melihat banyaknya obat di meja nakas Yunho. Dia tidak tahu obat-obat ini diminum kapan dan berapa kali. Akhirnya dia memutuskan untuk bertanya pada Jiyoung, Changmin atau siapapun diluar. Yap, ketiga couple itu sepakat keluar saat Jaejoong tengah menyuapi Yunho.
"Ada yang tahu obat mana yang harus diminum Yunho sekarang?" tanyanya. Changmin yang mendengar pertanyaan Jaejoong akhirnya mengikuti namja cantik itu masuk dan kembali keluar setelah memberi tahu obat yang harus diminum Yunho kapan dan berapa kali.
"Ini obatmu, minumlah." Jaejoong menyodorkan beberapa keping obat kearah Yunho yang langsung diminum oleh Yunho.
"Terima kasih." Ucap Yunho sambil menyerahkan segelas air ditangannya ketangan Jaejoong.
"Tidak masalah. Sekarang tidurlah, aku harus pulang." Jaejoong baru saja berbalik tapi tangan Yunho menahannya.
"Temani aku sebentar, setidaknya sampai aku tidur." Pinta Yunho. Jaejoong menatap mata musang Yunho kemudian menghela nafas. Dia menarik kursi di sebelah ranjang Yunho.
"Tidurlah." Ujarnya.
Perlahan Yunho memejamkan matanya dengan senyum dibibirnya. Jaejoong yang melihat Yunho mulai tertidur tanpa sadar menyunggingkan senyumnya. Tangannya yang sejak tadi dipegangi Yunho juga terus dipandanginya hingga kantuk mendatanginya. Perlahan kepalanya dia tidurkan di ranjang Yunho berbantalan tangannya dan Yunho.
Tinggalkan saja couple bodoh di dalam sana, kita lihat bagaimana keadaan diluar sana.
…
Ketiga couple sahabat Yunjae kini tengah berada di kantin karena ajakan si Food Monster Changmin yang terus merengek lapar. Tidak tahan dengan rengekan aneh Changmin, akhirnya mereka memutuskan mengikuti keinginan Changmin dan berakhir dengan mereka duduk di meja kantin yang terletak dekat dengan jendela. Tapi meja itu kini hanya ditempati oleh Yoosu sedangkan yang lain tengah memesan makanan.
Yoochun sejak tadi tidak lepas memandangi Junsu yang terus tersenyum sesekali menyeringai. Ia merasa aneh karena Junsu tidak biasanya menunjukkan eksoresi seperti itu. Semenjak kepulangan Jaejoong, Junsu hanya bisa menampilkan ekspresi murung dan hanya sesekali tersenyum itupun terlihat dipaksakan.
"Su-ie, waeyo? Apa ada yang membuatmu senang?" tanya Yoochun tidak sanggup menahan rasa penasarannya.
Junsu berbalik kearah Yoochun dan tersenyum dengan amat sangat manis yang dihadiahi kecupan di bibirnya oleh Yoochun.
"Chunnie hyung aku senang karena aku berhasil menahan pergerakan penghalang hubungan Yunho hyung dan Jae hyung." Ucap Junsu masih dengan senyum yang mengembang di wajah manisnya.
"Maksudmu Jihye?" tanya Yoochun memastikan yang dibalas anggukan semangat oleh kekasihnya.
"Iya, wanita itu. Aku berhasil melakukan negosiasi dengannya."
"Dengan siapa?" tanya Changmin yang kini duduk berhadapan dengan Junsu. Posisi mereka sekarang adalah Yoochun, Junsu, Jiyoung, Seunghyun, Changmin dan Kyuhyun.
Junsu menghadap kearah Changmin masih dengan senyum yang sama, "Wang Jihye." Ujarnya membuat semua yang disana mengernyitkan kening.
Flashback On
Junsu berjalan menuju kolam renang rumahnya dengan bersungut-sungut.
"Cih, kenapa yeoja ular itu ada disini? Kenapa juga Jae hyung hobi membawa si berbisa itu kesini?" gerutunya.
Baru saja langkahnya sampai di pintu yang menghubungkan rumahnya dengan beranda kolam renang, dia mendengar suara yeoja yang dikenalnya sedang bercakap-cakap di telepon. Percakapan itu cukup berhasil membuat langkahnya berhenti dan memutuskan untuk menguping layaknya stalker.
"Oppa.. kumohon."
"…"
"Aku akan meninggalkannya jika kau menerimaku, Oppa.." suara yeoja yang di dengar Junsu sedikit bergetar.
"…"
"Kenapa kau jahat sekali? Aku mencintaimu, kau tahu itu! Tapi kenapa kau melakukan ini padaku?! Setelah apa yang kau lakukan padaku, kenapa kau tega melakukan ini padaku?!" teriak yeoja itu membuat Junsu mengelus dada.
"…"
"Mencintaiku? Kau bilang kau mencintaiku?! Bagaimana bisa kau mengatakan itu disaat kau lebih memilih wanita lain dibanding aku?!" Junsu mengernyit.
'Tidak kusangka ternyata dia buangan.' Batin Junsu sinis.
"…"
"Apa kau ingat apa yang kau lakukan padaku malam itu?"
"…"
"Apa kau juga tahu apa akibat dari perbuatanmu itu?"
"…"
"Ne. Aku hamil. Aku hamil anakmu, Oppa." Lirih yeoja itu. "Dan sekarang kau membuatku harus menyakiti dua hati yang saling mencintai. Ini semua gara-gara kau. Aku membencimu. Aku membencimu, Oppa."
Junsu melihat yeoja yang ternyata Jihye itu kini jatuh terduduk di kursi koam renang dengan tangan yang menutupi wajahnya. Junsu bisa melihat punggung yeoja itu bergetar pelan yang menandakan dia tengah menangis.
'Jadi… yeoja ular itu bukan hamil anak Jae hyung? Jadi dia hanya menjadikan Jae hyung sebagai kambing hitam?! Sialan!' batin Junsu geram. Dengan langkah lebar, dia menghampiri yeoja yang belum menyadari keberadaannya disana.
"Huh.. ternyata begitu? Ternyata kau tidak benar-benar hamil anak Jae hyung, eoh?" sinis Junsu yang membuat Jihye menolehkan kepalanya cepat. Matanya membelalak lebar melihat keberadaan Junsu disana.
"J-junsu-ssi…" lirihnya gugup. "S-sejak kapan kau ada di-disana?" tambahnya masih tetap gugup. Matanya menatap Junsu takut-takut.
Junsu menyeringai, "Sejak awal kau bercakap-cakap di telepon dengan namja yang entah siapa itu." Sinis Junsu.
Jihye tidak bisa berkata apapun. Bibirnya hanya bisa membuka dan menutup. Matanya memancarkan ketakutan yang sangat kentara. Hal ini membuat seringaian di wajah Junsu makin lebar.
"Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Jae hyung jika dia tahu mengenai hal ini." Sinis Junsu membuat mata Jihye makin membelalak. Kini mata bulat –namun tidak secantik milik Jaejoong- itu mulai berembun kembali.
"Andwae! Jangan lakukan itu, Junsu-ssi. Jangan katakan apapun pada Jaejoong oppa. Aku.. aku benar-benar tidak tahu lagi jika sampai Jaejoong oppa membatalkan pernikahan ini." Jihye memegang tangan Junsu erat, memohon dengan air mata yang mulai mengalirkan cairan bening.
"Kau bertanya apa yang akan dilakukan oleh Jae hyung? Tentu saja membuangmu."
"Andwae! Kumohon jangan, Junsu-ssi. Jae oppa merupakan harapan terakhirku. Aku tidak tahu bagaimana hidupku nanti." Ujar Jihye dengan air mata yang mengalir makin deras.
"Apa peduliku? Kenapa kau tidak kembali saja pada namja yang mencampakkanmu itu? Dan berhenti menganggu hyungku!" sinis Junsu kini disertai dengan tatapannya yang tajam. Dia menghempas tangan Jihye kemudian berjalan menjauh. Di kepalanya kini dipenuhi rencana memberitahu Jaejoong dan membatalkan rencana pernikahan konyol hyungnya dengan yeoja berbisa yang entah ditemukan dimana oleh hyung bodohnya.
"Mau mendengar cerita Junsu-ssi? Mungkin ini bisa merubah pikiranmu." Junsu berhenti ketika mendengar ucapan Jihye. Kepalanya menoleh melihat Jihye yang kini menundukkan kepalanya dengan tangan yang memilin-milin ujung gaunnya hingga kusut.
"Ceritakan. Cepat, aku tidak mempunyai banyak waktu."
"Gomawo." Jihye tersenyum getir sebelum memulai ceritanya. "Dulu aku mempunyai seorang kekasih. Namja yang tadi kutelepon adalah kekasihku dulu, atau sebenarnya masih kekasihku karena tidak pernah ada kata putus yang terucap diantara kami berdua. Kami saling mencintai dan sangat bahagia. Lalu semua terjadi. Sepeti yang kau ketahui, aku hanya orang miskin. Tapi biarkan aku meluruskan sesuatu dulu, aku bukan wanita murahan seperti yang kalian pikirkan. Aku menerima tawaran Jae oppa untuk berpura-pura menjadi teman one night standnya dengan tujuan yang tidak kuketahui awalnya, tapi sekarang aku tahu." Jihye menghela nafas sebentar sebelum melanjutkan ceritanya. Junsu yang tadi berdiri entah sejak kapan kini duduk disamping Jihye.
"Lalu?" tanyanya datar tanpa menatap Jihye.
"Kekasihku anak keluarga terhormat. Seperti yang sudah kuduga, mereka tidak merestui hubungan kami. Dia dijodohkan dengan seorang yeoja dari keluarga terhormat juga. Awalnya dia menolak dan memilih tinggal denganku di flat kecilku. Lalu sampai malam itu, kami benar-benar tidak sadar apa yang kami lakukan saat itu. Hanya nafsu setan yang menguaai kami hingga kami melakukan hal yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh pasangan sebelum menikah. Dia meminta maaf dan aku memaafkannya karena kami melakukannya atas dasar suka sama suka. Kemudian…" Jihye menghapus air mata yang tiba-tiba turun dari pelupuk matanya. "Semuanya terjadi begitu cepat. Pengawal keluarga kekasihku datang ke flatku dan memaksa kekasihku pulang. Kami tidak bisa melakukan apa-apa. Setelah mengucapkan dia tidak akan meninggalkanku, dia akhirnya pergi dengan pengawal keluarganya."
"Lalu kenapa dia meninggalkanmu? Apa kau ketahan berselingkuh?" Junsu masih belum bisa menghilangkan nada sinis pada nada bicaranya.
"Aniyo! Kumohon jangan berburuk sangka padaku. Setelah kejadian itu, dia tidak pernah lagi menemuiku. Hingga suatu hari aku melihat dia bersama dengan seorang yeoja yang kuakui sangat cantik dan anggun. Saat itu aku safar, yeoja itu adalah tunangannya dan aku tidak mungkin bisa menandingi yeoja itu. Dan akhirnya aku menyerah. Tapi tidak sampai disitu, dokter mengatakan aku hamil. Tanpa bertanya lagi, sudah jelas siapa ayah dari anak ini. Aku berusaha menghubunginya tapi dia tidak bisa dihubungi, aku juga mendatangi rumahnya, tapi aku diusir dan dia hanya berdiri diam tanpa melakukan apa-apa. Aku frustasi.. Aku tidak mau menggugurkannya, walau bagaimanapun dia adalah anakku bersama orang yang kucintai. Berhari-hari aku hanya duduk dia merenungi nasib dirumah memikirkan bagaimana nasib anak ini begitu dia lahir. Sampai aku mengingat hyungmu. Aku minta maaf untuk perbuatan licikku. Tapi sungguh, aku tidak punya pilihan lain.." Jihye kini menangis.
Junsu menatap Jihye. Walaupun samar, ada pancaran iba dimata ramahnya. "Apa ceritamu ini hanya karanganmu untuk mendapat simpatiku?"
"Tidak, Junsu-ssi. Untuk apa aku melakukan itu? Kalau memang aku berniat melakukan itu, seharusnya aku melakukannya sejak dulu."
"Bagaimana kau menjebak hyungku?" tanya Junsu.
"Aku mengajaknya bertemu. Membuatnya mabuk dan membawanya ke hotel. Setelah itu ku langsung pergi meninggalkannya dan meninggalkan catatan. 'Terima kasih untuk semalam. Aku sudah memakaikan bajumu. Jadi kau bisa langsung pulang.' Aku benar-benar minta maaf. Aku terpaksa melakukan ini. Aku benar-benar tidak tahu kalau perbuatanku menyakiti dua hati. Tapi kumohon, Junsu-ssi. Setidaknya sampai bayi ini lahir. Aku tidak ingin anakku dipandang rendah oleh masyarakat karena tidak punya ayah. Cukup aku saja yang merasakan pahitnya dunia, tapi tidak anakku."
"Baiklah. Aku tidak akan memberitahu Jae hyung. Aku juga minta maaf atas nama keluargaku yang telah bersikap buruk terhadapmu."
"Terima kasih, Junsu-ssi. Terima kasih. Setelah nanati anak ini lahir dan Jaejoong oppa sudah menceraikanku, aku bersedia menjadi pelayan di rumahmu nanti. Tanpa dibayar pun tak apa sebagai ucapan terima kasih telah membantu anakku." Jihye memegang tangan Junsu erat.
"Tidak usah seperti itu. Ceritakan padaku jika kau memang punya masalah." Junsu tersenyum manis. Senyum pertama yang dilihat Jihye. Ini membuatnya bersyukur setidaknya ada satu orang yang percaya padanya diantara banyak orang yang mencelanya. Dia cukup senang. Setidaknya dia punya teman untuk berbagi sekarang.
"Tapi Jihye-ssi. Aku tetap keberatan dengan pernikahan antara kau dan Jae hyung. Kau mau bertaruh?" Junsu membisikkan sesuatu di telinga Jihye membuat Jihye kaget. "Bagaimana? Kau setuju?" Jihye menatap Junsu lama kemudian mengangguk.
Junsu tersenyum kemudian mngusap kepala Jihye yang membuat Jihye merengut, "Aku lebih tua darimu, Junsu-ssi."
"Panggil saja Junsu. Boleh aku memanggilmu noona?"
"Terserah asalkan kau tidak memanggilku 'yeoja ular' lagi." Dua insan itu tertawa.
"Noona, beritahu aku nama kekasihmu dan alamat rumahnya. Aku akan berusaha menemuinya dan bicara padanya." Jihye menatap Junsu lama sebelum membisikkan sesuatu di telinga Junsu.
"Noona. Berjanjilah jika aku berhasil meyakinkan namja itu untuk menikahimu, tinggalkan Jae hyung dan bantu kami mendekatkan Jae hyung dan Yunho hyung. Dua namja bodoh itu."
Jihye dia lama sedangkan Junsu menunggu dengan tenang jawaban yang akan keluar dari bibir Jihye. Hingga anggukan Jihye membuat Junsu tersenyum lebar.
"Terima kasih, noona."
"Aku jauh lebih berterima kasih padamu."
Flashback End
"Kau percaya pada yeoja ular itu?" pekik Kyuhyun dan Changmin tidak percaya.
"Aku berusaha untuk mempercayainya. Tapi kupikir ceritanya benar." Jawab Junsu santai.
"Tapi.. tapi dia.."
"Sudahlah. Percaya padaku. Aku menjamin dia mengatakan yang sebenarnya. Sekarang, daripada mengurus hal ini, lebih baik kalian membantuku mencari alamat kekasih Jihye noona." Ujar Junsu malas.
"Mwo? Kau bahkan memanggilnya noona? Apa sekarang dia juga memanggilmu Su-ie?" sinis Kyuhyun. Bukan hanya Kyuhyun, semua namja disana juga menatap tidak percaya kearah Junsu.
"Percayalah padaku kali ini. Eomma dan Ahra noona juga sudah setuju dengan semua rencanaku." Junsu juga sempat menjelaskan mengenai rencananya meskipun yang didapatnya hanya tatapan 'Kau gila' dari teman-temannya.
"Tapi bagaimana kalau seandainya yeoja itu bohong? Yang kau pertaruhkan disini terlalu besar, Su-ie hyung." Ujar Jiyoung yang sedari tad diam. Jujur sebenarnya dia setuju dengan rencana Junsu.
"Tidak masalah. Karena disini aku yang memegang kelemahannya." Junsu menunjukkan seringaiannya yang merambat pada temannya yang lain.
"Aku ikut rencanamu." Ujar Kyuhyun.
"Kami ikut rencanamu, Su-ie." Tambah Yoochun seraya mengecup pelan pipi gembil Junsu.
'Aku percaya padamu, noona. Jadi jangan kecewakan aku dan aku juga tidak akan mengecewakanmu. Aku akan membantumu menyelamatkan kehormatanmu dan anakmu.' Batin Junsu.
.
.
.
.
TBC
Annyeong..
Lama nunggu FF abal ini ya? Mian.. baru selese kuliah nih.. jadi baru bisa lanjut sekarang.. lagian kan Cuma telat beberapa bulan.. ekhem..
Mengecewakan ya? Sangat. Jangan bilang pendek karena ini udah 5k alias 22 page Ms. Word. Gempor tangan gue ngetik. Otak gue juga ngebul mikir ide yang pas.. sempet kepikiran buat discontinued aja soalnya idenya udah pada kabur kedesak sama materi kuliah.. ekhem.. #songong.
Flashback diatas buat reader yang nanya sebenernya peran Jihye itu gimana? Jahat atau baik.. itu penjelasannya. Karakternya dia ngga ketebak.. dia baik tapi juga jahat.. O.o.. itu juga udah nyelip dikit Yunjae moment.. kedepannya momentnya juga makin banyak. Jihye juga udah punya banyak pendukung sekarang..
Entah bakalan jadi apa FF ini nanti.. gue rasa makin kesini makin GJ ini FF.. hahhh… entahlah..
Makasih buat yang udah review di chap kemaren, mian kaga bisa bales, tapi gue baca ko.. berkali-kali malah ampe apal gue.. #songongpart2
Atu lagi, gue lagi bikin FF yunjae baru, judulnya Between kalo minat review ye.. kamsahamnida #koprol
Udah deh.. gue capek..
Annyeong…
