Mianhae, Nado Saranghae
Author : KeiLee
Main Pair : Yunjae (Jung Yunho x Kim Jaejoong)
Other Pair : Yoosu, Changkyu, TOPGD, little bit SiBum.
Other Cast : Go Ahra, Choi Siwon, Choi (Kim) Kibum, dan lainnya akan ditemukan seiring berjalannya cerita.
Genre : Romance, Drama (banget) sinetron Indonesia yang paling drama sampe episodenya ribuan dan berseason-season aja kalah.
Rate : T-M. Gue mulai sedikit terkontaminasi. Tapi Cuma dikit doang. Totally, gue masih polos ko..
Warning : YAOI. BxB. Little STRAIGHT. Typo (s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit layaknya YJS di dunia, DLDR. Lebih sinetron dari sinetron yang paling sinetron (?). Tidak menerima Kritik dengan bahasa yang kasar, paling menerima kripik singkong atau kripik kentang. Biasakan RnR. Kalo bisa baca dulu yang Noona, I Love Him biar lebih nyambung. Judul menipu. Isi berantakan dan maksa banget. Jalan cerita membingungkan dan berantakan sesuai sama idup gue T-T. Menimbulkan resiko mual dan nafsu makan menurun, jadi bagi yang diet dianjurkan membaca #apadeh
ADA PROMOSI DI AKHIR NANTI. BACA, YAAAAA…..!
Okelah, seperti biasa. Gue cool make banget jadi ngga banyak bacot.
So, Check It Out..
.
.
.
.
.
Previous Story..
"Kau percaya pada yeoja ular itu?" pekik Kyuhyun dan Changmin tidak percaya.
"Aku berusaha untuk mempercayainya. Tapi kupikir ceritanya benar." Jawab Junsu santai.
"Tapi.. tapi dia.."
"Sudahlah. Percaya padaku. Aku menjamin dia mengatakan yang sebenarnya. Sekarang, daripada mengurus hal ini, lebih baik kalian membantuku mencari alamat kekasih Jihye noona." Ujar Junsu malas.
"Mwo? Kau bahkan memanggilnya noona? Apa sekarang dia juga memanggilmu Su-ie?" sinis Kyuhyun. Bukan hanya Kyuhyun, semua namja disana juga menatap tidak percaya kearah Junsu.
"Percayalah padaku kali ini. Eomma dan Ahra noona juga sudah setuju dengan semua rencanaku." Junsu juga sempat menjelaskan mengenai rencananya meskipun yang didapatnya hanya tatapan 'Kau gila' dari teman-temannya.
"Tapi bagaimana kalau seandainya yeoja itu bohong? Yang kau pertaruhkan disini terlalu besar, Su-ie hyung." Ujar Jiyoung yang sedari tad diam. Jujur sebenarnya dia setuju dengan rencana Junsu.
"Tidak masalah. Karena disini aku yang memegang kelemahannya." Junsu menunjukkan seringaiannya yang merambat pada temannya yang lain.
"Aku ikut rencanamu." Ujar Kyuhyun.
"Kami ikut rencanamu, Su-ie." Tambah Yoochun seraya mengecup pelan pipi gembil Junsu.
'Aku percaya padamu, noona. Jadi jangan kecewakan aku dan aku juga tidak akan mengecewakanmu. Aku akan membantumu menyelamatkan kehormatanmu dan anakmu.' Batin Junsu.
.
.
Start Story
.
.
Author PoV
Tiga hari sudah berlalu sejak kedatangan Jaejoong kerumah sakit tempat Yunho dirawat meskipun karena dipaksa oleh duo evil, Changmin dan Kyuhyun. Dan selama tiga hari itu Jaejoong selalu –dipaksa- datang kesana hanya sekedar menyuapi Yunho sarapan atau makan siang dan meminum obatnya.
Jaejoong benar-benar ingin membunuh dua anak muda titisan iblis itu setiap kali datang ke apartementnya yang nyaman dan memaksanya datang kerumah sakit. Tentunya dengan banyak sekali alasan untuk membuat tetangganya tidak curiga dengan Changmin atau Kyuhyun yang membekap mulutnya agar tidak berteriak. Dan semua alasan itu berhasil membuat Jaejoong harus menahan malu dan siap ditanyai tetangganya setiap kali berpapasan. Seperti yang baru saja terjadi.
"Jaejoong-ah, kau darimana?" tanya Lee ahjumma yang tinggal tepat disebelah apartementnya.
"Ah, Lee ahjumma. Aku baru dari minimarket di depan." Jaejoong mengangkat kantung belanjaan ditangannya untuk membuktikan perkataannya.
"Ah.. apa bibirmu sudah sembuh?" Jaejoong berteriak kesal dalam hati ketika mendengar pertanyaan ini lagi. Perasaan ingin membunuh Changmin dan Kyuhyun makin besar berkali-kali lipat dibanding biasanya.
"Ne, ahjumma." Tapi pada akhirnya Jaejoong tetap tidak bisa mengatakan pada setiap orang yang bertanya bahwa sebenarnya dia tengah diculik oleh dua namja –yang menurut mereka- tampan.
"Syukurlah.. lain kali jangan melakukan dengan berlebihan lagi, ne. Kau boleh saja melakukannya, tapi pelanlah. Kau saja sampai lecet begitu, bagaimana dengan kekasihmu, eoh?" Lee ahjumma terkekeh pelan.
Jaejoong hanya bisa tertawa hambar mendengar candaan Lee ahjumma. Tidak ingin berlama-lama membicarakan kejadian memalukan itu, dia segera berpamitan dengan Lee ahjumma dengan alasan ingin memasak makan siang untuk temannya yang akan datang berkunjung ke apartementnya. Setelah masuk ke apartementnya, Jaejoong melempar kantung belanjaanya dan mengacak rambutnya kesal. Masih segar di ingatannya ketika dua namja aneh itu mempermalukannya di depan semua tetangga apartementnya.
"Apanya yang lecet?! Bahkan bibirku masih baik-baik saja! Namja sialan!" teriak Jaejoong. Untungnya apartementnya kedap suara kalau tidak, mungkin tetangganya makin menatapnya aneh. "Bibir lecet karena ciuman berlebihan?! Menutup mulutku karena aku terlalu malu untuk menunjukkannya?! Apa mereka tidak punya alasan yang lebih konyol dari itu?! Sialan!" gerutu dan umpat Jaejoong sambil mengumpulkan belanjaannya yang berantakan karena dia lempar tadi. "Shim sialan! Cho sialan! JUNG SIALAN!" Jaejoong meremas tomat yang ada ditangannya sampai hancur dan mencipratkan cairan merah kemana-mana.
.
At hospital
Yunho tersentak bangun dari tidurnya dan mendudukkan badannya. Kepalanya melihat sekeliling ruangannya yang luas mencari keberadaan orang disana.
"Tidak ada orang. Tapi kenapa aku merasakan ada yang berteriak padaku?" Yunho meraba tengkuknya yang mulai merinding.
"Kuharap Jaejoong segera datang." Gumamnya sambil kembali membaringkan badannya. Dia tidak tahu bahwa yang membuatnya merinding adalah orang yang paling diharapkannya.
…
Ting… Tong…
Namja cantik yang kini mengenakan apron berwarna merah muda itu mematikan kompornya ketika mendengar suara bel. Tanpa melepas apronnya, dia melangkah menuju pintu. Sebelum membuka pintu dia mengambil tongkat golf miliknya untuk jaga-jaga jika yang datang adalah duo evil tidak diharapkan. Perlahan tangan seputih susu itu membuka pintu.
Mata bulat beningnya membelalak melihat siapa yang datang. Tangan yang tadi mengangkat tongkat golf diturunkannya perlahan. Dia tidak percaya dengan apa yang ada dhadapannya.
Wang Jihye ada di hadapanya dengan koper besar dibelakangnya.
"Jihye-ssi." Gumamnya.
"Annyeong, oppa. Boleh aku masuk dan menjelaskannya di dalam?" tanya Jihye yang hanya dibalas anggukan patah-patah dari Jaejoong. Setelah mempersilahkan Jihye duduk, Jaejoong berjalan menuju dapur mengambilkan Jihye minuman dan makanan.
"Silahkan dinikmati, Jihye-ssi."
"Terima kasih, Oppa." Jihye menyeruput teh yang dihidangkan Jaejoong dengan anggun. "Mian jika aku mengganggu acara memasakmu, oppa."
"Gwaenchanna. Aku juga sudah selesai memasak. Kau sudah sarapan?" tanya Jaejoong dengan wajah datar seperti biasa. Dia sudah melepas apron yang tadi dipakainya.
"Bolehkah?" Tanya Jihye memastikan yang dijawab anggukan Jaejoong.
Namja itu mengajak Jihye menuju meja makan dan mengambilkan piring, sendok dan sumpit untuknya. Dua anak manusia berbeda gender itu makan dengan tenang, tak ada satupun dari mereka berniat untuk membuka percakapan.
"Ada apa?" Tanya Jaejoong datar setelah menyelesaikan makannya. Tangannya terulur mengambil piring di hadapan Jihye dan meletakkannya di tempat pencucian piring.
"Ne?" Tanya Jihye memastikan.
"Apa tujuanmu datang kesini? Dengan membawa itu?" Mata bulat Jaejoonf mengerling kearah koper besar yang terletak di sebelah sofa.
Jihye diam. Tangannya saling meremas. Kepalanya tertunduk dengan sesekali melirik takut kearah Jaejoong yang menatapnya penuh intimidasi.
"Malhaebwa. Atau pergi saja dari sini." Jaejoong baru saja beranjak dari duduknya tapi tangan putih pucat Jihye menahannya.
"Chakkaman, Oppa. Aku akan mengatakannya, tapi bisakah kita pindah ke ruang tamu saja? Perutku mual melihat bekas masakan ini." Ujar Jihye melirik sisa makanan di atas meja, "Maksudku, karena ini, oppa. Bukan bermaksud menyinggungmu." Ralat Jihye cepat sebelum Jaejoong sempat berbicara. Tangannya mengelus perutnya yang mulai membesar.
"Aku tahu." Jawab Jaejoong sambil lalu melangkah menuju ruang tamu diikuti oleh Jihye.
"Sekarang katakan!"
Jihye menghela nafas, "Aku akan tinggal bersamamu mulai hari ini, oppa."ujar Jihye sambil menunduk dengan memejamkan mata erat. Takut melihat reaksi yang akan ditunjukkan Jaejoong.
"Wae? Atas dasar apa kau mengatakan itu?"
"Eomma dan Appamu yang menyuruhku." Jawab Jihye berusaha menatap mata Jaejoong yang tidak kalah bulat dengan miliknya.
"Mwo?!"Pekik Jaejoong. Dia benar-benar tidak paham dengan apa yang telah terjadi. Bagaimana tidak? Keluarganya yang semula membenci Jihye setengah hidup berbalik jadi memanjakannya.
Flashback On
Jaejoong melangkahkan kakinya malas menuju kediaman keluarganya. Ayahnya tiba-tiba meneleponnya dan memintanya untuk datang. Dengan terpaksa, dia berangkat meninggalkan kesibukannya mengarang lagu.
Dia menidurkan badannya di sofa ruang tamu sampai suara Junsu mengagetkannya.
"Kau sudah sampai, hyung?" Tanyanya basa-basi. Namja bersuara lumba-lumba itu mendudukkan dirinya di sofa single berhadapan dengan Jaejoong diikuti oleh seorang yeoja yang duduk di sofa sebelah Junsu. Mata Jaejoong membelalak melihat kehadiran yeoja itu disana. Ditambah Junsu yang sepertinya santai-sanrai saja, tidak seperti tingkahnya yang biasa ditunjukkan ketika add ada Jihye disekitarnya.
"Kau?! Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Jaejoong datar. Matanya menatap tajam pada Jihye. Seperti biasa, Jihye hanya akan menunduk.
"Hyung, kau tidak perlu sesinis itu pada noona. Apa salahnya jika dia disini? Bukannya kau juga sering mengajaknya kesini dulu?" Bela Junsu membuat Jaejoong mengernyitkan dahi.
"Apa kau mabuk?" Tanya Jaejoong.
"Aniya. Wae?" Jaeab Junsu ringan.
"Ani. Hanya saja tingkahmu aneh hari ini."
"Ah, Jae. Kau sudah sampai? Kajja, makan siang bersama." Jaejoong menoleh dan mendapati eommanya tengah memakai apron berwarna biru muda.
Tiga pemuda dan pemudi disana mengangguk dan mengikuti eomma Kim menuju ruang makan yang bersebelahan dengan dapur.
Jaejoong semakin dibuat kebingungan dengan tingkah orang tuanya dimeja makan. Terutama eommanya. Lihat saja, sekarang yeoja paruh baya itu tengah mengisi piring Jihye dengan berbagai makanan yang katanya bagus untuk kehamilan.
"Kau harus banyak makan sayuran, Jihye-ya. Itu sangat baik untuk kesehatanmu." Mrs. Kim menambahkan sayuran hasil olahannya ke piring Jihye membuat piring itu terlihat penuh.
"Ahjumma, kurasa sudah cukup. Aku tidak mungkin menghabiskan itu semua." Ujar Jihye. Wajahnya menunjukkan ekspresi horor melihat piring yang ada ditangan Mrs. Kim.
"Ayolah, eomma. Jihye noona bukan Chamgmin." Ujar Junsu jengah.
"Mwo? Kenapa namaku disebut-sebut?" Keluarga Kim + Jihye menoleh kearah namja tiang yang entah sejak kapan ada disana. Dibelakangnya menyusul Jiyoung, Seunghyun, dan Yoochun.
"Ya! Kenapa kalian semua disini? Siapa yang menjaga Yunho hyung?" Pekik Junsu.
"Aish, Su hyung. Yunho hyung tidak akan mati hanya karena kami tinggal beberapa jam." Jawab Changmin sambil mengunyah udang goreng yang dicurinya dari piring Jihye. Mengabaikan tatapan khawatir dari sepasang mata doe yang ada disana.
"Wah, Noona. Makanmu banyak sekali. Apa kau mau mengalahkan namja tiang ini?" Takjub Jiyoung melihat isi piring Jihye.
"Aniya."
"Ahjumma. Beri aku makanan lebih banyak dari Jihye noona." rengek Changmin sambil menyodorkan piringnya.
"Memalukan!" Sinis Kyuhyun yang diabaikan oleh Changmin.
Trak..
Semua yang disana menoleh kearah Jaejoong yang baru saja membanting sumpitnya ke atas meja.
"Jelaskan padaku apa yang terjadi sampai kalian bertingkah aneh seperti ini!" Pinta Jaejoong yang mulai jengah dengan keadaan yang tidak biasa ini.
"Aneh bagaimana, Joongie?" Tanya appa Kim tenang.
"Beramah tamah pada Jihye itu benar-benar bukan kalian. Ada apa?" Jaejoong masih bertahan dengan wajah datarnya yang khas.
"Apa kau berharap kami menyiksa Jihye, Jae? Jahat sekali kau." Ahra yang sedari tadi diam akhirnya buka mulut.
"Setidaknya itu lebih terlihat normal. Katakan, apa yang kalian sembunyikan? Apa yang tidak kuketahui?" Tuntut Jaejoong. Tangannya bersedekap di depan dada menampilkan pose intimidasi yang sayangnya tidak berhasil.
Ahra menghela nafas, "Tidak ada yang kami sembunyikan, Jae. Kami hanya berusaha bersikap dewasa dalam menyelesaikan masalah. Memusuhi Jihye tidak akan membuatmu membatalkan pernikahan kalian, kan?" Jelas Ahra mewakili mereka semua.
Jaejoong diam menatap mereka satu per satu kemudian mengedikkan bahunya acuh. "Baguslah." Ujarnya kemudian mengambil sumpitnya dan melanjutkan manyantap makananya.
Flashback Off
"Kenapa tiba-tiba? Mereka tidak mengatakan apapun padaku." Ujar Jaejoong tak suka.
"Mungkin mereka lupa, oppa."
"Kenapa mereka memintamu tinggal bersamaku?"
"Mereka bilang agar kau bisa menjagaku. Dan lagi di usia kandungan yang masih sangat muda seperti ini sangat rentan keguguran. Apalagi aku juga sering menginginkan sesuatu tiba-tiba. Mereka pikir oppa bisa memenuhi keinginanku. Aniya, maksudku bayiku." Jelas Jihye panjang lebar.
"Cih, kau pikir aku budakmu?! Aku tidak mau!" Sinis Jaejoong. Matanya menandang remeh kearah Jihye.
"Tapi oppa.."
"Mwo?! Siapa kau bisa memaksaku menuruti kemauanmu?"
"Oppa! Itu bukan kemauanku, tapi bayi yang ada di perutku." Bela Jihye. Tangannya mengelus lembut perut besarnya.
Jaejoong menatap Jihye datar seperti biasa. Matanya turun beralih ke perut Jihye yang mulai membesar. Hatinya perlahan diliputi perasaan aneh.
"Ara. Aku akan mengabulkan apa yang kau minta. Tapi jangan harap kau bisa menggangguku dengan alasan anak itu." Jaejoong berlalu dari hadapan Jihye.
"Oppa, chakkaman! Aku tidur dimana?" Tanyanya pelan. Takut menyulut emosi Jaejoong yang semakin labil akhir-akhir ini.
"Ada kamar tamu di sebelah kamarku. Bawa kopermu." Jihye menyeret kopernya mengikuti Jaejoong menuju ruangan yang akan ditempatinya.
"Urus sendiri keperluanmu. Ada beberapa peraturan untukmu. Pertama, jangan pernah sekalipun masuk ke kamarku, bahkan kau tidak diijinkan berpikir untuk masuk ke kamarku. Kedua, jangan sentuh dapurku! Ketiga, jangan buat kebisingan aneh! Kalau kau melanggar, keluar dari apartement ini!" Jihye hanya mengangguk menjawab tatapan Jaejoong yang seolah bertanya apa dia mengerti atau tidak.
Jaejoong meninggalkan Jihye yang mulai merapikan barang-barangnya. Kakinya melangkah menuju sofa panjang dan mendudukkan badan seksinya disana. Tangannya memijit kepalanya yang mulai berdenyut.
Kegiatan menenangkan dirinya terganggu oleh dering ponselnya. Tangannya meraih ponsel canggihnya dan menggeser ikon berwarna hijau tanpa melihat siapa yang menghubunginya.
"Yeob.."
"Ya, hyung! Kau dimana? Cepat kerumah sakit! Yunho hyung tidak mau makan karena kau tidak ada." Jaejoong menjauhkan ponsel dari telinganya ketika orang diseberang sana berteriak bahkan sebelum dia selesai dengan kata-katanya.
"Ya! Kenapa aku harus..."
"Kalau kau tidak datang kesini dalam waktu setengah jam, aku akan membawamu dengan cara yang lebih ekstrem."
Pik!
Jaejoong menatap ponselnya dengan pandangan geram.
"Aku benar-benar ingin membunuh duo evil itu!" Geramnya. Tapi meskipun begitu, namja cantik itu tetap bangkit dari duduknya dan berjalan keluar setelah mengambil jaket dan kunci mobil.
"Oppa, kau mau kemana?" Tanya Jihye begitu mereka berpapasan di depan kamar Jihye.
"Rumah sakit."
"Aku ikut. Kebetulan hari ini aku juga harus memeriksakan kandunganku." Pinta Jihye.
"Baiklah. Cepat bersiap. Aku tunggu diluar." Jaejoong meneruskan langkahnya setelah mendapat anggukan dari Jihye. Yeoja bermata bulat itu kembali masuk kedalam kamarnya sepeninggalan Jaejoong.
"Cihh.. padahal sangat terlihat kalau dia masih mencintai Yunho-ssi." Gumam Jihye sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Jaejoong memarkirkan mobil mewahnya di pelataran rumah sakit setelah menempuh setengah jam perjalanan. Tanpa banyak bicara, Jaejoong segera keluar dari mobil seolah dia sedang pergi sendiri. Padahal disampingnya ada seorang wanita yang sedikit tertatih menyamakan langkah dengan dirinya sambil memegangi perutnya yang mulai besar.
"Oppa, apa kau tidak mau ikut memeriksakan janinku?" Tanya Jihye pelan.
Jaejoong menoleh kearah Jihye yang membuatnya heran. Biasanya yeoja ini selalu menunduk ketika berbicara kepadanya. Tapi sekarang yeoja ini bahkan berani menatap matanya langsung.
Namja cantik itu menghela nafas kemudian mengangguk, "Arasseo, kajja!" Keduanya pun berbelok kearah kiri berlawanan dengan arah menuju kamar rawat Yunho.
"Apa kau sering datang kesini?" Tanya Jaejoong tanpa menoleh kearah Jihye.
"Ne. Seminggu dua kali aku pasti kesini. Kau tahu, oppa? Melihar dia benar-benar ada di dalam perutku membuat hatiku menghangat. Kadang aku berharap aku datang kesini dengan ayah dari bayi ini." Jihye berkata sambil mengelus perutnya. Jaejoong melirik kearah yeoja yang ada di sebelahnya.
"Ayo masuk." Jaejoong mendorong pintu di depannya.
"Annyeong haseyo, Jihye-ssi." Sapa seorang dokter yang bisa dikatakan masih muda dan.. lumayan tampan.
"Ne, anyeong, Byunghun-uisa." Jihye membungkukkan badannya sedikit.
"Apa ini suami yang sering anda ceritakan, Jihye-ssi?" Tanya namja bertubuh tidak terlalu tinggi yang dipanggil uisa oleh Jihye tadi. setelah mempersilahkan pasiennya duduk.
"Ani, uisa. Dia belum menjadi suamiku lebih tepatnya." Jawab Jihye yang membuat Jaejoong mengernyitkan dahi.
Author PoV End
Kim Jaejoong PoV End
"Apa ini suami yang sering anda ceritakan, Jihye-ssi?" Tanya dokter muda yang lumayan tampan menurutku setelah mempersilahkan kami -aku dan Jihye- duduk.
"Ani, uisa. Dia belum menjadi suamiku lebih tepatnya." Jawab Jihye yang membuatku mengernyitkan dahi.
Sebenarnya ada apa dengan yeoja ini? Tingkahnya benar-benar tidak biasa. Kalian bertanya apa yang tidak biasa? Kenapa kalian bertanya? Seharusnya kalian sudah tau apa maksudku. Kalian mengikuti ff ini dari awal, bukan?
Baik. Karena kalian memaksa, akan kukatakan. Biasanya yeoja ini akan mengatakan dengan tidak tahu malunya bahwa aku adalah suaminya ke semua orang. Tapi sekarang dia bahkan mengatakan aku bukan suaminya. Meskipun pada akhirnya dia tetap mengatakan aku calon suaminya.
Bukannya aku berharap dia mengatakan aku suaminya karena bahkan aku tidak mau. Tapi karena... ah, aku tidak harus mengatakan alasannya. Sebenarnya jika hanya dia yang berlaku aneh, tentu tidak masalah bagiku. Tapi ini sudah keterlaluan. Semua orang di dekatku ikut berubah. Appa, eomma, Ahra noona, Junsu, bahkan sahabat-sahabatku dan sahabat Yunho juga ikut bertingkah aneh.
Aku hanya menampilkan ekspresi datar melihat apa yang dilakukan Jihye diruangan itu. Sesekali aku melirik jam dinding dan melihat jam tanganku. Sebentar lagi jam makan siang berakhir, kuharap aku tidak terlambat.
Kim Jaejoong PoV End
Author PoV
"Arasseo. Silahkan berbaring, Jihye-ssi." Byunghun uisanim berjalan mendului Jihye menuju ranjang putih yang ada di ruangan itu.
Jaejoong memperhatikan layar suatu alat yang menampilkan janin di perut Jihye. Wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi apapun membuat Jihye tersenyum getir. Sesekali Jaejoong melihat jam di tangan kirinya yang membuat Jihye segera mengakhiri pemeriksaan USG yang dilakukannya.
"Kondisi janinmu sangat baik, Jihye-ssi. Terus jaga kesehatanmu agar kandunganmu tetap stabil." Saran dokter kandungan tampan itu sebelum Jaejoong dan Jihye meninggalkan ruangannya menuju ruangan tujuan Jaejoong yang sebenarnya.
Changmin segera menghampiri Jaejoong begitu retinanya menangkap keberadaan namja cantik itu diujung lorong.
"Kenapa kau baru datang? Aku meneleponmu sejak satu setengah jam yang lalu."
"Mianhae. Aku harus menemani Jihye ke dokter kandungan dulu. Bukankah janin di perutnya lebih penting dibanding harus menyuapi namja dewasa yang hanya bisa berbaring?" Jawab Jaejoong sinis. Changmin menggeretakkan giginya geram dengan sifat angkuh namja menawan di depannya.
"Lalu untuk apa kau disini sekarang? Kalau kau memang menganggap namja dewasa didalam sana tidak penting bagimu, kenapa kau datang?" Tanya Seunghyun yang sedikitnya membuat Jaejoong terperangah karena biasanya namja berpembawaan tegas itu tidak pernah sekalipun menegur atau memprotes kata-katanya lain halnya dengan Yoochun apalagi si evil magnae, Changmin.
"Aku hanya tidak ingin terus diganggu oleh bocah evil itu. Jadi aku memutuskan untuk datang kesini sekalian menemani Jihye memeriksakan anaknya."
'Bahkan saat kau berpura-pura mengakuiku di depan banyak orang tetap tidak bisa mengakui anak ini. Apa kau sudah tau, oppa?' Tanya batin Jihye.
"Kalau begitu pulanglah. Kalau kau memang menganggap Yunho hyung tidak penting, pulanglah! Kau tidak dibutuhkan lagi disini." Usir Changmin tanpa melihat kearah Jaejoong. Kepalanya terus tertunduk dengan tangan terkepal erat. "Seunghyun hyung, Yoochun hyung. Mulai sekarang berhenti meminta orang itu datang kemari. Aku yang akan merawat Yunho hyung. Aku akan membuat Yunho hyung makan dan minum obat dengan cara apapun." Changmin masuk kedalam ruangan Yunho setelah mengatakan hal yang membuat semua yang disana terkejut.
Yoochun menatap kepergian Changmin sampai pintu ruangan Yunho kembali tertutup dengan suara yang cukup keras. Mereka ingin protes tapi ditahan karena mereka tau bagaimana perasaan magnae mereka itu. Yoochun baru akan menyusulnya tapi didahului Kyuhyun.
"Biar aku saja, hyung." Ujarnya sebelum masuk kedalam ruangan Yunho.
Yoochun berdiri menatap kosong ruangan tempat sahabat kecilnya dirawat kemudian perlahan dia membalikkan badannya menghadap Jaejoong yang terdiam. Jaejoong mengalihkan tatapannya yang awalnya terfokus pada pintu ruangan Yunho kearah Yoochun dan yang didapatkannya adalah tatapan nanar bercampur emosi dari namja cassanova yang selalu bersikap tenang itu.
Selanjutnya kata-kata yang dikeluarkan Yoochun sukses membungkam Jaejoong sepenuhnya. Ditambah dengan tatapan emosi dari Jiyoung dan Junsu semakin membuat Jaejoong memikirkan kembali mengenai sikapnya pada mereka semua terutama Yunho.
"Aku tidak peduli kau berubah atau tidak. Aku juga tidak peduli tentang apa kau masih mencintai Yunho hyung atau tidak. Aku bahkan tidak peduli dengan siapa kau menikah nanti. Dengannya atau dengan wanita lain. Itu sama sekali bukan urusanku. Tapi aku tidak bisa tidak peduli jika apa yang kau lakukan berdampak buruk pada hidup sahabatku. Hidup dari salah satu orang yang PENTING dalam hidupku. Kalau kau benar-benar terganggu dengan permintaan kami untuk membantu merawat Yunho hyung, lebih baik kau pergi. Jangan pernah menampakkan wajahmu di depan kami -Yunho dan sahabatnya- lagi. Kuharap dengan begitu semuanya akan kembali seperti dulu saat kita belum saling mengenal. Tapi bagaimanapun, terima kasih telah datang dalam kehidupan sahabatku, Jaejoong-ssi. Atas nama sahabatku, aku minta maaf telah membawamu dalam kondisi seperti ini." Yoochun berbalik dan masuk kedalam ruangan Yunho diikuti oleh yang lain.
Jaejoong masih setia berdiri di tempatnya. Mencerna kalimat yang diucapkan Yoochun.
Author PoV End
Kim Jaejoong PoV
Aku menatap lurus kearah pintu ruangan dimana namja yang menghancurkan hidupku dirawat. Aku menoleh kearah Yoochun yang berbalik kearahku. Aku terkejut. Tatapan yang diberikan namja cassanova itu tidak pernah ditujukan padaku sebelumnya. Tapi kalimat yang keluar dari bibirnya jauh lebih mengejutkanku.
"Aku tidak peduli kau berubah atau tidak. Aku juga tidak peduli tentang apa kau masih mencintai Yunho hyung atau tidak. Aku bahkan tidak peduli dengan siapa kau menikah nanti. Dengannya atau dengan wanita lain. Itu sama sekali bukan urusanku. Tapi aku tidak bisa tidak peduli jika apa yang kau lakukan berdampak buruk pada hidup sahabatku. Hidup dari salah satu orang yang PENTING dalam hidupku. Kalau kau benar-benar terganggu dengan permintaan kami untuk membantu merawat Yunho hyung, lebih baik kau pergi. Jangan pernah menampakkan wajahmu didepan kami –Yunho dan sahabatnya- lagi. Kuharap dengan begitu semuanya akan kembali seperti dulu saat kita belum saling mengenal. Tapi bagaimanapun, terima kasih telah datang dalam kehidupan sahabatku, Jaejoong-ssi. Atas nama sahabatku, aku minta maaf telah membawamu dalam kondisi seperti ini."
Yoochun berbalik pergi diikuti oleh semua yang ada disana. Bahkan Jiyoung dan Junsu yang dekat denganku juga ikut melemparkan tatapan tidak bersahabat padaku. Aku tidak tahu apa yang yang harus kulakukan, jangankan melakukan sesuatu bicarapun aku tidak mampu. Bahkan bernafas rasanya berat untukku.
Aku menutup mataku dan menghela nafas berusaha menenangkan perasaanku sekaligus meyakinkan diriku bahwa ini yang terbaik dan memang ini yang kuinginkan dari awal. Aku berbalik tapi tanganku ditahan oleh seseorang. Aku menoleh dan menemukan Jihye berdiri membelakangiku dengan sebelah tangannya menahan pergelanganku erat.
Aku diam membiarkannya mulai bicara, "Apa tidak apa-apa seperti ini?" Tanyanya. Dapat kurasakan tangannya yang memegangku bergetar.
Aku menggertakkan gigiku. Tidak tau apa yang harus kujawab. Otakku terus mengatakan bahwa inilah yang kuinginkan. Tapi hatiku terus menolaknya. Bahkan tubuhku juga berkhianat karena sejak tadi kakiku begitu ingin berlari masuk ke ruangan dibelakangku. Tubuhku memberontak mengatakan ingin memeluk namja bermata musang yang ada di dalam sana.
"Tidak masalah. Ayo, pulang!" Tapi pada akhirnya aku memilih logikaku. Aku tidak ingin lagi ditipu oleh hatiku. Tapi Jihye tetap menahan langkahku di tempat.
"Jaejoong oppa. Jangan pernah membohongi hatimu. Kau tahu? Logika bisa berbohong, tapi hati tidak akan pernah sekalipun berbohong." Kalimat yang keluar dari mulutnya itu entah kenapa membuatku marah. Tanganku terkepal erat.
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu pada orang yang telah dikhianati oleh hatinya sendiri dan menderita karena perasaan yang dimilikinya? Jangan bertingkah seolah kau mengerti perasaanku!" Aku menghentakkan tanganku dari pegangannya hingga terlepas kemudian berjalan menjauh tidak peduli dia akan mengikutiku atau tidak. Aku hanya harus pergi. Bukan karena aku tidak peduli, tapi aku harus menyembunyikan air mata yang jatuh perlahan di pipiku tanpa kupinta.
Kim Jaejoong PoV End
Jihye PoV
Aku memberikan tatapan menyesal kearah Junsu. Aku benar-benar tidak bermaksud menghalangi Jaejoong oppa untuk menemui Yunho oppa. Aku benar-benar tidak bermaksud mengajak Jae oppa ikut bersamaku memeriksa bayiku. Aku bisa sendiri melakan itu karena aku memang terbiasa seperti itu. Aku hanya ingin memastikan apa Jae oppa memiliki sedikit perhatian pada anak ini. Tapi itulah yang membuat Jae oppa terlambat datang. Aku benar-benar merutuki keegoisanku.
Aku kalut. Aku takut Junsu membatalkan perjanjian dan membocorkan semuanya hanya karena kesalahpahaman ini. Aku meremas tanganku saking melirik sekilas kearah Jaejoong oppa. Tapi aku sedikit terkejut. Entah benar atau tidak, tapi aku bisa melihat mata doe cantik itu basah.
Dari dulu aku tahu bahwa namja cantik disampingku ini masih sangat mencintai Yunho oppa. Itu terlihat jelas dari sikapnya dan ekspresi yang ditunjukkan ketika ada Yunho oppa disekitarnya. Entah kalian memperhatikan atau tidak, setiap kali ada Yunho oppa, sikap namja cantik ini akan berubah menjadi lebih feminin meskipun tidak terlalu jelas jika kalian tidak terbiasa dengan sikap dinginnya. Aku tentunya bisa merasakannya sangat jelas karena aku selalu menerima sikap dingin darinya sehingga kehangatan sedikit saja darinya bisa kurasakan dengan baik.
Dan sekarang dia menangis –sebenarnya hanya berkaca-kaca-. Yang kutahu selama aku mengenalnya, dia tidak pernah menangis meskipun dia dihajar belasan pria waktu pertama kali aku bertemu dengannya. Dia bahkan hanya menampilkan wajah datar seolah tidak merasakan sakit sama sekali. Sekarang dia bahkan menangis karena tidak bisa bertemu dengan temannya lagi terutama Yunho oppa, belahan jiwanya. Aku tahu, meskipun dia menunjukkan wajah malas dan tidak bersahabat ketika diminta menjenguk Yunho oppa, tetapi di dalam hatinya dia terus berharap Changmin dan Kyuhyun datang ke apartementnya dan menyeret dia ke rumah sakit.
Tuhan.. aku benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk namja cantik yang rapuh ini...
Aku tersentak dan spontan menahan lengannya yang berbalik ingin pergi. Aku tidak tau kenapa aku harus melakukan itu dan apa yang harus kukatakan. Tapi aku merasa aku harus menahannya. Aku tidak ingin semuanya berlanjut. Aku tahu jika pada akhirnya Junsu gagal melakukan apa yang dijanjikan, akulah yang akan merusak kebahagiaan namja ini. Tapi setidaknya untuk saat ini aku ingin Jaejoong oppa merasakan kebahagiaan yang seharusnya dia dapatkan.
"Apa tidak apa-apa seperti ini?" Tanyaku pada akhirnya. Dapat kurasakan tanganku bergetar. Dia terdiam cukup lama. Aku tidak tahu apa yang sedang dipertimbangkan olehnya.
"Tidak masalah. Ayo, pulang!"Jawabnya sambil mencoba untuk meneruskan langkahnya. Tapi aku tetap menahannya.
"Jaejoong oppa. Jangan pernah membohongi hatimu. Kautahu? Logika bisa berbohong, tapi hati tidak akan pernah sekalipun berbohong."
"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu pada orang yang telah dikhianati oleh hatinya sendiri dan menderita karena perasaan yang dimilikinya? Jangan bertingkah seolah kau mengerti perasaanku!" Dia menghentakkan peganganku hingga terlepas kemudian pergi. Aku tersenyum miris. Dia benar. Akutidak sadar dengan ucapanku. Aku melupakan kenyataan bahwa namja cantik itu telah menjadi korban dari perasaannya sendiri.
Aku terdiam cukup lama sebelum memutuskan untuk melangkah masuk kedalam ruangan Yunho oppa. Disana aku dapat melihat Changmin yang duduk di pojok sofa dengan kepala tertunduk ditemani Kyuhyun yang setia menggenggam tangannya. Junsu yang menangis di pelukan Yoochun yang terus menghela nafas berat. Dan jiyoung dan Seunghyun oppa yang menatap kosong kearah ranjang tempat seorang namja tampan berbaring. Yunho oppa.
Aku memberanikan diri mendekat kearah Junsu. "Junsu-ya, mianhae. Aku benar-benar tidak bermaksud buruk." Aku menunduk tanpa berani menatap Junsu.
"Gwaenchanna, noona. Ini bukan salahmu. Aku tau bagaimana Jae hyung sekarang. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi." Jawab Junsu. Aku bisa mendengar dengan jelas suara namja lumba-lumba itu bergetar dan sedikit sengau. Perlahan aku mengangkat kepalaku dan melihat namja imut di depanku itu. Wajahnya yang manis kini memerah dengan mata yang membengkak dan air mata yang membekas di pipi chubbynya.
"Junsu-ya..." lirihku. "Aku minta maaf. Aku benar-benar minta maaf. Jika aku tidak meminta mengusulkan berangkat bersama ke rumah sakit dan mulutku tidak kurang ajar memintanya menemaniku, Jae oppa pasti tidak akan terlambat datang."
"Tidak apa-apa, noona." Aku tersenyum tipis menanggapi kebaikan Junsu. Mataku tertuju pada namja tampan yang tengah berbaring di ranjang. Aku menatapnya lekat. Gara-gara aku, namja itu berbaring disini. Karena harga diriku yang sebenarnya tidak terlau tinggi, aku mengorbankan perasaan orang lain. Mulai sekarang aku bertekad akan membantu Junsu untuk mempersatukan kalian. Kalian akan bersama, Yunho-sii. Aku jamin kisah cinta kalian tidak akan bernasib sama dengan kisah cintaku.
Jihye PoV End
Jung Yunho PoV
Sudah satu minggu Jaejoong tidak datang menjengukku. Aku sangat merindukannya. Meskipun ketika dia datang hanya bentakan dan umpatan yang keluar dari mulut manisnya, tapi setidaknya aku bisa melihat wajah cantiknya dan mendengar suaranya yang selalu berhasil membuatku bergetar. Aku sudah tau mengenai kejadian seminggu lalu. Bohong kalau aku mengatakan aku baik-baik saja dengan itu. Rasanya sangat sakit. Tapi aku beruntung aku masih memiliki sahabat seperti mereka.
"Ya! Changmin ah, kau dapat darimana makanan itu?" Tanya Kyuhyun pada kekasih tiangnya yang tengah bermesraan dengan selingkuhannya.
"Dari kantin, My Baby Kyu..." jawab dongsaengku itu dengan nada sing a song. Aku sedikit geli mendengarnya. Sangat geli malah.
"Kenapa kau membawanya kesini?! Bagaimana kalau Yunho hyung tergoda? Kau tau sendiri dia belum bisa makan makanan luar?!" Bentak Kyuhyun membuatku tersenyum. Aku tidak tahu namja pucat itu sebegitu perhatiannya padaku."Bawa keluar sekarang!"
"Aish! Aku lapar, Kyu..." rengek Changmin lagi.
"Tapi Yunho hyung..."
"Gwaenchanna, Kyu. Aku tidak tertarik." Jawabku menengahi pertengkaran konyol pasangan duo evil itu.
"See? Yunho hyung saja tidak protes. Kenapa kau yang marah?" Sungut Changmin sembari meneruskan makannya. Aku mengernyit ketika magnae tiang itu menunjukkan seringaian jahilnya, " Atau jangan-jangan kau yang ingin? Kau tergoda dengan ini, Kyu?" Changmin menyodorkan Jjajangmyeon kearah Kyuhyun.
Aku tidak tahu bagaimana ekspresi Kyuhyun karena dia berdiri membelakangiku. Tapi kemudian aku bisa melihat namja tsundere itu berjalan menuju Changmin pelan. Kemudian...
Plakkk...
Sontak semua yang ada di ruanganku tertawa terbahak-bahak. Dua pasangan lain yang sedari tadi diam menyaksikan tidak bisa lagi menahan tawa mereka. Bahkan Junsu memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Kau makan saja sendiri kekasihmu itu, Shim Changmin! Sekalian saja kau pacaran dengan jjajangmyeon itu! Sialan, kau!" Teriak Kyuhyun kesal yang kemudian ditutup dengan umpatan kesal.
Dan selanjutnya yang terjadi adalah rengekan Changmin yang merayu Kyuhyun agar berhenti merajuk. Kyuhyun hanya membalas dengan umpatan kasarnya seperti biasa.
Aku tersenyum kemudian entah apa yang menarikkku untuk menoleh kearah pintu. Hingga aku memutuskan untuk menuruti perintah hatiku dan menoleh kearah pintu ruangan. Aku tersentak. Aku tidak tahu yang aku lihat ini nyata atau tidak. Tapi aku sangat berharap itu nyata. Aku berharap orang yang tadi mengintip ke dalam sini adalah Jaejoong. Aku terus melihat kearah pintu. Berpikir mungkin aku akan menangkap basah orang yang mengintip tadi dan memastikan siapa dia. Tapi setelah beberapa lama kutunggu, dia tidak muncul lagi.
'Mungkin memang hanya imajinasiku saja karena aku terlalu merindukan Jaejoongie.' Batinku kembali mengarahkan pandanganku ke duo evil yang entah sejak kapan mulai makan sepiring berdua. Mereka benar-benar membuatku iri. Kapan aku bisa seperti itu dengan Jaejoong? Aku tersenyum miris menyadari itu tidak akan pernah terjadi.
"Aku mengantuk. Aku tidur dulu." Tanpa melihat respon yang diberikan sahabat-sahabatku, aku memejamkan mataku. Berkelana di dunia mimpi dan menikmati berbagai moment yang tidak akan terjadi di dunia nyata.
Jung Yunho PoV
Author PoV
Jung Yunho mengalihkan pandangannya dari pintu. Kalau saja namja Jung itu bersabar lima detik lagi, maka dia akan menemukan wajah namja yang paling ingin ditemuinya mengintip melalui kaca kecil di pintu ruangannya. Wajah cantik dari seorang Kim Jaejoong.
"Kupikir kau sudah terbiasa tanpaku. Baguslah." Jaejoong berbalik pergi. Dia bisa saja mengatakan dia tidak masalah dengan Yunho yang seolah tidak lagi membutuhkannya, tapi dalam hatinya, dia berteriak menginginkan namja Jung itu tetap bergantung padanya. Karena itulah alasan utama dia bisa terus melihat namja bermata musang itu.
"Kurasa otakku benar-benar bermasalah." Gumamnya ketika menyadari dirinya ada di atap rumah sakit bukannya pulang dan bergelung nyaman di kasur apartement mewahnya. Atau meneruskan pembuatan lagunya yang tidak selesai-selesai.
"Sama dengan hatimu, kan, hyung." Jaejoong menoleh ke belakang ketika mendengar suara yang familiar di telinganya, "Sampai kapan kau akan mengkhianati hatimu sendiri?"
"Apa yang kau katakan, Choi Seunghyun? Aku tidak mengkhianati hatiku!" balas si cantik ketus berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Berhenti berbohong. Aku tahu kau masih sangat mencintai Yunho hyung. Jadi berhentilah bersikap bodoh! Jangan biarkan masa lalu yang kelam memenuhi kepala batumu itu!" bentak Seunghyun dingin. Bahkan dia bicara tanpa peduli bahwa yang dia bentak –Jaejoong- lebih tua darinya.
Jaejoong tertawa miring. "Apa yang kau tahu? Kau tidak tau apa-apa tentangku! Kau sama sekali tidak tau bagaimana perasaanku! Jadi berhentilah bersikap seolah kau tau segalanya!" murka Jaejoong.
"Kalau begitu berbagilah, hyung. Bagi penderitaanmu. Jangan hanya menyimpannya sendiri!" Jaejoong tersentak dengan kedatangan sang magnae, Jiyoung.
"Jiyoung, kau…"
"Aku tahu, hyung. Aku tau kau selalu datang mengamati keadaan Yunho hyung diam-diam. Kau masih mencintainya. Benar kami tidak tau bagaimana perasaanmu karena kau sama sekali tidak mau berbagi. Bagilah pada kami apa yang kau rasakan, hyung. Setidaknya padaku. Jangan menyimpannya. Jangan menyakiti dirimu sendiri." Jiyoung kini berdiri di hadapan Jaejoong yang menundukkan kepalanya.
…
Yunho membuka matanya dan melirik kearah jam dinding di sebelah kanannya. "Jam 7. Kurasa aku tidur terlalu lama." Gumamnya serak. Matanya mengamati ke sekeliling. Dia mendengus kesal melihat sampah yang ditinggalkan para dongsaengnya semalam masih berserakan di meja yang ada di ruangannya.
"Dasar dongsaeng tidak bertanggung jawab." Umpatnya. "Kurasa mereka tidak akan datang sepagi ini hanya untuk membersihkan kerusuhan yang sudah mereka perbuat."
Baru saja Yunho hendak memejamkan matanya lagi, dia dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka. Dia lebih terkejut lagi melihat siapa yang datang.
"Hai, Yun." Sapa orang itu dengan senyuman yang selalu berhasil membuat Yunho jatuh cinta berkali-kali padanya.
"J-J-Jae… Jaejoong?"
TBC
.
.
.
Side Story
Kibum, Mrs. Kim dan Ahra saat ini tengah berada di salah satu café ternama di daerah sekitar Gangnam. Kibum menatap tajam pada dua yeoja yang secara tidak langsung membuat calon menantunya pergi –Jaejoong-. Dan kini entah mendapat pencerahan darimana, mereka berdua berbalik merestui hubungan Yunho dan Jaejoong.
"Permainan apa yang kali ini kalian mainkan?" tanya Kibum dingin. Dia tidak peduli jika dia dinilai tidak sopan oleh Mrs. Kim. Dia terlanjur kecewa dengan dua yeoja di depannya.
"Kami tidak memainkan permainan apapun, Kibum-ssi." Jawab Mrs. Kim dengan kepala tertunduk.
"Lalu apa maksud kalian?"
"Kami baru menyadari apa yang kami lakukan pada Joongie sudah keterlaluan." Jawab Ahra menggantikan ibunya yang kini mulai terisak kecil.
"Apa yang membuat kalian sadar?" tanya Kibum sinis. Dia tidak bisa percaya sepenuhnya pada lawan bicaranya.
"Karena aku seorang ibu, Kibum-ssi." Jawab Mrs. Kim tidak sesuai dengan pertanyaan yang dilontarkan Kibum.
Flashback On
Mrs. Kim PoV
Sudah dua minggu Jaejoong berada jauh dari Korea. Aku sangat merindukan anak bungsuku yang cerewet itu. Jadi aku memutuskan untuk datang dan memberinya kejutan. Aku memang sengaja tidak memberitahunya perihal kedatanganku. Aku berdiri di depan gedung apartementnya. Sampai seorang security datang menghampiriku.
"Ada yang bisa kami bantu, Nyonya?" tanyanya dalam bahasa Inggris.
"Ya. Bisa kau memberitahuku apartement atas nama Jaejoong Kim?"
Security itu membawaku ke bagian administrasi apartement itu dan mereka memberitahuku dimana apartement tempat tinggal putraku.
Aku mengetuk pintu di depanku perlahan. Lama menunggu tapi tidak ada respon sama sekali. Aku memutuskan untuk mengetuknya sekali lagi, belum sampai tanganku menyentuh pintu, pundakku ditepuk oleh seseorang.
"Excuse me, Miss." Sapanya. Aku mengangguk membalas.
"Are you Jae's Mother?" aku kembali mengangguk. "Ah.. I wanna ask you, Miss. What happen with Jae? He never come to attend a class. Is he has a problem?" tanya namja itu. Mrs. Kim tersentak. Jaejoong bukan tipe anak yang suka membolos kelas.
"He never attend a class? From the first day?" tanyanya memastikan.
"No. He came on first day. But in bad condition. And then, he never come again. I think he has a big problem. So, I ask you. You are his Mom. I think you know all about him." Mrs. Kim menggeleng.
"I don't know he has problem or not. He never tell me about it." Anak itu mengernyitkan dahinya, "Can you help me, please?"
"Yes, of course. What can I do for you?"
"Can you borrow a back up key? I worried about him." Namja itu mengangguk dan bergegas pergi meminjam kunci cadangan apartement Jaejoong. Mrs. Kim menunggu dengan mata yang menatap sendu pintu apartement Jaejoong.
"This is the back up key, Miss. Sorry I can accompany you to see Jae's condition. I'm in rush." Namja itu pergi setelah mendapat anggukan dari Mrs. Kim.
Tatapanku makin sendu begitu masuk kedalam apartement Jaejoong. Di dalam sana amat sangat berantakan. Barang-barang berserakan dimana-mana dan debu menumpuk di sudut-sudut ruangan. Kakiku melangkah menuju satu-satunya ruangan yang ada disana. Aku membuka pintu itu perlahan dan menemukan anak bungsuku tertidur dengan posisi yang sangat menyedihkan. Mataku berkaca-kaca melihat itu. Tidak ingin mengganggu tidur Jaejoong, aku memutuskan untuk membersihkan apartementnya dan memasakan makanan untuk makan malamnya.
Setelah kurang lebih tiga jam berkutat di apartement Jaejoong, aku kembali masuk kedalam kamar Jaejoong. Anak bungsuku itu kini sudah bangun. Tapi aku tidak mendapatkan reaksi yang kuharapkan. Jaejoong hanya menatap kosong kearah meja nakas seolah tidak menyadari keberadaanku. Atau memang tidak menyadarinya. Aku berjalan menghampirinya perlahan.
"Joongie, kau tidak ingin memeluk eomma?" tanyaku. Dia tetap diam.
"Apa Joongie tidak merindukan, eomma?"
Diam.
"Eomma merindukanmu, Joongie."
Hening.
"Kami di Korea sangat merindukanmu, Joongie."
Tidak ada respon.
Mataku berkaca-kaca. Aku mendudukkan diri di sebelahnya. Ikut menatap apa yang menjadi fokusnya dari tadi. Aku tersentak. Tanganku yang hendak menyentuh kepalanya berhenti dan beralih menutup mulutku. Menahan isakan yang hampir keluar.
Di meja nakas itu ada foto keluarga kami dan disebelahnya ada foto putraku dengan orang yang dicintainya. Orang yang dengan kejamnya kularang untuk dicintainya. Dan bahkan akan kunikahkan dengan kakaknya. Mataku terpaku pada buku yang ada di meja itu dan meraihnya. Aku membukanya perlahan. Disana hanya satu lembar yang terisi tertanggal hari kelima Jaejoong disini.
Aku tidak tahu harus bercerita pada siapa. Aku ingin menceritakan semua pada eomma. Tapi aku tahu itu hanya akan membuat eomma kecewa. Jadi aku memutuskan untuk menuangkan semuanya disini berpikir aku sedang bercerita pada eommaku sendiri.
Aku tidak tahu lagi harus apa. Aku tidak bisa melupakannya, eomma. Dimanapun dan kapanpun aku akan terus mengingatnya. Apa yang harus aku lakukan, eomma? Aku tidak ingin membuatmu kecewa, tapi aku juga sangat mencintainya eomma.
Eomma tahu? Aku sakit eomma… rasanya sangat sesak sampai rasanya sulit untuk bernapas. Dia menolakku, eomma. Namja yang kucintai menolakku dan mengatakan tidak ingin melihat wajahku lagi. Oleh karena itu aku pergi kesini untuk mengabulkan permintaannya dan untuk melupakannya. Tapi tidak bisa. Aku masih mencintainya. Aku tidak bisa melupakannya sekuat apapun aku mencobanya.
Apa aku memang seburuk itu? Aku membuat eomma kecewa dan membuat satu-satunya orang yang kucintai memandang jijik kearahku. Apa aku semenjijikkan itu? Aku hanya mencintai namja itu, kenapa tidak ada yang mengerti? Kenapa harus sesulit ini untuk mencintai seseorang?
Sakit… sesak… rasanya seperti mati.. aku tidak sanggup eomma.. otteohkke? Apa yang harus kulakukan?
Aku menangis terisak membaca curahan hati Jaejoong. Apa aku sejahat itu? Kenapa bisa kau bersikap tidak adil pada putraku sendiri? Aku tau Yunho mencintai Jaejoong dan aku tau Yunho juga mendengar apa yang kukatakan pada Jaejoong saat itu. Aku yakin karena itu namja tampan itu menolak perasaan Jaejoong. Semua penderitaan Jaejoong berawal dari keegoisanku. Eomma macam apa aku ini?
"Jae… Mianhae. Eomma minta maaf. Eomma tidak adil padamu. Eomma… hiks.. eomma.." aku tidak bisa. Tanganku membekap erat mulutku mencegah isakan yang lebih keras keluar. Bagaimana aku bisa minta maaf setelah apa yang kulakukan? Menghancurkan satu-satunya cinta yang dia punya.
"Jae.."
"Eomma, pulanglah." Aku tersentak mendengar suara lirih Jaejoong.
"Tapi kau.."
"Aku akan kembali seperti semula. Eomma tenang saja. Aku akan menjadi anak seperti keinginan eomma." Aku makin terisak. Dia mengatakan itu dengan tatapan kosong seolah tanpa jiwa. Dia.. anakku, benar-benar menyedihkan sekarang. Dan itu karena aku sendiri.
Flashback Off
Author PoV
"Dia melarang kita semua datang berkunjung. Itu syaratnya." Mrs. Kim membersihkan air mata yang sejak tadi menghiasi pipi yang mulai keriput itu.
"Kau menyetujuinya?!"
"Hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini. Kalau itu yang bisa membuatnya kembali seperti dulu, apa lagi yang bisa kita lakukan?"
Mereka diam. Pikiran mereka melayang pada satu orang yang sama. Orang yang kini entah bagaimna kabarnya. Kim Jaejoong.
End of Side Story
Annyeong, readddddeeerrrrr sssiiii…
Mianhae lama update.. tugas kuliah ngga bisa diajak kompromi, weh!
Mianhae juga, kalo ceritanya mulai bosenin, jujur gue mulai rada ilang feel sama ff ini. Mungkin karena terlalu lama dieremin tanpa diliat-liat lagi kali, ya.?
Side story itu buat yang nanya kenapa tiba-tiba Mrs. Kim yang dulu nentang hubungan Yunjae jadi ngerestuin. Kasih sayang seorang ibu itu lebih dalam dari samudera, weh! kalo bahasa inggrisnya ngawur jangan heran, weh! gue bukan anak jurusan bahasa inggris.
Mungkin Cuma ini yang bisa gue cuap-cuap. Gue ngga bisa cerewet soalnya gue kelewat cool. Maap buat yang review kaga bisa gue bales satu-satu. Gua juga manusia, weh! Jangan lupa buat revie lagiii,,
Promote, nih. Ada yang suka Meanie couple? Gue ada FF satu tentang mereka. Baca, yeth! Review kalo bisa. Makasih #deepbow
RnR, ne?
Annyeong… ppyounggg #ngilang
