Mianhae, Nado Saranghae

Author : KeiLee

Main Pair : Yunjae (Jung Yunho x Kim Jaejoong)

Other Pair : Yoosu, Changkyu, TOPGD, little bit SiBum.

Other Cast : Go Ahra, Choi Siwon, Choi (Kim) Kibum, dan lainnya akan ditemukan seiring berjalannya cerita.

Genre : Romance, Drama (banget) sinetron Indonesia yang paling drama sampe episodenya ribuan dan berseason-season aja kalah.

Rate : T-M. Gue mulai sedikit terkontaminasi. Tapi Cuma dikit doang. Totally, gue masih polos ko..

Warning : YAOI. BxB. Little STRAIGHT. Typo (s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit layaknya YJS di dunia, DLDR. Lebih sinetron dari sinetron yang paling sinetron (?). Tidak menerima Kritik dengan bahasa yang kasar, paling menerima kripik singkong atau kripik kentang. Biasakan RnR. Kalo bisa baca dulu yang Noona, I Love Him biar lebih nyambung. Judul menipu. Isi berantakan dan maksa banget. Jalan cerita membingungkan dan berantakan sesuai sama idup gue T-T. Menimbulkan resiko mual dan nafsu makan menurun, jadi bagi yang diet dianjurkan membaca #apadeh

ADA PROMOSI DI AKHIR NANTI. BACA, YAAAAA…..!

Okelah, seperti biasa. Gue cool make banget jadi ngga banyak bacot.

So, Check It Out..

.

.

.

.

.

Previous Story

"Kurasa otakku benar-benar bermasalah." Gumamnya ketika menyadari dirinya ada di atap rumah sakit bukannya pulang dan bergelung nyaman di kasur apartement mewahnya. Atau meneruskan pembuatan lagunya yang tidak selesai-selesai.

"Sama dengan hatimu, kan, hyung." Jaejoong menoleh ke belakang ketika mendengar suara yang familiar di telinganya, "Sampai kapan kau akan mengkhianati hatimu sendiri?"

"Apa yang kau katakan, Choi Seunghyun? Aku tidak mengkhianati hatiku!" balas si cantik ketus berusaha menyembunyikan kegugupannya.

"Berhenti berbohong. Aku tahu kau masih sangat mencintai Yunho hyung. Jadi berhentilah bersikap bodoh! Jangan biarkan masa lalu yang kelam memenuhi kepala batumu itu!" bentak Seunghyun dingin. Bahkan dia bicara tanpa peduli bahwa yang dia bentak –Jaejoong- lebih tua darinya.

Jaejoong tertawa miring. "Apa yang kau tahu? Kau tidak tau apa-apa tentangku! Kau sama sekali tidak tau bagaimana perasaanku! Jadi berhentilah bersikap seolah kau tau segalanya!" murka Jaejoong.

"Kalau begitu berbagilah, hyung. Bagi penderitaanmu. Jangan hanya menyimpannya sendiri!" Jaejoong tersentak dengan kedatangan sang magnae, Jiyoung.

"Jiyoung, kau…"

"Aku tahu, hyung. Aku tau kau selalu datang mengamati keadaan Yunho hyung diam-diam. Kau masih mencintainya. Benar kami tidak tau bagaimana perasaanmu karena kau sama sekali tidak mau berbagi. Bagilah pada kami apa yang kau rasakan, hyung. Setidaknya padaku. Jangan menyimpannya. Jangan menyakiti dirimu sendiri." Jiyoung kini berdiri di hadapan Jaejoong yang menundukkan kepalanya.

Yunho membuka matanya dan melirik kearah jam dinding di sebelah kanannya. "Jam 7. Kurasa aku tidur terlalu lama." Gumamnya serak. Matanya mengamati ke sekeliling. Dia mendengus kesal melihat sampah yang ditinggalkan para dongsaengnya semalam masih berserakan di meja yang ada di ruangannya.

"Dasar dongsaeng tidak bertanggung jawab." Umpatnya. "Kurasa mereka tidak akan datang sepagi ini hanya untuk membersihkan kerusuhan yang sudah mereka perbuat."

Baru saja Yunho hendak memejamkan matanya lagi, dia dikejutkan oleh suara pintu yang dibuka. Dia lebih terkejut lagi melihat siapa yang datang.

"Hai, Yun." Sapa orang itu dengan senyuman yang selalu berhasil membuat Yunho jatuh cinta berkali-kali padanya.

"J-J-Jae… Jaejoong?"

Start Story

Author PoV

Mata musang milik Yunho membelalak lebar. Dia menatap namja cantik yang berdiri disamping ranjangnya itu setengah tidak percaya. Dia merasa tidak mungkin Kim Jaejoong ada disini. Datang menjenguknya.

"Kenapa menatapku seperti itu? Kau tidak suka aku ada disini?" Yunho mengerjapkan matanya lucu mendengar suara merdu yang nyata terdengar di telinganya.

"Kau nyata?" tanyanya konyol membuat Jaejoong tertawa. Yunho makin tercengang. Bukan hanya suaranya, dia bahkan bisa mendengar tawa Jaejoong yang sudah bertahun-tahun tidak didengarnya.

"Tentu saja. Kau berharap aku hanya khayalanmu?" tanya Jaejoong masih terkekeh pelan.

"Ani! Maksudku, tentu saja tidak. Aku hanya tidak percaya kau ada disini." Jawab Yunho masih dengan ekspresi setengah tidak percayanya.

"Aish! Jangan tampilkan ekspresi itu! Kau menggelikan!" sentak Jaejoong membuat Yunho segera merubah ekspresinya. Jaejoong berjalan menuju kulkas kecil yang ada di ruangan Yunho dan menata buah-buahan yang dibawanya.

"Apa yang membuatmu datang? Bukankah kau mengatakan datang kesini hanya merepotkanmu?" pertanyaan yang terlontar dari bibir hati itu membuat Jaejoong menghentikan aktivitasnya. Hening menguasa ruangan itu.

"Kenapa kau harus membicarakan itu? Bukankah sekarang aku ada disini?" Jaejoong kembali dengan kegiatan awalnya. Tetap membelakangi Yunho meskipun buah di keranjang sudah masuk dengan rapi ke dalam kulkas. Dia tidak ingin berbalik dan membuat Yunho melihat wajah sendunya.

Yunho diam menatap punggung sempit Jaejoong yang dulu sering dirangkulnya, kemudian me ngalihkan tatapannya ke langit-langit ruangan, "Tentu saja. Kau ada disini sekarang."

Author PoV End

Jung Yunho PoV

Aku menatap namja cantik yang ada di ruanganku itu dengan tatapan setengah tidak percaya. Jika ini mimpi, ingin rasanya aku tidak bangun dari tidurku. Bagiku ini semua terasa tidak mungkin. Namja cantik belahan jiwaku yang kemarin baru saja menghempaskan hidupku ke titik terendah kini datang dengan senyum cantiknya yang selalu kupuja.

"Kenapa menatapku seperti itu? Kau tidak suka aku ada disini?" aku mengerjapkan mataku mendengar suara merdu yang keluar dari bibir plum seksinya.

"Kau nyata?" entah kenapa dari sekian banyak pertanyaan yang bisa kutanyakan, pertanyaan inilah yang keluar dari mulutku. Aku merasa sangat bodoh sekarang. Tapi aku malah tercengan dan bersyukur pertanyaan itu terlontar. Karena itu membuatku bisa mendengar tawa seorang malaikat.. Sekarang ini lebih terasa seperti mimpi. Bukan hanya suaranya, aku bahkan bisa mendengar tawa Jaejoong yang sudah bertahun-tahun tidak kudengar.

"Tentu saja. Kau berharap aku hanya khayalanmu?" tanya Jaejoong masih terkekeh pelan. Suara kekehannya bagaikan melodi surga di telingaku. Rasanya aku akan sembuh hanya dengan mendengar suara itu.

"Ani! Maksudku, tentu saja tidak. Aku hanya tidak percaya kau ada disini."

"Aish! Jangan tampilkan ekspresi itu! Kau menggelikan!" sentak Jaejoong membuatku segera merubah ekspresi apapun yang kutunjukkan menjadi ekspresi yang aku yakin bisa membuat semua wanita luluh. Mataku mengikuti langkah Jaejoong yang berjalan menuju kulkas kecil yang ada di ruanganku dan menata buah-buahan yang dibawanya.

Tuhan.. jika ini mimpi, jangan biarkan aku bangun. Biarkan aku berlama-lama bersama malaikatmu ini.

Aku terus menatapnya. Merasa takut jika aku mengalihkan pandanganku sebentar saja, dia akan menghilang. Dia amat sangat mempesona. Bahkan hanya dengan melihat punggung sempitnya, aku bisa jatuh cinta lagi dan lagi padanya. Katakan aku berlebihan atau terlalu cheesy, tapi itu kenyataan. Aku jatuh terlalu dalam pada namja ini. Amat sangat dalam sampai aku tidak bisa untuk bangkit lagi. Haaahhh… Kim Jaejoong, kau membuatku gila.

"Apa yang membuatmu datang? Bukankah kau mengatakan datang kesini hanya merepotkanmu?" pertanyaan itu terlontar begitu saja. Kupikir sebahagia apapun aku, aku tetap harus menanyakan maksud kedatangannya. Tapi aku sedikit merutuki itu ketika melihatnya terdiam di posisinya. Aku hanya berharap pertanyaan itu tidak menyinggungnya hingga membuatnya pergi dan enggan datang kesini lagi. Kalau itu benar terjadi, aku akan terus merutuki mulutku yang amat sangat lancang.

"Kenapa kau harus membicarakan itu? Bukankah sekarang aku ada disini?" Jaejoong kembali dengan kegiatan awalnya. Jawaban itu sedikitnya bisa melegakanku. Setidaknya respon yang dia berikan jauh lebih baik dari yang kubayangkan meskipun tidak memberiku jawaban yang kuinginkan. Jaejoong tetap membelakangiku hingga aku tidak bisa melihat wajah mempesonanya.

"Tentu saja. Kau ada disini sekarang." Ujarku akhirnya. Setelah itu hening. Tidak ada satu pun dari kami yang memulai pembicaraan. Bukannya aku tidak ingin bicara dengannya. Tapi aku tidak memiliki topik yang pantas untuk dibicarakan. Ini sangat canggung kalau kau ingin tau. Bayangkan saja, orang yang selama ini menganggapmu tidak ada tiba-tiba datang dengan senyuman seolah tidak ada yang terjadi. Jujur, aku bingung.

Kami masih tetap di posisi masing-masing. Dia yang terduduk depan kulkas meskipun buah-buahan yang dibawanya sudah tertata apik di dalam kulkas dan aku yang masih tetap duduk bersandar di ranjang dengan tatapan terarah pada langit-langit. Tanganku memegang dada kiriku yang masih tetap berdebar tiap kali Jaejoong berada dalam jarak yang bisa kujangkau. Perlahan, keheningan ini menjadi amat sangat menyenangkan. Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah Jaejoong juga merasakan debaran yang sama denganku? Kuharap iya. Walaupun aku tau kemungkinannya sangat kecil.

Kami berdua menoleh kearah pintu yang terbuka. aku bisa melihat perawat Yoon yang cukup dekat denganku datang dengan mendorong troli makanan. Perawat ini hampir seusia denganku hanya terpaut 2 tahun dengan dia yang kupanggil noona. Yeoja ini cukup cantik. Aku yakin jika aku tidak jatuh pada namja cantik dipojok ruangan sana, aku akan jatuh cinta pada perawat berpembawaan tenang dan sabar ini. Bukannya aku tidak tau kalau perawat ini menaruh rasa padaku. Setiap perhatian yang dia berikan padaku berbeda dengan yang diberikannya pada pasien lain. Tapi seperti yang kukatakan tadi, aku sudah terlanjur terjerat pada pesona namja cantik yang bahkan kecantikannya tidak bisa ditandingi oleh siapapun dimataku.

"Selamat pagi, Yunho-ssi. Sekarang saatnya anda sarapan dan minum obat." Sapa perawat itu dengan senyuman manis yang selalu ditunjukkannya.

"Ne, Perawat Yoon. Kamsahamnida." Aku membalas sapaaannya dengan senyuman yang biasa kutunjukkan pada orang lain. Dapat kulihat pipinya memerah walaupun samar. Aku melirik kearah Jaejoong yang kini berdiri dari posisi awalnya. Namjaku itu menunjukkan ekspresi datar yang tidak dapat kuartikan atau bisa tapi aku ragu? Anggap saja dugaanku benar. Dia cemburu dengan interaksiku dan perawat Yoon. Aku tersenyum dalam hati. Kau benar-benar manis, Jae. Aku mencintaimu. Segeralah kembali ke pelukanku.

Jung Yunho PoV End

Author PoV

Jaejoong melangkahkan kakinya menuju dua anak manusia yang berbincnag seolah dirinya tidak ada disana.

"Ekhem…" dehemnya berusaha mengalihkan perhatian Yunho dari perawat itu menjadi kepadanya.

"Ah.. Jae. Kenalkan, ini perawat Yoon. Dia yang paling dekat denganku disini." Jaejoong menoleh kearah perawat yang menatapnya dengan senyuman. Entah kenapa, namja cantik itu merasa senyuman itu amat sangat menyebalkan. Saking menyebalkannya sampai dia enggan untuk membalas uluran tangan perawat itu.

"Kim Jaejoong." Kenalnya sinis. Tatapannya benar-benar tidak bersahabat.

"Yoon Soonhye imnida." Perawat cantik itu masih tetap mempertahankan senyum di bibirnya meskipun dalam hati dia amat sangat merutuki sikap arogan namja sombong yang sayangnya cantik itu.

"Perawat Yoon, bukankah masih banyak pasien yang harus kau tangani? Kenapa kau ada disini?" tanya Jaejoong. Usiran secara halus.

"Ah, ne. Aku permisi dulu, Yunho-ya." Pamitnya. Jaejoong mendengus karena perawat itu hanya berpamitan pada Yunho dan menganggapnya tidak ada disana.

"Ne, noona. Bekerjalah dengan baik." Yunho menampilkan senyum manisnya mengiringi keluarnya perawat itu. Jaejoong yang melihat itu merasa ingin mencakari wajah tampan Yunho.

"Cih.. such a player!" sinis Jaejoong yang membuat Yunho menatap bingung kearahnya.

"Kau bicara sesuatu, Jae?"

"Ani." Yunho tersenyum mendengar jawaban ketus Jaejoong.

"Menurutmu, bagaimana perawat Yoon?" Yunho memutuskan bermain-main sedikit dengan Jaejoongnya sekaligus mengusir semua kecanggungan yang sempat terasa karena lama tidak saling bicara.

Jaejoong melirik sinis kearah Yunho, "Kenapa kau bertanya?"

"Wae? Apa tidak boleh?" Jaejoong diam mengabaikan Yunho, "Kurasa dia tertarik padaku. Wajar saja, siapa yang tidak tertarik pada namja tampan sepertiku. Iya, kan, Jae?"

Jaejoong menatap Yunho iritasi. "Kau tidak berubah sama sekali." Ujarnya.

Yunho tersenyum kemudian wajahnya menyendu, "Tidak ada yang berubah dariku, Jae. Bahkan perasaanku masih tetap sama seperti dulu." Tangan Jaejoong yang tadinya hendak mengambilkan nampan sarapan Yunho terhenti di udara. Berbeda dengan tadi, kali ini Yunho bisa melihat ekspresi yang ditampilkan wajah cantik itu karena Jaejoong berdiri menyamping.

Wajah cantik itu mengeras. Tapi Yunho masih bisa melihat luka di mata bulat bening yang amat sangat dipujanya itu. Dia sedikit merasa menyesal karena membahas masalah itu sekarang. Saat Jaejoong baru saja memberinya kesempatan. Di tau kepala batu Jaejoong sedang memutar kembali kenangan tentang kebodohannya dulu. Dan itu akan membuka kemungkinan Jaejoong akan pergi karena rasa sakit itu kembali terbuka.

'Stupid Jung. Idiot!' umpat Yunho dalam hati. Ingin rasanya dia menampar mulutnya yang kadang bersuara tanpa perintah dari otaknya.

"Jae, aku…"

"Sudah saatnya kau sarapan, Yun." Kalimat Yunho dipotong oleh Jaejoong yang kini menyodorkan nampan sarapannya. Senyum manis terpatri dibibir plumnya seolah Yunho tidak mengatakan apapun.

Yunho ikut tersenyum. "Suapi aku." Pintanya manja yang membuat Jaejoong memutar bola matanya jengah.

"Berapa umurmu, Jung?!" meskipun mulutnya mengeluarkan ejekan sinis, naja cantik itu tetap menarik kursi mendekat kearah ranjang Yunho dan menyuapi namja tampan itu sarapannya. "Kau harus menghabiskan ini semua karena kau sudah berani membuatku susah."

Yunho memasang wajah melas gagalnya, "Aku tidak akan sanggup, Jae. Itu terlalu banyak. Lambungku belum kuat… Kau tau sendiri, bukan?"

"Aku tidak mau tau. Kau harus menghabiskan semuanya!" paksa Jaejoong.

"Jae.. kau tau, makanan ini tidak enak sama sekali. Hambar. Bagaimana bisa aku makan makanan gagal ini? Coba saja ada orang baik hati yang bersedia memasak untukku." Ratap Yunho yang kembali membuat Jaejoong menatapnya iritasi.

"Bilang saja kau ingin kumasakkan." Sinis Jaejoong sambil menyuapkan sesendok bubur ke mulut Yunho.

"Aku tidak bermaksud seperti itu. Atau kau yang ingin memasakkan makanan untukku? Ahhh…. Wajahku benar-benar menakjubkan! Hanya dengan ini aku bisa membuat semua orang luluh. Ak.." Jaejoong memasukkan bubur kedalam mulut Yunho dengan paksa. Menghentikan semua ocehan Yunho yang menurutnya sangat menjijikkan.

"Berhentilah membual, idiot!" umpat Jaejoong. Dia menunjuk wajah Yunho dengan sendok yang dipegangnya.

"Aku tidak membual, Jae. Aku sedang membicarakan fakta. Wajahku me…" Jaejoong lagi-lagi menyumpal mulut Yunho dengan bubur.

"Ya! Kau…" satu sendok bubur berhasil masuk dengan paksa kedalam mulut Yunho –lagi-.

"Jangan menyuapiku saat aku sedang bicara, Jae!" kesal Yunho sambil menahan tangan Jaejoong yang berniat menyuapinya lagi.

"Aku akan terus begitu tiap kali kau memuja dirimu sendiri! Stupid idiot Jung!" umpat Jaejoong lagi.

"Jangan mengumpat. Sudah kukatakan aku benci kau yang mengumpat." Mata Yunho menatap tajam kearah Jaejoong membuat namja cantik itu menoleh ke samping. Menghidar dari tatapan tajam Yunho.

"Tapi serius, Jae. Yang kukatakan adalah fakta. Aku memang tampan. Semua orang mengakui itu. Aku memiliki karisma yang… ukhuk.. ukhukk!" Jaejoong menyodorkan segelas air pada Yunho dengan panik.

"Mian." Ujarnya sambil menepuk-nepuk pelan punggung Yunho. Bubur yang disuapkannya dengan paksa sukses membuat Yunho tersedak. Dia semakin panik saat Yunho mengaduh sambil memegangi perutnya.

"Isshh.. perutku sakit."

"Yunho, gwaenchanna? Kau tunggu disini. Aku akan memanggilkan dokter." Baru saja namja cantik itu berbalik, tangannya ditahan oleh Yunho. Jaejoong menoleh dan menampilkan wajah 'ada apa?'

"Tidak perlu. Ini hanya sakit biasa. Aku hanya perlu berbaring." Papar Yunho tapi tidak meredakan kekhawatiran Jaejoong.

"Kau yakin? Bagaimana kalau itu akan memperparah keadaanmu?"

"Tidak apa, Jae. Ini hanya sakit biasa. Percaya padaku." Yunho menampilkan senyuman meyakinkan yang membuat Jaejoong akhirnya menghela nafas. Mengalah dengan kekeras kepalaan Yunho.

"Arasseo. Minum obatmu dulu setelah itu kau bisa tidur. Maaf aku membuatmu sakit." Jaejoong melepas pegangan tangan Yunho dari tangannya dan mengambil obat Yunho yang diletakkan diatas meja. Dia menerima air putih yang disodorkan Yunho setelah namja tampan itu menelan obatnya.

"Tidurlah." Namja cantik itu membenarkan letak selimut Yunho.

"Kau tetap disini, kan?" tanya Yunho. Tangannya bergerak menggenggan tangan mungil Jaejoong yang selalu terasa pas di genggamannya. Jaejoong tersenyum dan mengangguk. Yunho balas tersenyum dan mulai memejamkan matanya.

Jaejoong mendudukkan dirinya dikursi. Matanya tertuju pada tangannya yang masih digenggam oleh Yunho. Perlahan rasa hangat dari genggaman tangan Yunho merambat menuju hatinya. Mencairkan hatinya yang membeku sedikit demi sedikit.

"Melihatmu tidur juga membuatku ikut mengantuk." Gumam namja cantik itu sebelum meletakkan kepalanya di ranjang Yunho dan ikut memejamkan matanya menyusul Yunho menuju alam mimpi.

Satu jam kemudian, mata musang Yunho membuka. Kepalanya menoleh dan menemukan Jaejoong yang tertidur. Tangannya yang tidak menggenggam tangan Jaejoong bergerak mengelus kepala namja cantik itu. Senyuman lembut terukir di bibir hatinya.

"Aku tidak tau apa yang terjadi padamu. Mungkin kau terbentur hingga kau berubah seperti ini. Tapi apapun itu aku sangat bersyukur. Meskipun kau masih belum menerimaku sepenuhnya, aku tetap senang karena setidaknya kau mulai membuka hatimu. Aku mencintaimu, Jae. Amat sangat mencintaimu. Kau tau itu, bukan? Kau bisa mengatakan semua yang kukatakan tadi adalah bualan, tapi untuk yang satu ini aku berani bersumpah aku tidak pernah berbohong." Ujar Yunho. Matanya menatap Jaejoong begitu lembut. Pancaran cinta amat sangat terlihat dari matanya.

"Kuharap semua ini bukan mimpi." Gumamnya sebelum menutup matanya kembali.

In Other Side

Seunghyun dan Jiyoung yang baru saja datang ke rumah sakit menatap heran pasangan evil yang berdiri –lebih tepatnya mengintip- di depan ruangan Yunho. Duo evil itu bahkan berbisik-bisik mencurigakan membuat Seunghyun dan Jiyoung makin mempercepat langkahnya. Keduanya khawatir Kyuhyun dan Changmin merencanakan sesuatu yang tidak masuk akal pada Yunho.

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Seunghyun membuat duo evil itu tersentak kemudian meletakkan telunjuk masing-masing di depan bibir. Seunghyun dan Jiyoung mengernyitkan dahi bingung.

"Lihat ke dalam." Suruh Kyuhyun. Dua namja yang baru datang itu segera mengikuti instruksi dari Kyuhyun. Keduanya membulatkan matanya kaget tapi kemudian seulas senyum terukir di bibir keduanya. Di dalam sana mereka melihat Yunho yang tengah tertidur ditemani oleh Jaejoong. Dan jangan lupakan tangan keduanya yang tertaut di atas perut Yunho.

"Kita berhasil, hyung. Kuharap Jae hyung segera sadar." Ujar Jiyoung tersenyum manis kearah Seunghyun membuat namja manly itu gemas. Seunghyun mengecup bibir Jiyoung sekilas membuat wajah Jiyoung memerah karena malu.

"Bisa kalian berhenti menebar awan-awan pink dan kelopak bunga cinta disini?" sindir Changmin yang makin membuat wajah Jiyoung memerah. Seunghyun yang tidak tahan akhirnya malah mengecup pipi Jiyoung.

"Kalian benar-benar.." jengah Changmin. Matanya kemudian melirik kearah Kyuhyun. Kyuhyun yang merasa diperhatikan akhirnya menoleh kearah Changmin.

"Kyu…"

"Jangan macam-macam, Shim! Atau kutendang kau!" ancam Kyuhyun membuat Changmin mendengus kesal.

'Nasibku memiliki uke tsundere.' Batin Changmin nelangsa.

"Kenapa Jaejoong hyung tiba-tiba berubah? Apa kau merasa ini aneh?" tanya Kyuhyun yang membuat Changmin mengangguk membenarkan. Duo evil ini melihat kearah SeungYoung couple yang terus tersenyum sejak tadi.

"Kalian tau sesuatu?" tanya Changmin dengan mata menyipit curiga.

"Cinta akan selalu menuntun seseorang untuk kembali, Changmin-ah." Jawab Seunghyun yang makin membuat Changmin curiga.

"Kalian mencurigakan." Ujar Changmin, "Aku mengawasi kalian!" Jiyoung memeletkan lidahnya mendengar ancaman Changmin.

"Lebih baik kita pulang. Rasanya kita tidak perlu mengkhawatirkan Yunho hyung hari ini. Ada orang yang lebih dibutuhkannya disini. Hubungi Yoochun dan Junsu, katakan mereka tidak perlu datang kemari." Changmin dan Kyuhyun baru saja akan protes tapi Seunghyun memotongnya, "Jangan mengganggu kebahagiaan orang lain, Shim!"

"Arasseo." Ucap Changkyu pasrah. Kemudian keempat namja itu berjalan pergi. Jiyoung mengirim pesan pada Junsu untuk tidak datang dan menjelaskan semuanya saat namja itu menelepon untuk menanyakan alasannya. Dan seperti yang sudah diduga, namja imut itu memekik senang dengan suara lumba-lumbanya membuat keempat namja itu menutup telinga karena Jiyoung me-loudspeaker handhonenya.

Author PoV

Jihydan me membuka matanya perlahan. Tangannya menutup matanya menghalangi sinar matahari yang terasa menusuk. Ah.. dia lupa menutup jendela kamarnya lagi. Yeoja yang tengah berbadan dua itu bangun dari tidurnya dan melangkah tertatih menuju dapur. Jihye tersenyum lembut ketika menemukan Jaejoong yang tengah memasak sarapan sambil bersenandung riang.

"Selamat pagi, oppa." Sapa Jihye membuat Jaejoong spontan menoleh ke belakang. Wajahnya yang tadi riang berubah datar begitu melihat Jihye.

"Sejak kapan kau disana?" tanyanya tanpa membalas sapaan yeoja yang tinggal serumah dengannya itu.

"Baru saja, oppa." Jawab Jihye tetap tersenyum. Dia sudah terbiasa dengan sikap dingin Jaejoong padanya.

"Bersihkan dirimu! Sebentar lagi sarapan siap." Ujar Jaejoong. Dia kembali ke kegiatan awalnya, menyiapkan sarapan untuk tiga orang. Dirinya sendiri, Jihye dan Yunho yang entah kenapa menjadi amat sangat manja.

Jaejoong tengan menyusun masakannya di kotak bekal ketika Jihye datang dengan tangan yang memegangi perutnya yang mulai membesar. Tapi dapat dikatakan kecil untuk ukuran wanita yang tengah hamil 4 bulan. Hal itu tentunya tidak luput dari perhatian Jaejoong.

"Kenapa perutmu kecil? Bukankah usia kandunganmu sudah masuk bulan ke-4?" tanya Jaejoong. Jihye yang mendengarnya ikut melihat kearah perutnya.

"Mollayo, oppa."

"Apa kau ada jadwal check up hari ini?"

"Ani, oppa."

"Ikut aku kerumah sakit. Kau periksa kandunganmu. Tanyakan kenapa perutmu tidak sebesar ibu hamil lainnya. Aku takut ada sesuatu dengan bayimu." Jihye tersenyum mendengar kalimat Jaejoong. Namja itu perlahan mulai menaruh perhatian pada anak di dalam perutnya.

"Ne, oppa." Jawabnya. 'Kau manis sekali, oppa. Yunho oppa benar-benar beruntung jika bisa memilikimu. Kau memiliki kriteria seorang istri yang paling dcari.' Batin Jihye sambil memperhatikan Jaejoong yang dengan telatennya menata makanan di kotak bekal yang diduganya untuk Yunho.

"Apa yang kau lihat?" tanya Jaejoong tanpa mengalihkan fokus dari kotak bekalnya.

"Kotak bekal itu untuk Yunho oppa?" tanya Jihye. Jaejoong hanya berdehem mendengar pertanyaan Jihye tanpa berniat memberi jawaban. Wajah namja cantik itu memerah dengan sendirinya membuatnya makin terlihat manis di mata Jihye.

'Kurasa perlahan kau kembali menjadi dirimu yang dulu, oppa.' Batin Jihye. Dia mendudukkan dirinya perlahan. Tangannya menyendokkan nasi dan beberapa lauk di mangkoknya kemudian memakannya dengan lahap. "Kau tidak makan, oppa?"

"Aku makan di rumah sakit. Cepatlah! Sebentar lagi jam sarapan Yunho." Jaejoong berjalan menuju kamarnya untuk bersiap menuju rumah sakit.

Jihye terus tersenyum merasakan perubahan Jaejoong. Senyum itu bahkan tetap bertahan selama perjalanan kerumah sakit. Hal itu membuat Jaejoong heran tapi dia memutuskan untuk tidak bertanya. Itu bukan urusannya, bukan?

"Aku akan mengantarmu ke dokter kandungan dulu." Ujar Jaejoong tiba-tiba. Jihye yang mendengarnya tersentak.

"Tidak perlu, oppa. Aku bisa sendiri. Lagipula bukankah sekarang adalah jam sarapn karang adalah jam sarapan Yunho oppa? Kau harus segera kesana atau makanan spesial yang kau buat akan sia-sia." Jihye mengerling kearah kotak bekal yang ada di tangan kanan Jaejoong.

Jaejoong sontak menyembunyikan kotak bekalnya dan menatap Jihye datar. Tapi rona merah yang menjalar di pipinya tidak bisa berbohong, "Kau yakin?" Jihye mengangguk, "Baiklah."

Jihye tetap memandangi punggung Jaejoong sampai namja cantik itu berbelok di ujung koridor. "Jaga cintamu, oppa. Kami tidak akan mengganggu hubungan kalian lagi." Ujar Jihye tulus sambil mengelus perut buncitnya pelan.

"Eomma janji kita akan hidup dengan baik meskipun tanpa seorang ayah, aegi-ya." Bisiknya memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Yeoja itu akhirnya berbalik dan melanjutkan perjalanannya ke ruangan dokter Byunghun.

Di ruangan Yunho

Seorang namja tampan kini tengah gelisah di ranjangnya. Matanya tidak berhenti melirik kearah pintu seolah menunggu seseorang -atau memang dia sedang menunggu seseorang?-. Sikapnya itu tentu saja membuat Changmin yang ada disana jengah. Please, dia hanya sendirian disini karena Kyuhyun-nya ada kuliah pagi. Tidak bisakah namja Jung itu sedikit menghiraukan kebeadaannya?

"Hyung, bisakah kau hentikan tingkahmu? Berhenti melirik kearah pintu! Pintu itu tidak akan pergi kemana-mana!" sentak Changmin membuat Yunho menoleh kearahnya dan memberikan namja tiang itu glare dengan cuma-cuma.

"Diamlah, Shim!" baru saja Changmin hendak membalas bentakan Yunho, suara pintu lebih dulu menginterupsi kalimatnya. Dua namja tampan itu menoleh dan menampilkan ekspresi yang berbeda setelah melihat siapa yang datang.

"Kyuuuu… kau datang? Bukankah kau bilang kau ada kuliah pagi?" girang Changmin. Badan tingginya berlari menyongsong (?) Kyuhyun dan memeluk namja berkulit pucat itu erat.

"Dosenku tidak bisa datang." Jawab Kyuhyun seraya membalas pelukan Changmin.

"Cih.. bisakah kalian hentikan itu? Kalian bertingkah seolah kalian tidak pernah bertemu bertahun-tahun." Rutuk Yunho. Wajahnya menunjukkan ekspresi paling datar yang dia punya.

"Bilang saja kau kesal karena yang datang Kyuhyun bukan princessmu, kan, hyung?" goda Changmin yang dibalas delikan oleh Yunho.

"Princess? Nugu?" tanya seseorang yang entah kapan sudah ada disana tanpa disadari oleh Yunho, Changmin, dan Kyuhyun.

"Tentu saja J…Omo! Jae hyung?! Sejak kapan kau ada disana?" tanya Changmin shock.

"Sejak pembicaraan kalian mengenai Yunho yang menunggu princessnya." Jawab Jaejoong dingin. matanya memandang sinis kearah Yunho yang hanya bisa meneguk ludah gugup dan mengumpat Changmin dalam hati.

"Ahhh…. Anou, hyung. Jangan salah paham. Yang ditunggu Yunho hyung itu kau." Jawab Changmin mencoba menjelaskan sebelum keadaan memanas. Dapat dia rasakan tatapan menusuk dari namja yang dibelakanginya.

"Aku? Kenapa princess? Bukankah aku namja?" tanya Jaejoong masih dengan intonasi yang sama.

"Itu karena Jae hyung secanti Princess." Jawab Changmin dengan cengiran bodohnya. Jaejoong hanya memutar bola matanya bosan.

"Terserah kau saja." Namja cantik itu melangkahkan kakinya menuju meja nakas Yunho dan meletakkan kotak bekalnya disana. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya.

"Tadinya sangat buruk. Tapi entah kenapa sekarang menjadi sangat baik." Jawab Yunho dengan senyuman yang membuat dua magnae disana mengernyit jijik.

"Kau sudah sarapan?" tanya Jaejoong mengabaikan godaan Yunho. Belum sempat Yunho menjawab, suara pintu yang terbuka membuat keduanya menoleh. Jaejoong menampilkan wajah sedatar papan setrika begitu melihat siapa yang masuk.

` "Annyeong, Yunho-ya. Ini sarapanmu." Sapa suster bermarga Yoon itu dengan senyuman manisnya.

"Kamsah…."

"Tidak perlu. Aku sudah membawakan sarapan untuk Yunho." Potong Jaejoong sebelum Yunho menyelesakan kalimatnya.

Suster itu mengernyit tidak suka, "Maaf, Jaejoong-ssi. Tapi pasien belum diijinkan makan maknan dari luar karena belum tentu akan cocok dengan kondisi lambungnya." Jelas suster itu membuat perempatan muncul di kening Jaejoong.

"Jadi secara tidak langsung kau mengatakan makananku tidak layak untuk dimakan? Begitu?!" sentak Jaejoong emosi. Entah apa yang membuat emosinya begitu mudah tersulut.

"Bukan begitu. Tapi mungkin saja makanan yang anda buat tidak sesuai dengan kondisi pasien." Jelas suster Yoon lagi. Meskipun dia kesal pada namja berparas cantik di depannya itu, dia tetap harus menghormatinya.

"Tetap saja. Kau.."

"Sudahlah, Jae." Potong Yunho. Jaejoong mendelik kearah namja tampan yang menurutnya tengah membela suster itu. Menyadari arti tatapan Jaejoong, Yunho hanya tersenyum lembut, "Tidak apa-apa , noona. Aku yang meminta Jaejoong memasakkan makanan untukku. Jangan khawatir, dia mengetahui penyakitku jauh lebih bak daripada aku sendiri. Jadi dia sangat tahu makanan apa yang boleh ku konsumsi saat penyakitku kambuh." Jawaban Yunho itu membuat suster cantik itu memasang wajah sendu yang sangat kentara.

"Kau yakin, Yunho-ya?" tanyanya memastikan. Yunho mengangguk yakin, "Baiklah kalau begitu." Suster itu berbalik dan mendorong troli berisi makanan itu keluar ruangan Yunho. Jaejoong yang melihat itu hanya tersenyum –tepatnya menyeringai- puas.

"Jadi, Jae. Bagaimana kalau kau menyuapiku sarapanmu yang sehat itu?" ujar Yunho menyadarkan Jaejoong dari acara –mari- menyeringai- jahat- pada- yeoja- pengganggu- nya. Namja itu segera membuka bekal yang tadi dibawanya dan menyodorkannnya kearah Yunho.

"Kau tidak menyuapiku?" tanya Yunho. Suaranya dibuat semanja mungkin. Matanya juga menampilkan puppy eyes yang tentu saja amat sangat gagal jika dipadukan dengan wajah tampannya.

"Kau punya tangan. Jadi makanlah sendiri, Jung!" sentak Jaejoong sinis. Sebenarnya di amat sangat malu setelah sadar apa yang baru saja dilakukannya. Secara tidak sengaja dia bertingkah seolah cemburu melihat yeoja lain berusaha mendekati Yunho. Atau dia memang cemburu? Jaejoong menggeleng mengusir jauh-jauh pemikiran itu dari otaknya.

"Waeyo, Jae?" heran Yunho melihat Jaejoong yang tiba-tiba menggelengkan kepalanya setelah menyuruhnya makan sendiri. Bukankah seharusnya dia yang menggelengkan kepala?

"Gwaenchanna." Jawab Jaejoong. Tangannya makin menyodorkan bekal ke depan muka Yunho, "Apa yang kau tunggu, Jung? Cepat makan!"

"Kenapa kau kembali menjadi si galak Jaejoong? Aku lebih suka Kim Jaejoong yang kemarin. Yang memanjakanku. Memperhatikanku. Bahkan tidur…"

"Diam kau, Jung! Atau makanan ini tidak jadi masuk lambungmu tapi berakhir kutumpahkan di wajahmu?!" sentak Jaejoong dengan mata yang dilebarkan berusaha untuk mengintimidasi Yunho. Tapi tentu saja gagal.

"Haahhhh… Aku sangat ingin disuapi seseorang sekarang. Tapi orang yang sangat kuharapkan untuk menyuapiku malah menolak," Yunho melirik Jaejoong yang mengalihkan tatapannya kesamping, "Changmin-ah, bisa kau panggilkan Soonhye noona? Kurasa aku bisa minta disuapi olehnya." Changmin menyeringai melihat kerlingan di mata Yunho.

"Arasseo, hyung." Changmin baru saja akan beranjak ketika Jaejoong tiba-tiba duduk di ranjang Yunho.

"Jangan macam-macam, Shim!" bentak Jaejoong yang membuat Changmin menyeringai makin lebar.

"Kau cemburu, hyung? Apa yang membuatmu sadar, eoh?" tanya Changmin yang berhasil membuat Jaejoong menegang. Kejadian satu minggu lalu kembali terbayang di otaknya. Kepala namja cantik itu menunduk. Ekspresi yang tadinya kesal kini berubah menjadi sendu. Yunho yang melihat itu hanya bisa memberi Changmin death glare-nya yang paling mematikan yang membuat namja tiang itu menggaruk tengkuknya salah tingkah. Dia mengucapkan kata maaf tanpa suara pada Yunho.

"Namja tiang pabo!" rutuk Kyuhyun. Matanya menatap sinis kvarah namjachingunya yang tidak bisa membaca situasi.

"Jae-ah… sampa kapan kau akan menunda sarapanku? Sebentar lagi jam minum obatku lewat." Ujar Yunho berusaha membuat Jaejoong melupakan perkataan Changmin. Dan benar saja. Namja cantik itu kini mengangkat kepalanya dan menampilkan senyum seolah tidak ada yang terjadi. Padahal dalam hati namja cantik itu tengah menyesali perbuatannya.

"Mian." Jaejoong muali menyuapi Yunho dengan perlahan. Dia tidak ingin kejadian kemarin terulang lagi, "Kau haru menghabiskan ini, Jung. Atau aku akan membunuhmu."

"Arasseo, Jae." Jawab Jaejoong ditengah kunyahannya. "Ah.. aku ada kabar baik. Dokter bilang aku bisa pulang dua hari lagi."

Jaejoong tersenyum, "Baguslah. Lain kali jaga kesehatanmu."

"Akan lebih mudah jika ada seseorang yang memasak untukku setiap hari." Jaejoong menampilkan ekspresi datar.

"Aku bukan pembantumu." Ujarnya sinis.

"Aku tidak meminta apa-apa padamu."

"Brengsek kau!" umpat Jaejoong lebih pada dirinya sendiri karena bisa masuk kedalam perangkap Yunho.

"Jangan mengumpat, Jae." Ujar Yunho dengan wajah serius. Dia tidak bohong saat mengatakan dia tidak suka Jaejoong mengumpat. Jaejoong yang diperingati hanya diam sambil meletakkan kotak bekal yang sudah kosong dan beralih menyodorkan segelas air putih dan obat yang harus diminum Yunho.

"Tapi kalau kau memang mau memasak untukku setiap hari, aku tidak akan menolak." Goda Yunho yang berhasil membuatnya mendapat jitakan gratis dari Jaejoong.

Author PoV

Kibum menatap dua pemuda yang berdebat didepannya itu dengan senyum gemas. Pasalnya, tidak ada satupun dari mereka berdua yang bersedia mengalah hanya untuk masalah sepele, yaitu siapa yang akan menyetir mobil.

"Aku, Jae. Kau lebih baik duduk manis di kursi penumpang." Ujar Yunho keras kepala.

"Kau baru sembuh, Jung! Bagaimana kalau kau tiba-tiba kambuh dan malah menabrakkan mobil ke mobil lain? Aku tidak mau mati muda! Terlebih mati bersamamu!" bentak Jaejoong dengan imajinasinya yang membuat semua yang datang menjemput kepulangan Yunho dari rumah sakit speechless.

"Kau berlebihan, Jae." Ujar Mrs. Kim jengah dan sedikit malu dengan tingkah anak bungsunya yang kini mulai berubah menjadi Jaejoong yang dulu.

"Tapi aku benar, eomma. Bagaimana jika itu memng belum terjadi? Aku bahkan belum menikah." Kalimat Jaejoong berhasil menurunkan suasana ceria yang sempat terbentuk. Menyadari itu, Jaejoong hanya bisa mengalihkan tatapannya kearah lain. Berusaha mencari topik lain untuk mengembalikan suasana.

"Aku tidak mau tahu. Aku yang menyetir!" ucapan Yunho sontak menghilangkan suasana canggung diantara mereka. Dengan gerakan cepat, namja tampan itu memasuki kursi pengemudi dan menutup pintunya.

"Ya! Jung Yunho!" teriak Jaejoong berusaha membuka pintu pengemudi tapi percuma karena Yunho sudah menguncinya. Dengan wajah tertekuk kesal, akhirnya Jaejoong berjalan menuju kursi penumpang dan duduk disana –setelah Yunho membuka kuncinya- dengan bantingan keras saat menutup pintunya.

"Kau bisa membuat pintu itu lepas jika kau menutupnya seperti itu."

Jaejoong mendengus, "Bukannya kau bisa membeli mobil lain jika itu memang terjadi, Tuan Jung?" sinisnya. Yunho hanya tersenyum kemudian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit.

"Kau mau kuantar?" tanya Yunho memecah keheningan. Jaejoong menoleh kemudian menggeleng.

"Ani. Mobilku ada dirumahmu. Jadi aku akan mampir sebentar." Yunho mengangguk. Seterusnya hanya keheningan yang menguasai perjalanan dua sejoli itu.

Di mobil lain, pasangan Seungyoung tengah diinterogasi oleh pasangan Yoosu.

"Kenapa Jaejoong hyung tiba-tiba berubh seperti itu?" tanya Junsu. kepalanya menoleh kebelakang. Berusaha mengintimidasi pasangan karismatik –Seunghyun dan Jiyoung- yang duduk dibelakang. Tentu saja gagal karena wajah Junsu terlalu imut untuk menakuti keduanya.

"Aku akan menceritakannya nanti." Jawab Jiyoung santai yang membuat Junsu mempoutkan bibirnya dan membalikkan badannya kembali menghadap ke depan.

"Kenapa tidak sekarang?" kali ini Yoochun yang bertanya. Dia menatap pasangan Seungyoung dari spion.

"Sabar, Yoochun hyung. Junsu-ya, bagaimana perkembangan kekasih Jihye noona?" tanya Jiyoung mengalihkan pembicaraan.

"Tidak ada perkembangan. Aku bahkan belum dapat menemuinya." Jawab Junsu sambil menghela nafas.

"Gwaenchanna. Masih ada waktu tiga hari. Kuharap dalam kurun waktu itu kita bisa menemui 'dia'."

"Tiga hari? Kenapa tiga hari?" tanya Junsu bingung begitu juga Yoochun yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi kebingungannya.

"Ada saatnya kalian akan tahu semuanya." Jawab Seunghyun dengan senyum misterius membuat Junsu lagi-lagi mendengus kesal.

"Kenapa kalian jadi menyebalkan begini?" rutuk Junsu.

"Mian, Junsu-ya. Tapi rencananya akan hancur jika makin banyak orang yang tau." Junsu hanya melirik sinis kearah namja yang tidak kalah imut dengannya itu. Tapi kemudian senyum manis terbentuk dbibirnya.

"Baiklah. Terserah kalian. Aku akan membantu sebisaku meskipun ku tidak tahu apapun." Ujarnya membuat Jiyoung dan Seunghyun tersenyum.

"Percayalah pada kami. Semuanya akan segera berakhir. Serahkan urusan Yunho hyung dan Jaejoong hyung pada kami. Kalian hanya perlu memikirkan bagaimana kekasih Jihye noona kembali pada noona." Ujar Seunghyun bijak yang dibalas anggukan oleh Yoosu.

"Kami percaya pada kalian." Jawab Yoochun.

"Aku benar-benar berharap ini segera berakhir." Gumam Junsu sebelum keheningan datang menghampiri. Empat namja itu mulai tenggelam dalam alam pikiran masing-masing.

In Other Side

Seorang namja dengan tinggi diatas rata-rata berdiri dengan tatapan kosong di balkon kamarnya. "Ada apa?" tanyanya ketika telinganya menangkap suara langkah orang lain di kamarnya.

"Namja-namja itu datang lagi, tuan muda." Jawab bodyguard yang bertugas menjaga pintu gerbang rumahnya tersebut.

"Apa yang mereka inginkan?" tanya sang Tuan Muda dingin.

"Mereka ingin bertemu dengan tuan muda. Hanya itu yang mereka katakan, Tuan Muda."

"Panggil aku jika mereka datang lagi. Aku akan menemui mereka."

"Tapi.."

"Jangan membantah! Jika kau takut pada Appa, katakan saja mereka tidak ada hubungannya dengan Jihye. Bukankah aku hanya dilarang menemui orang yang ada sangkut pautnya dengan Jihye?" bodyguard itu menganggu mengiyakan perkataan Tuan Mudanya.

"Pergilah." Bodyguard itu membungku hormat sebelum berbalik pergi.

Namja yang tadi dipanggil tuan muda itu menghela nafas berat seolah semua kebahagiaannya telah terenggut, "Jihye, bagaimana kabarmu? Dan lagi, apa anak kita berkembang dengan baik di perutmu?" hening. Hanya hembusan angin yang terdengar.

"Aku minta maaf. Hiduplah dengan baik. Aku sangat mencintaimu. Amat sangat mencintaimu." Gumamnya dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya. Membasahi pipi tirusnya yang makin tirus dari hari ke hari.

.

.

TBC

.

.

Annyeong, readddddeeerrrrr sssiiii…

Mianhae lama update.. tugas kuliah ngga bisa diajak kompromi, weh!

Mianhae juga, kalo ceritanya mulai bosenin, jujur gue mulai rada ilang feel sama ff ini. Mungkin karena terlalu lama dieremin tanpa diliat-liat lagi kali, ya.?

Side story itu buat yang nanya kenapa tiba-tiba Mrs. Kim yang dulu nentang hubungan Yunjae jadi ngerestuin. Kasih sayang seorang ibu itu lih dalam dari samudera, weh!

Mungkin Cuma ini yang bisa gue cuap-cuap. Gue ngga bisa cerewet soalnya gue kelewat cool. Maap buat yang review kaga bisa gue bales satu-satu. Gua juga manusia, weh! Jangan lupa buat revie lagiii,,

Promote, nih. Ada yang suka Meanie couple? Gue ada FF satu tentang mereka. Baca, yeth! Review kalo bisa. Makasih #deepbow

RnR, ne?

Annyeong… ppyounggg #ngilang