Previous Story

Kibum menatap dua pemuda yang berdebat didepannya itu dengan senyum gemas. Pasalnya, tidak ada satupun dari mereka berdua yang bersedia mengalah hanya untuk masalah sepele, yaitu siapa yang akan menyetir mobil.

"Aku, Jae. Kau lebih baik duduk manis di kursi penumpang." Ujar Yunho keras kepala.

"Kau baru sembuh, Jung! Bagaimana kalau kau tiba-tiba kambuh dan malah menabrakkan mobil ke mobil lain? Aku tidak mau mati muda! Terlebih mati bersamamu!" bentak Jaejoong dengan imajinasinya yang membuat semua yang datang menjemput kepulangan Yunho dari rumah sakit speechless.

"Kau berlebihan, Jae." Ujar Mrs. Kim jengah dan sedikit malu dengan tingkah anak bungsunya yang kini mulai berubah menjadi Jaejoong yang dulu.

"Tapi aku benar, eomma. Bagaimana jika itu memng belum terjadi? Aku bahkan belum menikah." Kalimat Jaejoong berhasil menurunkan suasana ceria yang sempat terbentuk. Menyadari itu, Jaejoong hanya bisa mengalihkan tatapannya kearah lain. Berusaha mencari topik lain untuk mengembalikan suasana.

"Aku tidak mau tahu. Aku yang menyetir!" ucapan Yunho sontak menghilangkan suasana canggung diantara mereka. Dengan gerakan cepat, namja tampan itu memasuki kursi pengemudi dan menutup pintunya.

"Ya! Jung Yunho!" teriak Jaejoong berusaha membuka pintu pengemudi tapi percuma karena Yunho sudah menguncinya. Dengan wajah tertekuk kesal, akhirnya Jaejoong berjalan menuju kursi penumpang dan duduk disana –setelah Yunho membuka kuncinya- dengan bantingan keras saat menutup pintunya.

"Kau bisa membuat pintu itu lepas jika kau menutupnya seperti itu."

Jaejoong mendengus, "Bukannya kau bisa membeli mobil lain jika itu memang terjadi, Tuan Jung?" sinisnya. Yunho hanya tersenyum kemudian mulai menjalankan mobilnya meninggalkan pelataran rumah sakit.

"Kau mau kuantar?" tanya Yunho memecah keheningan. Jaejoong menoleh kemudian menggeleng.

"Ani. Mobilku ada dirumahmu. Jadi aku akan mampir sebentar." Yunho mengangguk. Seterusnya hanya keheningan yang menguasai perjalanan dua sejoli itu.

Di mobil lain, pasangan Seungyoung tengah diinterogasi oleh pasangan Yoosu.

"Kenapa Jaejoong hyung tiba-tiba berubh seperti itu?" tanya Junsu. kepalanya menoleh kebelakang. Berusaha mengintimidasi pasangan karismatik –Seunghyun dan Jiyoung- yang duduk dibelakang. Tentu saja gagal karena wajah Junsu terlalu imut untuk menakuti keduanya.

"Aku akan menceritakannya nanti." Jawab Jiyoung santai yang membuat Junsu mempoutkan bibirnya dan membalikkan badannya kembali menghadap ke depan.

"Kenapa tidak sekarang?" kali ini Yoochun yang bertanya. Dia menatap pasangan Seungyoung dari spion.

"Sabar, Yoochun hyung. Junsu-ya, bagaimana perkembangan kekasih Jihye noona?" tanya Jiyoung mengalihkan pembicaraan.

"Tidak ada perkembangan. Aku bahkan belum dapat menemuinya." Jawab Junsu sambil menghela nafas.

"Gwaenchanna. Masih ada waktu tiga hari. Kuharap dalam kurun waktu itu kita bisa menemui 'dia'."

"Tiga hari? Kenapa tiga hari?" tanya Junsu bingung begitu juga Yoochun yang tidak bisa menyembunyikan ekspresi kebingungannya.

"Ada saatnya kalian akan tahu semuanya." Jawab Seunghyun dengan senyum misterius membuat Junsu lagi-lagi mendengus kesal.

"Kenapa kalian jadi menyebalkan begini?" rutuk Junsu.

"Mian, Junsu-ya. Tapi rencananya akan hancur jika makin banyak orang yang tau." Junsu hanya melirik sinis kearah namja yang tidak kalah imut dengannya itu. Tapi kemudian senyum manis terbentuk dbibirnya.

"Baiklah. Terserah kalian. Aku akan membantu sebisaku meskipun ku tidak tahu apapun." Ujarnya membuat Jiyoung dan Seunghyun tersenyum.

"Percayalah pada kami. Semuanya akan segera berakhir. Serahkan urusan Yunho hyung dan Jaejoong hyung pada kami. Kalian hanya perlu memikirkan bagaimana kekasih Jihye noona kembali pada noona." Ujar Seunghyun bijak yang dibalas anggukan oleh Yoosu.

"Kami percaya pada kalian." Jawab Yoochun.

"Aku benar-benar berharap ini segera berakhir." Gumam Junsu sebelum keheningan datang menghampiri. Empat namja itu mulai tenggelam dalam alam pikiran masing-masing.

.

.

.

Mianhae, Nado Saranghae

Author : KeiLee

Main Pair : Yunjae (Jung Yunho x Kim Jaejoong)

Other Pair : Yoosu, Changkyu, TOPGD, little bit SiBum.

Other Cast : Go Ahra, Choi Siwon, Choi (Kim) Kibum, dan lainnya akan ditemukan seiring berjalannya cerita.

Genre : Romance, Drama (banget) sinetron Indonesia yang paling drama sampe episodenya ribuan dan berseason-season aja kalah.

Rate : T-M. Gue mulai sedikit terkontaminasi. Tapi Cuma dikit doang. Totally, gue masih polos ko..

Warning : YAOI. BxB. Little STRAIGHT. Typo (s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit layaknya YJS di dunia, DLDR. Lebih sinetron dari sinetron yang paling sinetron (?). Tidak menerima Kritik dengan bahasa yang kasar, paling menerima kripik singkong atau kripik kentang. Biasakan RnR. Kalo bisa baca dulu yang Noona, I Love Him biar lebih nyambung. Judul menipu. Isi berantakan dan maksa banget. Jalan cerita membingungkan dan berantakan sesuai sama idup gue T-T. Menimbulkan resiko mual dan nafsu makan menurun, jadi bagi yang diet dianjurkan membaca #apadeh

ADA PROMOSI DI AKHIR NANTI. BACA, YAAAAA…..!

Okelah, seperti biasa. Gue cool make banget jadi ngga banyak bacot.

So, Check It Out..

.

~ Start Story ~

.

"Yunho-ya, kau mau kemana?" tanya Nyonya Jung begitu melihat anak tunggalnya turun dari kamarnya dengan wajah berseri-seri dan penampilannya begitu rapi.

"Kerumah, Jongie." Jawabnya ceria, "Dia bilang dia memasak untukku."

"Jangan lupa bawa obatmu dan berhati-hatilah di jalan." Ujar sang Appa.

"Ne, Appa."

Kibum menatap kepergian Yunho kemudian atensinya beralih pada Siwon yang juga menatap kearahnya. Dua namja paruh baya itu tersenyum lega.

"Kuharap mereka akan terus seperti ini. Aku tidak bisa lagi melihat Yunho dan Jaejoong saling menyiksa seperti kemarin." Ujar Kibum yang diangguki Siwon.

"Kita hanya perlu berdoa untuk mereka." Ujar kepala keluarga Jung itu.

Kembali pada Yunho yang tengah mengendarai mobilnya dengan wajah yang terus menampilkan senyum. Tangannya mengelus wallpapaer ponselnya yang menampilkan wajah tersenyum Jaejoong. Dia berbelok ke pelataran rumah keluarga Kim. Turun dari mobilnya dan sedikit berlari menuju pintu rumah Keluarga Kim. Belum sempat tangannya mengetuk, pintu bercat putih itu terbuka dan menampilkan sesosok yeoja muda dengan dress merah muda yang anggun.

"Yunho-ya? Kau sudah sembuh?" tanya Ahra.

"Ne, Noona. Noona mau pergi?" Ahra mengangguk, "Aish... padahal ini pertama kalinya aku datang kesini setelah aku sembuh dan Noona akan pergi."

"Yak! Aku pergi bukan untuk bersenang-senang. Aku harus menjamu klien perusahaan, bodoh! Sudahlah, masuk saja! Aku pergi dulu, Yunho-ya. Selamat bersenang-senang."

"Ne, Noona. Hati-hati di jalan." Ahra hanya melambaikan tangan membalas pesan Yunho. Selepas kepergian Ahra, Yunho segera melesat masuk menuju dapur.

"Jae. Aku datang." Teriaknya. Dia sudah membayangkan senyum Jaejoong yang menyambutnya, tapi pada kenyataannya malah tatapan sinis dari namja cantik itu yang didapatnya.

"Jae? Kenapa?" tanya Yunho sembari melangkah mendekat.

"Mau apa kau?" tanya Jaejoong datar.

"Menemuimu. Bukankah kau yang mengundangku?" tanya Yunho heran. Dia mulai berpikir jangan-jangan dia hanya berhalusinasi menerima undangan Jaejoong.

"Geojitmal!"

"Hah?"

"Pulang saja! Kau tidak ada perlu disini!"

"Mwo?"

"Ahra noona tidak ada. Bukankah kau ingin bertemu Noona di saat pertama kau datang kemari setelah keluar rumah sakit?!" Jaejoong masih bertahan dengan nada sinisnya.

Yunho yang awalnya memasang wajah super bingung kini menampilkan smirk yang membuat Jaejoong merinding, "Kau cemburu?" tanya Yunho nakal.

"Kau bercanda?!"

"Tidak perlu berteriak, Jae." Gerutu Yunho sembari mengusap-usap telinganya yang pengang karena teriakan tiba-tiba dari Jaejoong.

"Gara-gara kau sendiri!"

Yunho kembali memasang senyum nakal, "Kau benar-benar cemburu, kan?" godanya lagi.

"Lebih baik kau makan daripada kau terus bicara hal yang tidak masuk akal." Ujar Jaejoong mengalihkan topik. Yunho terkekeh melihat wajah Jaejoong yang memerah hingga telinga.

"Wajahmu merah, Jae." Goda Yunho.

"Yak! Jung Yunho! Berhenti menggodaku atau aku tidak akan bicara denganmu lagi!" ancam Jaejoong.

"Kau tidak aka sanggup!"

"Bodoh! Kau lupa? Aku bahkan tidak mau menatapmu sampai tiga hari lalu!" Jaejoong tesentak karena kalimatnya dan sontak menatap Yunho dengan wajah bersalah. Yunho yang melihat itu hanya tersenyum.

"Gwaenchanna." Ujarnya. Dia sadar. Meskipun sekarang dia bisa bicara dengan akrab bersama Jaejoong tapi kenangan buruk itu pasti tetap terpatri di benak masing-masing. Dan Yunho akan melakukan apapun untuk membuat dirinya dan Jaejoong tidak mengingat masa-masa itu.

"Maaf." Gumam Jaejoong.

"Sudahlah. Kau ada acara hari ini?" tanya Yunho. Tangannya terulur menerima mangkuk nasi yang disodorkan Jaejoong.

"Ani. Aku free. Kenapa?" tanya Jaejoong.

"Mau menghabiskan hari denganku?" tawar Yunho. Jaejoong menatap namja bermata musang itu kemudian mengangguk sambil tersenyum manis.

"Habiskan dulu makananmu dan minum obat." Ujar namja cantik itu yang diangguki Yunho. Jaejoong menatap nasinya dala diam. Dalam benaknya kembali berputar pembicaraannya dengan Jihye dan Jiyoung waktu itu.

'Hari ini hari terakhir, ya?' batinnya sedih. 'Kuharap keputusanku benar.' Lanjutnya masih dalam hati sebelum mulai menyantap makanannya sambil sesekali berbicara –bertengkar- dengan Yunho.

"Kita mau kemana?" tanya Jaejoong sembari memasang sabuk pengaman.

"Lotte world." Jawab Yunho. Namja berkulit tan itu mulai menyalakan mobil dan mengemudikannya keluar dari halaman rumah Jaejoong.

"Kau pikir aku anak kecil?" sinis Jaejoong. "Bisa kau ajak aku ke tempat yang lebih menarik?"

"Definisikan tentang tempat yang menarik bagimu." Ujar Yunho masih tetap fokus dengan kegiatan menyetirnya.

Jaejoong memasang wajah berpikir yang menggemaskan. Yunho yang sempat melirik Jaejoong hanya terkekeh. Betapa dia sangat merindukan ekspresi itu dari Jaejoong.

"Hmmm.. molla. Aku tidak bisa memikirkan apa-apa." Jawab Jaejoong akhirnya.

"Kuanggap kau setuju kuajak ke Lotte World."

"Terserah." Jawab Jaejoong pasrah.

Di sisi lain, Seunghyun dan Jiyoung kini tengah berada di dalam mobil mengamati keadaan sebuah rumah yang selalu terlihat lengang padahal mereka yakin ada seseorang di sana. Atau beberapa orang? Entahlah.

"Kita harus menjalankan rencana kita secepat mungkin, hyung. Hari ini hari terakhir taruhan yang kita lakukan." Ujar Jiyoung yang diangguki Seunghyun.

"Kau siap?" lagi-lagi Seunghyun mengangguk.

Seunghyun mulai keluar dari mobil. Merapikan setelannya dan mengambil properti yang dibutuhkannya dari kursi belakang mobil.

"Hati-hati, hyung."

"Ne."

Seunghyun berjalan dengan pasti menuju gerbamg rumah besar di depannya. Tangannya tanpa ragu membunyikan bel. Seorang satpam muncul dan membukakan pintu ketika melihat setelan Seunghyun. 'Oke. Rintangan pertama, sukses.' Batin Seunghyun.

Pemudan tinggi itu terus berjalan hingga sampai di pintu besar bercat putih. Tangannya lagi-lagi membunyikan bel dengan pasti. Ketika deringan bel kedua, pintu rumah tersebut terbuka menampilkan seorang laki-laki berwajah sangar dan berpakaian serba hitam. Seunghyun bisa menebak kalau namja didepannya ini adalah bodyguard. Dia berusaha memasang wajah senormal mungkin. Bodyguard memiliki tingkat kepekaan yang lebih tinggi dari orang biasa.

"Ada apa?" tanya bodyguard itu datar. Alisnya menukik tajam menampilkan ekspresi curiga yang sangat kentara.

Seughyun menunjukkan kotak ditangannya, "Aku pengantar Pizza." Ujarnya ramah.

"Tidak ada yang memesan pizza disini."

"Tapi Tuan..."

"Aku yang memesan." Ujar seseorang dari dalam membuat bodyguard itu berbalik dan membungkuk sopan.

"Tapi anda..."

"Aku yang menelepon tadi." Ujar namja itu. Matanya menatap tajam kearah Seunghyun.

"Anda tidak diijinkan menerima benda apapun dari luar, Tuan Muda." Ucap bodyguard itu.

"Demi Tuhan. Ini hanya Pizza." Geram pemuda itu, "Kalau kau tidak percaya, kau bisa menggeledahnya."

Bodyguard itu mengangguk kemudian mulai mendekati Seunghyun. Dia mengulurkan tangannya meminta ID card. Seunghyun dengan segera merogoh sakunya dan menunjukkan kartu pengenalnya sebagai pengantar Pizza. Berterima kasihlah pada kekasih Ahra noona yang bersedia membuatkan ini.

Merasa yakin dengan kartu ID yang diberikan Seunghyun, bodyguard itu mengembalikan kartu itu padanya kemudian beralih meraih kotak ditangannya. Dibukanya kotak itu dan hanya ada pizza disana. Benar-benar hanya pizza.

"Bagaimana? Apa kau melihat ada sesuatu yang akan membantuku untuk kabur?" tanya Sang Tuan Muda sinis, "Atau kau berpikir aku akan kabur dengan pizza terbang?"

Bodyguard itu menggeleng kemudian membungkuk meminta maaf sebelum menyerahkan kotak itu ke tangan sang Tuan Muda. Namja tinggi jangkung itu menyerahkan uang kepada Seunghyun yang mau tidak mau diterima olehnya untuk lebih memantapkan aktingnya. Dia bersyukur si pemilik rumah mau bekerja sama dengannya. Berarti rencananya bisa dikatakan berhasil, kan?

"Terima kasih, Tuan." Pamit Seunghyun.

Sang Tuan Muda itu menatap kepergian Seunghyun dalam diam kemudian berbalik berjalan menuju kamarnya dengan pizza di tangan. Begitu sampai di kamarnya, dia segera mengunci pintu dan membawa kotak pizza itu ke meja yang ada di kamarnya. Tangannya segera membuka tutup kotak dan mengeluarkan pizzanya keluar. Disana. Dibagian bawah kotak yang sebelumnya ditutupi oleh Pizza terdapat tulisan yang ditutupi oleh plastik agar tidak terhapus.

Dia membelalakkan mata melihat kalimat yang tertulis disana. Matanya menerawang jauh. Mengingat seorang yeoja yang sangat dicintainya. Seorang yeoja yang mengandung darah dagingnya.

Seunghyun masuk ke dalam mobilnya kemudian melepas pakaian pengantar Pizzanya. Jangan berpikir aneh-aneh, dia memakai kaus putih sebagai dalaman.

"Bagaimana?" tanya Jiyoung.

"Sudah diterima." Jawab Seunghyun sembari mengancingkan kemeja hitam yang tadi dipakainya, "Selanjutnya bergantung padanya. Kita tidak boleh memaksanya. Seperti yang dikatakan Jihye noona."

Jiyoung mengangguk, "Aku harap semuanya baik-baik saja." Ujarnya. Seunghyun tersenyum menatap kearah kekasih mungilnya itu. Dia beruntung memiliki namja itu disisinya. Tangannya bergerak mengusak rambut halus Jiyoung yang kini berwarna kemerahan.

"Ne. Kuharap juga begitu. Sekarang jalankan mobilnya sebelum bodyguard bodoh itu mencurigai kita."

...

"Noona kau yakin?" tanya Junsu. Tangannya mengambil pakaian yang diulurkan oleh Jihye.

"Ne. Aku tahu pasti apa jawaban Jaejoong dan itu berarti aku juga tahu akhir dari pertaruhan ini." Jawab Jihye.

"Noona yakin tidak menetap di Korea saja?" kali ini Yoochun yang bersuara. Namja cassanova itu sibuk memasukkan barang-barang milik Jihye kedalam koper berukuran sedang. Tidak banyak barang Jihye di apartement Jaejoong, jadi tidak membutuhkan banyak waktu dan tempat untuk mengepaknya.

"ne. Jika aku tetap disini, aku tidak bisa menjamin keselamatan bayiku. Mungkin aku akan kembali kesini nanti setelah anakku berusia lebih dari lima tahun."

"Kami bisa menjaga kalian." Ujar Junsu. Dia menutup koper Jihye dan membantu Jihye untuk berdiri dan memapahnya menuju ranjang.

"Aku tidak bisa merepotkan kalian lebih dari ini." Jawab Jihye disertai senyuman lembutnya.

"Tapi..."

"Akan kuberikan alamatku. Kalian bisa mengunjungiku kapanpun."

Junsu diam menatap Jihye kemudian menghela nafas, "Oke. Kupegang janjimu, noona."

"Bagaimana dengan ayah dari bayimu, noona?" tanya Yoochun yang berhasil membuat wajah Jihye menjadi murung. Dan karena kalimat tidak tahu tempatnya itu, dia mendapat pelototan gratis dari kekasih montoknya.

"Maaf, noona. Aku tidak bermaksud.."

"Tidak apa-apa." Potong Jihye dengan senyuman yang sedikit pahit, "Aku akan merelakannya. Aku yakin aku bisa merawat anak ini sendiri." Jihye mengelus perutnya yang mulai membesar. Tentu saja. Kandungannya sudah berusia sekitar 6 bulan sekarang.

Junsu meyentuh tangan Jihye yang masih berada di atas perutnya, "Tenang, noona. Kami akan selalu ada untuk noona."

Jihye menunduk menyembunyikan matanya yang mulai berair, "Kalian terlalu baik. Aku minta maaf atas semua yang kulakukan. Kalian seharusnya membenciku atas apa yang kulakukan. Tapi aku dengan tidak tahu dirinya meminta pengertian dari kalian. Aku.." pelukan Junsu berhasil memotong kalimat yang akan diucapkan Jihye.

"Sudahlah, noona. Kami sudah melupakan semuanya. Yang penting sekarang semuanya sudah kembali seperti semula."

"Terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih pada kalian."

...

Jaejoong dan Yunho kini berada di tengah kerumunan para manusia di Lotte World. Tangan keduanya bertautan erat. Sebenarnya tadi Jaejoong sempat menolak genggaman tangan Yunho. Tapi seperti dulu, dia tidak akab pernah menang dari Yunho. Namja musang itu terlalu kuat untuknya.

"Kau mau naik apa? Roller Coaster?" tanya Yunho.

"Aku malas menaiki wahana yang menantang sekarang. Mungkin nanti saja." Jawab Jaejoong. Mata bulatnya menatap apapun disekelilingnya. Kemudian mata itu terpaku pada sesuatu, "Aku mau itu!" pekiknya membuat Yunho terkejut. Belum lagi tarikan tiba-tiba dari Jaejoong membuatnya hampir terjungkal.

"Ahjusshi berikan aku dua." Pesan Jaejoong pada Ahjusshi penjual permen kapas. Yunho tersenyum melihat Jaejoong yang berubah manis dengan tatapan mata yang berbinar melihat permen kapas yang dgantung disana.

"Ne," jawab ahjusshi itu sambil tersenyum.

"Err.. ahjusshi. Bisa aku minta yang warna pink?" tanya Jaejoong ketika ahjusshi itu menyodorkan permen kapas berwarna biru padanya.

"Tentu saja." Ahjusshi itu menukar permen kapas biru ditangannya dengan permen kapas berwarna pink seperti permintaan Jaejoong.

"Terima kasih, ahjusshi. Uangnya tagih saja pada beruang ini." Yunho hanya bisa memasang wajah tidak percaya melihat Jaejoong yang berbalik pergi begitu saja setelah mendapat permen kapasnya.

"Berapa, ahjusshi?"

"2000 won." Yunho menyodorkan lembaran 5000 won, "Kembaliannya untuk ahjusshi saja. Terima kasih ahjussi." Yunho segera berbalik dan berlari kecil menyusul Jaejoong yang tengah duduk di salah satu kursi sambil menikmati permen kapasnya.

Yunho terpesona. Kim Jaejoong-nya benar-benar mempesona. Dia bersumpah tidak akan melakukan kesalahan bodoh seperti dulu lagi. Kali ini dia akan mendapatkan namja cantik itu. Dia bersumpah. Dia meneruskan langkahnya mendekati Jaejoong yang masih sibuk dengan permen ditangannya dan tidak memperhatikan sekitarnya.

Yunho menarik permen kapas ditangan Jaejoong tepat ketika namja cantik itu membuka mulut hendak memakan makanan manis itu. Melihat tingkah Yunho, Jaejoong merengut lucu.

"Aku yang membeli ini. Jadi aku yang berhak memakannya."

"Pelit sekali kau, Jung! Aku akan membelinya sendiri!" Yunho menahan pergelangan tangan Jaejoong yang hendak beranjak pergi.

"Makan berdua saja. Tidak baik makan makanan manis terlalu banyak, Jae." Ujar Yunho. Dia menyodorkan potongan permen kapas ke mulut Jaejoong yang langsung di terima oleh namja berkulit putih itu.

"Kau juga makan." Yunho menerima suapan dari Jaejoong.

"Kau mau naik apa?" tanya Yunho. Dia menolak ketika Jaejoong menyodorkan permen kapas padanya, "Kau saja." Ujarnya.

"Aku tidak tahu. Bagaimana kalau kita cari makanan saja?" usul Jaejoong. Yunho mengangguk. Dia memang berniat mengikuti apapun keinginan Jaejoong disini.

Selanjutnya Yunho hanya mengikuti kemanapun Jaejoong pergi. Tersenyum gemas ketika melihat Jaejoong yang beraegyo meminta ijin untuk mencicipi makanan dan terkekeh ketika melihat Jaejoong yang merengut ketika dipuji cantik atau dianggap yeoja oleh penjual makanan disana. Intinya, Yunho sangat bahagia sekarang. Melihat Jaejoong berada di dalam jarak yang dapat dijangkaunya membuat perasaannya membuncah. Rasanya semua sakit yang dirasakannya kemarin menghilang begitu saja dengan hanya melihat tingkah Jaejoong yang tidak lagi canggung padanya. Jaejoong-nya yang dulu telah kembali.

Yunho mengelap saus yang ada di ujung bibir plum Jaejoong dengan ibu jari tangan kanannya. Namja cantik itu kini tengah sibuk mengunyah sosis besar yang tadi dibelinya.

"Kau tidak kekenyangan, Jae?" tanya Yunho menyadari Jaejoong yang sedari tadi tidak berhenti makan.

"Ani. Ini adalah kencan impianku." Ujar Jaejoong. Yunho kaget mendengar kalimat yang diucapkan Jaejoong tanpa menatap kearahnya itu. Dia tersenyum. Meskipun dia tahu Jaejoong tidak sadar mengatakan itu tapi dia senang. Tangannya terangkat mengusak rambut halus Jaejoong.

"Sudah hampir malam. Bagaimana kalau kita naik bianglala? Melihat pemandangan Seoul dari atas kupikir bagus juga." Usul Jaejoong begitu menghabiskan sosisnya.

Yunho tersenyum, "Apapun untukmu."

...

Di sebuah rumah besar, seorang namja tinggi tengah duduk termangu di taman belakang rumah itu. Tangannya menggenggam kertas yang tadi diberikan oleh pengantar Pizza yang dia yakin bukan pengantar Pizza asli. Dia berpikir orang itu sangat pintar karena bisa mengelabui bodyguardnya.

Dibacanya sekali lagi kertas itu. Isinya masih tetap sama. Tidak ada perubahan sama sekali. Bahkan noda minyak itu masih disana.

Besok Jihye noona akan pergi jauh. Tentukan pilihanmu. Hanya ini kesempatan yang kami berikan.

Dia memejamkan matanya lagi. Kalau disuruh memilih, tentu saja dia akan memilih Jihye dan anaknya. Tapi dia tidak bisa menentang orang tuanya. Nyawa anaknya menjadi taruhannya jika dia berani berbuat nekad.

"Tuan Muda, Tuan Besar memanggil anda." Suara dari seorang pelayan yang memanggilnya membuatnya membuka mata dan refleks menyembunyikan kertas ditangannya.

"Baik." Jawabnya. Da berdiri dan memasukkan kertas ditangannya kedalam saku kemudian berjalan mengikuti langkah pelayannya.

Di ruang tamu dia tidak hanya melihat ayah dan ibunya melainkan juga calon mertuanya serta gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya. Dia menghela nafas lelah. Harusnya dia tahu ini. Ayahnya tidak akan memanggilnya jika tidak urusan penting.

"Duduklah." Titah ayahnya yang langsung dituruti olehnya.

"Kami disini untuk memikirkan tanggal untuk pernikahan kalian berdua. Kami rasa semakin cepat akan semakin bagus." Ujar ayahnya. Dia mengepakan tangannya erat. Ingin menolak tapi lagi-lagi bayangan gadis yang dicintainya disakiti orang tuanya muncul di kepalanya.

"Bisakah bumonim-deul saja yang memutuskan itu? Aku ingin mengajak oppa berbicara di taman belakang." Ijin yeoja muda yang ada disana.

"Tentu saja. Sudah seharusnya kalian makin mendekatkan diri sebelum pernikahan kalian."

"Terima kasih, eomma." Namja tinggi itu mengikuti langkah si gadis menuju taman belakang tanpa mengatakan apapun. Bahkan ketika mereka berdua sudah duduk di salah satu kursi taman selama lima menit, tidak ada yang bersuara sama sekali.

"Oppa, apa kau sadar kalau kau berubah?" tanya si gadis membuka pertanyaan.

"Ani. Aku merasa seperti biasanya."

"Aniyo. Kau berubah. Kau tidak pernah lagi mengajakku bercanda. Tidak lagi tersenyum atau tertawa padaku. Berbeda dengan dulu."

"Mungkin hanya perasaanmu."

"Ani. Apa mungkin ini karena perjodohan kita?" tanya gadis itu. Tidak ada jawaban, "Apa kau tidak suka padaku?"

"Aku menyukaimu. Tapi hanya sebagai sahabat."

"Kau selalu begitu." Ujar gadis itu murung, "Apa tidak ada kesempatan bagiku?"

"Maafkan aku." Jawab si namja lembut.

Gadis itu mengeluarkan amplop dari saku jaketnya kemudian mengeluarkan secarik kertas dan selembar foto dari dalamnya. Dia menunjukkan foto itu ada si namja membuat namja tinggi itu terbelalak kaget.

"Apa karena yeoja ini?" tidak ada jawaban lagi. Tapi gadis itu tahu jawabannya tanpa harus dikatakan.

"Dari mana kau dapat ini?"

"Seseorang mengirimkannya lewat pos. Dengan surat ini juga." Namja itu merebut kertas di tangan gadis itu dan membacanya.

Calon suamimu menghamili gadis ini. Apa yang akan kau lakukan? Pilihanmu hanya menjadi Evil atau Angel.

"Apa itu benar, oppa?" namja itu terdiam lama kemudian mengangguk. "Kenapa kau tidak pernah bilang? Kau membuatku terlihat jahat."

"Karena orang tuaku mengancam akan membunuhnya jika aku mengungkit apapun tentangnya."

Gadis itu menatap wajah murung namja disebelahnya, "Dimana gads itu sekarang?"

Namja tinggi itu tersenyum miris, "Dia akan pergi jauh besok."

Gadis itu berdiri, "Kalau begitu apa yang oppa lakukan disini?! Harusnya oppa mengejarnya!"

"Aku tidak bisa. Aku ingin menghalanginya besok. Tapi bagaimana? Aku tidak bisa keluar dari rumah ini."

"Aku akan membantumu." Namja itu menatap gadis di depannya tidak percaya, "Besok aku akan datang pagi dan membawamu ke bandara. Jika bersamaku, orang tua oppa tidak akan melarang."

Namja itu menatap lama gadis di depannya, "Terima kasih. Dan maafkan aku."

"Hmm.. kejarlah cintamu, oppa."

...

Yunho dan Jaejoong kini berbaris mengantri tiket bianglala. Tiga baris lagi maka giliran mereka membeli tiket akan tiba. Keduanya membungkuk mengucapkan terima kasih setelah menerima tiket. Mereka tersenyum sopan kepada petugas yang membukakan pintu.

Perlahan bianglala mulai bergerak. Jaejoong sibuk memandangi panorama kota Seoul dari atas bianglala sedangkan Yunho sibuk memperhatikan Jaejoong. Namja bermata musang itu tersenyum melihat mulut Jaejoong yang menganga kagum. Tapi perlahan senyuman itu luntur.

"Bagaimana kehidupanmu di London?" tanya Yunho membuat atensi Jaejoong teralih padanya. Mata bulat namja itu menatap Yunho dalam. Menyelami emosi yang tergambar di mata musang Yunho.

"Kacau." Jawab Jaejoong lirih, "Aku bisa dikatakan tidak hidup selama sebulan aku disana."

Yunho memasang ekspresi muram diwajahnya, "Lalu kenapa..."

"Karena pikiran untuk membalasmu berterbangan di kepalaku. Aku berpikir jika aku terus seperti itu maka itu akan membuatmu makin bahagia disini. Jadi aku mulai menata hidupku beradaptasi sebaik mungkin dengan dunia Barat. Berusaha keras untuk berubah dengan harapan kau akan kaget dan merasa iri melihatku ketika aku kembali." Cerita Jaejoong. Matanya masih tetap tertuju pada Yunho.

"Mianhae. Ini salahku. Seandainya aku jujur waktu. Andai saja aku tidak terlalu banyak pertimbangan. Kita tidak akan seperti ini. Kau tidak akan..."

"Awalnya aku membencimu. Sangat. Aku berencana membalasmu sekejam mungkin saat aku kembali. Aku bahkan sudah membuat list cara membalasmu. Tapi saat aku yang kutemui benar-benar diluar dugaan." Lagi-lagi Jaejoong memotong kalimat Yunho. "Kau dan Ahra noona tidak jadi menikah. Pertama kali mengetahui itu aku benar-benar merasa dikhianati. Aku memikirkan kalian yang menikah dan punya anak sampai hampir mati di London. Dan semuanya hanya sia-sia. Aku merasa seperti orang bodoh."

"Mianhae." Ujar Yunho lagi. Tangannya meraih tangan pucat Jaejoong untuk dia genggam dan beruntungnya namja cantik itu tidak menolak.

"Berhenti minta maaf. Semuanya sudah terjadi. Sebenarnya itu juga salahku. Aku yang terlalu kekanakan. Harusnya aku lebih dewasa dalam menyelesaikan masalah."

"Mi.."

"Ya! Jung Yunho! Apa kau mengajakku kesini hanya untuk mendengar kau mengatakan satu kata itu?" sentak Jaejoong. "Berhenti mengatakan itu! Aku sudah disini. Itu berarti aku sudah memaafkanmu!"

Yunho tersenyum, "Gomawo." Tuturnya tulus, "Tapi aku mengajakku kesini bukan untuk itu."

Jaejoong mengerutkan kening melihat Yunho yang merogoh saku celananya. Matanya terbelalak melihat kotak beludru putih yang ada di tangan Yunho. Dia makin kaget ketika kotak itu terbuka. Sepasang cincin perak yang memantulkan sinar lampu ada disana.

"Ige m-mwoji?" tanyanya gugup. "Ahh.. Wae?" pekik Jaejoong ketika kotak yang membawanya naik berhenti tepat di puncak bianglala.

"Kim Jaejoong. Aku sudah melakukan kesalahan besar satu kali dan itu merupakan hal paling bodoh yang pernah kulakukan. Kini aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi dan kesalahan-kesalahan yang lain. Dan janjiku ini akan terpenuhi tergantung pada jawabanmu." Yunho berhenti sebentar untuk melihat reaksi Jaejoong, "Kim Jaejoong. Maukah kau bersama denganku sampai kau bosan padaku?" tanya Yunho.

"Mwo?! Bukankah harusnya kau mengatakan 'Maukah kau bersama denganku sampai maut memisahkan kita?' seperti di drama-drama?" protes Jaejoong. Sebenarnya itu hanya pengalihan dari rasa gugupnya.

Yunho tersenyum simpul, "Aku tidak ingin menjadi manusia egois seperti itu. Jika kau bosan denganku, kau bisa pergi kapanpun kau mau untuk mencari sumber kebahagiaanmu yang lain. Meskipun akan sangat menyakitkan asalkan kau bahagia itu tidak masalah bagiku."

Jaejoong menatap Yunho dengan ekspresi meremehkan, "Lihat siapa yang mengatakan ini! Ya, Jung Yunho! Kau yang paling menyakitiku sejauh ini."

"Arasseo. Karena itu aku ingin mengulanginya dari awal." Jaejoong mencibir. "Jadi bisakah kau menjawab sekarang? Sebelum penumpang yang lain protes karena bianglalanya berhenti terlalu lama."

"Kau yang merencakan ini?!"

"Ne, Kim Jaejoong. Jadi bisakah kau jawab sekarang?" tanya Yunho jengah.

Jaejoong tersenyum, "Ini adalah kesempatan terakhirmu. Jangan melakukan hal bodoh lagi!"

Yunho tersenyum dan mengangguk. Namja tampan itu memasangkan cincin perak yang berukuran lebih kecil ke jari manis Jaejoong. Selanjutnya Jaejoong juga melakukan hal yang sama pada Yunho.

"Lihat sebelah kanan!" titah Yunho yang dituruti Jaejoong.

Jaejoong membuka mulutnya menggumamkan 'WAW' pelan. Disana puluhan kembang api menyala mewarnai langit malam hitam kelam. Seperti pengakuan Yunho yang berhasil memberi pelita bagi hatinya yang sempat menggelap.

"Joongie.." Jaejoong menoleh kearah Yunho yang memanggilnya. Selanjutnya dia bisa merasakan benda lunak, lembut lagi basah menempel di bibir penuhnya. Yunho menciumnya. Sangat lembut membuatnya menutup mata perlahan. Menikmatinya. Perlahan bianglala kembali bergerak turun.

Ciuman itu tidak berlangsung lama. Hanya sekitar satu menit sebelum ciuman itu terlepas. Yunho menatap mata Jaejoong lembut, "Aku mencintaimu. Dulu, kini dan nanti."

Jaejoong tersenyum, "Kau harusnya mengatakan itu sejak dulu. Jadi aku tidak harus menunggu."

Yunho menarik namja yang lebih kecil darinya itu kedalam pelukan erat, "Aku akan mengatakannya setiap hari sekarang. Sampai kau bosan."

"Tidak akan."

Hening. Dua insan manusia itu terlalu larut dalam kebahagiaan saling memiliki satu sama lain. Sampai kemudian Yunho mengingat sesuatu.

"Kau bilang kau berusaha keras beradaptasi dengan dunia barat, kan?" tanya Yunho tanpa melepaskan pelukannya. Jaejoong mengangguk.

"Apa itu berarti kau penah melakukan One Night Stand?" tanya Yunho.

Jaejoong tersentak kemudian melepaskan pelukan Yunho, "Ani! Aku tidak pernah melakukannya sama sekali! Aku hanya terpengaruh untuk clubbing dan minum minuman keras. Selain itu tidak!"

Yunho tersenyum kemudian kembali merengkuh Jaejoong kedalam pelukannya, "Syukurlah. Kupikir kau sudah melakukannya."

Kembali hening. Yunho benar-benar menyukai suasana ini. Berdua dengan Jaejoongnya. Apa lagi yang lebih menyenangkan dari itu?

"Yunho-ya.."

"Hmm..." gumam Yunho menjawab panggilan Jaejoong.

"Lepas pelukanmu."

"Shirreo! Aku masih ingin memelukmu."

"Tapi..."

"Diamlah, Jae! Atau kau akan kucium.. akkhh...! Kenapa kau memukulku?" pekik Yunho sambil mengelus belakang kepalanya yang tadi dijitak Jaejoong.

"Supaya kau sadar!" bentak Jaejoong sebelum keluar dari kotak bianglala (?).

"Ahh.. sudah selesai." Gumam Yunho bodoh. Dia segera mengikuti langkah Jaejoong meninggalkan pegawai pembuka pintu yang merona karena melihat mereka berpelukan.

"Kemana selanjutnya?" tanya Yunho.

"Pulang. Aku harus menyelesaikan partiturku. Dan lagi besok kita harus bangun pagi untuk mengantar kepergian Jihye noona."

"Ahh... benar. Jihye noona." Gumam Yunho. Pasangan itu berjalan dengan tangan saling tertaut erat menuju pintu keluar Lotte World.

...

"Kau yakin dengan ini, Jihye-ya?" tanya Mrs. Kim. Jihye hanya mengangguk sebagai jawaban.

"Kau bisa tinggal bersama kami, Jihye-ya. Kami akan melindungimu." Kali ini Mr. Kim yang membujuk. Tangannya mengelus kepala Jihye yang sudah dianggapnya anak sendiri.

"Kalau Noona tidak mau tinggal dengan Appa dan Eomma Kim, Noona bisa tinggal di apartement Jaejoong. Nanti dia akan tinggal di apartementku." Ujar Yunho. Jaejoong yang berdiri disebelahnya menatapnya datar.

"Itu benar, noona. Aku bisa tinggal dengan beruang ini selama dia tidak berbuat macam-macam."

Yunho menyeringai kearah Jaejoong, "Kau yakin tidak ingin aku berbuat macam-macam?"

Jaejoong mejitak kepala Yunho keras-keras, "Itu untuk membersihkan otakmu dari semua pikiran kotor." Ujarnya sarkastik.

Pasangan Yoosu, Seungyoung, ChangKyu, Mr. dan Mrs. Kim menatap pasangan yang baru saja rujuk itu dengan tatapan datar. Jihye sendiri hanya tersenyum melihat itu. Dia merasa lega karena tidak jadi merusak kebahagiaan orang lain.

"Tetaplah disini, Noona." Bujuk Kyuhyun yang diangguki Changmin. Dua magnae itu baru saja muncul karena mereka berdua harus mengikuti study tour ke Jepang selama satu minggu. Mereka berdua sangat kesa karena mereka tidak diikutsertakan dalam rencana menyatukan Jaejoong dan Yunho maupun Jihye dan kekasihnya.

"Maaf. Aku tidak bisa merepotkan kalian lagi. Aku janji akan hidup dengan baik disana." Tutur Jihye lembut, "Kalian juga boleh menemuiku jika kalian ada waktu. Pintu rumahku selalu terbuka untuk kalian."

"Kami pasti akan kesana." Janji Mr. Kim.

Suara yang mengatakan bahwa keberangkatan pesawat menuju Jepang terdengar dari speaker. Jihye melihat pada jadwal keberangkatan.

"Sebentar lagi pesawatku berangkat. Aku pergi dulu. Kuharap kalian baik-baik saja. Dan kau, Yunho-ya. Cepat ikat Jaejoong sebelum kau melakukan yang macam-macam padanya."

"Tentu. Noona adalah orang pertama yang akan mendapat undangan pernikahan kami." Ujar Yunho yang mendapat hadiah cubitan dari Jaejoong.

"Seunghyun-ah, jaga uri magnae. Jiyoung-ah, jangan terlalu dekat dengan Kyuhyun. Kau mulai bertingkah kurang ajar pada hyung-hyungmu sekarang."

"Maksud noona aku membawa pengaruh buruk pada Jiyoung?" protes Kyuhyun tidak terima.

Jihye tersenyum, "Changmin dan Kyuhyun berhenti bersikap jahil atau nanti kalian akan mendapat pukulan dari salah satu hyung. Dan untuk Yoochun dan Junsu, tetaplah aku seperti sekarang. Menurutku, kalian pasangan yang paling normal disini."

Yoochun dan Junsu tertawa, "Terima kasih, noona."

"Sampaikan salamku pada Ahra." Tutur Jihye pada Jaejoong. Namja cantik itu hanya mengangguk sambil tersenyum manis.

"Apa noona yakin tidak menunggunya?" tanya Seunghyun tiba-tiba. Jihye tersenyum hambar lalu menggeleng.

"Dia tidak mungkin datang. Lagipula pesawatku akan segera berangkat. Jaga diri kalian."

"Noona juga."

"Kabari kami jika sesuatu terjadi." Pesan Mrs. Kim yang diangguki oleh Jihye.

Baru saja Jihye berbalik, suara yang sangat familiar baginya terdengar. Dia berbalik kearah datangnya suara dan menemukan seorang namja jangkung berlari kearahnya diikuti seorang yeoja cantik dibelakangnya.

"Oppa.." gumamnya. Jihye tersentak ketika namja itu menariknya kedalam pelukan hangat yang sudah lama tidak dia rasakan.

"Jangan pergi. Kumohon." Bisik namja itu sambil terus mengeratkan pelukannya.

"Maafkan aku. Tapi aku harus pergi."

Namja itu melepas pelukannya dan menatap mata Jihye dalam, "Kalau begitu bawa aku bersamamu."

"Tapi... bagaimana dengan Yeseul-ssi? Kalian akan menikah sebentar lagi."

Yeoja yang ada dibelakang namja itu berjalan mendekat keara Jihye dan menepuk pundak Jihye, "Jangan khawatir. Aku cantik. Jadi masih banyak laki-laki yang tertarik padaku."

"Tapi.."

"Kenapa kalian tidak mengatakan apapun padaku? Terutama kau!" Yeseul meunjuk pada namja jangkung di hadapan Jihye, "Jika kau mengatakan bahwa kau sudah memiliki kekasih, aku akan langsung membatalkan perjodohan ini."

"Tapi aku tidak.."

Lagi-lagi Yeseul memotong kalimat Jihye, "Kau tidak mengenalku? Kau tetap bisa menemuiku dan mengatakan semuanya. Aku akan percaya jika kau menunjukkan bukti padaku."

"Tapi bukan hanya itu masalahnya." Lirih Jihye.

"Kau takut pada orang tuaku? Kalau kau memang menolak menghadapi orang tuaku, ayo kita pergi dari sini. Berdua. Kita akan merawat anak kita bersama-sama." Bujuk namja jangkung itu.

"Kwangsoo oppa. Semuanya tidak semudah itu."

Kwangsoo menggeram, "Apa lagi, Wang Jihye? Kau tidak ingin bersamaku?"

"Aniyo. Aku ingin. Sangat ingin. Tapi bagaimana dengan orang tuamu? Kau anak tunggal."

Kwangsoo baru saja akan membalas kalimat Jihye jika saja dia tidak merasakan tepukan di pundaknya. Dia menoleh dan menemukan seorang pria paruh baya tersenyum padanya.

"Kenapa orang tuamu melarang hubungan kalian berdua?" tanyanya.

Kwangsoo diam beberapa saat, "Karena menurut mereka, Jihye bukan dari kalangan yang sama dengan mereka."

"Itu benar, Oppa." Ujar Jihye.

"Tidak. Aku mencintaimu, Jihye-ya. Aku tidak peduli jika aku dihapus dari daftar pewaris keluarga. Aku ingin bersamamu dan anak kita. Bahkan jika harus keluar dari negara ini."

"Tapi.."

"Tidak perlu. Kalian tidak perlu keluar dari negara ini. Temuilah keluargamu, Kwangsoo-ssi. Bersama Jihye."

"Tapi Appa.."

"Jika mereka masih menganggap Jihye tidak sebanding dengan kalian, katakan bahwa sekaran Jihye adalah anak dari pemilik Kim Corp. dan kakak ipar dari pemilik Jung Corp. Jika itu belum cukup katakan bahwa dia juga saudara dari pemilik Choi Group, Kwon Entertainment, Park Corp., Cho Technology dan Shim Group." Tutur Mr. Kim.

"Appa.." lirih Jihye.

Mr. Kim tersenyum pada Jihye, "Kau anakku, Jihye-ya."

Jihye menangis dan memeluk Mr. Kim, "Terima kasih. Kalian sungguh baik. Padahal aku sudah begitu jahat pada keluarga kalian."

"Kau tidak jahat, noona. Kau hanya datang di saat yang tidak tepat." Ujar Junsu bijaksana.

"Junsu benar." Timpal Mrs. Kim.

"Chakkaman!" interupsi Yunho tiba-tiba merusak suasana haru yang sudah terbentuk, "Kau namja itu, kan?" tanya Yunho tiba-tiba pada Kwangsoo.

"Maaf?"

"Bola. Kau namja yang menendang bola padaku dan Jaejoong waktu itu."

Kwangsoo membelalakkan matanya, "Ahh.. kalian pasangan itu? Aku ingat! Wah, daebak! Dunia benar-benar sempit."

Semuanya tertawa. Tidak menyangka akan begini akhir dari drama mereka. Takdir benar-benar pintar mempermainkan mereka.

"Happy ending, hyung?" tanya Jiyoung pada Seunghyun yang berdiri disampingnya.

"Ne. Happy ending, Ji."

'Pada akhirnya, cinta akan selalu menemukan jalan pulang.' – Yunjae, Kwangsoo, Jihye

.

.

END

.

.

Baiklah, akhirnya FF ini tamat dengan GJ-nya. Maaf. Gue kehilangan feel buat lanjut FF ini. Tapi gue selalu kebayang hutang kalo kaga nyelesein ini FF. Gue tahu rasanya gimana nunggu FF (kek ada yang nunggu ini FF aja) tapi tiba-tiba di-discontinued ama author-nya. Sedih, bruuhh...

Jadi gue ngelanjutin FF ini. Rada kesel karena kaga ada ide. Semua plot yang dulu kebayang udah amblas kaga ada sama sekali. Bahkan meskipun gue bertapa di kamar mandi ampe dua jam -ampe bonyok gue ngamuk- gue tetep kaga dapet inspirasi. Chapter ini butuh proses lama dari chapter FF-FF lain yang pernah gue tulis. Dua minggu Cuma buat satu chapter, bruuh. Gue bahkan libur nerusin FF yang lain.

Dan ini hasilnya. Jujur. Buat gue pribadi ini mengecewakan. Banget. Feel-nya ngga ada sama sekali. Endingnya bener-bener maksa. Tapi serius gue bener-bener kaga ada ide. Tapi yang penting endingnya tetep Yunjae, lah.

Berarti FF Yunjae yang masih utang tinggal Between. Kalo yang ini gue masih ada pandangan. Mungkin ada reader between disini? Kalo misal kaga yang minta itu FF diterusin, berarti gue kaga ada utang sama kalian. Tergantung kalian maunya gimana.

Makasih buat yang udah review. Maaf kaga bisa bales.

Mind to RnR in this last Chapter?

Annyeong...