Gin iro no Tsuki Akari
Chapter 2 : Chi de tsukurareta Unmei (Takdir yang Tercipta dari Darah)
By : Hashizora Shin (ini pen name saya)
Warning : BoyXBoy, typos, mainstream plot
Durarara! Ryohgo Narita
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini
.
.
.
.
Izaya merapal sumpah serapah dalam hati, mengutuki ketidakberdayaannya melawan rasa sakit dan mati rasa tubuhnya akibat luka di perut. Sungguh, ia ingin sekali melompat lincah menerobos kepungan enam laki-laki besar yang menodongkan pistol padanya, tapi ia tak bisa. Mereka lebih dari empat orang, senjata di kanan kiri bahu mereka, tapi sebenarnya bukan itu yang paling menakutkan.
Tapi peluru. Izaya tahu peluru yang mereka gunakan adalah peluru 'itu', peluru yang sudah satu kali berhasil bersarang di tubuhnya dan sekarang mulai bekerja perlahan-lahan membunuhnya. Kalau satu saja bisa membuatnya seperti ini, bagaimana kalau mereka menembakkan peluru-peluru semacam itu secara bersamaan?
Ah, sial. Inikah waktunya mengaku kalah?
Menyebalkan...
Seraya menatap samar-samar laki-laki yang mengepungnya, saat itu ia pikir ia hanya bisa menutup mata, menggemeretakkan gigi karena kesal –sebab ia kalah dengan memalukan di sini– dan menerima takdirnya. Ia sudah mendengar pelatuk ditarik, suara letusan senjata-senjata itu menggema bertalu-talu di telinganya. Kekalahannya sudah dipastikan. Dalam detik-detik hampa menunggu, ketika keputusasaan mulai menyusup masuk ke dalam pikirannya, sebuah sensasi rengkuhan dan tubuhnya yang terangkat tiba-tiba memaksanya kembali untuk membuka mata.
Mendapati Shizuo hanya beberapa sentimeter dari wajahnya.
.
.
.
.
Shizuo tak pernah mengerti instingnya sendiri. Insting anehnya yang selalu membuatnya berhasil menemukan Izaya dimanapun pemuda itu ada di Ikebukuro adalah salah satu dari sekian banyak hal-hal dalam tubuh dan pikirannya yang tidak ia mengerti. Pernah suatu kali ia memikirkan sungguh-sungguh, alasan kenapa ia begitu sensitif dengan entitas sang informan itu, tapi ia menyerah karena jawabannya tak pernah ia temukan. Pikirnya hanya itu saja, ia tak pernah berpikir instingnya punya fungsi lain. Ia tak pernah berpikir instingnya bukan hanya untuk menemukan keberadaan Izaya.
Ia tak pernah berpikir instingnya menggerakkan tubuh dan mengerahkan kekuatannya seenaknya tepat saat ia melihat kumpulan pria mencurigakan yang mengepung Izaya mulai menembaki sang target.
Karena ketika ia sadar, ia sudah mendapati dirinya meraih Izaya dan menariknya setelah bergerak dengan kecepatan super dan hampir tak kasat mata, berpacu waktu dengan kecepatan peluru yang seharusnya sudah mengenai Izaya.
Tepat saat mereka lolos dari kepungan laki-laki besar itu –yang kaget sekali sebab dalam waktu tak ada sedetik tiba-tiba target tembakan mereka menghilang– mereka berdua tak mampu berkomentar dalam situasi mengejutkan itu.
Izaya hanya membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang ia lihat, sementara Shizuo hanya memasang ekspresi tak terbaca.
Kenapa?
Kenapa Shizu-chan menolongku?
Baru saja Izaya bisa mengeluarkan suara dan ingin menanyakan sesuatu, terdengar lagi suara tembakan yang mengejutkan mereka. Shizuo tahu Izaya mau bilang sesuatu tapi ia berkata pelan seraya mengambil kuda-kuda untuk berlari sambil menggendongnya,
"Nanti saja, sekarang lari dulu.." katanya lalu ia pun melesat dengan kecepatan super cepat yang tadi ia gunakan. Darimana dan bagaimana caranya ia bisa berlari secepat itu, ia tak tahu.
Dan kejar-kejaran pun dimulai. Para laki-laki besar itu pun tak kalah cepat larinya. Mereka berkejar-kejaran menyusuri jalan-jalan sepi bersalju, melintasi pejalan kaki dan pengemudi kendaraan tengah malam, menerobos hujan salju yang malam itu tiba-tiba jadi cukup lebat. Shizuo awalnya tak tahu ke mana ia harus lari, tapi ia ingat lebih baik mereka ke tempat Shinra, apalagi Izaya dalam keadaan terluka. Dalam pelariannya menuju apartemen Shinra, ditambah dengan tembakan-tembakan dari para pengejar, makin lama Shizuo berpikir ia seharusnya tak membawa keributan ini untuk Shinra juga. Akhirnya ia memutuskan berbelok dan menjauhi perkotaan, menuju tempat yang benar-benar jauh dari orang lalu lalang. Ia tak bisa membawa sekumpulan pria bersenjata yang mengejar dengan menembak-nembak itu di tengah-tengah kota, meskipun saat itu sudah sangat malam dan tak begitu banyak orang lewat. Sementara Shizuo masih berlari menghindari kejaran dan tembakan para pengejar itu, Izaya dalam dekapan Shizuo tak bisa berhenti bertanya-tanya dan berpikir.
Kenapa?
Kenapa?
Ini aneh sekali, sejak tadi orang ini aneh..
Buat apa dia menolongku lagi?
Tadi dia berusaha menghentikan darah di lukaku, berusaha menelepon Shinra, bahkan berusaha menghentikanku agar tetap diam dan tidak pergi..
Lalu dia mengikutiku, melihatku dikepung, dan bukannya membiarkanku..
Dia malah menarikku dari sana.
Membawaku seperti ini, menggendongku dalam dalam kondisi memalukan ini.. Membawaku lari,
Kenapa dia? Apa sekrup di otaknya sudah lepas semua? Apa ia sedang mabuk?
Bukannya dia membenciku? Bukannya dia ingin aku mati?
Lantas, kenapa?
Apa yang sebenarnya dipikirkan monster ini?
Kenapa dia selalu bertindak diluar dugaanku?
Rentetan pertanyaannya sendiri membuat kepala Izaya berdenyut hebat. Tatapan matanya makin kabur, ia tak mampu lagi berpikir tapi tetap memaksakan diri. Dalam kondisi terluka tapi tubuhnya terguncang-guncang karena dibawa lari pastinya membuat lukanya makin parah, apalagi dengan efek destruktif peluru yang bersarang di tubuhnya mulai membuatnya merasa terbakar dan rasa nyeri yang begitu hebat. Sulit rasanya menyembunyikan erangan dan rintihan sakit yang tak terdengar oleh Shizuo –bagaimanapun Izaya tak mau terlihat lebih memalukan daripada ini– tapi sialnya telinga Shizuo pun telinga super dan ia dengar rintihan kesakitan dari pemuda yang digendongnya.
"Sakit, ya? Maaf, tahan sebentar lagi... Aku tak tahu sampai kapan mereka mengejar, tapi sebentar lagi kau akan kuturunkan.." ujarnya pelan, seperti berusaha menjawab apa yang dipikirkan Izaya.
Maaf?
Apa-apaan dia...
"Aku..tak bilang apa-apa, bodoh..." dalam mata tertutup Izaya berujar lirih, mencoba tetap angkuh.
Kejar-kejaran itu belum berhenti tapi tak terdengar suara lain selain derap kaki dan tembakan. Para pengejar Izaya bukan kumpulan orang berisik, mereka mengejar dengan strategi karena beberapa kali Shizuo dihadang oleh mereka yang berpencar mencoba menghentikannya dari berbagai sudut –dan tentu saja ia berhasil lolos, meski dengan harga satu tembakan bersarang di lengan kanan– mereka pengejar yang tenang dan tanpa suara. Shizuo mengakui mereka tak gegabah dan itu membuat semua semakin buruk.
Akhirnya Shizuo berhasil menggiring para pengejar menjauhi tengah kota menuju sebuah gudang tak terpakai, tempat yang cukup gelap dan sangat sepi. Setelah memastikan tak ada siapapun selain mereka, Shizuo menurunkan tubuh Izaya perlahan ke lantai.
"Shizu..chan..." Izaya menatap Shizuo dengan perasaan kalut.
"Diam di sini. Sebentar lagi mereka datang.. aku sudah bosan lari, akan kuhajar mereka..."
"Shizu-chan!" tiba-tiba tangan Izaya bergerak menarik ujung baju Shizuo. Dia baru sadar lengan kanan Shizuo terluka. Pasti kena salah satu tembakan tadi, tebaknya.
Shizuo tak merespon dengan kata-kata, ia hanya menjawab dengan menampakkan gestur bahwa luka di lengannya tak seberapa. Tapi tetap saja, Izaya tahu sesuatu yang lebih mengerikan dari apa yang Shizuo pikirkan.
"Kau masih bisa bergerak 'kan? Cepat sembunyi agar mereka tak melihatmu. Nanti kalau kau mendengar suara ini," Shizuo bersiul tiga kali, "itu artinya situasi makin berbahaya dan kemungkinan besar aku kalah. Saat itu, kau larilah, sebisamu. Atau kalau kau mau kau bisa cari bantuan supaya bisa selamat dari mereka.." Shizuo berdiri membelakangi Izaya yang terduduk dan menyalakan rokoknya, menatap pintu masuk.
Izaya menatap Shizuo dan mengangguk ragu. Lalu perlahan ia meninggalkan tempat itu dan bergegas mencari tempat persembunyian. Sekali sebelum ia berbelok, ia menengok ke belakang menatap sosok Shizuo. Raut wajahnya berubah keruh.
Ia bukan khawatir atau apa, hanya saja ia tak pernah menyangka ia akan mendengar kata-kata "kalah" dari mulut Shizuo.
~#~#~
Tak berapa lama, enam orang pengejar itu ikut masuk ke gudang tersebut dan memblokir jalan masuk. Shizuo membalikkan badan dan menghadap ke arah mereka dengan pistol teracung. Awalnya hening, tapi kemudian salah seorang dari mereka maju dan mulai berbicara.
"Lebih baik kita sudahi kejar-kejaran ini. Serahkan Orihara Izaya."
Shizuo membuang ludah, lalu tersenyum sinis.
"Heh! kau pikir aku akan menurut begitu saja, hah?! Kau berutang satu tembakan di sini," ia menunjuk lengannya yang tadi tertembak. Sejak tadi ia merasa aneh karena meskipun tertembak, ia tak merasakan sakit berlebihan atau apa padahal darah bercucuran dari lukanya. "Dan sekarang giliranku membalasnya, bersiaplah kalian semua!"
Tak ada respons dari mereka, mereka tetap mengacungkan senjata. Sementara si pemimpin –yang tadi maju – mendengus sinis.
"Jangan sombong, Heiwajima Shizuo. Kau memang manusia terkuat di Ikebukuro ini. Peluru biasa memang tak mampu membunuhmu. Tapi ini lain dari peluru biasa, asal kau tahu. Kau sudah terkena satu, dan kau tak mau terkena lebih banyak 'kan? Lebih baik kau menyerah dan biarkan kami mengambil Orihara Izaya daripada kau mati di sini.. Lagipula bukannya Orihara Izaya adalah musuhmu? Kenapa kau malah melindunginya begitu?"
"Oi, oi, jangan salah sangka, brengsek! Aku bukan melakukan ini karena ingin menyelamatkannya atau apa, tapi aku takkan sudi melihatnya mati bukan dengan tanganku sendiri, jadi kalau kau mencoba membunuhnya, hadapi dulu aku! Tak ada yang boleh menyakiti dan membunuh si kutu busuk itu selain aku, kau dengar?!"
Si pemimpin itu tampak diam sejenak, lalu berkomentar datar.
"Kami tak peduli dengan idealismemu itu. Yang kami inginkan adalah Orihara Izaya. Peringatan terakhir, serahkan Orihara Izaya dan semua ini akan selesai tanpa ada yang terluka. Atau kalau kau masih keras kepala, tak ada cara lain selain mengambil paksa dengan kekerasan.."
Sang mantan bartender tertawa, "Hah! Coba saja kalau kalian bisa..."
"Hoo... jadi kau pilih jalan kekerasan, ya? Kalau begitu, kami takkan segan."
Tangan si pemimpin terangkat, memberi aba-aba, dan suara tembakan beruntun kembali terdengar.
Begitu si pemimpin memberi aba-aba dan mereka mulai menembak, serta merta laki-laki berambut pirang itu bergerak gesit menghindari peluru-peluru yang melesat. Sambil berlari zig-zag, Shizuo melayangkan sebatang besi berat yang ia ambil ke arah mereka. Sontak mereka langsung refleks menghindari serangan dadakan itu dan tembakan berhenti. Shizuo memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang mereka satu persatu dengan serangan cepat. Beberapa berhasil ia serang dengan tinju dan tendangan sampai terhempas ke dinding atau tersungkur ke lantai tapi yang lainnya –termasuk si pemimpin– berhasil menghindarinya. Shizuo sudah memperhitungkan itu tapi tak menyangka mereka yang terkena serangannya masih bisa bangkit. Disaat mereka akan mengambil ancang-ancang menembak lagi, Shizuo segera melayangkan lagi besi-besi dan apapun yang ada di gudang itu untuk menghalau tembakan dan memecah konsentrasi. Sekejap memang berhasil tapi serangan balik pun ternyata luput dari perkiraan Shizuo. Ketika ia sedikit lengah, tiba-tiba ia diserang dengan tendangan ke arah kepala dari sudut mati dan ia pun terdorong jauh sampai hampir menabrak dinding. Setelah itu, belum sempat ia memullihkan kesadarannya dari syok akibat tendangan di kepala, para pengejar lainnya mulai menyerangnya bertubi-tubi dengan tangan kosong maupun tendangan. Shizuo mendecih kesal. Bukan masalah ia tak bisa membalas serangan mereka, tapi dihujani serangan kejutan yang super cepat begitu lama-lama ia sendiri jadi kewalahan. Shizuo menangkis serangan mereka semampunya, karena tak mungkin baginya menangkis serangan mereka semua sekaligus.
Mereka kuat dan berbeda dari berandalan yang selama ini bertarung melawannya, pikir Shizuo.
Selama ini Shizuo bertarung tanpa teknik atau gaya apapun, tapi faktor kekuatan supernya membuatnya menang melawan siapapun. Dengan modal papan penanda jalan, bangku taman, tempat sampah, bahkan mobil, ia bisa mengalahkan mereka semua dengan sekali lemparan. Lagipula orang-orang yang selama ini menantangnya juga main keroyokan, jadi ia pikir mengalahkan mereka sekaligus tidak harus membuatnya bertarung sungguh-sungguh, toh bukan ia yang ingin bertarung, tapi mereka yang mulai.
Sekarang untuk pertama kalinya Shizuo agak menyesal kenapa ia tak pernah mencoba belajar gaya bertarung yang benar.
Serangan bertubi-tubi yang terstruktur dan mematikan dari para pengejar itu membuat situasi makin buruk. Shizuo mulai merasa tangannya mati rasa, terutama yang kanan. Efek luka tembakan di lengannya mulai terasa. Shizuo meringis, bukan hanya luka yang melemahkannya, daya tahan tubuhnya menurun drastis karena kelelahan menyerangnya. Melawan enam orang yang jago bertarung sekaligus bukan pertarungan yang menguntungkannya. Apalagi diserang dengan apapun, mereka masih bisa bangkit. Menyebalkan sekali, geramnya dalam hati. Lalu ia ingat pembicaraan dengan Izaya tadi dan mulai bersiul tiga kali. Ia harus memberitahunya.
Ia terdesak. Sekarang ia bahkan tak mampu berdiri lagi dan akhirnya jatuh terduduk sambil menahan sakit di seluruh tubuh.
Izaya mendengar siulan itu.
Shizuo... kalah?
Ia menggigit bibir bawahnya. Kalau Shizuo saja kalah, berarti ia...
Tak berapa lama ia mendengar suara tembak beberapa kali. Lebih tepatnya tujuh kali.
Izaya bergidik ngeri, ketakutan melandanya lagi. Nafasnya tak beraturan, luka di perutnya berdenyut hebat.
Mungkinkah monster itu mati...?
.
.
.
.
Suara langkah kaki perlahan mendekati Izaya. Bahu Izaya menegang, degup jantungnya berdetak kencang seperti akan keluar dari dadanya, seperti ingin kabur, tak mau ikut mati bersamanya. Izaya menutup matanya dalam kalutnya perasaan, kalau ia memang mati saat ini ia tak peduli lagi. Toh ia sudah kalah. Toh ia tak berhasil menang dari pertaruhannya.
Karena kau sudah memutuskan untuk mati, kau tak perlu mempedulikannya 'kan?
Mati berarti menghilang.
Bukan rasa sakitmu yang menghilang, tapi keberadaanmu 'kan?
Kegelapan abadi sama sekali bukan ketiadaan.
Karena kau dapat merasakan kegelapan itu sendiri.
Tiba-tiba ia teringat kata-kata yang ia ucapkan pada dua gadis yang berencana mau bunuh diri yang ia tipu di karaoke box beberapa waktu lalu.
Entah kenapa mengingat semua itu membuatnya bibirnya melengkung senyum. Entah kenapa semua ketegangan dan ketakutannya hilang.
Yah, aku yang bilang begitu... Kenapa sekarang aku harus takut?
Suara langkah kaki itu mendekat tepat satu meter di belakangnya dan berhenti.
.
.
.
.
Orihara Izaya.
Kami beri kau satu kesempatan.
Kami tak akan membunuhmu saat ini, karena atasan mengatakan kau terlalu berharga untuk dibunuh sekarang.
Ada yang harus kau kembalikan.
Ada yang harus kau lakukan untuk kami.
Kalau kau masih sayang nyawa, datanglah pada kami.
Ingat, kami mengawasimu, kapanpun, dimanapun .
Kalau kau mencoba melarikan diri lagi, kau akan mati, Orihara Izaya.
Lalu suara langkah kaki itu perlahan menjauh dan menghilang dalam hitungan detik. Izaya menghembuskan nafas panjang. Tersenyum kecut, ia mengutuki dirinya yang tadi sempat merasa takut.
Apa itu? Jadi aku tak jadi mati?
Ia berusaha bangkit dari tempat persembunyiannya. Dengan susah payah ia terseok-seok melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, menuju tempat ia dan Shizuo tadi pertama kali tiba. Sempat agak khawatir– bukan pada Shizuo– pada pemandangan yang nanti ia lihat saat sampai di tempat itu. Berbagai dugaan memenuhi pikirannya. Darah berlumuran? Tubuh-tubuh tercerai-berai? Atau ternyata si monster itu sudah tak ada?
Tapi yang ia lihat disana hanya tubuh Shizuo yang tergeletak dan darah di sekeliling tubuh Shizuo. Izaya sempat mengira pria itu mati, tapi ia agak ragu. Lalu ia mendekati Shizuo dan perlahan tangannya terulur menyentuh leher si pirang, memastikan detak jantungnya.
Samar, tapi masih berdetak. Shizuo masih hidup, meski ia tahu kondisinya sekarat.
Seketika ada sedikit rasa lega menyelimutinya, sampai Izaya sendiri bergidik karena ia tak mengerti kenapa ia harus merasa lega.
Nah, sekarang bagaimana? Aku sendiri tak bisa membawanya dari sini... Apa kutinggal–
Tiba-tiba ia melihat ada yang berdering di saku celana Shizuo. Penasaran siapa yang menelepon, Izaya merogoh kantong celana itu, mengambil ponsel yang berdering. Tertera nama Shinra, dan ia baru ingat tadi Shizuo berusaha menelepon Shinra saat ia pingsan.
[Halo, Shizuo! Ada apa kau meneleponku berkali-kali tadi? Kau tak sadar ini sudah jam berapa? Kau tak tahu aku sedang menikmati malam yang indah bersama Celty sayang– au! Celty sayang jangan cubit aku~ aku sedang berusaha memperingatkan Shizuo kalau ia harus tahu– au! Oke, oke iya aku tahu sayang, aku tahu Shizuo pasti menelepon jam segini bukan karena ingin iseng tapi– nah, dengar itu Shizuo, seharusnya kau– ]
Izaya tak begitu mendengar apa yang Shinra bilang. Mendadak kepalanya kembali bedenyut hebat dan matanya berkunang-kunang. Sebentar lagi ia pingsan, ia tahu itu. Jadi di detik-detik terakhir sebelum ia pingsan, ia harus memberitahu Shinra dimana mereka.
"Shinra dengar, kami... tiga blok dari apartemenmu, di sebuah gudang kosong... Shizuo tak sadarkan diri, darahnya... keluar banyak... segera datang... kau bisa melacak kami dari ponsel Shizuo..."
[Lho?! Kenapa yang menjawab Orihara-kun? Halo? Halo?]
Ponsel Shizuo tergeletak begitu saja di lantai, meninggalkan Shinra yang masih bersuara di ujung telepon. Izaya sudah ambruk di samping Shizuo dan tak sadarkan diri.
.
.
.
.
.
~#~#~
Bersambung...
.
.
.
(maaf ini nggak sesuai sama trailer yang saya tulis di chapter 1)
#trailer
"Shizuo memang tak akan terbunuh dengan peluru biasa, tapi masalahnya ini peluru perak..."
"Apa ia akan mati?"
"Kurasa tidak... tapi penyembuhannya akan sangat lama.. Tapi sebelum itu, Orihara-kun, jelaskan kenapa semua ini bisa terjadi. Kau berhutang penjelasan padaku."
Orang ini... kenapa?
"Izaya, mau apa kau di apartemenku?"
"Mulai sekarang sampai kau sembuh, aku akan jadi babysitter-mu, Shizu-chan~~ jangan lupa terima kasih yang banyak dan jangan banyak tingkah lalu yang penting turuti aku, oke?"
"HAAAH?! KENAPA KAU HARUS MENGURUSKU?!"
Sial! Dia menyentuh tubuhku seperti ini– Tunggu! Ada yang bereaksi tak normal di bawah!
Chapter 3 – Sono kizu
Author Note
Yatta~ akhirnya chapter 2 kelar jugaaa~ maaf ya pembaca sekalian kalau chapter ini kesannya bertele-tele dan nggak sesuai sama sekali dengan cuplikan chapter yang saya tulis di chapter 1 m-_-m
Habis gimana ya, seperti yang saya bilang, saya nggak bisa mengontrol karakter Shizuo dan Izaya, mereka bertindak dan mengarahkan alur cerita sesuka hati mereka (hahaha) tadinya saya mau bikin Shizuo langsung kena tembak dan ambruk di tempat tapi malah ada kejar-kejaran. Tadinya mau bener-bener langsung habis dalam 2 halaman tapi tiba-tiba penyelesaiannya molor sebanyak ini... hhh.. akhirnya adegan mereka sampai di tempat Shinra jadi nggak bisa saya tulis deh..
Btw, ADA YANG UDAH NONTON DURARARA!x2TEN EPISODE 1?!
SAYA DIBUAT HISTERIS DAN JATUH CINTA LAGI (sama suara Kamiya Hiroshi) GARA-GARA IZAYA! KYAAAAA~ Izaya dalam pakaian rumah sakit bener-bener bikin kokoro ini... aduh... padahal saya season lalu dempet sebel banget sama suara Kamiya Hiroshi gara-gara saya benci banget sama Akashi tapi begitu liat Izaya dan karakternya dan keseksiannya #plak saya jatuh cinta lagi...
Kemarin di DRRR!x2 Shou saya suka banget sama kemunculan Shizuo dengan rambutnya yang agak manjang terus ganteng banget dan papa banget (waktu ngadepin Akane) saya pokoknya selalu squealing kalor Shizuo muncul di DRRR! kemaren (Ono Daisuke emang 'papa' banget) tapi yang kali ini gantian Izayanya~ ukh mereka berdua emang pesonanya...heuh... sekarang saya balik lagi ke couple ini~
(maaf ramblingan ga jelas saya ini)
Kalau mau tanya ini Shizaya atau Izuo, saya menyerahkan penilaian sama pembaca sekalian. Saya pribadi prefer sama Shizaya, karena Izaya terlalu ukeh [seiyuunya juga bilang karakter dia tuh lebih mengarah ke uke daripada seme #plak] () apalagi di season baru ini, style gambar yang makin bagus bikin Shizaya makin b-kei. Terus mengenai karakter favorit, saya lebih suka Shizuo, tapi Izaya juga suka kok. Mereka karakter rumit dan penggambaran watak dan personal mereka kompleks. Saya belum baca novelnya jadi saya belum dapet interpretasi karakter keduanya lebih dalam, tapi suatu hari (kalau sempet) saya pengen banget bikin fic yang isinya tentang kenapa Izaya benci banget sama Shizuo berdasarkan dari apa yang saya temui di novelnya. Cuma yah... animenya aja bikin kepala berkerut, novelnya apalagi...
Akhir kata, saya nggak akan bikin rate M/mpreg/sex toy/apalah itu saya nggak ngerti. (hahaha) paling kalau ada adegan menjurus saya nggak akan bikin eksplisit, paling parah mungkin...errr... belom pernah bikin jadi belom tahu pokoknya nggak lah yang begitu. Fic ini juga bakal banyak adegan-adegan yang bikin deg-degan (haha sok tahu banget saya) dan agak menjurus tapi ratenya nggak bakal saya naikin. Pokoknya saya nggak sanggup bikin begitu (adegan kiss aja saya susah banget bikinnya)
(sekali lagi maaf ini kepanjangan, ini bulan puasa jadi terbatas banget buat saya bikin fic yang romance, jadi nggak bisa lanjut chapter 3 sampe bulan Agustus... selambat-lambatnya September baru update lagi karena Agustus saya mungkin nggak akan dapet sinyal internet [lagi KKN soalnya]. Maaf ya. Makasih banyak buat yang mau baca, silet reader, apalagi yang mau favorite/follow, apalagi kalau yang mau review sangat ditunggu dan dihargai. Kalau ada yang mau kasih ide buat chapter selanjutnya, silakan~)
