Gin iro no Tsuki Akari
(Silver-colored Moonlight)
Chapter 3 : Sono Kizu - Zenhen (Luka itu – Bagian Awal)
By : Hashizora Shin
Genre : Romance, Drama, Suspense, Hurt/Comfort, Friendship
Warning : BoyXBoy, typos, mainstream plot, confused plot
Durarara! Ryohgo Narita
Cerita ini adalah fiksi. Tidak ada hubungan dengan orang, negara, atau organisasi dalam dunia nyata. Apabila ada kesamaan itu tak lebih dari kebetulan belaka dan tidak ada unsur kesengajaan sama sekali.
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini
a/n : kalimat dalam tanda [...] : percakapan telepon, dalam tanda {...} : apa yang Celty ketik di PDA-nya.
.
.
.
.
.
Aku merasa tubuhnya terbakar. Bagian yang tertembak terasa membara seperti ada api berkobar. Organ tubuhku serasa ditarik, dirobek, lalu diremas-remas. Seluruh bagian tubuhku sakit berkeringat hebat. Rasa mual, pusing, dan kering menyatu jadi satu dan itu membuat kondisiku makin buruk. Nafasku yang sejak tadi sudah tak beraturan makin menyiksaku karena sekarang leherku seperti tercekat, seperti ada batu yang menghalangi pernafasan. Dalam kondisi begini, aku masih harus merasakan panas membara dan perasaan tak enak akibat mual dan pusing. Perlahan tanganku mati rasa, pandanganku makin mengabur.
Aku tak tahu kapan ini berakhir, aku tak mengerti kenapa semua ini terasa sangat menyakitkan.
Aku tak paham apakah benar kematian itu rasanya memang seperti ini. Di detik-detik menuju kedatangannya.
Aku melihat tubuh tergeletak Shizu-chan di depanku dengan pandangan bertanya. Apakah sebelum si monster Ikebukuro itu ambruk seperti ini, ia merasakan semua penyiksaan ini? Apakah sesakit ini, atau lebih parah lagi? Aku tahu dia lebih banyak kena tembak, ditambah lagi ia masih harus bertarung dan menerima serangan mereka. Seperti apa rasanya? Aku ingin tahu...
Tapi sebelum itu, dia masih hidup? Atau sudah mati?
Ia tak bergerak sejak tadi, aku tak yakin dia masih hidup. Tapi aku tetap berpikir tak ada salahnya memastikan. Dengan sisa-sisa kesadaranku yang melemah, aku letakkan jariku di lehernya, berkonsentrasi mencari suara detakan jantung. Perlu kutekan agak lama sampai aku merasakan detakan lemah yang agak tak beraturan, kadang perlahan kadang cepat. Itu artinya dia masih hidup. Cukup mengejutkan, ternyata kekuatan supernya bukan hanya membuatnya seperti monster, tapi membuatnya tetap hidup dalam kondisi hancur begitu. Aku mengerjapkan mataku, rasanya makin sulit untuk tetap terjaga. Aku menghela nafas, sedikit lega, setidaknya dia masih hidup, jadi aku tak akan dituduh sebagai pelaku pembunuhan, karena nanti kalau tubuh dan pakaian laki-laki ini diperiksa polisi, mereka pasti akan menemukan sidik jariku dimana-mana. Baguslah, dia tak sampai membuatku kerepotan begitu. Sekarang masalahnya bagaimana caranya aku dan monster ini pergi dari sini... Aku sudah tak punya kekuatan untuk berdiri apalagi memanggul tubuh sekarat itu. Ck, merepotkan, apa kutinggal saja dia? Aku masih bisa keluar dari sini meski susah payah, tapi–
Tiba-tiba aku melihat cahaya dari saku celana dan bunyi getar. Ah ponselnya bergetar, ada telepon masuk. Dari siapa ya?
Shinra... Mau apa dia menelepon jam segini... Tidak, tunggu, tadi Shizu-chan menelepon dia sebelum ini... baiklah kuangkat saja, setidaknya aku bisa memberitahukan situasi ini padanya.
Ah, Shinra membuka percakapan dengan ocehan sampahnya tentang Celty. Ck, dasar manusia. Aku malas sekali mendengarkannya. Sementara kujauhi dulu ponsel ini dari telingaku. Sial, Shinra mengoceh panjang sekali, harus kuhentikan. Dia harus kuberitahu segera, kesadaranku sebentar lagi...
"Shinra dengar, kami... tiga blok dari apartemenmu, di sebuah gudang kosong... Shizuo tak sadarkan diri, darahnya... keluar banyak... segera datang... kau bisa melacak keberadaan kami dengan GPS..."
Kuletakkan agak kasar ponsel itu ke lantai. Aku masih mendengar suara manusia itu di ujung telepon, wajar dia bingung. Biarkan saja, yang penting sudah kuberitahu. Aku menatap tubuh tergeletak di depanku dengan iri. Enak sekali dia bisa tidur. Lalu aku merangkak perlahan lalu menjatuhkan diri di samping Shizu-chan. Aku sudah tak kuat lagi.
Kuharap si bodoh Shinra mengerti apa yang harus ia lakukan...
~#~#~
Satu minggu kemudian
Di dalam ruangan 5x3 meter yang berdinding putih, tanpa ornamen, diatas sebuah ranjang yang mirip ranjang rumah sakit yang dikelilingi alat bantu pernafasan, saluran infus, kantung cairan infus dan alat-alat lainnya, terbaring sosok lemah tak berdaya sang informan ternama, Orihara Izaya.
Sejak malam itu sudah lewat satu minggu, sesuai harapannya Shinra dan Celty berhasil menemukan lokasi mereka dan segera memberikan pertolongan pertama. Izaya tak mengingat apapun, ia tak tahu apa yang terjadi padanya dan Shizuo setelahnya, sebab keduanya dalam kondisi sekarat tak sadarkan diri.
Bahkan Izaya tak tahu hari itu, setelah ia berhasil membuka mata untuk pertama kalinya (yang berarti ia sudah lolos dari kondisi kritisnya) ia sudah tertidur satu minggu dengan hampir tak ada tanda-tanda akan segera sadar. Dan sang Dullahan berkepala helm yang melihat Izaya sudah sadar, sontak terkejut dan hampir menjatuhkan baskom berisi air yang ia bawa. Segera ia sambar PDA-nya dan mengetik terburu-buru.
{I-Izaya! K-k-kau sudah sadar?! Sejak kapan?}
Izaya menengok perlahan dan melihat Celty menyodorkan PDA ke arahnya dengan bahasa tubuh kaget. Samar-samar Izaya berusaha membaca apa yang Celty ketik dan menjawab lemah.
"Baru saja..."
{Oh? Kupikir kau akan koma dalam waktu lama... Saat kau ditemukan, kau sudah hampir mati..}
Izaya terdiam sejenak, lalu bertanya, "Mana.. Shin..ra..?"
{Ia sedang istirahat, dari kemarin pagi ia belum bangun. Ia terus memantau kondisi kalian setelah operasi dan akhirnya kemarin ia tumbang. Kau harus tahu berapa besar usaha dan kerja kerasnya menangani kalian berdua... Dasar! Apa lagi yang kalian berdua lakukan sampai seperti ini, hah?! Kurasa ini bukan hanya sekedar perkelahian kalian yang biasanya, apa yang sebenarnya terjadi?}
Pemuda sakit itu mengabaikan pertanyaan Celty, yang sekarang ingin ia ketahui adalah apa yang terjadi pada Shizuo, "Shi..zu.o..?"
Celty seolah menghela nafas, kecewa karena Izaya tak tertarik dengan penjelasannya. {Shizuo masih koma. Dia bahkan jauh lebih parah darimu dan sampai-sampai... Shinra tak yakin ia bisa sadar atau tidak... Kasihan sekali...} Celty mengakhiri kalimatnya dengan emoticon sedih.
Izaya menutup mata. Jelas saja, Shizuo jauh lebih parah darinya, dengan banyaknya luka tembakan dan kehancuran lainnya akibat pertarungan. Masih bisa bernafas pun itu sebuah keajaiban yang harusnya tak terjadi. Izaya merasakan amarah, kecewa, dan rasa penasaran yang kuat dari Celty, tapi ia tak punya tenaga untuk menjelaskan macam-macam. Terlebih lagi sebelum ia menjelaskan semuanya, ia harus bertemu Shinra dulu.
"Celty... aku tak.. bisa.. bicara banyak... Biar..kan.. aku.. tidur lagi...beberapa..jam.. kalau Shinra sadar... tolong beri tahu.. dia..."
Wanita Dullahan itu seolah melihat Izaya dengan tatapan dan ekspresi beragam, entah kasihan, bingung, ditambah lagi dengan apa yang tadi Izaya rasakan. Mengangkat bahu sejenak, Celty mulai mengetik lagi.
{Baiklah. Istirahatlah kalau begitu. Aku akan mengabari Shinra begitu dia bangun.}
~#~#~
Ketika membuka mata untuk kedua kalinya, Izaya merasa ia baru bangun dari tidur selama 3-4 jam. Shinra yang kebetulan ada disampingnya saat ia sadar, langsung mendekatinya.
"Ah, Orihara-kun! Akhirnya kau sadar juga! Bagaimana kabarmu? Apa yang kau rasakan sekarang?"
Izaya merasa agak lebih bertenaga daripada sebelumnya, lalu ia menyingkirkan alat bantu pernafasannya dan mulai bicara, "Shinra.. sejak kapan kau bangun?"
"Sejak kapan? Maksudmu sejak aku pingsan seminggu yang lalu?"
Izaya melempar tatapan bingung, "Se..minggu?"
Shinra mengangguk, "Mm-hm, sejak kesadaranmu yang pertama, kau tertidur lagi dan baru bangun seminggu setelahnya. Aneh sekali memang, seharusnya kau tidak tidur selama itu. Dan yang makin anehnya, kondisimu saat tertidur seminggu itu hampir tak ada bedanya dengan kondisimu saat pertama kali koma setelah operasi. Aku sempat mengkhawatirkan banyak hal. Tapi sekarang kelihatannya kau sudah baik-baik saja... Apa kepalamu masih sakit? Sudah bisa bicara banyak?"
Izaya menatap Shinra dalam diam. Operasi... tentu saja... luka tembakan di perut itu harusnya bisa membunuhku saat itu juga tapi entah kenapa aku masih tetap sadar saat itu, masih bisa berjalan ke arah Shizu-chan, dan sampai sekarang masih hidup.. aku tak mengerti, apa peluru itu cuma kebohongan belaka?, Izaya membatin.
"Kepalaku... masih sakit.. tapi untuk bicara... ini lebih baik daripada... seminggu yang lalu... Kau sudah diberitahu Celty?"
Shinra mengangguk, "Begitu aku sadar, ia langsung menghampiriku dan mengabari bahwa kau sudah sadar tapi kembali tidur. Aku sudah memantaumu lagi sejak hari itu tapi kau tak kunjung sadar dan keanehan kondisimu yang kusebut tadi. Aku khawatir kau benar-benar tak akan bangun lagi, tapi syukurlah kau ternyata masih bisa sadar.." ujar Shinra dengan senyum terkembang.
Izaya mendecih geli, ia jadi ingin mengolok Shinra, "Khawatir..? Wah... aku tersentuh.. Orang sepertimu khawatir padaku.. Aku terkejut, Shinra."
"Heh, jangan salah paham, Orihara-kun. Meski kubilang khawatir, bukan berarti itu tertuju pada dirimu atau keselamatan nyawamu. Aku hanya khawatir kalau kau mati sebelum menjelaskan semuanya padaku, kau cuma hanya menambah bebanku dan meninggalkan masalah merepotkan ini. Setidaknya sebelum mati, kau harus tanggung jawab atas semua kelakuanmu, Orihara-kun. Karena itu aku khawatir kau mati sebelum itu~" Shinra mengatakan itu masih dengan senyum dan intonasi biasa seperti tadi, tapi Izaya jelas melihat mata dingin dan aura mengejek dari setiap kata-kata Shinra. Izaya mengulas senyum.
"Nah... itu lebih baik... Aku tak perlu merasa berterima kasih yang berlebihan atau perasaan sentimen lainnya..." Tentu saja, beginilah yang benar.
Dokter berkacamata itu membalas lagi dengan senyum, lalu mulai mengalihkan topik ke yang lebih penting, "Ngomong-ngomong, Izaya, bisa kau ceritakan kronologisnya padaku? Aku tahu ini bukan perkelahian kucing anjing kalian yang biasa, ada pihak lain yang terlibat. Apalagi adanya peluru-peluru itu... kau juga tahu 'kan? Ada apa sebenarnya?"
Sang informan memalingkan wajahnya kearah lain, "Kau... sudah memeriksa peluru-peluru itu..?"
"Mm-hm, meski belum melakukan penelitian lebih detail, aku sudah mengerti tentang peluru-peluru itu. Ah, atau bisa dibilang aku memang mengenalnya. Tapi konsentrasiku terbagi pada kondisi kalian berdua jadi untuk sementara aku baru membuat serum penawar racun dan obat-obatan untuk kalian. Selebihnya nanti." Tutur Shinra.
"Jadi... kau bisa 'kan? Membuat ulang peluru perak itu?
Shinra mengangkat alis tak suka, "Oi,oi, jangan serakah ya.. kau saja masih tak mau menjelaskan apapun padaku tapi kau tiba-tiba meminta yang lain, apa aku perlu membantumu lebih dari ini? Kau tahu, mengoperasimu dan Shizuo dalam waktu bersamaan bukan perkara mudah. Aku terjebak pilihan antara harus menanganimu atau Shizuo lebih dulu, sementara kondisi kalian sama-sama kritis dan Shizuo jauh lebih parah, tapi aku memikirkan penyebaran racun dari dalam peluru itu sehingga akhirnya aku terpaksa menggunakan 'mereka' untuk membantuku, bahkan Celty tersayangku pun harus ikut turun tangan menjadi asistenku. Oh Celty! Melihatmu saat itu dengan tangan berlumur darah memegang pisau operasi, kegugupanmu saat kau bingung harus apa, dan betapa kau begitu bergantung padaku, sungguh cantik! Entah kapan lagi aku bisa melihatmu dalam kondisi lemah tak berdaya begitu, tubuh bergetar karena takut salah, oh Celty! Rasanya saat itu aku ingi sekali menerjangmu– "
"Shinra!" dengan kekuatan yang ia kumpulkan susah payah, Izaya berhasil berteriak dengan suara kencang. Yang paling Izaya benci dari teman SMP-nya ini adalah kegilaannya pada wanita Dullahan yang membuatnya melupakan segalanya dan meracau tak jelas seperti itu.
Shinra sepertinya mulai bisa mengendalikan dirinya dan berdehem kecil, lalu kembali menghadap kearah Izaya, "Jadi, bisa kau ceritakan semuanya? Aku tahu kau masih sangat lemah, tapi mengingat tadi kau bisa mengolokku dan meneriakiku begitu, kau pasti bisa bicara panjang lebar 'kan?"
Izaya mendecih kesal, "Baiklah... tapi ini akan sangat lama... karena aku tak bisa bicara cepat.."
Sang dokter mengambil kursi dan duduk di samping ranjang Izaya, "Tenang saja, aku tipe sabar kok."
~#~#~
Izaya memulai cerita dari alasan kenapa ia dikejar-kejar dan siapa para pengejar itu. Para pengejar itu adalah para pasukan elit bernama Kazegumi, yang bertugas mengawal dan menjaga sebuah sindikat mafia berkedok organisasi profit yang bergerak di bidang penelitian dan obat-obatan bernama Shinokuni Pharmaceutical. Nama organisasi tersebut, "Shinokuni" adalah nama pendirinya, Shinokuni Reiji, yang dikenal sebagai ilmuwan kondang dan sudah mendapat banyak penghargaan atas penemuan dan karya ilmiahnya. Organisasi tersebut belakangan ini semakin terkenal dan sering mengadakan kerja sama dengan pemerintah di bidang kesehatan. Mereka bahkan turut serta dalam pengembangan senjata biologis dan senjata kimia yang diam-diam sedang dikembangkan sebagai pertahanan negara. Mereka juga ikut andil dalam pengembangan obat-obatan kanker, terapi untuk penderita HIV, dan sebagainya. Tapi di balik semua itu, mereka sebenarnya sindikat mafia yang menjual penemuan-penemuan mereka (terutama yang termasuk senjata biologis) ke negara-negara yang menginginkannya. Tapi karena di Jepang mereka dinaungi oleh pemerintahan, tidak ada yang tahu penjualan diam-diam tersebut, disamping kelihaian mereka menyembunyikan identitas mereka. Izaya pada awalnya tak tahu dengan semua itu, tapi berkat penemuannya tak sengaja dengan kasus kematian masal di sebuah negara kecil yang ternyata ada hubungannya dengan senjata biologis yang dikembangkan Shinokuni Parmaceutical, Izaya langsung mengungkap identitas asli mereka sebagai mafia berkedok. Memang bukan perkara mudah mengungkap semua itu, karena Izaya sampai menyamar menjadi peneliti bernama Arata Yosuke dan bekerja di perusahaan itu.
Izaya memang bukan ilmuwan seperti Shinra, dia juga tak mendalami betul-betul dunia kedokteran ataupun farmasi, tapi sebagai mantan lulusan terbaik di SMA-nya dan IQ supernya, serta kemampuannya menyerap segala ilmu pengetahuan dengan cepat dan langsung dalam level menguasai, bukan hal sulit baginya diterima disana dan langsung masuk tim pengembang. Izaya mulai bekerja di perusahaan itu selama dua tahun, di samping ia tetap terus bekerja sebagai informan. Berkat kemampuannya yang luar biasa dan kepiawaiannya dalam bersandiwara, dalam waktu singkat ia berhasil masuk dalam tim pengembang. Yang dikembangkan oleh timnya adalah sebuah gas syaraf yang memiliki kandungan zat adiktif dari tanaman Belladona yang membuat siapapun yang menghirupnya lumpuh dan berhalusinasi sebelum akhirnya mati. Gas itu adalah salah satu proyek rahasia yang dijual sebagai senjata ke pihak-pihak yang menginginkannya. Izaya menganggap semua itu menarik, terlibat langsung dalam proses pembuatan senjata kimia adalah pengalaman yang unik, jadi ia benar-benar menikmati proses pengerjaan proyek itu dan tak peduli akan dijual kemana dan bagaimana dampaknya, meski diam-diam ia sudah menyimpan semua data siapa saja yang membeli dan kemana saja senjata itu terjual. Tapi diantara semua proyek senjata dan obat-obatan yang dibuat perusahaan itu, pemuda yang otaknya sangat rumit dan penuh kejahatan itu paling tertarik dengan proyek pengembangan peluru beracun rahasia yang dinamai Silver Bullet.
Peluru tersebut disepuh dengan serbuk perak sehingga sehingga disebut seperti itu. Dengan nama kode Morf-N66, peluru perak itu terinspirasi dari legenda bahwa vampir yang abadi dan tak bisa dibunuh itu ternyata bisa dikalahkan dengan peluru yang terbuat dari perak. Dari mitos itu, tercetuslah ide membuat sebuah peluru yang mengandung racun-racun mematikan. Selain itu, pistolnya pun adalah pistol khusus yang memiliki cara kerja unik yang bisa mengontrol peluru mana yang akan ditembakkan. Sebab, tiap peluru perak tersebut memiliki kandungan racun berbeda-beda. Dan cara menembakkan peluru itu seperti sistem Russian roulette. Penembak maupun yang ditembak tidak bisa menebak peluru mana yang keluar dan kerusakan apa yang akan diterima oleh yang tertembak. Yang paling Izaya kagumi dari pembuatan peluru tersebut adalah motif kenapa peluru itu dibuat. Peluru itu dibuat dengan tujuan menyiksa korban dan membuat organ dan syarafnya benar-benar rusak tanpa bisa disembuhkan dan tidak ada jalan pengobatan apalagi pemulihan bagi sasaran tembaknya. Karena itu semua racun yang digunakan dalam peluru perak itu adalah racun dengan konsekuensi kerusakan syaraf dan efek yang menyiksa. Sungguh sebuah senjata kematian yang kejam. Peluru yang masih dalam tahap pengembangan itu adalah proyek paling rahasia dan bahkan yang mengetahuinya hanya enam orang yang termasuk pemimpin perusahaan dan lima ilmuwan yang mengerjakannya.
Bahkan seorang informan hebat seperti Izaya pun harus mengakui kehebatan mereka dalam menjaga privasi dan sekuritinya. Enam bulan memantau, Izaya baru bisa mendapatkan informasi tentang keberadaan proyek peluru itu dan detilnya. Hasilnya sungguh mengejutkan. Peluru tersebut bahkan sudah dipesan oleh organisasi-organisasi mafia, kelompok militer, bahkan sampai negara-negara adidaya. Pengembangannya berjalan cukup cepat karena kucuran dana yang luar biasa banyak dari sponsor luar termasuk pihak yang sudah memesannya. Saat ia menemukan fakta itu, yang terbesit di otaknya adalah ini jelas sebuah kejahatan besar dan apabila proyek rahasia ini sampai bocor ke pemerintah bahkan sampai ke publik, jelas Shinokuni Parmaceutical akan mengalami malapetaka yang mengerikan.
Saat itu Izaya hanya berpikir betapa menariknya perkembangan pencarian informasi dari perusahaan itu. Ia tak menyangka dua tahun yang ia habiskan untuk menyamar, setiap hari berurusan dengan bahan-bahan kimia dan percobaan tanpa henti, belajar keras untuk mempelajari semua hal tentang pekerjaan barunya dan perusahaan itu, membuahkan hasil besar, atau bisa dibilang kunci yang akan membawa perusahaan itu dalam kehancuran. Maka tanpa pikir panjang, Izaya yang merasa pencariannya sudah selesai langsung membereskan semuanya, menghapus data dirinya dalam database karyawan, membersihkan jejak-jejak keberadaannya, dan secara resmi mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan itu. Lalu ia keluar dari sana tanpa sedikitpun curiga bahwa sebenarnya sudah sejak lama ia menjadi target pantauan dari agen rahasia yang sudah mencurigai gerak-geriknya.
Izaya meneruskan, pada awalnya sampai dua bulan setelahnya, tidak ada yang terjadi padanya. Ia menjalani kehidupannya yang normal lagi. Sampai suatu hari ia mendapat surat ancaman berisi peringatan bahwa ia harus menyerahkan diri dan semua informasi yang ia kumpulkan tentang Shinokuni Pharmaceutical dalam waktu sepuluh hari sejak surat itu terkirim. Disitulah Izaya mulai menyadari keteledorannya dan ketergesa-gesaannya dalam mengambil keputusan. Ia tak paham bagaimana mereka berhasil mengungkap identitas Arata Yosuke sebagai Orihara Izaya, tapi ia tahu ia belum bersih menghapus jejaknya di perusahaan itu. Belakangan ia tahu bahwa perusahaan itu memang memiliki agen rahasia khusus bernama Kazegumi yang menjaga perusahaan itu dari penyusup, pihak-pihak yang ingin menghancurkan mereka, dan bocornya informasi. Meski ia tahu nyawanya sedang terancam, ia tak mau menyerahkan begitu saja apa yang susah payah ia dapatkan selama dua tahun itu. Maka ia me-nonaktif-kan pekerjaannya sebagai informan dan melakukan pelarian sana-sini menghindari kejaran mereka. Sudah satu bulan sejak pertama kali ia hampir terbunuh dirumahnya, ia sudah melarikan diri hampir ke seluruh tempat di Jepang. Namun, mereka masih tetap bisa mengendus kemana Izaya pergi dan selalu bisa menemukannya. Entah bagaimana keberadaannya bisa selalu diketahui, tapi jauh diatas rasa takut karena nyawanya terancam, ia menikmati semua pertaruhan nyawa itu.
Izaya menutup cerita panjang lebarnya dengan senyum simpul. Shinra menatapnya dengan tatapan datar.
"Begitulah ceritanya... aku tahu kau mengantuk sekali, tapi aku sama sekali tak berniat mendongengimu disini..."
"Tenang saja, Orihara-kun," Shinra melepas kacamatanya, memijit pelipisnya, membersihkan lensa kacamatanya lalu memakainya lagi. "Aku mendengarkan semuanya. Intinya kau cuma biang onar yang senang mencari masalah dimana-mana, lalu kau akan menyeret yang lain ikut terlibat dalam kekacauan yang kau buat. Bagus sekali"
"Haha, terima kasih atas pujiannya."
Dokter berkacamata itu menatap Izaya lebih serius. "Kau belum menceritakan bagian lainnya. Kenapa Shizuo sampai terluka separah itu? Aku tak habis pikir ia bisa terlibat dalam masalahmu.."
Izaya tertawa, "Kalau kau mau tahu, sebenarnya itu amat sangat tak penting. Shizu-chan hanya sedang sial karena bertemu denganku malam itu dan bukannya pergi dia malah mengekoriku. Salah dia sendiri."
"Maksudmu? Shizuo menolongmu?"
"Apa aku benar-benar harus menceritakannya?"
"Ya, atau kuanggap kau belum menjelaskan apa-apa."
"Cih." Izaya mendecih jengkel. Kemudian ia menceritakan dari awal bagaimana ia dan Shizuo bertemu dan apa yang Shizuo lakukan padanya saat itu. Meski ia menjelaskan dengan kosakata dan narasi yang mengejek, dalam hati ia tak bisa berhenti penasaran tentang apa yang Shizuo lakukan saat itu. Tapi ia mengabaikannya.
Setelah Izaya selesai bercerita, Shinra menyenderkan punggungnya di kursi. "Hoo, jadi itu penyebabnya..."
Bola mata Izaya memicing penasaran. "Maksudmu?"
"Tadi kau bercerita tentang Shizuo yang berusaha menghentikan pendarahan di luka tembakmu dengan menempelkan tangannya 'kan? Sebenarnya, hal sepele yang Shizuo lakukan secara spontan itu memberikan pengaruh yang besar pada penyebaran racun di tubuhmu bahkan sampai pemulihan lukamu, lho."
Alis Izaya terangkat. "Hah?"
~#~#~
Berlanjut ke Chapter 4 : Sono Kizu – Kouhen
A/N
Maaf ini beda lagi dari next chapter's preview yang saya tulis di chapter sebelumnya. Ini karena saya harus ngejelasin latar belakang kenapa Izaya bisa kayak gitu dan siapa pengejar mereka. Tapi yah lagi-lagi saya terlalu idealis dan nulis latar belakangnya terlalu panjang -_- ngomong-ngomong cerita Izaya tentang racun dsb nggak usah dianggep serius ya, cuma deskripsi abal saya yang nggak tahu lagi harus menjelaskannya bagaimana m_m
Masih sangat amatir nulis genre macem ini
Ini karena kepanjangan saya bagi jadi dua chapter, makanya saya bisa double post-update ^^
