Gin iro no Tsuki Akari
(Silver-colored Moonlight)
Chapter 4 : Sono Kizu – Kouhen (Luka itu – Bagian Akhir)
By : Hashizora Shin
Genre : Romance, Drama, Suspense, Hurt/Comfort, Friendship
Warning : BoyXBoy, typos, mainstream plot, confused plot
Durarara! Ryohgo Narita
Cerita ini adalah fiksi. Tidak ada hubungan dengan orang, negara, atau organisasi dalam dunia nyata. Apabila ada kesamaan itu tak lebih dari kebetulan belaka dan tidak ada unsur kesengajaan sama sekali.
Saya tidak mengambil keuntungan apapun dari fanfiksi ini
a/n : kalimat dalam tanda [...] : percakapan telepon, dalam tanda {...} : apa yang Celty ketik di PDA-nya.
.
.
.
.
.
Sang dokter melempar senyum penuh teka teki pada sang pasien yang kebingungan.
"Sekarang coba kau ingat apa yang kau rasakan saat tangan Shizuo menekan lukamu, kau merasakan hangat yang aneh 'kan?"
Izaya mengangguk ragu.
"Lalu saat ia menggendongmu ketika menghindari kejaran itu, apa kau juga merasakan sensasi hangat yang sama?"
Kembali Izaya mengangguk, ia tak paham inti pembicaraan Shinra. Apa hubungannya hawa hangat Shizuo dengan kondisinya saat itu?
"Semua itu ada pengaruhnya. Kau boleh bilang ini sepenuhnya hipotesaku semata, tapi aku yakin arus panas yang Shizuo alirkan dari tubuhnya ke lukamu maupun tubuhmu secara keseluruhan saat ia menggendongmu sedikit banyak memperlambat proses penyebaran bakteri dan zat-zat dari racun dalam peluru yang bersarang di perutmu. Bahkan, arus panas itu menghancurkan semua bakteri dari luka tembak di perutmu itu sehingga tidak makin parah seperti seharusnya. Waktu menangani lukamu, aku sempat heran kenapa lukamu tak separah yang kubayangkan bahkan aku tak menemukan bakteri atau zat racun disana. Begitu pula kerusakan akibat racun di tubuhmu tak sebanyak yang kuperkirakan. Saat itu kupikir itu hanya kebetulan, tapi kalau menghitung durasi sejak kau tertembak sampai kami menemukanmu, seharusnya kau sudah mati. Tapi kau masih bisa bernafas bahkan sekarang kau sudah mulai pulih meski keadaanmu tak stabil. Jadi kalau kuhubungkan dengan arus panas aneh Shizuo yang kau rasakan, kurasa itulah sebabnya kau masih bisa hidup sampai sekarang."
Mendengar hipotesa konyol temannya itu, Izaya menaikkan alisnya tak percaya, "Kau mau aku percaya omongan konyolmu itu? Kau pikir ada yang seperti itu?"
Shinra menaikkan bahu. "Yang kita bicarakan disini Heiwajima Shizuo yang kau bilang monster dan selalu tak terprediksi, jadi bukan hal yang mustahil bukan?"
"Kau sinting, Shinra..."
"Baiklah, baiklah. Aku akan ceritakan kenapa aku bisa beranggapan begitu. Sebenarnya aku sudah menemukan fakta kejanggalan suhu tubuh Shizuo sejak SMP. Waktu itu aku tak mengerti kenapa suhu tubuhnya punya panas yang aneh. Sampai aku pernah bereksperimen, dia kusuruh memegang gelas kaca berisi air dan berkonsentrasi penuh pada air itu. Dengan polosnya dia menurut dan kau tahu apa yang terjadi? Air dalam gelas itu lama-lama bergejolak, memanas lalu mendidih. Hebat 'kan? Lalu yang kedua kucoba dia agar memanaskan wadah berisi kumpulan bakteri, dan bingo! Dia membunuh semua bakteri di wadah itu dengan panas ajaibnya. Nah, bagaimana? Sekarang kau tahu 'kan kenapa aku bisa bilang begitu? Dia memang punya kemampuan aneh seperti itu, disamping kekuatan monsternya. Aku sendiri tak pernah mengerti bagaimana ia bisa punya kelainan-kelainan seperti itu dan kurasa mungkin ia masih punya kekuatan aneh lagi..." Shinra mengakhiri kalimatnya dengan nada menggantung, sepertinya ia sedang mengingat-ingat apalagi kekuatan aneh Shizuo yang belum terekspos.
Izaya tak merespon apapun dengan cerita Shinra. Ia lelah mengatai Shinra sinting, jadi sekarang ia lebih baik percaya saja dengan penjelasan pria eksentrik itu. Lagipula meskipun ia menyangkalnya (dengan berbagai macam dalih, meskipun pada akhirnya hanya karena sentimen pribadinya pada Shizuo), fakta bahwa Shizuo menolongnya dan sekarang sedang dalam kondisi di ambang kematian,
Adalah kenyataan memalukan yang tak bisa ia tolak keberadaannya.
"Jadi, kurasa kau sebaiknya– tidak, kau sangat harus berterimakasih pada Shizuo kali ini. Dia menyelamatkan nyawamu dengan taruhan nyawanya sendiri."
Sang informan mendengus. Berterimakasih pada si monster itu? Konyol sekali kedengarannya.
"Aku rasa saat ini kau sedang berpikir fakta bahwa Shizuo menolongmu ada hal yang sangat konyol, tapi kau tak bisa menolak kalau memang kenyataanya seperti itu 'kan? Terlebih lagi, sekarang dia masih koma, lho. Lukanya jauh lebih parah darimu dan ini pertama kalinya ia sekarat sampai selama ini."
"Peluru biasa memang tidak akan membunuhnya, kurasa. Tapi masalahnya ini peluru perak... dan lebih dari satu kali 'kan ia tertembak? Masih hidup pun bahkan bagi Shizuo adalah sebuah keajaiban."
Izaya mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia tak mau merespon apa-apa.
"Kalau dia tak ingin membantumu, harusnya ia tinggalkan saja kau saat ambruk di jalan. Tapi dia mau repot-repot menghampirimu, menahan lukamu, bahkan meneleponku. Aku tak tahu apa yang ia pikirkan saat itu, tapi kurasa ia murni ingin menolong orang yang tak berdaya di hadapannya, meskipun itu kau, Orihara-kun."
Diam. Diam. Diam! Jangan bicara lagi, sialan!
Kau hanya menyimpulkan seenakmu. Kau tak tahu seberapa pekat dan mengakarnya kebencian dalam hubunganku dengan Shizu-chan. Dia tak akan melakukan hal itu sekalipun ia misalnya adalah orang terbaik di dunia yang tak bisa mengabaikan orang menderita di hadapannya.
Dia tak mungkin melakukan itu hanya karena niat menolong. Pasti ada hal lain. Pasti dia merencanakan sesuatu.
.
.
.
.~#~#~
.
.
.
Izaya mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar Shinra berhenti mengoceh.
Saat ini ia ingin berpikir sendirian.
"Shinra, bisa keluar sekarang? Aku mau istirahat... kau sudah selesai 'kan menginterogasiku?"
Shinra tersenyum simpul, "Oke, aku akan keluar. Kau pasti lelah berbicara banyak sejak tadi. Istirahatlah. Nanti kalau butuh apa-apa, panggil saja. Sebelum tidur makan dulu makananmu." Shinra menunjuk makanan yang ia sediakan untuk Izaya. Izaya merespon dengan nada malas. Lalu Shinra berjalan keluar.
Pintu ditutup dan Izaya akhirnya sendirian. Menyebalkan, ia jadi harus banyak berpikir akibat ocehan Shinra.
Tidak, ia tak terpengaruh. Ia tahu Shizuo adalah makhluk paling absurd dan tak terprediksi yang ia kenal. Ia juga tahu otak Shizuo sekecil protozoan jadi ia tak punya akal apalagi logika untuk merencanakan hal-hal buruk. Tapi ia tak bisa mengabaikan prasangkanya sendiri.
Ia tahu bukan kebetulan malam itu mereka bertemu, bukan kebetulan pria itu menghampirinya saat ia ambruk, bukan kebetulan saat ia mencoba menelepon Shinra meminta bantuan, dan juga bukan kebetulan,
Saat lengan besar itu mengangkatnya dan dalam sekejap ia keluar dari sasaran bidikan tembak para pengejar itu.
Pasti Shizuo tahu ia sedang dikejar. Pasti Shizuo tahu ia akan ditembak. Pasti Shizuo tahu timingnya. Pasti Shizuo sengaja menyelamatkannya.
Past—
Reflek, tangannya terangkat menutup mulutnya. Ia tersentak oleh sesuatu.
Tapi... kalaupun Shizu-chan memang melakukan itu karena rencananya, darimana ia tahu? Darimana ia dapat informasi? Sudah dua tahun aku tak banyak menampakkan diri karena pekerjaan gandaku... Sejenius apapun dia dalam menyusun rencana, dia tidak mungkin...
Tidak.
Aku...
Apa yang sedang kupikirkan sebenarnya? Penolakan pada kenyataan? Atau pembelaan untuk gengsi diri sendiri?
.
.
~#~#~
.
.
Lima hari setelah hari itu, keadaan sudah pulih sepenuhnya dan akhirnya bisa keluar dari kamarnya. Sungguh mengejutkan karena lima hari sebelumnya ia bahkan sulit sekali untuk sekedar menggerakkan kaki apalagi turun dari tempat tidurnya. Shinra bahkan memuji kecepatan pemulihan Izaya yang tak ia prediksi sama sekali.
"Bahkan kau mendahului Shizuo yang seharusnya pulih lebih cepat lho, mengingat dia punya ketahanan tubuh dan daya hidup abnormal.." celoteh Shinra sembari menuangkan minuman begitu melihat Izaya keluar dari kamarnya dan duduk di sofa, menatap Shinra dengan senyum khasnya. Seakan bilang 'lihat aku sudah sembuh, kau harus memberi diskon biaya pengobatanku'.
Senyum khas sang informan ulung menghilang begitu mendengar sang monster penyelamat –ehem, bukan– musuh bebuyutannya itu masih terbaring koma. Air mukanya berubah.
Izaya menenggak air liur di tenggorokannya. Butuh lebih dari sekedar keberanian untuk menanyakan ini.
"Dimana... Shizu-chan..?"
~#~#~
Ruangan itu tak berbeda dengan kamar tempat Izaya dirawat. Yang berbeda hanyalah banyaknya peralatan kedokteran yang tak Izaya kenal mengelilingi ranjang tempat Shizuo berbaring. Sementara yang terbaring masih tak bergerak lengkap dengan segala macam alat-alat penopang hidup dan entah apa lagi itu, Izaya tak tahu. Pria berambut hitam itu berjalan ragu kearah sosok bergeming itu. Dibukanya tirai yang menutupi ranjang dan ia pandangi baik-baik wajah pucat Shizuo.
Sudah berapa lama ya… Dua minggu? Tiga minggu? Ia tak ingat berapa lama sejak peristiwa malam itu. Memang sekarang ia sudah sembuh, lumayan setidaknya ia sudah bisa bergerak, berjalan dan makan dengan normal. Ia tahu benar rasanya terjebak dalam kondisi tak stabil itu, tak jelas antara hidup dan mati, antara kosong dan terbebani. Dan seumur hidup, Izaya berani bersumpah semua sensasi yang ia rasakan saat koma dan awal-awal kesadarannya adalah hal yang tak ingin ia jumpai lagi.
Dan bagaimana dengan si monster ini? Apakah ia begitu menikmati penyiksaan itu sampai tak bangun-bangun seperti ini?
Sampai kapan? Apakah ia tak akan membuka matanya lagi?
Apakah entitas monster yang mewarnai hidup hitam putihnya akan benar-benar lenyap dalam kondisi menyedihkan, diatas ranjang rumah sakit berbalut alat-alat aneh dan bau obat?
Tanpa paksaan, tanpa sandiwara, Izaya mengubah wajah datarnya menjadi sebuah ekspresi sendu, lebih mendekati khawatir namun ia tahan sebisanya. Ia hanya menggigit bibir bawahnya dengan segudang emosi rumit yang tak ia pahami.
"Shizu-chan…."
Dan nama itu mencelos begitu saja dari bibirnya. Perlahan tangannya berpindah posisi menyentuh kulit tangan Shizuo yang terasa kering dan rapuh. Seketika itu nafasnya tertahan dan ia hampir meloloskan kekagetannya.
Izaya tak mampu lagi berbohong.
.
.
~#~#~
.
.
Shinra menatap heran Izaya yang berpapasan dengannya, keluar dari kamar tempat Shizuo dirawat dengan raut wajah aneh.
"Orihara-kun…?"
Yang dipanggil tak merespon, ia terus berjalan menjauhi Shinra menuju pintu keluar apartemen.
"Tunggu, sebelum pergi aku harus mengingatkanmu sesuatu,"
Izaya tak mau berhenti, ia sudah pakai sepatunya, bersiap keluar.
"Biaya tagihan pengobatan Shizuo kubebankan padamu ya, kumasukkan dalam tagihanmu. Dan seperti biasanya, kalau hutangmu banyak, batas waktumu 30 hari. Jangan sampai lupa ya~"
Suara ringan menyebalkan Shinra membangkitkan sedikit emosi Izaya. Ia harus memuji Shinra yang bisa-bisanya membahas hal seperti itu padahal tahu bahwa sekarang ia sedang dalam kondisi pikiran yang tak stabil.
"Kali ini berapa digit, kacamata sial?"
"Hmmm…" Jari-jari kurus Shinra mulai menghitung, "kira-kira sembilan digit.. kurasa.. aku beri kau sedikit kemurahan, padahal harusnya bisa 10 digit lho~"
Izaya mendengus jengkel, "Kau mau memerasku atau apa?"
Alis Shinra berkerut sebal, "Hei, ini sudah wajar ya! Biaya pengobatan dan operasi untuk dua orang sekarat yang terkena luka luar dalam belum lagi racun-racun mematikan dan aku bahkan tak menghitung biaya pembuatan serum penawar racun, obat penghilang rasa sakit, dan obat-obatan lainnya untuk kalian yang kubuat sendiri! Kau pikir aku relawan sukarela, ya? Kalau pasiennya seperti kau sih, jangan harap itu terjadi…"
Izaya melambaikan tangannya bosan, ia tahu Shinra akan cerewet seperti ini soal uang, "Ya, ya baiklah. Aku tak mau memperpanjang ini, tapi aku tetap tak terima dan kau harus tetap memberiku diskon. Aku tak akan bayar sepeserpun tanpa potongan biaya."
Cukup sudah, Shinra mulai naik pitam, "Kau ini ya! Kau pikir kau masih punya hak untuk minta poto—"
Kalimatnya terhenti tiba-tiba dan jeda selama beberapa detik tercipta. Shinra sedang terpikir suatu ide.
"Hoi, ada apa? Kenapa kau tiba-tiba di—"
"Kau masih— ah tidak, salah, maksudku kau kuberi hak untuk dapat potongan biaya, tapi dengan satu syarat."
"Syarat…?"
Shinra mengembangkan seringai jahil. Tak ada salahnya mencoba sedikit berspekulasi.
.
.
~#~#~
.
.
Celty kali ini benar-benar kehilangan keseimbangannya dan baskom berisi air dan obat-obatan di tangannya jatuh. Wanita Dullahan itu kaget luar biasa begitu melihat sosok yang harusnya masih terbaring tak bergerak itu terduduk di ranjangnya. Segera ia ambil PDA-nya dan mengetik dengan panik.
{Shi-shi-shi-shizuooo...?! K-k-kau sudah sa-sa-sadar?}
Shizuo menoleh perlahan ke arah sumber suara dan melihat Celty sedang menyodorkan PDA kearahnya dengan gestur yang aneh. Lama sekali ia memperhatikan Celty tanpa bersuara, sampai Celty mulai khawatir dan ia mulai mengetik lagi.
{Shizuo... ada apa? Kau tak apa? Jangan duduk dulu, berbaringlah lagi}, Celty mendekat dan memegang kedua bahu Shizuo lalu perlahan membaringkannya lagi. Si pirang itu tetap terdiam.
{Bagaimana keadaanmu? Apa kau tak bisa bicara?}
Shizuo mengedip. Ia ingin menjawab Celty tapi suaranya susah sekali keluar. Tapi bagaimanapun ia ingin bicara. Jadi ia mengerahkan kekuatan dan akhirnya ia bisa mengeluarkan suara.
"Ce..l..ty.." suara yang keluar amat serak dan mengerikan. Celty agak bergidik.
{Shizuo... lebih baik jangan kau paksakan untuk bicara... suaramu parau sekali...}
"Be..ra..pa lama... aku... disi..ni..?"
{Kira-kira tiga minggu sejak saat itu. Kau terus terbaring koma dan kondisimu amat sangat kritis di awal. Terkadang tiba-tiba denyut jantungmu berhenti dan berkali-kali aku dan Shinra kalang kabut berusaha mengembalikan detak jantungmu. Tapi beberapa hari terakhir ini kondisimu mulai stabil, tapi kata Shinra meski kondisimu sudah stabil, kau belum tentu sadar dalam waktu cepat. Tapi kali ini perkiraan Shinra meleset! Syukurlah Shizuo, kau sadar lebih cepat dari yang kami perkirakan...}
Celty mendekati Shizuo dan menggenggam tangan pria itu. Shizuo bisa merasakan betapa bahagianya Celty, sahabatnya ini, begitu tahu ia sudah siuman dari koma panjangnya. Shizuo tersenyum dengan penuh rasa terima kasih. Disaat-saat seperti ini ia tidak bisa tidak berpikir betapa ia harus banyak bersyukur masih ada teman yang mengkhawatirkannya seperti ini.
Tiba-tiba pintu menjeblak terbuka dan Shinra masuk.
"Celty sayaaaang~ apa saja yang kau lakukan, cantik? Kenapa kau lama se– Waaaaa! Shizuo! Kau sudah sadar?! Dan hoi! Apa-apaan itu?! Kenapa Celty-ku sayang menggenggam tanganmu?" dokter berkacamata itu serta merta melemparkan tatapan marah dan cemburu kearah Shizuo melihat Celty menggenggam tangannya. Celty langsung bangkit dan memukul kepala Shinra.
{Kau ini apa-apaan sih?! Jangan teriak-teriak dekat orang sakit!}
Shinra mengusap-usap kepalanya, "Eeeh~ kenapa kau memukulku Celty? Wajar bukan kalau aku cemburu karena kau menggenggam tangan laki-laki selain aku? Lagipula kenapa tiba-tiba kalian jadi saling menggenggam tangan sih? Shizuo, apa kau mencoba merayu– uhuaagh!"
Kata-kata Shinra terhenti karena wanita Dullahan di hadapannya sudah menghajarnya lagi sampai ia tersungkur di lantai.
{Dasar cowok berpikiran sempit! Seharusnya kau tidak memikirkan hal remeh macam itu dan memperhatikan hal yang lebih penting! Shizuo baru saja sadar dari koma panjangnya! Sebelum menuduh hal konyol begitu, sebaiknya kau periksa dulu apa ada hal-hal yang tak beres pada kondisi Shizuo! Kau ini... selalu saja terbawa perasaan cemburumu yang tak penting itu...} Celty mengakhiri kata-kata pedasnya dengan emoticon marah.
Shinra bangkit dari lantai, "Ya, ya maafkan aku Celty sayang... Tentu saja aku senang Shizuo akhirnya sadar. Ini juga diluar perkiraanku lho, Shizuo" akhirnya dokter itu bicara juga pada pria yang baru saja sadar dari komanya, "Perkiraanku kau butuh kira-kira seminggu lagi, tapi kau sadar tepat setelah Orihara-kun sudah pulih."
Mendengar nama musuh bebuyutannya disebut, mata Shizuo melebar. Ia baru ingat, Izaya juga tumbang bersama dirinya waktu itu. Ia tak memikirkan apapun sebelumnya, tapi begitu nama Izaya disebut, ia malah jadi penasaran.
Jadi kutu itu sudah sadar, bahkan pulih sebelum dirinya?
Shizuo tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, "Dimana.. dia?"
"Ah, maksudmu Orihara-kun? Dia baru saja pulang tadi... kira-kira dua jam yang lalu. Ah iya, tadi sebelum pulang ia sempat menanyakan keadaanmu dan masuk ke sini, lho. Aku kaget dia tiba-tiba ingin melihatmu, jadi karena aku khawatir dia akan berbuat buruk padamu, aku mengamatinya diam-diam."
Celty tampaknya agak terkejut dengan perkataan Shinra, lalu mulai mengetik {Eh? Tadi dia ke sini? Mau apa dia? Aku tak percaya kalau kau bilang dia ingin menjenguk Shizuo..}
"Tapi, sepertinya memang dia hanya ingin melihat keadaanmu. Sejak aku memperhatikannya, ia hanya berdiri diam lama sekali di samping ranjangmu dan aku tak mengerti apa yang ia pikirkan saat itu. Tiba-tiba ia mendekat dan membuka tirai lalu kulihat ia menyentuh tanganmu, lho. Aku tak begitu melihat jelas, tapi ia langsung terkaget dan tiba-tiba memanggil namamu dengan suara lirih. Setelah itu ia berbalik keluar kamarmu, tapi ekspresinya sangat aneh. Aku sampai berpikir ia sempat menangis saat itu.."
{Eeh?! Menangis?! Seorang Orihara Izaya?! Jangan bercanda Shinra...}
"Aku sendiri tak yakin... tapi memang saat itu ekspresinya sangat aneh. Yah, mungkin aku hanya salah lihat.. Tapi, menarik juga ya kalau memang ternyata dia diam-diam mengkhawatirkan Shizuo.. "
Shinra dan Celty masih melanjutkan diskusi mereka tentang Izaya, sementara Shizuo yang mendengarnya tak berkomentar apapun. Agaknya dia terlalu syok dengan kemungkinan 'Izaya mengkhawatrikannya' itu. Bagaimanapun, faktanya mereka saling membenci dan selalu berusaha membunuh satu sama lain. 'Saling mengkhawatirkan' itu tak ada dalam kamus hubungan mereka. Itu yang selama ini Shizuo yakini.
Disisi lain, kendatipun inginnya berpikir begitu, fakta lain menunjukkan dirinya sendiri pernah menyelamatkan Izaya, bahkan sampai babak belur dan hampir mati. Izaya sendiri juga pernah bertanya kenapa Shizuo repot-repot menolongnya, padahal harusnya Shizuo senang kalau Izaya mati, jadi Shizuo sama sekali tak punya kewajiban menolongnya. Tapi ia malah mengabaikan semua pertanyaan Izaya dan berakhir seperti itu.
Kesimpulannya, rasa khawatir itu pernah ada bukan dalam hubungan mengerikan mereka? Terlebih, semua diawali dari Shizuo tanpa disadarinya.
Jadi jika Izaya juga mengkhawatirkannya, bukan lagi hal yang aneh...?
Sang penagih utang itu mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. Ia tak percaya dan tak habis pikir dengan apa yang ia pikirkan dan kesimpulan yang didapatnya. Sudah lama ia tak berpikir dalam, rasanya sangat aneh ketika malah hal semacam itu yang ia pikirkan setelah ia habis melewati penderitaan dalam kondisi koma.
"Shinra..." pria pirang itu menoleh kearah dua orang disampingnya.
"Hm? Ada apa, Shizuo?"
"Sampai...berapa lama lagi..aku harus tetap di sini..?"
"Hmmm... kalau besok kau sudah pulih pun, kau sudah boleh pulang kok. Tapi aku tak yakin kau bisa sembuh total besok. Lihat saja sekarang, kau bahkan sulit menggerakkan badanmu 'kan? Sekarang apa yang kau rasakan?"
"Rasanya... berat dan memang pegal... bahkan menoleh saja tak enak..."
"Nah 'kan? Jadi jangan pikirkan untuk pulang dulu, kau masih harus dirawat dan aku masih harus memantau keadaanmu. Ini pertama kalinya kau terluka begitu parah dan pemulihanmu sangat lambat, padahal biasanya untuk ukuran dirimu... Pokoknya kau harus banyak istirahat dan makan teratur, jangan lupa minum obat teratur."
{Shinra benar. Kita semua masih khawatir padamu. Kau masih belum bisa ditinggal sendiri. Pokoknya tenang-tenang saja di sini sampai kau bisa bergerak bebas dan pulih sepenuhnya, oke?}
Shizuo tak punya pilihan selain mengiyakan saran mereka.
.
.
.
~#~#~
.
.
.
Tapi tampakanya Shizuo tak mau menunggu terlalu lama di tempat Shinra. Esoknya ia mendesak Shinra membolehkannya pulang ke rumah.
"Kubilang kau belum boleh pulang! Lihat berjalan saja kau belum bisa.." Shinra mengomeli Shizuo yang sedang berusaha keras bangkit dari ranjangnya.
"Aku...baik..baik saja... Pokoknya aku mau kembali ke apartemenku... pekerjaanku... Tom-san pasti sangat kerepotan karena aku tak ada sampai selama ini.."
Shinra memutar bola matanya sebal. Ia selalu tahu Shizuo selalu keras kepala kalau sudah berkaitan dengan keinginannya.
"Nanti kalau terjadi apa-apa padamu bagaimana? Aku dan Celty tak bisa mengawasimu tiap waktu kalau kau di apartemenmu. Dan lagi siapa yang akan memasak untukmu, mengerjakan pekerjaan rumah, mengingatkanmu untuk minum obat, kalau kau tinggal sendirian di sana? Kau butuh orang untuk membantumu sekarang.."
"Kalau begitu aku akan memanggil helper untuk membantuku sampai aku pulih.."
"Haaah? Memangnya ada yang mau jadi helper-mu?"
"Oi, apa maksudmu?"
"Maksudku adalah, semua orang di Ikebukuro ini tahu siapa kau dan reputasimu. Aku yakin tidak ada yang cukup berani untuk menjadi helper-mu.. Harusnya sih kau lebih sadar itu daripada aku 'kan?"
"Oi, oi apa-apaan pemikiran pesimismu itu? Kita tak akan tahu sebelum mencoba–"
"Shizuo!"
"Pokoknya aku mau kembali! Jangan halangi aku, kacamata!" si pirang menatap teman sejak SMP-nya itu dengan tatapan mengancam.
"Oke oke, baiklah kalau kau begitu memaksa, aku izinkan kau pulang. Tapi ada satu syarat."
"Syarat?"
"Ya. Dan kalau kau tidak menyetujuinya, aku tidak akan membiarkanmu pulang, bagaimana?"
.
.
.
.
.
.
#to be continued
#trailer
"Izaya, mau apa kau di apartemenku?"
"Mulai sekarang sampai kau sembuh, aku akan jadi babysitter-mu, Shizu-chan~~ jangan lupa terima kasih yang banyak dan jangan banyak tingkah lalu yang penting turuti aku, oke?"
"HAAAH?! KENAPA KAU HARUS MENGURUSKU?!"
Sial! Dia menyentuh tubuhku seperti ini– Tunggu! Ada yang bereaksi tak normal di bawah!
Chapter 4 – Mirai no Bunkiten made
A/N
Aaaakh maaf
Lagi-lagi terlalu bertele-tele, tapi disisi lain ini juga penting, tapi kalau yang nggak sabar pengen baca Shizaya bakalan bosen sama ini
Aaakh dilema..
Saya kecolongan dan ternyata bulan September ini super duper sibuk jadinya semua fic saya terbengkalai. Tapi saya selalu mendadak termotivasi begitu baca review2 di fic2 saya
Jadi saya harus semangat dan lanjutkan apa yang udah saya mulai.
Btw perkembangan ceritanya akan sedikit berubah gegara saya habis nonton DRRR!x2 Ten episode 09 yang kece abis dan nge-feels banget. Uniknya hubungan Shinra dan Izaya dan kompleksitas pemikiran mereka itu bikin saya pas nonton "KYAAAAAAA NANI KORE?! YAPPARI IZAYA WA MADA NINGEN SONO MAMA JANAIKA?!"
Unexpected, Izaya itu tsundere ternyata, meskipun dia bilang begini begitu. Meskipun dia selalu bicara antara kebohongan dan kenyataan itu tipis sekali perbedaannya...
Ah cukup panjang lebarnya, mulai chapter depan akan banyak Shizaya and fluff yang bakal saya tulis. (sejujurnya itu bagian yang menyenangkan tapi susah ditulis) abis itu berlanjut ke unexpected event, pengkhianatan, dan ada angst di chapter2 terakhir. Rencananya begitu. Mudah2an mereka berdua nggak seenaknya mengubah cerita -_-
Btw saya mau bikin Shizuo posesif yang wild, tapi diluar dugaan dia masih mau sabar dan masih mau dengerin keegoisan Izaya, sementara Izaya mau saya bikin berusaha mendekati OCnya (semoga saya bisa) tapi di akhir mungkin akan agak sedikit OOC, tapi pada akhirnya Izaya tetaplah Izaya.
Gimana? Balas di kotak review ya. Ditunggu ^^
