Dream
Author : KeiLee
Main Pair : SasuNaru (Uchiha Sasuke x Uzumaki Naruto)
Other Pair : ShikaKiba (Nara Shikamaru x Inuzuka Kiba), Other Couple nyusul..
Other Cast : Sakura Haruno, dan lainnya akan ditemukan seiring berjalannya cerita.
Genre : Romance, Drama (banget), Hurt/Comfort.
Rate : T-M. Gue mulai sedikit terkontaminasi. Tapi Cuma dikit doang. Totally, gue masih polos ko..
Warning : YAOI. BxB. Little STRAIGHT. Typo (s) bertebaran dan selalu masih ada meskipun udah diedit. DLDR. Lebih sinetron dari sinetron yang paling sinetron (?). Tidak menerima Kritik dengan bahasa yang kasar, paling menerima kripik singkong atau kripik kentang. Biasakan RnR. Judul menipu. Isi berantakan dan maksa banget. Jalan cerita membingungkan dan berantakan sesuai sama idup gue T-T. Menimbulkan resiko mual dan nafsu makan menurun, jadi bagi yang diet dianjurkan membaca #apadeh
Okelah, seperti biasa. Gue cool make banget jadi ngga banyak bacot.
So, Check It Out..
Previous Story
Naruto membuka matanya perlahan. Mata beriris birunya menyipit ketika cahaya matahari terasa menusuk. Digeliatkannya badannya untuk melemaskan ototnya yang kaku.
"Ahh... kali ini adalah peristiwa perseteruan kita yang pertama, Sasuke." Gumamnya pelan. "Apa kau masih mengingatnya?" Tanyanya entah pada siapa, "Atau bahkan kau pernah memimpikannya?"
Naruto diam. Dia tersenyum menyadari kebodohannya. Sebanyak apapun dia bertanya, sebesar apapun dia mengharapkan sebuah jawaban maka semakin besar kesadarannya bahwa harapannya takkan terkabul. Sahabat atau lebih tepatnya orang yang bisa menjawab pertanyaannya tidak akan lagi datang ke tempatnya. Bertengkar bersamanya, bermain bersama dengannya, dan yang paling penting, dan paling Naruto inginkan, senyum tulus dari sang Uchiha bungsu yang hanya akan ditunjukkan padanya setiap mereka selesai berdebat yang selalu berakhir dengan kekalahan telak di pihak Naruto.
.
Start Story
.
Author PoV
Naruto berjalan malas menuju tempat yang disukainya sekaligus dibencinya. Suka karena disana dia bisa bertemu dengan teman-temannya dan benci karena dia harus memeras otaknya untuk memikirkan hal yang tidak disukainya –belajar-. Selain itu dia juga harus melihat pemandangan terburuk yang dilihatnya selama dia hidup dan itu setiap hari.
Naruto menghentikan langkahnya ketika melihat pemandangan yang sangat ingin dihindarinya. Tangannya memegang dada sebelah kiri merasakan debaran jantungnya yang mulai tidak beraturan membuatnya merasakan sakit yang sampai sekarang belum membuatnya terbiasa. Meskipun itu sudah dirasakannya sejak beberapa bulan lalu. Tepatnya ketika dua siswa didepannya mempublikasi hubungan keduanya. Sasuke Uchiha dan Sakura Haruno.
Dia tahu. Tidak seharusnya dia merasakan hal seperti ini pada hubungan keduanya. Terlebih keduanya adalah sahabatnya. Atau lebih tepatnya salah satu dari mereka adalah sahabat sekaligus orang yang dicintainya. Bukankah dia seharusnya bahagia melihat orang yang disayanginya bahagia bersama orang yang dicintai?
Mengabaikan sakit yang dirasakannya, Naruto memutuskan berjalan melewati keduanya karena dia harus segera sampai di kelas untuk menyalin PR Matematika yang belum disetuhnya sama sekali. Dengan kepala tertunduk, dia berjalan melewati pasangan terfenomenal itu. Berharap keduanya tidak menyadari keberadaannya. Tapi harapan tinggallah harapan. Rambut pirang alaminya benar-benar mencolok hingga membuatnya mudah dikenali.
Author PoV End
Naruto PoV
Kenapa aku harus bertemu dengan mereka berdua sekarang? Benar-benar memperburuk mood. Aku dilema sekarang. Satu sisi aku malas melewati mereka tapi satu sisi aku harus buru-buru sampai di kelas karena aku harus menyalin PR. Lama bergelut dengan pikiranku, akhirnya aku memutuskan untuk mementingkan PR dibanding perasaanku. Aku berjalan perlahan dengan kepala tertunduk berusaha keras untuk tidak terlihat.
Namun…
"Naruto-kun.."
Sial… kenapa harus terlihat? Dan kenapa harus dipanggil? Ini semua pasti gara-gara rambut kuningku. Pernah aku terpikir untuk mengganti warna rambutku menjadi hitam tapi seseorang melarangku dengan keras bahkan mengancam akan membunuhku.
Flashback On
Author PoV
"Aishh… aku benci rambutku." Keluh seorang pemuda berambut kuning terang sambil Tangannya memukul-mukul udara dengan kesal membayangkan sosok rambutnya (?) yang berdiri disana.
"Kenapa?" seorang pemuda berambut raven menatap pemuda kuning itu aneh.
"Aku kesal, Teme. Tadi aku ditagih uang iuran oleh Kakuzu senpai padahal aku sudah mati-matian menghindarinya, tapi tetap saja ketahuan. Kau tau karena apa? Karena rambutku, Teme! Kuulangi, karena rambutku! RAMBUT, Teme!" cerita pemuda kuning yang bernama Naruto itu berapi-api. Tangannya mengacak-ngacak rambutnya hingga rambut yang memang berantakan itu menjadi semakin berantakan.
"Hn." Jawab pemuda hitam bernama Sasuke itu pendek. Dia sudah biasa dengan tingkah berlebihan dari sahabat kuningnya itu.
"Aku benar-benar ingin mengganti warna rambutku." Naruto melirik kearah Sasuke. lebih tepatnya ke rambut raven sahabatnya itu. "Kurasa hitam cocok untukku." Ujar Naruto tiba-tiba membuat Sasuke menoleh kearahnya dan menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Teme?" tanya Naruto kikuk. Tidak biasanya pemuda minim ekspresi didepannya menatapnya seperti itu.
"Jangan berani-berani melakukan itu. Atau kau akan kubunuh!" ancamnya membuat Naruto sedikit bergidik. Demi Tuhan! Sahabatnya ini adalah seorang Uchiha yang terkenal selalu serius dengan ucapannya.
"Apa maksudmu, Teme? Melakukan apa?"
"Merubah warna rambutmu."
"Doushite? Tapi aku tidak ingin mencolok, Teme. Aku tidak ingin ditagih iuran lagi. Aku bukan kau yang memiliki banyak uang hanya dengan duduk manis dan menuruti kemauan orang tuamu. Aku harus bekerja siang dan malam untuk mendapatkan uang." Jawab Naruto sedikit curhat. Sasuke menghela nafas.
"Aku yang akan membayar semua iuranmu dan apapun yang berkaitan dengan uang. Tapi berjanjilah jangan pernah merubah apapun dari dirimu." Badan Sasuke kini sepenuhnya menghadap Naruto yang tengah mengernyitkan kening bingung.
"Dou.. shite..? tanya Naruto pelan. Hanya karena rambut sahabat hitamnya itu sampai mau berbuat seperti itu. Pasti semua ada alasannya.
"Biarkan tetap seperti ini. Kau siang dan aku malam." Jawab Sasuke sebelum berlalu pergi meninggalkan Naruto dengan kerutan dahi yang makin dalam sebelum kemudian pipi tan itu berubah warna menjadi merah.
'Teme sialan!' umpatnya.
Author PoV end
Flashback Off
Uzumaki Naruto PoV Start
"…ruto.. Naruto.. Hei! NARU-BAKA!" aku tersentak. Teriakan gadis pink didepanku ini benar-benar tidak ada duanya.
"Nani, Sakura-chan?" jawabku malas. Bukan malas untuk menyapanya. Tapi aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi disini. Tidak dengan melihat Sakura yang menggamit lengan Sasuke posesif.
"Apa yang kau lamunkan?" tanyanya. Aku menjilat bibirku. Gestur yang biasa kulakukan ketika aku gugup. Mataku melirik kearah Sasuke yang juga menatapku tapi aku berpaling. Aku tidak sanggup melihat mata obsidian yang selalu menatapku hangat itu kini mendingin. Dadaku berdenyut lagi.
"Tidak ada. Hanya memikirkan tugas rumah yang belum kuselesaikan. Aku permisi, Sakura-chan. Aku tidak ingin dihukum oleh Bakoro sensei!" aku amat sangat bangga dengan otakku yang selalu bisa diandalkan saat aku benar-benar membutuhkan. Sebenarnya aku akan lebih bangga jika organ paling vital di tubuhku itu juga bisa diandalkan dalam pelajaran. Tapi itu hanya sekedar harapan.
"Naruto-kun!" aku mengerang saat Sakura kembali menahanku. "Kau mau kemana? Bukankah kau biasanya meminjam pada Sasuke?"
Aku menatap gadis itu dalam diam. Sampai kapan dia akan berpura-pura? Bukankah dia sudah tau aku dan Sasuke tidak lagi sama? Bukankah dia juga tau apa penyebab hubungan kami merenggang? Bagaimana bisa aku meminjam buku tugasnya saat Sasuke bahkan enggan bicara denganku?
"Aku akan meminjam pada Shika atau Gaara." Jawabku.
"Tapi milik mereka pasti sudah dipinjam murid lain."
"Tidak masalah. Aku bisa mengerjakannya bersama. Aku duluan, Sakura-chan," aku melirik kearah Sasuke, "Sasuke." Tambahku kemudian melesat menuju kelasku. Aku tidak ingin melihat reaksinya. Aku takut mendapatkan tatapan dingin darinya. Tidak lagi.
Uzumaki Naruto PoV End
Author PoV
Sakura menatap kepergian Naruto heran, "Kenapa dia buru-buru begitu? Kenapa tidak bersama saja? Kita, kan satu kelas. Benar, kan Sasuke?" Sakura menoleh kearah Sasuke ingin melihat bagaimana reaksi dari kekasihnya itu. Tapi kosong. Hanya wajah datar dan tatapan yang lurus kedepan yang ditampilkan bungsu Uchiha itu. Setelah itu tangan yang sedari tadi digamit olehnya mulai melepaskan diri dilanjutkan dengan kepergian si pemilik lengan. Meninggalkan Sakura dengan tatapan sedih sekaligus sebal.
Di sisi lain, Naruto yang baru sampai dikelasnya dibuat menganga dengan tingkah teman-teman sekelasnya. Pasalnya, hampir semua siswa sudah datang bahkan Shikamaru sudah duduk dengan kepala tertelungkup (?) di mejanya.
'Benar kata Sakura. Kuso! Harusnya aku berangkat lebih pagi!' batin Naruto kesal. Kakinya melangkah kearah pemuda berambut merah bata yang duduk di depannya. Setelah meletakkan tas dan mengambil alat perangnya –re : buku dan pena- dia menghampiri pemuda itu.
"Ohayou, Gaara. Aku pinjam kerja rumahmu!" sapa dan pinta Naruto langsung. Yang dipalak (?) hanya mengangkat kepala dari buku yang dibacanya dan menunjuk kerumunan siswa di sebelah kanannya. Naruto mendengus. Dia melangkah kearah Shikamaru dan menepuk bahunya keras menghasilkan umpatan dari pemuda berwajah malas itu.
"Ohayou, Shika. Mana tugasmu?"
"Mendokusai." Gumam pemuda berambut nanas itu dan menunjuk kerumunan siswa di depannya. Tangan mungil terbungkus kulit tan itu kini meremat rambutnya kesal. Dia benar-benar kalah selangkah. Andai saja tadi dia bangun lebih pagi dan mengabaikan mimpi indahnya.. Pasti dia sekarang bisa duduk tenang dibangkunya dan menunggu sensei anehnya –re : Orochimaru- itu dengan senyuman. Dengan wajah tertekuk pemuda berwajah manis itu kembali ke tempat duduknya sampai sebuah buku terlempar kearahnya.
Kepalanya mendongak ingin melihat tersangka yang melakukan itu dan membuat kepalanya makin pusing. Semua kemarahan yang hendak terlontar dari bibirnya kembali tertelan melihat siapa yang kini melangkah menjauhi mejanya di deret belakang. Tangannya dengan cepat meraih buku di depannya dan membukanya. Matanya membelalak disusul dengan senyuman lebar melihat nama yang tertulis di buku itu.
Uchiha Sasuke
Naruto baru saja akan membuka lembaran tugas yang harus dicopynya ketika selembar kertas berwarna abu-abu jatuh dimejanya. Senyumnya makin lebar ketika tahu kertas milik siapa itu.
Segera kembalikan!
Naruto menyelipkan lembaran memo itu di bukunya yang lain dengan hati-hati. Karena meskipun hanya selembar kertas kecil, tapi yang memberinya adalah orang yang paling berharga untuknya. Tangannya dengan cepat menyalin setiap tulisan Sasuke tidak ingin membuat Sasuke marah karena dia tidak segera mengembalikan bukunya.
Naruto baru saja akan berdiri untuk mengembalikan buku Sasuke tapi terhenti saat sebuah ide terlintas dipikirannya. Tangannya mengambil kertas memo berwarna orange di tasnya dan menuliskan sesuatu disana. Kemudian dia melangkah riang menuju meja Sasuke.
"Teme. Ini. Arigatou." Ujarnya sebelum kembali ke mejanya tanpa menunggu balasan Sasuke. Dia tidak ingin tatapan dingin Sasuke merusak kebahagiaan yang dirasakannya.
Sasuke mengangkat buku yang tadi dipinjam Naruto bersamaan dengan itu kertas note berwarna orange jatuh dari lipatan bukunya. Tangan pucatnya terulur mengambilnya. Mengelus kertas itu dan menyelipkannya di buku lain. Sasuke tersenyum. Tidak ada yang mengetahunya tentu saja. Karena senyum itu amat sangat tipis tapi juga sangat tulus.
Terima kasih masih tetap peduli padaku
…
Author PoV
At Uchiha's Mansion
Sasuke menutup buku yang sedari tadi dipegangnya. Obsidiannya melirik pada jam yang ada di meja nakasnya.
'Sudah sore ternyata.' Ungkapnya dalam hati. Kakinya turun dari ranjang yang sedari tadi ditempatinya. Meletakkan buku di rak perpustakaan pribadinya dan melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri. 20 menit kemudian pemuda berambut raven itu keluar dengan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya. Menampilkan ABS berbalut kulit putih pucat yang bisa membuat fansnya menggila jika mereka melihatnya.
Pemuda berparas mendekati sempurna itu melangkah menuju lemari dan mengambil asal pakaian kemudian memakainya. Melempar handuk ke keranjang pakaian kotor dan kembali membaringkan badan atletisnya ke ranjang. Matanya hampir menutup jika saja telinganya tidak menangkap suara ketukan pintu kamarnya. Dia mendudukkan badannya kembali dengan malas.
"Masuk." Ujarnya datar. Muka datarnya makin datar begitu melihat siapa yang masuk kedalam kamarnya, "Mau apa kau?"
Pemuda berwajah mirip dengannya itu hanya tersenyum menanggapi kalimat dingin yang dilontarkan oleh sang pemilik kamar. Dia bahkan mendudukkan dirinya di pinggiran ranjang mengabaikan tatapan tajam dari Sasuke.
"Hei! Apa kau tidak mau turun?" tanyanya. Bukannya menjawab, Sasuke memilih kembali membaringkan badannya, "Keluarga Haruno dan Kurama sudah datang. Bukankah hari ini keluarga kita akan malam bersama keluarga mereka?"
Sasuke diam. Seperti tengah memikirkan sesuatu, "Kau saja. Aku malas." Sasuke hampir saja memejamkan matanya ketika suara tegas yang selalu dihindarinya terdengar.
"Hentikan tingkah kekanakanmu, Sasuke!" seorang paruh baya dengan wajah tegas berdiri di ambang pintu kamar Sasuke.
"Tou-san… sudahlah. Mungkin Sasuke sedang tidak baik." Ujar Itachi –pemuda berwajah mirip Sasuke-.
"Berhenti membelanya, Itachi. Dia bukan anak-anak lagi! Kau harus turun, Sasuke! Kau dengar? Aku tidak menerima penolakan!" setelah mengatakan perintah absolut itu, Uchiha Fugaku berbalik meninggalkan kamar Sasuke.
Itachi memandang adik satu-satunya itu khawatir. Dia bukannya tidak sadar kalau badan adiknya itu menegang ketika mendengar suara ayahnya. Tangan pucat itu juga terkepal erat. Perlahan tangannya menyentuh pundak adiknya.
"Kau tinggallah disini, Sasuke. Aku akan mengatakan pada Tou-san kalau kau tidak bisa bergabung." Ujar Itachi berusaha mengerti sang adik. Tapi di kaget saat Sasuke menepis tangannya dengan kasar dan duduk menghadap kearahnya. Tatapan tajam tertuju kearahnya. Tapi Itachi juga dapat melihat sorot kekecewaan di mata itu.
"Dan membiarkan aku dibanding-bandingkan denganmu lagi, hah?! Uchiha Itachi yang sempurna?!" sentaknya sebelum turun dari ranjangnya, "Keluarlah!" usir Sasuke. Itachi yang mendengar itu hanya bisa menurut tidak ingin Sasuke makin marah dan kecewa padanya.
'Gomen, Otouto.' Batin Itachi setelah menutup pintu kamar Sasuke.
Makan malam itu berjalan dengan lancar. Sekarang tiga keluarga itu tengah berbincang-bincang di ruang keluarga. Kurama Kyuubi yang merupakan kekasih dari Itachi menatap risih kearah wanita berambut pink yang sedari tadi bergelayut manja di tangan Sasuke yang seringkali ditepis oleh si pemilik tangan.
'Gadis yang tidak tahu malu!' umpatnya dalam hati. Bukan dia tidak berani mengungkapkan pemikirannya, tapi dia masih punya sopan santun untuk tidak menghancurkan suasana akrab yang sudah terjalin.
Sakura yang merasa Kyuubi tengah menatapnya juga membalas dengan tatapan sinis. Matanya memandang risih kearah tangan Kyuubi yang bertautan erat dengan tangan -calon- kakak iparnya, Itachi.
"Itachi-nii, kenapa kau bisa menyukai Kyuubi-nii?" tanya Sakura tiba-tiba ketika para orang tua pergi ke tempat lain. Pertanyaan itu membuat Itachi yang tadinya tengah sibuk memainkan jari-jemari Kyuubi menoleh kearahnya.
"Karena semua yang kucari ada pada dirinya." Itachi menatap lembut kearah Kyuubi yang menampilkan wajah ingin muntah. Tapi wajahnya yang memerah cukup memberitahu Itachi bahwa kekasih tsunderenya itu tengah malu.
Sakura mendecih dalam hati, "Tapi Kyuubi-nii laki-laki. Kenapa Nii-san tidak mencari wanita? Bukankah Itachi-nii tampan? Banyak wanita yang menyukai Itachii-nii. Kenapa harus memilih menjalankan hubungan yang tabu di mata masyarakat?" tanya Sakura kurang ajar yang berhasil membuat Itachi terperanjat. Dia dapat merasakan remasan tangan Kyuubi pada tangannya menguat. Kekasihnya sedang marah. Dia tahu itu. Dielusnya tangan lembut itu dengan ibu jarinya berusaha menenangkan kekasihnya.
Itachi tetap menunjukkan senyum ramahnya meskipun di dalam hatinya dia tengah mengumpati gadis pink itu, "Kau tau, Sakura? Aku tidak peduli pada orang lain kecuali jika orang itu menyakiti Kyuu. Orang yang kucintai. Aku juga tidak peduli pada pandangan orang lain tentang hubungan kami karena kami yang menjalaninya." Itachi menghentikan kalimatnya. Matanya terarah pada Sasuke yang kini tengah menatap kearah lain, "Kenapa harus peduli pada orang lain, toh, mereka tidak tahu apa yang membuat kita bahagia. Hidup hanya sekali. Kenapa harus menghabiskan waktu untuk terlihat baik di depan mata orang lain? Apalagi jika itu harus mengorbankan hal paling berharga?" Itachi kembali mengalihkan pandangannya pada Sakura masih dengan senyuman yang sama.
Sakura hanya mengangguk dengan senyum manis berlawanan dengan hatinya yang tengah mengutuk Kyuubi yang kini menyeringai kearahnya. Dia tersentak ketika tangannya ditepis kasar oleh Sasuke.
"Semua pembicaraan tentang cinta ini membuatku muak!" umpatnya sebelum berbalik hendak pergi jika saja tangan Sakura tidak menahan lengannya.
"Kau mau kemana, Sasuke-kun? Bukankah kau harus menemaniku?" tanyanya mengabaikan tatapan membunuh dari bungsu Uchiha itu.
Sasuke menepis pegangan tangan Sakura, "Jangan sentuh aku!" sentaknya.
"Sasuke-kun!" bentak Sakura balik. Sungguh berani kau, Haruno. Sasuke menyeringai dengan tatapan makin tajam.
"Kau berani membentakku?! Pergi! Kau menghancurkan semuanya, brengsek!" umpatnya kasar sebelum benar-benar pergi.
"Sasuke!" langkah Sasuke terhenti mendengar perintah absolut dari Uchiha Fugaku, "Ke ruanganku sekarang! Aku tidak menerima penolakan, Sasuke!" tambahnya. Sasuke melangkah dengan tangan terkepal menuju ruangan ayahnya di lantai dua. Dia sama sekali tidak menoleh ke belakang hanya untuk melihat keadaan gadis yang tadi dibentaknya dan mungkin merasa sakit hati. Dia tidak peduli. Karena hanya satu orang yang akan dipedulikannya ketika orang itu disakiti.
"Jangan marahi dia, Uchiha-san. Mungkin Sasuke sedang dalam keadaan tidak baik." Ujar kepala keluarga Haruno berusaha meredakan emosi sang Tuan rumah.
"Hn." Gumam Fugaku.
"Kurasa ini saatnya keluarga kami pulang, Uchiha-san." Pamit keluarga Kurama.
"Ah, hai. Maafkan kejadian tadi." Ujar Uchiha Mikoto. Keluarga Kurama hanya tersenyum memaklumi.
"Mungkin keluarga kami juga harus pulang." Keluarga Haruno juga ikut pamit. Dua keluarga itu menyadari ada yang harus diselesaikan oleh kepala keluarga Uchiha itu dengan anak bungsunya dan mereka tidak ingin mengganggu.
Keluarga Uchiha -kecuali anggota bungsunya- mengantar kepulangan kedua keluarga itu sampai pintu istana mereka. Itachi mencium kening Kyuubi yang dihadiahi jitakan cukup keras oleh pemuda berambut jingga itu. Sakura yang melihat itu hanya mendengus kesal karena kekasihnya tidak pernah memperlakukannya seperti itu.
Selepas kepergian kedua keluarga itu, Fugaku segera melangkah menuju ruangannya. Mikoto dan Itachi yang melihat itu segera mengikuti langkah pemimpin keluarga Uchiha itu.
Di ruangan yang cukup luas itu diisi dengan empat orang yang menampilkan ekspresi yang berbeda.
"Sasuke. Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?" tanya Fugaku berusaha bersabar dengan tingkah anak bungsunya itu. Lama dia menunggu tapi tidak ada tanggapan dari Sasuke. Hanya tatapan datar yang dia dapatkan. Melihat itu, kemarahan Fugaku yang tadi ditahannya kini kembali menguar.
"Kenapa hanya diam?! Kau baru saja merusak citra keluarga Uchiha di depan tamu kita?! Kemana otakmu?!" bentak Fugaku. Sasuke tetap tak bergeming membuat Fugaku makin berang.
"Keluarlah!" usir Fugaku akhirnya tidak ingin memperpanjang masalah. Mendengar perintah itu, Sasuke segera berbalik dan pergi, "Kau tidak berguna." Bisik Fugaku yang tentu masih bisa terdengar di ruangan yang hening itu. Tangan Sasuke mengepal.
"Fugaku!" pekik Mikoto tidak menyangka suaminya akan berkata begitu pada anaknya.
"Aku tahu, Tou-san. Aku tahu." Jawab Sasuke datar sebelum memutar kenop pintu dan pergi menuju kamarnya.
Sasuke melemparkan dirinya keatas ranjang. Tangannya meraba kebawah bantal dan menarik sebuah foto dua orang pemuda yang sangat kontras. Satu pemuda berambut kuning yang tertawa lebar dengan tangan memegang permen kapas dan satu pemuda berambut raven yang hanya menampilkan ekspresi datar. Latar belakang foto itu adalah bianglala besar yang dihiasi lampu-lampu cantik. Itu adalah foto terakhirnya bersama dengan Naruto sebelum semuanya hancur. Tangannya mengelus foto pemuda pirang itu perlahan.
"Hanya dengan melihatmu saja semua marah yang kurasakan menghilang." Gumamnya, "Aku merindukanmu, dobe." Mata sewarna malam itu memejam. Tapi sejurus kemudian ekspresi lembut diwajahnya berganti.
"Mau apa kau?" tanyanya dingin masih dengan matanya yang terpejam. Yang ditanya hanya berjalan mendekat.
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu." Jawab Itachi.
"Untuk apa? Menertawakanku? Uchiha- Itachi- yang- sempurna- dan- akan- selalu- berguna?" sinis Sasuke dengan penekanan pada beberapa kalimat. Matanya yang tadi terpejam kini terbuka menatap tajam dan penuh kebencian pada orang di depannya.
Itachi tersenyum sedih. Entah sejak kapan hubungannya yang amat sangat dekat dengan Sasuke berubah menjadi seperti ini.
"Bisakah kau tidak memanggilku seperti itu?" pintanya memohon. Uchiha tidak pernah memohon, dia tahu itu. Tapi dia harus melakukannya jika itu bisa membuat hubungannya dengan Sasuke kembali seperti dulu.
"Kenapa? Bukankah itu benar? Kau selalu sempurna dimata ayah, bukan? Kau selalu berguna untuk klan Uchiha!" Sasuke bangkit mendekati Itachi. "Berbeda denganku." Dalam jarak sedekat ini, Itachi bisa melihat betapa dalamnya luka yang dipancarkan oleh mata kelam Sasuke.
"Sasuke.." ucapnya lirih.
"Keluarlah! Kau dan Sakura sama saja! Kalian menghancurkan semuanya!" bentak Sasuke.
Itachi terdiam kemudian terkekeh mendengar kalimat Sasuke, "Aku dan Sakura? Bukankah kau sendiri yang membuat semuanya hancur, Sasuke? Jangan menyalahkan orang lain." ujar Itachi sebelum meninggalkan kamar Sasuke. Meninggalkan Sasuke yang kini tertunduk dengan tangan terkepal. Jawaban Itachi atas pertanyaan Sakura –yang dia yakin itu ditujukan untuknya- tadi kembali terngiang di kepalanya.
"Kenapa harus peduli pada orang lain, toh, mereka tidak tahu apa yang membuat kita bahagia. Hidup hanya sekali. Kenapa harus menghabiskan waktu untuk terlihat baik di depan mata orang lain? Apalagi jika itu harus mengorbankan hal paling berharga?"
"Menghabiskan waktu untuk terlihat baik di mata orang lain. Kau menyindirku?" gumamnya dengan seringaian yang perlahan berubah menjadi senyuman miris, "Kau bisa mengatakan itu dengan mudah karena kau tidak pernah merasakan rasanya menjadi aku, Aniki." Ujarnya yang tanpa disadarinya masih bisa di dengar oleh Itachi yang masih berdiri di depan kamarnya dengan pintu yang tidak tertutup rapat. Tangannya makin mengeratkan pegangannya pada kenop pintu kamar Sasuke.
"Gomen, Otouto." Gumamnya sebelum menutup pintu kamar Sasuke.
.
.
.
TBC
.
.
.
Halo.. apa kabar? Apa masih ada yang menantikan FF ini? Gomen.. lama update. Masih fokus sama kuliah + FF yang lain.
Makasih buat yang review di chap kemaren. Arigatou.. sorry kaga bisa bales..
Mind to RnR..?
Pai-paii...
