Disclaimer : Masasshi Kishimoto
Tidak ada yang bisa saya katakan selain fic ini diusahakan semainstream mungkin.
1
Pagi ini. Ketika aku bangun dan melihat ponselku untuk memastikan waktu. Aku mendapati sebuah pesan mencurigakan dari nomor tidak dikenal yang isinya persis seperti surat ancaman.
Sms ancaman itu berisi pesan jika aku tidak datang ke tempat yang si pengirim tunjuk sebelum jam sembilan pagi, maka hal yang buruk akan terjadi pada Hinata.
Normalnya aku akan menganggap hal seperti itu hanya sebuah candaan tidak berguna yang ditulis oleh orang kurang kerjaan. Tapi kali ini aku tidak bisa melakukannya. Sebab dari kejadian beberapa minggu yang lalu, aku tahu kalau Hinata memang benar-benar sedang diincar oleh seseorang.
Jika sms itu serius, maka Hinata sedang dalam bahaya besar. Jika seseorang menggunakan magic untuk melakukan sesuatu pada gadis itu, aku masih bisa bertindak dan mencegah apapun yang ingin mereka perbuat. Tapi jika mereka menggunakan seseorang untuk menembaknya dari jauh atau memberondong rumah ini dengan ledakan, tentu saja kekuatanku tidak akan ada gunanya.
Karena itulah, untuk ambil amannya aku menuruti apa yang diperintahkan dalam sms itu.
Aku keluar dan bilang akan bekerja paruh waktu, lalu Hinata kusuruh untuk jaga rumah sampai aku kembali. Kemudian, setelah memastikan kalau gadis itu tidak ada di sekitarku arah perjalanankupun berubah.
Tidak lama setelah aku sampai di tempat yang ditunjukan di sms, sebuah mobil hitam panjang segera berhenti tepat di depanku. Dari dalam muncul dua man in black yang langsung menariku masuk dan membawaku ke sebuah kawasan apartemen mewah dengan gedung yang tingginya ratusan meter.
Setelah berhenti di pintu depannya, para man in black itu menendangku keluar dan menyuruhku untuk masuk dan menuju kamar nomor seratus empat puluh tuju. Sebab aku tidak pernah ke tempat seperti itu sebelumnya, aku harus bertanya pada banyak orang, beberapa kali nyasar dan bingung mencari-cari mencari peta.
Lalu akhirnya, begitu setengah jam berlari aku bisa sampai di depan pintu kamar satu empat tuju.
Takut setelah sampai di sini sama sekali tidak ada gunanya. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mengetuk pintu dan berharap kalau orang yang berada di dalam tidak langsung menyerangku benda tajam maupun tumpul.
"Permisi."
Begitu kuketuk pintu di depanku, suara langkah kaki langsung terdengar. Sesaat kemudian handle pintu berputar dan dari dalam terlihat seorang gadis kecil kelihatannya baru saja bangun tidur.
Dia mengenakan piyama pink kecil dengan motif kotak-kotak yang tersingkap sampai pusarnya kelihatan, di bibir mungilnya ada liur yang mengalir dan hampir menetes, kemudian matanya juga masih antara terbuka dan tertutup.
"Aku tidak butuh koran pagi dan sarapanku akan kuambil sendiri. . . wuaaaaaaa. . . "
Tidak seperti penampilannya beberapa minggu yang lalu, gadis kecil ini sama sekali tidak kelihatan elegan.
"Kenapa kau ada di sini Hanabi?."
Hanabi langsung membuka matanya lebar-lebar begitu mendengar suaraku. Dia melihatku dari atas sampai bawah dengan mulut menganga yang kemudian langsung digunakan untuk berteriak setelah sadar kalau aku adalah orang yang ditemuinya kemarin bersama kakaknya.
"Tolong tunggu sebentar!."
Setelah berteriak, Hanabi langsung menutup pintu. Lalu bahkan sebelum semenit, pintu kembali terbuka dan penampilan gadis kecil itu sudah berubah derastis.
Wajahnya sudah kelihatan segar, matanya sudah kelihatan cemerlang, piyamanya sudah hilang digantikan pakaian penuh dengan renda berwarna hitam dan putih, kemudian dia juga memberiku senyuman kelas bisnis yang rasanya tidak cocok berada di wajah kekanakannya.
"Kenapa kau mengenakan pakaian pelayan?"
"He?"
Dia melihat pada dirinya sendiri. Setelah itu dia kembali menutup pintu dan membukanya lagi. Kemudian kali ini dia keluar dengan penampilannya yang seperti kemarin. Sesosok tuan putri kecil sudah berada di depanku.
Uwah. . kilat.
"Apa kau sedang melakukan pertunjukan sulap?."
Bagaimana dia bisa berganti penampilan hanya dalam waktu beberapa detik seperti itu? apa pintu di depanku ini sebenarnya lemari ajaib yang terhubung ke dimensi ke empat atau si Hanabi punya skill berdandan kelas dewa?
Tanpa menjawab pertanyaan basa-basiku Hanabi langsung berjalan meninggalkanku setelah mengunci pintu dan bukannya menyuruhku untuk masuk.
"Kenapa kau diam saja? cepat ikuti aku."
Sepertinya seseorang mengikutinya adalah sesuatu yang normal baginya, dan untuk seseorang yang berada di luar lingkaran sosialnya sepertiku. Tentu saja mengharapkan aku mengikuti custom semacam itu tanpa bilang apa-apa terlebih dahulu adalah sesuatu yang tidak mungkin.
"Kalau kau ingin bicara kenapa tidak di tempatmu saja?"
Kalau kau hanya ingin mengajaku pergi kenapa kau harus menyuruhku ke sini dulu? bukankah lebih cepat kalau kita langsung janjian di luar saja? apa iq gadis kecil ini sudah serendah itu sampai tidak bisa memikirkan hal sesimple itu.
"Meski tidak kelihatan, tapi staminaku ini jelek! kalau bisa aku tidak ingin naik turun gedung bertingkat semacam ini lebih dari satu kali."
"Kau tidak merokok kan? kurasa untuk ukuran orang yang kelihatan sehat-sehat saja kau terlalu malas!."
Katanya kalian bukan saudara kandung, tapi kenapa pikiran kalian bisa sama seperti itu? aku memang tidak merokok tapi penyebab orang bisa tidak sehat bukan hanya hal semacam itu.
"Lalu, apa kau tidak pernah diajari sopan santun? laki-laki masuk ke kamar wanita tanpa ijin itu tindakan yang buruk."
Aku tidak percaya aku baru saja dinasehati masalah sopan santun oleh anak kecil yang seenaknya menghinaku dengan sangat natural layaknya bernafas di minggu sebelumnya.
"Kalau begitu gampang! kau tinggal memberiku ijin dengan begitu masalah selesai."
Lagipula kau bahkan bukan seorang wanita melainkan anak-anak. Jangan menganggap kalau memiliki wajah manis dan imut-imut sudah cukup membuat seseorang bisa disebut wanita. Daya tarikmu sekarang hanyalah ada pada level hewan peliharaan semacam hamster atau kucing.
Penampilanmu itu hanya membuat seseorang jadi tertarik untuk segera mengarungimu untuk dibawa pulang.
"Masalahnya lebih rumit dari itu! yang jelas aku tidak bisa membiarkanmu masuk, karena itulah ikuti aku! kita akan pergi ke tempat yang lebih privat."
Dengan terpaksa, aku berjalan mendekati Hanabi yang sudah sampai di depan lift. Awalnya dia ingin menekan tombol lift sendiri tapi untuk suatu alasan dia berhanti dan berdiri tegak sambil menungguku untuk sampai.
"Hanabi."
Setelah sampaipun dia masih hanya berdiri dan tidak melakukan apa-apa. Salah, dia melakukan sesuatu. Dia memberiku tanda untuk menekankan tombol di atas kepalanya.
"Jadi ini yang namanya bertingkah seperti tuan putri?"
Pintu lift terbuka setelah kami menunggu selama beberapa saat.
"Salah! tadi adalah tingkah sebagai orang kaya, yang ini baru tingkah sebagai seorang tuan putri."
Hanabi mengangkat tangan kanannya seperti seorang tuan putri yang sedang menerima undangan dansa dari seseorang seperti dalam film-film kerajaan buatan orang barat.
"Kalau begitu ijinkan aku."
Sesekali mengikuti permainan seseorang tidak buruk juga. Aku menunduk terlebih dahulu sebelum menyambut telapak tangannya. Tapi ketika aku menyentuh ujung jarinya dan belum sempat menggenggamnya dia langsung menarik tangannya lagi.
"Maaf sepertinya aku berubah pikiran."
"Woi! jangan mempermainkanku!."
Hanabi langsung masuk ke dalam lift dan sama seperti sebelumnya, aku yang harus menekan tombol untuk mengarahkan kami menuju lantai dasar.
Di dalam lift kami sama sekali tidak bicara satu sama lain. Sebab aku tidak tahu topik apa yang bisa kuangkat ketika lawan bicaraku adalah seorang gadis kecil yang latar belakangnya seratus delapan puluh derajat berbeda denganku aku memutuskan untuk tetap diam. Lagipula perjalanan kamipun tidak terlalu lama sehingga suasana diam itu hanya berlangsung beberapa menit yang bagus sebab membuatku tidak merasa tidak enak padanya.
Tidak seperti di lantai atas, lantai bawah penuh dengan orang yang berlalu lalang. Jadi tentu saja kemungkinan menabrak atau ditabrak oleh seseorang secara tidak sengaja jauh lebih besar dari beberapa saat yang lalu.
"Aw. . ."
Begitu keluar dari lift, Hanabi langsung menabrak seorang pria dengan badan besar. Setelah itu dia mundur beberapa langkah dan menabrak orang lain. Hal itu terjadi berkali-kali sampai entah sejak kapan dia sudah berada di tengah lobby karena terpental ke sana-ke mari oleh orang-orang yang lewat.
"Aku tidak tahu kenapa koordinasi tubuhmu begitu buruk, tapi untuk kali ini sepertinya kau yang harus mengikutiku."
"Aku sudah terbiasa."
Pakaiannya terlalu berlebihan sehingga sepertinya gerakannya jadi terganggu. Lalu, mungkin juga dia tidak biasa dikerumuni banyak orang. Selain itu tinggi tubuhnya yang tidak lebih dari perut bagian atasku juga membuatnya sering hilang dari pandangan seseorang. Mungkin gara-gara itu dia jadi terbiasa.
"Jangan membiasakan diri dengan hal semacam itu! pegang tanganku."
Aku mengulurkan tanganku padanya, tapi dia tidak mau berkooperasi dan hanya diam saja. Karena tindakan penghabis kesabarannya itu aku memutuskan untuk maju duluan dan meremas telapak tangannya sebelum menariknya menuju pintu keluar.
Di luar, mobil panjang yang tadi mengantarku sudah bersiap menunggu kami naik.
Sebelumnya dia bilang ingin mengajaku ke sebuah tempat privat. Jadi tentu saja aku berpikir kalau kami akan mendatangi sebuah tempat di mana kami bisa bicara hanya berdua saja tanpa ada yang mengganggu.
Tapi.
"Kenapa kita pergi ke family restaurant?"
"Kenapa? tentu saja untuk sarapan."
Maaf karena sudah jadi bodoh, semua orang yang pergi ke restaurant tentu saja ingin makan atau menumpang koneksi wi-fi gratis. Hanya saja restaruant murah untuk kelas bawah semacam ini sama sekali tidak cocok dengan image Hanabi.
"Kukira kau lebih suka tempat yang ekslusif."
"Apa yang kau bilang? jangan rendahkan tempat ini! tempat ini juga adalah restaurant ekslusif di mana ada sebuah menu yang hanya ada di tempat ini dan tidak ada di tempat lain."
Seorang pelayan mendatangi kami berdua, kemudian Hanabi dengan bahagianya memesan sebuah menu yang namanya sangat panjang. Yang kuingat hanya kata special di bagian paling belakangnya. Sedangkan aku sendiri hanya memesan minuman sebab aku hanya membawa uang yang cukup untuk aku kembali pulang.
Hanabi tidak memintaku untuk ikut makan, dengan begitu aku harus berasumsi kalau misalkan aku juga memesan sarapan ada kemungkinan besar jika dia tidak akan membayarkan tagihanku. Di dalam situasi ini, aku harus selalu waspada dengan worst case scenario.
Lagipula meskipun dia memang berniat mentraktirkupun, dibayari anak kecil makan juga tidak kelihatan keren.
Beberapa menit kemudian, pesanan Hanabi datang dan dengan muka bahagia dia langsung menyerang menu spesial pesanannya.
"Jadi makanan seperti ini? yang kau bilang menu spesial Hanabi?"
"Apa maksudmu dengan 'makanan seperti ini'? menu ini hanya bisa dipesan oleh orang-orang tertentu selain itu di restaurant mahal manapun aku tidak pernah menemukan menu yang sama."
Tentu saja menu yang dia pesan tidak bisa ditemukan di restaurant mahal manapun, sebab memang yang menyediakan menu semacam itu hanya family restauran semacam ini. Lalu alasan kenapa tidak semua orang bisa memesannya adalah menu itu dibuat khusus untuk anak-anak.
Dengan kata lain, makanan yang sedang Hanabi santap adalah makanan khusus untuk anak kecil di mana penampilan jadi daya tarik utamanya. Sayurannya dipotong menyerupai bentuk banyak benda dan hewan, saus dan kecapnya digunakan untuk menggambar sebagian besar permukaan makanannya, kemudian di bagian tengahnya ada sebuah bendera. Intinya makanannya penuh warna mencolok serta mainan yang bisa dimakan.
Dia selalu mencoba bertingkah seperti tuan putri sombong yang senang melihat rendah pada orang lain, tapi sebenarnya dia hanyalah anak kecil. Benar-benar anak kecil. Anak kecil yang lucu.
Gawat. Aku benar-benar ingin segera memberinya kalung dan tali.
"Kau bilang ingin berbicara secara privat kan? kenapa kau mengajaku ke tempat semacam ini?"
"Jika tidak ditemani orang dewasa aku tidak boleh meme. . . makan sambil bicara itu tidak baik! tunggu aku sampai selesai."
Isi pikirannya keluar.
Sebab aku tidak punya pilihan lain, aku menunggunya sampai selesai makan. Dan sama seperti kakaknya, ketika makan dia juga jadi lupa diri dan tidak ingat kalau image tuan putrinya sudah hancur lebur.
Dan belum cukup sampai di situ, dia bahkan tidak mengelap mulut dan wajahnya sebelum kembali menghadap padaku. Karena itulah selain bibirnya masih terlihat mengkilap karena minyak, di pipinya juga ada beberapa butir nasi yang menempel.
"Kau ini seorang tuan putri dari keluarga konglomerat kan? bertingkahlah sedikit lebih baik."
Aku ingin bilang agar dia meniru kakaknya, tapi setelah dipikir lebih jauh kakaknya sama sekali bukan contoh yang baik. Kecuali penampilan di muka umunya, kurasa tidak ada hal baik lain yang bisa dicontoh Hanabi. Aku benar-benar berharap kalau Hanabi tidak jadi orang tidak berguna seperti Hinata.
"Dekatkan wajahmu."
"Ha?"
"Menurut saja."
Hanabi sering bicara sombong di depanku, tapi kurasa semua itu hanya ekting sebab dia juga sering berbicara sopan dan dengan jujur meminta maaf padaku. Jadi kurasa sebenarnya dia adalah anak kecil penurut yang mencoba meniru tingkah laku kakak perempuannya.
Kemarin, Hanabi sempat terpancing omongan Hinata dan memutuskan untuk ikut tinggal di tempat sempitku. Tapi setelah kuberikan penjelasan panjang lebar, akhirnya dia mau menuruti permintaanku dan pulang bersama para bodyguardnya.
"Begini cukup kan?"
Hanabi berdiri lalu sedikit maju dan menempelkan perutnya ke meja, setelah itu dia sedikit menurunkan badannya supaya wajah lucunya bisa lebih dekat padaku.
"Kurasa kau sudah berada pada umur di mana kau perlu lebih memperhatikan penampilanmu. . ."
Gadis kecil ini benar-benar punya wajah yang imut, jika sudah dewasa aku yakin kalau dia akan jadi sangat cantik.
Aku mengambil dua butir nasi yang menempel di pipinya kemudian menelannya. Dan sebab tempat ini harus mengakomodasi anak kecil, di setiap meja ada satu kantong tisu basah yang disediakan pihak restaurant. Aku mengambil beberapa lembarnya lalu kugunakan untuk mengelap bibir serta area sekitar mulutnya.
"Sudah selesai."
Dia hanya diam di tempat.
"Aku bilang sudah selesai, kau sudah bisa duduk lagi."
"Ah iya. . . "
Dia kembali duduk, tapi kali ini pandangannya tidak dia tujukan kepadaku melainkan ke bawah. Setelah itu, dengan masih menunduk di bilang terima kasih padaku menggunakan suara kecil.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan sampai kau mengirim sms ancaman padaku?"
"Sms ancaman? kurasa sms yang kutulis padamu penuh dengan rasa hormat."
Normalnya di situasi seperti ini apa yang dia katakan bisa dianggap candaan ataupun kalimat sarkasme, tapi dari wajah bingungnya aku bisa merasakan kalau dia baru bilang hal yang sebenarnya. Kalau dia benar-benar mengira kalimat ancaman itu sebagai bentuk rasa hormat, sepertinya gadis kecil ini sudah tidak bisa ditolong.
"Mari kita kembali ke topik sebelumnya, aku ingin mendengarkan apa yang ingin kau katakan."
Hanabi menegakan posisi duduknya, setelah itu dia menatapku langsung ke mata.
"Aku mohon agar kau mau menjadikanku sebagai milikmu!."
Kumohon jangan ada yang bicara apa-apa padaku, sebab sekarang aku sedang mencoba menahan diri untuk tidak segera lari dan meninggalkan tempat ini.
Anak kecil yang makan di sekitarku masih bermain tanpa memperdulikan suasana, tapi ibu mereka melihatku dengan tatapan seakan aku ini kriminal dan ayah mereka melihatku sambil geleng-geleng kepala layaknya melihat anak kecil yang nakalnya sudah keterlaluan. Lalu yang terakhir, tiba-tiba semua pelayan langsung merubah arah perjalanannya dan menghindariku dengan terang-terangan.
"Aku ini adalah orang yang sangat pengertian, karena itulah aku akan memberimu kesempatan untuk mengoreksi perkataanmu tadi."
"Tidak ada yang salah dengan kata-kataku! aku benar-benar bersedia menyerahkan diriku padamu sepenuh hati!."
Aku bisa mendengarnya dengan jelas, tapi untuk suatu alasan aku menolak percaya kalau apa yang kudengar benar-benar apa yang dia maksud. Aku bahkan tidak yakin kalau dia paham dengan apa yang baru saja dikatakannya.
"Apa kau serius Hanabi?"
Hanabi melihatku dengan mata penuh determinasi tak tergoyahkan.
"Aku sangat serius! aku berjanji akan selalu menuruti semua keinginanmu dan tidak menjadi beban."
"Lalu syaratnya?."
Dia kembali melihatku, tapi kali ini dia melihatku dengan ekspresi terkejut.
"Aku sudah bilang kalau aku orang yang pengertian kan? jadi apa yang kau inginkan dariku sebagai gantinya?."
"Aku ingin kau mengembalikan kakakku dan menukar posisinya denganku."
2
Kabar tentang Hinata yang hampir diculik oleh seseorang secara misterius bisa sampai di telinga Hanabi. Dan alasan kedatangannya beberapa minggu yang lalu sebenarnya adalah karena dia khawatir pada keadaan kakaknya. Selain itu dia juga merasa bersalah dan ingin minta maaf.
Meski pada akhirnya semua rencananya jadi berubah derastis begitu sampai di tempatku.
Tapi masalah yang gadis itu hadapi ternyata jauh lebih dalam dari apa yang kupikirkan. Berdasarkan informasi yang kudapat dari Hanabi. Di dalam keluarga Hyuga sedang ada konflik berlatar belakang masalah finansial.
Konfliknya sendiri tidak terjadi antara ketiga bersaudara yang jadi calon pewaris harta, melainkan supporter yang berada di belakang Hanabi, Hinata, dan kakak tertua mereka.
"Dan di antara kami bertiga kak Hinatalah yang punya paling banyak supporter, meski dia sendiri sama sekali tidak sadar."
Bisa kubayangkan. Meski gadis itu selalu bicara tentang kebenaran tapi sebenarnya dia hanyalah orang idiot. Sebab cuma orang idiot saja yang mau membuang kehidupan serba terpenuhinya dan berubah jadi orang miskin hanya demi perjanjian gila yang dibuat oleh kedua kakek kami dulu.
Penampilannya yang seperti seorang tuan putri sungguhan akan membuat seseorang berpikir kalau dia adalah seorang gadis dengan intelegensi tinggi. Tapi sekali lagi kubilang, dia itu hanyalah gadis idiot yang kebetulan punya paras cantik dan kemampuan bela diri di atas rata-rata.
Dan karena keidiotannya itu, aku yakin kalau seseorang bisa dengan mudah menipunya hanya dengan modal kata-kata kebenaran.
Beberapa skenarionya bahkan sudah bisa kubayangkan sekarang.
Yang paling dasar adalah seseorang datang padanya meminta dana untuk memperbaiki sekolah-sekolah rusak tapi dana yang diberikan Hinata hanya masuk ke kantong seseorang. Kalau yang agak tersamar mungkin ada yang menyarankan membangun sebuah yayasan lalu semua biayanya di mark up dan sebagian besarnya masuk ke kantong orang-orang yang bahkan tidak melakukan apa-apa.
Itu masih yang sederhana, jika trik yang digunakan lebih rumit lagi maka aku yakin kalau Hinata tidak akan sadar kalau kena tipu besar-besaran. Gadis itu tidak mungkin bisa mengurus hartanya sendiri dan perlu orang yang benar-benar bisa dipercaya. Sayangnya mencari orang yang seperti itu sekarang itu sulit.
"Kakak tertuaku pintar jadi dia tidak mudah ditipu, kemudian dia juga sifat keras kepala sama seperti ayahnya yang juga ikut mengawasi pekerjaanya di dalam perusahaan jadi mempengaruhinya akan sangat sulit."
Dengan semua kualifikasi serta pengawasan yang dimiliki oleh kakak tertua Hyuga bersaudara, yang berada di sisinya mungkin hanyalah orang-orang loyal, punya visi sama dengannya, dan mental yang kuat. Atau mungkin juga musuh dalam selimut yang luar biasa cerdik.
Kandidat pewaris pertama sudah jelas adalah target yang sulit. Kesempatan yang dimiliki oleh para supporter hanya tinggal Hinata dan Hanabi.
"Lalu kenapa Hinata yang paling banyak supporternya? bukankah yang paling kecil lebih mudah ditipu?."
Hanabi menggembungkan pipinya lalu melihatku dengan pandangan marah. Tentu saja aku tidak merasa terintimidasi dan malah keinginanku untuk menjewer pipi tembemnya jadi bangkit.
"Maaf Hanabi, aku tidak bermaksud menghina tapi kurasa pikiran seperti itu normal."
Harusnya target paling mudah adalah Hanabi, dan aku yakin kalau sebagian besar orang akan memilih hal yang lebih mudah daripada yang sulit.
"Kau masih ingat apa yang kak Hinata katakan waktu itu kan?"
Kalau tidak salah Hinata bilang pada Hanabi kalau kalau dia punya kewajiban yang sama seperti kakaknya. Yaitu menyerahkan dirinya padaku sebab meski mereka berbeda ibu tapi Hanabi masih bagian dari keluarga Hyuga.
"Waktu itu kak Hinata bilang kalau kami berbeda ibu, tapi yang sebenarnya kami juga berbeda ayah."
Jadi?
"Dengan kata lain kau ini anak adopsi?"
Hanabi mengangguk.
"Jumlah warisan yang kuterima jauh lebih sedikit dari kedua kakakku, karena itulah aku hampir tidak punya supporter."
Aku sendiri kalau jumlah yang dia bicarakan itu besar, tapi bagi orang-orang yang biasa memegang uang miliaran harta yang akan diberikan pada Hanabi itu kecil. Oleh sebab itu tidak ada yang tertarik untuk memanfaatkannya.
"Lagipula, sebelum enam belas tahun atau sudah menikah aku tidak bisa mengambil warisanku."
Harta yang bisa Hanabi gunakan sekarang hanyalah dana untuk pendidikannya sampai ke perguruan tinggi, selain itu dana yang bisa dia ambil selama satu bulannya juga dibatasi. Bahkan akun banknya saja bukan dia sendiri yang mengatur, melainkan orang suruhan ayah angkatnya yang mengurus.
"Lalu apa hubungannya semua itu dengan situasi Hinata?"
"Ada banyak orang yang rugi kalau sampai Hinata kehilangan hak atas warisannya."
"Tapi apa menyuruhnya kembali itu baik? maksudku orang-orang yang ingin dia kembali adalah orang-orang yang ingin memanfaatkannya kan?"
Aku tidak bisa percaya kalau orang-orang itu akan memperlakukan Hinata dengan baik. Jika yang mereka perlukan hanya harta yang dimilikinya, bisa saja Hinata dibunuh atau dibuat dalam keadaan sakit sehingga dipaksa harus menyerahkan hartanya untuk diurus untuk orang lain.
"Untuk masalah itu aku yakin kau tidak perlu khawatir."
Jika pewaris secara fisik tidak bisa menerima harta yang diwariskan padanya karena suatu sebab maka harta itu akan disumbangkan ke lembaga-lembaga amal atau sosial. Dalam kasus ini mungkin yang dimaksud adalah jika Hinata mati, hilang, atau seperti sekarang berpindah catatan begini tidak mungkin ada yang berani membunuh Hinata.
Jika pewaris mengalami sakit kronis yang membuatnya tidak bisa melakukan tugas mengatur aset dan hartanya, maka semua harta yang diwariskan akan digunakan untuk pemulihan pewaris. Dengan begini harta yang dimiliki oleh pewaris tidak akan bisa dimanfaatkan oleh orang-orang disekitarnya.
Jika pewaris merasa tidak sanggup mengurus hartanya dan memutuskan untuk tidak menerima warisannya maka harta warisan harus diuangkan dan disumbangkan ke lembaga yang sudah ditunjuk oleh kepala keluarga saat itu. Dengan begini di antara tiga supporter tidak ada yang akan menerima keuntungan dari hilangnya satu pewaris.
"Ayah angkatmu benar-benar sesuatu."
Berarti apa yang dikatakan Hanabi di rumahku tentang dia yang jadi pewaris harta keluarga setelah Hinata pergi, ingin menjadikanya pelayannya adalah kebohongan.
Ayah angkat Hanabi sepertinya adalah orang yang sangat otoriter. Bahkan warisan yang diberikan pada anaknya tidak bisa digunakan secara bebas oleh yang menerima. Kemudian, pilihan yang dia berikan juga selalu saja antara mendapatkan semuanya atau tidak mendapatkan apa-apa sama sekali.
Tapi meski begitu dia selalu ingat untuk melindungi anak-anaknya dari hartanya sendiri. Dia memastikan bagaimanapun keadaanya, dapat atau tidak dapat warisan anaknya akan berada di posisi yang paling aman. Untuk melakukan semua itu dia bahkan tidak perduli jika uanganya akan hilang begitu saja.
Dia memastikan jika anak yang dia tunjuk untuk menerima hartanya tidak mendapatkan haknya, maka tidak ada orang lain yang bisa menyentuh hak itu.
"Kemudian posisiku di keluargaku tidaklah terlalu penting, jadi ada atau tidaknya aku di sana sama sekali tidak ada bedanya."
"Jadi apa kau mau kabur dan meninggalkan kakakmu bersama para srigala itu?."
Hanabi kembali melihatku dengan tatapan marah, tapi kali ini aku merasa sedikit terintimidasi. Dia mengepalkan tangannya dengan keras sambil terus melihatku. Kali ini dia benar-benar marah dari dalam hatinya.
"Tidak sepertiku yang lahir dari keluarga biasa, dia sudah dilayani seseorang sejak dia lahir, keinginannya selalu terpenuhi sejak dia bisa bicara, dan kata susah tidak ada di dalam kamusnya!"
"Lalu?"
"Aku tidak tahan melihat keadaannya sekarang! kak Hinata memang kelihatan sombong dan suka menghina serta merendahkan orang lain tapi sebenarnya kak hinata itu baik dan perduli dengan orang lain! dia hanya tidak bisa berinteraksi dengan baik! karena itulah aku merasa kalau kak Hinata tidak pantas untuk menderita."
Jika dia bukan orang baik tentu saja dia tidak akan kabur dari rumah karena kalah argumentasi tentang kebenaran denganku waktu.
Akan kuakui kalau kehidupannya denganku sama sekali tidak bisa dibilang menyenangkan walau dilihat dari sudut pandangan manapun. Satu-satunya pakaian yang cocok dengannya hanyalah seragam sekolahnya, makanan paling enak yang bisa kubelikan untuknya hanyalah pizza dan itupun hanya sebulan sekali, kemudian dia juga sering sering kelaparan karena aku tidak lagi punya uang. Kemudian yang terakhir, dia harus menuruti banyak keinginanku tanpa bayaran sepeserpun.
Dia memang membuat hidupku jadi susah, tapi aku juga membuatnya kehidupannya jadi sulit. Aku menyadari hal itu, dan kalau aku mengingat-ingatnya aku juga jadi merasa bersalah.
"Jika dia kembali ke keluarganya setidaknya dia tidak perlu kesusahan, dan bebanmu juga pasti berkurang."
Aku berdiri sebentar lalu melemaskan otot-otot di punggungku, setelah itu aku duduk dengan posisi yang lebih santai dari sebelumnya.
"Lagipula tidak seperti kakakku aku lahir dan dibesarkan di dalam keluarga biasa, karena itulah aku bisa melakukan semua pekerjaan rumah dengan baik! memasak, mencuci, bersih rumah semuanya bisa kulakukan untukmu!."
"Tolong jangan keras-keras Hanabi, kau membuatku jadi bahan perhatian."
Entah mengapa aku tiba-tiba merasa jadi makelar pekerja di bawah umur.
"Selain itu aku juga tidak akan merepotkanmu dengan biaya sekolahku! biaya pendidikanku bukan termasuk warisanku jadi aku bisa mengambilnya sesukaku setelah aku kehilangan statusku sebagai anak keluarga Hyuga! kalau kau butuh uang aku bisa memberimu uang dari tabunganku! dan jika masih belum cukup aku akan berhenti bersekolah dan bekerja untukmu!."
"Sudah kubilang jangan keras-keras! aku paham apa yang ingin kau sampaikan jadi duduklah dan minum jus di depanmu untuk mendinginkan kepala."
Hanabi kembali duduk, dan tanpa diduga dia menurut lalu meminum jus jeruknya.
"Huuuuhhhh. . . . . ."
Aku menarik nafas panjang dan melihat ke arahnya.
"Aku tidak keberatan menerima tawaranmu, tapi jika kau ingin dia kembali kau sendirilah yang membujuk Hinata."
Jujur saja tawaran ini kedengarannya sangat menggiurkan. Meski aku berharap kalau keduanya tetap berada di keluarganya dan tidak ada yang numpang tinggal di rumahku, tapi mendapatkan Hanabi untuk ditukar dengan Hanabi juga tidak buruk. Selain aku bisa membuat gadis itu kembali ke tempatnya yang lebih cocok aku juga bisa mendapatkan gadis kecil imut yang seperti kucing peliharaan ini sebagai gantinya.
Dia punya tubuh kecil yang tidak memakan tempat, dan dari penampilannya aku juga yakin kalau dia tidak perlu diberi makan banyak seperti kakaknya. Kemudian dia tidak perlu kubiayai sekolahnya sebab dia sudah punya uang sendiri. Lalu yang terakhir dia punya skill untuk benar-benar membantu kehidupanku.
Tentu saja aku tidak akan tega menyuruhnya berhenti sekolah dan mendedikasikan kehidupannya untuku seperti budak. Tapi bisa sarapan makanan hangat di pagi hari, pulang dengan disambut tempat yang bersih dan rapi, lalu tidak perlu capek-capek mencuci saat hari libur kedengaran sangat menyenangkan. Selain itu, jika ada yang tanya tentang hubunganku dengan Hanabi aku tidak akan kebingungan seperti saat dengan Hinata,
Jika aku bilang kalau Hinata adalah adiku tidak ada yang mau percaya sebab kami tidak mirip, jika aku bilang kalau dia temanku mereka akan bertanya-tanya kenapa aku membiarkannya tinggal di rumahku. Jika aku bilang kalau Hinata adalah pacarku, Hinata akan meng K.O ku dengan pedang bambunya tanpa pikir panjang.
Sedangkan jika aku bersama Hanabi, aku bisa dengan santainya bilang kalau Hanabi adalah adik perempuanku dan semua orang akan diam.
"Kau masih ingat seberapa keras kepalanya Hinata kan? jika membuatnya kembali ke keluarganya semudah itu aku sudah bisa mengusirnya sejak hari pertama dia datang ke tempatku."
"Itu. . ."
Sepertinya Hanabi juga sadar akan seberapa keras kepala milik kakaknya itu, apalagi kalau sudah berbicara tentang kebenaran. Dari awal aku juga tidak ingin dia pindah ke tempatku lalu membuang statusnya sebagai anak orang kaya, tapi dia ngotot ingin tinggal karena dia harus menjalankan tugasnya sebagai seorang putri keluarga Hyuga.
"Untuk sementara kita pulang dulu saja, kau sudah selesai sarapannya kan? aku akan membujuknya untuk pula dan kau juga harus ikut membujuknya! kirim sms atau telpon dia dan bilang kalau pulang adalah kebenaran! dengan begitu aku rasa dia akan mau pulang."
Aku berjalan menuju tempat duduk Hanabi lalu memegang tangan kanannya untuk membantunya berdiri, setelah itu kami berdua berjalan menuju kasir untuk membayar menu spesialnya serta minumanku.
Dan di saat itu.
"Kenapa di sini tidak ada orang selain kita berdua?"
Hanabi melihat ke kanan dan kirinya lalu mendapati kalau sekarang di sekitar kami hanya ada tempat kosong.
"Aku juga tidak melihat ada yang keluar."
Ini aneh, jika semua orang keluar dengan cara normal pasti kami bisa melihat pergerakan mereka meskipun jika untuk suatu alasan kami dijadikan target acara reality show. Dan jika semua orang dikeluarkan dari gedung ini dengan menggunakan magic atau yang sejenisnya pasti aku bisa menyadarinya. Selama magic yang digunakan tidak sangat kecil sampai tidak terasa.
"Hanabi tampaar aku!."
"Kenapa?"
"Untuk membangunkanku!."
"Apa maksudmu!? aku tidak paham."
"Tampar saja aku! tolong jangan banyak tanya!."
"A-aku tidak bisa menamparmu tanpa alasan."
"Kalau begitu akan kuberi kau alasan."
Kalau dia marah dia bisa menamparku kan? kalau begitu aku akan membuatnya marah.
"Hanabi!."
Aku memanggil namanya dengan suara keras yang harusnya kedengaran tegas, setelah itu aku memegang kedua pundaknya dengan keras.
"I-iya."
Dia melihatku dengan tatapan grogi, tapi aku tidak memperdulikannya dan langsung maju. Lalu sebab tubuhnya yang pendek aku terpaksa harus menyamakan tinggiku dengan berdiri di atas kedua lututku. Setelah aku tepat di depannya, aku menurunkan kedua tanganku lalu kumasukan di antara lengan dan badannya.
"Eh?"
Aku memeluknya dengan erat. Dan begitu aku bisa melilit seluruh tubuhnya untuk kutekan ke tubuhku sendiri aku mulai lupa dengan tujuan awalku untuk memeluknya. Awalnya aku hanya ingin membuatnya marah dengan memeluknya tanpa ijin, tapi sekarang aku benar-benar ingin terus memeluknya karena merasakan kenyamanan.
Tubuhnya yang kecil memudahkanku untuk bisa menguasainya, ukuran lingkar tubuhnya benar-benar pas dengan tanganku seakan dia memang dibuat untuk kunikmati pelukannya.
Tapi meski dari tadi aku bilang kalau dia ini kecil, kecil yang kumaksud bukanlah kurus. Tubuhnya berkembang dengan dan berisi di setiap bagian yang memerlukannya. Dan karena hal itu tubuhnya jadi terasa sangat lembut. Bahkan jutaan kali lebih lembut dan nyaman untuk dipeluk dari bantal gulingku yang baru saja dijemur.
Lalu yang terakhir tubuhnya terasa benar-benar hangat serta badannya beraroma wangi dan segar.
"Hanabi."
Pada awalnya tubuhnya terasa sangat tegang dan kedua telapak tangannya dia gunakan untuk memegang kedua lengan bagian atasku seakan ingin menolaku dan melepaskan diri. Tapi lama kelamaan ketegangan tubuhnya mulai turun dan turun.
Ketika tubuhnya sudah lemas dia membiarkanku membawa tubuhnya untuk menempel padaku dan memasrahkan dirinya. Bahkan dia mulai balas melingkarkan tangannya kecilnya ke punggungku.
"Un?"
"Kenapa kau balas memeluku? di saat seperti ini bukankah normalnya seseorang akan marah dan menamparku?"
Dan memang itulah tujuan awalku memeluknya. Membuatnya marah dan menamparku.
"Kenapa aku harus marah? bu-bukankah pelukan itu tanda kasih sayang? jika kau menunjukan sayangmu padaku tentu saja aku juga harus menghormati dan menerimanya."
Dunia tidak sesimple itu Hanabi!. Kau tidak boleh sembarangan mau saja dipeluk oleh seseorang yang bahkan baru kau temui kemarin!. Di dunia ini banyak orang mesum yang tergila-gila pada gadis kecil manis sepertimu Hanabi. Jadi cobalah sedikit lebih waspada!.
"La-lagipula kita kan saudara."
"Sejak kapan? sekarang kau masih anak keluarga Hyuga jadi kita berdua ini orang asing yang saling kenal."
"Tapi bukankah sebentar lagi aku akan jadi adikmu, ke-kemudian saat aku sudah cukup umur bu-bukankah kau akan meni-menikahiku."
"Kalau begitu aku akan menciummu!."
Mata Hanabi membelak lebar, dari wajahnya saja sudah kelihatan dengan jelas kalau dia itu kaget. Tapi meski begitu reaksinya hanya berakhir sampai di situ, dia tidak kelihatan marah.
"Ka-kalau kau menginginkannya maka. . ."
Dia menutup matanya erat-erat lalu mengarahkan wajahnya padaku.
"Aahhhh kenapa tidak ada kemajuan!? buka matamu Hanabi!."
Keinginanku untuk membuatnya marah dan menamparku sebenarnya adalah agar aku bisa menghemat waktu dan segera bisa bangun. Tapi berhubung gadis kecil ini sangat susah diajak bekerjasama malahan waktu yang terbuang jadi semakin banyak. Karena itulah sekarang aku harus menggunakan cara lain.
"Dengarkan aku Hanabi! kau mungkin tidak bisa percaya dengan apa yang akan kukatakan! tapi aku sama sekali tidak bohong! karena itulah aku tetap akan memintamu percaya padaku."
Hilangnya semua orang dari sekitar kami dalam sekejap hanya bisa dilakukan dengan magic, dan jika ada magic yang terlibat aku pasti bisa merasakannya selama aku sadar. Tapi sedari tadi aku tidak merasakan adanya magic. Yang berarti hilangnya semua orang bukan karena magic.
Dan satu-satunya tempat di mana hal-hal aneh bisa terjadi layaknya sesuatu yang normal hanya ada satu.
"Jadi kau mau bilang kalau kita berdua sedang bermimpi?"
"Ya, dan karena itulah aku ingin kau segera membangunkanku."
"Tapi kita berdua baru saja ngobrol panjang lebar? bagaimana kita bisa bertemu di dalam mimpi?."
"Karena kita tidur dan bermimpi tidak secara normal."
Kami tertidur dan bermimpi karena pengaruh magic, dan selama aku tidur sensitifitasku terhadap magic akan turun derastis. Apalagi kalau magic yang digunakan adalah magic tidak berbahaya, asalkan seseorang tidak menggunakan magic dengan niat membunuhku aku tidak akan bisa tahu.
Dengan kata lain, jika seseorang menodongku dengan pistol biasa saat aku tidur maka aku akan tamat.
"Aku sulit mempercayainya."
"Aku tahu itu! tapi aku sudah bilang kan kalau kau harus percaya padaku? karena itulah percaya saja dan tampar aku sekeras yang kau bisa!."
"Aku tetap tidak bisa!."
"Nyawa kita mungkin sedang dalam bahaya!."
"Aku tidak bisa! dan kenapa kau tidak menampar dirimu sendiri saja?"
Kalau menampar diriku sendiri bisa menyelesaikan masalah aku sudah melakukannya dari tadi. Di dalam mimpi seseorang tidak membangkunkan dirinya sendiri, harus ada faktor eksternal yang mempengaruhi si orang yang sedang tidur.
Dan faktor eksternal itu bisa seseorang membangunkan secara fisik dari luar, atau si orang yang tidur mengalami hal yang ekstrim sampai pikiran sadarnya tergerak dan bangun sendiri. Yang jelas menampar diriku sendiri tidak akan cukup untuk membangunkanku.
Jika ada kendaraan yang bergerak atau gedung tinggi, aku bisa membangunkan diriku sendiri dengan menabrakan diri pada mobil atau menjatuhkan diri dari gedung bertingkat. Tapi aku tidak punya waktu dan tidak tahu tempat seperti itu ada di mana, karena itulah aku ingin Hanabi menamparku dengan keras atau kalau bisa memukulku seakan dia ingin membunuhku.
"Ayolah! aku tidak mungkin tega menampar atau melakukan tindakan menyakitkan padamu karena itulah buat aku bangun lalu kau akan kubangunkan dari luar."
"Tapi semua ini terlalu mendadak."
"Kau ini!. . . . kau tidak memberiku pilihan lain."
Aku memegang bagian bawah pakaiannya, setelah itu aku menariknya ke atas dengan kuat.
"Aapapapapapa yang kau lakukan?"
"Memangnya kau tidak lihat? aku sedang berusaha mengintip celana dalamu!."
Hanabi berusaha menahan bagian bawa gaunnya menggunakan kedua tangannya, tapi halangan sekelas itu sama sekali tidak bisa menglangiku. Aku bisa dengan mudah menangkap kedua tangannya bahkan hanya menggunakan satu tanganku saja.
Setelah itu aku mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi supaya tidak bisa mengalangiku yang sedang menyingkap gaunnya.
"Tunggu dulu, berhubung ini di dunia mimpi bukankah itu berarti aku bisa melakukan apapun yang kumau padamu tanpa benar-benar menyentuh tubumu yang sebenarnya? baiklah! kalau begitu aku akan puas hanya dengan melihat celana dalamu saja!."
Ketika aku hampir mengangkat gaunnya sampai ke pangkal pahanya, tiba-tiba Hanabi Mengangkat kaki kanannya ke belakang. Setelah itu dia meneriakan sesuatu sebelum akhirnya menendang wajahku dengan sangat kuat.
3
"Hhuuuaaaaahhhh."
Seakan baru bangun dari mimpi buruk, aku langsung menarik nafas panjang yang dalam.
"Berhasil! aku berhasil bangun."
Aku segera melihat ke sekitarku untuk memeriksa keadaan.
"Bagus sepertinya semuanya aman, kurasa tidak ada orang lain di sini."
Aku sedang berada di sebuah ruang tamu mewah, dan dari furniturenya yang kelihatan mahal aku yakin kalau ruangan ini bukanlah tempat milik orang biasa. Dan satu-satunya kenalanku yang mungkin bisa memiliki semua ini hanya ada satu yaitu Hanabi.
"Oh iya, Hanabi."
"Hiks."
Tunggu dulu, kenapa aku berada di sofa dengan posisi seperti orang merangkak seperti ini? dan satu lagi kenapa ada suara tangisan kecil dari arah di bawahku?
"Tolong jangan bilang. . . . ."
"Hiks. . .uuu. . hiks.. .ak-aku. . sudah. . . hiks tidak . . hiks bisa menikah. . .hiks uaaaaaaa. . "
Di bawahku, Hanabi sedang terbaring dan mengis sambil bilang kalau dia tidak lagi bisa menikah. Sedangkan aku yang berada di atasnya sedang dalam posisi menghimpit kedua pahanya dengan tangan kiriku menekan kuat lengan kanan Hanabi dan tangan kananku berada di atas pinggulnya yang tidak tertutup apa-apa sebab celana piyamanya yang sudah turun sebelah.
"Memangnya apa yang sudah kulakukan sampai kau tidak bisa menikah lagi?"
"Uaaaaaaaaaa. . . . ."
Hanabi menangis jauh lebih keras lagi sedangkan aku buru-buru melompat dari sofa. Untunglah posisi tidurnya miring dan celana piyamanya hanya sebelah yang sedikit turun, jika tidak aku akan bisa melihat lebih dari sekedar pinggulnya yang mulus seperti bayi.
"Tenang dulu Hanabi, yang kukatan di dalam mimpi semuanya hanya ekting dan aku bahkan belum melihat apa-apa sebab kau sudah menendangku duluan."
"Uaaaaaaaaaa…"
"Ok! aku yang salah! aku akan bertanggung jawab."
"Hiks. . . . . ."
Bagus, tangisannya mulai sedikit turun intensitasnya.
"Kalau aku masih hidup sampai kau sudah dewasa, dan jika saat itu kau menyukaiku aku akan menikah denganmu."
"Hiks. . . benarkah?"
"Um."
Aku mengangguk.
Beberapa menit setelah itu, kami berduapun bisa agak sedikit lebih tenang.
Untuk mencegah kami terkena efek magic yang sama, aku mencari sumber penyebab kami berdua bisa tertidur dan bertemu di dalam mimpi. Dan tidak lama, kami menemukan sebuah relic berbentuk lilin aroma terapi. Aku mematikan apinya dan kumasukan ke dalam kantong plastik untuk kubawa pulang nantinya.
Jika benda ini digunakan oleh orang yang tidak tahu apa-apa mungkin akan berbahaya. Karena itulah aku memutuskan untuk menyimpannya.
Hanabi menyiapkan minuman untuku, kemudian begitu aku meminumnya sebanyak beberapa teguk. Dia langsung bersujud di lantai.
"Maafkan aku! karena aku tidak percaya padamu kau jadi dalam bahaya dan maafkan aku juga karena sudah membuat suasana jadi panik."
Sepertinya dia sadar kalau ketidakmauannya menamparku punya potensi membuat kami berdua dalam bahaya.
"Karena itu janjimu juga aku anggap tidak sah."
"Uhhh. . . untunglah kau pengertian, aku bahkan sudah takut kalau nanti aku tidak bisa menepati janji itu."
"Aku tidak butuh janji seperti itu, sebab masa depanku sudah diatur! saat ini sampai lulus SMU aku akan jadi adikmu setelah aku kuliah aku akan keluar dari keluargamu lalu kembali masuk ke keluargamu dengan menikah dengamu!"
"Rencana masa depan macam apa itu!?."
Tapi sudahlah, yang jelas dia tidak akan menagih janjiku tadi.
"Tapi aku ingin menanyakan sesuatu, bagaimana kau bisa bangun sendiri?"
Rencananya adalah dia menamparku lalu membuatku bangun, setelah itu aku yang sudah bangun akan membangunkannya. Tapi begitu aku bangun dia juga bangun yang artinya dia sudah bangun sendiri.
"Kau bilang sendiri kan kalau seseorang bisa bangun setelah mendapat pengalaman ekstrim di dalam mimpi?"
"Tapi bukankah aku cuma mau mengintip celana dalamu?"
Ok, akan kuakui kalau aku sudah mengatakan banyak hal yang bisa membuatnya trauma. Tapi semua itu bisa kukatakan sebab kami berdua di dalam mimpi. Selain itu aku juga tidak benar-benar mengapa-apakanya jadi kurasa pengalamannya tidaklah seekstrim itu.
"Sebenarnya ketika mau tidur aku tidak pakai celana dalam, dan di dalam mimpi aku juga tidak mengenakannya."
"Ayolah Hanabi? aku memang bertanya padamu tapi bukan berarti kau harus menjawab dengan sejujur itu! jika kau bilang kalau informasi itu rahasia aku juga tidak akan melanjutkan pertanyaanku."
Gara-gara infomu itu sekarang mataku jadi susah kukendalikan dan maunya melihat ke bagian bawah piyama pinkmu itu.
"Sekarang mari kita ganti topik dan kau cepatlah ganti baju."
Hanabi masuk ke kamarnya dan keluar dengan mengenakan pakaian santai yang belum pernah kulihat sebelumnya. Aku tidak tahu masalah fashion, tapi kemeja putih yang dia tutup dengan jaket biru tipis dan juga celana semi jeans sepahanya kelihatan lebih cocok di badannya daripada pakaian serba WAH yang kemarin maupun yang ada di mimpiku.
Pakaian gelamornya yang biasa menurutku sama sekali tidak cocok dengan aura imut kelas kucing peliharaan yang dia pancarkan. Dia tetap cantik tapi senjata utamanya tidak bisa dia gunakan saat menggunakan gaun mewahnya.
"Naruto?"
"Maaf, aku sedang terpesona melihatmu."
Jika yang dihadapanku ini Hinata tentu aku tidak akan mengatakannya dengan terang-terangan seperti tadi. Aku bisa mengutarakan isi pikiranku tadi dengan mudah adalah karena dia masih kecil, dan memuji anak kecil entah apapun yang dipuji akan selalu kelihatan normal.
"Jadi apa yang mau kita bicarakan? aku sudah membicarakan semuanya di dalam mimpi jadi aku sudah tidak punya hal lain untuk kuberitahukan padamu."
Kukira Hanabi akan duduk di sofa di depanku, tapi dugaanku salah dan dia duduk di sampingku dengan jarak yang sangat dekat. Dan dia bahkan menempel padaku dan membuatku bisa merasakan betama lembut dan hangat badannya itu.
Naruto! kau harus fokus dan jaga jangan sampai Hanabi tahu kalau kau senang dengan keadaanmu saat ini. Siap? siap!.
"Hanabi! yang mengirim sms ini bukan kau kan?"
Aku menunjukan pada Hanabi sms yang kudapat tadi pagi. Pesan itu berisi ancaman agar aku mau pergi ke tempat yang tertulis di dalamnya.
"Benar, aku tidak pernah mengirim sms seperti itu padamu."
Saat ini ponselku tidak ada sinyalnya yang mungkin disebabkan oleh jammer, tapi sms yang sedang kutunjukan padanya sudah masuk lebih dari empat jam yang lalu. Sms yang dia kirim memang penuh dengan kata-kata yang sebenarnya tidak perlu ditulis.
"Lalu apa kau kenal nomor ini?"
Hanabi menggelengkan kepalanya, dia mencoba mencarinya di kontak ponselnya tapi tidak menemukan apapun.
"Tapi bagaimana dia mengirimiku alamat tempat yang sama dengan tempatmu mengirim mobil untuk menjemputku?"
Kalau begitu dari awal memang yang mengirim ingin aku dan Hanabi bertemu. Tapi kalau mereka hanya ingin kami bertemu tidak ada yang perlu mengirim sms semacam itu padaku.
"Tunggu dulu Hanabi, apa kau sudah lama tinggal di tempat ini?"
Gadis kecil ini tinggal sendirian di tempat sebesar ini tanpa ditemani orang dewasa adalah sama sekali bukan sesuatu yang normal. Setidaknya dengan menggunakan standartku.
"Aku baru pindah ke sini seminggu yang lalu.
Berarti dia belum familiar dengan tempat tinggalnya sendiri.
"Apa kau hafal jalan ke sini?"
"Ummm? tidak, aku biasanya duduk di belakang dan perjalanku selalu diantar supir jadi aku tidak hafal jalan."
"Apa kau hafal dengan orang-orang yang biasa mengantarmu ke sini?"
"Tidak juga, mereka agak seram jadi aku tidak pernah bicara dengan mereka kamudian mereka juga sering melakukan rotasi jadi aku tidak bisa menghafal wajah mereka."
Jadi jika suatu hari tiba-tiba orang-orang itu ditukar dengan orang lain dan kami berdua di bawa ke tempat lain yang mirip dengan tempat tinggal Hanabi tidak akan ada yang tahu kalau sebenarnya kami sekarang berada di tempat yang benar-benar lain.
"Semoga aku hanya paranoid saja, tapi kalau ada tanda khusus tersembunyi di tempat tinggalmu aku ingin kau mencarinya."
Hanabi mengajak Naruto untuk masuk ke dapur. Di sana Hanabi sedang mencari bagian tumpul dari bagian bawah tempatnya mencuci piring. Saat pindahan petugas yang membawa kulkas ke dapur menabrakan barang bawaanya ke tempat itu dan menyebabkan ada bagian yang rusak.
Dan ketika Hanabi melihat ke bagian itu lagi tidak ada bekas tabrakan apapun, keramik yang menutupinya masih mulus dan coatingnya bahkan masih kelihatan mengkilap.
Hanabi melihat ke arah Naruto.
"Aku tidak tahu kita ada di mana, tapi yang jelas kita tidak sedang berada di rumahmu."
"Bagaimana ini Naruto?"
"Aku belum tahu dan aku sedang berpikir, tapi untuk sekarang janganlah panik dan buatkan aku sarapan."
Jika ini bukanlah rumah Hanabi yang sebenarnya, ada kemungkinan kalau ada banyak kamera yang dipasang untuk memonitor pergerakan kami. Dan jika kami memang benar-benar diawasi, harusnya siapapun yang mengawasi kami sudah tahu kalau kami berdua sadar dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Aku rasa mereka mencoba hati-hati, jadi selama mereka diam kita juga setidaknya harus kelihatan diam."
Alasan mereka tidak mereka mengurung kami berdua dengan cara yang sangat bertele-tele dan merepotkan seperti sekarang mungkin adalah menjaga Hanabi tidak curiga atau mencegahnya melihat sesuatu yang menarik perhatian. Selama ada Hanabi harusnya tidak akan ada yang bertindak gegabah dan menunjukan diri di depan kami berdua.
Tindakan mereka yang membiarkan kami meski sudah tahu kalau tempat kami berada adalah palsu menunjukan seberapa sabarnya mereka mengatasi masalah ini.
Menculik Hanabi secara langsung adalah tindakan mudah, tapi jika Hanabi hilang tiba-tiba tentu saja ayahnya akan langsung bertindak. Membunuhku juga adalah hal mudah, tapi jika itu sampai terjadi pasti pelakunya langsung dicari dari para supporter.
"Kurasa target mereka yang sebenarnya bukanlah kita melainkan Hinata."
Aku dan Hanabi mereka taruh di sini adalah supaya mereka bisa dengan bebas melakukan kontak dengan Hinata.
Selain itu jika Hanabi melihat tindakan kasar atau berbahaya atau hal yang bisa membuatnya panik, rencana mereka melakukan kontak dengan Hinata akan gagal sebab bisa saja gadis itu langsung lapor ke ayahnya. Dan jika dia lapor ke ayahnya sudah bisa dipastikan kalau tindakan preventif akan dilakukan dan menyebabkan mereka gagal menyingkirkan kami dari area kontak Hinata.
"Mereka akan punya masalah jika mereka membunuhku karena hubunganku dengan Hinata, dan mereka juga tidak akan mendapatkan apa-apa jika membunuhmu jadi kurasa sementara ini kita masih aman-aman saja."
Selama kami tidak melakukan tindakan ekstrim mereka juga tidak akan melakukan tindakan ekstrim. Tapi jika kami melakukan tindakan ekstrim berarti mereka juga akan melakukan tindakan yang lebih ekstrim.
"Aku akan membantumu masak, setelah kita sarapan kita akan mencari cara keluar dari sini tanpa memancing kecuirgaan."
"Kalau kita tidak bisa melakukannya?"
"Mau bagaimana lagi? ya kita pakai cara ekstrim."
4
Biasanya, pintu tempat Naruto tinggal hanya diketuk sebanyak tiga kali sebulan. Satu kali ketika dia ditagih uang sewa tempat tinggalnya, dua ketika dia didatangi petugas perusahaan listrik yang marah-marah, dan tiga adalah ketika orang dari perusahaan air membawa kunci ingris untuk mengancam Naruto yang sudah menunggak pembayaran.
Hanya saja setelah melihat kalender di ponselnya Hinata yakin kalau ketiga orang itu masih belum saatnya untuk datang.
"Nona Hinata mohon ijinkan kami untuk masuk."
Di tempat tinggalnya saat ini tentu saja tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan nona. Dari cara bicara dan suaranya, Hinata bisa merasa kalau sepertinya mereka adalah orang-orang dari keluarganya.
Hanya saja, meski mereka adalah orang-orang dari keluarganya Hinata sama sekali tidak ingin menemui mereka apalagi melayani pembicaraan mereka.
"Maafkan tapi aku tidak bisa mempersilahkan kalian masuk dan aku juga tidak bisa keluar menemui kalian, dia memerintahkanku untuk menjaga rumah dan menolak orang yang tidak berkepentingan untuk masuk atau keluar kalau tidak benar-benar perlu."
"Kalau begitu kami boleh masuk sebab kami punya kepentingan."
Hinata ingin segera mengusir mereka tapi dia tidak bisa begitu saja mengatakan apa yang dia pikirkan begitu saja. Dia sudah dilatih sejak kecil untuk menangani orang-orang seperti mereka, dan salah satu hal yang paling dia ingat tentang pelajarannya adalah jangan pernah katakan apapun secara langsung.
"Maaf, tapi kepentingan yang kumaksud adalah kepentingan dari sudut pandanganya! dengan kata lain sesuatu yang dia anggap penting jadi mohon kembali ketika tuan rumah sudah ada di rumah."
"Kebetulan sekali apa yang ingin kami bicarakan denganmu juga sedikit berhubungan dengan tuan rumahmu."
Ekspresi Hinata berubah menjadi gelap, tapi orang yang di belakang pintu tidak bisa melihatnya. Hinata tidak tahu apa yang ingin mereka bicarakan dengannya, tapi meski begitu dia tahu setidaknya sesuatu yang ingin mereka katakan bukanlah hal yang enak untuk didengar.
"Aku tidak bisa membiarkan kalian masuk tapi aku bisa mendengarkan apa yang kalian ingin bicarakan."
Hinata tidak ingin melanjutkan pembicaraan, tapi dia tidak punya pilihan jika Naruto sudah dibawa-bawa. Meski Naruto sendiri selalu menolak apa yang Hinata katakan dan tidak perduli dengan perjanjian yang mengikat dirinya dengan Hinata, tapi gadis itu benar-benar menjadikan Naruto sebagai tuannya, saudaranya, dan juga calon suaminya di masa depan.
Keadaan pemuda itu juga adalah urusan Hinata.
Orang di balik pintu menarik nafasnya dalam-dalam. Setelah itu dia berbicara.
"Tolong kembali ke keluarga Hyuga."
"Jika kalian jauh-jauh ke sini hanya ingin mengatakan hal itu, kalian benar sudah buang-buang energi!."
Orang yang berada di balik pintu tempat tinggal Naruto juga sudah tahu akan hal itu. Jika Hinata adalah gadis cengeng yang manja karena terbiasa dikelilingi kekayaan, sejak awal dia tidak akan mungkin mengajukan diri untuk menjadi jaminan hutang keluarganya yang bahkan sudah dilupakan selama lebih dari empat puluh tahun.
Jadi keras kepala, bertempramen tinggi serta sangat senang berpegangan pada apa yang namanya kebenaran sepertinya adalah penyakit turunan keluarga Hyuga yang bahkan tidak bisa dihilangkan oleh waktu.
Apa yang dikatakan oleh orang di balik pintu itu hanyalah sebuah pembukaan agar Hinata bisa dapat menangkap jelas pembicaraan.
"Aku juga sudah sadar akan hal itu, tapi permintaan ini bukan hanya keinginaku melainkan juga adikmu! dia khawatir dengan keadaanmu dan ingin kau segera kembali ke rumah! dia bahkan menawarkan dirinya untuk menggantikan posisimu."
Orang di sekitarnya sering menganggap kalau Hinata adalah seorang idiot dan nilai plusnya hanya pada penampilannya saja. Tapi meski memang anggapan tidak terlalu salah anggapan itu juga tidak sepenuhnya benar.
Nilai-nilai di sekolahnya memang tidak terlalu baik, tapi meski begitu dia mampu menilai orang dengan mudah.
"Tapi kau memintaku pulang bukan karena perduli dengan Hanabi maupun aku kan?"
Hinata sendiri bisa membayangkan bagaimana Hanabi bisa punya pikiran seperti itu dan memutuskan untuk menukar posisinya dengan dirinya. Adik tirinya itu mungkin tidak tega melihat dirinya hidup sulit lalu berpikir jika dia yang menggantikan semuanya akan jadi lebih baik sebab dia lahir dan dibesarkan orang biasa yang sehingga hal yang dia anggap sulit untuk Hinata adalah hal biasa untuk gadis kecil itu.
Tapi jelas orang di orang di balik pintu tidak menyuruh Hinata pulang karena niat baik Hanabi. Orang itu hanya meminjam nama Hanabi dan juga keinginannya untuk membuat Hinata merasa terbebani.
"Kami membutuhkanmu untuk kembali dan perjanjian kakekmu dulu juga punya tidak kekuatan untuk menghalangimu kembali, karena itulah aku menyarankan untuk menuruti keinginan adikmu, lagipula kau jauh lebih berguna di rumah daripada di sini."
Dalam perjanjian tidak tertulis kalau semua anak gadis keluarga Hyuga harus diserahkan sebagai jaminan. Itu berarti dengan menyerahkan Hanabi saja sebagai jaminan sudah cukup untuk memenuhi perjanjian.
"Tapi di dalam perjanjian itu juga tidak tertulis batas jaminan yang bisa diterima, jadi meski aku dan Hanabi masuk ke keluarga Naruto harusnya tidak ada masalah."
Hahhhh . . . . Hinata bisa mendengar helaan nafas dari balik pintu.
"Kalian memang tidak akan dapat masalah, tapi tolong segera sadar kalau dari awal semua ini bukanlah tentang kalian tapi tentang kami."
"Jujur sekali kau."
"Bohong di depanmu itu percuma, kami membutuhkan kekuatan dan kekuatan bisa dibeli dengan uang lalu kau punya banyak uang, karena itulah kami ingin kau segera pulang dan menerima warisanmu."
"Jika aku pulang bukankah kau hanya akan mengambil uangku, kurasa tidak ada orang normal yang mau punya masa depan di mana dia hanya jadi boneka."
"Kau masih tidak paham juga dengan apa yang kukatakan, kami memang butuh uang tapi yang kami inginkan bukan uang itu sendiri melainkan kekuatan! dan kaulah yang memiliki kekuatan itu karena itulah kami membutuhkanmu! dan kau tidak akan jadi boneka kami melainkan sekutu kami."
Hinata tidak bisa mencerna omongan orang di balik pintu itu, karena itulah daripada mencoba memahami apa yang orang itu pikirkan Hinata lebih memfokuskan dirinya untuk menerka apakah yang dikatakan orang itu benar atau tidak.
Dan sampai saat ini, dia masih belum menangkap sedikitpun kebohongan keluar dari mulut orang itu.
"Sekarang aku akan tanya padamu, jika kau mendapatkan warisan itu apa yang akan kau lakukan?"
Hinata tidak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Tapi berhubung dia tidak punya pengetahuan tentang bisnis dia berpikir untuk menyerahkan harta yang dimilikinya pada badan amal atau yang sejenisnya lalu menggunakan sisanya untuk dirinya sendiri.
"Apapun hal yang kau pikir baik untuk kau lakukan sama sekali tidak cukup untuk menjadikan dunia lebih baik."
Meski Hinata bisa membangun panti asuhan untuk menampung anak-anak yang sudah tidak punya orang tua lagi, tapi dengan hartanya dia tidak bisa mencegah seorang anak untuk menjadi yatim piatu. Meski Hinata bisa menyumbangkan dana untuk membangun sekolah tapi dia tidak bisa menghentikan seorang anak lahir dari keluarga miskin. Meski Hinata menyumbangkan seluruh hartanya untuk membantu orang-orang miskin dia tidak bisa mencegah seseorang untuk jadi miskin.
"Untuk mengatasi banyak masalah di dunia ini, yang diperlukan bukanlah uang melainkan kekuatan."
Tapi untuk kekuatan bisa tumbuh diperlukan uang, lalu jika uang tidak bisa bertambah maka kekuatan juga tidak akan tumbuh dan malah layu. Karena itulah rencana Hinata untuk menghabiskan kekuatannya untuk kebaikan jangka pendek sama dengan usaha yang sia-sia.
"Definisi kebenaranmu sangat sempit dan dengan meski sudah disempitkan kau tetap tidak akan bisa memenuhi meski hanya setengahnya saja, karena itulah aku ingin meminjam kekuatan itu darimu! untuk membuat kebenaran yang lebih besar bisa muncul."
Kata kebenaran benar-benar menyerang titik terlemah Hinata, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah karena dia tidak merasakan adanya kebohongan dari orang di balik pintu itu. Hinata bisa membedakan mana yang kebohongan dan mana yang kejujuran, tapi dia tidaklah bisa membaca pikiran seseorang. Apa yang dikatakan orang itu adalah kejujuran, niatnya memang benar-benar niat seorang pahlawan. Tapi bagaimana caranya mewujudkan kata-katanya masih jadi pertanyaan besar.
Untuk saat ini, impresi yang didapatkan Hinata adalah orang di balik pintu itu persis seperti Tony Stark. Dia selalu bicara tentang perdamaian tapi dia sendiri membuat mesin perang yang bisa membunuh seseorang dengan mudah.
"Dengarkan aku nona Hinata! kebenaran tidak akan pernah menang hanya karena dia adalah kebenaran! menjadi benar tidak akan membuatmu menang! yang bisa membuatmu menang adalah kekuatan! dan kau memiliki kekuatan itu! kekuatan untuk membuat kebenaran menjadi pemenang!."
Kebenaran tanpa kekuatan adalah omong kosong.
Naruto pernah mengatakan hal yang sama padanya.
"Aku tidak tahu kebenaran macam apa yang kau maksud, tapi kebenaranku adalah untuk tetap di sini bersamanya!."
Mungkin Naruto tidak menginginkan kehadirannya, mungkin kehadirannya tidak membantu dan malah menyusahkan pemuda itu. Tapi meski begitu, dia sangat yakin kalau apa yang dilakukannya adalah sebuah kebanaran. Setidaknya menurut dirinya sendiri.
"Maaf tapi apapun yang terjadi jawabanku tidak akan berubah!."
Orang di balik pintu kembali menarik nafas.
"Aku sama sekali tidak mau menggunakan cara ini, tapi mau bagaimana lagi?"
Hinata sendiri tidak tahu bagaimana orang itu melakukannya, tapi orang itu berhasil mengirimkan foto Naruto dan Hanabi yang sedang berada di atas sofa. Tidak, lebih tepatnya lagi Hanabi yang berada di atas sofa dan Naruto yang berada di atas Hanabi.
"Sekarang mereka berdua sedang berada di rumah replika adikmu, mereka berada tiga puluh lantai di atas tanah jadi mereka tidak bisa melompat dari jendela dan tempat itu juga dikelilingi beton tebal tahan gempa dengan hanya sebuah pintu kelas bunker sebagai jalan keluar dan masuknya."
Mereka terkurung di dalam penjara itu, dan pergerakan mereka terus diawasi. Dari gedung di sebelahnya ada penembak jitu yang bisa siap menarik pelatuk senjatanya, senapan machinegun otomatis yang pelurunya bisa menembus kendaraan lapis baja serta rpg yang bisa meluncur dengan hanya memencet tombol dan menghancurkan isi ruangan termasuk orang di dalamnya.
"Kami tidak ingin melukai adikmu maupun tuanmu tapi kami tidak punya pilihan lain, pilihan terbaik kami hanya melakukan hal ini! jika kami tidak bisa mendapatkanmu kami kami tidak keberatan tidak mendapatkan apa-apa."
Jika Naruto terluka atau mati maka kecurigaan bisa diarahkan ke para supporter, jika Hanabi terluka terstimoninya juga akan menyudutkan sebagain supporter. Jika Hanabi mati maka warisannya akan jatuh ke lembaga amal, tapi di saat seperti ini pilihan orang di belakang pintu adalah dapat semua atau tidak dapat sama sekali.
Orang itu menggretak. Insting Hinata mengatakannya dengan jeals. Tapi bukan berarti Hinata bisa meremehkan apa yang baru saja dia dengar.
"Jika kau bermaksud untuk mengancamku maaf saja aku tidak akan terpengaruh."
"Aku yakin kau sangat perduli pada keduanya dan tidak ingin mereka mati? jika kau mau kembali ke keluargamu aku bisa melepaskan mereka berdua tanpa sedikitpun baret di tubuh mereka."
"Haaaahhhhh . . . . ."
Kali ini Hinatalah yang menghela nafas panjang.
"Kalian terlalu meremehkan Naruto!, kalian tahu tidak? tidak sepertiku yang lebih sering bicara tinggi tentang kebenaran dia lebih sering membela kebenaran bahkan tanpa harus bicara! dan kebenaranya bukanlah kebenaran yang lemah sebab dia benar-benar punya kekuatan."
"Kekuatan?"
"Biar kuberitahkuan padamu! dia itu sangat kuat!."
Dia tidak pernah akan mau mengakuinya. Tapi meski begitu Hinata bisa tahu meski tanpa bertanya dan mendapat jawaban.
Dia adalah tipe orang yang menghindari konflik, permusuhan, maupun pertarungan karena dia tahu kalau dia akan menang.
Dan meskipun seseorang akhirnya bisa menghadapinya, Naruto akan menahan diri sebab dia terlalu kuat. Dia takut kalau dia menghancurkan musuhnya.
"Kuingatkan padamu! dia adalah seseorang yang bisa melakukan apapun asalkan dia mau."
Naruto selalu bilang kalau Hinata jauh lebih kuat darinya, bisa meng dengan mudah, maupun bukan tandingan gadis itu. Tapi sekali lagi, meski pasti tidak mengakuinya tapi semua itu adalah batas yang dibuatnya sendiri. Pemuda itu ingin ada seseorang yang berada di atasnya.
"Dia jauh lebih kuat dariku dan tentu saja jauh lebih kuat dari apa yang kau pikirkan! dan dia akan jadi lebih kuat lagi saat dia ingin melindungi seseorang!."
Hinata melihat jam di ponselnya.
"Kau boleh menunggu di situ tapi tolong jangan mengganggu pengatar pizza yang akan datang! dan kalau bisa tolong bayarkan tagihannya untuku."
5
Jika yang mereka ingin lakukan hanyalah membunuh keduanya, sebuah bom bisa dipasangkan ke ruangan tempat mereka berada dan diledakan dari jauh. Tapi tujuan mereka bukanlah membunuh keduanya, keputusan membunuh keduanya adalah jalan terakhir untuk memaksa Hinata kembali ke keluarganya jika gadis itu tetap bersiekaras menolak pulang.
Dan alasan tambahan mereka tidak memasang bom adalah karena mereka tidak mau menarik perhatian. Lokasi tempat keduanya di kurung masih berada di dalam kota, dan ledakan besar bisa membuat pihak-pihak menyusahkan seperti tim penyealmat, polisi dan mungkin bahkan unit anti terror ikut campur.
Mereka dikurung agar mereka tidak mengganggu diskusi dan hanya ada untuk dijadikan bahan negosiasi. Karena itulah mereka selalu menjaga jarak dan berusaha tidak membuat Hanabi mengalami trauma atau Naruo jadi terluka. Sebab hal itu akan mengarahkan kecurigaan pada seseorang.
Mereka sudah mendapatkan perintah untuk mengeksekusi target dan semua orang yang bertugas sudah siap untuk memberondong peluru ke arah gedung di seberang mereka. Hanya saja mereka menemui sebuah masalah.
Dua target yang mereka incar sedang berada di dalam kamar mandi. Selama lebih dari dua jam.
"Apa aku harus meluncurkan rpg ke arah mereka?"
"Jangan, ledakan yang ditimbulkan juga akan memancing perhatian."
Kekuatan penghancur dari sebuah rpg memang besar, tapi efeknya hanya akan maksimal jika target berada di dekat hulu ledak. Dan tentu saja kamar mandi yang berada di dalam kamar tidur dan terletak jauh di pojok serta dilindungi dua tembok tebal tidak akan ada dalam jarak efektif sebab rpg tidak bisa berbelok.
Membawanya ke ruangan lain untuk mendapat posisi yang lebih baik juga tidak bisa dilakukan. membawa benda berbahaya itu sudah cukup mencurigakan dan jika tiba-tiba dia tertangkap cctv maka dia akan dapat masalah besar. Untuk alasan yang sama dia juga tidak bisa membawa banyak amunisi sebab ukurannya besar.
Dia hanya memiliki satu tembakan, dan satu tembakan itu harus berhasil langsung menghancurkan target.
"Biar aku yang mengatasinya! begitu mereka keluar dari dari kamar mandi aku akan menembak mereka dan jika ada yang lolos kau tinggal memberondongnya dengan machine gun."
Mereka kembali menunggu Hanabi dan Naruto keluar dari kamar mandi, tapi selama setengah jam lebih mereka menunggu status mereka masih stuck. Sama sekali tidak ada progress.
"Apa kau yakin kalau mereka masih di sana?"
"Aku tidak bisa melihat tapi aku bisa mendengar, sepertinya mereka sedang bermain."
Si pemegang senapan jarak jauh bisa mendengar suara cipratan air dan tawa, suara Hanabi yang berteriak geli-geli sambil minta ampun lalu suara Naruto yang dengan riangnya mempermainkan gadis kecil itu.
Yang memasang kamera dan peralatan pengawasan lain bukanlah mereka sendiri, karena itulah mereka tidak menaruh kamera di dalam kamar mandi untuk menghindari skandal. Mereka tidak bisa mempercayakan data yang didapat pada pihak ketiga yang tidak bisa dipercaya.
Mereka tidak perduli dengan Hanabi, tapi jika keluarga Hyuga terjerat skandal mereka juga akan ikut mendapat masalah. Dan mereka tidak menginginkannya, karena itulah kamera diganti dengan microphone kecil yang tersembunyi.
"Memangnya apa yang mereka mainkan!? mereka sudah berada di dalam kamar mandi selama dua setengah jam lebih!?"
"Mana aku ta . . . . . . . ."
Salah satu dari mereka menempelkan speaker ke alat komunikasi mereka agar keduanya bisa mendengar keadaan di dalam kamar mandi. Dan sesaat kemudian suara Naruto dan Hanabi bisa terdengar dengan jelas.
"Sekarang main-mainnya sudah selesai Hanabi! kali ini aku akan serius."
"Ap-apa kita tidak bisa menundanya dulu? ma-maksudku aku belum siap secara mental."
"Kau tidak perlu menyiapkan mental, yang kau perlu lakukan hanyalah menyiapkan fisik dan menyerahkan semuanya padaku."
"Tapi aku masih agak takut."
"Tenang saja! percayalah padaku! jika kau merasa tidak nyaman langsung bilang saja."
"Um . . . kalau begitu kau boleh membukanya."
"Baiklah kalau begitu. . . ."
"Pelan-pelan saja kak Naruto."
"Aku sudah melakukannya dengan sangat pelan-pelan! tapi melakukannya dengan pelan malah membuatku jadi semakin tegang."
"Apa kau mau kupijat dulu?"
"Tidak perlu kau malah akan membuatku jadi tambah tegang, tanganmu bisa membuat konsentrasiku buyar."
"Maaf kalau begitu."
"Jangan membuat muka kecewa seperti itu! kalau kau benar-benar ingin membantuku naiklah ke sini dan buat pekerjaanku lebih mudah."
"Baik."
Setelah mendengar suara ceria dari gadis itu dua orang yang menguping pembicaraan mereka berdua tidak lagi bisa mendengar apa-apa. Tiba-tiba suasana di dalam kamar mandi jadi tenang. Dan gara-gara tidak ada yang bicara. suasana di antara dua orang di seberang juga jadi tenang.
"Aku tahu kalau aku tidak pantas mengatakannya! tapi menurutku memanfaatkan kepolosan seorang gadis kecil hanya untuk memuaskan dirinya sendiri adalah tindakan yang sangat keji."
"Aku setuju! aku tahu kalau wanita lebih cepat dewasa dari laki-laki tapi bukan berarti orang itu bisa menganggap seorang gadis kecil adalah wanita dewasa hanya karena dia punya wajah imut dan manis!."
Dan kedua orang itu akhirnya setuju pada satu kesimpulan.
"Akan kubunuh kau!"
"Akan kubunuh kau!"
Tapi sebelum mereka berdua berhasil menyusun rencana untuk menghabisi Naruto tiba-tiba sebuah suara ledakan besar terdengar dari gedung di depan mereka. Dan setelah suara ledakan itu reda ada suara gemuruh seakan gedung di depan mereka akan runtuh.
"Jangan bilang kalau dia..."
Apa yang dia pikirkan adalah hal yang memang terjadi. Naruto membuat lubang untuk keluar dari kurungannya. Dan lubang itu tembus sampai ke lantai bawah. Lalu menggunakan lubang itu, Naruto melompat ke bawah sambil memeluk tubuh Hanabi dengan erat menggunakan satu tangannya.
Naruto mengambil mengambil sebuah benda kecil dari saku bajunya, setelah itu Naruto mulai bicara di depannya.
"Siapapun kalian yang sedang menguping pembicaraanku! camkan kata-kataku dengan baik!."
Tubuh Naruto mulai dikelilingi cahaya oranye, setelah itu sebuah tangan yang rupanya antara kaki predator dan jari-jari manusia meluncur dari salah satu lantai gedung itu. Telapak tangan itu langsung memposisikan dirinya di bawah kaki Naruto sehingga pendaratannya jadi tidak keras.
"Jika kalian berani melukai keluargaku lagi! akan kuhancurkan kalian semua!."
Sesaat itu pula alat penyadap yang berada di tangannya hancur lalu jadi debu.
"Kau lihat itu?"
"Tentu saja aku melihatnya! kurasa kita harus mundur dan melaporkan situasi kita."
"Mundur kau bilang? dia jauh lebih berbahaya dari bom atom! dan kau menyuruhku untuk membiarkannya? orang itu akan jadi penghalang kita di masa depan! aku harus membunuhnya sekarang juga!"
Yang memegang senapan jarak jauh adalah seorang pemuda dengan rambut merah bernama Gaara. Bagian di sekitar kelopak matanya hitam seakan dia tidak pernah tidur, lalu di atas matanya untuk suatu alasan tidak ada alis yang tersusun rapi, sebab bahkan dia tidak punya alis.
Dari penampilannya, dia berumur tidak terlalu berbeda dari Naruto. Tapi aura yang dikeluarkannya bahkan lebih menakutkan dari rekannya yang satu lagi yang notabene punya umur hampir dua kali umur Gaara.
"Aku akan menghabisinya sekarang juga!."
Gaara mengatur ulang tinggi bipodnya dan mengkalibarsi ulang scoopnya, setelah itu dia berdiri dan mengarahkan senapan jarak jauhnya beberapa derajat ke bawah secara diagonal. Mata kanannya dia letakan di belakang scoop sedangkan mata kirinya tetap dia buka.
Di dalam pertempuran yang sesungguhnya kehilangan jejak musuh bisa menjadi bencana yang sangat besar. Di saat seorang fokus pada scoopnya dan menutup matanya yang satu lagi, musuh bisa memanfaatkan sempitnya jarak pandang untuk untuk bersembunyi lalu menghilang dari pengawasan kemudian melakukan serangan balasan.
Tidak seperti di dalam film, musuh lebih sering bergerak daripada diam dan menunggu untuk ditembak. Karena itulah taktik pasif semacam itu hanya bisa digunakan untuk mengincar benda besar seperti kendaran lapis baja yang bergerak pelan.
Mata kirinya dia gunakan untuk mengawasi pergerakan musuh, sedangkan mata kanannya dia gunakan untuk membenarkan posisi senjatanya agar tepat lurus ke arah targetnya. Seorang pemuda bernama Naruto.
6
Kekuatan Naruto tidak bisa digunakan pada benda fisik normal secara langsung. Dia tidak bisa menggerakan suatu benda menggunakan kekuatannya, dia tidak bisa menghancurkan tembok tebal dengan kekuatannya dan bahkan dia tidak bisa menyalakan lilin menggunakan kekuatannya.
Tapi meski begitu tidak ada hukum yang mengatakan kalau kekuatannya tidak bisa digunakan untuk mengubah benda fisik biasa menjadi benda yang memiliki kekuatan supranatural. Kekuatan Naruto bisa berfungsi layaknya induksi magnet yang mampu membuat besi biasa menjadi magnet remanen, kekuatannya juga bekerja seperti radiasi yang mengkontaminasi apapun yang ada di sekitarnya.
Yang Naruto lakukan selama dua setengah jam adalah mengalirkan kekuatannya pada lantai di bawahnya, di bawahnya, dan di bawahnya tanpa henti sampai semua lantai di gedung itu berubah menjadi benda yang mengandung magic remanen.
Sebab dia tidak mau gedung tempatnya berada jadi tidak stabil dan runtuh, kekuatannya hanya menyebar dalam diameter kecil membentuk lorong vertikal ke bawah. Dan dalam proses itu suasana tidak nyaman yang disebabkan terganggunya aliran energi. Yang pada akhirnya mempunyai efek samping membuat orang menjauhi bahaya yang ditimbulkan Naruto.
Sebagai catatan, relic juga tercipta dengan proses yang hampir sama. Sebuah benda yang terpapar magic dalam waktu lama akan menjadi relic dan mulai memiliki efek khusus terhadap lingkungannya. Tapi waktu yang diperlukan untuk suatu benda berubah menjadi relic jauh lebih lama daripada sekedar memasukan unsur magic ke dalamnya. Bisa beberapa tahun, puluhan tahun, ratusan tahun dan bahkan ribuan tahun.
Lantai yang sudah mengandung sedikit magic sekarang bisa melakukan kontak dengan kekuatan Naruto secara langsung, dan begitu kekuatan Naruto bisa dia gunakan. Menghancurkan lantai beton tabal berlapis-lapis sama sekali bukan sebuah masalah.
Begitu Naruto sampai di lantai dasar dia langsung berlari keluar. Dia tahu kalau dia sedang diincar seseorang tapi dia tidak tahu dengan apa dia diincar. Karena itulah dia segera pergi menghindar dari keramaian agar orang lain tidak ikut terseret ketidakberuntungannya.
Awalnya dia ingin meninggalkan Hanabi, tapi dia takut kalau ada musuh yang masuk dalam kerumunan. Karena itulah dia menarik Hanabi untuk ikut lari bersamanya. Secepat mungkin dia ingin segera pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu.
Ketika Hanabi mulai bisa menyusul Naruto dan tersenyum karena merasa sudah aman, tiba-tiba Naruto melemparkannya.
"Sial! anginnya terlalu kencang."
Gaara berteriak pada dirinya sendiri.
Yang Gaara incar bukanlah target kecil yang susah seperti kepala, melainkan dada atau perut. Dengan begitu meski tembakannya melesetpun ada kemungkinan kalau serangannya akan tetap merusak organ penting lain seperti paru-paru atau hati.
Kalau bisa dia tidak ingin membunuh Hanabi, tapi kalau misalkan gadis kecil itu terkena pelurunya berarti anak itu memang sedang tidak beruntung. Tapi gara-gara ingin melindungi gadis kecil itu pelurunya yang sudah sedikit dibelokan angin jadi hanya mengenai pundak kiri Naruto.
Tidak. Bukan hanya mengenai. Tapi menembus dan menghancurkan pundaknya.
Dari atas terlihat jelas kalau Hanabi hanya diam saja di tempat dan membiarkan saja tubuh Naruto tersungkur lalu berguling di atas aspal.
Hanabi hanya diam bukan karena tidak perduli, tapi karena dia mengalami shock dan tidak mampu menerka apa yang baru saja terjadi di depannya. Semuanya terlalu cepat, semuanya terjadi terlalu cepat.
"Kak Na. . . ."
Dia melihat ke arah tubuh Naruto yang tergeletak tidak berdaya, dan dari pundak pemuda itu keluar darah yang sangat banyak. Dan bukan hanya darah, di tanah juga tercecer beberapa serpihan tulang dari pundak Naruto.
Dan begitu melihat hal itu. Pikiran Hanabi akhirnya kembali berjalan.
"Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. . . . . . . . . . . . . . . . . . . ."
Hanabi langsung berteriak dengan air mata mengalir deras dari kedua kelopak matanya begitu melihat pemandangan horror di depannya. Naruto yang masih sadar mencoba memberikan tanda menggunakan tangan kanannya yang masih berfungsi pada Hanabi untuk jangan mendekat. Tapi gadis kecil itu terlalu panik untuk mengetahui hal itu.
"Kali ini aku tidak akan gagal."
Gaara menarik head bolt senapannya dan kembali menyiapkan kembali amunisinya. Setelah itu dia mengarahkan benda berbahaya itu ke Naruto.
Dia sendiri bukan ahli dalam tembak menembak jarak jauh, tapi senapan yang digunakannya kali ini punya kaliber besar. Menembus tubuh manusia adalah hal yang sangat mudah dilakukan menggunakan benda itu. Jadi asalkan dia bisa mengenai target bisa dipastikan luka yang dihasilkan itu fatal.
Gaara menarik pelatuk senapannya dan kemudian sebuah suara tembakanpun terdengar.
Kali ini yang tertembus adalah dada bagian kanannya. Tanpa kemapuan medispun, seseorang bisa langsung tahu kalau luka yang diderita lebih dari sekedaar fatal.
"Han . . ."
Naruto ingin mengentikan gadis kecil yang berlari ke arahnya sambil menangis dengan keras meneriakan namaya. Hanya saja untuk menyebutkan nama Hanabi saja dia sudah kehabisan nafas duluan. Lalu ketika dia mencoba mengirup udara, rasa sakit luar biasa langsung menusuk dada kanannya. Kemudian ketika dia ingin menyelesaikan kalimatnya, darah dari paru-parunya naik ke mulutnya dan membuatnya memuntahkan darah.
"Ughooooookkkk…"
Naruto memutuskan jika mencoba bicara sama dengan buang-buang energi, karena itulah dia menggerakan tangan kanannya yang masih bisa mengeluarkan cahaya oranya redup.
Cahaya oranye itu masuk ke dalam tanah lalu muncul kembali beberapa meter di sampingnya dalam bentuk sebuah tangan besar. Tangan itu langsung menangkap tubuh kecil Hanabi dan menaruhnya di kerumunan yang mulai diarahkan petugas untuk segera meninggalkan tempat itu.
Gaara yang melihat keadaan dari salah satu ruangan di atas gedung bertingkat di depan Naruto sama sekali tidak perduli dengan Hanabi. Tapi meski begitu dia masih bersukur sebab dengan kepergian Hanabi kemungkinan adanya gangguan jadi lebih kecil.
"Kenapa ini?"
Dua luka yang diterima Naruto sangatlah berat. Normalnya harapan selamat pemuda itu sudah sama dengan nol. Jika dibiarkan begitu saja sudah bisa dipastikan kalau Naruto akan mati cepat.
"Apa yang terjadi padaku?"
Meski sudah dipastikan menang Gaara sama sekali tidak merasa menang. Untuk suatu alasan Gaara merasakan sebuah kegelisahan. Dia merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang membangkitkan sebuah ketakutan dari dalam lubuk hatinya.
Naruto sudah tidak bisa apa-apa. Tapi Gaara tidak bisa merasakan kalau Naruto sudah jadi lemah. Bayangan yang Gaara dapatkan hanyalah seperti sedang melihat seekor singa yang kakinya tertusuk duri.
"Tidak mungkin! tidak mungkin! tidak mungkin!."
Jarak antara Gaara dan Naruto terpaut sangat jauh, tapi meski begitu Gaara bisa merasakan kalau Naruto menatap langsung ke matanya. Dan tatapannya itu sama dengan seekor singa yang sedang ngantuk dan melihat tikus kecil lewat di hadapannya.
"Mati kau!."
Gara menarik pelatuk senjatanya dan kembali menembak tubuh Naruto.
"Kenapa kau tidak mati jugaaa!?"
Yang menyerang adalah Gaara, tapi yang merasakan ketakutan akan kematian adalah dirinya sendiri.
7
"Berhenti!."
Suara kecil Hanabi tenggelam di antara teriakan-teriakan panik di belakangnya.
"Tolong berhenti! sudah cukup!"
Tangannya bergetar, kakinya bergetar, suaranya bergetar dan ketakutan mengalir ke seluruh tubuhnya.
"Tolong jangan teruskan lagi! jangan lanjutkan semua ini."
Dua puluh meter di depannya, tubuh naruto tergeletak tidak berdaya. Tubuhnya penuh dengan lubang yang mengeluarkan darah, beberapa bagian tubuhnya ada yang isinya sudah remuk, lalu tempat tubuhnya berada adalah jalan aspal yang sudah jadi kolam darah.
Naruto sudah tidak lagi bergerak, Naruto sudah tidak bisa lagi melawan. Naruto sudah tidak punya harapan. Tapi meski begitu suara senapan yang menggelegar tidak kunjung berhenti juga.
Peluru masih terus datang menembus tubuh Naruto. Serangan sama sekali tidak menunjukan tanda akan mereda. Musuh sama sekali tidak kelihatan ingin berhenti sebelum seluruh tubuh Naruto benaar-benar hancur.
"Aku bilang berhenti!."
Hanabi berlari dengan sekuat tenaga ke arah tubuh Naruto. Hanabi terus berlari lurus tanpa memperhatikan dirinya sendiri. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah menghentikan tindakan kejam yang sedang terjadi di depan matanya.
Meski mungkin dia tidak lagi bisa menyelamatkan Naruto tapi dia tetap ingin melindunginya. Dia tidak mau Naruto terus dipermainkan bahkan ketika dia sudah tidak lagi hidup.
"Kau bilang ingin kakakku pulang kan? aku akan bicara dengannya! aku akan memaksanya untuk pulang! jadi berhentilah menembak!."
Hanabi terus berlari dengan sekuat tenaga.
"Aku janji akan membawanya pulang! karena itulah tolong berhenti!."
Naruto tidak bisa lagi menghalanginya dan Gaara terlalu fokus pada Naruto karena itulah dia bisa dengan mudah dia bisa sampai di tempat Naruto berada. Setelah sampai, Hanabi melihat ke arah sebuah kamar di mana suara ledakan berasal dengan air mata masih mengalir.
"Jika kau mau berhenti aku akan melakukan semua yang kalian mau!."
Suara ledakan terdengar dan sebuah peluru menyerempet pundak kanan Hanabi lalu menembus perut Naruto. Gadis itu terjungkal ke belakang karena kaget tapi dia langsung kembali berdiri.
"Berhentiii! Jika kalian ingin harta! aku akan memberikan semua miliku untuk kalian!."
Hanabi memeluk tubuh Naruto dan mencoaba menjadi prisai hidup untuk pemuda itu. Meski dia tahu kalau usahanya tidak berarti tapi dia benar-benar tidak ingin tubuh Naruto kembali dirusak.
Tapi harapannya tidak terkabul. Suara ledakan terdengar dan peluru menembus paha kiri Naruto.
"Kumohon berhentilah! aku juga akan membujuk kakakku untuk memberikan semua hartanya untuk kalian."
Suara ledakan kembali terdengar dan kali ini betis kanan Naruto yang jadi korban.
"Aku akan menyerahkan semua yang kupunya! aku akan melakuan semua hal yang kalian minta! aku bersedia jadi apapun yang kalian mau!."
Pemandangan itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Hanabi akan menggunakan tubuhnya untuk melindungi tubuh Naruto, setelah itu dia menjanjikan sesuatu pada orang-orang itu dengan syarat Gaara berhenti menembak tubuh Naruto. Tapi pada akhirnya semua usahanya gagal, janjinya tidak diperdulikan lalu Naruto tetap ditembak pada bagian yang tidak terlindung oleh tubuh Hanabi.
Sebuah taruhan hanya bisa dilakukan jika kedua belah pihak setuju pada apa yang dipertaruhkan satu sama lain. Dan Gaara terlalu panik untuk bisa paham kalau semua yang diinginkan mereka bisa didapatkan dari Hanabi.
"Aku akan melakukan apapun agar kalian mau berhenti! apapun! karena itulah kumohon berhentilah menyiksa kak Narutooooo!."
Pemandangan di mana seorang gadis kecil membuang semua harga dirinya demi meminta belas kasihan dengan segala cara adalah sesuatu yang tidak enak untuk dilihat. Demi Naruto yang bahkan mungkin sudah tidak lagi hidup, Hanabi bersedia memberikan semua yang dia miliki, menjual dirinya, mengemis minta dikasihani tanpa rasa ragu sedikitpun.
Dia tidak lagi perduli pada dirinya sendiri dan jauh mementingkan Naruto di atas segalanya.
Rekan Gaara sudah berteriak-teriak untuk menyuruhnya berhenti menembaki Naruto. Dia mengakui kalau mereka bukanlah orang baik, tapi mereka bukanlah orang sekejam itu sampai tega menyiksa perasaan seorang gadis kecil sampai seperti itu.
Mereka memang bisa kejam tapi mereka tidak pernah bertindak sekeji itu.
"Gaara! berhenti sekarang juga! kau sudah berlebihan! misi kita bukan menyiksa seseorang! misi kita juga bukan menyiksa gadis kecil itu secara mental! tugas kita juga bukan membuat seseorang mengalami trauma seumur hidup! karena itulah cepat berhenti!."
"Aku tidak bisa berhenti!."
Dengan tangan bergetar Gaara menarik bolt senapannya, membuang selongsong lamanya lalu meload amunisi baru.
"Jika aku tidak membunuhnya duluan dia akan membunuhku."
Gaara melihat menggunakan scoopnya lagi setelah itu dia menyiapkan diri.
"Ini adalah yang terakhir."
Yang Gaara incar dengan menggunakan peluru terakhirnya adalah kepala Naruto. Sedari tadi Hanabi terus memeluk pemuda itu dan dengan sengaja menutupi kepala Naruto menggunakan badannya sendiri.
Gaara mengira dengan menyerang banyak tempat dia bisa membunuh Naruto tanpa harus melukai Hanabi yang terus melindungi kepala Naruto. Tapi rasa gelisahnya tidak kunjung hilang juga, dan pada akhirnya dia memutuskan untuk menyerang kepala Naruto meski harus ikut membunuh Hanabi.
"Mati kau!."
Tapi begitu jarinya menyentuh pelatuk, tubuhnya terlempar ke udara dan tembakannya melenceng jauh dari tujuan awal.
Sebuah kepalan tangan besar berwarna oranye meninjunya ke udara, setelah itu tangan yang rupanya sudah berubah menjadi telapak hewan buas berkuku tajam langsung menamparnya ke bawah. Membuat tubuh Gaara melesat manuju tanah dalam kecepatan yang sangat tinggi.
"Ugghhh…"
Dia sudah bersiap untuk mati tapi kematiannya tidaklah semudah itu untuk datang. Sebuah tangan kembali muncul dari tanah di bawahnya, tangan itu menangkap tubuhnya lalu menggegamnya dengan sangat erat.
Jika mau, genggaman tangan itu bisa langsung meremukan seluruh tubuh Gaara. Tapi untuk suatu alasan tangan oranye itu sengaja memperlambat gerakannya dan menambahkan kekuatannya sedikit demi sedikit. Seakan ingin menyiksa Gaara terlebih dahulu sebelum membunuhnya.
Gaara merasa kalau ada tulang rusuknya yang sudah patah, tinggal menunggu waktu saja sampai seluruh tubuhnya remuk seperti nyamuk yang dipukul. Bernafas sudah sangat sulit, bahkan jantungnyapun sudah bisa berhenti kapan saja.
Penglihatannya mulai kabur, tapi meski begitu dia bisa melihat sesuatu terbang ke arahnya. Bukan! tapi terbang ke arah tangan yang sedang memegangnya. Dan begitu benda itu datang, sepertinya tubuh Gaara jadi tidak penting lagi dan langsung dilempar dengan kuat ke sembarang arah.
Benda itu adalah puluhan pedang panjang berwarna emas.
Setelah itu Gaara tidak mengingat apa-apa lagi.
8
Ponsel Hinata berbunyi lalu menampilkan nama adik tirinya di layar. Tanpa ragu Hinata langsung mengangkatnya.
"Ada apa Hanabi."
"Hiks. . . kak Naruto. . . . kak Naruto. . . .uuuuu. . . . "
Tanpa penjelasanpun Hinata sudah tahu apa yang terjadi. Tentu saja dia tidak tahu persis apa yang sudah terjadi di sana, tapi setidaknya dia yakin kalau pasti keduanya sudah mendapat masalah besar. Dan sebab Hanabi menangis dengan keras tanpa ditutup-tutupi di depannya. Itu berarti sesuatu sudah terjadi pada Naruto. Dan sesuatu itu adalah sesuatu yang sebaiknya tidak dijelaskan.
"Berhentilah menangis dan jangan tinggalkan Naruto! jangan biarkan dia dibawa oleh orang yang tidak dikenal! telpon ke rumah lalu minta mereka menjemputmu, setelah itu bawa Naruto pulang ke sini!."
"Tapi . . kak Naruto. . ."
"Aku paham! tapi membawanya ke rumah sakit sama sekali tidak ada gunanya! kau yang berada di depannya pasti sudah tahu kan?."
Hinata hanya bisa mendengar suara sesenggukan Hanabi.
"Karena itulah kau harus membawanya ke sini! percayalah padaku! selain itu kau sudah tidak dikejar siapapun kan? musuhmu sudah kalah kan? Naruto sudah menghajar orang yang ingin menyakitimu kan?"
Hanabi menganggukan kepalanya.
"Um."
"Oleh sebab itu sekarang biarkan Naruto istirahat, dan tempat istirahat paling nyaman adalah rumahnya sendiri."
Apa yang Hinata katakan adalah apa yang dia maksud, dengan kata lain makna dari kalimatnya adalah memang sesuai dengan apa yang dia katakan. Tapi Hanabi menangkap kalimat Hinata dengan makna tersirat, dan begitu Hanabi mengartikan makna di dalam kata-kata kakaknya dia langsung menangis lagi.
"Aku berjanji akan membawanya pulang!."
Hanabi menutup telponnya dan bersiap menghubungi keluargannya. Sedangkan Hinata memutuskan berdiri lalu membuka pintu tempat Naruto tinggal. Dan sebelum keluar Hinata juga membawa sebuah benda yang Naruto berikan padanya dulu. Sebuah pedang bernama kogitsune maru.
Di balik pintu ada seorang pria tua pendek. Hinata mengenalnya sebagai Byakuren. Salah satu orang yang bertanggung mengurus yayasan amal milik keluarganya. Hinata bisa mengingatnya dengan jelas sebab dia sering mengunjungi tempatnya bekerja yaitu sebuah pusat rehabilitasi anak-anak yang mengalami trauma akut.
"Rencanamu sudah gagal dan sekarang kau tidak bisa memaksaku dengan mengancam akan melukai mereka! orang yang kau suruh sudah ditendang oleh Naruto."
Hinata menggunakan nada sombong ciri khasnya. Dan dengan nada bicara itu Byakuren berhasil diyakinkan kalau rencana awalnya sudah tidak bisa dilanjutkan.
"Mungkin aku sudah tidak bisa memaksamu tapi aku masih bisa mengancamu."
Byakuren mengeluarkan sebuah pistol dari balik jas hitamnya, setelah itu orang-orang berpakaian hitam yang berjaga di depan gerbang tempat tinggal Naruto juga ikut mengacungkan senjata mereka.
"Aku benar-benar berharap kau tidak melakukannya! sebab aku akan dimarahi kalau sampai tempat ini rusak, selain itu. . . ."
Hinata menarik pedang yang dia bawa dari tempatnya lalu menusukannya ke lantai kayu di bawahnya. Panjang pedangnya hampir sama dengan pedang bambunya yang dulu dan ukurannya juga pas dengan postur tubuh Hinata.
Pedang itu memiliki permukaan mengkilat dan memantulkan cahaya dari matahari sore yang berwarna oranye. Bentuknya sedikit melengkung dan hanya memiliki satu tepi tajam. Ukiran di hulu pedangnya hanyalah sebuah ornamen sederhana, tapi meski begitu secara keseluruhan pedang itu kelihatan indah. Membuat pedang itu bisa dengan mudah dikira sebagai benda hiasan.
Dan keindahan pedang itu jadi berlipat ganda ketika yang memegangnya adalah seorang gadis muda yang kecantikannya sangat mempesona.
"Jika kalian menyerangku maka aku akan punya alasan untuk menyerang balik kalian sebagai tindakan bela diri."
Hinata meletakan kedua telapak tangannya di atas bagian ujung pegangan dari kogitsune maru. Tidak seperti biasanya kali ini dia melihat orang berbahaya di sekitarnya dengan mata tenang. Dan hal itu membuat pemandangan yang dilihat orang disekitarnya menjadi seperti sebuah lukisan.
"Aku sarankan kalian segera pulang, aku sama sekali tidak ingin ada orang tidak diundang yang hadir ketika Naruto kembali."
"Apa kau tidak paham dengan situasinya? kau kalah jumlah dan persenjataan jadi tolong jangan bicara sombong di depanku."
"Nama pedang ini adalah kogitsune maru, legenda mengatakan jika pedang ini ditempa oleh Munechika bersama dengan Inari dan roh seekor musang."
Di dalam legenda seekor musang adalah hewan yang spesial, mereka punya umur panjang, mereka punya pikiran setara manusia, dan yang terakhir mereka memiliki kekuatan supranatural yang akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya usia mereka.
Dan pedang yang dibuat oleh mereka juga miliki ciri yang mirip dengan pembuatnya. Kogitsune maru tidak mati melainkan hidup, dan setiap hal yang hidup mampu bertumbuh.
Semakin digunakan maka kogitune maru akan semakin tajam, semakin penggunanya kuat maka pedang itu juga akan semakin kuat, lalu semakin banyak pengalaman yang dimiliki pemiliknya maka kemampuan yang dimiliki pedang itu juga semakin bertambah.
"Lalu satu lagi, di salah satu legenda ada seekor musang yang sudah melewati batasannya dan berada pada puncak kehidupannya! ketika dia sudah mendapatkan ekor kesembilannya dia diberikan hak untuk meminjam kekuatan milik para dewa."
Kogitusne maru tidak memiliki kemampuan sehebat itu, tapi ciri dari musang berada pada dirinya. Sebagai seekor musang kecil(notes) kogitsune maru juga memilki kemampuan yang mirip yaitu kemampuan untuk menyerap kekuatan dari sebuah relic.
Naruto sudah mengirimkan relic yang di dapatkan dari si penculik bernama Ningendo ke rumahnya, tapi sebelum itu kogitsune maru sudah menyerap kekuatan dari relic itu. Dengan begitu sekarang Hinata juga memiliki kemampuan untuk membaca pikiran orang yang berada di depannya selama dia masih menggegam pedangnya.
Karena itulah dia bisa tenang.
Hinata tahu kalau mereka semua sedang panik dan bimbang. Mereka bilang bisa memaksa Hinata, tapi ketika dia pulang dan mengatakan kalau dia dipaksa oleh mereka orang-orang itu tidak bisa membela diri sebab mereka tidak lagi punya asuransi untuk membuat Hinata menuruti keinginan mereka.
Mereka juga tidak bisa sembaragan membunuh Hinata sebab jika gadis itu mati kesempatan mereka untuk mendapatkan akan benar-benar hilang. Mereka bermaksud membuat Hinata takut mati dengan menodongkan pistol ke arahnya, tapi gadis itu sama sekali tidak merasa takut.
Mereka benar-benar kehabisan pilihan.
"Pergi!."
Hinata menekan suaranya lebih dalam. Dan dengan suara itu tiba-tiba semua orang yang berada di depannya merasakan sebuah ketakutan.
"Kami akan pergi."
Semua orang itu memasukan kembali senjatanya lalu buru-buru pergi.
"Tapi kami akan kembali."
Akhirnya semua orang pergi dan Hinata bisa menarik nafas lega.
Adalah apa yang seharusnya terjadi, tapi ketika dia melihat ke arah gerbang dia malah jadi sangat tegang.
"Awalnya aku bermaksud mengusir mereka semua untukmu, tapi sepertinya kau lumayan kompeten."
Dari balik gerbang ada seorang wanita muda yang masuk dengan santainya.
Dari wajahnya, kelihatannya dia berumur sekitar delapan atau sembilan belas tahun, dengan kata lain masih remaja dan lebih cocok disebut seorang gadis. Tapi proporsi tubuhnya yang bagus, pembawaanya yang tenang, serta pemilihan pakaiannya membuatnya jauh lebih cocok disebut wanita muda yang cantik.
Dia memiliki rambut merah indah yang panjang, mata biru gelap yang jernih, wajah cantik yang menawan serta tubuh dengan lekuk yang benar-benar menggoda. Bahkan Hinata yang sama-sama perempuan juga sempat terpana melihatnya.
"Ma-maaf tapi kami tidak sedang bisa menerima tamu, jika kau punya pesan untuk pemilik rumah aku akan menyampaikannya untukmu."
Atmosfir menekan yang Hinata tadi tunjukan sudah hilang tanpa bekas, dan sekarang dia dengan groginya mencoba tetap kelihatan tenang di depan wanita tadi. Tapi alasannya grogi bukanlah sebab dia merasa terhanyut oleh kecantikan wanita yang sekarang ada di depannya. Melainkan karena dia merasakan sebuah bahaya sedang mendekat.
Instingnya berteriak kalau wanita yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu berbahaya. Sangat berbahaya.
Mengesamapingkan penampilannya, Hinata merasa kalau dia baru saja bertemu dengan seekor monster. Di tangan kanan wanita ada sebuah pedang dengan panjang hampir dua meter. Tapi yang membuatnya merasa dalam bahaya bukanlah pedang itu.
Malahan sebaliknya, pedangnya malah sama sekali tidak memberikan aura intimidasi melainkan ketenangan.
"Oh. . begitu."
Berlainan dengan apa yang dia katakan, wanita itu tetap berjalan menuju ke tempat di mana Hinata berada.
Hinata ingin bergerak dan mengancam seperti yang dia lakukan, tapi dia langsung berhenti dan membatalkan niatnya. Dia bisa membaca pikiran wanita itu tapi isi pikiran wanita itu sama dengan apa yang baru saja dia katakan.
Wanita itu paham kalau kedatangannya tidak diterima dan wanita itu paham kalau dia sedang diusir secara halus. Tapi meski memahaminya wanita itu memutuskan untuk tidak memperdulikannya.
Tanpa sadar wanita itu sudah berada di samping Hinata dan menepuk pundaknya.
"Kalau begitu permisi. . . . "
Dengan begitu wanita itupun bisa masuk begitu saja.
Tanpa harus saling menghunuskan pedangpun Hinata tahu. Wanita itu jauh lebih kuat darinya. Sangat jauh malahan. Tidak seperti Naruto yang menyembunyikan kekuatannya dan selalu bilang kalau dia itu lemah. Wanita itu menunjukan semua kekuatannya tanpa menyembunyikan apapun.
"Oh iya aku belum memperkenalkan diri."
Wanita duduk dengan santai lalu lalu mulai memakan kripik kentang yang sudah Hinata siapkan sebagai teman menonton tv.
"Aku Kushina Uzumaki."
Mata Hinata melebar lalu. . ..
"Kakanya Naruto."
"Apaaaaaaaa. . . "
9
"Uughhh. . . . . "
Hal pertama yang bisa kurasakan begitu membuka mata adalah pusing, dan yang kedua adalah hangat, lalu yang ketiga adalah lembut, kemudian yang terakhir adalah sebuah beban di atas perut dan dadaku.
"Hanabi, jangan jadikan tubuhku sebagai bantal tidur."
Tidak perlu memperhatikannya dengan detailpun aku bisa tahu kalau gadis kecil yang sedang menggunakan tubuhku sebagai bantal sedang menangis. Tapi mungkin karena air matanya sudah habis yang bisa dia lakukan hanyalah sesenggukan.
Setelah mendengar suaraku, Hanabi langsung mengangkat tubuh bagian atasnya dan melihatku dengan wajah terkejut. Kukira dia akan kembali memeluku tapi perikiraanku salah besar.
"Dasar bodoooooohhhh!."
Hanabi malah memukuli tubuhku. Tapi meski begitu pukulannya sama sekali tidak terasa sakit.
"Kalau kau bisa sembuh secepat itu harusnya kau bilang dulu padaku! aku kira kau sudah mati! aku sangat takut kalau kau sampai mati gara-gara aku! jika kau benar-benar mati apa yang harus kulakukan? apa yang harus kukatakan pada kak Hinata? bagaimana caraku mempertanggung jawabkan semua itu pada keluargamu! aku. . . . aku. . . .ugh. . . uaaaaaaaaaa. . . .hiks. . aaaaa. . . ."
Apa yang ingin Hanabi katakan tidak bisa terselesaikan sebab air matanya lebih dahulu keluar dan suara tangisannya tidak lagi bisa dia tahan. Pada akhirnya dia benar-benar memelukku dengan erat lalu menangis sekeras-kerasnya di atas dadaku. Sedangkan aku sendiri mendekap tubuh kecil Hanabi lalu menepuk-nepuk punggungnya. Sebab tidak ada hal lain yang bisa kulakukan untuknya.
"Sudahlah tidak apa-apa, aku baik-baik saja jadi kau tidak perlu merasa bersalah."
Tangisan Hanabi malah jadi bertambah keras.
"Tidak apa-apa! tidak apa-apa."
Yang sebenarnya terjadi adalah aku memang sudah mati, lalu dihidupkan kembali. Jadi daripada sembuh akan lebih tepat dibilang kalau aku itu bangkit dari kematian. Berapa kalipun aku mati aku akan tetap dihidupkan kembali. Sebab di dalam sana ada seseorang yang tidak menginginkanku untuk mati. Dan selama waktu yang kumiliki belum benar-benar habis, seseorang itu tidak akan membiarkanku mati sebelum keinginannya terpenuhi.
Tubuhku sudah pulih, tapi bukan berarti rasa sakit di tubuhku sudah hilang sepenuhnya. Dan sambil menunggu rasa sakit di tubuhku benar-benar lenyap aku tetap berbaring di kasur kamar kostku bersama dengan Hanabi.
Untuk membuang waktu dan membuat mood Hanabi sedikit naik aku mengobrol dengannya dan menjauhi topik tentang kejadian hari ini, aku mencoba menceritakan kisah yang kuanggap lucu, memainkan permainan kata-kata, dan banyak candaan lain sampai sore datang.
Dan ketika waktu sudah menunjuk jam sepuluh malam, akhirnya aku bisa kembali bergerak.
Hanabi kusuruh pulang sebab aku sudah tidak apa-apa, tapi dia tidak mau menurutiku dan ingin tetap tinggal bersiap kalau aku membutuhkan bantuan. Aku bukanlah orang yang selalu keras kepala, karena itulah aku mengijinkan Hanabi tetap tinggal.
Sebab aku belum makan apa-apa sejak siang aku menyuruh Hanabi untuk membelikan makanan sambil menyuruhnya meminta Hinata agar cepat pulang. Hanabi bilang Hinata keluar mengurus orang-orang di tempat tinggalku yang melihatku berdarah-darah serta beberapa orang bersenjata. Tapi kurasa hari sudah terlalu malam untuknya tetap terus berada di luar.
Setengah jam kemudian Hanabi kembali sambil membawa sebuah kantong plastik besar. Dia tidak mengeluh tapi aku merasa kalau Hinata yang ikut pulang bersamanya perlu membantu adiknya.
Hanya saja ketika aku ingin komplain, seseorang yang harusnya tidak ada di sini muncul dari balik pintu dan langsung masuk tanpa pamit.
"Kau sudah bangun rupanya? cepat duduk dan makan sesuatu! aku yakin kau pasti lapar berat."
"Kenapa kau ada di sini kak?"
"Jangan banyak tanya dulu! sudah kubilang cepat duduk dan makan sesuatu."
"Tapi kau tidak bilang kalau kau ingin ke sini."
"Kau juga tidak bilang kalau kau akan mengamuk."
Kushina melirik ke arah pedang panjang yang berada menyandar ke tembok di samping kirinya. Dan dengan itu saja aku sudah paham dengan apa yang kakak maksud.
"Maafkan aku."
Setelah tembakan ketiga ingatanku agak kabur, tapi tanpa mengingatpun aku sudah tahu apa yang kulakukan saat kesadaranku hilang.
"Tidak perlu minta maaf, kali ini semuanya bukan salahmu melainkan. . . ."
Kali ini kak Kushina melirik pada Hyuga bersaudara yang menundukan kepalanya dalam di depan meja makan.
Suasana makan malam kami sama sekali tidak bisa dibilang menyenangkan. Selain kak Kushina sepertinya semua orang sedang merasa bersalah pada satu sama lain.
Aku merasa bersalah karena sudah meninggalkan Hinata dan membuat Hanabi mengalami hari yang sangat buruk. Hinata mungkin merasa bersalah karena membuatku terlibat masalah keluarganya serta dia juga merasa bersalah pada Hanabi karena tidak bisa mengabulkan permintaanya. Sedangkan Hanabi sendiri merasa bersalah karena sudah membuatku terluka lalu tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa melihatku dan kakaknya yang sedang kesusahan.
"Hahhhhh. . . . berhenti memasang muka seperti itu di depanku!."
Kak Kushina menghela nafas lalu melihat ke arah dua remaja serta satu gadis kecil di depannya.
"Yang kalian alami itu hanya sekedar kesialan! dan sebab kesialannya sudah hilang lupakan semua yang sudah terjadi! kau Hanabi! suapi Naruto dia kelihatan masih lemas dan kau Hinata! suapi aku aku sedang sibuk menulis laporan dan surat permintaan maaf ke keluargaku."
Hanabi langsung menurut dan lalu mendekatiku setelah buru-buru menghabiskan makanannya sendiri. Tapi Hinata kelihatan tidak puas dan langsung protes.
"Kenapa kau menyuruh Hanabi dan bukannya aku untuk menyuapi Naruto? mungkin kau tidak tahu tapi aku adalah pembantu Naruto yang resmi."
"Aku perlu bicara padamu, dan jika kau berbicara denganku sambil menyuapi Naruto tanganmu pasti akan berhenti bergerak! aku tidak mau kau melakukannya! selain itu tolong jangan banga-banggakan statusmu sebagai pembantu."
Mungkin Hinata berpikir kalau kak Kushina adalah orang yang tidak suka menggunakan logika dan hanya bertindak sesuai moodnya saja. Tapi dia tidaklah begitu, dia adalah orang yang selalu berpikir logis.
"Kalau begitu baiklah."
"Sebelum itu, berhubung semuanya sudah berkumpul aku ingin mengatakan sesuatu dulu! ah bukan! tapi memberikan kalian perintah."
Huuuuuhhhhh….. kak Kushina menarik nafas dalam-dalam.
"Hanabi! batalkan niatmu untuk mengikuti kakamu dan berpindah ke keluarga kami! dan kau Hinata pulanglah bersama Hanabi! untuk masalah perjanjian itu aku bisa mengurusnya! aku bahkan akan membantu kalian membicarakannya dengan ayah kalian! lalu kau Naruto jangan pernah mendekati mereka berdua lagi."
"Eh?"
"Eh?"
"Jangan buat muka bingung begitu! Apa yang kumau sangat sederhana! aku ingin kalian segera kembali ke keluarga kalian dan jangan pernah menemui Naruto lagi ataupun melakukan kontak dalam bentuk apapun dengannya!."
"Tapi. . "
"Kami. . . aku. . tidak. . . bisa beg. . ."
"Tidak ada tapi-tapian! akan lebih baik kalau besok kalian sudah meninggalkan tempat ini! aku akan memberikan waktu kalian selama dua hari! tapi waktu yang kuberikan bukan untuk berpikir sebab aku tidak memberikan pilihan! waktu itu adalah waktu yang kuberikan untuk kalian mengemasi barang-barang kalian! kemudian, sebab kau tidak membawa apapun aku akan sangat berterima kasih padamu jika kau langsung pergi begitu selesai menyuapi Naruto Hanabi!."
Kedua bersaudara itu sempat melihat satu sama lain untuk mengkonfirmasi jika apa yang mereka berdua dengar punya maksud yang sama.
"Apa kami boleh bertanya alasannya?"
"Alasan kenapa kami tidak boleh bersama kak Naruto."
Hanabi dan Hinata memutuskan untuk memberanikan diri bertanya. Tapi keberanian mereka berdua hanya menyulut kemarahan kak Kushina.
"Kenapa kau bilang? apa kalian berdua ini idiot? keberadaan kalian di dekat Naruto itu membuatnya dalam bahaya! kalian ini berbahaya untuk Naruto."
Mereka berdua ingin mengatakan sesuatu tapi pada akhirnya mereka berdua tetap diam sebab mereka sendiri tahu kalau apa yang Kushina katakan memang benar. Dan dengan begitu makan malampun berlanjut dalam ketenangan.
10
Malamnya aku terbangun karena merasa sangat haus. Setelah mengambil air mineral aku langsung keluar dari kamar sebab merasa udara di dalam agak pengap. Tapi ketika aku sampai di beranda, tempat itu sudah ada yang menghuni.
Di sana Hinata sedang berdiri diam sambil melihat ke arah langit yang sangat gelap sebab bulan tidak bersinar.
"Sedang apa kau?"
"Aku sedang memikirkan kata-kata kakakmu."
Tidak ada yang mengatakan apa-apa lagi. Dia diam dan aku juga diam.
"Hey Naruto, kau. . . apa kehidupanmu akan lebih baik jika kami tidak ada di sekitarmu."
"Mungkin?"
Aku tidak akan kena masalah yang dibuat Hinata, aku tidak akan kesusahan mencari makanan ekstra untuk gadis ini, dan kehidupan finansialku juga akan jadi lebih baik. Kehilangan Hanabi agak sedikit menecewakan sebab aku jadi tidak punya peliharaa. . maksudku seseorang untuk dijadikan pelampiasan rasa capeku.
Tapi menurtuku sendiri jika kami berpisah semuanya akan lebih baik. Untuknya dan juga untuku. Lagipula kami juga belum kenal terlalu lama, aku yakin kalau mereka bisa melupakanku dengan mudah.
"Apa kau ingin.. . . . aku pergi."
Pertanyaan itu.
"Apa boleh aku tidak menjawabnya untuk sekarang."
Meski mungkin aku tidak akan punya kesempatan untuk menjawab pertanyaanmu di lain waktu, tapi aku memang tidak bisa menjawanya sekarang.
"Udaranya mulai agak dingin kurasa kita perlu masuk."
Maaf karena sudah menghindari masalah, tapi diriku yang sekarang masih belum punya kekuatan untuk menghadapinya.
Ketika aku membalikan tubuhku dan mulai melangkah untuk masuk, bagian pinggang kaosku Hinata pegang dan membuatku langsung berhenti.
"Maafkan aku Naruto."
Kali ini Hinata mendekat. Dia melepaskan tangannya dari kaosku lalu kedua tangannya menggapai bagian samping perutku. Dia tidak menempelkan badannya padaku tapi aku masih bisa merasakan pelukan dari belakang yang dia lakukan setengah-setengah itu.
"Maafkan aku Naruto."
Hinata menempelkan keningnya ke punggungku.
"Selama ini semua orang selalu saja mengira kalau aku terpaksa menepati janji kakeku, bahkan Hanabipun berpikir sama."
Seorang gadis muda dijadikan jaminan untuk hutang kakeknya yang bahkan sudah dilupakan selama empat puluh tahun lebih. Dilihat dari manapun, jika si gadis mau melakukannya dia hanya mau karena terpaksa.
"Selain itu mereka juga berpikir kalau aku ini kesusahan dan kasihan."
Aku juga berpikir sama. Mau bagaimana lagi, seorang anak orang super kaya tiba-tiba harus jadi miskin, hidupnya yang serba berlebihan langsung berubah menjadi serba kekurangan. Kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Normal jika seseorang jika merasa kasihan padanya.
"Mereka mengira kalau aku sangat ingin kembali ke keluargaku."
Dipisahkan dari keluarganya sendiri harusnya sangat menyakitkan.
"Tapi Naruto."
Hinata meremas kosku di kedua bagiannya.
"Semua itu tidak benar! kau boleh berpikir aku ini idiot tapi memang begitulah yang terjadi.
Kau benar-benar idiot.
"Aku melakukannya atas kemauanku sendiri dan aku tidak menyesalinya! ya aku memang kesusahan mencari makanan tapi selain itu kehidupanku baik-baik saja! kau tidak pernah memberiku pekerjaan berat! aku bisa makan gratis! bahkan kau membiayai sekolahku! kemudian aku bisa bersantai seharian tanpa harus memikirkan image dan juga penampilan di depan orang lain! aku bisa melakukan apapun yang kumau! kehidupanku denganmu jauh lebih bebas dari kehidupanku di sana."
Mendengar kata-katanya sekarang aku jadi bingung dengan hubungan kami, sebenarnya aku ini ayahnya, pembantunya, atau tuannya?
"Aku bahagia di sini jadi aku tidak tidak butuh belas kasihan dan simpati mereka! bahkan aku tidak lagi rindu dengan keluargaku sebab jaraku dengan mereka jauh-jauh lebih jauh daripada orang asing."
Aku tersenyum. Aku tidak akan mempertanyakan bagaimana keadaan keluarga lamanya. Sebab sekarang, dia bukanlah bagian dari keluarga itu lagi.
"Naruto! aku tahu kalau kehadiranku menyusahkanmu, aku tahu kalau keberadaanku membuatmu dalam bahaya dan kau mungkin berpikir kalau lebih baik aku hilang saja! tapi. . . . ."
Kali ini Hinata mendekatkan tubuhnya padaku dan membuat pegangannya pada tubuhku jadi lebih erat.
"Tapi bersamamu membuatku bahagia! karena itulah aku tidak ingin berpisah darimu!."
Perkataanya tadi membuat jantungku merasa agak sakit, dan hal itu membuatku mau tidak mau menggerakan tanganku ke arahnya. Hanya saja rasa sakit yang tadi kurasakan itu entah kenapa membuatku senang.
"Jika kau menginginkanku untuk pergi maka aku akan pergi, tapi meski kau tidak menyukainya aku akan tetap mengatakannya!"
Hinata menghela nafas panjang, setelah itu akhirnya dia benar-benar memeluk Naruto. Menempelkan pipinya ke punggung pemuda di depannya sammbil merengkuh erat tubuhku.
"Aku ingin terus bersamamu."
Kami kembali diam.
"Kau datang seperti tornado, kau egois dan keras kepala, selain itu kau juga idiot! selain penampilanmu hampir tidak ada yang bisa kusukai secara natural! menyukaimu membutuhkan perjuangan dan usaha yang ekstra."
Pegangan tangan Hinata mulai melemah. Tapi aku balas memegang kedua lengannya.
"Aku tidak pernah bilang kalau aku menyukaimu! tapi aku juga tidak pernah bilang kalau boleh meninggalkanku begitu saja kan?"
Jika kau pergi, usahaku untuk menyukaimu akan sia-sia dan perasaan yang mulai kubangun beberapa detik yang lalu akan langsung hangus dan jadi debu.
"Urusanmu denganku sudah selesai tapi urusanmu dengan kakakku masih baru dimulai."
"Aku tahu itu."
"Dia kuat."
"Aku jauh lebih akan paham hal itu."
Untuk membuat kakakku membiarkannya tetap bersamaku, yang harus Hinata lakukan hanya satu. Membuatnya mengakui kalau Hinata lebih kuat darinya dan mampu melindungiku dari masalah macam apapun. Membuktikan kalau dia mampu mengatasi masalah yang dia buat sendiri.
Kakakku. Sebentar lagi kau akan bertemu masalah besar.
Hinata melepaskan pelukannya lalu menarik tubuhku untuk kembali menghadapnya.
"Aku boleh bertanya satu hal lagi tidak Naruto?"
"Tanya apa?"
Hinata mengeluarkan ponselnya lalu menunjukan sebuah gambar padaku.
"Bagaimana rasanya berada dalam foto ini?"
"Rasanya sangat luar biasa! tubuhnya benar-benar lembut dan juga hangat! kemudian ukuran tubuhnya yang kecil juga sangat nyaman untuk dipeluk. . . selain itu dia juga sangat wang. . . ."
Sialan! yang ditunjukan Hinata hanyalah fotoku yang sedang berada di atas tubuh Hanabi. Jika aku menjelaskan kalau kami sedang tidur karena dipengaruhi relic harusnya Hinata juga akan bisa percaya. Tapi kenapa aku menceritakan apa yang sudah kulakukan dengan Hanabi di dalam mimpi?
"Ooo. . . . begitu ya! jadi dia sangat lembut dan nyaman untuk dipeluk."
"Hinata! aku tidak benar melakukannya! yang tadi itu hanya ada di mimpi."
"Jadi kau memang berharap untuk melakukannya?"
"Bukan begitu! aku benar-benar hanya bermimpi. . ."
"Rasakan ini!."
Paginya, aku bangun dengan tubuh yang sangat pagal sebab aku tidur di lantai beranda semalaman. Salah, maksudnya dibuat tidur semalaman di lantai beranda.
notes.
Kogitsune maru = little fox.
Bukan style saya untuk membuat relationship developmentnya cepat (diburu-burkan malah), tapi fic ini idenya memang dibuat agar berbeda dengan fic saya yang lain.
Thanks yang udah baca sampai sini.
