Warning! Highly Suggestive Content. Dan saya nggak salah publish chapter.
1
Naruto sedang berada di belakang gedung tempatnya tinggal untuk meninggalkan salah satu anggota keluarganya yang baru saja meninggal. Ayahnya masih hidup, Ibunya masih hidup, dan meskipun dia tidak tahu kabarnya. Tapi kakak perempuannya juga sepertinya masih sehat-sehat saja.
Sepertinya.
Dia tidak bisa tahu pasti sebab selama dua tahun ini dia tidak pernah lagi pulang ke rumahnya, menghubungi keluarganya, atau bahkan mencoba memikirkan tentang mereka bertiga.
Yang dimaksud dengan keluarga di sini bukanlah orang tua maupun saudara kandung. Melainkan seekor kucing betina yang dia sudah pelihara sejak lima tahun yang lalu. Seekor hewan peliharaan pemberian kakak perempuannya yang sudah dia paksa untuk menemaninya selama dua tahun ini. Bahkan ketika dia tidak lagi bisa memberinya makanan.
Awalnya Naruto sendiri tidak menyukai kucing, atau lebih tepatnya dia tidak menyukai hewan peliharaan macam apapun. Mereka merepotkan, membutuhkan banyak perhatian, dan juga perlu dijaga dengan ketat agar tidak merusak barang seseorang. Kemudian yang lebih parahnya lagi adalah jika mereka berbuat salah, yang dimarahi bukan hewannya sendiri melainkan pemilikinya.
Tapi ketika kakaknya menghadiahinya seorang anak kucing, dia tidak bisa bilang 'tidak' meski dia tidak menginginkannya. Jadi pada akhirnya, dengan terpaksa dia memelihara dan merawat kucing itu bahkan sampai besar.
Di saat-saat itulah dia mulai bisa menyukai kucing peliharaanya secara alami. Dan ketika dia memutuskan untuk hidup jauh dari orang tuanya, dia memilih untuk hidup bersama dengan kucing peliharaanya itu.
Hanya saja.
Mulai sekarang, dia harus benar-benar hidup sendiri. Sebab teman yang dia sudah anggap seperti keluargannya itu sudah meninggal, dan dia baru saja selesai menguburkan tubuhnya di belakang gedung tempat dia tinggal sekarang.
"Sekarang apa yang harus kulakukan?"
Dia tidak punya hal yang harus dia kerjakan, dia tidak punya hal yang terlalu ingin dia kerjakan, dan dia bahkan tidak punya teman untuk sekedar bilang kalau dia benar-benar sedang bosan. Dia tidak ingin di luar dan terkena sinar matahari yang panas, tapi dia juga tidak ingin kembali ke kamarnya hanya untuk sekedar jadi bingung karena tidak tahu harus melakukan apa.
Orang-orang sepertinya adalah apa yang disebut dengan NEET. Not in Educational, Employment, or Training. Dengan kata lain mereka itu adalah orang pengangguran bodoh yang tidak ingin atau tidak bisa maju.
"Lebih baik aku segera ke kamar."
Dan kebanyakan dari mereka juga pemalas.
Seperti yang sudah Naruto duga. Begitu dia sampai di kamar dia langsung bingung dengan apa yang akan dia lakukan di ruangan itu. Dia hanya berbaring di atas kasurnya yang berantakan di dalam kamarnya yang lebih berantakan lagi.
Di atas meja kamarnya ada sebuah PC high end model lama yang sedang menganggur, tapi dia sedang tidak dalam mood untuk main game sebab semalaman dia sudah melakukannya sampai pagi. Dan karena internet ke tempatnya juga sedang putus, benda itu jadi semakin tidak berguna dan membosankan.
Orang-orang yang punya kemampuan teknis atau kreatifitas mungkin akan bisa menghasilkan sesuatu dengan komputernya, tapi sebab dia tidak terlalu paham dengan hal-hal semacam itu pcnya tidak punya fungsi lain kecuali media hiburan baginya.
Di rak lemarinya ada puluhan komik dan novel, tapi semuanya sudah dia baca dan membaca sebuah cerita di mana semua isinya sudah berhasil dia hafal adalah sesuatu yang tidak terlalu menyenangkan untuk dilakukan.
Dengan kata lain, membosankan.
"Sejak kapan aku jadi seperti ini? kapan aku salah melangkah?"
Mungkin. Daripada bosan, akan lebih tepat dibilang kalau dia merasa kosong.
Sama seperti remaja seumurannya, Naruto juga ingin melakukan hal-hal konyol dengan teman-temannya. Dia tidak pernah benci untuk melakukan kontak dengan orang lain, dan pada dasarnya dia juga bukanlah orang pendiam yang suka menyimpan semua hal untuk dirinya sendiri.
Setidaknya bertahun-tahun yang lalu, dia adalah orang seperti itu.
"Oh. . aku ingat, gara-gara hal itu aku memutuskan untuk jadi hikikomori."
Naruto bukanlah seorang anak yang pintar dalam masalah akademik. Malah bisa dibilang dia adalah seorang anak yang bodoh. Dia tidak bisa memahami apa yang gurunya ajarkan, dia tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang baru saja dia pelajari, serta yang terakhir. Dia tidak pernah membuka buku catatannya atau meminta jawaban pada teman-temannya saat test ataupun ujian sedang berlangsung.
Bukan karena dia sangat baik, tapi karena tidak ada yang mau merespon meski dia melakukannya.
Oleh sebab itulah, dia sering sekali mendapat remidial. Saking seringnya, dia bahkan sempat dikenal sebagai rajanya ujian gagal, yang pada akhirnya membuat Naruto harus terus-terusan menuju ruang guru untuk mendapatkan soal tambahan untuk mendongkrak nilai-nilainya supaya minimal bisa lolos dari batas standart.
Dan tanpa dia sadari, dia sudah menjadi standart di sekolahnya sendiri.
Jika Naruto bisa maka semua orang pasti bisa melakukannya.
Artinya Naruto berada di urutan bagian paling bawah. Dan hal itu tidak hanya berlaku untuk masalah akademik, melainkan semuanya. Tidak ada yang lebih bawah darinya, tidak ada yang lebih buruk darinya. Dia adalah yang terburuk dalam segala hal.
Adalah anggapan normal yang dimiliki oleh orang-orang di sekitarnya.
Dan itu tidak hanya terjadi di sekolah, melainkan juga di rumah.
Dia selalu dibanding-bandingkan dengan teman-temannya yang lain, di selalu diremehkan oleh keluarganya sendiri. Dia dianggap tidak bisa melakukan apa-apa dan tidak berguna.
Lalu, memiliki anak yang tidak berguna itu memalukan.
Karena itulah setiap hari kedua orang tuanya menyuruh Naruto untuk bekerja lebih keras, belajar lebih keras, dan jangan berhenti sampai apa yang mereka mau bisa terpenuhi dengan kalimat dan tindakan yang semakin hari semakin keras.
Dia mencoba dan dia gagal, dia mencoba lagi dan gagal lagi, dan setiap dia gagal orang-orang di sekitarnya akan semakin meremehkannya. Meski pada akhirnya dia mampu sedikit memperbaiki dirinya, tapi tetap saja kebanyakan orang tidak akan memperdulikan kemajuan kecil yang berhasil dia capai. Jika kau tidak bisa berlari berarti kau tidak bisa berjalan.
Orang-orang itu adalah termasuk orang tuanya.
Sehingga pada akhirnya Naruto berpikir.
Aku tidak mungkin bisa.
Aku tidak akan pernah bisa.
Tujuanku terlalu tinggi untuk bisa diraih.
Tidak ada gunanya untuk mencoba.
Pada akhirnya. Narutopun ikut meremehkan dirinya sendiri.
Dan karena apa yang ditugaskan padanya sudah tidak mungkin bisa laksanakan, dia menyerah untuk berusaha dan memutuskan untuk tidak mau lagi pergi ke sekolah. Yang jelas membuat keluarganya, terutama ayahnya marah besar.
Ayahnya marah besar pada Naruto. Tapi alasan marahnya bukan hanya karena Naruto berhenti sekolah. Dia juga sedang meluapkan kekesalannya sendiri. Dia marah karena teman kerjanya mengatai anaknya, dia kesal tetangganya bilang kalau Naruto itu tidak berguna, dan dia kesal karena Naruto menerimanya saja.
Hanya saja dia salah sasaran dalam meluapkan kekesalannya itu. Dan dia juga salah kalimat dalam menyampaikannya.
Dia meneriaki Naruto kalau dia itu bodoh, tidak berguna, pengecut, dan pecundang, dan di akhir kalimatnya. Dia mengatakan kata-kata yang seharusnya dia bahkan tidak boleh pikirkan.
"Aku sama sekali tidak ingin punya anak sepertimu."
Naruto sendiri tahu kalau ayahnya sedang kalap, dia tahu kebiasaan ayahnya yang tidak akan bisa berpikir saat dia sedang marah. Jadi dia juga tahu kalau ayahnya mungkin tidak benar-benar bermaksud mengatakannya.
Hanya saja. Kenyataan kalau ayahnya sudah mengatakannya membuat Naruto yang punya darah yang sama dengan ayahnya juga ikut naik emosinya.
Naruto memutuskan untuk pergi dari rumah dan ayahnya memutuskan untuk membiarkannya saja.
Naruto tidak tahu bagaimana dengan ayahnya, tapi dia menyesal sudah membiarkan emosi menguasai dirinya saat itu. Hanya saja sayangnya, dia tidak bisa membawa dirinya untuk meminta maaf pada ayahnya.
Entah itu karena malu, keras kepala, atau mungkin mereka merasa kalau semuanya sudah terlambat. Keduanya mempertahankan status quo dan memutuskan untuk tidak melakukan kontak satu sama lain.
"Kalau saja aku tidak melakukannya dulu."
Jika dulu dia langsung meminta maaf mungkin ayahnya akan mengampuninya dan dia tidak perlu pergi dari rumah.
Dia memang pergi dari rumah dan hidup sendiri, tapi biaya hidupnya masih ditanggung oleh kedua orang tuanya. Setiap bulan mereka akan mengiriminya uang untuk biaya hidupnya, bahkan yang mengurus semua kebutuhan finansial dan administrasi Naruto adalah kedua orang tuanya. Jika dia mendapat masalah merekalah juga yang akan menanganinya.
Dan selalu bergantung pada mereka saat dirinya sendiri menyusahkan mereka membuat Naruto malu pada dirinya sendiri.
Dia ingin minta maaf, pulang, dan mengurangi beban mereka. Tapi dia merasa kalau semua itu sudah terlambat, meski dia pulangpun mereka tidak akan menerimanya. Meski dia minta maafpun kedua orang tuanya tidak akan mau memaafkan anak tidak tahu malu sepertinya.
Semuanya sudah terlambat.
"Kenapa aku mengacak-acak kehidupanku sendiri?"
Dia menyesal membuat kehidupannya sendiri berantakan dan membuat orang lain susah gara-gara perbuatannya.
Dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk merubah apa yang sudah terjadi di masa lalu. Yang dia bisa lakukan sekarang hanyalah berbaring di atas kasurnya, menutup kedua matanya, meletakan lengan kanannya di atasnya lalu berusaha sekeras mungkin untuk melupakan apa yang baru saja dia pikirkan.
Ketika dia sudah mulai kehilangan kesadarannya.
Tok. Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Aku tidak bisa merubah kehidupanmu dan aku juga tidak bisa memberi kesempatan kedua padamu, tapi jika sekedar membantumu. . . . . . . "
Yang terdengar dari balik pintu adalah suara seorang wanita yang belum pernah dia dengar sebelumnya.
"Aku bisa melakukannya. . aku bisa membantumu untuk mengatur ulang hidupmu."
Sampai sekarang memang tidak ada satupun salesman yang pernah beriklan padanya dengan kalimat seperti itu. Tapi Naruto sendiri yakin kalau orang di balik pintunya punya maksud untuk menjual sesuatu padanya.
Dia sudah berkali-kali didatangi orang semacam itu, dan menanganinya adalah sesuatu yang sudah jadi bagian dari hidupnya. Di saat seperti ini, dia memutuskan untuk tetap diam dan tidak memberikan reaksi macam apapun. Dengan begitu, orang yang di luar akan mengira kalau di dalam tidak ada orang lalu diapun akan pergi dengan sendirinya.
Bagi orang lain mungkin menunggu seorang salesman yang sangat presisten untuk pergi adalah kegiatan yang sangat menyiksa. Tapi bagi Naruto yang tidak pernah punya rencana keluar dari kamarnya, melakukannya adalah hal yang sangat mudah. Dan kalau dilihat dari pengalamannya, tidak sekalipun dia pernah kalah dalam urusan buang-membuang waktu.
Semua salesman yang mendatanginya akan pulang dengan muka kesal dan tidak pernah lagi kembali.
". . . . . . ."
Naruto tidak bisa mendengar maupun merasakan kalau ada seseorang di luar sana, hanya saja dia tetap merasa kalau di sekitarnya ada orang lain kecuali dirinya sendiri. Karena itulah dia menyingkirkan lengannya dari atas matanya agar dia bisa melihat ke arah pintu untuk memastikan jika orang itu sudah tidak ada.
Hanya saja.
Ketika dia membuka mata. Yang dia dapati adalah wajah dari seorang gadis cantik yang sedang melihatnya dari jarak yang sangat dekat.
"Kenapa kau tidak membukakan pintu? kurasa kau agak tidak sopan padaku?"
Gadis itu menyangga dirinya dengan kedua kaki dan tangannya, dan dia menempatkan diri pada posisi yang terbalik dengan Naruto. Dan dalam posisi itu, pandangan Naruto jadi lebih terfokus pada bibir semerah ceri yang sedang mengerucut karena pemiliknya sedang marah.
Ada sangat banyak gadis cantik yang pernah dia lihat, entah itu secara langsung maupun tidak. Tapi begitu melihat gadis di atasnya itu, dia yakin kalau misalkan semua gadis itu dikumpulkan dalam satu tempat dia akan langsung bisa menemukan gadis itu dalam sekali coba.
Sampai sekarang, dialah gadis paling cantik yang pernah dia lihat.
Dia yakin itu.
Dan kecantikannya membuat Naruto untuk sesaat merasa sudah terbawa ke dunia lain.
Tapi begitu rambut lembut panjang gadis itu menyentuh pipinya, Naruto kembali sadar.
"Aku tidak tahu bagaimana caranya kau bisa masuk, tapi untuk pembukaan aku akan bertanya namamu."
"Aku ini Hinata, bagaimana bisa kau tidak ingat? aku datang untuk membalas kebaikanmu."
"Aku tidak kenal denganmu!."
"Jangan bilang begitu, kita sudah hidup bersama selama lima tahun dan kau baru saja menguburkanku."
"Hah?"
"Jangan lupakan aku secepat itu!"
Ada sesuatu yang tidak benar. Ada sesuatu yang tidak benar dari perkataan gadis di depannya.
"Aku ingin mengintrogasimu, apa kau tidak keberatan?"
Gadis itu memiringkan kepalanya kemudian tersenyum, setelah itu. Dia bilang.
"Baiklah."
Dan Narutopun memulai introgasinya.
Naruto duduk di atas kasurnya, sedangkan gadis tidak dikenal yang mengaku bernama Hinata itu duduk di lantai sambil menunggu Naruto untuk membuka pembicaraan. Naruto sendiri tidak tahu kenapa gadis itu mau menurut saja, tapi yang jelas kenyataan kalau dia tidak harus repot-repot bernegosiasi adalah hal yang bagus.
"Pertama, siapa kau."
"Seperti yang sudah kubilang, aku adalah Hinata! dan tolong beri aku makan tiga kali sehari, tempat tinggal, serta pakaian sebab aku akan menemanimu sampai waktu yang masih belum ditentukan untuk membantumu."
Naruto memegang keningnya.
Tidak hanya perkenalan gadis itu sama sekali tidak menjelaskan apapun, dia juga malah dengan santainya meminta Naruto melakukan hal-hal merepotkan dengan alasan agar gadis itu bisa membantunya.
Selain gadis di depannya mempunyai rasa percaya diri yang sangat besar kalau Naruto akan mengijinkannya untuk ikut tinggal, gadis itu juga sudah mengatakan sesuatu yang benar-benar bertolak belakang. Di saat dia ingin membantu dia malah jadi merepotkan.
"Memperkenalkan diri itu lebih dari sekedar memberitahukan nama ok! kau ini sebenarnya siapa? apa? dari mana? mau apa?"
Gadis itu kelihatan marah tapi meski begitu dia kembali mempersiapkan diri untuk melakukan perkenalannya yang kedua.
"Namaku Hinata, tempat tanggal lahir tidak ingat, janis kelamin betina, golongan darah belum pernah dicek, umur lima tahun."
"Kenapa kau tidak ingat, dan kenapa betina?"
Gadis itu tersenyum dengan puas seakan sudah berhasil melalui sebuah ujian berat, tapi lain dengannya. Naruto malah jadi tambah bingung dan dia kembali memegangi keningnya menahan diri untuk tidak buru-buru untuk menendang gadis itu keluar dari kamarnya.
"Dan aku ini adalah kucingmu yang baru saja mati tadi pagi."
Naruto tidak memberikan reaksi macam apapun sehingga gadis bernama Hinata itu terus melanjutkan penjelasan tentang asal-usulnya pada Naruto.
Hinata adalah jelmaan dari kucing peliharaan Naruto yang juga bernama Hinata, yang kebetulan juga tadi pagi baru saja mati. Dia datang kembali pada Naruto untuk membalas kebaikan pemuda itu padanya selama beberapa tahun ke belakang, dan penampilannya yang sekarang adalah hasil dari keinginan terdalam Naruto.
Hal itu bisa terjadi karena sebuah relic berada pada tubuh Hinata. Relic yang dia maksud adalah sebuah kalung hewan peliharaan dengan bel besar tergantung di bagian tengahnya. Seperti kalung milik doraemon.
"Dan yang kumaksud relic di sini bukan barang antik."
Di dunia ini ada benda yang bernama Relic.
Mereka bukan benda lama ataupun benda seni peninggalan jaman dulu yang punya nilai artistik tinggi, melainkan sebuah alat yang mempunyai kekuatan khusus. Mereka mendapatkan kekuatannya dari seseorang yang memang mempunyai kekuatan supranatural, dari benda supranatural lain, atau dari perasaan pemiliknya yang menumpuk dan mempengaruhi keadaan spiritual dari benda-benda itu.
Contohnya paling gampangnya adalah batu yang membawa keberuntungan, boneka yang rambutnya tumbuh saat malam hari, atau cermin yang memperlihatkan penampilan seseorang di masa depan. Dan yang paling sering didengar adalah mungkin pedang yang kalau dicabut akan membuat dunia jadi hancur.
Benda-benda itu sering muncul di dalam dongeng dan game, tapi mereka tidak dianggap hanya sekedar fantasi sebab tidak pernah ada yang melakukan kontak dengannya. Atau lebih tepat dibilang kalau mereka menganggap jika mereka tidak pernah melakukan kontak kontak dengannya.
Hal-hal yang disebabkan oleh relic biasanya tidak masuk akal, dan hal-hal yang tidak masuk akal biasanya akan dianggap sebagai kebetulan ataupun sekedar hanya halusinasi.
Sebagian orang tidak memperdulikannya, sebagiannya tidak percaya dengan keberadaanya, lalu sebagiannya lagi malah tidak tahu apa itu relic.
Sayangnya relic itu lebih umum dari apa yang orang-orang pikirkan, mereka ada di depan kita hanya saja kita tidak menyadarinya. Membawa keburukan atau kebaikan tergantung dari pemiliknya.
"Jangan sembarangan menyalin karya orang lain dasar gadis bodoh! cepat minta maaf pada penulisnya!."(1)
"Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!."
"Jangan sok polos!."
"Yang jelas. . . "
Relic yang Naruto berikan pada Hinata hanya bisa berguna pada seekor hewan peliharaan, jadi benda itu tidak akan bisa digunakan pada manusia.
Relic itu akan aktif saat seekor hewan peliharaan menolak untuk mati karena masih punya hal yang perlu dilakukan pada pemiliknya, dan penampilannya sekarang yang sekarang adalah juga karena relic yang dikenakannya.
Relic itu membuat jiwa dari hewan peliharaan yang mengenakannya berubah ke penampilan yang paling diinginkan oleh pemiliknya. Dengan tujuan agar si pemilik mau memperhatikan si hewan peliharaan. Dan hal itu masih tetap berlaku meskipun keinginan dari si peliharaan adalah hal yang buruk.
"Ok sekarang aku paham, jadi kau bukan gelandangan yang ingin numpang ataupun seseorang yang disuruh keluargaku untuk membawaku pulang."
Hinata mengangguk dengan semangat. Dan sebenarnya Naruto agak kecewa sebab dia agak berharap Hinata membawa tugas dari keluarganya sebab dengan begitu dia jadi punya alasan pulang.
"Kau ini Hinata, alias kucing peliharaanku yang baru saja mati dan menjelma menjadi gadis cantik agar bisa membantuku."
Hinata kembali mengangguk. Kali ini dengan mata yang berbinar sebab dia berpikir akhirnya Naruto bisa percaya apa yang dia katakan.
"Kalau begitu cobalah bertingkah seperti kucing! kalau mirip aku akan tidak akan banyak tanya lagi! kau bisa melakukannya kan?."
"Nyaaa. . . ."
"Hah?"
Yang Hinata ingin lakukan adalah mencoba mengeong, tapi jelas suara yang keluar dari mulutnya sama sekali tidak kedengaran mirip dengan kucing yang sesunggunhnya. Dan karena hal itu dia terus mencoba dan mencoba sampai pada akhirnya Naruto memutuskan untuk menghentikannya karena merasa sangat terganggu.
"Stop! Stop!, coba lakukan yang lain!."
Hinata menekuk pergelangan tangannya lalu menggaruk kepalanya menggunakan bagian belakang talapak tangannya. Dan meski gerakan itu sama seperti sebelumnya, tidak mirip kucing. Tapi Naruto merasa ingin melihatnya lebih lama. Sebab gerakan itu kelihatan lucu.
Tapi sebelum meminta hal lain yang aneh-aneh, dia segera sadar dan meminta Hinata berhenti melakukannya.
"Tubuh manusia benar-benar menyusahkan! bagaimana kalian bisa hidup dengan tubuh semacam ini? benar-benar tidak flexible!"
"Aku juga akan bilang begitu kalau tiba-tiba aku berubah jadi kucing."
"Kalau begini aku akan melakukan hal yang hanya bisa dilakukan oleh seekor kucing agar kau tidak ragu lagi."
Hinta menjilat ujung jarinya, setelah itu dia menjilat punggung tangannya, kemudian dia terus menjilat lengannya sampai ke pundak.
"Baju ini menyusahkan sekali!."
Hinata melepaskan kancing dari kemeja yang dia kenakan. Sebuah kemeja milik Naruto yang dia jemur tadi malam.
"Apa yang mau kau lakukan?"
"Mandi, semua kucing mandi dengan cara ini sebab kami tidak suka air, apa kau mau mencobanya juga Naruto?"
"Berhenti kau! Stop di situ! ok kau boleh tinggal tapi berhentilah sekarang juga!."
Kalau dilanjutkan terus mungkin gadis itu akan benar-benar melakukan mandi kucing setelah melepaskan pakaiannya yang hanya terdiri dari kemeja tipis itu. Naruto ingin melihatnya, tapi setelah memikirkan konsekuensi yang akan diterima jika terjadi sesuatu yang tidak diduga membuatnya sadar kalau tindakan gadis itu harus segera dihentikan.
"Benarkah?."
"Benar, benar, tapi aku punya beberapa syarat tambahan kau bisa menurutinya kan?"
Hinata dengan semangatnya langsung mengangguk.
"Jangan merepotkanku, jangan meminta yang aneh-aneh dariku, dan yang terakhir kau harus membantuku."
Naruto tidak pernah punya pengalaman mengurus orang sebelumnya, jadi dia mengurus Hinata adalah hal yang sudah tidak mungkin secara fisik dan mental. Memang Hinata bilang kalau dia adalah perwujudan dari kucingnya yang sudah mati, tapi Hinata yang sekarang adalah manusia. Dan cara merawat manusia itu berbeda dengan kucing.
Selain itu Naruto juga masih belum percaya kalau gadis itu adalah makhluk supranatural.
Naruto sendiri masih mengandalkan dana dari orang tuanya untuk bisa bertahan hidup bahkan sampai sekarang, jadi bisa dibilang dia selalu punya masalah keuangan. Jika Hinata menginginkan sesuatu darinya dia harus mengorbankan sesuatu agar bisa mendapatkannya.
Dan dia tidak mau melakukan hal semacam itu hanya demi seorang gadis yang tidak jelas asal-usulnya itu.
Naruto itu adalah pemalas kelas kakap, bahkan baginya sekedar keluar rumah dan bertemu orang lain saja sudah sangat merepotkan. Karena itulah dia sering mendapat masalah jika dia ingin melakukan resupply barang-barangnya.
Jika Hinata ingin tinggal gadis itu harus berguna baginya. Setidaknya kalau gadis itu bisa menggantikannya keluar Naruto akhirnya bisa menjadi hikikomori sejati. Hikikomori yang tidak pernah perlu keluar dari ruangannya.
"Aku janji akan banyak membantu dan tidak akan menyusahkan."
Sebab dia mendapat kesempatan untuk bisa bersama lagi dengan Naruto adalah agar dia bisa membantu tuannya itu. Dan Hinata mengekspresikan rasa bersukurnya itu dengan sebuah senyum murni.
"Ugh. . ."
Sebuah senyum yang sempat membuat Naruto merasa kalau jantungnya berhenti untuk sesaat.
"Aku mengijinkanmu tinggal di sini, tapi aku masih tidak percaya kalau kita itu pernah saling kenal jadi tolong jangan bertingkah terlalu akrab denganku! hikikomori itu punya jantung yang lemah."
"Kau masih tidak percaya?. . . aku harus apa lagi agar kau bisa percaya."
"Kau bilang kalau kau ingin kuberi tempat tinggal kan? kalau begitu masalah sudah selesai! percaya atau tidaknya aku pada kata-katamu tadi tidak penting lagi."
"Penting! kalau kau tidak percaya padaku semua hal yang kulakukan nanti tidak dikreditkan padaku."
"Ha?"
"Yang jelas aku butuh kau untuk percaya kalau aku adalah Hinatamu yang dulu."
Dari raut wajahnya, Naruto bisa menebak kalau gadis itu benar-benar serius dengan apa yang dia katakan. Hanya saja, ceritanya terlalu imajinatif untuk bisa dipercaya begitu saja. Dia sendiri ingin percaya, sebab apa yang terjadi di dunia manga dan anime bisa terjadi dalam kehidupannya kedengaran sangat menarik.
Hanya saja, pikiran rasionalnya menolak untuk mau percaya.
"Membuktikan dirimu adalah mantan kucing sudah tidak mungkin jadi kalau kau ingin aku percaya kalau kau ini Hinata yang dulu kau harus menyamakan ingatanmu denganku."
"Maksudnya?"
Naruto adalah seorang hikikomori. Dia tidak pernah keluar dari ruangannya kecuali dia benar-benar perlu melakukannya. Dan saat dia sedang berada di dalam ruangannya, dia tidak pernah membiarkan siapapun bisa melihat ke dalam. Karena itulah harusnya tidak ada orang lain yang mengetahui apa yang dia lakukan di dalam.
Harusnya yang bisa tahu hanya dua orang. Salah, satu orang dan satu kucing. Jadi jika Hinata yang bisa memberitahukan pada Naruto apa yang dia pernah lakukan di dalam ruangannya bersama dengan Hinata yang dulu dia bisa mempercayai kata-kata gadis itu.
"Aku tidak akan memberikan perintah spesifik seperti tanggal, jadi kau bisa mengarang sesuatu dan berharap secara kebetulan mengenai sasaran."
Hinata mengerucutkan bibirnya sebab merasa diremehkan.
"Gampang! Saat hari pertama kau ke sini dan barang-barangmu belum sampai kau kebosanan setengah mati, saat itu kau menemukan sebuah majalah dan terus melihat modelnya sambil melakuka. . "
"Stop! stop! stop!."
"Sebulan yang lalu, tetanggamu membawa keponakannya yang masih kecil lalu karena dia sangat manis kau selalu mencari-cari alasan untuk keluar dan memotretnya secara rahasia. . "
"Sudah kubilang stop!."
"Aku bahkan tahu di mana folder tempat kau menyimpan foto-foto itu. . ."
"Kumohon berhentilah. . . . ."
"Aku masih punya banyak stok . "
"Aku tidak ingin mendengarnya! aku tidak ingin mendengarnya! maafkan aku sudah meragukanmu! aku percaya! aku percaya kalau kau adalah Hinata yang dulu!."
"Hehe!."
Semua yang dikatakan Hinata tepat sasaran, dan semua rahasia memalukan itu tidak mungkin diketahui oleh orang luar yang tidak kenal dengannya. Hanya orang yang selalu bersamanyalah yang bisa tahu semua itu.
"Kalau begitu. . mulai hari ini tolong jaga aku lagi."
Hinata kembali memberikan senyumannya.
2
Awalnya Naruto sempat khawatir kalau dia tidak bisa menjalani kehidupan barunya bersama Hinata dengan baik. Tapi setelah seminggu bersama gadis itu di dalam ruangannya yang kecil itu, dia tidak lagi merasa kalau mereka berdua asing pada satu sama lain.
Dia merasa kalau tidak ada jarak di antara mereka, dia merasa kalau mereka adalah kawan lama, dan dia merasa kalau dia tidak perlu menahan diri di depan gadis itu dan menjadi dirinya sendiri.
Rasa tidak amannya ketika berhadapan dengan orang lain tidak dia rasakan ketika berada di dekat Hinata. Dan meski hal yang dia lakukan di dalam ruangannya memang hanya itu-itu saja, tapi dia sama sekali tidak merasa bosan.
"Aku benar-benar bosan."
Sayangnya hanya Naruto yang merasa begitu.
"Kau sadar tidak dengan apa yang sudah kau lakukan Hinata?"
"Memangnya apa yang sudah kulakukan?"
"Kau menghancurkan imajinasiku dan kau juga sudah merusak imagemu yang sudah kubuat!."
"Tapi aku benar-benar bosan!."
"Jangan banyak mengeluh!."
"Kalau kau tidak ingin aku mengeluh biarkan aku main juga, melihat dan bermain game itu rasanya beda."
"Kalau tidak salah bukankah kau bilang kalau tidak akan menyusahkanku? lalu bukankah aku juga sering meminjamimu komputer ini?"
"Bukan itu masalahnya! aku ingin bermain bersamamu!"
Jika ada poin
Game yang dimainkan Naruto adalah game petualangan yang bisa dimainkan dalam mode co-op oleh maksimal empat orang. Hanya saja sebab dia tidak punya teman dia hanya memiliki satu controller dan juga selalu bermain solo.
Hinata juga memainkan game yang sama, tapi disuruh untuk untuk membuat user baru dan memulai gamenya dari awal dalam mode solo. Mereka bermain game yang sama, tapi pengalaman yang mereka rasakan jauh berbeda sebab karakter dan level yang mereka mainkan terpaut sangat jauh.
Apa yang dia lakukan dengan susah payah selalu saja dianggap mudah oleh Naruto, dan Hinata tidak suka main sambil dikomentari dan juga diremehkan di saat yang bersamaan. Selain itu, saat Naruto membicarakan game itu Hinata sama sekali tidak bisa mengerti satu halpun. Dan itu membuatnya lebih sebal lagi.
"Kalau kau sebegitunya ingin bermain bersamaku, aku bisa membelikanmu controller baru."
"Benarkah?"
"Ya."
"Kalau begitu ayo kita beli sekarang juga."
Dengan wajah penuh semangat Hinata sudah bersiap untuk berdiri dan melesat keluar. Hanya saja Naruto tetap duduk dan fokus pada gamenya.
"Tapi sebelum itu. . ."
Naruto memandang ke arah Hinata dengan muka serius.
"Sebelum itu?"
"Kau suka yang mana? makan dua kali sehari selama enam hari? makan satu kali sehari selama tiga hari? atau tidak makan selama dua hari?"
Hinata mundur dari tempatnya.
"Pilihan macam apa itu? dan kenapa tidak ada pilihan yang kedengaran bagus?"
"Kau masih ingat kalau aku ini NEET kan?"
Dengan kata lain Naruto tidak punya penghasilan, dan satu-satunya sumber dananya hanyalah uang kiriman kedua orang tuanya yang hanya pas untuk biaya kehidupannya perbulan. Jika dia ingin membeli sesuatu dia harus menyisihkan uang dan mengorbankan sedikit keperluannya.
Maksudnya, keperluannya dan Hinata.
"Ini pilihan yang sangat sulit tapi aku juga ingin segera bermain."
"Jadi?"
Hinata menelan ludahnya.
Hari selanjutnya, puasa merekapun dimulai.
Rute yang Hinata pilih adalah rute tengah, dia memilih untuk makan sebanyak tiga kali untuk tiga hari. Tapi di hari pertamanya, Hinata langsung menyesali keputusannya.
"Aku tarik kembali permintaanku Naruto, aku tidak butuh controller lagi! yang kubutuhkan sekarang adalah makanan."
Yang berpuasa tentu saja bukan hanya Hinata melainkan juga Naruto, mereka berdua sama sekali belum memakan apapun dari pagi. Naruto juga kelaparan dan dia juga punya hak untuk mengeluh lalu minta menyerah, tapi dia tidak melakukannya dan memutuskan kalau mereka berdua hanya boleh makan saat jam enam sore.
"Jangan menyia-nyiakan usaha dan semangatku Hinata!."
Alasannya tidak mau menyerah adalah karena dia tidak mau menderita tanpa mendapatkan apa-apa, selain itu keadaan mereka diperparah dengan sikap keras kepalanya yang berasal dari Ayahnya.
"Tapi aku lapar."
"Aku juga!."
Biasanya, di saat-saat seperti ini dia sedang membaca tapi hari ini dia hanya berbaring di atas lantai dengan Hinata yang sedang menonton tv untuk mencoba melupakan rasa laparnya. Kelemasannya bahkan sudah ada pada taraf tangannya akan bergetar saat memegang sesuatu.
"Kucing itu hewan nocturnal kan? bukankah biasanya mereka itu tidur di siang hari?
"Aku ingin menonton sesuatu nanti sore."
"Aku akan membangunkanmu?"
"Kalau begitu bangunkan aku jam tiga sore."
"Hah. . ."
Hinata berdiri dan segera berjalan menuju kasur dan menjatuhkan dirinya di atas benda itu, lalu dalam beberapa saat gadis itu langsung diam. Dan meski sebenarnya dia sudah tidur dalam waktu yang sangat lama sejak tadi malam, begitu tubuhnya menyentuh selimut dalam sekejap saja gadis itu langsung hilang kesadaran.
Jika bisa Naruto juga ingin melakukan hal yang sama, tapi rasa laparnya benar-benar mengganggu. Cukup mengganggu untuk membuatnya akan mimpi buruk saat dia sedang tidur.
"Bagaimana ini?"
Permintaan Hinata kali ini memang sederhana, dan untuk mengabulkan permintaan kecil itu mereka berdua hanya perlu berpuasa selama tiga hari. Tapi mereka berdua tidak bisa terus hidup seperti ini.
Hinata berjanji tidak akan menyusahkannya, jadi ada kemungkinan besar dia tidak akan meminta benda yang aneh-aneh. Tapi meskipun gadis itu tidak meminta sesuatu darinya kebutuhannya tetap harus dipenuhi.
Selain makanan dan tempat tinggal, Hinata juga perlu pakaian baru ASAP(2). Selama tiga bulan ini Hinata selalu mengenakan pakaian Naruto, tapi hal itu tidak bisa dibiarkan terlalu lama. Koleksi busananya tidaklah terlalu banyak, dan juga sebab pakaian laki-laki dan wanita itu pada dasarnya punya desain yang berbeda masalah size di berbagai bagian membuat Naruto sering mengalami serangan jantung ringan.
Kebanyakan t-shirtnya terlalu panjang dan ketat untuk Hinata, dan itu membuat gadis itu jadi kelihatan seperti tidak memakai apa-apa di balik bajunya. Kemejanya punya ukuran yang lebih besar dari ukuran tubuh Hinata, hanya saja bagian dadanya selalu saja jadi sumber masalah. Celana yang Naruto miliki punya ukuran yang pas di depan tapi bermasalah di belakang, membuat lekuk tubuh gadis itu bisa terlihat dengan jelas.
Dan yang terakhir, Naruto tidak punya pakaian dalam wanita dan tentu saja dia tidak bisa menyuruh gadis itu mengenakan pakaian dalamnya. Jadi sekarangpun gadis itu tidak mengenakan dalaman.
Di balik selimutnya, Hinata hanya mengenakan sebuah jaket kebesaran dan celana pendek. Jika Naruto ingin melihat pemandangan bagus dia hanya perlu menarik sedikit selimut yang dikenakan gadis itu.
Naruto menggeleng-gelengkan kepalanya. Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal itu. Jika dia tidak berhenti memikirkan tubuh Hinata sekarang juga dia yakin kalau dia akan langsung melompat ke kasur di mana gadis itu berada.
"Aku butuh uang tambahan!."
Ada maslah yang lebih penting untuk dipikirkan.
Masalah sudah muncul, cara menyelesaikannya juga sudah ditemukan. Naruto memerlukan tambahan dana untuk kehidupannya dan untuk mendapatkan suntikan dana itu yang perlu dia lakukan itu hanya satu. Bekerja.
Tapi dia sama sekali tidak lupa kalau dia itu NEET.
Dia tidak lulus sekolah dan dia juga tidak sedang sekolah. Dia tidak punya skill yang kira-kira bisa berguna dalam kehidupan sehari-hari dan dia juga tidak punya kemampuan berkomunikasi yang baik untuk bisa meloloskanya interview lamaran kerja.
Dan yang terakhir. Dia sama sekali tidak mau meninggalkan ruangannya.
Naruto menggeret tubuhnya menuju komputer yang berada di dekat jendela ruangannya. Dia naik ke kursinya dan sedikit membuka jendelanya untuk membiarkan udara masuk. Dia menghidupkan komputernya dan iseng mulai browsing tentang bisnis online.
Dia membaca banyak artikel tentang bagaiamana langkah-langkah memulai usaha secara online. Hanya saja sebagian besarnya dia tidak bisa aplikasikan sebab yang dibahas kebanyakan adalah tentang menjual barang atau jasa.
Dan baginya yang tidak punya koneksi dengan orang lain, modal, serta pengetahuan teknis tentang internet dan juga bisnis. Syarat yang harus dia penuhi terlebih dahulu terlalu banyak dan memakan waktu,
Ada metode lain semacam memasang iklan di blog pribadi, tapi jika dia tidak mendapatkan banyak traffic dia sendiri yakin kalau sembilan puluh persen space iklan yang dia sediakan tidak akan ditempati siapapun.
Menulis konten yang menarik itu susah, menaikan traffic itu susah, dan mengiklankan webnya pada orang lain jauh lebih susah lagi. Kecuali dia memasang konten porno ataupun menulis hal yang benar-benar menarik perhatian, tidak mungkin dia mendapatkan traffic banyak dalam waktu singkat.
Google saja perlu waktu bertahun-tahun untuk jadi besar.
Lagipula, dari judul artikel yang dia baca 'kaya dengan internet' target yang ditunjukan terlalu tinggi. Naruto tidak ingin sekaya Larry dan Sergey (3). Yang dia inginkan hanyalah menapatkan sedikit tambahan dana untuk kehidupannya.
"Ini. . . . ."
Begitu Naruto menscroll lebih jauh ke bawah page yang sedang dibacanya, dia menemukan sebuah pekerjaan yang tidak diulas dengan terlalu detail. Bayarannya kecil dan pekerjaannya tidak stabil karena tidak selalu ada.
"Translator ya?"
Naruto mengklik sebuah link yang meredirectnya ke sebuah situs translasi komersial. Hal pertama yang dia lihat dari page itu adalah syarat-syarat membershipnya.
Tidak diperlukan data diri yang terlalu detail, untuk melakukan registrasi juga tidak diperlukan biaya. Yang harus Naruto lakukan hanyalah memberikan nama, jenis kelamin, tanggal lahir, dan alamat e-mailnya.
Tidak ada syarat minimum pendidikan, user bisa memilih apa yang mau ditranslasikan, file akan dikirimkan lewat e-mail dan jika proses translasi sudah selesai maka file translasinya harus diupload lewat akun si yang bersangkutan. Begitu hasil translasi diperiksa kualitasnya dan diberi persetujuan maka pembayaranpun akan langsung dikirim lewat .
Bayaran dihitung berdasarkan jumlah kata, setiap sepuluh ribu kata user akan dibayar dengan nilai yang sangat sedikit yaitu satu setengah dolar. Tapi jika sebuah file yang ditranslasi kurang dari itu maka user akan tetap mendapatkan bayaran minimal yang sama yaitu satu setengah dolar.
Untuk orang yang berada di amerika maupun eropa, angka satu dolar itu sangatlah sedikit. Tapi bagi Naruto yang jauh dari kedua benua itu, nilai yang dia bisa dapatkan dengan pekerjaan itu bisa dibilang cukup. Tidak besar tapi juga tidak kecil.
Di saat-saat seperti ini, Naruto agak berterima kasih dengan nilai tukar mata uangnya yang lemah.
Dia melakukan sign up dan dan melakukan aktivasi akunnya lalu masuk ke dalam profile pagenya, di sana ada serangkaian test dulu yang harus dilewati sebelum bisa mendapatkan job offer. Dari test itulah nanti akan diputuskan apakah Naruto pantas untuk mendapatkan job atau tidak.
Selama beberapa jam selanjutnya, Naruto fokus pada quiz dan berbagai macam latihan yang diberikan padanya. Tentu dia banyak mengalami kegagalan sebab mau bagaimana lagi? dia tidak menerima pendidikan formal selama tiga tahun jadi kebanyakan grammer dasar yang dipeljarinya dia sudah lupakan.
Satu-satunya hal yang dia bisa banggakan hanyalah koleksi kosa katanya yang berlimpah hasil dari pengalamannya menonton film dan main game.
Setelah melewati banyak test dan mempelajari basic grammer, Naruto akhirnya mendapatkan job offernya yang pertama. Hasil testnya menunjukan kalau hasil translasinya akurat dan natural, tapi sayangnya begitu kalimat panjang seperti majalan dan koran muncul Naruto mulai menuliskan banyak kesalahan.
Karena itulah, tugas pertama Naruto adalah mentranslasikan e-mail pendek secara dua arah.
e-mail yang akan ditranslasikan akan masuk ke hosting e-mail internal terlebih dahulu lalu ditranslasikan secara otomatis setelah itu hasil translasinya akan direroute kepadanya setelah informasi-informasi sensitifnya sudah disembunyikan.
Tugasnya sendiri sangat simple, dia memeriksa kualitas dan melakukan editing terhadap text yang masuk pada akunnya. Pekerjaannya simple, tapi dia dituntut untuk terus berkonsentrasi dan memberikan reaksi secepat mungkin. Pekerjaan semacam ini ada karena terjemahan dari komputer kadang salah dan terlalu kaku serta sulit dipahami.
Selama dua jam tepat, Naruto tidak bisa meninggalkan kursinya dan matanya tidak bisa melihat ke arah lain meski sekejap. Dan konsentrasinya itu membuat tubuhnya lupa kalau dia sedang kelaparan.
Dan ada satu hal lagi yang dia lupakan.
"Narutoooooo!."
"Jangan berteriak di samping telingaku Hinata."
"Aku melakukannya karena kau tidak meresponku sedikitpun."
"Oh."
"Jangan cuma oh! kau janji akan membangunkanku jam tiga! sekarang lihat jam berapa sekarang!"
Naruto melihat ke bagian kanan atas komputernya.
"Jam lima sebelas."
"Uuuuu!. . . . kau harusnya merasa bersalah! kenapa kau menjawabku dengan tenang seperti itu!?"
"Maafkan aku, tapi sehari lagi kau juga bisa melihatnya di youtube."
"Bukan itu masalahnya!.."
"Kau mau es krim tidak?"
"Jangan menyogoku dengan makanan! kau kira aku semudah itu ditipu!?"
"Bagaimana kalau burger?"
"Sudah kubilang jangan menyogoku!."
"Pizza?"
"Aku mau!."
Narutopun memesan pizza untuk makan malam, sarapan, dan makan siang mereka berdua. Bayarannya tidak bisa dia ambil sekarang dan meski bisapun dia ingin mencoba menyimpannya dulu untuk hal lain.
3
Controller yang diminta Hinata sudah mereka dapatkan, selain itu Hinata juga susah sukses membeli pakaian dalam untuk dia kenakan sebagai pengaman mata Naruto sebulan yang lalu.
Seperti yang sudah dijanjikan, Hinata datang adalah karena ingin membalas kebaikan Naruto. Oleh sebabnya, Hinata selalu berusaha membantu Naruto dalam banyak hal. Kegiatan seperti belanja keperluan mereka berdua, membayar tagihan, dan banyak hal lain yang perlu berinteraksi dengan orang lain diserahkan pada Hinata.
Katanya kucing itu adalah hewan solitude, tapi dengan mudahnya gadis itu bisa melakukan interaksi sosial bahkan lebih baik dari Naruto yang dulu.
Dengan diurusnya masalah outdoor itu harusnya Naruto bisa tenang. Tapi sayangnya dia tidak bisa setenang itu sekarang, sebab dari pagi ponselnya terus saja berbunyi dan yang menghubunginya adalah orang yang sama.
"Naruto. . setelah dari lampu merah ke mana lagi?"
"Kalau ingatanku benar, aku sudah mengatakan berkali-kali kalau kau tidak harus melewati lampu merah untuk pergi ke halte yang hanya satu kilo dari sini."
"Apa iya?"
"Iyaaaa!."
"Kalau begitu aku akan kembali dan meminta instruksi tambahan."
"Rrrrrrrr….."
"Naruto?"
"Argh!."
"Kenapa kau Naruto? apa ada yang sakit."
"Ada! kepalaku!."
"Kalau begitu aku akan segera pulang dan membawa obat!."
Sebelum Naruto sempat menjelaskan apapun, Hinata langsung menutup telpon umum yang dia gunakan dan langsung berlari dengan sekuat tenaga menuju ke tempat Naruto.
Sejak pagi hari, hal seperti itu terus saja terjadi dan terulang.
Tabungan Naruto dan bayarannya yang kecil sebagai translator sudah terakumulasi lumayan banyak. Dengan uang itu dia berniat untuk membelikan Hinata pakaian casual yang bisa dia kenakan saat menjalankan tugasnya membantu Naruto tanpa harus menjadi pusat perhatian.
Tapi sebab dia tidak tahu selera gadis itu dan dia juga adalah orang yang anti keluar ruangan, dia memutuskan kalau memberikan uang dan menyuruh Hinata pergi sendiri adalah keputusan yang terbaik. Gadis itu bisa belanja sendiri saat membeli keperluan mereka berdua, jadi rasa percaya diri Naruto sama sekali bukan tanpa landasan.
Hanya saja.
"Naruto. . apa kau tidak apa-apa."
"Secara fisik iya, secara mental tidak."
"Apa kita perlu ke rumah sakit jiwa?"
"Aku butuh minum."
Tanpa banyak bicara, Hinata memberikan minuman yang dia beli pada Naruto. Setelah menelan beberapa tegukan, akhirnya Naruto kelihatan tenang. Dia menarik nafas dalam lalu bertanya pada Hinata.
"Bagaimana bisa kau bisa tersesat saat tujuanmu saja bisa dilihat dari sini?"
"Aku tidak pintar menghafal jalan."
"Lalu bagaimana kau bisa terus pulang setelah bahkan tersesat sangat jauh?"
"Kucing tidak pernah lupa jalan pulang! sebab aku sudah menandai area ini sebagai daerah kekuasaanku."
Naruto tidak ingin bertanya bagaimana cara Hinata menandainya. Dia hanya bisa berharap kalau Hinata tidak menandai tempat tinggalnya seperti seekor kucing.
"Kemampuanmu itu benar-benar ada pada level lain."
"Ehehe. . aku jadi malu."
"Aku tidak memujimu!."
Naruto memukul keningnya. Kembalinya Hinata bahkan sebelum sukses berangkat adalah sudah yang ke tuju kalinya. Untuk suatu alasan gadis itu bisa menghafal jalan menuju supermarket tapi selain ke sana tidak ada tempat yang bisa dia kunjungi tanpa harus tersesat terlebih dahulu.
Meski memang gadis itu selalu bisa pulang, tapi kalau begini terus usahanya sama sekali tidak akan menghasilkan apapun kecuali rasa capek.
"Uangku sakuku sudah mulai habis untuk menelponmu."
"Ugh. . . "
"Daripada menyuruhku pergi sendiri apa tidak lebih murah kalau kau mengantarku?"
Saran polos Hinata tentu sudah Naruto pikirkan dari awal, tapi bagi Naruto keluar dari kamarnya adalah hal yang jauh lebih sulit dari sekedar tidak makan selama tiga hari. Sebagai orang hampir tidak pernah keluar dari ruangan, menemui orang lain itu rasanya sama seperti saat dia merasa jadi orang lain di kelasnya sendiri setelah membolos beberapa hari.
Selain itu, karena dia tidak terlalu akrab dengan dunia luar dan juga tidak pernah menggenapkan pendidikannya Naruto sedikit mengalami inferiority complex(4) saat berhadapan dengan orang lain. Dia tahu kebanyakan orang tidak akan terlalu memperdulikan kehadirannya, tapi sama seperti hantu meski tidak terlihat semua orang punya rasa takut terhadapnya.
"Naruto. . "
Hinata melihat wajah kesusahan Naruto, dan hal itu membuatnya merasa bersalah. Dia datang adalah untuk membantu Naruto, tapi jika dia malah membawa masalah untuk pemuda itu. Yang artinya kebaradaanya di sini tidak ada gunannya.
"Bagaimana kalau kita batalkan rencana ini? lagipula area jelajahku kan tidak terlalu luas dan paling cuma di sekitar sini saja, kemudian sebagaian besar waktuku juga kuhabiskan di dalam ruangan bersamamu dan orang lain tidak bisa melihatnya."
Tidak diberitahupun Naruto tahu itu.
"Hanya ada kau dan aku di sana, jadi apapun yang kukenakan kurasa sama sekali tidak ada masalah, yah aku tidak perlu pakaian baru. . karena itulah aku akan kembali menggunakan pakaianmu."
Naruto mengerti dengan apa yang coba Hinata lakukan. Gadis itu ingin membuat Naruto merasa lebih baik, gadis itu tidak ingin menyusahkannya. Dia tidak ingin menjadi beban di dalam hidup Naruto yang sudah berat.
Tapi.
"Apanya yang tidak masalah!?"
Naruto memukul pintu di belakang punggungnya dengan sangat keras sampai mengagetkan Hinata.
"A-apa aku salah bicara Naruto?"
"Semua yang kau katakan penuh dengan kesalahan! Hinata! kau ini seorang gadis, dan bahkan cantik."
"Aku cuma seekor kucing."
"Itu dulu! sekarang kau adalah seorang gadis cantik."
Seorang gadis cantik yang disia-siakan.
"Selama empat bulan ini kau sudah banyak membantuku dengan banyak hal, bahkan berkat kau aku tidak lagi merasa kosong! tapi selama itu pula aku bahkan tidak bisa memberikanmu apa-apa selain makanan."
Kehidupannya jadi jauh lebih berisi sejak kehadiran Hinata, dengan mengksploitasi gadis itu Naruto bisa membuat dirinya jauh lebih nyaman dari sebelumnya.
"Kau tidak perlu memikirkannya Naruto. . aku."
"Lihat saja dirimu sekarang! kau harus mengenakan pakaian memalukan seperti untuk pergi mana-mana."
Apa yang dikenakan Hinata sekarang hanyalah kemeja lusuh lama Naruto dan juga celana kain kepanjangan yang harus lipat agar bisa dikenakan. Selain Hinata juga tidak punya aksesoris macam apapun yang bisa mempermanis penampilannya.
Bahkan penampilan orang-orang jalanan yang tidak punya tempat tinggal saja jauh lebih baik daripada Hinata yang saat ini.
"Aku masih tetap peliharaanmu."
"Iya, tapi sudah kubilang kan? kau itu sekaranga dalah seorang gadis."
Hinata pernah bilang kalau dia berubah menjadi seperti sekarang bukanlah karena tanpa alasan, melainkan karena di hati Naruto yang terdalam dia ingin melihat Hinata yang sekarang. Dengan kata lain, harapan yang dia tidak sadari ada itu sudah diberikan.
"Jadi kau tidak boleh menganggap dirimu peliharaanku lagi."
Semua hal harus sesuai tempatnya. Ketika Hinata masih seekor kucing kecil yang imut-imut, Naruto akan membiarkannya menggigit jarinya. Ketika Hinata sudah besar Naruto tidak akan membiarkan kucing itu mencakar prabotannya. Lalu di saat Hinata masih jadi peliharaanya dulu, dia akan memperlakukannya seperti peliharaan.
Jadi begitu sekarang dia jadi seorang gadis, Naruto harus memperlakukannya seorang gadis. Dan bagi seorang gadis, ingin terlihat cantik itu adalah hal default yang jadi bagian dari dirinya. Hinata tidak bertindak seperti kucing, dan tidak lagi berpikir seperti kucing.
Dia sudah jadi manusia.
"Tapi. ."
Naruto tahu kalau sumber masalahnya adalah dirinya sendiri, dan dia tahu kalau sekarang mereka berdua jadi adu argumen adalah karena kekeras kepalaan Naruto yang tidak ingin keluar dan hanya mendekam di ruangannya saja.
Jika yang Naruto inginkan hanyalah membelikan Hinata pakaian baru, dia bisa dengan mudah membelinya lewat toko online. Dia memaksa Hinata untuk keluar sendiri adalah agar gadis itu sesekali bisa melihat dunia di luar kotak pasir yang Naruto buat untuk dirinya sendiri.
"Ahhh . . . . . maafkan aku."
Naruto menghela nafas panjang lalu mengajak Hinata untuk masuk. Setelah berada di dalam
Naruto segera mencari-cari sesuatu di dalam laci meja komputernya, dalam beberapa menit Naruto akhirnya menemukan apa yang dia cari dan segera menyuruh Hanabi untuk mendekatinya.
"Sekarang saatnya rencana B."
"Kenapa kau membawa-bawa tali Naruto?"
Begitu Naruto maju satu langkah, Hinata mundur satu langkah.
"Menurut saja padaku Hinata."
"Ekspresimu agak menyeramkan."
4
Masalah dengan pakaian Hinata sudah selesai. Dengan menggunakan meteran tidak akurat yang Naruto buat dari tali bekas yang ditemukannya. Naruto bisa menebak-nebak ukuran three size(5) Hinata dan mampu membeli pakaian dari Dresslink dengan model lumayan cocok untuk gadis itu serta beberapa pakaian wanita lain.
Hanya saja, begitu satu masalah selesai masalah lain segera menyusul.
Seseorang yang berteman dengan penjual parfum akan ikut jadi wangi meski tidak membelinya, seseorang yang berteman dengan seorang pandai besi akan ikut kebagian panasnya. Dan Hinata yang berteman dengan Naruto yang NEET profesional serta mau tidak mau ikut juga terbawa dengan banyak kebiasaan pemuda itu.
Obsesi Naruto terhadap game menular pada Hinata, dan hal itu membuat pc milik Naruto hampir tidak pernah mati. Naruto menggunakannya untuk main game selama berjam-jam, Hinata menggunakannya untuk main game selama berjam-jam, dan ditambah dengan pekerjaan Naruto sebagai translator yang juga memerlukan waktu berjam-jam. Total uptime dari pc yang mereka gunakan adalah delapan belas jam seharinya.
Pada dasarnya, pc yang dimiliki oleh Naruto adalah komputer model lama sehingga spesifikasinya termasuk di bawah standart untuk ukuran sekarang. Selain itu, Naruto juga tidak pernah melakukan perawatan sebab si pemilik bahkan tidak tahu kalau komputerpun perlu dibersihkan.
Sehingga pada akhirnya setelah sebulan penuh terus diforsir.
"Bagaimana ini Naruto?"
Sambil melihat komputer Naruto yang mengeluarkan asap, Hinata melihat pemuda itu dengan tatapan seakan kalau dia baru saja dimasukan ke dalam kardus untuk dibuang ke jalanan.
"Apanya yang bagaimana, aku harus beli yang baru? benda ini sudah tidak dipakai lagi."
Naruto membutuhkan benda itu untuk melakukan pekerjaanya, selain itu jika komputernya tetap tidak berfungsi koneksi internet yang sudah dia bayar juga akan jadi percuma. Dan dia juga tidak mau disuruh keluar ruangan hanya sekedar untuk main game maupun mensubmit pekerjaanya.
"Pakai ponselku untuk mencari harga pc baru Hinata, aku akan memeriksa benda ini lagi."
Dengan kesusahan, Naruto membongkar pcnya dan menemukan kalau di dalamnya debu sudah menumpuk setebal beberapa senti. Selain itu beberapa serangga juga menjadikan benda itu sebagai tempat tinggalnya, menjadikan pemandangan di dalamnya agak horror.
"Naruto. . . kurasa kita harus puasa lagi, tapi kali ini puasanya tiga bulan penuh."
Hinata menyerahkan ponsel yang dipegangnya pada Naruto. Di browsernya terpampang sebuah page yang menampilkan harga-harga dari pc baru dari berbagai macam brand. Naruto terus mencari harga terendahnya, tapi sayangnya harga terendah yang dia dapatkanpun masih sangat tinggi untuk standartnya.
"Hah. . . . . kurasa kita harus mencari cara lain."
Uang yang ada di tabungannya tidak cukup untuk membeli pc baru, tapi dia sangat membutuhkan komputer baru.
"Power supply dari komputer ini masih berfungsi, harddisk, dan casenya juga masih bisa dipakai lagi kemudian vga cardnya juga kelihatan baik-baik saja, kurasa kita hanya perlu beli ram dan motherboard baru dengan prosesornya."
"He?"
"Ada apa Hinata?"
"Aku tahu kalau kau bisa menghemat uang dengan hanya membeli partnya saja, tapi sejak kapan kau bisa merakit komputer sendiri?"
"Sejak kapan? apanya yang sejak kapan? tentu saja aku tidak bisa."
"Lalu. . .?"
"Kita akan melakukan riset."
Naruto benar-benar buta masalah teknis, karena itulah dia tidak langsung asal beli-beli saja. Dia ingin memasangkan part baru ke part peripheral komputer lama, jika dia tidak hati-hati bisa saja apa yang dia beli tidak cocok dengan barang yang dia sudah punya terlebih dahulu. Jika dia tidak ingin menyia-nyiakan uangnya dia harus hati-hati.
Dengan dibantu Hinata, Naruto mulai mencatat spesifikasi komputer lamanya dan memilih-milih motherboard yang bisa cocok dengan peripheral lamanya. Dan sekali lagi, sebab Naruto itu buta masalah teknis, risetnya lebih sering dihabiskan untuk mencari mencatat tipe, merk, serta seri dari benda yang dia temukan.
Hal itu membuat Naruto mempelajari banyak hal bahkan tanpa dia menyadarinya.
Riset mereka berakhir setelah waktu makan malam datang. Begitu selesai makan yang diisi pembiacaraan teknis yang baru mereka berdua pelajari, akhirnya Naruto berhasil mendapatkan daftar part yang harus dia beli.
Tiga hari kemudian barang pesanan Naruto datang. Dengan tensi mirip anak kecil yang baru mendapatkan mainan baru, Naruto segera buru-buru membongkar paketnya dan mulai merakit calon pc setengah barunya itu sambil dipandu oleh Hinata yang memegang manual book.
Usaha mereka berhasil dan pc mereka bisa kembali hidup tapi. . .
"Kenapa layarnya cuma berkedip-kedip Naruto?"
"Aku juga tidak tahu, tanyakan masalah ini pada google Hinata!."
Mereka berdua kembali mengadakan riset, dan dari riset yang mereka lakukan diketahui kalau blank screen yang mereka lihat disebabkan oleh driver kartu grafis yang tidak cocok dengan driver yang dulu pernah Naruto install dulu.
Hinata kembali memandu Naruto.
Pertama Naruto harus melakukan booting ke recovery mode. Dia melakukan drop ke terminal.
Dia harus meremove propietary driver dari kartu grafisnya yang dulu dan beralih kembali menggunakan free driver.
Sebab ada beberapa dependency yang harus didownload, Naruto juga harus menghubungkan komputernya ke internet hanya dengan modal terminal yang isinya hanya background hitam dengan tulisan putih di atasnya.
Dia berkali-kali gagal. Tapi setelah akhirnya bisa merubah config file jaringannya dan sukses melakukan ping ke google, pengembalian free driver ke pcnya bisa berjalan dengan lancar.
Instalasi selesai, reboot sudah dilakukan, yang perlu mereka lakukan hanyalah menunggu pcnya untuk kembali hidup.
"..."
"..."
Tidak satupun dari mereka yang bicara, apa yang keduanya pikirkan sekarang hanyalah apakah usaha mereka berhasil atau tidak. Dengan tegang mata keduanya terus fokus ke layar hitam di depan wajah mereka.
Proses post(6) sudah dilewati, tiga buah titik bercahaya sedang berkelip-kelip di atas layar. Login screen muncul, Naruto mengisikan passwordnya lalu dua detik kemudian Naruto mengepalkan tangan kanannya dengan kencang.
"Berhasil!."
"Berhasil!."
Dengan gaya seperti seorang pemain sepak bola yang baru saja mencetak gol Naruto segera menghadap Hinata yang berada di sampingnya. Hinata mengangkat kedua tangannya dan membuka telapaknya dan Narutopun menyambutnya dengan menepuk keduanya.
Begitu semuanya selesai, akhirnya rasa capek yang sudah mereka tumpuk selama seharian mulai naik ke permukaan. Selain itu badang mereka juga sudah lengket dan juga pakaian mereka tidak lagi nyaman untuk dikenakan.
Naruto ingin segera mandi dan tidur, tapi begitu melihat keadaan Hinata yang lebih babak belur darinya. Dia memutuskan untuk menyuruh gadis itu berangkat duluan meski yang bersangkutan bilang kalau dia tidak suka air.
Gadis itu tidak mandi dalam waktu yang lama. Sela beberapa menit saja, dia sudah keluar dari kamar mandi dan berganti ke piyamanya lalu langsung menjatuhkan diri ke atas kasur Naruto. Sedangkan Naruto juga mandi kilat sebab dia sudah merasa sangat ngantuk.
Hanya saja, begitu keluar dia tidak bisa langsung tidur seperti Hinata sebab gadis itu tidur dalam posisi asal yang membuat hampir semua area kasurnya penuh.
"Kebiasaanya tidak pernah berubah."
Saat dia masih dalam bentuk kucingnya, gadis itu juga selalu tidur asal. Kadang dia meringkuk di kursi, kadang dia dia tidur kasur Naruto, dan kadang malah perut Naruto dia jadikan kasur untuk tidur.
Naruto berusaha memindahkan tubuh Hinata ke bagian pinggir kasurnya agar dia bisa mendapatkan tempat. Biasanya dia tidur di lantai, tapi untuk malam ini saja dia ingin tidur di atas tempat yang lebih nyaman untuk menghilangkan rasa sakit di punggungnya.
Ketika Naruto sudah bersiap untuk mengangkat tubuh Hinata, tiba-tiba dia jadi teringat bagaimana dulu Hinata sering melakukan hal yang sama. Saat Hinata sedang tidur, biasanya Naruto menggunakan kesempatan itu untuk memegang-megang Hinata sepuasnya.
Kucing Naruto yang satu itu agak hiperaktif, karena itu meski Hinata adalah peliharaanya. Naruto hampir tidak pernah bisa memegang kucing itu kalau dia masih bangun, kesempatannya untuk bisa mengelus kepalanya dan membelai tubuhnya adalah saat Hinata sedang tidur.
Begitu Naruto sadar, telapak tangannya sudah menempel di atas pipi kanan Hinata yang sedang tidur. Pikirannya menyuruh untuk segera berhenti tapi tangannya tidak menurut dan mulai bergerak membelai kulit gadis itu mulai dari kening, pipi, sampai lehernya.
"Unnggghhhh. . . ."
Hinata bersuara, tapi gadis itu tidak bangun. Dan hal itu membuat Naruto merasa aman. Pemuda itu meneruskan perjalanan tangan kanannya menuju pundak gadis itu, lalu kembali turun sampai ke pergelangan tangannya. Di sana dia merasakan ada sebuah detak nadi.
"Kau hidup dan tidak mati."
Dia hidup, dan dia bukan seekor hewan peliharaan. Dia seorang gadis cantik bernama Hinata.
"Lalu aku tidak sendiri . . . salah. . yang benar adalah aku tidak sendiri."
Tangan Naruto terus bergerak. Dari pergelangan tangan dia menuju pinggang gadis itu, lalu setelah pinggang telapak tangannya menuju perut gadis itu. Sama seperti saat gadis itu masih menjadi kucingnya, Naruto membelai tubuh gadis itu dengan lembut.
"Na. . Naruto. . . . apa yang sedang kau lakukan?"
Sebab terlalu fokus pada kegiatannya, Naruto tidak menyadari kalau sedari tadi Hinata sudah membuka matanya.
"Ini. . . . maafkan aku."
Naruto ingin memberikan alasan, tapi dia sama sekali tidak bisa menemukan maupun membuatnya. Sebab pada dasarnya apa yang Hinata lihat memang benar apa yang sudah terjadi. Naruto terbawa suasana dan dengan seenaknya memegang-megang tubuh Hinata.
"T. . Tugasku adalah membuatmu bahagia. . . jadi kalau melakukannya membuatmu bahagia. . aku akan menurut."
Di masa lalu, Naruto sudah melakukan yang lebih dari ini. Bukan hanya sekedar memegang tapi juga memandikannya. Hanya saja hal itu dia lakukan saat Hinata masih seekor kucing sehingga dia tidak merasakan apa-apa.
Sedangkan sekarang. Hinata adalah seorang gadis cantik, tentu saja dia tidak bisa bertindak dengan pikiran yang sama seperti dulu. Dan tentunya Naruto tidak bisa melihatnya seperti dia melihat Hinata yang dulu.
Nafsu mulai muncul dari dalam dirinya, paha putih mulus gadis di depannya, perut rata yang dia usap, serta wajah cantik gadis itu benar-benar sebuah karya seni. Semua bagian tubuhnya seimbang dan kelihatan menggoda.
Tapi meski begitu.
"Aku akan segera tidur, geser sedikit dan berikan aku ruang."
Naruto merasa kalau dia melakukan yang lebih dari ini, Hinata akan pergi meninggalkannya. Karena itulah dia menahan diri dan memutuskan untuk mundur. Hanya saja, Naruto tidak tahu kalau di wajah Hinata ada sebuah ekspresi kecewa.
"Na-Naruto. . kau ini adalah orang baik, karena itulah aku pikir kau pantas mendapat hadiah."
Jika yang Hinata maksud hadiah adalah Naruto boleh melakukan apapun pada tubuh gadis cantik itu, tentu saja Naruto sangat menginginkannya. Uang maupun harta macam apapun tidak bisa yang menyamai harga dari gadis cantik yang sedang berbaring miring di sampingnya itu.
Sekali lagi tapi. . .
"Aku tidak sebaik yang kau pikirkan, atau lebih tepat dibilang kalau aku malah sama sekali bukan orang baik."
"Kau tidak seperti itu."
"Tapi memang begitulah kenyataannya."
Di sekolah, karena ketidak kompetenannya dia selalu saja memberatkan orang-orang di sekitarnya. Jika ada dia, setiap pertandingan yang kelasnya ikuti selalu saja berakhir dengan kekalahan mereka. Jika dia diberi tugas entah kenapa semuanya malah jadi berantakan dan rencana awal jadi tidak tercapai.
Di luar sekolah dia selalu saja membuat orang tuanya malu. Semua orang bicara buruk tentangnya, semua orang bicara buruk tentang keluarganya. Tapi dia hanya bisa diam dan tidak pernah menyangkal sebab pada dasarnya apa yang mereka semua katakan benar.
Di rumah dia selalu membuat orang tuanya marah dan khawatir. Bahkan sampai sekarang, ketika dia sudah tinggal jauhpun mereka harus selalu menyisihkan uang mereka untuk mengurusi anak yang bahkan tidak pernah mengucapkan terima kasih pada keduanya.
Selain kedua orang tuanya dia juga sudah menyusahkan kakaknya. Gara-gara dia, kakanya sudah berkali-kali berkelahi demi dirinya, jika bukan karena tingkahnya yang kasar saat melindungi Naruto kakaknya pasti sudah jadi orang yang terkenal dan disukai banyak orang.
"Ahem!. . ."
Hinata menginterupsi omongan Naruto. Dan di wajahnya jelas sekali ada ekspresi marah yang memang sengaja dia tidak tutup-tutupi. Gadis itu memutar badannya lalu berguling dan bergerak menuju ke tempat Naruto berada. Setelah itu dia memeluk Naruto dari belakang yang juga sedang berbaring miring.
"Kau tidak perlu menceritakan semua itu padaku sebab aku sudah tahu, kau masih ingat kalau aku selalu bersamamu sejak dulu kan?"
"Tidak. . kita hanya bersama selama lima tahun."
"Aku juga tahu itu dan kau juga tidak perlu menyebutkannya! hey Naruto. . "
Jangan anggap kau tahu semua hal tentang dirimu sendiri sebab Hinata juga ada di sana dulu.
"Dengarkan baik-baik Naruto!, kau sudah merawatku selama lima tahun ke belakang, kurasa itu sudah bisa disebut kebaikan jadi. . ."
Hinata menaikan badannya dan mencoba menyamakan posisi kepalanya dengan Naruto. Memeluk Naruto dari belakang dan menempelkan pipinya ke punggung pemuda itu adalah bukan sebuah hal yang tidak menyenangkan dan malah sebaliknya. Tapi Hinata ingin menyuarakan isi hatinya langsung ke telinga Naruto.
"Dan membalas kebaikanmu adalah salah satu hal yang membuatku tidak bisa terima kalau aku sudah mati."
Hinata menguburkan wajahnya di tengkuk Naruto sambil memeluk pemuda itu dengan erat. Hinata menempelkan seluruh bagian tubuhnya pada Naruto, seakan dia sedang meminta agar pemuda itu segera berbalik dan melihatnya.
"Itu bukan kebaikan Hinata, aku hanya sedang membuang waktu."
Apa yang Naruto lakukan pada Hinata adalah sama saja dengan seseorang yang memberikan uang pada seorang pengemis hanya karena dia tidak menginginkan uang receh. Dia tidak memberikannya karena dia merasakan empati, dia tidak memberikannya karena perduli dengan nasib dari orang yang dia beri. Dia hanya memberikannya karena hal itu memudahkannya membuang apa yang tidak dia anggap perlu.
"Begitulah perasaanku saat memeliharamu, bahkan kematianmu tidak mampu membuatku sedih."
Ketika Hinata mati, yang Naruto pikirkan saat itu adalah dia jadi kekurangan kegiatan untuk di dilakukan. Bukannya sedih karena sudah kehilangan sesuatu yang berharga.
"Kau iniiiii!. Gwrrrrrrr. . . ."
"Berhenti ka! berhenti! kenapa kau menggigit telingaku!?"
"Karena kau menyebalkan!."
"Harusnya aku yang bilang begitu."
"Karena hal seperti inilah kau jadi seperti sekarang ini! kenapa kau tidak memikirkan dirimu sendiri!?"
Orang yang terlalu banyak memikirkan orang lain tidak akan dianggap baik oleh orang lain. Orang yang terlalu memikirkan resiko pada orang lain dari tindakannya malah lebih sering disebut orang lambat, menyebalkan, mengganggu, tidak punya pendirian, pengecut, pecundang, lemah, bodoh, dan tidak bisa apa-apa.
"Dan satu lagi, target bullying yang mudah."
"Hinata, aku tahu kalau kau sedang marah! tapi tolong jangan lampiaskan semuanya padaku! dan juga tolong jangan menghina seseorang di saat orangnya ada di depanmu."
"Siapa yang menghinamu? aku hanya mengatakan apa yang orang lain lihat tentangmu! dan sebab aku ini kucing omonganku tidak bisa dikategorikan sebagai hinaan! kau tidak akan menganggap ngongan kucing menghina kan?"
"Hahhhhh kenapa kau jadi pintar di saat yang salah."
Hinata melepaskan daun telingan Naruto dari mulutnya, setelah itu dia kembali meletakan kepalanya di atas bantal lalu menempelkan wajahnya di punggung Naruto.
"Yang ingin kukatakan adalah kau adalah orang yang hebat."
"Cuma kau yang menganggapku seperti itu."
"Um . . memang cuma aku yang mengakuinya! Dan bahkan hanya aku yang tahu di mana letak kehebatanmu! Karena itulah aku spesial."
Dan diakui oleh seseorang yang spesial itu sudah cukup. Tidak diakui oleh semua orang itu tidak penting, yang terpenting adalah diakui oleh orang yang kau perdulikan dan memperdulikanmu.
"Hinata. . ."
Naruto selalu dipandang rendah oleh orang lain. Teman-temannya, orang tuanya, dan bahkan orang yang tidak kenal dengannya selalu saja punya asumsi kalau Naruto itu berada di bawah mereka. Dan pada akhirnya posisinya yang dibuat rendah menjadi trade mark yang tidak bisa dipisahkan dari dirinya.
Dia ingin bilang kalau semua itu salah. Dia ingin membantah dan membuktikan jika dirinya itu bisa. Dia itu mampu dan dia itu bukan orang yang tidak berguna serta tidak bisa melakukan apa-apa. Tapi entah karena dia sial atau takdirnya buruk, setiap usahanya gagal dan malah membuatnya semakin jatuh.
Dengan tekanan yang datang dari kegagalannya serta serangan psikologis dari berbagai arah, akhirnya kepercayaan dirinya mulai terkikis dan habis. Apa yang dikatakan padanya mulai dia terima dan anggap sebagai kebenaran, lalu pada akhirnya diapun mulai merendahkan dirinya sendiri.
"Apa yang tidak kau punya bukanlah bakat! Kerja keras! Maupun keinginan besar! Melainkan sebuah kepercayaan diri."
Naruto membuka matanya dengan lebar.
Selama ini, akibat yang dihasilkan oleh tindakan orang-orang disekitarnya bukanlah otaknya jadi tambah bodoh, fisiknya jadi berkurang kemampuannya, maupun haknya sebagai seorang manusia jadi turun.
Yang terjadi hanyalah Naruto kehilangan kepercayaan dirinya. Dia tidak lagi mempercayai dirinya dan menganggap kalau dirinya adalah persis seperti apa yang orang lain katakan padanya. Dia bukanlah dirinya, melainkan dia hanyalah perwujudan dari anggapan orang lain terhadap dirinya.
Dan sayangnya semua orang-orang itu tidak ada yang memberikan anggapan baik terhadap Naruto. Karena itulah Naruto berada dalam keadaanya yang sekarang ini.
"Kau bukanlah orang yang tidak berguna! Kau hanya tidak pernah menggunakannya apa yang kau punya."
Kau bukanlah orang yang tidak bisa melakukan apa-apa! Kau hanya takut melakukannya dan gagal lalu menyusahkan orang lain.
Kau bukanlah orang rendahan yang hanya jadi parasit, kau hanya membiarkan mereka yang tidak punya tempat merendahkan dirimu supaya mereka bisa merasa tinggi.
Di dunia ini, yang salah bukanlah dirimu melainkan komunitas sosial.
"Aku adalah orang yang spesial bagimu! dan memilikiku untuk mempercayaimu itu sudah cukup! Karena itulah ingat semua yang kukatakan dan tanamkan dalam-dalam semua kata-kataku tadi! Jauh lebih dalam daripada semua omongan buruk yang pernah kau telan sebelumnya."
"Huuuh. . . ."
Naruto menarik nafas panjang.
Semua yang dikatakan Hinata adalah hal gila. Semua yang dikatakan gadis itu adalah logika yang sudah dipelintir ke sana kemari agar sesuai dengan keinginannya. Lalu, semua yang diomongkannya hanyalah sesuatu yang ingin Naruto dengar.
Tapi semua itu sudah cukup.
Semua itu sudah tidak penting lagi.
Sekarang kepercayaan dirinya sudah kembali, sekarang dia sudah punya alasan untuk kembali maju dan tidak menyerah, dan sekarang dia tidak bisa lagi jadi penakut dan selalu mundur. Sebab sekarang, ada seseorang yang membutuhkan keberadaanya dan percaya kalau dia bisa menjadi apa yang seseorang itu harapkan.
Dan alasan itu sudah cukup untuk membuat Naruto bisa berdiri lagi.
Seperti yang Hinata katakan, Naruto adalah orang yang lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Dan sebab dia tidak terlalu perduli pada dirinya sendiri dia tidak akan melakukan sesuatu jika sesuatu itu hanya untuk dirinya sendiri.
Yang dia perlukan memang hanyalah sebuah alasan. Dan alasan itu sangatlah sederhana. Dia hanya perlu seseorang mengakui keberadaaanya, dia hanya perlu orang itu mengharapkan sesuatu darinya, dan dia hanya perlu orang itu membutuhkan keberadaanya.
Lalu ketika semua hal itu sudah terpenuhi, yang Naruto perlu lakukan hanyalah satu.
Tidak mengecewakan harapan mereka. Setelah menerima semua itu dia sama sekali tidak boleh mengecewakan mereka. Dia tidak mau mengecewakan mereka.
Dan hal itu masih berlaku meski orang yang dia maksud sama sekali bukanlah orang melainkan mantan hewan peliharaanya.
"Hey Hinata! Jangan sembarangan menyalahkan komunitas sosial! Lagipula kau curi dari mana kalimat itu? kemudian jangan mencoba menghipnotisku."
"Dari mana ya?"
"Dari manapun itu! Memang begitulah yang kupkirkan sekarang."
5
Sudah sembilan bulan berlalu sejak kedatangan Hinata di tempat Naruto. Jika gadis itu tidak datang dengan tiba-tiba dan menginvasi tempat tinggalnya, Naruto pasti merasa kalau sembilan bulan itu sangatlah lama. Tapi setelah kedatangan gadis jelmaan kucing peliharaanya itu, setiap hari jadi terasa pendek.
Tapi kedatangannya juga tidak selalu membawa hal baik.
"Aku pulang. . . . ."
"Selamat datang."
"Uwaaaahhhhh."
"Kau kedengaran capek."
"Aku memang capek."
"Kalau begitu istirahatlah dulu."
"Um. . "
Naruto melepaskan pakaian bagian atasnya lalu duduk di depan kipas angin untuk mengeringkan keringatnya. Sedangkan Hinata membawakannya minuman dingin dengan es batu masih mengambang di atasnya.
"Jadi bagaimana interviewnya hari ini?"
"Aku tidak mendapat pekerjaanya."
Pekerjaanya sebegai translator memang menghasilkan, tapi hasilnya terlalu sedikit dan pendapatannya tidak stabil. Karena itulah Naruto ingin mencoba mencari pekerjaan lain agar dia bisa benar-benar menghidupi dirinya.
Agenda utamanya saat ini adalah benar-benar memutuskan hubungan parsitismenya terhadap kedua orang tuanya. Jika dia bisa bekerja dengan layak dan mempunyai penghasilan sendiri, dia bisa hidup dengan hanya hasil dari pekerjaanya tanpa harus membebani kedua orangtuanya.
"Jangan terlalu dipikirkan, kau masih punya banyak waktu."
"Ya. . . . . "
"Tapi kau juga tidak bisa begini terus . . daftar tugasmu masih sangat banyak dan kau belum menyelesaikan satupun."
"Ugh. . . "
Ada banyak hal yang harus Naruto lakukan untuk bisa memenuhi semua harapan Hinata. Mendapatkan pekerjaan dan bisa hidup mandiri hanyalah salah satu dari banyak hal itu. Tapi berhubung Naruto sudah lama menjadi hikikomori, dia masih belum terbiasa diberi tanggung jawab dan mengutamakan mengeluh.
"Tolong jangan memberiku terlalu banyak tekanan aku ini punya jantung yang lemah, lalu. . . daripada ditekan aku lebih suka menekan-nekan. . ."
Naruto melirik ke arah Hinata, dan di saat yang bersamaan Hinata juga sedang menatap ke arahnya. Kemudian, tatapan mereka berdua bertemu. Untuk sesaat yang mereka lakukan hanya saling diam. Tapi hal itu tidak berlangsung lama, sebab Naruto sadar jadi kalau jokenya salah sasaran setelah melihat wajah manis Hinata berubah merah penuh dengan rasa malu.
"It-itu. . . . bukan itu maksudku. . . ak-aku perlu mendinginkan kepalaku."
Naruto mengalihkan pandangannya dari Hinata dan mengambil minuman dinginnya lalu meneguknya beberapa kali. Efek yang ingin dia dapatkan adalah pikirannya jadi tenang dan kepalanya jadi dingin.
Tapi usahanya sama sekali tidak membuahkana hasil. Hinata adalah seorang gadis yang sangat cantik dan manis. Jadi sudah normal jika seorang laki-laki ingin terus melihatnya. Dan meski sudah mencoba, tapi untuk suatu alasan matanya selalu saja secara tidak sadar melirik ke arah gadis yang sedang duduk di sempingnya itu. Dan begitu dia melihat ekspresi melu di gadi situ, kepalanya jadi kembali panas.
"A-aku juga perlu mi-minum."
Tidak ingin menambah cucian dapurnya, Naruto memutuskan untuk memberikan gelas yang ada padanya ke Hinata. Tapi begitu dia mengulurkan gelas berisi minuman dingin itu dan merasa kalau Hinata sudah memegangnya, tiba-tiba gelas itu jatuh dan semua isinya tumpah.
"Maafkan aku. . . ."
Hinata segera mencoba berdiri untuk mencari serbet, tapi tangannya dipegang oleh Naruto dengan kuat. Setelah itu Naruto menarik tubuh gadis itu ke arahnya lalu memeluknya sebelum Hinata sempat sadar akan apa yang sudah terjadi.
"Na. .ruto. . . ."
Hinata melepaskan diri dari Naruto dan mencoba mengambil gelas yang tadi dia jatuhkan.
Kali ini bukanlah yang pertama.
Sebelum-sebelumnya, hal yang sama juga sering terjadi. Mulai dari awal bulan, Hinata sering sekali menjatuhkan benda-benda di sekitarnya. Tapi Hinata selalu bilang kalau dia hanya sedang lemas karena lapar, bengong, atau yang lainnya. Dan Naruto mempercayai hal itu.
Tidak. Dia mencoba mempercayai apa yang dikatakan oleh Hinata. Tapi kali ini dia tidak lagi menghindari kenyataan dan menganggap kalau semua akan baik-baik saja. Sebab sekarang, tangan Hinata kelihatan mulai transparant dan kesulitan untuk digunakan memegang sesuatu.
Berkali-kali Hinata mencoba mengambil gelas yang dijatuhkannya, tapi berkali-kali itu pula dia gagal melakukannya. Ketika dia mengeluarkan ekspresi serius barulah dia bisa memegangnya lalu memindahkannya ke atas meja di samping kanannya.
Sesuatu yang bisa didapatkan dengan mudah juga bisa hilang dengan mudah.
Dan hal itu juga berlaku pada kehidupannya. Hinata datang begitu saja dan masuk ke dalam kehidupannya, dan jika dia akan pergi tentu saja dia juga akan hilang begitu saja.
Naruto kembali menarik tubuh Hinata dan memeluknya dengan erat. Kali ini cukup erat untuk membuat gadis itu merasa sakit. Tapi Hinata tidak berbicara apapun dan menerima saja, sebab dia tahu kalau sekarang Naruto sedang merasa sangat tidak aman.
Naruto yang saat ini sedang membutuhkan sesuatu untuk berpegangan dan seseorang untuk memberikannya rasa aman. Dan hal itu adalah salah satu tugas yang dia bawa. Meski dia tahu kalau yang menyebabkan Naruto merasa seperti itu adalah dirinya sendiri.
"Jangan pergi Hinata."
Dari awal Naruto sudah tau kalau cepat atau lambat Hinata akan menghilang. Sebab dari awal, keberadaanya di sisinya saja sudah tidak wajar. Seharusnya dia tidak ada lagi di sana, tapi gadis itu memaksa takdir untuk berbelok dan membuat dirinya bisa kembali hidup.
"Aku juga tidak ingin pergi. . . . "
Tapi dia tidak bisa tetap tinggal. Bukan karena alasan emosional semacam dia ingin Naruto berhenti bergantung padanya. Bukan karena alasan yang dilogis-logiskan seperti dia ingin membuat Naruto lebih cepat mandiri. Juga bukan karena alasan dramatis seperti tugasnya sudah berhasil dia lakukan.
Jika Hinata ingin menuruti emosinya, dia malah ingin agar Naruto tetap bergantung padanya. Jika dia menggunakan logikanya, maka dia ingin terus mendorong naruto dari belakang. Dan tugasnya juga belum berhasil.
Dia belum membuat Naruto cukup bahagia. Hinata ingin membuat Naruto, lebih, lebih, lebih, lebih bahagia lagi.
"Tapi waktuku sudah habis."
Relic yang digunakannya hanya bisa memberikan kehidupan sementara pada Hinata. Dan kehidupan pinjaman itu harusnya sudah lenyap sejak delapan bulan yang lalu. Hanya saja dia sedang beruntung, sebab dia dilahirkan sebagai seekor kucing yang punya banyak nyawa.
"Tapi ini terlalu mendadak!."
Hinata membalas pelukan Naruto, Hinata tidak ingin melepaskan pemuda di depannya dan Naruto tidak ingin melepaskan Hinata. Sebab dia merasa, kalau dia melepaskannya Hinata akan pergi jauh.
"Ini tidak mendadak. . . kita hanya belum sempat menyiapkan diri."
"Bukannya itu sama saja?"
"Hehehe. . . "
Kali ini tawa Hinata tidak membawa rasa senang untuk Naruto dan malah sebaliknya. Naruto ingin mengatakan sesuatu, tapi Hinata memberi isyarat agar pemuda itu diam dengan menabrakan puncak kepalanya ke dagu Naruto.
"Kalau begitu kita bisa mulai bersiap sekarang? aku masih punya waktu tiga hari lagi."
"Secepat itu? jadi selama ini kau merencanakan untuk meninggalkanku begitu saja? bagaimana kalau nanti aku bunuh diri?"
"Kalau aku mengatakannya kau pasti tidak akan mau keluar dan terus di rumah untuk bisa bersamaku sampai saat-saat terakhir, dan aku tidak berniat meninggalkanmu begitu saja! aku akan memberitahukan hal itu sehari sebelum aku pergi jadi aku bukan kucing yang nakal! dan kau tidak akan bunuh diri hanya karena masalah sekecil itu."
Hinata tersenyum pada Naruto meski pemuda itu tidak bisa melihatnya.
Di sisa tiga hari yang Hinata miliki, Naruto memutuskan untuk tetap tinggal di dalam rumah. Tapi meski tidak keluar ruangan, bukan berarti dia Naruto hanya bermalas-malasan. Dengan ditemani Hinata, dia sedang belajar untuk bersiap kembali masuk ke sekolah. Salah satu dari target pencapaiannya.
Dan ketika dia bilang melihat, yang dilakukan memang hanya melihat. Sebab sekarang Hinata sudah benar-benar tidak bisa menggunakan tangannya. Saat ini, Hinata bukan lagi manusia maupun seekor kucing melainkan sebuah seekor yokai.
"Apa kau sudah bisa berhenti Naruto? ini agak memalukan. . ."
"Sepertinya aku tidak bisa berhenti. . . ini benar-benar menyenangkan. . tunggu sebentar lagi."
"Tapi rasanya geli. . . "
Naruto menggoda dengan melihat langsung ke wajah Hinata yang merah. Hinata memang seorang gadis yang sangat cantik, tapi kecantikannya jadi berkali-kali lebih menawan saat dia sedang kelihatan tidak berdaya dan malu di saat yang bersamaan.
"Geli ? tapi kau tidak kelihatan kegelian sama sekali. . . "
Ekspresi yang dipasang oleh Hinata sekarang persis seperti seekor kucing yang sedang senang saat dagunya dibelai. Dan begitu ekspresi itu diperlihatkan oleh Hinata yang memiliki wajah sangat cantik. Naruto tidak bisa berhenti melihatnya dan membuat jantungnya sama sekali tidak mau melambat untuk bergerak.
"Awwuuu. . . ."
Bibir mungil Hinata yang mengerucut, pipi lembut yang menggemaskan, hidung yang lucu, mata bening jernih yang sangat indah, serta ekspresi berisikan sensasi nikmat yang Hinata tunjukan membuat Naruto jadi semakin tidak ingin berhenti melakukan kegiatannya.
"Ka-kau jahat. . ."
"Aku jahat? bukankah rasanya enak?"
"Bu-bukan itu masalahnya. . . . . uuuu . . .."
Hinata tidak lagi bisa mempertahankan bentuk manusianya yang seutuhnya. Tapi bagi Naruto hal itu bukanlah sebuah kekurangan dan bahkan dia anggap bonus. Sebab sekarang di atas kepala Hinata ada dua telinga berbulu dengan ukuran sedang berbentuk segitiga yang kelihatan sangat lucu.
Telinga yang dimiliki oleh Hinata sekarang adalah telinga dari seekor kucing, selain itu taring yang dimilikinya juga sedikit memanjang membuat senyum gadis itu jadi semakin manis. Dan bagian terbaiknya adalah bahkan Hinata sekarang memiliki ekor yang kelihatan sangat lembut untuk dipegang.
"Tolong lepaskan telingaku Naruto. . . . . "
"Sebentar lagi. . . sepuluh menit lagi."
"Kau sudah lima kali mengatakannya . . tapi . . awwww. . ka-u tidak berhenti-berhenti."
"Kalau begitu menyerah saja dan biarkan aku terus melakukannya."
Menggunakan tangan kanannya Naruto memegang telinga kiri Hinata, setelah itu dia menggunakan jari telunjuknya untuk mengusap bagian belakang telinga Hinata dengan lembut. Dan begitu dia berhenti menggunakan telunjuknya, dia akan beralih menggunakan jempolnya untuk menggosok bagian dalam telinganya dengan sedikit keras. Persis seperti orang yang sedang melakukan pijat reflexi.
"Bagaimana dengan belajarmu Naruto."
"Aku sedang break."
"Ta-tapi kau sudah break cukup lama."
"Kalau kau ingin menghentikanku cobalah melawan."
"Ka-kau benar-benar jahat Naruto. . .aku uuwwwww. . . "
Sebagian besar tubuh Hinata masih baik-baik saja, tapi telapak tangan sampai pergelangannya sudah tidak bisa dia gunakan untuk menyentuh apapun. Hal yang sama juga terjadi pada telapak kaki sampai setengah betisnya. Dia masih bisa berdiri tapi bagian itu sudah tidak terlihat lagi, menjadikannya seperti hantu yang melayang di udara.
Hanya saja alasannya tidak bisa melawan Naruto bukanlah hal itu. Bukan hanya hal itu. Selain telinganya ekornya juga sedang Naruto mainkan dengan senangnya. Dengan tangan kirinya Naruto meremas-remas ekor Hinata, membelainya, lalu memainkan bagian ujungnya dengan keras.
Apa yang Naruto lakukan tidak cukup untuk membuat Hinata merasakan sakit, tapi untuk suatu alasan sekarang dia benar-benar merasa lemas. Cukup lemas sampai seakan dia tidak lagi punya tenaga untuk sekedar mengangkat tubuhnya dari lantai dan mendorong Naruto untuk menjauhinya.
Pada akhirnya yang bisa dia lakukan hanyalah mengepalkan tangannya seakan sedang meremas sesuatu sambil menutup matanya erat-erat supaya bisa terus menahan diri untuk tidak mengeluarkan suara.
"Jangan marah begitu. . . ini adalah yang terakhir, dulu aku tidak pernah bisa melakukannya karena itulah aku akan melakukannya sampai puas untuk hari ini."
Sudah jadi rahasia umum kalau kucing tidak suka telinga dan ekornya untuk dipegang. Jika Naruto ingin memegang telinga Hinata ketika dia masih jadi seekor kucing, gadis itu akan menggerakan telinganya ke sana kemari. Lalu jika Naruto menyentuh ekornya Hinata akan langsung marah dan mencoba mencakarnya.
"Lagipula waktu kita sudah tinggal sebentar lagi."
Hinata melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul sepuluh kurang sepuluh menit. Hinata datang saat jam sepuluh pagi dan dia akan pergi saat jam sepuluh pagi juga. Saat ini, adalah benar-benar saat terakhir mereka.
"Hey Naruto. . . ini bulan februari kan?"
"Memangnya kenapa?"
"Rasanya aku belum memberimu coklat."
"Tidak usah repot-repot! lagipula membalasnya sepuluh kali lipat itu susah jadi kau tidak perlu melakukannya."
"Hehehe. . ."
Meski Hinata ingin membuatpun dia sudah tidak bisa lagi melakukannya. Tapi meski begitu, untuk yang terakhir kalinya Hinata ingin memberikan Naruto sesuatu. Sesuatu yang akan membuat Naruto bahagia.
Hinata membuka matanya secara perlahan lalu melihat ke arah Naruto.
"Apa kau mau sesuatu yang lebih manis dari coklat?."
Mendengar hal itu tangan Naruto langsung berhenti bergerak. Dan karena hal itu, kekuatan seperti kembali ke dalam tubuh Hinata. Dia bisa mengangkat tubuhnya lalu mencoba memegang bagian depan pakaian Naruto.
". . . . . ."
Tapi dia tidak bisa melakukannya.
Naruto segera menangkap lengan Hinata, tapi lengan gadis itupun mulai tidak terasa di pegangan tangannya. Naruto mulai menaikan pegangan tangannya, menaikannya lagi, dan lagi. Sekarang yang Naruto sedang adalah siku gadis itu.
Hinata mendorong tubuh Naruto menggunakan sikunya lalu memberikan jarak di antara mereka berdua. Setelah itu dia memasang kedua tangannya yang mengepal di depan dadanya lalu kembali menutup mata dan menghadapkan wajahnya pada pemuda itu.
Naruto mengangkat kedua telapak tangannya lalu dia gunakan untuk memegang kedua belah pipi mulus Hinata. Setelah itu dia mulai mendekatkan wajahnya ke wajah manis Hinata. Perlahan, dengan tegang dan hati-hati.
Ini bukan yang pertama kalinya. Tapi tetap saja keduanya masih merasa grogi saat melakukannya. Dan bahkan sebelum mereka berhasil melakukan kontakpun, jantung mereka sudah berdetak sangat kencang.
Setelah beberapa saat akhirnya Naruto bisa merasakan bibir lembut Hinata.
Sebelum ini Naruto sama sekali belum pernah punya pengalaman dengan seorang perempuan, sehingga sebelumnya dia selalu ragu kalau ada yang bilang kalau berciuman itu rasanya nikmat. Hanya saja kali ini dia bisa merasakannya sendiri, dan apa yang dia dengar memanglah benar.
Bibir semerah ceri Hinata terasa sangat lembut, hangat dan juga manis. Dan semua hal itu membuatnya tidak ingin melepaskannya. Naruto mengeratkan pegangannya di kedua pipi Hinata dan menekankan bibir bagian bawah gadis itu padanya.
Setelah pada posisi yang cocok dia menggigit bibir bagian bawah gadis itu lalu menghisapnya. Selama dua menit dia terus melakukannya sampai. .
"Ungh. . . . ."
Setelah Hinata mengeluarkan suara itu Naruto merasakan sesuatu yang berbeda.
". . . . ."
Naruto tiba-tiba harus menurunkan tubuhnya lebih ke bawah lagi, telapak tangannya tiba-tiba bisa memegang sebagian besar wajah Hinata, dan rasa dari bibir Hinata jadi berubah. Dia tidak bisa lagi melakukan yang dilakukannya tadi.
Naruto melirik ke bawah dan menemukan kalau tubuh Hinata sudah menyusut, ukuran tubuhnya sekarang mungkin sama dengan seorang anak berumur empat belas tahun dan bukannya seorang gadis remaja berumur enam belas tahun.
". . . ."
Tapi dia tidak memperdulikannya. Di sana tidak ada orang lain yang bisa memprotesnya, dan sebab ini adalah kesempatan terakhirnya dia sama sekali tidak ingin menyia-nyiakan waktu sempit yang mereka miliki.
Lagipula meski berbeda tapi Hinata tetaplah Hinata, selain itu rasa nikmat yang Naruto dapatkan sama sekali tidak berkurang dan hanya berubah. Bibir Hinata tidak lagi semerah ceri melainkan menjadi berwarna lebih muda seperti sakura. Selain itu sensasi lembut dan hangatnya juga berubah menjadi segar.
Sekarang Naruto malah jadi ingin memakan bibir Hinata, mulut kecil dan bibir tipis gadis itu benar-benar kelihatan sangat menggoda.
Dengan begitu, selama tiga menit Naruto menghabiskan waktunya untuk menjelajahi ciuman gadis di depannya. Total lima menit sudah berlalu, dan akhirnya keduanya kehabisan nafas.
"Huuuuuhh. . . . . ."
"Hinata. . . kenapa kau jadi tambah kecil lagi?"
"Ha? ini ya. . . sepertinya sebentar lagi aku akan kembali berubah menjadi kucing."
"Tapi kenapa kau harus menjadi kecil dulu sebelum jadi kucing lagi?"
"Entahlah? mungkin karena kucing itu kecil dan imut."
Dan penampilannya sekarang adalah persis seperti deskripsi kucing yang diberikannya tadi. Kecil dan imut. Pakaian yang dikenakan oleh Hinata tidak lagi bisa menempel pada tubuhnya dengan benar sebab ukuran tubuhnya menurun derastis.
Penampilannya sekarang lebih persis dengan anak sebelas atau dua belas tahun yang sedang bermain sebagai model dengan pakaian ibunya.
"Kau sedang menunggu apa? ayo lan-lanjutkan yang tadi."
"Ini agak sulit. . . . dengan penampilanmu yang sekarang tiba-tiba aku jadi merasa berdosa, aku bahkan mulai merasa kalau aku ini kriminal."
"Jadi kau mau atau tidak?"
Sepertinya bukan hanya penampilannya, tapi pikiran gadis itupun sedikit mundur dan berbalik ke arah pikiran seorang anak kecil yang manja.
"Aku mau. . . tapi. . "
"Kalau begitu lakukan saja!."
Hinata memang seekor kucing, tapi entah kenapa dia memiliki puppy eyes. Dan tatapan memohonnya berhasil membuat Naruto langsung membuang keraguannya.
Wajah cantik dan manisnya berubah jadi sangat imut. Di saat ciri kekanakannya masih ada, ciri remajanya mulai muncul. Hidung kecil yang dimilikinya benar-benar lucu dan tatapan matanya penuh dengan cahaya.
"Kalau begitu. . ."
Naruto menelan ludahnya. Setelah itu dia memegang dagu Hinata sebab tangannya sudah terlalu besar untuk digunakan memegang wajah gadis itu. Kemudian, perlahan dia mendekatkan bibirnya pada bibir kecil mungil Hinata yang kelihatan sangat imut.
Sekali lagi. Entah karena nafsunya yang sudah tidak karuan atau memang Hinata itu dibuat dari gula-gula. Naruto kembali menemukan rasa enak di mulutnya, hanya saja kali ini rasanya agak berkurang sebab ukuran mulut dan bibir Hinata yang berbeda jauh dengan pemuda itu.
Untuk bisa mendapatkan sensasi yang lebih Naruto juga harus melakukan hal yang lebih. Ketika Naruto ingin membuka mulutnya tiba-tiba Hinata melepaskan dagunya dari pegangan Naruto.
"Kau terlalu lama!. . . . . kesempatanmu sudah habis."
Tubuh Hinata kembali mengecil dan sekarang dia sudah benar-benar jadi seorang anak perempuan. Daya tariknya sebagai wanita sudah sepenuhnya hilang dan diganti dengan keimutan seorang anak kecil.
Pipinya jadi lebih chubby, bibir mengerucutnya jadi lebih lucu dan wajahnya benar-benar bisa langsung membuat seseorang ingin segera memilikinya untuk dijadikan peliharaan. Naruto saja sedang menahan diri untuk tidak segera menjewer pipi Hinata lalu memainkannya.
Telapak tangan Naruto tidak bisa diam.
"Me-meski ak-aku harus jadi kriminal. . . aku akan tetap menyelesaikan apa yang kau mi-minta! aku akan tetap melakukannya. . .be-bersiaplah."
Jika sekarang Naruto dilihat oleh seseorang tidak salah lagi dia pasti akan langsung dibunuh oleh orang yang melihatnya.
Hinata membenturkan keningnya ke kening Naruto.
"Sekarang aku yang tidak bisa melakukannya."
Hinata menunjukan lidah pink pendeknya yang memiliki permukaan yang terlihat kasar pada Naruto, setelah itu dia menujukan kalau taring yang dimilikinya sudah bertambah panjang.
"Kenapa wajahmu kecewa seperti itu? apa kau ini lolicon?"
"Aku tidak suka anak kecil! yang kusuka itu kau! meski kau kecil, sedang ataupun besar aku akan terus menyukaimu! tidak! tidak! aku mencintaimu!"
"Ugh . . jangan anggap aku seperti barang!. . . ."
Hinata sudah kehilangan kata-kata untuk membalas pengakuan cinta terang-terangan Naruto!. Dia memang mencintai Naruto tapi dia tidak bisa mengatakannya sebab, dilihat dari manapun seorang remaja laki-laki menembak seekor anak sembilan tahun maupun kucing itu sama sekali tidak normal.
Lagipula. Perasaan itu mungkin bukan ditujukan untuknya. Melainkan pada seorang gadis yang penampilannya dia pinjam. Semua itu tidak penting. Yang paling penting hanyalah mereka berdua tahu kalau keduanya benar-benar saling menyayangi. Tidak, mencintai.
"Hey Naruto, aku sudah pernah bilang kalau aku tidak ingin menyusahkanmu. . tapi aku selalu saja menyusahkanmu. . sekali lagi! apakah aku boleh menyusahkanmu untuk sekali lagi saja! aku janji kalau ini yang terakhir."
"Tentu saja. . . . mengurusi keperluan peliharaannya adalah tugas dari tuannya!."
Naruto memukul dadanya dengan keras.
"Aku ingin bersamamu lagi. . . bukan sebagai peliharaan tapi sebagai sesama manusia. . . karena itulah kalau . . . . . . . . . . . . . . . . ., setelah aku dilahirkan kembali, tolong cari aku."
Masa depan itu tidak pasti, dan apakah yang namanya reinkarnasi itu memang ada atau tidak itu juga tidak jelas. Kemudian Hinata lahir kembali jadi manusia juga sesuatu yang tidak bisa dilogika. Tapi meski begitu masih ada harapan.
Memiliki hubungan seperti sekarang mungkin sudah tidak bisa, tapi itu bukanlah sebuah masalah. Yang Hinata inginkan hanyalah agar dia bisa bersama lagi dengan Naruto. Dia tidak perduli apakah nanti dia jadi anak tetangganya, jadi anaknya atau cucunya, atau bahkan jadi orang lain yang kebetulan tinggal dengannya.
"Tapi jika kau terus mengurung diri di sini terus aku tidak mungkin bisa bertemu denganmu."
Naruto tersenyum. Dia datang untuk membalas budi dan membantunya. Selain itu, dia juga datang untuk satu hal lagi. Menata kembali hidupnya. Hinata tidak bisa menghapus kesalahan yang Naruto buat dulu, tidak bisa memperbaiki apa yang sudah rusak, tapi dia bisa membuat Naruto ingin terus maju.
"Karena itulah aku butuh agar kau cepat keluar dari sini."
Ada sebuah pertanyaan yang sedang Naruto pikirkan saat ini. Apakah dia bisa? dia sudah menjalani kehidupan sebagai hikikomori dalam waktu yang sangat lama. Dan tentu saja kemampuan berdaptasinya dan banyak hal lain tertinggal jauh dari orang lain.
"Kau tidak perlu buru-buru! sebab aku yakin kau pasti bisa!"
"Um! aku juga aku janji akan menemukanmu!."
Hinata tersenyum. Dan senyuman benar-benar sangat indah, cemerlang, dan juga polos. Kemudian wajah anak kecil yang dimilikinya sekarang juga terlihat penuh dengan kejujuran tanpa dan rasa percaya tanpa sedikitpun keraguan.
Sebuah senyum paling indah yang pernah dia lihat. Sebuah senyum yang dia tidak akan pernah lupakan.
Cahaya mulai menyelimuti tubuh Hinata, lalu perlahan-lahan mulai dari kakinya tubuhnya mulai menghilang bersama dengan cahaya yang merambat ke atap seperti asap. Seperti sebuah penghapus, cahaya itu membuang penampilan manusia Hinata dan pada akhirnya menampilkan wujudnya yang sebenarnya sebagai seekor kucing.
Hinata yang sudah berubah menjadi kucing kembali berubah menjadi cahaya dan terbang dan mengelilingi tubuh Naruto untuk sesaat, sebelum benar-benar menghilang seperti kembang api.
"Huuuuhhhhuuuuuuuu. . . ."
Naruto menarik nafas panjang. Dia ingin menangis sebab mulai hari ini dia akan benar-benar sendiri. Tapi daripada menangis, ada hal yang lebih penting untuk dilakukan.
"Saatnya membuang harga diriku!."
6
Kehidupannya tidak langsung menjadi lebih baik, bahkan bisa dibilang kalau kehidupannya jadi semakin sulit. Dia masuk ke sekolah telat dua tahun jadi dia murid paling tua dan hal itu membuatnya sering jadi bahan hinaan sebab semua teman sekelasnya masih anak kecil.
Tapi meski begitu Naruto tidak mau mundur seperti yang pernah dia lakukan dulu. Hal sekecil itu tidak akan bisa mempengaruhinya yang sekarang.
Meski harus menahan malu, akhirnya dia memutuskan untuk pulang dan meminta maaf kepada ayahnya. Dia sadar seberapa lemah dirinya, semua target yang dia tuliskan tidak mungkin bisa dia capai sendirian saja.
Determinasi bisa bertambah, semangat boleh tidak memudar, tapi basic speknya tidaklah bisa berubah dalam waktu singkat. Meski dia belajar dengan keras dan berusaha tanpa kenal istirahat, tapi dia hanya naik sampai ke level standart.
Di SMP maupun di SMA dia jadi murid yang biasa saja, dan saat ini sambil bekerja sambilan di sebuah mini market Naruto menunggu pengumuman hasil ujian masuknya ke universitas.
Berbicara dengan orang lain, apalagi yang tidak dia kenal masih sedikit menjadi kelemahannya. Karena itulah dia jarang berada di counter dan lebih sering berada di gudang untuk melakukan pekerjaan fisik atau jika dia ke depan biasanya dia akan diberi tugas untuk mendata item yang dijual sambil memberikan bantuan pada pelanggan jika ada yang membutuhkannya.
"Hehh. . . . ini sudah kadaluarsa, aku harus segera menggantinya."
Ketika Naruto sedang memeriksa stok item tiba-tiba dia mendengar sebuah suara bel. Sesaat kemudian merasa kalau ada seseorang yang menarik-narik ujung bajunya. Naruto segera berbalik dan menemukan seorang gadis kecil berada di belakang tubuhnya.
"Aku ingin mencari sesuatu, tolong bantu aku."
Gadis yang menarik-narik baju Naruto adalah seorang anak kecil berumur sekitar sembilan atau sepuluh tahun. Dia memiliki rambut hitam panjang sepunggung yang kelihatan sangat lembut. Wajah kecilnya mempunyai pipi chubby mulus yang bisa menggoda siapapun untuk menjewernya.
Mata bening besarnya kelihatan sangat jernih dan bersinar. Selain itu hidung kecilnya juga membuat gadis itu jadi semakin lucu. Kemudian yang terakhir, bibir mungilnya yang mengerucut karena marah benar-benar membuatnya jadi kelihatan sangat manis.
"Apa kau mendengarku?"
Naruto mendengarnya. Tapi sekarang pikirannya sedang dipenuhi oleh hal lain.
Penampilan gadis kecil itu, suaranya, dan bel kecil yang dia gunakan sebagai gantungan di tas kecilnya mengingatkan Naruto pada seseorang. Jika umurnya sama dengan gadis kecil di depannya ini tidak salah lagi kalau penampilannya pasti seperti apa yang sekarang dia lihat.
"Hinata. . ."
Harapan yang ditinggalkan Hinata masih belum hilang. Naruto yakin kalau Hinata akan dilahirkan kembali. Dia tidak tahu kapan persisnya hal itu akan terjadi, tapi yang jelas dia yakin akan takdir itu. Hanya saja, dia sama sekali kalau penantiannya tidak selama yang dia bayangkan.
Aku menemukanmu!. Adalah apa yang Naruto pikirkan.
"Maaf! tapi tolong jangan bicara sendiri saat aku sedang bicara padamu! Kau itu sudah dewasa jadi kumohon perhatikan tata kramamu, selain itu aku bukan Hinata tapi Hanabi."
Mata Naruto melebar. Dia tahu kalau dia itu salah orang, dia tahu kalau Hinata tidak mungkin kembali lagi. Tapi dia menolak percaya. Sebab jika dia mempercayainya maka dia tidak akan lagi punya seseorang yang mengakuinya. Dia akan kembali kehilangan tujuannya untuk tetap maju.
Dia itu lemah, dia tidak bisa meneruskan kehidupannya jika dia tidak memiliki pegangan. Dan pegangan itu adalah sebuah harapan kalau suatu hari nanti dia bisa bersama lagi dengan Hinata dan menunjukan semua pencapaian yang telah dia raih.
"Apa kau tidak mengingatku. . . . aku Naruto!."
Naruto memegang lengan gadis kecil itu dengan paksa. Dan hal itu membuat gadis bernama Hanabi itu ketakutan. Wajahnya yang tadi kelihatan cerah kini diliputi rasa takut yang tidak bisa disembunyikan.
Dia mengerahkan seluruh tenaganya, tapi dia tetap tidak bisa lepas dari genggaman tangan Naruto yang kuat. Dan malah sebaliknya, Hanabi malah terus ditarik mendekat ke tubuh Naruto.
"Sakit! lepaskan aku! . . ."
"Apa kau benar-benar tidak ingat padaku?"
"Lepas!"
Meski memang Hinata dilahirkan kembali sebagai manusia, dia juga tidak akan ingat dengan kenangannya dulu. Dan tentu saja dia juga tidak harus berpenampilan sama seperti dirinya yang dulu. Dengan begitu, gadis kecil di depannya juga bisa jadi hanyalah seseorang yang kebtulan mirip dengannya.
Tidak kurang tidak lebih.
"Lepaaaaasssss!."
Naruto tersadar dari dan pikirannya mulai sedikit tenang. Dia melepaskan pegangannya dari lengan kecil Hanabi. Tanpa membuang waktu, gadis kecil itu langsung berlari menjauhinya. Hanya saja gadis kecil itu tidak berlari jauh dan berhenti hanya beberapa meter di depan Naruto.
Hanabi berlari ke arah seseorang lalu memeluk tubuhnya dengan erat untuk mencari kemanan. Orang itu mendekati Naruto dengan Hanabi bersembunyi di belakangnya sambil terus memeluknya dengan erat.
"Jadi siapa yang mengijinkamu menyentuh adiku!?"
Naruto mulai mengangkat pandangannya dari lantai. Dan hal pertama yang masuk pandangannya adalah sepasang kaki jenjang dengan kulit putih yang mulus, paha yang menggoda, perut rata yang sempurna, pinggang yang langsing dan rambut hitam panjang lembut, kemudian dada yang lumayan berisi dan yang terakhir.
Wajah cantik yang bahkan akan langsung ditemukan meski orangnya sendiri berada di tengah kerumunan manusia. Kecantikan yang akan membuat orang yang hanya sekali melihatnyapun tidak akan lupa.
"Kak Hinata . . ayo kita pergi dari sini."
Seorang gadis yang mampu membuat siapapun yang melihatnya akan berbalik hanya untuk kembali melihatnya.
"Nanti dulu Hanabi! aku harus menghajar orang ini dulu!."
"Hina. . . ."
Sebelum Naruto sempat berkata apa-apa, sebuah pukulan yang sangat keras berhasil mendarat tepat di wajahnya dan langsung seketika itu membuatnya terkapar tak sadarkan diri. Hanya saja itu bukan sebuah masalah, sebab sebelum tertidur Naruto sudah menemukan apa yang dia cari.
Meski pingsan tapi dia tersenyum.
7
Aku kehilangan kata-kata. Tapi aku harus mengatakan sesuatu. Sebab aku ingin mengetahui sangat banyak hal.
"Apa-apaan ini Hanabi?"
"Bagaimana kak Naruto? Bagus atau tidak?"
Biar kujelaskan situsinya.
Setelah masalah dengan bagian gelap keluarga Hyuga selesai aku dan Hinata memutuskan untuk menantang kakakku demi membuktikan kalau aku punya hak untuk bisa bersama dengan Hinata dan Hanabi.
Aku dan Hinata ingin membuktikan kalau kami itu cukup kuat untuk bisa menangani masalah kami sendiri.
Tapi meski sudah mendeklarasikan niat kami untuk berperang, kami tidak bisa langsung melakukan baku hantam di tempat tinggal kecilku itu. Selain itu, kami memerlukan persiapan untuk melawan kakakku.
Kakaku itu kuat, dan melawannya tanpa persiapan itu sama dengan bunuh diri. Dan bagi kami berdua yang memerlukan kemanangan, langsung maju adalah pilihan yang sangat buruk. Karena itulah kami meminta waktu tambahan.
Kami akan melakukan duel setelah ujian selesai, dan lokasinya adalah tempat tinggalku yang sebenarnya. Rumah kedua orang tuaku. Dan sekarang kami sedang berada di dalam kereta untuk menuju tempat itu.
Lalu selama perjalan panjang kami itu, Hanabi membacakan sebuah cerita yang katanya adalah masterpieces itu.
"Hey Hanabi? Siapa yang mengijinkamu membuatku jadi kucing?"
"I-itu aku. . "
"Lagipula jika kau ingin membuaku jadi kucing, buat jenisku jelas! Aku tidak suka dengan kucing belang!."
"Kau bisa diam tidak Hinata!."
Dan apa-apaan perhatian salah tempatnya itu? Apa dia serius tidak apa-apa dijadikan kucing yang selalu dipermainkan oleh adiknya sendiri. Bukannya aku keberatan. Jika dia memang benar-benar jadi kucing malah akan bahagia, dia tidak perlu kuberi makan banyak dan dia bisa kusuruh tidur di dalam kardus.
Umm . . . . kurasa aku perlu mencari relic yang bisa merubah seseorang jadi kucing.
Tidak! Tidak! Tidak! Bukan itu masalah yang harus kupikirkan sekarang.
"Jadi apa ini Hanabi?"
"Tugas bahasku, jadi bagaimana pendapatmu kak Naruto?"
Kenapa dia bilang? Kalau hanya sekedar dilihat dari penulisannya aku akan bilang kalau dia sangat hebat. Aku yakin kalau tidak ada anak seumurannya yang mampu membuat tulisan sepertinya, penjelasan dan detail yang dia perhatikan sangat bagus.
Tapi di situ jugalah masalahnya berada. Dia sudah menulis apa yang anak seumurannya tidak boleh tulis, ketika aku bisa membanggakan teknik yang dimilikinya aku sama sekali tidak bisa melakukan hal yang sama pada konten yang dia buat.
"Sebelum itu bolehkan aku bertanya beberapa hal padamu Hanabi?"
"Umm! tentu saja."
Seperti biasa, Hanabi menjawab dengan polos.
"Kalau begitu apa maksud dari kalimat ini 'daripada ditekan aku lebih suka menekan-nekan'?"
"Naruto yang di sini suka main game."
Heh? Apa iya? Jadi yang dia bicarakan itu tombol stick controller? Tapi kenapa aku tidak mendapatkan konotasi semacam itu?. Nilaiku dalam pelajaran bahasa tidaklah serendah itu sampai aku tidak bisa menerka sebuah maksud dalam kalimat.
Tapi Hanabi menjawab tanpa keraguan, jadi tidak mungkin dia mengarang jawaban di tempat secara dadakan.
"Lalu kalau yang ini? Kenapa Hinata yang ada di sini jadi malu setelah mendengar kata-kata tadi?"
"Karena dia selalu gagal saat sedang main game yang sama di sebuah level?"
Tapi dari atmosfir yang kubaca setelah mendengarnya dari Hanabi sama sekali tidak cocok dengan jawaban yang kudengar. Apa aku sudah salah membaca suasana? Tidak mungkin! tidak mungkin aku lebih bodoh dari Hanabi yang baru sebelas tahun ini.
Hanya saja muka polosnya tidak berubah jadi aku yakin kalau gadis kecil di depanku ini tidak bohong.
"Minggir kau!."
Hinata menabrak tubuhku dari pinggir dan menyingkiranku ke arah jendela, setelah itu dia menempatkan dirinya tepat di depan Hanabi.
"Apa kau ini bodoh Naruto? Jangan tanyakan hal yang sudah jelas seperti itu!."
Bagaian mananya yang jelas? Dan dikatai bodoh oleh orang bodoh rasanya benar-benar menyebalkan. Entah kenapa tiba-tiba merasa kalau aku ini adalah orang yang paling bodoh di antara kami bertiga.
"Daripada itu aku lebih ingin tahu bagaimana kau bisa mendeskripsikan adegan ciumannya!? apa kau pernah melakukannya dengan seseorang? Kalau iya cepat berikan namanya agar aku bisa segera membunuhnya!."
Uwaaahh seram. Meski selalu bertingkah seakan tidak suka dengan adik tirinya ternyata Hinata sangat memikirkan Hanabi. Tapi meski begitu aku paham perasaannya. Aku juga tidak bisa membiarkan siapapun yang sudah berani memanfaatkan kepolosan Hanabi berkeliaran begitu saja. Kali ini aku akan membantu Hinata untuk menangkapnya, kalau perlu bahkan aku akan mencincang-cincang orang lalu kujadikan makanan ikan.
"Tentu saja aku belum pernah melakukannya!."
"Baguslah kalau begitu."
Entah kenapa aku juga ikut lega dan menarik nafas.
"Syukurlah."
"Jangan khawatir kak Naruto, yang boleh melakukannya hanya kau saja."
Hinata menatapku dengan tajam.
Kenapa tiba-tiba aku yang jadi target kemarahan? Aku sama sekali tidak salah bicara. Dan jika ada yang salah bicara dia adalah Hanabi.
"Untuk deskripsinya aku meminta bantuan dari kak Neji, aku mengirimkannya tulisanku lalu dia memberikan refisi di sana dan di sini."
Aku kembali mengela nafas panjang. Setidaknya aku tahu kalau isi dari tugas bahasanya tidak seratus dibuat olehnya.
Neji adalah kakak dari kedua bersaudara di depan dan sampingku ini. Katanya dia adalah orang pintar, tegas, dan serius. Tidak seperti kedua saudaranya, dia adalah pria dewasa yang sudah berpengalaman di dunia yang sesungguhnya.
Hinata melemaskan tubuhnya.
"Dia masih sama mesumnya seperti dulu."
Aku jadi penasaran dengan orang itu.
"Memangnya dia itu seburuk itu?"
Tunggu dulu. Kalau begitu bukankah aku sama mesumnya dengan orang itu. Aku bahkan salah paham dengan tulisan Hanabi dan menganggap tulisannya penuh dengan material sugestif.
"Kalau dibilang buruk sih tidak, tapi dia benar-benar menyebalkan! Sangat menyebalkan! Selain itu dia juga tidak tahu malu."
Hanabi ikut mengangguk.
"Kak Neji memang benar-benar menyebalkan! Dia bahkan sudah membuatku kesusahan sebab dia mengganti nama kak Naruto menjadi namanya sendiri! Karena hal itu aku sampai harus tidur malam untuk memperbaikinya."
Orang itu benar-benar tidak tahu malu.
Dan kau tidak perlu repot-repot begadanga Hanabi, kapan-kapan akan kuberitahu kau caranya menggunakan find and replace.
"Jadi kapan kau akan menyerahkan tugasmu itu Hanabi?"
Sebelum dia menyerahkan tugas bahasa penuh dengan masalah itu pada gurunya aku akan melakukan editing besar-besaran pada hasil karyanya itu. Meski aku agak tidak tega untuk merusak karyanya itu, tapi aku jauh lebih tidak tega kalau dia mendapatkan masalah karena tulisan salah demografinya itu.
"Kapan? Aku sudah menyerahkannya karena itulah sekarang aku hanya membawa kopiannya."
"Heh?"
"Aku sudah menyerahkannya."
Dengan ekspresi bangga, Hanabi menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.
"Guruku bahkan sempat terkejut saat membacanya."
Tentu saja dia terkejut! bagaimana mungkin dia tidak terkejut saat membaca sebuah tulisan anak sebelas tahun yang semua isinya berisi material suggestif. Kalau dia tidak menanykannya langsung ke si penulis pasti dia juga akan salah paham sama sepertiku.
"O. . . dan aku juga mendapatkan sebuah surat dari guruku, dia bilang untuk menyerahkannya pada waliku!."
Hanabi memberikan sebuah surat dengan amplop resmi padaku.
"Mungkin aku akand apat penghargaan jadi bersiaplah kak Naruto."
Semoga saja begitu.
Kepada, Yang terhormat wali murid. Setelah kami mempertimbangkan dengan masak-masak dan memperhatikan perkembangan putri bapak/ibu kami memutuskan jika ada masalah pada lingkungan tempat putri bapak/ibu berada. Oleh sebab itu kami mengundang bapak/ibu untuk datang ke sekolah untuk mendiskusikan tentang hal tersebut secara lebih dalam. Untuk itu, mohon bapak/ibu hadir pada tanggal yang telah ditentukan.
Tentu saja itu tidak mungkin.
"Hah. . . . . ."
Sepertinya masalah masih belum mau meninggalkanku. Bahkan setelah kami melewati masalah besar.
Jika ada sebuah pekerjaan yang selalu kukerjakan dengan giat tapi tidak pernah selesai, hal itu adalah masalah dalam kehidupanku.
Dengan itu, kami semua kembali meneruskan perjalanan ke rumahku. Untuk menyelesaikan satu masalah besar lagi.
Jangan tanya idenya dari mana. Soalnya saya susah njawabnya. Dan tolong jangan anggap saya ini orang super mesum.
Thanks.
1 : Tsukumodo antique shop prolog
2 : Pasti tahu lah, As Soon As Possible
3 : Foundernya google
4 : Merasa lebih rendah dari orang lain
5 : Bust, Waist, Hip
6 : Power On Self Test
