Cuma sekedar chapter selamat datang. Selamat datang terhadap diri sendiri yang baru bisa balik nulis lagi.
Disclaimer : Massashi Kishimoto
1
Rumahku lumayan jauh dari stasiun kereta. Setelah turun dari kereta, aku harus naik bus selama satu setengah jam melewati jalan yang naik turun dan berkelok-kelok. Pemandangannya sendiri bagus dan udaranya juga segar sebab pada dasarnya di kanan dan kiri kami itu adalah hutan, meski hutan untuk keperluan industri.
Tapi mengesampingkan hal itu, desa tempatku tinggal tidak berbeda jauh dengan desa di mana Ren-chon tinggal.
Untuku sendiri, sebab aku sudah terbiasa melewati jalannya aku tidak merasakan apa-apa kecuali nostalgia. Kalau untuk Hanabi, dia sedang berdiri di atas kursinya untuk bisa melihat lebih jelas ke luar dengan muka senang dan kagum layaknya sedang dalam perjalanan sekolah.
Normalnya aku akan menyuruhnya untuk turun, tapi sebab dia memasang ekspresi-ekspresi sangat imut di wajah imutnya. Aku membiarkannya saja. Dia bisa jadi hiburan tersendiri saat aku mulai bosan.
Mungkin sekarang aku agak lebih paham bagaimana orang tua saat melihat anaknya yang sedang senang. Mungkin perasaannya seperti apa yang kurasakan sekarang ketika melihat keimutan Hanabi.
Sedangkan Hinata.
". . . . . . ."
Dia sedang menunduk dengan muka pucat. Dan aku bahkan bisa dengan jelas melihat kalau dia sedang menahan diri untuk tidak muntah. Lalu aku sendiri, sedang memegang plastik untuk bersiap kalau-kalau dia benar-benar muntah.
Aku ingin mengajaknya bicara, tapi begitu kuajak bicara moodnya jadi langsung tambah buruk. Jika harus dibandingkan, mungkin kesensitifitasannya sama dengan kakak perempuanku yang sedang sakit gigi. Oleh sebab itu aku hanya duduk diam di sampingnya.
Setelah kejadian dengan Hanabi beberapa waktu yang lalu, masalah pakaian Hinata bukan lagi masalah. Hanabi membawa banyak barang dari rumahnya untuk ditempatkan di ruanganku. Sekarang malah tempat tinggalku jadi kekurangan tempat karena untuk suatu alasan pakaian kedua bersaudara itu malah empat kali lebih banyak daripada pakaianku.
Sekalian pulang, aku juga ingin minta satu atau dua lemari tambahan. Sementara ini, semua pakaianku Hinata keluarkan, dan Hanabi tata di lantai. Tapi tentu saja hal itu tidak bisa dibiarkan terus berlanjut. Meski saat bangun Hanabi itu adalah gadis kecil baik yang penurut dan suka kerapihan, tapi saat tidur dia itu seperti pria paruh baya yang sedang mabuk.
Jika kebiasaan buruk tidurnya hanya banyak bergerak saat malam, untuk mengatasinya sangat mudah. Aku tinggal memeluknya dengan erat seperti bantal guling, meski Hinata akan marah kalau aku melakukannya tapi dengan begitu dia tidak bisa bergerak
Dan aku mendapat sebuah bantal guling yang sangat hangat dan lembut.
Dan tolong percaya padaku kalau aku sama sekali tidak berpikir mesum saat berpikir untuk memeluknya. Akan kuakui kalau aku senang mengelus-elus perutnya atau meciumi rambut panjangnya yang tipis. Tapi kesenanganku untuk melakukan kontak fisik dengannya adalah murni hanya karena keimutannya.
Maksudku, dia itu benar-benar semenggemaskan itu. Perasaaanku saat menyentuhnya persis seperti saat ketika aku dulu masih di rumah dan mengelus kucingku. Badannya hangat dan lembut, lalu bulunya di perutnya benar-benar halus, lalu ekspresinya ketika aku mengelus dagunya benar-benar manis.
Meski tidak kelihatan tapi aku ini pecinta kucing. Meski sekarang aku tidak punya kucing lagi dan satu-satunya kucing yang ada di rumah orang tuaku adalah kucing yang cukup berbahaya sampai dengan hanya mendekatinya saja seseorang bisa mati.
Uaa. . . entah kenapa sekarang tiba-tiba aku jadi membayangkan kalau Hanabi punya kuping dan ekor kucing. Aku jadi ingin mendadaninya seperti itu. Ok, sudah kuputuskan! saat di rumah nanti aku akan bertanya pada ayahku apakah dia punya kostum semacam itu.
"Naruto. . . wajahmu kelihatan mesum."
Aku memegang kedua pipiku.
Apa iya wajahku kelihatan mesum? lagipula wajah mesum itu wajah seperti apa? dan bagaimana bisa aku berpikir mesum saat sedang melihat Hanabi? tidak mungkin. Aku hanya sedang mengagumi keimutannya saja. Iya, cuma itu. Aku yakin cuma itu. Kalau yang dibicarakan adalah ayahku, mungkin kasusnya lain. Sebab dia itu seratus persen lolicon.
"Apa kau sudah baikan?"
Sementara mari kita lupakan topik tentang aku ini lolicon atau bukan. Yang mau kusampaikan hanyalah fakta kalau saat tidur Hanabi jadi ganas dan menyerangku dengan ganas pula. Dan yang kumaksud menyerang adalah serangan yang sesungguhnya seperti pukulan dan tendangan.
Aku sudah sering dibangunkan oleh tandangannya di mukaku.
Oleh sebab itulah begitu bangun pakaianku sering jadi korban dan berhamburan seperti habis terkena angin topan. Dan kadang-kadang dia juga memukulu maupun Hinata yang dengan ajaibnya bisa terus mempertahankan diri sambil tidur.
Meski aku tidak punya hak untuk mengatakannya, tapi anggota keluarga mereka benar-benar aneh.
"Sama sekali tidak, hey Naruto. . . apa rumahmu masih jauh."
"Masih setengah jam lagi."
Dia langsung menatapku dengan muka yang menyedihkan, cukup menyedihkan untuk membuatku agak ragu kalau yang sedang melihatku adalah Hinata yang harga dirinya sangat tinggi. Meski dia punya banyak kelemahan dalam urusan domestik, tapi dia tidak pernah menunjukan kelemahan dalam masalah fisik. Dan sekarang, dia malah kelihatan benar-benar lemah.
Eh. . . . kalau begitu bukankah sekarang dia tidak bisa melawanku seperti biasanya?
"Narutoo. . . mukamu jadi mesum lagi."
Geh. . . . apa aku harus beli kartu poker untuk kutempelkan ke wajahku? kalau dia terus mengatakan aku mesum. Meski aku mencoba tidak memikirkannya maka karakterku akan hancur. Kau bisa membuatku lupa kalau aku ini harusnya orang dengan karakter lebih keren. Kalau begini bukankah aku cuma jadi karakter mob yang akan menembak siapapun yang kelihatan manis?
"Mungkin kau bisa coba tidur Hinata."
"Aku malah akan tambah pusing."
"Bagaimana kalau minum obat?"
Aku mengeluarakan sebuah sachet berisi obat anti mabok kendaraan.
"Aku tidak suka sesuatu yang pahit."
"Tapi ini manis. . ."
"Tapi manisnya masih ada pahitnya."
Aku kembali mengambil obat lain, kali ini bentuknya tablet. Harusnya obat yang baru kukeluarkan punya rasa lebih pahit, tapi jika dia langsung menelannya dia tidak harus merasakan pahitnya obat itu. Aku bahkan sudah menyiapkan jus dingin supaya rasa pahit di pangkal lidahnya langsung bisa dihilangkan.
"Aku tidak bisa minum tablet."
"Ha?"
Setelah itu Hanabi melihat ke arahku sambil tetap memegang ponselnya yang dia arahkan ke luar bus, tepatnya ke tebing tinggi penuh pohon dan rumput yang berdiri seperti tembok. Dia kelihatan benar-benar menikmati perjalanan ini.
"Jika dia harus memakan tablet, obatnya harus ditumbuk sampai halus dan jika kapsul isinya harus dikeluarkan sebelum dimimun."
He? kalau begitu bukankah rasa pahitnya jadi tambah parah? dan kebanyakan obat yang dibuat jadi kapsul punya rasa yang jauh lebih buruk dari sekedar pahit dan bahkan kadang-kadang baunya sangat menyengat. Apa gadis ini ingin menyiksa diri sendiri? apa dia itu sebenarnya masochist?
"Ja-jangan melihatku begitu. . . mau bagaimana lagi? kalau aku meminumnya langsung obatnya pasti menyakut di tenggorokanku."
"Memangnya kau anak keciiil!?..."
Kalau tidak ada cara untuk menghindar, yang bisa dia lakukan hanya satu. Maju dan lawan. Kalau dia tidak bisa menang, tetap maju dan lawan. Dengan kata lain.
"Cepat muntah! muntahkan isi perutmu!."
"Heee. . . ja-jangan sembarang kau! aku tidak muaoooo-aall. .!."
Apanya yang tidak mual! kau sudah kedengaran seperti zombie.
"Cepat muntah. . kalau kau sudah muntah perasaanmu akan jadi lebih baik, kau jadi pusing dan perutmu terasa tidak enak itu karena kau menahannya! jadi sekarang keluarkan! keluarkan semuanya sampai kau tidak bisa muntah lagi."
Aku memegang leher bagian belakangnya dengan tangan kananku setelah itu aku mendorong kepalanya ke hadapan kantong plastik yang pegang dengan tangan kiri. Dan tentu saja dia tidak menurut.
"Aku tidak mau!."
Dia balik menyerangku, dia menggunakan tangan kanannya untuk memegang pipi dan bagian tepi mulutku lalu mendorong wajahku ke belakang. Membuat wajah bagian kiriku tertarik dengan keras dan berubah jadi seperti alien. Kemudian dia juga mendorong-dorong daguku ke atas sehingga sekarang aku melihat ke atas langit-langit bus.
Dorongannya benar-benar kuat, bagaimana tangannya yang tidak kelihatan berotot ini bisa sekuat ini? dan aku juga sangat yakin perutnya tidak punya enam paket yang siap dikirimkan. Tapi kenapa aku kalah kekuatan darinya, yang notabene lebih besar secara fisik.
"Geh. . cepat muntahkaaaannn!."
Tapi meski aku kalah dalam masalah kekuatan, aku tidak akan kalah dalam masalah niat. Aku tidak akan menyerah sebelum kau mau muntaaaaahhhh.
Dan di saat itu, bus kami menginjak sebuah lubang yang lumayan besar kemudian membuat seluruh isi bus bergoncang. Lalu, Hinata tidak bisa lagi menahan dirinya lagi dan. . .
"Ugheeee. . . . "
Dia muntah. Tapi bukan di plastik yang sudah kusiapkan. Melainkan ke atas tubuhku. Setelah itu semua orang pindah menghindariku yang duduk di belakang sendirian. Aku sudah berhasil melakukan apa yang kumau, tapi kenapa rasanya aku tidak bahagia?.
Setelah itu, selama perjalanan Hanabi dan Hinata terus menghindariku dengan berjalan lebih cepat. Dan aku sendiri, sambil merasa terbuang ter us mengikuti keduanya dari jarak beberapa meter dan memberikan arahan ke mana mereka harus berjalan.
Begitu keluar dari halte, kami masih harus berjalan sekitar lima atau enam kilometer lagi untuk bisa sampai ke rumah orang tuaku. Dan jalannyapun tidak bisa dibilang mulus. Sebab tempatku adalah desa yang lumayan terpencil, hanya jalan utama saja yang diaspal sedangkan sisanya batu atau tanah. Lalu jalurnya juga naik dan turun melewati jalan setapak yang sering licin maupun terjal.
Aku sedikit khawatir pada Hanabi dan mencoba menawarkan bantuan, tapi Hinata langsung memberiku tatapan yang artinya 'jangan berani-berani mendekat!' ke arahku. Sehingga akupun mundur lagi.
Hinata memberikan keluhan sambil sedikit memarahi Hanabi, tapi pada akhirnya dia selalu membantu dengan senyum. Meski dari luar Hinata kelihatan keras tapi sebenarnya dia sangat menyayangi adik kecilnya itu. Oh. . . kalau terus disuguhi pemandangan sekelas drama ini mungkin aku menangis terharu.
"Jangan melihat ke sini dengan tatapan menjijikan seperti itu."
Dan sekali lagi ada orang yang sangat suka merusak suasana.
"Apanya yang menjijikan, ini adalah tatapan hangat."
"Apanya yang hangat? tatapanmu itu menjijikan."
Kenapa aku jadi merasa sedang berbicara dengan anak lima tahun?
Sudahlah. Semua orang juga sudah tahu kalau Hinata itu lebih kekanakan dari Hanabi. Jadi mulai sekarang dia akan kuanggap anak kecil. Jika dia ingin bertingkah seperti anak kecil, aku juga akan memperlakukanmu seperti anak kecil. Fair and Square.
Lagipula punya adik perempuan yang bukan anak kecil secara fisik kurasa tidak buruk. Asalkan Hinata bukan anak dari raja iblis yang sering jadi mesum saat sedang merasa bersalah dan Hanabi bukan succubus loli semua akan baik-baik saja.
Aku bisa menahan diri dan aku bisa menerimanya.
"Um."
Aku mengangguk-anggukana kepalaku.
"Ugh. . . ekspresimu jadi semakin menjijikan."
Tidak. Tidak, aku tidak bisa menahan diri. Meski aku ini orang yang toleran aku tidak bisa mentolerir apa yang dikatakannya tadi. Selain itu dia terus-terusan mempermalukanku di depan Hanabi. Harga diriku sebagai seorang kakak angkat sama sekali tidak bisa menerimanya, entah sejak kapan aku jadi merasa kalau kelihatan buruk di depan Hanabi itu sangat memalukan.
Ok.
"Kalau kau ingin bermain seperti itu maka aku akan melayanimu."
". . . . . "
Hinata kelihatan bingung setelah mendengar apa yang kukatakan, tapi tanpa sempat memberikannya waktu untuk memikirkan maksudku. Aku langsung berlari dan menangkap Hanabi yang masih berjalan dengan kesusahan. Setelah itu aku menaruh tubuhnya dengan mudah ke atas pundaku dan kembali berlari.
"Ahahah. . . tangkap aku kalau kau bisa!."
Jika kau ingin bertingkah seperti anak kecil, aku juga akan bertingkah seperti anak kecil. Rasakanlah bagaimana menerima balasan dari perbuatanmu padaku tadi.
". . . . ."
Hinata kelihatan sangat marah.
Dan tentu saja usahaku gagal total. Aku lupa memperhitungkan perbedaan kekuatan fisik di antara kami berdua. Tanpa bantuan magic aku tidak mungkin bisa menang dengannya kalau sudah masalah kekuatan.
Setelah berhasil menangkapku dan merebut Hanabi, Hinata mendorongku ke sebuah sungai kecil untuk irigasi. Dan berhubung aku sudah basah, aku langsung masuk sekalian dan membiarkan sisa muntahan Hinata ikut terbasuh.
Sebab aku sudah basah kuyup barang bawaanku diminta Hinata untuk dibawanya. Dan ketika kami bertiga sudah bisa berjalan bersama, tiba-tiba Hanabi menarik t-shirtku.
"Kak Naruto, apa kau ini sebenarnya orang penting?"
"Tidak ada orang yang tidak penting Hanabi. . ."
"Hnggg. . . ."
Yang ingin kulakukan adalah memancing kemarahan Hanabi sebab muka marahnya itu lucu. Tapi yang langsung marah adalah Hinata yang sudah kelihatan ingin segera meninju wajahku karena mempermainkan adiknya.
Setelah tinggal bersama mereka berdua selama beberapa minggu, sekarang aku sudah paham kalau sepertinya yang punya penyakit siscon bukan hanya kakak laki-laki mereka tapi juga Hinata. Jika sudah menyakut Hanabi si Hinata jadi sangat sensitif dan pikirannya jadi lebih panas dari biasanya.
Selain pukulan tidak sengajanya di lenganku dan pukulannya di wajahku dulu, sampai saat ini dia belum pernah benar-benar memukulku lagi. Tapi aku sama sekali tidak ingin mengambil resiko sebab pukulannya sangat menyakitkan.
"Itu kar. . ."
"Apa yang membuatmu berpikir begitu Hanabi? Aku sama sekali tidak bisa membayangkan orang yang ekonominya selalu di ujung tanduk ini bisa jadi orang penting."
"Kau ini Hinata! kenapa kau harus menjelek-jelekanku di depan Hanabi?."
"Karena aku ingin melakukannya."
Jujur sekali kau!. . . tapi kejujuranmu menyakitkan. Dan tolong jangan lakukan lagi, jika Hanabi benar-benar membenciku bagaimana?. Lagipula yang membuat keadaan ekonomiku selalu berada di ujung tanduk itu bukankah kau sendiri?. Meski seharusnya kau yang mengurusiku, tapi entah kenapa selalu saja aku yang berakhir mengurusimu dan ujung-ujungnya aku juga yang harus keluar uang.
"Kalian tidak perlu memperdebatkannya, kak Naruto miskin itu sudah jadi rahasia umum."
"Hanabiiiii. . . . ."
Jangan menghianatiku di saat seperti ini. Ah. . . . dadaku benar-benar sakit.
"Jadi apa basismu Hanabi?."
Tanpa memperdulikanku sama sekali, Hinata tetap melanjutkan topik tadi. Dan meski aku tidak ingin mendengar lebih banyak hinaan yang memang nyata, tapi aku juga penasaran kenapa Hanabi punya tebakan kalau aku ini orang penting.
"Ada banyak orang yang memberi salam pada kita, aku dan kak Hinata adalah orang asing jadi tidak mungkin salam itu ditujukan pada kami."
Orang di desa memang lebih punya rasa keperdulian tinggi. Sebab mereka jauh dari peradaban, mereka lebih bergantung pada satu sama lain daripada kepada uang. Karena itulah ramah pada seseorang adalah sudah seperti undang-undang, sebab jika kau mengalami kesulitan. Mereka itulah yang akan pertama kali datang dan menolongmu.
"Dan aku juga melihat beberapa orang tua yang bertingkah hormat pada kita, karena itulah. . ."
Hinata mengangguk dan bicara.
"Sekarang aku paham, orang-orang dewasa memang hanya mau hormat pada orang penting yang punya uang."
Pendanganmu tentang orang dewasa benar-benar negatif Hinata. Meski aku juga punya pikiran yang tidak terlalu berbeda. Tapi dalam kasus ini lain.
"Tidak. . mereka memberi salam bukan karena aku penting, tapi karena aku dekat dengan mereka."
Mereka adalah orang-orang yang sudah melihatku sejak kecil, bahkan bisa dibilang mereka adalah teman bermainku. Meski sebenarnya yang bermain hanya aku dan mereka serius bekerja. Tapi tetap saja kalau aku banyak menghabiskan waktu dengan mereka itu adalah fakta. Sebab di tempat ini anak seusiaku itu cuma ada enam aku jadi lebih sering bermain dengan para pekerja yang ada di sini.
"Pekerja?."
Hanabi memberiku tatapan bingung.
"Mereka itu bekerja pada keluargaku, sebagai petani."
"Ngomong-ngomong berapa luas lahan milik keluargamu kak Naruto?."
"Mungkin sekitar sepuluh kilometer ke depan, belakang, kanan, dan kiri rumahku."
"Kalau begitu bukankah orang tuamu itu kaya kak Naruto? sepuluh kilometer persegi itu luasnya hampir sama dengan sebuah kota kecil! jika semuanya adalah lahan pertanian bukankah orang tuamu punya banyak uang?."
"Mereka memang punya banyak uang, tapi aku tidak."
"Heh? kau tidak miskin?."
Sudah kubilang yang kaya itu orang tuaku, apa kau tidak dengar Hinata?. Lagipula, kalau dibandingkan dengan keluargamu, kekayaan yang dimiliki keluargaku itu sama sekali tidak ada artinya.
"Padahal mukamu itu tampang orang miskin."
Kenapa ujung-ujungnya selalu saja mukaku yang dibahas.
"Sebab selain mukamu tidak hal lain yang pantas untuk dibahas."
". . . . ."
"Kenapa kau tiba-tiba jadi diam?."
Apa itu artinya aku ini tampan?, ok mari berpikir positif dan anggap kalau yang tadi itu adalah pujian tidak langsung.
Setelah setengah jam kembali berjalan, akhirnya kami bertiga bertemu dengan sebuah gerbang kayu besar dengan tembok batu di sekitarnya persis seperti kastil saat jaman samurai.
Jika mau, tembok dan pintu di sekitar rumahku bisa diganti besi dan beton. Tapi sebab penghuninya itu spesial semuanya dibiarkan tetap seperti keadaannya dulu saat pertama dibangun dan jika ada yang rusak maka mereka akan diperbaiki dengan material yang kurang lebih sama.
Gerbangnya tidak tertutup sehingga kami semua bisa langsung masuk. Lalu tentu saja tidak ada yang menyambut kami dengan berbaris di samping dan kiri kami bertiga. Setelah berada di dalam kami disambut dengan pemandangan rumput pendek yang tumbuh di halaman luas, beberapa pohon yang daun lebatnya menutupi atap beberapa bagunan, lalu banyak bangunan dengan banyak fungsi seperti menyimpan peralatan, hasil panen, dan juga tempat tinggal pekerja yang dihubungkan dengan jalan kecil yang diberi kerikil-kerikil halus.
Ya, rumahku bukan sebuah rumah tapi melainkan sebuah kompleks bangunan.
Membangun bangunan berbeda di tempat berbeda itu merepotkan sebab tempat itu jadi tidak bisa diawasi dan harus dijaga. Oleh sebab itulah kompleks di sekitar rumahku dibangun dan berfungsi sebagai hub kegiatan di area yang dimiliki keluargaku.
Kami semua kembali berjalan dan menuju ke tengah-tengah kompleks di mana rumah orangtuaku benar-benar terletak. Tanpa menunggu lama, kami bisa menemukan sebuah bangunan tradisional yang relatif lebih besar dari yang lain.
Itulah rumah tempatku lahir.
"Hufff. . . "
"Kenapa Kak Naruto?."
Aku yang menghela nafas panjang memancing perhatian Hanabi.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasakan firasat aneh."
"Kalau begitu aku yang akan mengetuk pintu. . ."
"Hanabi jangan gegabah. . kita tidak tahu apa yang akan muncul dari dalam. . ."
Perasaanku sekarang persis seperti sedang main game zombie atau alien. Di saat seperti ini biasanya akan ada yang lompat ke depan mukamu atau malah muncul dari belakang lalu mengigitmu.
"Ha?. . . . "
Sebab Hanabi tidak pernah tinggal di sini dia tidak tahu kalau seluruh tempat yang ada di sini itu pada dasarnya berbahaya untuk anak kecil imut sepertinya.
"Permis. . ."
Hanabi mencoba mengetuk pintu, tapi begitu dia mengeluarkan tangan kanannya untuk mengetuk pintu di depan kami. Tiba-tiba pintu itu sedikit terbuka dan dari dalam sebuah tangan besar muncul lalu dengan cepat menarik Hanabi ke dalam.
"Aaaaaa Hanabii!. . . . "
"Aaaaaa Hanabii!. . . . "
Aku dan Hinata berteriak lalu langsung masuk dan menemukan seorang pria paruh baya tampan yang tidak pernah kelihatan jadi tambah tua seberapa lamapun aku bersamanya. Ayahku. Dan dia sedang memegang tangan Hanabi lalu memeluknya dari belakang sambil menutupi mulut gadis kecil itu menggunakan tangannya yang satu lagi.
Setelah kami masuk, diapun mulai bicara dengan sok serius.
"Naruto! ada sangat banyak hal ingin kukatakan padamu! tapi dari semua itu ada satu hal yang sangat penting untuk kuberitahukan sekarang juga!."
Dia menarik nafas dalam.
"Aku tidak akan menyerahkan putriku padamu dasar laki-laki pedo mesum! dia masih terlalu mudah bodoh! masa depannya masih panjang! dan aku hanya akan menyerahkannya pada laki-laki yang bisa mencintainya lebih dari aku mencintainya! tapi sayangnya. . . aku adalah orang yang paling mencintainya! jadi pulang saja ke orang tuamu!."
"Orang tuaku itu kau! dan aku tidak mau dituduh pedo oleh orang semacam kau! lalu dia bukan anakmu! terus kenapa kau langsung mengambil kesimpulan kalau aku membawanya sebagai calon istriku dasar orang mesum!."
"Naruto.. . ."
Hinata menepuk pundaku. Aku melihat ke arahnya lalu mencoba menenangkan diri dengan kembali menarik nafas panjang.
"Ahem! calon yang istriku itu yang ini! gadis cantik manis bertubuh sexy bernama Hinata inilah yang aku putuskan untuk ajak masuk ke dalam keluarga kita."
Aku melihat ke wajah Ayahku dan. .
"Ha? . . . membosankan"
"Apa-apaan muka kecewamu itu!. . . . apa kau ingin aku benar-benar jadi kriminal!?."
"Ah. . . benar-benar membosankan, tidak menarik, tidak mengejutkan! kenapa kau tidak pilih gadis kecil imut manis ini saja?."
Jadi kau menyuruhku untuk jadi kriminal!? lalu bukankah kau sendiri yang melarangnya?. Ngomong-ngomong, apa kau masih waras?.
"Aku sangat yakin kalau tidak ada yang salah dengan pilihanku. . "
Dan kenapa kau ingin sekali kejutan?.
"Justru karena itu! terlalu mudah ditebak! . . . aku bahkan sudah bisa memperkirakan bagaimana semua bisa jadi seperti ini, kau punya locket yang tidak bisa dibuka lalu suatu hari dia datang dan memiliki kunci locket itu lalu ada banyak gadis lain yang punya kunci yang sama dan kau jadi bimbang! setelah ini dan itu terjadi dia bisa membukanya dan fotonya ada di dalam lalu kau ingat kalau waktu masih kecil kalian berjanji untuk menikah saat sudah dewasa! begitu kan. . ."
"Panjang! panjang! imajinasimu terlalu panjang! lalu tolong cepat berhenti mengkopi karya orang lain!."
Aku tidak pernah hilang ingatan, aku benar-benar yakin kalau pertemuanku dengan Hinata adalah yang pertama kalinya. Dan aku tidak punya locket yang jadi sumber drama semacam itu. Jika aku punyapun aku tidak akan memperdulikannya dan langsung menuju ending saja.
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau pikirkan. . . tapi tolonglah jaga ucapanmu. . ."
"Eh kenapa?. . ."
"Baca situasinya! bagaimana kalau Hinata salah paham. . "
"Kurasa kau tidak perlu khawatir, dia mungkin bahkan tidak mendengarkan apa yang kau katakan."
Aku melihat ke arah Hinata, tapi begitu aku melihatnya dia sedang tenggelam dalam dunianya sendiri sambil mengatakan hal-hal yang tidak karuan.
"Tapi tetap saja."
"Mau bagaimana lagi? semuanya memang membosankan, kau membawanya ke sini dan dan dia jadi calon istrimu itu bukan kejutan, sudah diperkirakan, dan normal, lagipula kalian berdua itu dijodohkan jadi ini cuma masalah waktu. . ."
"He? dijodohkan?. . . . . . . "
Aku tidak benar-benar punya locket yang di dalamnya berisi foto Hinata kan?.
2
Kakaku tidak tahu kemana sedangkan Ibuku mungkin sedang mengurung diri di kamarnya sendiri sambil main game seharian. Karena itulah yang ada di ruangan itu hanya kami berempat.
Ayahku masuk dengan menuntun Hanabi ke dalam, sedangkan aku mencoba menyadarkan Hinata dengan mencipratkan air ke wajahnya. Setelah keadaan sudah agak lebih tenang, aku duduk di samping Hinata di dalam ruang keluarga yang sengaja dibuat kecil. Sambil menghadap Ayahku yang duduk bersila di depan kami.
Dengan memangku Hanabi di antara kedua kakinya.
"Naruto, apa aku boleh tanya sesuatu!?."
Hinata memiringkan badannya lalu berbisik padaku.
"Kenapa Ayahmu kelihatan lebih keren darimu!."
"Aku juga ingin tahu!."
Umurnya pasti sudah lebih dari dua kali lipat umurku, tapi dia masih kelihatan seperti pria dalam masa topnya. Wajah tampan, rambut mencolok, serta postur sempurnanya persis seperti protagonis dari manga shojo. Aku bahkan bisa membayangkan kalau wajahnya akan ditaburi bintang saat dia tersenyum.
"Apa aku boleh bertanya lagi?."
"Tentu saja."
"Kenapa Ayahmu lebih mesum darimu?."
"Kalau yang itu aku tidak ingin tahu. . .!."
Selama aku berbicara dengan Hinata, Ayahku tidak diam saja dan malah sedang menyibukan diri.
"Hanabi cuwaaaann. umah. ."
"Unyaa. . . tolong berhenti. . .Minato san. ."
Unyaa. . . tolong berhenti Hanabi cuwaaann. . . kalau kau terus mengeluarkan suara-suara imut itu kau malah hanya akan membuat Ayahku jadi semakin ingin bermain-main denganmu. Selain itu, lama kelamaan aku juga jadi tidak tahan ingin ikut bermain. Aaaa. . . kalau begini terus aku akan bergabung dengan Ayahku dan ikut jadi orang mesum.
"Naruto.!. . . tolong jangan ikut masuk ke penggorengan kalau kau tidak ingin kugoreng."
"Eh? kenapa hanya aku? kenapa kau tidak ikut mengancam Ayahku yang bahkan sudah mulai dari tadi!."
"Kenapa aku harus mengancam seseorang yang sedang bermain dengan putrinya sendiri?."
Secara teori memang Hanabi sudah jadi adik perempuanku yang artinya juga adalah anak Ayahku.
"Putrinya sendiri? tapi lihat saja apa yang dia lakukan."
"Aku melihatnya dan aku memutuskan kalau Ayahmu aman."
Kenapa dia aman dan aku tidak? kau kira aku ini hewan buas?.
Kalau yang dilihat hanya umur memang Ayahku kedengaran seperti pria paruh baya yang sedang bahagia karena bisa bermain dengan putri kecilnya. Jika kau hanya mendengarnya tentu saja Hanab dan Ayahku kedengaran hanya seperti dua keluarga bahagia yang sedang menghabiskan waktu bersama.
"Tapi aku tidak hanya mendengar!."
Aku melihat. Dan apa yang kulihat tidak kelihatan punya deskripsi sepolos itu.
Ayahku membuat Hanabi duduk di pangkuannya yang sedang duduk bersila, setelah itu dia memeluk Hanabi dengan erat dari belakang sambil memindahkan telapak tangannya dari sana-ke sini tanpa henti.
Mulai dari pundaknya, punggunnya, bawah ketiaknya, pinggangnya lalu perutnya. Selain itu semuanya masih belum berhenti di sana. Agar Hanabi tidak bisa mendorongnya Ayahku melingkarkan kedua kakinya dan menahan kedua telapak kaki Hanabi agar tidak bisa mencengkram lantai.
Dan yang paling membuatku kesal adalah.
"Berhenti kau orang tuaaa!."
Ayahku menempelkan hidungnya ke atas kepala Hanabi lalu perlahan menurunkan wajahnya mengikuti arah rambut halusnya sambil menghirup wanginya. Kemudian, begitu sampai di pipi Hanabi yang halus Ayahku langsung menempelkan pipinya sendiri pada pipi Hanabi dan begitu puas dia langsung menciumnya dengan bersemangat.
"Pipimu empuk sekali Hanabi cuwaan. . aku jadi ingin menjewermu"
"Jangan bicara di samping teli-telingaku Minato san, geli. . ."
Dan Ayahkupun menjewer pipi Hanabi yang sebelah.
"Geli ya. . bagaimana kalau yang ini. . ?."
"Auu. . .iii.. ahahah. . .haha. . . geli. . . . . . jangan. . . di situ. . ."
"Oo. . .o di sini ya. . . di sini ya. . ."
Ayahku meniup telinga Hanabi, setelah itu dia menggunakan jari tangan kanannya untuk menyentuh pinggang Hanabi dengan mendadak, membuat gadis itu jadi kegelian dan reflex menggerakana tubuhnya ke arah yang sebaliknya.
Hanya untuk menemukan kalau perutnya sudah dipegang dengan tangan kiri Ayahku. Setelah itu diapun mulai kembali menggelitik Hanabi, kali ini di perut.
Apa yang kulihat adalah pemandangan Ayahku memeluk paksa seorang gadis sebelas tahun lalu mengunci tubuhnya sambil menghisapi rambutnya, menciumi pipinya lalu meniup-niup telinganya bersamaan dengan menggelitikinya.
Jika Ayahku punya tampang kakek-kakek kerput, mungkin pemandangan ini levelnya hanya ada pada tingkat seorang cucu yang tidak mau dicium kakeknya karena takut padanya sebab kulitnya sudah kriput. Tapi sayangnya dengan penampilannya sekarang yang bisa kulihat hanyalah orang mesum!.
". . . . . ."
Aku benar-benar iriiiiiii. . . . . . .
"Tidak! tidak! tidak! bukan itu."
"Minato san . . jangan di depan kak Naruto. ."
Hanabi mulai kelihatan tidak nyaman dan benar-benar mulai memberontak. Dan berhubung Ayahku sudah punya banyak pengalaman dengan gadis kecilpun paham kalau meneruskan kegiatannya hanya akan membuatnya jadi tidak disukai.
"Aku akan berhenti tapi kau harus memanggilku papa."
Syukurlah. . . ayahku masih punya otak yang normal. Setidaknya nilai moralnya masih ada dan berfungsi. Aku bahkan sudah takut kalau dia minta dipanggil Onii chan oleh Hanabi.
"Papa."
"Tanpa ragu sedikitpun! ok.. anak baik."
Ayahku menepuk kepala Hanabi beberapa kali lalu melapaskannya. Dan begitu lepas dari pelukan Ayahku, Hanabi langsung berpindah tempat dengan buru-buru lalu duduk di sampingku sambil menundukan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
"Hanabi. ."
Tingkahnya benar-benar imut, melihatnya aku jadi ingat tupai yang sedang makan.
"Berhubung mungkin kalian masih capek, sambutnyannya cukup sampai di sini dulu."
Untuk ukuran sambutan, entah kenapa tidak ada satupun hal menyenangkan yang terjadi padaku. Tunggu dulu, tapi ekpresi malu Hanabi tadi lumayan menghibur.
"Bawa Hanabi ke kamarmu, Hinata akan kuantar ke kamarku."
"Tunggu dulu, apa pembagian ruangannya tidak aneh?."
"Ah.. maaf. . salah ngomong, akan kuantar Hinata ke kamar Ibumu."
"Sama saja! bukankah kamar kalian itu sama!?."
"Kau ini sebenarnya maunya apa? apa kau mau sekamar dengan Hinata? aku tidak merasa sudah membesarkanmu untuk jadi orang mesum seperti ini."
"Aku tidak mau dibilang mesum olehmu!."
Ayahku melihatku sebentar lalu mengangguk.
"Aku paham! tapi tenang saja Naruto! Ayahmu ini hanya suka dengan gadis kecil imut!."
"Aku malah jadi tambah khawatir."
"Ibumu sedang menghuni kamar tamu, jadi dia tidak ada ruang kosong lagi, aku bisa menyuruhnya ke ruang kakakmu tapi situasinya bukankah tidak kelihatan baik? selain itu aku juga akan ikut ke ruang tamu untuk melakukan olahraga malam jadi jangan berpikir yang aneh-aneh."
"Ok! ceritanya tidak perlu dilanjutkan! aku tidak mau mendengarnya."
Aku dan Hinata berpisah. Ayahku mengajaknya masuk lebih dalam ke rumah, sedangkan aku keluar lalu menuju bangunan lain. Di keluarga ini, sepertinya ada custom untuk memisah ruangan anak dari tempat orang tuanya berada. Dari apa yang kudengar, kamarku yang sekarang dulunya adalah kamar Ibuku sedangkan Kamar orang tuaku yang sekarang dulunya adalah kamar kakekku.
Aku agak khawatir dengan Hinata, tapi aku memutuskan membiarkan Ayahku yang mengurusnya. Dan yang kumaksud khawatir bukanlah aku khawatir kalau Ayahku akan mengapa-apakan Hinata, tapi aku khawatir kalau dia mengatakan hal-hal yang aneh-aneh padanya.
Kuharap mereka juga tidak membuka album foto lamaku.
Setelah itu aku membawa Hanabi ke kamarku sendiri. Atau lebih tepatnya ke tempat tinggalku sendiri. Lokasinya sendiri tidak terlalu jauh dari rumah utama, tapi posisinya yang ada di pojokan kompleks membuatnya jadi terasa agak gelap.
Tempat yang sangat Ibuku sukai dulu sebab dia tidak perlu kena sinar matahari walau sudah siang.
Ngomong-ngomong kamar kakakku juga ada di bangunan yang sama, tempat kamar kami berada dibagi menjadi empat bagian. Kamarku ada ujung kanan sedangkan kamar kakaku ada di ujung kiri.
"Kita sudah sampai, tapi kau tunggu di luar sebentar ya."
Aku mengambil kunci kamarku lalu membukanya. Ah, hanya saja jangan salah paham. Meski aku perlu menggunakan kunci untuk membuka kamarku sendiri bukan berarti aku punya privasi. Untuk suatu alasan hampir semua orang bisa masuk ke dalam kamarku dengan bebas, oleh karena itulah kadang ada banyak orang yang memanfaatkan absensiku di kamar untuk menaruh benda-benda pribadi mereka di sana.
"Apa kau yakin? kalau kak Naruto mau aku bisa membantu membereskan kamarmu."
"Tidak apa-apa, kau tunggu saja di luar."
"Baiklah kalau begitu."
Hanabi kelihatan bingung dengan tingkahku, tapi pada akhirnya dia menurut dan tetap menunggu di luar. Begitu masuk aku langsung kembali mengunci pintu dari dalam. Dan begitu aku menghidupkan lampu kamarku.
"Sudah kuduga."
Aku langsung menemukan banyak tumpukan benda-benda yang jelas bukan punyaku berserakan di mana-mana. Ada DVD game terbaru dengan cover mecha, ada beberapa doujin dengan cover laki-laki dengan wajah terlalu keren yang tidak mungkin aku beli, selain itu ada banyak foto-foto gadis kecil dua dimensi yang berserakan di mana-mana.
Ok, tanpa bertanya siapapun aku sudah bisa membayangkan benda mana yang punya siapa. Dan tanpa berpikri terlalu lamapun aku juga sudah sangat yakin kalau apa yang ada di sini sama sekali tidak aman untuk dilihat oleh Hanabi.
Jika benda-benda itu kubuang pasti nanti akan ada perang, jadi aku akan membereskannya dulu dan mengembalikan benda-benda itu pada pemiliknya saat waktunya sudah tepat. Sebab aku tidak mau membuat Hanabi menunggu terlalu lama di luar, aku hanya menaruh dengan asal benda-benda itu di sebuah kardus besar.
Setelah kamarku sudah kelihatan agak bersih aku segera keluar sambil membawa kardus tadi untuk kutaruh di tempat yang lebih aman. Di ruangan tempatku berada ada beberapa bagian plafon yang bisa dibuka tapi aku tidak akan menyimpannya di tempatku sendiri, supaya Hanabi tidak melihat benda-benda itu memutuskan menaruhnya di salah satu kamar yang tidak terpakai.
Begitu aku kembali, dengan patuh Hanabi masih berada di luar dan menungguku. Merasa kalau aku sudah membuatnya menunggu terlalu lama, aku segera mengajaknya masuk ke dalam kamarku sambil memabawakan barang-barangnya.
"Apa aku bisa menaruh pakaianku di lemari kak Naruto?."
"Kenapa kau harus minta ijin dulu? tentu saja bisa."
"Tapi kan aku. ."
"Kau adik perempuanku."
"Ini rumah kak. . ."
"Rumah kita. ."
Hanabi melihatku dengan wajah cemberut setelah aku selalu memotong kata-katanya. Tapi tidak seperti biasanya, aku tidak mundur dan mengalah pada Hanabi. Aku mendekat dan memegang kedua pipinya dengan telapak tanganku.
"Bukankah kau sendiri yang datang dan bilang ingin jadi adikku? dan setelah sekian lama kenapa tiba-tiba kau mau menganggap dirimu hanya sekedar tamu dan tempat ini bukan rumahmu?."
Lingkungan tempat mereka berada adalah tempat baru yang belum dikenal, orang-orang yang Hanabi temui juga bukan wajah yang akrab di ingatannya, selain itu space pribadinya juga bertambah luas dan diisi oleh anggota baru.
Merasa jadi asing lagi sama sekali tidak aneh.
Bagi Naruto dia hanya pulang, tapi bagi Hanabi dan juga Hinata yang mereka lakukan adalah berangkat ke rumah Naruto. Sedangkan tempat yang mereka anggap rumah adalah tempat kost kecil Naruto yang sudah mereka tinggali selama dua bulan ke belakang.
Perasaan Hanabi sekarang persis seperti seorang cucu yang ikut pergi pulang ke rumah orang tua dari ayah dan ibunya.
"Maaf."
"Di saat seperti ini kau tidak perlu minta maaf, aku hanya ingin mengingatkanmu saja dan tentu saja kau tidak perlu memaksakan diri."
"Um."
"Kau boleh memeluku sekarang."
"Kenapa?."
Sepertinya strategiku untuk membuat Hanabi terbawa suasana tidak berhasil.
"Lu-lupakan saja, apa kau perlu bantuan untuk membereskan barang-barangmu?."
"Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya sendiri."
"Ayolah. . ."
Aku mengambil paksa tas Hanabi dari tangannya. Tapi Hanabi melawan dan tidak mau melapaskannya, hanya saja sebab jelas meski kekuatanku tidak bisa digunakan untuk melawan Hinata. Mengalahkan Hanabi dalam adu kekuatan sama sekali bukan masalah.
"Kalau berdua bukankah pekerjaannya jadi lebih cep. . ."
Tas Hanabi bisa dengan mudah kuambil dari pemiliknya, setelah itu tanpa basa-basi aku langsung membuka benda itu untuk mengeluarkan isinya. Hanya saja, begitu aku membuka risletingnya aku langsung menemukan sepotong kain kecil. Sebuah kain putih bersih dengan texture yang lembut di tangan selain itu kain tadi juga punya sebuah gambar beruang lucu di atasnya.
Dan begitu aku menangkatnya dengan kedua tanganku.
Sebuah celana dalam kecil langsung terlihat dengan jelas.
Tiba-tiba aku merasa kalau aku baru saja memakan buah terlarang dan harus bersiap ditendang ke neraka.
"E. . .e.. . . maafkan aku Hanabi. . tapi ini. .benar-benar kecelakaan. . ."
Aku benar-benar tidak bermaksud mencari-cari benda semacam itu. Hanya saja mungkin aku sedang terlalu beruntung atau secara tidak sadar aku sudah belajar skill steal dari K*zuma dan langsung dapat jackpot.
"A-a-aku paham! jadi Kak Naruto istirahat saja dan biarkan aku membereskan pakaianku sendiri!."
Muka Hanabi jadi merah, setelah itu dia merebut kain tadi dari tanganku dan mendorongku menjauh darinya. Aku masih ingin minta maaf, tapi memaksakan keinginanku di situasi seperti ini sepertinya tidak akan berakhir dengan hasil yang baik. Oleh karena itulah aku memaksakan diri untuk mengalihkan perhatianku dari Hanabi dan menghidupkan konsole di depanku untuk kabur.
Untuk beberapa saat keadaan jadi sepi. Tapi begitu loading screen muncul di console yang kunyalakan tadi, tiba-tiba Hanabi yang seharusnya sedang merapikan pakaiannya menarik ujung pakaianku lalu melihatku dengan tatapa yang aneh.
"Kak Naruto. . . se-sepertinya kau melupakan sesuatu."
Hanabi mengambil sesuatu dari dalam lemari, setelah itu dia menyodorkan benda yang ditemukannya padaku. Sambil memalingkan wajahnya dari benda tadi dengan sekuat tenaga, berusaha agar tidak melihat apa yang dipegangnya sendiri.
Begitu aku melihat ke arah tangan Hanabi, aku menemukan sebuah buku dengan ilustrasi seorang pretty boy dan seorang pria paruh baya tampan sedang dalam posisi yang tidak bisa kukatakan sambil melakukan hal yang tidak bisa kukatakan.
"Ini bukan miliku!."
Aku langsung mengambil buku tadi, menggulungnya, menaruhnya dalam sebuah kantung plastik, lalu mengikatnya dan melemparkannya ke atas lemari pakaianku.
Hanabi meliriku sebentar lalu mengalihkan pandangannya, lalu meliriku lagi dan mengalihkan pandangannya lagi. Hal itu terus berlanjut selama beberapa saat sebelum akhirnya dia memutuskan untuk bicara padaku.
"Aku tahu kalau selera orang itu berbeda-beda, ta-tapi kurasa selera kak Naruto agak tidak sehat."
"Kau salah paham Hanabi, sudah kubilang kalau benda itu bukan miliku kan? kamarku itu gudang jadi banyak yang menyimpan barang-barangnya di sini saat aku tidak ada! apa kau paham Hanabi?."
"Um.. aku paham!."
Hanabi mengangguk dengan cepat, tapi aku tidak yakin kalau dia benar-benar paham. Ekspresinya mengatakan kalau dia masih ragu dengan alasan yang kuberikan.
"Karena itulah. . "
Karena itulah?.
"Aku akan berusaha lebih keras!."
Berusaha lebih keras?.
"Aku akan jadi gadis yang lebih jantan!."
"Kau tidak perlu jadi jantan!. . . . . dengarkan aku Hanabi!."
Aku ini normal ok!. Aku suka dengan gadis cantik yang manis dan imut-imut, dan sama sekali tidak tertarik dengan pria yang saat bicara jadi kelihatan bling-bling seperti pangeran, orang macho, maupun laki-laki manis yang kelihatan seperti perempuan.
"Apa kau paham!?."
"Um. . ."
Hanabi mengangguk.
"Tapi kurasa sesekali berpenampilan boyish tidak buruk."
Hanabi langsung mundur dan melihatku dengan tatapan curiga.
"Jangan salam paham dulu, aku hanya berpikir kalau sesekali ganti suasana tidak ada salahnya."
Hanabi. Wajah imut dan tingkah dewasanya yang sering di tunjukan membuatnya jadi punya karakter 'anak baik-baik' atau 'murid tauladan' yang menambah tingkat kefiminamnnya. Jika dia mencalonkan diri jadi ketua dewan perwakilan siswa di sekolahnya aku sangat yakin kalau dia bisa menang dengan mudah.
Sekarang bayangkan Hanabi memakai kemeja putih kecil dan sebuah hotpantas sehingga bentuk tubuh serta paha putih mulusnya terlihat dengan jelas. Kemudian dia juga mengenakan jaket kebesaran yang lengannya hampir menutupi semua jari-jari tanganya lalu memakai topi newsboy dengan google di atasnya.
Hanya membayangkannya saja sudah hampir membuatku jadi mimisan.
"Um! aku tidak salah paham! mulai besok aku akan mulai mengenakan pakaian boyish.."
"Kau sama sekali tidak pahaaaammm!."
"Tidak ada apa-apa!, aku akan berusaha keras untuk meluruskan kak Naruto lagi."
Kau tidak perlu berusaha. Aku sudah lurus. Aku hanya sedang membayangkanmu mengenakan baju-baju yang sepertinya ayahku koleksi.
"Hey Hanabi, setelah ini kau tidak ada rencana kan? bagaimana kalau kita main game?."
Hanabi melihat layar di depanku dan melihat kalau aku sedang membuka sebuah game FPS bertema mecha. Titanf*ll 2. Game ini baru keluar bulan oktober kemarin, dan aku sangat ingin memainkannya setelah melihat trailernya sekilas. Sayangnya sebab di sana aku tidak punya konsole dan tidak punya uang untuk membeli gamenya aku tidak bisa memainkannya saat gamenya sudah dirilis.
Hanya saja kalau di sini hal semacam itu tidak ada masalah. Aku bisa memakai konsole Ibuku dan aku tidak perlu membelli apa-apa sebab dia pasti selalu update.
"Aku belum pernah main video game."
"Eh? apa kau serius?."
"Um. . katanya aku akan jadi bodoh kalau main game."
"Siapa yang. . . . sudahlah!"
Siapa yang mengatakannya sudah bisa ditebak jadi aku tidak akan mempermasalahkannya sebab orangnya tidak ada di sini. Hanabi sekarang adalah adik perempuanku sudah jadi keluargaku, peraturan yang harus ditaatinya di sana sama sekali tidak harus dia perdulikan di sini.
"Bermain dan bersantai itu penting, sesekali bermain game itu tidak masalah."
Asal jangan ketagihan. Dan kalau kau memang ketagihan, jangan setengah-setengah lalu jadi pro saja sekalian. Maksudku, Ibuku bahkan bisa dapat uang hanya dengan bermain St*rcraft. Ah, sebagai catatan tentu saja aku tidak mau Hanabi jadi NEET, dan walau meski dia jadi malas seperti seorang mantan malaikat tauladanpun aku akan merawatnya dengan sepenuh hati.
"Bagaimana. . . "
"Tapi kurasa memang aku tidak bisa main game itu."
"Jangan khawatir."
Tentu saja ada game yang lain. Sebab game aksi maupun balapan kemungkinan besar agak terlalu sulit untuk Hanabi yang baru pertama kali main video game. Aku akan mencarikan sesuatu yang mudah untuk dimainkan tapi tetap menarik. Mungkin game RTS atau yang sejenisnya.
"Kak Naruto, yang tadi itu apa?."
Ketika aku sedang menscroll daftar game yang ada di layar konsolku, tiba-tiba Hanabi menunjuk sebuah cover game yang baru saja terlewati. Cover game yang dia coba ingin lihat punya banyak ilustrasi gadis-gadis cantik dengan rambut dan pakaian warna-warni.
"Aku ingin coba main ini."
Game yang biasa disebut visual novel, galge, dan sejenisnya.
"Kurasa kita main yang lain saja."
"Kenapa?."
Karena di sana ada label 18+ di dalamnya. Sebab Hanabi sendiri tidak terlalu paham, dia akhirnya menurut saja padaku. Beberapa saat kemudian akhirnya aku bisa menemukan game lain yang kemungkinan bisa dia mainkan dengan mudah.
Covernya masih berisi gadis-gadis cantik dengan rambut warna-warni, tapi kali ini labelnya adalah PG13. Dengan kata lain semua orang bisa memainkannya.
Aku meihat ke arah Hanabi untuk meminta persetujuannya, setelah itu dia menagguk dan akupun membuka game yang kupilih tadi.
Loading screen langsung terbuka dan background musicpun langsung berbunyi. Sambil menunggu game termuat sempurna, kami berdua disajikan dengan trailer utama yang memberi tahu kami garis besar cerita dari game yang akan kami mainkan dan juga karakter-karakter yang nantinya kami akan temui.
Satu setengah menit kemudian, opening dari game tadi selesai dan kami dialihkan ke menu utama untuk memulai permainan. Sebab konsole yang kupakai ini adalah milik ibuku, tentu saja dia sudah memainkannya dan ada data lama yang bisa kami muat. Tapi meneruskan game ini dari save point yang ibuku buat tentu saja tidak mengasikan. Aku langsung menekan pilihan new game dan kotak dialog untuk memasukan nama pemainpun keluar.
"Nama apa yang akan kita pakai Hanabi?."
"Yang jelas bukan namaku sendiri, aku malu mendengarnya."
Kalau begitu nama karangan. Aku mengetikan nama protgonis dari game yang akan kumainkan.
"Tu-tunggu dulu kak Naruto, kenapa kau menulis nama aneh seperti itu?."
"Eh apanya yang aneh? kurasa Chomusuke kedengaran keren?."
"Sama sekali tidak keren! cepat ganti namanya!."
"Kalau begitu, ChunChunmaru. . . "
"Jangaaaannn! kenapa yang muncul nama aneh lagi?."
Apanya yang aneh? Chunchunmaru kurasa kedengaran sangat bagus. Dari mendengar namanya saja aku bisa membayangkan sebuah pedang legendaris yang dipakai oleh pahlawan di dunia lain.
"Kalau begitu bagaimana dengan yang ini? Jarripa?."
"Aaaaa. . . . . kak Naruto, selera namamu benar-benar aneh! biar aku saja yang menulis."
Setelah itu Hanabi mengambil kontroler dari tangank dengan paksa. Dan sebab aku sudah kena serangan telak dari Hanabi badanku rasanya jadi lemas. Ini pertama kalinya Hanabi meneriakiku.
"Memakai nama kak Naruto kurasa tidak sopan sebab aku yang akan main, kalau begitu akan kugabungkan nama kita berdua saja."
H-A-N-A-B-I-U-Z-U-M-A-K-I.
"Tu-tunggu dulu Hanabi!."
Enter.
Terlambat. Hanabi sudah menekan enter dan game sudah dimulai.
"A-apa kau yakin ingin menggunakan nama itu?."
"Memangnya ke. . . . . ."
Mata Hanabi membelalak begitu sadar dengan apa yang dilakukan. Dia membuang nama keluarga Hyuga dan menggantinya dengan nama keluargaku.
Harusnya ha yang seperti itu tidak kedengaran aneh, sebab pada dasarnya dia sudah diserahkan pada keluargaku. Mengganti nama belakangnya menjadi nama keluargaku itu adalah hal normal. Tapi meski begitu sebab dia baru saja masuk ke dalam keluargaku selama beberapa bulan kenyataan kalau dia adalah adik perempuanku masih agak sulit kucerna.
Hal itu juga berlaku pada Hinata. Secara status dia adalah saudara perempuanku, tapi sebab perasaan kami jelas bukan milik sepasang saudara aku tidak bisa memperlakukannya seperti saudara.
Memperlakukan Hanabi seperti saudara jauh lebih mudah sebab jarak umur kami yang lumayan jauh. Hanya saja sebab dia normalnya bertingkah lebih dewasa dari Hinata dan sering bilang kala dia akan jadi istriku di masa kenapa begitu dia menulis Hanbi Uzumaki hal pertama yang kubayangkan adalah Hanabi yang sedang mengenakan apron dan memasak didapur sedang kupeluk dari belakang.
Guaaaa . . . . tahan dirimu Naruto!. . . Hanabi adalah adik perempuanmu. Adik perempuan imut yang harus kau lindungi, sayang, dan rawat dengan sepenuh hati.
"Ah. . um. . . . kau sendiri yan bilang kan kalau aku ini adikmu? jadi memakai nama Uzumaki kurasa tidak masalah."
Benar sekali, sama sekali tidak ada masalah.
"La-lagipula. . . . . nanti kalau sudah besar aku akan jadi pengantin kak Naruto."
Pengantin kak Naruto.
Pengantin kak . . .
Pengantin . .
Penga . . . .
Aaaaaaa a. . . . . . . .
Gadis kecil ini benar-benar imut. Pandangan matanya yang polos dan penuh harapan, pipi chubby yang yang memerah karena malu, dan tubuh kecilnya yang jadi membola untuk menutupi rasa malunya. Semuanya benar-benar imut.
Dadaku rasanya benar-benar penuh dan jantungku rasanya mau terdorong keluar. Aku butuh insulin, rasanya aku baru saja terserang diabetes akut.
Tanpa sadar aku sudah memeluk tubuh kecil Hanabi dengan erat.
"Kaka Naruto. . jangan keras-keras. . "
"Maaf. "
Aku segera melepaskan badannya dan mundur.
Jangan salahkan aku yang tadi sempat kehilangan kendali. Jika kau ada di posisiku kau juga pasti akan kehilangan kendali. Hanabi itu memang seimut itu. Akhirnya sekarang aku paham kenapa Hanabi sangat sayang dengan adik perempuannya yang satu ini.
Dia sangat imut. Dan keimutan yang kumaksud itu adalah keimutan yang tidak kenal gender. Dengan kata lain, entah perempuan atau laki-laki siapapun akan langsung bangkit rasa ingin melindungi dan keinginannya untuk memeluk gadis kecil ini dengan erat.
"Kalau begitu . . . aku akan mulai main."
"Um.. . ."
Aku mengangguk dan Hanabi mulai menekan tombol perintah untuk mulai membaca text di layar. Dengan begitu, akhirnya permainanpun benar-benar dimulai.
Layar pertama menujukan pemandangan sekolah dan narasi dari protagonis yang sekarang sudah berada di tahun terakhir SMAnya. Setelah itu dia masuk ke dalam sekolah dan melewati banyak lorong, kemudian tiba-tiba seorang gadis cantik muncul dan menyapanya.
Pilihan pertama muncul.
A : Balas menyapa.
B : "Kau manis sekali."
C : "Minggir kau."
Di awal-awal game pertanyaan yang diajukan memang biasanya gampang dan jawabannya tidak perlu terlalu dipikirkan. Asalkan orang yang memainkannya punya pengetahuan tentang tata krama dasar, tidak mungkin ada yang bisa stuck di pilihan pertama.
Dan Hanabi memilih.
C
Lalu sesuai pilihan itu, si protagonis menyingkirkan gadis tadi dari hadapannya dan langsung masuk ke kelasnya begitu saja.
"Huh? apa kau yakin Hanabi?."
"Um."
Hanabi mengangguk dengan yakin.
Kalau dia yakin kurasa tidak masalah, lagipula memberikan jawaban terbaik dan normal itu tidak selalu hal yang harus dilakukan sebab branching ceritanya malah kadang bisa jadi lebih menarik.
Setelah beberapa lama dan narasi protagonis di dalam kelas selesai, akhirnya dia pulang dan di jalan dia kembali bertemu serang gadis cantik lagi. Kali ini dia memiliki rambut pendek dan kelihatan riang.
Gadis itu berlari dengan kencang di jalan, dan ketika tiba-tiba si protagonis muncul dari sudut jalan keduanya tidak bisa menghindar satu sama lain. Membuat scene klasik berupa tabrakan terjadi. Si gadis akan jatuh dan tiga pilihan kembali muncul di layar.
A : Pegang tangannya.
B : Peluk dari belakang.
C : Tendang sekalian.
Lalu Hanabi. . . Kembali memilih C.
"Eh?. . . Hanabi, apa kau tidak salah pencet?."
"Tidak."
Dia masih menjawabku dengan yakin, tapi kali ini aku yang malah jadi tidak yakin.
Di hari berikutnya si protagonis kembali berangkat ke sekolah setelah menghabiskan malam dengan memberikan narasi yang tidak terlalu penting. Dan seperti yang sudah kuduga, seorang gadis kembali muncul dan melakukan interaksi dengan Hanabi Uzumaki.
Kali ini gadis yang muncul kelihatan seperti tipe-tipe gadis yang akan membullymu. Dia punya dandanan liar, dan juga cara bicara yang aneh. Lalu, tepat seperti dugaanku juga dia mengajak Hanabi untuk membolos. Dan pilihanpun sekali lagi keluar.
A : Mengikutinya.
B : Ragu-ragu.
C : Menghinanya.
Lalu yang dipilih Hanabi. . . . sekali lagi. . . C.
"Tunggu-tunggu-tunggu! dilihat darimanapun kurasa jawabanmu itu salah semua Hanabi."
Hanabi berbalik dan menatapku dengan serius. Setelah itu dia mengepalkan tangannya lalu dengan yakin bilang.
"Hanabi cuma milik kak Naruto!."
"Kalau begitu jangan pakai nama Hanabi!."
"Tapi kak Hinata juga cuma milik kak Naruto!."
"Kenapa kau langsung mengajukan nama Hinataaa?."
"Eh? jangan bilang kalau kak Naruto mau selingkuh!?. . ."
"Apa maksudmu dengan selingkuh!? ini cuma game!."
Kalau aku bisa selingkuh dengan karakter dua dimensi aku sudah menikahi mereka semua dari dulu. Kau kira sudah berapa banyak waifu yang kupunya di sana?.
"Ok, mari kita mulai dari awal lagi."
Aku menepuk kepalaku dan mereset konsolnya dan memulai ulang gamenya. Hanabipun kembali melakukan ulang apa yang dia lakukan sebelumnya lalu kemudian menekan pilihan yang lebih normal dari sebelumnya.
Hanabi mulai bermain dengan tenang, hanya saja aku agak khawatir jadi aku menghentikannya sebelum dia mulai bermain lebih jauh. Aku mengambil sebuah guide dari paket game yang sedang kami mainkan dan memperlihatkannya pada Hanabi.
Hanabi mendekat dan melihatnya bersamaku.
"Kurasa kita akan mulai dengan basic dulu, untuk pemula kusarankan untuk fokus pada satu target saja dan target yang bisa kau ambil semuanya ada di sini."
Aku memperlihatkan gambar-gambar dari gadis yang bisa kami tangkap hatinya. Di dalamnya ada informasi dasar tentang karakter itu dan sedikit background tentang mereka. Aku dan Hanabi membolak-balik halamannya untuk mencari karakter yang Hanabi sukai.
"Tunggu sebentar kak Naruto."
Hanabi membuka ponsel Hinata yang dibawanya, setelah itu dia membuka browser dan lalu melihat ke katalog yang kupegang secara bergiliran. Hanabi kembali mengangguk-ngangguk kemudian dia menujuk sebuah gambar.
"Aku pilih dia."
Karakter yang dipilih oleh Hanabi adalah seorang gadis kecil berambut hitam pendek. Dia punya tubuh yang kelihatan lemah dan juga tatapan mata memelas yang membuat orang yang melihatnya langsung ingin melindunginya.
Ngomong-nomong gadis yang dipilih bukannya sangat mirip dengan Hanabi? apa dia sengaja melakukannya?. Kalau iya bukankah artinya dia ingin bilang padaku kalau dia ingin aku menaklukannya?.
Ketika aku melihat ke arah Hanabi dengan tatapan bingung, dia langsung bilang.
"Di internet banyak yang bilang kalau rutenya yang paling mudah sebab love pointnya sudah tinggi sejak awal, selain itu katanya juga ceritanya sangat menyentuh mendekati pertengahan game!."
"Jangan baca spoiler!. . . ."
Gadis ini benar-benar. . . . main game itu adalah kegiatan eksplorasi, sebuah petualangan. Kalau kau sudah tahu apa yang akan muncul di depanmu kejutannya tidak akan mengejutkan lagi.
"Berikan ponselmu padaku. . . dan jangan ingat-ingat walkthrough yang sudah kau lihat. . . kita akan lanjutkan rute ini."
"Ba-baiklah. . . untuk suatu alasan kak Naruto kelihatan lebih bersemangat dari biasanya."
Kalau sudah membicarakan tentang game mungkin aku sudah mulai ketularan Ibuku yang punya passion sangat besar untuk game. Meski levelnya tidak sampai membuatku akan senang ketika aku ditransfer ke dunia game, tapi setidaknya aku sedikit terpengaruh oleh cara pikir Ibuku itu.
Hanabi memberikan ponsel yang dipegangnya padaku lalu kembali menghadap ke layar di depan kami. Lalu, scene berikutnyapun muncul.
Kali ini si protagonis baru pulang dari sekolah dengan wajah gelap. Dan sebab adik perempuannya khawatir pada kakaknya itu, dia mencoba membuka pembicaraan setelah memberikan sambutan.
Adik perempuan si protagonis bertanya kenapa dia kelihatan pucat dan muram. Setelah itu, pilihanpun muncul.
A : Menahan diri untuk tidak menceritakan apa-apa dan meyakinkan kalau kau tidak apa-apa.
B : Menceritakan masalah dan melampiaskan kemarahanmu.
C : Tersenyum dan mengelus kepalanya lalu pergi begitu saja.
Dan yang Hanabi pilih. . . . . .B. . . meski sekarang pilihannya berubah dan bukan lagi stuck di C. . . tapi aku merasa kalau kali inipun dia memilih jawaban yang salah. Sesaat kemudian begitu pilihan Hanabi terinput dia langsung memasang muka bingung?.
"Eh? . . . . ."
Si protagonis menjawab pertanyaan adik perempuannya dengan nada dingin dan menceritakan kalau beasiswanya dicabut. Guru-gurunya bilang kalau nilainya yang turun membuatnya harus merelakan beasiswanya untuk diambil orang lain.
Hanya saja saat dia memeriksa jawabannya dan menghitung sendiri nilainya dia menemukan kalau penilaian yang diberikan gurunya tidak sesuai dengan hasil ujiannya. Dia mencoba protes pada gurunya dan membawa bukti kalau penilaian guru salah.
Tapi, bukannya diberikan koreksi dia malah disuruh untuk membiarkannya saja dan dia diberitahu kalau jawabannya sengaja disalahkan agar nilainya turun supaya murid lain bisa naik. Murid lain itu adalah anak dari orang yang jadi tulang punggung finansial sekolah itu dan juga orang ternama. Dan memiliki anak yang kalah dari orang biasa sepertinya membuat namanya jadi buruk.
Si protagonis yang tidak terima mengancam akan melaporkan ketidak adilan yang diterimanya. Tapi dia malah balik diancam akan dilaporkan kalau dia mencotek saat ujian masuk.
Sebab dia tidak bisa lagi bergerak dia memilih mundur dan merelakan posisinya. Dia berpikir kalau dia berusaha lebih keras dia pasti akan bisa mendapatkan tempat lain. Tapi sayangnya, ternyata ada yang menyebarkan rumor tentang dia yang mencotek.
Rumor itu terus bersirkulasi di sekolah dan mulai ditambahkan banyak hal buruk lain, yang pada akhirnya membuat semua orang mulai menjaga jarak dengannya. Bahkan teman dekatnya juga ikut pergi sebab dia takut dibully karena jadi temannya.
Jika yang diterimanya hanya omongan-omongan tidak enak, dia sudah berencana untuk menahan diri sampai lulus sebab masa sekolahnya tinggal sebentar lagi. Tapi hari ini, gangguan yang diterimanya akhirnya naik level ke gangguan fisik.
Beberapa orang mencoba memprovokasinya, dan ketika dia tidak berhasil diprovokasi orang-orang itu kehilangan kesabran dan memukulinya. Dia ingin melawan tapi takut kalau hal itu dijadikan alasan untuk mengeluarkannya, oleh sebab itulah dia menerima hal itu.
Begitu dia pulang dan meninggalkan sekolah, akhirnya perasaan yang dia tahan tidak bisa dibendung lagi. Dan begitu adik perempuannya menanyakan keadaannya dengan polosnya, tiba-tiba perasaannya meledak.
Setelah bercerita dia mulai marah dan meneriaki adik perempuannya yang tidak tahu apa-apa itu.
Dan seperti yang sudah kalian duga, adik perempuannya yang khawatir pada si protagonis berakhir jadi korban pelampiasan kemarahan salah tempat kakaknya. Dan sebab segala macam perasaan buruk itu dia keluarkan dalam sekejap serangan yang dirasakan si gadis kecil benar-benar intens.
Si adik perempuan mencoba diam, tapi meski begitu dia tetap menangis. Dia tidak tahu kenapa dia mendapatkan kemarahan dari kakanya, tapi yang jelas perasaannya sangat terluka.
Setelah dia tidak bisa lagi menahan rasa sedihnya dia terduduk dan menangis dengan keras.
Si protagonis sadar dan menyesali apa yang sudah dilakukannya dan ingin menolong, tapi dia merasa bersalah dan tidak merasa pantas menolong karena dia yang sudah menyakitinya. Pada akhirnya dia tidak jadi mengulurkan tangannya dan hanya berjalan dengan diam ke dalam ruangannya melewati adik perempuannya yang masih menangis sambil terduduk di depan pintu.
"Uwah benar-benar kasihan. . aku bahkan ikut merasa kasihan, lalu. . . rasanya aku ingin memukul si protagonis."
Tapi protagonisnya adalah Hanabi, dan aku tidak mungkin bisa memukulnya.
"Ngomong-ngomong kenapa kau memilih jawaban tadi Hanabi?."
"Kenapa? kalau kak Naruto kelihatan sedih tentu saja aku ingin tahu masalahnya! meski mungkin aku tidak bisa menolong tapi setidaknya aku bisa meringankan bebanmu."
Tunggu dulu, kita sedang membicarakan game di sini. Selain itu. .
"Tapi si adik perempuan jadi terluka perasaannya, dia bahkan menangis sampai seperti itu."
"Aku tidak perduli! jika dengan memarahiku kau bisa merasa lebih baik aku sama sekali tidak keberatan meski kau jadi kasar."
Sudah kubilang kalau kita sedang membicarakan game.
"Ini bukan tentang kita Hanabi, ini cuma game! cuma game! dan aku tidak akan melampiaskan kemarahanku padamu apalagi mengasarimu!."
"Jangan khawatir! aku akan bertahan demi kak Naruto!."
Menahan diri untuk apaaaaa!? aku jadi mulai khawatir kalau kau itu sebenarnya M. Kau bukan seorang crusader mesum jadi tolong jangan memberikan jawaban yang konotasinya kalau kau itu senang dibully.
"Sudah-sudah! ganti topik! aku takut kalau masa depanmu jadi suram."
Aku mulai berpikir kalau menyarankan Hanabi untuk main galge itu langkah yang salah.
Sekedar catatan, adik si protagonis punya ilusi kalau kakaknya itu orang hebat yang bisa melakukan apapun dan tidak punya kelemahan. Awalnya dia menyukainya karena merasa tidak ada orang lain yang bisa lebih dia andalakan dari si protagonis dan dia adalah orang teraman yang si adik perempuan bisa percayai.
Jawaban B adalah salah satu branch point untuk ke rute teman masa kecil. Si adik perempuan akan bercerita pada tetangganya lalu si teman perempuan protagonis akan mendekati si protagonis setelah lama tidak bicara satu sama lain. Tidak seperti si adik perempuan yang tidak bisa membantu, si teman masa kecil akan meminta si protagonis membagi masalahnya lalu membantunya di sekolah.
Pilihan yang lebih tepat untuk tetap di rute adik perempuan adalah A dan B. Pilihan ini akan membuat si adik perempuan penasaran dengan masalah kakak laki-lakinya dan juga membuatnya sadar kalau kakaknya tidaklah sehebat yang dia kira. Dia juga sama sepertinya, punya banyak masalah dan memiliki banyak hal yang tidak bisa dilakukannya.
Setelah itu dia mencoba untuk berhenti bergantung pada kakaknya untuk semua hal dan mencoba bertingkah lebih mandiri serta dewasa. Si protagonis akan merasa kalau hubungan mereka semakin jauh dan mencoba memperbaiki hubungan mereka dengan berbagai cara tapi selalu gagal.
Kemudian, suatu hari si adik perempuan tanpa sengaja bilang kalau dia berubah karena kakaknya tidak bisa diandalkan. Hal itu membuat si protagonis menceritakan masalahnya dan menunjukan seberapa tidak bisa diandalkan dirinya.
Tapi di bagian akhir dia berjanji pada adik perempuannya kalau meski dia tidak bisa diandalkan dia akan terus berusaha untuk jadi kakak terbaik yang bisa dibanggakan untuk si adik perempuan. Di saat itu si adik perempuan akhirnya sadar kalau dia menyukai kakaknya bukan hanya karena dia bisa diandlakan, tapi karena dia memang menyukainya dan dia tetap menyukainya meski dia orang yang tidak berguna.
Si adik perempuan memberikan kakaknya semangat untuk menyelesaikan masalahnya dan si protagonis akhirnya bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.
"Untuk sementara bagaimana kalau kita berhenti main game ini dari sudut pandang perempuan?."
"Tapi bukankah poin utama dari game ini adalah membuatmu merasa jadi karakter di dalam game untuk kabur dari kenyataan."
"Berhentiiii!. . . jangan membuatku kedengaran seperti orang yang kabur dari dunia nyata!."
"Um. ."
"Begini saja, anggap kalau kau adalah aku! dan coba lihat situasi dari sudut pandangku dan coba tebak apa yang akan aku pilih jika dihadapkan pada situasi yang mirip."
"Baiklah aku akan melakukannya, resume. . . ."
Permainan kembali berlanjut, kali ini aku menyerahkan semua keputusan Hanabi. Dan seperti yang sudah kusarankan, dia mulai memainkan game dengan mengemulasikan apa yang kira-kira akan kulakukan ketika dihadapkan pada sebuah pilihan.
Hanya saja, setelah belasan menit aku tidak merasa ada perkembangan.
"Hey Hanabi, kenapa kau tidak berinteraksi dengan gadis lain? meski mereka bukan targetmu tapi kalau kau mengacuhkan mereka ceritanya tidak akan maju."
"Eh? bukankah kak Naruto selalu gugup kalau bicara dengan murid perempuan? karena itulah aku menghindari mereka."
"Dari mana kau tahu? . . . sudahlah. . . tapi bagaimana kalau kau mencoba menghubungi teman dekatmu."
"Eh?. . ."
"Kenapa kau kelihatan bingung begitu?. . memangnya saranku semengajutkan itu?"
"Bu-bukannya kak Naruto itu tidak punya teman?."
"Kau tidak perlu menirku sampai sedetail itu! panggil saja temanmu! dia akan membantumu menaklukan targetmu!."
Hanabi memanggil teman laki-lakinya. Dan sebab dia adalah karakter yang memang tugasnya membantu si teman ini langsung menawarkan berbagai macam bantuan pada Hanabi. Selain itu dia juga menunjukan love point dari setiap karakter yang punya hubungan dengan si protagonis.
Dia juga memberikan banyak saran cara untuk mendekati beberapa karakter serta siapa saja yang akan memberikan reaksi positif pada Hanabi. Semua yang diberikan karakter teman ini adalah hal positif, tapi Hanabi menunjukan wajah ragu.
"Orang ini berbahaya. . ."
"Eh? apanya yang berbahaya Hanabi."
"Orang tipe ini! orang yang langsung menyebut dirinya adalah teman terbaikmu ini biasanya adalah penjahat! dengan kata lain. . . karakter ini adalah jebakan!."
"Jebakan!."
"Aku hafal dengan orang semacam ini! di keluargaku ada banyak yang seperti dia! dia mendekatimu begitu saja lalu bertingkah baik! tapi sebenarnya di belakang layar dia adalah orang yang membiangi murid yang membully dan memojokanmu!."
Tolong jangan curhat tentang masa lalumu, dan. . .
"Ini bukan manga Shojo!. . . ."
"Aku masih belum selesai kak Naruto! di bagian akhir dia akan menunjukan dirinya sebagai last boss lalu bilang 'DARI DULU! DARI DULU AKU SELALU BENCI WARNA ITU!' lalu kamipun saling pukul menggunakan robot raksasa berwarna putih dan oranye kemudian jatuh ke bumi!."
"Game apa yang kita bicarakan tuan putri!?. . . ."
Hanabi jauh lebih kreatif dari yang kubayangkan. Bagaimana dia menggunakan material sebanyak itu? aku bahkan mulai bingung bagaimana harus memberikan tsukkomi dari jokenya.
Dia sedang melawaka kan? iya kan?.
"Hanabi! relax saja dan biarkan teman dekatmu itu membantumu!."
"Majuuu! . . ."
Kalian juga bukan rival ok!.
Hanabi kembali memanggil temannya, dan sama seperti sebelumnya si teman ini memberikan support penuh terhadap misi penaklukan Hanabi. Dia bahkan membelikan tiket untuk Hanabi agar bisa mengajak targetnya untuk menonton di akhir minggu.
"Kenapa dia berdedikasi sekali? memangnya dia dapat apa?."
"Sudah biarkan saja Hanab! jangan terlalu dipikirkan."
Lagipula yang seperti itu tidak penting.
"Tunggu dulu! umm. . . aku tahu."
Tahu apa?.
"Dia pasti jatuh cinta pada protagonisnya! appealnya benar-benar unik!."
"Ini bukan game semacam itu! dan kita tidak butuh hidden heroine semacam itu!."
"Aku akan lebih serius mainnya!."
Sepertinya si teman sudah mendapatkan kepercayaan penuh dari Hanabi. Saking percayanya bahkan dia jadi sering sekali memanggil si teman ini. Dan saking seringnya, aku bahkan juga jadi agak ragu apakah si teman ini memang benar-benar hidden heroine.
"Ok, aku paham! aku akan menuruti teman-san!."
Menuruti saran dari teman terbaiknya, Hanabi mulai mendapatkan progress dengan target-targetnya!. Sedikit demi sedikit hubungannya dengan gadis-gadis lain jadi lebih baik, dan begitu love point mereka semua sudah ada level yang lumayan tinggi. Hanabi akhirnya menentukan pilihan target utamanya lagi.
Rute adik perempuan sudah benar-benar tertutup jadi Hanabi harus mengincar gadis lain. Dan untuk mendapatkan gadis lain itu, sekali lagi dia memanggil si teman-san.
Ketika Hanabi terlihat bersama dengan gadis yang jadi targetnya, si teman akan menggoda mereka dan membuat keduanya sadar akan keberadaan satu sama lain.
Ketika Hanabi sedang berada di penginapan saat semua murid pergi untuk perjalanan sekolah, si teman memberikan keduanya kesempatan untuk bisa berdua.
Ketika mereka dikeroyok oleh anak-anak badung dari sekolah lain, si teman merelakan diri jadi korban agar Hanabi bisa kabur.
Ketika Hanabi akan menyerah karena targetnya akan pergi jauh, si teman memberikanya semangat dan membantunya dengan sekuat tenaga.
Dan ketika upacara kelulusan selesai lalu teman-san memberikan ucapan selamat tinggalnya pada Hanabi. . .
"Tomodaaaaaaa. . .! . ."
Hanabi yang duduk di depanku menagis sambil sesenggukan.
"Kenapa kau bisa memberikan sisa-sisa waktu SMA-mu yang berharaga hanya untuk orang sepertiku dasar bodooh!. harusnya kau juga harus mencari kebahagiaanmu sendiri!. . . . kalau kau. . kalau kau. . tidak bisa menemukannya sendiri maka aku!. . . aku akan membuatnya sendiri! cerita di mana kau bisa bahagia!."
Eeeeee. . . . . . kau terharunya di bagian itu? aku paham kalau memang si teman-san ini memang orang baik. Tapi bukankah tema utamanya bukan cerita semacam itu? lalu. Namanya bahkan tomodaaaa!.
"Kak Naruto bagaimana cara menyimpan game ini? aku ingin melanjutkannya nanti saja."
"Ah? eh? tinggal pilih save dan cari slot yang kosong!."
"Baiklah kalau begitu!."
Aku menyimpan game tadi dan mematikan konsole di depan kami. Pandangan mata Hanabi benar-benar berubah dan kelihatan jelas sudah tidak ingin bermain lagi. Setelah konsol mati, Hanabi langsung mengambil buku dan pulpen dari tasnya.
Main game adalah cara untuk membuang waktu kosong yang kami miliki, jadi jika dia sudah menemukan cara lain untuk melakukannya aku tidak akan mengganggunya. Lagipula, kemampuannya untuk menulis sudah kulihat sendiri dari cerita yang sudah dibuatnya dan kubaca kemarin.
Jika ceritanya tidak dirubah-rubah oleh kakaknya, aku akan memberikannya nilai sepuluh dari sepuluh.
"Coba lihat. . .."
Aku mengintip apa yang ditulis dari balik punggung Hanabi. Dan begitu aku membaca apa yang ditulisnya aku langsung merasa kalau aku perlu memastikan sesuatu.
"Hanabi, Heroine yang kau buat untuk teman-san kelihatan seperti nama dari protagonis game yang tadi kita mainkan."
"Memang iya, terus kenapa?."
"Kenapa? bukankah dia itu laki-laki?."
Dia melihatku dengan tatapan bingung lalu bilang.
"Memang kenapa?."
"Memangnya kenapa kau bilang?, dia itu laki-laki."
"Cuma Hanabi yang pantas jadi Heroinenya! orang yang berharga untuk Tomoda! orang yang selalu bersamanya dalam susah maupun senang! seseorang yang bisa dia ajak terbuka tentang apa saja! dan seseorang yang bisa membuatnya mengorbankan diri dan waktunya tanpa ragu! seseorang yang perduli dan selalu bergantung padanya! . . . oranya cuma satu!. . . ."
"Tunggu dulu Hanabi! tunggu dulu Hanabi! Tunggu dulu!. . . "
"Hanabi Uzumaki!. ."
"Tunggu dulu Hanabi! dengarkan aku! aku mohon dengarkan aku! setidaknya!, setidaknya buat gendernya itu perempuaaaaaannnnn!."
3
Mengesampingkan Naruto yang sedang mencoba sekuat tenaga untuk mencegah Hanbi menyimpang dari jalan yang lurus. Di tempat lain, sebuah diskusi yang tidak kalah pentingnya juga sedang berlangsung.
Di bangunan utama keluarga Naruto, atau lebih tepatnya di dalam kamar kedua orang tuanya. Hinata sedang berhadapan dengan ayah dari pemuda itu. Dengan serius.
"Seperti yang sudah kau tahu, aku ini bukan manusia."
"Eeeehhh. . . . . kau bukan manusia?."
"Eeeeehhh. . . . kau belum tahu?."
Dia sudah mempunyai dua orang anak, dan tidak satupun dari mereka yang masih kecil dan perlu diurus berlebihan lagi. Perhitungan matematika sederhana saja sudah bisa membuat seseorang tahu kalau umur dari Minato normalnya sudah dua kali dari umur anak-anaknya. Tapi meski begitu dia masih terlihat seperti pria berumur dua puluhan.
Dilihat dari manapun penampilannya sama sekali tidak normal.
"Lupakan saja kalau begitu, tapi jika kau sudah tinggal bersama Naruto tentu kau sudah tahu kalau dia itu bukan orang biasa."
Pada awalnya, Hinata punya impresi kalau Naruto itu hanya sekedar pemuda miskin yang lemah. Tapi begitu pemuda itu menyelamatkannya lalu mereka pulang ke rumahnya, dia mulai berpikir kalau Naruto itu malah sengaja membuat dirinya terlihat seperti itu.
Dengan kekayaan orang tuanya harusnya dia tidak kesusahan dalam masalah finansial, selain itu dengan kemampuan yang dimilikinya harusnya dia punya kepercayaan diri yang lebih. Tapi semua itu tidak terjadi, jadi kesimpulannya Naruto mencoba menutup diri dan membatasi hubungannya dengan orang lain supaya dia terlihat biasa.
Untuk alasan kenapa dia melakukannya, mungkin Hinata akan bisa tahu kalau dia mengobrol lebih lama dengan Ayah dari pemuda itu.
"Dari luar dia kelihatan bisa saja, tapi meski begitu sebenarnya tubuhnya itu sangat lemah."
"Um, dia memang selalu memberikan kesan kalau umurnya itu pendek selain itu dia juga punya stamina yang bahkan kalah dari Hanabi."
Kalau masalah kekuatan saja Hanabi mungkin kalah, tapi dalam hal ketahanan untuk suatu alasan Naruto bahkan lebih buruk dari adik perempuannya.
"Lalu memangnya ada apa dengan tubuhnya? apakah dia mengidap penyakit kronis atau yang semacamnya? kalau iya aku dan Hanabi bisa meminta bantuan kak Neji."
Hinata, Hanabi, dan Neji memang secara legal sudah tidak lagi punya hubungan keluarga. Tapi meski begitu perasaan sayang Neji kepada keduanya tetap ada. Neji dan Hanabi sering melakukan kontak, dan meski Hinata tidak pernah membalas dia juga sering sekali diajak untuk ngobrol oleh saudara tertuanya itu.
Jika mereka membutuhkan bantuan finansial, Hinata yakin kalau Neji akan memberikannya tanpa ragu.
"Tidak, dia tidak menderita penyakit apa-apa! secara medis tidak ada yang salah dengan tubunya."
"Secara medis?."
Dengan kata lain, masalahnya tidak ada dengan hubungan dengan tubuhnya. Untuk memperjelas hal itu, Minato menunjuk dadanya sendiri.
"Ya, masalahnya ada pada jiwanya."
Atau mungkin lebih tepat kalau dibilang tubuh spiritual Narutolah yang bermasalah. Dan penyebab semua itu adalah masalah keturunan. Ibunya adalah manusia, tapi dia bukan manusia biasa. Selain itu sebab ayahnya malah sama sekali bukan manusia, dia lahir dengan ketidakseimbangan antara tubuh fisik dan tubuh spiritualnya.
"Karena itulah. . ."
Minato melihat Hinata dengan serius.
"Apa kau serius mencintai Naruto."
"Tentu saja."
"Kalau begitu. . ."
Minato kembali memfokuskan pandangannya pada Hinta, dan Hinatapun membalasnya dengan ikut memandang langsung ke mata laki-laki yang harusnya sudah bisa dia sebut Ayahnya itu. Hanya saja kali ini Hinata menemukan jika pandangan Minato sudah berubah, kali ini pandangannya kelihatan dingin.
"Apa kau rela mati untuk Naruto?."
Hianata menunjukan raut wajah terkejut. Tapi hal itu hanya berlangsung sesaat. Setelah beberapa detik keduanya saling diam, Hinata menunjukan sebuah senyuman dan bilang.
"Tentu saja tidak!."
Sorry buat yang udah nunggu lama tapi cuma dapet beginian. Dan thanks buat yang rela nunggu lama cuma buat dapet beginian. Bulan ini harusnya ada update lain.
