CHECK IN 02

Seoul, 160107

Mingyu menggenggam tangan Jisoo erat. "Hyung, bagaimana kalau Wonwoo hyung tahu ini aku?"

Jisoo menatap Mingyu, lalu merendahkan tubuhnya, sampai setinggi Mingyu yang sekarang. "Emm, bagaimana ya? Menurutku dia tidak akan tahu Mingyu-ya. Selain tubuhmu kembali ke masa anak-anakmu, kau bahkan sekarang memiliki rambut panjang..." Jisoo terkekeh pelan sambil membelai rambut Mingyu, yang kini panjang sepinggang dengan kepang satu yang Jisoo buat.

"Aku sudah lama sekali ingin adik perempuan yang manis. Dan ternyata sekarang aku mendapatkannya."

"Aahhh, hyung... aku kan laki-laki..."

"Tidak lagi sekarang, ayo Hong Minyoo harus memanggilku apaa?"

"Joshua oppa."

"Anak manis. Hahaha, ketika masih kecil, kau tidak semanis ini Mingyu-ya. Apa perubahanmu juga berpengaruh pada sikap dan perasaanmu?"

"Aku tidak tahu, hyu-oppa."

"Kita akan tahu nanti."


/CI/


Seoul, 140709

Kim Seokjin sedang menikmati makan siangnya ketika Jun dan Jihoon, tidak lupa Wonwoo yang berada di punggung Jun masuk ke ruang kesehatan.

"Omo, apa yang terjadi? Jihoon-ah?" Seokjin mengelap mulutnya dengan tisu.

"Dia tadi menolongku yang akan tertimpa buku, hyung. Jadi dia yang terluka." Jihoon mengatakannya sambil menggigit bibirnya.

Ketika Wonwoo menganggkat kepalanya yang tertunduk, mata Seokjin membulat. "Oh, Jeon! Aku tidak menyangka kau yang terluka. Jun-hakseng, baringkan dia di kasur. Jihoon-ie, tolong bawakan alkohol di lemari sebelah kanan."

Setelah Wonwoo dibaringkan, Seokjin segera menyingkirkan sapu tangan Jihoon dari luka Wonwoo yang sekarang dominan berwarna merah. "Apa yang kau rasakan, hmm Wonnie-ya?"

"Pusing, hyung... kepalaku terasa berdenyut-denyut."

Jihoon menatap Wonwoo cemas, Jun disampingnya memberi usapan menenangkan di punggung Jihoon.

"Sebenarnya berapa banyak buku yang mengenaimu... Aku curiga ada kamus dan ensiklopedia tebal yang menghantam kepalamu. Pendarahanmu lumayan parah, Wonnie." Setelah membersihkan darahnya, Seokjin mensterilkan lukanya dengan alkohol. Wonwoo meringis tertahan ketika kapas dengan alkohol itu menyentuh lukanya.

"Omong-omong, sepertinya kalian tidak saling mengenal? Jihoon-ie, ini Jeon Wonwoo, kakak sepupu Jungkook. Wonnie-ya, orang yang diselamatkan olehmu itu, Lee Jihoon, adik Yoongi. Tidakkah kau lihat mereka sangat mirip?" Seokjin memegang pinset dengan kapas beralkohol diujungnya, masih mensterilkan luka Wonwoo.

"Pantas saja wajahnya terasa familiar, Jin-hyung. Tapi, Jihoon-ssi..."

"Panggil saja dia Jihoon, Wonnie-ya. Setelah ini kalian pasti akan dekat. Kalian memiliki banyak kesamaan, kuharap kalian bisa mengerti satu sama lain." Seokjin memperhatikan luka Wonwoo seksama.

"Oh, baiklah... emm Jihoon-ah, kalau aku boleh bertanya... Mengapa margamu dan Yoongi sunbae berbeda? Wajah kalian bahkan sangat mirip."

"Ahh, itu. Kami berbeda ayah, tapi satu ibu. Hmm, wajah kami berdua memang banyak memiliki kesamaan dengan ibuku." Jihoon menjawab dengan senyuman kecil.

"Ohh, seperti itu..."

Seokjin memasangkan kapas yang telah dibubuhi obat merah di luka Wonwoo. "Tapi Jihoon-ie lebih manis kan, Wonnie-ya? Secara visual maksudku. Sifat mereka 75% sama. Terutama sikap dingin dan suka memukulnya itu."

"Ah, benarkah?" Hidung Wonwoo berkerut, karena dia tersenyum terlalu lebar.

"Hyuunggg, kau membuat kesanku menjadi buruk di saat pertama bertemu dengan Wonwoo." Jihoon melemparkan aegyonya.

"Wah, wah, wah... apa ini Jihoon-ah? Kau menunjukkan aegyomu disaat pertama bertemu Wonwoo? Sepertinya aku akan lebih bebas setelah ini."

"Jun-ah, maafkan aku melupakanmu disini. Nah, Wonnie-ya, yang tadi menggendongmu itu namanya Wen Junhui. Panggil dia Jun. Buakankah nama kita berdua terdengar lucu? Jin dan Jun." Seokjin terkekeh pelan.

"Hai, Wonwoo-ssi. Omong-omong badanmu ringan sekali. Padahal sepertinya kau sedikit lebih tinggi dariku."

"Nah, anak ini memang makannya sangat sedikit. Sepertimu, Jihoon-ie. Kalian mirip sekali. Makannya aku selalu memperingatkan Jungkook untuk menjaga pola makan sepupu manisnya ini."

"Aku tampan hyung!" Wonwoo menyuarakan protesnya.

"Tidak, no! No! Kau manis, Jungkook imut. Di keluarga kalian yang paling atraktif itu ya, Somi. Wajahnya sangat cantik." Seokjin berkata dengan mata berbinar-binar.

"Hyung, aku laporkan kau pada Taehyung karena telah memuji Somi." Wonwoo mengancam dengan ekspresi merengut sama persis, seperti yang sering dilakukan Jungkook. 'Kiyeowo.' Jihoon berkata dalam hati.

"Laporkan saja, paling nanti dia akan menciumku juga."

"Dasar mesum kau hyung." Jihoon dan Wonwoo berbicara bersamaan.

"Aku tidak. Dan jangan mengelak kalau kau juga pernah berpikiran mesum tentang Mingyu, Wonnie-ya."

"Tidak pernah."

"Caught in a lieeeeee" Jin menyanyikan lagu yang pernah dinyanyikan oleh Dosen Park di acara universitas.

"Oh, kau pacar Kim Mingyu yang sering dikejar-kejar perempuan-perempuan cantik itu? Wooaahh, pantas saja dia tidak pernah menghiraukan gadis-gadis itu." Jun berkata dengan wajah tidak percaya.

"Mmm, dia beruntung kan? Jun-ah?" Jin berkata sambil mengelus kepala Wonwoo.

"Tentu, aku juga ingin mempunyai pacar semanis Wonwoo."

"Minghao kau kemanakan, Wen? Yang ada kau akan masuk ugd kalau dia mendengarmu sekarang." Jihoon menyikut perut Jun.

Jun meringis pelan, siku Jihoon bukan main tajamnya. "Eheee, tidaklah Jihoon-ah... Dia, kan percaya padaku."

Seokjin melilitkan perban di kepala Wonwoo, lalu merapikannya. "Nah, Wonnie-ya, lukamu nanti harus sering dibersihkan dan diganti perbannya. Mingyu pasti mengerti."

"Ahh, terima kasih, hyung."

"Tentu sudah pekerjaanku."

Dari situlah persahabatan Jihoon dan Wonwoo dimulai.


/CI/


Ilsan, 120930

Jihoon menenggelamkan dirinya di kasur, dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia menangis tertahan, air matanya mengalir sejak 15 menit lalu, sejak dia menolak Soonyoung di depan teman-temannya.

Secara teknis dia belum menolak, karena dia bahkan tidak mengatakan apapun. Tapi, karena salah satu teman Soonyoung, Choi Youngjae berkata, "Sudahlah Soonyoung-ah, mengapa kau masih saja mengejarnya? Kurasa sekarang dia sedang berusaha menolakmu."

Soonyoung pergi setelah mendengar perkataan Youngjae. Jihoon merasa bodoh sekali karena tidak mengatakan satu patah katapun.

Jihoon merasakan kasurnya bergoyang, tanda seseorang naik ke atas kasurnya.

"Hei, cotton candy..."

Suara tenor ini, pasti hyung gulanya, siapa lagi?

"Ada apa hyung?" Jihoon bertanya dengan suara seraknya.

"Buka dulu selimutmu, anak manis. Hyung-mu yang tampan ini ingin melihatmu."

Jihoon membuka selimutnya, mengizinkan Yoongi melihat penampilannya yang sepuluh kali lebih berantakan dari biasanya. Dengan mata merah yang menghitam di sekelilingnya, membuat matanya yang sipit menjadi semakin sipit. Ditambah dia sudah menangis matanya menjadi bengkak sekali.

"Oh, God..." Yoongi mendesah, membawa Jihoon ke pelukannya. "Ada apa denganmu, hmm? Ada seseorang yang menyakitimu?"

Jihoon menenggelamkan hidungnya di dada Yoongi, meremas ujung kaos Yoongi.

"Tidak, hyung... aku yang menyakiti seseorang."

"Aku tidak percaya, kalau kau memukul temanmu aku pasti tahu, Minji-ya."

"Namaku Lee Jihoon, hyung. Harusnya kau memanggilku Lee Ji?"

"Terserah aku lah, kau terdengar manis dengan margaku, bukankah begitu? Min Jihoon?"

"Baiklah... aku... tadi Hoshi menyatakan perasaannya padaku.." Jihoon tahu kakaknya mendengarkan, ia meneruskan perkataannya. "Tapi, aku diam saja, dan sepertinya dia menganggap aku menolaknya, hyung..."

"Aahhh, geu Hoshi.. That Seokmin's haebaragi?"

"Hmm, himawarinya Seokmin."

"Lucunya kalian menyukai orang yang sama." Yoongi mengusap rambut hitam Jihoon. "Tapi aku yakin Dokyeom merelakan Hoshi-mu untukmu, Minji-ya..." dia menghela nafasnya. "Yang jadi masalahmu adalah ketakutanmu, kan?"

"Hmm, hyung pasti tahu..."

"Karena aku adalah hyung-mu, dan kita lahir dari rahim yang sama, mempunyai keanehan yang sama, pula. Tapi kau tahu, apa bedanya kau dan aku, cotton candy?"

Yoongi meneruskan perkataannya. "Aku memiliki semangat untuk memperjuangkan cintaku di tengah keterbatasanku, sementara kau hanya pasrah terhadap keadaan." Yoongi menaikkan tubuh Jihoon ke pangkuannya, lalu Yoongi bersandar di headboard kasur Jihoon. "Sebenarnya rasa takut itu, hanyalah prasangka dari otakmu. Tubuh kita hanya merespon terhadap pertemuan dengan orang yang kita suka dengan sakit fisik seperti yang biasa kita berdua alami, bukan ketakutan. Itulah mengapa aku bisa dekat dengan Jimin tanpa rasa takut, hanya dengan mual yang menyerang, dan sedikit pusing. Tetapi semakin aku terbiasa dengan keberadaannya, aku terbebas dari semua rasa sakit itu, Minji-ya."

"Itu artinya aku dan Hoshi bisa bersama hyung?"

"Geureuyo, kau bisa bersamanya dan hidup bahagia, seperti aku dan Jimin."

Senyum Jihoon mengembang sampai matanya hilang tersembunyi. Yoongi ikut tersenyum lalu mengecup kedua kelopak mata Jihoon, lalu mencium hidungnya lama.

"Berbahagialah, adik manisku."

"Kau juga, kakak manisku."

Mereka lalu tertawa bersama.


/CI/


Seoul, 160107

Mingyu bersembunyi dibalik tubuh Jisoo, ketika mereka sudah masuk ke apartemen Wonwoo yang berada satu lantai di bawah apartemen Jisoo.

"Ada apa hyung kesini?" Wonwoo bertanya dengan wajah datar yang menyeramkan. Tapi Jisoo bisa menanganinya, siapa sih yang tidak bisa Jisoo tangani?

"Aku ingin mengenalkan adik sepupuku, yang bibiku titipkan untuk tinggal denganku. Minyoo-ya, come out. Wonwoo oppa ingin melihatmu." Jisoo berbalik untuk melihat Mingyu yang menggeleng tidak setuju.

Jisoo mengangkat tubuh Mingyu lalu memindahkannya ke depan tubuhnya sendiri, agar Wonwoo bisa melihatnya lebih jelas.

Jisoo bisa melihat binar kagum di mata Wonwoo. 'Akhirnyaa...' Jisoo berkata lega dalam hati.

"Let's introduce yourself, Minyoo-ya."

Mingyu menggerakan tubuhnya gelisah. "Annyeong haseyo," Minyoo menundukan kepalanya. "Ki- Hong Minyoo imnida. Nice too meet you, Jeon Wonwoo-oppa."

"Such a cute girl," Wonwoo membelai kepala Mingyu. Mingyu bisa merasakan air mata yang melesak di kelopak matanya, meminta keluar.

"Kau tidak pernah menceritakan punya adik semanis ini, Jisoo-hyung. Kamu tinggi sekali Minyoo-ya, berapa umurmu?"

"Umurku sepuluh tahun, Wonwoo-oppa." Mingyu menatap mata Wonwoo, berharap dalam hati air matanya tidak akan jatuh.

Wonwoo membeku ketika menatap mata berkilau Mingyu. Mingyu merasakan jantungnya pindah ke rongga perut melihat ekspresi Wonwoo.


/CI/


Seoul, 160103

Taehyung menatap Mingyu seksama. "Jisoo-ya... ini Kim Mingyu sepupuku yang seperti puppy itu?"

"Tentu, Tae. Yang mana lagi?" Jisoo berkata sambil mengelus rambut panjang Mingyu.

"OH MY GOD! Kau manis sekali Mingyu-ya! AAAAAA!" Taehyung mengangkat tubuh Mingyu lalu memutarnya di udara.

"Aahhh, hyung aku pusing." Mingyu merengek, persis seperti biasa ia merengek pada Taehyung. Maklum, Kim termuda memang seperti itu.

"Ada apa dengan panggilan itu?" Taehyung menurunkan Mingyu, lalu merendahkan tubuhnya sejajar dengan Mingyu. "Panggil aku oppa, Hong Minyoo manis. Op-pa.." Taehyung berkata di depan wajah Mingyu yang merengut.

"Kenapa kalian selalu menyuruhku memanggil kalian Oppa, sih?" Mingyu merajuk.

"Sekarang, kan, aku memang oppa-mu, Jisoo saja kau panggil oppa. Aku dan dia ini kembar terpisah tau, harusnya kau menerapkan panggilan yang sama pada kami berdua, ayo, op-pa..." Taehyung menangkup wajah Mingyu.

Mingyu berkata dalam hati, 'Kembar sebelah mananya, beda langit dan bumi, sih, iya..'

"Taetae oppa..."

"Aahhh, manisnyaaaa..!" Taehyung mengecup bibir Mingyu cepat.

"Aahh, hyu-oppa apa-apaan itu!" Mingyu mengusap bibirnya yang terasa lebih lembab karena kecupan Taehyung.

"Kau terlalu manis sih, Minyoo-ya. Aku, kan, tidak tahan pada anak-anak. Di masa depan aku harus memiliki anak sepertimu dengan Jin-hyung."

Jisoo yang melihat interaksi keduanya hanya tertawa pelan.

"Oh, ya... Taehyung-ah, kami kesini sebenarnya ingin mengetes, kau tahu, sayap dan kekuatan Mingyu apakah masih berfungsi dengan wujud ini." Jisoo berkata langsung.

"Oh, itu benar. Ya sudah, ayo kita ke atap rumah." Taehyung mengajak Mingyu dan Jisoo ke atap rumahnya, yang berada di pinggiran Seoul itu.

Keluarga Kim adalah keluarga yang tidak sepenuhnya manusia, mereka setengah malaikat. Sehingga jika mereka ingin, mereka bisa menggunakan sayap dan kekuatannya untuk menghadapi sesuatu yang mendesak. Dalam wujud malaikatnya mereka tidak akan bisa dilihat oleh manusia, kecuali itu adalah orang yang ditakdirkan untuknya, atau orang yang memiliki hati yang bersih, seperti Hong Jisoo dalam kasus ini.

Taehyung dan Jisoo menatap Mingyu yang berada sepuluh langkah di depan mereka. "Mulai sekarang, Youngest Kim."

Mingyu menangkupkan kedua tangannya di depan dada lalu memejamkan matanya. Ia berkonsentrasi terhadap sisi malaikatnya.

Dan muncullah sayap putih keabuan dari punggungnya sesuai dengap ukuran tubuhnya yang sekarang. Mingyu mengepakkan sayapnya pelan.

"Woaahh, Mingyu-ya, sayapmu menjadi tidak putih lagi. Kurasa itu karena kau sedang melewati cobaan dengan berubah terhadap wujud ini." Taehyung menyentuh bulu sayap Mingyu, masih terasa lembut seperti biasa.

Lalu, munculah sayap hitam besar di punggung Taehyung, seperti sayap burung gagak raksasa.

Taehyung, dengan mata biru lautnya sekarang menatap ke mata Mingyu yang berwarna coklat terang. "Aku Kim Taehyung, melindungi kau Kim Mingyu dalam wujud barumu dari segala marabahaya yang akan kau hadapi di kemudian hari, sampai kau kembali ke wujudmu semula." Sayap besar Taehyung mengelilingi tubuh mereka berdua layaknya kubah.

Taehyung mengecup dahi Mingyu lama, tanda agar ucapannya akan terlaksana.

Bersamaan dengan kecupan yang Taehyung lakukan, cahaya putih melingkupi sayap Taehyung.

Ketika Taehyung melebarkan sayapnya kembali, sayapnya berubah menjadi putih bersih dengan keperakan di ujung bulunya. Cantik sekali.

Jisoo dan Mingyu menganga melihat perubahan sayap Taehyung. "Woaaahh, oppa, sayap abadimu indah sekali. Berbeda dengan milik Junmyeon hyung, dan Jongin hyung." Mata berkilau Mingyu yang sekarang berwarna coklat terang berbinar penuh kekaguman.

"Taehyung-ah, bolehkah aku memegangnya?" tanya Jisoo.

"Tentu saja boleh, Jisoo-ya." Jisoo menyentuh sayap Taehyung setelahnya. Merasakan ujung jarinya seperti menyentuh kain beludru dengan campuran bulu tajam khas burung.

"Ini indah sekali." Taehyung tersenyum. "Nanti kau akan mendapatkannya, Mingyu-ya."

"Emm, tentu oppa."


/CI/


Daegu, 091231

Mingyu menatap Taehyung yang terbang di sampingnya, dalam wujud malaikat mereka berdua, tentu saja.

"Hyung, mengapa sayapku terus berwarna putih? Tidak kunjung menghitam seperti punyamu, Jongin hyung, dan Junmyeon hyung?"

Taehyung tersenyum. "Itu karena kau selalu berurusan dengan kebaikan Mingyu-ya. Kau belum dewasa, dan hatimu terlalu lembut untuk menghadapi cobaan dunia. Suatu hari nanti, ada saatnya kau bisa melihat sayapmu mulai menghitam seperti sayapku, dan akhirnya hitam seluruhnya sebelum kau mendapatkan sayap abadimu. Kau ingin sayap abadi seperti apa?"

"Aku ingin punya sayap seperti abeoji..." Mata coklat terang Mingyu berbinar.

"Aahhh, sayap putih dengan taburan safir? Tentu, kau akan terlihat luar biasa dengan sayap seperti itu." Taehyung menukik turun di daerah padang rumput yang luas.

"Iya hyung, safir terlihat bagus, seperti matamu sekarang." Mingyu menyentuh mata Taehyung dengan ibu jarinya.

Mereka sudah berdiri di padang rumput.

Tinggi mereka berdua hampir sama, karena bahkan meski Mingyu adalah adik sepupunya, gen yang dimiliki keluarga Mingyu sangat bagus, sehingga Mingyu yang tahun ini berumur 12 tahun dengan Taehyung yang baru berulang tahun ke-14 kemarin, terlihat seumuran dengan tinggi yang sama.

Taehyung membuka matanya yang beriris biru laut cerah. Menatap mata Mingyu yang sewarna lelehan coklat rasa madu. Taehyung memajukan tubuhnya lalu mengecup kedua mata Mingyu. "Kau akan mendapatkannya, hmm, Youngest Kim."

"Terima kasih, hyung." Mingyu tersenyum lebar. "Hyung ingin sayap abadi seperti apa?"

"Aku, hmm... aku ingin sayap abadi yang disukai oleh Soulmate ku kelak."

"Oohhh..."

TBC

Hallo semuaaaa

Kim LeeNa here!

Ini ya chapter kedua. Jadi chapter pertama adalah kejadian yang terjadi di hari yang sama disaat Wonwoo sudah 6 bulan bertemu Hong Minyoo kita yang imut(kalian sudah tahu kan siapa dia .)

Dan aku sudah memutuskan Fic ini akan berbentuk time table. Bagi yang tidak mengerti, bertanya kepada yang sudah mengerti saja, ya ;)

Hubungan SoonHoon sudah dijelaskan di chapter ini. Bagi yang bertanya pairing lain... aku akan menuliskannya tetapi hanya sebagai slight. Dan Dino berpasangan dengan author(Dino stan jangan timpukin aku pliseu:")

Aslinya aku bikin chapter ini baper sendiri. Dan sambil ganti-gantian liat B1A4-Try to Walk MV. Nangis lah aku pas highpitch nya Sandeul.

EHEMM, aku mau debut di fandom sebelah btw... dengan au-yang sama... semacam spin-off...siapa yaaaa?:v

KLN talk is over here. Wait 'till the next talk episode