Disclaimer: I do not own Saint Seiya, they belong to Kurumada Masami -sensei. I only own my OCs and there are some OCs that belong to other authors
CHAPTER 3
Shoujiki Shogi – Round One
Milo vs Camus – Part I
"Oke baiklah~ tanpa menunggu lagi, silahkan sente Camus-san jalan duluan."
Nah, di acara biasanya sih pemain bergumam pendek sambil milih-milih pertanyaan yang mana, kalau Guru IPA kita yang dingin kayak es balok ini? Boro-boro! Detik berikutnya dia sudah meletakkan pion shogi bernomor 4 tanpa banyak bacot lagi. Pak, kami tahu bapak gak niat, tapi setidaknya hibur penonton dong.
"Saya merasa itu tidak perlu."
...
Hening
"Ngomong ama siapa lu, Mus?"
...
...
Sir, it is not allowed to break the fourth wall...
"Oke! Kita tidak usah hiraukan yang tadi." Kata Fiona dengan acuh tak acuh. "Silahkan mulai Pak Camus."
DONG!
DONG!
...
Apa sound effect itu perlu? Ah udahlah masa bodo.
"Sejujurnya... Kamu demen menipedi untuk jaga keindahan kukumu."
Detik itu juga aula tersebut dipenuhi tawa yang menggelegar dan Scorpio Milo—Eh salah, Pak Milo menahan dirinya untuk menghantam sobat – diragukan kalau sebenarnya mereka sobatan – karib yang berada di hadapannya ini.
"TIDAK!" Raungnya.
... Jarumnya bergerak lho
... Iya bergerak
... Dan...
TETOT!
"Ah."
"Anjir! Nih mesin rusak yah?!"
Seketika itu juga aura neraka dibarengi dengan senyum semanis coklat tapi sedingin laut antartika – gak usah puitis woy – membuat bulu kuduk Milo merinding. Ia tak perlu menoleh ke meja komentator untuk melihat siapa yang tengah tersenyum itu.
"Ma-Maksud saya, itu nggak benar woy!"
Hening.
"Mesinnya berkata lain..." Kata Sophie.
"Seberapa akurat mesin ini, Nona Saori?" Tanya Sieglinde dengan senyum sumringah.
"Seratus persen akurat, Seiglinde-san."
Milo merasa ingin menggali liang kuburnya dan mengubur dirinya dan tak akan mau keluar lagi! Serius, permainan gila apa pula ini?! Dan kenapa dia harus ikut?! Demi Medusa dan dua saudari jeleknya – dendam cerita utama jangan kau bawa ke cerita parodi ini nak, dosa nak – ini memalukan!
"Jadi hobi Milo-sensei itu yah." Kata Fiona. Dari suaranya yang kentara bergetar, jelas sekali ia berusaha menahan tawa.
"KAGAK!" Teriaknya. Suaranya yang cetar membahana itu, jujur, sanggup mengalahkan suara mikrofon yang dipegang Fiona. "Lagian, gak ada bukti kalau gua melakukan hal nista itu!"
Sophie mengalihkan pandangan, karena hanya dirinya dan Irina yang tahu bahwa Milo memang sering menipedi. Sayangnya, Sieglinde cepat sekali menyadari gerak-gerik gadis itu.
"Sophie-chan tahu sesuatu~?" Tanya Sieglinde.
"Eh...? Yah..." Sophie berbalik ke arah Irina yang duduk tak jauh dari situ. Kakaknya yang satu ini saingannya Camus nih, ekspresinya datar kayak batu udah gitu ngomong sepatah dua kata doang, pelit senyum pula. Cewek kayak gini enaknya diapain yah? *digebukin Massa* Ahem, anyway, sang kakak hanya mengerling pada adiknya dan dengan nada datar dan tanpa perasaan, ia mengabulkan permintaan tersirat adiknya.
"Etto, ini terjadi pada akhir pekan lalu. Aku dan Sophie baru habis belanja di sebuah department store. Department store itu dekat dengan salon kecantikan dan waktu kami lewat situ, kami melihat Milo-sensei sedang menipedi di situ dan dia ketiduran saat mbak tukang salonnya lagi bersihin kukunya."
Oke, kalau misalnya ini komik dan ada balon percakapan, silahkan bayangkan Milo tertusuk ujung panah balon tersebut karena serius, dia merasa begitu tertohok!
*dramatic music plays*
"Njir! Pak Milo!"
"Dikutekin warna apa pak? Merah menyala yah?"
"Atau pink, pak?"
"DIEM LO PADA!" Bentak guru itu yang merasa sudah dipermalukan terlalu jauh.
Mas, ini baru giliran pertama mas, masih banyak neraka yang bakal menunggumu, mas.
"Tapi saya lihat kemarin kuku jari telunjumu panjang dan berwarna merah menyala."
Pengakuan dari Camus tersebut langsung membuat semua hadirin sekalian dalam aula menyemburkan tawa mereka.
"DIEM LU MUS! GUE SUMPAHIN—"
"Yak! Yak! Kita lanjut saja berikutnya Gote, Milo-sensei." Seru Fiona yang merasa agak kasihan pada guru satu itu.
Milo menarik napas dan berusaha mengendalikan emosinya. Ia melihat daftar pertanyaannya dan langsung mengambil pion yang berterakan warna satu dan membantingnya ke papan Shogi di hadapannya.
DONG!
DONG!
"Hanya diantara kita, sejujurnya kamu diam-diam sering buka link yang kukasih."
Banyak gumaman "Oooh" Terdengar dalam aula.
"Tidak."
... jarumnya gak gerak
... diem di tempat tuh
... Bosan ah *diinjak*
"Yak, dihindari~ dihindari~"
Keluhan tanda kecewa terdengar dari segala arah aula.
"Kupikir ini pertanyaan yang tak perlu ditanyakan lagi." Kata Sophie.
"Jangan samakan Camus-sensei denganmu, Milo-sensei." Kata Sieglinde.
Milo yang harga dirinya sudah jatuh tambah jatuh lagi. Mending mati aja kali yah, dia? *Author di Scarlet Needle*
"...Memang Milo-sensei ngasih link apa ke Camus-sensei?" Tanya Sophie dengan muka polos.
Seketika itu juga aula dicekam keheningan luar biasa. Gimana tidak? Seluruh murid tahu sifat Milo yang kelewat mesum itu, padahal dia udah punya pacar lho, sodara-sodara. Pacar! Omong-omong, saat kita melirik gadis berambut merah yang bersangkutan, tampaknya suasana hatinya sedang tidak baik... Sudahlah, nanti kita berlindung saja kalau-kalau pak guru kita yang mesum itu di bantai.
"E-Err..." Milo keringat dingin. Ia sama sekali tak menyangka pertanyaannya malah jadi senjata makan tuan.
...
...
...
Hening.
"... Kita akan bicarakan ini nanti." Kata Sophie, nada bicaranya sama sekali tak bersahabat.
'Ya Elah matilah gue entar di rumah TvT' Tangis Milo dalam hati dan ia dapat merasakan pandangan "Mampus lo, mampus." Yang dilemparkan oleh para penonton acara gila ini.
"Ehem, yak... Kita... lanjutkan saja yah?" Kata Fiona yang sudah takut-takut melirik ke arah kakak sepupunya yang auranya sudah benar-benar tidak bersahabat itu. Mbak, sadar diri mbak, kau juga kalau marah tuh sama mengerikannya dengan sekawanan Hydra.
...
Tapi dia nggak nyadar juga sih jadi biar lah.
"Berikutnya, silahkan Camus-sensei."
Tanpa sedikitpun komentar – ya elah mas, saya mohon... Komentar mas, komentar. Kami butuh komentar. Satu kata juga gak apa – sang guru Ipa mengambil pion shogi yang berterakan nomor 6 dan meletakkannya dia atas papan shogi.
"Ooh! Nomor 6!" Seru Sieglinde, tampak semangat.
"Pertanyaan mematikan berikutnya yah?" Kata Saori sambil melihat daftar pertanyaan Camus. "Ini sih, Camus-sensei menang telak."
Dan Sophie... Tampaknya suasanya hatinya sudah sangat tidak bagus dan memang lebih baik dia nggak komentar deh.
DONG!
DONG!
"Sejujurnya, kamu sering... "ngukurin" setiap perempuan dia sekolah ini."
"AAAAHHHH!"
"KAGAK!" Bentak Milo dengan wajah merah padam. Belum satu detik berlalu dan jarum tersebut sudah melewati garis batas.
TETOT
Wow. Yang satu ini telak betul.
Selangnya gak sampai satu detik pula!
"... Mesum."
"Iya, ih, Milo-sensei ternyata..."
"NGGAK GITU, WOI!" Bentak Milo. Astaga... Yang benar saja! Permainan ini kerap membeberkan rahasia terbesarnya!
Yah karena memang tujuan permainan ini itu mas!
"Jadi Milo-sensei punya list-nya nih?"
"Asyik tuh! Bagi-bagi yang entar!" Teriak para murid cowok yang tampak terpingka-pingkal.
"... Sebenarnya ini pertanyaan iseng dari salah satu Author, tapi ternyata kau memang mesum, ya, Milo?" Kata Camus dengan nada sedingin es.
"Gue gak—oke, gue akui deh beberapa! Tapi gak semua!"
Mas, mas, jarumnya berkata lain mas.
Belum selesai guru cetar membahana kita membela diri, Sophie berdiri dari tempatnya. Semua penonton menatap gadis itu dengan horror. Ia jelas-jelas sudah sampai batas kesabarannya, dan guru kita yang malang yang hobi menipedi itu menenggak ludah yang sudah terkumpul dari tadi dalam mulutnya – Jorok Ih! – dan menatap gadis itu dengan pandangan takut.
"S-Sophie?"
"Ya?" Gadis itu tersenyum. Serius, tersenyum lebar. Tapi ada bayangan hitam mengerikan di belakangnya dan senyuman juga nada suaranya yang mendadak berubah itu membuat seisi ruangan merinding disko karena mereka bisa merasakan hawa pembunuh di dalamnya.
"S-S-S-Sophie, err... Gue bisa je-jelaskan, oke?"
Tapi sayang sekali gadis berambut biru itu tidak memperdulikan permintaan wali asuhnya itu dan dengan tanpa perasaan ia menarik kerah baju pria malang itu dan berbalik pada Fiona yang sudah berkeringat dingin melihat sepupunya yang sudah dipenuhi hawa membunuh itu.
"Kami akan segera kembali."
Katanya sih gitu
Yang ada 3 jam penuh kekosongan itu diisi dengan suara teriakan cetar membahana dari guru kita yang hobi menipedi itu.
"... Kita alihkan perhatian saja, kenapa Camus-sensei memilih pertanyaan itu?"
"Karena beberapa hari yang lalu saya melihat Milo, ah, melirik ke area wanita dan menggumamkan angka. Saya penasaran, jadi saya tanyakan dan dia bilang 'Mus, jangan ganggu, gue lagi ngukur nih.'"
Yak, yak, jadi sekarang kita tahu bahwa Milo-sensei itu mesum tingkat dewa.
Mata anak-anak melebar dan beberapa anak cowok berseru.
"Minta list nya dong!"
Dan tentu saja itu adalah kalimat terbodoh yang pernah diucapkan, karena menyebabkan para kaum hawa memberikan pelototan mematika yang bahkan bisa menakuti setan-setan neraka.
Fiona lalu tertawa gugup lalu ia berbalik saat salah satu kru utusan sang Author – heh – menepuk pundaknya dan membisikkan sesuatu.
"E-eh? Milo-sensei sekarat?!" Serunya. "Jadi gimana... Oh lanjut di chapter berikutnya dan... pertanyaan tambahan dari author lain?" Fiona berbisik-bisik dengan kru utusan author yang mengenakan pakaian serba hitam dan kayaknya kulitnya juga hitam deh – woi – lalu ia mengangguk.
"Erm baiklah!" Fiona berbalik kepada para hadirin yang terkasih – dihajar – lalu menarik napas.
"Sepertinya pak Milo sudah sekarat, doakan saja belum meninggal, yang berarti acara ini..."
Fiona berbalik ke layar kamera.
"Akan dilanjutkan di chapter depan~"
TBC
Cuplikan
"Saya rasa itu wajar, cinta pertama kan sulit dilupakan."
"Gue gak serendah itu! Jangan samain gue ama si Pertapa Genit!"
"Salah fandom woi!"
"GUA NORMAL GUA GA HOMOAN! APA LAGI SAMA SI ES BALOK INI!"
"... Ya astaga pertandingan berikutnya dua orang ini... Ayles-chan dan Seto-kun, sabar aja yah?"
Pojok Rant
Author akui author emang payah di kedua belah pihak #plak baik pihak cerita utama maupun cerita parodi... hauuu ;A;
Sophie: Cerita utama gak ada review satupun yah, chapter lalu
#JLEBB
Thalassa: Chapter sebelumnya juga cuman satu reviewnya
#JLEBB #JLEBB *pundung di pojokan*
Irina: ... Author minta maaf atas humor garing yang dipaksakan, juga segala penulisan yang jelek dan tak masuk di akal dan OOCness yang terjadi di fic ini.
*Mati gara2 perkataan Irina*
Pojok Reply
#Neo Tsukirin Matsushima29
Saga: =_= Umur kalian berapa sih?
Milo: GAK USAH NGAKAK LO THEA! SOBAT LO LAGI DIPERMALUIN GINI NIH!
Camus: *minum tehnya*
Ixy: Terima kasih atas reviewnya ^^
#AmuletWin777
Nephilim: Waduh... *sweatdrop* S-Satsuki, tenang dulu ^^;
Ingvalt: Aku memikirkan hukuman yang biasa diterima anak sekolah... Tapi yah, pelukan atau ciuman terdengar bagus. Terima kasih Regas-san.
Thalassa: Pertanyaanmu biasa dan garing banget, cowok cantik =_= pertanyaan yang disediakan authormu jauh lebih menarik
Sophie: O-Onee-chan... ^^; Ah terima kasih atas review-nya
#Uryu
Sejujurnya Milo tidak tahu pertanyaan apa yang bisa membuat Camus kalah :v jadi kemenangan Camus sudah bisa dipastikan. Arigatou~ Walau UN-nya dah lewat jauh :"v
#Shirouki
Saya sudah menistakan satu orang! MWAHAHAHA!
Sophie: ... Tapi humornya garing
#JLEBB
Thalassa: Belajar dari anakmu sana
#JLEBB #JLEBB
Irina: Atau dari Nisa-san
#Mati
Ingvalt: Terima kasih atas reviewnya
#Shimmer Caca
Luca: ... Aku baru tahu Milo-sensei itu mesum
Milo: Gw kagak mesummmmm TvT
Atla: Shoujiki Shogi nya berkata lain... Dan Shizen, aku khawatir membiarkanmu pacaran dengan pria mesum ini...
Milo: #JLEBB
Mia: T-Terima kasih atas reviewnya... *blush*
Irina: Ah dan... Author minta saya promo (Author: KAGAK!) Main story kami yaitu HalfBloods: Titan's War... Kasihanilah Author kami (Author: #JLEBB)
