Vengeance

Author: elizaye

Translator: dei-enjel

Summary:

Ketika sahabat baik seorang gadis membunuh cinta sejatinya, seberapa jauh dia akan membalas dendam? "Baiklah, buktikan. Anggap orang ini adalah pelakunya, dan BUKTIKAN kau punya nyali untuk membunuh pembunuh Draco."

When a girl's best friend kills her one true love, how far will she go for revenge? "All right then, prove it. Pretend that this man is the culprit, and PROVE that you would have the guts to kill Draco's murderer."


Translator's Note: Aku udah curhatkah kalo menerjemahan fic itu benar-benar sulit? :D Hahaa.. Tapi tetep semangat karena banyaknya pengunjung di fic terjemahan ini. Reviewnya ditunggu lo.. Dan makasih banyak buat pe-review dan pembaca. Aku benar-benar ada karena kalian ada #lebay wwkwkkk. Oke, tanpa berlama-lama, ini chapter pertamanya. O iya, beberapa kata sengaja gak aku terjemahin ya kayak: hell, Bloody hell, dan umpatan lainnya, :D Dan maaf kalau typo(s) bertebaran disini :D Semoga kalian suka ya terjemahan kali ini. And thanks so much for elizaye because you had allowed me to translate this fic. Enjoy all! :)

Warning: Rate M (seks/bahasa) Translator udah cukup umur kok :p


Disclaimer: Always for J.K Rowling

Vengeance – elizaye

Happy reading!


I. Casualties (Korban)

Kilatan cahaya merah dan hijau terbang ke segala arah. Kekacauan dimana-mana. Seorang gadis mengarahkan tongkatnya pada Pelahap Maut yang terbaring terlentang, baru saja ia lucuti, dan tanpa ragu-ragu mengucapkan kata-kata yang akan mengakhiri hidupnya. "Avada Kedavra!"

Wanita itu bergegas kembali lebih dalam ke hutan dan bertabrakan dengan Pelahap Maut lainnya. Pelahap Maut itu segera mundur menjauhinya, mengarahkan tongkat ke lehernya, kata-kata telah siap dibentuk di bibirnya. Namun mata wanita itu melebar saat ia mengenali laki-laki dibalik topeng, dan ketika laki-laki itu menurunkan tongkatnya sedikit, wanita itu tau bahwa ia mengenalinya juga.

Kemudian ia mendengar suara familiar menyerukan kata-kata mematikan dari belakangnya, dan ia tidak dapat menahan teriakannya.

"Tidaaaaaak!"

Sebuah kilatan cahaya hijau.

Ketika ia akhirnya berani membuka matanya, Pelahap Maut itu telah jatuh ke tanah, lemas. Seseorang mendorong lengannya, mencoba membuatnya bergerak, namun ia kembali jatuh di lututnya. Satu-satunya hal yang dapat ia lihat adalah sepasang mata yang kosong, mata perak.

Kilasan gambar-gambar berkelebat dalam otaknya, hampir begitu cepat baginya untuk diolah. Ciuman pertama mereka. Wajahnya, dipenuhi kemarahan setelah ia menamparnya. Berlari bersama melewati pepohonan ke tempat persembunyian favorit mereka. Hari dimana ia mengatakan tiga kata itu padanya... kata yang telah mengubah seluruh dunianya.

"Hermione! Hermione! Aw, hell—HERMIONE!"

Hermione membiarkan dirinya diangkat oleh sepasang tangan yang kuat, namun segera setelah ia dapat berdiri ia membebaskan tangannya. Harry menatapnya, wajahnya khawatir. Tongkat Hermione diarahkan langsung ke arahnya, dan ia ingin mengakhiri pemuda itu lebih dari apapun.

"Hermione—bloody hell, apa yang kau pikir akan kau lakukan?" Harry menuntut, suaranya sedikit panik.

Sebuah Kutukan Tak Termaafkan ditembak dari belakang Hermione, membentur pohon tepat di atas kepala Harry, dan ia menjatuhkan diri ke samping, namun Hermione tidak bergerak. Dia melihat Harry terperangah dan tau ia harus menahannya. Kemudian ia pun disorong Ron masuk ke dalam Hutan Terlarang.

"Harry—bangun!" Ron berseru serak.

Hermione tidak melawan, hanya berlari mengikuti di belakang Ron, melintasi hutan, yang terus tumbuh subur dan padat. Cabang-cabang pepohonan menyakiti tubuh dan wajah Hermione, namun ia tidak merasakan apapun—tidak ada yang mampu mengalihkan perhatiannya dari lubang kosong yang sakit di dadanya.

Entah bagaimana mereka tiba di Grimmauld Place nomor 12. Sebelum salah satu dari mereka berdua dapat mengatakan sesuatu, Hermione berlari ke lantai atas, menjatuhkan tenda? (umbrella stand, apa ya? :D) karena kecepatannya. Dia membanting pintu saat Mrs. Black's menjerit dan menjatuhkan dirinya ke tempat tidur.

Mati. Dia sudah mati. Dia bersumpah tidak akan pernah meninggalkannya, berjanji bahwa mereka akan selalu bersama. Kenapa hanya ia yang berhasil keluar hidup-hidup? Bagaimana bisa dia hidup, mengetahui bahwa ia tidak akan pernah melihat wajah indah itu lagi? Dia sudah mati, namun mata Hermaione kering.

Hermione tidak bisa berhenti tertawa saat Draco membawanya semakin dalam ke hutan. Mereka tidak memiliki kesempatan bersama-sama dalam waktu yang lama, dan hanya bersama dengan Draco saja sudah membuatnya merasa sangat senang.

Akhirnya mereka mencapai tujuan mereka: cekung kecil yang jauh masuk ke dalam hutan.

Sejauh yang mereka tau, tidak ada satupun murid yang tau tentang cekung ini; Hagrid mungkin tau sebelum itu terjadi, tapi mereka tidak pernah bertemu dengannya disini. Beberapa kesempatan mengejutkan mereka di masa lalu karena bertemu dengan centaurus, tapi Hermione mampu menggunakan pengetahuannya yang luas dan membuat kagum Firenze, Bane dan, beberapa waktu kemudian, centaurus yang lain. Ketika Magorian, pemimpin mereka, berkesempatan bertemu mereka, secara tak terduga memutuskan mereka untuk tinggal, sebagai penghargaan atas kecerdasan manusia.

Draco berhenti dan memeluk Hermione begitu erat sampai ia berpikir ia akan mati lemas.

"Draco—Aku tidak dapat bernafas," Hermione mendesah.

Draco sedikit mengendurkan pelukannya pada Hermione. "Aku tidak tahan jauh darimu begitu lama. Sudah lebih dari seminggu sejak terakhir kita kesini."

"Aku tau. Kau bukan satu-satunya yang merasa jika setiap detik kita berpisah itu akan terasa sangat menyakitkan."

Draco mencium bibirnya, dan Hermione menangkup pipinya dengan tangannya.

"Kenapa kau tidak bisa datang?" Draco bertanya. "Aku mencoba menemuimu bermalam-malam."

"Teman-temanku tinggal sampai larut. Aku tak bisa mengatakan pada mereka aku akan keluar dengan alasan tugas prefek setiap waktu. Mereka tidak akan mempercayaiku."

Draco menghela nafas. "Aku benci teman-temanmu."

"Yah well, Aku benci Regu Penyelidik."

Sudut mulut Draco turun. "Aku minta maaf. Aku—"

"Aku tidak ingin kau minta maaf. Itu hanya…"

"Semua orang akan tau ada sesuatu yang mencurigakan jika aku tidak terlibat di dalamnya," Draco berkata lembut. "Orang-orang akan mulai curiga… dan lalu mereka mungkin akan tau tentang kita."

Hermione menghela nafas berat. "Ya, aku tau."

Mereka berpelukan selama beberapa lama, kemudian Draco berkata.

"Umbridge, aku sudah tidak tahan padanya atau dasinya, atau kucingnya. Aku tidak tahan lagi dengan semua itu. Aku pikir aku tidak akan pernah memuji salah satu teman berambut merahmu, tapi si kembar Weasley memiliki ide cemerlang."

Hermione tertawa. "Mereka memiliki sesuatu, yang tidak dimiliki yang lain."

Draco membenamkan hidungnya ke rambut Hermione dan menghirupnya. Kemudian berbisik, "Aku sangat merindukan harum ini."

Hermione menyingkirkan pelan rambut di tengguknya, dan Draco menggeram pelan, kembali menyerang mulutnya.

Tidak… jika ia terus memikirkan ini, ia akan menangis sesaat lagi. Dia tidak akan hancur, belum.

Hermione mendengar suara-suara di lantai bawah dan tau bahwa ia harus memeriksa keadaan setelah pertempuran, melihat siapa saja yang bertahan. Hermione terkejut Harry dan Ron tidak ikut naik menanyakan apa yang terjadi padanya, tapi dia dapat menebak kalau mereka sedang mencari tau apa yang salah.

Hermione membuka pintu kamarnya dan menuruni tangga. Ruangan terlihat sunyi, dan Mrs. Black telah tersembunyi kembali dibalik tirai.

"Hermione," Ron berkata. Suaranya mengejutkan Hermione.

"Oh, Hermione." Harry berbalik. Dia kelihatan gugup.

Hermione menjaga tatapannya pada Ron. "Apakah ada orang lain yang kembali?"

Ron menggeleng kepalanya. "Tidak, belum." Dia melirik Harry lalu berkata, "Hermione, tentang apa yang terjadi… di hutan…"

Hermione menampilkan senyum palsu di wajahnya dan berkata, "Apa yang terjadi?"

Harry berkedip. "Kau… kau mengarahkan tongkatmu padaku, seperti kau akan menyerangku."

"Aku—Aku melakukannya?" Hermione pura-pura tidak tau. "Oh, Tuhan. Aku melakukannya, kan?" Dia mendongak untuk melihat Harry dan Ron menatapnya, wajah keduanya khawatir.

"Hermione… apa yang kau lakukan?" Ron akhirnya dapat bertanya.

"Aku tidak ingat—Aku harus mengarahkan tongkat ke Harry karena ia menggunakan Kutukan Tak Termaafkan. Aku melihat kilatan cahaya hijau, dan aku hanya… tak tahan lagi. Maksudku, lihat aku. Aku masih gemetar."

Perlu mereka tau bahwa gemetarnya lebih berkaitan pada pembunuhan pemuda bermata perak daripada kekacauan perang.

Harry terlihat lega. "Untuk sesaat, kupikir kau akan membunuhku."

"Oh Harry, Aku benar-benar minta maaf," Hermione berkata, mencoba untuk benar-benar setulus mungkin. Harry melangkah ke depan dan memeluknya, dan gelombang kebencian karena Harry telah membunuh kekasihnya membengkak di dadanya.

Kemudian pintu terbuka, mendorong Harry untuk mundur dari Hermione, dan Hermione dapat bernafas lega lagi.

George bergegas ke kamar dan segera berlari ke arah dapur, mengabaikan lolongan marah Mrs. Black mengenai Darah Lumpur dan Darah Pengkhianat. Dia memegang seseorang di lengannya, tapi ia berlari begitu cepat sehingga mereka tidak dapat melihat wajah si korban, dan Harry dan Ron bergegas mengejarnya untuk membantu.

Hermione melihat helaian panjang, rambut merah menyala, dan tau bahwa korbannya adalah Ginny. Alih-alih mengejar George, ia membantu orang lain di ambang pintu ke dalam ruangan.

"Neville! Kau baik-baik saja?"

Dia tidak benar-benar terlihat baik-baik saja—wajahnya pucat dan menahan sakit, dan seluruh tubuhnya bergetar. Neville tertatih-tatih masuk ke ruangan, menyandarkan berat tubuhnya pada Hermione. Hermione menendang pintu depan hingga terbuka dan membantunya menuju dapur, mengabaikan Mrs. Black yang terus menerus berteriak. Mereka masuk dan menutup pintu dapur di belakangnya, meredam lolongan yang ada di luar.

"Ginny—apakah ia baik-baik saja?" Neville tersedak.

"Diamlah dan biarkan aku merawatmu," Hermione berkata.

Pikirannya nampaknya memproses luka Neville dan menyebutkan mantra penyembuhan yang tepat untuk meringankan rasa sakit dan menghilangkan memar dan luka tanpa benar-benar menyadarinya—karena ia tidak dapat menghentikan dirinya untuk melihat mata kosongnya, menatap ke arahnya.

"Ularnya," Neville mendesah, "Aku membunuhnya."

"Ya, Aku melihatnya. Itu sangat keren, Neville. Tapi tolong, diamlah sebentar," Hermione berkata, mulutnya bergerak tanpa diperintah dari otaknya.

Harry dan George menggumamkan mantra di atas luka Ginny sementara Ron mundur untuk memberi mereka ruang.

"Hermione—tolong," George berkata mendesak.

Hermione menjauh dari Neville dan melangkah ke arah Ginny, dengan lembut menjauhkan George. George berpindah untuk mengecek Neville. Hermione menggumamkan mantra baru, masih dengan pikiran yang tidak sadar.

"Apa kau baik-baik saja?" Hermione mendengar Ron bertanya. Cowok itu menepuk bahunya, dan Hermione menyadari bahwa dia berbicara padanya.

"Ya, aku baik-baik saja," tukasnya. Ron mendur, kelihatan terluka. "Aku minta maaf," Hermione berkata, tanpa benar-benar merasa bersalah. Jawabannya spontan seperti mantra yang mengalir tanpa kata dari tongkatnya.

Harry meletakkan tongkatnya dan sekarang melihat Hermione yang bekerja dengan tongkatnya. Wajah Ginny berubah warna saat luka-lukanya menutup dan membaik, dan Harry tampak lega. Hermione mendadak dicengkram keinginan untuk membunuh Ginny, hanya untuk mengenyahkan ekspresi bahagia yang jelas terlihat di wajah Harry. Hermione mengontrol dirinya dan membiarkan mantra penyembuh terus mengalir.

"Siapa… siapa yang masih bertahan?" Ron bertanya pada kakaknya dan Neville.

"Kami melihat McGonagall gugur," Neville berkata.

Wajah Hermione sedih. Professor McGonagall selalu menjadi guru favoritnya, setelah Professor Flitwick. Ruangan menjadi sunyi kecuali jeritan Mrs. Black di luar.

Hermione menjauhkan tongkatnya dan memecah keheningan. "Kupikir Ginny akan baik-baik saja sekarang, tapi kita harus menunggu ahli untuk mengecek keadaannya segera."

Tidak ada yang merespon, dan ia menyadari semua mata tertuju pada George, tubuhnya gemetar.

"George? Apa yang terjadi?" Harry bertanya ragu-ragu.

George menatap Ron. "Kita satu-satunya—satu-satunya—" ternggorokannya kering, dan ia menatap ke bawah, berjuang untuk menenangkan diri.

"Satu-satunya apa?" Ron menuntut, matanya melebar karena takut dan khawatir.

"Mum—Mum dan Dad—"

"Tidak! Tidak, tidak, tidak, TIDAKK!" Ron berteriak.

"Ron, tenanglah!" Harry berkata, berlari mengitari meja, menahan Ron saat ia bergerak menuju pintu. "Ron, berhenti! Berhenti!"

Tanpa berpikir, Hermione mengayunkan tongkatnya pada Ron dan berkata, "Petrificus Totalus!"

Ron tidak bergerak, dan Harry menangkapnya agar ia tidak jatuh ke lantai.

"Hermione—apa yang kau lakukan?" Harry bertanya padanya. George terlihat masih tidak mampu berbicara.

"Aku… well jauh lebih mudah untuk menghentikannya dengan cara begini daripada kalian bergulat satu sama lain seperti itu. Hal terakhir yang kita inginkan adalah ia kembali ke Hogwarts dan membiarkannya terbunuh," Hermione beralasan. Ia menoleh George dan bertanya, "Siapa yang bertahan?"

George mengatup rahangnya beberapa kali sebelum akhirnya berbicara, namun ia memiliki lebih banyak kontrol di suaranya kali ini. "Aku tidak tau berapa banyak yang tersisa. Mum dan Dad, keduanya—keduanya pergi. Bill dan Charlie, dan Fleur, dan Percy. Dan Fred!" Matanya berkaca-kaca saat ia menyebutkan nama saudara kembarnya. "Semuanya pergi!" dia menangis.

Hermione mengulurkan tangannya untuk meraihnya dalam pelukan singkat. George menepuk punggungnya, dan kemudian Hermione menjauh. Harry jatuh ke kursi di meja, mengolah fakta bahwa satu-satunya Weasley yang masih hidup hanyalah Ron, George, dan Ginny. Neville tidak tau apa yang akan ia katakan, jadi ia hanya menatap lantai dengan khidmat.

Hermione tau bahwa berita itu seharusnya membuatnya merasa lebih, lebih buruk daripada yang ia rasakan sekarang, tapi ia tidak dapat berkonsentrasi pada hal lain selain fakta bahwa Draco telah menghilang darinya, menghilang selamanya. Tidak ada yang bisa menggantikan hal terpenting itu dalam pikirannya.

Oh, menyedihkan. Hermione mungkin akan bagus di Occlumency, sesuatu yang Draco ajarkan padanya berbulan-bulan, karena sekarang ia memiliki sesuatu yang akan memfokuskan seluruh pikirannya. Sayangnya, Draco tidak ada untuk melihatnya.

Kemudian mereka mendengar jeritan di luar mereda.

"Seseorang disini," Hermione berkata, menarik tongkatnya. Tongkat George masih di tangannya. Harry bangkit berdiri dan mendorong Ron menjauh dari pintu.

Kemudian pintu terbuka, dan Arthur Weasley yang kelelahan melangkah ke dalam ruangan.

"Dad!" George berteriak. "Aku pikir kau —kau —"

"Kaku, sebenarnya. Aku—ibumu—Aku tidak bisa bahkan—"

"Mr. Weasley, duduklah," Hermione berkata. Ia memanggil gelas kosong dari dapur dan bergumam, "Aguamenti."

"Terima kasih, Hermione." Mr. Weasley mengambil gelas itu dan meminumnya. Kemudian ia melirik ke samping dan melompat berdiri. "Ronald!"

Semua orang melompat; mereka melupakan bahwa Ron masih terbaring di lantai, matanya melotot saat berusaha membebaskan dirinya dari Kutukan Pengikat Tubuh.

Harry tersentak dan mengayunkan tongkatnya pada sahabat baiknya itu. "Finite Incantatem!" ia berteriak.

Ron melompat berdiri dan memberi Hermione tatapan membunuh, tapi ketika ia akhirnya berbicara, kata-katanya ditujukan pada ayahnya. "Dad… apakah benar? Apakah kita satu-satunya yang tersisa?"

Mr. Weasley jatuh kembali ke kursinya dan menganggukkan kepalanya. Ron berbalik dan berjalan menuju perapian, dan tidak ada yang mengikuti. Mereka tau bahwa ia ingin sendirian.

Hermione duduk di meja, kelelahan, dan mengistirahatkan dahinya ke lengannya.

Sebuah kursi bergeser dihadapan mejanya, dan Hermione mendongak, melihat Malfoy duduk.

"Apa yang kau lakukan disini?" Hermione mendesis.

"Bukan urusanmu, Granger, tapi biasanya ketika aku ke perpustakaan, tentu saja untuk mengerjakan sesuatu."

Hermione menatapnya. "Maksudku, kenapa kau duduk bersamaku?"

"Jika kau tidak memperhatikan, perpustakaan penuh. Jika aku punya pilihan lain, aku tidak akan ada disini."

"Kau dapat kembali ke kamarmu."

"Hanya jika kau bisa mengeluarkanku," Malfoy berkata, menyeringai.

Hermione menghela nafas dan mulai membaca bukunya. Dia sudah kelelahan karena telah belajar untuk waktu yang lama, dan hal terakhir yang diinginkannya adalah beradu pendapat dengan berengsek berminyak itu. Dia tak pernah bisa berhenti memikirkanya sejak Yule Ball beberapa minggu lalu, dan Malfoy tidak membiarkan dirinya sendirian sejak itu.

Seoleh-oleh malam itu tidak pernah terjadi—satu hal yang menyakinkan dirinya bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara mereka adalah celana dalamnya yang hilang dibawa Malfoy pergi bersamanya. Namun saat ini, ia ingin percaya bahwa ia hanya bermimpi melihat semua itu dan secara kebetulan kehilangan celana dalam yang sama.

"Apakah kau benar-benar akan melarikan diri, seperti pengecut? Keterlaluan untuk seorang Gryffindor," Malfoy mengejek.

Hermione melototinya. "Aku sedang mengerjakan tugas sekarang, jadi nanti aku akan kembali. Aku lelah."

"Belajar sangat keras akhir-akhir ini, hmm?"

"Kenapa kau peduli?"

Malfoy mencondongkan tubuhnya ke depan, menyambar buku Ramuannya, dan mulai membolak balik halamannya.

Hermione mengulurkan tangannya. "Kembalikan itu, Malfoy."

Malfoy menaikkan alisnya. "Bagaimana jika tidak?"

"Aku akan mengutukmu, kalau begitu. Berikan itu."

"Baiklah."

Malfoy memberikan buku itu padanya, dan setelah memasukkannya ke dalam tas dengan bukunya yang lain, Hermione berjalan cepat keluar perpustakaan.

Ketika ia kembali ke Menara Gryffindor, Hermione mengeluarkan buku ramuannya dan mencari perkamen. Kemudian Ron berjalan menuju meja dan secara tidak sengaja menjatuhkan bukunya—sudut buku terletak terlalu ujung di meja. Selembar perkamen kecil yang terlipat terjatuh.

"Maaf," Ron berkata, mengambil buku dan dan menyerahkannya pada Hermione. Matanya jatuh ke potongan perkamen di lantai, dan Hermione mengambilnya. "Apa itu?" dia bertanya.

"Bukan urusanmu, dan lagipula, kupikir kau tidak berbicara padaku," Hermione menjawab.

Ron bergumam muram sambil menjauh, dan Hermione berhasil mendengar beberapa kata tentang rambut lebat, tersinggung, dan Victor Krum. Hermione menggelengkan kepalanya dan mengabaikannya, melihat perkamen kecil di tangannya.

Dia perlahan membukanya dan melihat tulisan yang elegan, "Temui aku jam setengah dua, dimana terakhir kali kau melihatku hari ini."

Hermione berkedip beberapa kali dan melihat sekeliling. Tidak ada satupun yang menyadari catatan yang telah ia baca. Dengan hati-hati ia menyelipkannya ke kantongnya dan terus menulis, namun pikirannya berdebat.

Haruskan ia bertemu dengannya? Tubuhnya bergetar mengantisipasi; ia telah menghidupkan kembali malam itu dalam mimpinya, dan ia selalu terbangun dengan kebasahan yang sama di antara kedua kakinya dan sakit yang sama di bawah perutnya. Namun dia tidak bisa bertemunya! Dia Draco Malfoy, anak Pelahap Maut, dan ya dia akan menjadi salah satu dari mereka!

Hermione menutup matanya selama semenit, mencoba menjernihkan pikirannya. Dia perlu menyelesaikan tugas Ramuan. Ini memang tidak akan dikumpulkam hingga Jum'at depan, tapi ia masih ingin menyelesaikannya jadi ia bisa membaca ulang buku Aritmatika.

Sekitar jam setengah duabelas, orang-orang perlahan mulai keluar ruang rekreaksi. Hermione sudah menyelesaikan setengah dari esai Ramuannya, dan masih berdebat dengan pikirannya.

Akhirnya, tepat tengah malam, Parvati dan Lavender bangkit dari sofa.

"Jangan tinggal terlalu lama, Hermione," Parvati berkata.

"Tidak akan."

Mereka naik ke atas ke asrama putri, meninggalkan Hermione sendirian di ruang rekreaksi. Dia kembali pada dilemanya. Ia sebaiknya pergi atau tidak?

Sekitar dua puluh menit kemudian, ia mengerang dan menutup bukunya dengan frustasi. Ia akan pergi dan bertemu dengannya, tapi hanya untuk mengatakan padanya kalau ia tidak ingin melakukan apa-apa lagi dengannya. Ia akan mengatakan padanya untuk berhenti mengganggunya dan membuatnya jelas bahwa ia akan mengutuknya jika ia mencoba sesuatu padanya lagi.

Dengan pikirannya ini, ia mengerjakan tugasnya dengan tergesa-gesa hingga jam setengah dua—menemukan dirinya menyukai ide untuk membuat Malfoy menunggunya. Hermione meletakkan pena bulunyal, menggulung lembaran perkamen yang telah ia tulis, dan menutup buku. Kemudian ia berdiri dan keluar lewat lubang lukisan.

Perjalanan ke perpustakaan terasa lebih pendek dibandingkan sebelumnya, dan ia segera melangkah ke meja dimana tadinya ia duduk hari itu.

Bangku itu kosong.

Jam berapa sekarang? Dia pasti terlambat. Berapa lama ia terlambat? Sudahkah Malfoy pergi? Kemudian Hermione menghela nafas. Bagaimana ia tidak menyangka ini sebelumnya? Dia mungkin tidak pernah berencana untuk datang; ia hanya ingin bermain-main dengan pikiran Hermione kalau ia ingin membuatnya berpikir kalau cowok itu ingin melihatnya lagi. Ia memelototi tempat duduk cowok itu sebelumnya.

Kemudian sepasang lengan memeluknya dari belakang, dan Hermione melompat terkejut. Nafas cowok itu terasa panas di lehernya.

"Kau terlambat, Hermione."

Hermione bergidik dengan cara yang sama saat ia pertama kali mendengar cowok itu mengucapkan namanya.

"Lepaskan tanganmu dariku," Hermione berkata datar.

"Baik… tapi apa ini benar-benar yang kau inginkan?"

Sebelum Hermione dapat merespon, cowok itu membalikkan tubuhnya, menangkap bibirnya, dan menariknya mendekat lebih erat ke arahnya. Hermione ingin berteriak, ingin menggigit lidahnya ketika memasuki mulutnya dan mulai menjelajah, ingin meraih jubahnya dan mengeluarkan tongkatnya untuk mengutuknya seperti yang ia janjikan pada dirinya sendiri.

Tapi dia tidak berbuat apa-apa.

Sebaliknya, Hermione mengerang dalam mulut Malfoy dan meluncurkan tangannya ke bawah kemeja cowok itu untuk mengelus kulit mulusnya, membelai otot yang berkembang itu. Salah satu tangan Malfoy mengepal di rambut Hermione, dan ia memperdalam ciuman mereka. Hermione dengan perlahan menyentuhkan pinggulnya kearah cowok itu, dan ia mengerang, menjauhkan mulutnya dari mulut Hermione. Hermione mencium sepanjang rahangnya dan kemudian turun ke salah satu sisi lehernya, sementara tangannya melepas kancing kemeja cowok itu. Ia meninggalkan bekas ciuman di tulang selangkanya dan merasakan sensasi aneh dan puas saat Malfoy mengerang lembut namanya.

Dia, Hermione Granger, memiliki kekuasaan penuh atas Draco Malfoy.

Namun Hermione tidak menikmati kekuasaan itu lebih lama; karena Malfoy merobek bajunya dan melepas bajunya sendiri, dan ketika lengannya memeluk Hermione, perasaan saat kulit cowok itu bersentuhan dengan kulitnya membuatnya terbakar. Hermione merasa dipenuhi olehnya, dan ini terasa hangat, begitu aman.

Hermione mengangkat kepalanya dan menjilat bibir Malfoy ragu-ragu. Dengan geraman kecil Malfoy menciumnya, keras, dan Hermione menempel padanya. Ia merasakan gairah cowok itu melawan pahanya dan sensasi menjalari dirinya. Tangan cowok itu membelai punggungnya, dan ia mengisap bibir bawah cowok itu.

Kemudian Malfoy menjauh darinya, dan matanya terbuka. Hermione berkedip, menunggu apapun yang ingin cowok itu katakan dengan tidak sabar sampai ia bisa merasakan bibir itu lagi.

"Kau milikku," dia berbisik. "Katakan kau adalah milikku."

"Aku milikmu," Hermione berkata tanpa berpikir.

"Bagus."

"Hermione—ada apa dengannya? Hermione!"

Hermione membuka matanya, menemukan bahwa ia tertidur, terduduk di meja dapur. Ia bangun dengan lesu.

"Maaf. Aku hanya…" Hermione melihat sekeliling untuk melihat beberapa wajah baru di meja.

Rupanya ia sudah duduk di samping Mr. Weasley sebelum tertidur. Neville masih di tempatnya semula, di sisi lain Mr. Weasley. Ron, George, dan Ginny duduk berhadapan dengan mereka. Harry duduk di sisi lain Hermione—Harry yang sudah membangunkannya.

Jauh di bawah meja, ia melihat Luna Lovegood, Terry Boot, Michael Corner, dan Ernie Macmillan—karena mereka tidak tau dimana letak, Lupin harus membawa mereka bersama. Apakah hanya mereka yang bertahan? Sedikit sekali…

Di ujung meja duduk Lupin, dan Hermione tersenyum ketika ia melihat wajah familiarnya. "Professor Lupin," dia berkata.

"Kita semua tau aku sudah tidak menjadi professor untuk waktu yang lama," Lupin berkata lelah.

"Apakah… apakah kita satu-satunya yang tersisa?" Hermione bertanya.

"Beberapa dari pihak kita ditangkap hidup-hidup, kebanyakan dari mereka adalah murid, tapi tidak banyak yang masih bertarung ketika aku datang kemari. Kupikir Voldemort menjaga mereka tetap hidup untuk menawarkan mereka pilihan untuk bergabung dengannya."

Wajah Harry terlihat jijik. "Aku akan membunuhnya," dia mendesis.

Hermione memiliki dorongan untuk mengangkat tongkatnya ke leher Harry dan membunuhnya di sana. Dia segera menahan dorongannya dan bertanya, "Lalu… Kingsley, Tonks, Professor McGonagall…?"

"Mati," Lupin berkata, wajahnya tanpa emosi.

Semua orang ada yang hanya menatap ke bawah meja ataupun ke arah Lupin.

Akhirnya Lupin memecah keheningan. "Ayo kita semua ke lantai atas untuk beristirahat. Ini akan menjadi malam yang panjang. Kita akan memiliki waktu untuk membahas ini besok."

"Kita—kita tidak bisa pulang ke rumah sekarang, kan?" Ernie bertanya.

"Itu tidak aman," Mr. Weasley berkata.

"Tapi bagaimana dengan keluarga kita? Jika kita tidak aman, tentunya mereka juga kan. Tidakkah seharusnya kita melakukan sesuatu untuk melindungi mereka?" Terry bertanya.

"Voldemort tidak akan bisa menemui semua keluarga sekarang. Istirahatlah. Kalian semua membutuhkannya," Lupin berkata tegas. "Ke atas, sekarang. Kalian semua."

Hermione bangkit berdiri dan melangkah keluar ruangan. Sejumlah langkah kaki mengikutinya saat ia menaiki tangga ke dalam kamar dimana ia dan Ginny tinggal.

"Luna, masuklah," Hermione berkata. "Mungkin tidak ada cukup kamar di sini untuk semua orang. Kau dapat berbagi tempat tidur denganku."

"Baiklah kalau begitu" Luna menjawab, melamun sambil mengikuti Hermione ke dalam kamar tidur.

Hermione akan menutup pintu saat ia melihat Ron datang. Hermione She managed a smile.

"Apa yang kau lakukan disini?"

"Aku hanya… ingin mengucapkan selamat malam," Ron berkata.

"Oh. Selamat malam," Hermione menjawab.

Ketika Ron tidak menunjukkan tanda kalau ia ingin pergi, Hermione keluar kamarnya dan menutup pintu di belakangnya. Yang lain sudah naik ke lantai atas, meninggalkannya dan Ron sendirian di lantai itu. Harry pun sudah pergi ke kamarnya dan Ron.

"Ada apa?" Hermione bertanya.

Ron mencondongkan tubuhnya ke depan, dan sebelum Hermione mengetahuinya, bibir cowok itu berada di bibirnya. Hermione menutup matanya dan mencoba membayangkan ia sedang mencium bibir Draco, namun saat berbagai kemungkinan melintasi pikirannya, Hermione tau itu bukan dirinya.

Bibir ini kasar, kering, dan sangat, sangat ragu-ragu. Tidak, Draco tidak akan pernah menciumnya seperti itu.

Hermione membuka matanya dan mendorong Ron menjauh darinya. Ron terlihat terkejut dan mengulurkan tangan ke arahnya.

"Ronald, jangan sentuh aku," dia berbisik.

"Hermione…" Ron bergumam, terlihat terluka.

Hermione mengambil nafas dalam. "Aku tidak tau dari mana kau mendapatkan ide bahwa kau dapat menciumku, tapi kau sebaiknya menghilangkannya dari kepalamu, oke?"

Mata Ron mengeras dan ia menatap Hermione tajam. "Itu karena aku sangat menyukaimu!" dia berkata marah, berbalik kembali ke kamarnya.

Hermione hampir merasa bersalah padanya. Itu bukan kesalahannya. Dia tidak tau bahwa Hermione jatuh cinta pada orang lain—bagaimana bisa ia memberitahunya, atau Harry? Mereka tidak akan pernah mengerti.

Tapi jika Harry tau, mungkin ia tidak akan membunuh Draco malam ini.

Hermione menepis asumsi itu segera. Jika Harry dan Ron tau, mereka akan mulai memburu Draco diam-diam, mencoba membunuhnya jadi Hermione tidak akan dipengaruhi olehnya lagi. Mereka akan merasa bahwa hubungannya dengan Draco mempengaruhi kontribusinya dalam perang.

Kemudian Ginny membuka pintu di belakangnya, mengganggu pikirannya.

"Hermione, apakah kau tidak masuk?"

"Kalian berdua masuklah dan tidur. Aku harus berbicara dengan to Lupin. Jangan tunggu aku," Hermione berkata, berbalik menghadap ruangan.

"Hati-hati pada Wrackspurts. Kupikir aku kehilangan satu di dapur sebelumnya," Luna berkata dari belakang Ginny.

Hermione menggeleng kepalanya, tersenyum. "Aku akan berhati-hati. Selamat malam."

"Selamat malam," Ginny berkata, menutup pintu kamarnya.

Hermione menghela nafas, kembali ke pikiran sebelumnya.

Tidak, itu tidak akan membuat Harry dan Ron akan menyelamatkan Draco. Lagipula, itu sudah sangat terlambat, dan sekarang, hanya ada satu hal yang dapat ia lakukan.


Gimana? Lumayan panjang ya? Hehe.. Aku jadi inget pas baca fic ini aku sedih banget. Apa kalian juga gitu? Ini balasan review yang lalu, terima kasih sudah review y :)

alice9miwa: ini udah update, semoga suka ya :) review lg ya :D

Devia Purwanti: Yup, aku juga ud baca yg turncoat, bgus bgt. Rncnanya mau terjemahin yg itu juga, mau baca? Semoga suka ya terjemahan kali ini, mga sesuai dg englishnya :)

shizyldrew: ini ud update, moga penasarannya berkurang :) review lg y :)

dimaswati: ini ud update, gmn? suka? ditunggu reviewnya lg ya :)

puputkawaii: mksh atas sarannya, gmn dg terjemahan kali ini? review y :)

sycho37: ud lanjutt :) ehm.. aku blm bc fic itu. nanti aku cek ya, kalo bs nnti aku izin ama authornya. mga aj bs :) review lg y :) tetap semangatin aku :D

ochan malfoy: Waaa... makasih :) menurutmu itu ciuman terakhir bkn? hehe... saksikan terus ceritanya y :D review lg y :)


Review lagi ya :D