Vengeance

Author: elizaye

Translator: dei-enjel

Summary:

Ketika sahabat baik seorang gadis membunuh cinta sejatinya, seberapa jauh dia akan membalas dendam? "Baiklah, buktikan. Anggap orang ini adalah pelakunya, dan BUKTIKAN kau punya nyali untuk membunuh pembunuh Draco."

When a girl's best friend kills her one true love, how far will she go for revenge? "All right then, prove it. Pretend that this man is the culprit, and PROVE that you would have the guts to kill Draco's murderer."


Translator's Note: Wuah... Semangat semangat! Maaf lama banget updatenya T.T Yup, tanpa berlama-lama, ini chapter berikutnya. Semoga suka dengan terjemahan kali ini :)

Warning: Rate M (untuk dewasa ya) Translator udah cukup umur kok :p


Disclaimer: Always for J.K Rowling

Vengeance elizaye

Happy reading! Review ya :D


II. Memory

Hermione berjalan menuruni tangga dan menuju dapur. Mr. Weasley dan Lupin berdiri di depan perapian, dan ketika ia membuka pintu, mereka berdua siaga, tongkat terangkat.

"Oh Hermione, ternyata itu kau," Lupin berkata, meletakkan tongkatnya menjauh. "Apa yang kau lakukan di sini? Kupikir—"

"Kupikir aku tidak bisa tidur sekarang," Hermione berkata.

"Tapi Hermione, kau terlihat lelah. Dan kau tertidur ketika kita menunggu orang yang bisa bertahan datang," Mr. Weasley berkata. "Kau sebaiknya naik dan tidur."

Hermione duduk di meja dengan kaku dan berkata, "Aku punya rencana."

Dua pria itu bertukar pandangan sebelum berpindah ke meja dan duduk di depannya. Hermione menatap Lupin, kemudian Mr. Weasley, tapi menemukan bahwa ia tidak bisa berbicara jika menatap mata mereka. Dia lalu berkonsentrasi pada meja, dan mereka menunggu dengan sabar.

"Snape… dia tewas juga, kan?" Hermione bertanya lembut.

Yang lainnya bertukar pandangan.

"Ya," Lupin menjawab. Dia sepertinya tau kemana arah pembicaraan ini.

"Kita memerlukan mata-mata lain," Hermione berkata, mengejutkan bagaimana datarnya suaranya.

"Apakah—apakah kau gila? Apa yang membuatmu berpikir bahwa Kau-Tau-Siapa akan mempercayaimu?" Mr. Weasley berseru.

"Arthur, tenanglah," Lupin berkata, namun matanya mengkhianati kadataran suaranya. Dia melambaikan tongkatnya, dan pintu dapur tertutup. Lalu ia berkata, "Hermione, tolong jelaskan kenapa kau ingin melakukan ini."

"Remus, kau tidak mungkin serius."

"Mari kita dengarkan saja alasannya," Lupin berkata, dan Mr. Weasley melihat meja, menyerah.

Hermione menggigit bibirnya dan berkata, "Aku akan mengarang sebuah cerita."

"Kau mengarang cerita," Mr. Weasley mengulang tak percaya, menggelengkan kepalanya.

"Ya. Aku akan berpura-pura bahwa… bahwa…"

Dia mengambil nafas dalam. Bagaimana bisa dia menjadi begitu lemah untuk melanjutkannya? Tidak, jangan sekarang. Dia tidak bisa menyerah, sekarang ia sudah mendapatkan perhatian mereka.

Dia menenangkan dirinya dan memulai, "Aku akan berpura-pura bahwa aku jatuh cinta pada Draco Malfoy." Dia meludahkan dua kata terakhir seakan-akan itu membakar lidahnya.

Rahang Weasley turun. Mata Lupin menyipit sedikit.

"Lanjutkan," Lupin berkata. Dia tampaknya mencoba untuk menyembunyikan ketertarikannya.

"Malfoy—dia tewas malam ini. Kupikir salah satu dari kita membunuhnya." Dia mencoba terdengar tak peduli sama sekali. "Aku akan mengatakan pada Voldemort kalau aku ingin membalas dendam pada orang yang membunuhnya."

"Apakah kau benar-benar berpikir bahwa Kau-Tau-Siapa akan mempercayai hal itu?" Mr. Weasley bertanya, pulih dari syoknya bahwa Hermione datang dengan sebuah rencana.

"Hermione, apakah kau tau kalau Voldemort itu sangat kuat di Legilimens? Mungkin satu dari yang paling kuat. Dia akan segera tau jika kau berbohong padanya, dan lalu dia akan membunuhmu," Lupin berkata.

"Aku—Aku sudah berlatih Occlumency. Ketika Harry mendapatkan pelajarannya dengan Snape, aku memutuskan untuk mempelajarinya juga."

"Occlumency bukanlah sesuatu yang dapat kau pelajari sendiri," Lupin berkata. "Seorang Legilimens harus ada orang yang membantu."

"Aku meminta Snape untuk menolongku," Hermione berkata. "Bahkan ia mengatakan kalau aku lebih baik."

"Kau mungkin penyihir terhebat di angkatanmu, tapi itu tidak mungkin kalau kau cukup bagus di Occlumens untuk melawan Voldemort dalam pertarungan pikiran."

"Lupin, aku bisa melakukannya. Aku punya cukup kekuatan," Hermione berkata. "Percaya padaku."

"Hermione," Lupin berkata lembut, "Aku akan mengatakannya padamu sekarang, jawabannya adalah tidak. Kami tidak akan membiarkanmu pergi."

Hermione melipat kedua tangannya di dada. Ketika ia berbicara, suaranya keras.

"Aku tidak mengatakan bahwa aku ingin melakukan ini untuk bersenang-senang. Aku tau bagaimana berbahayanya itu, dan aku tau bahwa aku akan terluka, atau terbunuh. Tapi aku ingin kita melawan Voldemort dan memenangi perang. Itupun cukup sulit ketika kita masih memiliki Snape disana, dan sekarang dia tewas, dan itu akan menjadi lebih sulit untuk bertahan melawannya, merencanakan serangan sendirian dan membunuhnya. Kita membutuhkan informasi dari seseorang dari sana. Kita butuh ini."

Lupin terdiam. Ia akhirnya menjauhkan pandangannya dari Hermione, menahan pandangannya pada permukaan meja. Mr. Weasley terlihat seperti ingin memprotes, namun tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Ia terlihat lelah, begitu hancur.

Hermione ingat bagaimanya cerianya ayah Ron, dan melihat orang ini, membuat dadanya terpilin sakit. Ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa Mr. Weasley kehilangan istrinya, empat anak, dan seorang menantu dalam perang. Itu tidak mengherankan kalau ia tidak membiarkan Hermione untuk menyamar—Harry dan Hermione sudah seperti anak bagi keluarga Weasley.

Ketika tampaknya tak ada seorangpun yang berbicara, Hermione tau ia harus mengatakan sesuatu untuk menyakinkan mereka. "Aku tau itu berbahaya," Hermione memulai. Lupin menoleh kembali padanya, dan mendengarnya berkata, "Sebenarnya, apakah ada pilihan yang lain? Harry selalu buruk di Occlumency—dia sendiri yang mengatakannya padaku. Lagipula, dia tidak dapat pergi kemana-mana, karena mereka akan langsung mencoba membunuhnya. Tidak ada lagi disini seorang Occlumens, jadi akulah pilihan satu-satunya."

"Kau harus mempertimbangkannya lagi Hermione," Lupin berkata.

Mr. Weasley menggelengkan kepalanya. "Ini tidak bisa—tidak bisa—kubiarkan kalau kau menjadi mata-mata dan pengikut Kau-Tau-Siapa."

Hermione mengembil nafas dalam-dalam dan berdiri. "Aku datang kesini menemui kalian karena aku menghormati kalian, dan juga mengatakan pada kalian aku akan pergi. Aku tidak datang untuk meminta izin. Aku sudah dewasa, jadi aku bisa membuat keputusanku sendiri. Lagipula, kalian berdua bukan penjagaku, jadi kalian tidak perlu mengatakan padaku apa yang harus kulakukan."

"Hermione, duduk," Lupin berkata. "Tolong," ia menambahkan ketika Hermione tidak bergerak.

Hermione kembali duduk.

Lupin menghela nafas dan mengusap dahinya letih. "Aku tidak ingin melihatmu pergi dan tidak pernah kembali."

"Aku minta maaf, tapi kita hanya harus mengambil kesempatan ini."

"Apakah kau sudah menanyakan hal ini pada Harry dan Ron?" Mr. Weasley bertanya.

Hermione menggelengkan kepalanya, merasakan bahwa ia berada di ambang kesuksesan. "Tidak, dan aku tidak ingin. Setidaknya, tidak sampai itu benar-benar perlu. Aku tidak ingin banyak orang yang mencemaskanku."

"Apa yang akan kami katakan pada mereka?" Lupin bertanya. "Dan bagaimana jika kau mati malam ini? Tidakkah kau menyesal pergi tanpa mengatakan selamat tinggal?"

"Aku… tidak tau. Aku tidak punya waktu untuk berpikir tentang itu."

"Hermione, tolong. Setidaknya habiskan lebih banyak waktu disini untuk memikirkannya kembali. Kita harus punya rencana mengenai apa yang akan kau katakan, memprediksi apa yang mungkin akan ditanyakan Voldemort."

"Remus, kau tidak benar-benar—kita tidak—Hermione, tolong jangan pergi," Mr. Weasley berkata.

"Aku sudah membuat keputusan, dan aku tau apa yang aku lakukan," Hermione berkata. "Aku akan pergi sekarang. Aku tidak ingin kehilangan banyak waktu."

"Satu malam tidak akan membuat perbedaan yang besar."

Hermione menunduk menatap bawah meja, tau apa yang diperlukan untuk membuat mereka percaya kalau ia bisa melakukan ini. Saatnya beraksi.

Hermione mendongak dan berbisik pelan, "Tolong biarkan aku pergi." Air mata turun dari matanya—semua yang harus ia lakukan adalah mengosongkan matanya. Ia mengerjap kuat, menahan air matanya, seolah ia ingin menyembunyikan kelemahan emosinya.

Lupin dan Mr. Weasley menatapnya, mencoba menganalisa itu nyata atau tidak.

Hermione mengulurkan tangannya untuk mengusap air matanya menjauh dan mengambil nafas dalam-dalam, bertindak seolah ia mencoba untuk mengontrol emosinya. Ketika ia berbicara kembali, suaranya tegas, "Aku tidak bisa tinggal disini, tidak lagi. Malam ini, satu dari orangmu membunuh Draco—Draco ku—dan jika kau tidak membiarkanku membunuh bajingan itu sekarang, aku akan pergi. Dan ketika aku kembali, kalian semua akan membayarnya."

Mr. Weasley hanya membuka-tutup matanya. Lupin tidak melepaskan matanya pada mata Hermione, jadi Hermione tetap menatap matanya.

"Kalian pikir aku hanya berbohong? Kau tidak percaya kalau aku akan jatuh cinta dengan seorang Pelahap Maut, bukankah begitu? Kami telah saling mencintai selama bertahun-tahun. Bahkan sebelum dia menjadi Pelahap Maut, dia adalah milikku, dan aku adalah miliknya."

Lupin menggelengkan kepalanya, akhirnya membuang muka. "Hermione, berhenti."

Hermione menggebrak meja dan berdiri. "Tidak, Aku tidak akan berhenti! Aku tidak akan berhenti karena satu-satunya cinta sejatiku telah pergi dan kau tidak membiarkanku membalaskan dendamnya!"

"Berhenti, berhenti, berhenti. Tolong," Lupin berkata.

Hermione menahan emosinya dan kembali duduk. Ia mempertahankan ketenangannya dan membiarkannya terlihat dari luar, namun di dalamnya, ia gemetar takut. Bagaimana jika ia sudah terlalu jauh? Lupin tidak bodoh. Mungkin ia sudah melihat kebenarannya. Mungkin ia terlalu banyak membiarkan emosinya keluar, dan Lupin menangkap Hermione yang sebenarnya, menangkap kalau itu adalah emosinya yang sebenarnya.

"Itu hampir tampak terlatih," Mr. Weasley akhirnya berkomentar.

"Tentu saja. Aku sudah memikirkan segalanya di kepalaku, apa yang akan kukatakan, caraku seharusnya bertindak. Percayalah padaku, aku tidak akan memutuskan untuk pergi jika aku tidak mempersiapkan diriku."

"Baiklah, kalau begitu," Lupin berkata. "Kau sudah memutuskan dan, seperti yang kau bilang, aku dan Arthur tidak memiliki hak untuk menghentikanmu. Tapi tolong, pikirkan tentang dirimu sendiri sebelum bertindak. Jangan bertindak ceroboh."

"Tidak akan."

"Setelah Snape, aku yakin Voldemort akan dua kali lebih berhati-hati dalam mempercayai seseorang yang mungkin bisa dikaitkan dengan Order, aku hanya berharap Occlumency-mu sangat kuat. Snape mampu menyembunyikan loyalitasnya yang sebenarnya dari Voldemort hingga saat-saat terakhir, tapi itu karena ia berpengalaman dan latihan bertahun-tahun."

Hermione mengangguk dan berdiri. "Lupin, Mr. Weasley… terima kasih. Untuk segalanya. Kalian sangat berharga bagiku, sebagai teman dan keluarga. Dan jika aku benar-benar tidak kembali, tolong katakan pada semuanya kalau aku minta maaf. AKu akan menemukan cara untuk menghubungimu jika aku hidup—Aku berjanji."

Kedua pria di dekatnya juga berdiri. Lupin meraih ke seberang meja dan meletakkan tangannya di bahu Hermione.

"Berhati-hatilah," Lupin berkata. "Hargai hidupmu. Selama kau hidup, selalu ada harapan."

Mr. Weasley hanya menatapnya dengan senyum sedih, dan Hermione mencoba memberinya senyuman menenangkan.

Kemudian Hermione berbalik dan berjalan keluar ruangan, menutup pintu dapur perlahan di belakangnya. Ia menyelinap diam-diam menuju kamarnya, dimana ia dengan cepat, diam-diam mengemas beberapa barangnya ke dalam ransel.

Ginny bergerak. "Hermione?"

"Shh, jangan bangunkan Luna," Hermione berbisik.

"Kau mau kemana?" Ginny balik berbisik.

"Pergi. Ada yang harus kulakukan."

Ginny duduk. "Ini tengah malam. Apa yang akan kau lakukan?"

"Kembalilah tidur. Lupin akan menjelaskannya besok pagi. Kau tidak bisa ikut denganku," desis Hermione.

"Tidak—kenapa kau akan pergi di tengah malam tanpa mengucapkan selamat tinggal pada semuanya? Apa kau akan pergi dalam misi?"

"Kita sudah mendapatkan semua Horcrux. Misi apa lagi yang bisa terjadi?" Hermione berkata.

Horcrux terakhir, Nagini, telah dibunuh Neville beberapa jam lalu, dan ia hampir dihujani selusin Kutukan Pembunuh. Bagaimana ia kembali dari sana tanpa cideralah yang masih menjadi misteri bagi Hermione.

"Bagaimana aku tau?" Ginny berbisik.

Hermione menahan jawabannya saat Luna bergerak dalam tidurnya. Keduanya menatap gadis yang tertidur itu sampai mereka yakin Luna masih tertidur.

Ginny membuka mulutnya hendak berbicara, namun Hermione mengarahkan tongkatnya pada gadis itu dan bergumam, "Petrificus Totalus."

Mata Ginny melebar terkejut saat ia jatuh kembali ke tempat tidur, kaku di tempat.

"Aku minta maaf, Ginny," Hermione berbisik, bergerak untuk menarik selimut ke atas temannya. "Jika ada cara apapun untuk ini… Ketika Luna bangun nanti besok pagi, dia akan membebaskanmu, aku yakin. Tolong maafkan aku."

Hermione keluar rumah tidak beberapa lama kemudian dan mengambil nafas dalam-dalam. Menuju Malfoy Manor.

Ia ber-Apparated di depan gerbang besi yang langsung membuka membentuk mulut.

"Siapa itu?"

"Hermione Granger."

Dalam sekejap mata, tiga Pelahap Maut tiba, mengelilinginya, tongkat terangkat padanya.

Menolak untuk menunjukkan ketakutannya, Hermione perlahan merogoh jubahnya. Pelahap Maut menunggunya dengan nafas tertahan saat ia dengan sangat, sangat perlahan mengeluarkan tongkatnya dari ujungnya. Hermione tau mereka akan akan curiga padanya. Bergerak perlahan seperti sebelumnya, Hermione mengulurkan tangannya sampai tongkatnya berada sepanjang lengan jauhnya dari dirinya.

Kemudian ia merilekskan tangannya, dan tongkatnya terjatuh ke tanah.

"Aku ingin berbicara dengan tuanmu," Hermione berkata dalam suara datar.

"Itu tidak seperti kalau kau akan berbicara, setelah malam ini," sebuah suara yang dingin berkata dari belakangnya.

Kemudian, dari sebelah kirinya, datang suara yang lain.

"Stupefy!"

"Ron—kau menghancurkan segalanya!" Hermione berteriak sambil naik ke atas, air mata turun dari matanya.

Ron dan Harry bergegas naik menjauh dari pandangannya. Hermione melihat mereka pergi dan kemudian duduk di anak tangga, mengusap air matanya. Kakinya sakit karena berdansa dengan sepatu hak tinggi, membuatnya melepas satu sepatunya, masih menangis hebat.

"Granger."

Hermione mendongak dan melihat wajah terakhir yang ingin dilihatnya—tidak, kedua dari terakhir. Ron adalah orang terakhir yang ingin ia temui saat ini.

"Apa yang kau inginkan, Malfoy?" Hermione mendengus, mencoba menenangkan diri.

"Apa yang terjadi padamu? Dicampakkan Krum? Atau karena Potty dan Weasel?" Malfoy mengejek.

"Pergi sana," Hermione menggeram, ia berdiri.

"Apa, tidak ada komentar cerdas hari ini? Tidak ada adu mulut?"

"Jika kau tidak memperhatikan, aku tidak benar-benar mood untuk itu sekarang." Setidaknya air matanya telah kering sekarang.

Hermione mulai berjalan menaiki tangga, namun tangan Draco menangkap tangannya, dan membuat Hermione berbalik dan melototinya. Wajah mereka sejajar, namun Malfoy berdiri satu tangga di bawahnya.

Draco menyeringai. "Aw, Darah Lumpur dicampakkan."

"Jangan panggil aku itu," Hermione berkata dengan menggeretakkan giginya.

"Jangan memanggilmu apa, Granger? Darah Lumpur?"

Draco menatapnya tanpa dosa, dan Hermione tidak tahan lagi. Ia meraih Draco, mendorongnya ke dinding dan mulai memukul dada dan bahunya.

"Ow—ow! Apa—astaga—yang kau lakukan?" Malfoy berteriak.

Hermione terus memukulnya sampai Draco menahan tangannya. Hermione kehilangan nafasnya, dan Draco juga terengah-engah. Hermione mencoba melepaskan tangannya, namun genggaman Draco di tangannya begitu erat.

"Lepaskan aku!"

"Kemana semua kekuatanmu pergi? Kau sudah mendorongku ke dinding disana," Malfoy berkata, menolehkan kepalanya sedikit ke samping. "Sekarang leherku sakit."

"Bagus," Hermione berkata, geram.

"Kau darah lumpur kotor, Kau akan membayarnya."

"Oh ya? Bagaimana?"

Bibir Draco jatuh ke bibir Hermione, membuat gadis itu tersentak karena kontak yang tiba-tiba, mencoba menjauh. Namun tangan Draco melingkarinya, dan memutar tubuh mereka, menjebak Hermione di dinding. Gerakan yang tiba-tiba itu membuat Hermione pusing, dan ia menendang, mencoba menjaga keseimbangannya. Draco menahan tubuhnya, bibirnya tidak melepaskan bibir Hermione.

Hermione mendorong dada Draco, namun Draco menangkap tangannya kembali dan mendorongnya ke sisi tubuhnya saat Draco kembali menjebak Hermione dalam ciumannya. Hermione mencoba menendangnya, namun terlalu terlambat menyadari saat ia mencoba untuk tidak jatuh, Draco telah meletakkan kakinya di antara kaki gadis itu. Merasa lebih putus asa sekarang, Hermione menggeliatkan tangan kanannya keluar dari posisinya dan menusuk rusuk Draco.

Bibir Draco akhirnya melepaskan bibir Hermione saat ia meringis kesakitan, namun sebelum Hermione bisa mengambil lebih banyak udara, mulut Draco kembali menutupi mulutnya, dan kali ini ia menangkap bibir Hermione dengan mulut terbuka. Lidahnya menyelinap masuk ke dalam mulut Hermione, menyebabkan kepalanya membentur dinding.

Semuanya menjadi kabur, dan Hermione menemukan dirinya merespon ciuman Draco, menekan lidahnya melawan lidah Draco, dan ia menemukan kalau lidah Draco rasanya memabukkan. Tangan Draco perlahan mengendur, dan mulai bergerak naik dan turun tubuh Hermione. Hermione mengepalkan kedua tangannya di rambut Draco dan memegangnya erat-erat.

Tidak… tidak, tidak, tidak. Apa yang kau lakukan? sebuah suara berkata di dalam kepalanya.

Apa, seorang gadis tidak bisa santai sejenak? Aku hanya bersantai dan menikmati diri sendiri, Hermione kembali berpikir.

Tidak! Menikmati diri sendiri? Ini Draco Malfoy! Ayahnya Pelahap Maut!

Oh, pergilah, Hermione berkata balik pada nuraninya.

Sementara itu, Malfoy sudah mendorong tubuhnya ke dalam pelukannya, masih mencium Hermione dengan tergesa-gesa. Ketika Hermione menyadari kakinya telah meninggalkan lantai—dan ia tidak menyadarinya hingga mereka mencapai tangga paling atas—ia melepaskan bibirnya dari bibir Draco.

"Kemana—kemana kita pergi?" Hermione bertanya khawatir.

"Apakah itu penting?" Malfoy menjawab, matanya penuh dengan nafsu.

Hermione terlambat menyadari bahwa sepatunya masih di tangga paling bawah dan hendak bertanya pada Malfoy untuk menurunkannya sehingga ia bisa mengambilnya ketika Draco menyentuh bibirnya ke bibir gadis itu lagi. Hermione segera melupakan apa yang ia inginkan, terlalu terjebak dalam pusaran sensasi baru yang mengalir di dirinya.

Lalu dia duduk di tepi meja, kakinya terbuka lebar, gaunnya sudah berada di sekitar pinggangnya. Draco berdiri di antara kakinya, masih tidak melepaskan mulut Hermione, tapi Hermione tidak akan bosan dengan rasanyaia ingin sesuatu yang lebih daripada perasaan itu, yang lebih dari sentuhan Draco, yang lebih dari Draco.

Tangan Draco membelai payudaranya melalui gaunnya, membuat Hermione mengerang lembut. Ciuman Draco turun dari lehernya ke tulang selangka, dan Hermione merintih. Ketika tangan Draco mencapai sekitar tubuhnya untuk mulai mengangkat gaunnya, Hermione tersentak dan menangkap tangan Draco.

"Jangan, tolong jangan," Hermione berbisik.

Draco tampaknya tidak menunda-nunda, giginya menggigit leher Hermione saat ia membawa mulutnya kembali ke mulut Hermione. Salah satu tangannya meluncur dan berhenti di leher Hermione, mencengkeram bagian belakang leher gadis itu dengan kuat sehingga Hermione tidak bisa menggerakkan kepalanya menjauh darinya—bukannya ia ingin sih.

Kemudian sesuatu menyodok di daerah bawahnya, membuat Hermione tersentak, perhatiannya menuju tangan Draco yang lain. Draco telah mendorong celana dalamnya ke samping, dan sekarang membelai naik dan turun lipatan daerah bawahnya. Bibir Draco berpindah ke lubang telinganya, dan Hermione lebih tersentak saat jari Draco menyentuh daerah yang tampaknya lebih sensitif dibandingkan bagian tubuhnya yang lain.

"Oh, Merlin—lakukan itu lagi," Hermione mengeluh.

"Apa, ini?" Draco bergumam, meraba pelan tempat itu lagi.

"Ohhh yah."

Draco mengusap tempat itu beberapa kali, dan Hermione tidak dapat menahan erangannya. Kemudian Draco menekan satu jarinya ke dalam diri Hermione, dan Hermione mengerang dalam kenikmatan—ia tidak pernah merasakan sesuatu yang begitu intens, namun untuk beberapa alasan ia merasakan bahwa mungkin rasa itu ada lebih banyak lagi. Hermione mengangkat pinggulnya ke tangan Draco secara naluriah dan merasakan gelombang kenikmatan.

Hermione manatap wajah Draco dan menemukan ada senyum kecil bermain di bibirnya.

"Malfoy, lakukan sesuatu," Hermione berkata, berpikir bahwa pasti ada kontribusi dari Draco agar rasa menakjubkan itu kembaliDraco berhenti menyentuh daerah sensitif itu, dan Hermione merasakan kebutuhan agar Draco bisa menyentuhnya lagi.

"Granger, apa yang kau ingin aku lakukan? Aku tidak tau apa yang harus kulakukan sekarang," Draco berkata, berpura-pura tidak tau.

"Kau berengsek—"

"Aku tidak akan menghinaku jika aku jadi kau."

Jari Draco yang panjang mendorong sedikit lebih dalam ke dalam Hermione, dan gadis itu mengerang dalam kenikmatan, namun masih merasakan kebutuhan disana.

"Malfoy…"Hermione mendesis.

"Ya?" Jari sialan itu menggeliat kecil, membuat Hermione mengejang ke arahnya.

"Malfoy, tolong."

Hermione merasa seolah-olah ia begitu dekat dengan sesuatu, namun untuk apa itu ia tidak tau.

Draco berbisik di telinganya, "Aku ingin kau memohon, Granger. Pinta aku untuk melakukannya."

Hermione menggigit bibirnya—bukankah ia sudah mengatakan tolong?

"Tolong, Malfoy," Hermione mendesah, dan jari Draco hanya bergerak sedikit. "Tolong, berhenti menyiksaku."

"Itu bukan yang ingin aku dengar."

Kemudian jari itu pergi, dan nafas Hermione menjadi cepat. Ia mengeratkan lengannya di sekeliling leher Draco jadi ia tidak bisa mundur dan mendengar kata-kata yang keluar dari mulutnya dalam bisikan.

"Malfoy, lakukan."

Draco menyeringai. "Ini dia."

Tiba-tiba Draco mendorongnya menjauh dan berjalan ke seberang ruangan menuju pintu. Hermione terkejut sejenak, dan lalu ia berlari melewatinya, memblokir pintu. Draco memiringkan kepalanya ke samping, merasa geli.

"Ada apa, Malfoy?" Hermione menuntut. Ia masih sakit untuk melepaskannya, dan kakinya gemetar sedikit. Ia menyadari dengan gelisah, ada basah di antara kedua kakinya.

"Kubilang aku akan membuatmu membayarnya, dan sekarang kau sedang membayarnya," Malfoy berkata sederhana. "Minggir."

Hermione memelototinya. "Kau—kau—kau benar-benar berengsek, licik!"

Draco mengambil langkah menuju ke arahnya, dan Hermione melompat padanya, membuat Draco terhuyung mundur. Membiarkan Hermione mendominasi tindakannya, gadis itu melekatkan diri ke mulut Draco dan menciumnya dengan marah, lengannya melilit leher Draco dan kakinya mengelilingi pinggangnya. Hermione merasakan sesuatu yang keras menekan daerah bawahnya dan tiba-tiba ia merasa sedikit malu.

Ketika Hermione memundurkan mulut Draco untuk mencium dagu dan rahang Draco, pemuda itu mengerang.

"Ya Tuhan, Granger. Apa yang kau lakukan padaku?" Suara Draco serak dan rendah.

Hermione menyadari bahwa ia tidak dapat menemukan kata-kata untuk menjelaskan tindakannya, jadi ia hanya terus menciumnya. Draco mendorong Hermione ke meja, menurunkannya ke bawah sehingga mereka sejajar, kemudian ia melepaskan celana dalam Hermione. Hermione tersentak dan mulut Draco menutupi bibirnya kembali. Tangan Hermione bergerak atas kemauannya sendiri untuk melepaskan sabuk celana Draco, dan Hermione tidak bisa percaya dengan apa yang ia lakukan.

Melakukannya dengan Draco Malfoy, dari semua orang yang ada? Hermione tidak tau apa yang telah merasukinya, tapi dia sendiri tidak peduli sama sekali. Hermione sudah cukup diperlakukan sebagai pilihan terakhir oleh Ron, dan Malfoy… ia membuat Hermione merasa diinginkan, dan Merlin menolongnya, Hermione menginginkannya juga.

Hermione terus meraba-raba gespernya, dan ciuman Draco menjadi lebih tergesa-gesa. Draco mendorong tangannya dan membuka sabuknya sendiri. Tangan Hermione yang bebas meraba tubuh pemuda itu, menarik lepas kaosnya. Hermione berhenti menciuminya untuk melihat kesempurnaan tubuhnya, kulit yang lembut dan otot-otot yang berbentuk di bawahnya. Ia tidak dapat menahan dirinya untuk menyentuh Draco.

Kemudian Hermione merasakan sesuatu menyenggol bagian bawahnya, dan ia tersentak—Draco telah melepaskan celana dan boxernya.

Mata Hermione melesat ke wajah pemuda itu, dan ia menemukan matanya yang kelaparan menatapnya. Apa yang dia tunggu? Hermione mengangkat kepalanya dan menarik bibir bawah Draco di antara giginya. Sebuah geraman liar keluar dari mulut Draco, dan ia memasukinya dengan sekali tusukan cepat. Tangisan kesakitan Hermione teredam oleh mulutnya, namun bagian bawah tubuhnya tetap diam.

Rasa sakit dengan cepat mereda, dan Hermione merasa sangat…penuh. Lengkap. Draco masih melihat matanya, seakan menunggu izinnya. Hermione menganggukkan kepalanya, dan kemudian Draco bergerak.

Masuk, keluar. Masuk, keluar. Masuk, keluar.

Hermione terengah dan mengerang. Dia mencengkram bahu Draco dan memohon padanya untuk bergerak lebih cepat, dan Draco memenuhi permintaannya, ia bergerak lebih cepat di setiap tusukannya. Draco tidak harus memasukkannya penuh-penuh seperti yang pertama. Hermione mulai menggoyangkan pinggulnya untuk bertemu dengan milik Draco dan hampir malu karena kerasnya suara yang datang dari tenggorokannya.

Kemudian ia terlonjak, kembang api berterbangan di depan matanya. Ia memeluk erat bahu Draco, takut jika ia jatuh jika ia melepaskannya. Draco menyodok ke dalam Hermione berberapa kali sebelum mengeluarkannya di dalam Hermione, dan lalu ia rebah diatasnya. Hermione membelai bahu Draco lembut, dan nafas pemuda itu perlahan-lahan kembali teratur.

Saat itulah otak Hermione memutuskan untuk berfungsi kembali.

Dia baru saja berhubungan seks. Dia baru saja berhubungan seks dengan Draco Malfoy.

Tiba-tiba Hermione takut. Dia mulai mendorong dada Malfoy, namun Draco hanya menahannya dengan berat tubuhnya dan mencium bibirnya.

"Tenang, Granger," Draco bergumam di antara ciumannya.

Hermione mendorongnya lagi, terengah-engah.

"Lepaskan—lepaskan aku."

Malfoy menyeringai jahat. "Itu bukanlah kata-kata yang kau katakan sebelumnya, Granger."

Wajah Hermione pucat saat ia mengingat bagaimana ia meminta Draco untuk menidurinya. Draco mengambil keuntungan dari kediaman Hermione dan menciumnya beberapa kali. Hermione berhenti melawan. Beberapa ciuman lain tidak akan membuat apa yang telah ia lakukan menjadi lebih buruk, pada saat ini.

Akhirnya, Draco mengeluarkan dirinya dari Hermione dan mundur. "Wow. Aku tidak pernah melihat kau telanjang," Draco berkata.

Hermione duduk di meja dan dengan perlahan memperbaiki gaunnya. Draco mengenakan pakaiannya kembali. Hermione berdiri. "Dimana…" Hermione mulai bertanya, tapi itu sangat memalukan. Ia mencari celana dalamnya di sekelilingnya.

"Mencari ini?" Malfoy berkata, mengambil celana dalamnya dari lantai.

"Kembalikan itu."

"Tidak. Kau milikku sekarang, dan aku akan menyimpan ini sebagai kenang-kenangan."

"Milikmu? Siapa yang mengatakan aku adalah milikmu?"

"Aku," Malfoy berkata, menyengir. "Kau milikku, Granger."

"Yah, benar."

Rambut Hermione acak-acakan, mungkin di seluruh tempat, dan dia tidak bisa berpikir jernih. Dia mengambil beberapa langkah ke arah Draco dan menemukan bahwa itu membuatnya sedikit sakit untuk berjalan. Kemudian Malfoy tersenyum padanya, dan ia menyadari bahwa itu tulus, tidak seperti cengiran mengejeknya yang biasa. Hermione tidak dapat melepaskan pandangan dari wajahnya.

"Well, jika kau bersikeras kalau kau bukan milikku sekarang, aku hanya harus akan membuatmu menjadi milikku," Draco berkata. "Dan aku akan memulai dengan membawa ini bersamaku." Dia menggenggam celana dalam Hermione.

"Kembalikan itu."

"Tidak. Jika kau tidak membiarkan aku menyentuhmu lagi, aku ingin sesuatu yang membuktikan pada diriku sendiri bahwa ini bukan mimpi."

Hermione mengerutkan dahi. "Kau bermimpi sesuatu seperti ini?"

Malfoy terlihat ragu-ragu. "Tidak, tentu saja tidak."

"Apakah kau berkhayal tentang aku?"

"Tidak," Malfoy berkata. "Kenapa aku harus berimajinasi tentangmu? Kau Darah Lumpur."

"Yah, seorang Darah Lumpur yang baru saja bercinta denganmu dan yang mana celana dalamnya tidak ingin kau kembalikan."

Hermione meraih celana itu, namun Draco memegangnya jauh dari jangkauan.

"Baiklah kalau begitu, ya. Aku sudah berimajinasi tentang ini. Apa sekarang?"

Hermione tidak tau apa yang akan diucapkannya.

"Itulah yang kupikirkan," Malfoy berkata, menyengir. Dia mencium bibir Hermione kembali. "Kau akan melihat kalau kau adalah milikku sekarang, Hermione. Kau akan melihatnya."

Hermione bergidik ketika Draco menyebut nama depannya, dan tiba-tiba ia ingin mendengarnya lagi keluar dari bibir beludru itu. Draco mulai membuka pintu, namun kata-katanya membuat Draco berhenti.

"Sebut namaku lagi."

Malfoy menyeringai. "Sampai jumpa, Hermione." Tanpa melihat lagi pada Hermione, Draco meninggalkan ruangan.

"Sampai jumpa… Draco."

Hermione samar-samar mendengar suara di suatu tempat yang jauh, sangat jauh.

"Rennervate."


Gimana terjemahannya, semoga suka ya.. :)

Maafkan jika ada typo(s)

Review please :)