Vengeance
Author: elizaye
Translator: dei-enjel
Summary:
Ketika sahabat baik seorang gadis membunuh cinta sejatinya, seberapa jauh dia akan membalas dendam? "Baiklah, buktikan. Anggap orang ini adalah pelakunya, dan BUKTIKAN kau punya nyali untuk membunuh pembunuh Draco."
When a girl's best friend kills her one true love, how far will she go for revenge? "All right then, prove it. Pretend that this man is the culprit, and PROVE that you would have the guts to kill Draco's murderer."
Translator's Note: Woww... Sudah berapa tahun ini? hahaha, maaf beribu maaf. Setelah sekian lama hiatus, akan aku lanjutkan lagi terjemahan ini. Berbarengan updatenya dengan yang di wattpad karena ada juga yang gak punya wattpad. Jadi untuk lebih adilnya, aku juga update di kedua situs. Makasih banyak ya teman-teman yang udah nunggu cerita ini. Mungkin ada yang udah pada lupa. Hahaha. Oke tanpa berlama-lama silakan membaca, semoga kalian suka ya :)
Ditunggu review kalian :)
Warning: Rate M (untuk dewasa ya) Translator udah cukup umur kok :p
Disclaimer: Always for J.K Rowling
Vengeance elizaye
Happy reading! Review ya :D
III. Sumpah Setia
Hermione berdiri di tengah ruangan yang redup temaram. Orang-orang berkerudung berbaris dekat dinding. Ia seharusnya bergetar ketakutan, namun ia tak goyah. Namun jauh dilubuk hatinya, ia berteriak, mengatakan padanya bahwa ia seharusnya pergi sekarang sebelum terlambat, selama ia masih memiliki kesempatan untuk bertahan hidup.
Dia mungkin lebih menginginkan Hermione untuk hidup.
Tapi tidak, semuanya sudah sangat terlambat. Orang-orang bertopeng, berkerudung itu gelisah, dan ia tau bahwa pemimpin mereka akan tiba. Pintu di belakangnya terbuka dengan decit kecil, dan Hermione mendengar langkah kakinya yang lembut di lantai marmer.
"Granger, kejutan yang menyenangkan."
Suaranya tidak lebih keras daripada sebuah bisikan, namun itu berpengaruh pada seluruh ruangan. Jubah hitamnya mendesis dibelakangnya saat ia berjalan melewati Hermione dan berbalik, mata merahnya menyipit tajam. Ia duduk dikursinya dan menilai gadis di hadapannya.
Hermione menggertakkan giginya, tidak ingin menunjukkan bahwa ia terintimidasi olehnya, dan menjatuhkan pandangannya kembali ke lantai. Kemudian dengan paksaan tak terlihat, lebih seperti hasil dari mantra non-verbal, mendorong bagian belakang kakinya, dan ia jatuh kesakitan di lututnya. Hermione tidak mengeluarkan suara apapun.
"Kau seharusnya berlutut di depan Penguasa Kegelapan!" sebuah suara mendesis dari belakang Hermione.
Satu dari Pelahap Maut yang terdekat dengan Voldemort maju ke depan dan menyerahkan padanya sebuah tongkat - tongkat Hermione. Hermione gemetar sesaat, berharap tongkat itu berada di tangannya saat itu. Namun itu tidak akan banyak membantunya, melihat bahwa ia sangat kalah jumlah.
Voldemort memutar-mutar tongkat 10¾ inci, akar anggur dan pembuluh jantung naga itu di jari-jarinya. "Jadi..."
Ada jeda panjang, seperti tidak ada lagi ruang untuk bergerak ataupun bernafas.
Jika Hermione tidak tau dengan baik, ia akan berpikir bahwa Para Pelahap Maut adalah patung. Ia mendongak untuk melihat mata Voldemort masih melihatnya, menilai.
"...mengapa kau harus... menghormati kami, dengan kunjunganmu?"
Para Pelahap Maut tertawa lepas namun kemudian terdiam oleh tatapan tak setuju Voldemort.
"Ketika aku bertanya, kau akan menjawabku."
Hermione menguatkan dirinya dan berkata. "Aku ingin menjadi Pelahap Maut."
Tiba-tiba ruangan dipenuhi tawa mengejek. Voldemort sendiri terlihat geli.
"Kau? Seorang Darah Lumpur? Apakah kau pikir Penguasa Kegelapan bahkan akan mempertimbangkan menghormatimu dengan memberikan Tanda Kegelapan?" sebuah suara keras seorang wanita menggema.
Hermione mencari sosok Pelahap Maut yang berbicara itu dengan matanya dan tau bahwa itu adalah Bellatrix Lestrange - dia kenal suara itu dan tidak bisa mencegah perasaan amarah mengapa Bellatrix tak terbunuh dalam pertempuran di Hogwarts. Kebencian memenuhi setiap pembuluh darah Hermione. Monster itu sudah melakukan kutukan Cruciatus padanya di Manor ini, tak berapa lama yang lalu.
Ketika Para Pelahap Maut kembali terdiam, Voldemort berkata. "Apa yang bisa kau tawarkan padaku?"
Semua Pelahap Maut terlihat menahan nafas mereka, terkejut bahwa Tuan mereka bahkan mempertimbangkan Darah Lumpur ini masuk ke dalam anggota mereka. Hermione menyadari bahwa Bellatrix telah membuka mulutnya untuk berbicara, namun satu pandangan dari Tuannya menghentikannya.
Tenggorokan dan mulut Herimione tiba-tiba terasa kering. "Ang-anggota Order yang lain tidak tau aku disini. Aku bisa-Aku bisa memberikanmu informasi, mengenai-"
"Tunggu, tunggu, kami tidak menginginkan kegagalan yang lain, seperti Snape, ya kan" Voldemort berkata, masih dengan suara pelan. "Mengapa bahkan kau, sahabat terbaik anak lelaki itu, si Potter, berharap melayani musuh terbesarmu?"
Hermione merasakan paksaan menyelidik masuk pikirannya, dan ia mengeratkan rahangnya. Para Pelahap Maut mungkin tau apa yang terjadi; tidak ada satupun yang berbicara saat Voldemort membalik setiap pikirannya - pesta ulang tahun, petualangan menegangkan melawan Jerat Setan, surat dari Hogwarts, usahanya yang benar-benar gagal saat menaiki sapu.
Hermione mulai merasa sedikit pusing. Pembatasnya harus terus bertahan. Mereka harus bertahan. Hermione memfokuskan seluruh pikirannya pada lantai marmer di hadapannya, namun itu tidak bertahan lama. Ia berdebat dengan Harry tentang kurangnya kemajuannya pada tugas kedua. Kemudian melonjak di udara saat ia berada di punggung Buckbeak.
Tidak, Hermione. Fokus. Lantai marmer muncul namun kembali menghilang. Ia berlari sepanjang Departemen Misteri dan mengangkat tongkatnya untuk membius seorang Pelahap Maut - sekarang ia mendorong Ron dan memperingatkannya untuk tidak menyentuhnya.
Jelas saja, lantai tidaklah berhasil. Ia mencoba untuk mengosongkan pikirannya. Bagian dalam Grimmauld Place berkelebat dalam benaknya, dan ia tahu ia harus menghentikan Voldemort. Ia terpaksa memunculkan satu lintasan gambar yang ia tahu akan selalu berbekas dalam pikiran dan hatinya untuk selama-lamanya.
Mata perak itu tercipta dipikirannya, diikuti dengan wajahnya yang indah, dibingkai dengan rambut pirang perak, yang berantakan. Hermione memaksa dirinya untuk menampilkan setiap detail di wajah itu - alisnya yang tegas, pipinya yang halus, dagunya yang runcing, hidungnya yang mancung, dan bibirnya, bibirnya yang lembut...
Dan kemudian dia terlepas.
Kembali pada kenyataan, Hermione merasakan dinginnya lantai marmer di pipinya dan menyadari bahwa dia pastilah jatuh. Hermione mengangkat tubuhnya, berlutut dan tak goyah menatap mata tak terbaca bilik Voldemort. Mengapa ia memutuskan untuk melepaskannya?
"Malfoy," Voldemort mendesis.
Para Pelahap Maut di seluruh ruangan bergumam sekarang, dan Voldemort tidak melakukan apapun untuk mendiamkan mereka.
Bellatrix berkata. "Lucius dan Draco keduanya -"
"Diam!" Voldemort berkata, meninggikan suaranya untuk pertama kali sejak masuk ke ruangan. Semuanya spontan terdiam kembali. Voldemort berkata pada Hermione, "Aku tau mengapa kau datang padaku. Tapi aku tidak percaya semudah itu, tidak selain jika kau membiarkanku melihat ke dalam pikiranmu tanpa perlawanan."
Hermione mengangkat dagunya dengan tegas. Ia harus menampakkan diri jika ia harus dipercaya.
"Tidak."
"Dasar kau -" berkata satu dari Pelahap Maut, melangkah ke depan, namun Voldemort mengangkat satu tangannya, dan lelaki itu mundur kembali ke tempatnya.
"Bagaimana kau bisa mengharapkan aku akan percaya padamu jika kau tidak ingin membuka pikiranmu padaku?"
Voldemort berdiri dan mulai berjalan pelan ke kanan. Hermione menjaga matanya pada kursinya yang kosong sekarang dan tetap menutup mulutnya. Voldemort tidak berkata lagi sampai ia berjalan setengah ruangan.
"Apakah kau mengharapkan aku percaya padamu bahwa cinta adalah alasan yang membuatmu ingin bergabung denganku?"
Para Pelahap Maut terlihat bergerak tak nyaman saat mendengar kata itu.
"Meskipun itu terasa lebih... mudah untuk melihatnya langsung ke dalam pikiranmu, kupikir kita semua akan menerima kenikmatan yang lebih besar dan cara yang lebih menyenangkan untuk mencari jawabannya dengan jalan yang berbeda."
"Jalan apa?" Hermione berkata dengan gertakan giginya.
"Oh, kupikir kau tau. Lagipula, kau adalah, seperti yang mereka katakan, penyihir terhebat dalam angkatanmu." Voldemort berkata kasar di beberapa kata terakhir dengan penghinaan saat ia menyelesaikan putaran pertamanya mengitari ruangan dan terus berjalan. Sekarang ia berkata pada Para Pelahap Maut, "Draco Malfoy terbunuh di Hogwarts. Dimana tubuhnya?"
"Masih di Hogwarts, kupikir," satu dari Pelahap Maut melapor.
Ada rasa sakit yang muncul di dada Hermione. Apakah ia hanya akan ditinggal disana sampai membusuk jika Pelahap Maut tak kembali? Tanpa diminta air mata berkumpul dimatanya, dan ia memaksa dirinya untuk tidak membiarkannya mengalir.
"Ambil tubuhnya."
Dua Pelahap maut segera keluar ruangan. Voldemort perlahan kembali ke kursinya dan menatap Hermione. Hermione merasa sangat tak nyaman di bawah tatapan tajamnya namun menolak untuk mengalihkan pandangan. Ia tak kan goyah.
Beberapa menit kemudian, mereka masih seperti itu, dan untuk lari dari kenyataan situasinya sekarang, Hermione mengenang kembali terakhir kali ia berada di Malfoy Manor.
Mata Bellatrix jatuh pada pedang disampingnya, dan ia menghentikan Lucius untuk memanggil Voldemort. Hermione tidak bisa menjauhkan matanya dari Draco saat Bellatrix memberikan perintah agar Harry dan Ron dibawa ke dalam bawah tanah. Draco menatap tajam semua yang ada di ruangan kecuali Hermione, dan Hermione akhirnya menjauhkan pandangan matanya - tidaklah baik bagi mereka jika ketahuan sekarang hanya karena Hermione ingin melihat wajahnya.
Kemudian Para Penculik jatuh ke lantai, dibius oleh Bellatrix, dan Draco diperintahkan untuk membawa mereka keluar dan meninggalkan mereka disana untuk diurus nanti.
"Dimana kau mendapatkan pedang ini, Darah Lumpur?" Bellatrix bertanya tajam.
Hermione tetap diam.
"Crucio!" Bellatrix berteriak.
Lutut Hermione lemas, dan ia menggeliat kesakitan di lantai. Sebelum ia mengetahuinya, ia berteriak keras, sakitnya tak tertahankan. Kemudian, itu berakhir, dan ia meringkuk.
"Katakan padaku sekarang. Dimana kau mendapatkan pedang ini?"
Hermione masih tidak mengatakan satu katapun, dan ia dihadiahkan dengan gelombang kesakitan yang baru. Ia berputar-putar, mencakar membabi buta di lantai, berharap ada jalan untuk melarikan diri dari rasa sakit ini.
Tawa tinggi Bellatrix memenuhi telinga Hermione, dan kemudian kutukan itu dihentikan.
"Draco, sayangku, mengapa kau tidak mencoba?"
Hermione mencoba mendongak. Draco berdiri di daun pintu. Matanya melintas melihat Hermione sesaat, dan kemudian berjalan ke samping bibinya. Hermione melihat Bellatrix berseri setuju saat Draco mengarahkan tongkatnya pada Hermione. Hermione melihat ke dalam matanya dan tau, walaupun mata itu sedingin batu dan tanpa emosi, Hermione tau bahwa Draco tidak ingin melakukan ini.
"Crucio," Draco berkata dalam suara kecil.
Rasa sakit kembali menyelimuti Hermione, namun sakit ini sama sekali tidak mendekati rasa sakit dari kutukan yang diberikan Bellatrix. Hermione masih mampu berpikir jernih tentang hal-hal lain selain rasa sakit. Dia meronta-ronta di sekitar lantai, bertanya-tanya bagaimanakah mereka akan melarikan diri. Apakah mereka akan melarikan diri?
Kemudian mantra itu dilepaskan. Hermione terbaring di lantai, lemas, bahkan terlalu lemah untuk meringkuk.
"Draco-ku, kau kelihatan tidak sepenuh hati melakukan ini," Bellatrix berkata. "Lihat aku."
"Tidak!" Hermione berteriak. "Tidak, tidak, tidak, tolong! Tolong, jangan."
Bellatrix tampak puas. "Katakan padaku sekarang!" Ia berkata. "Ini tidak akan menjadi lebih buruk jika kau tidak mau mengatakannya."
"Pedang itu - itu palsu. Kami menemukannya," Hermione berkata.
"Palsu?"
Hermione mengangguk sungguh-sungguh. Bellatrix berbalik dan memerintahkan agar Griphook dibawa ke lantai atas. Hermione terkejut - mereka menangkap goblin? Kemudian ia menangkap mata Draco mengawasinya, dan ia membalas tatapannya. Tiba-tiba Hermione merasa lebih hangat, dan perasaan menenangkan menyelimutinya. Draco pastilah menggunakan mantra non-verbal. Hermione mengucapkan terima kasih dengan matanya, dan Draco memalingkan wajahnya, memfokuskan menatap lantai sebagai gantinya.
Ruangan masih sunyi.
Mata Voldemort tertutup sekarang dan Hermione bertanya-tanya apa yang sedang ia pikirkan. Para Pelahap Maut bergerak tak nyaman, dan Hermione kembali bertanya-tanya sudah berapa lama ini. Apakah itu benar-benar membutuhkan waktu selama ini untuk masuk Hogwarts? Mereka setidaknya bisa ber-Apparate, ya kan...
Hermione berbaring di tempat tidur di kamar yang dibaginya bersama Luna, yang juga disandera oleh Pelahap Maut di Malfoy Manor.
Mereka telah tiba di Shell Cottage, rumah Bill dan Fleur, dengan begitu banyak bantuan dari si peri rumah Dobby. Sayangnya, saat mereka hendak pergi, Dobby tertusuk di dada karena pisau Bellatrix, dan saat mereka tiba dengan selamat, sudah sangat terlambat baginya. Harry sangat hancur dan bersikeras untuk menggali kuburan Dobby dengan tangannya sendiri, tanpa sihir. Hermione dan lainnya hanya bisa melihat saat Harry menggali lubang kecil di tanah untuk makhluk kecil yang baru saja menyelamatkan hidup mereka.
Namun walaupun Hermione berdiri melihat Dobby dibaringkan untuk beristirahat, pikirannya penuh akan Draco. Bahkan sekarang, pikirannya terus menerus mengenai Draco. Voldemort tiba tak lama setelah kepergian mereka, dan ketika Voldemort tau mereka telah kabur, bagaimana ia akan menghukum Draco dan keluarganya? Hermione bergidik membayangkan Draco disiksa dengan Kutukan Cruciatus.
Hermione bangkit dari tempat tidurnya dan meninggalkan rumah, dengan cepat melewati penghalang yang telah dipasang di sekitarnya untuk menjaganya tetap aman dari penyusup.
Kemudian ia ber-Apparate ke apartemen kecil di London Muggle. Ini adalah tempat dimana ia dan Draco menunggu dalam jam-jam yang sepi, berharap satu sama lain akan bisa datang. Ini adalah satu-satunya tempat yang luas, dunia luas milik mereka dan hanya milik mereka sendiri.
Hermione mengeluarkan liontin giok kecil. Ibunya memberikan liontin itu kepadanya waktu dulu, setelah liburan di Cina. Liontin itu merupakan bagian dari sepasang ornamen, dan di tahun kelima, setelah melepaskan Mantra Protean pada liontin itu, Hermione memberikan salah satu bagiannya untuk Draco - ia mendapat ide itu dari koin Galleon yang ia beri mantra untuk Laskar Dumbledore.
Hermione mengetuk liontin itu dengan tongkatnya kembali; ia melakukan itu sebelumnya hari itu, namun tidak ada satu cahaya pun untuk jawabannya. Ia berharap bahwa semuanya baik-baik saja dan mulai berjalan mondar-mandir dengan gelisah di ruang keluarga yang kecil itu. Kemudian ia berhenti. Dia harus tenang, ia harus memilah-milah pikirannya. Perang baru saja dimulai - mereka masih harus mencari Horcrux, dan mereka tidak akan bisa bahkan berada di bawah dengan Voldemort sampai mereka menghilangkan semua benda untuk keabadiannya itu.
Hermione berdiri menghadap jendela, menatap kosong ke dalam kegelapan. Hujan memercik di jendela.
Bunyi pop pelan memberitahukan Hermione bahwa Draco sudah datang, dan ia tersenyum.
"Tidakkah kau pikir sebaiknya kau sedikit lebih berhati-hati untuk menampakkan dirimu?" Hermione mendengar Draco berkata di belakangnya. Tangannya melingkari pinggang Hermione saat gadis itu menutup tirai jendela. Hermione merasakan nafasnya di lehernya. "Hermione, aku benar-benar minta maaf."
Hermione berbalik dalam lengannya. "Kau tidak punya pilihan."
Draco tampak heran. "Aku bisa saja membunuh bibiku."
Hermione tersenyum. "Aku yakin orangtuamu tidak akan menghargai itu."
"Yah well, aku tidak begitu peduli pada apa yang mereka pikirkan sejak kau menyadarkanku."
Hermione menciumnya ringan. "Apakah Voldemort menghukummu karena membiarkan kami melarikan diri?"
"Hanya Kutukan Cruciatus untukku. Voldemort lebih murka pada ayahku, dan bibiku. Mereka akan berada di Manor untuk beberapa waktu, menerima perintah dari Fenrir."
Hermione bergidik pada nama manusia serigala yang jahat, dan tak bermoral itu, namun ia tidak mengomentarinya. "Lalu ... apa perintah untukmu?" dia bertanya.
"Aku diminta mencarimu," Draco berkata dengan senyum kecil. "Dan juga Potter dan Weasley, tentu saja," ia menambahkan seperti itu adalah suatu pendapat.
Hermione tersenyum. "Yah, kau sudah menemukanku. Apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Aku akan terus memelukmu seperti ini sampai aku benar-benar tidak bisa tinggal lagi. Aku akan menciummu -" Draco berhenti sejenak untuk menempelkan bibirnya lembut pada bibir Hermione dan melanjutkan "- dan aku akan mengatakan padamu bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu, dan bahwa aku tidak akan meninggalkanmu."
"Berjanjilah padaku," Hermione berbisik.
"Berjanji padamu apa?"
"Berjanjilah kalau Kau tidak akan pernah meninggalkanku."
Draco tersenyum. "Aku berjanji, aku tidak akan, dan tidak akan pernah meninggalkanmu."
Hermione tersentak kembali ke kenyataan oleh suara yang dingin.
"Sementara kita menunggu, kupikir kau bisa menjelaskan kepada pengikutku mengapa Kau di sini."
Hermione tetap diam. Tiba-tiba, Voldemort menghilang dari penglihatannya, dan Hermione bisa merasakan napas dingin Voldemort di belakang telinganya. Hermione bergidik meskipun ia berusaha untuk tetap tenang.
"Sekarang, sekarang, jangan buat ini tidak menyenangkan," bisiknya.
Kemudian Voldemort melintasi ruangan lagi, mendekati kursinya.
Hermione mengertakkan gigi, mencoba untuk menjelaskan bahwa ia marah, bukan ketakutan. "Aku disini karena aku mencintai Draco Malfoy," akunya jujur.
Sunyi merayap.
"Dia terbunuh malam ini, tepat di depan mataku, dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk menghentikannya." Hermione memaksa suaranya untuk tetap datar. "Orang yang mengakhiri hidupnya adalah... Harry Potter."
Masih tidak ada tanda-tanda jawaban dari Pelahap Maut. Hermione menduga mereka menahan reaksi mereka karena Voldemort tidak memberikan satupun tanda pada Pelahap Maut.
"Aku datang kemari karena aku ingin membalas dendam. Dan tidak hanya pada Harry - aku bisa saja membunuhnya langsung di Hutan Terlarang, dan tidak ada satu orangpun yang akan tau kalau yang membunuhnya adalah aku. Tidak, aku ingin menghancurkan anggora Order, satu atau dua suatu waktu, dan melihatnya menderita sama seperti yang aku rasakan sekarang."
Hermione terdiam sesaat.
"Kemudian, dan hanya kemudian, aku ingin dia mati."
Hermione menyakinkan bahwa kata-kata terakhirnya penuh akan kebencian, kebencian yang mulai tumbuh pada Harry sejak ia mendengar Harry mengeluarkan mantra Pembunuh itu. Ia juga menambahkan beberapa kebencian yang ia rasakan pada Bellatrix untuk membuat kata-katanya terdengar lebih sengit. Hermione menginginkan semua orang yang ada di ruangan tau bahwa yang ia katakan adalah benar adanya.
Ruangan tetap sunyi, dan matanya tetap menatap lantai.
Voldemort berdiri. "Apakah kalian mempercayainya?" ia bertanya pada pengikutnya. Lagi, Voldemort mulai mengelilingi ruangan. Ketika tidak ada satupun yang menjawab, Voldemort berkata, "Aku pikir kalian akan lebih pengertian. Apa pendapat kalian?"
"Kupikir kita akan menyiksa gadis itu, dan kemudian membunuhnya, "Bellatrix berkata, terdengar sangat haus darah.
"Jadi kau tidak mempercayainya," Voldemort berkata.
"Dia Darah Lumpur Kotor. Dia berbohong."
Hermione merasakan mata Bellatrix padanya dan ingat bagaimana Draco telah memperingatkannya tentang bibinya yang sangat berbakat di Legilimen. Hermione segera menekan pikiran dan kenangan yang ingin ia sembunyikan dan kemudian mengepalkan tangannya, menyiapkan diri.
Awalnya Bellatrix bergerak sepanjang kenangan masa kecil Hermione, dan Hermione berjengit - ia tidak ingin wanita iblis itu berada dalam kenangan yang sangat berharga itu. Kemudian Bellatrix beralih pada kenangan di Hogwarts, mengamati semua pertengkaran yang ia miliki bersama Draco. Ia melewati beberapa tahun ke depan, dan kemudian Hermione mendengar kata-katanya sendiri bergema di kepalanya.
"Aku mencintaimu, Draco Malfoy, seluruh jiwaku."
Hermione merasakan pikiran Bellatrix keluar dari pikirannya dan ia melonggarkan kepalan tangannya. Kali ini ia tetap berlutut tegak sepanjang proses itu.
"Well?" Voldemort bertanya pada Pelahap Mautnya yang paling setia itu.
Bellatrix bertahan sejenak, kemudian berkata, "Dia... dia mengatakan yang sebenarnya."
Para Pelahap Maut mendesis satu sama lain, semuanya tak percaya.
"Aku melihat mereka... bersama," Bellatrix berkata. Ia berbalik pada Hermione. "Beraninya kau mengotori keponakanku dengan sentuhanmu!"
Hermione balas menatap matanya. "Aku mencintainya. Aku berani bertaruh cintaku lebih besar daripada kau."
"Kau gadis menyedihkan yang kurang ajar!"
Bellatrix mengangkat tongkatnya, namun Voldemort mengangkat satu tangannya, menghentikan Bellatrix.
"Tuanku, tolong, izinkan aku menghukumnya."
"Tidak, tidak sekarang," Voldemort berkata pelan. "Apa yang kau lihat?" ia bertanya pada Bellatrix.
Hermione menyadari bahwa Voldemort harus menanyakan ini demi seluruh Pelahap Maut di ruangan; Voldemort bisa saja mempercayakan jawaban dari anjing setianya tanpa menanyakan apapun pada mereka.
"Dia berkata dia mencintainya."
"Hanya mencintainya?"
"Dengan seluruh jiwanya," Bellatrix berkata kasar.
"Benarkah?" Voldemort berkata. Ia berbalik. "Apakah itu benar?"
Voldemort sepertinya bertanya pada Hermione sekarang, namun sebelum ia bisa menjawab, Voldemort mengangkat tongkat di tangannya, dan Hermione terguncang saat menyadari bahwa itu adalah tongkatnya.
"Crucio!"
Hermione tiba-tiba jatuh ke tanah, meringkuk kesakitan namun menahan jeritannya. Hermione menggelepar kesana kemari, mencoba untuk lari dari rasa sakit yang mengelilinginya, dan kematian tampaknya nyaman dimatanya. Setidaknya ia bisa bertemu Draco. Rasa sakit lebih terasa daripada sebelumnya, dan Hermione akhirnya menjerit, tidak bisa menahannya lagi.
Hermione melihat wajah Draco di pikirannya, dan Draco menenangkannya dengan kata-kata tak terucap.
Kau bisa melakukannya. Aku mencintaimu, Hermione. Aku akan melindungimu.
Rasa sakit yang sangat membawanya kembali pada kenyataan, namun Hermione tidak merasakannya sesakit sebelumnya. Walaupun ia terus menggelepar hebat, Hermione merasakan seperti ada selimut tebal yang menyelimutinya, di dalam dan di luar, dan Hermione seperti rentan terhadap rasa sakit itu.
Dan kemudian itu berakhir.
"Ya," Hermione terengah. "Ya, itu benar."
"Tolong mengertilah, aku harus benar-benar yakin."
Hermione kembali merasakan sakitnya Kutukan Cruciatus dari awal lagi. Ia berteriak kuat dan mendengar dirinya sendiri memohon hampir tak jelas agar rasa sakit itu berakhir. Hermione seolah melayang, dan itu seperi seseorang yang lain yang menjerit kesakitan, seseorang yang lain yang berguling sekitar lantai, meringkuk dan mencoba menggali jalan mereka menuju kebebasan.
Kemudian, saat rasa sakit yang tajam itu menghilang menjadi dentum kecil, Hermione bertanya-tanya mengapa rasa sakutnya selalu sama kuatnya seperti pertama kali. Tidakkah satu itu bisa mengembangkan satu toleransi saja?
"Aku mencintainya," Hermione berbisik, setetes air mata jatuh dari matanya.
Hermione bisa merasakan mata-mata yang terkejut padanya, tapi ia tidak bergerak - ia merasa seperti tidak bisa bergerak, bahkan jika ia ingin bergerak.
Akhirnya, pintu terbuka.
"Apa yang membuatmu begitu lama?" Voldemort mendesis.
"Dia ada di pohon-pohon. Hutan Terlarangnya -" satu Pelahap Maut mulai menjelaskan, namun ia berhenti setelah Voldemort melototinya tajam.
Hermione berhasil menaikkan lengannya dari lantai, menegakkan diri ke posisi duduk. Tubuh Draco diletakkan beberapa kaki darinya. Jubahnya berantakan. Rambut pirang peraknya dipenuhi lumpur, dan beberapa daun tersangkut disana. Mata yang indah itu tertutup. Hermione tidak akan pernah melihat mata itu terbuka kembali...
Hermione meraih untuk menyentuh wajahnya, namun ketika tinggal beberapa centimeter jauhnya, ia merasakan paksaan yang tak terlihat menahannya. Seseorang menggunakan mantra nonverbal untuk menghalanginya menyentuh Draco.
Tanpa menjauhkan pandangannya dari wajah Darco, Hermione berbisik, "Tolonglah."
Bahkan Hermione sendiripun terkejut dengan adanya kesakitan dalam bisikan itu. Kemudian paksaan itu dilepaskan darinya, dan jari-jarinya mengusap pelan pipi Draco. Kulitnya sedingin batu. Setetes air mata jatuh dari mata kanannya dan terus turun di ujung pipinya sebelum menetes di lantai marmer.
Semuanya terasa begitu nyata sekarang. Dia tidak akan pernah kembali lagi.
Hermione terus menatapnya, seperti berharap ia akan bangkit dan mengatakan padanya bahwa semua ini hanyalah lelucon, bahwa Potter telah membunuh Voldemort, bahwa Para Pelahap Maut telah aman terkunci di dalam Azkaban, dan bahwa mereka berdua akan bersama selamanya.
"Bawa tubuhnya dari sini," Voldemort berkata masih dalam suara kecil yang sama.
Draco melayang di atas lantai dan dibawa keluar ruangan. Hermione merasa hancur di dalam hatinya, ia merasa seperti kerang yang penuh akan serpihan, serpihan yang hancur. Hermione berkedip sekali, dan tetesan air mata yang lain keluar dari matanya. Ia meraih dan menghapusnya.
"Berbalik dan kemarilah."
Hermione berdiri di kakinya yang bergetar dan berbalik, terkejut bahwa ia masih memiliki kekuatan untuk menyokong tubuhnya. Voldemort sudah kembali ke kursinya. Hermione mendekatinya perlahan.
"Berlutut."
Para Pelahap Maut menunggu penuh minat - apakah Voldemort benar-benar akan menjadikannya salah satu dari mereka?
Voldemort menyerahkan tongkat Hermione ke samping, dan Pelahap Maut terdekat, yang mana awalnya telah memberikan Voldemort tongkatnya, menerimanya. Kemudian Voldemort mengeluarkan tongkatnya sendiri dan mengangkat tangannya, telapak tangan di atas. Mata Voldemort tetap menilai Hermione sepanjang itu terjadi.
Hermione berkedip. Kemudian ia berlutut dan meletakkan tangan kirinya, lengan menghadap ke atas, di tangan Voldemort yang terbuka. Hermione menurunkan pandangannya dari wajah Voldemort ke tongkatnya. Ujung tongkat itu bergerak melayang di atas lengannya, dan Hermione mengeratkan rahangnya.
Ini dia.
Ujung tongkat itu ditekan hingga ke dagingnya, dan Hermione merasa seperti seluruh kulitnya terbakar. Hermione mendesis kesakitan saat ia melihat tanda hitam perlahan muncul di lengannya. Itu adalah bagian dari ular - Hermione bisa dengan jelas menggambarkan Tanda Kegelapan di lengan Draco. Kemanapun tanda hitam itu berputar, kulitnya terbakar.
Akhirnya, ular dan tengkorak itu terbentuk, dan Hermione merasa seperti ia kehilangan lapisan kulitnya. Tanda itu masih terbakar, namun tidak terasa seperti sebelumnya.
"Selamat datang. Kau memiliki sumpah setia padaku. Jika kau berani mengkhianatiku, aku akan langsung melihat kau dan keluargamu menderita dari kematian yang mengerikan. Kau mungkin berpikir mereka lebih aman di Australia, tanpa satupun kenangan kalau mereka memiliki anak perempuan, tapi kau tak akan pernah tau."
Hermione menolak menunjukkan rasa terkejutnya saat tau bahwa Voldemort mengetahui tentang orangtuanya. Hermione bergerak ke belakang untuk memberinya ruang lebih, dan Voldemort melepaskan tangannya. Hermione membungkuk rendah, keningnya menyentuh lantai.
"Ya, Tuanku," Hermione berbisik.
"Berdiri."
Hermione berdiri di kakinya. Para Pelahap Maut disekeliling ruangan terlihat tak nyaman, tapi tak seorang pun yang berani membantah apa yang baru saja Voldemort lakukan.
"Misi pertamamu adalah kembali ke Order. Katakan bahwa kau berhasil masuk ke dalam anggota Pelahap Maut, dan gunakan Tanda itu untuk membuktikannya. Untuk membuktikan kesetiaanmu padaku, kau harus menculik siapapun murid yang selamat dan bawa siapapun itu kemari. Kau punya waktu satu minggu."
"Tapi Tuanku - bagaimana kau akan tau bahwa Darah Lumpur ini tidak akan mengkhianati kita seperti yang Severus lakukan?"
Bellatrix akhirnya satu-satunya yang berani menyuarakan pertanyaan yang mengitari setiap pikiran Para Pelahap Maut.
"Severus... Aku harus mengakui bahwa aku tidak begitu terkejut dengan pengkhiatannya," Voldemort berkata. Ketika tak ada satu orangpun berkata, ia melanjutkan, "Aku seharusnya tidak mempercayainya seperti aku mempercayainya. Dia termotivasi melayaniku karena Lily Potter. Cinta, perasaan hina itu, sepertinya memenangi alasannya. Granger tidak akan mengkhianati kita, tidak jika ia ingin Order dihancurkan dan Harry Potter dibunuh dengan kejam. Dia termotivasi oleh cinta untuk Draco, sama seperti Severus termotivasi karena wanita itu."
Tidak ada yang memecah keheningan yang mengikuti pidato Voldemort. Akhirnya, Voldemort memberi tanda pada Pelahap Maut untuk mengembalikan tongkat Hermione, dan Hermione dengan senang hati menerimanya.
"Terima kasih, Tuanku," Hermione berkata.
"Pergilah sekarang. Aku menginginkan Kau kembali dalam waktu satu minggu."
Hermione membungkukkan kepalanya. "Aku akan datang."
Sekitar lima menit kemudian, Hermione tiba di Grimmauld Place. Ia langsung menuju dapur, mungkin Tuan Weasley atau Lupin masih disana - ia ingin berbicara dengan mereka sendirian tentang apa yang terjadi. Namun mereka tidak ada disana, jadi ia pergi ke atas ke kamar tidurnya.
Ketika Hermione melihat bahwa Ginny tertidur dengan Mantra Pengikat Tubuh padanya, Ia memutuskan untuk menyakinkan Ginny bahwa semua itu hanyalah mimpi.
"Finite Incantatem," Hermione berbisik.
Ginny bergerak sedikit, dan kemudian berbalik dalam tidurnya.
Setelah membereskan kembali ranselnya dan berganti baju tidur, Hermione menyusup ke bawah selimut di sebelah Luna dan menutup matanya, berharap untuk dapat beristirahat.
