Vengeance

Author: elizaye

Translator: dei-enjel

Summary:

Ketika sahabat baik seorang gadis membunuh cinta sejatinya, seberapa jauh dia akan membalas dendam? "Baiklah, buktikan. Anggap orang ini adalah pelakunya, dan BUKTIKAN kau punya nyali untuk membunuh pembunuh Draco."

When a girl's best friend kills her one true love, how far will she go for revenge? "All right then, prove it. Pretend that this man is the culprit, and PROVE that you would have the guts to kill Draco's murderer."


Translator's Note: Haloo, maaf updatenya lebih lama. Tapi sebenernya chapter ini udah update duluan di wattpad beberapa hari lalu #plak (kena tamparan). Haha, aku kamarin lagi mood nerjemahinnya, sekaligus menebus dosa (hahaha) karena mengabaikan cerita ini sampe bertahun-tahun.

Kemarin mau update juga disini, barengan, tapi ternyata di laptop gak bisa buka situs ini. Pake proxy web ehh file nya gak bisa di upload. Maaf ya..

Btw terima kasih reviewnya. Jadi semangat melihat review teman-teman yang setia menunggu. Makasih banyak loh yaa. *kecupkecup

Semoga chapter depan bisa lebih cepat.

Tanpa panjang lebar lagi, selamat membaca. Semoga kalian suka terjemahannya. Seperti biasa, ditunggu review nya :)

Warning: Rate M (untuk dewasa ya) Translator udah cukup umur kok :p


Disclaimer: Always for J.K Rowling

Vengeance elizaye

Happy reading! Review ya :D


IV. Pertemuan Para Korban Selamat

Hermione berbaring di bawah selimut diatas tanah hanya mengenakan bra dan celana dalam saja. Draco terus menciumnya sepanjang leher dan turun ke lembah diantara payudaranya, meraih ke belakang untuk melepaskan bra-nya. Hermione dengan cekatan membuka kancing kemeja oxford Draco dan melepaskannya dari bahunya. Draco mengangkat bahunya untuk melepaskan sisanya dan menurunkan dadanya ke dada Hermione, menutup mulut gadis itu dengan bibirnya.

Hermione mengangkat punggungnya, menekan tubuhnya pada dada Draco, berharap entah bagaimana mereka akan meleleh menjadi satu kesatuan jadi mereka tidak akan pernah mampu berpisah. Hermione memutar tubuh mereka, dan Draco mendengus saat punggungnya menyentuh tanah.

Hermione tersenyum ke arahnya. "Kau harus membiarkanku berada di atas sekali-sekali."

Draco menahan lengannya di kedua sisinya sambil menyengir. "Aku sepenuhnya milikmu. Lakukanlah apa yang kau mau."

Hermione menggigiti dagu Draco dan kemudian membawa mulutnya turun ke bawah lehernya menuju dadanya. Gadis itu mengisap dan menggigit puting kirinya, dan Draco mengerang keras. Ia mulai membungkus lengannya di sekeliling Hermione, namun Hermione duduk dan mendorong lengan Draco ke kedua sisinya.

Hermione membuka mulut untuk memberitahu Draco agar ia tak bergerak, namun kata-kata tertinggal di tenggorokannya saat matanya menelusuri lengan kirinya.

Tanda Kegelapan.

Hermione tidak bisa bernafas, ia tidak bisa berpikir, ia bahkan tidak bisa melihat apapun. Hermione duduk dan mulai bergeser, menjauh dari Draco, namun Draco bereaksi begitu cepat. Draco duduk tegak, dan lengannya memeluk Hermione erat, membawanya mendekat pada tubuhnya.

"Lepaskan aku - lepaskan aku - LEPASKAN AKU!"

Lengan itu tidak melepaskannya, dan Hermione mengernyit berpikir pada tanda iblis yang menekan kulitnya itu, yang terukir di kulit seseorang yang sangat ia sayangi.

Hermione mendengar Draco berbisik lembut namun tidak bisa menangkap kata-katanya; Draco berbisik begitu cepat, tidak ada jeda. Draco nampaknya berusaha menenangkannya, tapi Hermione terus melawan di lengannya.

"Lepaskan tanganmu dariku!" Hermione berteriak kencang.

"Shh, tolong Hermione, tolong-"

"Berhenti menyentuhku dengan Tanda itu!" Hermione menjerit.

Lengan Draco hanya semakin mengetat di sekelilingnya, dan air mata mengalir deras dari mata Hermione.

"Mengapa kau lakukan ini?" Hermione terisak. "Mengapa kau melakukan ini padaku? Pada dirimu sendiri?"

Hermione memukul dada Draco dengan tinjunya, namun Draco tidak melakukan apapun untuk menghentikannya, ia hanya tetap memeluk Hermione. Apakah ia pikir ia hanya akan menunggu badai datang? Setiap kali Hermione membawa tinjunya ke tubuhnya, Hermione hampir berjengit - dia tidak ingin membuat Draco kesakitan. Dia hanyalah makhluk lemah dan menyedihkan, dan Draco telah membuat dirinya menjadi makhluk itu. Hermione mengutuk namanya dan memukul lebih keras.

"Hermione, tolong, tolong jangan lakukan ini," Draco memohon dengan suara parau.

Hermione terkejut mendengar suaranya, dan mendongak dengan mata berair tepat ketika ia melihat setetes air mata mengalir dari ujung mata Draco. Bahkan ketika wajahnya penuh akan penderitaan, entah bagaimana wajah itu masih tampak indah, sempurna.

Tangan Hermione dengan sendirinya berpindah ke wajah Draco dan mengusap setetes air mata yang lolos dari matanya itu.

Mereka bertatapan satu sama lain dalam waktu yang sangat lama. Hermione mulai berharap ia dapat menghentikan waktu saat itu juga, jadi mereka tidak akan pernah kembali pada kenyataan, jadi mereka tidak perlu bertempur satu sama lain dalam perang yang akan datang nanti.

"Bagaimana kau bisa melakukan ini?" Hermione mengulang pertanyaannya dalam sebuah bisikan.

Draco meraih Hermione mendekat pada dadanya, dan kali ini Hermione menyerah.

"Aku harus melakukannya," Draco berkata pelan. Suaranya terdengar berduka, dan tiba-tiba saja Hermione menjadi takut. Gadis itu memiringkan kepalanya untuk melihat Draco tepat di matanya. Draco tampak berjuang mengeluarkan kata-kata yang tepat.

"Malam itu di Departemen Misteri, semua Pelahap Maut, kecuali bibiku, tertangkap."

Tiba-tiba semuanya mulai jelas di kepala Hermione, dan air mata jatuh lebih deras dari matanya. Mengapa ia tidak menyadari ini sebelumnya? Tentu saja ada konsekuensi untuk Pelahap Maut saat gagal mengambil Ramalan itu. Ia hanya tidak menduga bahwa Draco-nya...

"Ayahku... Pangeran Kegelapan menyalahkannya karena gagal mengambil Ramalan itu. Dia akan membunuhku dan ibuku sebagai hukumannya. Tapi bibiku meminta padanya untuk memberikan kesempatan kedua untuk keluargaku..."

Hermione makin mendekat pada Draco dan terisak di bahunya, tidak peduli bahwa mereka berdua setengah telanjang, duduk di sebuah selimut di tengah hutan, jauh di dalam Hutan Terlarang. Tidak satupun dari mereka yang peduli masalah itu. Hermione tau dari awal bahwa hubungannya dengan Draco sudah ditakdirkan, namun melihat Tanda Kegelapan di lengan Draco membuat semuanya jelas. Hubungan mereka jelas mustahil sekarang.

"Aku tidak bisa membiarkan ibuku mati," Draco berkata, suaranya bergetar.

Tubuh Draco gemetar, dan Hermione ikut gemetar bersamanya. Lengan Draco memeluknya begitu erat hingga ia berpikir rusuknya akan patah, namun ia berharap Draco memeluknya lebih dekat.

"Draco," Hermione berbisik, dan ia merasakan anggukan Draco sebagai jawabannya, "Aku... Aku tidak peduli siapapun kau ini. Aku tidak tau berapa..."

Tenggorokan Hermione tercekat, dan ia harus mengambil beberapa nafas yang dalam sebelum kembali memulai perkataannya.

"Aku tidak tau berapa lama waktu yang kita miliki untuk bersama, tapi aku tidak ingin meninggalkanmu, dan aku tidak ingin kau meninggalkanku, tidak sampai kita benar-benar tidak mungkin lagi untuk saling bertemu seperti ini."

Draco tidak menjawab.

"Draco? Tolong jangan katakan hubungan kita sudah berakhir," Hermione memohon dalam sebuah bisikan, membenci dirinya karena menjadi begitu lemah. "Aku ingin kita kembali ke waktu sebelum aku melihat tandamu... sebelum kau menjadi Pelahap Maut. Kita bisa melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, sampai akhir. Tolong... tolong jangan katakan ini sudah berakhir."

"Ini belum berakhir," Draco bergumam. "Aku akan bersama denganmu sampai aku tidak bisa lagi."

Hermione mengambil nafas yang bergetar dan menepuk bahu Draco. Draco melepas pelukannya sedikit sehingga Hermione dapat melihat wajahnya. Gadis itu bertanya-tanya kapankah ia menjadi begitu sangat bergantung pada Draco. Hanya dengan melihat wajahnya membuat ia nyaman.

"Hermione..." Draco berkata, matanya penuh dengan air mata.

Hermione tidak berbicara, hanya menunggu. Ia merasa bahwa apa yang lebih dibutuhkan Draco saat ini adalah ia menjadi pendengar.

"Aku... takut. Aku takut gagal. Aku pikir aku tidak bisa melakukannya."

Hermione menekan bibirnya ke bibir Draco, membuat Draco terkejut. Ia mulai mendorong Hermione, namun Hermione meremas rambutnya, dan ketika ia mencoba kembali, Draco kembali jatuh ke tanah. Hermione mengangkanginya dan membiarkan tangannya berkeliaran di sekitar tubuhnya, mencoba menyalakan percikan nafsu dari Draco.

Akhirnya bibir Draco mulai bergerak menanggapi ciumannya, dan Hermione mengeluarkan lidahnya ke dalam mulutnya, mencari lidahnya. Lidah Draco bergulat dengan lidahnya, dan gairah memuncak diantara mereka saat mereka saling bertarung untuk saling mengalahkan. Hermione mulai menggoyangkan pinggangnya dan merasakan tonjolan yang membentuk di bawahnya ketika Draco mengeras.

Hermione tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Draco, tidak ketika Draco bekerja untuk Voldemort. Hermione tidak bisa membahayakan Orde dengan memberinya segala bentuk bantuan pada apapun misi yang diberikan padanya.

Jadi Hermione memberikan satu-satunya yang bisa ia berikan pada Draco - dirinya.

Hermione terbangun dengan guncangan yang kasar. Ia mengusap matanya dan menguap, kemudian menatap ke atas untuk melihat wajah Ginny Weasley yang melayang di dekat wajahnya.

"Apa?" Hermione bergumam serak.

"Jelaskan."

"Jelaskan apa?"

"Kemarin malam, kau pergi keluar diam-diam! Katakan padaku kemana kau pergi."

Hermione duduk dan menyadari bahwa Luna tidak berada di tempat tidur. "Dimana Luna?"

"Ayah memanggil kita beberapa menit yang lalu untuk makan siang, tapi kupikir kau tidak mendengarnya. Luna sudah turun ke bawah dengan yang lainnya. Sekarang katakan padaku apa yang terjadi kemarin malam."

"Aku tidak pergi kemana-mana, Ginny. Aku pergi ke bawah dan berbicara dengan Lupin dan ayahmu seperti yang aku katakan padamu, dan lalu aku kembali kemari dan pergi tidur."

"Tidak - Aku terbangun dan melihatmu bersiap, tapi kau tidak mau mengatakan padaku kemana kau pergi, lalu kau mengutukku dengan Mantra Pengikat Tubuh dan pergi."

Hermione mengerutkan kening. "Aku tidak melakukan semua itu. Apakah kau yakin kau tidak bermimpi?"

"Positif."

"Well, kau tentunya tidak diikat lagi. Apa Luna membebaskanmu?"

Sekarang giliran Ginny yang mengerutkan keningnya. "Aku tidak... ingat."

"Selain itu, barang-barangku belum disusun."

"Oh..." Ginny melihat sekitar ruangan. "Kau benar. Aku minta maaf. Kupikir aku lelah."

"Tak masalah - kau seharusnya memang lelah."

"Well, bangunlah dan berpakaian jadi kita bisa makan siang."

Hermione turun dari tempat tidur dan menggeliat. "Kau pergilah dahulu - katakan pada mereka aku akan disana beberapa menit lagi."

Ginny mengangguk dan meninggalkan ruangan.

Setelah menatap Tanda Kegelapan di lengannya sekitar dua menit, terlihat takut pada apa yang telah ia lakukan, Hermione berpakaian dan turun ke lantai bawah.

"Dimana Lupin?" Hermione bertanya, melihat orang-orang yang duduk di meja dan tidak menemukan Lupin.

"Dia pergi semalam, setelah kau pergi," Tuan Weasley berkata. "Dia bilang akan mengunjungi keluarga Tonks."

Semua dalam ruangan makan dalam diam, berpikir tentang apa yang terjadi kemarin malam dan apa yang akan datang kemudian. Hermione duduk diantara Ginny dan George, berseberangan dengan Harry dan Ron. Hermione menangkap Ron menatapnya tajam sekali-sekali, tapi ia pura-pura tidak melihatnya.

Setelah semuanya selesai makan, Tuan Weasley membersihkan meja dengan sihir.

"Kapan kita akan menyerang kembali?" Neville bertanya.

"Ya, Aku ingin balas dendam," Michael berkata. "Mereka membunuh Cho."

"Sabar. Ini akan memakan waktu. Kita perlu berkumpul kembali dan mencari anggota. Aku ingin membalas dendam juga, tapi kita harus merencanakan itu," Tuan Weasley berkata.

"Dan kita butuh mata-mata baru," Harry berkata. "Tanpa adanya informasi dari dalam, akan mustahil untuk merencanakan rencana bagus untuk melawan Voldemort."

Beberapa murid berjengit saat mendengar namanya disebut.

"Aku akan melakukannya," George berkata.

"Tidak," Tuan Weasley segera menjawab.

"Kenapa tidak?"

"Kita butuh seseorang yang bagus di Occlumency," Harry menjelaskan. "Voldemort adalah Legilimens yang sangat kuat. Snape mampu menjadi mata-mata karena dia sangat kuat di Occlumens."

Seluruh meja menjadi sunyi.

Kemudian Terry berkata, "Tapi... bukankah Occlumency tidak diajarkan di Hogwarts. Siapa yang mungkin bisa memiliki kekuatan itu?"

Ernie meringis. "Aku bahkan tidak tau apa itu."

"Occlumency adalah kekuatan yang memungkinkan kau menutup pikiranmu, jadi orang lain tidak bisa masuk ke dalam kepalamu," Hermione berkata.

"Snape memberiku beberapa pelajaran pribadi di tahun kelima," kata Harry. "Aku hanya... tidak pernah benar-benar dapat menguasainya."

Tuan Weasley menatap Hermione curiga, dan ia tau kenapa. Semalam, ia mengatakan padanya bahwa dia dan Harry mengikuti pelajaran itu bersama Snape, tapi Harry tidak menyebut nama Hermione. Jadi Hermione hanya menggelengkan kepalanya sedikit pada Tuan Weasley, berharap Tuan Wealey percaya padanya kali ini.

"Apakah kita memiliki cukup waktu untuk melatih seseorang sekarang?" Terry bertanya.

"Bukankah kita butuh seorang Legilimens untuk melatih mereka?" Ginny ikut berbicara.

Ron menoleh ke arahnya, terkejut. "Bagaimana kau tau sesuatu tentang itu?"

"Harry memberitauku, tentu saja. Kau bukan satu-satunya temannya."

Mata Tuan Weasley berkedip pada Hermione tapi berpindah kembali dengan cepat. "Kupikir kita tidak bisa melakukan itu sekarang. Kita akan menemukan jalan untuk memasukkan seseorang ke anggota Pelahap Maut, tapi sampai itu terjadi, kita perlu penambahan anggota."

"Tapi semakin lama kita menunggu, mereka akan semakin kuat. Dan kupikir kita juga tidak bisa mendapatkan kekuatan secepat yang mereka lakukan," George berpendapat.

"Terakhir kali Hagrid menghubungi kita, dia berkata para raksasa mungkin akan bertempur mendukung pihak Kegelapan," Harry melapor. Hermione sudah mengetahui hal ini, ia ada disana dengan Harry dan Ron ketika percakapan itu terjadi.

Michael bersiul. "Seluruhnya kabar buruk, kukira."

Kemudian Tuan Weasley berkata, "Lupin akan tiba beberapa menit lagi dengan beberapa profesor Hogwarts yang selamat dan ingin kembali bertarung, dan kita akan mendengar apakah pendapat mereka lebih mencerahkan."

Tuan Weasley menghela nafas, dan saat mencermatinya, Hermione berpikir dia terlihat lebih lelah dibandingkan malam sebelumnya. Ia bertanya-tanya apakah ia mendapatkan tidur yang cukup semalam.

Semua orang kembali sunyi, merenungkan pendapat mereka.

"Hermione, bisakah aku berbicara denganmu?" Tuan Weasley bertanya.

Hermione mengangguk dan bangkit dari duduknya, menuju pintu.

"Tunggu-tunggu, tidak bisakah kau mengatakannya di depan kami?" kata Michael.

"Ya, kita bersama-sama dalam hal ini," Terry menambahkan.

Hermione berbohong. "Ini tentang apa yang akan kulakukan pada orangtuaku."

Harry dan Ron menoleh ke arah Hermione, alis mereka naik karena terkejut. Mereka tau bahwa ia sudah melakukan sesuatu pada orangtuanya akhir musim panas lalu, mengirim mereka ke Australia dengan memori yang telah dimodifikasi. Bagaimanapun, mereka cukup mempercayainya untuk tau bahwa ia berbohong untuk alasan yang jelas dan tidak berkomentar.

Hermione dan Tuan Weasley meninggalkan ruangan dan pergi ke atas ke ruang tamu dalam diam. Ketika mereka berdua berada di dalam, Hermione menutup pintu.

"Tolong jelaskan padaku mengapa Harry terlihat tidak mengetahui kalau kau juga memperlajari Occlumency."

Hermione menghela nafas. "Aku memutuskan mempelajarinya secara diam-diam. Aku meminta Snape untuk mengajariku jadi aku bisa siap untuk sesuatu seperti ini di kemudian hari. Aku tidak ingin Harry tau dengan alasan agar dia tidak tertekan mengetahui aku melakukannya dengan baik sementara dia tidak."

"Kau tidak harus berbohong pada kami kemarin malam."

"Aku tidak benar-benar berbohong, aku hanya tidak menyebutkan kalau Harry tidak tau tentang ini. Aku minta maaf. Aku ingin segera tugas ini selesai secepat mungkin, sebelum aku kehilangan keberanianku. Mengurangi penjelasannya mempercepat waktuku," Hermione berkata. Penjelasan seadanya terdengar meyakinkan.

"Berbicara soal tugas..."

Hermione mengangkat lengannya, dan Tuan Weasley mendesis.

"Kau-kau-"

"Aku bahkan sudah diberikan tugas pertama."

"Apa itu?"

"Kupikir sebaiknya jika kau... jika kau tidak mengetahuinya," Hermione berkata pelan.

Tuan Weasley menghela nafas berat. "Aku sama sekali tidak menyukai ini."

"Aku pun begitu. Percayalah padaku."

Kemudian ada ketukan di pintu, dan Hermione membukanya dan melihat Lupin disana, terlihat kuyu dan sangat membutuhkan tidur malam yang cukup.

"Kemarilah. Kami berkumpul di dapur."

Mata Lupin berlama-lama menatap Hermione, dan Hermione sadar bahwa ia ingin mengetahui bagaimana prosesnya semalam.

"Dia mempercayaiku," Hermione berkata.

"Kupikir itu akan lebih baik jika kau mengatakannya pada semua orang sekaligus" kata Lupin.

"Tapi kenapa?"

"Jika kita ingin tetap bersatu, kita tidak akan saling merahasiakan sesuatu. Itu akan membuat kesalahpahaman di masa yang akan datang."

Hermione menghela nafas. "Kupikir kau benar."

"Aku lega melihat kau hidup."

Hermione mengangguk.

"Ayo jangan membuat semua orang menunggu."

Ketiganya berjalan menuruni tangga dan masuk ke dapur.

Hermione melihat hanya empat orang profesor yang hadir - Filius Flitwick, Pomona Sprout, Aurora Sinistra, dan Septima Vector. Madam Pomfrey juga disana. Tapi apakah itu berarti tidak ada lagi profesor dari Hogwarts yang selamat? Atau ada beberapa yang menolak untuk datang? Hermione tidak dapat membayangkan satupun profesor Hogwarts yang akan menolak berkumpul untuk melawan Voldemort, jadi ia membiarkan pikiran tak menyenangkan bahwa empat orang profesor dan perawat sekolah ini mungkin satu-satunya anggota yang selamat dari sekolah Hogwarts.

Semua orang dipusatkan pada dua bangku panjang di kedua sisi meja. Profesor Flitwick melebarkan meja dengan jentikan tongkatnya sehingga ada cukup ruang disana.

Hermione duduk di tempatnya semula diantara Ginny dan George, dan Tuan Weasley duduk di sebelah Ron.

Lupin duduk di kepala meja dengan punggungnya menghadap perapian. "Filius, bisakah kau-"

Profesor Flitwick mengelengkan kepalanya. "Kami mengikutimu kemari, Remus. Kau dan Harry memiliki kesetiaan kami - dan aku berbicara mewakili kami semua."

Lupin melihat Harry, dan mereka berdua mengangguk.

Lupin duduk dan berkata, "Situasi kita sekarang sangat berkabung. Kita kehilangan banyak anggota Order kemarin malam, dan mereka pantas disebut dan diingat oleh kita semua." Lupin menunduk di meja saat ia mulai menyebutkan nama-nama, "Minerva McGonagall, Severus Snape, Kingsley Shacklebolt, Nymphadora Tonks, dan keluarga Weasley - Molly, Bill, Fleur, Charlie, Percy, dan Fred. Banyak yang tewas- kita tidak tau berapa banyak murid yang terbunuh dan berapa banyak yang ditangkap Pelahap Maut."

Lupin berhenti berbicara, dan semua orang duduk dalam diam. Hal itu sangat dipahami bahwa saat itu adalah saat untuk mengenang orang-orang yang memberikan kehidupan mereka sehingga semua orang yang ada disini bisa dapat hidup.

Akhirnya, Lupin berbicara kembali. "Kita akan memerangi pertarungan ini hingga akhir. Kita mungkin akan melewati jalan yang panjang, tapi kita berhutang pada semua orang yang telah mengorbankan hidup mereka. Dengan Horcrux terakhir yang sudah hancur, Voldemort akhirnya tidak abadi lagi. Jadi-"

Suara Ernie datang dari ujung meja yang lain, "Maaf, Profesor Lupin, tapi apa Horcrux?"

"Tolong, jangan panggil aku profesor. Remus saja, atau Lupin. Itu berlaku untuk semua orang disini. Tidak ada gelar lagi, hanya seseorang. Dan untuk Horcrux, jika kau tidak tau apa itu, jangan khawatir. Membuat Horcrux mungkin merupakan sihir terburuk yang hanya bisa dibuat oleh penyihir hitam."

Ada jeda saat Lupin berusaha mengingat apa yang tadi ia bicarakan.

"Voldemort tidak abadi lagi," Hermione mengingatkan.

"Ah, ya. Sekarang akhirnya kita bahkan memiliki pijakan, kita memiliki alasan yang lebih untuk tetap bertarung. Itu saja yang bisa sedikit kubicarakan." Lupin melihat ke arah Hermione dan mengangguk.

Hermione mengambil nafas yang dalam.

"Snape ada diantara orang-orang yang terbunuh kemarin malam, jadi kita membutuhkan penggantinya," Hermione mulai berkata.

"Ya, kita sudah membicarakan ini sebelumnya," Ron memotong.

"Hermione belum selesai berbicara, jika kau tidak memperhatikan," Ginny berkata.

Ron membuka mulutnya untuk menjawab balik, namun Tuan Weasley menghentikannya.

"Ron, jangan jadi begitu cepat emosi."

Hermione menghela nafas. "Seperti yang aku katakan, kita membutuhkan pengganti Snape, seseorang yang hebat di Occlumency jadi Voldemort tidak akan mampu melihat kebenaran di balik sikap orang itu. Kemarin malam, aku sudah berbicara dengan Lupin dan Tuan Weasley, dan kami memutuskan kalau aku bisa melakukannya."

Semua orang menatapnya terkejut.

"Well, mengapa kau tidak mengatakannya sebelumnya?" tanya George.

"Tunggu - bagaimana kau - sejak kapan kau menjadi seorang Occlumens?" Harry berseru, terperangah.

"Aku mengikuti pelajaran dengan Snape, seperti yang kau lakukan."

"Tanpa mengatakannya pada kami?" Ron berkata. Tatapannya menuduh.

"Aku tidak harus mengatakan semua yang aku lakukan pada kalian. Dan lagipula, Harry menghadapi banyak rintangan dalam pelajaran Occlumens. Aku tidak ingin memberi tekanan padanya."

"Terima kasih banyak, Hermione," Harry berkata.

"Aku minta maaf, Harry, tapi itu kebenarannya, ya kan?"

"Hermione, apakah kau yakin ini aman untukmu? Kau penyihir yang cemerlang, tapi kau masih sangat muda," Profesor Vector berkata; ia mengajar Aritmatika.

"Ya, aku setuju," kata Professor Flitwick. "Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut memiliki kemampuan yang sangat kuat di Legilimency. Bahkan Severus harus berjuang untuk menyembunyikan informasi darinya."

"Biarkan Hermione menjelaskannya," Lupin berkata.

Hermione mengambil nafas yang dalam kembali. Ia gelisah memikirkan bagaimana reaksi teman-temannya; inilah kenapa ia tidak ingin mengatakannya pada mereka. Dia bahkan tidak tau darimana memulainya. Akhirnya, ia memilih memulai dengan rencananya.

"Kemarin malam, Draco Malfoy dibunuh oleh salah satu dari kita," Hermione berkata.

"Berita bagus," Ron bergumam.

Hermione hampir tidak bisa menghentikan dirinya untuk menatap tajam pada Ron.

"Bagaimana kau bisa tau?" Terry bertanya. "Bukankah semua Pelahap Maut menggunakan topeng?"

"Aku mengenali matanya," Hermione menjawab. Ia menjelaskan, "Mata itu mata yang sering ia gunakan ketika ia melototiku setiap kali ia bertengkar denganku selama hampir tujuh tahun. Jika kau menjadi aku, kau juga pasti akan mengenalinya."

"Oh," Terry berkata pelan.

"Intinya adalah, aku sudah memiliki rencana yang telah aku diskusikan dengan Lupin dan Tuan Weasley setelah pertempuran. Aku mengatakan pada Pelahap Maut kalau aku ingin bergabung dengan mereka karena salah satu anggota Orde membunuh Malfoy."

"Bloody hell. Siapa yang akan mempercayai itu?" George bertanya dari arah kanannya.

Hermione menyadari bahwa ia melewatkan rinciannya. "Oh, benar. Aku mengatakan pada mereka kalau aku jatuh cinta padanya."

"APA?" beberapa suara berteriak serentak.

Hermione takut akan reaksi ini. Ginny mencengkram lengan kirinya, berbicara begitu cepat sehingga tidak begitu dimengerti, dan sebagian besar murid bereaksi antara membeku karena terkejut atau berteriak. Harry menatapnya seperti ia memiliki tiga mata, sementara Ron meneriakkan sesuatu padanya. Hanya Luna satu-satunya di ruangan yang terlihat tak terpengaruh.

"Diam!" Lupin meraung.

Ketika raungannya tidak memberikan efek yang berarti, Profesor Flitwick mengangkat tongkatnya dan berteriak, "Silencio!"

Ruangan tiba-tiba diam, namun beberapa orang masih membuka mulut tanpa bersuara. Ketika mereka menyadari bahwa suara mereka tidak terdengar, mereka berhenti.

"Terima kasih, Filius," Lupin berkata.

Profesor Flitwick menjentikkan pergelangan tangannya, dan mantra itu terlepas.

"Biarkan aku menjelaskannya," Hermione berkata lelah.

"Sebentar," Profesor Sinistra, yang mengajar Astronomi, memotong. Selalu memperhatikan detail terkecil, ia menjelaskan, "Kau mengatakan sebelumnya kalau kau mengatakan pada Pelahap Maut kau mencintai Draco Malfoy - dalam kalimat past tense." (a.n Kalo baca versi Englishnya pasti ngerti :D, walaupun aku gak terlalu ngerti grammer haha :D)

Ron menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya membulat tak percaya. "Tidak - kau belum pergi kesana."

"Kemarin malam, tepat setelah kita mengakhiri percakapan kita malam itu, aku ber-Apparated ke Malfoy Manor."

Terdengar helaan nafas tajam di sekeliling meja.

Hermione melanjutkan berbicara seolah-olah ia tidak mendengar mereka, "Butuh beberapa waktu untuk meyakinkan mereka, tetapi mereka percaya padaku dan mengirimku kembali kemari. Jika aku kembali dengan hidup tidak cukup membuktikan kalau aku bisa melakukan pekerjaan ini, aku tidak tau apa yang kalian inginkan."

"Aku tidak mempercayaimu," Michael berkata. "Siapa yang bilang kau tidak akan berbohong?"

"Ya, Pelahap Maut akan langsung membunuhmu detik itu juga ketika kau datang kesana. Bagaimana mungkin kau bahkan memiliki waktu untuk berbicara?" Neville menambahkan.

"Semuanya ingin bukti, bukan?"

Beberapa kepala mengangguk. Hermione maju ke depan dan meletakkan lengan kirinya di meja, lengannya menghadap ke atas. Dengan helaan nafas, Hermione menarik lengan bajunya sampai siku, memperlihatkan tanda merah yang diukir di kulitnya.

Semua orang, kecuali Tuan Weasley, yang telah melihat Tanda itu, mendesis serentak. Para profesor, yang duduk jauh di meja, berdiri dan berpindah ke belakang yang lain jadi mereka bisa melihat Tanda Kegelapan itu.

"Astaga, Hermione..." Harry berkata pelan. Ron hanya menganga ke arahnya.

Hermione dengan cepat menarik lengannya, menutupi noda itu.

"Bagaimana jika ia di bawah Kutukan Imperius?" Terry tiba-tiba bertanya. "Bagaimana jika Pelahap maut sudah dalam perjalanan kemari?"

"Sekarang Terry, jika dia benar-benar mendatangi Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut kemarin malam dan membawanya kemari, aku ragu kalian akan hidup untuk bisa melihat esok hari," Profesor Flitwick berkata.

"Astaga, bagaimana rasanya, berbicara dengan Kau-Tau-Siapa?" Neville bertanya.

"Aku tidak akan membayangkan itu akan berbeda rasanya dari berbicara dengan siapapun," Luna berkata.

"Apakah itu menakutkan?" Ernie bertanya.

"Simpan pertanyaan kalian untuk nanti," Lupin berkata, menyelamatkan Hermione dari menjawab pertanyaan itu. Hermione mengangguk padanya penuh syukur, dan Lupin melanjutkan, "Sekarang kita telah menyelesaikan kesulitan untuk masalah sejauh mana kita bisa mengetahui langkah selanjutnya dari Pelahap Maut, kita harus memfokuskan diri pada perekrutan anggota. Profesor, aku yakin kalian memiliki orang-orang yang bisa kalian hubungi, dan mungkin kita bisa meminta bantuan mereka?"

Profesor Flitwick mengangguk. "Aku memiliki beberapa teman goblin yang akan sangat ingin bertarung melawan Dia-Yang-Namanya-Tak-Boleh-Disebut. Hanya saja mereka tidak suka bekerja sama dengan penyihir, tapi aku akan mencoba yang terbaik."

Para profesor yang lain mengangguk setuju.

"Bagaimana soal kami, Lupin?" Neville bertanya. "Dapatkah kami melakukan sesuatu untuk merekrut anggota?"

Lupin ragu-ragu, kemudian berkata, "Aku lebih suka kalau kalian para murid tinggal disini saat ini. Aku tau itu sangat tidak menarik, tapi itu lebih aman. Aku tidak ingin satupun dari kalian jatuh ke tangan penyihir itu."

Hermione hampir meringis, mengingat kembali tugasnya. Ia harus membawa satu orang dari mereka. Matanya berpindah dari satu wajah ke wajah yang lain, mengira-ngira siapa yang akan ia bawa. Ernie, mungkin. Dia bukan pejuang yang tangguh, atau orang yang sangat pintar. Dia memiliki semangat, tapi itu tidak akan banyak membantu seperti otak Ravenclaw dari Michael danTerry, atau keberanian dan tekad Neville. Dia tidak akan tahan jika membawa seorang Weasley, karena begitu banyak yang telah tewas, dan Harry tidak perlu ditanyakan lagi. Luna? Walaupun Hermione berpikir bahwa Luna aneh, tapi ia menyukainya dan juga karakter uniknya. Harus Ernie, kalau begitu...

Hermione menyadari bahwa ia berhenti mendengarkan dan kembali memperhatikan diskusi mereka.

"Well, kami membuat Ramuan Polyjuice sebelumnya," Ron berkata. "Kami bisa membuatnya lagi."

"Hermione membuatnya, maksudmu," Harry berkata.

Kenapa mereka membutuhkan Ramuan Polyjuice? Hermione mengutuknya sendiri dalam hati karena membiarkan pikirannya menerawang.

"Itu bisa berhasil," Lupin berkata. "Walaupun itu sangat berbahaya. Kalau kalian kehabisan -"

"Kami akan membuatnya lebih banyak, jadi itu akan cukup," Harry berkata.

Madam Pomfrey angkat biacara. "Aku punya pemasok yang bisa memberikan kita bahan-bahannya dalam sehari, dan kalian semua bisa bekerja. Ramuan Polyjuice tidak bisa dibuat dalam waktu semalam."

"Dan kami akan butuh kuali-kuali yang lebih besar," Harry berkata. "Kami akan membuatnya sebanyak yang kami bisa, secepat mungkin."

"Aku bisa pergi ke Diagon Alley untuk membeli kualinya," Hermione menawarkan.

"Akan lebih aman jika kalian pergi berpasangan. Apa ada yang ingin pergi dengan Hermione?" Lupin bertanya.

"Aku," Ernie berkata. "Aku ingin berkunjung dan melihat keluargaku selama kami diluar."

"Kami sebenarnya ingin melakukan itu juga," Michael berkata, menunjuknya dan Terry.

"Baiklah," Lupin berkata. "Itu akan lebih baik jika kalian berada dalam kelompok. Siapa lagi yang ingin pergi?"

"Kuharap aku bisa melihat Nenek, tapi Nenek masih dalam pelarian - jadi aku harus menunggunya untuk menghubungiku," kata Neville.

Luna menghela nafas. "Aku juga tidak tau dimana ayahku, tapi aku yakin ia ada di suatu tempat. Aku melihat edisi terbaru Quibbler beberapa hari sebelum pertempuran di Hogwarts."

"Well, itu berita bagus, bukan?" Ernie berkata, berusaha untuk lebih ceria.

"Aku ingin pergi dengan Hermione juga," Ginny berkata.

Tuan Weasley memandangnya tegas. "Aku tidak ingin kalian bertiga meninggalkan rumah sekarang."

"Aku bersama Hermione dan lainnya - itu akan baik-baik saja," Ginny memprotes.

"Tidak apa-apa, Ginny," Harry berkata. "Beberapa dari kita harus tinggal. Aku akan tinggal dengan Luna dan Neville."

George menghela nafas. "Aku benci kalau hanya duduk-duduk, tapi demi Ayah, kupikir aku akan tinggal."

Tuan Weasley tersenyum penuh syukur.

Ginny tampak kalah. "Baiklah."

"Jadi ini sudah diputuskan," Lupin berkata. "Aku ingin kalian semua melakukan perjalanan bersama-sama. Jangan pernah tinggal terlalu lama di suatu tempat. Jika akhirnya kalian berpisah, jangan coba-coba menemukan yang lain - kembalilah ke sini secepat mungkin. Aku akan merasa lebih baik jika tau kalian semua aman di sini, tapi itu tidaklah adil jika menjauhkan kalian dari keluarga kalian."

"Jangan khawatir, Lupin. Kami akan berhati-hati," Terry berkata.

Lupin mengusahakan senyum kecil. "Semoga sukses."

"Jika hanya itu, kita sebaiknya bersiap," Profesor Flitwick berkata.

Para profesor bangkit dari duduknya dan menuju pintu. Lupin dan Tuan Weasley berdiri bersama mereka dan mengikuti, mengawal mereka keluar dapur.

Ginny menepuk pundak Hermione. "Kau bilang aku bermimpi," katanya mencela.

"Aku minta maaf, Ginny. Aku ingin tetap menjaga rahasia ini, tapi Lupin berkata bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk mengatakannya pada semua orang."

Harry dam Ron telah berpindah untuk berdiri di sebelahnya.

"Apakah itu akan membunuhmu untuk mengatakannya pada kedua sahabat baikmu?" Harry berkata.

"Dengar, aku harus keluar dari sini sebelum aku kehilangan keberanianku. Dan aku khawatir Lupin akan berubah pikiran dan mengatakan aku tidak bisa pergi."

"Dan mengapa itu akan begitu mengerikan?" Ron berkata. "Bloody hell, Hermione, kau selalu mengatakan kalau kami ceroboh. Sekarang kau mengatakan pada kami kau pergi menemui Kau-Tau-Siapa sendirian?"

"Aku tau apa yang aku lakukan."

"Kau setidaknya tetap mengatakannya pada kami," kata Harry.

"Aku melakukannya untuk kita semua! Jadi tolong berhentilah bertingkah seolah aku melakukan kejahatan," Hermione membentak.

"Bisakah aku melihat Tanda Kegelapan lagi?" George bertanya. Dia masih duduk di samping Hermione.

Hermione menghela nafas dan mengeluarkan lengannya. "Silakan."

George memegang pergelangan tangannya dengan lembut dan menarik lengan bajunya ke atas, membalik lengannya ke atas di bagian paling putih lengannya.

"Bloody hell, aku tak percaya itu benar-benar ada disini," George berkata.

Ron menggelengkan kepalanya. "Tidak juga aku."

"Apakah itu sakit?" Ginny bertanya.

"Tidak lagi."

"Haruskah kita bersiap sekarang?" tanya Michael. Ia juga sudah berpindah sekitar meja dengan Terry.

Neville, Ernie, dan Luna tetap duduk di tempat awal mereka, membicarakan bahan-bahan untuk Ramuan Polyjuice.

"Ya, ayo," Hermione berkata. Ia berdiri, melepaskan tangannya dari George. "Ernie, apakah kau masih ingin ikut dengan kami?"

"Tentu saja," Ernie berkata. "Sampai jumpa, Neville, Luna."

Ernie berjalan di sekitar meja untuk bergabung dengan mereka.

"Kita semua bisa ber-Apparate, ya kan?" Hermione berkata.

Semuanya mengaangguk.

Hermione mengambil alih. "Baiklah. Ayo kita cari tahu di mana semuanya tinggal dan coba untuk bergerak ke keluarga yang jaraknya lebih dekat dalam waktu yang singkat. Lupin ingin kita semua bersama-sama, dan itu akan menjadi lebih mudah jika kita tidak mencoba untuk pergi terlalu jauh. Ada yang punya peta?"

Mereka melihat ke sekeliling.

"Hermione, bukankah kau pandai di geografi?" Ron bertanya.

Hermione menghela nafas. "Aku tidak mengingat seluruh Inggris, Ronald."

"Sirius mungkin punya satu diatas, walaupun aku ragu," Harry berkata. "Ayo kita ke atas dan mencarinya. Kemungkinan besar ada di ruang tamu, jadi kalian seharusnya mencari di sana. Aku akan mencari di dalam kamar tidurnya."

Hermione dan Ginny berpandangan saat yang lainnya keluar ruangan.

Ketika mereka sendirian, Hermione berkata, "Apakah Harry berbicara denganmu tentang Sirius?"

Ginny menggelengkan kepalanya. "Hampir tidak pernah. Kupikir itu masih sulit baginya."

Yah well, Hermione juga sangat sulit menerima kematian Draco. Ia bertanya-tanya bagaimana perasaan Harry jika ia membunuh Ginny saat itu juga.

Hermione berpura-pura memasang ekspresi peduli.

"Kuharap ia baik-baik saja."

Tidak, tidak juga.

"Ya, begitupun aku," Ginny berkata.

"Baiklah, ayo pergi. Cowok-cowok itu tak berbakat mencari sesuatu, jadi Luna-lah harapan kita satu-satunya, jika kita tidak membantu mereka," Hermione berkata, tersenyum meyakinkan.

Ginny tertawa mendengarnya dan berjalan keluar dari dapur.

Senyum palsu Hermione menghilang segera setelah Ginny membalikkan tubuhnya. Ia mengeratkan rahangnya dan mengikuti temannya berjalan keluar ruangan.