Vengeance

Author: elizaye

Translator: dei-enjel

Summary:

Ketika sahabat baik seorang gadis membunuh cinta sejatinya, seberapa jauh dia akan membalas dendam? "Baiklah, buktikan. Anggap orang ini adalah pelakunya, dan BUKTIKAN kau punya nyali untuk membunuh pembunuh Draco."

When a girl's best friend kills her one true love, how far will she go for revenge? "All right then, prove it. Pretend that this man is the culprit, and PROVE that you would have the guts to kill Draco's murderer."


Translator's Note: Maaf telah lama menanti, hehe. Tanpa panjang lebar lagi, selamat membaca. Semoga kalian suka terjemahannya. Seperti biasa, ditunggu review nya :)

Warning: Rate M (untuk dewasa ya) Translator udah cukup umur kok :p


Disclaimer: Always for J.K Rowling

Vengeance elizaye

Happy reading! Review ya :D


V. Rekan

Siang esok harinya, Hermione menunggu bersama Michael dan Ernie di lantai bawah ruang keluarga rumah Terry Boot. Mereka menunda kepergian mereka selama satu hari karena mereka tidak bisa menemukan petanya, dan ketika mereka akhirnya memutuskan kemana mereka akan pergi, Lupin kembali dengan berita kalau kebanyakan Pelahap Maut sedang memfokuskan pencarian di Diagon Alley hari itu. Jadi mereka menunggu hingga keesokan harinya untuk mempersiapkan kunjungan keluarga mereka.

Ayah Muggle Terry terlihat terkejut dengan jumlah tamu yang di bawa anaknya, namun ia tetap menyuguhi mereka dengan teh walaupun mereka mendesak kalau mereka tidak ingin apa-apa.

"Terima kasih, Tuan Boot," Hermione berkata, mengambil secangkir teh dari Muggle yang ramah itu dan melirik ke langit-langit. Ada desain mosaik yang rumit yang diletakkan di atap, dan Hermione mengagumi dalam hati pada keterampilan yang diperlukan untuk menghasilkan mantra apa yang akan menjajarkan ubin itu dengan begitu tepat.

"Aku tidak pernah melihat begitu banyak jenis sihir," Tuan Boot berkata dengan senyum yang lebar.

Terry kembali dari lantai atas dengan ibunya. "Dad, jangan ganggu mereka. Tunggu sampai Mum selesai mengepak semuanya, oke?"

Tuan Boot berdiri dan berjalan ke arah istrinya, berkata, "Aku masih tidak mengerti mengapa kita pergi dengan terburu-buru, sayang."

"Kau-Tau-Siapa sangat mungkin untuk datang kemari, dan lalu kita akan berada dalam bahaya yang besar," Nyonya Boot berkata.

"Aku tidak peduli! Tapi karena kau begitu khawatir, aku akan menghubungi rekanku dan mengatakan pada mereka aku akan cuti sakit untuk... seminggu, kau bilang?"

"Tidak, sayang, tidakkah kau mendengarku? Satu bulan, kubilang. Satu bulan."

Terry berbalik ke arah yang lainnya saat orangtuanya mulai berdebat. "Kita bisa pergi."

Saat kelompok itu berdiri dan berjalan ke arah pintu, Hermione tersenyum pada keluarga Boot yang masih berdebat. "Terima kasih telah menerima kami. Dan tehnya enak, Tuan Boot."

"Dengan senang hati" Tuan Boot berkata dengan senyum berseri sebelum kembali ke debatnya dengan istrinya.

Mereka meninggalkan rumah itu.

"Merlin, apakah ayahmu selalu sebahagia itu?" Ernie berkata.

Terry menggelengkan kepalanya. "Kuharap tidak."

"Jadi, berikutnya rumah Michael?" Hermione berkata.

Michael mengangguk. Pertama-tama mereka mengunjungi rumah Ernie; pemberhentian kedua mereka di rumah Terry, dan terakhir ke rumah Michael. Dari sana, mereka akan pergi ke Leaky Cauldron untuk membeli dua kuali dari Diagon Alley.

"Pada hitungan ketiga, kalau begitu."

Hermione memegang siku Ernie dengan erat.

Ketika mereka ber- Apparate ke rumah Ernie sebelumnya pada hari itu, ia gugup dan berakhir sekitar satu mili ke selatan dari rumahnya. Beruntungnya, ia tumbuh di lingkungan itu dan bisa menemukan yang lainnya sebelum mereka meninggalkannya untuk kembali ke Grimmauld Place. Setelah itu, Hermione membawa Ernie bersamanya dengan Apparate satu sisi ke rumah Boot tanpa satu kejadian pun.

Hermione merasakan sensasi tekanan yang familiar, dan ketika kaki mereka menyentuh tanah kembali, Hermone melihat sekeliling. Ah, Leaky Cauldron.

Ernie berkedip, terkejut. "Apa-apa yang kita lakukan disini?"

Hermione tersentak, berpura-pura bingung. "Aku benar-benar tidak tau-aku pasti lupa kalau kita masih akan berkunjung ke rumah Michael. Aku benar-benar minta maaf."

"Well, kurasa itu tak masalah," Ernie berkata. "Lupin mengatakan kita harus kembali saja ke Grimmauld Place jika kita berpisah, jadi kupikir mereka pasti sudah akan kembali dari rumah Michael."

Hermione mengangguk. "Ya, kau benar. Well, ayo kita beli beberapa kuali."

"Kau mudah dikenali. Mungkin kau sebaiknya disini saja," Ernie berkata.

"Tidak masalah. Kita akan ke dalam dan keluar lagi dalam beberapa menit."

Ernie mengambil nafas dalam. "Harus cepat, kalau begitu."

Sangat menyakitkan bagi Hermione untuk mengetahui betapa percayanya Ernie pada keputusannya, bahkan saat ia sedang mempersiapkan menyerahkan Ernie kepada Pelahap Maut; dia terhitung diakui sebagai Hermione Granger. Kemudian ia dan temannya akan melemah dan dikirim entah ke Manor ataupun Kementerian, dimana keduanya sudah dikendalikan Para Pelahap Maut.

Hermione mengambil nafas dalam, seperti untuk menenangkannya, dan berkata, "Ya, harus cepat."

Mereka melangkah menuju Leaky Cauldron dan bergerak secepat yang mereka bisa tanpa menarik perhatian yang tidak diinginkan. Mereka berhasil keluar ke dalam halaman dan mengetuk batu bata untuk memasuki Diagon Alley dan bahkan berhasil masuk ke Toko Kuali Potage. Hermione memilih dua kuali kuningan lipat yang besar dan bersembunyi di antara kuali lainnya yang dipajang di toko saat Ernie membayar di kasir.

Saat mereka keluar dari toko, Hermione mulai bertanya-tanya apakah mereka akan berhasil, setelah semua ini.

Baru saja pikiran itu terlintas dalam pikiran Hermione, pancaran cahaya merah menghampiri mereka. Hermione menyeret Ernie keluar dari jalan secepat yang ia bisa, namun satu rangkaian Mantra Bius yang baru membuat Ernie tak sadar.

Hermione mengangkat kedua tangannya tanda menyerah namun ia segera disambar oleh Mantra Bius yang lain. Hermione pingsan dan tak mengetahui apapun lagi.

"Lumos," Hermione berbisik.

Wajah Draco diterangi cahaya dari ujung tongkat Hermione. "Apa yang begitu mendesak?" Draco mendesis.

"Harry mencurigaimu setiap waktu. Aku khawatir."

"Aku tidak peduli apa yang dia pikirkan."

"Well kau harus peduli! Bagaimana jika kau ketahuan? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana-"

"Seorang Pelahap Maut akan ketahuan?" Draco memotong kasar.

"Shh, diam. Jangan katakan itu," Hermione berkata.

Mereka bersembunyi di dalam lemari sapu di sebuah koridor. Itu waktunya makan malam, dan hampir semua orang berada di Aula Besar.

"Aku hanya... Aku ingin mengatakan padamu untuk berhati-hati. Itu saja."

"Aku tidak butuh peringatanmu. Ini bukanlah kehidupanmu yang sedang terjebak."

Hermione melototinya. "Well, Aku minta maaf sudah mencemaskan apa yang akan terjadi padamu, karena kau pastinya tidak akan menghargainya."

"Tidak, aku tidak menghargainya. Aku sudah punya cukup masalah, tanpa perlu mengkhawatirkanmu, dan bagaimana kau selalu... resah dengan keselamatanku. Aku tau apa yang aku lakukan, jadi tolong bersikaplah seperti biasanya. Aku cukup tau Potter mengikutiku, aku tidak membutuhkanmu untuk memberitahuku."

Tangan Hermione bergerak dengan sendirinya, dan sebelum ia menyadarinya, Hermione menampar Draco.

"Jadi ini yang aku dapatkan ketika aku peduli. Berengsek kau, Draco."

Hermione keluar dari lemari dengan cepat, dan Draco tidak mengejarnya. Ia langsung menuju Aula Besar dan duduk di samping Ginny.

"Apa masalahmu?" Ginny bertanya, mengangkat alisnya pada ekspresi kemarahan Hermione.

"Ugh, bertemu Malfoy di luar. Aku tidak tahan pada musang yang tidak ada apa-apanya itu."

Ginny menghela nafas dan menyentak kepalanya pada pasangan yang berada di seberang meja. Hermione mendongak dan melihat Ron dan Lavender saling menempel di lengan masing-masing, dan Hermione dengan cepat menatap Ginny kembali, terlihat jijik.

"Mereka hampir sama tak tertahankannya seperti Malfoy." Ginny berbisik di bawah nafasnya.

Hermione tidak dapat mencegah kikikan saat mendengar komentar Ginny. Ia melirik ke atas bahunya tanpa menarik perhatian dan memperhatikan Draco memasuki aula. Pandangan mereka bertemu selama beberapa saat saat Draco berjalan menuju meja Slytherin, dan Hermione berpikir ia melihat sebuah permintaan maaf di dalam mata perak yang mencair itu. Kemudian Draco menjauhkan pandangannya, dan Hermione mengembalikan pandangannya pada makanannya.

Hermione terbangun berteriak dalam penderitaan yang sangat, namun itu kemudian menghilang segera saat ia membuka matanya. Hermione melihat sekeliling, terengah-engah, dan menyadari dari dekorasi hiasannya bahwa ia pastilah berada dalam suatu ruangan di dalam Malfoy Manor.

"Bangun, akhirnya," Bellatrix berkata.

"Rennervate seharusnya bisa digunakan," Hermione berkata pahit, berdiri di kakinya.

"Ya, tapi kurang menyenangkan."

Hermione menoleh untuk melihat Ernie yang tergeletak di lantai, masih tak sadar. Ia menoleh pada Bellatrix.

"Well, aku membawa satu orang murid yang lari dari pertempuran Hogwarts. Apa yang akan kulakukan selanjutnya?"

"Tidak begitu cepat, nona. Kau belum selesai dengan anak ini."

Hermione tiba-tiba penuh dengan firasat buruk.

"Hari ini, kau akan berlatih menggunakan Kutukan Cruciatus."

"Padanya?"

"Mereka semua berkata kau pintar, tapi kau sama sekali tidak terlihat pintar untukku. Ya, tentu saja, kau akan berlatih padanya."

Hermione mengambil nafas dalam dan menunjuk tongkatnya pada tubuh yang masih tergeletak di lantai itu. Ia melirik pada Bellatrix dari sudut matanya dan melihat ada ekspresi kegembiraan yang tidak berbeda saat ia melihatnya pada hari Bellatrix melihat Draco menggunakan Kutukan Cruciatus pada Hermione.

Kebencian pada wanita itu melonjak, dan Hermione menyalurkannya dalam niatnya saat ia mengucapkan kata itu.

"Crucio."

Ernie tersentak bangun dengan kasar, merintih kesakitan. Tubuhnya mengejang, dan Hermione mengangkat tongkatnya tanpa berpikir.

"Her-Her-Hermione?" Ernie tersentak.

Ernie mendongak ke arahnya, matanya melebar, dan Hermione hanya bisa melihat lantai, tidak mampu bertemu dengan tatapannya.

"Lagi," Bellatrix membentak, jelas terlihat tidak suka dengan reaksi Hermione.

Hermione menunjukkan tongkatnya pada Ernie lagi, dan Ernie merintih ketakutan.

"Crucio."

Hermione mencoba memblokir gambar dari pemuda yang menggeliat di depannya, mencoba melupakan rasa sakit yang menyertai dirinya sebelumnya - ia hampir tidak bisa menahan bayangan bahwa dialah yang menyebabkan rasa sakit pada Ernie yang telah sangat mempercayainya.

Akhirnya, Hermione tidak bisa menahannya lagi dan mengangkat tongkatnya lagi.

Ernie mengambil satu tarikan nafas yang dalam, lega.

"Lagi."

Hermione mendongak ke arah Bellatrix. "Tapi-" Hermione mulai protes.

"Lagi," Bellatrix dengan keras kepala mengulangi.

Hermione hampir meminta maaf dengan suaranya pada Ernie namun ia menghentikan dirinya pada saat terakhir.

"Crucio!" Bellatrix berteriak.

Ernie menggeliat lebih liar daripada sebelumnya, teriakannya memenuhi seluruh ruangan dan bergema di dinding. Wajah Bellatrix cerah dengan kegembiraan, dan Hermione merasa benar-benar memberontak. Ia ingin membius Bellatrix dan membawa Ernie langsung kembali ke Grimmauld Place, dimana dia bisa aman kembali.

Tapi apa yang ia harapkan? Hermione seharusnya tau bahwa ini akan menjadi takdir Ernie, ia harus menerima bahwa segera setelah ia memilih Ernie untuk dibawa kemari, Ernie akan menderita dengan cara seperti ini.

Akhirnya, teriakannya berhenti. Ernie tak sadarkan diri.

"Dia lemah," Bellatrix berkata santai. Kemudian ia membalikkan tubuh pada Hermione dan berkata, "Kau terlalu lembut."

"Apa yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya?" Hermione bertanya dengan suara yang dapat ia keluarkan.

"Jika itu pilihanku, aku akan membuatmu merasakan sakitnya Kutukan Cruciatus hingga kau lupa apa itu hidup tanpa rasa sakit. Aku akan pastikan kau tahu bahwa satu-satunya cara untuk melarikan diri dari rasa sakit itu adalah dengan menimbulkan rasa sakit pada orang lain dan membuat mereka menderita lebih mengerikan daripada apa yang kau rasakan."

Keheningan tercipta selama hampir satu menit saat kedua wanita itu saling menatap satu sama lain.

"Tetapi sayang, Pangeran Kegelapan punya rencana yang lain," Bellatrix akhirnya berkata. Ia berbalik. "Zabini!"

Satu sisi pintu terbuka, tetapi Hermione tidak menoleh-ia menolak menunjukkan ketertarikan.

Hermione mendengar suara Blaise Zabini, "Haruskah aku membawa Macmillan dan menguncinya bersama yang lain?"

"Tidak, tidak. Kau punya pekerjaan yang lebih penting untuk dilakukan," Bellatrix berkata.

Bellatrix menjentikkan jarinya, dan seorang peri rumah muncul di belakangnya, di baris penglihatan Hermione. Hermione menyadari bahwa makhluk lemah itu memiliki jari-jari rata yang terbungkus perban putih dan ingat apa yang pernah Dobby ceritakan tentang perlakuan yang diberikan padanya di Malfoy Manor.

"Bawa bocah laki-laki itu menjauh dan kurung dia," Bellatrix berkata. "Ketika ia bangun, tanyakan padanya apa ia lapar. Beri makan ia jika itu perlu. Kemudian katakan padanya aku akan kesana untuk... berkunjung."

Peri rumah itu membawa Ernie pergi.

Segera setelah pintu menutup, ujung jemari Bellatrix menekan lengan Hermione, membalikkan tubuhnya menghadap Zabini. Hermione bertemu mata pemuda itu, tak goyah.

"Aku percaya kalian berdua pasti pernah bertemu sebelumnya."

Hermione mengangguk. "Zabini."

"Granger," Zabini menjawab.

"Blaise, kau dan Granger, kalian berdua kembalilah ke Orde bersama-sama."

Hermione hampir tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya dan ingin memprotes, namun Blaise yang pertama berbicara.

"Tidak mungkin aku ingin pergi ke tempat dimanapun itu bersama sampah Darah Lumpur ini."

"Pangeran Kegelapan yang memerintahkan itu. Kau berani melawannya?"

Pandangan marah Zabini beralih ke lantai.

"Pangeran Kegelapan tidak mugkin serius," Hermione berkata. "Bagaimana bisa aku diharapkan membawa seorang Pelahap Maut-"

"Ah, tapi kau lihat..." Bellatrix mengambil dua langkah panjang untuk mencapai sisi Zabini dan menarik lengan bajunya untuk menunjukkan lengan atasnya yang bersih, "... Blaise bukanlah seorang Pelahap Maut."

Mata Hermione membulat walaupun ia berusaha untuk menutupi keterkejutannya. Zabini menurunkan lengan bajunya kembali.

"Kau katakan saja kau melihatnya sudah keluar ruang bawah tanah, mencoba melarikan diri, dan memutuskan menolongnya sebelum kami menangkapnya kembali. Kemudian, meminta kalian untuk bekerja sama, jadi kau bisa mengawasinya setiap waktu."

Zabini mulai berjalan menuju pintu. "Persetan dengan ini! Aku tidak ingin-"

"Apakah kau bermaksud untuk mundur?" Bellatrix bertanya. "Jika ya, kuharap kau siap menghadapi akibat telah mengkhianati Pangeran Kegelapan."

Zabini menghentikan langkahnya, dan Bellatrix tersenyum jahat. Zabini berbalik perlahan dan kembali ke sisi Bellatrix. Ia melototi lantai, marah.

"Dalam waktunya dengan Granger, kau akan mengikuti perintahnya. Sebanyak tidak sukanya aku pada Darah Lumpur, dia lebih pintar darimu, dan jika aku memiliki pilihan, kau tidak akan bisa meninggalkan Manor ini hingga kau membuktikan dirimu layak."

"Kau pikir aku tidaklah layak?"

"Tentu saja. Jelas, Pangeran Kegelapan setuju. Jika tidak, kau sudah menjadi salah satu dari kami."

Zabini tidak memiliki kata-kata jawaban untuk kalimat itu.

"Granger, sekarang aku akan mengikat Blaise denganmu..."

Rahang Zabini turun, dan Hermione berkedip, matanya lebih lebar daripada sebelumnya. "Apa?"

Bellatrix melanjutkan seolah ia tidak mendengar Hermione, "... jadi kau akan bisa mengendalikannya. Ikatan ini akan berakhir apabila ada persetujuan diriku atau Pangeran Kegelapan sendiri, atau jika salah satu dari kalian mati. Bagaimanapun, jika satu dari kalian mati, yang satunya lagi akan bertanggung jawab sepenuhnya. Apakah kalian memahamiku?"

Hermione mengangguk singkat. Zabini tampaknya berpikir untuk membuat pelarian dari perintah itu, dan Hermione berharap ia melakukannya.

Bellatrix menyihir satu meja kecil dengan mangkuk yang berisi cairan bening berada di atasnya.

Hermione merasa mual saat ia berjalan menuju Bellatrix dan Zabini. Ia mengeluarkan tongkatnya, namun Bellatrix menghentikannya.

"Aku harus menggunakan pisau untuk memotongnya."

Hermione mengulurkan tangan kirinya, dan Bellatrix mengiris ke dalam telapak tangannya dengan sebuah pisau perak. Hermione mendesis kesakitan saat ia melihat darah mengalir dari lukanya dan menetes di mangkuk. Tetesan darah itu berputar-putar saat mereka menyentuh cairan itu, dan kemudian Bellatrix menggumamkan mantera untuk menutup lukanya.

Bellatrix mengulangi prosesnya dengan tangan kiri Zabini. Kemudian ia menutup matanya dengan ujung tongkatnya melayang di atas permukaan cairan yang memerah.

Hermione mendongak melihat Zabini melototinya. Ia mengalihkan pandangannya ke bawah kembali dan melihat cairan itu berubah menjadi hitam.

"Granger, kau yang pertama meminumnya. Seteguk cukup."

Hermione meraih untuk mengambil mangkuk itu dan menaikkannya ke bibirnya. Ia menyentuhnya ke dalam mulutnya. Cairan itu berubah sangat kental, hampir seperti pasta, dan rasanya manis menjijikkan. Ia meneguk dengan cepat dan terbatuk saat cairan itu membakar tenggorokannya. Ia meletakkan mangkuk itu kembali, merasa mual di perutnya. Ia baru saja meminum darah-atau apapun yang awalnya adalah darah.

Zabini menyemprotkan sedikit yang ia rasakan pertama kali.

Bellatrix murka. "Apa yang kau pikir baru saja kau lakukan?" Ia mengayunkan tongkatnya untuk membersihkan noda yang Zabini semprotkan.

Zabini melototinya, menaikkan mangkuk dan mendongakkan kepalanya ke belakang, menenggak sisa cairan kental itu. Ia membanting mangkuk kosong itu kembali ke meja. Hermione menoleh ke arahnya, bertanya-tanya bagaimana ia bisa menahan begitu banyak rasa manis yang menjijikkan itu.

Bellatrix mengayunkan tongkatnya kembali, dan mangkuk serta meja menghilang.

"Pergilah. Aku mengira kau sudah pergi cukup lama, dan mereka akan bertanya-tanya apa yang terjadi padamu."

Hermione mengangguk. "Sampai jumpa."

Hermione mulai berjalan menuju pintu.

"Well, Zabini?" ia mendengar Bellatrix berkata.

Kemudian ia mendengar langkah kaki di belakangnya.

Hermione menahan dari desakan untuk menghela nafas yang dalam. Ia benar-benar butuh memikirkan ini kembali, tapi ia begitu takut untuk berpikir begitu banyak di depan Bellatrix, takut pada kemampuannya di Legilimens. Hermione percaya diri pada kemampuannya sendiri di Occlumens, tapi itu lebih baik daripada mengambil resiko.

Segera saat mereka berada di luar gerbang Manor, Hermione memutuskan ia ingin berbicara dengan Zabini sebelum mereka pergi ke Grimmauld Place. Hermione berbalik untuk berhadapan dengannya dan melihat Zabini memiliki senyum kecil di wajahnya.

"Apa yang membuatmu tersenyum?"

"Aku tidak pernah menyangka kau akan datang untuk Draco," Zabini berkata.

"Well, ya. Kejutan, kejutan. Dengar, kita harus membicarakan apa yang akan terjadi ketika kita sampai di Orde," Hermione berkata.

"Tentu. Aku mendengarkan."

"Pertama-tama, kau tidak akan pernah mengatakan pada siapapun lokasi markas besar, atau pergi tanpa izinku, atau menculik siapapun yang berada disana."

Zabini mengangguk.

"Lalu, kau harus berpura-pura menjadi bagian jika kau akan tinggal di Orde. Itu berarti tidak ada lagi 'Darah Lumpur Kotor', 'Darah Campuran Bau', atau 'Darah Pengkhianat Tak Berguna'."

Zabini mengangguk lagi, dan Hermione menyadari bahwa ia sudah mendekat. Ia tidak setinggi Draco, tapi pemuda itu masih menjulang lebih tinggi darinya, jadi ia mengambil satu langkah ke belakang.

"Ketika kita menjelaskan apa yang terjadi, kau diperbolehkan untuk membuat cerita sejauh tentang menyelamatkan diri dari penjara jika terdesak. Setelah itu, aku akan mengambil alih, dan kau akan mengikuti alurku."

Zabini mengangguk, dan punggung Hermione menyentuh gerbang besi yang ditenpa.

Saat Zabini mengangkat tangannya, Hermione mendesis, "Jangan sentuh aku."

Tangan Zabini membeku satu helai rambut dari pipi Hermione, dan Hermione mendorong tangan itu menjauh darinya.

"Sepertinya sihir ikatan terkutuk itu bekerja," Zabini berkata.

"Bagus."

Hermione menyambar tangannya dan, tanpa peringatan, ber-Apparate menuju pintu masuk Grimmauld Place.

Zabini menghela nafas saat ia melihat bangunan itu. "Serahkan pada Da-" suaranya tercekat pada keinginannya sendiri ketika ia mencoba menyucapkan kata-kata terlarang itu.

Hermione melototinya.

"Oke, Baiklah. Serahkan pada orang-orang yang tepat untuk memilih tempat yang suram seperti ini untuk menjadi markas besar. Ini bahkan tidak mendekati Manor."

"Oh diamlah," Hermione berkata.

Ia membuka pintu. Ron, yang datang menuruni tangga, melihat Zabini dan mengutuk keras.

"Kau! Apa yang kau-"

Tirai terbuka, dan Nyonya Black mulai berteriak lagi.

"Bloody hell, siapa itu?" Zabini berteriak.

Hermione mengerang, jengkel. "Ron!"

Hermione bergegas ke dapur saat Harry keluar untuk menyelidiki sumber kebisingan. Melihat Slytherin di belakang Hermione, matanya membulat, dan ia mengeluarkan tongkatnya. Hermione menyadari bahwa ia tidak memberikan Zabini perintah untuk tidak menyerang anggota Orde dan dengan panik berpikir, Jangan berani-beraninya kau menyentuh tongkatmu, Zabini , berharap jiwanya akan cukup mengontrolnya.

"Tenang. Aku akan menjelaskannya dalam semenit." Hermione berkata pada Harry.

Ron juga memiliki tongkat yang terancung pada Zabini saat mereka bergerak menuju dapur.

Hermione menyadari bahwa ia bisa merasakan Zabini gatal ingin mengambil tongkatnya. Itu berarti pikirannya bekerja untuk mengendaliannya. Kenyataan baru ini mengagetkan.

Saat mereka memasuki dapur, Hermione melihat George, Ginny, Neville, Luna, Michael, dan Terry membuka paket dan mengecek bahan.

Semua orang mencabut tongkat mereka segera saat Zabini memasuki ruangan, dan Hermione mulai bertanya-tanya jika Zabini ikut bertempur pada sisi Kegelapan di Hogwarts. Ia tidak melihatnya dalam pertempuran.

Jangan sentuh tongkatmu, Hermione mengingatkan Zabini dalam kepalanya.

Kemudian ia duduk di bangku dan menyender meja sehingga ia dapat berhadapan dengan Zabini. "Tenang, semuanya. Aku akan menjelaskan."

Tidak ada satupun dari mereka yang menurunkan tongkat mereka.

Hermione frustrasi namun tetap melanjutkan, "Mereka menyergap kami-aku dan Ernie-di tengah Diagon Alley dan membawa kami ke Manor. Aku dilepaskan, tapi mereka mengambil Ernie."

"Sayang," Luna berkata lembut. "Dia orang baik."

"Sayang? Itu saja yang bisa kau katakan padanya?" Terry berkata. Ia menoleh ke arah Hermione. "Kupikir kau seharusnya melakukan sesuatu untuk itu."

"Dan apa yang seharusnya kulakukan, menyelamatkannya? Aku bisa saja pergi dan pastinya itu mengumumkan kesetiaanku pada Orde!"

"Dia benar, kau tau," George berkata.

"Well, bagaimanpun apa yang kalian lakukan di Diagon Alley?" Michael bertanya. "Kita seharusnya ber- Apparate ke rumahku, bukan ke Leaky Cauldron."

Hermione menunduk. "Ernie yang menyarankannya. Aku tidak melihat hal-hal yang membahayakan, sejak kita telah menjenguk keluarganya, dan itu tidak seperti kita akan mendapatkan apa-apa dari kunjungan keluargamu."

"Tapi Lupin mengatakan agar kita selalu bersama," Ron menunjukkan.

"Well, kupikir aku membuat keputusan yang tepat. Jika kita semua bersama-sama pergi ke Diagon Alley, kemudian pastinya Michael dan Terry juga akan diculik, aku yakin itu. Ada sekitar selusin orang yang menembakkan Mantera Pelumpuh padaku dan Ernie. Aku ragu memiliki dua orang lagi akan membantu kami melarikan diri."

Keheningan mengikuti kata-katanya.

Kemudian Harry bertanya, "Apa yang Zabini lakukan disini?"

"Aku hendak keluar dari Manor, dan melihat satu pintu toilet terbuka sedikit. Ia bersembunyi di dalam sana dan akan melarikan diri," Hermione berkata. Bicara sekarang, Hermione berpikir.

"Mereka-" Zabini memulai.

"Tidak ada yang bertanya padamu," Ron berkata, menunjuk tongkatnya ke arah Zabini.

Zabini berbalik, meraih tongkatnya.

"Tidak, berhenti!" Hermione berkata.

Zabini diam disana hanya melototi Ron sementara Ron hampir tidak bisa menahan dirinya untuk mengutuk si Slytherin. Semua yang ada di ruangan merasakannya.

Hermione menghela nafas. "Mereka mengurungnya di bawah tanah dengan murid lain, di sel yang terpisah. Aku tidak tau bagaimana ia bisa keluar." Hermione mendongak pada Zabini.

"Weasley-tidak akan menyerangku karena berbicara, kan?" Zabini menggeram.

"Oh, hentikanlah," Hermione berkata. "Bisakah tolong semuanya menurunkan tongkat?"

"Sejujurnya, aku merasa aman seperti ini," George menjawab.

"Zabini, berikan padaku tongkatmu-tolong," Hermione.

Zabini meraih ke dalam jubahnya dan mengeluarkan tongkatnya.

"Expelliarmus!" Ron berteriak.

Zabini terpelanting ke belakang, kepalanya membentur meja. Ia bertekuk di lantai, dan Ron menangkap tongkat yang terbang ke tangannya.

"Ronald Weasley!" Hermione berseru tak setuju saat ia membantu Zabini bangun ke bangku di sebelahnya.

"Kau yakin dia bukan Pelahap Maut, Hermione?" Neville bertanya.

"Ya ampun, kau akan berpikir kita akan melewati kecurigaan dari Asrama sekarang" Hermione berkata.

Hermione tahu dia munafik, tapi satu-satunya orang yang akan tahu hanyalah Zabini, dan ia sekarang terlalu sibuk menggosok bagian belakang kepalanya untuk menyadarinya.

"Hanya karena dia di Slytherin bukan berarti dia Pelahap Maut," Hermione melanjutkan. Ia menarik lengan kirinya dan menaikkan lengan bajunya. "Lihat? Tidak ada Tanda. Aku tidak bodoh."

Setelah beberapa saat hening karena syok dari teman-temannya, Ginny berbicara.

"Bagaimana kau bisa keluar?"

Zabini hanya melototi Ron, menolak untuk berbicara.

"Ron, kembalikan tongkatnya," Harry berkata.

"Harry..."

"Dia akan mendapatkan delapan tongkat padanya, dalam keadaan siap. Apa yang akan dia lakukan?" George berkata.

Ron dengan enggan mengembalikan tongkat Zabini kepadanya, namun Zabini secara otomatis menyerahkannya pada Hermione. Hermione mendongak padanya, sama terkejutnya seperti yang lain, tapi kemudian ingat ia telah memberikan perintah pada Zabini, dan Zabini tak bisa menolak.

Zabini menjelaskan pada semuanya dengan santai, "Jadi kalian tidak akan menduga aku akan meraih apapun."

Ketika tidak ada yang keberatan, Zabini lanjut berbicara.

"Seorang Peri Rumah mengenaliku karena Draco adalah teman baikku dan mengajakku ke rumahnya beberapa kali. Peri Rumah itu berpikir Tuannya sudah membuat kesalahan, jadi ia membiarka aku keluar."

Mereka melihat Zabini tak percaya.

"Apa? Aku tidak menolaknya," Zabini berkata.

"Kami tidak terkejut kau menerima bantuan dari seorang Peri Rumah," Terry berkata. "Hanya saja..."

"Sulit dipercaya," Michael melanjutkan untuk Terry.

"Well, aku tidak tau apa lagi yang mau kukatakan pada kalian."

"Bagaimanapun," Hermione berkata. "Aku memutuskan, ketika aku melihatnya, kalau kita bisa menggunakan segala bantuan yang bisa kita dapatkan. Jika Lupin kembali dan mengatakan jangan biarkan dia tinggal, aku sendiri yang akan menghapus memorinya. Sampai itu tiba, aku akan memperhatikannya. Puas?"

Semua mata beralih pada Harry, yang merenungkannya sejenak.

"Yah, baiklah," Harry akhirnya berkata. "Lupin mungkin tidak akan kembali dalam beberapa hari - para profesor sedang berkeliling mencari bantuan, dan membunuh Pelahap Maut jika mereka menemukannya. Madam Pomfrey mampir memberikan kita paket ini sementara kalian keluar, dan dia sekarang pergi ke Perancis. Kupikir Zabini dapat tinggal disini sampai Lupin kembali. Dia tidak diizinkan meninggalkan rumah ini juga."

Hermione mengangguk.

"Bisakah aku memiliki tongkatku sekarang?" Zabini bertanya pada Hermione.

"Tidak-jangan berikan itu padanya," Ron berkata.

"Kau aman disini, Zabini. Kau tidak membutuhkannya," Hermione berkata.

"Aman? Tidakkah kau lihat apa yang weasel ("musang") itu lakukan padaku?"

Hermione membuat catatan dalam hati kalau 'weasel' juga terlarang. "Dia hanya melucutimu. Jika kau tidak punya tongkat, dia tidak akan punya alasan untuk melucutimu."

"Ada banyak kutukan yang sangat mungkin ingin mereka lontarkan padaku, Hermione."

"Granger untukmu," Hermione berkata tajam.

Yang lain telah kembali menyusun bahan-bahan dan menandai peti-petinya.

Harry mengisyaratkan Ron untuk ke luar, dan kemudian berkata, "Hermione, ayo bantu kami mengurus Nyonya Black."

Hermione berdiri. "Baiklah."

Hermione mengikuti Harry ke pintu dan menoleh pada Zabini yang terlihat takut ia pergi. Hermione tau ego Zabini tidak akan pernah memintanya untuk tinggal.

Jangan melakukan sesuatu yang bodoh. Kau tidak memiliki tongkat, dan kau tau Ginny membenci nyalimu. Jangan memancingnya.

Dengan perkataan itu, Hermione keluar dan menutup pintu di belakangnya. Setelah beberapa usaha, Harry, Ron, dan Hermione berhasil menarik tirai ke tempatnya. Kemudian Hermione mulai berjalan menuju dapur kembali. Mungkin bukanlah ide bagus meninggalkan Zabini sendirian dengan yang lain untuk jangka waktu yang lama.

"Hermione," Harry memanggil. "Bisakah kau kemari dengan kami? Kita belum sendirian, hanya kita bertiga, untuk waktu yang lama. Kita benar-benar harus berbicara."

Hermione mengangguk. "Baiklah."

Ia mengikuti Harry dan Ron ke atas ke kamar mereka.

Harry menutup pintu dan bergumam, "Muffliato."

"Apa yang terjadi padamu?" Ron menuntut segera setelah ia tau tidak ada orang diluar yang bisa mendengar mereka.

"Apa maksudmu?" Hermione bertanya.

"Sejak kapan kau memperlajari Occlumency dengan Snape? Mengapa kau tidak mengatakan pada kami kau akan menjadi Pelahap Maut? Bagaimana kau bahkan bisa berhasil melakukan itu? Dan mengapa kau membela Blaise Zabini, dari semua orang? Dia musuh!"

"Tenang, Ron," Harry berkata. "Hermione, kami hanya ingin mengetahui kalau semuanya baik-baik saja."

"Aku pikir aku sudah menjelaskan mengapa aku tetap merahasiakan ini dari kalian berdua. Selain itu, jika aku mengatakannya pada kalian, kalian tidak akan mengizinkanku."

"Tepat!" kata Ron.

"Kita perlu mengetahui apa yang mereka lakukan, apa yang mereka rencanakan," Hermione berkata.

"Well sudahkah kau menemukan sesuatu?"

"Belum, tapi aku juga baru saja bergabung-Voldemort tidak mungkin dapat mempercayakan informasi yang sangat penting padaku."

"Well... kau memberikan Ernie pada Pelahap Maut!" Ron berkata.

"Kami diserang! Tidak ada yang bisa kulakukan untuk menyelamatkannya tanpa ketahuan!"

"Jangan marah," Harry berkata.

Hermione melanjutkan, "Dan jangan menuduhku membela Zabini. Aku juga tidak menyukainya! Tapi dia adalah murid Hogwarts yang cukup beruntung bisa keluar dari penjaranya, dan tidak ada yang melihat, jadi aku punya kekuatan untuk menolongnya! Apakah kau benar-benar berpikir bahwa aku hanya akan pergi? Selain itu, dia bisa membantu kita-suka atau tidak, kita semua tau dia pintar."

Wajah Ron merah karena marah, tetapi tidak ada yang bisa ia katakan.

"Sekarang jika kau terus menerus mengatakan kesalahan dari setiap yang kulakukan, aku akan menganggap bahwa itu dikarenakan aku tidak ingin menciummu, dan itu yang akan kukatakan pada orang-orang."

Ron terlihat seperti ditampar, dan Harry tersentak.

"Teman-teman, aku lelah," Hermione berkata sebelum mereka berdua bisa mengatakan apa-apa. "Aku lelah menjadi baik, gadis manis yang akan tersenyum bahkan ketika keadaan sulit. Kita dalam peperangan. Aku memilih pekerjaan menyenangkan sebagai mata-mata, yang sangat penting bagi kedua sisi, namun semua yang kudapatkan hanyalah pengawasan terus menerus. Tidak ada yang mempercayaiku, dan aku mulai menemukan diriku lebih sulit untuk mempercayai orang lain."

Hermione tidak bermaksud mengungkapkan perasaannya dengan suara, namun setelah mereka keluar, Hermione merasa lega. Ia mulai mengerti mengapa Snape mengembangkan sikap dingin. Ia baru saja menjadi mata-mata selama beberapa hari, dan ia mulai merasa seperti ia akan kehilangan akal. Snape sudah menjadi mata-mata selama bertahn-tahun...

Harry dan Ron hanya melihatnya, seolah tidak yakin bagaimana mereka sebaiknya menjawab.

"Aku minta maaf jika kalian tidak suka bagaimana aku berubah. Tapi aku benar-benar tidak tau bagaimana lagi untuk mengatasi situasiku sekarang," Hermione berkata dengan helaan.

"Kau bisa mengatakannya pada kami, kau tau," Harry berkata. "Tentang-"

Hermione menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak bisa mengatakan apa-apa padamu. Aku tidak ingin berbicara tentang misiku kecuali itu penting. Tanpa ragu, Voldemort akan langsung memusatkan pada misiku jika ia memilah lewat pikiranku, dan aku mungkin mampu menyembunyikan beberapa kenangan darinya, tapi aku tidak bisa mengambil resiko mengeluarkan percakapan apapun yang mungkin ia lihat sebagai ancaman. Bahkan percakapan yang kita lakukan sekarang, aku tau aku akan menyembunyikannya."

Tiba-tiba rasa panik yang aneh merayap di dadanya.

"Aku... minta maaf, Hermione," Ron berkata. "Aku tidak tau betapa tertekannya dirimu."

Rasa panik itu meningkat, namun Hermione mampu menjaga suaranya tetap berada dalam tingkatnya.

"Well, sekarang kau tau."

Denyut jantungnya meningkat, dan ia hampir mulai merasa mual. Tidak ada penjelasan yang masuk akal soal ini!

"Ayo kembali ke bawah," Hermione berkata.

"Baiklah," kata Harry, membuka pintu.

Mereka mendengar pukulan teredam yang datang dari bawah dan Hermione tersentak. Ia dengan diam mempercepat ke bawah, diikuti lekat oleh Harry dan Ron. Hermione menggoncangkan gagang pintu dan tidak bisa membukanya, jadi ia mengeluarkan tongkatnya.

Alohomora! Kuncinya berbunyi, dan ia mendorong pintu itu terbuka.

Mereka bertiga segera ke dalam dan menutup pintu jadi mereka tidak akan menganggu Nyonya Black diluar.

Neville dan Ginny ditahan oleh Michael dan Terry, yang berteriak parau agar George berhenti. George, sementara itu, sudah menjepit Zabini di dinding dan memukulnya berkali-kali di wajahnya.

"Aku sudah katakan mereka akan datang," Luna berkata dengan tenang ketika mereka masuk-ia masih berdiri di bahan-bahan dan terlihat tetap netral.

"Berhenti, semuanya," Harry berkata. "Kalian semua."

Mereka semua berhenti memberontak kecuali George, yang masih melanjutkan memukul wajah si Slytherin.

"George, berhenti!" Hermione berteriak. Ia mengayunkan tongkatnya, dan George terhuyung ke belakang beberapaa langkah.

"Apa yang terjadi?" Ron bertanya.

"Dia..," Ginny menunjuk Zabini, yang meluncur ke lantai dalam keadaan menumpuk, "memanggilku seorang... seorang..."

"Jangan ulangi," kata George emosi. "Aku tidak bisa menjamin aku akan bisa mengendalikan diriku sendiri."

Hermione telah berjongkok di depan Zabini dan meletakkan tangannya di pipinya untuk memutar wajahnya ke sisi lain. Zabini tidak menolah. Hermione menggelengkan kepalanya.

"George, kau tidak bisa hanya membiusnya dan membiarkannya seperti itu?" Hermione berkata, berdiri dan berbalik.

"Membiusnya? Aku bahkan akan mengutuknya sampai mati, tapi kedua orang berengsek itu melucutiku, Ginny, dan Neville sebelum kami bisa melakukan apa-apa," George berkata.

"Dengar, ia hanya mengatakannya. Itu tidak sepadan untuk alasan membunuh," kata Michael.

Hermione menghela nafas. "Zabini, kau baik-baik saja?" ia bertanya tanpa menoleh ke arahnya. Hermione mendengar Zabini berdiri, menggunakan dinding untuk menyokongnya.

"Yah, aku baik-baik saja. Bisakah aku memiliki tongkatku sekarang? "

"Ayo," Hermione berkata, mengabaikan pertanyaannya. "Aku tidak akan membiarkan kalian semua terlibat dalam perkelahian yang lain."

Hermione keluar dapur dan memimpin Zabini naik tangga menuju kamarnya.

"Muffliato," Hermione berkata saat ia menutup dan mengunci pintu.

"Terima kasih," Zabini bergumam.

Hermione membalikkan badan. "Apa?"

"Terima kasih," Zabini berkata kasar, kali ini lebih keras.

"Untuk apa?"

"Berada disana sebelum dia membuatku pingsan. Itu akan sangat memalukan."

Hermione menghela nafas. "Kau sudah dikalahkan seperti itu, dan kau masih khawatir tentang penampilan? Ugh, tidak mengherankan kalau kau dan Draco itu teman dekat."

Zabini terkekeh. "Yah, kami hampir mirip. Tapi dia selalu punya lebih banyak keberuntungan dengan gadis."

"Oh, benarkah? Apa yang membuatmu berkata demikian?"

"Well, bukankah itu sangat jelas? Dia memiliki seseorang yang sangat mencintainya."

Hermione menyadari bahwa Zabini sedang berbicara tentang dirinya. "Oh. Ya, well..."

Zabini menghela nafas. "Aku tau tentang kau dan Draco."

Hermione mengerutkan kening. Tau? Dalam kalimat past tense? Apakah yang dia maksud dia sudah tau sebelum dia mengatakannya pada Voldemort dan Para Pelahap Maut?

"Draco tidak berencana itu terjadi, tapi kami ini sahabat baik," Zabini menjelaskan. "Kami tidak minum selama berbulan-bulan, jadi aku mengatakan padanya ini sudah waktunya untuk bersenang-senang. Kami lalu pergi ke bar, dan beberapa botol firewhiskey kemudian, dia tak sengaja menyebutkannya. Dia terus saja berbicara tentang bagaimana khawatirnya dia dengan keselamatanmu."

Hermione berbalik. Ia tidak ingin menunjukkan kelemahan di depan Zabini.

"Kupikir dia mulai gila, tapi pagi harinya ketika kami setengah sadar, aku bertanya padanya tentang itu, dan dia ragu-ragu, jadi aku mulai menyodorinya pertanyaan. Akhirnya, dia menjelaskannya."

"Jadi," Hermione berkata tanpa membalikkan tubuhnya, "kau mengetahui semuanya."

"Ya. Teman-temanmu percaya kau berpura-pura, dan itu juga yang Pelahap Maut pikirkan, awalnya. Tapi aku tau itu kebenarannya."

"Kau ada disana malam itu?" Hermione bertanya, kembali membalikkan tubuhnya.

Hermione tidak mengenalinya, tapi lagipula, dia terlalu sibuk untuk bertahan hidup dan berpura-pura pada pertunjukan untuk meyakinkan mereka. Semua Pelahap Maut juga terlihat sama baginya di belakang topeng mereka.

Zabini mengangguk. "Mereka membiarkanku mengenakan jubah dan topeng."

"Oh, begitu."

Setelah jeda, Zabini berkata, "Draco, dia... dia pikir kau tidak akan pernah meninggalkan sisi Baik, dan itu membunuhnya karena ia tidak bisa meninggalkan sisi Gelap. Aku hanya berharap dia tau bahwa kau bisa-bahwa kau datang untuknya."

Tidak dapat mempercayai suaranya, Hermione berbisik, "Aku juga."

Mata mereka bertemu, dan untuk sesaat, mereka saling mengerti satu sama lain, bersama-sama merasakan duka karena kehilangan orang yang sama. Seolah-olah pada saat itu, segala rasa permusuhan yang mereka rasakan satu sama lain hancur.

"Terima kasih, Zabini."

"Ketika kita sendirian, kau bisa memanggilku Blaise."

"Kalau begitu, terima kasih, Blaise."

Bagaimana? Review ya :D