Vengeance

Author: elizaye

Translator: dei-enjel

Summary:

Ketika sahabat baik seorang gadis membunuh cinta sejatinya, seberapa jauh dia akan membalas dendam? "Baiklah, buktikan. Anggap orang ini adalah pelakunya, dan BUKTIKAN kau punya nyali untuk membunuh pembunuh Draco."

When a girl's best friend kills her one true love, how far will she go for revenge? "All right then, prove it. Pretend that this man is the culprit, and PROVE that you would have the guts to kill Draco's murderer."

Translator's Note: Maaf telah lama menanti, hehe. Tanpa panjang lebar lagi, selamat membaca. Semoga kalian suka terjemahannya. Seperti biasa, ditunggu review nya :)

Warning: Rate M (untuk dewasa ya) Translator udah cukup umur kok :p

Disclaimer: Always for J.K Rowling

Vengeance elizaye

Happy reading! Review ya :D

VI. Pembunuh

Hermione mengendap masuk ke rumah sakit dan berjalan melewati beberapa tempat tidur kosong menuju satu tempat tidur yang tertutup tirai. Ia menarik tirai itu ke satu sisi, melangkah masuk, dan manarik tirai itu menutup kembali. Ia duduk di tepi tempat tidur Draco dan melihat wajahnya, yang terlihat damai dalam tidur.

Ternyata Harry bertemu Draco di kamar mandi dan menanyakan Draco tentang misinya. Draco menyerang Harry, yang menggunakan salah satu mantra yang ia peroleh dari buku terkutuk Pangeran Berdarah Campuran itu. Hermione tau Harry tidak bermaksud menyakiti Draco seburuk itu, tapi ia masih marah pada Harry. Bagaimana bisa Harry hanya menggunakan mantra tanpa tau untuk apa kegunaannya? Dia bisa saja membunuh Draco bahkan tanpa bermaksud membunuhnya!

Karena Hermione tidak bisa mengungkapkan hubungannya dengan Draco, ia hanya bisa mengatakan pada Harry agar tidak berperilaku gegabah dan tidak menggunakan mantra tanpa mencari tahu dahulu mantra itu. Ron berkata itu "hanyalah Malfoy" , dan Hermione langsung murka di hadapannya.

"Dan hanya karena dia seorang Malfoy, kalian semua berhak untuk membunuhnya? Ya Tuhan, Ronald! Tidakkah kau mengerti? Sengaja atau tidak, Harry akan mendapatkan masalah yang besar jika Malfoy meninggal saat itu juga," Hermione berkata.

"Kenapa kau membela si berengsek itu?" tuntut Ron.

"Aku tidak membelanya! Ini tidak ada hubungannya dengan siapa yang diserang Harry, faktanya hanyalah ia menyerang!"

Hermione menjauhkan kenangan tentang adu agrumen itu dan kembali menatap Draco. Cahaya bulan memasuki jendela tinggi dan menerangi wajah Draco, dan rambutnya tampak berkilau. Hermione dengan lembut membelainya, helai rambut yang pirang keperakan itu.

Draco bergerak, membuka matanya, dan tersenyum mengantuk ke arah Hermione. "Apakah aku sudah mati?" Draco berbisik.

"Apa?"

"Sepertinya aku sedang dikunjungi bidadari."

Hermione tertawa lirih. "Aku membawa beberapa coklat dari Honeyduke." Ia menunjuk tas kecil di meja di samping tempat tidurnya.

"Kau tidak harus datang."

"Aku tau, tapi ... aku harus meminta maaf. Aku tidak percaya Harry benar-benar menggunakan mantra tanpa mengetahui apapun mengenai mantra itu."

Draco menggeleng. "Jangan minta maaf. Ini awal perang. Orang-orang akan terluka. Dan lagipula, aku yang pertama menyerangnya."

"Aku hanya tidak suka melihatmu terbaring disini," Hermione berkata lembut.

Mata Hermione terfokus pada luka dalam di pipi Draco.

"Oh, jangan khawatir. Madam Pomfrey memberitahuku itu tidak akan menimbulkan bekas luka, jadi wajahku akan sesempurna dulu," Draco berkata dengan cengiran kecil.

Hermione tidak bisa menahan diri tersenyum padanya. "Jika kau tidak terluka, aku akan mengutukmu karena menjadi berengsek yang sombong."

Seringai Draco melebar. "Kau tau kau menyukainya."

"Tidak, aku tidak menyukainya."

"Bantah itu semaumu, kita berdua tau kebenarannya."

Hermione tertawa dan menekan bibirnya pada kening Draco.

"Hermione ..."

"Ya?" Hermione berkata sambil duduk tegak kembali.

"Apa kau khawatir tentang apa yang akan terjadi nanti?"

Hermione menggangguk. "Sedikit."

"Aku juga."

"Draco... Katie Bell, dan di Madam Rosmerta ... itu bukan kau, kan?"

"Kita sudah sepakat tidak akan membicarakannya. Aku tidak bertanya apa yang Potter lakukan dengan Dumbledore akhir-akhir ini, kan?"

"Tidak, tapi-baiklah, aku juga tidak bisa banyak memberitahumu tentang hal itu bahkan jika kau memintanya. Aku bahkan tidak tau berapa banyak informasi yang diberikan Harry pada kami."

"Bagaimanapun juga, aku tidak memintamu untuk memberitahuku."

Draco mulai duduk, namun Hermione menekan bahunya turun dengan lembut.

"Jangan bergerak. Kau tidak ingin kan membuka kembali lukanya."

"Aku ingin menciummu."

Hermione membungkuk dan menyapu bibirnya dengan bibir Draco, dan kemudian duduk kembali. Mata perak Draco berkilauan di bawah sinar bulan yang terpancar lewat jendela, dan saat bibirnya melengkungkan senyum, Hermione merasa ia tidak pernah melihat seseorang - atau apapun itu - yang lebih indah daripada ini.

"Ya aku tau, aku tampan."

Hermione menghela nafas. "Serahkan padamu untuk merusak suasana." gerutunya.

Tersenyum, Draco berkata. "Kau sebaiknya pergi. Blaise berkata akan mengunjungiku segera, dan kupikir maksudnya antara malam ini atau besok malam."

Hermione tersentak. "Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya? Bagaimana jika ia melihatku?"

"Segala alasan yang mungkin berhasil. Ronda Prefek?"

"Jam tiga dini hari? Dia pasti bodoh jika percaya itu."

"Merlin, benarkah sudah jam segini?

Hermione memutar bola matanya. " Ya."

"Bagaimana bisa kau berharap aku mengetahui waktu?"

"Aku tak tau." Hermione membungkuk mencium Draco kembali, dan saat ia ingin duduk tegak kembali, Draco mengangkat dagunya untuk menjaga bibir mereka tetap bersentuhan lebih lama. "Aku akan mengunjungimu lagi nanti," Hermione berkata sambil tersenyum kecil.

"Jangan tertangkap - bahkan Prefek pun mungkin akan kena masalah jika keluar selarut ini."

Hermione menjulurkan lidahnya pada Draco dan tiba-tiba merasa bodoh, tetapi segera setelah Draco menertawainya, semua rasa malu itu mencair, meninggalkan perasaan hangat yang menyelimuti dirinya dari kepala hingga kaki.

"Cepat sembuh," Hermione berkata.

"Pasti."

Hermione berdiri, namun matanya tetap menatap wajah Draco.

"Tidak bisa pergi?" Draco menyeringai. "Oh, Ya Ampun, aku telah menjadi cukup indah untuk membekukan orang. Aku bertanya-tanya berapa lama waktu sebelum aku bisa membunuh seseorang dengan penampilanku."

"Kau berengsek tak tertahankan, kau tau itu?"

"Ya, tentu saja."

Draco masih menyengir saat Hermione berbalik dan berjalan menjauh dari tempat tidurnya.

"Selamat malam, Hermione." Hermione mendengar Draco berkata.

Hermione berbalik saat ia membuka pintu keluar dari rumah sakit dan melihat tirai yang telah menutup di belakangnya.

"Selamat malam, Draco."

Seseorang mengguncang Hermione lembut.

"Hermione, bangun."

Suara itu terdengar begitu akrab...

"Sudah waktunya bangun."

Hermione membuka matanya untuk melihat orang yang mengganggunya dan menyadari suasana sangat gelap. Ia menyipitkan mata untuk melihat siapa yang membangunkannya.

"Zabini?"

"Blaise."

"Apa yang kau lakukan di kamarku? Ginny dan Luna -"

"Mereka tidak akan terbangun. Jangan khawatir. Ayo kita pergi."

"Pergi kemana?"

"Pengeran Kegelapan memberi kita misi. Kita harus pergi."

"Kita? Kenapa aku tidak tau tentang hal ini?

Blaise menghela nafas. "Ikut saja denganku."

"Jawab pertanyaanku."

Blaise tampak berjuang sesaat sebelum ikatan sihir mereka memaksanya untuk berbicara.

"Pangeran Kegelapan berkata ia masih belum cukup percaya padamu untuk melakukan perintah yang diberikannya pada kita dengan tepat. Kau tidak bisa memaksaku untuk mengatakannya padamu."

"Kenapa tidak?"

"Pangeran Kegelapan memberiku izin untuk menentang segala perintah yang nantinya akan memberitahumu apa yang akan kita lakukan di waktunya nanti."

Hermione menghela nafas saat ia berdiri. "Berapa lama ini akan berlangsung?"

"Kita akan kembali sebelum matahari terbit. Sekarang ayo."

"Pertama-tama keluar dari kamarku. Aku harus berpakaian."

Blaise segera berjalan keluar, dan Hermione berpakaian, melihat gaya tidur Ginny dan Luna. Ini sudah dua hari sejak Hermione dipaksa untuk menyiksa Ernie Macmillan di Malfoy Manor, dan Voldemort tidak menghubunginya untuk memberikan perintah baru. Hermione terpaksa duduk di sekitar Grimmauld Place dan menunggu Lupin kembali; Harry menolak apapun alasan yang akan menyebabkan Blaise pergi, dan sejak Hermione dan Blaise rupanya bergabung dalam hal ini, itu artinya Hermione tidak bisa pergi juga.

Hari pertama sangat mengerikan. Blaise dan Neville, yang berbagi ruangan karena Blaisetelah mengambil tempat tidur Ernie yang sekarang kosong, menuruni tangga ke dapur sambil beradu mulut, dan itu diperparah sampai ke titik dimana semua orang mengangkat tongkat mereka, siap untuk memberi kutukan. Hermione menghabiskan sisa harinya di atas di kamarnya, sendirian dengan Blaise.

Hari kedua—hari ini—sedikit lebih baik. Semua orang sopan, bahkan jika itu maksudnya semua orang sulit berbicara, namun Hermione mampu tinggal di bawah di dapur, membaca. Blaise duduk di depannya dan hanya menatapnya. Hermione tidak tau apa yang ia lihat dan menawarkannya untuk membaca bukunya, namun Blaise hanya menggelengkan kepalanya dan mengalihkan pandangannya. Tidak sampai semenit kemudian, Hermione menangkap Blaise menatapnya kembali, namun ia tidak menyerukannya. Ia lega ketika tiba waktunya untuk tidur.

Hermione keluar dari kamarnya, berpakaian lengkap, dan Blaise meraih untuk melepaskan jubahnya.

"Apa yang kau lakukan?" Hermione mendesis.

"Kau tidak akan membutuhkannya."

Hermione melototinya. "Jika aku mati kedinginan, itu kesalahanmu."

"Kau tidak akan kedinginan."

Hermione kembali ke kamarnya untuk meletakkan jubahnya dan kemudian kembali keluar. Blaise sudah turun ke pintu depan, menatapnya. Hermione bergegas menuruni tangga dalam diam, dan mereka keluar rumah.

Begitu pintu ditutup, Blaise mengeluarkan dua jubah besar yang Hermione kenal sebagai bagian dari pakaian Pelahap Maut. Hermione menghela napas dan mengambil satu yang diserahkan Blaise padanya, melewati tangannya ke lengan dan mengenakannya. Blaise menyerahkannya sebuah topeng. Setelah memeriksanya, Hermione menyadari bahwa topeng itu tidak memiliki tali untuk diikatkan ke kepalanya. Ia mengerutkan kening dan menekan topeng itu ke wajahnya dengan ragu. Segera setelah logam dingin itu menyentuh kulitnya, bagian dalamnya mencetak bentuk wajahnya. Sisinya memanjang di sekitar kepalanya, bertemu di belakang kepalanya.

Merasa khawatir, Hermione meraih tangannya ke belakang kepalanya mencoba untuk melepaskan topeng itu.

"Oh, hentikan itu," Blaise berkata, menyentak tangan Hermione turun.

Kemudian tanpa peringatan, Hermione merasakan sensasi sesak, dan beberapa saat kemudian, mereka berdiri di sebuah lingkungan yang asing. Hermione melihat sekeliling dengan waspada.

"Dimana—" Hermione mulai bertanya.

"Shh," Blaise menghentikannya. "Ayo."

Blaise berjalan mantap ke pintu rumah terdekat, dan Hermione mengikutinya dengan ragu, rasa takut meningkat dari perutnya. Ini bukanlah sesuatu yang bagus. Hermione berdoa pemiliknya tidak ada di dalam rumah.

"Buka pintunya. Aku akan menunjukkan padamu apa yang akan kita lakukan," Blaise berkata, berdiri di samping pintu.

Hermione menghela nafas dan menunjuk tongkatnya ke pintu.

Alohomora.

Segera setelah kunci berbunyi, Blaise menghempas pintu ke dalam, kemudian kutukan berwarna merah menuju wajahnya. Blaise merunduk, dan Hermione mengelak kutukan itu.

"Crucio!" Hermione mendengar suara Blaise, diikuti oleh teriakan seorang wanita.

Berjengit pada kutukan itu, Hermione masuk ke dalam rumah dan mendorong pintu itu menutup—ia tidak ingin para tetangga mendengar.

"Stupefy!" suara dalam seorang lelaki berteriak.

Sebuah sinar merah menuju lurus kearah Blaise, dan Hermione secara insting melemparkan Mantera Pelindung di sekitar Blaise. Cahaya merah itu memantul kembali ke arah si penyihirnya, dan Hermione mendengar sebuah gedebuk pelan.

Hermione membeku. Apa yang telah ia lakukan? Lelaki itu bisa jadi tak bersalah.

Si wanita masih berteriak, dan Hermione memegang lengan Blaise.

"Hentikan!"

Blaise dipaksa untuk melepaskan tongkatnya menjauh dari korbannya. Hermione menyalakan lampu dan melihat seorang wanita paruh baya tergeletak di lantai.

"Tolong..." wanita itu bergumam lemah.

Blaise mengambil tongkat yang dijatuhkan wanita itu.

"Apa yang kita lakukan disini?" Hermione mendesis pada Blaise.

Blaise hanya mengangkat tongkatnya kembali pada wanita itu.

"Avada Kedavra!"

Hermione berjengit saat cahaya hijau membutakannya. Wanita itu lemah di lantai.

"Giliranmu," Blaise berkata.

"Giliran-ku?"

"Kau menjatuhkan lelaki itu, jadi dia milikmu. Majulah."

"Secara teknis, dia menjatuhkan dirinya sendiri," Hermione berkata.

Blaise hanya menatapnya, dan Hermione berharap ia bisa melihat wajah Blaise di balik topengnya. Hermione melototinya namun menyadari bahwa Blaise juga tidak dapat melihat ekspresi wajahnya.

Hermione berbalik untuk melihat lelaki yang telah beku oleh mantera balik dirinya sendiri. Lelaki itu terjatuh dari tangga dan terbaring kusut bertumpuk di bawah. Hermine mengambil beberapa langkah ke arahnya.

Bagaimana bisa ia melakukan ini? Bagaimana bisa ia membunuh seorang lelaki yang bahkan tak mampu membela dirinya sendiri? Apa yang telah lelaki itu lakukan sehingga layak dilakukan seperti ini?

Lengan kanan Hermione terangkat terus sampai tongkatnya menunjuk pada sosok lemas itu di lantai. Ia tiba-tiba merasa sangat terpisah dari tubuhnya.

"Mengapa?" Hermione mendengar dirinya bertanya.

"Jangan berpikir. Lakukan saja."

"Aku tak bisa."

"Kalau begitu pikirkan alasan mengapa kau ada disini."

Hermione terkejut mendengar betapa lembutnya suara Blaise.

"Pikirkan alasan mengapa kau melakukan ini dan mengapa kau menjanjikan dirimu untuk Pangeran Kegelapan. Pikirkan tentang Draco. Jika kau ingin membalaskan dendamnya, kau harus mengikuti perintah. Dan jika kau ingin mematuhi perintah, kau harus tegar."

Hermione mengambil nafas dalam. Tangannya bergetar. Masih tak mampu mengucapkan kata-kata, ia membiarkan udara di paru-parunya bergegas kembali keluar. Apakah Draco benar-benar menginginkannya melakukan ini?

Kemudian nada suara Blaise mengeras. "Kau menunjukkan pertunjukan yang sangat bagus malam itu di Manor. Kau membuatku berpikir kau lebih kuat dibandingkan sekarang. Sekarang, disini, kau lemah."

Beraninya dia mengatakan aku lemah! Tidak mampu membunuh manusia tak berdosa bukanlah tanda kelemahan! Hermione murka, namun ia tidak dapat bersuara. Ada kemungkinan lain yang berlama-lama di belakang pikirannya. Bagaimana jika Blaise benar?

Blaise melanjutkan, dengan suara lebih keras, "Bagaimana kau bisa berharap untuk membalas dendam ketika kau bahkan tak bisa membunuh orang asing? Dia sahabat baikmu, bukankah begitu? Ketika tiba waktunya untuk membunuh Potter, ataupun anggota Orde, apakah ini yang akan kau lakukan? Apa kau akan terdiam dan membiarkan mereka berjalan bebas?"

Hermione murka pada pertanyaan terakhir dan berbalik, menunjukkan tongkatnya pada Blaise. "Jangan katakan itu! Siapa kau beraninya menilai aku kuat atau lemah? Apa kau pikir kau tau begitu banyak tentangku? Ketika aku mengatakan aku akan membunuh anggota Orde untuk menghukumnya, aku serius! Dan jika aku mendapat kesempatan membunuhnya sendiri, aku bahkan tidak akan berjengit."

Mata Blaise bersinar. "Baiklah, kalau begitu. Buktikan. Anggap lelaki ini adalah Harry Potter, dan buktikan bahwa kau mempunyai nyali untuk membunuh pembunuh Draco."

Hermione membeku. Blaise dengan sengaja telah memprovokasinya. Mengutuk emosinya yang mengeluarkan hal-hal baik darinya, Hermione berbalik kembali untuk menatap pria yang tergeletak di lantai. Mengertakkan gigi, Hermione mengangkat tongkatnya. Tapi lelaki ini tidak melakukan kesalahan apapun!

Hermione menutup rapat matanya dan berpikir keras pada mata terbuka Draco, mata kosongnya. Kemarahan melonjak dalam dirinya, dan ia mendengar suaranya sendiri.

"Avada Kedavra!"

Ketika Hermione membuka matanya, ia melihat lelaki itu persis sama seperti sebelum ia melontarkan manteranya. Namun sekarang lelaki itu tidak bernafas lagi. Hermione membiarkan lengannya terjatuh di sisinya, jemarinya longgar mencengkram tongkatnya. Ia tidak bisa menggerakkan satu otot pun.

Ia baru saja membunuh seorang pria tak berdosa.

"Baiklah, ayo. Kita harus terus bergerak."

Hermione tidak bergerak.

"Ayo."

Tangan-tangan mencengkeram bahunya, dan Hermione membiarkan dirinya dibimbing melewati rumah dan keluar dari pintu belakang ke halaman belakang. Ia memandang Blaise, melihat pemuda itu menunjuk tongkatnya ke langit.

"Morsmordre!"

Tanda Kegelapan perlahan terbentuk di atas rumah, dan Hermione mulai merasa mual.

Blaise mencengkeram lengan Hermione erat, dan mereka ber-Disapparate.

Mereka menuju satu rumah ke rumah yang lain.

Korban-korban mereka biasanya pasangan paruh baya, meskipun ada di beberapa rumah di dalamnya terdapat anak-anak. Hermione sudah memaksa Blaise meninggalkan balita itu dengan mantra pengikat saja, dan Blaise murka. "Pangeran Kegelapan mengatakan untuk tidak meninggalkan satupun korban selamat," Blaise mendesis, namun Hermione tidak mendengarnya. Hermione tahu ia sudah jatuh terlalu dalam sejauh moral yang bersangkutan, namun ia masih harus menarik batas itu di suatu tempat.

Ketika Hermione bertanya berapa banyak rumah lagi yang tersisa, Blaise menolak untuk mengatakannya.

Akhirnya, Blaise memberitahunya tinggal satu rumah lagi yang akan dikunjungi. Mereka ber-Apparate di sebuah rumah yang sangat familiar—Hermione baru saja dari sana dua hari yang lalu. Ia menahan nafas dan melirik Blaise, yang telah bergerak menuju pintu depan.

Keluarga Boot telah pergi dan tidak akan kembali selama satu bulan, jadi tidak ada satu orang pun yang ada di dalam rumah... ya kan?

Blaise berbalik dari ambang pintu, menyadari bahwa Hermione masih belum beranjak, mengisyaratkan dengan tak sabar agar gadis itu bergabung dengannya. Hermione berjalan beberapa langkah, dan Blaise menunjuk dengan gerakan kecil bahwa kali ini, Hermione yang berdiri di samping pintu sementara pemuda itu membukanya. Mereka sudah menyetujui perjanjian itu sebelumnya. Hermione mengambil nafas dalam dan mengangguk, bersiap untuk menerjang pintu itu terbuka.

Blaise menunjuk tongkatnya ke arah pintu, dan segera setelah Hermione mendengar bunyi klik, ia memutar kenop dan mendorong pintu itu ke dalam.

Sinar merah melintas di depan matanya, dan semuanya menjadi gelap.

Hermione melihat sosok berkerudung terjatuh di lantai di hadapannya dan menembakkan serangan ke arah sumber Mantra Pelumpuh itu. Di dalam rumah, vas bunga hancur. Ia melompati rekannya dan masuk ke dalam rumah, segera merunduk saat Mantra Pelumpuh lain ditembakkan padanya.

Hermione melihat sekilas si penyerang, namun wajah lelaki itu tampak asing baginya.

Lengannya yang memegang tongkat naik dengan sendirinya dan melepaskan mantra yang tidak ia ketahui. Ia berputar dengan tangkas untuk menghindari sesuatu yang menyembur keluar dari tongkat lawannya.

Sesuatu mengiris sisi kepalanya. Sialan, apa itu?

Dua mantra lain yang tidak ia ketahui ditembakkan secara berurutan dari tongkatnya, dan mantra kedua menghantam sasarannya. Lelaki itu berteriak kesakitan. Entah bagiamana ia sudah menduga reaksi itu.

Rasa sakit di kepalanya hampir tak tertahankan. Ia harus membuat luka itu mati rasa sesegera mungkin.

Hermione tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai, menghindari sebuah sinar hijau yang terang. Kutukan itu ia mengenalinya.

Kemudian ia menembakkan mantea baru, dan mengenai lawannya persis di dada. Namun tidak ada cara baginya untuk menghabisinya—ledakan itu melemparkannya keluar rumah, menghancurkan jendela lantai pertama. Sial, dia akan kabur!

Pada saat ia mencapai jendela, lelaki itu ber-Disapparate.

Hermione menjatuhkan diri ke lantai, hampir dibutakan oleh rasa sakit yang muncul setelah ancaman telah pergi. Ia menunjukkan tongkatnya ke kepalanya dan menggumamkan mantra yang akan mematikan rasa sakitnya dan mantra lain untuk menghentikan pendarahannya. Ia melepaskan topengnya dan membersihkan wajahnya. Kemudian bergegas kembali ke pintu depan untuk menolong rekannya masuk ke dalam rumah sebelum menutup pintu.

Hermione melepas topeng rekannya dan mengangkat tongkatnya.

"Rennervate."

Kelopak mata Hermione bergetar, dan ia berjuang membuka matanya.

Mimpi yang aneh...

Ketika Hermione akhirnya mampu membuka seluruh matanya, semuanya nampak kabur. Seseorang menjulang berjongkok di atasnya, dan ia tidak tau siapa orang itu. Ia mengerjap beberapa kali dan melihat wajah Blaise menjadi fokus.

"Hermione? Apa kau baik-baik saja?"

Hermione mengangguk perlahan, masih berbaring. "Apa yang terjadi? Dimana kita?"

Tersentak, ia mengenali desain di atap.

"Ini rumah Terry Boot," Blaise berkata, tidak menyadari reaksi Hermione. "Kurasa Orde sudah datang kemari. Boot sudah pergi."

"Yah, aku seharusnya mengatakannya padamu," Hermione berkata, menutup matanya.

Sisi kiri kepalanya sakit di tempat yang sama ketika ia diserang di dalam mimpi, dan ia tak mengerti kenapa bisa—itu hanya mimpi, ya kan?

"Aku datang bersama dengan Terry dan yang lainnya untuk memperingatkan mereka," Hermione berkata.

Blaise mengerutkan kening. "Tidak beruntung."

"Apa aku Dibius?"

"Ya. Oleh Auror. Savage, kelihatannya. Aku mengenalinya dari tahun lalu, ketika ia ditempatkan di Hogsmeade."

Setetes yang hangat jatuh di pipi Hermione, dan menyadari bahwa tongkatnya telah hilang. Ia mengangkat tangannya untuk menghapus cairan itu. Blaise meraih tangannya untuk menghentikannya, namun ia sudah menyentuh cairan itu. Hermione membawa tangannya menjauh dari wajahnya dan melihat warna merah. Darah?

"Blaise... Kau berdarah."

Darah menetes dari sisi kiri wajah Blaise dan jatuh di wajah Hermione melewati pipinya. Blaise terhuyung ke belakang di tumitnya saat Hermione duduk. Hermione meraih untuk memutar kepala Blaise jadi ia bisa melihat akibat dari luka itu, namun Blaise bangkit berdiri tiba-tiba.

"Sial, kupikir aku sudah menutupnya," Blaise berguman.

"Apa yang terjadi?" Hermione bertanya, sambil berdiri perlahan. Mungkinkah kebetulan kalau luka Blaise tepat persis dimana ia diserang di dalam... karena tidak ada kata yang lebih baik, mimpinya?

"Savage menyerangku. Jangan khawatir—ia lebih terluka daripada aku."

Hermione meraih tongkat Blaise saat pemuda itu mengarahkan tongkatnya ke kepalanya sendiri.

"Biarkan aku," Hermione berkata.

Blaise kelihatannya akan menolak, namun sihir pengikat memaksanya untuk menurunkan tongkatnya. Hermione memutar kepala Blaise dan melangkah lebih dekat untuk melihat luka itu.

Luka itu terlihat seperti terkena hewan dengan cakar tajam yang telah mencakar dua cakarnya ke dalam kepala Blaise, dan Hermione meringis saat ia melihat sedikit warna putih—tengkoraknya. Menakjubkan Blaise masih bisa berdiri. Ia pasti menggunakan beberapa mantra untuk mematikan rasa sakitnya dan mempercepat pembekuan darah.

"Apakah kau benar-benar berpikir kai bisa menyembuhkan ini sendirian?" Hermione berkata lembut.

Hermione mengangkat tongkatnya dan menunjuk luka Blaise.

"Vulnera Sanentur," gadis itu berguman, dan pendarahannya berhenti.

Hermione mengulangi mantra itu, dan lukanya mulai menutup. Denyutan di sisi kepalanya mulai mereda juga, dan ia mengambil nafas yang dalam. Apakah ini yang dilakukan mantra pengikat? Mantra ini benar-benar mulai menakutinya. Satu pengulangan terakhir, dan kulit kepala Blaise tampak menjahit sendiri untuk kembali sembuh. Sisi kepala Hermione gatal hanya dengan melihatnya.

"Itu benar-benar, benar-benar gatal," Blaise berkata.

"Jangan digaruk."

"Terima kasih."

Hermione menatapnya, bingung.

"Ketika kau memberi sebuah perintah, secara fisik aku tidak bisa menentangnya. Sekarang aku tidak perlu menahan keinginan untuk menggaruk, karena secara fisik aku tidak bisa menggaruknya."

"Begitu," Hermione berkata. "Yah, sepertinya luka ini kelihatan lumayan membaik. Kita tidak punya dittany, jadi mungkin kau akan punya bekas luka."

"Tidak apa-apa," Blaise berkata. "Terima kasih lagi."

"Kau... menyelamatkan hidupku. Aku seharusnya yang berterima kasih padamu."

Blaise mengangkat bahu. "Kita rekan. Dan lagipula, aku menyelamatkan nyawaku sendiri juga. Kau dengar Bellatrix. Jika salah satu dari kita tewas, yang lainnya bertanggung jawab. Aku lebih suka menjadi yang tewasnya daripada yang harus menghadapi kemarahannya."

Hermione tertawa, dan rasanya menyenangkan. Hermione merasa ia tidak tertawa di waktu yang begitu lama.

Blaise tersenyum. "Kita sebaiknya pergi."

"Ya, sebaiknya." Hermione mulai menuju pintu belakang rumah.

"Kapan keluarga Boot akan kembali?" Blaise bertanya saat ia mengikuti Hermione. "Pangeran Kegelapan pasti ingin tau."

"Sejujurnya? Aku tak tau," Hermione berkata. "Mereka masih beradu pendapat tentang itu ketika kami meninggalkan rumah."

"Memalukan. Ayo kita kembali ke Grimmauld Place. Ini malam yang panjang, dan matahari akan terbit sekitar satu jam lagi, jadi kita masih bisa tidur sebentar."

"Tunggu. Bisakah kita... bisakah kita berhenti sekali lagi?"

"Nah, kau bosnya, teknisnya," Blaise berkata. "Kemana kau ingin pergi?"

Hermione mencengkram lengan Blaise erat dan berkonsentrasi pada tujuannya.

Ketika Hermione membuka matanya kembali, ia melihat ruang keluarga yang kecil, dan akrab, dan matanya tiba-tiba mulai pedih.

"Dimana kita?"

Hermione tidak bisa menjawab—ia tidak dapat menemukan suaranya. Blaise melihat wajahnya dan tampak mengerti. Tanpa berkata-kata lagi, Blaise memeluknya, menariknya mendekat. Terkejut, Hermione mulai mendorongnya.

"Tidak apa-apa, kau bisa menangis," Blaise berkata lembut.

Bendungannya terbuka, dan sungai air mata yang telah Hermione tahan sejak awal mengalir deras di wajahnya. Ia menyelinapkan tangan memeluk Blaise dan membenamkan wajahnya di bahu pemuda itu, isak tangisnya menggetarkan mereka berdua. Hermione tidak pernah menangis seperti ini dalam waktu yang sangat, sangat lama.

Mereka berdiri di ruang keluarga untuk waktu yang lama, dalam diam kecuali suara tangisnya. Akhirnya, air mata Hermione berhenti mengalir, namun ia tidak ingin melepaskan Blaise—selain dari sedikit perbedaan tinggi, tubuh Blaise hampir persis sama seperti tubuh Draco dan Hermione ingin berbohong pada dirinya dan mengatakan kalau itu adalah Draco.

Akhirnya, Hermione menarik tangannya kembali, dan Blaise melepaskannya.

"Kau baik-baik saja?" Blaise bertanya, masih dalam suara yang lembut.

Hermione mengangguk. "Ya."

Hermione mulai bertanya-tanya apa yang ia lakukan. Ini adalah Blaise Zabini, seorang Slytherin yang bersumpah bahwa ia membenci Darah Lumpur dan Darah Campuran, walaupun begitu Hermione menerima hiburan dari Blaise dan menunjukkan dirinya lebih daripada ia menunjukkan dirinya pada orang lain—hanya dalam beberapa menit terakhir ini, Blaise membuatnya tertawa lebih keras dibandingkan tawanya belum lama ini, dan menangis lebih kuat dibandingkan tangis yang ia punya selama bertahun-tahun.

Dan apa yang Blaise lakukan? Mengapa pemuda itu menawarkannya bantuan itu?

"Mengapa apa?" Blaise berkata.

"Hmm?"

"Kau bertanya padaku 'mengapa' sedetik yang lalu."

"Oh... Aku mengatakannya dengan keras? Aku tidak bermaksud mengatakannya," kata Hermione. Setelah jeda pendek, Hermione berkata, "Sejak aku sudah memulainya, aku hanya ingin menanyakanmu—mengapa kau menjagaku seperti ini?"

"Aki tidak menjagamu."

"Aku tau kau menjagaku. Kau membuatku membunuh lelaki itu malam ini, tapi setelahnya, kau membunuh kebanyakan korban lain untukku. Dan—"

"Itu hanya karena aku melumpuhkan mereka. Mereka milikku."

"—kau menyelamatkanku dari Auror—"

"Well, itu untuk menyelamatkan diriku sendiri—"

"—dan aku menyadari—"

"—lebih dari apapun—"

"—bahwa kau menatapku—"

"—untuk menyimpan—apa?" Blaise akhirnya memotong percakapan mereka berdua—mereka telah berbicara melewati satu sama lain.

"Aku—"

"Aku tidak menatapmu," Blaise berkata.

"Ya, kau menatapku. Aku tidak bodoh. Kau sangat jelas menatapku. Kenapa?"

Blaise menghela nafas. Setelah jeda yang panjang, ia akhirnya berkata, "Karena aku sudah berjanji pada seorang pemuda kalau aku akan melakukannya. Kupikir kau tau siapa dia."

"Kenapa juga ia membuatmu berjanji seperti itu? Dia—dia tidak mungkin tau kalau dia akan—"

"Aku mengatakan padanya dia tidak akan mati, tapi dia begitu yakin tentang itu. Kupikir dia benar, pada akhirnya."

Mata Hermione mulai kembali perih, namun ia menahan air matanya. Cukup menangis untuk satu malam ini.

"Kita benar-benar harus kembali, sekarang," Hermione berkata, "sebelum yang lainnya terbangun."

Blaise mengangguk. "Ayo, kalau begitu."

Mereka melepaskan jubah Pelahap Maut, dan Blaise menggulung jubah iti dan meletakkannya di saku bagian dalam jubahnya. Kemudian mereka ber-Apparate kembali ke Grimmauld Place.

"Beristirahatlah, Hermione."

"Kau juga."

Hermione melihat Blaise berjalan menaiki tangga perlahan menapak. Ketika pemuda itu menghilang dari pandangannya, Hermione pergi ke kamarnya sendiri. Ia berganti pakaian kembali ke baju tidurnya dan menyelinap ke tempat tidur di samping.

Malam yang aneh.

Mimpi itu... apakah ia berada di kepala Blaise? Itu akan menjelaskan kenapa ia tidak tau mantra-mantra yang dilepaskan dari tongkat"nya". Apa yang sebenarnya sihir pengikat itu lakukan pada mereka? Bisakah ia masuk ke dalam kepala Blaise setiap waktu? Jika ia bisa, apakah itu artinya Blaise juga bisa memasuki pikirannya? Kemungkinan itu membuat Hermione khawatir.

Hermione memutuskan untuk tidak dulu membicarakan hal ini dengan Blaise—kemungkinan besar pemuda itu masih belum menyadari koneksi ini. Jika mereka benar-benar bisa memasuki pikiran satu sama lain, ia tidak ingin membuat masuk Blaise ke dalamnya. Ia butuh waktu untuk mencari tau sihir pengikat apa yang digunakan Bellatrix untuk menghubungkan mereka. Jika saja mereka ada di Hogwarts... Hermione yakin jawaban itu akan berada di suatu tempat di perpustakaan.

Menghela nafas, Hermione mencoba menjernihkan pikirannya. Jika ia tertidur dengan cepat, ia mungkin masih bisa mendapatkan satu jam istirahat, dan setelah semua yang terjadi malam itu, tidur adalah satu-satunya yang dokter sarankan.

Tapi Hermione sepertinya tidak bisa membuang satu pemikiran terburuk dari kepalanya.

Hermione membunuh sebelumnya—ia membunuh Pelahap Maut di Pertempuran Hogwarts. Dan walaupun itu menakutinya, hal itu dilakukan karena keadilan. Kematian itu dibutuhkan—lebih dari dibutuhkan. Membunuh Pelahap Maut itu artinya menyelamatkan nyawa orang lain. Terlibat ditengah-tengah pertempuran, ia merupakan prajurit.

Malam ini...

Hermione merasakan perih di dadanya, namun matanya kering.

Malam ini, ia telah menjadi seorang pembunuh.

Well, seperti biasa dei menunggu review ya :)

Review kalian sangat berarti buat dei. Maaf belum bisa menjawab review kalian. Nanti akan dei balas yaa

Makasih banyaakkk :*