Balas Review! :D
AriFuKi24823: Sudah kubilang itu hanya awal, jadi memang sesingkat itu... ^^a Baiklah, terima kasih telah me-Review! :D
Nanami: Yah, lebih baik kau buat saja akun supaya bisa mengetahui fic-ku yang update... ^^/ Well, Thanks for Review! :D
Happy Reading! :D
Day One
Hari pertama pelajaran tambahan yang akan dijalani para OSIS diawali dengan acara memelototi Teiron yang terlihat lemas di tempat duduknya.
"Dia kenapa sih?" tanya Zeptrun.
"Teira cerita kalau dia kehabisan cupcake untuk sarapan, jadinya ya begitulah..." jawab Ikyo datar dan sukses membuat sang penanya sweatdrop.
"Ya elah, emangnya harus banget sarapan pake cupcake? Makanan yang lain kan juga bisa!" komentar Alexia sedikit risih.
"Lu kan tau sendiri Teiron tuh kayak gimana, jadi nggak usah komentar!" balas Alpha sinis.
"Lapar..." gumam Teiron lesu.
"Sepertinya setelah ini kita harus patungan beliin dia cupcake..." usul Icy agak iba dan beberapa orang pun mengangguk setuju.
Di ruang guru...
"Jadwal hari pertama aku kan?" tanya si iblis dengan wajah bodoh.
"Iye iye, udah sono!" balas si wanita mengusir iblis itu dengan tendangannya.
"Kau tidak harus melakukan itu kan?" tanya si robot sweatdrop.
"Dia kalau udah kayak gitu susah banget ladeninnya, jadinya gue kasarin aja!" jawab si wanita judes dan si robot pun kembali sweatdrop.
Di depan ruang OSIS...
"Ugh, Ema-chan kejam banget!" keluh si iblis sambil mengelus pantatnya yang sakit akibat ditendang barusan.
Dia pun membuka pintu ruangan itu dan kedatangannya malah disambut dengan...
PLOK!
Mendaratnya sebuah telur dadar di wajah iblis itu.
"Yah, mubazir deh bekal gue! Lu sih, Rice!" gerutu Saphire sebal.
"Itu kan bekal lu, kenapa gue yang disalahin?" tanya Maurice tidak terima.
Sang iblis berambut coklat dengan mata merah itu pun membersihkan wajahnya.
"Sudah sudah, jangan bertegur (?) kalian!" lerai iblis itu.
"Bertengkar, sensei!" ralat mereka semua.
"Iya deh, apapun itu!" Dia pun berdehem sejenak. "Oke, namaku Ovaron Apuestofrumos! Jangan tanya kenapa namaku sepanjang dan seaneh itu, salahkan saja Author-nya!"
Beberapa orang yang mendengar kalimat terakhir barusan langsung sweatdrop.
"Baik! Karena kalian sudah tau namaku, jadi aku ingin tau nama kalian masing-masing! Dimulai dari yang pakai kacamata di pojok sana!" ujar Ovaron sambi menunjuk Teiron yang duduk di pojok belakang.
Semua orang langsung melirik Teiron, sementara yang bersangkutan mengangkat kepalanya. "Hmm, nunjuk saya?"
"Bukan, nunjuk cicak di tembok! Ya kamu, lha! Perkenalkan diri di depan kelas!" perintah Ovaron.
Teiron pun berjalan ke depan dengan tampang lesu.
"Saya lapar, sensei..." ujar Teiron kelewat lesu.
"Hah? Namamu Lapar?" tanya Ovaron bingung.
'Ini yang bego si Teiron atau gurunya sih?' batin mereka yang melihat kejadian itu sweatdrop.
"Sensei, dia belum makan!" timpal Ikyo.
"Kamu belum sarapan?" tanya Ovaron.
"Cupcake saya habis..." jawab Teiron lemes yang sukses membuat Ovaron sweatdrop.
"Ya sudah, sebaiknya kamu duduk lagi... Errr, siapa namamu?"
"Namanya Teiron, sensei..." jelas Thundy di pojok depan.
"Ah iya! Silakan duduk lagi, Teiron!" perintah Ovaron.
Anak itu pun kembali ke tempat duduknya, tapi di tengah jalan...
BRUK!
Dia malah pingsan.
"TEIRON!" jerit Alpha panik.
"Oh astaga..." Ovaron hanya bisa tepuk jidat. "Bangunkan dia dengan segala cara, kita tidak bisa memulai pelajaran jika ada yang absen!"
"Memangnya sensei punya cupcake?" tanya Alpha.
Webek, webek...
"Harus banget ya dengan kue itu?" tanya Ovaron agak skeptis.
"Sebenarnya hanya dua makanan yang bisa membangunkannya: cupcake dan macaron rasa pistachio..." jelas Thundy datar.
"Macaron rasa pistachio?" tanya sebagian orang cengo.
"Maksudmu ini?" Ovaron memperlihatkan kotak bekal (yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya) berisi sekumpulan macaron berwarna hijau.
Thundy mengangguk. "Iya, itu yang kumaksud!"
"Baiklah, semoga bisa membantu..."
Si iblis mengambil sepotong macaron dan mendekatkannya di depan hidung Teiron. Hidungnya pun bereaksi dengan bau macaron itu dan mulai membuka matanya perlahan.
"Pistachio..."
"Sudah bangun?"
Anak itu pun mulai bangun dan duduk di lantai, kemudian menatap sekitar dengan bingung.
"Tidak apa-apa, kau hanya lapar! Mau macaron?" tanya Ovaron.
Teiron mengangguk kecil. Ovaron pun membantunya berdiri dan memberikan kotak bekalnya. "Ini!"
"Terima kasih..." Teiron pun kembali ke tempatnya.
"Baik, sekarang kita lanjutkan dari yang berada di pojok depan situ!" perintah Ovaron sambil menunjuk si anak berambut biru yang langsung menjadi pusat perhatian.
Anak itu langsung berdiri. "Thundy Shocka, umur jangan ditanya, keahlian Bahasa Jerman!"
"Kenapa umurmu tidak boleh ditanya?" tanya Ovaron bingung.
"Rahasia sensei, nanti malah jadi aib..." jawab Thundy watados dan sukses membuat Ovaron beserta sebagian temannya sweatdrop.
"Oke, yang di belakangnya!"
"Alexia Mercowlya, 15 tahun, keahilan menembak, suka makan tiramitsu, benci dengan kadal!"
"Yang di sebelahnya!"
"Exoray Mercowlya, umur 18, suka memasak kue!"
"Tambahan sensei, dia gampang galau plus baper!" timpal Alexia tanpa dosa dan teman-temannya langsung ngakak di tempat, sementara yang bersangkutan malah pundung di bawah meja.
"Sebentar, kalian berdua saudara?" tanya Ovaron mendapati persamaan marga pada nama kedua anak itu.
"Nggak cuma mereka, dayo! Deret keempat juga saudara, tuh!" seru Musket menyinggung Andreas Trio.
Ketiga orang yang bersangkutan langsung memekik kesal. "MUSKET!"
"Sudah, sudah!" lerai Ovaron sambil menunjuk Icy. "Nah, selanjutnya kamu yang rambut putih!"
"Icilcy Frezza, dipanggil Icy! Umur 17, hobi karaoke, suka sama hantu!"
Webek, webek...
"Memangnya kamu pacaran sama makhluk dunia lain?" tanya Ovaron cengo.
"Iya sensei, dari zaman Ikyo masih bayi!" jawab Alpha jahil.
"Woy!" Ikyo langsung sewot karena merasa terpanggil.
"Sudah sudah!" lerai Ovaron sedikit risih.
Flamy langsung berdiri tanpa diminta. "Flamy Phoenixia, 13 tahun, suka membaca, memelihara burung phoenix..."
"Kamu yang paling muda di sini?" tanya Ovaron.
"Begitulah, sensei..." jawab Flamy seadanya.
"Musket Liferpoint, 15, suka sarden, dayo!"
"Oh oke, selanjutnya!"
"Zeptrun Pesquisador, umur 16, hal-hal lainnya merupakan privasi yang tidak layak diberitahu untuk umum!"
Ovaron beserta beberapa temannya langsung sweatdrop mendengar perkenalan barusan.
"Rendy Espada Volante, umur 16 tahun! Kita senasib ya, sensei! Karena nama kita ditentukan seenak pantatnya sama Author!"
'Ini ngapain nyindir (Bak)Author sih?' batin Alexia dan Thundy sweatdrop.
"Ya ya ya..." Ovaron kembali sweatdrop untuk kesekian kalinya.
"Maurice Wolvine, 16, Werewolf, sering jalan-jalan saat bulan purnama!"
"Wew..." komentar sebagian orang.
"Nah, kalian bertiga di deretan keempat, sebutkan nama tanpa marga!" perintah Ovaron kepada Andreas Trio.
'Awas lu, Musket!' batin Andreas Trio kesal.
"Daren, 15, bisa bahasa Prancis!"
"Vience, 17, punya naga bernama Jeronium!"
"Saphire, 16, suka segala jenis masakan telur buatan Vie-nii!"
"Nama marga kalian apa?" tanya Ovaron.
"Andreas, sensei!" jawab mereka bertiga bersamaan.
"Oke, aku ingin kau melakukan perkenalan ulang!" perintah Ovaron kepada anak yang tidak sempat memperkenalkan diri karena kejadian sebelumnya.
"Baik, sensei!" Teiron langsung berdiri. "Chairone Teiron, 16 tahun... Kesukaan cupcake (sebenarnya suka macaron rasa pistachio juga sih), kucing, dan juga membaca... Tapi aku takut anjing dan bencong..."
"Nah, dua orang di sebelahnya!"
"Kitsukami Ikyo, 17, Gumiho, hanya itu!"
Ovaron langsung sweatdrop mendengar perkenalan Ikyo yang terlalu singkat tersebut.
"Alpha Scalion, 16, suka main game, calon kakak ipar Teiron!"
"WHAT THE?!" Mereka yang mendengarnya langsung kaget.
"Tunggu bentar!" sela Rendy. "Lu lahir tanggal berapa, Al?"
"10 Juli!"
"Kalau Teiron?" tanya Ovaron.
"30 Maret..."
"Secara logika, seharusnya Teiron yang jadi kakak ipar Alpha karena dia lima bulan lebih tua!" jelas Zeptrun tanpa ekspresi.
Mendengar penjelasan Zeptrun barusan, Alpha langsung pundung di tempat.
"Baik, mari kita mulai pelajaran hari ini!" ujar Ovaron. "Sekarang buka buku kalian!"
Mereka semua menyiapkan buku masing-masing, tapi tiba-tiba...
"Bwaaaaah~"
Semua orang langsung melirik ke pojok belakang karena rupanya Teiron baru saja sendawa dan anak itu langsung menunduk malu. "Maaf..."
Entah kenapa, teman-temannya beserta sang iblis langsung tertawa. Sementara anak itu, dia hanya menggaruk belakang kepalanya dengan senyum malu-malu.
Setelah pelajaran selesai...
"Tadi saat mengajar ada kejadian apa?" tanya Luthias.
"Ada anak yang pingsan karena belum makan..."
"Yang mana?"
"Yang rambut merah pakai kacamata dan namanya kalau tidak salah ada Tei-nya gitu deh!"
"Maksudmu Teiron?" tanya Garu memastikan dan dibalas anggukan dari Ovaron.
Mendengar cerita barusan, si robot langsung menepuk pundak si wanita yang sedang menbaca dan yang bersangkutan menatapnya dengan jutek. "Apa?"
"Besok lu ngajar kan? Udah siap ngadepin kelakuan mereka?" tanya si robot sedikit cemas.
"Emangnya kenapa? Kalau besok ada kejadian pingsan lagi ya awas aja!" balas si wanita judes dan si robot hanya bisa sweatdrop menghadapi kelakuan temannya tersebut.
To Be Continue...
Absurd? Yah begitulah... ^^a
Oh iya, bagi yang bertanya posisi duduk mereka bisa lihat di bawah! Bacanya dari belakang ke depan dan kiri ke kanan (dari sudut pandang guru)!
Teiron-Ikyo-Alpha
Daren-Vience-Saphire
Maurice-Rendy-Zeptrun
Alexia-Exoray-Musket
Thundy-Icy-Flamy
Yah, segitu aja deh... ^^/
Review! :D
