Boring
Jung Jaehyun X Lee Taeyong
NCT member
AU, Romance, Hurt
Chaptered
NCT belongs to God, Their Parents and SM entertainment
"Mengapa aku harus duduk disebelah Jaehyun?" Taeyong mengerutu, persis seperti anak kecil, seolah melupakan sementara tittle sebagai leader.
Seorang pria yang berstatus sebagai manajer, yang baru saja beberapa bulan mengurus mereka, mengusap wajahnya perlahan. Menghadapi sikap manja Taeyong, yang terkadang muncul secara tiba-tiba, membuat satu persatu kerutan menggrogoti wajahnya.
"Kau ada masalah denganku, hyung?" Seru yang lebih muda, Jaehyun tak menatap Taeyong secara langsung, dia masih sibuk menunduk, tanganya menari dengan indah diatas layar smartphone.
"Tidak sih." Jaehyun tersenyum perlahan, tangannya dengan cepat menggapai kantong celananya, meletakkan dengan lembut ponselnya lalu berjalan, beranjak dari tempat duduknya mendekati Taeyong yang kini tengah berdiri di dekat manajer mereka, memandanginya dengan wajah terkejut.
Jaehyun masih memasang wajah jahilnya, lalu dengan cepat meletakkan lengannya melingkari leher Taeyong dan menarik tubuh mungil Taeyong hingga tubuh mereka menempel satu sama lain.
"Kalau begitu, ayo kita segera naik keatas panggung. Fans kita sudah menunggu tanda tangan kita, hyung." Katanya sambil menarik Taeyong, membawanya keatas panggung kearah fansign mereka, walaupun agak sulit karena Taeyong terus saja memberontak dalam pelukkannya.
"Mereka kenapa?" Seru manajer mereka dengan wajah bingung, wajahnya kini beredar menatap satu persatu member NCT 127 lainnya, yang didapatnya hanya sebuah gelengan ketidaktahuan.
...
Jaehyun tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Taeyong, mungkin ada sesuatu semalam antara dirinya dan Johnny, Jaehyun sama sekali tidak berniat untuk menanyakannya lebih jauh. Walaupun senyum itu tidak melepas dari wajah dua dimensi miliknya itu, kadang sikap cute keluar ketika beberapa fans mendekat kepadanya, dengan melemparkan beberapa obrolan singkat, tetapi ada suatu saat ketika hanya Jaehyun melihat, Taeyong menghela napasnya perlahan lebih banyak daripada biasanya.
Dia tersenyum perlahan, ketika fans yang berada didepannya telah berpindah dan kini telah berhadapan dengan Taeyong, dia menggerakkan tangannya menggapai sebuah botol dibawah kakinya, lalu dia berbicara sebentar dengan fans didepannya, bahkan dia sempat selembar sticky note, tak lupa memberikan sebuah gambar yang terlihat lumayan diatasnya.
Dia menempelkan di botol air mineral itu, lalu mendorongnya sambil botol air mineral itu menyentuh lengan Taeyong, yang membuatnya menoleh. Jaehyun hanya menggerakkan kepalanya sambil memandang botol air mineral. Jaehyun tahu Taeyong pasti mengeri maksudnya, tangan itu langsung bergerak, menyambar botol air mineral yang langsung membuat Jaehyun kembali menoleh kedepan.
Jangan terlalu dipaksakan, tetapi hyung asal kau tahu, kau terlihat sangat manis ketika tersenyum dengan tulus.
Tanpa sadar, senyum itu terangkat, senyum paling cerah yang pernah dia sajikan.
Mata Taeyong masih enggan beranjak dari botol air mineral yang masih terisi setengah, dirinya kini sedang berada diatas tempat tidurnya, duduk dengan kedua kaki yang disilangkan dengan tangan yang menopang wajahnya. Senyum kini masih menghiasi wajahnya.
"Taeyong, boleh tidak aku tidur disin ." Yuta tak sempat menyelesaikan kalimat, yang diajak berbicara, Lee Taeyong, kini tengah termenung memandangi sebuah botol air mineral.
Yuta tersenyum jahil, lalu melangkah mendekat, ada sebuah ide terlintas di otaknya. "Aku haus. Aku minta air ini yah, Taeyong~." Tangan Yuta sudah hampir menyentuh tubuh ramping botol itu tetapi tiba-tiba sebuah bantal menyentuh wajahnya dengan sangat keras. Yuta tampak terkejut, tak mengetahui bahwa Taeyong memiliki kekuatan sebesar itu.
"Awas kalau kau berani menyentuh satu tetesnya saja." Ancam Taeyong. "Kau lebih baik tidur di living room." Serunya, dia menggerakkan tubuhnya, membiarkan tubuhnya masuk kedalam selimut tebal baby blue miliknya.
"Kau berlebihan sekali, ini hanya air mineral." Yuta dapat melihat Taeyong menarik selimut sehingga menutup hingga kepalanya, apa ada sesuatu yang sangat penting dengan air mineral ini?
"Yuta, gosok gigi dan cuci kakimu sebelum tidur."
Mulai lagi. Yuta memutar bola matanya.
"Oke, Mama."
Untungnya Yuta bisa mengelak lemparan bantal kedua dari Taeyong.
"Jaehyun -ie, mau kemana?" Jaehyun tersentak, seharusnya dia tidak usah menyempatkan diri untuk datang ke dapur mereka sehingga menemui sosok itu, bukan, sekarang dia bahkan menyapanya dengan begitu, apa yang harus dia katakan?
Semua menatap Jaehyun, semua anak Dream, beberapa dari mereka sudah memakai baju sekolah, yang telah mengerumuni Taeyong di meja makan.
"Sekarang kan, kita libur, jadi aku mau jalan dengan teman." Jaehyun menelan ludahnya dengan susah, berharap Taeyong tak membaca kegugupan dirinya, untungnya Taeyong kini kembali sibuk dengan tangannya yang memasukkan makanan ke masing-masing piring, yang langsung ditanggapi dengan sorakkan ringan.
"Hati-hati Jaehyun-ie." Seru Taeyong, ketika Jaehyun menoleh kebelakang, dia sudah hampir membuka pintu dorm, senyum cerah Taeyong tersaji didepannya.
Tidak. Tidak apa-apa.
Dia tidak melakukan hal yang salah.
...
Taeyong sudah hampir menutup matanya dan tenggelam pada mimpinya kalau saja
"Taeyongie, temani aku ke Myeongdonghari ini." Taeyong menggeram perlahan, Johnny dengan cepat duduk di tepi tempat tidur Taeyong, tangannya bahkan menyingkap selimut yang Taeyong gunakan.
namja Korea-Amerika itu tidak mengganggunya. Taeyong ingat dia pacarmu.
"Aku mau tidur." Tangan Taeyong dengan cepat menarik kembali selimutnya, tetapi Johnny masih setia meletakkan semua tenaga pada tangan yang sedang menahan selimut Taeyong.
"Ada sneaker yang ingin aku beli. Ayolah Yongie."
"Tidak mau. Aku lelah." Taeyong menyerah, dia malah membalikkan badannya, membuat wajahnya tenggelam di tempat tidurnya.
"Nanti aku belikan chocco pie." Tak ada reaksi, Taeyong malah menarik selimutnya lebih . "Lima pack chocco pie."
"Tunggu, aku ganti baju dulu." Taeyong dengan beranjak dari tempat tidurnya.
Dasar. Kekasihnya itu memang lebih menyukai coklat daripada dirinya.
"Kita sudah lama tidak jalan-jalan berdua seperti ini." Jaehyun mengalihkan pandangannya, lalu menatap Ten yang kini walau menggunakan masker, tersenyum kepadanya.
"Sudah lama sekali." Seru Jaehyun dengan nada yang sedikit dibuatnya datar. Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam kantong jaketnya. Tetap menjaga sikap coolnya diantara lalu lalang jalanan Myeongdong.
"Bagaimana kalau setelah ini kita makan?" Ten menggerakkan tangannya, lalu mengalungkan tangannya di lengan Jaehyun. "Kau mau makan apa?" Katanya dengan nada yang riang, membuat Jaehyun mau tidak mau harus mengangkat bibirnya.
"Terserah kau saja, hyung. Aku akan ikut."
"Dasar food fighter."
"Ten, Jaehyun."
Dua orang itu langsung menoleh, sudah tahu akan mendapati namja Korea-Amerika satu-satunya di team, yang memanggil mereka.
"Johnny hyung." Tapi Jaehyun tidak tahu bahwa namja itu akan disana juga. "Taeyong hyung."
Ada perasaan aneh dalam dirinya, merasa bersalah dan marah.
"Kalian kencan juga."
Tiga kata milik Ten itu berhasil mengembalikan Jaehyun pada dunianya, mengembalikan Jaehyun pada kenyataan pahit yang selama ini coba dia hapus secara perlahan. Taeyong dan Johnny berpacaran.
"Tidak pantas disebut kencan sih, soalnya aku memaksanya kemari." Kata Johnny dari balik maskernya, dia tertawa perlahan sambil menggaruk tengkuknya.
"Youngho, aku mau ini." Taeyong berbalik, dia baru saja sadar bahwa ada dua orang lain yang berada disana. Jaehyun yakin Taeyong sempat melayangkan sebuah tatapan kecewa padanya, tetapi ketika Jaehyun mengedipkan matanya dan pandangan itu tak lagi memandangnya.
"Tidak bisa. Aku kan sudah berjanji membelikanmu chocco pie." Serunya membuat masker Taeyong tepat di area bibirnya sedikit maju, Jaehyun yakin Taeyong kini tengah mengerucutkan bibirnya. Lucu sekali. Tanpa sadar senyumnya terangkat.
"Ah, kalian beruntung itu. Gelang ini, gelang couple."
Sial. Jaehyun ingin pergi dari tempat ini sekarang juga.
"Jaehyun, tunggu aku." Jaehyun tak ingin menoleh, dia hanya merasa ketika Ten kembali mengalungkan tangannya pada lengannya. "Kau kenapa?"
...
Jaehyun menghembuskan napasnya dengan kasar, dia menyandarkan punggung didinding dibelakangnya, matanya tertutup perlahan, dia berusaha mengatur emosinya sekarang sehingga ketika Taeyong memasuki dorm, suara dan detak jantungnya telah menurun.
"Hyung." Taeyong memberhentikan langkahnya ketika mendapat Jaehyun menangkap tangannya dan membalikkan badannya, sehingga kini mereka berdua bertatapan muka.
Jaehyun memasang wajah serius, dia tidak berkata apa-apa, begitu juga dengan Taeyong. Lagipula tak ada yang perlu dibicarakan olehnya.
Tangan Jaehyun yang bebas bergerak menuju tangan yang pergelangan tangan Taeyong yang digenggamnya, lalu memasukkan sebuah gelang kedalam tangan mungilnya.
"Hadiah untukmu, hyung." Setelah memasangkan gelang pada Taeyong, Jaehyun meninggalkan Taeyong tanpa menuju leadernya itu berkomentar.
"Cantik." Taeyong mengangkat senyumnya, matanya kini terfokus pada pergelangan yang kini memakai gelang yang diberikan oleh Jaehyun.
"Sekarang gelang?" Taeyong sedikit terkejut, saat dia berbalik, dia menemukan Yuta tengah menatapnya dengan penuh menyelidik, sejak kapan namja jepang itu disana?
"A apa?" Taeyong berdehem perlahan, berusaha menjaga nada suaranya.
"Aniyo, aku lapar. Buatkan aku sesuatu." Tanpa menerima jawaban dari Taeyong, Yuta menarik lengan Taeyong membawanya ke dapur dorm mereka.
TBC
Author's note: hellooooooo~ aku comeback hahaha
ada yang merindukan aku. lol padahal NCT 127 lagi sibuk-sibuknya, aku malah hiatus.
dan apakah ada yang merindukan ff ini, mudah-mudahan ada yeh*nggak pede*
btw maafkan aku JohnTen teraniaya T.T
